0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan49 halaman

Asupan Karbohidrat dan Obesitas Mahasiswa

Skripsi ini membahas hubungan antara asupan karbohidrat dengan kejadian obesitas pada mahasiswa kedokteran umum di Universitas Malahayati. Tujuannya adalah mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan indeks massa tubuh (IMT) dan kejadian obesitas. Metode penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan subjek mahasiswa program studi kedokteran umum tahun 2019. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas

Diunggah oleh

donat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan49 halaman

Asupan Karbohidrat dan Obesitas Mahasiswa

Skripsi ini membahas hubungan antara asupan karbohidrat dengan kejadian obesitas pada mahasiswa kedokteran umum di Universitas Malahayati. Tujuannya adalah mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan indeks massa tubuh (IMT) dan kejadian obesitas. Metode penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan subjek mahasiswa program studi kedokteran umum tahun 2019. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas

Diunggah oleh

donat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KARBOHIDRAT DENGAN

KEJADIAN OBESITAS PADA MAHASISWA PRODI


KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS
MALAHAYATI TAHUN 2019

SKRIPSI

Oleh :

Lulu Umdiyana
16310160

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas taufiq dan hidayah-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi ini tepat pada

waktunya. Penulis menyadari bahwa untuk menyelesaikan penulisan proposal

skripsi ini banyak sekali rintangan dan hambatan yang harus dilalui, dengan

adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak alhamdulilah penulis dapat

menyelesaikan proposal skripsi ini, yang berjudul “Hubungan antara Asupan

Karbohidrat dengan Kejadian Obesitas pada Mahasiswa Prodi Kedokteran Umum

Universitas Malahayati Tahun 2019”. Oleh karena itu penulis mengucapkan

terima kasih kepada :

1. DR. dr. Achmad Farich, M.M selaku Rektor Universitas Malahayati.

2. dr. Toni Prasetya, [Link], FINASIM selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Malahayati.

3. dr. Sri Maria Puji Lestari, [Link] selaku Kepala Program Studi

Fakultas Kedokteran Umum Universitas Malahayati.

4. dr. Yesi Nurmalasari selaku Kepala Medical Education Unit Fakultas

Kedokteran Umum Universitas Malahayati.

iii
5. Dr. Dessy Hermawan, [Link]. Ns, [Link] selaku pembimbing satu, yang

selalu meluangkan waktunya untuk membimbing dalam proses

penyusunan skripsi ini.

6. dr. Upik Febriani, [Link] selaku pembimbing dua, yang selalu

meluangkan waktunya untuk membimbing dalam proses penyusunan

skripsi ini.

7. Kedua orang tua yang sangat saya cintai Mama Hj. Siti Suleha, Bapak

[Link] Umdana, dan keluarga besar yang tanpa henti memberikan doa,

motivasi, dan kasih sayang untuk menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini baik

secara langsung ataupun tidak langsung.

Penulis menyadari proposal skripsi ini tidak luput dari kekurangan, baik

dari segi isi maupun penyajiannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan

saran dari semua pihak dalam rangka menyempurnakan laporan proposal skripsi

ini. Semoga laporan proposal skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan

bermanfaat bagi perkembangan ilmu dalam bidang kedokteran.

iv
Bandar Lampung, Maret 2020

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................
i

LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................
ii

KATA PENGANTAR..............................................................................................
iii

DAFTAR ISI.............................................................................................................
v

DAFTAR TABEL.....................................................................................................
vii

DAFTAR GAMBAR................................................................................................
viii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................
1

1.1 Latar Belakang ..................................................................................


1

v
1.2 Rumusan Massalah ...........................................................................
2
1.3 Tujuan Penelitian ..............................................................................
2
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................
3
1.5 Ruang Lingkup Penelitian.................................................................
3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................


4

2.1 Karbohidrat ........................................................................................


4

2.2 Obesitas .............................................................................................


5

2.3 Mekanisme Fisiologi Pengaturan Kadar Gula Darah ........................


16...............................................................................................

2.4 Hubungan Asupan Karbohidrat dengan Obesitas...............................


19

2.5 Kerangka Teori...................................................................................


20

2.6 Kerangka Konsep...............................................................................


21

2.7 Hipotesa..............................................................................................
21

BAB III METODE PENELITIAN......................................................................


22

3.1 Desain Penelitian...............................................................................


22
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian...........................................................
22
3.3 Rancangan Penelitian.........................................................................
22
3.4 Subjek Penelitian...............................................................................
22

vi
3.5 Kriteria Sampel Penelitian..................................................................
23
3.6 Alur Penelitian ...................................................................................
24
3.7 Variabel Penelitian ............................................................................
24
3.8 Definisi Operasional..........................................................................
25
3.9 Pengumpulan Data.............................................................................
25
3.10 Pengolahan Data..............................................................................
25
3.11 Analisis Data...................................................................................
26

DAFTAR PUSTAKA

vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi IMT Menurut WHO .................................................................. 14
Tabel 3.1 Definisi Operasional .................................................................................
25

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Rumus IMT .........................................................................................


12
Gambar 2.2 Timbangan ..........................................................................................
13
Gambar 2.3 Microtoice ............................................................................................
13
Gambar 2.4 Kerangka Teori ......................................................................................
20
Gambar 2.5 Kerangka Konsep .................................................................................
21
Gambar 3.1 Alur Penelitian .......................................................................................
24

ix
x
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial, yang terjadi akibat
akumulasi jaringan lemak berlebih, Keadaan obesitas ini meningkatkan
risiko penyakit kardiovaskuler karena katerkaitannya dengan sindrom
metabolik atau sindrom resistensi insulin yang terdiri dari resistensi
insulin/hiperinsulinemia, intoleransi glukosa atau diabetes mellitus,
dislipedemia, hiperuresemia, gangguan fibrinolysis, hiperfibrinogenemia
dan hipertensi (Sugondo, 2014).
Konsumsi makanan manis dapat mengakibatkan peningkatan berat
badan. Hal tersebut karena makanan manis seringkali mengandung tinggi
karbohidrat. Selain itu, makanan manis berkontribusi terhadap peningkatan
total energi atau tingginya densitas energi dan efek rasa lezat makanan
manis serta efek lemahnya rasa kenyang (Drapeau dkk, 2004).
Diet fruktosa berhubungan dengan peningkatan konsumsi energi
berlebih dan berat badan. Peningkatan konsumsi HFCS (High Fructosa
Corn Syrup) yang digunakan dalam minuman manis berenergi (soft drink)
berperan pada peningkatan total energi dan berkontribusi terhadap epidemi
obesitas (Bray dkk, 2004).
Obesitas di tahun 2018, lebih dari 2.2 miliar orang dewasa, dengan
usia 18 tahun ke atas, mengalami kelebihan berat badan. Dan lebih dari
800 jutanya mengalami obesitas. Sebagian besar populasi dunia yang
tinggal di negara yang banyak didominasi penderita obesitas, obesitas
membunuh lebih banyak penderita ketimbang orang orang yang
mengalami kekurangan berat badan (WHO, 2019).
Di Indonesia pada 2018 prevalensi obesitas (IMT ≥25—27 dan IMT
≥27) sebesar 40,0%, sedangkan penduduk obese dengan IMT ≥27 saja
sebesar 22,6% dan prevalensi lebih tinggi diperkotaan (40,3%) daripada
perdesaan (29,2%) (Profil Kesehatan Indonesia, 2018). Dan prevalensi

1
2

obesitas di Lampung pada tahun 2018 (IMT ≥25—27 dan IMT ≥27)
sebesar 25% yang berarti belum menjadi masalah (Riskesdas provinsi
lampung, 2018).
Berdasarkan hasil presurvey yang dilakukan tim peneliti, terdapat
obesitas sentral sebanyak 77 dari total 300 responden mahasiswa aktif
Prodi Kedokteran Umum di Universitas Malahayati Bandar Lampung
tahun 2019 yang mengalami obesitas ( IMT > 27), maka penulis tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Antara Asupan
Karbohidrat Dengan Kejadian Obesitas Pada Mahasiswa Prodi Kedokteran
Umum di Universitas Malahayati Tahun 2019.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan antara asupan karbohidrat dengan kejadian
obesitas pada mahasiswa aktif prodi kedokteran umum di Universitas
Malahayati tahun 2019.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan kejadian
obesitas pada mahasiswa aktif prodi kedokteran umum di Universitas
Malahayati tahun 2019.
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui distribusi frekuensi asupan karbohidrat pada mahasiswa


prodi kedokteran umum yang megalami obesitas di Universitas
Malahayatitahun 2019.
2. Mengetahui distribusi frekuensi penderita obesitas pada Mahasiswa Prodi
Kedokteran Umum di Universitas Malahayati tahun 2019.
3. Mengetahui hubungan asupan karbohidrat dengan penderita obesitas
pada Mahasiswa Prodi Kedokteran Umum di Universitas Malahayati
tahun 2019.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat, antara lain adalah
1.4.1 Secara Teoritis
3

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan penjelasan


yang lebih detil mengenai Hubungan Antara Asupan Karbohidrat Dengan
Kejadian Obesitas Pada Mahasiswa Prodi Kedokteran Umum di
Universitas Malahayati Tahun 2019.
1.4.2 Secara Aplikatif
Sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi Universitas, dalam
memberikan pendidikan dan informasi terhadap pola makan kepada
mahasiswa.
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan
analitik dan pendekatan Cross sectional dan sampling yang digunakan
pada penelitian ini adalah purposive sampling. Waktu pengumpulan data
dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2019. Tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan
kejadian obesitas pada mahasiswa prodi kedokteran umum di Universitas
Malahayati tahun 2019.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karbohidrat
2.1.1 Definisi Karbohidrat
Karbohidrat adalah salah satu zat gizi penting yang memberikan
energi cukup besar bagi tubuh untuk bekerja dan berfungsi dengan baik.
Konsumsi karbohidrat harus seimbang antara pemasukan dan
pengeluaran energinya, bila pemasukan lebih banyak dari pengeluaran
maka energi yang tidak digunakan akan disimpan di dalam tubuh dalam
bentuk lemak, akibatnya banyak orang yang tubuhnya menjadi obesitas
karena kelebihan energi dan akan berlanjut dengan timbulnya masalah
kesehatan (Graha, 2010).
Karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab
kekurangan karbohidrat sekitar 15% dari kalori yang ada dapat
menyebabkan terjadi kelaparan dan berat badan menurun, sebaliknya
apabila jumlah kalori yang tersedia berasal dari karbohidrat dengan
jumlah yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya peningkatan berat
badan. Kebutuhan karbohidrat sebagai sumber energi utama pada umur
dewasa kurang lebih 46% dari total energi. Gula dan makanan manis
yang mengandung karbohidrat dan tinggi energi sebaiknya digantikan
dengan makanan seperti kentang, buah-buahan, dan sayuran. Jenis
makanan seperti ini mengandung berbagai macam nutrisi (Hidayat,
2008).
2.1.2 Metabolisme karbohidrat

Karbohidrat terdapat dalam berbagai bentuk, termasuk gula sederhana


atau monosakarida, dan unit-unit kimia yang kompleks, seperti disakarida
dan polisakarida. Karbohidrat yang sudah ditelan akan dicerna menjadi
monosakarida dan diabsorpsi, terutama dalam duodenum dan jejenum IMT
= Berat Badan (kg) Tinggi badan (m2) 17 proksimal. Sesudah diabsorpsi,
kadar glukosa darah akan meningkat untuk sementara waktu dan akhirnya

4
5

akan kembali lagi ke kadar semula. Pengaturan fisiologis kadar glukosa


darah sebagian besar bergantung pada hati yang (1) mengekstrasi glukosa,
(2) menyintesis glikogen, dan (3) melakukan glikogenolisis. Dalam jumlah
yang lebih sedikit, jaringan perifer otot dan adiposa juga mempergunakan
ekstrak glukosa sebagai sumber energi sehingga jaringan-jaringan ini ikut
berperan dalam mempertahankan kadar glukosa darah (Sylvia, 2006).

Hormon yang meningkatkan kadar glukosa darah antara lain: (1)


glukagon yang di sekresi oleh sel-sel alfa pulau langerhans, (2) epinefrin
yang di sekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromafin lain, (3)
glukokortikoid yang di sekresi oleh korteks adrenal, dan (4) growth
hormone yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. Glukagon,
epinefrin, glukokortikoid, dan growth hormone, membentuk suatu pelawan
mekanisme regulator yang mencegah timbulnya hipoglikemia akibat
pengaruh insulin (Sylvia, 2006).

2.2 Obesitas
2.2.1 Definisi Obesitas
Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial,yang terjadi akibat
akumulasi jaringan lemak berlebih (Sugondo, 2014).Kata obesitas berasal
dari bahasa Latin: obesus, obedere, yang berarti gemuk atau kegemukan
(Elvira, 2002). Di Indonesia obesitas dinilai dengan memakai indeks
massa tubuh (IMT), berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi
badan dalam meter dan disebut obesitas jika nilainya lebih dari 27,0.
Obesitas merupakan indikator risiko terhadap beberapa penyakit dan
kematian (Sandjaja, 2009).
2.2.2 Kriteria Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai kondisi akumulasi lemak yang
abnormal dan berlebihan di jaringan adiposa sehingga kesehatan juga
dapat terganggu. Menurut Susce (cit., Listyana, 2013) berdasarkan
distribusi lemak, obesitas dibedakan menjadi dua yaitu obesitas sentral
dan obesitas umum. Obesitas sentral merupakan kondisi kelebihan
6

lemak yang terpusat pada daerah perut. Obesitas sentral terjadi ketika
energi yang masuk melalui makanan lebih banyak daripada yang
digunakan untuk menunjang kebutuhan energi tubuh, kemudian akan
disimpan dalam bentuk lemak (Listyana cit., Djausal, 2015). Seseorang
dikatakan obesitas sentral apabila lingkar perut ≥90cm pada pria dan
≥80cm pada wanita (IDF, 2006).
2.2.3 Patofisiologi Obesitas
Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran
kalori dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang
menyebabkan penumpukan lemak di sejumlah bagian tubuh (Rosen,
2008). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu
makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural
dan humoral (neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi,
lingkungan, dan sinyal psikologis. Pengaturan keseimbangan energi
diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu
pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran
energi dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan
penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat
di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan
adiposa, usus dan jaringan otot).
Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta
menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik
(anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2
kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek
mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan
faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh
kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar.
Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang
mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi (Sherwood, 2012).
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan
adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam
7

peredaran darah. Kemudian, leptin merangsang anorexigenic center di


hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptida Y (NPY) sehingga
terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan
energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang
dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang
menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita
obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak
menyebabkan penurunan nafsu makan (Jeffrey, 2009).
2.2.4 Faktor-faktor Penyebab Obesitas
Obesitas terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara energi yang
masuk dengan energi yang keluar dan merupakan akumulasi simpanan
energi yang berubah menjadi lemak (Pritasari, 2006). Kelebihan energi
tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran
energi yang rendah. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi
makanan yang berlebihan, sedangkan keluaran energi rendah disebakan
oleh rendahnya metabolisme tubuh, aktivitas fisik, dan efek termogenesis
makanan yang yang ditentukan oleh komposisi makanan (Syarif, 2002;
Yussac et al., 2007).
Tingginya konsumsi makanan berlemak, rendahnya konsumsi sayuran
dan buah, dan rendahnya aktivitas fisik juga dapat menyebabkan terjadinya
obesitas. Faktor lain penyebab terjadinya obesitas adalah faktor genetik,
biologi dan faktor individu lain seperti penghentian merokok, jenis
kelamin dan umur saling berinteraksi mempengaruhi peningkatan berat
badan (Mustain, 2010).
Berikut faktor-faktor yang dapat menyebabkan obesitas, diantaranya
1. Faktor Psikologis
Kondisi psikologis dan keyakinan seseorang berpengaruh terhadap
asupan makanan. Seseorang yang sedang mengalami keadaan yang tidak
menyenangkan akan nampak lebih emosional baik sikap maupun
perilakunya. Jika keadaan tersebut berlangsung dalam waktu lama maka
dapat menyebabkan suatu keadaan yang disebut stres, bahkan depresi.
8

Faktor tersebut berhubungan erat dengan rasa lapar dan nafsu


makan. Hal ini disebabkan karena sejumlah hormon akan disekresi
sebagai tanggapan dari keadaan psikologis sehingga terjadi peningkatan
metabolisme energi yang dipecah dan digunakan untuk melakukan
aktivitas, namun jika seseorang yang mengalami stres tidak melakukan
aktivitas fisik yang mampu membakar energi maka kelebihan energi
tersebut akan disimpan sebagai lemak. Proses ini akan menyebabkan
glukosa darah menurun sehingga menyebabkan rasa lapar pada orang
yang sedang mengalami tekanan psikologis (Purwati, 2005).
2. Faktor Genetik
Faktor genetik yang diketahui memiliki peranan kuat adalah
parental fatness, anak yang obese biasanya berasal dari keluarga yang
obese. Bila kedua orang tua obese, sekitar 80% anak-anak mereka akan
menjadi obese. Bila salah satu orang tua obese kemungkinannya 40%,
dan bila kedua orang tua tidak obese maka prevalensi obesitas akan turun
menjadi 20% (Dietz, 1995 dalam Mariani 2003).
3. Faktor Nutrisional (Perilaku Makan)
a. Kebiasaan Makan
Hui (1985) dalam hayati (2009) mengatakan bahwa orang obese
biasanya makan dengan jumlah kalori lebih banyak dari pada yang
mereka butuhkan. Pada penelitian tentang hubungan pola makan dan
aktivitas fisik pada anak dengan obesitas usia 6-7 tahun di Semarang
tahun 2003 menyebutkan bahwa frekuensi makan lebih dari 3 kali sehari
setiap hari memiliki resiko terjadinya obesitas 2,1 kali dibandingkan
makan kurang atau sama dengan 3 kali sehari (Syarif, 2002).
Akan tetapi, penelitian Divisi Kedokteran Pencegahan Fakultas
Kedokteran Universitas Massachusettes, melalui publikasinya pada
American Journal of Epidemiologi edisi Agustus 2003 menunjukan hasil
yang berbeda. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang dengan
mengkonsumsi makanan sampai tiga kali per hari beresiko megalami
obesitas sebesar 45% dari pada orang yang mengkonsumsi makanan
9

empat kali atau lebih. Dijelaskan lebih lanjut bahwa frekuensi makanan
yang rendah berkaitan dengan sekresi insulin yang tinggi. Insulin dapat
berperan sebagai penghambat enzim lipase, yaitu yang memecah lemak.
Makin banyak insulin yang disekresikan, makin besar hambatan pada
aktivitas enzim lipase. Akibatnya makin banyak lemak yang ditimbun di
dalam tubuh (Paramita dan Wardhani, 2008).
b. Asupan Lemak
Trigliserida merupakan lipid utama dalam makanan. Fungsi
utamanya adalah sebagai zat energi. Simpanan lemak dalam tubuh
terutama dilakukan di dalam sel lemak dalam jaringan adiposa. Sel-sel
adipose mempunyai enzim khusus pada permukaannya, yaitu lipoprotein
lipase (LPL) yang dapat melepas trigliserida dan lipoprotein,
menghidrolisnya dan meneruskan hasil hidrolisis ke dalam sel. Di dalam
sel terdapat enzim lain yang merakit kembali bahan-bahan hasil hidrolisis
ke dalam sel. Di dalam sel terdapat enzim lain yang merakit kembali
bahan-bahan hasil hidrolisis menjadi trigliserida untuk disimpan sebagai
cadangan energi. Selsel adipose menyimpan lemak setelah makan
bilamana kilomikron dan VLDL yang mengandung lemak melewati sel-
sel tersebut (Almatsier, 2002).
Bila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel adipose
menghidrolisis simpanan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak
serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. Di sel-sel yang
membutuhkan, komponen-komponen ini kemudian dibakar dan
menghasilkan energi, CO2 dan H2O. Pada tahap akhir hidrolisis, setiap
pecahan berasal dari lemak mengikat pecahan berasal dari glukosa
sebelum akhirnya dioksidasi secara lengkap menjadi CO2 dan H2O.
Lemak tubuh tidak dapat dihidrolisis secara sempurna tanpa kehadiran
karbohidrat. Tanpa karbohidrat akan diperoleh hasil antara pembakaran
lemak berupa bahan-bahan keton yang dapat menimbulkan ketosis
(Almatsier, 2002).
10

Tubuh mempunyai kapasitas tak terhingga untuk menyimpan lemak.


Namun, lemak tidak sepenuhnya dapat menggantikan karbohidrat
sebagai sumber energi. Otak, system saraf dan sel darah merah
membutuhkan glukosa sebagai sumber energi.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak memicu
terjadinya obesitas. Lemak merupakan sumber yang padat kalori,
membuat rasa masakan menjadi lezat dan sering tidak diperhatikan atau
tersembunyi dalam makanan. Kelebihan konsumsi lemak akan tersimpan
dalam jaringan adiposa sebagai energi potensial. Apabila simpanan
lemak terjadi sampai melebihi 20% dari berat badan normal maka ada
kecenderungan kegemukan atau obesitas (Darmoutomo, 2007).
c. Asupan Karbohidrat
Fungsi karbohidrat memang penting untuk tubuh kita karena
karbohidrat berguna untuk memberi makan pada otak kita dan sebagai
sumber energi utama. Asupan karbohidrat yang berlebih, tidak akan
langsung digunakan oleh tubuh sehingga disimpan dalam bentuk
glikogen (satu rangkaian panjang molekulmolekul glukosa yang
dihubungkan menjadi satu). Hati dan otot merupakan tempat
penyimpanan glikogen. Glikogen yang dapat diakses otak yaitu glikogen
yang disimpan dalam hati. Tetapi, kapasitas hati untuk menyimpan
karbohidrat mudah habis dalam waktu sepuluh hingga 12 jam. Sehingga
untuk mempertahankan cadangan glikogen dalam hati, kita
membutuhkan asupan sumber karbohidrat (Almatsier, 2002).
Bila asupan karbohidrat berlebih sedangkan kapasitas hati dan otot
dalam menyimpan glikogen terbatas, maka karbohidrat akan disimpan
dalam bentuk lemak dan akan disimpan dalam jaringan lemak. Sehingga
kelebihan karbohidrat berarti kelebihan lemak.
Asupan karbohidrat yang tinggi akan memicu peningkatan glukosa
darah. Untuk menyesuaikan kondisi ini, pancreas mengeluarkan hormone
insulin ke dalam aliran darah untuk menurunkan kadar glukosa darah.
Yang menjadi masalah adalah insulin merupakan hormone penyimpan
11

yang memiliki fungsi menyimpan kelebihan karbohidrat dalam bentuk


lemak untuk membuat cadangan energi. Oleh karena itu, insulin yang
dirangsang oleh karbohidrat akan mendorong akumulasi lemak tubuh.
Selain mendorong akumulasi lemak tubuh, insulin juga berfungsi untuk
tidak mengeluarkan lemak yang tersimpan. Kondisi seperti ini tentu akan
membuat seseorang dengan asupan tinggi karbohidrat akan mengalami
peningkatan berat badan dan sulit untuk menurunkan berat badan
(Darmoutomo, 2007).
Kontribusi energi dari karbohidrat untuk orang dewasa sebaiknya
sekitar 55% pada usia 19-29 tahun dan 60% pada usia 30-64 tahun
(Hardinsyah dkk, 2012).
d. Aktifitas Fisik
Aktivitas adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem
penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan
energi di luar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-
paru memerlukan tambahan energy untuk mengantarkan zat-zat gizi dan
oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh.
Banyaknya energy yang dibutuhkan bergantung pada beberapa banyak
otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang
dilakukan (Almatsier, 2003)
Aktifitas fisik merupakan gerakan yang dilakukan oleh tubuh dan
sistem penunjangnya (Almatsier, 2002 dalam intan, 2008). Aktivitas fisik
meliputi aktifitas sehari-hari, kebiasaan hobi, maupun latihan atau
olahraga (syarif, 2002). Aktifitas fisik akan membakar energi dari dalam
tubuh. Dengan demikian, jika asupan energi ke dalam tubuh berlebihan
dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang seimbang tentu akan
menyebabkan tubuh mengalami kegemukan (Purwati, 2005).
2.2.5 Penilaian Obesitas
Diagnosis obesitas dapat ditegakkan melalui penilaian status gizi
secara langsung, antara lain dapat dilakukan dengan metode antropometri.
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang
12

gizi, antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran


dimensi dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Metode antropometri yang dapat digunakan untuk menentukan obesitas
pada seseorang antara lain indeks massa tubuh (IMT), skinfold thickness
(SKF), rasio lingkar pinggang pinggul (RLPP), dan bioelectricall
impedance analysis (BIA) (Sudargo & Rosiyani, 2016).
Penggunaan tinggi badan dan berat badan dalam mengukur lemak
tubuh sangat sederhana dan paling sering dipergunakan. IMT yang
merupakan perbandingan antara berat badan dalam sentimeter dengan
tinggi badan kuadrat (dalam meter persegi) dikatakan sebagai metode yang
murah, dan mudah dipergunakan serta merupakan indikator obesitas yang
reliable. Indeks massa tubuh tidak mengukur lemak tubuh secara
langsung, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa IMT memiliki
korelasi yang kuat dengan pengukuran lemak tubuh secara langsung.
Indeks massa tubuh dapat dianggap mewakili pengukuran lemak tubuh.
Obesitas pada orang dewasa ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh
(IMT) atau body mass index (BMI). IMT adalah pengukuran antropometri
untuk menilai apakah komponen tubuh tersebut sesuai dengan standar
normal atau ideal. IMT didapatkan dengan cara membagi berat badan (kg)
dengan kuadran tinggi badan (m²) (Hardinsyah & Supariasa, 2017).
Menurut (syarif, 2003) diet seimbang dengan komposisi karbohidrat
50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20%
energy total serta kolestrol < 300mg/ hari.

IMT = BB (Kg) / TB (m²)

Gambar 2.1. Rumus IMT


Pengukuran berat badan dapat dilakukan dengan menggunakan
timbangan berat badan. Sementara itu, pengukuran tinggi badan dapat
dilakukan dengan menggunakan microtoise.
13

Gambar 2.2. Timbangan badan

Gambar 2.3. Microtoise

2.2.6 Klasifikasi Obesitas


Klasifikasi yang ditetapkan world health organization (WHO), untuk
tubuh yang memiliki nilai IMT ≥30 kg/m2 bisa dikatakan sebagai obesitas
dan nilai IMT 25-29,9 kg/m2 bisa dikatakan sebagai pra-obes. Untuk
wilayah Asia Pasifik sendiri pada saat ini telah mengusulkan kriteria dan
klasifikasi obesitas sendiri. Berikut klasifikasi berat bada lebih dan
obesitas berdasarkan IMT menurut kriteria Asia Pasifik :
14

Tabel 2.1. Klasifikasi IMT Menurut Who


Klasifikasi BMI/IMT kg/m² Risiko Komorbiditas
Kurang <18,4 Rendah
Normal 18,50 – 24,9 Rata-rata
Kelebihan berat badan 25 - 29,9
Praobesitas 30 - 39,9 Meningkat
Obesitas >40 Tinggi

2.2.7 Resiko Penderita Obesitas


Obesitas dapat memicu timbulnya beberapa penyakit kronis yang sangat
serius seperti :
1. Resistensi Insulin
Insulin dalam tubuh berguna untuk menghantarkann glukosa sebagai
bahan bakar pembentuk energi kedalam sel. Dengan memindahkan
glukosa kedalam sel maka insulin akan menjaga kadar gula darah tingkat
yang normal. Pada orang obesitas terjadi penumpukan lemak yang tinggi
didalam tubuhnya, sementara lemak sangat resisten terhadap insulin.
Sehingga, untuk menghantarkan glukosa kedalam sel lemak dan menjaga
kadar gula darah tetap normal, pancreas sebagai pabrik insulin, di bagian
pulau-pulau langerhans, memproduksi insulin dalam jumlah yang banyak.
Lama kelamaan, pankreas tidak sanggup lagi memproduksi insulin dalam
jumlah besar sehingga kadar gula darah berangsur naik dan terjadilah apa
yang disebut Diabetes Melitus Tipe 2.
2. Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi sangat umum terjadi pada orang obesitas. Para peneliti di
Norwegia menyebutkan bahwa peningkatan tekanan darah pada
perempuan obesitas lebih mudah terjadi jika dibandingkan dengan laki-
laki. Peningkatan tekanan darah juga mudah terjadi pada orang obesitas
(central obesity, konsentrasi lemak pada perut) bila dibandingkan dengan
mereka yang obesitas non sentral (konsentrasi lemak pada pinggul dan
paha).
3. Serangan Jantung
15

Resiko terkena penyakit jantung koroner pada orang obesitas tiga


sampai empat kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang normal.
Setiap peningkatan 1 kilogram berat badan terjadi peningkatan kematian
akibat penyakit jantung koroner sebanyak 1%.
4. Kanker
Walau masih menuai kontroversi, beberapa penelitian menyebutkan
bahwa terjadi peningkatan resiko terjadinya kanker usus besar, prostat,
kandung kemih dan kanker rahim pada orang gemuk. Pada perempuan
yang telah menopause rawan terjadi kanker payudara. Selain itu, obesitas
juga dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan lain seperti:
Peningkatan kadar kolesterol (hypercholesterolemia), stroke, gagal
jantung, batu empedu, radang sendi(gout), osteoporosis dan gangguan
tidur.
Glukosa tidak bisa dimetabolisme lebih lanjut sebelum diubah oleh
reaksi ATP menjadi glukosa 6-fosfat. Reaksi ini dikatalis oleh enzim 18
heksokinase yang tidak spesifik dan juga oleh enzim glukokinase yang
spesifik di dalam hati. Reaksi ini, dalam arah sebaliknya, hidrolisa
sederhana glukosa 6- fosfat menjadi glukosa, dikatalis oleh glukosa 6-
fosfatase. Glukosa dapat dikonversi menjadi glikogen untuk disimpan di
hati setelah diubah menjadi glukosa 6-fosfat. Glukosa yang tidak
dikonversi menjadi glikogen hati dapat dioksidasi menjadi glikogen otot
atau dikonversi menjadi lemak dan disimpan dalam depot-depot lemak
setelah melalui sirkulasi sistemik jaringan (Murray, 2003). Cadangan
karbohidrat di dalam hati adalah glikogen, glikogen akan melepaskan
glukosa ke sirkulasi jika terjadi penurunan konsentrasi glukosa di dalam
darah. Glikogen otot dikonversi menjadi asam laktat oleh glikolisis
anaerob karena otot tidak memiliki enzim glukosa 6- fosfatase.

Oksidase glukosa atau konversi karbohidrat menjadi lemak dan


protein dapat melalui proses konversi Glukosa 6- fosfat, triosa fosfat, dan
fosfoenol piruvat kemudian diubah menjadi piruvat pada jalur glikolitik
Embden-Mayerhof untuk fosforilasi oksidatif. Selain itu, jalur
16

metabolisme oksidasi glukosa melalui jalur heksosa monofosfat yang


membentuk NADPH2 dan bukan NADH2. Fruktosa dan galaktosa setelah
mengalami fosforilasi oleh fruktokinase dan galaktokinase akan memasuki
jalur metabolisme karbohidrat yang umum dengan pangkalan metabolisme
umum pada siklus krebs dimana residu karbon, protein, karbohidrat, atau
lemak dapat dioksidasi dengan melepaskan energi atau dikonversi dari
bentuk yang satu ke bentuk lainnya (Murray, 2003).
19 Dasar biokimia metabolisme glukosa dan hubungannya dengan
metabolisme protein dan lipid.

2.3 Mekanisme Fisiologis Pengaturan Kadar Gula Darah


Mempertahankan kadar glukosa darah agar tetap dalam keadaan
normal sangatlah penting. Konsentrasi glukosa darah di dalam tubuh perlu
dijaga agar tidak meningkat terlalu tinggi karena glukosa sangat
berpengaruh terhadap tekanan osmotik cairan ekstraseluler, dan bila
konsentrasi glukosa meningkat sangat berlebihan akan dapat menimbulkan
dehidrasi seluler. Kadar konsentrasi glukosa dalam darah yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan keluarnya glukosa dalam air seni. Keadaan-
keadaan tersebut menimbulkan diuresis osmotik oleh ginjal, yang dapat
mengurangi cairan tubuh dan elektrolit (Guyton, 2014).
Mempertahankan kondisi kadar gula agar tetap stabil di dalam darah
merupakan salah satu mekanisme homeostasis. Kadar gula darah harus
selalu dipertahankan agar tetap konstan, hal itu sangat penting karena
meskipun sebagian besar jaringan mampu memanfaatkan lemak dan
protein sebagai sumber energinya pada keadaan hipoglikemi namun
jaringan otak hanya mampu menggunakan glukosa sebagai sumber
energinya. Untuk mempertahankan mekanisme kadar gula darah agar
selalu dalam batas normal diatur oleh hormon insulin dan glukagon.
Insulin memiliki efek dalam meningkatkan ambilan glukosa di jaringan
seperti jaringan adipose dan otot. Sekresi hormon ini dirangsang oleh
keadaan hiperglikemi, kerja insulin ini dipengaruhi oleh peningkatan
17

uptake glukosa melalui (GLUT 4) dari bagian dalam sel membran plasma
(Guyton , 2014).
Adanya uptake glukosa akan mengakibatkan sekitar 54% gula darah
masuk ke dalam intraseluler. Bila konsentrasi glukosa darah tibatiba
meningkat, misalnya setelah makan, sekresi insulin juga akan meningkat
tajam. Dalam 3 – 5 menit setelah makan kadar insulin plasma dapat
meningkat hingga 10 kali dari kadar semula. Sekitar 15 menit kemudian,
kadar insulin bahkan akan meningkat hingga 20-30 kali kadar semula dan
berlangsung hingga beberapa jam. Adanya peningkatan insulin setelah
makan itu, akan membuat kadar glukosa darah tetap terjaga pada kisaran
normal (Sherwood, 2016).
Pemantauan kadar insulin merupakan mekanisme yang utama dalam
pengaturan kadar gula darah. Insulin disekresikan oleh sel beta pankreas,
mekanisme fisiologis sekresi insulin diawali dengan uptake glukosa oleh
GLUT 2 yang terdapat pada membran sel beta pankreas. Selanjutnya,
glukosa akan dikatabolis dalam mitokondria sehingga terbentuk ATP.
ATP akan menyebabkan depolarisasi membran sel kemudian
menyebabkan uptake Ca 2+ .
Melalui mekanisme cAMP, Ca 2+ akan menimbukan degranulasi sel
beta sehingga insulin disekresikan ke dalam sirkulasi (Sandi, 2011). Pada
saat mulai terjadi keadaan hipoglikemia, hormon kontraregulator akan
disekresikan, yaitu glukagon, epinephrin, growth hormone, dan kortisol.
Hormon kontraregulator yang utama ialah glukagon. Glukagon akan
mengaktifkan adenil siklase di membran sel hepatosit dan mengaktifkan
aktivitas enzimatik untuk membentuk fosfoenolpiruvat. Melalui kedua hal
itu glukagon akan menyebabkan terjadinya peningkatan glikogenolisis dan
glukoneogenesis sehingga dalam beberapa menit kadar glukosa darah
dapat meningkat untuk mengatasi hipoglikemi (Sherwood, 2016).
Selain aktivitas glukagon, pada saat hipoglikemi, hipotalamus akan
terstimulasi dan meneruskan respon melalui sistem saraf simpatis. Hormon
epinephrin akan disekresikan sebagai respon stimulus saraf simpatis.
18

Epinephrin merupakan hormon andrenergik yang akan mengakibatkan


peningkatan produksi glukosa di hati. Growth hormone dan hormon
kortisol juga akan disekresikan dan berefek pada peningkatan produksi
gula di hati. Hormon-hormon itulah merupakan faktor-faktor yang
mempertahankan kadar gula darah normal terutama saat hipoglikemi
(Sherwood, 2016).
Studi eksperimental yang telah dilakukan pada hewan coba
menunjukkan bahwa aktivitas hormon-hormon kontraregulator pada
keadaan hipoglikemik dipengaruhi oleh neuron-neuron di ventromedial
hypothalamus (VMH). Pada keadaan hipoglikemik, neuron-neuron VMH
akan menjadi responsif kemudian memproyeksikan stimulus ke area
pituari-adrenal dan sistem simpatis (Soemadji, 2007).
Dalam pengaturan kadar glukosa darah, hati berperan penting sebagai
suatu sistem penyangga. Ketika asupan gula meningkat terutama setelah
makan, sekitar dua pertiga kadar glukosa akan dimobilisasi dan disimpan
di hati dalam bentuk glikogen. Kemudian, selama beberapa jam setelah
makan, ketika kadar glukosa darah mulai berkurang, glukosa akan dilepas
dari hati sehingga fluktuasi glukosa darah tetap terjaga. Penyakit hati akan
mengakibatkan proses untuk menjaga fluktuasi tersebut terganggu
(Guyton, 2014).
2.3.1 Alat Ukur
Untuk mengetahui berapa besar asupan karbohidrat dilakukan dengan
menggunakan metode food recall 24 jam, yaitu dengan mencatat jenis dan
jumlah bahan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Koesioner
terdiri dari 6 pertanyaan yang mengakumulasi waktu saat mengkonsumsi
makanan menjadi waktu makan pagi, waktu makan selingan pagi, waktu
makan siang, waktu makan selingan siang, waktu makan malam, waktu
makan selingan malam. Metode ini dapat memberi gambaran nyata yang
benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat diketahui intake zat gizi
sehari. Kemudian hasil food recall di analisis menggunakan software
19

nutrisoft untuk mengetahui tingkat asupan zat gizi sehingga besaran energi
yang dihasilkan dapat diketahui ( Rozi, 2014).
2.4 Hubungan asupan karbohidrat dengan obesitas
Konsumsi karbohidrat memiliki resiko 4,2 kali lebih tinggi terhadap
obesitas sentral apabila dikonsumsi > 50 gram/hari (Burhan dkk,
2013).Konsumsi makanan manis dapat mengakibatkan peningkatan
lingkar perut dan berat badan. Hal tersebut karena makanan manis
seringkali mengandung tinggi karbohidrat. Selain itu, makanan manis
berkontribusi terhadap peningkatan total energi atau tingginya densitas
energi dan efek rasa lezat makanan manis serta efek lemahnya rasa
kenyang (Drapeau dkk, 2004).
Menurut Bray dkk. (2004), diet fruktosa berhubungan dengan
peningkatan asupan energi berlebih dan berat badan. Peningkatan
konsumsi HFCS (High Fructosa Corn Syrup) yang digunakan dalam
minuman manis berenergi (soft drink) berperan pada peningkatan total
energi dan berkontribusi terhadap epidemi obesitas. Ketidakseimbangan
antara asupan energi (energy intake) dengan kebutuhan gizi memengaruhi
status gizi seseorang. Ketidakseimbangan positif terjadi apabila asupan
energi lebih besar dari pada kebutuhan sehingga mengakibatkan kelebihan
berat badan atau gizi lebih (Guthrie, H. A., 1995).
Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung
lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut
menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini.
Selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan
keseimbangan energy yang positif. Faktor penyebabnya adalah aktivitas
fisik golongan masyarakat rendah, efek toksis yang membahayakan,
kelebihan energi, kemajuan ekonomi, kurang gerak, kurang pengetahuan
akan gizi seimbang, dan tekanan hidup (stress). Akibat dari kelebihan gizi
di antaranya obesitas (energi disimpan dalam bentuk lemak).
2.5 .Kerangka Teori

KARBOHIDRAT
20

DI PECAH OLEH LAMBUNG

GLUKOSA

GLUKOSA DI DALAM DARAH

SEKRESI HORMON INSULIN

GLIKOGEN
KONSUMSI/ASUPAN ENERGI BERLEBIHAN
DI SIMPAN DALAM OTOT

JARINGAN KADAR LEPTIN


ADIPOSA DALAM DARAH

NORMAL ABNORMAL

OBESITAS

Gambar 2.4. Kerangka Teori (Modifikasi dari Guyton and Hall, 2007;
Sherwood,2012; Depkes, 2013).

2.6 Kerangka Konsep

KARBOHIDRAT OBESITAS
21

Gambar 2.5. Kerangka Konsep

2.7 Hipotesis Penelitian

HO : Tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat dengan kejadian obesitas


pada mahasiswa aktif Universitas Malahayati Tahun 2019.

HA : Ada hubungan antar asupan karbohidrat dengan kejadian obesitas pada


mahasiswa aktif Universitas Malahayati Tahun 2019.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
pendekatan cross sectional, dimana objek penelitian hanya diobservasi
sekali dan pengukuran pemeriksaan dengan cara pendekatan serta
pengumpulan data sekaligus pada satu saat (Notoatmodjo, 2012).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Universitas Malahayati.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2020 sampai dengan
selesai.
3.3 Rancangan Penelitian
Racangan penelitian menggunakan cross sectional dipilih karena
pengambilan data dilakukan satu kali pada suatu saat dan bukan
dimaksudkan semua objek diamati tepat pada saat yang sama melainkan
setiap objek diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan pada status
karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan.
3.4 Subjek Penelitian
3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek atau
obyek penelitian yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Dahlan, 2008).
a. Populasi Target
Populasi target adalah seluruh populasi yang diinginkan oleh peneliti
yang berkaitan dengan penelitiannya. Pada penelitiaan ini, populasi target
peneliti adalah mahasiswa yang kuliah Prodi Kedokteran di Universitas
Malahayati tahun 2019 dengan total 1091 mahasiswa.

22
23

b. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah populasi yang dapat di gunakan peneliti
dalam penelitiannya. Dimana populasi tersebut memenuhi kriteria inklusi.
Pada penelitian ini populasi terjangkau yang digunakan peneliti adalah
seluruh mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2017-2018 yang kuliah Prodi
Kedokteran Umum di Universitas Malahayati tahun 2019.
3.4.2 Sampel
Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin yaitu:
N
n= 2
1+ N (d )
328
n=
1+ 328¿ ¿
328
n=
4,28
n = 77
Keterangan:
N : Besar Populasi
n: Sampel
d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,01)
Maka sampel pada penelitian ini adalah 77 orang Mahasiswa aktif
Prodi Kedokteran Umum Universitas Malahayati tahun 2019. Sampel yang
diambil dengan teknik purposive sampling sampai jumlah sampel minimal
terpenuhi.
3.5. Kriteria Penelitian
3.5.1. Kriteria Inklusi:
a. Mahasiswa obesitas Prodi Kedokteran Umum Universitas Malahayati
Bandar Lampung.
b. Mahasiswa yang bersedia menjadi responden.

c. Mahasiswa yang mengalami obesitas.

3.5.2 Kriteria Eksklusi:


24

a. Mahasiswa yang sedang melakukan puasa atau diet pada saat di ambil
sample.
b. Mahasiswa yang tidak hadir saat pengambilan sample.
c. Mahasiswa yang mengalami kecacatan genetik (gangguan
pertumbuhan).

3.6. Alur Penelitian

Tahapan penelitian

Pembuatan proposal, perizinan, koordinasi

Tahapan pelaksanaan

Penyebaran kuesioner dan pengukuran IMT

Pengumpulan data

Tahapan Pengolahan

Analisis menggunakan aplikasi komputer

Hasil Penelitian

Gambar 3.1 Alur Penelitian

3.7 Variabel Penelitian


Pada penelitian ini memiliki dua variabel. Variabel Independen
asupan karbohidrat dan Variabel Dependen obesitas dengan
menggunakan IMT dan pengukuran lingkar pinggang dan lingkar
panggul.
25
26

3.8 Definisi Operasional


Tabel 3.1. Definisi Operasional

Variabel Definisi Alat Cara Hasil Ukur Skala


Operasioanal Ukur ukur
Ukur
Asupan Kebutuhan Food Wawanca 0: Tinggi (jika > Ordinal
karbohidr harian tubuh Recall 24 ra 325 gram)
at akan jam 1 : Rendah (jika
karbohidrat < 325 gram)
yaitu 325 g per
hari
berdasarkan
AKG
Obesitas Hasil Meteran Observasi 0: Obesitas Ordinal
pengukuran dan (IMT > 27)
Indeks Massa timbangan 1: Tidak
Tubuh (IMT) > obesitas
27 (IMT < 27)

3.9 Pengumpulan Data


Pengumpulan data mengguanakan data primer berupa observasi
langsung kepada sampel yang berada di lingkuangan Universitas
Malahayati.
3.10 Pengolahan Data
Beberapa tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk
mendapatakan data yang valid sehingga saat menganalisis data tidak
didapatkan kendala.
3.10.1 Editing
Pemeriksaan data (editing) adalah memeriksa data yang telah
dikumpulkan.
3.10.2 Coding
Pemberian kode pada atribut variabel penelitian untuk memudahkan
dalam entry dan analisis data.
3.10.3 Entering
27

Dilakukan dengan cara memasukkan data yang telah diskor ke dalam


komputer.
3.10.4 Cleaning
Tahapan ini dilakukan pada saat mengumpulkan dan memeriksa
ceklist serta lembar observasi.
3.10.5 Tabulating
Kegiatan mengelompokkan atau menyusun data kedalam tabel yang
dibuat sesuai maksud dan tujuan.
3.11 Analisis Data
3.11.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang

distribusi frekuensi atau besarnya proporsi menurut berbagai karakteristik,

variabel yang diteliti baik variabel independen (asupan karbohidrat) dan

variabel dependen (obesitas).

3.11.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel

dependen dan independen. Hubungan antara variabel independen dengan

variabel dependen digunakan uji statistik Chi Square dengan

menggunakan program computer SPSS (statistical producete and service

solution) tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Berdasarkan hasil uji

tersebut di atas ditarik kesimpulan dengan kriteria sebagai berikut

(Hastono, 2007) :

a. Jika nilai p ≤ α maka Ho ditolak, berarti tidak ada hubungan bermakna

antara variabel dependen dan independen.

b. Jika nilai p > α maka Ho gagal ditolak, berarti ada hubungan bermakna

antara variabel dependen dan independen.


28

c. Analisis keeratan hubungan antara dua variabel (independen dengan

dependen), dengan melihat nilai Odd Ratio (OR).

OR < 1 = Memberikan efek perlindungan

OR = 1 = Tidak ada hubungan

OR > 1 = Ada hubungan sebagai penyebab


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Analisis Univariat

Penelitian Analisa ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi

dan persentase dari masing-masing variabel yaitu kejadian obesitas dan

asupan karbohidrat pada mahasiswa Kedokteran Universitas Malahayati

Bandar Lampung angkatan 2017.

1. Kejadian Obesitas
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden dengan Kejadian Obesitas Pada
Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019.
IMT Jumlah Persentase (%)
Obesitas 27 42,9%
Tidak Obesitas 36 57,1%
Total 60 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa pada kelompok IMT

kategori obesitas sebanyak 27 orang (42,9%) dan IMT kategori tidak

obesitas sebanyak 36 orang (57,1%).

2. Asupan Karbohidrat
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Asupan Karbohidrat
Pada Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019.
Asupan Karbohidrat Jumlah Persentase (%)
Tinggi 44 69,8%
Rendah 19 30,2%
Total 60 100 %

Berdasarkan tabel di atas bahwa distribusi frekuensi responden

berdasarkan asupan karbohidrat tinggi sebanyak 44 orang (69,8%) dan

asupan karbohidrat rendah sebanyak 19 orang (30,2%).

29
4.1.2 Analisis Bivariat

Hasil analisis data untuk mengetahui hubungan asupan

karbohidrat dengan kejadian obesitas pada mahasiswa

Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung angkatan

2017. Sehingga diketahui kemaknaannya dengan menggunakan

uji Chi Square.

Tabel 4.3 Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Kejadian Obesitas


Pada Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019.
Kasus Kontrol OR
Asupan Obesitas Tidak Obesitas p- value
(CI95%)
Karbohidrat
N % N %
Tinggi 26 96,3 % 18 50 % 0,000 26,000
(3,179-
212,626)
Rendah 1 3,7 % 18 50 %
Total 27 100 % 36 100 %

Berdasarkan hasil analisis bivariat dapat diketahui bahwa

responden dengan asupan karbohidrat kategori tinggi yang

mengalami kejadian obesitas sebanyak 26 orang (41,3%)

sedangkan responden dengan asupan karbohidrat kategori tinggi

yang tidak mengalami kejadian obesitas sebanyak 18 orang

(28,55%). Sementara itu responden dengan asupan karbohidrat

kategori rendah yang mengalami kejadian obesitas sebanyak 1

orang (1,6%) dan responden dengan asupan karbohidrat kategori

rendah yang tidak mengalami kejadian obesitas sebanyak 18

orang (28,55%), Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value 0,000

dimana kurang dari nilai kemaknaan yaitu 5% (0,05). hal tersebut

menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara asupan

22
23

karbohidrat dengan kejadian Obesitas. Dari analisis di atas

didapatkan nilai OR = 26,000 yang menunjukkan bahwa

mahasiswa yang asupan karbohidrat kategori tinggi berisiko 26

kali untuk mengalami Obesitas.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian Obesitas Pada

Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019

Menurut hasil penelitian pada mahasiswa kedokteran

Universitas Malahayati Bandar Lampung angkatan 2017

didapatkan nilai pada kelompok kasus, rata-rata IMT responden

adalah 31,73 kg/m2 dengan IMT minimum 28 kg/m2 dan IMT

maksimum 44 kg/m2. Sementara itu, pada kelompok kontrol atau

tidak obesitas, rata-rata IMT adalah 22,18 kg/m 2 dengan IMT

minimum 19 kg/m2 dan IMT maksimum 24 kg/m2. Didapatkan

sebanyak 27 orang dengan kejadian obesitas atau sebagai kasus

(42,9%) yang terdiri dari 3 orang dengan IMT 28 kg/m 2, 5 orang

dengan IMT 29 kg/m2, 2 orang dengan IMT 30 kg/m2, 4 orang

dengan IMT 31 kg/m2, 4 orang dengan IMT 31 kg/m2, 4 orang

dengan IMT 32 kg/m2, 4 orang dengan IMT 34 kg/m2, 2 orang

dengan IMT 37 kg/m2,1 orang dengan IMT 38 kg/m2, 1 orang

dengan IMT 40 kg/m2, 1 orang dengan IMT 44 kg/m2 atau dapat


24

dikategorikan bahwa sebanyak sebanyak 27 orang dengan

kejadian obesitas tingkat berat (>27,0 kg/m2) dan sebanyak 38

orang tidak obesitas atau sebagai kontrol (50%).

Menurut Sudikno (2008) obesitas terjadi karena faktor

internal dan eksternal. Faktor internal penyebab obesitas di

antaranya genetik dan endokrin, dan faktor eksternal penyebab

obesitas di antaranya gaya hidup atau tingkah laku dan

lingkungan. Disisi lain dampak obesitas dapat mempengaruhi

konsep diri seorang mahasiswa kesehatan khususnya kedokteran,

salah satunya peran mahasiswa kesehatan dimata masyarakat

(Reppi, 2015). Contohnya seorang mahasiswa kedokteran yang

memberikan penyuluhan mengenai pola aktivitas dan pola makan

kepada masyarakat umum, tetapi yang menyampaikan penyuluhan

tersebut seorang mahasiswa yang memiliki badan gemuk atau

obesitas, hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kepercayaan

masyarakat terhadap penyuluhan yang disampaikan mahasiswa

tersebut. Hal tersebut mempunyai arti bahwa seorang mahasiswa

kedokteran tidak hanya mempunyai wawasan ilmu pengetahuan

yang luas, tetapi juga harus bisa menjadi panutan bagi masyarakat

dalam berperilaku sehat (Asmadi, 2008).

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Asupan Karbohidrat Pada

Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019

Menurut hasil penelitian pada mahasiswa kedokteran


25

Universitas Malahayati Bandar Lampung angkatan 2017 diketahui

bahwa mahasiswa yang memiliki asupan karbohidrat kategori

tinggi lebih banyak dari asupan karbohidrat kategori rendah. Dari

63 responden sebanyak 44 orang (69,8%) memiliki asupan

karbohidrat kategori tinggi dan asupan karbohidrat kategori

rendah sebanyak 19 orang (30,2%).

Hasil analisa dari kelompok obesitas (kasus), sebanyak 26

orang memiliki asupan karbohidrat kategori tinggi. Artinya

sebagian besar mahasiswa dengan kejadian obesitas memiliki

kebiasaan mengkonsumsi asupan karbohidrat yang tinggi. Pola

makan yang kurang baik sangat berpengaruh terhadap kejadian

obesitas seseorang. Rendahnya konsumsi akan buah – buahan,

sayuran, kacang – kacangan, sereal gandum dan susu bebas lemak

adalah faktor pola makan yang menyebabkan obesitas (Silveira et

al., 2016). Dalam hal pola makan, terungkap bahwa asupan

karbohidrat yang tinggi merupakan variabel yang sangat

menentukan terjadinya obesitas (Mokolensang et al., 2016).

4.2.3 Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Kejadian Obesitas Pada

Mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019

Berdasarkan hasil uji statistik chi square hubungan antara

asupan karbohidrat dengan kejadian obesitas diperoleh nilai p

adalah 0.000. Karena p <0.05 maka secara statistik terdapat

hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dengan


26

kejadian obesitas pada mahasiswa kedokteran Universitas

Malahayati Bandar Lampung angkatan 2017. Diketahui bahwa

responden dengan asupan karbohidrat kategori tinggi yang

mengalami kejadian obesitas sebanyak 26 orang (41,3%).

Responden dengan asupan karbohidrat kategori tinggi yang tidak

mengalami kejadian obesitas sebanyak 18 orang (28,55%),

responden dengan asupan karbohidrat kategori rendah yang

mengalami kejadian obesitas sebanyak 1 orang (1,6%) sedangkan

responden dengan asupan karbohidrat kategori rendah yang tidak

mengalami kejadian sebanyak 18 orang (28,55%).

Pada penelitian ini terdapat responden dengan asupan

karbohidrat kategori tinggi yang mengalami kejadian obesitas

sebanyak 26 orang (6,7%) dikarenakan obesitas dapat dipengaruhi

berbagai faktor , seperti faktor aktifitas fisik yaitu seseorang

dengan aktivitas fisik yang kurang, faktor lingkungan yaitu

perilaku atau pola gaya hidup seseorang apa yang dimakan dan

beberapa kali makan dan faktor psikososial yaitu apa yang ada

dalam pikiran seseorang dapat mempengaruhi kebiasaan

makannya (Proverawati, 2010). Jadi, asupan makanan yang

mengandung karbohidrat merupakan salah satu faktor yang

menyebabkan timbulnya obesitas pada remaja.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Fatimawali (2016) bahwa adanya hubungan asupan karbohidrat


27

dengan kejadian obesitas pada siswa SMA Negeri 1 dan SMA

Negeri 2 Kota Bitung Obesitas terutama disebabkan oleh faktor

[Link] faktor lingkungan terutama terjadi melalui

ketidakseimbangan antara pola makan dan perilaku makan. Hal ini

terutama berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang mengarah

pada sedentary life style. Keadaan ini disebabkan oleh karena

makanan berkarbohidrat mempunyai energi density lebih besar

dan lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek

termogenesis yang lebih kecil. Makanan berlemak juga

mempunyai rasa yang sangat lezat sehingga akan meningkatkan

selera makan yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya

konsumsi yang berlebihan.

4.3 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini telah diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan

prosedur ilmiah, namum demikian masih memiliki keterbatasan

yaitu adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan

kuisioner Food Recall yaitu pada data asupan karbohidrat,

terkadang jawaban yang diberikan oleh sampel tidak menunjukan

keadaan sesungguhnya dan kemungkinan terjadi kesalahan dalam

mencatat berat badan dan tinggi badan responden.


28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan :

1. Responden yang memiliki asupan karbohidrat kategori tinggi sebanyak

26 orang (41,3%) yang mengalami obesitas dan responden yang tidak

obesitas sebanyak 18 orang (28,55%).

2. Ada hubungan yang bermakna asupan karbohidrat dengan kejadian

obesitas pada mahasiswa Universitas Malahayati Tahun 2019 dengan

nilai p sebesar 0,000. Dari analisis di atas didapatkan nilai OR = 26,00

yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki asupan

karbohidrat kategori tinggi berisiko 26 kali untuk mengalami kejadian

obesitas.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Responden

Responden yang rentan akan risiko obesitas sebaiknya diberi

edukasi dengan media yaitu untuk memperbaiki berat badan dan perlu

adanya suatu sosialisasi pola hidup sehat. Khususnya yang mempunyai

riwayat keturunan, konsumsi karbohidrat yang tinggi memiliki resiko

terjadinya obesitas sehingga perlu adanya penilaian status gizi pada remaja

untuk dapat mendeteksi kejadian obesitas lebih awal untuk dapat

melakukan tindakan pencegahan sehingga mencegah terjadinya obesitas

dan penyakit yang berkaitan dengan sindrom metabolik.


29

5.2.2 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai

data awal atau perbandingan untuk melanjutkan peneliti selanjutnya

yaitu meneliti faktor risiko lain yang dapat memicu kejadian obesitas

pada mahasiswa dengan jumlah subjek penelitian yang lebih banyak ,

metode yang berbeda dan tempat penelitian yang berbeda.


30

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, 2002. BAB 2 TINJSUAN PUSTAKA 2.1 Definisi obesitas
[Link]>bitstream>handle di akses tnggal 15 november
2019 jam 13:09
Bray, G. A.,dkk. (2004). Consumption of high-fructose corn syrup in beverages
may play a role in the epidemic of obesity. The American journal of
clinical nutrition, 79(4), 537-543.
Drapeau, et al. 2004. Modifications in food-group consumption are related to
long-term body-weight changes. Am J Clin Nutr. 80:29-37.
Darmoutomo, 2007. BAB 2 TINJSUAN PUSTAKA 2.1 Definisi obesitas
[Link]>bitstream>handle di akses tnggal 15 november
2019 jam 13:30
Despres, 2013. BAB II TINJAUAN [Link] [Link]
[Link]> di akses tanggal 16 november 2019 15:20
Graha, C, K., 2010, 100 Question and Answer: Kolesterol, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta, pp. 147-148.
Hidayat, A., 2008, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan, Salemba Medika, Jakarta, hal.42-43.
Hardinsyah & Supariasa. (2017). Ilmu Gizi Teori dan Aplikasinya. Jakarta: EGC.
Listyana, A.D., Mardiana, Prameswari, G.N., 2013, Obesitas Sentral dan
Kadar Kolestrol, Kemas, 9(1), 38.
Mustain, W., Davenport, D., Hourigan, J., & Vargas, H. (2010, April). OBESITY
AND LAPAROSCOPIC COLECTOMY: POSTOPERATIVE
OUTCOMES USING THE ACS-NSQIP DATASET. In DISEASES OF
THE COLON & RECTUM (Vol. 53, No. 4, pp. 681-681). 530 WALNUT
ST, PHILADELPHIA, PA 19106-3621 USA: LIPPINCOTT WILLIAMS
& WILKINS.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: [Link]
Cipta.
Pritasari, 2006. BAB 2 TINJSUAN PUSTAKA 2.1 Definisi obesitas
[Link]>bitstream>handle di akses tnggal 15 november
2019 jam 13:00
Sugondo, S. 2014. Obesitas. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, et al.,
penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi VI.
Jakarta:Internal Publishing. Hlm 2558-68
31

Sudargo & Rosiyani. (2016). Pola Makan dan Obesitas. Jakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sandjaja, 2009. Kamus gizi: pelengkap kesehatan keluarga
[Link] di akses tanggal 16 november 2019 jam
13:12
Sherwood 2012. BAB II tinjauan [Link] [Link] pbesitas
digilib,[Link]> diakses tanggal 16 november 2019 jam 14:01
Sylvia, 2006. 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 asupan karbohidrat 2.1.1
[Link] di akses pada tanggal 16 novembber 2019
jam 15:59
Sunarti dan Maryani, 2013. BAB II TINJAUAN [Link] [Link]
[Link]> di akses tanggal 16 november 2019 jam 15:00
Syarif, 2002. BAB 2 TINJSUAN PUSTAKA 2.1 Definisi obesitas
[Link]>bitstream>handle di akses tnggal 15 november
2019 jam 13:00
WHO 2019. 2,2 miliar penduduk dunia alami obesitas-NET
[Link] penduduk dunia alami obesitas
di akses pada tanggal 16 november 2019 jam 13:05
1

Anda mungkin juga menyukai