Artikel: Sejarah Masjid Pusaka di Tabalong
Oleh: Yunita Zuhrupi Ikram
Masjid pusaka merupakan masjid tertua di Tabalong. Masjid ini
berada di desa Banua Lawas, kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Para peziarah yang berkunjung ke sana tidak lupa membawa pulang air
dalam tajau itu karena diyakini warga memiliki berkah digunakan cuci
muka atau diminum.
Kebanyakan mereka datang ke Masjid Pusaka pada hari Rabu karena
bertepatan hari pasar di Banua Lawas. Mereka menyempatkan diri ziarah,
selain untuk beribadah antara lain sembahyang sunat tahiyatul masjid dan
membaca surah Yasin, juga ada yang mengaku membayar nazar, karena
harapannya terkabul.
Dalam pandangan hukum Islam untuk berziarah ke masjid yaitu
hukumnya sunnah. Nabi Muhammad pernah bercerita tentang kronologi
wafatnya Nabi Musa yang waktu malaikat maut datang kepadanya ternyata
malah dihajar oleh Nabi Musa hingga satu mata malaikat itu buta. Namun
akhirnya Nabi Musa sadar bahwa ajalnya telah tiba. Di akhir cerita, Nabi
Muhammad bersabda pada para sahabat:
"Seandainya aku ke sana, pasti akan aku tunjukkan kepada kalian
keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan di bawah tumpukan pasir
merah," (HR Bukhari)
Pernyataan Nabi tersebut jelas sama sekali tak menunjukkan
pengingkaran untuk pergi ke makam Nabi Musa yang amat jauh dari lokasi
Nabi. Andai dilarang pergi ke makam yang jauh, tentulah Nabi mustahil
mengatakan seperti itu. Dengan berziarah dapat mengajarkan manusia untuk
mengingat akan kematian, karena sesungguhnya semua yang hidup pasti
akan mengalami kematian. Sehingga dapat menyadarkan manusia bahwa
dunia hanya bersifat sementara dan kehidupan yang abadi adalah akhirat.
Selain itu, Masjid Pusaka yang menjadi tempat ziarah bagi para
pengunjung, rupanya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ramainya pengunjung membuat masyarakat berinisiatif untuk melakukan
tindakan ekonomi berupa jual beli.
Masyarakat di sana membuka usahanya dengan menjual berbagai
macam makanan, minuman, jajanan dan bunga yang biasanya dibeli
peziarah untuk diletakkan pada tiang-tiang Masjid Pusaka.
Masjid tertua yang berada di desa Banua Lawas ini selain sebagai
tempat ibadah, juga merupakan bukti sejarah diterimanya Islam bagi suku
Dayak Maanyan di Kabupaten Tabalong. Dayak Maanyan adalah salah satu
suku Dayak tertua di Nusantara, khususnya di Kalimantan Selatan dan
Tengah. Di Kalimantan Selatan, pemukiman Dayak Maanyan terkonsentrasi
di desa Warukin, Kabupaten Tabalong.
Masjid ini didirikan pada tahun 1622 Masehi yang dipelopori oleh
Khatib Dayan dan saudaranya Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Banjar,
serta bantuan dari tokoh-tokoh masyarakat Dayak juga Datu Ranggana,
Datu Kartamina, Datu Saripanji, Langlang Buana, Taruntung Manau, Timba
Sagara, Layar Sampit, Pambalah Batung dan Garuntung Waluh.
Pada mulanya Masjid Pusaka itu merupakan tempat pemujaan
Kaharingan. Hal ini karena arsitektur masjid yang beratap tumpang tiga.
Jauh sebelum ajaran Islam datang terdapat pesanggrahan atau tempat
pemujaan kepercayaan Kaharingan suku Dayak Maanyan. Tempat
pemujaan yang dianggap sangat sakral, dan manfaatnya sangat penting bagi
mereka banyak terdapat di desa Banua Lawas.
Dua tajau yang terletak di depan Masjid pusaka dulunya merupakan
guci tempat penampungan air yang digunakan suku Dayak untuk
memandikan anak yang baru lahir. Meskipun telah diterpa atau
disengat matahari, dua tajau yang usianya mencapai 400 tahun itu tidak
berubah warna.
Menurut sejarah, Banua Lawas diyakini oleh suku Dayak Maanyan
sebagai pusat Kerajaan Nan Sarunai yang kemudian mereka tinggalkan
karena diserang Majapahit. Mereka kemudian menyebutnya kampung yang
ditinggalkan dengan nama Banua Lawas. Menurut mereka di belakang
Masjid Pusaka Banua Lawas terdapat makam raja Raden Anyan atau
terkenal dalam sejarah lisan Dayak Maanyan dengan nama Am’mah Jarang.
Di bawah lantai masjid, dahulunya terdapat sumur tua tempat Raden
Anyan gugur ditombak Laksamana Nala. Dan di belakang masjid terdapat
tujuh pohon kamboja besar-besar sebagai pertanda moksanya tujuh orang
putera Raden Anyan, yaitu Jarang, Idong, Pan’ning, Engko, Engkai, Liban,
dan Bangkas.
Menurut tradisi lisan, sebagian orang-orang Maanyan menyingkir
karena mereka tidak bersedia menerima Islam sebagai agama mereka. Akan
tetapi, orang-orang Maanyan yang menerima Islam dan yang tetap bertahan
dengan kepercayaan lamanya itu, tetap menjalin hubungan persaudaraan,
sebagaimana diperlihatkan mereka pada saat bergotong royong membangun
Masjid Banua Halat di bekas lokasi bangunan suci orang Maanyan.
Hal ini merupakan salah satu bentuk toleransi antara orang Dayak
Maanyan dan umat muslim yang bermukim di desa Banua Lawas. Sehingga,
dalam kehidupan sosial bermasyarakat tetap tercipta kerukunan dan
kedamaian antar umat beragama.
Sudah sepantasnya masjid Pusaka Banua Lawas dipelihara dan diteliti
secara mendalam karena masjid ini merupakan salah satu peninggalan Islam
dan kearifan budaya tabalong, serta memiliki aspek yang besar bagi
kehidupan dan masyarakat. Aspek yang berpengaruh antara lain adalah
aspek sosial, ekonomi dan budaya.