ATRAUMATIC RESTORATIVE TREATMENT
Disusun Oleh:
CUT SARAH NAZILA
P07125219007
REGULER A (TINGKAT 2)
Dosen Pembimbing:
Ratna Wilis, SKM., Mkes
POLTEKNIK KESEHATAN ACEH
DIV KEPERAWATAN GIGI
2020
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Daftar Isi ............................................................................................................................
BAB 1 Pendahuluan .....................................................................................................................1
Latar Belakang ..................................................................................................................1
Rumusan Masalah .............................................................................................................2
Tujuan Penulisan ...............................................................................................................2
Manfaat Penulisan .............................................................................................................3
BAB II Pembahasan .....................................................................................................................4
Pengertian ART (Atraumatic Restorative Treatment) .............................................4
Indikasi dan kontra indikasi ART (Atraumatic Restorative Treatment) .................4
Kelebihan dan kekurangan ART (Atraumatic Restorative Treatment) ...................5
Alat dan bahan tumpatan ART (Atraumatic Restorative Treatment) ......................5
Cara melakukan penumpatan ART (Atraumatic Restorative Treatment) ...............7
BAB III Penutup ................................................................................................................10
Kesimpulan ..............................................................................................................10
Saran ........................................................................................................................10
Daftar Pustaka ...................................................................................................................11
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi.
Lubang gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat
merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat. Asam yang diproduksi tersebut
memengaruhi mineral gigi sehingga akan mengalami demineralisasi. Hal ini
menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada
gigi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, bahwa prevalensi karies di
Indonesia mencapai 60-80% dari populasi, serta menempati peringkat keenam
sebagai penyakit yang paling banyak diderita.
Masalah klasik yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam penanganan
karies gigi adalah penyebaran tenaga kesehatan gigi dan peralatan yang belum
merata seperti penempatan tenaga kesehatan gigi di puskesmas yang tidak
memiliki peralatan padahal ratio tenaga kesehatan gigi dan peralatan sudah
memadai. Juga terdapat beberapa puskesmas yang belum ada saluran listrik, tetapi
mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan gigi (dental unit).
Disamping itu, perilaku masyarakat terhadap kesehatan gigi masih belum
mendukung, yang dapat dilihat dengan masih banyaknya permintaan pencabutan
daripada penambalan. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan gigi
yang optimal, yang mudah dilakukan oleh tenaga non-profesional dan tanpa
disertai perlengkapan kedokteran gigi yang relatif mahal,telah dikembangkan
teknik baru dalam mengatasi masalah karies gigi yaitu penggunaan ART
(Atraumatic Restorative Treatment).
Penumpatan dengan cara ART adalah suatu prosedur penumpatan
sederhana yang dilakukandengan mengexcavir lesi karies gigi dan hanya
menggunakan hand-instrument dan memakai bahan tumpatan yang mempunyai
sifat adhesive yaitu glass ionomer.
2
ART (Atraumatic Restorative Treatment) , pada awalnya digunakan pada
negara yang berkembang, dimana perawatan gigi secara lengkap tidak tersedia.
ART merupakan bagian dari intervensi yang meliputi komponen restoratif dan
preventif terdiri dari pembersihan kavitas gigi secara manual dengan instrumen
tangan dan merestorasinya dengan bahan adhesif yang mampu melepaskan
fluorida seperti glass ionomer cement (GIC).
Teknik ART ini dipakai hanya untuk lesi karies satu permukaan. Pada
karies dengan lesi yangmeliputi 2 permukaan atau lebih, akan menghasilkan
tumpatan yang tidak terlalu kuat. Oleh karena itu, keberhasilan tumpatan ini
tergantung pada ukuran atau luasnya kavitas dan keterampilan operatornya.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara melakukan penumpatan gigi dengan metode ART
(Atraumatic Restorative Treatment)?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari ART (Atraumatic Restorative
Treatment)
2. Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi dalam metode ART
(Atraumatic Restorative Treatment)
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penumpatan gigi
dengan metode ART (Atraumatic Restorative Treatment)
4. Untuk mengetahui alat dan bahan tumpatan yang digunakan untuk
melakukan penumpatan dengan metode ART (Atraumatic
Restorative Treatment)
5. Untuk mengetahui cara melakukan penumpatan gigi dengan
metode ART (Atraumatic Restorative Treatment)
3
D. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis
dan pembaca mengenai penumpatan gigi dengan metode ART (Atraumatic
Restorative Treatment)
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian ART (Atraumatic Restorative Treatment)
Atraumatic restorative Treatment (ART) adalah prosedur yang
berdasarkan pada pembuangan jaringan karies gigi dengan hanya menggunakan
instrument tangan. Tindakan berupa eksavasi jaringan - jaringan karies gigi secara
manual dan restorasi kavitas gigi dengan bahan tumpatan adhesive glass ionomer
cement (GIC).
Bahan GIC diindikasikan untuk ART dikarenakan kemampuan adhesinya
dan sifat melepas fluoride sama baiknya seperti mekanisme setting kimiawinya,
sehingga perawatan ini dianjurkan untuk daerah-daerah yang kurang memadai
infrastrukturnya.
Teknik ini merupakan teknik inovatif, karena cara kerjanya dalam
merestorasi suatu tumpatan dapat dilakukan dengan tanpa anastesi dan
pengeboran. ART merupakan bagian dari minimal interversi meliputi komponen
restoratif dan preventif yang terdiri dari pembersihan kavitas gigi secara manual
dengan instrumen tangan dan merestorasinya dengan bahan adhesif yang mampu
melepaskan fluoride seperti GIC. Teknik ART ini diaplikasikan dengan bahan dan
alat yang cocok dengan keadaan biologis gigi manusia. Semen yang digunakan
mengandung 28% fluoride, dan beraksi baik secara kimia dengan dentin dan
enamel pada gigi. Kandungan fluoride yang sesuai dengan kebutuhan gigi akan
menstimulasi proses remineralisasi.
B. Indikasi dan kontra indikasi ART (Atraumatic Restorative
Treatment)
1. Indikasi:
a. Kavitas tersebut memungkinkan untuk dirawat dengan hand instrumen
b. Kavitas yang hanya melibatkan email dan dentin, meliputi:
5
1) Kavitas satu permukaan
a) Pada pit dan fitsure dipermukaan oklusal premolar dan molar
b) Pada pit dipermukaan lingual insisivus atas
c) Pada grove bukal dan lingual dari premolar dan molar
d) Pada permukaan bukal dan lingual tepat diatas gingiva semua gigi
2) Kavitas lebih dari satu permukaan
a) Pada permukaan proksimal dan oklusal dari premolar dan molar
b) Pada permukaan bukal, lingual, dan oklusal dari premolar dan molar
c) Pada incisal edge dan permukaan proksimal
2. Kontra indikasi
a. Kavitas tidak dapat dicapai dengan instrument tangan
b. Terdapat kavitas karies yang tersembunyi yang tidak dapat di akses oleh
instrumen tangan.
c. Pulpa gigi terbuka.
d. Adanya rasa sakit yang lama dan mungkin terjadi inflamasi pulpa.
e. Terjadi pembengkakan (abses) atau fistel
C. Kelebihan dan kekurangan ART (Atraumatic Restorative Treatment)
1. Kelebihan
a. Mudah didapat dan relative mudah karena menggunakan teknik manual
b. Dapat digunakan ditempat terpencil yang tidak tersedia listrik
c. Biayanya murah
d. Memudahkan masyarakat yang tidak terjangkau layanan kesehatan
e. Dapat meminimalisir penggunaan anastesi local
f. Mengurangi infeksi langsung
g. Tidak menimbulkan rasa takut, karena tidak ada suara mesin bur (terutama
pada anak-anak)
2. Kekurangan
6
a. Belum terdapat restorasi ART yang tahan lama. Sebuah penelitian menunjukkan
ART terlama : 3 tahun
b. Teknik yang ditetapkan belum diasuransikan untuk kesehatan gigi dan mulut
c. Penggunaan hand instrument dapat menimbulkan kelelahan
d. Pencampuran manual memungkinkannya tidak sesuai standart
D. Alat dan bahan tumpatan ART (Atraumatic Restorative Treatment)
1. Alat
a. Oral Diagnostik (kaca mulut, Pinset, Sonde, dan Excavator)
b. Dental Hatchet
Instrumen ini digunakan untuk memperlebar jalan masuk kavitas, untuk
mengikis email tipis yang tidak terdukung dan email yang terkena karies yang
masih tertinggal setelah pembuangan dentin berkaries.
c. Applier (Carver)
Instrumen berujung dua ini mempunyai dua fungsi. Ujung yang tumpul
digunakan untuk memasukkan adukan glass ionomer kedalam kavitas serta pit dan
fitsure. Sedangkan ujung yang tajam digunakan untuk membuang kelebihan bahan
tambal dan membentuk glass ionomer.
d. Paper pad dan Agate Spatel
Kedua instrumen ini diperlukan pada pengadukan glass ionomer.
e. Wedge
f. Plastik strip (T bard)
2. Bahan
Fuji IX merupakan bahan tambal glass ionomer yang dikembangkan
secara khusus untuk mengembangkan teknik ART dengan kekuatan tekan yang
lebih besar dan ketahanan pemakaian lebih baik yang memungkinkan dipakai
pada gigi belakang.
7
Gambar GIC Fuji IX
Komposisi glas ionomer:
a. Bubuk:
- Si O2 29% - Na Al F6 5%
- Al O3 16,6% - Ca F2 34,3%
- Al F3 5,3% - Al PO4 9,9%
b. Liquid:
- Polyacrylic acid-ita conic 47,5%
- Air 47,5%
- Tartonic acid 5,0%
Bahan ini terdiri dari bubuk dan cairan yang harus diaduk. Bubuknya adalah kaca
yang mengandung silicon-oxida, aluminium oxida dan calcium flourida. Bila
cairannya adalah air yang telah didemineralisir, maka bubuknya sudah
mengandung polyacrilic acid dalam bentuk kering (air yang telah disemineralisir
adalah yang digunakan untuk mengisi baterai/aki).
E. Cara melakukan penumpatan ART (Atraumatic Restorative
Treatment)
1. Preparasi
a. Preparasi lubang gigi jaringan karies dibersihkan dengan excavator sampai
tak ada lagi dentin lunak, untuk memudahkan pembersihan lubang sekali-
kali dibasahi, keringkan lubang.
8
b. Setelah preparasi selesai pasien dianjurkan oklusi untuk melihat kontak
lubang.
c. Pemberian dentin conditioner yaitu 1 tetes liquid + tetes air dibasahi pada
kapas kecil dan diolesi pada cavitas yang sudah disiapkan selama 10 – 15
detik. Maksud pemberian ini adalah agar keadaan lembab sesuai kondisi
tambalan yang akan digunakan. Sesudah pengolesan dengan dentin
conditioner maka kavitas harus diolesi kapas sebanyak 3 kali untuk
mengurangi conditioner yang berlebihan, selanjutnya dikeringkan dengan
kapas dan kavitas siap ditambal.
2. Pengadukan
a. Satu sendok bubuk diletakkan pada paper pad, lalu dibagi menjadi dua
bagian yang sama, kemudian letakkan satu tetes liquid disebelah bubuk
itu.
b. Botol cairan dipegang sebentar dalam keadaan horizontal untuk
mengeluarkan udara dari bagian ujungnya dan kemudian dalam posisi
vertikal dikeluarkan satu tetes cairan pada paper pad. Bila perlu botol
ditekan sedikit, tapi cairan jangan tertekan keluar.
c. Mula-mula cairan disebarkan dengan spatula pada suatu permukaan
sebesar 1,5 cm. Pengadukan dimulai dengan mencampur setengah dari
bubuk dengan cairan yang menggunakan spatula.
d. Bubuk dicampur dengan gerakan menggulung sehingga partikel-partikel
bubuk secara perlahan-lahan terbasahi tanpa tersebar.
e. Jika seluruh bubuk telah basah, bagian kedua dicampur dalam adukan
tersebut setelah itu diaduk kuat sambil menjaga agar adukannya tetap
berupa satu kesatuan massa.
f. Pengadukan harus selesai 20 – 30 detik, hasil adukan yang baik harus
seperti pasta kilat.
g. Penumpatan dapat langsung dilakukan pada kavitas tanpa preparasi
terlebih dahulu, gunakan Vaseline agar tumpatan tidak mudah lengket dan
untuk menghaluskan permukaan tumpatan.
9
3. Penumpatan
a. Masukan bahan tumpatan ke dalam lubang, pit dan fissure dengan carver
dengan tekanan ringan.
b. Tekan dengan jari (30”) yang sudah memakai sarung tangan.
c. Buang bahan yang berlebih.
d. Oles dengan Vaseline.
e. Periksa gigitan.
f. Varnish diberikan setelah penambalan dan pengurangan sisa-sisa tumpatan
yang berlebih.
g. Dianjurkan pasien agar tidak makan selama kurang lebih satu jam.
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Atraumatic restorative Treatment (ART) dapat menjadi alternatif
bagi dunia kedokteran gigi. ART mempunyai trik-trik khusus agar dokter dan
pasien terasa nyaman ketika melakukan perawatannya. Pemakaian hand
instruments dan GIC sebagai peralatan dan material utama menyebabkan teknik
ART mudah untuk diaplikasikan. Hand instrument mempunyai keuntungan dapat
dilakukan dimana pun tanpa menggunakan peralatan kedokteran gigi elektrik.
Sedangkan material GIC digunakan karena kekuatan dan keawetannya yang sama
atau bahkan lebih dari ketahanan amalgam. Pada dasarnya penggunaan ART dalam
dunia kedokteran gigi sangat membantu. Penggunaan ART baik pada perawatan gigi
yang rusak akibat karies maupun penyakit-penyakit yang lain. Teknik ini juga
aman apabila digunakan pada anak-anak.
B. Saran
Penulis berharap dalam pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut,
ART dapat menjadi alternatif ketika terdapat kasus dan situasi yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan metode penumpatan biasa. Sehingga kasus karies
gigi dapat ditangani dan angka DMF-T dapat menurun.
11
DAFTAR PUSTAKA
Annusavice, K. J. 2004. Philips Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Edisi 10. EGC: Jakarta
Buku Ajar Mata kuliah Konservasi Oleh Drg. Ellis Mirawati, [Link] (Hal. 3-13)
Davidovich, E, dkk. 2007. Surface antibacterial properties of glass ionomer cements
used in atraumatic restorative treatment. JADA (138) : 1347-1352
[Link]
[Link]
[Link]
Powers, J. M., and Sakaguchi, R. L. 2006. Craig’s Restorative Dental Materials. Mosby
Elseiver: St. Lo
12