Carpal Tunnel Syndrome (Kompetensi 3A)
Manifestasi Klinis
Gejala klinis menurut Grafton (2009):
1. Mati rasa, rasa terbakar, atau kesemutan di jari-jari dan telapak tangan
2. Nyeri ditelapak, pergelangan tangan atau lengan bawah, khususnya selama
penggunaan
3. Penurunan cengkraman kekuatan
4. Kelemahan dalam ibu jari
5. Sensasi jari bengkak (ada/tidak terlihat bengkak)
6. Kesulitan membedakan antara panas dan dingin.
Diagnosis
Anamnesis
Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja. Gangguan motorik
hanya terjadi pada keadaan yang berat. Gejala awal biasanya berupa parestesia, kurang merasa
(numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari 1-3 dan setengah sisi radial
jari 4 sesuai dengan distribusi sensorik nervus medianus walaupun kadang-kadang dirasakan
mengenai seluruh jari-jari. Keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala
lainnya adalah nyeri di tangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam hari sehingga sering
membangunkan penderita dari tidurnya. Rasa nyeri ini umumnya agak berkurang bila penderita
memijat atau menggerak-gerakkan tangannya atau dengan meletakkan tangannya pada posisi
yang lebih tinggi. Nyeri juga akan berkurang bila penderita lebih banyak mengistirahatkan
tangannya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan perhatian
khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom tangan. Beberapa pemeriksaan dan tes
provokasi yang dapat membantu menegakkan diagnosa CTS adalah:
• Thenar wasting: Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan adanya atrofi otototot
thenar.
• Menilai kekuatan dan ketrampilan serta kekuatan otot secara manual maupun dengan
alat dynamometer
• Pemeriksaan sensibilitas: Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik (two-point
discrimination) pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus medianus, tes dianggap positif dan
menyokong diagnosis
• Pemeriksaan fungsi otonom: Pada penderita diperhatikan apakah ada perbedaan
keringat, kulit yang kering atau licin yang terbatas pada daerah inervasi nervus medianus. Bila
ada akan mendukung diagnosis CTS.
• Phalen's test: Penderita diminta melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila dalam
waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS, tes ini menyokong diagnosis. Beberapa penulis
berpendapat bahwa tes ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosis CTS.
• Torniquet test: Pada pemeriksaan ini dilakukan pemasangan tomiquet dengan
menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di atas tekanan sistolik. Bila dalam
1 menit timbul gejala seperti CTS, tes ini menyokong diagnosis.
• Tinel's sign: Tes ini mendukung diagnosis bila timbul parestesia atau nyeri pada daerah
distribusi nervus medianus jika dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan
sedikit dorsofleksi.
• Flick's sign: Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau menggerakgerakkan jari-
jarinya. Bila keluhan berkurang atau menghilang akan menyokong diagnosis CTS. Harus diingat
bahwa tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud.
• Wrist extension test: Penderita diminta melakukan ekstensi tangan secara maksimal,
sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan. Bila dalam 60
detik timbul gejala-gejala seperti CTS, maka tes ini menyokong diagnosis CTS.
• Pressure test: Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan menggunakan ibu
jari. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul gejala seperti CTS, tes ini menyokong
diagnosis.
• Luthy's sign (bottle's sign): Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya
pada botol atau gelas. Bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan
rapat, tes dinyatakan positif dan mendukung diagnosis
• Dari pemeriksaan provokasi diatas Phalen test dan Tinel test adalah tes yang
patognomonis untuk CTS.
Pemeriksaan penunjang
• Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)
Pemeriksaan Elektromiografi (EMG) dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik,
gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar. Pada beberapa
kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot lumbrikal. EMG bisa normal pada 31% kasus CTS.
• Kecepatan Hantar Saraf (KHS)
Pada 15-25% kasus, KHS bisa normal. Pada yang lainnya KHS akan menurun dan masa
laten distal (distal latency) memanjang, menunjukkan adanya gangguan pada konduksi saraf di
pergelangan tangan. Masa laten sensorik lebih sensitive dari masa laten motorik.
• Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat apakah ada
penyebab lain seperti fraktur atau artritis. Foto polos leher berguna untuk menyingkirkan adanya
penyakit lain pada vertebra. Ultrasonografi (USG), CT-scan dan MRI dilakukan pada kasus yang
selektif terutama yang akan dioperasi. USG dilakukan untuk mengukur luas penampang dari
saraf median di carpal tunnel proksimal yang sensitif dan spesifik untuk carpal tunnel syndrome.
• Pemeriksaan Laboratorium
Bila etiologi CTS belum jelas, misalnya pada penderita usia muda tanpa adanya gerakan
tangan yang repetitif, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan seperti kadar gula darah, kadar
hormon tiroid ataupun darah lengkap.
Diagnosis banding
• Cervical radiculopathy. Biasanya keluhannya berkurang bila leher diistirahatkan dan
bertambah bila leher bergerak. Distribusi gangguan sensorik sesuai dermatomnya.
• Thoracic outlet syndrome. Dijumpai atrofi otot-otot tangan lainnya selain otototot
thenar. Gangguan sensorik dijumpai pada sisi ulnaris dari tangan dan lengan bawah.
• Pronator teres syndrome. Keluhannya lebih menonjol pada rasa nyeri di telapak tangan
daripada CTS karena cabang nervus medianus ke kulit telapak tangan tidak melalui terowongan
karpal.
• de Quervain's syndrome. Tenosinovitis dari tendon muskulus abduktor pollicis longus
dan ekstensor pollicis brevis, biasanya akibat gerakan tangan yang repetitif. Gejalanya adalah
rasa nyeri dan nyeri tekan pada pergelangan tangan di dekat ibu jari. KHS normal. Finkelstein's
test : palpasi otot abduktor ibu jari pada saat abduksi pasif ibu jari, positif bila nyeri bertambah.
Tatalaksana
A. Konservatif
• Istirahatkan pergelangan tangan.
• Obat anti inflamasi non steroid.
• Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai dapat dipasang terus-
menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu.
• Nerve Gliding, yaitu latihan terdiri dari berbagai gerakan (ROM) latihan dari
ekstremitas atas dan leher yang menghasilkan ketegangan dan gerakan membujur sepanjang
saraf median dan lain dari ekstremitas atas. Latihan-latihan ini didasarkan pada prinsip bahwa
jaringan dari sistem saraf perifer dirancang untuk gerakan, dan bahwa ketegangan dan meluncur
saraf mungkin memiliki efek pada neurofisiologi melalui perubahan dalam aliran pembuluh
darah dan axoplasmic. Latihan dilakukan sederhana dan dapat dilakukan oleh pasien setelah
instruksi singkat.
• Injeksi steroid. Deksametason 1-4 mg/ml atau hidrokortison 10-25 mg atau
metilprednisolon 20-40 mg diinjeksikan ke dalam terowongan karpal dengan menggunakan
jarum no.23 atau 25 pada lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah
medial tendon muskulus palmaris longus dengan membentuk sudut 300 Sementara suntikan
dapat diulang dalam 7 sampai 10 hari untuk total tiga atau empat suntikan,. Tindakan operasi
dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan.
Suntikan harus digunakan dengan hati-hati untuk pasien di bawah usia 30 tahun.
• Vitamin B6 (piridoksin). Beberapa penulis berpendapat bahwa salah satu penyebab CTS
adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka menganjurkan pemberian piridoksin 100-300
mg/hari selama 3 bulan. Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian
piridoksin tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila diberikan dalam dosis
besar. Namun pemberian dapat berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri.
• Fisioterapi. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan.
B. Operatif
Operasi hanya dilakukan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi
konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar.
Pasien disarankan menggerakkan jari-jari setelah operasi. Wrist motion dimulai dalam minggu
pertama. Nyeri pada insisi sering mencegah pasien untuk melakukan gerakan wrist secara penuh
dalam 4-8 minggu pertama.
Edukasi
Berperan aktif dalam pengobatan, mengurangi pergerakan pergelangan tangan.
Komplikasi
Apabila tidak segera ditangani dengan baik maka jari-jari menjadi kurang terampil
misalnya saat memungut benda-benda kecil. Kelemahan pada tangan juga sering dinyatakan
dengan keluhan adanya kesulitan yang penderita sewaktu menggenggam. Pada tahap lanjut dapat
dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang diinervasi oleh N. medianus.
Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang
persisten di daerah distribusi nervus medianus. Komplikasi yang paling berat adalah reflek
sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri hebat, hiperalgesia, disestesia dan gangguan
trofik.
Prognosis
Pada kasus CTS ringan, dengan terapi konservatif umumnya prognosa baik. Bila keadaan
tidak membaik dengan terapi konservatif maka tindakan operasi harus dilakukan. Secara umum
prognosa operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya dilakukan pada penderita yang sudah
lama menderita CTS penyembuhan post operatifnya bertahap. Sekalipun prognosis CTS dengan
terapi konservatif maupun operatif cukup baik, tetapi risiko untuk kambuh kembali masih tetap
ada. Bila terjadi kekambuhan, prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi
kembali.