0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
164 tayangan9 halaman

Pembobotan Slope Mass Rating (SMR)

1. Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai analisis stabilitas lereng menggunakan metode Slope Mass Rating (SMR). Metode ini melibatkan pengukuran diskontinuitas pada lereng, analisis stereografis, dan pembobotan beberapa parameter untuk menentukan tingkat stabilitas lereng.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
164 tayangan9 halaman

Pembobotan Slope Mass Rating (SMR)

1. Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai analisis stabilitas lereng menggunakan metode Slope Mass Rating (SMR). Metode ini melibatkan pengukuran diskontinuitas pada lereng, analisis stereografis, dan pembobotan beberapa parameter untuk menentukan tingkat stabilitas lereng.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

4.1.

4 Pembobotan Slope Mass Rating (SMR)


[Link] Hasil Pengukuran Diskontinuitas
Setelah dilakukan pengukuran terhadap data-data setiap lereng maka didapatlah
data orientasi dari lereng dan diskontinuitasnya yaitu:

Tabel 1. Pembobotan Massa Jenjang SMR (Romana, 1985)

Klasifikasi V VI III II I
Bobot Massa
0-20 20-40 40-60 60-80 >80
Jenjang (SMR)

Sangat Tidak Sangat


Deskripsi Tidak Stabil Sedang Stabil
Stabil Stabil
Kestabilan
Sangat Tidak Sebagian Sangat
Jenjang/Leren Tidak Stabil Stabil
Stabil Stabil Stabil
g
Bidang atau Dikontrol
Kemungkinan
seperti Bidang/Baji oleh adanya
Bentuk Berupa Blok
keruntuhan Besar kekar/baji
Longsoran
material lepas kecil

Tabel 2. Hasil Pengukuran Diskontinuitas

Jumlah
Dip Diskontinuitas
Nomo Strike/Dip
Lereng Direction yang diukur
r Lereng
Lereng (kekar dan
sesar)
Bawah
(kiri
1. N144◦E/35◦ N234◦E 67 dan 1
dan
kanan)

Tabel 3. Kedudukan Diskontinuitas

Leren Kedudukan
Diskontinuitas
g Strike (N…◦E) Dip (◦)

Bawah Kekar N141 E 40◦
(kiri
dan Sesar N187◦E 78◦
kanan)
[Link] Analisis Stereografis
Analisis sterografis dibutuhkan untuk mengetahui tipe –tipe longsoran dan arah
pergerakannya yang dapat terjadi pada lereng dan juga sebagai data input untuk
menentukan nilai Slope Mass Rating (SMR) pada tahap selanjutnya. Dalam
melakukan analisis sterografis di butuhkan data sudut geser dalam yang di dapat
dengan menggunakan Program Roclab v 1.0 sebagai berikut :

Gambar 1. Hasil Pengolahan Sterografis Lereng menggunakan program Dips

Tabel 4. Hasil Pengolahan Program Roclab v 1.0

Lereng σ GSI Mi D ɸ
Atas 75 48 10 0,7 22,05
Bawah 175 47 10 0,7 21,64

Tabel 5. Tipe dan Arah Longsoran

Lereng Tipe Longsoran Arah Longsoran


Bawah (kir dan Baji N194°E/33°
kanan)
1. Nilai F1 menggambarkan kepararelan antara strike lereng dan strike
diskontinuitas. Dalam menghitung nilai F1dapat menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Romana (1993) :
F1 = [1-sinA]2
Dengan keterangan :
A = Menandakan selisih antara dip direction diskontinuitas dan dip direction
lereng (αj-αs)
F1 =[1-sin(194-234)]2
F1 = [1-sin(-40)]2
F1 = 0,12°
Selanjutnya dengan menggunakan nilai diatas dilakukan pembobotan F1
dengan menggunakan Tabel Pembobotan Berdasarkan Kualitas (Romana,
1985), lihat tabel 3. Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F1 pada adalah 1.
2. F2 adalah Hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model longsoran (F2).
Nilai F2 menggambarkan Hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model
longsoran. Dalam menghitung nilai F2 dapat menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Romana (1993) :
F2 = Tan2 βj
Keterangan : βj = Kemiringan diskontinuitas
Dengan menggunakan persamaan diatas maka nilai F2 adalah :
F2 = Tan2 33
F2 = 0,42°
Selanjutnya dengan menggunakan nilai diatas dilakukan pembobotan F2
dengan menggunakan tabel pembobotan berdasarkan kualitas (Romana, 1985),
lihat tabel 3. Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F2 adalah 0.15.
3. F3 adalah Hubungan sudut dip lereng dengan dip kekar. Nilai F3
menggambarkan hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model longsoran.
Dalam menghitung nilai F3 dapat menggunakan rumus yang dikembangkan
oleh Romana(1985) :
F3= βj – βs
Keterangan :
βj = Dip Diskontinuitas
βs = Kemiringan lereng
dengan menggunakan persamaan diatas maka nilai F3 adalah :
F3 = 33° – 35°
F3 = - 2°
Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F3 adalah -60.
4. Daerah penelitian kegiatan pembongkaran batuan dilakukan dengan
peledakan Mekanis sehingga untuk faktor F4 di kategorikan dalam peledakan
presplliting sehingga bobotnya bernilai 0, lihat tabel 3.

Hasil dari analisis dan pembobotan empat parameter di atas adalah sebagai
berikut:

Tabel 6. Hasil Pembobotan Nilai SMR

Parameter Nilai Bobot


F1 0,12° 1
F2 0,42° 0,15
F3 -2° -50
F4 Peledakan Mekanis `0

Selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis pembobotan massa jenjang


yang dikembangkan oleh Romana (1985) dengan rumus :
SMR = RMR + (F1 x F2 x F3) + F4
= 59 + (1× 0.15× (-50)) + 0
= 51,5

Dari hasil perhitungan dan pembobotan yang telah dilakukan, maka dapat
ditentukan bobot massa jenjang pada lereng Spillway Kolam Olak
berdasarkan Tabel 9 adalah :

Bobot masa jenjang (SMR) : 51,5


Klasifikasi : Kelas III
Deskripsi : Sedang
Kestabilan Jenjang : Sebagian Stabil
Kemungkinan Bentuk Longsoran : Dikontrol oleh adanya kekar/baji
kecil.

4.2.1. Analisis Stereografis Lereng Atas


Analisis sterografis dibutuhkan untuk mengetahui tipe –tipe longsoran dan
arah pergerakannya yang dapat terjadi pada lereng dan juga sebagai data input
untuk menentukan nilai Slope Mass Rating (SMR) pada tahap selanjutnya.
Dalam melakukan analisis sterografis di butuhkan data sudut geser dalam
yang di dapat dengan menggunakan program Roclab v 1.0 yang dilakukan
pada tiap level adalah sebagai berikut :

Lereng σ GSI Mi D ɸ
Atas 75 48 10 0,7 22,05
Tabel 4.3 Hasil Pengolahan Program Roclab v 1.0 Lereng Atas

Hasil analisis sterografis yang dilakukan pada lereng atas, sterografi yang
digambarkan adalah terdapat dua diskontinuitas berupa Kekar dan sesar.
Pada lereng atas didapat nilai kedudukan diskontinuitas berupa kekar
dengan rata-rata bernilai N143◦E/48◦ dan nilai kedudukan sesar sebesar
N187◦E/78◦. Pada perpotongan antara kekar dan sesar mempunyai sudut
bidang lemah (ψp) 44˚, dengan kemiringan lereng (ψf) 33˚, dan sudut geser
dalamnya (ɸ) 22,05˚. Lereng ini mempunyai dua bidang lemah yang salin
berpotongan dan nilai sudut geser yang lebih kecil dari pada bidang lemah,
Sehingga di kategorikan mempunyai potensi longsoran [Link]
potensi longsoran baji.
4.2.2 Tipe dan Arah Longsoran
Dari hasil analisis stereografi di atas, maka tipe dan arah pergerakan
longsoran dapat ditentukan yaitu sebagai berikut :

Lereng Tipe Arah Longsoran


Longsoran
Atas Baji N198°E/44°

4.4 Pembobotan Massa Jenjang Slope Mass Rating (SMR)


Dalam pembobotan massa jenjang ini nilai SMR ditentukan dari perpotongan
dua bidang diskontinuitas hasi dari Proyeksi Streografi sebelumnya. Untuk
setiap kriteria factor koreksi F1, F2, dan F3, Romana membagi nilai besaran
factor koreksi yang dipakai ke dalam dua jenis kasus yaitu kasus untuk jenis
longsoran bidang dan kasus untuk jenis longsosran guling (Sitohang, 2008).
Klasifikasi V VI III II I
Bobot Massa
0-20 20-40 40-60 60-80 >80
Jenjang (SMR)

Sangat Tidak Tidak Sangat


Deskripsi Sedang Stabil
Stabil Stabil Stabil

Kestabilan Sangat Tidak Tidak Sebagian Sangat


Stabil
Jenjang/Lereng Stabil Stabil Stabil Stabil
Bidang atau
Dikontrol
Kemungkinan seperti
Bidang/Baji oleh adanya
Bentuk keruntuhan Berupa Blok
Besar kekar/baji
Longsoran material
kecil
lepas

1. Nilai F1 menggambarkan kepararelan antara strike lereng dan strike


diskontinuitas. Dalam menghitung nilai F1dapat menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Romana (1993) :
F1 = [1-sinA]2
Dengan keterangan :
A = Menandakan selisih antara dip direction diskontinuitas dan dip direction
lereng (αj-αs)
F1 =[1-sin(198°-245°)]2
F1 = [1-sin(-47°)]2
F1 = 2,9°
Selanjutnya dengan menggunakan nilai diatas dilakukan pembobotan F1
dengan menggunakan tabel pembobotan massa batuan SMR (Romana, 1985),
lihat tabel 2.1. Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F1 adalah 1.
2. F2 adalah Hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model longsoran (F2).
Nilai F2 menggambarkan Hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model
longsoran. Dalam menghitung nilai F2 dapat menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Romana (1993) :
F2 = Tan2 βj
Keterangan : βj = Kemiringan diskontinuitas
Dengan menggunakan persamaan diatas maka nilai F2 adalah :
F2 = Tan2 44°
F2 = 0,93°
Selanjutnya dengan menggunakan nilai diatas dilakukan pembobotan F2
dengan menggunakan tabel pembobotan massa batuan SMR (Romana, 1985),
lihat tabel 2.1. Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F2 adalah 0,15.
3. F3 adalah Hubungan sudut dip lereng dengan dip kekar. Nilai F3
menggambarkan hubungan sudut dip kekar sesuai dengan model longsoran.
Dalam menghitung nilai F3 dapat menggunakan rumus yang dikembangkan
oleh Romana(1985) :
F3= βj – βs
Keterangan :
βj = Dip Diskontinuitas
βs = Kemiringan lereng
dengan menggunakan persamaan diatas maka nilai F3 adalah :
F3 = 44° – 33°
F3 = 11°
Berdasarkan tabel pembobotan massa batuan SMR (Romana, 1985), lihat tabel
2.1. Berdasarkan tabel diatas diketahui bobot F3 adalah 0.

Daerah penelitian kegiatan pembongkaran batuan dilakukan dengan


peledakan Mekanis sehingga untuk faktor F4 di kategorikan dalam
peledakan Mekanis sehingga bobotnya bernilai 0.
Hasil dari analisis dan pembobotan empat parameter di atas adalah sebagai
berikut:

Parameter Nilai Bobot


F1 2,9° 1
F2 0,93° 0,15
F3 11° 0
F4 Peledakan Mekanis 0

Hasil pembobotan lereng atas

Selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis pembobotan massa jenjang


yang dikembangkan oleh Romana (1985) dengan rumus :
SMR = RMR + (F1 x F2 x F3) + F4
= 55 + (1× 0.15× 0) + 0
= 55
Dari hasil perhitungan dan pembobotan yang telah dilakukan, maka dapat
ditentukan bobot massa jenjang pada lereng Spillway Kolam Olak
berdasarkan tabel pembobotan massa jenjang SMR (Romana, 1985). Lihat
tabel 4.5

Bobot masa jenjang (SMR) : 55


Klasifikasi : Kelas III
Deskripsi : Sedang
Kestabilan Jenjang : Sebagian Stabil
Kemungkinan Bentuk Longsoran : Dikontrol oleh adanya kekar

Anda mungkin juga menyukai