0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan12 halaman

Model Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran yang dijelaskan dalam dokumen tersebut adalah Problem Based Learning dan Discovery Learning. Problem Based Learning melibatkan siswa dalam pemecahan masalah dunia nyata secara berkelompok, sedangkan Discovery Learning memungkinkan siswa belajar secara mandiri dengan menemukan konsep melalui eksplorasi data. Kedua model pembelajaran ini bertujuan meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Jaka Umbara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan12 halaman

Model Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran yang dijelaskan dalam dokumen tersebut adalah Problem Based Learning dan Discovery Learning. Problem Based Learning melibatkan siswa dalam pemecahan masalah dunia nyata secara berkelompok, sedangkan Discovery Learning memungkinkan siswa belajar secara mandiri dengan menemukan konsep melalui eksplorasi data. Kedua model pembelajaran ini bertujuan meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Jaka Umbara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Model Pembelajaran

A. Model Problem Based Learning 

1. Pengertian

Menurut Kamdi (2007: 77), “Problem Based Learning (PBL) merupakan

model kurikulum yang berhubugan dengan masalah dunia nyata siswa. Masalah

yang diseleksi mempunyai dua karakteristik penting, pertama masalah harus autentik

yang berhubungan dengan kontek sosial siswa, kedua masalah harus berakar pada

materi subjek dari kurikulum”. Terdapat tiga ciri utama dari model Problem Based

Learning (PBL).

Pertama, problem based learning merupakan rangkaian aktivitas

pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus

dilakukan siswa, siswa tidak hanya mendengar, mencatat, kemudian menghafal

materi pelajaran, tetapi melalui model problem based learning (PBL) siswa menjadi

aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya membuat

kesimpulan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.

Problem based learning ini menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses

pembelajaran. Artinya tanpa masalah pembelajaran tidak akan mungkin bisa

berlangsung. Ketiga, pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara

ilmiah.

Menurut Nurhadi (2004: 65) “Problem based learning adalah kegiatan

interaksi antara stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar

dan lingkungan”. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan

masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara

efektif sehingga yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari
pemecahannya dengan baik. PBL merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang

menyajikan masalah konstektual sehingga merangsang siswa untuk belajar. PBL

merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar, bekerja

secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah

ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang

dimaksud.

Berdasarkan uraian mengenai PBL di atas, dapat disimpulkan

bahwa PBL merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah

dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajran. Masalah diberikan kepada

siswa, sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan

masalah yang harus dipecahkan. Dengan demikian untuk memeahkan masalah

tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan pengetahuan baru

yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang diberikan.

2. Langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL)

a Fase 1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,

menjelaskan perlengkapan penting yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat

pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

b Fase 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru membantu siswa

mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan

masalah tersebut.

3. Tujuan Model Problem Based Learning

Menurut Rohman (2011: 189) mengemukakan bahwa terdapat beberapa

tujuan dari pembelajaran problem based learning, yaitu:

a. Untuk mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar siswa.


b. Memiliki elemen-elemen belajar mengajar sehingga mendorong tingkah laku

pengamatan siswa dan dialog dengan lainnya.

c. Melibatkan siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang memungkinkan mereka

memahami dan menjelaskan fenomena dunia nyata.

d. Melibatkan ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) pada siswa secara

seimbang sehingga hasilnya bisa lebih lama diingat oleh siswa.

e. Dapat membangun optimisme siswa bahwa masalah adalah sesuatu yang

menarik untuk dipecahkan bukan suatu yang harus dihindari.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses

pembelajaran dilingkungan sekolah pada dasarnya memiliki tujuan yang sama

dengan yang lainnya yakni mendorong peningkatan hasil belajar pada siswa menjadi

lebih baik. Oleh sebab itu sangat diperlukan guru pembimbing dalam memecahkan

masalah yang dihadapi baik masalah yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi

untuk dipecahkan alternatif dan solusinya.

4. Kelebihan dan Kekurangan dari Model Problem Based Learning (PBL)

a Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)

Sudrajat (2011) mengemukakan beberapa keunggulan dari model problem

based learning ini, yaitu:

1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang

menemukan konsep tersebut.

2) Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan

berpikir siswa yang lebih tinggi.

3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata  yang dimiliki oleh siswa sehingga

pembelajaran lebih bermakna.


4) Siswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang

diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat

meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari.

5) Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan

menerima pendapat dari orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif

diantara siswa.

6) Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap

pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan siswa dapat

diharapkan. Selain itu, problem based learning (PBL) diyakini pula dapat

menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual

maupun secara berkelompok.

5. Kekurangan model Problem Based Learning (PBL)

Selain memiliki kelebihan, problem based learning (PBL) juga memiliki

kekurangan diantaranya persiapan pembelajaran (alat, problem, dan konsep) yang

kompleks, sulitnya mencari permasalahan yang relevan, sering terjadi mis konsepsi,

dan memerlukan waktu yang cukup panjang (Endriani, 2011)

A. Discovery Learning

1. Pengertian

Pengertian Discovery Learning adalah proses mental dimana siswa bisa

menyerap suatu konsep atau prinsip. Proses mental ini diantaranya mengkaji,

memahami, menggolongkan, menduga, menguraikan, mengukur, menyimpulkan dan

lainnya. Ruseffendi (2006:329)

Definisi Discovery Learning ialah metode pengajaran yang menata pengajaran

sedemikianrupa sehingga siswa mendapatkan pengetahuan yang belum ia ketahui


tidak melalui pembelajaran, separuh atau semuanya dipelajari sendiri. Asmui

(2009:154)

Discovery Learning dapat diartikan sebagai metode pengembangan cara

belajar siswa aktif dengan mencari dan menganalisa sendiri, maka hasil yang

didapatkan akan terus diingat dan tidak mudah dilupakan siswa. Kurniasih dkk

(2014:64)

Discovery Learning merupakan proses pembelajaran yang dilakukan tanpa

penyajian pelajaran dan hasil akhirnya tapi siswa diharap bisa mengatur sendiri.

Discovery ialah penemuan konsep dengan serangkaian data/informasi yang

didapatkan lewat pengamatan maupun percobaan. Hosnan (2014:282)

Pengertian Discovery Learning ialah model pengembangan cara belajar aktif

dengan mendapatkan dan mengkaji sendiri, maka hasil yang didapatkan bisa terus

diingat. Dengan menggunakan metode belajar ini, siswa juga dapat belajar berpikir

menganalisa dan memecahkan masalahnya.

2. Karakteristik Discovery Learning

Ciri model pembelajaran penemuan (Hosnan, 2014), diantaranya:

a Mendalami dan menyelesaikan masalah untuk membentuk, menggabungkan,

dan mengumumkan pengetahuan.

b Berfokus kepada siswa

c Aktivitas meleburkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah ada

sebelumnya.

3. Tujuan Discovery Learning

Bell berpendapat bahwa tujuan pembelajaran penemuan adalah untuk melatih

peserta didik agar mandiri dan juga kreatif. Selain itu, tujuan Discovery Learning

antara lain:
a Dengan menggunakan metode pembelajaran ini, peserta didik berkesempatan

aktif pada proses belajar mengajar.

b Faktanya menyatakan bahwa keikutan serta banyak peserta didik dalam

pembelajaran meningkat saat penggunaan metode pembelajaran discovery.

c Dengan metode pembelajaran discovery, peserta didik belajar mencari pola dalam

situasi nyata ataupun maya, juga siswa banyak mengeksplorasi pemberian

tambahan informasi.

d Peserta didik belajar memformulasikan trik tanya jawab yang tidak kacau dan

dengan tanya jawab untuk mendapatkan informasi yang berguna.

e Peserta didik membuat kerja sama yang efektif, saling memberiinformasi, serta

mendengar dan menggunakan ide dari orang lain.

f Ada sejumlah fakta yang menyatakan bahwa keterampilan, konsep dan prinsip

yang dipelajari dengan sistem discovery lebih berart.

g Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa

kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi

belajar yang baru.

4. Jenis Discovery Learning

Ada 2 jenis Discovery Learning (Suprihatiningrum, 2014:244), diantaranya:

a Free Discovery Learning, yaitu jenis pembelajaran penemuan bebas dan tidak

ada petunjuk.

b Guided Discovery Learning, yaitu jenis pembelajaran penemuan terbimbing

atau bisa dikatakan metode ini memerlukan fasilisator berupa guru dalam

pembelajaran.

5. Bentuk Discovery Learning


Ada 2 bentuk metode pembelajaran penemuan yang diterapkan berdasarkan

besarnya kelas, diantaranya yaitu:

a Sistem Discovery Learning Satu Arah

Ini merupakan pendekatan satu arah yang didasarkan pada presentasi satu arah

yang guru lakukan. Presentasi ini bertujuan mendorong peserta didik melakukan

penemuan di depan kelas. Guru memberikan masalah lalu masalah tersebut

dipecahkan dengan metode discovery.

b Sistem Discovery Learning Dua Arah

Ini merupakan pendekatan dua arah yang mengikutsertakan peserta didik untuk

memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan guru. Peserta didik

mendiscovery sedangkan guru memberikan arahan yang benar pada peserta didik.

6. Langkah-langkah Pelaksanaan Discovery Learning

Berikut ini langkah yang harus dilakukan dalam pembelajaran discovery,

diantaranya (Veerman,2003):

a Orientasi

Guru menyodorkan fenomena yang berhubungan dengan materi pembelajaran

untuk memusatkan peserta didik pada masalah yang akan dibahas. Fenomena

yang diberi guru membuat mereka memahami kemampuan dasar siswa. Peserta

didik diminta untuk membaca pengantar dan latar belakang, identifikasi

masalah, mengaitkan fenomena dengan pengetahuan yang diperoleh

sebelumnya. Sintaks orientasi mendidik kemampuan pemahaman, analisa dan

penilaian pada kemampuan berpikir kritis.

b Perumusan Hipotesis
Tahapan ini akan membuat peserta didik membuat rumusan hipotesis yang

berhubungan dengan permasalahan. Sintak perumusan hipotesis mendidik

kemampuan pemahaman, analisa, penilaian dan penyimpulan.

c Pengujian Hipotesis

Untuk membuktikan kebenaran hipotesis, dilakukan dengan pengujian hipotesis

yang dibuat dan dilaksanakan penelitian untuk membenarkan hipotesis yang

telah dirumuskan, pengumpulan data dan menyampaikan hasil penelitian. Sintak

pengujian hipotesis mendidik kemampuan mengatur diri, penilaian, analisa,

pemahaman juga penjelasan.

d Kesimpulan

Tahapan ini digunakan untuk meninjau kembali hipotesis yang dibuat dengan

fakta yang didapatkan melalui uji hipotesis. Pada tahapan ini, peserta didik

dapat memperbaiki atau mengganti hipotesis. Sintak kesimpulan mendidik

kemampuan penyimpulan, analisa, pemahaman, penilaian dan penjelasan.

e Regulasi

Tahapan ini berhubungan dengan perencanaan, pemantauan dan penilaian.

Sintak regulasi mendidik kemampuan penilaian, pengaturan, analisa, penjelasan

dan pemahaman serta penyimpulan.

7. Keunggulan dan Kelemahan Discovery Learning

Kelebihan Discovery Learning (Suherman dkk, 2001:179),diantaranya:

a Peserta didik aktif dalam kbm (kegiatan belajar mengajar), karena mereka

berpikir dan memakai kemampuan untuk bisa menemukan hasil akhirnya.

b Peserta didik memahami materi pembelajaran dengan baik, karena mereka

menjalani proses penemuan hasil sehingga mereka bisa mengingatnya terus.


c Akan muncul rasa puas karena sudah menemukan hasil sendiri dan nantinya

akan memotivasi penemuan lainnya sehingga siswa akan lebih giat belajar.

d Peserta didik mendapatkan pengetahuan dengan Discovery Learning yang lebih

bisa menyampaikan penbgetahuan dengan berbagai konteks.

e Pembelajaran penemuan ini mendidik peserta didik untuk banyak belajar secara

mandiri.

8. Kekurangan Discovery Learning

Kekurangan Discovery Learning (Kurniasih dkk, 2014:64-65), antara lain:

a Teknik pembelajaran ini akan memunculkan anggapan bahwa terdapat kesipana

mental untuk belajar. Peserta didik yang kurang pintar akan merasa sulit berfikir

dan melakukan hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukan

dan membuat mereka frustasi.

b Tidak efektif apabila diterapkan dalam pembelajaran ke banyak siswa, karena

dibutuhkan waktu yang tak singkat untuk membuat mereka menemukan

pemecahan masalah yang disajikan.

c Ambisi dengan adanya penerapan metode ini bisa rusak apabila diterapkan pada

guru dan peserta didik yang sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang

lama.

d Metode pembelajaran ini lebih tepat untuk pengembangan interpretasi namun

pengembangan konsep, skill dan emosi yang menyeluruh kurang diperhatikan.

e Metode ini kurang memfasilitasi untuk mengukur ide siswa di sejumlah disiplin

ilmu.

f Metode ini tak memiliki peluang berfikir bagi peserta didik karena guru sudah

menentukan diawal.
A. Metode diskusi

1. Pengertian

Metode diskusi adalah aktivitas pembelajaran yang pada penerapannya siswa

akan diberi suatu problem yang bisa berbentuk pertanyaan atau fakta untuk

dirundingkan bersama pada sebuah grup belajar.

Model diskusi merupakan pengajaran yang berfokus pada cara belajar siswa

untuk bisa memecahkan kasus dari sebuah masalah. Metode ini dilakukan oleh dua

atau lebih siswa yang saling berinteraksi.

Sebelum aktivitas diskusi dimulai guru akan menjelaskan beberapa materi

sebagai bahan stimulus bagi siswa dalam berdiskusi. Selanjutnya siswa diberi waktu

untuk bertanya tentang bahan materi belum bisa dipahami.

Selanjutnya guru akan membimbing setiap siswa ketika akan berdiskusi dan

membagikan lembar kerja. Pada saat aktivitas diskusi berjalan siswa yang berada

pada satu lingkungan (grup) akan saling berbagi data, pengalaman dan pengetahuan

untuk memecahkan sebuah masalah sehingga setiap siswa dituntut untuk aktif dalam

aktivitas (proses) diskusi ini. Setelah aktivitas diskusi selesai siswa akan

mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Selanjutnya siswa akan diberi cara untuk

merangkum agar materi bisa dipahami dan dikuasi dengan baik.

2. Ciri-Ciri dan Macam-Macam Diskusi

a Peserta diskusi ada dua orang atau lebih.

b Terdapat materi yang di dalamnya ada masalah yang harus dipecahkan.

c Salah satu peserta diskusi ditunjuk menjadi ketua (leader).

d Dalam aktivitasnya terdapat arus tukar informasi dan pendapat.

e Diskusi harus memiliki output berupa opsi solusi dari masalah untuk dibahas.
3. Langkah-langkah atau Sintaks Metode Diskusi

a Mempersiapkan rancangan diskusi

b Tentukan arah diskusi sehingga diskusi bisa sesuai dengan target belajar.

c Jumlah anggota grup diskusi disesuaikan dengan karakter dari diskusi dan

tujuan anggota harus memiliki kualifikasi tertentu agar diskusi berjalan lancar.

d Masalah yang akan didiskusikan direncanakan dengan baik.

e Manajemen waktu pelaksanaan diskusi harus ditentukan dengan baik

4. Penerapan Diskusi

a Membagi susunan grup diskusi mulai dari ketua, juru tulis dan peserta).

b Membuat susunan pembagian tugas setiap anggota.

c Menstimulus siswa agar diskusi bisa bergejolak.

d Menulis setiap gagasan yang dirasa penting.

e Siswa ditantang untuk bisa menerima setiap pemikiran anggota lain.

f Membuat kondisi lingkungan diskusi menjadi nyaman.

g Mempresentasikan hasil diskusi.

h Menarik kesimpulan dari hasil diskusi.

i Melakukan revisi dan evaluasi terhadap hasil diskusi.

j Hasil dan aktivitas diskusi dinilai untuk digunakan sebagai bahan evaluasi. Agar

diskusi selanjutnya bisa lebih baik.

5. Manfaat dan Tujuan Metode Diskusi

a Rumusan masalah yang telah memiliki solusi diberikan kepada siswa.

b Agar siswa bisa menyelesaikan permasalahan.

c Siswa bisa melakukan penyampaian pendapat secara runtut sehingga pendapat

yang mereka sampaikan mudah diterima.


d Melatih siswa untuk bisa menghargai segala pendapat yang diajukan orang lain.

Walaupun pendapat tersebut bertentangan.

6. Kelemahan Metode Diskusi

a Metode ini kurang bisa digunakan pada grup belajar yang besar.

b Diskusi pada siswa bisa menjadi melenceng bila tidak di arahkan. Ini bisa

memuat waktu menjadi lama.

c Diskusi bisa menjadi timpang bila siswa yang pendiam tidak menunjukan

inisiatif untuk berpartisipasi.

d Siswa memperoleh data materi yang sedikit.

7. Kelebihan Metode Diskusi

a Metode ini bisa menstimulus siswa menjadi kreatif. Sehingga siswa bisa

menyampaikan segala inspirasi yang ada di pikirannya. Ini bermanfaat

untuk problem solving dan breakthrough.

b Meningkatkan perilaku toleransi dan menerima pemikiran orang lain.

c Bisa memperluas dan memperdalam ilmu dan wawasan.

d Membimbing siswa sehingga terbiasa dengan musyawarah untuk mencari

sebuah solusi.

Anda mungkin juga menyukai