Proses Keperawatan untuk Hipertermi DHF
Proses Keperawatan untuk Hipertermi DHF
PENDAHULUAN
1
1.3 Tujuan Khusus
1. Dapat melakukan pengkajian pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi DHF
2. Dapat menentukan diagnosa keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
3. Dapat menentukan perencanaan tindakan keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem
haematolgi DHF
4. Dapat melakukan implementasi keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
5. Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
Dapat mendokumentasikan tindakan keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem
haematologi DHF
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. KONSEP MASALAH
1. DEFINISI
Keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat di ata tentang normalnya. (NIC
NOC.2007).
Keadaan dimana seorang individu mengalami peningkatan suhu tubuh diatas 37,80°C
peroral atau 38,80°C perrektal karena faktor eksternal (Carpenito, 1995).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh ini akibat kehilangan mekanisme termogulasi.
(Ensiklopedia keperawatan ).
Jadi hipertermi adalah keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat diatas rentang
normalnya karena faktor eksternal atau akibat kehilangan mekanisme termogulasi.
2. ETIOLOGI
Hipertermi Dpat disebabkan oleh gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi
pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat
pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam diesebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa
protein, pecahan protein dan zat lain. Terutama toksin polisakarida yang dilepas oleh bakteri
toksik / pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam
selama keaadan sakit.
Faktor Penyebabnya :
a) Dehidrasi.
b) Penyakit atau trauma.
c) Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk berkeringat.
d) Pakaian yang tidak tepat.
e) Kecepatan metabolisme meningkat.
g) Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang).
3
h) Aktivitas yang berlebihan.
f) Pengobatan / Anesthesia.
3. BATASAN KARAKTERISTIK
1. Mayor ( Harus terdapat )
a) Suhu lebih tinggi dari 37,8°C per oral atau 38,8°C per rektal.
b) Kulit Hangat.
c) Takikardia.
2. Minor ( Mungkin Terjadi )
a) Kulit Kemerahan.
b) Peningkatan kedalaman pernapasan.
c) Menggigil atau merinding.
d) Dehidrasi.
e) Sakit dan nyeri yang spesifik atau umum ( misalnya sakit, malaise ).
f) Kehilangan nafsu makan.
4. PATOFISIOLOGI
Suhu tubuh kita dalam kedaan normal dipertahankan di kisaran 37°C oleh pusat pengatur suhu di
dalam otak yaitu hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut selalu menjaga keseimbangan antara
jumlah pans yang diproduksi tubuh dari metabolisme dengan panas yang dilepas melalui kulit dan
paru, sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran normal. Walaupun demikian, suhu tubuh
kita memiliki fluktasi harian yaitu sedikit lebih tinggi, pada sore hari jika dibandingkan pagi harinya.
Selain itu terdapat pula kondisi “demam” lainnya namun yang tidak disebabkan oleh kenaikan set
point di pusat pengatur suhu di ota, yaitu di kenal sebagai hipetermia. Pada hipertermia, terdapat
kenaikan uhu tubuh yang tinggiyang disebabkan oleh peningkatan suhu inti tubuh secara berlebihan
sehingga terjadi kegagalan mekanisme pelepasan panas.
5. PROSES TERJADINYA
Substansi yang menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik dari oksigen
maupun endogen, Mayoritas pirogen endogen adalah mikroorganisme atau toksik, pirogen
4
egdogen adalah polipeptida yang dihasilkan oleh jenis sel penjamu teruama monosit, makrogaf,
pirogen memasuki sirkulasi dan menyebabkan demam pada tingkat termoregulasi di hipotalamus.
Peningkatan kecepatan dan pireksi atau demam akan mengarah pada meningkatnya kehilangan cairan
dan elektrolit, padahal cairan dan elektrolit dibutuhkan dalam metabolisme di otak untuk menjaga
keseimbangan termoregulasi di hipotalamus interior. Apabila seseorang kehilangan cairan dan
elektrolit (dehidrasi), maka elektrolit-elektrolit yang ada pada pembuluh darah berkurang padahal
dalam proses metabolisme di hipotalamus anterior membutuhkan elektrolit tersebut, sehingga
kekurangan cairan dan elektrolit mempengaruhi fungsi hipotalamus anterior dalam mempertahankan
keseimbangan termoregulasi dan akhirnya menyababkan peningkatan suhu tubuh.
7. MANIFESTASI KLINIS
1. Subjektif
Mual
2. Objektif
- Kulit memerah
- Suhu Tubuh meningkat
- Kejang / konvulsi
- Kulit hangat
-Takhikardia
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Yaitu tindakan yang diberikan meliputi :
1. kenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
2. beri banyak minum.
3. beri kompres
4. beri obat penuru panas.
5
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang
penderita agar dapat mengidentifikasi kenthan sera maslahnya. Pengkajian meliputi :
1) Pengumpulan Data
a. Data Subjektif
Data yang didapat oleh pencatat dan pasien atau keluarganya dan dapat di ukur menggunakan
standar yang dia akui.
b. Data Objektif
Data yang di dapat oleh pencacat dari pemeriksaan dapat di ukur dengan menggunakan standar
yang diakui.
c. Analisa Data
1) Data primer
Data yang diperoleh dari pasien itu sendiri melalui percakapan dengan pasein itu sendiri.
2) Data sekunder
Data yang di peroleh dari orang lain yang mengetahui keadaan pasien melalui komunikasi
dengan orang dikenal, dokter/perawat.
2. ANAMNESA
1. Keluhan utama
Biasanya klien hipertermi sering mengalami dehidrasi.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian meliputi tindakan pertama yang pernah diberikan
pada keluhan utama.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian mengenai riwayat penyakit dahulu yang
6
berhubungan dengan penyakit yang dialami saat ini.
4. Riwayat psikososial dan spritual
a. Riwayat Psikososial
Pada klien yang mengalami hipertermia akan timbul kecemasan.
b. Aspek sosial
Pada klien yang mengalami hipertermia akan terjadi gangguan dalam berinterkasi dengan orang lain
c. Aspek spritual
klien akan mengami gangguan dalam menjalankan ibadah kaena klien harus menjalani ibadah, namun
ada klien yang cenderung lebih mendekatkan diri pada tuhan dan begitu sebaliknya menyalahkan
tuhan akan penyakitnya.
5. Pola kebiasaan sehari hari
a. pola aktivitas
pola aktivitas menurun karena mengalami kelelahan disebabkan oleh hipertermi.
b. pola istirahat
pola istirahat terganggu krena hipertermi.
c. pola kebersihan diri
kebersihan diri kurang karenapasien cenderung memikirkan penyakit yang dideritanya dari pada
kebersihan diri .
d. pola nutrisi
pola nutrisi terganggu karena hipertermi.
3. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
a. Menggigil
b. Kulit pecah
c. Pengeluaran keringat berlebihan
d. Tampak lemah
e. Bibir kering
2. Tingkat kesadaran : composmentis sampai terjadi shock
a. GCS Mata : 4
b. Verbal : 5
7
c. Motorik : 6
3. Tanda-tanda vital
a. TD : 120/80 mmHg
b. Nadi : 60-100 X/menit
c. Suhu : 38,3 °C
d. Respirasi :15-20 C/menit
Perlu di kaji untuk menilai apakah reaksi fisiologis terhadap penyakit klien mengalam kehilangan
penurunan berat badan ataupun nutrisi yang tidak adekuat ataupun reaksi psikologis
4. Pemeriksaan sistem chepalocaudal
a. pemeriksaan kepala
bibir : mukosa bibir kering ,tidak ada cyanosis
lidah : tampak kotor dan berwarna putih
b. pemeriksaan ekstrimitas
telapak tangan dan kaki berwarna kekuningan/tampak pucat terjadi kelemahan dan nyeri pada otot
c. pemeriksaan integumen
kulit tampak kemerahan ,akral hangat-panas ,turgor baik, terjadi kelembapan kulit
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya resiko infeksi.
8
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH
.
1. DS : Pasien mengeluh haus dan Infeksi atau cedera Hipertermi
suhu tubuh panas jaringan
DO : Mukosa bibir pasien kering
dan suhu tubuh 38,3˚C
Inflamasi
Merangsang saraf
vagus
Sinyal mencapai
system saraf pusat
Merangsang
hipotalamus
Menggigil,
meningkatkan
suhu basal
Hipertermi
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertemi berhubungan dengan ketidakadekuatan termogulasi suhu
9
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme.
3. Hipertermi berhubungan dengan ketidakcukupan hidrasi untuk aktivitas yang berat yang ditandai
dengan pasien mengeluh haus, badan pasien panas, dehidrasi dan mukosa bibir kering.
4. PERENCANAAN KEPERAWATAN
10
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. BIODATA
a. Nama pasien : Tn. F
Umur / tgl lahir : 29 Thn / 22 November 1989
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan :
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Diagnosa medis : DHF
Alamat :Kp. Tipar timur rt03/01 laksana mekar padalarang
Bandung Barat
11
b. Penanggung jawan
Nama : Ny. E
Umur : 29 Thn
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Sebagai : Isteri
Alamat : Kp. Tipar timur rt03/01 laksana mekar padalarang
Bandung Barat
12
III. PSIKOSOSIAL DAN SPRITUAL
1. Pengkajian psikologis
a. Status emosional : pasien terlihat menerima dengan keadaanya sekarang ini dan terlihat
tenang saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di tanyakan. Emosional pasien juga dalam
kedaan baik dan terkontrol.
b. Konsep diri : pasien mengatkan bisa menerima penyakit yang dideritanya sekarang dan
mengatakan ingin cepat sembuh agar bisa berkumpul dengan keluarga.
c. Cara berkomunikasi: pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan tenang dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan.
d. Pola interaksi : pasien dapat berinteraksi dengan baik dan jelas, juga dapat bersahabat dengan
baik dengan perawat dan dokter.
2. Pengkajian social
a. Hubungan social : keluarga pasien mengatakan bahwa pasien berhubungan baik dengan
keluargan dan masyarakat social lainnya.
b. Factor kultur social : pasien tidak mempunyai factor kultur social yang menghambat
tindakan asuhan keperawatan.
c. Pola hidup : pasien mengatakan bahwa pola hidupnya banyak dilakukan di luar rumah
seperti bekerja tetapi kurang berolahraga.
d. Keluarga : pasien terlihat dekat dengan anggota keluarganya mengharapkan pasien agar
cepat sembuh.
3. Support system : pasien mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya dengan
baik.
4. Siatem nilai kepercayaan : pasien sangat percaya dengan adanya Alloh SWT, selalu beribadah
. pasien tamapak sabar dan menerima terhadap penyakit yang di deritanya dan keluarga pasien
selalu berdoa untuk kesembuhan pasien dann berharap untuk cepat pulang.
13
IV. ACTIVITY DAILY LIVING (ADL)
No. POLA AKTIVITAS DI RUMAH DI RUMAH SAKIT
1. Pola nutrisi
a. Makan
Frekuensi 3x/hari 3x/hari
Jenis Nasi Bubur
Pantangan Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. Minum
Jenis Air mineral Air mineral
Frekuensi -+ 6 gelas/hari -+ 8gelas/hari
Jumlah/hari -+1000 cc -+2000 cc
Keluhan Tidak ada Tidak ada
2. Pola Eliminasi
a. BAB
Frekuensi 1x/hari -+3x sehari
Warna Kuning Kuning
Konsistensi Lembek Cair
Bau Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. BAK
Frekuensi -+6x/hari -+ 5x/hari
Warna Kuning jernih Kuning
Bau Pesing Pesing
Keluhan Tidak ada Tidak ada
14
3. Pola Tidur
a. Siang
Lama tidur 1 jam 2 jam
Kualitas tidur Baik Baik
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. Malam
Lama Tidur 8 jam 8 jam
Kualitas tidur Nyenyak Terganggu
Keluhan Tidak ada Batuk
c. kebiasaan menggunakan obat tidur
4. Personal hygene
a. Mandi
Frekuensi 2x/hari Belum
[Link] Hygene
Frekuensi 2x/ hari Belum
Waktu pagi dan Belum
c. Cuci rambut malam
Frekuensi Belum
1x /hari
5. Pola aktivitas Sendiri dibantu
6. Pola kebiasaan yang mempengaruhi Tidak ada Tidak ada
kesehatan
a. Merokok
Frekuensi
Jumlah/hari
Lama pemakaian
b. Minuman Keras
Frekuensi
Jumlah/hari
Lama pemakaian
c. Ketergantungan obat
(alasannya )
15
V. PEMERIKSAAN FISIK
a. keadaan umum : lemas pucat , kesadaran : Composmentis
b. Tanda-Tanda Vital
- Tekanan Darah : 120/8mmHg
- Nadi : 88 x/menit
- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu :38x/menit
- BB/TB :
c. Kepala : Bentuk kepala simetris, kepala bersih, tidak terlihat adanya ketombe tidak ada
lesi tidak ada edema tidak ada benjolan tidak rontok warna kulit merata
d. Muka : Bentuk muka simetris tidak ada nyeri tekan tidak ada lesi tidak ada edema
e. Mata : Bentukedua mata simetris, warna conjungtiva merah muda, earna sklera putih tidak
ada kelainan pergerakan bola mata simetris fungsi penglihatan baik reflek pupil saat
terkena cahaya mengecil dan saat gelap normal seperti biasa
f. Mulut : mukosa bibir kering tidak ada lesi pada bibir dan tidak ada pendarahan pada gusi
fungsi mengunyah baik warna lidah merah muda tidak ada karies
g. Hidung : Bentuk hidung simetris tidak terdapat kelainan mukosa hidung berwarna merah
muda fungsi penciuman baik
h. Telinga : Kedua bentuk telinga simetris tidak ada benjolan membran tympani utuh
ditandai dengan adanya pantulan cahaya tidak ada nyeri tekan dan fungsi pendengaran
baik
i. Leher : Tidak ada keluhan daerah leher tidak ada pembesaran kelenjar getah bening tidak
ada pembesaran kelenjar tyroid refleks menelan baik
j. Dada :
1. Thorak : Bentuk dada simetris tidak ada kelainan vokal premitus simetris
2. Jantung : Bunyi jantung s1 s2 murni reguler
k. Abdomen : Suara peristaltik terdengar 5-20x/menit bentuk simetris tidak ada benjolan
tidak ada nyeri tekan tidak terdapat bekas operasi
l. Punggung & bokong : Bentuk simetris tidak ada kelainan
m. Genetalia : tidak ada pengeluaran cairan tidak ada kelainan di uretra
n. Anus : tidak ada kelainan
16
o. Ekstremitas atas dan bawah : Tidak terdapat luka tangan simetris warna kulit merata
kekuatan otot 4 reflek bisacape dan trisacape normal dan tidak ada kelainan di ekstremitas
atas. Tidak terdapat luka dan benjolan pada kaki refleks bagus kekuatan otot 4 tidak ada
keluhan pada ekstremitas bawah
p. Kulit dan Kuku : Tidak ada edema dan lesi tidak ada kotoran turgor kulit baik kembali
dalam 2 detik
Menimbulakn respon
peradangan
Hipertermi
IX. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas (Berkaitan dengan Kebutuhan dasar Manusia)
1. Hipertermi b/d proses terjadinya implamasi
18
demam ketika suhu tubuh
teratasi demam pasien
dengan 3. Anjurkn 3. Peningkatan suhu
kriteia hasil: px banyak tubuh
pasien tidak minum mengakibatkan
demam 4. Kolaborasi penguapan
Tupen: dengan sehingga perlu si
Setelah dokter imbangi dengan
dilakukan pemberian supan cairan
tindakan therapy yang banyak
kep selama obat 4. Untuk
1x24 jam menuurunkan
suhu tubuh suhu badan
menurun pasien
(skala 0-10)
suhu dalam
batas
normal
14.00 3. Menganjurkan px
untuk banyak
minum
R/ setelah
diberikan minum
mukosa bibir px
lembab
15.30 4. Memberikan obat
paracetamol
R/ suhu tubuh
pasien menurun
36°C
20
BAB IV
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue,
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti (betina). DHF terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan seringkali
menyebabkan kematian bagi penderita (christantie effendi, 1995).
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak-anakdan orang dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot, dan sendi, yang biaanya memburuk setelah dua hari pertama,
bila bertambah parah akan mnyebabkan shock. (Mansjoer, 1999)
DHF adalah infeksi akut yang di sebakan oleh arbovirus (Arthropodbra virus) dan ditularkan
melalui gigitan nyamu Aedes (Aedes albopictus dan Aedes Agypty). (Ngastiyah, 1997)
2.2 Penyebab
Pada umumnya masyarakat kita mengetahui penyebab dari Dengue Haemoragic Fever adalah
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Virus Dengue mempunyai 4 tipe, yaitu: DEN 1, DEN 2, DEN
3, dan DEN 4, yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti Nyamuk ini biasanya hidup
dikawasan tropis dan berkembang biak pada sumber air yang tergenang. Keempatnya ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah satu serotip akan menimbulkan antibodi
yang terbentuk terhadap serotipe yang lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan
perlindungan yang memadai terhadap serotipe yang lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah
endemis dengue. dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus
dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia (Sudoyo dkk. 2010) Virus Dengue berbentuk
batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap inaktivitas oleh distiter dan natrium diaksikolat, stabil
pada suhu 70 C. Keempat tipe tersebut telah ditemukan pula di Indonesia dengan tipe DEN 3 yang
paling banyak ditemukan (Hendarwanto 2010)
21
2.4 Patofisiologi
Virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia akan menyebabkan klien mengalami
viremia. Beberapa tanda dan gejala yang muncul seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal,
seluruh tubuh, timbulnya bintik-bintik merah pada kulit dan kelainan yang mungkin terjadi pada
system vasikuler.
Pada penderita DHF, terdapat kerusakan yang umum pada system vasikuler yang mengakibatkan
terjadinya peningkatan premeabilitas dinding pembuluh darah. Dari mulai demam hingga klien
mengalami renjatan besar.
Volume plasma dapat menurun hingga 30%, yang dapat menyebabkan seseorang mengalami
kegagalan sirkulasi. Adanya kebocoran plasma ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan
hipoksia jaringan, asidosis metabolic yang pada akhirnya dapat berakibat fatal yaitu kematian.
Viremia juga menimbulkan agregasi trombosit dalam darah sehingga menyebabkan
trombositopenia yang berpengaruh pada proses pembukuan darah. Perubahan fungsioner pembuluh
darah akibat kebocoran plasma yang berakhir pada perdarahan, baik pada jaringan kulit maupun
saluran cerna biasanya menimbulkan tanda seperti munculnya purpura, ptekie, hematemesis, ataupun
melena. (Sudoyo, 2006: 1732)
2.6 Pengobatan
1. Tindakan keperawatan
Passien DHF perlu beristirahat total dan perlu ditinjau oleh teanaga Medis
2. Pemberian obat
Pada passien DHF pada saat ini harus banyak makan makanan yang lunak seperti :
a. Bubur
b. Tim
c. Nestle bagi penderita DHF pada anak
3. Obat-Obatan
22
a. paracetamol 3x1
b. ondasentron 2x1
c. ranitidin 2x1
2.7 Komplikasi
Adapun komplikasi dari DHF (Hadinegoro,2003:23) adalah:
1. pendarahan
Disebabkan olleh perubahan vaskuler, penurunanjumlah trombosit
Dan koagulopati, dan trombositopeni dihubungkan dengan meningkatnya megakoriositmuda
dalam sel sel tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi pendarahan dilihat terlihat dari uji
tourniquet positif, petekie, ekimosis dan pendarahan saluran cerna, hematemesis, dan melena.
(Hadinegoro,2006:24)
2. Kegagalan sirkulasi
DSS (DENGUE SYOCK SYNDROM) terjadi pada hari ke 2-7 yang disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga
pleura dan peritoneum, hiponatremia, hemokonsentrasi, dan hipovelomi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena, penurunan volume sekuncup dan curah jantung sehngga terjadi.
2.8 Pencegahan
Mengusahakan pembrentasan vaktor di semua daerah berpotensi penularan tinggi. Ada 2
macam pemberantasan vaktor antara lain:
1. Menggunakan insektida
Yaitu pemberantasan demam berdarah dengue adalah melathion untuk membunuh nyamuk
dewasa dan temphos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara menggunakan melathion ialah
dengan cara pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temphos (abate) adalah menyimpan pasir
abate ke dalam sarang sarang penampungan air bersih.
2. Tanpa insektida,caranya dengan :
a. Memguras bak mandi, tempayan dan tempat penampung air minimal 1x seminggu (perkembangan
telur nyamuk lamanya 7-10 hari).
23
2.9 Penatalaksanaan
Pada dasarnya DBD atau DHF bersifat simtomatis dan suportif. Pengobatan terhadap virus ini
sampai sekarang bersifat menunjang agar passien dapat bertahan hidup. Passien yang diduga kuat
mengalami DBD harus dirawat dirumah sakit karena memerlukan pegawasan terhdap kemungkinan
terjadunya syok atau perdaahan memerlukan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya syok atau
pendarahan yang dapat mengancam keselamatan passien (Hadinegoro,2006: 25).
24
vena sentral melalui vena jugularis. Biasanya pemasangan alat ini dilakukan pada klien yang dirawat
di ICU.
Transfusi darah dapat dapat diberikan pada klien dengan perdarahan gastrointestinal yang
hebat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal dapat digunakan sebagi indikasi jika klien terjadi
penurunan Hb dan Ht sedangkan tidak terlihat perdarahan di kulit (Ngastiyah, 2004: 373).
25
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
setiap orang dapat terkena penyakit dhf, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue famili flaviviridae.
Program pencegahan sangat di perlukan mengingat pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sekitar
kita. Faktor faktor yang dapat mempengaruhi pencegahan dalam tingkat pengetahuan dan wawasan
masyarakat terhadap penyakit dhf itu sendiri.
Jadi kita harus rajin menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit tersebut.
b. Saran
a. bagi masyarakat
setiap indvidu sebaiknya mengerti dan memahami dari penyakit dhf tersebut bisa lebih mersa khawatir
dan mampu menjaga diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserahnya demam berdarah.
b. bagi pasien dan keluarga
dalam merawat pasien yang terkena DHF, sebbaiknya keluarga memberikan dukungan penuh atas
kesembuhannya dan mencegah penyakit tersebut timbul lagi.
c. bagi perawat
selain merawat dan mengobati pasien saat di rumah sakit, alangkah baiknya jika tim medis dan tenaga
kesehatan memberikan informasi tentang penyakit yang diderita oleh pasien, hingga pasien termotivasi
untuk mempertahankan kesehatannya dimanapun dia berada.
26
DAFTAR PUSTAKA
27