Rencana Keselamatan Konstruksi RKK
Rencana Keselamatan Konstruksi RKK
KESELAMATAN
KONSTRUKSI (RKK)
PENGADAAN PEKERJAAN
PENINGKATAN JALAN IR. JUANDA KEC. BATU CEPER -
NEGLASARI
DAFTAR ISI
Dalam pengelolaan perusahaan, kepemimpinan menjadi salah satu kunci utama. Pimpinan
Puncak Perusahaan beserta jajarannya telah menunjukakan kepemimpinan dan komitmen
terhadap SMMK3LL melalui , antara lain :
Dalam pengelolaan perusahaan yang bergerak di bidang Jasa Konstruksi berkomitmen dan
peduli terhadap Keselamatan Konstruksi khusus dalam pencapaian penanganan isu
keselamatan konstruksi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
SUMARDI
Direktur
A.2. Kepedulian Pimpinan Terhadap Isu External dan Internal
System Manajemen K3LL Kontraktor disiapkan dan diterapkan untuk proyek dan menjadi
Komitmen dari setiap Manajemen Proyek dalam melaksanakan pekerjaan, diantaranya ;
Aspek Kesehatan, Keselamatan, Lindung Lingkungan dan Aset Perusahaan yang dilindungi
sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan yang berlaku serta sesuai dengan Kebijakan
K3LL Kontraktor dan Pemilik Proyek. Kontraktor telah menetapkan sebuah kebajikan
dalam pengerjaan proyek, yaitu :
1. Mutu, Jadwal dan K3LL akan diperlakukan dengan prioritas yang sama, tetapi bila
terjadi konflik, maka K3LL akan selalu mendapat prioritas yang pertama.
2. Setiap pekerja diharapkan dan diwajibkan untuk menghentikan suatu pekerjaan jika
dirasakan tidak aman bagi karyawan, orang lain atau lingkungan.
3. Setiap pekerja diwajibkan untuk melaporkan setiap tindakan yang tidak aman, kondisi
tidak aman, kecelakaan/ insiden, dan kerusakan lingkungan.
Nama : SUMARDI
Jabatan : Direktur
No. KTP : 3671130504770003
Bertindak untuk dan atas nama : PT. MEGA BINTANG ABADI
NPWP Perusahaan : [Link]-017.000
Alamat : Jl. Menteng Raya FA 01 No. 5, Jurang Mangu Barat
Pondok Aren, Tangerang Selatan
Telepon : (021) 7888 2345
Fax : (021) 7866 777
E-mail : megabintangabadi1@[Link]
Dalam rangka Pekerjaan Peningkatan Jalan Ir. Juanda Kec. Batu Ceper - Neglasari pada
Kelompok Kerja Pemilihan 1.1 Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Tangerang, UKPBJ
Pemerintah Kota Tangerang, Gedung Pusat Pemerintahan Daerah Kota Tangerang, Lantai 5,
Jl. Satria Sudirman No. 1, Kota Tangerang - Provinsi Banten, berkomitmen melaksanakan
konstruksi berkeselamatan demi terciptanya Zero Accident, dengan memastikan bahwa seluruh
pelaksanaan konstruksi :
1. Memenuhi Ketentuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi;
2. Menggunakan Tenaga Kerja Kompeten Bersertifikat;
3. Menggunakan Peralatan yang Memenuhi Standar Kelaikan;
4. Menggunakan Material yang Memenuhi Standar Mutu;
5. Menggunakan Teknologi yang Memenuhi Standar Kelaikan;
6. Melaksanakan Standar Operasi dan Prosedur (SOP); dan
7. Memenuhi 9 (sembilan) Komponen Biaya Penerapan SMKK.
SUMARDI
Direktur
RENCANA
KESELAMATAN
KONSTRUKSI (RKK)
Penilaian resiko merupakan system memperkirakan insiden /kejadian yang dapat mungkin
terjadi terhadap personil ,asset, lingkungan sehingga dapat ditetapkan besarnya toleransi
resiko dan kerugian. Identifikasi bahaya Analisis Resiko dan Penentuan Pengendalian pada
awal konstruksi dilakukan sebelum proses mobilisasi dalam mengidentifikasi pengaruh
aktivitas terhadap mutu, potensi bahaya, masalah prosedur dan persyaratan keselamatan
kerja maupun faktor kelestarian lingkungan yang dapat mempengaruhi aspek konstruksi,
biaya atau jadwal. Metodologi dilaksanakannya proses penilaian sesuai dengan tempat
kerja / proses kegiatan, peraturan pemerintah, standar dan persyaratan kontrak.
1. Tidak ada kecelakaan kerja yang berdampak korban jiwa (Zero Fatal Accident) / 0 %.
2. Tingkat penerapan elemen SMK3 minimal 80 %.
3. Semua pekerja wajib memakai APD yang sesuai bahaya dan risiko pekerjaannya masing-
masing.
4. Karyawan kantor dan Proyek 90 % memahami dan mengikuti pelatihan Gawat Darurat
5. Peralatan kerja termasuk Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan Alat Pelindung Diri (APD)
dalam kondisi baik dan layak pakai 80% vendor HYN sudah sadar K3.
6. Kerusakan barang pesanan sampai ke lokasi proyek 5%.
7. Barang pesanan sampai di lokasi proyek tepat waktu dan sesuai dengan jumlah serta spec
yang dipesan dan memenuhi aturan K3l
8. Pelaksanaan HIRA di tempat kerja setiap 6 bulan dan pelaporan dan penaganan selesai 2
minggu setelah pelaksanaan.
PROGRAM K3
Frekuensi terjadinya Resiko K3 Konstruksi seperti dinyatakan dengan nilai pada dibawah ini :
Nilai Kekerapan
1 (satu) Jarang terjadi dalam kegiatan konstruksi
2 (dua) Kadang – kadang terjadi dalam kegiatan konstruksi
3 (tiga) Sering terjadi dalam kegiatan konstruksi
Penentuan Nilai Keparahan
Kerugian atau dampak kerusakan akibat Resiko K3 Konstruksi seperti dinyatakan
dengan nilai sebagai berikut :
TR = P x A
Hasil perhitungan tingkat resiko K3 Konstruksi dapat dijelaskan
dengan table berikut ini :
Keterangan :
Cara perhitungan tingkat keparahan dihitung berdasarkan rata-rata tingkat keparahan pada
orang, harta benda, lingkungan, dan keselamatan umum. Untuk tingkat keparahan pada
orang yang mengakibatkan kematian maka nilai tingkat keparahan adalah 3 (berat) tanpa
harus memperhitungkan nilai rata-rata.
Tabel 1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko, Penetapan Pengendalian Resiko K3
PENETAPAN PENGENDALIAN
NO
TIN SKAL
KEKE KEPA GKA A
IDENTIFIKASI
URAIAN PEKERJAAN DAMPAK RAPA RAHA T PRIO
BAHAYA
N N RESI RITA
KO S
Pengendalian Tambahan
Apabila setelah melakukan upaya – upaya pengendalian Resiko k3, tetapi masih menyisikan
Resiko K3 Tinggi, maka diperlupan upaya pengendalian tambahan.
Dalam menetapkan pengendalian untuk merubah yang sudah ada, pertimbahan diberikan
untuk mengurangi resiko sesuai dengan hirarki :
- Eleminasi
- Substitusi
- Pengendalian Engineering
- Rambu – rambu/ peringatan dan/ atau pengendalian administrasi
- Alat pelindung diri
B.2. Rencana Tindakan Sasaran dan Program K3
SASARAN KHUSUS
PENGENDALIAN INDIKATO
NO URAIAN PEKERJAAN JADWAL BENTUK
RISIKO TOLAK SUMBER R PENANGGUNG
URAIAN PELAKSAN MONITORI
UKUR DAYA PENCAPAI JAWAB
AAN NG
AN
1 2 3 4 6 7 8 9 10
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
Bulan Ke-
No. Kegiatan PIC
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Inspeksi Keselamatan
Konstruksi
2. Patroli Keselamatan
Konstruksi
3. Audit Internal
B.3. Standar dan Peraturan Perundangan
1. Undang-Undang (UU)
Perusahaan menetapkan dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk pembentukan,
penerapan, pemeliharaan dan peningkatan berkesinambungan dari SMMK3LL. Manajemen
Proyek telah mempertimbangkan :
a. Kemampuan untuk dan kendala pada sumber daya internal yang tersedia.
b. Kebutuhan-kebutuhan apa yang perlu diperoleh dari penyedia eksternal.
Personil penanggung jawab kegiatan SMK3LL, Panitia Pembina K3 dan Penangung jawab
tanggap darurat beserta uraian tanggung jawab masing-masing diuraikan dalam struktur
organisasi sebagai berikut:
PROJECTMANAGER
PROJECT MANAGER
Penanggung JawabK3
Penanggung Jawab K3
QHSEProject
QHSE Project
DocumentControl
Document Control P23KProject
P23K Project TimTanggap
Tim Tanggap
Darurat
Darurat
URAIAN JABATAN
2. Zero accident
STRUKTUR ORGANISASI
KETUA P2K3
SEKRETARIS
P2K3 ANGGOTA
KETUA P2K3
SEKERTARIS P2K3
Tindakan koreksi
STRUKTUR ORGANISASI
Koordinator Tim
Tanggap Darurat
Koordinator
Koordinator P3K Koordinator Huru- Koordinator Darurat
Kebakaran Koordinator Evakuasi
hara Lingkungan
b. Koordinator Evakuasi
1. Membantu Koordinator Tim Tanggap darurat dalam menjalankan manajemen K3.
2. Mempelajari situasi dan kondisi bila setiap saat diperlukan untuk melakukan evakuasi.
3. Melaksanakan evakuasi bila terjadi keadaan darurat kecelakaan kerja, bahaya
kebakaran, ancaman bom dan huru hara.
4. Selalu mendahulukan keselamatan jiwa daripada keselamatan barang/material.
5. Siaga dantanggap atas kondisi yang ada.
f. Petugas APAR
1. Memastikan kesiapan APAR yang ada untuk mengahadapi kebakaran.
2. Melaksanakan pemadaman kebakaran dengan alat pemadam kebakaran yang ada.
3. Melakukan pemeriksaan atas alat Pemadam Api Ringan yang tersedia
Selalu ada di tempat sesuai layout
Terlihat dan mudah di jangkau
Petunjuk penggunaanmudah di baca
Segel dalam kondisi lengkap
Tidak ada kerusakaan
Penempatan sesuai peraturan (120 cm dari lantai)
4. Melaksanakan tindakan pemadaman api bila terjadi indikasi kebakaran (jangan
menunggu api membesar)
5. Memberikan tanda /sinyal bahaya kepada seluruh personil yang ada disekitar lokasi
kebakaran.
6. Selalu mendahulukan keselamatan jiwa daripada keselamatan barang/material
7. Menghubungi aparat terkait bila setelah 3 menit api tidak dapat diapadamkan.
8. Melaporkan kepada atasan kejadian kebakaran tersebut, baik kronologis terjadinya
kebakaran maupun akibat yang ditinggalkan.
9. Siaga dan tanggap atas kondisi yang ada.
g. Petugas P3K
1. Membantu Koordinator P3K dalam menjalankan kesiapan tanggap darurat P3K
2. Memastikan kesiapan prasarana P3K yang ada
3. Memberikan bantuan P3K kepada korban bila terjadi kecelakaan.
4. Mempelajari situasi dan kondisi bila setiap saat diperlukan untuk melakukan pertama
pada kecelakaan
5. Membuat hubungan yang baik dengan pihak terkait seperti rumah sakit , dokter dan tim
medis.
6. Memberikan pertolongan pertama pada korban sesuai kondisi korban.
7. Menggunakan paralatan yang ada saat memberikan pertolongan
8. Membawa korban ke rumah sakit yang ditunjuk
9. Melaporkan kepada atasan kejadian kecelakaan tersebut, baik kronologis terjadinya
kecelakaan maupun kondiisi akhir korban.
10. Siaga dan tanggap atas kondisi yang ada
h. Petugas Keamanan/Security
1. Memastikan kesiapan prasarana keamanan dan pintu masuk/keluar yang ada untuk
menghadapi kebakaran , huru hara, bencana alam, dan gangguan keamanan.
2. Memberikan petunjuk /arah tempat berkumpul bila terjadi kebakaran, huru hara,
bencana alam dan gangguan keamanan
3. Menjaga pintu akes masuk/keluar agar terbebas dari gangguan atau mencegah orang
yang tidak berkepentingan masuk.
i. Petugas Komunikasi
1. Memastikan kesiapan prasarana keamanan dan pintu masuk/keluar yang ada untuk
menghadapi kebakaran , huru hara, bencana alam, dan gangguan keamanan.
2. Menginformasikan keadaan darurat sesuai dengan kejadian kepada pihak internal yang
berwenang ataupun receptionist bila terjadi kebakaran huru hara, bencana alam dan
gangguan keamanan.
j. Petugas Teknik
1. Memastikan kesiapan prasarana listrik yang ada untuk menghadapi kebakaran , huru
hara, bencana alam, dan gangguan keamanan.
2. Mematikan aliran listrik pada lantai atau areal yang terbakar dan/atau menghadapi
kebakaran huru hara, bencana alam dan gangguan keamanan.
C.2. Kompetensi
1. TUJUAN
Memberikan panduan dalam kegiatan peningkatan kompetensi pegawai pada
PT. MEGA BINTANG ABADI
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini dilaksanakan dalam lingkup kegiatan kompetensi pegawai pada
PT. MEGA BINTANG ABADI meliputi : usulan program peningkatan kompetensi
pegawai. Pembentukan tim, penentuan peserta, pelaksanaan kegiatan peningkatan
kompetensi karyawan.
3. REFERENSI
a. Pedoman Mutu
b. Prosedur Penerimaan Karyawan
4. ISTILAH DAN DEFINISI
Istilah dan Definisi yang dipakai dalam penulisan Pedoman Mutu, SOP. Instruksi Kerja
serta dokumen lainnya diuraikan secara rinci sesuai SMM ISO 9001:2008. Diurutkan
berdasar abjad dituangkan pada Lampiran Istilah dan Definisi.
5. DIAGRAM ALIR, DOKUMEN DAN KETERANGAN KEGIATAN
(Tercantum pada halaman 2/2 prosedur ini)
6. FORM
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal kegiatan
d. Form evaluasi
7. INSTRUKSI KERJA
-
8. REKAMAN MUTU
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal kegiatan
d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan
C.3. Kepedulian
Kepedulian merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan membuat rencanadan
program kerja sebagai tindakan pencegahan terhadap risiko kecelakaan kerja, sakit akibat
pekerjaan dan pemulihan lingkungan yang tercemar akibat pekerjaan konstruksi. Program
kepedulian keselamatan konstruksi sebagai berikut :
1. TUJUAN
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan informasi-
infomasi lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerjakepada pihak internal
daneksternal perusahaan secara efektif
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi Perusahaan dan semua pihak yang
bekerja di area tersebut. Hal-hal yang diatur dalam prosedur ini adalah cara untuk
menyebarluaskan informasi-informasi terkait dengan lingkungan,keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) dan kepada pihak internal maupun eksternal Perusahaan
3. DEFINISI
InformasiK3,
yaitu informasitentang lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi:
o Peraturan perundanganK3 Indonesia dan Internasional
o Standar Nasional Indonesia dan Internasional
o Kebijakan terpadu dan EHS Management System Manual Perusahaan
o Kondisi bahaya, laporan inspeksi dan laporan & hasil investigasi kecelakaankerja
o Laporan internal / eksternal audit dan hasil rapat tinjauan ulang manajemen
o Prosedur dan instruksi kerjaK3
o Risalah rapat bulanan / khusus P2K3, pelatihan-pelatihanK3
o Tanda-tanda, peringatan bahaya dan tanda / peringatanK3lainnya
o Dan informasi-informasi lainnya yang terkait denganK3
• Internal Perusahaan :
yaitu semua karyawan (karyawan bulanan, harian tetap,harian borongan maupun
harian musiman) yang terkait dengan kegiatan operasi Perusahaan.
• Eksternal Perusahaan :
yaitu semua pihak-pihak yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan
operasi proyek Perusahaan ,seperti dalam penyediaan pasokan barang/material
maupun jasa ( supplier /pemasok barang ,kontraktor / sub kontraktor, dll.) ,
termasuk tamu-tamu yang akan berkunjung kelingkungan operasi proyek
Perusahaan. maupun penyediaan informasi K3 kepada-kepada instansi-instansi
pemerintah yang terkait dan berwenang
• Konsultasi K3 :
adalah usaha atau kegiatan untuk mendapatkan solusi dari masalahyang dihadapai
dan peluang untuk perbaikan penerapan, pengembangan dan pemeliharaan sistem
manajemenK3
4. REFERENSI
• Permenaker No.05/MEN/1996, SMK3, elemen 3.1.4. dan 3.2.1.
• ISO 14001:2004,Environmental Management System,klausul4.4.3
• OHSAS 18001:1999,OHS Management System,klausul4.4.3
• EHS Management System ManualPT. Rekaya Semesta Utama
5. PROSEDUR
[Link] Jawab
• EHS Department bertanggung jawab untuk senantiasa berkoordinasi baik secara
internal maupun eksternal perusahaan (Kementerian Lingkungan Hidup,
DepnakerPropinsi / Kab. / Kodya., Bapedalda Propinsi / Kabupaten /
Kotamadya, Depkes,Pemda dan instansi / institusi lain terkait berkaitan dengan
aspek K3) yang bertujuan untuk memastikan bahwa peraturan dan
perundangan, standar, dan informasi K3 lainnya senantiasa up to date / terbaru
dan dikomunikasikan / diinformasikan pada departemen terkait di dalam
lingkungan operasi perusahaan.
[Link]
[Link] Internal
• Karyawan diberikan atau mendapatinformasi mengenai pedoman dan prosedur
Sistem Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)serta
pelaksanaannya dilingkungan Perusahaan ,melalui kegiatan pelatihan dan
pelaksanaannya dikoordinir oleh Technical Training Department.
• Setiap 3 bulan sekali, melaporkan hasil kegiatan P2K3 kepada Dinas Tenaga
Kerja Setempat, dimana laporannyadisiapkan oleh sekretaris P2K3 dan
ditandatangani oleh Ketua dan SekretarisP2K3.
• Pihak Satuan Pengaman / Security yang ada di Pos Ronda setiap Gedung /
Area Produksi atau Kepala Departemen / Personil Departemen yang
ditunjuk berkewajiban memberikan informasi-informasi K3 dan prosedur
tanggap darurat yang berlaku di area tersebut kepada setiap tamu yang
akan masuk kegedung / area departemen / plant tersebut.
Untuk menjamin kerahasiaan semua informasi yang berkaitan dengan K3, diatur
dan mengikuti peraturan perusahaan mengenai “Non-Disclosure Agreement”
(Perjanjian/Kesepakatan Tidak Membocorkan Rahasia Perusahaan) yang
telahditanda tangani oleh setiap karyawan Perusahaan.
5.2.3. Alat dan Media Komunikasi
Alat dan Media komunikasi yang digunakan dapat berupa dan tidak terbatas
hanya padaalat dan media sebagai berikut :
• Electronic mail ( e-mail )
• Meeting( townhall, P2K3,dsb.)
• Briefing
• One to one personal contact
• Papan pengumuman
• Pelatihan atau kursus
• Banner, poster(Promosi)
• Distribusi dokumen (Manual, standard procedure, supporting doc, record )
• Telepon, facsimile, internet
• TV Media
Komunikasi, Konsultasi, Motivasi dan Kepedulian
5.3. Konsultasi K3
• Konsultasi ini bisa dilakukan di internal Perusahaan, untuk melibatkan
karyawan maupun dengan pihak eksternal, seperti Perguruan Tinggi,
Instansi Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya masyarakat (NGO – Non
Government Organization), perusahaan asuransi, konsultan K3, dsb.
• Beberapa contoh konsultasi K3 adalah :
- Konsultasi dengan wakil karyawan dalam pembuatan kebijakan K3.
- Konsultasi dengan karyawan yang ahli maupun dengan pihak eksternal
untuk pemenuhan terhadap peraturan perundangan dan persyaratan
lainnya.
- Konsultasi dengan Perguruan Tinggi atau lembaga penelitian dalam
usaha pencegahan pencemaran lingkungan dan pemanfaatan limbah.
d. Rekaman atau catatan, yang dianggap perlu sebagai bukti implementasi SMMK3L
C.5.2. Penyusunan dan Pembaharuan
Manajemen PT. MEGA BINTANG ABADI telah menetapkan dokumentasi SMMK3L
terdiri dari :
a) Level 1 : Pedoman SMMK3L
b) Level 2 : Prosedur (Standard Operating Procedure)
c) Level 3 : Instruksi kerja /WI bisa berupa gambar, flowchart
D. PERENCANAAN OPERASI
D. Operasi Keselamatan Konstruksi
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Jum’at
Kamis
Selasa
Sabtu
Senin
Rabu
KEGIATAN G JAWAB
1 2 1 2 3
Penghargaan Manajer
Bulanan untuk Konstruksi
Pekerja, SV,
Siyang
menunjukan
kebiasaan
selamat atau
melaporkan
UA/UC,
penggunaan APD
terbaik dan
mengikuti
peraturan
keselamatan
Hukuman Project
kepada sub- Manager
konstraktor dan
seluruh pegawai
yang
menunjukan
kinerja tidak
baik dalam
keselamatan
Job Safety Analysus & Risk Assesment
Job Safety Analisys (JSA) & Risk Assesment akan diperlukan untuk semua pekerjaan
[Link] & RA dokus pada tugas / pekerjaan sebagai cara untuk mengidentifikasi bahaya –
bahaya sebelum bahaya tersebut terjadi. JSA & RA focus pada hubungan pekerjam tugas,
peralatan, dan lingkungan pekerjaan. JSA merupakan alat untuk menghubungkan bahaya dan
resiko yang terkait dengan pekerjaan tertentu bagi pihak yang akan melakukan pekerjaan
bersama dengan prosedur dan pengendalian yang diperlukan untuk mengurangi resiko dan
penentuan APD serta peizinan yang dibutuhkan untuk melakukan peekerjaan. Setelag bahaya
yang tidak terkontrol teridentifikasi, langkah –langkah diambil untuk menyingkirkan atau
mengurangi bahaya ke tahap yang dapat diterima.
Pengendalian JSA tersebut harus berdasarkan prosedur atau instruksi kerja yang
tersedia untuk tim yang akan melaksanakan perkerjaan tersebut. Faktor utama JSA yang
dipersiapkan di pekerjaan adalah merupakan kemampuan petugas untuk focus pada
resiko (kondisi sekarang, sumber, pengalaman pekerjaan, dampak terhadap pekerjaan
lain atau orang, dan lain – lain). Setiap Supervisior bertanggung jawab mengembangkan
JSA untuk setiap pekerjaan. Semua JSA yang dikeluarkan akan diregrister dan disimpan
selama proyek berjalan.
APD
Kontraktor harus memastikan bahwa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai dan tipe yang
telah disetujui disediakan kepada seluruh pekerja dan memantau kepatuhan Subkontraktor
dalam penyediaan APD terhadap pekerjaannya. Subkontraktor harus menyediakan APD yang
memadai dengan tipe yang telah disetujui Kontraktor dan Perusahaan kepada seluruh
pekerjaannya dan didokumentasikan. Catatan ini diperlukan untuk dapat ditelusuri dan
akuntabilitas. Kontraktor harus melakukan inspeksi terhadap Subkontraktor untuk memeriksa
kondisi kelayakan APD. APD wajib digunakan di dalam lokasi proyek dan masing-masing
individu tidak diperbolehkan bekerja di dalam proyek tanpa menggunakan APD yang layak.
Berikut ini adalah Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan masing-masing personil ketika
bekerja di lokasi proyek:
Bahaya
Objek bergerak atau jatuh yang dapat mengenai kepala
atau kepala menyentuh benda keras di lapangan. ANSI/ISEA Z89.1-2003
atau setara
2. Aktivitas Body Protection
Bekerja di lingkungan konstruksi dimana membutuhkan Minimum yang dibutuhkan
perlindungan tubuh adalah lengan panjang
coverall (Cotton, logo
Perusahaan, nama individu,
Bahaya garis reflective)
Berhubungan dengan bahaya (abrasi, kontaminasi,
panas / api) ASTM F23 atau setara
3. Aktivitas Hand Protection
Semua penanganan material atau pekerjaan Sarung tangan (yang sesuai
yangmembutuhkan perlindungan tangan dengan tipe pekerjaan)
Bahaya
Pukulan, hancur, terpotong, benda jatuh, benda tajam, BS EN 345, 1993 atau
paku, tumpahan bahan berbahaya atau masuk tank setara
7. Aktivitas Full Protection
Bekerja di ketinggian di 1,8m atau di atasnya Full body harness
Bahaya
Jatuh dari ketinggian ANSI A10.14 atau setara
8. Aktivitas Respiratory Protection
Bekerja di konstruksi, ruang terbatas atau daerah dekat Alat pernapasan wajah
uap berbahaya dan beracun dan debu dengan filter
ANSI Z88.2-1992
Bahaya
Terpapar konsentrasi rendah dari uap berbahaya dan Filter Respirator set out BS
beracun dan partikel (debu) EN 4275, 1997
Keempat rambu tersebut diatas sangatlah penting untuk dipahami dan disosialisasikan,
disamping itu dalam kesehariannya perlu adanya contoh sebelum peserta memasuki area
tempat
kerja, Pemasangan tanda isyarat yang dikenal dengan rambu – rambu di tempat kerja sangatlah
penting karena sebagai fungsi kontrol guna memberikan informasi yang jelas apa yang harus
diketahui dan dipersiapkan pada daerah tersebut.
Tanda digunakan untuk memperingatkan karyawan, tenaga kerja serta masyarakat tentang
tanda-tanda bahaya seperti bahaya pekerjaan, bahaya disekitar area pekerjaan atau untuk
menunjukan fitur – fitur keselamatan seperti keluar api. Mereka juga dapat memberikan
informasi umum atau instruksi spesifik tentang peralatan yang harus dipakai di dareah yang
ditunjuk. Yang dimaksud kan dengan rambu – rambu dalam area kerja adalah semua bentuk
peraturan yang dituangkan dalam bentuk :
1. Gambar – gambra /poster
2. Tulisan/ logo/ semboyan/ motto
3. Simbol – symbol
Beberapa tanda harus dipasang sebagai bagian yang dipersyaratkan dari aturan kesehatan
dan keselamatan karja untuk membantu mengurangi resiko berbahaya, adapun poster
merupakan penjelasan yang menjelaskan suatu aktifitas dalam bentuk sebab dan akibat.
Kesemua hal tersebut diatas teraplikasikan rangka untuk mengingatkan kembali pentingnya
prosedur, proses pekerjaan dan hasil pekerjaan yang aman dan memenuhi standar kualifikasi
yang telah ditentukan berdasarkan undang – undang keselamatan kerja yang berlaku.
Adapun Rambu dalam workshop yang sering dipasang adalah :
1. Rambu Larangan
2. Rambu Peringatan
3. Rambu Pertolongan
4. Rambu Persyaratan
Rambu – rambu K3 pada umumnya terdiri dari beberapa symbol atau kode yang
menyatakan kondisi yang perlu mendapat atensi bagi siapa saja yang ada dilokasi tersebut.
Guna mempertegas suatu tanda atau rambu,dalam pelaksanaannya dimedakan dalam bentuk
warna – warna dasar yang sangat menyolok dan dikenali. Warna yang dipasang pada setiap
rambu berupa warna :
1. Warna Merah : Tanda Larangan (Pemadang Api)
2. Warna Kuning : Tanda Peringatan atau Waspada atau beresiko bahaya
3. Warna Hijau : Tanda zona aman atau pertolongan
4. Warna Biru : Tanda wajib ditaati atau prasyarat
5. Warna Putih : Tanda informasi umum
6. Warna Oranye : Tanda beracun
Adapun bentuk – bentuk kombinasi warna dasar dan tulisan dasar rambu K3 yang perlu
dipahami adalah seperti dalam table sbb:
Penggunaan bentuk rambu yang memuat tanda – tanda atau symbol terdapat 3 (tiga) bentuk
dasar yaitu :
Bentuk Bulat : Wajib atau bentuk larangan
Segitiga : Tanda Peringatan
Segi Empat : Darurat, informasi dan tanda tambahan
BENTUK DASAR
ARTI PENJELASAN
(KELOMPOK)
Bentuk Bulat, dasar warna Tanda Larangan
putih, lingkaran merah,
dengan garis 45° miring
dari kiri atas ke bawah logo
hitam
Contoh :
KRONOLOGIS KEJADIAN
Jika menemukan situasi darurat atau ada yang terluka, maka pihak yang menemukan harus
memberitahukan Tim Tanggap Darurat (TTD) terdekat.
Kemudian ERT secara otomatis akan aktif sesuai fungsi peran mereka di dalam prosedur
dan tidak terbatas untuk mengendalikan massa, memadamkan kebakaran kecil,
memberikan pertolongan pertama untuk kasus luka – luka, membatasi dan memblokir
daerah darurat seperti daerah keluarnya gas, evakuasi dan evaluasi dari site.
Pada saat yang sama anggota TTD harus memberitahukan Petugas Kemanan yang bertugas
yang pada gilirannya wajib memberitahukan kepada Ketua ERT
Setelah menerima informasi tersebut, Ketua TTD akan memproses lokasi darurat, akan
mengevaluasi situasi dan memutuskan langkah yang harus diambil. Ketua TTD akan
menentukan daerah evakuasi. Kondisi tersebut mengharuskan dia untuk melakukannya
termasuk pencarian orang hilang tanpa mempertaruhkan proses pencarian dan
penyelamatan personil yang lain.
Dalam situasi yang tidak dapat dikendalikan oleh TTD, Ketua TTD akan meminta tim
bantuan darurat seperti ambulan dari Rumah Sakit atau lainnya.
Manajer Proyek Kontraktor harus melaporkan kejadian darurat ke Pusat Klien dan
berkoordinasi dengan merek.
Jalur Evakuasi
Jalur evakuasi tanggap darurat adalah jalur yang dibuat berdasarkan wilayah aman,
akses dan suatu titik kegiatan evaluasi yang dapat dilalui dan dicapai oleh Organisasi
Penanggulan Keadaan Darurat proyek. Jalur evakuasi tanggap darurat di proyek adalah melalui
jalur darat. Pada jalur ini, pengaruh perubahan alam dan cuaca maupun akibat bencana seperti
jalan, kontur permukaan bumi, genangan air dan retakan / patahan tanah untuk beberapa
kejadian keadaan darurat tidak menghalangi mobilisasi evakuasi korban dan penyelamat asset.
Tute evakuasi dan tempat berkumpul da jaringan komunikasi darurat akan tampil di titik kunci
sekitar lokasi konstruksi dan di dalam Kantor utama Kontraktor dan Subkontraktor, kantor
Proyek, dan di pintu gerbang.
Kontraktor harus membuat nomor – nomor penting yang dapat dihubungi apabila
dalam keadaan darurat. Nomor – nomor tersebut terdiri dari, Rumah Sakit Rujukan, Pemadam
Kebakaran, Kepolisian, Kantor Pusat, Koordinator TTD dan Pihak Komando darurat dari
Perusahaan. Nomor – nomor pentingini harus dikomunikasikan kepada seluruh pekerja.
Pelatihan Keadaan Darurat (Emergency Drill)
Sebuah pelatihan tanggap darurat dapat dilakukan selama fase konstruksi proyek.
Dalam konsultasi dengan Perusahaan dan Manajer proyek Kontraktor akan melakukan
Pelatihan Darurat, dan itu dilakukan setelah mobilisasi, satu kali dalam 12 bulan. Ketentuan lain
harus dilaksanakan di lapangan termasuk:
Kontraktor wajib terlibat dalam mengembangkan dokumen bridging untuk menyesuaikan
ERP Perusahaan dan Kontraktor untuk proyek di lokasi
Mobilisasi di proyek tidak akan diizinkan sebelum Perusahaan menyetujui ERP Kontraktor.
D.2 Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat
Kecelakaan kerja yang terjadi selama pekerjaan harus ditangani dengan baik, dengan
tujuan supaya korban dapat segera pulih dan sembuh (untuk kecelakaan ringan) atau untuk
memberikan pertolongan pertama kepada korban supaya kondisinya tidak menjadi semakin
parah sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap
(untuk kecelakaan berat).
RENCANA
KESELAMATAN
KONSTRUKSI
(RKK)
Evaluasi Kepatuhan
Manajemen Walktrough
Proyek, Manajer Administrasi Proyek dan Pengendali Sistem. Adapun yang menjadi
agenda rapat tinjauan manajemen akan membicarakan hal – hal sebagai berikut :
1. Status tindakan dari tinjaukan manajemen sebelumnya
2. Perubahan dalam :
a. Masalah eksternal dan internal yang relevan dengan SMKK3LL
b. Kebutuhan dan harapan para pihak yang berkepentingan, termasuk kewajiban
kepatuhan
c. Aspek lingkungan, mutu K3 yang penting
d. Resiko dan Peluang
3. Pencapaian sasaran dan MK3LL yang telah dicapai
4. Informasi tentang kinerja dan efektivitas SMMK3LL termasuk tren di:
a. Kepuasan pelanggan dan umpan dari pihak yang berkepentingan terkait
b. Kinerja proses pelaksanaan SMMK3L
c. Sejauh mana sasaran SMMK3LL telah dipenuhi
d. Ketidaksesuaian dan tindakan korektif
e. Kesesuaian terhadap produk dan layanan
f. Kinerja dari external provider
g. Pemantaian dan pengukuran hasil
h. Pemenuhan kewajiban kepatuhan
i. Hasil Audit
j. Hasil investigasi kecelakaan dan status tindakan perbaikannya
k. Hasil partisipasi, konsultan dengan pihak terkait
5. Kecukupan sumber daya
6. Komunikasi yang relevan dari pihak yang berkepentingan termasuk keluhan
7. Efektifitas tindakan yang diambil untuk mengurangi resiko dan mengelola peluang
8. Kesempatan untuk perbaikan
RENCANA
KESELAMATAN
KONSTRUKSI
(RKK)
Manajemen Proyek akan melakukan perbaikan dan menerapkan tindakan yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan meningkatkan kepuasan pelanggan serta
peningkatan terhadap mutu pengelolaan lingkungan, K3 dan keselamatan di jalan dengan cara
meningkatkan mutu produk dan jasa, mengkoreksi, mencegah efek yang timbul, meningkatkan
kinerja dan efesiensi disegala bidang. Manajemen Proyek akan melakukan koreksi terhadap
ketidaksesuaian yang terjadi dan melakukan pencegahan agara tidak terulang lagi. Laporan
ketidaksesuaian, Tidakan Koreksi serta rencana Tindak Lanjut Penyelesaian akan dilaporkan
secara periodic dari level proyek. Devisi sampai dengan Kantor Pusat. Laporan dievaluasi dan
dipertimbangkan akan menjadi keluaran dari tinjauan manajemen, untuk menetapkan apakah
ada kebutuhan atau peluang yanag harus ditangani sebagai bagian dari perbaikan terus –
menerus.
Demikian Penyusunan Rencana Keselamatan Konstruksi PT. MEGA BINTANG ABADI, disusun
sebagai petunjuk dalam pelaksanaan pekerjaan PENINGKATAN JALAN IR. JUANDA KEC.
BATU CEPER - NEGLASARI
Manajemen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) akan terus diperbarui demi efektivitas
pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi secara berkesinambungan.
SUMARDI
Direktur