0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
564 tayangan72 halaman

Proses dan Prinsip Sedimentasi

Laporan ini merangkum hasil praktikum sedimentasi yang meliputi tujuan praktikum untuk memahami proses sedimentasi secara teoritis dan praktis, dasar teori tentang proses sedimentasi dan faktor yang mempengaruhinya, serta hasil percobaan sedimentasi yang dilakukan mahasiswa.

Diunggah oleh

Diva Prilliyuan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
564 tayangan72 halaman

Proses dan Prinsip Sedimentasi

Laporan ini merangkum hasil praktikum sedimentasi yang meliputi tujuan praktikum untuk memahami proses sedimentasi secara teoritis dan praktis, dasar teori tentang proses sedimentasi dan faktor yang mempengaruhinya, serta hasil percobaan sedimentasi yang dilakukan mahasiswa.

Diunggah oleh

Diva Prilliyuan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA

(TKK-61027)

SEDIMENTASI

Group / Hari : OTK-03 / Selasa, 10 November 2020

Nama Praktikan (NIM) : Diva Prilliyuan (185061100111034)

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN OPERASI TEKNIK KIMIA

(TKK-61027)

SEDIMENTASI

OTK-03 / Selasa, 10 November 2020

Diva Prilliyuan (185061100111034)

Malang, 11 November 2020

Menyetujui,

DOSEN PEMBIMBING ASISTEN

Nama Albert Randa

NIP 175061107111013
PERCOBAAN 1

SEDIMENTASI

Hari/Tanggal Percobaan : Selasa, 10 November 2020

Group : OTK-03

Nama Praktikan (NIM) : Diva Prilliyuan (185061100111034)

Asisten : Albert Randa (175061107111013)

ABSTRAK
I. TUJUAN

1. Mahasiswa mengerti dan memahami proses sedimentasi.

2. Mahasiswa dapat melakukan percobaan sedimentasi dengan benar dan


aman.

3. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan-perhitungan kecepatan


pengendapan, konsentrasi endapan, dll dan membandingkan antara
perhitungan teoritis dengan hasil praktikum.

II. DASAR TEORI

Sedimentasi adalah proses pemisahan bahan padat dari bahan cair


dengan cara mengendapkan partikel padat secara perlahan. Pengendapan
pada sedimentasi umumnya dibantu adanya gaya gravitasi yang menarik
partikel padat agar turun ke bawah. Prinsip dasar yang dipakai dalam
sedimentasi adalah perbedaan densitas. Densitas partikel padat yang
dipisahkan menggunakan proses ini harus lebih rendah dibandingkan
densitas air ataupu bahan cair lainnya (Istianah dkk, 2018).

Tujuan dari proses sedimentasi adalah untuk menghilangkan partikel-


partikel yang ada di aliran fluida sehingga fluida terbebas dari kontaminan
partikel. Sedangkan dalam proses lain, partikel dapat diperoleh kembali
sebagai produk serta partikel dapat tersuspensi ke dalam cairan sehingga
partikel dapat dipisahkan menjadi fraksi dengan ukuran dan kepadatan yang
berbeda (Geankoplis, 1993).

Berdasarkan konsentrasi padatan teruspensi dan sifat partikel


tersuspensi, maka pengendapan partikel terbagi menjadi 4 (empat) kelas,
yaitu (Saptati dan Himma, 2018):

a. Discrete (Kelas I)

Pada pengendapan ini, partikel padatan mengendap tanpa berinteraksi


dengan partikel padatan lainnya. Pengendapan ini terjadi pada limbah
cair dengan konsentrasi padatan yang rendah. Partikel yang mengendap
pada saat pengendapan ini terjadi, tidak mengalami perubahan bentuk,
ukuran, dan specific gravity terhadap waktu.

b. Flocculent (Kelas II)

Pengendapan ini terjadi pada limbah cair dengan konsentrasi padatan


yang tinggi. Partikel padatan yang terdapat di dalam limbah cair akan
saling berinteraksi sehingga partikel akan mengalami perubahan bentuk,
ukuran, dan specific gravity. Akibat interaksi antar partikel, maka terjadi
proses aglomerasi yang menyebabkan jumlah partikel padatan semakin
berkurang dan massa partikel meningkat. Peningkatan massa partikel
padatan menyebabkan semakin tingginya kecepatan pengendapan.

c. Hindered (Kelas III)

Pengendapan ini terjadi pada limbah cair dengan konsentrasi padatan


yang cukup tinggi. Partikel padatan yang ada di dalam limbah cair
tersebut akan saling berinteraksi, sehingga dapat menghambat kecepatan
pengendapan partikel.

d. Compression (Kelas IV)

Pengendapan ini terjadi pada limbah cair dengan konsentrasi padatan


yang sangat tinggi, sehingga partikel padatan akan saling menghambat
proses pengendapan. Partikel padatan yang berada di bagian atas akan
mendorong/menekan partikel padatan di bawahnya, sehingga terjadi
pengendapan secara bersama-sama.

Perbedaan sedimentasi dan settling adalah pada dasar prinsip


prosesnya, dimana pada sedimentasi prosesnya berlangsung dengan waktu
yang cukup lama dan prosedurnya cukup sulit. Sedangkan pada settling,
proses pemisahannya terjadi pada rentang waktu yang relatif cepat. Selain
itu, perbedaan sedimentadi dan settling juga ada pada jenis partikel yang
diendapkan. Pada sedimentasi, partikel yang akan diendapkan berupa
padatan. Sedangkan pada settling, partikel-partikel yang akan diendapkan
dapat berupa padatan ataupun cairan dan fluidanya dapat berupa cairan
maupun gas (Geankoplis, 1993).
Aplikasi dari proes sedimentasi dan settling antara lain penghilangan
padatan dari limbah cair, pengendapan kristal dari larutan induknya (mother
liquor), pemisahan campuran cair-cair dari hasil proses ekstraksi pelarut di
settler, pemisahan partikel makanan padatan dari makanan cair, dan
pemisahan minyak kedelai dari proses leaching (Geankoplis, 1993).

Beberapa faktor dapat berpengaruh pada kecepatan sedimentasi,


diantaranya (Istianah dkk, 2018):

a. Perbedaan densitas partikel padat dan cair

Semakin besar perbedaan densitas keduanya, semakin cepat proses


pengendapan. Hal ini dikarenakan gaya berat pada partikel padat jauh
lebih besar sehingga lebih mudah mengendap.

b. Kekeruhan

Kekeruhan atau konsentrasi padatan memberikan pengaruh yang


bervariasi terhadap kecepatan pengendapan tergantung besar kecilnya
konsentrasi suspensi. Secara umum, semakin keruh campuran maka
semakin cepat pengendapan. Hal ini dikarenakan gaya apung atau
gangguan dari air yang lebih kecil. Akan tetapi saat melewati konsentrasi
jenuhnya maka partikel padat susah mengendap. Pada kondisi ini
campuran lebih stabil sehingga sulit dipisahkan.

c. Ukuran partikel padat

Ukuran partikel padat berpengaruh sebanding dengan laju pengendapan.


Hal ini berkaitan dengan besarnya gaya gravitasi yang bekerja pada
partikel padat.

d. Gaya tambahan

Adapun gaya tambahan juga mempengaruhi laju pengendapan. Beberapa


gaya tambahan yang bisa diberikan yaitu gaya sentrifugasi, gaya tekan,
dan gaya listrik. Jenis-jenis gaya tambahan yang diberikan ini menjadi
dasar pembagian sedimentasi.
Free settling adalah proses jatuhnya partikel dalam fluida yang tidak
dipengaruhi oleh apapun baik itu dinding maupun partikel yang lain karena
jarak antar partikelnya yang berjauhan, sehingga bisa disebut juga sebagai
proses jatuh bebas. Sedangkan hindered settling adalah proses jatuhnya
partikel dalam fluida dimana proses tersebut dipengaruhi oleh jarak antar
partikel yang jaraknya relatif dekat dan crowded sehingga proses
pengendapannya terhambat dan jatuhnya tidak sebebas free settling
(Geankoplis, 1993).

Pada proses hindered settling, partikel-partikelnya berada dalam


jumlah yang banyak dan partikel di sekelilingnya saling berpengaruh
terhadap pergerakan masing-masing partikel. Gradien kecepatan
pengendapan partikel dipengaruhi oleh kecepatan partikel lainnya sehingga
kecepatan pengendapan secara keseluruhan menjadi lebih lambat. Selain itu,
dikarenakan jumlah partikel yang bergerak turun lebih banyak, maka cairan
yang terangkat ke atas juga cukup banyak, dan hal tersebut juga dapat
menghambat kecepatan turunnya partikel (Geankoplis, 1993).

Dari posisi awal diam pengendapan sebenarnya terjadi 2 periode


proses jatuh pada partikel, yaitu periode jatuh dengan percepatan (yang
berlangsung sangat singkat) dan periode jatuh dengan kecepatan konstan,
yang disebut dengan kecepatan pengendapan bebas (free settling velocity)
atau kecepatan terminal (terminal velocity), kemudian diikuti dengan
kecepatan pengendapan terhambat (hindered settling) sampai pengendapan
berlangsung sempurna (Geankoplis, 1993).

Besarnya kecepatan terminal diturunkan dari persamaan (Geankoplis,


1993):

2
dV mρg C D v ρA
m =mg− − (2.1)
dt ρp 2

dV
Dengan nilai =0, sehingga didapatkan persamaan (Geankoplis,
dt
1993):
2 g ( ρ p −ρ ) m
v t=
√ A ρp CD ρ
(2.2)

Dimana vt : kecepatan terminal (m/s)

π D p2 ρ p 1 2
Untuk partikel berbentuk bola, m= = π D p , maka kecepatan
6 4
terminalnya menjadi (Geankoplis, 1993):

4 ( ρ p−ρ ) g D p
v t=
√ 3C D ρ
(2.3)

Dimana DP : diameter partikel (m)

Untuk mendapatkan harga koefisien gesek, bila alirannya laminar


(NRe<1), maka besarnya koefisien gesek adalah (Geankoplis, 1993):

24 24
CD= =(1+ x )n=
ρ Nℜ (2.4)
DP v
π

Dimana μ : viskositas fluida (Pa s)

Sehingga persamaan (2.3) menjadi (Geankoplis, 1993):

g D p2( ρ p−ρ)
v t= (2.5)
18 μ

Untuk aliran turbulen (NRe>1), digunakan persamaan (2.3) dengan


koefisien gesek didapat secara empiris, seperti tercantum pada gambar grafik
sebagai berikut (Geankoplis, 1993):
Gambar 2.1. Grafik koefisien gesek untuk bola padat (Geankoplis, 1993)

Pada hindered settling gaya gesek yang terjadi lebih besar karena
interfensi antar partikel, maka viskositas efektif campuran dan bulk density
slurry perlu diberi faktor koreksi, sehingga untuk aliran laminar berlaku
(Geankoplis, 1993):

g D P2 ( ρ p− ρ ) 2
v t= (ε φP ) (2.6)
18 μ

Dimana ɛ = fraksi volume slurry

φP = faktor koreksi empiris, yang besarnya:

1
φ P= 1.82 (1−ε ) (2.7)
10

Sedangkan untuk aliran turbulen, tetap menggunakan persamaan (2.3)


dan harga koefisien gesek seperti pada grafik diatas (gambar 2.1), tetapi
perhitungan NRe menggunakan rumus (Geankoplis, 1993):

D P v t ρm DP2 g( ρ P−ρ) ρm ε φ P2
N ℜ= ε
= 2 (2.8)
μm 18 μ

Dimana ρm = bulk density campuran (kg/m3)

μm = viskositas efektif campuran (Pa s)


Lumpur (slurry) encer yang diendapkan secara gravitasi menjadi
cairan jernih dan lumpur dengan konsentrasi padatan yang tinggi, biasanya
disebut sebagai sedimentasi atau thickening. Untuk mengilustrasikan
mekanisme serta metode penentuan kecepatan pengendapan secara praktek,
dilakukan uji pengendapan secara batch dengan konsentrasi lumpur yang
seragam dalam silinder yang bertingkat seperti ditunjukkan pada gambar
berikut (Geankoplis, 1993):

Gambar 2.2. Skema proses sedimentasi secara batch (Geankoplis,


1993)

Pada awalnya, seperti yang terdapat dalam gambar 2.2a, semua


partikel jatuh secara bebas (free settling) dalam zona suspensi B. Partikel-
partikel di zona B jatuh atau mengendap pada laju yang sama pada saat
awal dan membentuk zona A pada gambar 2.2b yang merupakan cairan
jernih. Ketinggiannya (z) turun pada laju yang konstan. Kemudian, zona D
mulai muncul, yaitu zona yang berisi partikel yang mengendap di bagian
bawah. Zona C adalah zona atau lapisan transisi yang isi padatannya
bervariasi dari zona suspensi B ke zona D. Setelah proses lebih lanjut,
zona B dan C menghilang seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.2c dan
kemudian yang tertinggal hanyalah cairan jernih (zona A) yang terpisah
secara nyata dengan lumpur dengan konsentrasi padatan yang tinggi (zona
D) (Geankoplis, 1993).
Kecepatan pengendapan ditentukan dengan menggambar garis
singgung ke kurva pada gambar 2.2d pada waktu tertentu t1 dan
kemiringan –dz/dt = v1. Pada titik ini tingginya adalah z1 dan zi adalah
intercept dari garis singgung ke kurva. Sehingga (Geankoplis, 1993).
Z i −Z 1
V 1= (2.9)
t 1 −0
Dan konsentrasi rata-rata suspensinya menjadi (Geankoplis, 1993):
Z0
C 1=( )C (2.10)
Z1 0
Dimana c0 merupakan konsentrasi awal suspense dalam kg/m3 pada
ketinggian z0 dan saat t = 0. Hal tersebut diulangi untuk waktu yang lain
dan dibuat plot antara kecepatan pengendapan versus konsentrasinya
(Geankoplis, 1993).
Koagulasi adalah proses konversi dari polutan-polutan yang
tersuspensi koloid yang sangat halu di dalam air limbah menjadi
gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan.
Koagulan adalah valensi ion yang berpengaruh terhadap proses koagulasi.
Dimana ion yang memiliki muatan berlawanan dengan koloid akan
diendapkan. Koagulasi dapat dicapai dengan menetralkan muatan elektrik
dari permukaan koloid. Semakin besar valensi koagulan, efektivitas gaya
koagulasi semakin besar (Siregar, 2005).
Berbagai valensi tiga dan garam alumunium dapat digunakan sebagai
koagulan. Seperti: alumunium sulfat ((Al2(SO)4), besi (III) klorida
(FeCl3), besi (II) sulfat (FeSO4), dan polialumunium klorida
(Al2(OH)20Cl4). Akan tetapi, koagulan-koagulan tersebut memiliki
kelemahan, yaitu berupa perubahan pH dan konduktivitas dalam air hasil
olahan. Selain itu, jika digunakan dalam dosis besar akan menghasilkan
lumpur yang berlebihan (Siregar, 2005).
Kalsium karbonat atau biasa disebut dengan kapur memiliki rumus
kimia CaCO3. Kapur berbentuk bubuk atau gumpalan padatan berwarna
putih, tidak berbau, tidak mudah terbakar, memiliki berat molekul sebesar
100.09 g/mol, specific gravity sebesar 2.93 dan solubility sebesar 0.00153
g/100 mL air. Kapur termasuk senyawa yang berbahaya bila terjadi kontak
langsung dengan kulit, mata, dan terhirup karena dapat menyebabkan
iritasi. Apabila terjadi kontak langsung dengan mata segera bilas dengan
alir mengalir selama beberapa menit dan apabila terjadi kontak langsung
dengan kulit, segera bilas dengan air mengalir dan sabun. Gunakan sarung
tangan pelindung, kacamata pelindung, dan masker. Simpan kapur di
wadah tertutup rapat, jauhkan dari senyawa pengoksidasi kuat, asam kuat,
sumber api, dan sinar matahari langsung (Labchem, 2016).
Aluminium potassium sulfat atau biasa disebut dengan tawas memiliki
rumus kimia AlK(SO4)2.12H2O. Tawas berbentuk padatan, tidak berbau,
tidak mudah terbakar, dan memiliki specific gravity sebesar 1.757. Tawas
termasuk senyawa yang berbahaya bila terjadi kontak langsung dengan
kulit, mata, dan terhirup karena dapat menyebabkan iritasi. Apabila terjadi
kontak langsung dengan mata segera bilas dengan alir mengalir selama
beberapa menit dan apabila terjadi kontak langsung dengan kulit, segera
bilas dengan air mengalir dan sabun. Gunakan sarung tangan pelindung,
kacamata pelindung, dan masker. Simpan tawas di wadah tertutup rapat,
tempat yang sejuk dan berventilasi, serta jauhkan dari sumber api dan sinar
matahari langsung (Fisher Scientific, 2015).
III. ALAT DAN BAHAN

[Link]

Tabel 3.1. Alat

No Nama Alat Volume (mL) Jumlah


1 Gelas ukur 1000 1 buah
2 Stopwatch 2 buah
3 Termometer 4 buah
4 Piknometer 10 1 buah
5 Gelas beker 250 2 buah
6 Sendok 1 buah
7 Magnetic bar 2 buah
8 Kaca arloji 1 buah
9 Corong 1 buah
10 Tabung sedimentasi 4 buah
11 Pengaduk paralon 1 buah

[Link]

Tabel 3.2. Bahan

No Nama Bahan Jumlah


1 Kapur 679 g
2 Tawas 38.8 g
3 Air 4000 mL

III.3.
[Link] Alat

Keterangan :

1. Inlet

2. Mistar

3. Tabung sedimentasi

4. Penerang

5. Kabel listrik

6. Outlet

Gambar 3.1.
IV. PROSEDUR KERJA

IV.1. Pengukuran Densitas Air

Gambar 4.1. Prosedur pengukuran densitas air

IV.2. Pelarutan Kapur 15% w/w

Gambar 4.2. Prosedur pelarutan kapur 15% w/w


Keterangan : Prosedur diulang untuk variabel kapur 20% w/w
IV.3. Pelarutan Tawas 2% w/w

Gambar 4.3. Prosedur pelarutan tawas 2% w/w

IV.4. Sedimentasi Larutan Kapur 15% w/w

Gambar 4.4. Prosedur sedimentasi larutan kapur 15% w/w

Keterangan : Prosedur diulang untuk variabel kapur 20% w/w


IV.5. Sedimentasi Larutan Kapur 15% w/w dan Tawas 2% w/w

Gambar 4.5. Prosedur sedimentasi larutan kapur 15% w/w dan tawas
2% w/w

Keterangan : Prosedur diulang untuk variabel kapur 20% w/w dan


tawas 2% w/w
V. Hasil dan Pembahasan

V.1. Hasil Pengamatan

Tabel 5.1. Data hasil pengamatan hubungan ketinggian interface


terhadap waktu

Waktu Ketinggian Interface (cm)


(menit) A B C D
0 41.7 42.5 43 43
1 41.6 42.3 42.7 42.7
2 39.3 33.4 40 42.5
3 38.3 32.5 39.8 42.4
4 37.4 32 39.6 42.3
5 37 31.1 39.5 42.2
6 36 30.7 39.4 42.1
7 35.6 30.5 39.3 42
8 34.4 29.7 39.1 41.9
9 33.6 29.4 38.7 41.8
10 33.2 28.9 38.3 41.6
15 29.7 27.9 37.9 41.5
20 26.7 27.3 36.9 41.3
25 24 26 35.9 41
30 21.7 25.4 34.8 40.7
40 18.4 24.3 33 40.2
50 16.3 23.2 31.2 39.5
60 14.5 22 29.5 38.8

Keterangan : A = Larutan kapur 15% w/w

B = Larutan kapur 20% w/w

C = Larutan kapur 15% w/w dan larutan tawas 2% w/w

D = Larutan kapur 20% w/w dan larutan tawas 2% w/w

Tabel 5.1. Data hasil pengamatan hubungan konsentrasi terhadap


waktu

Waktu Konsentrasi (g/mL)


(menit) A B C D
0 0.1455 0.19400 0.1649 0.21340
0 0
0.1458 0.1660
1
5 0.19492 6 0.21490
0.1543 0.1772
2
9 0.24686 7 0.21591
0.1584 0.1781
3
2 0.25369 6 0.21642
0.1622 0.1790
4
3 0.25766 6 0.21693
0.1639 0.1795
5
8 0.26511 1 0.21745
0.1685 0.1799
6
4 0.26857 7 0.21796
0.1704 0.1804
7
3 0.27033 2 0.21848
0.1763 0.1813
8
8 0.27761 5 0.21900
0.1805 0.1832
9
8 0.28044 2 0.21953
0.1827 0.1851
10
5 0.28529 4 0.22058
0.2042 0.1870
15
9 0.29552 9 0.22111
0.2272 0.1921
20
4 0.30201 6 0.22218
0.2528 0.1975
25
1 0.31712 1 0.22381
0.2796 0.2037
30
0 0.32461 6 0.22546
0.3297 0.2148
40
5 0.33930 7 0.22826
0.3722 0.2272
50
3 0.35539 7 0.23231
0.4184 0.2403
60
4 0.37477 6 0.23650

Keterangan : A = Larutan kapur 15% w/w


B = Larutan kapur 20% w/w

C = Larutan kapur 15% w/w dan larutan tawas 2% w/w

D = Larutan kapur 20% w/w dan larutan tawas 2% w/w


V.2. Pembahasan
V.2.1. Analisa Proses
Sedimentasi adalah proses pemisahan bahan padat dari bahan
cair dengan cara mengendapkan partikel padat secara perlahan.
Pengendapan pada sedimentasi umumnya dibantu adanya gaya
gravitasi yang menarik partikel padat agar turun ke bawah. Prinsip
dasar yang dipakai dalam sedimentasi adalah perbedaan densitas.
Densitas partikel padat yang dipisahkan menggunakan proses ini
harus lebih rendah dibandingkan densitas air ataupu bahan cair
lainnya (Istianah dkk, 2018).

Pada percobaan sedimentasi ini, digunakan dua bahan utama,


yaitu kapur dan tawas. Kapur digunakan sebagai padatan yang akan
diendapkan karena kelarutan kapur terhadap air rendah sehingga
dapat dipisahkan melalui proses sedimentasi. Tawas digunakan
sebagai koagulan karena dapat membuat suspensi yang ada dalam air
menjadi gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan dan dapat
mempersingkat waktu pengendapan.

Prosedur percobaan yang pertama yaitu dilakukan pengukuran


densitas air. Pengukuran densitas air dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu dengan kalibrasi piknometer dan wet bulb. Pengukuran
densitas dengan menggunakan metode kalibrasi piknometer
dilakukan dengan menimbang piknometer kosong dan piknometer
yang berisi air. Massa piknometer yang berisi air kemudian
dikurangi dengan masa piknometer kosong sehingga didapatkan
massa air. Data densitas diperoleh dari pembagian massa air dengan
volume air yang dianggap sama dengan volume piknometer.
Diperoleh densitas air melalui metode kalibrasi piknometer sebesar
0.97 g/mL. Pengukuran densitas dengan metode wet bulb dilakukan
dengan cara membasahi tisu dengan air dan suhunya diukur
menggunakan termometer untuk mendapatkan suhu ruang. Data
densitas diperoleh dari data suhu air pada suhu ruang. Data densitas
digunakan untuk mengetahui massa air dalam 1 liter.

Prosedur percobaan yang kedua adalah pelarutan kapur dan


tawas ke dalam 1 liter air. Terdapat empat variabel yang digunakan
dalam percobaan sedimentasi ini, yaitu variabel A (kapur 15% w/w),
variabel B (kapur 20% w/w), variabel C (kapur 15% w/w dan tawas
2% w/w), dan variabel D (kapur 20% w/w dan tawas 2% w/w).
Digunakan beberapa variabel dengan perbedan massa kapur untuk
mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap waktu
pengendapan. Massa kapur didapatkan dari mengalikan persentase
berat kapur dengan massa air dalam 1000 mL air. Kapur ditimbang
menggunakan neraca digital dan dilarutkan dalam 300 mL air di
dalam gelas beker dan diaduk menggunakan spatula. Tawas yang
sudah ditimbang dilarutkan dalam 100 mL air dan dihomogenisasi
menggunakan hotplate and magnetic stirrer karena tawas sulit larut
dalam air sehingga diperlukan suhu dan kecepatan pengadukan yang
tinggi untuk mempercepat proses homogenisasi.

Prosedur selanjutnya adalah memasukkan laturan kapur dan


atau larutan setiap variabel dimasukkan ke dalam masing-masing
tabung sedimentasi dan ditambahkan sisa air hingga 1000 mL.
Setelah semua bahan dimasukkan kedalam tabung sedimentasi,
dilakukan pengaukan agar partikel terdistribusi. Proses sedimentasi
dilakukan selama 60 menit dengan mengamati perubahan tinggi
interface menggunakan mistar. Pada 10 menit pertama ketinggian
interface diukur tiap 1 menit, pada 20 menit selanjutnya pengamatan
dilakukan setiap 5 menit, dan pada 30 menit terakhir pengamatan
dilakukan setiap 10 menit. Pada awal pengendapan kecepatan
partikel jatuh tinggi karena jarak antar partikel berjauhan, namun
semakin lama waktu pengendapan jarak antar partikel akan semakin
dekat sehingga penurunan ketinggian interface tidak terlalu
signifikan.
Setelah proses sedimentasi selesai, larutan yang sudah
tersedimentasi diaduk dan harus segera dikeluarkan agar tidak
mengeras dan menyumbat valve. Kemudian dibilas dengan air agar
tidak ada partikel padat yang menempel dan tertinggal pada dinding
tabung sedimentasi.

V.2.2. Analisa Hasil

Gambar 5.1. Tabung sedimentasi variabel A setelah 60 menit

Gambar 5.2. Tabung sedimentasi variabel B setelah 60 menit


Gambar 5.3. Tabung sedimentasi variabel C setelah 60 menit

Gambar 5.4. Tabung sedimentasi variable D setelah 60 menit

Pada gambar 5.1, 5.2, 5.3, dan 5.4 menunjukkan hasil setelah
proses sedimentasi pada menit ke-60 untuk semua variabel. Setelah
60 menit, didapatkan ketinggian interface untuk variabel A sebesar
14.5 cm, variabel B sebesar 22 cm, variabel C sebesar 29.5 cm, dan
variabel D sebesar 38.8 cm. Variabel A dan B menghasilkan nilai
interface yang rendah karena telah melewati taham kompresi dimana
air dipaksa naik ke atas oleh gaya apung sehingga menghasilkan
endapan yang lebih padat dan zona cairan jernih yang lebih besar.
Sedangkan pada variabel C dan variabel D interface nya masih tinggi
dikarenakan adanya tawas yang berfungsi sebagai koagulan yang
membuat partikel kapur menjadi berdekatan serta padat sehingga
susah diendapkan dan zona cairan jernih nya lebih kecil.

Grafik Hubungan Ketinggian Interface Terhadap Waktu


50
Ketinggian Interface (cm)

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70

Waktu (menit)

Vriabel A Variabel B Variabel C Variabel D

Gambar 5.5. Grafik hubunganketinggian interface terhadap


waktu

Pada gambar 5.5 menunjukkan nilai hubungan ketinggian


interface terhadap waktu pada semua variabel selama proses
sedimentasi. Variabel B memiliki nilai interface terendah diikuti
oleh
VI. KESIMPULAN
VII. DAFTAR PUSTAKA

Fisher Scientific. 2015. Material Safety data Sheet: Aluminium Potassium


Sulfate. USA: [Link]

Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Process and Unit Operations


Third Edition. Canada: Prentice-Hall Internasional.

Istianah, Nur, dkk. 2018. Teknologi Bioproses. Malang: UB Press

Labchem. 2016. Material Safety Data Sheet: Calcium Carbonate. US:


[Link]

Saptati, Dwi A.S. dan Nurul F. Himma. 2018. Perlakuan Fisiko-Kimia


Libah Cair Industri. Malang: UB Press

Siregar, Sakti A. 2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta:


Penerbit Kanisius
VIII. LAMPIRAN
VIII.1. Data Laporan Sementara

Diva Prilliyuan (185061100111034)

145.5 g
194 g
145.5 164.9 g
194 213.4 g
VIII.2. Perhitungan Densitas Air
m pikno kosong = 16.4 g
m pikno + air = 26.10 g
m air = 9.70 g
V pikno = 10 mL
ρ air = 0.97 g/mL

VIII.3. Perhitungan Massa Air


ρ air = 0.97 g/mL
V air = 1000 mL
m air (1000 mL) = 970 g

VIII.4. Perhitungan Massa Kapur


VIII.4.1. Perhitungan Massa Kapur 15% w/w
m air = 970 g
% w/w kapur = 15 %
m kapur = 145.5 g

VIII.4.2. Perhitungan Massa Kapur 20% w/w


m air = 970 g
% w/w kapur = 20 %
m kapur = 194 g

VIII.5. Perhitungan Massa Tawas 2% w/w


m air = 970 g
% w/w tawas = 2 %
m tawas = 19.4 g

VIII.6. Perhitungan vt Teoritis Kapur 15% w/w


VIII.6.1. Free Settling
Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Trial      
Vt 1 = 0.002 m/s
Vt 2 = 0.02 m/s
NRe 1 = 0.117465  
NRe 2 = 1.174653  
Cd 1 = 341.04  
Cd 2 = 3.4104  
Plot Data      
NRe = 0.21  
Vt = 0.003576 m/s

VIII.6.2. Hindered Settling


Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.1455 kg
Konsentrasi padatan (Ca) = 0.1455  
Konsentrasi air (Cair) = 0.8545  

Void fraction (ɛ)


Cair = 0.942673654
ρair
ε=
C air Ca
+
ρ air ρ p
Bulk density (ρm)
ρm =ερ+(1−ε )ρm = 1070.091801
Faktor koreksi empiris (φP)
1 = 0.786440824
φ P= 1.82 (1−ε )
10
vt
g D P2 ( ρ p − ρ ) 2 = 0.002333041 m/s
v t= ( ε φP )
18 μ

VIII.7. Perhitungan vt Teoritis Kapur 20% w/w


VIII.7.1. Free Settling
Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3

Trial      
Vt 1 = 0.002 m/s
Vt 2 = 0.02 m/s
NRe 1 = 0.117465  
NRe 2 = 1.174653  
Cd 1 = 341.04  
Cd 2 = 3.4104  
Plot Data      
NRe = 0.22  
Vt = 0.003746 m/s

VIII.7.2. Hindered Settling


Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.194 kg
Konsentrasi padatan (Ca) = 0.194  
Konsentrasi air (Cair) = 0.806  

Void fraction (ɛ)


Cair = 0.920842174
ρair
ε=
C air Ca
+
ρ air ρ p
Bulk density (ρm)
ρm =ερ+(1−ε )ρm = 1108.209564
Faktor koreksi empiris (φP)
1 = 0.717683161
φ P= 1.82 (1−ε )
10
vt
g D P2 ( ρ p − ρ ) 2 = 0.002031593 m/s
v t= ( ε φP )
18 μ

VIII.8. Perhitungan vt Teoritis Kapur 15% w/w dan Tawas 2% w/w


VIII.8.1. Free Settling
Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.1455 kg
Fraksi kapur (xk) = 0.882353  
sg tawas = 1.757  
Densitas tawas (ρt) = 1704.29 kg/m3
Massa tawas (mt) = 0.0194 kg
Fraksi tawas (xt) = 0.117647  
Massa total (m tot) = 0.1649 kg
Densitas total (ρ tot) = 2596.975 kg/m3

Trial      
Vt 1 = 0.002 m/s
Vt 2 = 0.02 m/s
NRe 1 = 0.117465  
NRe 2 = 1.174653  
Cd 1 = 317.7913  
Cd 2 = 3.177913  
Plot Data      
NRe = 0.19  
Vt = 0.003235 m/s

VIII.8.2. Hindered Settling


Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.1455 kg
Fraksi kapur (xk) = 0.882353  
sg tawas = 1.757  
Densitas tawas (ρt) = 1704.29 kg/m3
Massa tawas (mt) = 0.0194 kg
Fraksi tawas (xt) = 0.117647  
Konsentrasi padatan (Ca) = 0.1649  
Konsentrasi cair (Cair) = 0.8351  
Densitas total (ρp) = 2596.975 kg/m3

Void fraction (ɛ)


Cair = 0.931311939
ρair
ε=
C air Ca
+
ρ air ρ p
Bulk density (ρm)
ρm =ερ+(1−ε )ρm = 1081.753779
Faktor koreksi empiris (φP)
1 = 0.74987302
φ P= 1.82 (1−ε )
10
vt
g D P2 ( ρ p − ρ ) 2 = 0.002023245 m/s
v t= ( ε φP )
18 μ

VIII.9. Perhitungan vt Teoritis Kapur 20% w/w dan Tawas 2% w/w


VIII.9.1. Free Settling
Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.194 kg
Fraksi kapur (xk) = 0.909091  
sg tawas = 1.757  
Densitas tawas (ρt) = 1704.29 kg/m3
Massa tawas (mt) = 0.0194 kg
Fraksi tawas (xt) = 0.090909  
Massa total (m tot) = 0.2134 kg
Densitas total (ρ tot) = 2624.026 kg/m3
Trial      
Vt 1 = 0.002 m/s
Vt 2 = 0.02 m/s
NRe 1 = 0.117465  
NRe 2 = 1.174653  
Cd 1 = 323.0751  
Cd 2 = 3.230751  
Plot Data      
NRe = 0.17  
Vt = 0.002894 m/s

VIII.9.2. Hindered Settling


Denistas air (ρ) = 970 kg/m3
Viskositas air (μ) = 0.000958 kg/m s
Perc. gravitasi (g) = 9.8 m/s2
Diameter kapur (Dp) = 0.000058 m
sg kapur = 2.8  
Densitas kapur (ρk) = 2716 kg/m3
Massa kapur (mk) = 0.194 kg
Fraksi kapur (xk) = 0.909091  
sg tawas = 1.757  
Densitas tawas (ρt) = 1704.29 kg/m3
Massa tawas (mt) = 0.0194 kg
Fraksi tawas (xt) = 0.090909  
Konsentrasi padatan (Ca) = 0.2134  
Konsentrasi cair (Cair) = 0.7866  
Densitas total (ρp) = 2624.026 kg/m3
Void fraction (ɛ)
Cair = 0.9088539
ρair
ε=
C air Ca
+
ρ air ρ p
Bulk density (ρm)
ρm =ερ+(1−ε )ρm = 1120.758052
Faktor koreksi empiris (φP)
1 = 0.682517983
φ P= 1.82 (1−ε )
10
vt
g D P2 ( ρ p − ρ ) 2 = 0.001782929 m/s
v t= ( ε φP )
18 μ

VIII.10. Perhitungan vt Eksperimen Free Settling dan Hindered


Settling Kapur 15% w/w
Waktu (menit) Ketinggian Interface (cm)
0 41.7
1 41.6
2 39.3
3 38.3
4 37.4
5 37.0
6 36.0
7 35.6
8 34.4
9 33.6
10 33.2
15 29.7
20 26.7
25 24.0
30 21.7
40 18.4
50 16.3
60 14.5
K e tin g g ia n I n te r f a c e ( c m )
Variabel A
50

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (menit)

Free Settling   Hindered Settling


zi = 0.41464 m   zi = 0.32947 m
z1 = 0.383 m   z1 = 0.24 m
t= 180 s   t= 1500 s
vt = 0.000176 m/s   vt = 0.000060 m/s

VIII.11. Perhitungan vt Eksperimen Free Settling dan Hindered


Settling Kapur 20% w/w
Waktu (menit) Ketinggian Interface (cm)
0 42.5
1 42.3
2 33.4
3 32.5
4 32
5 31.1
6 30.7
7 30.5
8 29.7
9 29.4
10 28.9
15 27.9
20 27.3
25 26
30 25.4
40 24.3
50 23.2
60 22
Variabel B
45

Ketinggian Interface (cm)


40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70

Waktu (menit)

Free Settling   Hindered Settling


zi = 0.39182 m   zi = 0.29581 m
z1 = 0.307 m   z1 = 0.26 m
t= 360 s   t= 1500 s
vt = 0.000236 m/s   vt = 0.000024 m/s

VIII.12. Perhitungan vt Eksperimen Free Settling dan Hindered


Settling Kapur 15% w/w dan Tawas 2% w/w
Waktu (menit) Ketinggian Interface (cm)
0 43
1 42.7
2 40
3 39.8
4 39.6
5 39.5
6 39.4
7 39.3
8 39.1
9 38.7
10 38.3
15 37.9
20 36.9
25 35.9
30 34.8
40 33
50 31.2
60 29.5
Variabel C
50

Ketinggian Interface (cm)


45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70

Waktu (menit)

Free Settling   Hindered Settling


zi = 0.41918 m   zi = 0.40581 m
z1 = 0.4 m   z1 = 0.379 m
t= 120 s   t= 900 s
vt = 0.000160 m/s   vt = 0.000030 m/s

VIII.13. Perhitungan vt Eksperimen Free Settling dan Hindered


Settling Kapur 20% w/w dan Tawas 2% w/w
Waktu (menit) Ketinggian Interface (cm)
0 43
1 42.7
2 42.5
3 42.4
4 42.3
5 42.2
6 42.1
7 42
8 41.9
9 41.8
10 41.6
15 41.5
20 41.3
25 41
30 40.7
40 40.2
50 39.5
60 38.8

Variabel D
50
Ketinggian Interface (cm)
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70

Waktu (menit)

Free Settling   Hindered Settling


zi = 0.42836 m   zi = 0.42487 m
z1 = 0.416 m   z1 = 0.415 m
t= 600 s   t= 900 s
vt = 0.000021 m/s   vt = 0.000011 m/s
Fisher Scientific. 2015. Material Safety data Sheet: Aluminium Potassium Sulfate.
USA: [Link]
Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Process and Unit Operations Third
Edition. Canada: Prentice-Hall Internasional
Istianah, Nur, dkk. 2018. Teknologi Bioproses. Malang: UB Press
Labchem. 2016. Material Safety Data Sheet: Calcium Carbonate. US:
[Link]
Saptati, Dwi A.S. dan Nurul F. Himma. 2018. Perlakuan Fisiko-Kimia Libah Cair
Industri. Malang: UB Press
Siregar, Sakti A. 2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius

Anda mungkin juga menyukai