Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No.
01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
ARTIKEL RISET
URL artikel: [Link]
Analisis Sanitasi Dasar Lingkungan Dengan Kejadian Diare Balita Di Kelurahan
Babakansari Kecamatan Kiaracondong Bandung
K
Ratna Dian Kurniawati1, Silmi Farhah Abiyyah2
1,2
Universitas Bhakti Kencana, Indonesia
Email Penulis Korespondensi (K): [Link]@[Link]
[Link]@[Link].id1, silmifarh@gmail.com2
(081809903171)
ABSTRAK
United Nation Childhren’s Fund mencatat sebanyak 5% kematian balita akibat diare di kawasan Asia Tenggara.
Angka kematian balita di Indonesia akibat diare tahun 2015 sebanyak 8.600 balita, menempati peringkat 12 dari
15 negara dengan angka kematian balita tertinggi di dunia dan tertinggi di Asia Tenggara. Ketersediaan sarana
sanitasi dasar lingkungan seperti air bersih, pemanfaatan jamban dan pembuangan sampah merupakan upaya
mencegah meningkatnya penyakit diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara sanitasi dasar
lingkungan dengan kejadian diare pada balita di Kelurahan Babakansari Kecamatan Kiaracondong Kota
Bandung. Kecamatan Kiaracondong merupakan kecamatan kedua tertinggi dengan 3.644 kasus diantaranya 796
kasus diare pada balita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kasus kontrol. Populasi kasus adalah balita yang
menderita diare pada Januari-April tahun 2019 berjumlah 31 orang. Sedangkan populasi kontrol adalah keluarga
yang memiliki balita dan tidak menderita diare pada Januari-April tahun 2019, bertempat tinggal di kelurahan
Babakansari. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling dan purposive sampling untuk sampel kontrol.
Sampel penelitian yaitu 31 kasus dan 62 kontrol. Instrumen penelitian berupa lembar observasi. Hasil uji chi
square menunjukkan tidak ada hubungan sanitasi dasar lingkungan dengan kejadian diare pada balita dengan
hasil sumber air bersih (p= 0,712), jamban sehat (p= 0,420) dan sarana pembuangan sampah (p= 1,000).
Simpulan tidak ada hubungan antara sanitasi dasar lingkungan dengan kejadian diare pada balita. Saran perlu
adanya observasi lebih lanjut untuk melihat faktor lain penyebab diare pada balita di Kelurahan Babakansari
cukup tinggi.
Kata Kunci : sanitasi dasar; lingkungan; sumber air bersih; jamban sehat; sarana pembuangan sampah; diare.
Article history : (dilengkapi oleh admin)
PUBLISHED BY :
Public Health Faculty Received 29 Maret 2020
Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 30 Maret 2020
Address : Accepted 10 November 2020
Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2021
licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Makassar, Sulawesi Selatan.
Email :
[Link]@[Link], [Link]@[Link]
Phone :
+62 85397539583
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 75
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
ABSTRACT
The United Nations Children's Fund has recorded 5% of under-five deaths from diarrhea in the Southeast Asian
region. The under-five mortality rate in Indonesia in 2014 was 8,600 under five, ranking 12 out of 15 countries
with the highest under-five mortality rate in the world and the highest in Southeast Asia. Environmental basic
sanitation systems such as clean water, use of latrines and garbage disposal are efforts to prevent diarrhea. The
purpose of this study was to determine the relationship between basic environmental sanitation and the
incidence of diarrhea in infants in Babakansari Village, Kiaracondong District, Bandung City. Kiaracondong
District is the second highest sub-district with 3,644 cases of which 796 cases of diarrhea in children under five.
This study uses a case control approach. The case population is underfives who experienced diarrhea in
January-April 2019 canceling 31 people. While the control population is a family that has children under five
and does not suffer from diarrhea in January-April 2019, residing in the Babakansari sub-district. The sampling
technique was total sampling and purposive sampling for the control sample. The research sample was 31 cases
and 62 controls. The instrument was in the form of an observation sheet. The results of the chi square test
showed that there was no relationship between basic environmental sanitation and the incidence of diarrhea in
children under five with the results of clean water sources (p = 0.712), healthy latrines (p = 0.420) and garbage
disposal facilities (p = 1,000). In conclusion, there is no relationship between basic environmental sanitation
and the incidence of diarrhea in children under five. Suggestions should be further observation to see other
factors that cause diarrhea in children under five in Babakansari Village is quite high.
Keywords: basic sanitation; environment; clean water sources; healthy latrines; waste disposal facilities;
diarrhea.
PENDAHULUAN
Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, penyakit diare merupakan
penyebab utama kematian kedua pada anak di bawah lima tahun. Setiap tahunnya terdapat sekitar 1,7
miliar kasus penyakit diare pada anak-anak dengan membunuh sekitar 525.000 anak balita.(1) United
Nation Childhren’s Fund mencatat sebanyak 5% dari jumlah kematian balita akibat diare terjadi di
kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia angka kematian balita akibat diare pada tahun 2015 sebanyak
8.600 balita yang menempati peringkat 12 dari 15 negara dengan angka kematian balita tertinggi di
dunia dan tertinggi di Asia Tenggara. India menempati urutan pertama untuk kasus kematian balita
mencapai 117.300 balita.(2)
Diare pada balita, bila tidak diatasi lebih lanjut dapat menyebabkan dehidrasi yang
mengakibatkan kematian. Salah satu faktor risiko penyebab diare adalah faktor lingkungan atau
sanitasi dasar lingkungan yang meliputi sarana air bersih, jamban sehat dan sarana pembuangan
sampah. Sanitasi mempunyai peranan penting dalam mewujudkan rumah sehat dan sebagai penunjang
untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan. Laporan UNICEF dan WHO tahun 2015 terkait
fasilitas sanitasi terdapat 2,4 miliyar manusia di dunia masih menggunakan fasilitas sanitasi yang
buruk. Menurut Laporan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017 persentase rumah tangga yang
memiliki akses terhadap sanitasi layak adalah sebesar 67,89%.(3)
Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang dapat mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat. Dampak dari rendahnya tingkat cakupan sanitasi dapat menurunkan kualitas
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 76
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, dan meningkatnya
penularan penyakit berbasis lingkungan seperti diare.(3)
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 16 Mei 2019, sarana air bersih yang
digunakan masyarakat setempat kebanyakan menggunakan air PDAM dan sumur pompa tangan
(SPT). Ada juga yang menggunakan sumur gali (SGL) dan jetpam sebagai sarana air bersih yang
digunakan. Namun ada juga warga yang belum mempunyai sarana sumber air bersih yang
menyebabkan cakupan sarana air bersih masih belum memenuhi target yaitu sebesar 75% dari target
yang harus dicapai sebesar 80%.
Masyarakat setempat menggunakan jamban, namun masih terdapat masyarakat yang buang air
besar (BAB) di sungai, karena cakupan jamban masih belum memenuhi target yaitu sebesar 62% dari
target yang harus dicapai sebesar 75%. Persentase masyarakat yang melakukan buang air besar
sembarangan (BABS) sebesar 38%. Kepemilikan sarana pengolahan air limbah domestik belum semua
rumah mempunyai drainase. Sarana pengelolaan sampah dimasyarakat masih banyak yang tidak
terdapat fasilitas penampungan sampah sementara di setiap gang. Masih terdapat masyarakat yang
membakar sampah dan membuang sampah ke sungai yang menyebabkan cakupan TPS masih kurang
yaitu sebesar 66% dari target yang harus dicapai sebesar 80%.
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit
potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Diare pada balita dapat
menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan. Penyakit diare ini
masih menjadi penyebab kematian terbesar pada balita di Indonesia. Diare di Indonesia adalah
pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan setiap tahunnya
100.000 balita meninggal karena diare. Salah satu penyebab penyakit diare ini yaitu tata laksana yang
tidak tepat baik di rumah maupun sarana kesehatan. Sedangkan dari hasil survei kesehatan rumah
tangga (SKRT) di Indonesia dalam Departemen Kesehatan Republik Indonesia, diare merupakan
penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi dan nomor lima bagi semua umur.(4)
Berdasarkan data dari UPT Puskesmas Babakansari pada tahun 2019 bulan januari sampai april
terdapat 279 kasus diare dengan kasus terbanyak terjadi pada balita. UPT Puskesmas Babakansari
membawahi empat kelurahan yaitu Kelurahan Babakansari, Kelurahan Sukapura, Kelurahan Kebon
Jayanti dan Kelurahan Kangkung dimana Kelurahan Babakansari menjadi wilayah yang tertinggi
kasus diare dan wilayah yang padat penduduk. Rincian data di kelurahan Babakansari terdapat 130
kasus diare dimana 31 kasus terjadi pada balita, kejadian diare di Kelurahan Sukapura adalah 95 kasus
dimana 20 kasus pada balita, untuk kelurahan Kebon Jayanti ada 89 kasus dimana 17 kasus terjadi
pada balita dan di Kelurahan Kangkung adalah 76 kasus diare dimana 11 kasus pada balita.
Berdasarkan fenomena dan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji sanitasi dasar
lingkungan dengan kejadian diare pada balita di kelurahan Babakansari kecamatan Kiaracondong kota
Bandung.
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 77
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi analitik observasional dengan desain kasus kontrol
(case control study). Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Babakansari Kecamatan Kiaracondong Kota
Bandung pada bulan Juli 2019. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh balita penderita
diare yang berasal dari Kelurahan Babakansari, yang berkunjung ke UPT Puskesmas Babakansari
bulan Januari – April Tahun 2019 berjumlah 31 balita yang telah didiagnosis oleh dokter. Populasi
kontrol adalah seluruh balita yang tidak menderita diare yang berasal dari Kelurahan Babakansari
sebanyak 1.752 balita.
Pengambilan sampel untuk kelompok kasus menggunakan total sampling berjumlah 31 balita
sedangkan untuk kelompok kontrol menggunakan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi
dan ekslusi berjumlah 62 balita. Perbandingan sampel yang digunakan 1:2.
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi yang akan diisi oleh peneliti
mengenai sanitasi dasar lingkungan. Lembar observasi terdiri dari 11 pertanyaan dengan pilihan
jawaban Ya dan Tidak.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Chi Square. Uji statistik tersebut
menggunakan program komputer. Jika hasil statistik menunjukkan p ≤ 0,05 berarti Ho ditolak dengan
nilai statistik menunjukkan adanya hubungan sanitasi dasar lingkungan dengan kejadian diare pada
balita di kelurahan Babakansari kecamatan Kiaracondong tetapi jika p > 0,05 berarti Ho diterima
dengan uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan sanitasi dasar lingkungan dengan kejadian
diare pada balita di kelurahan Babakansari kecamatan Kiaracondong.
HASIL
Tabel 1. Gambaran Kejadian Diare pada Balita di Kelurahan Babakansari Kecamatan Kiaracondong
Tahun 2019
Kejadian Diare Jumlah (n) Persentase (%)
Kasus 31 33,32
Kontrol 62 66,71
Jumlah 93 100
Tabel 2. Gambaran Sarana Air Bersih, Jamban Sehat dan Sarana Pembuangan Dosen Di Kelurahan
Babakansari Kecamatan Kiaracondong Tahun 2019
Diare
Total
Kasus Kontrol
n % n % n %
Sumber Air
Tidak Memenuhi Syarat 15 48,42 26 41,92 41 44,11
Memenuhi Syarat 16 51,61 36 58,13 52 55,91
Jamban Sehat
Tidak Memenuhi Syarat 18 58,11 29 46,82 47 50,52
Memenuhi Syarat 13 41,93 33 53,21 46 49,53
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 78
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
Sarana Pembuangan Sampah
Tidak Memenuhi Syarat 24 77,44 47 75,81 71 76,32
Memenuhi Syarat 7 22,63 15 24,22 22 23,73
Jumlah 31 100 62 100 93 100
Tabel 3. Analisis Sanitasi Dasar Lingkungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan
Babakansari Kecamatan Kiaracondong Tahun 2019
Diare
Total OR CI
Kasus Kontrol P-value
95%
n % n % n %
Sumber Air Bersih
Tidak Memenuhi 1,298
15 48,41 26 41,94 41 44,12
Syarat 0,712 (0,546-
Memenuhi Syarat 16 51,62 36 58,12 52 55,91 3,087)
Jamban Sehat
Tidak Memenuhi 1,576
18 58,12 29 46,81 47 50,51
Syarat 0, 420 (0,660-
Memenuhi Syarat 13 41,91 33 53,24 46 49,52 3,763)
Sarana Pembuangan Sampah
Tidak Memenuhi
24 77,44 47 75,81 71 76,34 1,094
Syarat
Memenuhi Syarat 7 22,62 15 24,22 22 23,71 1,000 (0,393-
3,044)
Jumlah 31 100 62 100 93 100
PEMBAHASAN
Kategori sarana air bersih dibagi menjadi dua yaitu memenuhi syarat dan tidak memenuhi
syarat. Persyaratan sarana air bersih mengacu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016
tentang Pedoman Penyelenggaraan Indonesia Sehat dalam Pendekatan Keluarga bahwa sarana air
bersih yang terlindungi mencakup PDAM, sumur pompa, sumur gali, dan mata air terlindungi.
Sedangkan persyaratan fisik berdasarkan permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990 tentang
persyaratan kualitas air bersih, syarat fisik air bersih adalah tidak berbau, tidak berasa dan tidak
berwarna.(5)
Sumber air bersih di Kelurahan Babakansari sudah cukup baik terlihat sebagian besar keluarga
balita telah menggunakan air bersih yang memenuhi syarat. Hasil analisis chi-square tidak ada
hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian diare pada balita. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan Rofiana tahun 2017 yang menyatakan bahwa sarana air bersih tidak
berhubungan mengakibatkan diare pada balita. Hampir semua responden telah memakai sumber air
terlindungi, responden memakai sumur gali yang sudah ditutup permukaannya dan menggunakan jet
pump untuk mengambil air. Kondisi ini sudah sesuai dengan persyaratan sarana air bersih menurut
kemenkes 2017 tentang baku mutu air untuk higiene sanitasi,(6) Sumber air bersih yang tidak
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 79
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
terlindungi dapat mudah terkontaminasi oleh agen penyebab penyakit. Kontaminasi yang paling umum
adalah karena penapisan air dari sarana pembuangan kotoran manusia dan binatang.(7)
Hal ini menjadi tidak berisiko dalam penelitian ini karena mayoritas responden menggunakan
sumur gali/jetpam yang dibuat oleh pemerintah yang secara komunal air dialirkan dengan pipa-pipa
tertutup ke rumah warga. Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan penyakit diare yaitu
dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai ke rumah. Hal ini sesuai dengan penelitian Sholehah 2014, bahwa masyarakat yang
cenderung memanfaatkan sumur umum rentan terkontaminasi sumber sarana air bersihnya.(8)
Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral. Kuman tersebut
dapat ditularkan bila masuk ke dalam mulut melalui minuman, makanan atau benda yang tercemar
oleh tinja. Menurut penelitian Asep tahun 2018 terbukti bahwa penyediaan air bersih akan
mempengaruhi terjadinya kejadian diare.(9) Hal ini dapat disebabkan karena dengan kondisi air yang
beresiko akan banyak mengandung kuman penyakit yang beresiko terhadap terjadinya diare. Hasil
observasi di Kelurahan Babakansari meskipun semua responden sudah menggunakan sumber air yang
terlindungi seperti PDAM, sumur gali, dan sumur pompa masih banyak responden yang kualitas
airnya belum memenuhi syarat seperti berbau, berasa dan berwarna. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian Kurniati, yang menyebutkan bahwa ada hubungan kualitas fisik air dengan kejadian diare,
sebab pada kualitas fisik air yang jelek seperti berbau, berasa dan berwarna akan terdapat kuman
penyebab penyakit terutama diare infeksi.(10)
Sesuai dengan standart baku mutu air untuk hygiene sanitasi bahwa air untuk keperluan higiene
sanitasi digunakan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk
keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain itu air untuk keperluan higiene
sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum.(6) Jika sumber air bersih akan digunakan sebagai
air baku air minum maka harus memenuhi persyaratan terkait dengan parameter biologi dalam standar
baku mutu kesehatan lingkungan media air untuk keperluan higiene sanitasi yaitu Total coliform 50
CFU/100ml dan E. Coli 0 CFU/100ml. Sumber air bersih dalam penelitian ini bukan faktor resiko,
karena sumber air yang diteliti hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sedangkan sumber air
minum responden tidak diteliti, padahal adanya kontaminasi mikrobiologi dalam sumber air dapat
berpotensi mengakibatkan penyakit yang ditularkan air seperti diare.
Jamban sehat merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan
mengumpulkan kotoran manusia (kakus/ jamban) berbentuk leher angsa dan dilengkapi dengan sarana
penampungan tinja/septic tank sehingga tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit. Ketersediaan
jamban sehat pada penelitian ini diukur dengan lembar observasi yaitu dengan kepemilikan jamban
dengan jenis leher angsa, dilengkapi dengan septic tank, tidak terdapat sarang vektor dan tidak
menimbulkan bau. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
jamban sehat dengan kejadian diare pada balita.
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 80
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ferllando bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara ketersediaan jamban dengan kejadian diare.(11) Penelitian yang dilakukan oleh
Nugraeni juga senada dengan hasil penelitian ini bahwa tidak terdapat hubungan antara keberadaan
jamban dengan kejadian diare di Semarang Utara.(12)
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratna menyebutkan bahwa ada hubungan
penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare, sebab sebagian besar masyarakat di Desa Cicalengka
Kulon memiliki ketersediaan jamban yang tidak memenuhi syarat.(13)
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara ketersediaan jamban sehat dengan
kejadian diare, berdasarkan observasi sebagian besar ketersediaan jamban sehat di rumah responden
sudah memenuhi syarat yaitu menggunakan jamban leher angsa dan terdapat septic tank. Selain dari
jenis jamban, penelitian ini membahas tentang kepemilikan jamban yang harus dimiliki masing-
masing keluarga tidak bercampur atau jamban umum. Sesuai penelitian Amaliah dan Mansur bahwa
kepemilikan jamban sendiri mengurangi faktor risiko terkena diare.(14,15) Hasil observasi jamban
responden di kelurahan Babakansari sebagian besar keluarga mempunyai jamban dirumah namun
masih banyak juga keluarga menggunakan fasilitas MCK umum. Penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Sudasman yang menyatakan bahwa responden dengan kepemilikan jamban yang tidak
sehat memiliki potensi 4,588 kali menyebabkan diare.(16) Sebagian besar responden membuang
kotoran langsung ke sungai. Letak rumah responden yang berdekatan dengan sungai menjadi alasan
utama mereka membuang kotoran ke sungai sehingga masih banyak rumah yang memiliki jamban
leher angsa namun tidak memiliki septic tank dan langsung membuang ke sungai.
Sarana pembuangan sampah adalah tempat pembuangan sampah dalam rumah responden yang
berupa pembuangan tertutup, kedap air, dapat digunakan kembali. Sarana pembuangan sampah
diharapkan tidak menjadi tempat perindukan vektor yang dapat menyebarkan penyakit seperti diare.(17)
Berdasarkan hasil penelitian tidak ada hubungan yang signifikan antara sarana pembuangan sampah
dengan kejadian diare pada balita. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sugiarto bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sarana pembuangan sampah dengan
kejadian diare.(18) Di kelurahan Babakansari sarana pembuangan sampah responden kebanyakan
menggunakan plastik (kresek) atau karung untuk tempat sampah. Namun ada juga responden yang
menggunakan tempat sampah keranjang namun dengan kondisi terbuka. Hal ini tidak sesuai dengan
syarat Depkes yang menyebutkan sarana pengelolaan sampah haruslah kedap air dan tertutup. Tempat
sampah yang tidak tertutup berpotensi menjadi perkembangbiakan vektor seperti lalat, tikus, dan
kecoa. Vektor tersebut dapat membawa kuman penyakit dan ditularkan oleh vektor tersebut salah
satunya adalah diare.
Lalat mempunyai habitat yang kotor seperti di tempat sampah, apabila lalat hinggap dimakanan
dan makanan tersebut dimakan dapat menyebabkan penyakit seperti diare.(17) Sarana tempat
pembuangan sampah bukan faktor resiko dalam penelitian ini karena mayoritas responden menyimpan
tempat sampah dan kresek/karung di luar rumah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 81
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
Sugiarto yang dilakukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sarana pembuangan
sampah dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Miri Kabupate.(18)
Menurut Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare Kementerian Kesehatan RI Direktorat
Jendral Pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan (2011), sebagian besar kuman infeksius
penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral. Kuman tersebut dapat ditularkan bila masuk ke dalam
mulut melalui makanan, minuman atau benda yang tercemar dengan tinja. Tinja harus dibuang dan
ditampung secara tertutup untuk menghindari vektor yang bisa memindahkan kuman penyebab diare
ke makanan dan minuman yang akan dikonsumsi manusia.(19)
Diare menular melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar
kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat. Konsep 5F : field,
flies, food, fluid, finger menjadi faktor resiko kejadian diare. Sumber air bersih yang sudah tertutup
menghindarkan dari kontaminasi dari hewan (lalat/flies) dan dari lingkungan (field) yang tercemar.
Kondisi jamban yang tidak memenuhi syarat, dimana jamban tersebut tidak memiliki septic tank
sehingga tinja langsung dibuang ke sungai (field), hal inilah yang menjadi faktor resiko dimana lalat
menjadi vector penyakit diare. Begitu juga dengan sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi
syarat, menjadi tempat perindukan lalat yang dapat berkembang biak dengan baik. Faktor resiko di
atas bisa dicegah dengan memodifikasi lingkungan melalui pendekatan tehnologi, sebagai contoh
dengan memperbaiki sistem pemipaan air bersih yang tertutup, menggunakan septic tank komunal dan
pengelolaan sampah rumah tangga yang baik melalui bank sampah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat beberapa hal yaitu sebagian besar
responden menggunakan sumber air bersih yang memenuhi syarat, sebagian besar responden
menggunakan jamban yang tidak memenuhi syarat, dan sebagian besar responden menggunakan
sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat. Tidak ada hubungan signifikan antara
sumber air bersih, jamban sehat dan sarana pembuangan sampah dengan kejadian diare pada balita di
kelurahan Babakansari.
Mengadakan penyuluhan secara berkesinambungan sebagai upaya preventif dan promotif
pencegahan faktor resiko kejadian diare dengan menggebyarkan perilaku cuci tangan pakai sabun,
memasak air bersih sampai mendidih jika memakai air bersih sebagai air baku air minum,
mengadakan arisan jamban guna mempercepat ketercapaian kepemilikan jamban sehat atau dengan
mengupayakan septic tank komunal dan mengatur kembali pola pengelolaan dan pengolahan sampah
rumah tangga berprinsip pada 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) serta mewujudkan bank sampah di tiap
kelurahan.
Masyarakat harus selalu meningkatkan program berbasis lingkungan seperti (Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat) STBM, agar sanitasi dan personal hygiene selalu terpantau. Masyarakat selalu
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 82
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
menjaga kebersihan lingkungan dan dapat bergotong royong dalam menjaga kebersihan
lingkungannya. Serta menghindari faktor penyebab lain yang dapat menyebabkan terjadinya diare.
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Diarrhoeal disease [Internet]. [Link]
sheets/detail/diarrhoeal-disease. 2017. Available from: [Link]
room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease.
2. Kementerian Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011 [Internet]. Jakarta:
Kemenkes RI; 2012. Available from: [Link]
3. Kemenkes R. Data Dan Informasi: Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI;
2017.
4. Handoyo, Fahtkhur rahman; Widoyo, Slamet; Siswanto HB. FaktorFaktor Yang
Berhubungan dengan Kejadian Diare di Desa Solor Kecamatan Cerme Bondowoso.
NurseLine J [Internet]. 2016;v. 1, n. 1(Univercity of Jember):24–35. Available from:
[Link]
5. Kemenkes R. Daftar Persyaratan Kualitas Air. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. Nomor : 416/MenKes/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September 1990.; 1990.
6. Kemenkes R. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017
Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan Dan Persyaratan Kesehatan Air
Untuk. 2017.
7. Rofiana L. Hubungan Sanitasi Dasar Dengan Keluhan Diare Pada Balita Di
Permukiman Pesisir Kampung Blok Empang Muara Angke Tahun 2017 [Internet].
2017. Available from:
[Link]
[Link]
8. Sholehah,Imroatus MLM. Gambaran Sarana Sanitasi Masyarakat Kawasan Pesisir
Pantai Dusun Talaga Desa Kairatu Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat
Tahun 2014. Higiene. 2015;Volume 1,(mei-agustus 2015).
9. Irfan AD. Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare pada Balita. J Sehat Mandiri
[Internet]. 2018;Volume 13(Poltekkes Kemenkes Padang). Available from:
pen[Link]
10. Kurniati, I. D., Notoatmojo, H. & Putra DPY. Kualitas Fisik Dan Sumber Air Yang
Dikonsumsi Berpengaruh Terhadap Kejadian Diare Pada Balita. J Kedokt
Muhammadiyah [Internet]. 2014;Vol 3, No(Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Semarang):3. Available from:
[Link]
11. Herry Tomy. Ferllando; Supriyono A. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dan
Personal Hygiene Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja
Puskesmas Mangkang. Visikes J Kesehat Masy [Internet]. 2015;14(2). Available from:
[Link]
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 83
Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 04 No. 01 (Januari, 2021) : 75-84 E-ISSN 2614-5375
12. Nugraheni D. Hubungan Kondisi Fasilitas Sanitasi Dasar Dan Personal Hygiene
Dengan Kejadian Diare Di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. J Kesehat
Masy Univ Diponegoro [Internet]. 2012;1(Universitas Diponegoro). Available from:
[Link]
[Link]
13. RD, Kurniawati; Abdul Malik MI. The Correlation Between Healthy Latrines With
The Occurrence Of Diarrhea Towards Community In Cicalengka Kulon Village, Sub
District Of Cicalengka, Bandung Regency. In: International Conference on Health and
Well - Being (ICHWB) 2016 [Internet]. 2016. p. 153. Available from:
[Link]
14. Amaliah S. Hubungan Sanitasi Lingkungan Dan Faktor Budaya Dengan Kejadian
Diare Pada Anak Balita Di Desa Toriyo Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo.
In: Prosiding Seminar Nasional & Internasional [Internet]. 2010. Available from:
[Link]
15. F Mansur MJ. Faktor Risiko Kejadian Diare Akut pada Balita di Kabupaten Magelang.
Univ Gadjah Mada [Internet]. 2013; Available from:
[Link]
16. Sudasman FH. Hubungan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasartangga, Personal Hygiene
Terhadap Riwayat Penyakit Sepanjang Aliran Kecamatan Baleendah [Internet].
Jakarta; 2014. Available from:
[Link] Hilmi
[Link]
17. Dian Kurniawati, Ratna; Fajar Galandi N. Kepadatan Lalat Pada Sampah Rumah
Tangga di Desa Tanjunglaya Kecamatan Cikancung Kab Bandung. Majalah INSIDE:
Media Inspirasi dan Ide Litbangkes. 2016;
18. Sugiarto KT. Hubungan Antara Sarana Sanitasi Dasar Rumah Dan Kebiasaan Cuci
Tangan Pakai Sabun Dengan Kejadian Diare Di Wilayah Kerja Puskesmas Miri
Kabupaten Sragen [Internet]. 2016. Available from: [Link]
19. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2013
[Internet]. Jakarta; 2014. Available from:
[Link]
indonesia/[Link]
Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 84