MAKALAH KIMIA INTI
RADIONUKLIDA
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5
1. Suci Rohana Putri Tambunan (A1C119050)
2. Putri Mayang Sari (A1C119056)
DOSEN PENGAMPU:
Prof. Dr. rer. Nat. Asrial, [Link]
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, yang tak henti-hentinya
memberikan nikmat kepada kita sehingga selalu berada dalam keadaan sehat.
Sholawat serta salam tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. sebagai
teladan dan guru besar bagi seluruh umat manusia.
Kami sangat bersyukur atas selesainya makalah kimia inti ini yang berjudul
“Radionuklida”. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu
mata kuliah ini yaitu Bapak Prof. Dr. rer. Nat. Asrial, [Link], dan teman-teman
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia inti serta
sebagai upaya untuk membantu mahasiswa dalam memahami materi
Radionuklida. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka
dari itu kritik dan saran dari pembaca sangat dibutuhkan dalam penyempurnaan
makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
mahasiswa khususnya dan pembaca pada umumnya.
Jambi, 09 Maret 2021
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................1
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Peluruhan Radionuklida........................................................................2
2.1.1 Peluruhan Alpha.........................................................................4
2.1.2 Peluruhan Beta............................................................................5
2.1.3 Peluruhan Gamma....................................................................10
2.2 Konversi Internal.................................................................................14
2.3 Skema Luruh........................................................................................16
2.4 Deret Radionuklida..............................................................................17
2.5 Persamaan Peluruhan Radionuklida....................................................22
2.5.1 Campuran dari Dua Aktivitas yang Meluruh Secara
Saling Tidak Tergantung..........................................................23
2.5.2 Peluruhan Radioaktif Berturutan..............................................24
2.5.3 Peluruhan Bercabang................................................................27
2.5.4 Persamaan Untuk Transformasi Selama Terjadi Reaksi Inti....27
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..........................................................................................31
3.2 Saran....................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................32
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radioaktivitas merupakan pemancaran spontan partikel-partikel radioaktif
oleh inti-inti atom yang tidak stabil. Radioaktivitas ditemukan pertama kali oleh
Henri Becquerel. Radioaktivitas ini digolongkan menjadi unsur-unsur radioaktif
dan partikel-partikel radioaktif. Unsur radioaktif adalah unsur-unsur yang
memancarkan partikel-partikel radioaktif secara spontan.
Terdapat tiga jenis peluruhan radioaktif secara spontan yaitu peluruhan
alfa(α),peluruhan beta(β),dan peluruhan gamma (γ).Jenis peluruhan atau jenis
radiasi yang dipancarkan dari suatu proses peluruhan ditentukan dari posisiinti
atom yang tidak stabil tersebut dalam diagram N-Z. Jika jumlah proton lebih
besar dari jumlah netron (N < P), maka gaya elektrostatis akan lebih besar dari
gaya inti,hal ini akan menyebabkan inti atom berada dalam keadaan tidak stabil.
Jika jumlah netron sama dengan jumlah protonnya (N = P) akan membuat inti
berada dalam keadaan stabil.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peluruhan radionuklida alfa, beta, gamma dan konversi
internal transisi isomerik serta peristiwa sekunder yang menyertai
jenis peluruhan tersebut?
2. Bagaimana skema luruh dari radionuklida?
3. Bagaimana deret luruh radionuklida?
4. Bagaimana persamaan peluruhan radionuklida?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui peluruhan radionuklida alfa, beta, gamma dan
konversi internal transisi isomerik serta peristiwa sekunder yang
menyertai jenis peluruhan tersebut.
2. Untuk mengetahui skema luruh dari radionuklida.
3. Untuk mengetahui deret luruh radionuklida.
4. Untuk mengetahui persamaan peluruhan radionuklida.
1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Peluruhan Radionuklida
Radioisotop (atau radionuklida) mengalami peluruhan menghasilkan isotop
(atau nuklida) baru, mungkin berupa nuklida stabil atau mungkin juga masih
radioaktif. Radionuklida yang mengalami peluruhan disebut radionuklida induk,
sedangkan hasil peluruhannya disebut (radio)nuklida anak. Peluruhan merupakan
peristiwa spontan yang bersifat acak sehingga hanya dapat diprediksikan terhadap
sekumpulan radionuklida tertentu secara rata-rata dan tidak dapat diprediksikan
terhadap satu radionuklida secara individual.
Setiap jenis radionuklida meluruh dengan laju peluruhan yang spesifik dan
tetap, tidak dipengaruhi oleh proses fisika maupun proses kimia. Laju peluruhan
ini menyatakan jumlah peluruhan (atau jumlah transformasi inti) yang terjadi per
detik. Besaran ini ekivalen dengan besaran keradioaktivan suatu radionuklida dan
dinyatakan dengan satuan becquerel (Bq), sehingga pengertian 1 Bq adalah 1
peluruhan per detik. Karena satuan Bq merupakan ukuran yang sangat kecil, maka
sering digunakan satuan yang merupakan kelipatan eksponensial dari Bq, yaitu
TBq (terabecquerel, 1012Bq), GBq (gigabecquerel, 109 Bq) dan MBq
(megabecquerel, 106 Bq). Juga masih sering digunakan satuan curie (Ci) yang
digunakan untuk mendefinisikan kuantitas keradioaktivan dari 1 gram Ra-226.
Satuan Ci ini ekivalen dengan 3,7 x 1010 peluruhan per detik, sehingga 1 Ci = 3,7
x 1010 Bq atau 1 Bq = 2,7 u 10¯ 11 Ci.
Beberapa jenis radionuklida meluruh melalui lebih dari satu model
peluruhan dengan intensitas masing-masing peluruhan mempunyai perbandingan
yang tetap, menghasilkan lebih dari satu macam nuklida atau radionuklida baru.
Pada Tabel 2.1 disajikan jenis peluruhan yang telah banyak dikenali. Secara
umum pembahasan peluruhan radionuklida di sini mengelompokkan model
peluruhan dalam 3 kelompok, yaitu peluruhan α, peluruhan β, dan peluruhan γ.
2
3
Tabel 2.1 Jenis – jenis peluruhan radionuklida
Jenis Peluruhan Komposisi Nukleon Keterangan
Nuklida Nuklida
Induk Anak
Peluruhan α (A,Z) (A – 4, Z – 2) Memancarkan radiasi α
Emisi proton (A,Z) (A – 1, Z – 1) Melepaskan proton
Emisi neutron (A,Z) (A – 1, Z) Melepaskan neutron
Emisi proton ganda (A,Z) (A – 2, Z – 2) Melepas 2 proton secara
serentak
Fissi spontan (Salah (≥230, ≥ 90) Variatif Secara teoritis dapat
satu jenis peluruhan terjadi pada radionuklida
dari radionuklida nomor massa di atas
dengan nomor 100, tetapi secara riel
massa tinggi yang hanya terjadi pada
menyertai jenis radionuklida nomor
peluruhan lainnya, massa A t 230, dan
misal peluruhan D harga Z t 90. Peluruhan
atau peluruhan β-) ini menghasilkan 2 atau
lebih nuklida baru serta
membebaskan neutron
yang memungkinkan
terjadinya reaksi inti
berantai
Peluruhan cluster (A,Z) (A – A1, Z – Menghasilkan 2 macam
(nuklida rangkap) Z1) dan (A1, nuklida baru
Z1)
Peluruhan β- atau (A,Z) (A , Z + 1) Melepaskan radiasi β-(=
emisi negatron negatron)
Peluruhan β- atau (A,Z) (A , Z - 1) Memancarkan radiasi β+
emisi positron (= positron)
Penangkapan (A,Z) (A , Z - 1) Radionuklida induk
elektron menangkap elektron
orbital
Peluruhan β- (A,Z) (A , Z + 2) Serentak melepaskan 2
rangkap elektron (2 negatron)
Penangkapan (A,Z) (A , Z - 2) Radionuklida induk
elektron rangkap menangkap 2 elektron
orbital
Penangkapan (A,Z) (A , Z - 2) Radionuklida induk
disertai emisi menangkap 1 elektron
positron orbital dan melepaskan 1
positron
Tabel 2.1 Jenis – jenis peluruhan radionuklida
4
Peluruhan γ (transisi (A,Z) (A,Z) Memancarkan radiasi γ
isomerik) (foton)
Emisi positron (A,Z) (A , Z - 2) Melepaskan 2 positron
rangkap secara serentak
Konversi internal (A,Z) (A,Z) Radionuklida metastabil
elektron memindahkan energinya
pada elektron orbital
yang kemudian terlepas
dari atom
2.1.1 Peluruhan Alpha
Peluruhan alpha terjadi karena inti memiliki nomor massa besar. Model
peluruhan α (alpha) pada umumnya menghasilkan berkas partikel α yang
monoenergetik. Walaupun demikian, radiasi α dari suatu peluruhan dapat
terdistribusi dalam rentang energi yang kecil apabila nuklida hasil peluruhan tidak
seluruhnya langsung berada pada tingkat energi dasar (ground state), melainkan
ada sebagian pada tingkat energi eksitasi dan kemudian diikuti dengan
transformasi energi ke tingkat dasar dengan memancarkan radiasi γ.
Energi peluruhan Ed memenuhi persamaan berikut :
Ed = Eα + Eg = (M1 – M2 – Mα) . C2
dengan :
Eα : energi kinetik partikel α yang dipancarkan
Eg : energi tingkat dasar nuklida hasil peluruhan
M1 : massa radionuklida yang meluruh
M2 : massa nuklida hasil peluruhan
Eα : massa partikel α
C : kecepatan cahaya
Hampir semua peluruhan α terjadi pada radionuklida dengan A lebih besar
dari 140. Radionuklida 52Te (A antara 106 – 110) merupakan radionuklida
pemancar α yang paling kecil nomor massanya. Penjelasan sederhana untuk hal
ini adalah karena jumlah proton yang tinggi di dalam inti atom berat tersebut
memberikan gaya tolak Coulomb yang tidak dapat diatasi oleh gaya-gaya lainnya
yang ada pada inti atom. Peluruhan αdapat dianggap sebagai satu jenis peluruhan
cluster, yaitu peluruhan yang menghasilkan lebih dari satu macam nuklida anak
dengan perbedaan massa yang relatif besar. Dalam hal peluruhan α ini,
5
radionuklida induk berubah menjadi partikel α yang identik dengan nuklida atom
He dan nuklida lainnya dengan massa sebesar massa radionuklida induk dikurangi
dengan 4 satuan massa inti. Pada Gambar 2.1 ditunjukkan peluruhan D α dari
86Rn-222 yang reaksi peluruhannya seperti berikut :
86Rn-222→ 84Po-218 + α + Ed (= 5.58 MeV )
Ed = Eα + Eg = (MRn-222 – MPo-218 – Mα) . C2
Gambar 2.1 Peluruhan α dari Rn-222 menjadi Po-218.
Arah radiasi nuklir digambarkan ke kiri karena jumlah proton nuklida anak
(Z=84) lebih kecil dari proton nuklida induknya (Z=86). Radionuklida induk 86Rn-
222 meluruh dengan waktu paruh 3,82 hari, sedangkan nuklida anaknya, 84Po-218,
adalah radionuklida dengan waktu paruh 3 menit. Peluruhan α mengakibatkan
penurunan perbandingan jumlah proton terhadap jumlah neutron dan ini
memberikan kestabilan inti hasil peluruhan lebih stabil dari radionuklida induknya
karena efek gaya tolak Coulomb antar proton menjadi lebih kecil. Di sisi lain
partikelαyang dilepaskan membawa energi kinetik yang jauh lebih besar dari
nuklida hasil peluruhan karena massa partikel α jauh lebih kecil dibandingkan
dengan massa nuklida hasil peluruhan.
2.1.2 Peluruhan Beta
Peluruhan β terjadi karena inti memiliki jumlah neutron lebih besar daripada
jumlah proton. Peluruhan β menghasilkan nuklida baru yang mempunyai nomor
massa sama dengan radionuklida awalnya (merupakan isobar radionuklida
awalnya) karena memancarkan radiasi atau partikel β yang massanya dapat
diabaikan. Ada 3 tipe peluruhan β, yaitu peluruhan negatron (memancarkan β-),
peluruhan positron (memancarkan β+) dan penangkapan elektron orbital.
Peluruhan negatron terjadi ketika radionuklida dengan n/p > 1 meluruh melalui
6
transformasi nukleon dari neutron menjadi proton disertai dengan pemancaran
negatron sehingga nomor atom nuklida anak lebih besar 1 unit dari radionuklida
induknya. Emisi negatron ini disertai pula dengan pemancaran suatu partikel
elementer yang tidak bermassa dan tidak bermuatan tetapi mempunyai harga spin
+1/2, yang dinamakan antineutrino (dinotasikan dengan ʋe’). Partikel antineutrino
ini bukan merupakan partikel pembentuk inti atom, tidak terdapat di dalam inti
atom, tetapi terjadi secara instan pada saat peluruhan negatron. Keberadaan
partikel antineutrino menjadi penting ketika diperlukan penjelasan hukum-hukum
kekekalan di dalam fenomena peluruhan β-. Pada Gambar 2.2 ditunjukkan skema
peluruhan β-. dari radionuklida 79Au-201 menjadi nuklida stabil 80Hg-201. Arah
pelepasan radiasi β-. digambarkan ke arah kanan karena jumlah proton nuklida
anak lebih besar dari jumlah proton nuklida induknya.
Gambar 2.2 Peluruhan β- dari 79Au-201 menjadi nuklida stabil 80Hg-201.
Persamaan reaksi peluruhan dan energi peluruhan (Ed) sama dengan energi
radiasi E¯ dinyatakan sebagai berikut :
79Au-201 → 80Hg-201 + β¯ + υe’ + Ed (= 1,26 MeV)
Ed = Eβ¯ = (MAu - MHg) . C2
Peluruhan positron terjadi ketika radionuklida dengan n/p < 1 meluruh
melalui transisi nukleon dari proton menjadi neutron dengan memancarkan
positron (mengubah proton menjadi neutron dan positron) sehingga nomor atom
nuklida anak berkurang 1 unit dibandingkan dengan radionuklida induknya. Emisi
positron (yang merupakan anti partikel dari negatron) disertai dengan pemancaran
partikel elementer yang merupakan anti partikel dari antineutrino yaitu neutrino
(dinotasikan dengan υe). Sebagai contoh, pada Gambar 2.3 ditunjukkan skema
peluruhan β+dari radionuklida 7N-13 menjadi nuklida stabil 6C-13. Pada peluruhan
7
β+ ini arah radiasi ȕ+ digambarkan ke arah kiri karena nomor atom nuklida anak
hasil peluruhan lebih kecil dari nomor atom radionuklida induknya.
Gambar 2.3 Peluruhan β+ dari 7N-13 menjadi nuklida stabil 6C-13.
Dalam kesetimbangan total elektron terdapat pelepasan 2 satuan massa
elektron pada produk peluruhan, yaitu 1 positron yang dibebaskan dan 1
elektron yang terlepas mengkompensasi pengurangan jumlah proton. Dengan
demikian terjadi pembentukan pasangan (pair production, positron dan
elektron) yang melibatkan perubahan energi setara dengan 2 x massa
elektrron Me = 1,022 MeV. Karena itu mekanisme peluruhan pemancaran þ +
hanya dapat terjadi bila energi peluruhan lebih besar dari
1,[Link](Ed)adalah sebagai
berikut:
7 N-13 → 6C-13 + β++ υe +Ed
Ed = (Eβ+ + 2 Me) MeV dengan Eβ+= (MN – MC – 2 Me) . C2
Peluruhan β melalui penangkapan elektron terjadi ketika radionuklida dengan
harga n/p < 1 menarik sebuah elektron dari orbital dalam atom dan
menetralkan sebuah proton dalam inti dengan penangkapan elektron orbital
dalam tersebut. Tipe peluruhan ini disebut penangkapan elektron orbital
(orbital electron capture, EC). Pada umumnya penarikan elektron oleh inti
terjadi pada elektron kulit K (kulit atom terdekat dengan inti).
Penangkapan elektron dari kulit atom yang lebih tinggi tingkat energinya
(misalnya kulit L atau kulit M) jarang terjadi, akan tetapi setelah satu elektron
dari kulit K tertarik ke dalam inti, terjadi kekosongan elektron pada orbital
yang ditinggalkan. Kekosongan ini diisi oleh elektron dari orbital yang lebih
luar dan selanjutnyas ecara berturutan terjadi deeksitasi elektron yang disertai
8
dengan pemancaran radiasi berupa sinar X yang berfluorisesnsi dan karakteristik
(XRF, X-ray fluoresence). Apabila sinar X ini masih mempunyai energi yang
cukup besar maka ketika menumbuk elektron orbital luar dapat saja membuat
elektron tersebut terpelanting dan terlepas dari atom dengan energi kinetik yang
ekivalen dengan selisih energi sinar X dan energi ionisasi atau energi ikat elektron
tersebut. Elektron yang terpelanting ini disebut sebagai elektron Auger.
Fenomena penangkapan elektron pada radionuklida nomor atom tinggi dapat
menghasilkan pelepasan beberapa elektron Auger, karena itu produk peluruhan
penangkapan elektron orbital sering kali berada dalam bentuk tingkat
oksidasi yang tinggi (sebagai ion positiftinggi).
Elektron yang tertarik oleh inti menetralkan satu proton dan mengubahnya
menjadi neutron sehingga nuklida anak yang dihasilkan mempunyai nomor atom
satu unit lebih rendah dari radionuklida induknya, tetapi nomor massanya tidak
berubah. Pada gambar 2.4 ditunjukkan contoh fenomena penangkapan elektron
orbital, yaitu pada peluruhan radionuklida 82 Pb-195 (waktu paruh 16,7 menit)
menjadi nuklida 81 Tl-195m (metastabil) yang masih radioaktif dengan waktu
paruh 3,5 detik. Seperti halnya pada fenomena pemancaran β+, fenomena
penangkapan elektron disertai pula dengan pelepasan partikel elementer neutrino,
dan karena nuklida anak mempunyai nomor atom yang lebih kecil dari
radionuklida induknya maka arah peluruhan (penangkapan elektron K)
digambarkan ke arah kiri. Kekekalan energi dinyatakan dengan distribusi energi
peluruhan Ed yang ekivalen dengan jumlah energi ikat elektron K (Eie) dan
energi kinetik neutrino(Eυ).
Pb-195 + e →81Tl-195m + υe + Ed
82
Ed = (Eie + Eυ) MeV = (MPb – MTl) .C2
Radionuklida yang lebih ringan dari isotop stabilnya cenderung meluruh
melalui mekanisme penangkapan elektron (pada contoh di atas
radionuklida Pb-195 lebih ringan dari isotop stabilnya, yaitu Pb-
204/206/207/208), sedangkan radionuklida yang lebih berat dari isotop
stabilnya cenderung meluruh melalui mekanisme pemancaran β-(pada contoh
sebelumnya radionuklida Au-201 lebih berat dari isotop stabilnya, yaitu Au-
197).
9
Gambar 2.4 Penangkapan elektron orbital K pada radionuklida 82Pb-195 menjadi81Tl-
195m.
Di sisi lain, fenomena penangkapan elektron ini kompetitif dengan
fenomena pemancaran positron (β+). Pada radionuklida dengan Z > 83
peluruhan dengan penangkapan elektron lebih dominan dengan energi
peluruhan (Ed) < 1,022 MeV, karena pengaruh ketidakstabilan akibat gaya
tolak elektrostatik proton-proton yang jumlahnya besar. Sebaliknya pada
radionuklida dengan nomor atom yang rendah, efek gaya tolak elektrostatik
antar proton tidak terlalu besar pengaruhnya, karena jumlah proton yang
tidak banyak, sehingga energi peluruhan dapat lebih besar dari 1,022
MeV, dan fenomena pemancaran positron menjadi lebihdominan.
Perbandingan intensitas fenomena pemancaran β+ dan fenomena
penangkapan elektron merupakan suatu karakteristika spesifik dari
radionuklida pemancar β+. Perbandingan ini mempunyai harga antara 0 (100
% penangkapan elektron) sampai tak berhingga (100 % pemancaran β+).
Pada Tabel 2.2 ditunjukkan beberapa contoh radionuklida yang meluruh
melalui pemancaran β+ dan/atau penangkapan elektron orbital berikut
intensitas masing-masing mekanisme peluruhan untuk radionuklida yang
meluruh dengan kedua mekanismetersebut.
Tabel 2.2 Beberapa radionuklida yang meluruh melalui pemancaranpositron (β+)
dan/atau penangkapan elektron orbital(EC).
TIPE WAKTU NUKLIDA
RADIONUKLIDA
PELURUHAN PARUH ANAK
49In-111 EC (100%) 2,83 hari Cd-111
48
53 I-125 EC (100%) 60 hari 52 Te-125
8 O-15 þ+ (100 %) 2,04 menit N-15
7
10
Tabel 2.2 Lanjutan beberapa radionuklida yang meluruh melalui pemancaranpositron
(β+) dan/atau penangkapan elektron orbital(EC).
7 N-13 þ+ (100 %) 9,96 menit 6 C-13
þ+ (97%)
9 F-18 EC (3%) 1,83 jam 8 O-18
þ+ ( 89,5 %)
11 Na-22 EC ( 10,5 %) 2,602 tahun Ne-22
10
+
þ ( 15 %) EC ( 85
27 Co-58 70,78 hari 26 Fe-58
%)
2.1.3 Peluruhan Gamma
Peluruhan gamma (γ) terjadi karena inti memiliki energi yang lebih.
Peluruhan gamma (γ), sering disebut dengan transisi isomerik, dan konversi
internal elektron (sering hanya disebut konversi internal) merupakan peluruhan
dari radionuklida anak hasil peluruhanαatau peluruhan β yang berada pada tingkat
energi eksitasi. Pemancaran radiasi γ dan konversi internal elektron yang
terjadi tidak disertai dengan perubahan komposisi struktur inti, melainkan
hanya perubahan tingkat energi dari tingkat energi tereksitasi ke tingkat
energi dasar. Ada perbedaan yang mendasar antara peluruhan γ (transisi
isomerik) dengan konversi internal, seperti dijelaskan berikut ini.
Transisi isomerik didahului oleh peluruhan αatau peluruhan β yang
tidak menghasilkan nuklida anak pada tingkat energi dasar, melainkan pada
keadaan tingkat energi tereksitasi yang tingkat energi tereksitasi dapat
dideteksi dengan waktu paruh yang terukur, maka tingkat energi tersebut
dikatakan tingkat energi isomerik atau metastabil. Keadaan metastabil
ini dinotasikan dengan huruf “m” ketika berpindah ke tingkat energi
dasar (ground state) akan disertai dengan pemancaran radiasi γ. Apabila
tingkat energi tereksitasi dapat dideteksi dengan waktu paruh yang terukur, maka
tingkat energi tersebut dikatakan tingkat energi isomerik atau metastabil. Keadaan
metastabil ini dinotasikan dengan huruf “m” yang mengikuti nomor massa
137m 99m
radionuklida yang bersangkutan, misalnya Ba (t1/2 = 2,6 menit), Tc (t1/2 = 6
jam), 108mAg (t1/2 = 127 tahun). Pasangan seisotop radionuklida tingkat dasar dan
radionuklida metastabil disebut pasangan isomer. Transisi tingkat energi
dari keadaan metastabil (tereksitasi) ke keadaan dasar (ground state) inilah
11
yang disebut transisi isomerik (IT). Energi peluruhan (Ed) terdistribusi sebagai
jumlah dari energi radiasi (E γ) dan energi kinetik inti yang terbentuk (energi
pelanting atau energi recoil,ER).
Ed = Eγ + ER
Apabila tingkat energi eksitasi tidak dapat dideteksi dengan waktu
paruh yang terukur, maka secara fisik tidak terjadi spesi radionuklida metastabil.
Tetapi radiasi α atau radiasi β yang lebih dari satu energi, disertai
dengan adanya spektrum radiasi γ menunjukkan bahwa memang terjadi
transisi tingkat energi dari tingkat energi eksitasi ke tingkat energidasar.
Pada Gambar 2.5 ditunjukkan contoh transisi isomerik, yaitu dari
Ba-137m menjadi isotop keadaan dasarnya,
56 Ba-137. Arah peluruhan
56
digambarkan tegak lurus ke bawah karena radionuklida anak
mempunyai jumlah proton yang sama dengan radionuklida induknya.
Radionuklida 56 Ba-137m sendiri dihasilkan dari peluruhan β–
radionuklida55Cs-137.
55 Cs-137 € 56Ba-137m + β– + 0,514 MeV IT
56Ba-137m+γ (Eγ = 0,66MeV)
Ed = Eγ+ Erecoil Ba-137
Gambar 2.5 Tipe peluruhan transisi isomerik 56Ba-137m menjadi 56Ba-137.
Sering kali transisi tingkat energi ini tidak terjadi secara langsung dari
tingkat energi eksitasi ke tingkat energi dasar, tetapi melalui beberapa tahapan
tingkat energi antara (intermediate excited states). Semakin banyak puncak
spektrum radiasi γ berarti semakin banyak pula tingkat energy yang merupakan
intermediate excited states tersebut. Pada Gambar 2.6 ditunjukkan diagram
12
energi peluruhan pada fenomena yang diuraikan diatas dengan mengambil
contoh peluruhan radionuklida79Au-198 menjadi 80 Hg-198 yang disertai
dengan pemancaran 3 macam radiasi β–dan 3 macam radiasiγ.
Kebanyakan peluruhan γ. dari keadaan tingkat energi eksitasi ke tingkat
energi dasar berawal dari peluruhan α atau peluruhan β. Tetapi suatu bentuk
metastabil tidak selalu langsung berubah hanya menjadi isotop tingkatdasarnya
Gambar 2.6 Diagram peluruhan 79Au-198 menjadi 80Hg-198.
Sebagai contoh, pengamatan pada peluruhan radioisomer Sr-87m
38
(t1/2=2,8jam) menunjukkan bahwa radionuklida tersebut sebagian meluruh
melalui mekanisme transisi isomerik menjadi 38Sr-87, sebagian lainnya
meluruh melalui mekanisme penangkapan elektron orbital menjadi 37 Rb-87
yang merupakan radionuklida pemancar β – dan meluruh menjadi 38Sr-87
dengan waktu paruh 5,7 x 1010tahun.
Pada konversi internal elektron, energi internal dalam nuklida radioaktif (=
energi eksitasi inti radioaktif) berinteraksi dengan elektron orbital sehingga
terjadi perpindahan energi dari nuklida ke elektron orbital tersebut (biasanya
elektron pada orbital yang paling dekat dengan inti). Fenomena seperti ini dapat
juga dipandang sebagai peristiwa fungsi gelombang elektron orbital dalam yang
berpenetrasi ke dalam nuklida sehingga terjadi perpindahan energi eksitasi
nuklida ke elektron orbital dalam tersebut, tanpa didahului oleh adanya
pelepasan radiasi γ. Interaksi nuklida tereksitasi dengan elektron orbital dalam
tersebut mengakibatkan elektron terlepas dari orbitalnya dan terpelanting keluar
dari atom. Walaupun elektron yang terpelanting ini mempunyai energi yang
tinggi, tidak dapat dipandang sebagai partikel negatron sebab elektrontersebut
berasal dari orbital atom dan tidak berasal dari inti atom. Karena tidak terjadi
pemancaran radiasi β—, maka konversi internal tidak mengakibatkan
13
perubahan nomor atom, spectrum radiasi yang dihasilkan adalah spektrum
elektron yang diskret, bukan spektrum radiasi β— yang kontinyu. Juga berbeda
dengan peluruhan β—, dalam konvensi internal tidak terjadi pembebasan
partikel neutrino. Distribusi perpindahan energi dalam fenomena konversi
internal elektron dinyatakan sebagai:
Ed = Eeks= Eie+ EKe+ Erna
dengan
Ed = energi peluruhan
Eeks = energi tingkat eksitasi
Eie = energi ikat elektron orbital
EKe= energy kinetik elektron yang terpelanting
Erna = energi pelanting nuklida anak.
Energi pelanting nuklida anak (Erna) biasanya sangat kecil dibandingkan
dengan energi kinetik elektron yang terlepas (EK e) sehingga sering diabaikan
dan tidak dituliskan dalam persamaan. Di sisi lain, pemelantingan elektron
dalam peristiwa konversi internal mengakibatkan kekosongan pada orbital
yang ditinggalkan, dan terjadi pengisian elektron dari orbital yang lebih luar
disertai dengan pelepasan sinar X karakteristik yang bila energinya cukup
besar akan berlanjut dengan pelepasan elektron Auger.
Fenomena konversi internal elektron berkompetisi dengan transisi
isomerik. Kuantisasi dari kompetisi ini dinyatakan dengan besaran koefisien
konversi internal (αK) yang didefinisikan sebagai perbandingan intensitas atau
laju konversi internal (ICK) terhadap intensitas atau laju transisi isomerik (IT).
(αK) = (ICK) / (IT)
Indeks K pada besaran (α) dan (IC) menunjukkan pemberlakuan untuk
elektron orbital kulit K. Konversi internal yang melibatkan elektron orbital pada
kulit yang lebih luar (misalnya kulit L atau kulit M) lebih jarang terjadi. Pada
umumnya harga koefisien konversi internal cenderung lebih tinggi dengan
semakin besarnya nomor atom (jumlah proton) dalam nuklida induk.
14
Gambar 2.7 Fenomena pembentukan pasangan pada deeksitasi nuklida radioaktif.
Fenomena pembentukan pasangan seperti yang telah ditunjukkan pada
gambar 2.7, dapat terjadi bila energy eksitasi lebih besar daripada 1,022 MeV.
Dalam hal ini, radionuklida tereksitasi akan terdeeksitasi ke tingkat energi dasar
dengan menghasilkan pasangan positron dan elektron yang kemudian diikuti
dengan proses anihilasi dan menghasilkan 2 kuanta radiasi γ dengan arah yang
berlawanan masing – masing dengan energi sebesar 0,511 MeV seperti
digambarkan pada Gambar 2.7.
Kekekalan energi pada fenomena pembentukan pasangan dinyatakan
sebagai kesetaraan energy eksitasi (= energy peluruhan = E d) dengan jumlah
energy radiasi anihilasi (= 2x 0,511 MeV) ditambah dengan energy kinetic β + (EK
) dan energy kinetic β- (EK β-)
β+
Ed = (1,022 + EK β+ + EK β-) MeV
2.2 Konversi Internal
Konversi internal merupakan proses dimana energi pada keadaan inti
tereksitasi ditransfer ke suatu elektron atomik, kebanyakan untuk kulit K atau L
sehingga terlepas dari orbit atom. Jadi, dalam proses konversi internal, elektron
berenergi tinggi dipancarkan dari atom radioaktif, tetapi tidak dari inti. Untuk
alasan ini, kecepatan tinggi yang dihasilkan dari konversi internal tidak disebut
partikel beta, karena yang terakhir berasal dari beta peluruhan, di mana mereka
baru dibuat dalam proses peluruhan nuklir. Selama konversi internal, nomor atom
tidak berubah, dan dengan demikian (seperti halnya dengan peluruhan gamma)
tidak ada transmisi dari satu unsur ke unsur lainnya yang terjadi. Koefisien dari
konversi internal (α) untuk transisi inti :
15
Ne
α = Nγ
Ne = jumlah elektron konversi
Nγ = jumlah foton gamma untuk transisi tersebut
Energi kinetic elektron (Ee) yang dikeluarkan dari atom :
Ee = E* - EB
Dengan E* energi eksitasi dan EB energi ikat elektron pada kulit atom.
Dalam spektrum sinar beta yang kontinyu ditemukan adanya spectrum garis.
Elektron yang monoenergetik ini disebut electron konversi dan proses yang
menghasilkan electron tersebut disebut konversi internal. Konversi internal
berlangsung dua tahap. Tahap pertama sinar gamma dipancarkan, tahap kedua
sinar gamma berinteraksi dengan electron orbital, yang kemudian terpancar
dengan energi kinetik
Ke = E γ - I B
Dimana IB adalah energi ikat elektron.
Persamaan diatas menunjukkan bahwa proses konversi internal memiliki
nilai ambang yang sama dengan energi ikat elektron dalam kulit tertentu, sebagai
suatu hasil, elektron konversi harus diberi tanda yang sesuai dengan kulit
elektronik dari mana elektron itu berasal : kulit K,L,M, dan seterusnya, yang
bersesuaian dengan bilangan kuantum utama, n = 1,2,3,….. Lebih lanjut, bilamana
kita mengamati dengan daya resolusi yang lebih tinggi, kita dapat melihat
substruktur yang sesuai dengan elektron individual dalam kulit. Misalnya, pada
kulit L ( n = 2) kulit memiliki orbit 2s1/2, 2p1/2 dan 2p3/2, elektron yang berasal dari
kulit ini disebut masing-masingnya sebagai elektron konversi LI, LII, danLIII.
Proses konversi berikutnya, atom yang ditinggalkan elektron akan
kekurangan satu elektron dalam kulit. Kekosongan ini akan diisi dengan cepat
oleh elektron yang berasal dari kulit yang lebih tinggi, dan karena itu kita akan
mengamati emisi sinar X karakterisik. Sesuai dengan alasan ini maka ketika kita
mempelajari emisi γ dari suatu bahan radioaktif, biasanya kita akan menemukan
adanya sinar X pada ujung spektrum yang lebih rendah energinya.
Sebagai suatu ilustrasi untuk menghitung energi elektron, kita ambil
203 203
peluruhan β dari Hg menjadi Tl , yang diikuti oleh pemancaran suatu sinar γ
16
tunggal dengan energi 279,190 keV. Untuk menghitung energi elektron konversi,
kita harus mencari energi ikat elektron pada inti anak Tl karena dari atom tersebut
emisi elektron terjadi.
Untuk Tl, kita memperoleh energi ikat sebagai berikut :
B(K) = 85,529 keV
B(LI) = 15,347 keV
B(LII) = 14,698 keV
B(LIII) = 12,657 keV B(MI) = 3,704keV
dan seterusnya melalui kulit M, N, dan O. Oleh karena itu kita berharap untuk
menemukan elektron konversi dipancarkan dengan energi berikut
Te(K) = 279,190 – 85,529 = 193,661keV
Te(LI) = 279,190 – 15,347 = 263,843keV
Te(LII) = 279,190 – 14,698 = 264,492keV
Te(LIII) = 279,190 – 12,657 = 266,533keV
Te(MI) = 279,190 – 3,704 = 275,486 keV
2.3 Skema Luruh
Gambar 2.8 Contoh skema peluruhan
Skema peluruhan zat radioaktif adalah presentasi grafis dari semua transisi
yang terjadi dalam peluruhan, dan hubungannya. Berguna untuk menganggap
skema peluruhan ditempatkan dalam sistem koordinat, di mana sumbu vertikal
adalah energi, meningkat dari bawah ke atas, dan sumbu horizontal adalah
bilangan proton, meningkat dari kiri ke kanan. Tanda panah menunjukkan partikel
17
yang dipancarkan. Untuk sinar gamma (panah vertikal), energi gamma diberikan;
untuk peluruhan beta (panah miring), energi beta maksimum.
Produk turunan dari peluruhan alfa, pemancaran proton, penangkapan
elektron yaitu produk yang mempunyai nomor atom kurang dari induk dan
diperlihatkan di sebelah kiri induk. Produk turunan dari peluruhan beta yaitu
nomor atom satu lebih besar dari induk diperlihatkan di sebelah kanan induk.
2.4 Deret Radionuklida
Unsur-unsur radioaktif mengalami peluruhan dengan cara memancarkan
sinar alfa, beta, dan gamma yang menghasilkan unsur baru yang pada umumnya
juga masih bersifat radioaktif. Unsur hasil transmutasi ini akan meluruh lebih
lanjut sehingga terjadi deret peluruhan (deret radioaktif) yang berakhir setelah
terbentuk unsur stabil.
Unsur-unsur radioaktif alam selalu meluruh menghasilkan unsur-unsur
radioaktif baru yang disebut unsur radioaktif anak. Unsur radioaktif anak ini juga
dapat meluruh dan menghasilkan unsur radioaktif lainnya, sehingga membentuk
suatu deret peluruhan yang sangat [Link] unsur-unsur radioaktif
alamiah berasal dari dalam kerak bumi yang merupakan anggota dari empat deret
radioaktif, yaitu deret Thorium, deret Neptunium, deret Uranium, dan deret
Aktinium. Masing-masing deret terdiri atas urutan produk dari anak luruh
radionuklida yang semuanya dapat diturunkan dari radionuklida induknya. Tiga
dari empat deret tersebut ditemukan dalam alam, sedang yang keempat, yaitu
deret neptunium tidak ditemukan, oleh karena umur paro anggota deret ini yang
paling panjang ternyata masih lebih pendek dari pada umur alam semesta
(Amiruddin, 2005). Deret peluruhan dari unsur radioaktif alam ini dapat dibagi
menjadi, yaitu :
a. Deret uranium (U), dimulai dari 238U dan berakhir pada timah hitam
(206Pb) yang stabil. Uranium-238 merupakan salah satu radioaktif alam yang
memiliki inti atom tidak stabil kemudian menjadi inti stabil pada timbal-206.
Peluruhan alami deret uranium-238, nomor massa A nuklida yang dari inti tak
stabil U-238 menjadi inti stabil Pb-206 meluruh sebesar 4n+2, setiap nomor massa
A pada deret uranium habis dibagi 4 dan sisa 2, serta mengalami 14 tahap
18
peluruhan yakni 8 peluruhan alfa dan 6 peluruhan beta. Setiap hasil nuklida pada
deret uranium-238 mempunyai waktu paruh masing masing. Nuklida induk
mempunyai waktu paruh yang lebih lama dibandingkan dengan nuklida anak.
208
b. Deret thorium (Th), mulai dari 232Th dan berakhir pada Pb yang stabil.
Disebut juga deret 4n karena nomor massa unsur-unsur radioaktif yang terdapat
dalam deret seperti pada Tabel 2, selalu habis dibagi 4. Torium-232 merupakan
unsur radioaktif alam yang memiliki atom tidak stabil kemudian meluruh menjadi
inti stabil pada timbal-208. Dalam deret torium-232 terjadi 12 proses peluruhan
yakni 7 peluruhan alfa dan 6 peluruhan beta, setiap nomor massa A nuklida pada
deret torium habis dibagi 4 sehingga dinamakan deret 4n.
19
235 207
c. Deret aktinium, mulai dari U dan berakhir pada Pb yang stabil. Deret
seperti pada Tabel 3 juga disebut deret (4n+3) karena unsur-unsur radioaktif anak
luruh yang dihasilkannya bernomor massa habis dibagi 4 dengan sisa 3. Deret
aktinium merupakan deret peluruhan unsur radioaktif uranium-235 yang memiliki
inti atom tidak stabil kemudian meluruh menjadi inti stabil pada timbal-207.
Dalam deret aktinium, terjadi 14 proses peluruhan yakni 9 peluruhan alfa dan 5
peluruhan beta, setiap nomor massa A nuklida dari deret aktinida habis dibagi 4
dan sisa 3 sehingga dinamakan deret 4n+3.
20
d. Deret neptunium, mulai dari neptunium-237 merupakan unsur radioaktif
alam yang memiliki atom tidak stabil kemudian meluruh menjadi inti stabil pada
bismut-209. Dalam deret bismut-209 terjadi 13 proses peluruhan, yakni 8
peluruhan alfa dan 5 peluruhan beta setiap nomor massa A nuklida pada
deretneptonium habis dibagi 4 dan sisa 1 sehingga dinamakan deret 4n+1.
21
Ketiga deret radioaktif alam tersebut mempunyai karakteristik umum
sebagai berikut :
• Radionuklida induk (radionuklida anggota pertama) pada masing-masing
deret mempunyai waktu paro yang sangat panjang, yang dapat dinyatakan dalam
satuan waktu geologi. Dalam deret uranium, radionuklida induknya 92U238 dengan
90
T1/2 = 4,5 x 109 tahun, dalam deret thorium, radionuklida induknya Th232
dengan T1/2 = 1,39 x 1010 tahun dan dalam deret aktinium, radionuklida
induknya 92U235 dengan T1/2 = 7,10 x 108 tahun.
Masing-masing deret mempunyai anak luruh radionuklida berbentuk gas dan
radionuklida gas pada masing-masing deret itu adalah isotop yang berbeda dari
gas radon. Dalam deret uranium, gas yang terbentuk adalah 86Rn222 (86Em222) yang
disebut radon (Rn), dalam deret thorium gas yang terbentuk adalah 86Rn220
(86Em220) yang disebut thoron (Tn) dan dalam deret aktinium gas terbentuk adalah
86
Rn219 (86Em219) yang disebut actinon (An).
Produk akhir dari ketiga deret radioaktif alam adalah isotop timbal (Pb)
yang stabil. Dalam deret uranium, produk akhirnya 82Pb206, dalam deret thorium
82Pb208 dan dalam deret aktinium 82Pb207 .
22
2.5 Persamaan Peluruhan Radionuklida
Proses peluruhan merupakan statistik untuk nuklida yang cukup
banyak, maka banyaknya peluruhan per satuan waktu (dN/dt) sebanding
dengan banyaknya nuklida radioaktif (N).
dN
=−λ . N
dt
Tetapan merupakan tetapan peluruhan yang bernilai positif. Penyelesaian
dan persamaan peluruhan tersebut adalah :
dN
=−λ . N
dt
dN
=−λ . d t
N
Nt t
dN
∫ N =¿−λ ∫ d t ¿
N 0 0
ln N t - ln N 0 = −λ t
Nt
= e− λ. t
N0
N t =N 0 x e− λ.t
Umur paruh (t1/2) didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan agar jumlah
radionukiida mencapai separuh dan jumlah semula :
1
N = N 0 x e− λ. t 1/ 2
2 0
1
ln ( ) = -λ x t 1/ 2
2
-ln 2 = = -λ x t 1/ 2
ln 2 0 , 693
t 1/ 2= =
λ λ
Selain umur paruh, perlu diketahui juga umur rata-rata (t) yang
didefinisikan sebagai jumlah umur (waktu) dan semua nuklida yang ada dibagi
dengan jumlah awal nuklida. Jika N (jumlah nuklida) sangat banyak, maka
jumlah didekati dengan integral :
23
∫ t . d Nt
0
τ= ∞
∫d Nt
0
∫ −λ . N 0 . t . e− λ.t dt
0
τ= ∞
∫−λ . N 0 . e−λ .t dt
∫ t . e−λ .t dt
0
τ= ∞
∫ e−λ .t
0
∞
−1 −λ .t e− λ.t
e +∫ dt
λ λ
τ= 0
−1 − λ. t
e
λ
1
τ=
λ
Umur rata-rata Iebih besar (1/0,693) kali daripada umur paruh. Banyaknya
nuklida yang dicapai pada saat umur rata-rata (1I) adalah (lie) kali jumlah nuklida
[Link] suatu radioaktif adalah banyaknya peluruhan per satuan
waktu. Adapun satuan aktivitas adalah bequerel (Bq) atau curie (Ci). Satu
bequerel setara dengan satu disintegrasi per detik (dps), dan satu curie setara
dengan 3,7.1010Bq.
2.5.1 Campuran dari Dua Aktivitas yang Meluruh Secara Saling Tidak
Tergantung
Jika ada dua spesies radioaktif (misalnya radioaktif 1 dan 2) dicampur
bersama – sama, maka aktivitas totalnya adalah :
A = A1 + A2
A= c1 . λ1 . N1 + c2 . λ2 . N2
Kurva log A terhadap t (waktu) merupakan kurva cekung, karena
radionuklidayang berumur paruh lebih pendek menjadi kurang signifikan
denganberjalannya waktu. Pada kenyataannya, setelah cukup waktu radionuklida
24
yang mur parun lebih panjang akan mendominasi,umur paruhnya dapat dibaca
danbagian akhir kurva peluruhan. Jika bagian akhir yang berupa garis lurus
diekstrapolasikan kembali pada t = 0 dan garis ekstrapolasi dikurangkan dan
kurva asal (asli), maka kurva sisa pengurangan tersebut mewakili peluruhan
dan semua radionuklida kecuali yang berumur paruh panjang.
Untuk kurva yang terdiri dari dua radionuklida yang umur paruhnya tidak
terlalu berbeda, maka :
A = A01 e− λ t +¿ A02 e− λ t
1 2
Jika kedua sisi dikalikan e-1t, maka akan diperoleh :
Ae− λ t = A01 +¿ A02 e ( λ − λ ) t
1 2 2
Besarnya dan 1 2 telah diketahui dan A dapat diukur dengan detektor yang
merupakan fungsi darit. Dengan menampilkan dalam bentuk kurva antaraA•
e-1t terhadap e(1-2)maka A01dapat ditentukan yang merupakan titik potong
kurva yang berupa garis lurus dengan sumbu ordinatnya dan A 02 juga dapat
ditentukan yang merupakan kemiringan darikurva garis lurus.
2.5.2 Peluruhan Radioaktif Berturutan
Jika ada suatu radionuklida yang meluruh menjadi anak luruhnya, dan
anak luruh tersebut bersifat radioaktif sehingga akan meluruh menjadi
radio nuklida berikutnya, maka peluruhan tersebut disebut dengan peluruhan radio
aktifberturutan. Jika dibuat dalam suatu reaksi, maka :
Radionuklida A adalah radionuklida induk yang meluruh dengan konstanta
peluruhan 1 menjadi radionuklida B (radionuklida anak). Radionuklida B
akan menjadi C dengan konstanta peluruhan2. Banyaknya nuklida A yang
meluruh dihitung dengan menggunakan persamaan (3-2), yaitu :
N1 = N 01 e− λ t
1
Dengan N10 adalah banyaknya nuklida pada waktu t = 0. Nuklida anak akan
terbentuk dengan laju sebesar laju peluruhan nuklida induk dan nuklida anak akan
dengan laju2N2, atau
25
d N2
=λ 1 N 1 - λ 2 N 2
dt
d N2 0 −λ t
+ λ2 N 2 = λ 1 N 1 e 1
dt
Persamaan diferensial linier orde satu tersebut dapat diselesaikan dengan
metode standar yang hasilnya adalah sebagai berikut :
λ1
N 2= N 01 ¿ ¿) + N 02 e−λ 2 t
λ2−λ 1
Jika pada awalnyahanya ada nuklida A saja atau N20= 0 pada t = 0, maka :
λ1 0
N 02= N ¿ ¿)
λ2−λ 1 1
26
a. Kesetimbangan Sekuler
Kesetimbangan sekuler terjadi jika umur paruh induk jauh lebih besar
daripada umur paruh anak. Perbedaan antara umur paruh induk dengan anak
adalah sekitar 104 kali atau lebih besar. Karena umur paruh induk jauh lebih
besar dariumur paruh anak, maka konstanta peluruhan induk akan menjadi
jauh lebih kecil dan konstanta peluruhan anak atau )))1dan sebagai akibatnya
λ 2 - λ 1 ≈ λ2dan e− λ t ≈ 0
1
Sehingga,
λ1 0 − λ t
N 2= N e 1
λ2 1
N 2. λ 2= λ 1 N 01 e−λ t1
N 2. λ 2= N 1. λ 1
Pada kesetimbangan sekuler, aktivitas anak akan sama dengan aktivitas
induk. Radionuklida anak akan meluruh dengan umur paruh radionuklida induk.
226
Adapun contoh kesetimbangan sekuler adalah peluruhan Ra (t1/2 = 1620
222
tahun) menjadi Rn (t1/2 = 3,5 hari) dan peluruhan 90Sr (t1/2 = 19,9 tahun)
menjadi 90Y (t1/2 = 64,2 jam).
b. Kesetimbangan Transien
Kesetimbangan transien terjadi jika umur paruh induk lebih besar
daripada umur paruh anak. Perbedaan antara umur paruh induk dengan anak
adalah sekitar 10 kali atau lebih besar. Karena umurparuh induk lebih besar
dariumur paruh anak, maka konstanta peluruhan induk akan menjadi lebih
kecil dan konstanta peluruhan anak atau 2) 1dan untuk nilai t besar
(sangat besar), makae-2t)diabaikan jika dibandingkan dengan e-1t, sehingga :
λ1
N 2= N 0 e−λ t 1
λ2−λ 1 1
N 2( λ 2−λ1 ¿= N 1. λ 1
N 1 λ2−λ 1 λ 1
=
N2 λ1
Pada kesetimbangan transien, radionuklida anak juga meluruh dengan umur
paruh radionuklida induk, tetapi dengan aktivitas yang lebih besar
dariradionuklida induk.
27
28
c. Tidak terjadi keseimbangan
Jika umur paruh radionuklida induk lebih pendek daripada umur
paruh radionuklida anak atau konstanta peluruhan induk lebih besar daripada
konstanta peluruhan anak, maka tidak akan terjadi kesetimbangan. Jika pada
awalnyaterdapat radionuklida induk murni, pada saat radionuklida induk
meluruh, maka jumlah radionuklida anak akan bertambah dan akan melewati
titik maksimum, yang pada akhirnya meluruh dengan umur paruh radionuklida
[Link] eksponensial akhir anak diekstrapolasikan kembali ke
t=[Link] potong yang dihasilkan merupakan aktivitas sebesar c 22N01?, dalam hal
ini N01 atom menyebabkan kenaikan atom N2 sedemikian awal sehingga2N01
kemungkinan ditentukan sama dengan nilai ekstrapolasi N2pada t=0.
Perbandingan antara aktivitas awal dengan aktivitas ekstrapolasi menghasilkan
perbandingan umur paruh :
Pada kesetimbangan transien dan tidak terjadi kesetimbangan, ada titik
maksimum darikurva pertumbuhan anak yang menunjukkan aktivitas anak
terbesar yang dapat dicapai. Waktu untuk mencapai aktivitas maksimum
tersebut dapat ditentukan dengan cara mendeferensialkan nuklida anak
dN 2
terhadap waktu, dan hasil deferensial tersebut sama dengan nol atau =0
dt
dN 2 λ21 λ1 λ2 0 −λ t
=- N 01 e−λ t+ 1
N e 2
dt λ2−λ 1 λ2−λ 1 1
λ1 ( λ − λ ) t
=e 2 1
atau m
λ2
1 λ
t m= ln( 2 )
λ2 − λ 1 λ1
Pada saat tmtercapai, laju peluruhan anak 2N2sama dengan laju
pembentukan 1N1. Untuk kesetimbangan sekuler besarnya t m adalah tidak
terhingga.
d. Peluruhan berturutan dalam jumlah banyak
29
Pembahasan sebelumnya adalah untuk menentukan banyaknya nuklida anak
daripeluruhan berturut (N2), sedangkah untuk menentukan N3, N4, dan
seterusnya digunakan solusi Bateman dengan asumsi bahwa pada t = 0 maka
N02 = N03 = ... = N0n = 0. Penyelesaian dari persamaannya adalah,
2.5.3 Peluruhan Bercabang
Peluruhan bercabang terjadi jika radionuklida dapat meluruh menjadi
lebih darisatu jenis anak dan dapat dituliskan sebagai berikut :
Konstanta peluruhan parsial harus dipertimbangkan jika laju pembentukan
nuklida B akan ditentukan, yaitu :
dN B
=λB N A
dt
tetapi nuklida A dikonsumsi dengan laju sebesar
dN A
=−( λ B + λ C ) N A
dt
Nuklida A hanya memiliki satu umur paruh saja, yaitu :
t 1 ( A) = 0,693
2 λt
dimana t= B+C+.......Berdasarkan definisinya, umur paruh dihubungkan dengan
total hilangnya substan, tidak memperhitungkan mekanisme hilangnya.
2.5.4 Persamaan Untuk Transformasi Selama Terjadi Reaksi Inti
a. Target Stabil
Jika target diiradiasi dengan partikel yang dapat menginduksi reaksi inti,
maka kondisi ajeg dapat tercapai bila produk radioaktif meluruh dengan laju yang
sama dengan laju pembentukannya. Kondisinya analogdengan
30
kesetimbangan sekuler. Jika iradiasi dihentikan sebelum kondisi ajeg
tercapai, maka laju peluruhan radionuklida tertentu adalah kurang darilaju
pembentukannya (R). Persamaan diferensial untuk menentukan banyaknya
atom produk N yang dihasilkan selama waktu t iradiasi adalah :
dN
=R−λN
dt
dengan penyelesaian sebagai benikut :
λN
R=
1−e−λt
Untuk iradiasi yang sangat lama (t >> 1/) laju disintegrasi N mendekati
nilai saturasi (jenuh)R. Faktor (1 —e-t) disebut sebagai faktorsaturasi.
Kadang-kadang produk yang terbentuk selama iradiasi baik melalui reaksi
inti secara langsung maupun peluruhan induknya yang aktif yang
dihasilkan dan reaksi lainnya (misalnya produk dan reaksi (p, pn), jika tidak stabil
kemungkinan meluruh dengan memancarkan positron atau tangkapan
elektron menjadi produk reaksi (p, 2p) pada target yang sama). Dengan
demikian banyaknya atom produk yang ada pada waktu tssetelah akhir
penembakan yang dilakukan selama tembakan memiliki tiga sumber, yaitu:
1. Terbentuk secara langsung dalam reaksi inti
2. Terbetuk daripeluruhan induknya selama penembakan terjadi
3. Terbentuk dari peluruhan induknya selama rentang waktu t s (misalnya
waktu antara akhir penembakan dengan dilakukannya pemisahan anak
dan induknya secara kimia).
Jika R1 adalah laju reaksi inti yang secara langsung membentuk produk
induk dan R2 adalah laju reaksi inti yang secara langsung membentuk produk
anak, maka banyaknya atom anak yang muncul darimasing-masing tiga sumber
yang telah disebutkan diatas adalah
31
Secara eksperimental, hanya jumlah total atom anak(N 2’ + N2’’ + N2’’’)
yangdiamati, tetapi dengan diketahuinya waktu tbdan tskonstanta peluruhan
1dan 2, laju pembentukan induk R 1 (yang dapat ditentukan dengan
eksperimen terpisah), maka kemungkinan R2 dapat dihitung.
b. Target radioaktif dalam reaktor fluks tinggi
Jika reaksi inti disebabkan dalam nuklida radioaktif, maka laju hilangnya
substan tidak lagi ditentukan oleh hukum transformasi radioaktif saja tetapi
dengan hukum yang dimodifikasi yang memperhitungkan hilangnya substan
karena reaksi transmutasi. Laju transformasi radioaktif dan reaksi inti dapat
diabaikan dibandingkan dengan laju peluruhan [Link] untuk kasus
nuklida berumur panjang, dan dengan fluks neutron yang besar dalam
reaktor inti, transformasi dengan kedua mekanisme kadang-kadang
harus [Link] dianggap terdapat N atom dan jenis radioaktif
tunggal dengan konstanta peluruhan (s-1) dan penampang lintang reaksi
neutron total (cm2) dalam fluks neutron konstan nv (n . cm-2.s-1). Laju
transformasi radioaktif adalah N, laju transformasi karena reaksi neutron adalah
nvN dan total laju hilangnya substan adalah
−dN
=( λ+n v σ )N = ΛN
dt
dimana dianggap sebagai kontanta peluruhan yang dimodifikasi. Persamaan di
atas memiliki bentuk yang sama dengan persamaan diferensial standar untuk
peluruhan radioaktif, dan hasil integrasinya adalah :
N = N0. e-t
Radionuklida induk akan hilang karena transmutasi dan proses peluruhan
−d N 2
=(λ1 +n v σ 1) N 1 = Λ1 N 1
dt
tetapi radionuklida anak tumbuh dengan laju yang sama dengan laju
peluruhan induk dan berkurang karena meluruh :
d N2
=λ 1 N 1 - Λ2 N 2
dt
Secara umum dapat dinyatakan dengan
−d N t +1
=λ1 N 1 - Λi +1 N i +1
dt
32
Nilai 1 diganti dengan konstanta peluruhan yang dimodifikasi, yaitu *I =
*I+ nvT*I. Tanda asterik hanya untuk mengingatkan saja bahwa jikabaik
peluruhan maupun reaksi induk tidak selalu menyebabkan anggota berantai
selanjutnya, maka harus merupakan konstanta peluruhan parsial dan
harus merupakan penampang lintang parsial dan anggota ke-I sampai dengan (I
+1). Untuk N02= N03=... = N03 = 0
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Peluruhan alpha terjadi karena inti memiliki nomor massa besar. Peluruhan
β terjadi karena inti memiliki jumlah neutron lebih besar daripada jumlah proton.
Peluruhan γ terjadi karena inti memiliki energi yang lebih. Dalam proses konversi
internal, elektron berenergi tinggi dipancarkan dari atom radioaktif, tetapi tidak
dari inti.
2. Skema peluruhan zat radioaktif adalah presentasi grafis dari semua transisi
yang terjadi dalam peluruhan, dan hubungannya.
3. Deret peluruhan dari unsur radioaktif alam ini dapat dibagi menjadi Deret
uranium (U), Deret thorium (Th), Deret actinium, Deret neptunium.
4. Persamaan peluruhan radionuklida, yaitu :
dN
=−λ . N
dt
ln 2 0,693
t1/2 = =
λ λ
3.2 Saran
Dengan mengetahui radionuklida diharapkan agar pembaca lebih
memahami dan dapat mengetahui mengenai peluruhan alfa, beta, gamma,
konversi internal transisi isomerik serta peristiwa sekunder yang menyertai jenis
peluruhan tersebut, skema peluruhan, deret peluruhan dan persamaan peluruhan
radionuklida. Semoga makalah yang telah disusun ini, dapat bermanfaat bagi
pembaca. Didalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa banyak
kekurangan maupun kekeliruan, maka dari itu kritik dan saran sangat kami
harapkan demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
BPMPK–KEMDIKBUD. 2016. Radioaktif.,[Link] [Link]/
medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201609/materi-2-jenis-jenis-
[Link], diakses pada 18 Februari 2021.
Makmur. 2018. Peluruhan Radioaktif, [Link]
[Link]?
_gl=1*tab11q*_ga*VHg4UXg4Sm01c1dxRlhDdFZYOU1qdE9rTlBXemox
QXJIVjQ3SGNrbFAzLU9Zd1R4UFlBQmlEb1F3dndBakpWXw, diakses
pada 24 Februari 2021.
Nugraheni, A.,dkk. 2012. Penentuan Aktivitas Unsur Radioaktif Thorium yang
Terkandung dalam Prototipe Sumber Radiasi Kaos Lampu Petromaks.
Jurnal MIPA 35, Vol. 1. ISSN : 0215 – 9945.
Rida. 2017. Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir., [Link]
198408182014042001/pendidikan/[Link], diakses pada
18 Februari 2021.
Soenarjo. 2013. Buku P. Sunar., [Link]
diakses pada 18 Februari 2021.
Sofyan, Hasnel dan Akhadi, Mukhlis. 2004. Radionuklida Primordial untuk
Penanggalan Geologi dan Arkeologi. IPTEK Ilmiah Populer. Vol.6 No.2.
Sutedja. 2017. Persamaan Peluruhan dan Pertumbuhan Radioaktif.,
[Link]
[Link], diakses pada 24 Februari 2021.
Taufik,O.A. 2017. Peluruhan Inti & Radioaktivitas., [Link]
slide/11785903/, diakses pada 18 Februari 2021.