100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan12 halaman

Kisah Awal Keluarga Bharata dalam Adiparwa

Ketiga kitab di atas menceritakan persiapan perang antara Pandawa dan Korawa. Adiparwa menjelaskan silsilah keturunan kedua belah pihak. Udyogaparwa menggambarkan upaya perdamaian Kresna yang gagal dan kedua belah pihak mulai mencari sekutu. Bhismaparwa mengisahkan kedua pasukan yang berhadapan sebelum perang dimulai.

Diunggah oleh

Mas Nanang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan12 halaman

Kisah Awal Keluarga Bharata dalam Adiparwa

Ketiga kitab di atas menceritakan persiapan perang antara Pandawa dan Korawa. Adiparwa menjelaskan silsilah keturunan kedua belah pihak. Udyogaparwa menggambarkan upaya perdamaian Kresna yang gagal dan kedua belah pihak mulai mencari sekutu. Bhismaparwa mengisahkan kedua pasukan yang berhadapan sebelum perang dimulai.

Diunggah oleh

Mas Nanang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ADIPARWA

Adiparwa merupakan parwa yang pertama. Kisah dimulai dari cerita tentang silsilah
keturunan wangsa Bharata. Silsilah ini menceritakan tentang sejarah Chandra Vasha yang
memaparkan asal dari keluarga Pandawa dan Korawa. Leluhur dari dinasti Kuru adalah Santanu
yang menikahi dewi Gangga, dan mempunyai putra bernama Bhisma. Santanu kemudian
menikahi Satyawati sebagai permaisyuri keduanya, dan memberinya dua putra yaitu Chitrangada
dan [Link] keduanya meninggal tanpa mempunyai anak. Dengan memohon bantuan
kepada maharsi Wyasa, anak dari Satyavati, janda dari kedua putranya itu bisa memperoleh putra
yang bernama Dhrtarasthra dan Pandu. Dhrtarasthra, menikahi Gadhari dan kemudian
mempunyai seratus putra yang disebut Korawa. Sedangkan Pandu memiliki dua orang istri, yaitu
Kunti yang berputra Yudhistira, Bhima, dan Arjuna. Sedangkan istri keduanya bernama Madri
yang berputrakan si kembar Nakula dan Sahadewa. Tapi sayang sang pandu dan Gandhari tewas
ketika melanggar sumpah mereka sendiri yang hanya boleh memiliki lima orang anak. Pada
Adiparwa ini banyak terdapat cerita saat pandawa masih kecil yaitu ketika mereka bersama-sama
dengan korawa sedang berguru kepada drona dan berselisihan (bermusuhan) dengan para
Korawa. Segala tipu daya Yudhistira dan sangkuni Hingga suatu ketika terbakarnya rumah
dammar (kardus) yang ditempati oleh para Pandawa dan Ibunya yakni Kunti dan perlawanan
para Pandawa di hutan. Saat Bhima dilarikan oleh hidimba dan lahirnya Gatot Kaca. Diceritakan
juga saat kepergian para Pndawa ke Ekacakra dan disana Kunti bercakap dengan Brahmana yang
mengatakan bahwa dari keluarganya akan ada yang harus menjadi korban untuk raksasa Baka.
Kunti menyuruh Bhima untuk membunuh raksasa tersebut hingga Bhima bertarung dengan
Raksasa Baka dan berhasil bembunuhnya. Hingga saat diceritakan tetang asal-usul dari Drupadi.
Pada suatu ketika seorang brahmana meminta bantuan kepada Arjuna bahwa pertapaanya
dirusak oleh raksasa. Akhirnya Arjuna bergegas mengambil senjata yang ada di dalam kamar
dimana Yuhistira sedang bermesraan dengan Drupadi. Hingga menyebabkan arjina dihukum
selama 12 tahun. Dalam penjelajahannya di hutan Arjuna menikah dengan Subadra, Ulupi dan
Citrangada dan memperoleh putra yaitu Abhimanyu, dan Irawan. Dalam hutan juga diceritakan
pada saat Arjuna menolong Maya dari kedatangan agni yang akan menelannya.
SABHAPARWA
Kitab Sabhaparwa merupakan kitab kedua dari seri Astadasaparwa. Kitab Sabhaparwa
menceritakan kisah para Korawa yang mencari akal untuk melenyapkan para Pandawa. Atas
siasat licik Sangkuni, Duryodana mengajak para Pandawa main dadu. Taruhannya adalah harta,
istana, kerajaan, prajurit, sampai diri mereka sendiri. Dalam permainan yang telah disetel dengan
sedemikian rupa tersebut, para Pandawa kalah. Dalam kisah tersebut juga diceritakan bahwa
Dropadi ingin ditelanjangi oleh Dursasana karena menolak untuk menyerahkan pakaiannya. Atas
bantuan Sri Kresna, Dropadi berhasil diselamatkan. Pandawa yang sudah kalah wajib untuk
menyerahkan segala hartanya, namun berkat pengampunan dari Dretarastra, para Pandawa
mendapatkan kebebasannya kembali. Tetapi karena siasat Duryodana yang licik, perjudian
dilakukan sekali lagi. Kali ini taruhannya adalah siapa yang kalah harus keluar dari kerajaannya
dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun. Pada tahun yang ke-13, yang kalah harus hidup
dalam penyamaran selama 1 tahun. Pada tahun yang ke-14, yang kalah berhak kembali ke
kerajaannya. Dalam pertandingan tersebut, para Pandawa kalah sehingga terpaksa mereka harus
meinggalkan kerajaannya.

WANAPARWA

Cerita ini bermula ketika Yudhistira kalah bermain judi dengan para Kurawa, kemudian dia
kalah dengan memepertaruhkan kerajaan dan negaranya. Tidak tanggung-tanggung para Kurawa
memberi beban kepada para Pandhawa untuk melakukan masa pembuangan. Di dalam
pembuangan itu para pandhawa melakukan penyamaran. Di dalam masyarakat jawa sendiri ini
biasa disebut dengan istilah “Kodrat Wiradat” yaitu takdir Tuhan tidak bersifat mutlak.
Seseorang mengatakan kegagalan suatu usaha karena alasan adalah takdir. Boleh jadi kegagalan
yang kita peroleh itu karena sifat sembrono, urakan, ugal-ugalan, dan kelalaian manusia sendiri.
Nasib ini lantas jangan menjadikan kecil hati, bagi mereka yang cukup gigih dan kreatif tentu
akan optimis dalam menghadapi masa depan. Andaikan Yudhistira tidak suka berjudi dan tidak
terpancing dengan emosi sesaatnya mungkin hal ini tidak akan terjadi. Setelah para Pandhawa
pergi meninggalkan istana dmuan menuju hutan Kamyaka.

Saat di hutan, para pandhawa bertemu dengan Rsi Byasa, seorang guru rohani yang mengajarkan
agama hindu kepada pandhawa dan Dropadi, istri mereka. Atas saran Rsi Byasa maka Arjuna
melakukan tapa di gunung Himalaya agar memperoleh senjata sakti yang kelak digunakan dalam
perang Bharatayudha. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia
diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu
melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali
ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan
laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang
pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila.
Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan
rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap
jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan
wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.
Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang
terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia
menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari
tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera
melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa
datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang
dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh
babi hutan itu menjadi satu.

WIRATA PARWA

Wirataparwa menceritakan kisah ketika para Pandawa harus bersembunyi selama setahun setelah
mereka dibuang selama duabelas tahun di hutan. Kisah pembuangan ini diceritakan di
Wanaparwa.

Maka para Pandawa bersembunyi di kerajaan Wirata. Jika mereka ketahuan, maka harus dibuang
selama 12 tahun lagi. Di sana sang Yudistira menyamar sebagai seorang brahmana bernama
Kangka. Sang Werkodara menyamar sebagai seorang juru masak dan pegulat bernama Balawa.
Lalu sang Arjuna menyamar sebagai seorang wandu yang mengajar tari dan nyanyi. Sang Nakula
menjadi seorang penggembala kuda dan sang Sadewa menjadi penggembala sapi. Lalu Dewi
Dropadi menjadi seorang perias bernama Sairindi.

Alkisah patih Wirata, sang Kicaka jatuh cinta kepada Sairindi dan ingin menikahinya. Tetapi ia
ditolak dan memaksa. Lalu sang Balawa membunuhnya. Hal ini hampir saja membuat samaran
mereka ketahuan.

Lalu negeri Wirata diserang oleh musuh Pandawa, para Korawa dari negeri Astina. Para
Pandawa berperang melawan mereka, membela Wirata. Setelah perang usai, kedok mereka
ketahuan. Tetapi mereka sudah bersembunyi selama setahun, jadi tidak apa-apa.

UDYOGA PARWA

Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha).
Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa.
Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan
hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.

Dalam Udyogaparwa, buku kelima Mahabharata ini sang Kresna berperan sebagai duta untuk
menengahi konflik antara para Korawa dan para Pandawa. Tetapi bantuan beliau tidak berhasil
dan akhirnya akan menjadi perang Bharatayuddha.

Kitab Udyogaparwa merupakan kitab kelima dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan
sikap Duryodana yang tidak mau mengembalikan kerajaan para Pandawa yang telah selesai
menjalani masa pengasingan selama 13 tahun berakhir. Pandawa kembali untuk mengambil
kembali negeri mereka dari tangan Korawa. Namun pihak Korawa menolak mengembalikan
Kerajaan Indraprastha dengan alasan penyamaran para Pandawa di Kerajaan Wirata telah
terbongkar.

Pandawa yang selalu bersabar mengirimkan Krisna sebagai duta perdamaian ke pihak Korawa,
namun usaha mereka tidak membuahkan perdamaian. Sebagai seorang pangeran, Pandawa
merasa wajib dan berhak turut serta dalam administrasi pemerintahan, maka akhirnya hanya
meminta lima buah desa saja. Tetapi Duryodana sombong dan berkata bahwa ia tidak bersedia
memberikan tanah kepada para Pandawa, bahkan seluas ujung jarum pun. Jawaban itu membuat
para Pandawa tidak bisa bersabar lagi dan perang tak bisa dihindari. Duryodana pun sudah
mengharapkan peperangan.

Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karna dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia
menjelaskan bahwa para Pandawa sebenarnya adik seibu Karna. Apabila Karna bergabung
dengan Pandawa, maka Yudistira pasti akan merelakan takhta Hastinapura untuknya.

Karna sangat terkejut mendengar jati dirinya terungkap, Dengan penuh pertimbangan ia
memutuskan tetap pada pendiriannya yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan
Duryodana yang telah memberinya kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para
Pandawa dahulu. Rayuan Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karna terhadap
Duryodana yang dianggapnya sebagai saudara sejati.

BHISMA PARWA

Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini
mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan,
pasukan Korawa dan pasukan Pandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha
dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna berada di antara kedua pasukan. Arjuna pun
bisa melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih
karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana
mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang berhadapan satu sama lain
sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini disebut dengan
nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, artinya adalah nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma
mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia bisa meninggal pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu
ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai
perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah banyak sekali sampai ia terjatuh tetapi
tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

DRONA PARWA
Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang
Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang
karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang
menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah
gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.

Kitab Dronaparwa tidak didapati di Indonesia. Kitab ini kitab ketujuh Mahabharata. Di sini
diceritakan kematian bagawan Drona dalam perang Bharatayuddha. Ia ditipu oleh antara lain
Yudistira apakah putranya Aswatama sudah tewas atau belum.

——–

Kitab Dronaparwa merupakan kitab ketujuh dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan
kisah diangkatnya Bagawan Drona sebagai panglima perang pasukan Korawa di Hari ke-11,
setelah Rsi Bhisma gugur di tangan Arjuna dan sejak di hari ke-11, Karna mulai berperang
sehingga segera membangkitkan semangat para Korawa. Ia menyarankan agar Duryodana
memilih Drona sebagai pengganti Bisma, dengan alasan Drona merupakan guru bagi sebagian
besar sekutu Korawa. Dengan terpilihnya Drona maka persaingan antara para sekutu Korawa
memperebutkan jabatan panglima dapat dihindari.

KARNA PARWA

Karnaparwa, kitab ke-8 Mahabharata, menceritakan sang Salya yang menjadi kusir kereta sang
Karna. Akhirnya sang Karna dibunuh oleh sang Arjuna dalam perang tanding.

Kitab ini tidak didapati dalam bahasa Jawa Kuna.

Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh
Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut
diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi
pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati
pada hari ke-17.

Kitab Karnaparwa merupakan kitab kedelapan dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan
kisah diangkatnya Karna sebagai panglima perang pasukan Korawa, menggantikan Bagawan
Drona yang telah gugur. Setelah Abimanyu dan Gatotkaca gugur, Arjuna dan Bima mengamuk.
Mereka banyak membantai pasukan Korawa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Bima berhasil
membunuh Dursasana dan merobek dadanya untuk meminum darahnya. Kemudian Bima
membawa darah Dursasana kepada Dropadi. Dropadi mengoleskan darah tersebut pada
rambutnya, sebagai tanda bahwa dendamnya terbalas. Kemattian Dursasana mengguncang
perasaan Duryodana. Ia sangat sedih telah kehilangan saudaranya yang tercinta tersebut.
Semenjak itu ia bersumpah akan membunuh Bima.

Untuk mengimbangi Arjuna yang mempunyai Krisna sebagai kusir kereta maka Karna meminta
Salya bertindak sebagai kusir keretanya. Salya, Raja Madra, menjadi kusir kereta Karna.
Kemudian terjadi pertengkaran antara Salya dengan Karna.
SALYA PARWA
Sesudah Karna gugur dalam perang Duryodhana dirundung kesedihan, Bhagavan Krpta memberi
saran agar perang dihentikan untuk menghindari kehancuran lebih lanjut. Tapi duryodhana
mengatakan itu semua sudah terlambat dan ingin melanjutkan pertemburan. Kemudian ia
mengusulkan Salya menjadi seorang senopati, Salya menasehati Duryodhana agar berhenti
berperang dan ia menyanggupi akan menjadi penengah dan penghubung antara Kurawa dan
Pandawa. Aswatama yang memang dari awal tak suka dengan Salya sangat marah dan menghina
Salya hingga terjadi perkelahian dikeduanya. Dan delerai oleh Duryodhana, karena merasa
berhutang budi kepada Duryodhana Salyapun bersedia menjadi senopati.

Setelah Baladewa pergi, Krisnapun mengajak para pendawa untuk meninggalkan tempat
tersebut. Tetapi sebelum mereka pergi jauh Duryodhana yang tak berdaya masih bisa mengomeli
Krisna yang telah memberi syarat pada Bima untuk menghantap pahanya, Ia juga menuduh
Krisna telah menyebabkan kematian Bhisma dengan menyuruh Srikandi menghadapi Bhisma.
Begitu pula kematiasn Drona, dengan menyuruh Yudhistira untuk berbohong. Jiga kematian
Karna yang menyuruh Arjuna memanah Karna yang sedang memperbaiki kereta. Juga kematian
Raja Sindu dengan membuat Kurusetra menjadi gelap

Terhadap omelan Duryodhana tersebut Krisna menjawab bahwa itu adalah akibat dari dosa-dosa
Duryodhana sendiri, seperti meracuni Bima, membakar Pandawa dirumah Gala-gala, permainan
judi yang curang serta mempermalukan Drupadi. Setelah memberi penjelasan tersebut Krisna
dan Pandawa beranjak dari tempat itu, para prajurit langsung disuruh ke kemah sementara para
Pandawa diajak bertirtayatra untuk penyucian diri lahir batin. Yaitu di telaga Pancaka Tirta,
letaknya di tengah hutan dekat dengan medan Kuru Setra. Telaga ini dibuat oleh Bhagawan
Parasu Rama pada zaman dahulu.

Di Hastinapura, Dhrstaarastha menanyakan bagaimana kematian Duryodhana yang pahanya


remuk dipukul dan apa kata terakhir yang muncul dari mulutnya. Sanjaya menceritakan rintihan-
rintihan Duryodhana kepada Dhrstarastha, juga pesannya kepada krpa, Krtavarma dan Asvatama
serta menginformasikan perintahnya kepada Carvaka tentang saat terakhir yang sangat
menyakitkan. Utusan Duryodhana tiba di perkemahan Asvatama dan menyampaikan pesan dari
Duryodhana. Krpa, Krttavarma dan Aswathama tiba di medan pertempuran dan melihat
pertempuran sudah selesai. Asvathama sangat sedih hatinya melihat runtuhnya kerajaan besar
dibawah pimpinan Duryodhana dan akan memenuhi janji yang diminta Duryodhana. Sumpah
Asvatama dan permintaan Duryodhana untuk menjadikan Krpa sebagai panglima perang,
selanjutnya perpisahan perpisahan ketiga pahlawan itu dan berakhir dengan kematian
Duryodhana.

SAUPTIKA PARWA

Kitab Sauptikaparwa merupakan kitab kesepuluh dari seri Astadasaparwa. Kitab ini
menceritakan kisah tiga ksatria dari pihak Korawa yang melakukan serangan membabi buta pada
di malam hari, saat tentara Pandawa sedang tertidur pulas. Ketiga ksatria tersebut adalah
Aswatama, Krepa, dan Kritawarma.

Aswatama atau Ashwatthaman adalah putera Drona dengan Kripi, adik Krepa dari Hastinapura.
Sebagai putera tunggal, Drona sangat menyayanginya. Saat kecil keluarganya hidup misikin,
namun mengalami perubahan setelah Drona diterima sebagai guru di istana Hastinapura. Ia
mengenyam ilmu militer bersama dengan para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa.
Kekuatannya hampir setara dengan Arjuna, terutama dalam ilmu memanah. Saat perang di
Kurukshetra berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh
karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah
malam dan melakukan pembantaian membabi buta terhadap lima putera Pandawa namun lima
putera Pandawa tidak terselamatkan nyawanya.

Setelah Aswatama mengarahkan Brahmastra menuju perut Utara yang sedang mengandung,
senjata itu berhasil membakar janin Utara, namun Kresna menghidupkannya lagi dan mengutuk
Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 6.000 tahun sebagai orang
buangan tanpa rasa kasih sayang. Dalam versi lain, dipercaya bahwa ia dikutuk agar terus hidup
sampai akhir zaman Kaliyuga. Karena dikutuk untuk hidup selamanya tanpa memiliki rasa cinta
ini menjadikan ia sebagai satu di antara tujuh Chiranjiwin.

Legenda mengatakan bahwa Aswatama pergi mengembara ke daerah yang sekarang dikenal
sebagai semenanjung Arab. Ada juga legenda yang mengatakan bahwa Aswatama masih
mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan. Sebuah benteng kuno di dekat
Burhanpur, India, yang dikenal dengan Asirgarh memiliki kuil Siwa di puncaknya. Konon setiap
subuh, Aswatama mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah.
Masyarakat yang tinggal di sekitar benteng mencoba untuk menyaksikannya namun tidak pernah
berhasil. Konon orang yang bisa menyaksikannya akan menjadi buta atau kehilangan suaranya.
Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama
mengembara dan ia masih hidup.

Menurut legenda, Aswatama menyerahkan batu permata berharga (Mani) yang terletak di
dahinya, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa
lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa, danawa, dan naga.

STRI PARWA

Striparwa adalah buku ke-11 Mahabharata. Kitab ini tidak terdapat versi Jawa Kunanya. Kisah
yang singkat ini menceritakan ratapan para istri-istri ksatriya yang telah tewas dalam peperangan
Bharatayuddha. Mereka melaksanakan ritual sraddha.

Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di
medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka
yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti
menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.
Upacara sraddha adalah upacara umat Hindu di pulau Jawa zaman dahulu kala untuk mengenang
arwah seseorang yang meninggal. Bentuk reminisensi upacara ini, masih ada sekarang dan
disebut sadran dengan bentuk verba aktif nyadran.

SHANTI PARWA

Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-
saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri
Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan
kewajibannya sebagai Raja.

—–

Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang
telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis
sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para
Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa
sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘
Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini.
lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka
semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk
menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu
Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa
mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami


kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka
mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin
menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu
harus diakui adanya

ANUSASANA PARWA
Anusasanaparwa adalah kitab ke-13 Mahabharata dan merupakan terusan Santiparwa, tentang
percakapan antara Yudistira dan Bisma. Kitab ini tidak terdapatkan dalam bahasa Jawa
[Link] kitab ini diceritakan pula meninggalnya Bisma dan berpulangnya beliau ke surga.
Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk
menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang
berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan
dunia dengan tenang.
ASWAMEDHA PARWA

Parva yang ketigabelas adalah Anusasana parva. Parva ini sangat baik sekali. Pada parva ini
digambarkan bagaimana Yudhishthira, raja besar keluarga Kuru, bisa mendamaikan dirinya
sendiri. Kesadaran itu tumbuh dalam batin Yudhishthira setelah mendengar penjelasan dari
kakeknya Bhishma. Putra Bhagirathi alias Ibu Gangga itu memberikan banyak pelajaran
berharga tentang kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan seorang pemimpin atau raja. Parva
ini menjelaskan secara rinci tentang aturan-aturan menyangkut Dharma dan juga bagaimana
mengelola Artha. Di samping itu aturan tentang amal, derma dan pahalanya. Tingkatan kualitas
penerima derma dan cara menjalankan yang terbaik menyangkut pemberian. Parva ini juga
menggambarkan upacara kewajiban pribadi, etika dan pahala yang tidak ada bandingannya
dalam koridor dan aspek kebenaran universal. Parva ini menunjukkan pahala yang bagus bagi
Brahmana dan juga tentang sapi. Parwa ini benar-benar membongkar misteri tentang kewajiban
yang menyangkut waktu dan tempat. Berbagai kejadian ditambahkan ke dalam Parva yang
sangat bagus ini yang bernama Anusasana. Dalam Parva ini telah dijelaskan tentang naiknya
Bhishma ke sorga. Inilah Parva yang ketigabelas yang menerangkan secara teliti dan detail hal
ikwal berbagai kewajiban dari masyarakat. Jumlah Bab adalah 146 yang terdiri dari 8.000 sloka.

Sedangkan, Aswamedha Parva terdiri dari Parva-parva sabagai berikut , Aswamedhika


sesungguhnya adalah upacara korban kuda. Tujuan upacara ini untuk membersihkan semua dosa-
dosa baik yang dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. . Sedangkan, Anugita merupakan
kata-kata filosofi spiritual. Aswamedhika Parva merupakan parva yang keempat belas. Disini
diceritakan kisah yang sangat bagus tentang Samvarta dan Marutta. Digambarkan juga penemuan
Pandava benda-benda berharga yang dibuat dari emas. Lahirnya Parikshit kembali setelah
dihidupkan Sri Krishna. Parikshit sebelumnya terbakar oleh senjata surgawi Brahmastha. Senjata
sakti itu dipanahkan anak Drona, Aswatthaman. Juga ada cerita menarik, pertempuran Arjuna
putra terbaik Pandu, pada saat mengikuti upacara persembahkan kuda yang hilang melawan
beberapa pangeran yang dengan kemarahannya menangkap Arjuna. Diceritakan juga resiko yang
besar harus dihadapi Arjuna dalam pertarungannya dengan Vabhruvahana, yang merupakan
putranya sendiri. Putranya itu dilahirkan dari perkawinannya dengan Dewi Chitrangada, seorang
putri yang ditunjuk oleh penguasa Manipura. Ada kisah tentang seekor musang pada saat
dilangsungkannya upacara korban kuda. Inilah Parva yang sangat bagus yang bernama
Aswamedhika.

ASRAMA PARWA

Asramawasikaparwa atau dalam versi Jawa Kuna disebut Asramawasanaparwa adalah buku ke
15 Mahabharata. Adapun kisah ceritanya adalah sebagai berikut: Sehabis perang Bharatayuddha,
sang Drestarastra diangkat menjadi raja selama limabelas tahun di Astina. Ini bermaksud untuk
menolongnya sebab putra-putra dan keluarganya sudah meninggal semua. Para Pandawa taat dan
berbakti kepadanya dan menyanjung-nyanjungkannya supaya ia tidak teringat akan putra-
putranya. Tetapi sang Wrekodara selalu merasa jengkel dan mangkel terhadapnya karena teringat
akan perbuatan sang Duryodana yang selalu berbuat jahat.

Maka kalau tidak ada orang sang Drestarastra dicaci maki olehnya dan ditunjukkan atas kesalah-
salahannya. Akhirnya sang Drestarastra tidak tahan lagi karena merasa segan dan meminta diri
kepada raja Yudistira akan pergi dan tinggal di dalam hutan. Lalu ia berangkat diantarkan oleh
orang tua-tua: Arya Widura, dewi Gandari dan dewi Kunti. Selama dalam pertapaan para
Pandawa pernah mengunjunginya namun tak lama kemudian sang Drestarastara meninggal,
disusul oleh para pengiringnya. Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra,
Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka
menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar
bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.

MAUSALA PARWA
Pada suatu hari, beberapa orang ksatri bangsa Wrishni, Sarana, salah seorang dari antaranya
melihat kedatangan para rsi, yaitu Wiswamitra, Kanwa, dan Narada mengunjungi ibu kota
kerajaan Dwaraka. Kelompok ksatria ini, karena memang telah terkena kutuk dewata, mencoba
mengelabui para Brahmana itu, yaitu dengan mengajukan suatu pertanyaan yang sangat
menghina sifatnya. Samba menyamar menjadi wanita hamil, lalu beramai-ramai diarak dan
diantarkan menghadap para Brahmana yang baru tiba itu. Salah seorang lalu mengajukan
pertanyaan sebagi berikut, ”Wanita ini adalah istri Wabhru yang terkenal sakti itu dan ia sedang
hamil tua. Dapatkah wahai Brahmana, mengatakan dengan setepatnya, apakah yang akan lahir
dari kandungan ini?” ketiga Brahmana yang teramat sakti saling pandang satu sama lain.
Kemudian dengan sangat marahnya, keluarlah kutukannya yang sangat dahsyat, ”keturunan
Wasudewa ini bernama Samba, ia akan melahirkan sebuah bom besi yang akan meledak dan
menghancurkan bangsa-bangsa Wrishni dan Andhakasa. Kalian semua sungguh berhati jahat,
kejam dan mabuk kesombongan. Kalian akan saling bunuh dan bom-bom besi akan
memusnahkan seluruh bangsa ini, kecuali Rama dan Janardhana. Rama ksatria bersenjatakan
luku itu akan kembali ke dalam samudra, sementara Krishna yang sangat mulia itu akan tewas
terkena panah seorang pemburu bernama Jara, pada waktu baginda sedang rebah di atas tanah
melakukan yoga.
Bertiga mereka berangkat ketempat Rama menyepikan diri. Ketika itu rama sedang melakukan
samadhi duduk bersandar di bawah pohon, di suatu tempat dipinggir hutan yang sunyi. Setelah
sampai di tempat itu. Krishna memerintahkan kepada Daruka untuk membawa kabar ke negeri
Kuru serta mengajak Arjuna untuk datang segera ke negeri Yadu yang telah hancur terkena
kutukan brahmana itu. Sementara itu kepada Wabhru, Krishna memerintahkan sebagai berikut,
”kembalilah segera keistana. Jaga semua wanita dan anak-anak yang berlindung di sana. Jangan
biarkan perampok dan penyamun menganiaya mereka atau merampas harta benda yang
tersimpan di istana”.
Saat Rama sedang duduk terserap dalam yoga yang sangat dalam. Dari dalam rongga mulutnya
ke luar seekor ular yang luar biasa. Kulitnya putih cemerlang dengan ribuan kepalanya dan
bertubuh sebesar gunung. Matanya menyala-nyala merah. Perlaha-lahan bergerak menuju lautan,
memang telah lama roh suci naga ini manjelma sebagai manusia. Kini ia keluar meninggalkan
jasadnya. Naga yang dahsyat itu disambut oleh dewa, para naga, dan dewa-dewa sungai. Semua
menyambut roh suci Rama, mempersembahkan Arghya, air pencuci kaki, dan upacara lainnya.
Semua memuja naga yang luar biasa itu.
Setelah kakaknya meninggalkan dunia ini, Wasudewa masih mengembara untuk beberapa waktu
lamanya di dalam hutan. Tenaganya masih hebat seperti dahulu. Wasudewa ini sebenarnya
adalah perwujudan dewa yang maha agung, karena itu sebenarnya beliau mengetahui segala-
galanya. Akan tetapi beliau tidak terlepas dari kebutuhan manusia biasa dalam penjelmaannya
ini. Dalam penjelmaannya ini beliau bertugas menjaga kelestarian ketiga dunia dan juga
mengukuhkan kebenaran ucapan-ucapan putra Atri, Rsi Durwasa itu. Kini perasaan, ucapan, dan
pikirannay telah dipersatukan. Tubuhnya rebah terlentang da dalam keadaan samadhi tingkat
yang tertinggi. Tiba-tiba muncul di tempat itu seorang pemburu bernama Jara. Ia sedang
memburu kijang. Kesawa yang terlentang di tanah sepintas lalu disangkanya seekor kijang.
Panah terlepas dari busurnya, melesat dan menancap tepat ditelapak kaki Krishna. Jara menjadi
pucat karena yang disangkanya kijang itu ternyata seorang pertapa berjubah kuning dan sedang
melakukan yoga. Ia gemetar setelah melihat roh suci Krishna telah keluar dengan tangan-tangan
banyak sekali, menjulur-julur keluar. Jara memohon ampun, menyembah serta memegangi kaki
Krishna. Dengan ucapan penuh kasih sayang Kesawa menghibur hati Jara. Sesampainya di alam
surga, beliau disambut oleh Wasawa, Aswin, Rudra, Aditya, Para Wasu, Wiswadewa, Para
Muni, Siddha da para pemuka golongan Gandharwa ditambah para Apsara. Karena beliau
berasal dari Narayana, para Ghandarwa menjaga, memujanya dengan nyanyian-nyanyian suci,
bahkan Indra sekalipun memuja dia yang maha tinggi.

MAHAPRASTIKA PARWA
menceritakan bagaimana Yudhistira meninggalkan takhta kerajaan dan menyerahkan
singgasananya kepada Parikeshit, cucu Arjuna, dan bagaimana Pandawa melakukan perjalanan
suci ke puncak Himalaya untuk menghadap Batara Indra.

SWARGA ROHANA PARWA

Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung


Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia
ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh
meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu
Dewa Dharma.

Buku Swargarohanaparwa adalah buku terakhir Mahabharata. Di dalam buku ini dikisahkan
bagaimana sang Yudistira yang diangkat naik ke surga lebih baik memilih pergi ke neraka
daripada tinggal di sorga dengan para Korawa. Di sorga ia tidak menemui saudara-saudaranya,
para Pandawa dan dewi Dropadi.

Maka Yudistira pun berangkat ke neraka dan sesampainya, ia melihat saudara-saudaranya


sengsara dan iapun merasa sedih. Tetapi tiba-tiba sorga berubah menjadi neraka dan neraka
tempat mereka berada berubah menjadi sorga. Ternyata para Pandawa dan Dropadi pernah
berdosa sedikit sehingga harus dihukum. Sedangkan para Korawa pernah berbuat baik sedikit,
tetapi perbuatan jahatnya jauh lebih banyak, sehingga beginilah hukumannya.

Anda mungkin juga menyukai