0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan8 halaman

Pendidikan Karakter Religius di SD Budi Mulia

Dokumen ini membahas implementasi pendidikan karakter religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul. Penelitian ini menemukan bahwa strategi pendidikan karakter religius yang dilakukan guru meliputi keteladanan, pembelajaran yang mengintegrasikan materi dengan nilai-nilai agama, pemberdayaan melalui kegiatan ekstrakulikuler dan tata tertib sekolah, penguatan melalui pemberian pengertian dan motivasi, serta penilaian melalui pengam

Diunggah oleh

zacky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan8 halaman

Pendidikan Karakter Religius di SD Budi Mulia

Dokumen ini membahas implementasi pendidikan karakter religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul. Penelitian ini menemukan bahwa strategi pendidikan karakter religius yang dilakukan guru meliputi keteladanan, pembelajaran yang mengintegrasikan materi dengan nilai-nilai agama, pemberdayaan melalui kegiatan ekstrakulikuler dan tata tertib sekolah, penguatan melalui pemberian pengertian dan motivasi, serta penilaian melalui pengam

Diunggah oleh

zacky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Implementasi Pendidikan Karakter Religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul

Refi Swandar
Universitas PGRI Yogyakarta
Refiupy303@[Link]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter religius serta faktor
penghambat dan pendukungnya di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul.
Penelitian ini dilaksanakan di bulan Juli-Agustus 2017 di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru agama, guru kelas
dan siswa di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantul. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi
sumber dan triangulasi teknik.
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pendidikan karakter religius
yang dilakukan guru di sekolah yaitu melalui keteladanan dilakukan dengan guru memberikan contoh,
pengertian, nasihat kepada siswa, pembelajaran dilakukan dengan guru mengaitkan materi dengan aspek
religius, pemberdayaan dan pembudayaan dilakukan dengan penerapan tata tertib sekolah dan kegiatan
ekstrakulikuler, penguatan dilakukan dengan guru memberikan pengertian, pujian dan motivasi siswa,dan
penilaian dilakukan dengan mengamati sikap siswa. Faktor pendukungnya yaitu dari diri siswa, kebiasaan,
lingkungan sekolah dan sarana prasarana sekolah. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu diri siswa, peran
orang tua dan sarana prasarana sekolah.

Kata kunci: implementasi, pendidikan karakter, religius

ABSTRACT

This study aims to determine the implementation of religious character education as well as
inhibit factors and supported factor in Budi Mulia Dua Sedayu Bantul Elementary School.
This research is conducted in July-August 2017 at Budi Mulia Dua Sedayu Bantul Elementary
School. This research is qualitative research. The subjects of this study are principals, religious teachers,
class teachers and students in Budi Mulia Dua Sedayu Bantul Elementary School. Data collection in this
study used observation, interview, documentation and questionnaire. The validity checks of data use source
triangulation and engineering triangulation.
Based on the results of research can be concluded that the strategy of religious character
education conducted by teachers in the school is through exemplary done by teachers provide examples,
understanding, advice to students, learning is done with teachers linking the material with religious aspects,
empowerment and culture done by applying school and extracurricular activities, the reinforcement is done
with the teacher giving understanding, praise and student motivation, and the assessment is done by
observing the student's attitude. The supporting factors are student self, habit, school environment and
school infrastructure. While the inhibit factors are student self, parent role and school infrastructure.

Keywords: implementation, character education, religious


PENDAHULUAN proses pendidikan, yaitu: pendidikan karakter
Karakter merupakan hal yang sangat berbasis nilai religius, pendidikan karakter
penting dan mendasar. Karakter adalah mustika berbasis nilai budaya, pendidikan karakter
hidup yang membedakan manusia dengan berbasis lingkungan, dan pendidikan karakter
manusia lainnya. Dewasa ini, banyak sekali berbasis potensi diri. Penanaman nilai karakter
kasus-kasus degradasi moral yang terjadi di dapat dimulai paling pertama adalah melalui
Indonesia. Salah satunya adalah krisis dalam pendidikan karakter berbasis nilai religius.
dunia pendidikan. Banyak kalangan pelajar yang Pendidikan karakter berbasis nilai religius ini
sering membolos, mencontek ketika ujian atau mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat
ulangan harian, berkelahi dengan teman dan dalam agama. Melalui kajian agama diajarkan
sebagainya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tentang sebuah kebenaran dari wahyu Tuhan
penanaman karakter pada peseta didik. Melihat sehingga masing-masing individu mutlak
kejadian tersebut maka sangat diperlukannya memercayainya. Pendidikan karakter berbasis
penanaman karakter sejak dini. Penanaman nilai- nilai religius dapat memperbaiki dari setiap segi
nilai karakter dapat dimulai dari lingkungan tindakan serta pola perilaku individu yang
keluarga, sekolah, dan masyarakat. mengarah pada tata karma dan nilai kesopanan.
Maraknya kasus-kasus degradasi moral, Oleh karenanya, pendidikan karakter berbasis
krisis dalam dunia pendidikan dan krisis-krisis nilai religius menjadi salah satu upaya dalam
yang lain, menyadarkan pemerintah bahwa krisis rangka mengatasi degradasi moral yang terjadi
berkepanjangan yang terjadi pada saat ini pada generasi penerus di Indonesia.
berakar dan bersumber dari krisis karakter, Di sekolah sendiri, penerapan nilai–nilai
sehingga strategi implementasi nilai karakter religius pada anak adalah tanggung jawab guru
yang paling utama melalui sektor pendidikan. pendidikan agama. Melalui materi pendidikan
Untuk itu pemerintah menyiapkan berbagai agama, guru agama mengajarkan bagaimana
kebijakan tekait dengan penguatan pendidikan bersikap sesuai dengan ajaran agama yang
karakter. Hal ini dapat dilihat dari rencana dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
pemerintah menerapkan kurikulum baru tahun Penanaman nilai-nilai religius melalui pendidikan
2013. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada agama juga menjadi salah satu upaya dalam
pengembangan karakter disamping ketrampilan rangka membentuk karakter religius pada peserta
dan kemampuan kognitif. Hal ini sejalan dengan didik. Religius sendiri tidak hanya menyangkut
maksud Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 kepada persoalan hubungan manusia dengan
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mana Tuhan Yang Maha Esa, melainkan juga
pendidikan nasional harus berfungsi secara menyangkut persoalan hubungan manusia
optimal sebagai wahana utama dalam pembangu dengan sesama manusia, dan hubungan
nan bangsa dan karakter. manusia dengan alam sekitar.
Dalam Bab II Pasal 3 UU Nomor 20 tahun SD Budi Mulia Dua Sedayu merupakan SD
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional swasta milik yayasan Ahmad Hanafi Rais. SD ini
menyebutkan bahwa pendidikan nasional merupakan salah satu SD yang berkarakter
berfungsi mengembangkan kemampuan dan religius islam. Visi SD ini yaitu mendampingi anak
membentuk karakter serta peradaban bangsa dalam belajar dan mengembangkan potensinya
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia dan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk terampil. Berdasarkan observasi yang dilakukan,
berkembangnya potensi peserta didik agar salah satu bentuk kegiatan yang menunjukkan
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa pelaksanaan nilai religius yang ada di SD Budi
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, Mulia Dua Sedayu yaitu melakukan sholat dhuhur
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi berjamaah yang diikuti oleh semua siswa kelas I
warga negara yang demokratis serta sampai VI, selain itu siswa di SD ini juga sering
bertanggung jawab. Berdasarkan UU Nomor 20 mengikuti lomba keagamaan dan selalu
tahun 2003 maka pendidikan karakter menjadi mendapatkan juara, diantarnya juara 1 MTQ se-
sebuah pembelajaran yang wajib kecamatan Sedayu, juara 1 qiroah se-kecamatan
diinternalisasikan sejak dini di semua jenjang Sedayu, juara 2 pidato se-kecamatan Sedayu,
pendidikan termasuk dari tingkat dasar sampai juara 2 adzan se-kecamatan Sedayu, juara 3
perguruan tinggi. saritilawah se-kecamatan Sedayu, juara 1 MTQ
Menurut Yahya Khan (Jamal Ma’aruf se-DIY JATENG, dan juara 3 adzan se-DIY
Asmani, 2011:64), terdapat empat jenis karakter JATENG.
yang selama ini dikenal dan dilaksanakan dalam
Penelitian yang dilakukan Annis Titi Utami charassein yang artinya mengukir corak yang
(2014:7) yang berjudul pelaksanaan nilai religius tetap dan tidak terhapuskan. Istilah karakter
dalam pendidikan karakter di SD Negeri 1 dalam bahasa Inggris (character) artinya
Kutowinangun Kebumen, menyebutkan bahwa mengukir, melukis, memahatkan atau
(1) persepsi guru tentang pentingnya nilai religius menggoreskan. Dalam bahasa Indonesia
dalam pendidikan karakter merupakan salah satu “karakter” diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat
sumber yang melandasi pendidikan karakter dan kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
sangat penting untuk ditanamkan kepada siswa membedakan seseorang dengan yang lain. Arti
sejak dini karena dengan bekal keagamaan yang karakter secara kebahasaan yang lain adalah
yang kuat sejak dini akan memperkokoh pondasi huruf, angka, ruang atau symbol khusus yang
moral siswa di masa depan. (2) Peran sekolah dapat dimunculkan pada layar dengan papan
dalam mendukung pelaksanaan nilai karakter ketik. Artinya, orang yang berkarakter adalah
religius dalam pendidikan karakter yaitu orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat,
menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan, bertabiat, atau berwatak tertentu dan watak
memberikan izin kepada guru untuk mengadakan tersebut yang membedakan dirinya dengan
suatu program kegiatan, mendukung adanya orang lain.
kegiatan-kegiatan yang ada di luar sekolah, serta Menurut Syamsul Kurniawan (2016: 29)
memberikan teladan yang baik bagi siswa. (3) karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia
Pelaksanannya melalui program pengembangan yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri
diri yang terdiri dari kegiatan-kegiatan rutin yang sendiri, sesame manusia, lingkungan dan
ada di sekolah, kegiatan spontan yang dilakukan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
guru pada siswa, keteladanan yang diberikan perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan
guru, dan pengkondisian sekolah yang diciptakan norma-norma, agama, hokum, tata karma,
sedemikian rupa. Pelaksanaan melalui mata budaya dan adat istiadat. Individu yang
pelajaran dengan cara menyisipkannya dalam berkarakter baik atau unggul adalah seseorang
materi pelajaran atau pesan-pesan moral. yang berusaha melakukan hal yang baik
Pelaksanaan melalui budaya sekolah yang terdiri terhadap Tuhan YME, dirinya, sesame,
dari budaya yang ada di kelas, sekolah, dan luar lingkungan, bangsa dan negara dengan
sekolah. mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya
Fokus penelitian ini adalah implementasikan dan disertai dengan kesadaran, emosi dan
pendidikan karakter religius di SD Budi Mulia Dua perasaannya.
Sedayu Bantul, faktor pendukung dan Dari beberapa pengertian diatas, dapat
penghambat implementasi, dengan rumusan disimpulkan bahwa karakter adalah nilai-nilai
masalahnya yaitu bagaimana implementasikan universal perilaku manusia yang meliputi seluruh
pendidikan karakter religius pada peserta didik di aktivitas kehidupan, baik yang berhubungan
SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantu, serta apa dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia,
yang menjadi faktor pendukung dan penghambat maupun dengan lingkungan yang terwujud dalam
implementasikan pendidikan karakter religius di pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan
SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantu. Tujuan perbuatan yang membedakan manusia satu
penelitian ini adalah untuk mengetahui dengan manusia lainnya.
bagaimana implementasikan pendidikan karakter Pendidikan Karakter
religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu Bantu dan Pendidikan karakter adalah suatu
untuk mengetahui apa yang menjadi faktor system penanaman nilai-nilai karakter kepada
pendukung dan penghambat implementasikan warga sekolah yang meliputi komponen
pendidikan karakter religius di SD Budi Mulia Dua pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan
Sedayu Bantu. Manfaat penelitian adalah tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
sebagai sumber informasi dan referensi bagi Menurut Thomas Lickona (Retno Listyarti,
banyak kalangan baik kepala sekolah, guru 2012:8) pendidikan karakter adalah perihal
maupun mahasiswa, dan memberikan menjadi sekolah karakter, dimana sekolah adalah
pengetahuan tentang implementasikan tempat terbaik untuk menanamkan karakter.
pendidikan karakter religius pada peserta didik di Adapun proses pendidikan karakter itu sendiri
sekolah. didasarkan pada totalitas psikologis yang
KAJIAN TEORI mencakup seluruh potensi individu manusia
Karakter (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan fungsi
Menurut Suyadi (2013:5), karakter totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi
(Inggris:character) berasal dari istilah Yunani,
dalam keluarga, satuan pendidikan dan Menurut Daryanto & Suryanti
masyarakat. (2013:134) karakter religius adalah sikap dan
Menurut Zubaedi (2011:25) pendidikan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, agama yang dianutnya, toleran terhadap
yang intinya merupakan program pengajaran pelaksanaan ibadah agama lain serta hidup
yang bertujuan mengembangkan watak dan rukun dengan pemeluk agama lainnya. Kemudian
tabiat peserta didik dengan cara menghayati dari pengertian tersebut dikembangkan menjadi
nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai beberapa indikator, menurut Annis Titi Utami
kekuatan moral dalam kehidupanya melalui (2014:22-23), aspek sikap dan perilaku yang
kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang
sama yang menekankan ranah afektif dianutnya dapat dijabarkan kembali menjadi
(perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah indikator-indikator seperti melakukan sholat,
kognitif (berpikir rasional) dan ranah skill berpuasa, membayar zakat. Aspek toleran
(keterampilan, keterampilan mengolah data, terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dapat
mengemukakan pendapat dan kerja sama). dijabarkan menjadi beberapa indikator seperti
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat memberi kesempatan siswa untuk melakukan
disimpulkan bahwa pendidikan karakter yang ibadah, saling menghargai teman yang sedang
dimaksud disini adalah pendidikan dengan melakukan ibadah. Aspek hidup rukun dengan
proses membiasakan anak melatih sifat-sifat baik pemeluk agama lain dapat dijabarkan menjadi
yang ada dalam dirinya sehingga proses tersebut indikator seperti tidak membeda-bedak teman
dapat menjadi kebiasaan dalam diri anak. Dalam yang beragama lain, hidup rukun dengan semua
pendidikan karakter tidak hanya bertujuan untuk teman, memberi salam kepada semua orang
mencerdaskan anak dalam aspek kognitif saja, ketika sedang bertemu.
akan tetapi juga melibatkan emosi dan spiritual, Daryanto & Suryatri (2013:134) menyatakan
tidak sekedar memenuhi otak anak dengan ilmu bahwa indikator sekolah dalam karakter religius
pengetahuan saja, tetapi pendidikan karakter adalah merayakan hari-hari besar keagamaan,
merupakan upaya-upaya yang dirancang dan memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk
dilaksanakan secara sistematis untuk membantu beribadah, memberikan kesempatan kepada
peserta didik memahami nilai-nilai perilaku semua siswa untuk melaksanakan ibadah.
manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Indikator kelas religius yaitu berdoa sebelum dan
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia serta sesudah pelajaran dan memberikan kesempatan
lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, kepada semua peserta didik untuk melaksanakan
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan ibadah.
norma agama, hukum, tata krama budaya dan Dari beberapa pengertian diatas dapat
adat istiadat. disimpulkan bahwa religius adalah sikap
Religius seseorang terhadap tuhan, dimana orang
Retno Listyarti (2012:5) menyatakan tersebut selalu patuh dengan ajaran agamanya.
bahwa religius adalah proses mengikat kembali Nilai-nilai religius dapat diajarkan kepada peserta
atau bisa dikatakan dengan tradisi, sistem yang didik di sekolah melalui beberapa kegiatan yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan sifatnya religius. Kegiatan religius akan
peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa membawa peserta didik di sekolah pada
serta tata kaidah yang berhubungan dengan pembiasaan berperilaku religius. Selanjutnya,
pergaulan manusia dan manusia serta perilaku religius akan menuntun peserta didik di
lingkungannya. Sedangkan Syamsul Kurniawan sekolah untuk bertindak sesuai moral dan etika.
(2016:127-128) menyatakan bahwa seseorang Strategi Pendidikan Karakter
disebut religius ketika ia merasa perlu dan Strategi pendidikan karakter menurut
berusaha mendekatkan dirinya dengan Tuhan Daryanto & Suryatri (2013:103-126) terbagi
(sebagai penciptanya), dan patuh melaksanakan menjadi lima strategi,yaitu: keteladanan,
ajaran agama yang dianutnya. Nilai-nilai religius pembelajaran, pemberdayaan dan
dapat diajarkan kepada peserta didik di sekolah pembudayaan, penguatan dan penilaian.
melalui beberapa kegiatan yang sifatnya religius. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Kegiatan religius akan membawa peserta didik di Pendidikan Karakter
sekolah pada pembiasaan berperilaku religius. Menurut Zubaedi (2011:177-184) faktor-
Selanjutnya, perilaku religius akan menuntun faktor yang memengaruhi keberhasilan
peserta didik di sekolah untuk bertindak sesuai pendidikan karakter diantaranya: faktor insting
moral dan etika.
(naluri), faktor adat/kebiasaan, faktor keturunan, pelaksanaan implementasi pendidikan karakter
dan faktor milieu atau lingkungan. religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu, yaitu ada
Penelitian Yang Relevan kepala sekolah, guru mata pelajaran agama, guru
Penelitian yang dilakukan Annis Titi kelas dan siswa.
Utami (2014:7) yang berjudul pelaksanaan nilai Dalam penelitian ini peneliti
religius dalam pendidikan karakter di SD Negeri 1 menggunakan teknik pengumpulan data
Kutowinangun Kebumen, menyebutkan bahwa observasi, wawancara, dokumentasi dan angket.
(1) persepsi guru tentang pentingnya nilai religius Analisis data pada penelitian ini, menggunakan
dalam pendidikan karakter merupakan salah satu teknik analisis data menurut Miles dan Huberman
sumber yang melandasi pendidikan karakter dan yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data,
sangat penting untuk ditanamkan kepada siswa penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
sejak dini karena dengan bekal keagamaan yang Pemeriksaan keabsahan data menggunakan
yang kuat sejak dini akan memperkokoh pondasi trianggulasi sumber dan trianggulasi teknik.
moral siswa di masa depan. (2) Peran sekolah PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
dalam mendukung pelaksanaan nilai karakter Paparan Data
religius dalam pendidikan karakter yaitu Paparan data ini dilakukan untuk
menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan, mengetahui bagaimana implementasi pendidikan
memberikan izin kepada guru untuk mengadakan karakter religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu
suatu program kegiatan, mendukung adanya Bantul. Penelitian ini menggunakan empat teknik
kegiatan-kegiatan yang ada di luar sekolah, serta yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan
memberikan teladan yang baik bagi siswa. (3) angket. Informasi dalam penelitian ini diperoleh
Pelaksanannya melalui program pengembangan dari kepala sekolah, guru dan siswa SD Budi
diri yang terdiri dari kegiatan-kegiatan rutin yang Mulia Dua Sedayu Bantul.
ada di sekolah, kegiatan spontan yang dilakukan Data yang dipaparkan meliputi hasil
guru pada siswa, keteladanan yang diberikan observasi yang dilakukan peneliti, wawancara
guru, dan pengkondisian sekolah yang diciptakan dengan kepala sekolah, wawancara guru agama
sedemikian rupa. Pelaksanaan melalui mata dan wawancara dengan guru kelas II sampai
pelajaran dengan cara menyisipkannya dalam guru kelas VI, angket yang dibagikan kepada
materi pelajaran atau pesan-pesan moral. siswa yang berjumlah 132 siswa dan
Pelaksanaan melalui budaya sekolah yang terdiri dokumentasi yang diperoleh selama melakukan
dari budaya yang ada di kelas, sekolah, dan luar penelitian.
sekolah. Temuan Penelitian
METODE PENELITIAN Berdasarkan pemaparan data
Tempat penelitian ini dilaksanakan di penelitian didapatkan temuan penelitian yaitu,
SD Budi Mulia Dua Sedayu yang terletak di jalan bentuk implementasi pendidikan karakter religius
Wates Km 10, Kaliurang, Argomulyo, Kecamatan diantaranya melaksanakan sholat, zakat,
Sedayu, Kabupaten Bantul. Penelitian ini akan berpuasa, hidup rukun, mengucapkan salam,
dilaksanakan mulai bulan Juli sampai bulan menghormati ibadah orang lain, tidak membeda-
Agustus 2017. Jenis penelitian ini adalah bedakan teman yang beragama lain.
kualitatif dengan menggunakan metode Berdasarkan pengamatan dari peneliti dari
penelitian naturalistik. Menurut Zainal (2011:153), kegiatan-kegiatan tersebut menumbuhkan rasa
penelitian naturalistik adalah pengamatan alami religius pada diri siswa. Dimana siswa yang
dengan melakukan observasi menyeluruh pada awalnya belum melaksanakan perlahan dengan
sebuah latar tertentu tanpa mengubahnya sedikit bimbingan bapak ibu guru mau melaksanakan
pun. Tujuan utamanya ialah untuk mengamati apa yang diberikan oleh bapak ibu gurunya. Cara
dan memahami perilaku seseorang atau bapak ibu guru dalam implementasi pendidikan
kelompok orang dalam situasi tertentu untuk karakter ini yaitu dengan memberikan pengertian
memberikan deskripsi atau gambaran dengan pada siswa, memberikan contoh, memberikan
menggunakan kata-kata mengenai implementasi motivasi-motivasi, melalui cerita-cerita inspiratif,
pendidikan karakter di SD Budi Mulia Dua melalui sanggar iqro. Dalam penanaman
Sedayu Bantul. Dalam penelitian ini, peneliti pendidikan karakter religius tentunya ada
mengambil narasumber dengan menggunakan hambatan dan pendukungnya. Hambatan dan
teknik purposive sampling. Purposive sampling pendukung tersebut berasal dari siswa,
yaitu narasumber diambil dari subjek yang lingkungan rumah dan sarana prasarana yang
mengetahui, memahami dan mengalami ada di sekolah.
langsung dalam pengembangan dan
PEMBAHASAN membaca hadits, tahfiz atau hafalan surat-
a. Implementasi Pendidikan Karakter surat juz 30. Didalam jadwal pelajaran,
Religius di SD Budi Mulia Dua Sedayu sekolah membuat jam tersendiri untuk siswa
Menurut Annis (2014:22-23), aspek belajar iqro dan tahfiz. Untuk kegiatan
sikap dan perilaku yang patuh dalam ekstrakulikuler yang mendukung
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya implementasi pendidikan karakter adalah
dapat dijabarkan menjadi indikator-indikator ekstrakulikuler sanggar iqro, dimana dalam
seperti melakukan sholat, berpuasa, kegiatan tersebut siswa diajarakan untuk
membayar zakat. Aspek toleran terhadap mengaji, tidak hanya mengaji saja tetapi juga
pelaksanaan ibadah agama lain dapat mendengarkan cerita-cerita inspiratif yang
dijabarkan menjadi beberapa indikator seperti membuat siswa termotivasi.
memberi kesempatan siswa untuk melakukan Penguatan yang diberikan guru kepada
ibadah, saling menghargai teman yang siswa yaitu dengan memberikan pujian
sedang melakukan ibadah. Aspek hidup terhadap siswa, memberikan penghargaan
rukun dengan pemeluk agama lain dapat kepada siswa berupa bintang, melalui
dijabarkan menjadi indikator seperti tidak kegiatan ekstrakulikuler. Penguatan terhadap
membeda-bedak teman yang beragama lain, siswa tidak hanya di dalam kelas tetapi juga
hidup rukun dengan semua teman, memberi diluar kelas. Tidak hanya dalam mata
salam kepada semua orang ketika sedang pelajaran agama saja tetapi disemua mata
bertemu. pelajaran dan tidak hanya guru agama saja
Guru dalam mengimplementasikan yang memberikan penguatan tetapi semua
aspek siswa religius tersebut melalui lima guru berhak memberikan penguatan
strategi pendidikan karakter. Menurut terhadap siswa di sekolah.
Daryanto & Suryatri (2013:103-126) strategi Penilaian yang diberikan guru terhadap
pendidikan karakter terbagi menjadi lima siswa yaitu penilaian kognitif dan afektif.
strategi,yaitu: keteladanan, pembelajaran, Penilaian kognitif yang berhubungan dengan
pemberdayaan dan pembudayaan, pengetahuan siswa dan afektik yang
penguatan dan penilaian. Melalui berhubungan dengan sikap siswa. Guru
keteladanan, guru mencontohkan siswa memberikan penilaian kognitif siswa dengan
untuk melaksanakan sholat, zakat, puasa ulangan harian, ulangan tengah semester
mengucapkan salam, hidup rukun dan dan ulangan kenaikan kelas. Untuk sikapnya
kegiatan lainnya. Dalam memberikan guru mengamati sikap siswa dan
keteladanan kepada siswa guru tak henti- menuliskannya di jurnal.
hentinya untuk selalu mencontohkan kepada b. Faktor Pendukung Implementasi
anak. Seperti halnya dalam melaksanakan Pendidikan Karakter Religius di SD Budi
sholat, guru selalu memberikan keteladanan Mulia Dua Sedayu
untuk melaksanakan sholat tepat waktu dan Menurut Zubaedi (2011:177-184)
tidak menunda-nunda melaksanakan sholat, faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan
selain itu guru juga selalu memberikan pendidikan karakter diantaranya:
keteladanan untuk mengucapkan salam jika 1. Faktor Insting (naluri)
bertemu dengan orang lain. 2. Adat/Kebiasaan
Selain melalui keteladanan, dalam 3. Keturunan
pembelajaran guru juga memberikan materi 4. Lingkungan atau milieu
tentang melaksanakan ajaran agama, toleran Berdasarkan hasil observasi dan
terhadap pelaksanaan agama lain, hidup wawancara dengan kepala sekolah, guru
rukun dengan agama lain. Melalui kelas dan guru agama, adapun faktor
pembelajaran, guru lebih mudah dalam pendukung dalam guru
menyampaikan hal tersebut kepada siswa mengimplementasikan pendidikan
karena didukung oleh materi dan didukung karakter religius di sekolah yaitu pertama
juga dengan kurikulum yang diterapkan di melalui insting. Insting disini maksudnya
sekolah. Dalam hal pemberdayaan dan adalah tindakan dan perbuatan manusia
pembudayaan, sekolah mempunyai aturan yang dikehendaki. Insting ini merupakan
sendiri dimana setiap harinya siswa diajarkan bawaan sejak lahir. Insting berfungsi
untuk berdoa sebelum pembelajaran sebagai motivator penggerak yang
dilanjutkan dengan melaksanakan sholat mendorong lahirnya tingkah laku. Setiap
dhuha, membaca hafalan doa sehari-hari, siswa tentunya mempunyai tingkah laku
yang berbeda dan merupakan bawaan bisa digunakan oleh siswa dan guru,
sejak lahir. Ada beberapa siswa ketika tersedianya iqro dan al-qur’an yang dapat
mereka membuat kesalahan kemudian digunakan untuk sanggar dan pelajaran
siswa tersebut memperbaiki kesalahan iqro seta tahfiz.
tersebut. Misalnya, ada siswa yang belum c. Faktor Penghambat Implementasi
melaksanakan sholat, karena dia merasa Pendidikan Karakter Religius di SD Budi
bersalah dan berdosa kemudian siswa Mulia Dua Sedayu
tersebut melaksanakan sholat. Berdasarkan hasil observasi dan
Kedua kebiasaan, kebiasaan adalah wawancara dengan kepala sekolah, guru
tindakan dan perbuatan seseorang yang kelas,guru agama, didapatkan faktor
dilakukan secara berulang-ulang dalam penghambat implementasi pendidikan
bentuk yang sama sehingga menjadi karekter religius yaitu: faktor dari diri siswa
kebiasaan. Di sekolah, siswa diajarkan yang belum dapat menginternalisasikan nilai
untuk selalu mengaji sejak kelas I dan karakter religius ke dalam dirinya sehingga
kegiatan mengaji sudah terjadwal, siswa tidak sadar dalam melakukan sesuatu.
sehingga dari ajakan tersebut menjadi Kemudian lingkungan keluarga, masih ada
kebiasaan yang memang dilaksanakan beberapa orang tua yang kurang
oleh siswa setiap harinya. memperhatikan pengamalan karakter religius,
Ketiga lingkungan, seseorang padahal di sekolah anak dididik oleh gurunya
mempunyai tingkah laku baik buruk semaksimal mungkin agar anak tersebut
dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. mempunyai karakter religius. Selain itu dari
Lingkungan sekolah yang semua siswa sekolah sendiri, belum terdapat masjid atau
dan gurunya beragama islam menjadi mushola di dalam lingkungan sekolah,
salah satu faktor pedukung implementasi sehingga kegiatan sholat dzuhur berjamaah
pendidikan karakter religius. Tidak hanya harus terlaksana di dua tempat yaitu sekolah
karena semua beragama islam tetapi dan masjid dekat sekolah. Faktor
juga sarana prasarana dari sekolah penghambat aspek hidup rukun dengan
tersebut yang dapat mendukung pemeluk agama lainnya yaitu: dari diri siswa
terbentuknya karakter religius siswa. yang belum bisa menginternalisasikan
Selain itu, lingkungan keluarga yang bagaimana hidup rukun dengan teman.
nyaman dan faktor pendukung dari orang KESIMPULAN DAN SARAN
tua siswa juga berpengaruh terhadap a. Kesimpulan
keberhasilan implementasi pendidikan Berdasarkan penelitian yang telah
karakter religius. Orang tua yang selalu dilakukan di SD Budi Mulia Dua Sedayu,
mendukung aktifitas anaknya, dan ada maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
kolaborasi antara orang tua dan guru juga Strategi pendidikan karakter religius yang
berpengaruh terhadap keberhasilan dilakukan guru di sekolah yaitu melalui
implementasi pendidikan karakter religius keteladanan dilakukan dengan guru
siswa. memberikan contoh, pengertian, nasihat
Faktor pendukung aspek toleran kepada siswa, pembelajaran dilakukan
terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dengan guru mengaitkan materi dengan
yaitu: kebiasaan. Kebiasaan disini aspek religius, pemberdayaan dan
maksutnya kebiasaan siswa dalam pembudayaan dilakukan dengan penerapan
menghargai teman yang sedang tata tertib sekolah dan kegiatan
melaksanakan ibadah, dimana siswa ekstrakulikuler, penguatan dilakukan dengan
sudah terbiasa ketika ada yang beribadah guru memberikan pengertian, pujian dan
selalu menghargai. Aspek hidup rukun motivasi siswa,dan penilaian dilakukan
dengan pemeluk agama lainnya yaitu: dengan mengamati sikap siswa.
lingkungan, dimana siswa sudah bisa Faktor pendukung implementasi
hidup rukun dengan teman-temannya. pendidikan karakter di SD Budi Mulia Dua
Berdasarkan observasi dan wawancara Sedayu yaitu: insting siswa untuk
dengan kepala sekolah, guru kelas,guru memperbaiki kesalahannya, kebiasaan siswa
agama,maka faktor pendukung dalam melaksanakan kegiatan baik di
implementasi pendidikan karakter religius sekolah dan di rumah yang berkaitan dengan
adalah sarana prasarana sekolah sendiri karakter religius, lingkungan sekolah yang
yaitu, sudah adanya tempat wudhu yang mendukung kegiatan siswa dalam
implementasi pendidikan karakter religius, Jamal Ma’aruf [Link] Panduan
sarana prasarana sekolah yang mendukung Internalisasi Pendidikan Karakter di
seperti tersedianya tempat wudhu dan buku [Link]: Diva Press
iqro, al-quran yang digunakan dalam Miles, Matthew B. & A. Michael
pembelajaran iqro serta kegiatan [Link] Data
ekstrakulikuler sanggar iqro dah tahfiz. [Link]:UI-Press
Sedangkan faktor pendukung aspek toleran Retno [Link] Karakter dalam
terhadap pelaksanaan ibadah agama lain Metode Aktif, Inovatif & [Link]:
yaitu kebiasaan siswa dalam menghargai Esensi
teman yang sedang melaksanakan ibadah, [Link] Pembelajaran Pendidikan
aspek hidup rukun dengan pemeluk agama [Link]: PT Remaja
lainnya yaitu lingkungan, dimana siswa sudah Rosdakarya
bisa hidup rukun dengan teman-temannya. Syamsul Kurniawan. 2016. Pendidikan
Faktor penghambat implementasi [Link]:Ar-Ruzz Media
pendidikan karakter di SD Budi Mulia Dua [Link] Pendidikan Karakter:
Sedayu yaitu: diri siswa yang belum dapat Konsepsi dan Aplikasinya dalam
menginternalisasikan nilai karakter religius ke Lembaga [Link]:Kencana
dalam dirinya, lingkungan keluarga terutama
orang tua yang belum sepenuhnya
mengamalkan karakter religius kepada
anaknya, serta kurangnya ketersediaan
sarana prasarana seperti masjid atau
mushola di lingkungan sekolah. Faktor
penghambat aspek hidup rukun dengan
pemeluk agama lainnya yaitu dari diri siswa
yang belum bisa menginternalisasikan
bagaimana hidup rukun dengan teman.
b. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan
kesimpulan, yang diperoleh maka penulis
mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
Guru harus tetap konsisten dalam mendidik
siswa untuk menjadi siswa yang berkarakter
religius, karena guru merupakan teladan bagi
siswanya. Sekolah atau guru hendaknya
melakukan komunikasi lebih banyak agar
meningkatkan peran orang tua dalam
mengamalkan karakter religius di rumah
dengan mengadakan pertemuan secara rutin
untuk membentuk kesadaran pentingnya
pendidikan karakter bagi anak. Sekolah lebih
mengoptimalkan fasilitas-fasilitas yang ada
untuk mengimplementasikan pendidikan
karakter religius di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Annis Titi Utami. 2014. “Pelaksanaan Nilai
Religius dalam Pendidikan Karakter di SD
Negeri 1 Kutowinangun Kebumen”. Jurnal
Ilmu Pendidikan, (Online), Vol III No 8.
([Link]
el/8785/99/891 diunduh 23 Maret 2017)
Daryanto dan [Link]
Pendidikan Karakter di
[Link]:Gava Media

Anda mungkin juga menyukai