0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Strategi Kesehatan Nasional dan RKE

Dokumen tersebut membahas strategi utama Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan sistem kesehatan nasional, termasuk memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses layanan kesehatan berkualitas, serta meningkatkan sistem surveilans dan informasi kesehatan. Dokumen ini juga membahas tantangan implementasi rekam medis elektronik di Indonesia karena data kesehatan yang terfragmentasi dan tidak saling terhubung antar fasilitas kesehatan

Diunggah oleh

Ditta Nur aprianty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Strategi Kesehatan Nasional dan RKE

Dokumen tersebut membahas strategi utama Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan sistem kesehatan nasional, termasuk memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses layanan kesehatan berkualitas, serta meningkatkan sistem surveilans dan informasi kesehatan. Dokumen ini juga membahas tantangan implementasi rekam medis elektronik di Indonesia karena data kesehatan yang terfragmentasi dan tidak saling terhubung antar fasilitas kesehatan

Diunggah oleh

Ditta Nur aprianty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

 4 strategi utama Kemkes


 Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup
sehat
 Meningkatkan akses masyarakat terhadap saryankes yang
berkualitas
 Meningkatkan sistem surveilans, monitoring, dan
informasi kesehatan
▪ Berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence
based di seluruh Indonesia
 Menurunkan pembiayaan layanan kesehatan

2
 Integrasi dengan Sistem Kesehatan Nasional
(SIKESNAS) Online (KEPMENKES NO. 837 TAHUN 2007)
 Sasaran 2010 dst
Telah terselenggara jaringan komunikasi data
online antara seluruh Puskesmas, Rumah Sakit,
dan sarana kesehatan lain, baik milik pemerintah
maupun swasta, Dinkes Kab/Kota, Dinkes
Provinsi, dan UPT Pusat dengan Departemen
Kesehatan

3
Pus
UPT SEKJEN
DITJEN Datin
PST (BIRO+PUSAT)
BINKESMAS & ITJEN
Bank
Data
DITJEN
UPT
YANMED
PST
BADAN
UPTD
RS DEPKES
DITJEN
DITJEN BINFAR &
PP & PL ALKES
UPT
DINKES
PST
PROV
(Bank Data)
UPT
UPT
UPT PST
PST

Source: Bambang Hartono,


Pengembangan Jaringan RS
DINKES
Komputer Online Sistem
PUSK KAB/KOTA
DIBANGUN DEPKES
Informasi Kesehatan Nasional,
(Bank Data) (APBN)
2007, Pusdatin,
[Link] DIBANGUN DAERAH
/SUMBER LAIN
SWAS
UPTD
TA
BAMBANG H

4
4
 Belum ada national health single ID untuk
setiap penduduk Indonesia
 Format ID pasien di setiap saryankes berbeda
 Alternatif ?
Program Kementrian Dalam Negeri untuk menggunakan
Nomor Indentitas Kependudukan (NIK) sebagai dasar
penerbitan paspor, SIM, NPWP, dsb (Desember 2011)

5
 Siapa saja stakeholders yang berkepentingan?
 Pemerintah
 Institusi kesehatan
 Perekam medis
 Konsumen (Pasien)
 Penyedia layanan teknologi informasi

6
Masih banyak saryankes yang menggunakan
Rekam Kesehatan berbasis kertas
tidak efisien
 Ruang penyimpanan
 Pencarian dan analisis

7
 Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik
(RKE) saat inikemajuan implementasi sistem
RKE di Indonesia masih sangat beragam
 Data terfragmentasi

 Format data tidak interoperable

8
Data terfragmentasi
di sarana layanan
kesehatan
(saryankes)
Ilustrasi:
Pasien X berobat
< 12 th : dokter anak A
13 -30 th: Puskesmas B
25 th : dirawat inap di RS C
30 -50 th: dokter umum D
40 th : dirawat inap di RS E

9
 Tidak efisien
 Alergi, sejarah pengobatan, tes klinis, dsb harus
ditanyakan/diulangi karena data sebelumnya
disimpan di saryankes lain
 Rawan terhadap kesalahan medis
 Praktisi medis tidak memiliki data tentang terapi
yang diberikan di saryankes lain yang mungkin
saling berkontradiksi, misal: adverse drug reaction

10
 Software RKE yang ada
 dibangun oleh vendor yang berbeda
 format beragam
 tidak dapat saling
bertukar data

11
Fragmentasi data Longitudinalitas

Non-interoperable Interoperable

12
 Longitudinalitas RKE bagi pasien
 Lengkap dan berjangka panjang (kelahiran hingga
kematian)
 Tidak terfragmentasi di saryankes penyedia
layanan kesehatan
 Interoperabilitas RKE bagi institusi
 Antar bagian dalam satu saryankes
 Antar institusi dalam sistem kesehatan
regional/nasional/internasional
 Antar perangkat lunak dari vendor yang berbeda
13
 Pertukaran RKE langsung antar saryankes
mengharuskan tiap saryankes memiliki alamat
IP publik
 langka dan mahal di Indonesia saat ini
 Dibutuhkan format standar untuk pertukaran
RKE
 apakah ?
14
 Terdapat dua skenario pertukaran RKE sebagai berikut:
1. Pertukaran RKE antar sistem RKE dengan spesifikasi
yang sama.
Dalam skenario ini, sistem RKE asal cukup mengekspor
RKE pasien ke pusat RKE yang kemudian diimpor oleh
sistem RKE tujuan.
2. Pertukaran RKE antara sistem RKE dengan spesifikasi
yang berbeda.
Dalam skenario ini, perlu dilakukan konversi RKE dari
spesifikasi asal ke spesifikasi pusat RKE atau sebaliknya.
Contoh skenario ini adalah sebagai berikut :

15
16
 Pusat Data
 Perantara pertukaran RKE
 Saryankes : IP privat
Pusat Data : IP publik
 menekan biaya
 Adapter
 Mengubah RKE dari format
lokal ke format standar
Pusat Data dan sebaliknya

17
 openEHR
 Spesifikasi manajemen, penyimpanan,
pengambilan, dan pertukaran RKE
 Dibangun oleh openEHR Foundation, non-profit
 Informasi klinis disimpan dalam bentuk
archetypes (Pola Dasar)

18
19
Hospital A Hospital B Hospital C
GP

Rekam Medis Rekam Medis Rekam Medis Rekam Medis


Pasien Pasien Pasien Pasien

ADAPTER ADAPTER ADAPTER ADAPTER

ADAPTER

Rekam medis
Pasien lengkap pasien

Membutuhkan adapter antara tiap


Rekam medis
pusat kesehatan dan rekam medis
Medical Record lengkap pasien PACS pusat = openEHR
Center

20
Sekian
dan
TERIMAKASIH

21

Anda mungkin juga menyukai