Tugas Kelompok Bahasa Indonesia
Temu Ke-10
Kelompok: 3
Anggota Kelompok:
1. Reza Putra Nugroho (J0312201050)
2. Tatia Resfa Nursaidah (J0312201066)
3. Suci Nuraiza (J0312202191)
4. Rahma Jauhar Jannah (J0312201062)
5. Isykariema Putri Tiyagita (J0312201058)
Carilah sebuah topik yang dekat dengan bidang ilmu
kelompok Anda. Persempit topik tersebut menggunakan
diagram piramida terbalik
Kimia
Kimia Industri
Industri
kosmetik
tabir
sury
a
1. Pilihlah salah satu subtopik kemudian carilah tiga tema
turunannya.
1) Penggunaan tabir surya atau sunscreen sebagai
bahan campuran kosmetik
2) Identifikasi bahan yang terkandung dalam sunscreen
3) Pengaruh penggunaan bahan kimia pada pembuatan
tabir surya.
2. Pilihlah salah satu tema lalu susunlah tiga rumusan
masalah berdasarkan tema yang telah dipilih (tema
tersebut dapat dikembangkan dengan studi pustaka
ataupun gabungan antara studi pustaka dengan
penelitian lapangan). Rumusan masalah dalam bentuk
kalimat tanya.
1) Apa perbedaan kosmetik yang mengandung tabir
surya dan yang tidak mengandung tabir surya?
2) Bagaimana efek penggunaan tabir surya pada
kosmetik terhadap kulit?
3) Berapa standar penggunaan tabir surya yang baik
dalam kosmetik?
3. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat,
susunlah tiga buah tujuan penelitian (dalam bentuk
kalimat berita).
1) Menjelaskan perbedaan kosmetik yang mengandung
tabir surya dan yang tidak mengandung tabir surya
2) Menjelaskan efek penggunaan tabir surya pada
kosmetik terhadap kulit
3) Mengetahui standar penggunaan tabir surya yang baik
dalam kosmetik
4. Tuliskan pendahuluan makalah yang berisi :
1. Latar belakang:
Kosmetik telah dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu.
Pada perkembangannya, kosmetik tidak hanya digunakan sebagai
bahan kecantikan tetapi juga untuk kesehatan kulit. Gabungan antara
kosmetik dan obat biasa disebut kosmetik medik. Kosmetik yang
digunakan untuk kesehatan, salah satunya berfungsi untuk merawat
dan melindungi kulit. Kosmetik yang digunakan untuk melindungi
kulit dari paparan sinar matahari dan ultraviolet biasa disebut dengan
tabir surya. Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang
melindungi tubuh bagian dalam dari lingkungannya. Sinar ultraviolet
(UV) merupakan penyebab utama terjadinya proses penuaan pada
kulit. Paparan sinar UV kronik menghasilkan radikal bebas yang dapat
menyebabkan berbagai kerusakan pada struktur dan lapisan kulit.
Akhir-akhir ini banyak kosmetik yang sudah diformulasikan untuk
melindungi kulit terutama dari sinar matahari. Pemaparan berlebihan
sinar matahari dalam jangka waktu yang pendek dapat menyebabkan
luka bakar, sedangkan paparan berlebihan dalam jangka waktu yang
panjang dapat menyebabkan penebalan lapisan kulit paling atas dan
pembentukan pigmen oleh sel-sel penghasil pigmen.
Sinar ultraviolet meskipun tidak dapat dilihat oleh mata manusia,
merupakan bagian dari sinar matahari yang sangat berpengaruh pada
kulit. Dampak negatif dari sinar UV-B salah satunya dapat
mengakibatkan sekitar satu juta orang didiagnose mengidap kanker
kulit setiap tahunnya dan sekitar 10.000 meninggal dunia. Kebanyakan
kanker kulit terjadi pada bagian tubuh atau kulit yang sering terpapar
sinar matahari (Dutra dkk., 2004).
Alasan memilih topik ini adalah untuk menjelaskan tentang
penggunaan tabir surya yang menjadi alternatif untuk mengurangi
berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh sinar UV. Tabir surya
bekerja dengan cara menghamburkan dan memantulkan kembali sinar
uv pada bagian kulit yang sering terpapar. Berdasarkan jenis bahan
aktif dalam tabir surya dibagi menjadi dua yaitu pengeblok fisik
(physical blocker) dan penyerap kimia (chemical blocker).
Siapa yang pernah membahas topik tersebut
Topik ini telah diuji oleh Beny Suryanto dan Sri Hidayati Syarief
dari Universitas Negeri Surabaya, yang menjelaskan tentang uji
aktivitas tabir surya paduan oktil p-metoksi sinamat (OPMS)
nanopartikel emas sebagai bahan kosmetik.
Apa kesimpulannya
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tabir surya
secara nyata dapat menyerap sinar matahari, sehingga dapat digunakan
untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Dengan
menggabungkan antara tabir surya dengan kosmetik, maka dapat
memberikan efek yang optimal dalam melindungi kulit dari penuaan
dini akibat radikal bebas yang berasal dari sinar UV dan metabolisme
tubuh itu sendiri.
2. Rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan
1. Apa perbedaan kosmetik yang mengandung tabir surya dan
yang tidak mengandung tabir surya?
2. Bagaimana efek penggunaan tabir surya pada kosmetik
terhadap kulit?
3. Berapa standar penggunaan tabir surya yang baik dalam
kosmetik?
3. Tujuan penulisan
1. Menjelaskan perbedaan kosmetik yang mengandung tabir
surya dan yang tidak mengandung tabir surya
2. Menjelaskan efek penggunaan tabir surya pada kosmetik
terhadap kulit
3. Mengetahui standar penggunaan tabir surya yang baik dalam
kosmetik
4. Tinjauan pustaka
[ CITATION Edl201 \l 14345 ] Pengetahuan Mengenai Sunscreen dan Bahaya
Paparan Sinar Matahari Serta Perilaku Mahasiswa Teknik Sipil Terhadap
Penggunaan Sunscreen berisi survey atau penelitian yang membahas
pengetahuan mahasiswa terhadap penggunaan sunscreen dan bahaya paparan
sinar matahari. Penelitian ini menunjukan bahwa masih banyak mahasiswa
yang belum mengerti penggunaan sunscreen yang benar untuk melindungi
diri dari sinar matahar, penggunaan spf yang salah kerap dilakukan oleh
mahasiswa. Dalam penilitian ini dicantumkan Indikator penggunaan
sunscreen yang tepat dapat dilihat dari pemilihan nilai SPF yang sesuai. Nilai
SPF dalam sunscreen menunjukkan adanya daya perlindungan kulit dari
paparan sinar UV. Sebagai contoh pada SPF 15 memiliki daya perlindungan
sebesar 93% sedangkan SPF 30 memiliki daya perlindungan sekitar 96,7 %
terhadap sinar UV.
[CITATION Tempatpenampung2 \l 14345 ], Formulasi dan Penentuan Nilai
SPF (SUN PROTECTING FACTOR) Sediaan Krim Tabir Surya Ekstrak
Etanol Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.), penilitian ini menunjukan
bahwa ekstrak etanol daun kemangi bisa digunakan sebagai bahan campuran
krim untuk perlindungan kulit dari sinar matahari. Hasil analisis komponen
Konsentrasi ekstrak 0,03% pada formula I memiliki nilai SPF 5,21 dan
konsentrasi ekstrak 0,06% pada formula memiliiki nilai SPF 5,94. Kedua
formula ini tergolong dalam tingkat kemampuan tabir surya sedang. Dan
konsentrasi ekstrak 0,12% pada formula III memiliki nilai SPF 8,97 dan
tergolong dalam tingkat kemampuan tabir surya maksimal.
Said (2007) ,Formulasi Gel Tabir Surya Minyak Nyamplung (Tamanu Oil)
Dan Uji Nilai Spf Secara In Vitro berisi tentang formula minyak nyamplung
sebagai tabir surya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan minyak
nyamplung tidak hanya sebagai bahan bakar, tetapi dapat digunakan sebagai
bahan kosmetik yaitu tabir surya (Sunscreen). Paparan sinar UV yang
berlebih dapat mengganggu kesehatan kulit. Oleh karena itu, salah satu cara
pencegahannya adalah penggunaan tabir surya. Ekstraksi minyak nyamplung
sebagai tabir surya pada konsentrasi rendah sangat signifikan untuk
melindungi kulit dari paparan sinar UV, sehingga minyak nyamplung
memiliki kandungan SPF yang efektif sebagai pencegahan paparan sinar UV.
Darmakusuma, B. I. (2016), Analisis Komponen Senyawa Kimia pada
Minyak Kayu Manis Asal Kabupaten Sumba Barat Daya dan Ende Sebagai
Sumber Senyawa Tabir Surya Pencegah Kanker Kulit berisi tentang senyawa
kimia penyusun minyak kayu manis sebagai komponen tabir surya. Penelitian
ini menujukkan bahwa minyak pada kulit batang tumbuhan kayu manis asal
Sumba Barat Daya dan Ende mengandung 17–20 jenis komponen senyawa
kimia. Hasil analisis komponen utama senyawa kimia penyusun minyak kayu
manis tersebut antara lain sinamaldehid, kariofilena, eukaliptol, 3-fenil asetat,
metil salisitat, dan linalool. Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat
digunakan sebagai komponen penyusun tabir surya guna mencegah penyakit
kanker kulit.
Theresia, (2014), Sinar UV matahari bermanfaat bagi
kesehatan dalam membantu pembentukan vitamin D yang
dibutuhkan oleh tulang, namun sinar UV matahari juga memeliki
efek negatif bagi kesehatan kulit. Sinar UV matahari terdiri
dari sinar UV A, UV B dan UV C. Sinar UV A memiliki
panjang gelombang (320-400nm) dan lebih 90% dapat mencapai
permukaan bumi serta dapat menembus kulit hingga
mencapai lapisan dermis (dalam) kulit. Di sisi lain sinar UV B
dengan panjang gelombang (290-320) hanya 5% diantara seluruh
UV, sebagian besar diserap oleh lapisan kulit stratum korneum
(lapisan terluar) dan hanya sebagian kecil yang menembus bagian
atas dermis kulit. Sinar UV C memilik panjang gelombang (200-
290 nm), namun radiasinya tidakmencapai permukaan bumi karena
diserap oleh ozon pada atmosfer bumi. Sinar UV B memiliki
kemampuan menimbulkan kulit terbakar (sunburn) lebih besar dari
sinar UV A. Sedangkan sinar UV A memiliki kemampuan menembus
lapisan kulit lebih dalam dan dapat merusak DNA kulit secara
tidak langsung yang dapat menyebabkan terjadinya penuaan
(photo aging) kulit. Sinar UV A bersifat stabil sepanjang
hari, dapat menembus awan dan kaca, sedangkan sinar UV B
terbanyak pada pukul 10.00-14.00 serta dapat diserap kaca dan awan
Citra Dewi Hamami, (2015), Makalah kosmetologi: tabir surya
(sunscreen). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula
pada tabir surya dan menunjukkan dua kelompok dari bahan aktif
yang digunakan sebagai bahan pembuatannya yaitu, bahan
penyerap dan pemantul. Pada penelitian ini juga dilakukan
perbandingan isi formula yang terdapat pada beberapa produk tabir
surya seperti Wardah Sunscreen Gel SPF 30 dan Vaseline Aloe Vera
Fresh SPF 24.
Ismail, I. (2013), Potensi Bahan Alam Sebagai Bahan Aktif Kosmetik
Tabir Surya berisi tentang senyawa potensial pada tumbuhan herbal
sebagai bahan aktif pembuatan tabir surya. Penelitian ini menunjukkan
bahwa bahan alami herbal mengandung senyawa-senyawa potensial
sebagai bahan aktif tabir surya. Penelitian juga memaparkan efek dan
kegunaan senyawa kimia yang terkandung dalam herbal tersebut.
Misalnya, kandungan asam lemak tak jenuh dan senyawa fenolik yang
berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Selain itu, kandungan asam
askorbat, asam galat, dan asam ellagit juga memiliki efek yang serupa
pada tabir surya yakni menangkap partikel radikal bebas.
Beny Suryanto dan Sri Hidayati Syarief, (2013), Tabir surya
merupakan suatu senyawa yang dapat digunakan untuk melindungi
kulit dari sengatan sinar matahari terutama ultra violet (UV).
Berdasarkan jenis bahan aktif dalam tabir surya dibagi menjadi dua
yaitu sebagai pengeblok fisik (physical blocker) dan penyerap kimia
(chemical absorber). Pengeblok fisik dapat memantulkan sinar UV
secara langsung misalnya TiO2, ZnO, sedangkanpenyerap kimia dapat
menyerap sinar UV agar tidak menyerang sel kulit misalnya Oktil p-
metoksi sinamat, 2-etil heksil p-metoksisinamat.
Soerati, (1993), tabir surya didefinisikan sebagai senyawa yang secara
fisik atau kimia dapat digunakan untuk menyerap sinar matahari secara
efektif terutama daerah emisi gelombang UV sehingga dapat
mencegah gangguan pada kulit akibat pancaran langsung sinar UV.
Besarnya radiasi yang mengenai kulit bergantung pada jarak suatu
tempat dengan khatulistiwa, kelembaban udara, musim, ketinggian
tempat, dan jam waktu setempat.
BPOM, (2009), Dalam beberapa hal sinar ultra violet bermanfaat
untuk manusia yaitu diantaranyauntuk mensintesa Vitamin D dan juga
berfungsi untuk membunuh bakteri. Namun disampingmanfaat
tersebut di atas sinar ultra violet dapat merugikan manusia apabila
terpapar padakulit manusia terlalu lama. Sinar ultra violet (UV) dapat
digolongkan menjadi UV A denganpanjang gelombang diantara 320 –
400 nm, UV B dengan panjang gelombang 290 – 320 nmdan UV C
dengan panjang gelombang 10 – 290 nm. Semua Sinar UV A di
emisikan ke bumi,sedangkan sinar UV B sebagian diemisikan ke bumi
(terutama yang panjang gelombangnyamendekati UV A). Sinar UV B
dengan panjang gelombang lebih pendek dan sinar UV C tidakdapat
diemisikan ke bumi karena diserap lapisan ozon di atmosfir bumi.
Dengan demikianapabila lapisan ozon yang ada di atmosfir rusak,
sinar UV B yang masuk ke bumi akan semakin banyak.
Rahmawati, A. Muflihunna, Megita Amalia (2018), pada penelitian
yang berjudul ANALISIS AKTIVITAS PERLINDUNGAN SINAR
UV SARI BUAH SIRSAK (Annona muricata L.) BERDASARKAN
NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) SECARA
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, peneliti mendapatkan hasil bahwa
buah sirsak memiliki kandungan SPF yang cocok untuk digunakan
sebagai tabir surya. Berdasarkan nilai Sun Protection Factor (SPF), sari
buah sirsak (Annona muricata L.) memiliki nilai aktivitas perlindungan
Jurnal Fitofarmaka Indonesia, Vol. 5 No.2 288 sinar UV sedang yaitu
5,188 pada konsentrasi 1%, perlindungan maksimal yaitu 12,242 pada
konsentrasi 3% dan perlindungan ultra yaitu 17,247 pada konsentrasi
5%.
Mukti, Ria Andriani. (2014), Tabir VS Iklim Tropis berisi tentang
dampak sinar matahari terhadap kulit serta manfaat tabir surya untuk
mencegah sunburn pada iklim tropis. Penelitian ini menunjukkan
bahwa tabir surya dapat menghindarkan kita dari beberapa perubahan
akibat sinar matahari, mulai dari perubahan ringan berupa warna kulit
yang menjadi lebih gelap, hingga penyakit yang bersifat ganas yaitu
kanker kulit. Panduan penggunaan tabir surya yang baik dan benar di
antaranya ialah mengenakan tabir surya yang memiliki spektrum yang
luas, artinya dapat memproteksi dengan baik, memakai jenis tabir
surya water resistant dengan SPF minimal 15, menggunakan tabir
surya setiap hari, baik di dalam maupun di luar ruangan, mengoleskan
tabir surya 15-30 menit sebelum keluar ruangan, mengaplikasikannya
pada daerah selain wajah yang ikut terpapar sinar matahari, serta
mengulang pengaplikasiannya setiap dua jam sekali.
Daftar rujukan
[Link]
1. Darmakusuma, B. I. (n.d.). ANALISIS KOMPONEN
SENYAWA KIMIA PADA MINYAK KAYU.
[Link]
2. Ismail, I. (2013). POTENSI BAHAN ALAM SEBAGAI
BAHAN AKTIF KOSMETIK TABIR SURYA. JF UINAM
Vol.1 No.1, 45-55.
3. Syarief, B. S. (2013). UJI AKTIVITAS TABIR SURYA
PADUAN OKTIL P-METOKSI SINAMAT (OPMS) -.
UNESA Journal of Chemistry Vol. 2, No 3,, 32-37.
4. Minerva, P. (2019). PENGGUNAAN TABIR SURYA BAGI
KESEHATAN KULIT. Jurnal Pendidikan Keluarga, 95-101.
5. Isriany Ismail, G. N. (2014). FORMULASI DAN
PENENTUAN NILAI SPF (SUN PROTECTING FACTOR)
SEDIAAN KRIM TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL
DAUN KEMANGI . Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 6-11.
6. Edlia Fadilah Mumtazah, d. (2020). PENGETAHUAN
MENGENAI SUNSCREEN DAN BAHAYA PAPARAN
SINAR MATAHARI SERTA PERILAKU MAHASISWA
TEKNIK SIPIL TERHADAP PENGGUNAAN SUNSCREEN.
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 7, No. 2, 63-68.
7. Sri Rejeki, S. S. (2015). FORMULASI GEL TABIR SURYA
MINYAK NYAMPLUNG (TAMANU OIL) DAN UJI NILAI
SPF SECARA IN VITRO. University Research Colloquium,
97 - 103.
8. Citra Dewi Hamami, Makalah Kosmetikologi : Tabir Surya
(Sunscreen), Fakultas Farmasi, Universitas Andalas, 2015
9. Pratama W.A, Zulkarnain A.K, (2015). Uji SPF IN VITRO dan
Sifat Fisik Beberapa Produk Tabir Surya Yang Beredar di
Pasaran
10. Isfardiyana S, Safitri S, (2014). Pentingnya Melindungi Kulit
Dari Sinar Ultraviolet dan Cara Melindungi Kulit Dengan
Sunblock Buatan Sendiri
Tugas kelompok dikumpulkan hari Selasa 24
November 2020 di Googledrive.