Meningkatkan Pengetahuan Seksual Anak
Meningkatkan Pengetahuan Seksual Anak
SKRIPSI
Oleh:
Dyanadhila Syadzwina
201410230311030
FAKULTAS PSIKOLOGI
2018
SEXUAL HEALTH EDUCATION DENGAN METODE LAVIGA GUNA
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN SEKSUAL PADA ANAK
USIA PERTENGAHAN
SKRIPSI
oleh:
Dyanadhila Syadzwina
201410230311030
FAKULTAS PSIKOLOGI
2018
ii
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang
berjudul “Sexual Health Education Dengan Metode LAVIGA Guna Meningkatkan
Pengetahuan Kesehatan Seksual Pada Anak Usia Pertengahan” sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan,
arahan, serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Muhammad Salis Yuniardi, [Link], [Link], Ph.D selaku Dekan Fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
2. Ibu Siti Maimunah, [Link], M.M, M.A selaku pembimbing I dan Ibu Sofa
Amalia, [Link], [Link] selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan
pikiran untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini hingga akhir.
3. Bapak Zakarija Achmat, [Link], [Link] selaku dosen wali penulis yang telah
mendukung dan memberikan pengarahan sejak awal perkuliahan sampai
skripsi ini selesai.
4. Mama dan Papa, Susy Adhayati dan Iwan Suwangga, S.T yang selalu
mendoakan, memberikan semangat serta dukungan yang tidak pernah putus
sejak awal perkuliahan hingga akhir.
5. Adik-adikku, Salsabila Filsani dan Muhammad Arifin Rais yang juga selalu
mendoakan, dan memberikan semangat kepada penulis.
6. Wali kelas 1 SDN Sumbersekar 01, atas izin dan kesempatan yang telah
diberikan sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.
7. Farid Duta, Zulfikar & team, Welly Yudhithia & team, terima kasih telah
membantu penulis untuk membuat media-media dalam permainan ini.
8. Teman-teman penulis yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah
memberikan waktu, tenaga, semangat, dan dukungan dalam pelaksanaan
penelitian yang telah dilakukan.
Penulis menyadari tidak ada kesempurnaan dalam karya manusia sehingga kritik dan
saran sangat peneliti harapkan demi perbaikan penulisan skripsi ini. Penulis berharap
semoga hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.
Dyanadhila Syadzwina
iv
v
DAFTAR ISI
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR LAMPIRAN
viii
SEXUAL HEALTH EDUCATION DENGAN METODE LAVIGA GUNA
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN SEKSUAL PADA
ANAK USIA PERTENGAHAN
Dyanadhila Syadzwina
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
dyanadhilas@[Link]
Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak beberapa tahun kebelakang semakin
marak terjadi di Indonesia. Maka dari itu, anak-anak terutama di usia pertengahan
perlu mendapatkan pembelajaran mengenai sexual health education sebagai salah
satu cara untuk membentengi diri dari kekerasan dan pelecehan seksual. Aspek
sexual health education pada penelitian ini mencakup aku dan diriku; aku dan
pakaianaku; aku , keluarga dan orang disekitarku; dan cara merawat dan menjaga
tubuh untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual anak usia pertengahan.
Metode LAVIGA merupakan metode psikoedukasi yang dirancang khusus
sebagai salah satu bentuk pengajaran untuk membantu anak pada usia pertengahan
guna mengetahui dan memahami sexual health education dengan menggunakan
media lagu, video dan game. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
eksperimen kuasi dengan metode non-randomized pretest-posttest control group
design. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ho
ditolak (p=0,018). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa metode LAVIGA
secara efektif dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada anak usia
pertengahan.
Sexual violence and sexual harassment are two main problems which frequently
appear in our surroundings. Departing to these problems, the needs for sexual
health education as a self-protection so as to preserve either physical or
psychological factor is considered necessary. The aspects involved in sexual
health education are me and myself; me and my clothes; me, my family and my
society; and the way to treat and take care of myself to increase children’s sexual
health knowledge. In this current study, LAVIGA was used as a psychoeducation
method designed in order to help the children in comprehending sexual health
education by using song, video and game. This study was conducted by using
quasi-experiment with non-random re-experimental methods. The results have
shown that p < 0,05 which means hypothesis is rejected (p=0,018). In brief,
Laviga method effectively promotes sexual knowledge for the children.
1
Di era modern ini, banyak sekali kasus kekerasan seksual dengan korban anak-
anak pada usia sekolah. Salah satu kasus kekerasan seksual pada anak terjadi di
tahun 2016, dimana pelaku kekerasan seksual adalah seorang guru sekolah dasar,
yang merupakan orang terdekat korban. Sejatinya, peran guru di sekolah adalah
mendidik serta menjadi panutan anak-anak didiknya untuk menjadi seseorang
yang berbudi pekerti luhur. Namun, seorang guru SD di Cilandak Barat, Jakarta,
justru berperilaku sebaliknya. Tersangka dilaporkan mencabuli anak-anak
didiknya pada saat pelajaran olahraga, di kantin, aula, ataupun kolam berenang.
Tersangka sudah sering melakukan ini kepada anak-anak didiknya sejak beberapa
tahun sebelum dirinya tertangkap tangan (Aditya, 2016).
Penelitian mengenai angka kekerasan seksual pada anak telah dilakukan oleh
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
Yogyakarta (B2P3KS) bekerja sama dengan End Child Prostitution, Child
Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia
di sejumlah kota besar di Indonesia, yaitu kota Jakarta Timur, Magelang,
Yogyakarta, Mataram dan Makassar. Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa rata-rata korban kekerasan seksual anak berkisar antara 5
sampai dengan 17 tahun. Bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap korban
berupa sentuhan atau rabaan pada daerah sensitif hingga hubungan badan
2
(Prawira, 2017). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa korban
pelecehan seksual merupakan siswa yang bersekolah di PAUD hingga SMA.
Sexual health education kepada anak adalah salah satu cara pencegahan tindak
pelecehan dan kekerasan seksual anak yang dapat diajarkan oleh orang tua di
rumah dengan cara-cara yang disesuaikan dengan usia anak (Jatmikowati, Ria &
Ernawati, 2015). Sexual health education bukan melulu membahas tentang
kegiatan seksual antara laki-laki dan perempuan, namun juga bagaimana anak
dapat mengenal tubuhnya sendiri, bagaimana cara berpakaian yang baik dan
benar, bagaimana anak harus berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta cara
merawat dan menjaga tubuhnya (Jatmikowati, Ria & Ernawati, 2015). Menurut
Roqib (2008), pendidikan seks atau yang disebut dengan sexual health education
merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk memberikan pengetahuan,
pemahaman dan pencegahan mengenai masalah seksual yang diberikan kepada
anak dalam usaha menjaga anak dari kebiasaan atau perilaku yang tidak islami
(yang menyangkut seksualitas), mengurangi segala kemungkinan adanya
hubungan seksual terlarang.
Tujuan dari sexual health education adalah untuk meningkatkan pengetahuan
kesehatan seksual yang dimiliki oleh seorang individu. Menurut Nugraha (dalam
Amrillah, Prasetyaningrum dan Hertinjung, 2006) pengetahuan mengenai
seksualitas diartikan sebagai proses pembudayaan seksualitas diri sendiri dalam
kehidupan bersama orang lain yang harus ditempatkan dalam konteks keluarga
dan masyarakat. Pengetahuan kesehatan seksualitas yang baik dapat menjadikan
individu memiliki sikap dan tingkah laku seksual yang sehat dan
bertanggungjawab (Saringedyanti, dalam Amrillah, Prasetyaningrum dan
Hertinjung, 2006). Memiliki pengetahuan kesehatan seksual yang cukup bukan
hanya penting untuk orang dewasa, namun juga sejak usia dini, terlebih dengan
maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia beberapa tahun
kebelakang.
Penelitian mengenai sexual health education kepada anak yang dilakukan oleh
Kenny [Link]. (2008) yang juga didukung oleh penelitian Weatherley et. al. (2012)
memfokuskan program sexual health education pada self protection yang
diberikan kepada anak mulai dari usia 3 tahun hingga 18 tahun untuk dapat
mencegah bertambahnya korban pelecehan seksual pada anak. Hasil dari program
tersebut juga menunjukkan hasil yang positif bahwa anak-anak yang mengikuti
beberapa program ini memiliki pengetahuan dan perilaku pencegahan kekerasan
seksual yang lebih baik daripada anak-anak yang tidak turut serta didalam
program.
Banyaknya korban pelecehan seksual yang terjadi pada anak usia sekolah (5-17
tahun), tentu membuat orang tua cemas dan khawatir pada saat anak berada diluar
rumah tanpa adanya pengawasan dari pihak orang tua maupun pihak sekolah.
Sayangnya, masih banyak orang tua atau masyarakat yang memandang bahwa
sexual health education sebagai hal yang tabu untuk untuk dibicarakan. Di
Indonesia, perbincangan mengenai seksualitas masih terbatas pada ruang dan
kalangan tertentu (Fauzi’ah, 2016).
3
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Deblinger, Reena, Eloise, & Christine
(2010), beberapa orang tua memilih untuk tidak mengajarkan anaknya mengenai
sexual health education dikarenakan beberapa alasan seperti topik seksual sulit
untuk didiskusikan dengan anak (kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
sexual health education), orang tua tidak mau menakut-nakuti anak, orang tua
merasa bahwa lingkungan sekitar aman dan tidak merasa kekerasan seksual
mengancam keselamatan anaknya, serta anak yang dirasa terlalu muda untuk
diberikan sexual health education. Namun, hasil penelitian mengenai sexual
health education yang dilakukan oleh Deblinger, Reena, Eloise, & Christine
(2010) dengan melibatkan orang tua siswa memaparkan bahwa program sexual
health education yang melibatkan orang tua dapat menambah pengetahuan anak
mengenai kekerasan seksual dan memudahkan pemberian sexual health education
pada anak.
Deblinger, Reena, Eloise, & Christine (2010) berpendapat bahwa orang tua
dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung mengajarkan anaknya mengenai
sexual health education. Namun, tidak semua orang tua Indonesia berpikiran
demikian. Maka dari itu, untuk menghindari ketidaktahuan anak akibat kurangnya
pengetahuan kesehatan seksual yang diberikan oleh orang tua, akan lebih baik jika
guru, serta tenaga pendidik juga berperan serta dalam memberikan sexual health
education di sekolah kepada anak secara langsung melalui metode-metode yang
menyenangkan. Menurut penelitian Finkelhor (dalam Kenny, 2010 ) yang
menelaah pemberian sexual health education pada anak menunjukkan bahwa
terdapat banyak pembuktian bahwa pemberian sexual health education langsung
kepada anak dapat menghasilkan kualitas pendidikan yang baik. Sehingga,
pemberian sexual health education langsung kepada anak-anak dirasa penting
mengingat anak-anak akan tetap memiliki pemahaman mengenai sexual health
education sebagai salah satu cara untuk memproteksi diri dari kekerasan dan
pelecehan seksual dimanapun mereka berada meskipun orang tua mereka belum
memiliki kapasitas pengetahuan yang baik mengenai sexual health education.
Hal ini di dukung oleh penelitian mengenai sexual health education menggunakan
school-based education programmes untuk mencegah kekerasan seksual pada
anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode school-based education
programmes secara efektif dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual
dan juga perilaku pencegahan kekerasan seksual siswa yang menjadi subjek
penelitian. Orang tua siswa sebagai narasumber menyatakan bahwa setelah
mengikuti program ini, orang tua tidak menemukan adanya reaksi negatif yang
ditunjukkan oleh siswa (Kerryann, Zwi, Woolfenden & Shlonsky (2015); Hebert,
Francine, Christiane, & Michele (2001))
Bahaya dan dampak dari kasus kekerasan seksual telah disadari oleh Dinas
Pendidikan Republik Indonesia. Direktur Pendididikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad mengatakan
bahwa sexual health education sudah dimulai dari Kurikulum 2013 (K-13) dan
disisipkan pada materi-materi yang diajarkan di sekolah yang disesuaikan dengan
tingkat pendidikan. Bagi siswa SMP dan SMA, pembelajaran ini masuk kedalam
mata pelajaran biologi/IPA, sedangkan bagi siswa SD kelas 1 dan 2, dimasukkan
dalam mata pelajaran tematik pada tema-tema tertentu, contohnya mengenai
4
pengenalan mengenai dirinya sendiri (Sasongko, 2016). Hal ini tentu akan sangat
membantu siswa dalam memahami dirinya sendiri dalam konteks seksualitas
apabila di sampaikan dengan metode yang menyenangkan dan disesuaikan dengan
usia siswa.
Menurut Piaget (Santrock, 2012), anak-anak pada usia 7 sampai dengan 11 tahun,
berada pada tahapan perkembangan operasional konkret dimana anak-anak mulai
dapat berfikir secara logis dan rasional mengenai peristiwa-peristiwa konkret serta
dapat mengklasifikasikan objek-objek kedalam bentuk yang berbeda. Maka dari
itu, anak-anak membutuhkan penggambaran yang lebih nyata untuk dapat
memahami mengenai pendidikan seksual yang diajarkan. Memori jangka panjang
pada usia ini juga sudah mulai mengalami kemajuan. Hal ini mencerminkan
bahwa meningkatnya pengetahuan serta kemampuan anak dalam menggunakan
strategi atau rencana dalam melakukan suatu kegiatan atau dalam memproses
informasi (Santrock, 2012).
Anak-anak pada usia sekolah dasar biasanya memiliki rentang waktu perhatian
yang pendek (Thobroni, M & Fairuzul, 2011), sehingga untuk dapat melakukan
sebuah kegiatan diperlukan perencanaan yang matang sehingga tidak memuat
anak-anak bosan pada kegiatan yang dilakukan. Anak-anak pada usia ini memiliki
kondisi fisik yang belum cukup matang, sehingga mereka lebih suka dibiarkan
untuk bermain, berlari, melompat, dan melakukan aktivitas fisik lain
dibandingkan duduk diam (Fahey, dkk, dalam Santrock).
Oleh karena itu, peneliti membuat sebuah metode psikoedukasi yang disesuaikan
dengan keadaan psikologis anak mengenai materi sexual health education yang
dikemas secara menarik, sehingga siswa tertarik untuk memahami materi sexual
health education yaitu metode LAVIGA. Metode LAVIGA merupakan salah satu
bentuk pengajaran yang terdiri dari gabungan media lagu, video dan juga game
untuk memberikan pendidikan seksual, yang dapat membantu anak untuk
memiliki pengetahuan seksual yang baik.
Metode ini dapat menjadi media yang mudah untuk memberikan informasi
kepada anak-anak di usia pertengahan karena menyasar kepada ranah kognitif,
afeksi, dan psikomotor (Breuer, 2017), yang mencakup bagian tubuh yang boleh
dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, gambaran perilaku orang lain yang
mencurigakan dan membahayakan bagi anak, serta bagaimana mencegah
perilaku-perilaku yang tidak diinginkan oleh orang lain. Melalui video dan lagu,
anak-anak dapat dengan mudah mendapatkan gambaran mengenai bagian tubuh
yang boleh dan tidak boleh di sentuh, serta cara menjaga diri dari perilaku yang
tidak diinginkan dari orang lain dengan visualisasi yang menarik, dan lirik yang
mudah untuk dipahami oleh anak. Pada permainan ulartangga, peneliti akan
menggunakan aktivitas fisik, dimana anak-anak dapat belajar sambil bermain dan
bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Di Indonesia, penggunaan metode lagu, video, dan game dalam pemberian sexual
health education masih jarang dilakukan. Merujuk pada penelitian yang dilakukan
oleh Lestari (2011) metode nyanyian efektif dalam pengajaran pendidikan
karakter pada anak karena terkesan gembira, dan mudah dijiwai oleh anak.
Penelitian ini kemudian menyarankan untuk menggunakan bahasa yang sederhana
5
untuk digabungkan dengan irama lagu yang sudah ada sehingga lebih mudah bagi
anak untuk mengingatnya.
Penggunaan metode video pada penelitian ini juga didasarkan pada penelitian
yang pernah dilakukan oleh Palupi (2017) untuk pengetahui efektivitas
penggunaan video animasi pada pengajaran sexual health education menggunakan
video animasi pada anak usia dini di PAUD. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, bahwa penggunaan video animasi pada anak usia dini dinilai efektif
untuk digunakan dalam pemberian sexual health education. Penelitian ini juga
menjelaskan bahwa anak akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan
melalui visual pada gambar animasi dan audio pada penjelasan gambar animasi
dalam satu waktu.
Penggunaan games ulartangga pernah dilakukan untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan oleh Afandi (2015). Penelitian ini
menjelaskan bahwa games ular tangga efektif dalam meningkatkan motivasi
belajar dan juga hasil belajar pada anak Sekolah Dasar secara signifikan. Menurut
penelitiannya, Afandi berpendapat bahwa media pembelajaran dapat memudahkan
siswa untuk memahami materi yang diberikan serta mengatasi kebosanan siswa
dalam belajar.
Dari pemaparan diatas, peneliti akan menggunakan tiga metode untuk
mengajarkan sexual health education anak yang terfokus pada self protection.
Metode pengajaran yang akan diujicobakan pada penelitian ini adalah penggunaan
metode lagu, video dan games dari sekian banyak metode yang telah
direkomendasikan oleh peneliti untuk dapat memudahkan pemberian sexual
health education pada anak (Deblinger, Reena, Eloise, & Christine ,2010; Kenny
[Link].,2008). Beberapa penelitian (yang dilakukan secara terpisah) dengan subjek
siswa di Indonesia menyebutkan bahwa lagu, video dan games secara efektif
memberikan dampak yang positif terhadap subjek penelitian. Penelitian ini
penting untuk dilakukan mengingat semakin maraknya kasus kekerasan seksual
yang terjadi pada anak-anak yang dapat menimbulkan dampak yang mengancam
keselamatan dan kondisi psikologis anak apabila tidak adanya penanganan secara
preventif terhadap kekerasan seksual anak, sehingga metode LAVIGA hadir untuk
dapat menghindari meningkatnya jumlah korban kekerasan seksual pada anak.
Peneliti terdahulu menggunakan banyak sekali program dan metode untuk
memberikan edukasi mengenai seksualitas kepada siswa di sekolah. Beberapa
contoh metode yang digunakan adalah video, roleplay, game, lagu, story book,
poster, mewarnai, dan modelling. Penelitian ini akan terfokus pada penggunaan
metode lagu, video dan games sebagai satu rangkaian metode untuk
meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada siswa sekolah dasar yang
memiliki tingkat pengetahuan rendah sehingga dapat membantu siswa untuk
memahami materi mengenai seksualitas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode LAVIGA
dalam upaya meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada anak usia
pertengahan. Selain dalam ranah kognitif, penelitian ini juga bertujuan untuk
menumbukan perasaan waspada terhadap lingkungan sekitar yang mencurigakan
(afeksi) dan apa yang harus dilakukan oleh anak (psikomotorik) untuk
6
membentengi diri dari perilaku kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan
oleh pihak lain. Adapun manfaat yang akan didapatkan dari penelitian ini berupa
manfaat secara teoritis dan juga manfaat secara praktis. Manfaat secara teoritis
yang bisa didapatkan melalui penelitian ini adalah adanya pengembangan ilmu
psikologi pada bidang psikologi pendidikan yang terfokus pada sexual health
education pada anak. Hasil dari penelitian juga dapat dimanfaatkan sebagai
referensi bagi penelitian yang akan datang dengan topik metode LAVIGA agar
dapat dijadikan sebagai langkah awal menghindari kekerasan seksual pada anak.
Manfaat secara praktis yang ada pada penelitian ini adalah guru atau orang tua
dapat memberikan sexual health education menggunakan metode yang telah
disusun untuk anak Sekolah Dasar agar mereka dapat memahami mengenai sexual
health education dengan cara yang menyenangkan.
Memori jangka panjang pada usia ini juga sudah mulai mengalami kemajuan. Hal
ini mencerminkan bahwa meningkatnya pengetahuan serta kemampuan anak
dalam menggunakan strategi atau rencana dalam melakukan suatu kegiatan atau
dalam memproses informasi (Santrock, 2012). Anak-anak pada usia sekolah dasar
biasanya memiliki rentang waktu perhatian yang pendek (Thobroni, M &
Fairuzul, 2011), sehingga untuk dapat melakukan sebuah kegiatan diperlukan
perencanaan yang matang sehingga tidak memuat anak-anak bosan pada kegiatan
yang dilakukan.
Anak-anak pada usia ini memiliki kondisi fisik yang belum cukup matang,
sehingga mereka lebih suka dibiarkan untuk bermain, berlari, melompat, dan
melakukan aktivitas fisik lain dibandingkan duduk diam (Fahey, dkk, dalam
Santrock). Hal ini disebabkan karena perkembangan fisik anak yang
membutuhkan latihan keseimbangan untuk membuat tubuhnya menjadi lebih
7
matang, dan pengkoordinasian antar gerak tubuh melalui aktivitas fisik
(Soetjiningsih, 2012).
Pengetahuan kesehatan seksual perlu dimiliki anak sejak dini, sebagai persiapan
menuju tahapan perkembangan selanjutnya, dan juga mengurangi resiko
pelecehan dan kekerasan seksual pada anak. Menurut Maryuni & Anggraeni
(2016) terdapat beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko pelecehan seksual
anak, antara lain; kurangnya pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks,
kurangnya pengetahuan anak mengenai seksualitas, dan teknologi informasi yang
cepat berkembang sehingga mudah diakses oleh berbagai kalangan usia.
Pengetahuan kesehatan seksual yang baik tentu perlu diperhatikan untuk
menghindari pelecehan dan kekerasan seksual terutama pada anak.
8
Menurut Breuer (2017), pengetahuan kesehatan seksual yang diajarkan melalui
sexual health education yang di desiminasikan melalui tiga bentuk pembelajaran
yang menyasar pada:
a. Kognitif
Bentuk pembelajaran yang menyasar pada ranah kognitif menekankan pada
pemberian informasi mengenai materi-materi sexual health education,
contohnya bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan tidak boleh
disentuh.
b. Afektif
Bentuk pembelajaran yang menyasar pada ranah afektif adalah
pembelajaran yang menekankan pada perasaan dan nilai-nilai mengenai
materi-materi sexual health education, contohnya menanamkan nilai-nilai
moral bahwa bagian-bagian yang tidak boleh disentuh merupakan bagian
sensitif dan sangat pribadi sehingga tidak boleh di sentuh oleh
sembarangan orang.
c. Psikomotorik
Bentuk pembelajaran yang menyasar pada ranah psikomotor adalah
pembelajaran yang menekankan pada perilaku seperti komunikasi, dan
pembentukan keputusan. Contohnya adalah mengajarkan anak bagaimana
cara membaca situasi yang membahayakan, dan apa yang harus dilakukan
apabila mengalami situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Pengetahuan kesehatan seksual pada anak perlu di berikan sesuai dengan usia
anak. Materi yang seharusnya dipahami oleh anak-anak pada usia pertengahan
adalah materi mengenai tubuh anak, pemahaman akan lawan jenisnya, dan
pemahaman untuk menghindarkan anak dari kejahatan seksual melalui media
poster, lagu atau permainan (Jatmikowati, Ria & Ernawati, 2015). Materi-materi
yang dapat diajarkan kepada siswa kelas satu pada fase kanak-kanak ini
didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Jatmikowati, Ria & Ernawati
(2015) mengenai materi sexual health education pada anak, antara lain;
(1) Aku dan Tubuhku, yaitu pengenalan pada bagian-bagian tubuh dan fungsi
bagian tubuh yang ada pada dirinya, serta bagian-bagian tubuh mana
sajakah yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain
(2) Cara Merawat dan Menjaga Tubuh, yaitu pengajaran untuk menjaga dan
merawat tubuh mereka sendiri agar senantiasa bersih, sehat dan terlindungi
dari bahaya kuman dan penyakit,
(3) Aku dan Pakaianku, pengajaran kepada anak untuk dapat mengenakan
pakaian dengan sopan, serta seusai dengan jenis kelamin mereka. Anak-
anak diajarkan pula untuk mengetahui kegunaan dari pakaian serta
perbedaan pakaian untuk laki-laki dan perempuan,
(4) Aku Keluarga dan Orang di Sekitarku, pengajaran untuk mengetahui
dengan baik orang-orang yang ada disekitar mereka serta perannya
masing-masing. Anak juga diajarkan bagaimana memahami nilai-nilai
serta norma-norma kesopanan dalam berperilaku pada saat hidup bersama
dengan orang lain.
9
memiliki dan memahami pengetahuan seks, terutama pada anak adalah dengan
memberikan pendidikan seksual atau sexual health education yang disesuaikan
dengan usia anak.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2007) terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memberikan pembelajaran kepada anak usia pertengahan dan
akhir, yaitu; menggunakan pendekatan konstruktif dalam belajar, melakukan
pembelajaran fasilitatif, mempertimbangkan pengetahuan dan tingkat pemikiran
anak, menggunakan penilaian yang berkesinambungan, meningkatkan kesehatan
intelektual murid (tidak ada paksaan dalam belajar), mengubah ruang kelas
menjadi ruang eksplorasi dan penemuan).
10
intelektual. Menurut Hastomo (2007), pada usia 6-7 tahun anak-anak, anak-anak
memiliki rasa ingin tahu terhadap anggota tubuhnya. Bahkan terkadang
memperhatikan dan memainkan alat kelaminnya sendiri (Hurlock dalam
Hastomo) sebagai salah satu perilaku yang ditunjukkan saat mereka sedang
mengeksplorasi apa yang mereka tidak ketahui.
Menurut Roqib (2008), sexual health education sebaiknya diajarkan oleh guru
serta orang tua mengingat orang tua serta gurulah yang paling dekat, serta
menghabiskan banyak waktu bersama anak-anak. Maka dari itu, orang tua dan
guru sangat dianjurkan untuk memiliki dan memahami pengetahuan mengenai
seksualitas agar dapat mengajarkan anak-anaknya secara langsung dengan
metode-metode yang sesuai dengan diri anak.
Sexual health education penting untuk diberikan sejak usia dini dengan beberapa
alasan dan tujuan, diantaranya (Choirudin, dalam Justicia): (1) Mengajarkan
kepada anak mengenai peran jenis kelamin dan topic biologis, (2) Memberikan
pemahaman bagaimana cara bersikap dan bergaul dengan lawan jenis, (3)
Mencegah terjadinya penyimpangan seksual, (4) Anak mampu membedakan
bentuk tindakan kekerasan seksual dan yang bukan tidak kekerasan seksual, (5)
Mencegah anak untuk tidak menjadi korban kekerasan seksual, (6) Menumbuhkan
sifat berani dalam melaporkan tindak kekerasan seksual. Beberapa orang sangat
khawatir untuk memberikan sexual health education kepada anak-anak mereka
karena takut anak-anak mencari tahu sendiri dan mencoba hal-hal yang
seharusnya belum diketahui anak-anak. Justicia (2016) berpendapat bahwa belum
ada penelitian yang menunjukkan bahwa sexual health education yang diberikan
kepada anak-anak akan memberikan dampak negatif kepada anak.
11
dari kekerasan seksual menurut Feldman (2012) bahwa pada dasarnya adalah
adanya rasa takut yang timbul pada diri korban, cemas, depresi, marah, dan
kecewa. Dampak jangka panjang yang timbul adalah depresi, munculnya perilaku
merusak diri, merasa terasing, memiliki harga diri yang rendah, penyalahgunaan
obat-obat terlarang dan adanya kemungkinan kesulitan seksual di masa yang akan
datang, bahkan korban mungkin untuk melakukan tindakan kekerasan seksual
yang sama.
Metode LAVIGA termasuk dalam psikoedukasi kelompok yang bertujuan untuk
memberikan pengalaman interpersonal guna meningkatkan pemahaman mengenai
keberfungsian diri melalui konsep berfikir, ide, dan eksplorasi dari permasalahan-
permasalahan yang dihadapi secara bersama-sama (Smead, dalam Waack).
Psikoedukasi ini dapat digunakan untuk memberikan terapi, ataupun dalam
mencegah kasus-kasus yang akan membahayakan diri seseorang dimasa
mendatang (Waack, 2006). Menurut Brown (2018), penggunaan psikoedukasi
sebagai terapi maupun tindakan preventif memiliki beberapa manfaat antara lain;
memiliki waktu yang spesifik, lingkungan yang aman, menyebarkan berbagai
informasi baru, menghubungkan individu satu dan yang lainnya, mengurangi
munculnya stigma atau menyalahkan individu, dapat memperbaiki informasi yang
salah secara bersama-sama, mempelajari dan mengatur strategi baru untuk
menyelesaikan masalah, serta mendiskusikan hal-hal yang sulit.
Lagu menurut Sari (2015) adalah suatu komposisi musikal yang terdiri atas bait-
bait dan ditujukan untuk dinyanyikan serta memiliki aturan-aturan khusus yaitu
bait-bait dan pengulangan. Sari juga menambahkan bahwa lagu didefinisikan juga
sebagai makna yang tercipta dari sebuah penyelarasan tujuan antara aturan-aturan
melodis dan linguistik. Lirik yang terkandung didalam lagu biasanya memiliki arti
atau makna yang disisipkan untuk tujuan tertentu untuk mengajak, memberikan
nasihat, dan mensugesti orang yang mendengarkan ataupun menyanyikannya
(Lestari, 2011). Kombinasi musik dan lirik sebagai lagu ini kemudian digunakan
oleh banyak kalangan untuk berbagai kebutuhan, termasuk dalam memberikan
pembelajaran-pembelajaran kepada siswa di sekolah. Musik juga dapat membantu
manusia dalam mengkoneksikan emosi, berfikir, dan belajar (Davies, dalam
Vinyets).
12
Musik yang merupakan bagian dari lagu, dapat menghubungkan dua fungsi
bagian otak kanan dan kiri, sehingga mereka dapat bekerja secara bersama-sama
dan membuat proses belajar menjadi cepat dan mudah (Vinyets, 2013). Banyak
orang yang dapat menghilangkan ketegangannya, memperoleh semangat,
kenyamanan, dan kesenangan yang sangat baik dalam kontak langsung dengan
musik seperti bernyanyi, berputar, berbaris, menari, berjoget, atau tingkah laku
lainnya (Mutiah, 2010). Lagu juga dapat membuat kata-kata dan suara menjadi
lebih mudah untuk dengar dan dimengerti, sehingga membantu orang dewasa
untuk bisa berkomunikasi dengan anak-anak (Papousek, dalam Moyles).
Memberikan pembelajaran sambil bermain dapat memberikan semangat dan rasa
senang kepada para siswa sehingga dapat membantu siswa dalam memahami
materi dalam pembelajaran menjadi lebih mudah. Menurut (Vinyets, 2013) lagu
merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari,
mudah untuk diingat dalam jangka panjang, begitu pula oleh siswa disekolah.
Video merupakan gambar hidup yang mempunyai tampilan visual dan audio,
yang dapat berperan sebagai sarana hiburan maupun media pembelajaran (Fadhli,
2015). Video banyak digunakan oleh tenaga pendidik untuk dapat menyampaikan
materi melalui bahan ajar non-cetak yang kaya informasi dan tuntas karena dapat
sampai kepada siswa secara langsung (Imaniya, 2016). Keunggulan dari media
video ini adalah dapat mudah pengoperasiannya, menarik minat dan perhatian
siswa dalam belajar, memperjelas sajian ide dan mengilustrasikan materi
pembelajaran sehingga tidak mudah lupa (Putri, 2012). Pada anak sekolah dasar,
media video yang dapat digunakan untuk menarik perhatian sehingga dapat
menyimak dengan baik adalah dengan melalui video dengan gambar animasi atau
kartun. Penelitian mengenai penggunaan film kartun untuk meningkatkan
kemampuan menyimak pada siswa sekolah dasar berhasil dilakukan oleh Putri &
Sri (2014) yang berhasil dilihat melalui nilai ketuntasan belajar. Hal ini
menunjukkan bahwa media video animasi dapat digunakan oleh siswa sekolah
dasar dalam proses pembelajaran sehingga dapat menarik minat dan perhatian
mereka dalam menyimak video pembelajaran.
Games atau permainan, menurut KBBI adalah sebuah perbuatan atau sesuatu yang
digunakan untuk bermain. Bermain menurut Daniel Berlyne (dalam Santrock,
2011), adalah aktivitas yang menggairahkan dan menyenangkan karena dapat
memuaskan dorongan eksplorasi secara aman, dan juga sebagai sarana
mendapatkan informasi baru secara tidak pasti, kompleks, aneh dan spontan bagi
anak. Kegiatan bermain dapat bermanfaat bagi anak dalam beberapa aspek, yaitu;
(1) aspek fisik, gerak tubuh yang dilakukan oleh anak selama kegiatan bermain
dapat menjadikan fisik anak menjadi lebih sehat dan matang, (2) aspek
perkembangan motor kasar dan halus, pada aspek ini anak belajar membuat
keputusan dan menyiasati suatu permainan sehingga memunculkan kecerdasannya
yang akan berimplikasi pada keterampilan anak, (3) aspek sosial, anak belajar
untuk dapat berinteraksi dengan orang lain seperti menjalin hubungan dengan
teman sebaya, belajar berbagi, memecahkan masalah, dan belajar untuk lebih
mandiri, (4) aspek bahasa, melalui aspek ini anak dapat belajar kosakata yang
baru yang belum dimiliki melalui teman bermain. Komunikasi sosial juga akan
membantu anak dalam membentuk anak menjadi pribadi yang mudah bergaul dan
13
memiliki banyak teman, (5) aspek emosi dan kepribadian, melalui aspek ini anak
dapat memiliki rasa percaya diri dan merasa di hargai oleh orang lain (Thobroni,
M & Fairuzul, 2011).
Siswa sekolah dasar sangat tertarik pada kegiatan bermain, sehingga hal ini dapat
dimanfaatkan oleh para pendidik untuk dapat memberikan pembelajaran melalui
bermain sekaligus mengasah keterampilan dan kemampuan (Damara, 2012).
Menurut Damara (2012) dengan metode belajar sambil bermain akan lebih
berkesan dalam memori otak siswa sekolah dasar untuk perkembangan
pengetahuan karena pada masa inilah siswa sekolah dasar sedang mengalami
perkembangan memori otak yang sangat pesat. Namun yang perlu diperhatikan
adalah bagaimana rancangan bermain yang baik dan menarik bagi anak mengingat
anak-anak pada usia sekolah dasar memiliki rentang waktu perhatian yang pendek
(Thobroni, M & Fairuzul, 2011).
Namun, beberapa orang tua kesulitan untuk dapat mengajarkan kepada anak
mereka mengenai pengetahuan sexual health education karena belum memahami
materi sexual health education dan masih menganggap bahwa segala sesuatu
yang berkaitan dengan seksualitas sangat tabu untuk didiskusikan, terutama
kepada anak-anak. Bahkan, permasalahan dalam mengajarkan sexual health
education kepada anak-anak juga datang dari orang tua dan tenaga pendidik yang
sudah memahami materi sexual health education untuk anak. Permasalahan yang
mungkin dialami oleh orang tua dan tenaga pendidik adalah bagaimana
menyampaikan materi sexual health education kepada anak dengan pembahasan
dan metode yang menarik sehingga mudah dipahami oleh anak. Pada pemberian
sexual health education di sekolah, rentang waktu perhatian yang pendek pada
anak-anak (Thobroni, M & Fairuzul, 2011) dapat menjadi salah satu permasalahan
yang mungkin terjadi dalam memberikan pembelajaran mengenai sexual health
education kepada anak-anak, sehingga menyebabkan penyampaian materi tidak
diterima dengan baik oleh anak-anak.
14
dengan mudah diingat dan di aplikasikan pada situasi-situasi yang membahayakan
anak. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode LAVIGA. Metode
LAVIGA menggabungkan media lagu, video animasi dan games sebagai cara
untuk menyampaikan, dan me-review pengetahuan kesehatan seksual anak dengan
cara-cara yang disukai oleh anak-anak di usia tujuh sampai delapan tahun. Metode
ini menyasar pada kognisi, afeksi, dan psikomotor anak sehingga dapat dipahami
secara menyeluruh.
Pada usia pertengahan, anak-anak sedang merepresi hasrat seksual dan mengalami
kemajuan pesat pada perkembangan sosial serta intelektualnya (Freud dalam
Santrock, 2012). Perkembangan secara sosial, intelektual, fisik, serta emosi yang
dialami anak dapat dimanfaatkan oleh peneliti untuk memberikan beberapa
pengajaran mengenai sexual health education. Media lagu digunakan untuk
membantu anak-anak dalam mengingat materi sexual health education melalui
audio visual. Lirik yang digunakan adalah kalimat-kalimat yang dibuat
berdasarkan materi sexual health education seperti bagian tubuh yang boleh dan
tidak boleh disentuh, untuk kemudian dapat dinyanyikan menggunakan nada lagu
sederhana. Penggunaan metode lagu dapat meningkatkan perasaan gembira dan
tidak membosankan bagi anak-anak. Menurut Lestari (2011), penggunaan lagu
dalam pemberian materi kepada anak dapat memberikan kesan yang mendalam
dan dapat memberikan sugesti kepada anak-anak untuk berperilaku seperti apa
yang di sampaikan dalam lirik lagu.
Media video yang akan digunakan dalam penelitian merupakan video animasi
dengan karakter anak (Lavi dan Gaga), yang menggambarkan bagian tubuh yang
boleh dan tidak boleh disentuh, serta apa yang harus diakukan dalam situasi-
situasi yang mengancam. Anak usia pertengahan yang sedang mengalami
perkembangan kognitif operasional konkret akan disajikan materi dengan audio-
visual, sehingga anak secara dapat langsung melihat situasi yang dimaksudkan
oleh peneliti beserta penjelasannya secara langsung. Hal ini juga akan membantu
anak untuk mengklasifikasikan kejadian-kejadian berbahaya dan tidak berbahaya
di kemudian hari sebagai hasil penggambaran melalui audio-visual.
15
anak pertengahan dan diharapkan dapat mengurangi jumlah korban kekerasan dan
pelecehan seksual pada anak-anak usia pertengahan.
16
Kerangka Berfikir
anak dapat mengingat bagian tubuh Anak dapat memahami Anak dapat Mengulang
yang boleh disentuh dan tidak boleh gambaran kejadian yang materi yang telah di
disentuh, serta cara mencegah mungkin terjadi dan dapat ajarkan dengan
perilaku seksual yang tidak mengulang perilaku yang di
bermain bersama
diinginkan contohkan
17
Hipotesis
Sexual health education dengan Metode LAVIGA efektif dalam meningkatkan
pengetahuan kesehatan seksual pada usia anak-anak pertengahan.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain ekperimen
ulang non random (non-randomized pretest-posttest control group design). Desain
ini merupakan desain eksperimen yang dilakukan dengan memberikan tes
(pretest) sebelum perlakuan diberikan, dan tes sesudahnya (posttest) untuk
mengetahui perbedaan nilai rata-rata sebagai dasar perhitungan ada atau tidaknya
pengaruh dari perlakuan yang diberikan (Latipun, 2015). Eksperimen ini termasuk
dalam eksperimen semu (quasi experiment), dimana tidak adanya kontrol secara
penuh pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian dilakukan
untuk mengetahui bagaimana pengaruh metode LAVIGA terhadap peningkatan
pengetahuan kesehatan seksual siswa sekolah dasar. Desain ekperimen ulang non
random (non-randomized pretest-posttest control group design) dapat diringkas
sebagai berikut
Keterangan:
O1 = Pengukuran yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan (Pre-Test)
O2 = Pengukuran yang dilakukan setelah diberikan perlakuan(Post-Test)
X = Perlakuan atau intervensi
Subjek Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di sebuah SDN Sumbersekar 01, Kabupaten
Malang. Kabupaten Malang merupakan daerah dengan tingkat pelecehan seksual
yang tinggi, sehingga peneliti memilih secara acak sekolah yang akan diberikan
perlakuan namun tetap berada dalam jangkauan peneliti.
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2013). Populasi pada
penelitian ini adalah siswa kelas satu di SD Sumbersekar yang ada di Kabupaten
Malang. Sampel dalam penelitian ini akan dipilih menggunakan teknik
pengambilan sampel non-probability sampling dengan purposive sampling.
Teknik non-probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang
tidak memberikan peluang serta kesempatan yang sama besarnya kepada setiap
18
individu anggota populasi untuk dijadikan sampel (Sugiono, 2013). Dalam
penelitian ini, peneliti akan membantu siswa yang memiliki pengetahuan seksual
digunakan untuk menarik sample dengan kriteria yang sudah ditentukan
sebelumnya (Winarsunu, 2009).
Adapun kriteria umum penentuan sampel yang akan dipilih antara lain; (1)
termasuk dalam usia anak pertengahan (usia 7-12 tahun) (2) sedang menempuh
pendidikan di kelas satu (3) mendapatkan hasil skor berkategori rendah pada pre-
test dengan alat ukur LAVIGA. Jumlah kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen adalah empat belas dengan tujuh orang sebagai kelompok kontrol dan
tujuh orang sebagai kelompok eksperimen. Pemilihan jumlah sampel disesuaikan
dengan teori yang dikemukakan oleh Yalom (2005) bahwa jumlah ideal anggota
kelompok yang dapat digunakan dalam pemberian perilaku adalah antara tujuh
hingga delapan orang. Pembagian siswa untuk masuk kedalam kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol akan dilakukan secara random dengan teknik
ganjil genap.
19
keluarga dan lingkungan sekitarku; serta cara merawat dan menjaga tubuh. Alat
ukur yang digunakan adalah alat tes yang berbentuk soal bergambar sehingga
menarik dan mudah dipahami oleh siswa SD kelas satu.
20
Untuk menghindari kebosanan siswa, kegiatan dilanjutkan setelah jam istirahat
selama kurang lebih 20 menit. Pemutaran lagu yang dilakukan setelah jam
istirahat dilakukan sebanyak lima kali. Dua putaran pertama dimaksudkan untuk
memberikan gambaran kepada anak-anak mengenai lagu yang akan dinyanyikan,
kemudian tiga putaran terakhir dinyanyikan secara bersama-sama. Kegiatan
kemudian ditutup dengan berdoa dan beberpa pertanyaan mengenai materi yang
telah diberikan kepada masing-masing siswa.
Pada hari kedua, peneliti akan memberikan permainan ular tangga. Kegiatan ini
dimulai dengan pembukaan terlebih dahulu guna memperkenalkan fasilitator yang
terlibat, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan aturan bermain kepada siswa
dan pembagian urutan main. Setelah siswa dapat memahami aturan main,
permainan pun dimulai selama kurang lebih 45 menit. Setelah itu, siswa diberikan
waktu untuk beristirahat, serta mengerjakan soal post-test sebelum masuk
kedalam ruang kelas. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Weatherley
(2012), Pemberian post-test akan dilakukan setelah proses pemberian intervensi
dilakukan secara keseluruhan.
Setelah hasil pre-test dan post-test dikumpulkan, peneliti masuk pada tahapan
akhir, yaitu proses pengolahan data. Pada proses ini peneliti akan menganalisa
normalitas data menggunakan uji Shapiro Wilk, hasil dari uji tersebut
menunjukkan bahwa data yang telah dikumpulkan tidak normal (nonparametrik).
Sehingga, analisa hasil akhir menggunakan teknik analisis Wilcoxon (Sugiono,
2013) untuk mengetahui efektivitas metode LAVIGA dalam pemberian sexual
health education (pada data yang berkorelasi) dan Mann Whitney untuk
mengetahui perbedaan antara kelompok kontrol dan eksperimen pada data yang
tidak berkorelasi. Analisis ini akan dilakukan menggunakan SPSS for windows
versi 21.
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan di SDN Sumbersekar 01 di kabupaten Malang dengan
jumlah siswa sebanyak 35 orang. Data pretest yang telah dilakukan pada siswa
kelas satu kemudian diolah dan dikategorisasikan menggunakan T score dengan
data sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Pretest Alat Ukur LAVIGA
Syarat Range Score Kategori Jumlah
X ≥ 200 200-230 Tinggi 21 siswa
X ˂ 200 90-190 Rendah 14 siswa
JUMLAH 35 siswa
21
Tabel 5. Subjek Penelitian
Jumlah
Kategori Kelompok Eksperimen Kelompok
Kontrol
Usia
7 tahun 3 4
8 tahun 4 3
Jenis Kelamin
Perempuan 2 4
Laki-laki 5 3
Penelitian ini menggunakan 14 orang subjek dengan nilai pre-test rendah yang
terbagi menjadi dua kelompok, 7 orang siswa di kelompok kontrol dan 7 orang
lainnya dikelompok eksperimen. Siswa kelas satu yang menjadi subjek penelitian
berusia 7 sampai 8 tahun, dimana usia ini termasuk dalam usia pertengahan.
Peneliti melakukan uji perbedaan dengan uji Mann Whitney untuk mengetahui
perbedaan kondisi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah
dilakukannya pre-test. Skor pre-test antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol terlihat berbeda, dimana kelompok kontrol memiliki nilai skor pre-test
yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Kondisi
ideal yang dibutuhkan untuk kedua kelompok adalah tidak adanya perbedaan
kondisi antara kedua kelompok berdasarkan perhitungan SPSS, sehingga dapat
membantu peneliti melihat efektivitas dari perlakuan yang akan diberikan kepada
salah satu kelompok. Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa nilai probabilitas dari
uji Man Whitney adalah sebesar 0,841, dimana p > 0,05 yang berarti bahwa tidak
terdapat perbedaan kondisi yang signifikan antara kedua kelompok sebelum
diberikan intervensi, atau dengan kata lain kedua kelompok dalam kondisi yang
sama.
22
Untuk mengetahui efektivitas metode LAVIGA untuk meningkatkan pengetahuan
kesehatan seksual pada siswa kelas satu di Sekolah Dasar (SD), peneliti
menggunakaan uji perbedaan Wilcoxon. Berdasarkan tabel 7, kelompok
eksperimen memiliki nilai probabilitas sebesar 0,18 < 0,05 yang artinya, terdapat
perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post- test. Pada kelompok
eksperimen, nilai probabilitas diketahui sebesar 0,246 > 0,05 yang artinya, tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post test.
23
rendah menjadi tinggi. Hal ini disebabkan karena kenaikan skor yang dialami oleh
tiga subjek lainnya tidak mencapai skor minimum pada tscore yaitu 200.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan 4 aspek, yaitu; (1) aku dan tubuhku; (2)
aku dan pakaianku; (3) aku, keluarga, dan orang disekitarku; serta (4) cara
merawat dan menjaga tubuh. Berdasarkan tabel 10, aspek dengan nilai paling
rendah pada skor pretest adalah aspek nomor 1 dengan rata-rata nilai persiswa
2,14 pada aspek aku dan tubuhku. Hal ini kemudian dijelaskan dengan persentase
pemahaman keempatbelas subjek terhadap aspek sebesar 53,5%. Sedangkan pada
skor rata-rata post-test, aspek dengan nilai rata-rata terrendah tetap pada aspek
nomor 1 dengan rata-rata nilai 2,14 dan persentase pemahaman keempatbelas
terhadap aspek sebesar 62,8%.
DISKUSI
Paparan hasil analisa menggunakan uji wilcoxon pada penelitian yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa terdapat kenaikan skor pre-test dan post-test yang
signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hal ini menunjukkan bahwa metode LAVIGA dapat meningkatkan pengetahuan
kesehatan seksual pada anak usia pertengahan secara efektif. Peneliti juga
menemukan adanya perbedaan kondisi pengetahuan kesehatan seksual pada kedua
kelompok subjek setelah diberikan perlakuan.
Penelitian ini menggunakan metode LAVIGA sebagai media yang digunakan
dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada anak usia pertengahan.
Metode LAVIGA merupakan penggabungan antara lagu, video, dan games yang
dianggap efektif dalam meningkatkan sexual health education karena langsung
menyasar pada kognitif, afeksi, dan psikomotor anak sehingga mudah untuk
diserap dan dimengerti oleh anak. Metode LAVIGA merupakan metode preventif
diharapkan dapat mengurangi tingginya korban kekerasan dan pelecehan seksual
pada anak.
Di usia 7-12 tahun, anak-anak dapat diajarkan bagaimana cara mengenali situasi-
situasi dan melakukan perencanaan perilaku untuk menghindari perlakuan orang
lain yang diprediksikan dapat membahayakan diri mereka saat mereka sedang
24
tidak bersama orang tua. Piaget (dalam Santrock, 2012) menyebutkan bahwa di
usia ini, anak sedang mengalami tahapan operasional konkret dimana anak-anak
mulai dapat berfikir secara logis dan rasional mengenai peristiwa-peristiwa
konkret. Dengan menggunakan metode LAVIGA, subjek diedukasi untuk melihat
peristiwa-peristiwa tertentu membahayakan mereka dengan bantuan gambar
animasi yang ada pada video materi dan video lagu. Sehingga, anak-anak dapat
melihat secara jelas bagaimana wujud peristiwa yang harus dihindari dan apa
yang harus mereka lakukan apabila bertemu dengan kejadian yang serupa dengan
gambar.
Menurut Piaget (dalam Ghazi & Ullah, 2015) kekuatan berfikir anak pada fase
berfikir konkrit akan berkembang semakin baik. Anak-anak di usia pertengahan
dapat memecahkan masalah dan mulai bisa mengklasifikasikan sesuatu dengan
sederhana. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh peneliti dalam pengajaran
mengenai sexual health education untuk mengkategorikan bagian-bagian tubuh
yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta apa yang harus dilakukan apabila
bertemu dengan lawan jenis baik yang dikenal maupun tidak dikenal saat mereka
memperlakukan diri anak dengan tidak nyaman.
Menurut Santrock (2012), anak pada usia ini sedang mengalami perkembangan
kemampuan kognitif baik itu ingatan, kemampuan dalam menerima informasi,
dan juga penggunaan strategi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu saja harus
dimanfaatkan oleh orang tua, guru, maupun tenaga pendidik lainnya untuk bisa
memberikan pengajaran mengenai sexual health education agar dapat digunakan
di situasi-situasi yang mengancam keselamatan anak secara seksual yang mungkin
terjadi kapan saja.
Anak-anak diusia sedang berada dalam fase laten menurut Freud (dalam Santrock)
dimana anak merepresikan hasrat seksual dan mengembangkan keterampilan
sosial dan intelektual. Maka dari itu, sexual health education menjadi penting
untuk diberikan kepada anak untuk membantunya dalam mengembangakan
keterampilan sosial dengan orang lain, dan juga sebagai dasar pengetahuan awal
mengenai seksualitas sebelum memasuki masa pubertas.
Selain mengetahui nama-nama bagian dari tubuhnya, anak juga diajarkan
keterampilan dalam bersosialisasi (aspek aku, orang tua, dan orang di sekitarku)
untuk menghindari kekerasan dan pelecehan seksual. Dalam hal ini adalah
mengajarkan anak-anak bagaimana caranya untuk dapat menolak ajakan orang
yang tidak dikenal, menolak sentuhan dari lawan jenis di area tertentu, mencari
pertolongan orang lain saat dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Finkelhor (2009) bahwa dalam memberikan pengajaran seksual
kepada anak, pengajaran tersebut sebaiknya mencakup bagaimana
mengidentifikasi orang yang berniat jahat, menolak saat orang yang berniat jahat
mendekat atau menyentuh anak, memutuskan interaksi dan meminta bantuan
orang lain.
25
diajarkan. Lirik dalam lagu dibuat sedemikian rupa agar dapat mempengaruhi dan
menimbulkan sikap serta perasaan anak terhadap perilaku-perilaku yang mungkin
terjadi disekitar mereka (Subekti, dalam Lestari). Lagu yang diberikan kepada
siswa disajikan juga dengan penggambaran secara visual sehingga membantu
siswa dalam memberi gambaran materi yang diajarkan. Hasil observasi pada sesi
lagu menunjukkan bahwa siswa antusias dalam memperhatikan video dan
mendengarkan lagu yang disajikan. Hanya saja, keterbatasan siswa dalam
membaca menyebabkan siswa kesulitan dalam membaca lirik lagu yang bergerak
di video menyesuaikan nyayian mereka dengan video. Perlu beberapa kali
pengulangan agar lagu dapat di nyanyikan secara bersama-sama, meskipun juga
tidak terlaksana secara maksimal. Rentang perhatian anak yang pendek (Thobroni,
M & Fairuzul, 2011) juga menjadi kendala peneliti saat memasuki sesi lagu
karena subjek sudah lama duduk dan memperhatikan apa yang disajikan didepan
kelas.
Di usia ini, anak-anak secara umum menggemari film-film kartun sehinga pada
penelitian ini peneliti tertarik menggunakan video animasi sebagai sarana untuk
menjelaskan materi-materi sexual health education kepada siswa agar belajar
terasa menyenangkan. Selain gambar animasi, materi juga dijelaskan oleh bantuan
pengisi suara pada karakter Lavi dan Gaga sehingga siswa memperoleh gambaran
konkret yang dituang dalam gambar animasi dan penjelasan (materi) sekaligus.
Menurut Anderson (dalam Prastowo, 2011), penggunaan video dapat digunakan
untuk mempengaruhi sikap dan emosi penonton. Hasil observasi menunjukkan
bahwa pada saat sesi penayangan video, anak-anak tampak fokus dan serius dalam
menonton tayangan yang disajikan.
Anak-anak di usia ini sangat menyukai kegiatan bermain yang menggunakan olah
fisik. Hal ini tentu terlihat jelas melalui ekspresi subjek saat peneliti
memberitahukan kegiatan yang akan dilakukan setelah hari sebelumnya anak-
anak mendapatkan perlakuan di dalam kelas. Kegiatan di lapangan merupakan
kegiatan yang menyenangkan, anak-anak dapat melempar dadu dan melompat,
namun juga tetap mementingkan proses pembelajaran. Hal ini didukung oleh teori
yang dikemukakan oleh Fahey dkk (dalam Santrock) bahwa anak-anak pada usia
ini memiliki kondisi fisik yang belum cukup matang, sehingga mereka lebih suka
dibiarkan untuk bermain, berlari, melompat, dan melakukan aktivitas fisik lain
dibandingkan duduk diam dan menerima materi secara pasif. Pada kegiatan ini,
subjek dapat mengingat kembali materi yang telah di ajarkan pada kegiatan-
kegiatan sebelumnya.
26
pertanyaan-pertanyaan di atas papan permainan dengan baik, siswa juga terlihat
sangat antusias dalam bermain ular tangga meskipun terkadang agak sulit untuk
diatur.
Pada kelompok kontrol, tiga dari tujuh orang subjek mengalami perubahan skor
pengetahuan kesehatan seksual dari “rendah” menjadi “tinggi”, dan empat subjek
lainnya tetap pada kategori “rendah”. Tiga orang subjek tersebut mendapatkan
nilai pre-test yang mendekati kategori “tinggi”, sehingga kenaikan skor yang
terjadi menyebabkan subjek berpindah dari kategori “rendah” menjadi “tinggi”.
Kenaikan skor pada kelompok kontrol dapat disebabkan oleh proses belajar yang
didapatkan subjek dari lingkungan sekitar, bisa dari teman-teman yang
mendapatkan perlakuan, perilaku mencontek yang tidak terawasi, atau suasana
yang tidak kondusif sehingga menyebabkan materi yang disajikan untuk
kelompok eksperimen terdengar ke siswa lainnya termasuk kelompok kontrol.
Meskipun terjadi peningkatan skor pada beberapa subjek di kelompok kontrol,
secara umum kelompok kontrol tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan
berdasarkan analisa SPSS dan tidak menunjukkan adanya perbedaan kondisi
pengetahuan kesehatan seksual pada post-test.
Penelitian ini menggunakan materi pendidikan seksual milik Jatmikowati, Ria &
Ernawati (2015) dengan empat aspek yaitu aku dan tubuhku; aku dan pakaianku;
aku, keluarga, dan orang disekitarku; serta cara merawat dan menjaga tubuhku.
Berdasarkan hasil pre-test pada kedua kelompok, diketahui persentase
pemahaman subjek mengenai pengetahuan kesehatan seksual pada masing-masing
aspek adalah sebesar 53,57% pada aspek aku dan tubuhku; 87,5% pada aspek aku
dan pakaianku; 62,85% pada aspek aku, keluarga dan orang disekitarku serta
74,2% pada aspek cara merawat dan menjaga tubuhku. Hal ini menunjukkan
bahwa pengetahuan subjek mengenai sexual health education pada aspek aku dan
tubuhku; serta aku, keluarga dan orang disekitarku perlu mengalami peningkatan.
27
Setelah dilakukan post-test terhadap empat belas subjek dari kelompok
eksperimen dan kontrol, terjadi peningkatan pada beberapa aspek, yakni pada
aspek satu, persentase pemahaman subjek meningkat hingga 62,5% , aspek dua
naik menjadi 96,42%, aspek tiga naik menjadi 62,85%, dan aspek empat naik
menjadi 92,8% dan aspek , Hal ini menunjukkan kondisi yang sama dengan skor
pre-test dimana aspek aku dan tubuhku (aspek satu) serta aspek aku, keluarga dan
orang disekitarku (aspek tiga) menjadi dua aspek dengan skor paling rendah
diantara keempat aspek yang ada. Kedua aspek ini perlu mendapatkan perhatian
lebih saat memberikan sexual health education pada anak usia pertengahan
mengingat kedua aspek ini juga merupakan bagian penting untuk diketahui oleh
anak usia pertengahan sebagai salah satu tameng dalam menjaga dirinya dari
pelecehan maupun kekerasan seksual.
Penelitian mengenai sexual health education yang dilakukan oleh Kenny, Wurtele
& Alonso (2012) pada anak-anak latin di preschool dengan program “Kids
Learning Safety Programme”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
dengan diberikannya sexual health education, dapat meningkatkan pemahaman
siswa mengenai alat kelamin pria dan wanita, sentuhan yang pantas dan tidak
pantas, pembelajaran untuk menghindari bahaya, serta personal safety skills pada
kelompok eksperimen.
Metode LAVIGA sebagai sebuah metode menarik yang dirancang untuk dapat
membantu anak di usia pertengahan dalam meningkatkan pengetahuan seksual.
Penelitian mengenai pengajaran sexual health education sebagai cara menghindari
perilaku kekerasan seksual anak sebelumnya dilakukan oleh Kenny [Link]. (2008)
dengan menggunakan metode yang beragam, beberapa diantaranya adalah
modelling, role-play, video, mewarnai, lagu, permainan, buku cerita dan lain-lain
yang disesuaikan dengan usia anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
dengan menggunakan metode-metode tersebut, program ini berhasil mengajarkan
anak-anak mengenai sentuhan yang tidak boleh dilakukan, dan memberikan
pengetahuan mengenai nama-nama alat kelamin.
Berdasarkan analisis yang telah dipaparkan, kelompok eksperimen menunjukkan
kenaikan skor pengetahuan kesehatan seksual secara signifikan dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Hal ini dibuktikan oleh hasil uji beda menggunakan
Wilcoxon dengan nilai probabilitas 0,018 < 0,05 dengan pengambilan keputusan
bahwa Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa metode LAVIGA secara efektif
dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada anak usia pertengahan.
Metode ini dapat membantu meningkatkan skor pengetahuan kesehatan seksual
siswa yang rendah agar dapat menjadi tameng untuk melindungi diri dari bahaya
kekerasan dan pelecehan seksual yang marak terjadi.
Penelitian ini tentu tak luput dari kekurangan-kekurangan selama proses
pelaksanaan penelitian. Tidak adanya ruangan di lokasi pelaksanaan penelitian
menyebabkan peneliti harus melaksanakannya di ruang kelas satu, sementara
siswa yang tidak tergabung dalam kelompok eksperimen berada di luar ruangan
tanpa ada kegiatan yang pasti, sehingga siswa lain merasa penasaran dengan
kegiatan yang terjadi di dalam ruangan dan mencoba untuk mengintip melalui
28
jendela yang memungkinkan untuk menonton. Tentu saja peneliti dan fasilitator
memerlukan waktu tambahan untuk mengkondisikan kelas sebelum kegiatan
dapat dimulai dengan kondusif. Hal ini disebabkan kurangnya komunikasi antara
guru kelas dan peneliti di awal perizinan sehingga hal tersebut dapat terjadi.
Selain itu, pelaksanaan permainan dilakukan di lapangan sekolah yang
berhadapan langsung dengan ruang kelas, sehingga menarik perhatian banyak
siswa, terutama pada jam istirahat.
29
REFERENSI
Breuer, C. & Gerri M. (2017). Sexuality Education For Children and Adolescents.
Pediatrics, 138(2), 2-11. doi: 10.1542/peds.2016-1348.
Deblinger, E., Reena, R., Eloise J., & Christine M.. (2010). Caregivers Efforts to
Educate Their Children About Child Sexual Abuse. Journal Child
Maltreatment 15(1), 91-100. doi: 10.1177/1077559509337408.
30
Feldman, R. (2012). Pengantar Psikologi Edisi 10 Buku 2. Jakarta: Penerbit
Ghazi, S. & Ullah K.. (2015). Concrete Operational Stage of Piaget’s Cognitive
Development Theory: An Implication In Learning General Science.
Gomal University Journal of Research (GUJR) 31(1), 78-89. Retrivied
[Link]
%20CONCRETE%20OPERATIONAL%20STAGE%20OF%20PIAGET
S%20COGNITIVE%20DEVELOPMENT%[Link].
Hebert, M., Francine, L., Christiane, P., & Michele, P. (2001). Proximate Effects
Of A Child Sexual Abuse Prevention Program in Elementary School
Children. Journal Child Abuse and Neglect, 25(4), 505-522. doi:
10.1016/S0145-2134(01)00223-x.
Imaniya, A., Maria U., & Rum R. (2016). Penggunaan Media Video dalam
Pembelajaran Ekonomi Studi Eksperimen SMA. Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran 5(1), 1-10. Retrieved from
[Link]
Jatmikowati, T., Ria A., & Ernawati. (2015). Model dan Materi Sexual health
education Anak Usia Dini Perspektif Gender Untuk Menghindarkan
Sexual Abuse. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 3, 434-448. doi:
10.21831/cp.v3i3.7407.
Kenny, M., Vjolca C., Reena R., Thakkar-K., Erika E.R., & Melissa K.R. (2008).
Child Sexual Abuse: From Prevention to Self-Protection. Child Abuse
Review, 17, 36-54. doi: 10.1002/car.1012.
31
Kenny, Maureen C.. (2010). Child Sexual Abuse Education with Ethnically
Diverse Families: A Preliminary Analysis. Children and Youth Services
Review, 32, 981-989.
Kerryann, W., Zwi K., Woolfenden S., & Shlonsky A. (2015). School Based
Education Programmes For The Prevention of Child Sexual Abuse
(Review). The Cochrane Database of Systematic Reviews (2). doi:
10.1002/14651858.CD004380.pub3.
Maryuni, & Legina Aggraeni. (2016). Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat
Pengetahuan Orangtua tentang Pendidikan Seks Secara Dini pada Anak
Sekolah Dasar (SD). Journal NERS and Midwifery Indonesia 4(3), 135-
140. Doi: [Link]
Maslihah, Sri. (2013). Play Therapy dalam Identifikasi Kasus Kekerasan Seksual
terhadap Anak. Jurnal Penelitian Psikologi, 4(1), 21-34.
Mertia, Evidanika N., Thulus, H., & Istar, Y. (2009). Hubungan Antara
Pengetahuan kesehatan seksualitas dan Kualitas Komunikasi Orangtua
dan Anak dengan Perilaku Seks Bebas pada Remaja Siswa-Siswi MAN
Gondangrejo Karang Anyar. Jurnal Wacana, 3(6), 109-136. Retrieved
from [Link]
view/40/40
Moyles, J. (2010). The Excellence of Play- Third Edition. New York: Open
University Press.
Mutiah, D. (2010). Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
32
TK Tunas Rimba Purwokerto. E-Jurnal Prodi Teknologi Pendidikan,
6(7). 712-722.
Putri, W., & Sri Hariati. (2014). Penggunaan Media Film Kartun Untuk
Meningkatkan Keterampilan Menyimak Cerita di Sekolah Dasar. Jurnal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(2), 1-10.
Roqib, M. (2008). Sexual health education pada Anak Usia Dini. Jurnal
Pemikiran Alternatif Pendidikan, 13(2), 271-286.
Salemba Humanika.
Seniati, L., Aries Y., dan Bernadette N. (2005). Psikologi Eksperimen. Jakarta:
PT. Indeks Kelompok Gramedia.
33
Setyawan, Davit. (2017, 27 September). Tahun 2017, KPAI Temukan 116 Kasus
Kekerasan Seksual Terhadap Anak. KPAI: Komisi Perlindungan Anak
Indonesia. Retrieved from [Link]
temukan-116-kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak/.
Shaughnessy, John J., Eugene, B.Z., & Jeanne S.Z. (2012) Metodologi Penelitian
dalam Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika.
Vinyets, Nuria B.. (2013). Using Songs in Primary Education: Advantages and
Challenges. (Thesis, Universitat de Vic, Spain). Retrieved from
[Link]
_nuria_using_songs.pdf?sequence=1
Weatherley, R., A.B. Siti H., O., Noralina, Meetilda, J., Nooreen, P., & Madeleine
Y. (2012). Evaluation Of A School Based Sexual Abuse Prevention
Curriculum in Malaysia. Journal Children and Youth Services Review
32(1), 119-125. doi: 10.1016/[Link].2011.09.009
Yalom, I. & Molyn L. (2005). The Theory and Practice of Group Psychotheraphy
5th Edition. New York: Basic Books.
34
LAMPIRAN
35
LAMPIRAN 1
Untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai seksualitas, peneliti akan menggunakan alat ukur berupa tes. Menurut
Arikunto (2006), tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dasar teori yang digunakan untuk mengetaui pengetahuan
seksual pada anak Sekolah Dasar didasarkan pada materi dan model pendidikan seksual anak yang dibuat oleh Jatmikowati (2015). Alat
ukur yang digunakan merupakan tes yang berisi 19 pertanyaan pilihan ganda dan 1 pertanyaan isian bergambar yang mudah untuk
dipahami oleh anak usia 7 sampai 8 tahun (terlampir).
1 Aku dan Tubuhku Anak mengetahui 5 1. Gambar dibawah ini yang tidak boleh di sentuh oleh lawan
bagian tubuh mana jenis adalah... (soal no. 1)
yang boleh disentuh 2. Pada saat bermain dengan teman-teman, saya tidak boleh
oleh orang lain menyentuh….. teman lawan jenis. (soal no. 5)
Anak mengetahui 3. Berilah empat tanda X pada bagian tubuh yang tidak boleh
bagian tubuh yang di sentuh oleh orang lain! (soal no.10)
tidak boleh disentuh 4. Bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh diriku, orang
oleh orang lain tua, dan dokter adalah.... (soal no. 13)
5. Bagian tubuhku yang boleh di sentuh oleh orang lain
36
adalah.. (soal no. 17)
2 Aku dan Pakaianku Anak mengetahui 5 1. Gambar dibawah ini yang merupakan pakaian untuk anak
bahwa pakaian laki-laki perempuan adalah... (soal no. 2)
dan perempuan berbeda 2. Saya menggunakan baju supaya.. (soal no. 6)
Anak memahami 3. Gambar anak yang menggunakan pakaian yang rapi dan
fungsi pakaian sopan saat pergi ke sekolah adalah... (soal no. 11)
Anak mengetahui jenis 4. Saat pergi bermain diluar rumah, pakaian yang harus saya
pakaian yang kenakan adalah.... (soal no. 16)
digunakan dalam 5. Saat anak perempuan akan pergi mengaji, pakaian yang
berbagai aktivitas seharusnya digunakan oleh adalah... (soal no. 20)
3 Aku, Keluarga, dan Anak mengetahui 5 1. Apabila seseorang yang tidak dikenal mengajak saya pergi
Orang di Sekitarku bagaimana berinteraksi ketempat sepi, yang harus saya lakukan adalah.....(soal
dengan lawan jenis no.3)
Anak menjaga diri dari 2. Saat sedang bermain bersama teman-teman di lapangan
orang yang tidak bola, saya diperlihatkan gambar telanjang oleh seseorang,
dikenal sikap saya adalah...(soal no. 7)
Anak menjaga diri dari 3. Paman Rani sedang bertamu dan mengatakan ingin
perilaku siapa saja yang memandikan Rani, sikap Rani seharusnya.... (soal no. 12)
membuatnya tidak 4. Bibi meminta saya (laki-laki) untuk berfoto bersamanya
nyaman tanpa mengenakan celana dalam, sikap saya.. (soal no. 15)
5. Saat saya takut pergi ke kamar mandi sekolah, saya boleh
meminta orang-orang dibawah ini untuk menemani,
37
kecuali... (soal no. 18)
4 Cara Merawat dan Anak mengetahui cara 5 1. Yang saya lakukan untuk merawat agar gigi saya putih dan
Menjaga Tubuh merawat anggota bersih adalah...(Soal no. 4)
tubuhnya serta menjaga 2. Sebelum berangkat sekolah dan sore hari saya harus.....
dengan baik dan benar, agar bersih dan wangi (Soal no. 8)
serta terhindar dari 3. Saat ada yang menyentuh alat kelamin saya, yang saya
mara bahaya lakukan adalah........(Soal no. 9)
4. Setelah selesai mandi, saya....... (Soal no.14)
5. Agar tidak gatal-gatal, setelah buang air saya harus... (Soal
no. 19)
JUMLAH SOAL 20
38
4) Yang saya lakukan untuk merawat agar gigi saya putih dan bersih
adalah...
a. Rajin menggosok b. Makan permen c. Mandi
gigi yang banyak
40
9) Saat ada yang menyentuh alat kelamin saya, yang saya lakukan
adalah........
a. Berteriak, berlari, dan bilang pada orang tua
b. Menangis
c. Diam saja
10) Berilah empat tanda X pada bagian tubuh yang tidak boleh di
sentuh oleh orang lain! (apabila kamu laki-laki, beri tanda silang
pada tubuh anak laki-laki, apabila kamu perempuan, beri tanda
silang pada tubuh anak perempuan)
Depan Belakang
Depan Belakang
41
11) Gambar anak yang menggunakan pakaian yang rapi dan sopan saat
pergi ke sekolah adalah...
a. b. c.
14) Bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh diriku, orang tua,
dan dokter adalah....
a. Telinga
b. Kemaluan
c. Tangan
42
16) Saat pergi bermain diluar rumah, pakaian yang harus saya
kenakan adalah....
a. Menggunakan b. Menggunakan c. Menggunakan
seragam sekolah baju bermain kaos singlet dan
celana dalam
17) Bagian tubuhku yang boleh di sentuh oleh orang lain adalah..
a. tangan b. dada c. bokong
18) Saat saya takut pergi ke kamar mandi sekolah, saya boleh
meminta orang-orang dibawah ini untuk menemani, kecuali...
a. Sahabat dekat b. Ibu guru c. Pedagang di sekolah
saya (sama jenis
kelamin)
43
20) Saat anak perempuan akan pergi mengaji, pakaian yang
seharusnya digunakan oleh adalah...
a. b.
c.
44
4) Yang saya lakukan untuk merawat agar gigi saya putih dan bersih
adalah...
a. Rajin b. Makan permen c. Mandi
menggosok gigi yang banyak
8) Saat ada yang menyentuh alat kelamin saya, yang saya lakukan
adalah........
a. Berteriak, berlari, dan bilang pada orang tua
b. Menangis
c. Diam saja
46
9) Berilah empat tanda X pada bagian tubuh yang tidak boleh di
sentuh oleh orang lain! (apabila kamu laki-laki, beri tanda silang
pada tubuh anak laki-laki, apabila kamu perempuan, beri tanda
silang pada tubuh anak perempuan)
Depan Belakang
D
depan Belakang
47
10) Gambar anak yang menggunakan pakaian yang rapi dan sopan saat
pergi ke sekolah adalah...
a. b. c.
48
14) Saat pergi bermain diluar rumah, pakaian yang harus saya
kenakan adalah....
a. Menggunakan b. Menggunakan c. Menggunakan
seragam baju bermain kaos singlet
sekolah dan celana
dalam
15) Bagian tubuhku yang boleh di sentuh oleh orang lain adalah..
a. tangan b. dada c. bokong
16) Saat saya takut pergi ke kamar mandi sekolah, saya boleh
meminta orang-orang dibawah ini untuk menemani, kecuali...
[Link] dekat [Link] guru [Link] di sekolah
saya (sama jenis
kelamin)
49
18) Saat anak perempuan akan pergi mengaji, pakaian yang
seharusnya digunakan oleh adalah...
a. b. c.
50
LAMPIRAN 4
Tryout 1
51
Tryout 2
52
LAMPIRAN 5
DATA PRE-TEST
NOMOR ITEM
Nama Siswa TSCORE KATEGORI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 T
BSS 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 90 Rendah
FAF 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 9 140 Rendah
IY 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 9 140 Rendah
MRA 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 12 170 Rendah
IS 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 13 180 Rendah
MARS 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 13 180 Rendah
JO 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 13 180 Rendah
DA 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 13 180 Rendah
KR 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 14 190 Rendah
DDA 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 14 190 Rendah
RZ 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 14 190 Rendah
VT 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 14 190 Rendah
SAV 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 14 190 Rendah
OZZ 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 14 190 Rendah
BD 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 15 200 Tinggi
RWN 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 15 200 Tinggi
YAP 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 15 200 Tinggi
ZK 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 15 200 Tinggi
DRA 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 15 200 Tinggi
BSM 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 15 200 Tinggi
53
RAG 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 16 210 Tinggi
DN 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 16 210 Tinggi
AA 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 16 210 Tinggi
VL 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 16 210 Tinggi
HSE 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 16 210 Tinggi
AA 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 16 210 Tinggi
JANP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 17 220 Tinggi
ICH 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 220 Tinggi
TAP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 17 220 Tinggi
RPC 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 220 Tinggi
BY 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 220 Tinggi
YMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 17 220 Tinggi
AKP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 230 Tinggi
CKA 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 230 Tinggi
SCDG 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 230 Tinggi
JUMLAH BENAR
PER ITEM 28 34 30 35 33 28 33 27 9 33 31 31 23 34 31 12 28 32
54
DATA POSTTEST
55
LAMPIRAN 6
KELOMPOK SCORE
NO.
EKSPERIMEN PRE POST Selisih
1 BSS 4 10 6
2 IY 9 14 5
3 IS 13 17 4
4 JO 13 14 1
5 KR 14 16 2
6 RZ 14 17 3
7 SAV 14 17 3
SKOR RATA-RATA 11,571 15 3,4285714
NILAI PERUBAHAN SKOR 3,428571429
KELOMPOK SCORE
No.
KONTROL PRE POST Selisih
1 FAF 8 9 1
2 MRA 12 16 4
3 MARS 13 15 2
4 DA 13 14 1
5 DDA 14 11 -3
6 VT 14 16 2
7 OZZ 13 13 0
SKOR RATA-RATA 12,42857 13,42857 1
NILAI PERUBAHAN
SKOR 1
56
LAMPIRAN 7
Perubahan Kondisi Pengetahuan Seksual
PRE-TEST POST-TEST
No. Nama Kelompok
Jumlah TSCORE KET Jumlah TSCORE KET
1 BSS EKSPERIMEN 4 90 KURANG 10 150 KURANG
2 IY EKSPERIMEN 9 140 KURANG 14 190 KURANG
3 IS EKSPERIMEN 13 180 KURANG 17 220 BAIK
4 JO EKSPERIMEN 13 180 KURANG 14 190 KURANG
5 KR EKSPERIMEN 14 190 KURANG 16 210 BAIK
6 RZ EKSPERIMEN 14 190 KURANG 17 220 BAIK
7 S A V EKSPERIMEN 14 190 KURANG 17 220 BAIK
8 FAF KONTROL 8 140 KURANG 9 140 KURANG
9 MRA KONTROL 12 170 KURANG 16 210 BAIK
10 MARS KONTROL 13 180 KURANG 15 200 BAIK
11 DA KONTROL 13 180 KURANG 14 190 KURANG
12 DDA KONTROL 14 190 KURANG 11 160 KURANG
13 VT KONTROL 14 190 KURANG 16 210 BAIK
14 OZZ KONTROL 13 180 KURANG 13 180 KURANG
57
LAMPIRAN 8
Uji yang digunakan untuk mengetahui normalitas data pada data hasil eksperimen
dan kontrol adalah dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Uji Shapiro-Wilk
biasanya digunakan untuk menguji normalitas pada data yang berjumlah kecil.
Dengan syarat:
Apabila Asymp sig. > 0.05 maka, data distribusi data dinyatakan
memenuhi asumsi normalitas
Apabila Asymp sig. < 0.05 maka, distribusi data dinyatakan tidak
memenuhi asumsi normalitas
58
Syarat:
Apabila nilai signifikansi > 0.05, maka dapat diketahui bahwa subjek
penelitian memiliki kemampuan yang setara (homogen)
Apabila nilai signifikansi < 0.05, maka dapat diketahui bahwa subjek
penelitian memiliki kemampuan yang tidak setara (tidak homogen)
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa pada saat pretest dan posttest,
subjek penelitian memiliki kemampuan yang setara. Hal ini dapat dilihat dari nilai
signifikansi data pretest 0,144 > 0,05 dan data posttest 0,915 > 0,05.
Uji mann whitney dilakukan untuk mengetahui apakah subjek berada dalam
kondisi yang identik pada saat pelaksanaan pretest dan posttest dalam penelitian
yang dilakukan (sampel tidak berhubungan).
Hipotesis:
Ho: Kedua kelompok sampel memiliki tingkat sexual health education
yang identik sama (tidak berbeda secara signifikan)
H1: Kedua kelompok sampel memiliki tingkat sexual health education
yang tidak identik sama (berbeda secara signifikan)
Pengambilan keputusan:
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak
59
kedua kelompok sampel memiliki tingkat sexual health education yang
identik sama (tidak berbeda secara signifikan).
Pada kelompok eksperimen, diketahui bahwa nilai probabilitas 0,018 < 0,05,
dengan begitu H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode Laviga
efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual pada anak usia
pertengahan.
Pada kelompok kontrol, subjek tidak diberikan perlakuan sehingga mendapat nilai
probabilitas sebesar 0,246 > 0,05 yang menyatakan bahwa subjek pada kelompok
kontrol tidak meningkatkan pengetahuan kesehatan seksual secara efektif pada
anak usia pertengahan.
60
STEP 5 UJI BEDA SELISIH
Uji beda selisih dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan selisih
skor yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Hipotesis:
Ho: Kedua kelompok sampel memiliki selisih skor pretest dan posttest
yang identik sama (tidak berbeda secara signifikan)
H1: Kedua kelompok sampel memiliki selisih skor pretest dan post test
yang tidak identik sama (berbeda secara signifikan)
Pengambilan keputusan:
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak
Berdasarkan hasil analisa diatas, diketahui bahwa nilai probabilitas adalah sebesar
0,39 < 0,05 maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa Kedua kelompok sampel
memiliki selisih skor pretest dan post test yang tidak identik sama (berbeda secara
signifikan).
61
LAMPIRAN 9
RANCANGAN PELAKSANAAN
62
MODUL PENELITIAN EKSPERIMEN
“SEXUAL HEALTH EDUCATION DENGAN METODE LAVIGA GUNA
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN SEKSUAL PADA
ANAK USIA PERTENGAHAN”
Dyanadhila Syadzwina
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
dyanadhilas@[Link]
PENGANTAR
Modul penelitian eksperimen ini merupakan modul yang dirancang untuk dapat
meningkatkan pengetahuan pendidikan seks pada usia anak-anak pertengahan
dengan usia tujuh sampai dengan delapan tahun menggunakan cara-cara yang
menarik dan tidak membosankan. Modul ini dapat dipelajari oleh berbagai
kalangan untuk memberikan materi pendidikan seks pada anak-anak.
Materi yang digunakan dalam pembuatan modul ini adalah materi milik
Jatmikowati, Ria dan Ernawati (2015) mengenai pendidikan seksual anak dalam
perspektif gender untuk menghindarkan sexual abuse pada anak. Modul ini telah
mengalami perbaikan setelah sebelumnya perlakuan yang diberikan kepada anak-
anak usia pertengahan atau siswa dikelas satu diberikan perlakuan dengan
menggunakan metode LAVIGA selama 3,5 jam penuh, yang mengakibatkan
siswa merasa bosan dalam mengikuti kegiatan yang telah dirancang.
Diharapkan dengan adanya metode ini, dapat membantu anak-anak dalam
menghindarkan diri dari tindak kekerasan seksual anak yang sedang marak terjadi
di Indoneisa.
RANCANGAN
Berikut adalah rencana pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti:
No. Waktu Kegiatan Rencana Pelaksanaan
1 Kamis, Rapport Peneliti membangun rapport dengan anggota
05/04/18 populasi untuk membangun kepercayaan dan
kedekatan pada siswa kelas satu. Proses
membangun rapport dapat dilakukan dengan
memberikan permainan-permainan sederhana
untuk dapat bermain bersama.
2 Kamis, Pre-test Peneliti memberikan alat ukur berupa soal-soal
05/04/18 bergambar kepada siswa sebagai salah satu cara
screening dalam pengambilan sampel sebelum
proses pemberian perlakuan.
3 Jumat, Pengelompokan Peneliti menggunakan randomisasi dalam
06/04/18 Sampel memasukkan siswa dengan kategori pre-test
rendah dan sedang ke kelompok eksperimen dan
kontrol
63
4 Sabtu, Pelaksanaan I 1. Perkenalan
07/04/18 Pemberian Materi 2. Ice Breaking
Video Animasi 3. Pemutaran Video Animasi
(Kelompok 4. Review
Eksperimen)
Pelaksanaan II 1. Istirahat
Bernyanyi Lagu 2. Menyanyikan lagu bersama-sama
(Kelompok 3. Review
Eksperimen)
5 Senin, Pelaksanaan III 1. Ice Breaking
09/04/18 Permainan 2. Pemanasan
Ulartangga 3. Pembacaan Aturan main
(Kelompok 4. Bermain Ulartangga
Eksperimen) 5. Review
7 Senin, Post-test Peneliti memberikan alat ukur berupa soal-soal
09/04/18 (Kelompok Kontrol bergambar kepada siswa sebagai salah satu cara
dan Kelompok untuk mengetahui perubahan pada kelompok
Eksperimen) eksperimen dan kelompok kontrol.
64
Nama Kegiatan
ICE BREAKING
Tujuan Kegiatan Waktu
Untuk menarik perhatian dan 5 menit
membangkitkan rasa semangat
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
1. LCD
2. Layar
3. Laptop
4. Speaker
Prosedur Kegiatan
1. Peserta akan diajak untuk menonton video baby shark
2. Peserta mengikuti gaya dan gerak yang di contohkan dalam video
Feedback
Peserta dapat lebih bersemangat dalam mengikuti materi
Nama Kegiatan
PEMUTARAN VIDEO
Tujuan Kegiatan Waktu
Memberikan materi mengenai sentuhan 30 menit
yang boleh dan tidak boleh, serta video
kejadian yang mungkin terjadi pada
saat bermain dan apa yang harus
dilakukan
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
1. LCD
2. Layar
3. Laptop
4. Speaker
Prosedur Kegiatan
1. Peserta akan di pertontonkan dua buah video mengenai materi sentuhan
yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, serta kejadian yang mungkin
terjadi pada saat sedang bermain
2. Peserta mendapatkan lebih lanjut mengapa hal-hal yang ada di video ini
harus dilakukan
65
3. Sesi tanya jawab
Feedback
Peserta mendapatkan pengetahuan baru mengenai pendidikan seksual untuk
menjaga tubuhnya dari bahaya kekerasan seksual
Nama Kegiatan
REVIEW
Tujuan Kegiatan Waktu
Mengulang kembali materi yang telah 15 menit
diberikan agar anak lebih mudah
mengingat dan memahami
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
-
Prosedur Kegiatan
1. Peneliti melontarkan beberapa pertanyaan mengenai materi yang dapat
dijawab oleh perseorangan atau dijawab secara bersama-sama
Feedback
Peserta memahami dan dapat memutuskan apa yang harus mereka lakukan pada
situasi-situasi buruk yang mungkin terjadi
Nama Kegiatan
ISTIRAHAT
Tujuan Kegiatan Waktu
Memberikan waktu luang kepada siswa 15 menit
untuk bisa makan dan minum
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok eksperimen
Peralatan yang Dibutuhkan
-
Prosedur Kegiatan
1. Fasilitator membagikan makanan kepada siswa untuk dikonsumsi
Feedback
Peserta tidak merasa lelah dan lapar, dapat kembali berkonsentrasi pada materi
yang diberikan
66
Nama Kegiatan
ICE BREAKING
Tujuan Kegiatan Waktu
Untuk menarik perhatian dan 5 menit
membangkitkan rasa semangat
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
1. LCD
2. Layar
3. Laptop
4. Speaker
Prosedur Kegiatan
1. Peserta akan diajak untuk menonton video “If You Happy And You Know”
2. Peserta mengikuti gaya dan gerak yang di contohkan dalam video
Feedback
Peserta dapat lebih bersemangat dalam mengikuti materi
Nama Kegiatan
PEMUTARAN LAGU
Tujuan Kegiatan Waktu
Pemberian materi pendidikan seksual 20 menit
agar lebih mudah diingat
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
1. LCD
2. Laptop
3. Speaker
Prosedur Kegiatan
1. Peserta akan diminta untuk mendengarkan video dan memperagakan gaya
pada saat bernyanyi
2. Bernyanyi bersama sambil memperagakan gaya yang telah diajarkan
Feedback
Mempermudah siswa dalam menghafalkan bagian-bagian tubuh yang boleh
disentuh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain
67
Nama Kegiatan
REVIEW
Tujuan Kegiatan Waktu
Mengulang kembali materi yang telah Pada waktu yang telah disepakati
diberikan agar anak lebih mudah bersama pihak sekolah
mengingat dan memahami 15 menit
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
-
Prosedur Kegiatan
1. Peneliti melontarkan beberapa pertanyaan mengenai materi yang dapat
dijawab oleh perseorangan atau dijawab secara bersama-sama
Feedback
Siswa kelas satu memahami dan dapat memutuskan apa yang harus mereka
lakukan pada situasi-situasi buruk yang mungkin terjadi
PELAKSANAAN II
Nama Kegiatan
ICE BREAKING
Tujuan Kegiatan Waktu
Membangkitkan semangat untuk 10 menit
memulai kegiatan
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
Tidak ada
Prosedur Kegiatan
1. Peserta akan diminta untuk mendengarkan instruksi yang diberikan
mengenai permainan
2. Permainan yang digunakan adalah “Angka dan Kami” dimana siswa akan
diberikan 2 clue, apabila MC mengatakan sebuah angka, maka siswa harus
membentuk kelompok dengan jumlah orang yang sama dengan angka
yang telah disebutkan
Feedback
Peserta kembali bersemangat dan tidak mengantuk untuk mengikuti sesi
selanjutnya
68
Nama Kegiatan
PERMAINAN ULAR TANGGA
Tujuan Kegiatan Waktu
Memanggil kembali ingatan mereka 30 menit
mengenai materi yang telah diajarkan
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
1. Banner papan permainan
2. Kotak dadu
3. HP/laptop
4. Speaker
Prosedur Kegiatan
1. Instruksi mengenai permainan
Peserta secara berurutan akan melempar sebuah dadu besar, kemudian
berjalan beberapa langkah sesuai yang tertera pada papan permainan. Pada
beberapa kotak terdapat pertanyaan-pertanyaan mengenai materi
pendidikan seksual yang telah diajarkan sebelumnya.
2. Uji coba permainan
3. Mulai bermain bersama dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
tertulis pada papan permainan
Feedback
Siswa kelas satu lebih memahami dan mengingat materi yang telah diberikan
Nama Kegiatan
REVIEW
Tujuan Kegiatan Waktu
Mengulang kembali materi yang telah 15 menit
diberikan agar anak lebih mudah
mengingat dan memahami
Peserta
Peserta adalah tujuh orang siswa kelas satu SDN SUMBERSEKAR 01 yang telah
melewati proses pre-test dan masuk kedalam kelompok kontrol
Peralatan yang Dibutuhkan
-
Prosedur Kegiatan
1. Peneliti melontarkan beberapa pertanyaan mengenai materi yang dapat
dijawab oleh perseorangan atau dijawab secara bersama-sama
Feedback
69
Siswa kelas satu memahami dan dapat memutuskan apa yang harus mereka
lakukan pada situasi-situasi buruk yang mungkin terjadi
Nama Kegiatan
PENUTUP
Tujuan Kegiatan Waktu
Untuk mengakhiri aktifitas yang sudah 15 Menit
berlangsung
Peserta
Seluruh siswa kelas 1 SDN Sumbersekar 01
Peralatan yang Dibutuhkan
1) Hadiah Pemenang
2) Snack (souvenir)
Prosedur Kegiatan
1) Peneliti mengucapkan terimakasih atas partisipasi seluruh siswa kelas 1
2) Pengumuman pemenang permainan ulartangga
3) Pembagian snack
4) Foto bersama pemenang
5) Salam
Feedback
-
70
DRAFT VIDEO EDUKASI
SEXUAL HEALTH EDUCATION DENGAN METODE LAVIGA GUNA
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN SEKSUAL PADA
ANAK USIA PERTENGAHAN
Dyanadhila Syadzwina
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
dyanadhilas@[Link]
PENDAHULUAN
71
KONSEP VIDEO EDUKASI
72
PENJABARAN KONSEP
73
4 Aku, Menggambarkan situasi tertentu dimana anak tidak 15-25 detik Memberikan gambaran-gambaran kepada
keluarga, boleh ikut dengan orang asing, ataupun menerima anak situasi-situasi yang dapat mengarah
dan orang tawaran dari orang yang tidak dikenal tanpa kepada sesuatu membahayakan.
yang berada pengawasan orang tua. Contohnya anak diberikan
di sekitarkugambaran saat ada seseorang yang tidak dikenal
memberikan permen dengan syarat anak harus ikut
orang tersebut untuk pergi menjauh.
5 Cara Memberikan gambaran mengenai hal-hal apa yang 37-40 detik Memberikan pengetahuan kepada anak
merawat perlu dihindari saat berhadapan atau berinteraksi mengenai situasi-situasi mendetail yang perlu
dan menjaga dengan orang lain (seperti dipertontonkan video porno, untuk dihindari oleh anak, serta cara
tubuh disuruh berfoto tanpa mengenakan busana, diajak menghindari perilaku tersebut.
bermain di kamar berduaan dengan lawan jenis,
seseorang dari lawan jenis menawarkan untuk
memandikan anak dll), serta memberikan gambaran hal
apa yang harus dilakukan apabila anak merasa terancam
saat bersama seseorang yang dikenal dan tidak dikenal
(mengatakan tidak pada ajakannya, berteriak, berlari,
dan lapor kepada orang yang lebih tua seperti orangtua,
guru, satpam).
6 Penutup Karakter Lavi dan Gaga muncul dengan menggunakan 10 detik Memberikan pesan-pesan yang perlu diingat
seragam sekolah, kemudian memberikan pesan-pesan oleh anak-anak saat menonton video.
“kita harus bisa menjaga diri kita dari orang-orang yang
beniat buruk, mari kita jaga tubuh kita, tubuhku,
milikku, kan kujaga selalu!”.
74
SCRIPT DUBBING VIDEO ANIMASI
”SEXUAL HEALTH EDUCATION DENGAN METODE LAVIGA GUNA
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN SEKSUAL PADA
ANAK USIA PERTENGAHAN”
Dyanadhila Syadzwina
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
dyanadhilas@[Link]
[OPENING]
Setting video animasi di taman bermain, backsound ceria, dua kepala anak-anak
muncul seorang anak laki-laki (rambut hitam pendek dan rapi, bola mata hitam)
dan perempuan (rambut hitam diikat dua dengan pita pink, bola mata hitam).
Lavi & Gaga :Hallo teman-teman semuanya!
Lavi :Perkenalkan namaku Lavi
Gaga : dan aku Gaga! Ayo kita bergembira bersama-sama! Ikuti kata-
kata kita ya! Tubuhku, Milikku, Kuja..ga Selalu!
[Zoom Out]
Lavi dan Gaga bersama-sama duduk di bangku taman, Lavi (perempuan)
menggunakan baju terusan (overall) selutut berwarna pink dengan gambar kelinci
di bagian badan (kaus di bagian dalam terusan berwarna putih dengan lengan
panjang) serta menggunakan sepatu sendal berwarna putih. Gaga (Cowok)
menggunakan baju polo berwarna biru muda dengan celana selutut berwarna
hitam dan sepatu sendal berwarna hitam.
Lavi : (muncul bulatan-bulatan gambar yang menggambarkan apa
yang dikatakan oleh Gaga, diikuti bunyi “ding” di setiap
kemunculan gambar) Teman-teman, setiap hari aku sikat gigi
dan mandi dua kali sehari, lho. Seminggu sekali, ibu juga
membantu aku untuk membersihkan kotoran yang ada
ditelinga. Oh iya, setelah buang air, jangan lupa teman-teman
untuk selalu cebok sendiri atau minta bantuan ibu ya! Setelah
itu jangan lupa untuk cuci tangan pakai sabun!
Gaga : Kita harus menjaga tubuh supaya tetap bersih seperti Lavi!
teman-teman juga harus menjaga tubuh teman-teman dari
orang-orang yang berniat jahat! (jeda 1 detik) yuk lihat gambar
di samping.
(Masuk gambar dua orang anak yang hanya mengenakan pakaian dalam)
Lavi : Teman-teman harus menjaga tubuh teman-teman dibagian
(penekanan, agak diperlambat) mulut, dada, kemaluan, dan
pantat (beri bulatan-bulatan pada bagian tubuh yang sedang
disebutkan). Bagian tubuh ini hanya boleh disentuh oleh
teman-teman, ibu, ayah, dan dokter saat kamu sakit dengan
pengawasan orang tua.
Gaga : Teman-teman, jangan pernah mau apabila ada orang yang
tidak dikenal mengajak teman-teman pergi ketempat sepi
dengan memberikan coklat atau permen, (jeda), ada yang
75
mengajak teman-teman masuk kedalam kamar berduaan
dengan lawan jenis, (jeda) ada orang yang meminta teman-
teman untuk menonton video telanjang, (jeda) melihat foto
telanjang, atau memaksa teman-teman untuk difoto tanpa
menggunakan pakaian (jeda), memaksa agar teman-teman mau
dimandikan olehnya, teman-teman harus bilang TIDAK MAU!
(penekanan). (tampilkan masing-masing poin kemudian beri
tanda silang setelah poin-poin tsb selesai disebutkan)
Lavi : Apabila teman-teman dipaksa, maka teman-teman harus (1)
berani berteriak dan bilang tidak, (2) berlari ke tempat yang
ramai, (3) bilang pada orang tua, guru, atau pak satpam. Kita
harus berani menjaga diri kita dari orang jahat! Kita anak
pemberani! Ayo kita berjanji untuk selalu menjaga tubuh kita
agar selalu terawat dan jauh dari bahaya!
[Penutup]
(Setting Lavi dan Gaga di sekolah, menggunakan seragam merah putih,
membawa tas.)
Lavi : Segitu dulu ya cerita Lavi dan Gaga Hari ini! Kita Anak
Pemberani, Jaga terus tubuh kita agar terhindar dari orang
jahat! Tubuhku, Milikku, Kujaga selalu!!
Gaga : Daaah~ Sampai jumpa lagiii!! (karakter lambaikan tangan)
76
DRAFT LIRIK LAGU EDUKASI
“EFEKTIVITAS METODE LAVIGA DALAM UPAYA MENINGKATKAN
SEXUAL HEALTH EDUCATION PADA USIA SISWA PERTENGAHAN”
Dyanadhila Syadzwina
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
dyanadhilas@[Link]
PENDAHULUAN
Menyanyikan lagu merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bukan hanya
bagi orang dewasa, siswa-siswa juga sangat menyukai kegiatan bernyanyi. Lagu
menurut Sari (2015) adalah suatu komposisi musikal yang terdiri atas bait-bait
dan ditujukan untuk dinyanyikan serta memiliki aturan-aturan khusus yaitu bait-
bait dan pengulangan. Sehingga, ernyanyi juga digunakan untuk dapat
memberikan pesan-pesan dan juga mengajarkan sesuatu untuk di sisipkan pada
lirik yang dinyanyikan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2011)
bahwa penggunaan metode bernyanyi berhasil dilakukan dalam memberikan
pendidikan karakter kepada siswa dengan cara yang menggembirakan, dan mudah
di jiwai oleh siswa. Menurut Davies (dalam Vinyets), musik juga dapat membantu
manusia dalam mengkoneksikan emosi, berfikir, dan belajar. Cara ini kemudian
akan digunakan oleh peneliti dalam memberikan pembelajaran pengenai sexual
health education pada siswa usia pertengahan dengan fokus siswa kelas satu, agar
dapat memahami dengan baik dan membantu siswa dalam melindungi dirinya dari
situasi-situasi yang mengarah pada kekerasan seksual siswa.
KONSEP PENYAJIAN
Adapun konsep yang dirancang peneliti pada saat pelaksanaan penelitian
kelompok eksperimen adalah sebagai berikut:
77
LIRIK LAGU
“Kujaga Tubuhku”
Dyanadhila Syadzwina
REFERENSI
78
PAPAN PERMAINAN ULAR TANGGA
Cara Bermain:
1) Fasilitator membacakan aturan bermain
a) Bermain secara tertib
b) Peserta melempar dadu ke tengah papan permainan
c) Peserta maju sesuai dengan angka yang tertera di atas dadu
d) Peserta harus menjawab setiap pertanyaan yang tertulis didalam
kontak
e) Apabila peserta menjawab benar, maka skornya 100, apabila salah
skornya 0
f) Apabila peserta tidak dapat menjawab soal yang disana terdapat
gambar ular, peserta harus turun hingga ekor ular
g) Pemenang adalah peserta yang sampai garis finish terlebih dahulu
2) Peserta diminta untuk “hompimpa” untuk menentukan siapa yang maju
terlebih dahulu
3) Peserta bermain bersama-sama
79
LAMPIRAN 10
DATA PENDUKUNG
1) OBSERVASI
OBSERVASI
Kegiatan JO IS IY RZ KR BSS SAV
I&II - Tertawa saat - Aktif - Aktif - diam dan - Tertawa saat - bercanda -mengatakan
Sabtu, 07 gambar menjawab menjawab memperhatikan muncul gambar sambil bokong boleh
April 2018 animasi tubuh pertanyaan pertanyaan - aktif dalam sedang buat air mengatakan disentuh
muncul - Tertawa saat - Tertawa saat menjawab - Mengatakan pantat boleh - tertawa saat
- Fokus mudah muncul gambar muncul gambar pertanyaan boleh foto hanya disentuh dan ada gambar
terpecah buang air buang air menggunakan boleh berfoto buang air
- Selalu celana dalam menggunakan - sesekali
memasukkan - Aktif celana dalam mencari
pulpen menjawab - bersedia perhatian
kedalam mulut pertanyaan menjawab - kurang aktif
- Banyak - Sering pertanyaan menjawab
menggaruk mengobrol - sering ngobrol pertanyaan
saat ice dengan subjek dengan subjek
breaking BSS KR
- Menganggu
teman
- Memperagakan
aksi tinju
ditengah-
tengah materi
80
- Tidak bisa
duduk tenang
Kegiatan III JO IS IY RZ KR BSS SAV
Senin, 09 - Tidak - Memperhatika - Bingung, - Bermain - Sering - Membaca - Suka
Aprl 2018 memperhatikan n dan terlihat namun dapat dengan tenang menganggu dengan menggoda KR
saat kegiatan memahami menjawab - Dapat temannya mengeja - Sering
ice breaking instruksi dengan benar menjawab - Suka melamun - Mudah diatur melakukan
- Sering - Antusias saat - Sering dengan baik dan diajak kesalahan
memainkan bermain menggaruk pertanyaan bekerjasama yang disengaja
tangan - Pendiam kelamin yang diajukan - Tidak mau - Terkadang
- Sangat aktif - Sportif - Tidak bisa - Tertib saat kalah berbuat curang
- Sportif diam, selalu bermain - Aktif dalam - Sering
- Lancar dalam bergerak - Sering bermain berpindah-
membaca dan - Sering menggigit dasi - Beberapa kali pindah tempat
menjawab memainkan - Sportif menganggu sata bermain
pertanyaan tangannya temannya
- Mau bertanya
saat tidak
memahami
instruksi
- Aktif saat
bermain
81
1) SKOR PERMAINAN
1 2 3 4 5 6 7
RZ IY KR IS JO SAV BSS
(2) (6) (4) (6) (4) (5)
(1)
100 100 100 100 100
(8) (8) (5) (5) (11)
(9) (9)
100 100 100 100 100
(6) (11) (8) (10) (8)
(9) (12)
100 100 100 100 100
(16) (14) (11) (27)
(12) (19) (12)
100 100 100 100
(18) (21) (17) (16) (16) (33)
(19)
100 100 100 100 100 100
(20) (24) (21) (17) (21) (39)
(19)
100 100 100 100 100 100
(37) (25) (24) (24) (35)
(28) (19)
100 100 100 100
(45) (20) (25)
(29) (32) (29) (38)
100 100 100
(33) (48) (21) (45) (39)
(34) (29)
100 100 100 100 100
(37) (22) (45)
(36) (35)
100 100 100
(26) (47)
(40) (38) (40)
100 100
(45) (45)
(42) (32)
100 100
(33)
(29)
100
(35) (30)
(39) (44)
100 100
(30) (46)
100 100
(33)
URUTAN PEMENANG
3 7 1 6 2 4 5
82
LAMPIRAN 11
DOKUMENTASI
83
84
85
LAMPIRAN 12
SURAT PENELITIAN
86
LAMPIRAN 13.
87
88