0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan12 halaman

Pengelolaan Nyeri dan Ansietas Pasca Operasi

Dokumen ini membahas tentang fistula vesikovagina yang merupakan hubungan abnormal antara kandung kemih dengan vagina yang menyebabkan urin keluar melalui vagina. Dokumen ini juga membahas mengenai penanganan nyeri dan kecemasan pasca operasi penutupan fistula vesikovagina dengan menggunakan terapi zikir dan relaksasi rahang sebagai salah satu intervensi keperawatan berdasarkan Evidence Based Nursing.

Diunggah oleh

donny Famons
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan12 halaman

Pengelolaan Nyeri dan Ansietas Pasca Operasi

Dokumen ini membahas tentang fistula vesikovagina yang merupakan hubungan abnormal antara kandung kemih dengan vagina yang menyebabkan urin keluar melalui vagina. Dokumen ini juga membahas mengenai penanganan nyeri dan kecemasan pasca operasi penutupan fistula vesikovagina dengan menggunakan terapi zikir dan relaksasi rahang sebagai salah satu intervensi keperawatan berdasarkan Evidence Based Nursing.

Diunggah oleh

donny Famons
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Fistel vesiko vagina merupakan hubungan abnormal antara

vesikourinaria dengan vagina yang menyebabkan urin keluar terus

menerus melalui vagina. Penderitaan pasien, bukan hanya pada fisik saja

berupa mudahnya mengalami Infeksi Saluran Kemih, namun memiliki

dampak psikososial yang dirasakan lebih menyakitkan. Penderita merasa

terisolasi dari pergaulan, keluarga dan lingkungan kerjanya oleh karena

senantiasa mengeluarkan urine dan bau yang tidak sedap setiap saat. Tidak

jarang suami akan meninggalkannya dengan alasan tidak terpenuhinya

kebutuhan biologis dengan wajar (Brunner & Suddrath, 2004). Obstetrik

fistula muncul akibatkan trauma persalianan yang mengenai 50.000-

100.000 wanita setiap tahun secara global. Fistula obstetri merupakan

suatu kondisi yang dapat dicegah dan diobati (Shobeiri, 2011).

Sebagian besar fistula disebabkan karena trauma obstetri, oleh

karena itu muncul istilah fistula obstetri. Menurut World Health

Organization (WHO) memperkirakan ada sedikitnya 2.000.000 wanita

hidup dengan fistula obstetri dan bertambah 50.000-100.000 setiap

tahunnya. Fistula obstetri adalah fistula yang disebabkan oleh trauma

kompleks karena persalinan macet. Istilah tersebut menggambarkan cidera

1
2

yang terjadi akibat masuknya bagian terbawah dari janin ke rongga pelvis,

menekan tulang panggul sehingga menyebabkan hipoperfusi jaringan

lunak disekitarnya yang mengakibatkan iskemi, nekrosis, dan pada

akhirnya menimbulkan adanya hubungan antara dua organ panggul. Tidak

semua fistula obstetri disebabkan oleh persalinan macet. Data terbaru

menunjukan bahwa dari hampir 6000 kasus fistula, 13% iatrogenik, 80%

merupakan komplikasi operasi obstetri, termasuk seksio sesarea (57%),

histerektomi karena ruptur uteri atau indikasi obstetri lainnya sekitar 3%,

sisanya berkaitan dengan operasi ginekologi yang tidak terkait dengan

kehamilan (Harrison, 2015).

Tujuan pengelolaan fistel adalah hilangnya keluhan inkontinensia

dan kembalinya kemampuan miksi dan fungsi genital yang normal serta

mencegah infeksi. Dengan perbaikan fungsi urogenitalia pada wanita maka

perbaikan dalam aktifitas dan kualitas hidup (Santoso, 2002). Fistel

vesikovagina direpair dengan pendekatan transabdominal, dimana

dilakukan insisi pada abdomen bagian bawah. Setelah itu dilakukan

pemisahan anatomi dinding kandung kemih dan vagina. Dinding vagina

dan dinding saluran kemih akan diperbaiki dan dinding perut akan ditutup.

Tabung kateter dapat dibiarkan setelah prosedur untuk membantu

mengalirkan urin. (Ojewola, et al, 2019).

Setiap pembedahan selalu berhubungan dengan insisi/sayatan yang

merupakan trauma atau kekerasan bagi penderita yang menimbulkan

berbagai keluhan dan gejala. Salah satu keluhan yang sering dikemukakan
3

adalah nyeri (Sjamsuhidajat & Jong, 2010). Di Turki, 93,7% dari pasien

yang menjalani operasi melaporkan bahwa mereka menderita rasa nyeri

yang parah (Sacide & Ummu, 2010). Selain itu, Lee (2010) melaporkan

bahwa 77-98% pasien mengalami nyeri pasca operasi, 40–80%

melaporkan nyeri sedang hingga berat dan setengahnya (40-50%)

pengelolaan nyeri yang tidak memuaskan. Nyeri merupakan masalah

utama pasien pasca bedah. Nyeri pasca bedah biasanya berlokasi pada area

pembedahan. Intensitas nyeri yang dirasakan tergantung pada lokasi, jenis

pembedahan, persepsi pasien tentang nyeri, dan lain-lain (Good &

Roykulcharoen, 2004).

Nyeri setelah pembedahan merupakan hal yang fisiologis, tetapi

hal ini merupakan salah satu keluhan yang paling ditakuti oleh pasien

setelah pembedahan. Intensitas bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai

nyeri berat namun menurun sejalan dengan proses penyembuhan Sensasi

nyeri mulai terasa sebelum kesadaran klien kembali penuh, dan semakin

meningkat seiring dengan berkurangnya pengaruh anestesi. Adapun

bentuk nyeri yang dialami oleh klien pasca pembedahan adalah nyeri akut

yang terjadi karena adanya luka insisi bekas pembedahan ( Perry dan

Potter, 2005). Jika nyeri akut tidak dikontrol dapat menyebabkan proses

rehabilitasi pasien tertunda dan hospitalisasi menjadi lama. Hal ini karena

pasien memfokuskan semua perhatiannya pada nyeri yang dirasakan

(Smeltzer & Bare, 2011).


4

Rasa nyeri setelah pembedahan biasanya berlangsung 24 sampai 48

jam, namun dapat berlangsung lebih lama tergantung pada luas luka,

penahan nyeri yang dimiliki pasien dan respon terhadap nyeri. Nyeri dapat

memperpanjang masa penyembuhan, karena mengganggu kembalian

aktifitas/mobilisasi pasien dan hal ini yang menjadi salah satu alasan

pasien untuk tidak mau bergerak atau melakukan mobilisasi segera (Long,

1998). Nyeri yang tidak ditangani dengan baik akan mengganggu

mobilisasi pasien pasca operasi yang dapat berakibat terjadinya

tromboemboli, iskemi miokard, dan aritmia. Nyeri akut pasca operasi

merupakan permasalahan besar jika tidak ditangani dengan benar.

Pengobatan nyeri yang tidak adekuat atau berlebihan, keduanya memiliki

konsekuensi tersendiri. Penangan nyeri yang tidak adekuat mempunyai

risiko termasuk di antaranya lama perawatan di rumah sakit yang lebih

panjang, risiko pasien dirawat kembali ke rumah sakit, dan penggunaan

obat analgetik dalam dosis yang besar bahkan sampai penggunaan obat

sedasi (Shin et al. 2016).

Nyeri post operasi dapat menyebabkan stress dan ansietas.

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali

meningkatkan persepsi nyeri, tetapi juga seringkali menimbulkan suatu

perasaan ansietas. Pola bangkitan otonom nyeri dan ansietas adalah sama

(Potter & Perry, 2005). Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan

nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. Sulit untuk memisahkan dua

sensasi tersebut, stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang


5

diyakini mengendalikan emosi seseorang. Ansietas telah terbukti

meningkatkan rasa sakit pasca operasi, yang dapat memengaruhi

pemulihan pasca operasi, misalnya, dengan memperlambat pernapasan

yang meningkatkan risiko paru-paru; mobilitas menurun yang

meningkatkan risiko trombosis; dan meningkatkan risiko gangguan usus.

Ansietas juga berperan dalam meningkatkan risiko infeksi dan mengurangi

respons sistem kekebalan tubuh (Bailey, 2010).

Ansietas dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan

mobilisasi dini post operasi. Kebanyakan pasien post operasi mengalami

kecemasan jika tubuh digerakkan pada posisi tertentu karena akan

mempengaruhi luka pada post operasi yang belum sembuh sehingga

pasien cenderung tidak melakukan mobilisasi dini (Smeltzer, 2009).

Pasien yang mengalami ansietas biasanya mengatakan takut untuk

bergerak setelah tindakan operasi karena merasa nyeri, takut jahitannya

lepas dan takut lukanya tidak sembuh (Arisdiani dan Livana, 2018).

Keperawatan pasca operasi merupakan periode akhir dari

keperawatan perioperative. Selama periode ini proses keperawatan

diarahkan pada upaya untuk menstabilkan kondisi pasien pada

keadaan keseimbangan fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan

pencegahan komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi cepat

dan akurat dapat membantu pasien kembali pada fungsi optimalnya

dengan cepat, aman dan nyaman ( Majid et al, 2011).


6

Peran perawat medikal bedah pada pasien post operasi adalah

mobilisasi, yang merupakan faktor yang utama dalam mempercepat

pemulihan dan mencegah terjadinya komplikasi pasca bedah. Mobilisasi

merupakan tindakan mandiri bagi seorang perawat dalam melakukan

asuhan keperawatan pada pasien pasca bedah. Namun, Kebanyakan

dari pasien masih mempunyai kekhawatiran kalau tubuh

digerakkan pada posisi tertentu pasca pembedahan akan

mempengaruhi luka operasi yang masih belum sembuh yang baru saja

selesai dikerjakan. Padahal tidak sepenuhnya masalah ini perlu

dikhawatirkan, bahkan justru hampir semua jenis operasi

membutuhkan mobilisasi atau pergerakan badan sedini mungkin

asalkan rasa nyeri dapat ditahan dan keseimbangan tubuh tidak lagi

menjadi gangguan (Majid et al., 2011). Oleh sebab itu, perawat medikal

bedah perlu melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi nyeri dan

kecemasan yang dialami pasien post operasi sehingga pasien mau

melakukan mobilisasi dini dan tercapainya kesembuhan yang optimal.

Tindakan penurunan nyeri dan ansietas post operasi yang bersifat

alami dengan menggunakan kemampuan pasien secara mandiri perlu

dilakukan. Rasa sakit akut yang tidak teratasi akan mempengaruhi kondisi

tubuh termasuk denyut nadi dan tekanan darah. Pemberian obat analgesik

juga memiliki efek samping seperti mual, muntah dan ketergantungan

(Peterson & Bredow, 2004), sehingga pemberian terapi komplementer

untuk mengatasi nyeri post operasi secara berkesinambungan sangat


7

dibutuhkan pada kondisi ini. Salah satu intervensi keperawatan yang dapat

di lakukan berdasarkan Evidence Based Nursing (EBN) dalam

menurunkan nyeri dan ansietas post operasi adalah terapi zikir dan

relaksasi rahang.

Penelitian telah membuktikan bahwa meditasi Zikir dan relaksasi

rahang pada pasien bedah abdomen menunjukkan hasil yang signifikan

mengurangi kecemasan dan nyeri post operasi (Soliman et al., 2013),

terapi meditasi zikir selama 30 menit bisa mengurangi rasa sakit pasca

operasi 6-8 jam dan 24-30 jam pada pasien yang menjalani operasi

abdomen (Sitepu, 2009). Penatalaksanaan nyeri akut melalui bacaan terapi

zikir dan relaksasi rahang dapat menstimulasi neuropeptide dan stimulasi

pengeluaran opioid endogen natural. Keterlibatan pasien post operasi

dalam mengatasi nyeri secara aktif melalui rangsangan terapi zikir dapat

menurunkan ketegangan sistem saraf dan membuat relaksasi (Peterson &

Bredow, 2010).

Terapi dzikir adalah jenis terapi dengan ritme yang teratur disertai

sikap pasrah kepada objek transendensi yaitu Allah. Frase yang digunakan

dapat berupa nama-nama Allah, atau kata yang memiliki makna

menenangkan sehingga mampu untuk menurunkan nyeri (Wulandari,

2013). Manfaat dzikir kepada pasien untuk mendapatkan respon relaksasi,

ketenangan, kesadaran, dan kedamaian yang meningkatkan psikologis,

sosial, spiritual dan status kesehatan fisik (Abdel - Khalek & Lester ,

2007).
8

Hawari (2010) menyatakan bahwa Dzikir dan doa dari sudut

pandang ilmu kedokteran jiwa atau kesehatan mental merupakan terapi

psikiatrik, setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa. Hal ini

dikarenakan dzikir dan doa mengandung unsur spiritual kerohanian,

keagamaan, yang dapat membangkitkan harapan dan percaya diri pada diri

klien atau penderita, yang pada gilirannya kekebalan tubuh dan kekuatan

psikis meningkat sehingga mempercepat proses penyembuhan. Meditasi

dzikir berperan dalam susunan syaraf pusat dengan bekerja sesuai teori

gate control, dimana aktivasi pusat otak yang tinggi dapat menyebabkan

gerbang sunsum tulang menutup sehingga memodulasi dan mencegah

input nyeri untuk masuk ke pusat otak yang lebih tinggi untuk

dinterpretasikan sebagai pengalaman nyeri (Melzack & Wall,1999 dalam

Sitepu, 2009).

Relaksasi rahang merupakan relaksasi yang dilakukan untuk

merilekskan sendi dan otot rahang sehingga dapat mengurangi nyeri dan

ansietas (Soliman, 2013). Penelitian lainnya yang menjelaskan manfaat

relaksasi rahang diantaranya penelitian Wanxia (2019) menyatakan bahwa

relaksasi rahang dapat menurunkan nyeri pada pasien post operasi

abdomen. Selain itu pada hasil penelitian Topcu dan Findik (2012)

didapatkan hasil relaksasi rahang efektif dalam menurunkan nyeri post

operasi abdomen bagian atas. Hal ini sesuai dengan penelitian Good

(1999) bahwa relaksasi rahang dikombinasikan dengan terapi musik dapat

mengurangi nyeri post operasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi


9

zikir dan relaksasi rahang dapat menurunkan nyeri dan ansietas post

operasi abdomen.

Hasil pengkajian yang dilakukan pada Ny. L berumur 45 tahun

dirawat di Ruang Bedah Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang dengan

diagnosa medis fistel vesikovagina dengan tindakan pembedahan repair

fistel vesikovagina transabdominal. Pasien mengeluh nyeri di bekas luka

operasi di area abdomen bawah, skala nyeri 7, nyeri terasa seperti di iris

dan di tusuk-tusuk. Pasien mengatakan nyeri juga dirasakan di area

abdomen atas, pasien mengeluh perut bagian atas terasa dipilin-pilin.

Nyeri dirasakan terus-menerus. Pasien mengatakan nyeri bertambah saat

pasien berpindah posisi (miring kiri-kanan). Dari data objektif ditemukan

pasien tampak meringis dan gelisah. Pasien tampak terus mengatakan

bahwa perutnya sakit. Pasien tampak memegang bagian perutnya yang

terasa sakit. Pasien mengatakan merasa cemas jika jahitan luka operasi

akan terbuka jika berpindah posisi. Pasien juga merasa cemas karena nyeri

yang dirasakannya dan takut bila kateter yang terpasang akan terlepas bila

ia berpindah posisi. Pasien mengatakan tidak tahu apa saja yang boleh

dilakukan setelah selesai operasi. Pasien tampak cemas dan gelisah. Pasien

tampak sulit berkonsentrasi. Wajah pasien tampak tegang dan pucat. Hasil

pengukuran tanda-tanda vital didapatkan, tekanan darah 130/80 mmHg,

nadi 90x/menit, frekuensi nafas 21x/menit dan suhu 36,6 oC.


10

Berdasarkan data diatas maka penulis ingin memaparkan

pemberian asuhan keperawatan pada Ny. L dengan post repair fistel

vesikovagina transabdominal dengan terapi zikir dan relaksasi rahang

untuk menurunkan nyeri dan kecemasan.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Memaparkan asuhan keperawatan pada pasien dengan post repair fistel

vesikovagina transabdominal dengan aplikasi terapi zikir dan relaksasi

rahang untuk nyeri dan kecemasan di Ruang Bedah Wanita RSUP DR.

M. Djamil Padang

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penulisan Laporan Ilmiah Akhir ini adalah :

a. Manajemen Asuhan Keperawatan

1) Memaparkan pengkajian yang komprehensif pada Ny. L

dengan post repair fistel vesikovagina transabdominal di Ruang

Bedah Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang

2) Memaparkan diagnosa keperawatan pada Ny. L dengan post

repair fistel vesikovagina transabdominal di Ruang Bedah

Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang

3) Memaparkan perencanaan asuhan keperawatan pada Ny. L

dengan post repair fistel vesikovagina transabdominal di Ruang

Bedah Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang


11

4) Memaparkan implementasi asuhan keperawatan pada Ny. L

dengan post repair fistel vesikovagina transabdominal di Ruang

Bedah Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang

5) Memaparkan evaluasi asuhan keperawatan pada Ny. L dengan

post repair fistel vesikovagina transabdominal di Ruang Bedah

Wanita RSUP DR. M. Djamil Padang

b. Evidence Based Nursing (EBN)

Memaparkan aplikasi terapi zikir dan relaksasi rahang untuk

menurunkan nyeri dan ansietas di Ruang Bedah Wanita RSUP DR.

M. Djamil Padang.

C. MANFAAT

1. Manfaat Bagi Institusi

Penulisan ini diharapkan dapat dijadikan acuan sebagai dasar

pemberian intervensi yang sesuai sehingga meningkatkan kualitas

pelayanan keperawatan dan asuhan keperawatan yang berkualitas.

2. Manfaat Bagi Profesi

Hasil dari penulisan laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan

referensi tentang masalah pembedahan khususnya asuhan keperawatan

pada pasien post operasi abdomen dengan aplikasi terapi zikir dan

relaksasi rahang.
12

3. Manfaat Bagi Rumah Sakit

Penulisan ini diharapkan dapat di aplikasikan di rumah sakit untuk

membuat kebijakan terkait panduan aplikasi terapi zikir dan relaksasi

rahang dalam manajemen nyeri dan ansietas pada pasien post operasi

yang mengacu pada penerapan Evidence Based Nursing.

Anda mungkin juga menyukai