0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan27 halaman

Proses Keperawatan untuk Hipertermi DHF

Dokumen tersebut membahas tentang hipertermi, yang didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat faktor eksternal atau kehilangan mekanisme pengaturan suhu. Dibahas pula etiologi, karakteristik, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan medis dari kondisi hipertermi. Selanjutnya dibahas konsep asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian pasien, anamnesa, dan pemerik

Diunggah oleh

Nayuparaswati Azhar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan27 halaman

Proses Keperawatan untuk Hipertermi DHF

Dokumen tersebut membahas tentang hipertermi, yang didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat faktor eksternal atau kehilangan mekanisme pengaturan suhu. Dibahas pula etiologi, karakteristik, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan medis dari kondisi hipertermi. Selanjutnya dibahas konsep asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian pasien, anamnesa, dan pemerik

Diunggah oleh

Nayuparaswati Azhar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses keperawatan sebagai alat bagi perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang
dilakukan pada pasien memiliki arti penting bagi kedua belah pihak yaitu perawat dan klien. Sebagai
seorang perawat proses keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman dalam pemecahan masalah
klien, dapat menunjukkan profesi yang memiliki profesionalitas yang tinggi, serta dapat memberikan
kebebasan kepada klien untuk mendapatkan pelayanan yang cukup sesuai dengan kebutuhannya,
sehingga dapat dirasakan manfaatnya baik dari perawat maupun klien, manfaat tersebut antara lain
dapat meningkatkan kemandirian pada perawat dalam melaksanakan tugasnya karena didalam proses
keperawatan terdapat metode ilmiah keperawatan yang berupa langkah-langkah proses keperawatan,
akan dapat meningkatkan kepercayaan diri perawat dalam melaksanakan tugas, karena klien akan
merasakan kepuasan setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan,
akan dapat selalu meningkatkan kemampuan intelektual dan teknikal dalam tindakan keperawatan
karena melalui proses keperawatan dituntut mampu memecahkan masalah yang baru sesuai dengan
masalah yang dialami klien, sehingga akan timbul perasaan akan kepuasan kerja.
Dengan proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan tanggung gugat bagi perawat itu dapat
dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-tindakan yang merugikan atau menghindari adanya
tindakan yang legal.

1.2 Tujuan Umum


Mengetahui dan melaksanakan asuhan keperawan pada Tn. F dengan gangguan sistem hematologi :
DHF

1
1.3 Tujuan Khusus
1. Dapat melakukan pengkajian pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi DHF
2. Dapat menentukan diagnosa keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
3. Dapat menentukan perencanaan tindakan keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem
haematolgi DHF
4. Dapat melakukan implementasi keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
5. Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem haematologi
DHF
Dapat mendokumentasikan tindakan keperawatan pada Tn. F dengan gangguan sistem
haematologi DHF

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP MASALAH
1. DEFINISI
Keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat di ata tentang normalnya. (NIC
NOC.2007).
Keadaan dimana seorang individu mengalami peningkatan suhu tubuh diatas 37,80°C
peroral atau 38,80°C perrektal karena faktor eksternal (Carpenito, 1995).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh ini akibat kehilangan mekanisme termogulasi.
(Ensiklopedia keperawatan ).
Jadi hipertermi adalah keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat diatas rentang
normalnya karena faktor eksternal atau akibat kehilangan mekanisme termogulasi.

2. ETIOLOGI
Hipertermi Dpat disebabkan oleh gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi
pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat
pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam diesebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa
protein, pecahan protein dan zat lain. Terutama toksin polisakarida yang dilepas oleh bakteri
toksik / pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam
selama keaadan sakit.
Faktor Penyebabnya :
a) Dehidrasi.
b) Penyakit atau trauma.
c) Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk berkeringat.
d) Pakaian yang tidak tepat.
e) Kecepatan metabolisme meningkat.
g) Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang).

3
h) Aktivitas yang berlebihan.
f) Pengobatan / Anesthesia.

3. BATASAN KARAKTERISTIK
1. Mayor ( Harus terdapat )
a) Suhu lebih tinggi dari 37,8°C per oral atau 38,8°C per rektal.
b) Kulit Hangat.
c) Takikardia.
2. Minor ( Mungkin Terjadi )
a) Kulit Kemerahan.
b) Peningkatan kedalaman pernapasan.
c) Menggigil atau merinding.
d) Dehidrasi.
e) Sakit dan nyeri yang spesifik atau umum ( misalnya sakit, malaise ).
f) Kehilangan nafsu makan.

4. PATOFISIOLOGI
Suhu tubuh kita dalam kedaan normal dipertahankan di kisaran 37°C oleh pusat pengatur suhu di
dalam otak yaitu hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut selalu menjaga keseimbangan antara
jumlah pans yang diproduksi tubuh dari metabolisme dengan panas yang dilepas melalui kulit dan
paru, sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran normal. Walaupun demikian, suhu tubuh
kita memiliki fluktasi harian yaitu sedikit lebih tinggi, pada sore hari jika dibandingkan pagi harinya.
Selain itu terdapat pula kondisi “demam” lainnya namun yang tidak disebabkan oleh kenaikan set
point di pusat pengatur suhu di ota, yaitu di kenal sebagai hipetermia. Pada hipertermia, terdapat
kenaikan uhu tubuh yang tinggiyang disebabkan oleh peningkatan suhu inti tubuh secara berlebihan
sehingga terjadi kegagalan mekanisme pelepasan panas.

5. PROSES TERJADINYA
Substansi yang menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik dari oksigen
maupun endogen, Mayoritas pirogen endogen adalah mikroorganisme atau toksik, pirogen

4
egdogen adalah polipeptida yang dihasilkan oleh jenis sel penjamu teruama monosit, makrogaf,
pirogen memasuki sirkulasi dan menyebabkan demam pada tingkat termoregulasi di hipotalamus.
Peningkatan kecepatan dan pireksi atau demam akan mengarah pada meningkatnya kehilangan cairan
dan elektrolit, padahal cairan dan elektrolit dibutuhkan dalam metabolisme di otak untuk menjaga
keseimbangan termoregulasi di hipotalamus interior. Apabila seseorang kehilangan cairan dan
elektrolit (dehidrasi), maka elektrolit-elektrolit yang ada pada pembuluh darah berkurang padahal
dalam proses metabolisme di hipotalamus anterior membutuhkan elektrolit tersebut, sehingga
kekurangan cairan dan elektrolit mempengaruhi fungsi hipotalamus anterior dalam mempertahankan
keseimbangan termoregulasi dan akhirnya menyababkan peningkatan suhu tubuh.

6. AKIBAT BILA TIDAK DI TANGGULANGI


Akibat bila tidak ditanggulangi adlah pasien dapat mengalami kejang demam.

7. MANIFESTASI KLINIS
1. Subjektif
Mual
2. Objektif
- Kulit memerah
- Suhu Tubuh meningkat
- Kejang / konvulsi
- Kulit hangat
-Takhikardia

8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Yaitu tindakan yang diberikan meliputi :
1. kenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
2. beri banyak minum.
3. beri kompres
4. beri obat penuru panas.

5
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang
penderita agar dapat mengidentifikasi kenthan sera maslahnya. Pengkajian meliputi :
1) Pengumpulan Data
a. Data Subjektif
Data yang didapat oleh pencatat dan pasien atau keluarganya dan dapat di ukur menggunakan
standar yang dia akui.
b. Data Objektif
Data yang di dapat oleh pencacat dari pemeriksaan dapat di ukur dengan menggunakan standar
yang diakui.
c. Analisa Data
1) Data primer
Data yang diperoleh dari pasien itu sendiri melalui percakapan dengan pasein itu sendiri.
2) Data sekunder
Data yang di peroleh dari orang lain yang mengetahui keadaan pasien melalui komunikasi
dengan orang dikenal, dokter/perawat.

2. ANAMNESA
1. Keluhan utama
Biasanya klien hipertermi sering mengalami dehidrasi.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian meliputi tindakan pertama yang pernah diberikan
pada keluhan utama.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian mengenai riwayat penyakit dahulu yang

6
berhubungan dengan penyakit yang dialami saat ini.
4. Riwayat psikososial dan spritual
a. Riwayat Psikososial
Pada klien yang mengalami hipertermia akan timbul kecemasan.
b. Aspek sosial
Pada klien yang mengalami hipertermia akan terjadi gangguan dalam berinterkasi dengan orang lain
c. Aspek spritual
klien akan mengami gangguan dalam menjalankan ibadah kaena klien harus menjalani ibadah, namun
ada klien yang cenderung lebih mendekatkan diri pada tuhan dan begitu sebaliknya menyalahkan
tuhan akan penyakitnya.
5. Pola kebiasaan sehari hari
a. pola aktivitas
pola aktivitas menurun karena mengalami kelelahan disebabkan oleh hipertermi.
b. pola istirahat
pola istirahat terganggu krena hipertermi.
c. pola kebersihan diri
kebersihan diri kurang karenapasien cenderung memikirkan penyakit yang dideritanya dari pada
kebersihan diri .
d. pola nutrisi
pola nutrisi terganggu karena hipertermi.

3. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
a. Menggigil
b. Kulit pecah
c. Pengeluaran keringat berlebihan
d. Tampak lemah
e. Bibir kering
2. Tingkat kesadaran : composmentis sampai terjadi shock
a. GCS Mata : 4
b. Verbal : 5
7
c. Motorik : 6
3. Tanda-tanda vital
a. TD : 120/80 mmHg
b. Nadi : 60-100 X/menit
c. Suhu : 38,3 °C
d. Respirasi :15-20 C/menit
Perlu di kaji untuk menilai apakah reaksi fisiologis terhadap penyakit klien mengalam kehilangan
penurunan berat badan ataupun nutrisi yang tidak adekuat ataupun reaksi psikologis
4. Pemeriksaan sistem chepalocaudal
a. pemeriksaan kepala
bibir : mukosa bibir kering ,tidak ada cyanosis
lidah : tampak kotor dan berwarna putih
b. pemeriksaan ekstrimitas
telapak tangan dan kaki berwarna kekuningan/tampak pucat terjadi kelemahan dan nyeri pada otot
c. pemeriksaan integumen
kulit tampak kemerahan ,akral hangat-panas ,turgor baik, terjadi kelembapan kulit

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya resiko infeksi.

8
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH
.
1. DS : Pasien mengeluh haus dan Infeksi atau cedera Hipertermi
suhu tubuh panas jaringan
DO : Mukosa bibir pasien kering
dan suhu tubuh 38,3˚C
Inflamasi

Merangsang saraf
vagus

Sinyal mencapai
system saraf pusat

Merangsang
hipotalamus

Menggigil,
meningkatkan
suhu basal

Hipertermi

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertemi berhubungan dengan ketidakadekuatan termogulasi suhu
9
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme.
3. Hipertermi berhubungan dengan ketidakcukupan hidrasi untuk aktivitas yang berat yang ditandai
dengan pasien mengeluh haus, badan pasien  panas, dehidrasi dan mukosa bibir kering.

4. PERENCANAAN KEPERAWATAN

NO DX TUJUAN INTERVENSI RSIONAL


. KEPERAWATA
N
1. Hipertermi Setelah di 1. Kaji TTV 1. Untuk
berhubungan lakukan 2. Berikan mengetahui
dengan tindakan kompres keadaan umum
ketidakadekutan keperawatan hangat pasien
termogulasi suhu masalah dapat kepada psien 2. Untuk
tubuh teratasi dengan 3. Anjurkan menurunkan
kriteria hasil : pasien banyak suhu tubuh
1. Suhu minum pasien
tubuh 4. Kolaborasi 3. Peningkatan
pasien dengan dokter suhu tubuh
menuru pemberian mengakibatkan
n therapy obat penguapan
2. Suhu sehingga perlu
tubuh si imbangi
pasien dengan supan
normal cairan yang
36,5˚C- banyak
37˚C 4. Untuk
menuurunkan
suhu badan
pasien

10
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.F


DENGAN GANGGUAN SISTEM HAEMATOLOGI : DHF
(DENGUE HAEMORHAGIC FEVER)
DI RUANG RANAP VII PANGRANGO RS. DUSTIRA

Ruang perawatan : R. VII Pangrango


No. MR/CM : 5490091
Tgl masuk RS : 25 Mei 2019
Tgl pengkajian : 27 Mei 2019
Pukul :17.18 WIB

I. BIODATA
a. Nama pasien : Tn. F
Umur / tgl lahir : 29 Thn / 22 November 1989
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan :
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Diagnosa medis : DHF
Alamat :Kp. Tipar timur rt03/01 laksana mekar padalarang
Bandung Barat

11
b. Penanggung jawan
Nama : Ny. E
Umur : 29 Thn
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Sebagai : Isteri
Alamat : Kp. Tipar timur rt03/01 laksana mekar padalarang
Bandung Barat

II. RIWAYAT KESEHATAN KLIEN


a. Keluhan Utama
Demam

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dari UGD dengan keluhan demam yang dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Demam
dirasakan terus menerus, Keluhan disertai mual dan muntah 5x/hari berisi makanan, pasien
mengatakan nyeri persendian dan sakit kepala, nyeri dirasakan seperti di tusuk-tusuk dengan
sekala 5.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu


Pasien mengatakan tidak memiliki alergi makanan atau obat, sebelumnya pasien tidak pernah
mengalami kecelakaan, pasien mengatakan belum pernah di rawat di rumah sakit, pasien
mengatakan tidak mengalami penyakit berat/kronis seperti penyakit jantung, pasien mengatakan
sebelumnya belum pernah menjalankan operasi.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga


Pasien mengatakan anggota keluarganya tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti yang
sama seperti yang dialami klien saat ini. Dan pasien mengatakan bahwa kelurganya tidak ada yang
mempunyai penyakit keturunan seperti ASMA, DM, Hipertensi, Maupun Penyakit Menular seperti
TB.

12
III. PSIKOSOSIAL DAN SPRITUAL
1. Pengkajian psikologis
a. Status emosional : pasien terlihat menerima dengan keadaanya sekarang ini dan terlihat
tenang saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di tanyakan. Emosional pasien juga dalam
kedaan baik dan terkontrol.
b. Konsep diri : pasien mengatkan bisa menerima penyakit yang dideritanya sekarang dan
mengatakan ingin cepat sembuh agar bisa berkumpul dengan keluarga.
c. Cara berkomunikasi: pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan tenang dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan.
d. Pola interaksi : pasien dapat berinteraksi dengan baik dan jelas, juga dapat bersahabat dengan
baik dengan perawat dan dokter.

2. Pengkajian social
a. Hubungan social : keluarga pasien mengatakan bahwa pasien berhubungan baik dengan
keluargan dan masyarakat social lainnya.
b. Factor kultur social : pasien tidak mempunyai factor kultur social yang menghambat
tindakan asuhan keperawatan.
c. Pola hidup : pasien mengatakan bahwa pola hidupnya banyak dilakukan di luar rumah
seperti bekerja tetapi kurang berolahraga.
d. Keluarga : pasien terlihat dekat dengan anggota keluarganya mengharapkan pasien agar
cepat sembuh.
3. Support system : pasien mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya dengan
baik.
4. Siatem nilai kepercayaan : pasien sangat percaya dengan adanya Alloh SWT, selalu beribadah
. pasien tamapak sabar dan menerima terhadap penyakit yang di deritanya dan keluarga pasien
selalu berdoa untuk kesembuhan pasien dann berharap untuk cepat pulang.

13
IV. ACTIVITY DAILY LIVING (ADL)
No. POLA AKTIVITAS DI RUMAH DI RUMAH SAKIT
1. Pola nutrisi
a. Makan
Frekuensi 3x/hari 3x/hari
Jenis Nasi Bubur
Pantangan Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. Minum
Jenis Air mineral Air mineral
Frekuensi -+ 6 gelas/hari -+ 8gelas/hari
Jumlah/hari -+1000 cc -+2000 cc
Keluhan Tidak ada Tidak ada

2. Pola Eliminasi
a. BAB
Frekuensi 1x/hari -+3x sehari
Warna Kuning Kuning
Konsistensi Lembek Cair
Bau Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. BAK
Frekuensi -+6x/hari -+ 5x/hari
Warna Kuning jernih Kuning
Bau Pesing Pesing
Keluhan Tidak ada Tidak ada
14
3. Pola Tidur
a. Siang
Lama tidur 1 jam 2 jam
Kualitas tidur Baik Baik
Keluhan Tidak ada Tidak ada
b. Malam
Lama Tidur 8 jam 8 jam
Kualitas tidur Nyenyak Terganggu
Keluhan Tidak ada Batuk
c. kebiasaan menggunakan obat tidur
4. Personal hygene
a. Mandi
Frekuensi 2x/hari Belum
[Link] Hygene
Frekuensi 2x/ hari Belum
Waktu pagi dan Belum
c. Cuci rambut malam
Frekuensi Belum
1x /hari
5. Pola aktivitas Sendiri dibantu
6. Pola kebiasaan yang mempengaruhi Tidak ada Tidak ada
kesehatan
a. Merokok
Frekuensi
Jumlah/hari
Lama pemakaian
b. Minuman Keras
Frekuensi
Jumlah/hari
Lama pemakaian
c. Ketergantungan obat
(alasannya )

15
V. PEMERIKSAAN FISIK
a. keadaan umum : lemas pucat , kesadaran : Composmentis
b. Tanda-Tanda Vital
- Tekanan Darah : 120/8mmHg
- Nadi : 88 x/menit
- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu :38x/menit
- BB/TB :

c. Kepala : Bentuk kepala simetris, kepala bersih, tidak terlihat adanya ketombe tidak ada
lesi tidak ada edema tidak ada benjolan tidak rontok warna kulit merata
d. Muka : Bentuk muka simetris tidak ada nyeri tekan tidak ada lesi tidak ada edema
e. Mata : Bentukedua mata simetris, warna conjungtiva merah muda, earna sklera putih tidak
ada kelainan pergerakan bola mata simetris fungsi penglihatan baik reflek pupil saat
terkena cahaya mengecil dan saat gelap normal seperti biasa
f. Mulut : mukosa bibir kering tidak ada lesi pada bibir dan tidak ada pendarahan pada gusi
fungsi mengunyah baik warna lidah merah muda tidak ada karies
g. Hidung : Bentuk hidung simetris tidak terdapat kelainan mukosa hidung berwarna merah
muda fungsi penciuman baik
h. Telinga : Kedua bentuk telinga simetris tidak ada benjolan membran tympani utuh
ditandai dengan adanya pantulan cahaya tidak ada nyeri tekan dan fungsi pendengaran
baik
i. Leher : Tidak ada keluhan daerah leher tidak ada pembesaran kelenjar getah bening tidak
ada pembesaran kelenjar tyroid refleks menelan baik
j. Dada :
1. Thorak : Bentuk dada simetris tidak ada kelainan vokal premitus simetris
2. Jantung : Bunyi jantung s1 s2 murni reguler
k. Abdomen : Suara peristaltik terdengar 5-20x/menit bentuk simetris tidak ada benjolan
tidak ada nyeri tekan tidak terdapat bekas operasi
l. Punggung & bokong : Bentuk simetris tidak ada kelainan
m. Genetalia : tidak ada pengeluaran cairan tidak ada kelainan di uretra
n. Anus : tidak ada kelainan

16
o. Ekstremitas atas dan bawah : Tidak terdapat luka tangan simetris warna kulit merata
kekuatan otot 4 reflek bisacape dan trisacape normal dan tidak ada kelainan di ekstremitas
atas. Tidak terdapat luka dan benjolan pada kaki refleks bagus kekuatan otot 4 tidak ada
keluhan pada ekstremitas bawah
p. Kulit dan Kuku : Tidak ada edema dan lesi tidak ada kotoran turgor kulit baik kembali
dalam 2 detik

VI. TES DIAGNOSTIK ATAU PEMERIKSAAN PENUNJANG


NO Pemeriksaan Hasil Rujukan
1 Hemoglobin 15,0 11,0-16,0
Eritrosit 5,6 4-0-5,5
Leukosit 4,0 4,0-10,0
Hematokrit 42,6 36,0-48,0
Trombosit 79 150-450
2 MCU,MCH,MCHC
MCV 76,5 75,0-11,0
MCH 26,9 25,0-32,0
MCHC 35,2 32,0-36,0
RDW 13,1 10,0-16,0
3 Hitung jenis
Basofil 0.3 0.0-1,0
Eousinofil 0.0 1.0-4,0
Neoutrofil segmen 72,5 50,0-80,0
Limfosit 17,9 25,0-50,0
Monosit 9,3 4,0-8,0

VII. THERAPY MEDIS


N Nama Therapy Waktu Rute
O
1 Infus RL 20 tpm IV
2 Ranitidine 3x1 IV
3 Ondansentron 2x1 IV
4 Paracetamol 3x1 Oral
5 Ambroxol 3x1 Oral
6 Aftazidine 3x1 IV
17
[Link] Data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
.
1. DS : pasien mengatakan Dengue fever Hipertermi
demam
DO : pasien terlihat
lemas. Gigitan nyamuk
S: 38˚C
Bereaksi dengan
antibody

Menimbulakn respon
peradangan

Hipertermi

IX. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas (Berkaitan dengan Kebutuhan dasar Manusia)
1. Hipertermi b/d proses terjadinya implamasi

XI. PERENCANAAN KEPERAWATAN

NO Hari/Tgl Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Kep
1 Senin,27 Hiperter Tupan: 1. observasi 1. Untuk
mei 2019 mi b/d Setelah TTV mengetahui
proses dilaukan 2. Anjurkan keadaan umum
terjadinya tindakan px pasien
imflamasi kep selama kompres 2. Untuk
2x24 jam hangat menurunkan

18
demam ketika suhu tubuh
teratasi demam pasien
dengan 3. Anjurkn 3. Peningkatan suhu
kriteia hasil: px banyak tubuh
pasien tidak minum mengakibatkan
demam 4. Kolaborasi penguapan
Tupen: dengan sehingga perlu si
Setelah dokter imbangi dengan
dilakukan pemberian supan cairan
tindakan therapy yang banyak
kep selama obat 4. Untuk
1x24 jam menuurunkan
suhu tubuh suhu badan
menurun pasien
(skala 0-10)
suhu dalam
batas
normal

XI. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

N Hari/Tgl Dx Kep Implementasi Evaluasi Paraf


o
1 Senin, 27 Hipetermi b/d 1. Mengobservasi S : Px
mei 2019 proses TTV mengataka
10.00 terjadinya R/ TD: 120/80 n demam
imflamasi mmHg O : pasien
N: 88x/menit tampak
R: 20x/menit lemas
S: 38 °C A:
hipertermi
belum
teratsi
P :
19
intervensi
di hentikan
12.00 2. Menganjurkan px
mengkompres
hangat
R/ setelah
diberikan kompres
hangat suhu tubuh
pasien menurun
37°c

14.00 3. Menganjurkan px
untuk banyak
minum
R/ setelah
diberikan minum
mukosa bibir px
lembab
15.30 4. Memberikan obat
paracetamol
R/ suhu tubuh
pasien menurun
36°C

20
BAB IV
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue,
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti (betina). DHF terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan seringkali
menyebabkan kematian bagi penderita (christantie effendi, 1995).
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak-anakdan orang dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot, dan sendi, yang biaanya memburuk setelah dua hari pertama,
bila bertambah parah akan mnyebabkan shock. (Mansjoer, 1999)
DHF adalah infeksi akut yang di sebakan oleh arbovirus (Arthropodbra virus) dan ditularkan
melalui gigitan nyamu Aedes (Aedes albopictus dan Aedes Agypty). (Ngastiyah, 1997)

2.2 Penyebab
Pada umumnya masyarakat kita mengetahui penyebab dari Dengue Haemoragic Fever adalah
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Virus Dengue mempunyai 4 tipe, yaitu: DEN 1, DEN 2, DEN
3, dan DEN 4, yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti Nyamuk ini biasanya hidup
dikawasan tropis dan berkembang biak pada sumber air yang tergenang. Keempatnya ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah satu serotip akan menimbulkan antibodi
yang terbentuk terhadap serotipe yang lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan
perlindungan yang memadai terhadap serotipe yang lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah
endemis dengue. dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus
dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia (Sudoyo dkk. 2010) Virus Dengue berbentuk
batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap inaktivitas oleh distiter dan natrium diaksikolat, stabil
pada suhu 70 C. Keempat tipe tersebut telah ditemukan pula di Indonesia dengan tipe DEN 3 yang
paling banyak ditemukan (Hendarwanto 2010)

2.3 Tanda Dan Gejala


1. Demam tinggi > 38°C
[Link] kepala
3. Nyeri sendi dan otot

21
2.4 Patofisiologi
Virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia akan menyebabkan klien mengalami
viremia. Beberapa tanda dan gejala yang muncul seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal,
seluruh tubuh, timbulnya bintik-bintik merah pada kulit dan kelainan yang mungkin terjadi pada
system vasikuler.
Pada penderita DHF, terdapat kerusakan yang umum pada system vasikuler yang mengakibatkan
terjadinya peningkatan premeabilitas dinding pembuluh darah. Dari mulai demam hingga klien
mengalami renjatan besar.
Volume plasma dapat menurun hingga 30%, yang dapat menyebabkan seseorang mengalami
kegagalan sirkulasi. Adanya kebocoran plasma ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan
hipoksia jaringan, asidosis metabolic yang pada akhirnya dapat berakibat fatal yaitu kematian.
Viremia juga menimbulkan agregasi trombosit dalam darah sehingga menyebabkan
trombositopenia yang berpengaruh pada proses pembukuan darah. Perubahan fungsioner pembuluh
darah akibat kebocoran plasma yang berakhir pada perdarahan, baik pada jaringan kulit maupun
saluran cerna biasanya menimbulkan tanda seperti munculnya purpura, ptekie, hematemesis, ataupun
melena. (Sudoyo, 2006: 1732)

2.5 Sistem Tubuh Yang Berperan


Sisem haematologi karena DHF menyebabkan pendarahan,kebocoran pembuluh darah (saluran
yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah
membeku). Yang kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang
berbahaya.

2.6 Pengobatan
1. Tindakan keperawatan
Passien DHF perlu beristirahat total dan perlu ditinjau oleh teanaga Medis
2. Pemberian obat
Pada passien DHF pada saat ini harus banyak makan makanan yang lunak seperti :
a. Bubur
b. Tim
c. Nestle bagi penderita DHF pada anak
3. Obat-Obatan

22
a. paracetamol 3x1
b. ondasentron 2x1
c. ranitidin 2x1

2.7 Komplikasi
Adapun komplikasi dari DHF (Hadinegoro,2003:23) adalah:
1. pendarahan
Disebabkan olleh perubahan vaskuler, penurunanjumlah trombosit
Dan koagulopati, dan trombositopeni dihubungkan dengan meningkatnya megakoriositmuda
dalam sel sel tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi pendarahan dilihat terlihat dari uji
tourniquet positif, petekie, ekimosis dan pendarahan saluran cerna, hematemesis, dan melena.
(Hadinegoro,2006:24)
2. Kegagalan sirkulasi
DSS (DENGUE SYOCK SYNDROM) terjadi pada hari ke 2-7 yang disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga
pleura dan peritoneum, hiponatremia, hemokonsentrasi, dan hipovelomi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena, penurunan volume sekuncup dan curah jantung sehngga terjadi.

2.8 Pencegahan
Mengusahakan pembrentasan vaktor di semua daerah berpotensi penularan tinggi. Ada 2
macam pemberantasan vaktor antara lain:
1. Menggunakan insektida
Yaitu pemberantasan demam berdarah dengue adalah melathion untuk membunuh nyamuk
dewasa dan temphos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara menggunakan melathion ialah
dengan cara pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temphos (abate) adalah menyimpan pasir
abate ke dalam sarang sarang penampungan air bersih.
2. Tanpa insektida,caranya dengan :
a. Memguras bak mandi, tempayan dan tempat penampung air minimal 1x seminggu (perkembangan
telur nyamuk lamanya 7-10 hari).

b. Menutup temat air rapat-rapat.


c. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan
nyamuk bersarang.

23
2.9 Penatalaksanaan
Pada dasarnya DBD atau DHF bersifat simtomatis dan suportif. Pengobatan terhadap virus ini
sampai sekarang bersifat menunjang agar passien dapat bertahan hidup. Passien yang diduga kuat
mengalami DBD harus dirawat dirumah sakit karena memerlukan pegawasan terhdap kemungkinan
terjadunya syok atau perdaahan memerlukan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya syok atau
pendarahan yang dapat mengancam keselamatan passien (Hadinegoro,2006: 25).

a) DHF Tanpa Renjatan (Syok)


Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan klien dehidrasi dan haus. Pada
pasien ini harus diberi banyak minnum, yaitu 1sampai 2 liter dalam waktu 24 jam. Dapat juga di
berikan teh manis, susu, ataupun oralit.
Keadaaan hiperpireksiadapat diatasi dengan kolaborasi pemberian antipiretik dan kompres
hangat. Jika terjadi kejang harus liminal atau pemberian anti konvulan lainnya. Infus diberikan pada
klien DHF tanpa renjatan bila pasien terus menerus muntah dan tidak dapat diberi minum sehingga
terjadi resiko tinggi dehidrasi dan peningkatan hematokrit. Jika hematokrit cenderung meningkat
berarti menunjukan derajat adanya kebocoran plasma dan biasanya mendahului munculnya perubahan
tanda-tanda vitalsecara klinis (hipotensi dan penurunan nadi). Sedangkan turunnya nilai trombosit
biasanya mendahului naiknya hematokrit. Oleh karena itu, pada pasien DHF harus di periksa Hb,Ht,
dan trombosit setiap hari untuk menentukan apakah klien perlu dipasang infus atau tidak. (Hassan,
2003 : 616)

b) DHF Disertai Renjatan (DSS)


Pasien yang mengalami tenjatan atau syok harus segera dipasang infus ksrena sebagai
pengganti cairan akibat kebocoran plasma. Cairan yang harus diberikan adalah Ringer laktat, namun
jika pemberian cairan tidak dapat mengatasi syok maka harus diberikanplasma sebanyak 20-30 ml/kg
berat badan.
Sedangkan untuk klien yang mengalami renjatan berat harus diberikan cairan dengan cara
diguyur (Hassan, 2003: 617). Pada pasien yang mengalam renjatan berkali-kali harus dipasang CVP
(Central Venous Pressure) yang berfungsi sebagai pengaturan vena sentral untuk mengukur tekanan

24
vena sentral melalui vena jugularis. Biasanya pemasangan alat ini dilakukan pada klien yang dirawat
di ICU.
Transfusi darah dapat dapat diberikan pada klien dengan perdarahan gastrointestinal yang
hebat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal dapat digunakan sebagi indikasi jika klien terjadi
penurunan Hb dan Ht sedangkan tidak terlihat perdarahan di kulit (Ngastiyah, 2004: 373).

25
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
setiap orang dapat terkena penyakit dhf, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue famili flaviviridae.
Program pencegahan sangat di perlukan mengingat pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sekitar
kita. Faktor faktor yang dapat mempengaruhi pencegahan dalam tingkat pengetahuan dan wawasan
masyarakat terhadap penyakit dhf itu sendiri.

Jadi kita harus rajin menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit tersebut.

b. Saran
a. bagi masyarakat
setiap indvidu sebaiknya mengerti dan memahami dari penyakit dhf tersebut bisa lebih mersa khawatir
dan mampu menjaga diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserahnya demam berdarah.
b. bagi pasien dan keluarga
dalam merawat pasien yang terkena DHF, sebbaiknya keluarga memberikan dukungan penuh atas
kesembuhannya dan mencegah penyakit tersebut timbul lagi.
c. bagi perawat
selain merawat dan mengobati pasien saat di rumah sakit, alangkah baiknya jika tim medis dan tenaga
kesehatan memberikan informasi tentang penyakit yang diderita oleh pasien, hingga pasien termotivasi
untuk mempertahankan kesehatannya dimanapun dia berada.

26
DAFTAR PUSTAKA

Sunaryo, soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak , Ui;Jakarta


Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien Dhf, Egc : Jakarta
Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam,Jilid I, Edisi Ketiga, FKUI ;JAKARTA .4
DOENGES, Marilynn E ,DKK, (2000), penerapan proses keperawatan dan diagnosa
keperawatan dan diagnosa keperawatan, EGC ; JAKARTA .

27

Anda mungkin juga menyukai