Rumus Sampling Tanpa Pengembalian
Rumus Sampling Tanpa Pengembalian
SAMPLING
6.1 DISTRIBUSI SAMPLING
Distribusi Sampling Nilai Rerata
Misalkan dimiliki populasi dengan N = 3;
X1 = 3 X2 = 6 X3 = 8
µ x = µ = 5.67 σ x2 = σ 2 = 4.22
Misalkan pula dilakukan pengambilan sampel secara acak dengan n =
2. Kemungkinan sampel yang diperoleh adalah:
• Sampling dengan pengembalian (jumlah kemungkinan sampel = N n =
32 = 9):
( x1; x1 ) ( x1; x2 ) ( x1; x3 )
( x2 ; x1 ) ( x2 ; x2 ) ( x2 ; x3 )
( x3 ; x1 ) ( x3 ; x2 ) ( x3 ; x3 )
Rerata-nya masing-masing adalah:
x(1a ) = 3 x( 2 a ) = 4.5 x( 3a ) = 5.5
x( 4 a ) = 4.5 x( 5 a ) = 6 x( 6 a ) = 7
x( 7 a ) = 5.5 x( 8 a ) = 7 x( 9 a ) = 8
152
Kumpulan rerata semua kemungkinan sampel demikian pada
sampling dengan pengembalian:
{x( 1a )
, x( 2 a ) , x( 3 a ) , x( 4 a ) , x( 5 a ) , x( 6 a ) , x( 7 a ) , x(8 a ) , x( 9 a ) }
ataupun apada sampling tanpa pengembalian:
{x( 1b )
, x 2 b , x 3b
( ) ( ) }
dinamakan distribusi sampling nilai rerata dengan rerata:
µx atau E(X )
dan variansi:
σ x2 atau Var ( X )
Standar deviasinya σ x atau SD (X) dinamakan juga standard error (x) =
SE ( X ) .
153
Sifat ini hanya berlaku pada sampling dengan pengembalian. Jika
dilakukan sampling tanpa pengembalian, maka rerata-nya adalah:
µx = E ( X ) = µ (6.5)
variansi-nya:
σ 2 ( N − n)
σ x2 = Var ( X ) = (6.6)
n ( N − 1)
dan standar deviasi-nya:
σ x = SE ( X ) =
σ ( N − n) (6.7)
n ( N − 1)
Tetapi jika N relatif jauh lebih besar daripada n, maka pada sampling
tanpa pengembalian dapat dianggap berlaku rerata:
µx = E ( X ) = µ
dan variansi:
σ2
σ x2 = Var ( X ) ≈
n
Perhatikan:
1. Distribusi sampel, jika n cukup besar dan pengembalian sampel
dilakukan secara acak, umumnya akan mendekati distribusi populasinya.
2. Jika ukuran sampel n cukup besar (n > 30), distribusi sampling nilai
rerata dapat dianggap berdistribusi normal (apa pun bentuk distribusi
x −µ
populasinya; lihat diagram 6.1), transformasi bakunya maupun
σ n
x −µ
transformasi (jika σ tak diketahui) selalu berdistribusi normal
s n
standar.
3. Jika ukuran sampel n lebih kecil daripada 30 dan populasinya
berdistribusi normal, distribusi sampling nilai rerata selalu berdistribusi
normal (tak tergantung besar nilai n ; sedangkan transformasi baku
x −µ x −µ
berdistribusi normal standar dan transformasi (jika σ tak
σ n s n
diketahui) berdistribusi t dengan derajat bebas (n – 1).
154
Diagram 6.1. Teorema limit pusat: distribusi x untuk berbagai
populasi dan ukuran sampel
Rangkuman hubungan antara distribusi parental (distribusi populasi) X,
distribusi sampling X , dan distribusi transformasi X diperlihatkan pada
matriks 1 Lampiran 6A.
Contoh 6.1:
Nilai ujian nasional lulusan SMU di Yogyakarta untuk mata pelajaran
matematika mempunyai rerata 41.4 dan variansi 84.64. Apabila dipilih 40
orang lulusan SMU tersebut secara acak, hitung probabilitas bahwa rerata
sampelnya terletak:
a. Antara 40 dan 45
b. Lebih besar daripada 45.
µ = 41.4 σ 2 = 84.64 n = 40
µ x = µ = 41.4
σ2 84.64
σ x2 = = = 2.116
n 40
σx = 2.116 = 1.45
( 40 − 41.5) ( 45 − 41.5)
a. P [40 < X < 45] = P <Z<
1.45 1.45
= P [‒1.30 < Z < 2.41]
= 0.3485 + 0.4920 = 0.8405
b. P [ X > 45] = P [Z > 2.41]
= 0.5 – 0.4920 = 0.0080
155
Distribusi Sampling Nilai Proporsi
Distribusi sampling proporsi sampel p adalah distribusi binomial
dengan parameter n dan P, n adalah ukuran sampel dan P proporsi populasi.
Variabel random X menyatakan banyaknya sukses dalam n percobaan.
Karena p = X n dan n merupakan konstante, X berdistribusi sama seperti p.
Jika ukuran sampel n membesar, teorema limit pusat juga berlaku di
sini, dan distribusi sampling p dapat dianggap berdistribusi normal dengan
rerata:
E (p) = P (6.8)
dan variansi:
P (1 − P ) PQ
Var (p) = = (6.9)
n n
sehingga:
p−P
Z= (6.10)
PQ n
berdistribusi normal standar.
Contoh 6.2:
Misalkan diketahui bahwa 70% calon pembeli mobil di Indonesia
terutama berminat untuk membeli kendaraan minibus. Apabila diambil
sampel 100 orang calon pembeli mobil secara acak, berapakah bahwa
sekurang-kurangnya 60 orang di antaranya memilih untuk membeli minibus?
P = 0.70 Q = 1 ‒ P = 0.30 n = 100
0.60 − 0.70
P (p > 0.60) = P Z ≥
( 0.70 )( 0.30 ) 100
= P (Z > ‒2.1822)
= 0.4854 + 0.5000 = 0.9854 = 98.54%
156
6.2 METODE SAMPLING
Penarikan Sampel
Tujuan
Mengumpulkan data yang valid (sahih) dan reliable (terpercaya)
untuk melakukan inferensi / generalisasi mengenai karakteristik populasi.
Manfaat
Penggunaan proses sampling memungkinkan dilakukannya inferensi /
generalisasi:
dengan jumlah data yang relatif sedikit
dalam jangka waktu yang relatif singkat, dan
dengan jumlah menggunakan biaya / sumber daya yang terbatas.
157
Diagram 6.2 Validitas dan reliabilitas data sampel: (a) Tidak valid dan
tidak reliabel; (b) Valid, tidak reliabel; (c) Reliabel, tidak valid; dan (d)
Valid dan reliabel
Beberapa istilah:
- Elemen (unsur) populasi: unit (satuan) yang dicari informasinya;
merupakan unit elementernya yang membentuk populasi yang diteliti.
Elemen populasi adalah unit analisis.
- Unit sampling: terdiri atas satu / lebih elemen, digunakan untuk
memilih elemen untuk anggota sampel.
- Populasi target (sasaran): Populasi yang di-‘target’-kan untuk diteliti
dan diestimasi nilai parameternya.
- Populasi aktual: kumpulan elemen yang ‘eligibel’ (memenuhi syarat)
untuk menjadi anggota sampel.
- Kerangka sampel: kumpulan elemen yang ‘terdaftar’ sebagai calon
anggota sampel.
Macam sampel
Berdasarkan objektif-tidak-nya beserta acak-tidak-nya cara
pengambilan, dikenal berbagai macam sampel yang secara skematis
diperlihatkan pada matriks 6.1.
158
Matriks 6.1. Teknik penarikan sampel
Probabilitas Non-probabilitas
Sampel
- ‘purposive’
Objektif Sampel random
- ‘quota’
- ‘haphazard’
Subjektif Sampel kuasi-random Sampel ‘judgment’
159
- Sampling acak sederhana ( simple random sampling)
- Sampling acak stratifikasi (stratified random sampling).
- Sampling acak klaster ( cluster random sampling)
- Sampling acak sistematik (systematic random sampling).
s2 N − n
ˆ (x ) =
Var (6.12)
n N
• Pelaksanaan.
Dapat digunakan antara lain:
160
(1) metode ‘penarikan undian’,
(2) bilangan acak yang dihasilkan oleh komputer / kalkulator
saintifik; atau
(3) tabel bilangan acak.
161
• Estimasi rerata dan variansi distribusi sampling nilai rerata.
L
xstr = ∑ N h xh n (6.13)
h =1
dengan:
L
xh = ∑ xh nh (6.14)
i =1 i
1 L N h − nh sh2
ˆ ( xstr ) =
Var ∑ 2
Ni
Nh nh
(6.15)
N2 h=1
• Pelaksanaan.
Populasi dibagi menjadi beberapa strata, yang masing-masing relatif
homogen. Lakukan sampling acak sederhana pada tiap stratum.
N : populasi
clust : pengelompokan (clustering)
162
Ni : kluster ke-i, i = 1, 2, . . . , M
srs : sampling acak sederhana (simple random sampling)
N i = ni : klaster terpilih menjadi sampel ; i = 1, 2, . . . , m
()
n : sampel
• Data sampel.
Klaster 1 : x11 , x12 , . . . , x1N 1
()
.
.
Kluster m : xm1 , xm 2 , . . . , xmN m
( )
dengan:
ni
xi = ∑ xij ni (6.17)
j =1
M −m 1 m
∑
2
ˆ ( xcl ) =
Var ni2 ( xi − xcl ) (6.18)
M m n2 m − 1 i =1
• Pelaksanaan.
Populasi dibagi menjadi sejumlah klaster, yang masing-masing relatif
heterogen. Lakukan sampling acak sederhana dengan klaster sebagai unit
sampling. Untuk tiap klaster yang terpilih, seluruh elemen anggotanya
dijadikan anggota sampel.
• Skema penyampelan:
163
Diagram 6.6. Sampling acak klaster dua-tahap
N : populasi
clust : pengelompokan (clustering)
Ni : kluster ke- i; i = 1, 2, . . . , M
srs : sampling acak sederhana
Ni : klaster terpilih menjadi sampel ; i = 1, 2, . . . , m
()
ni : sampel pada klaster ke-i; i = 1, 2, . . . , m
n : sampel
• Data sampel.
Klaster 1: x11 , x12 , . . . , x1n
()
1
.
.
Kluster m: xm1 , xm 2 , . . . , xmn( m )
• Pelaksanaan.
Populasi dibagi menjadi sejumlah klaster, yang masing-masing relatif
heterogen. Lakukan sampling acak sederhana dengan klaster sebagai unit
sampling. Pada tiap klaster terpilih, dilakukan sampling acak sederhana
164
(sampling tahap kedua) dengan elemen anggotanya sebagai unit untuk
memilih anggota sampel final.
165
B. N tidak merupakan kelipatan bulat k (N ≠ nk)
• Pelaksanaan.
(1) Bagi N anggota populasi menjadi n grup (group), dengan tiap
group memiliki k = N n elemen. Pilih secara acak satu di antara k
elemen anggota grup pertama untuk dijadikan anggota sampel.
Anggota selanjutnya ditentukan secara sistematik, yaitu tiap
anggota ke-k berikutnya dalam daftar; atau:
(2) Pilih secara acak di antara N anggota populasi untuk dijadikan
anggota sampel. Anggota selanjutnya ditentukan secara sistematik,
yaitu tiap anggota ke-k berikutnya dalam daftar; setelah mencapai
akhir daftar dilanjutkan mulai dari awal sampai kembali ke
anggota sampel pertama.
166
LAMPIRAN 6A: DISTRIBUSI X, DISTRIBUSI X ,
DAN DISTRIBUSI TRANSFORMASI X
X dalam teori sampling merupakan variabel random, karena
diperoleh dari sampel berulang dan memiliki nilai yang berubah-ubah pada
tiap penarikan sampel.
n X + X2 + . . . + Xn
X = ∑ Xi n = 1
i =1 n
X1 , X 2 , . . . , X n masing-masing mempunyai rerata µ dan variansi
σ 2 , sehingga:
X + X2 + . . . + Xn
E(X ) = E 1
n
1
= E X + X 2 + . . . + X n
n 1
1
= E ( X 1 ) + E ( X 2 ) + . . . + E ( X n )
n
1
= [ nµ ] = µ
n
X + X2 + . . . + Xn
dan: Var ( X ) = Var 1
n
1
= 2 Var X1 + X 2 + . . . + X n
n
1
= 2 Var ( X 1 ) + Var ( X 2 ) + . . . + Var ( X n )
n
1 σ2
= nσ 2
=
n2 n
167
Matriks 1. Distribusi tranformasi X untuk distribusi parental X normal dan sebarang serta
ukuran sampel besar dan kecil
Distribusi sampling σ2 σ2 σ2 σ2
X ~ N µ, X ~ N µ, X ~ N µ, X ~ ? µ,
rerata (distribusi X ) n n n n
σ x −µ x −µ x −µ
~ Z (0 ; 1) ~ Z (0 ; 1) ~ Z (0 ; 1)
Distribusi diketahui σ n σ n σ n
transformasi X ?
σ tak x −µ x −µ x −µ
~ Z (0 ; 1) ~ t( n−1) ~ Z (0 ; 1)
diketahui σ n σ n σ n
168
LAMPIRAN 6B: POPULASI , GALAT ACAK, DAN
GALAT SISTEMATIK
Hirarki populasi
Istilah ‘populasi’ dalam metodologi penelitian memiliki pengertian
lebih luas yang dapat dibedakan atas (lihat diagram 1):
1. Populasi studi (sampel): kumpulan subjek / objek yang sebenarnya
menghasilkan data untuk penelitian. Nilai statistik yang diperoleh dari
studi (sampel) sebagai estimator bagi parameter sesungguhnya
dinyatakan dengan lambang θˆ .
2. Populasi aktual: kumpulan subjek / objek yang ‘eligibel’ (memenuhi
syarat) untuk diikutsertakan dalam penelitian dan proses sampling.
Parameter yang ada pada populasi aktual dinyatakan dengan lambang
θo.
3. Populasi target: kumpulan subjek / objek yang menjadi target
penelitian sebenarnya (yang sebenarnya hendak diteliti). Parameter
yang ada pada populasi target dinyatakan dengan lambang θ
4. Populasi eksternal: kumpulan subjek / objek yang lebih luas daripada
populasi target, memiliki karakteristik yang tidak terlalu berbeda
dengan populasi target, dan dianggap masih ‘layak’ untuk ‘menerima’
generalisasi hasil penelitian.
170
LAMPIRAN 6C: STRATA DAN KLASTER
Stratum adalah pengelompokan yang relatif homogen, sedangkan
klaster merupakan pengelompokan yang bersifat heterogen (lihat diagram 1).
Sampling acak stratifikasi digunakan jika karakteristik yang menjadi dasar
stratifikasi, misalnya jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, suku bangsa, dan
sebagainya dianggap terkait dengan variabel yang hendak diteliti, untuk
menjamin agar anggota populasi dengan setiap taraf karakteristik tersebut
terwakili secara memadai dalam sampel akhir yang dikumpulkan.
Klaster adalah pengelompokan yang biasanya didasarkan atas tempat
(ruang) atau waktu, misalnya desa, kecamatan, kartu registrasi calon
mahasiswa yang terkumpul per hari, dan sebagainya. Klaster bersifat
heterogen, misalnya dalam satu klaster didapatkan subjek dari berbagai
tingkat sosial ekonomi, pria dan wanita, serta berbagai suku bangsa.
Sampling acak klaster digunakan jika ukuran populasi sangat besar sehingga
tidak mungkin ataupun tidak praktis untuk memperoleh atau menyusun
kerangka sampel secara lengkap.
Contoh:
1. Akan diteliti pengeluaran rata-rata mahasiswa per bulan di universitas
WWW. Jika variabel ini diasumsikan terkait erat dengan jenis kelamin
171
mahasiswa, maka dapat digunakan sampling acak stratifikasi dengan
jenis kelamin sebagai dasar stratifikasi.
2. Akan diteliti proporsi keluarga yang paling sedikit salah satu
anggotanya mendengarkan secara teratur siaran stasiun radio A di
kecamatan TS. Karena kerangka sampel bagi terlalu besar untuk
pelaksanaan sampling acak sederhana, dilakukan sampling acak klaster
dua-tahap dengan menggunakan desa sebagai unit klaster.
172
LAMPIRAN 6D: CONTOH PENGGUNAAN
KEEMPAT METODE SAMPLING
Data:
Basis data (dataset) mahasiswa kelas 2PA01 TA 2002/2003 dengan
nomor anggota kelas / populasi (nomor pada basis data), data jenis kelamin,
berat badan, dan IP semester I.
173
Soal:
1. Dengan menggunakan sampling acak sederhana (simple random
sampling), ambillah sampel yang terdiri atas 10 orang mahasiswa. Buat
daftar anggota sampel yang terpilih (No anggota kelas dan BB). Hitung
nilai rerata BB sampel sebagai estimator bagi nilai rerata populasi (data
kelas).
2. Bagi anggota kelas atas 2 strata, pria dan wanita. Dengan jenis kelamin
sebagai dasar stratifikasi, gunakan metode sampling acak stratifikasi
(stratified random sampling) untuk mendapatkan sampel berukuran 10
yang terdiri atas 2 pria dan 8 wanita. Buat daftar anggota sampel yang
terpilih (No anggota kelas dan BB). Hitung nilai rerata BB sampel.
3. Anggota kelas diklasifikasikan dalam 5 kelompok (klaster) berdasarkan
nilai IP-nya, yaitu klaster 1 (IP < 3.00), klaster 2 (IP 3.00-3.24), klaster
3 (IP 3.25-3.49), klaster 4 (IP 3.50-3.74), dan klaster 5 (IP 3.75-4.00).
Dengan metode sampling acak klaster (cluster random sampling) 2-
tahap, mula-mula dipilih 2 di antara 5 klaster secara acak, lalu dari
kedua klaster tersebut masing-masing diambil 5 orang anggota sampel
secara acak, sehingga seluruhnya didapatkan 10 orang anggota sampel.
Buat daftar anggota sampel yang terpilih [No anggota kelas, No
anggota klaster (nomor pada klaster masing-masing), dan BB). Hitung
nilai rerata BB sampel.
4. Dengan menggunakan metode sampling acak sistematik (systematic
random sampling) terhadap data nomor anggota kelas pada basis data
tersebut, tarik sampel berukuran 10. Buat daftar anggota sampel yang
terpilih (No anggota kelas dan BB). Hitung nilai rerata BB sampel.
5. Hitung nilai rerata BB kelas / populasi sebenarnya (70 mahasiswa kelas
2PA01 TA 2003/2004). Bandingkan hasilnya dengan nilai estimasi
yang diperoleh dengan keempat metode sampling.
Jawaban:
1. Sampling Acak Sederhana
Dengan tabel bilangan acak (tabel E) halaman 1, mulai dari baris
12, kolom ke-10 ke kanan, dan seterusnya.
Dengan ukuran populasi N = 70 dan ukuran sampel n = 10,
dilakukan pembacaan nomor-nomor dua digit: 54, 30, 98, dan
seterusnya. Pembacaan yang telah mencapai ujung kanan baris
diteruskan ke ujung kiri baris di bawahnya.
174
Nomor terpilih (digarisbawahi di bawah ini) adalah nomor yang
lebih kecil daripada (atau sama dengan) 70. Nomor-nomor yang
sama hanya dapat dipilih satu kali.
Pembacaan dihentikan setelah diperoleh 10 nomor berbeda yang
lebih kecil daripada (atau sama dengan) 70.
Tabel 1. Hasil pembacaan tabel bilangan acak
54 / 30 / 9 8 / 74 / 56 78 / 96 / 7 7 / 96 / 38
68 / 86 / 9 4 / 90 / 62 02 / 19 / 6 5 / 51 / 09
27 04 5 6 26 26 dst.
175
Wanita:
No str No kls No str No kls No str No kls No str No kls
1 2 17 18 33 36 49 53
2 3 18 21 34 37 50 54
3 4 19 22 35 38 51 55
4 5 20 23 36 39 52 56
5 6 21 24 37 40 53 60
6 7 22 25 38 41 54 61
7 8 23 26 39 42 55 62
8 9 24 27 40 43 56 63
9 10 25 28 41 44 57 64
10 11 26 29 42 45 58 65
11 12 27 30 43 46 59 66
12 13 28 31 44 47 60 67
13 14 29 32 45 49 61 68
14 15 30 33 46 50 62 69
15 16 31 34 47 51 63 70
16 17 32 35 48 52
176
Tabel 4. Hasil sampling acak sederhana pada stratum pria
No No str BB Rerata BB
(No kelas)
2
∑
j =1
x1 j
1 4 (48) 60 x1 =
2
135
2 1 (1) 75 = = 67.2
2
177
o Estimasi nilai rerata BB dengan sampel acak stratifikasi yang
diperoleh:
2 N x + N 2 x2
xst = ∑ N h xh N = 1 1
h =1 N1 + N 2
=
( 7 )( 67.5 ) + ( 63)( 49.875 ) = 51.64
7 + 63
178
Klaster 2 (IP 3.00-3.24):
No klast No kls No klast No kls No klast No kls No klast No kls
1 5 6 18 11 42 16 58
2 8 7 23 12 44 17 65
3 11 8 26 13 47 18 66
4 12 9 27 14 51 19 69
5 17 10 41 15 57
2 5 (19) 49 ∑
j =1
x1 j
3 7 (38) 42 x1 =
5
4 6 (37) 50
232
5 8 (40) 46 = = 46.4
5
179
o Pembacaan tabel bilangan acak yang terhenti pada titik akhir
untuk sampling acak sederhana pada klaster 4 dilanjutkan dengan
pembacaan untuk klaster 2.
o Dengan ukuran populasi klaster N 2 = 19, ukuran sampel klaster 2
n2 = 5, dilakukan pembacaan nomor-nomor dua digit: 96, 46, 62,
dan seterusnya. Pembacaan yang telah mencapai ujung kanan
baris diteruskan ke ujung kiri baris di bawahnya.
o Nomor terpilih (digarisbawahi di bawah ini) adalah nomor yang
lebih kecil daripada (atau sama dengan) 19. Nomor-nomor yang
sama hanya dapat dipilih satu kali.
o Pembacaan dihentikan setelah diperoleh 5 nomor berbeda yang
lebih kecil daripada (atau sama dengan) 19.
2 11 (42) 59 ∑
j =1
x2 j
3 8 (26) 50 x2 =
5
4 13 (47) 42 269
5 14 (51) 70 = = 53.8
5
1 5 12 19
= ( 232 ) + ( 269 ) = 56.39
70 2 5 5
180
4. Sampling Acak Sistematik
o Ukuran populasi N = 70, ukuran sampel n = 10, maka nilai k
adalah N/n = 70/10 = 7, sehingga N merupakan kelipatan bulat k.
o Mula-mula dilakukan sampling acak sederhana, yaitu memilih
menjadi angka 1 di antara 7 (nilai) untuk menentukan nomor
pertama yang terpilih menjadi anggota sampel.
o Digunakan tabel bilangan acak (tabel E) halaman 4, baris ke-80,
kolom ke-55 (hanya dibutuhkan 1 angka).
o Nomor terpilih (digarisbawahi di bawah ini) adalah nomor yang
lebih kecil daripada (atau sama dengan) 7, yaitu nomor 1,
sehingga yang terpilih untuk menjadi anggota sampel sistematik
adalah anggota populasi dengan nomor baris data 1, 8, 18, . . . ,
64 (10 orang).
No No kelas BB Rerata BB
1 1 75
2 8 49
3 15 45 10
4 22 57 ∑
i =1
xi
5 29 55
xsy =
10
6 36 53 542
7 43 45 = = 54.2
10
8 50 46
9 57 65
10 64 52
181
berdasarkan keempat metode sampling beserta nilai rerata populasi
sesungguhnya.
Tabel 14. Estimasi nilai rerata berat badan mahasiswa kelas 2PA01 TA
2002/2003, Depok dengan keempat metode sampling serta nilai rerata
populasi sesungguhnya
No Metode sampling Rerata BB (kg)
1 Sampling acak sederhana 50.7
2 Sampling acak stratifikasi 51.64
3 Sampling acak klaster 56.39
4 Sampling acak sistematik 54.2
Populasi kelas 49.87
182
LATIHAN 6
Bagian Pertama
Pilihlah satu jawaban yang paling benar !
183
5. Dibandingkan dengan nilai Var ( X ) pada sampling dengan
pengembalian, nilai Var ( X ) pada sampling tanpa pengembalian:
A. Selalu lebih besar.
B. Dapat lebih besar.
C. Tidak lebih besar.
D. Mungkin lebih besar, sama besar, ataupun lebih kecil.
x −µ
8. Pernyataan yang tidak benar mengenai transformasi ialah:
σ n
A. Hanya berdistribusi Z jika distribusi populasi normal dan n > 30
B. Hanya berdistribusi Z jika distribusi populasi normal
C. Hanya berdistribusi Z jika n > 30
D. Seluruhnya pernyataan di atas tidak benar
184
9. Pilihlah pernyataan yang salah:
A. Jika n besar dan populasi berdistribusi normal, distribusi
x −µ
sampling juga berdistribusi normal.
s n
B. Jika n besar dan populasi berdistribusi menceng ke kanan,
x −µ
distribusi sampling tetap berdistribusi normal.
s n
x −µ
C. Jika n besar dan distribusi sampling berdistribusi normal,
s n
distribusi populasinya pasti normal.
x −µ
D. Jika n besar dan distribusi sampling berdistribusi normal,
s n
distribusi populasinya mungkin menceng ke kiri.
11. Validitas data antara lain ditentukan oleh faktor berikut, kecuali:
A. Subjek / objek yang diukur
B. Instrumen pengukuran
C. Subjek pelaku pengukuran
D. Semua faktor di atas ikut menentukan validitas data
185
14. Populasi target adalah:
A. Kumpulan subjek / objek yang mengkontribusikan data bagi
penelitian.
B. Kumpulan subjek / objek yang eligibel untuk mengikuti proses
sampling.
C. Kumpulan subjek / objek yang sebenarnya hendak diestimasi
parameternya.
D. Semuanya salah.
15. Tiap elemen anggota populasi dimiliki probabilitas yang pasti sama
untuk terpilih menjadi anggota sampel pada:
A. Sampling acak sederhana. C. Sampling acak klaster.
B. Sampling acak stratifikasi. D. Semuanya benar.
20. Metode sampling yang hanya memerlukan penentuan secara acak bagi
anggota pertamanya didapatkan pada:
A. Sampling acak sederhana C. Samplingg acak kelompok
B. Sampling acak stratifikasi D. Sampling acak sistematik.
186
Bagian Kedua
Selesaikan soal-soal berikut:
1. Dimiliki populasi:
i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Xi 72 68 74 68 90 87 68 71 69 88
Hitunglah:
A. Rerata dan variansi populasi X
B. Rarata dan variansi distribusi sampling X jika dilakukan
sampling dengan pengembalian, n = 3.
C. Rerata dan variansi distribusi sampling X pada sampling tanpa
pengembalian dengan n = 3.
187
KEPUSTAKAAN
189
Kustituanto B, R Badrudin. Statistika I (Deskriptif). Jakarta: Penerbit
Gunadarma, 1994.
Maki DP, M Thompson. Finite Mathematics, Third Edition. New York:
McGraw-Hill, Inc, 1989.
Sanders DH. Statistics: A First Course, Fifth Edition. New York: McGraw-
Hill, Inc, 1995.
Scheaffer RL, W Mendelhall, L Ott. Elementary Survey Sampling, Third
Edition. Boston: Duxbury Press, 1986.
Snedecor GW, WG Cochran. Statistical Methods, Seventh Edition. Ames,
Iowa: The Iowa State University Press, 1982.
Soejoeti Z. Metode Statistik I. Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud,
1984.
Steel RGD, JH Torrie. Principles and Procedures of Statistics: A Biometrical
Approach, Second Edition. Auckland: McGraw-Hill International Book
Company, 1981.
Thompson SK. Sampling. New York: John Wiley & Sons, 1992.
190