0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
334 tayangan28 halaman

Melindungi Sistem Informasi Bisnis

Dokumen tersebut membahas tentang melindungi sistem informasi dengan menjelaskan: 1) Kerentanan dan penyalahgunaan sistem informasi, termasuk ancaman dari hacker, virus, dan jaringan nirkabel yang rentan. 2) Pentingnya keamanan dan pengendalian untuk melindungi bisnis dan aset perusahaan. 3) Teknologi dan sarana seperti firewall, antivirus, dan enkripsi untuk melindungi sumber daya informasi.

Diunggah oleh

Arman Usman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
334 tayangan28 halaman

Melindungi Sistem Informasi Bisnis

Dokumen tersebut membahas tentang melindungi sistem informasi dengan menjelaskan: 1) Kerentanan dan penyalahgunaan sistem informasi, termasuk ancaman dari hacker, virus, dan jaringan nirkabel yang rentan. 2) Pentingnya keamanan dan pengendalian untuk melindungi bisnis dan aset perusahaan. 3) Teknologi dan sarana seperti firewall, antivirus, dan enkripsi untuk melindungi sumber daya informasi.

Diunggah oleh

Arman Usman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MELINDUNGI SISTEM INFORMASI

(SISTEM INFORMASI MANAJEMEN)

Oleh :

ARMAN
1792141014
Kelas B

S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayahnya kepada kami, sehingga makalah ini dapat diselesaikan

tepat pada waktunya. Dalam tulisan ini kami membahas tentang Melindungi

Sistem Inormasi. Selaku manusia biasa kami menyadari bahwa dalam hasil tulisan

ini masih terdapat kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja. Oleh karena

itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran. Kami berharap tulisan ini dapat

bermanfaat bagi kita semua, khususnya pada mata kuliah Sistem Informasi

Mananejemen, S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Makassar.

Makassar 11 Desember 2020

Arman

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Kerentanan dan Penyalahgunaan Sistem 2
B. Nilai Bisnis Keamanan dan Pengendalian 9
C. Membangun Kerangka Keamanan dan Pengendalian 12
D. Teknologi dan Sarana Untuk Melindungi Sumber-sumber Informasi 15
BAB III PENUTUP 22
A. KESIMPULAN 22
DAFTAR PUSTAKA 24

3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Jika kita menggunakan komputer untuk menjalankan bisnis, mungkin kita


tidak bisa menjual sesuatu kepada pelanggan atau melakukan pesanan kepada
pemasok saat komputer kita tidak dapat digunakan. Dan kita mungkin saja telah
menemukan bahwa sistem komputer kita telah disusupi oleh orang luar, yang bisa
saja mencuri atau menghancurkan data-data berharga, termasuk data pembayaran
yang rahasia dari pelanggan kita. Jika ada terlalu banyak data yang dibocorkan
atau dihancurkan, bisnis kita mungkin saja tidak dapat beroperasi.
Seorang peretas (hacker) adalah individu yang berkeinginan untuk memperoleh
akses tanpa izin dari sebuah sistem komputer. Hacker dan cracker memperoleh
akses tanpa izin dengan menemukan kelemahan dalam perlindungan keamanan
yang digunakan pada situs web dan sistem komputer, biasanya mengambil
keuntungan dengan berbagai macam fitur yang terdapat di internet yang
membuatnya menjadi sistem terbuka dan mudah digunakan. Kegiatan peretas
telah meluas dari sekedar sistem penyusup menjadi kegiatan pencurian barang dan
informasi, juga kerusakan sistem dan cybervandalism, gangguan yang disengaja,
perusakan, atau bahkan destruksi situs web dan sistem informasi perusahaan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk kerentanan dan penyalahgunaan sistem ?


2. Seperti apa nilai bisnis keamanan dan pengendalian ?
3. Bagaimana cara membangun kerangka keamanan dan pengendalian ?
4. Bagaimana cara teknologi dan sarana untuk melindungi sumber-sumber
informasi ?
C. Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami kerentanan dan penyalahgunaan sistem.
2. Mahasiswa mampu memahami nilai bisnis keamanan dan pengendalian.
3. Mahasiswa mampu memahami cara membangun kerangka keamanan dan
pengendalian.

4
4. Mahasiswa mampu memahami teknologi dan sarana untuk melindungi
sumber-sumber informasi.

5
BAB II PEMBAHASAN

A. Kerentanan dan Penyalahgunaan Sistem


Jika kita menggunakan komputer untuk menjalankan bisnis, mungkin
kita tidak bisa menjual sesuatu kepada pelanggan atau melakukan pesanan
kepada pemasok saat komputer kita tidak dapat digunakan. Dan kita mungkin
saja telah menemukan bahwa sistem komputer kita telah disusupi oleh orang
luar, yang bisa saja mencuri atau menghancurkan data-data berharga, termasuk
data pembayaran yang rahasia dari pelanggan kita. Jika ada terlalu banyak
data yang dibocorkan atau dihancurkan, bisnis kita mungkin saja tidak dapat
beroperasi.
Singkat kata, jika kita menjalankan bisnis maka kita perlu menjadikan
keamanan dan pengendalian sebagai prioritas utama. Keamanan (security)
merujuk kepada kebijakan, prosedur, dan pengukuran teknis yang digunakan
untuk mencegah akses yang tidak berwenang, alterasi, pencurian, atau
kerusakan fisik pada sistem informasi. Pengendalian (control) adalah metode,
kebijakan, dan prosedur organisasi yang memastikan keamanan aset
organisasi, akurasi, dan reabilitas pencatatan, serta kepatuhan operasional pada
standar manajemen. (Laudon, 2017:297)

1. Sistem yang Sangat Rentan


Ketika data dalam jumlah besar disimpan dalam bentuk elektronik, mereka
menjadi lebih rentan terhadap berbagai macam ancaman dibandingkan saat
berada dalam bentuk manual. Melalui jaringan komunikasi, sistem informasi
dibeberapa lokasi berbeda saling terhubung. Potensi dari akses yang tidak
berwenang, penyalahgunaan, atau penipuan tidak terbatas pada satu lokasi,
tetapi dapat terjadi di titik akses manapun dalam jaringan. Ancaman dapat
berasal dari faktor teknis, organisasi, dan lingkungan yang digabungkan
dengan keputusan manajemen yang buruk.
Dalam lingkungan komputasi klien atau server berlapis, kerentanan dapat
terjadi pada setiap lapisan karena pengguna pada lapisan klien dapat
menyebabkan kerugian dengan memasukkan kesalahan-kesalahan atau
mengakses sistem tanpa izin. Radiasi juga dapat mengacaukan sebuah

6
jaringan pada berbagai titik. Siapapun yang dapat menembus sistem
perusahaan dapat mengacaukan data perusahaan yang disimpan dalam
bentuk database ataupun file. Kemitraan domestik atau luar negeri dengan
perusahaan lain menambah kerentanan sistem jika informasi berharga
diletakkan pada jaringan dan komputer di luar kendali perusahaan.
a. Kerentanan Internet
Jaringan publik yang luas, seperti internet, lebih rentan jika dibandingkan
dengan jaringan internal karena terbuka secara virtual bagi siapa saja.
Komputer yang selalu terhubung dengan internet melalui kabel modem atau
jalur DSL lebih terbuka terhadap penetrasi oleh pihak luar dikarenakan
mereka menggunakan alamat internet tetap yang mudah untuk diidentifikasi.
Layanan telepon yang berbasis teknologi internet lebih rentan dibandingkan
dengan switchedvoicenetwork jika tidak dijalankan pada jaringan privat
yang terlindungi. Kerentanan juga meningkat melalui penggunaan surel
secara luas, pesan instan, dan program pembagian arsip peer-to-peer.
(Laudon, 2017:298-299)
b. Tantanga Keamanan Nirkabel
Jaringan nirkabel dirumah kita sangatlah rentan karena jangkauan
frekuensi radio sangat mudah dipindai. Baik bluetooth maupun jaringan Wi-
Fi rawan untuk diretas oleh pencuri. Jaringan area lokal (LAN) yang
menggunakan standar 802.11 dapat dengan mudah dimasuki oleh pihak luar
yang dilengkapi laptop, kartu nirkabel, antena eksternal, dan perangkat lunak
peretasan.
2. Perangkat Lunak Berbahaya: Virus, Worm, TrojanHorses, dan
Spyware
a. Virus
Program perangkat lunak berbahaya disebut dengan malware dan
mencakup berbagai ancaman, seperti virus komputer, worms, dan
Trojanhorse. Virus komputer adalah sebuah program perangkat lunak
berbahaya yang mengikatkan dirinya pada program perangkat lunak
lain atau arsip data yang akan dijalankan, biasanya tanpa
sepengetahuan atau izin dari pengguna. Virus biasanya menyebar dari

7
komputer ke komputer lain saat manusia melakukan sebuah tindakan,
seperti mengirimkan sebuah surel atau menggandakan arsip yang telah
terinfeksi. (Laudon, 2017:300)
b. Worm
Serangan baru-baru ini datang dari worm, program perangkat lunak
independen yang menggandakan dirinya sendiri dari satu komputer ke
komputer lainnya melalui sebuah jaringan. Tidak seperti virus, worm
dapat mengoperasikan dirinya sendiri tanpa harus mengikatkan dirinya
pada arsip program komputer dan tidak banyak bergantung pada
perilaku manusia untuk menyebarkannya dari satu komputer ke
komputer lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa worm tersebut lebih
pesat dibandingkan dengan virus komputer. Worm dapat merusak data,
menghancurkan data, bahkan memberhentikan operasional jaringan
komputer. (Laudon, 2017:300)
c. TrojanHorse
Trojanhorse adalah program perangkat lunak yang awal
kemunculannya begitu jinak kemudian berubah menjadi sesuatu yang
tidak diharapkan. Trojanhorse bukanlah sebuah virus karena tidak
dapat mereplikasi, tetapi biasanya merupakan jalan bagi virus dan kode
brbahaya lainnya untuk masuk ke dalam sistem komputer. Istilah
Trojanhorse didasarkan pada kuda kayu besar yang digunakan orang-
orang Yunani untuk mengelabui bangsa Trojan agar membuka gerbang
menuju benteng kota selama Perang Trojan berlangsung. Setelah
sampai ke dalam kota, pasukan Yunani yang bersembunyi di dalam
kuda menunjukkan diri dan merebut kota. Salah satu contoh dari
Trojanhorse modern saat ini adalah [Link] untuk
telepon Android. (Laudon, 2017:302)
3. Spyware
Beberapa jenis spyware juga dapat menjadi perangkat lunak
berbahaya. Program-program kecil ini meng-install diri mereka sendiri degan
sembunyi-sembunyi pada komputer untuk memantau kegiatan berselancar
pengguna di web dan menyajikan iklan. Ribuan bentuk spyware telah

8
terdokumentasi. Banyak pengguna menemukan spyware begitu
mengganggu, dan beberapa kritikus mengkhawatirkan adanya pelaggaran
terhadap kerahasiaan komputer pengguna. Beberapa bentuk spyware
diprogram menjadi sangat jahat. Beberapa program spyware mengatur ulang
laman web browser dan mengarahkan permintaan pencarian, atau
menurunkan kinerja dengan mengambil terlalu banyak memori. (Laudon,
2017:302-303)

4. Peretas dan Kejahatan Komputer


Seorang peretas (hacker) adalah individu yang berkeinginan untuk
memperoleh akses tanpa izin dari sebuah sistem komputer. Hacker dan
cracker memperoleh akses tanpa izin dengan menemukan kelemahan dalam
perlindungan keamanan yang digunakan pada situs web dan sistem
komputer, biasanya mengambil keuntungan dengan berbagai macam fitur
yang terdapat di internet yang membuatnya menjadi sistem terbuka dan
mudah digunakan. Kegiatan peretas telah meluas dari sekedar sistem
penyusup menjadi kegiatan pencurian barang dan informasi, juga kerusakan
sistem dan cybervandalism, gangguan yang disengaja, perusakan, atau
bahkan destruksi situs web dan sistem informasi perusahaan. (Laudon,
2017:303).

a. Spoofing dan Sniffing


Peretas mencoba untuk menutup identitas asli mereka dan biasanya
membuat tipuan (spoofing) atau menggambarkan dengan salah diri
mereka sendiri dengan mengunakan alamat surel palsu atau menyamar
menjadi orang lain. Hal yang termasuk kedalamspoofingdiantaranya
adalah mengarahkan tautan web ke sebuah alamat yang berbeda
dengan yang dituju, dengan adanya penyamaran situs dari tujuan yang
diinginkan.
Sniffer adalah sebuah program penyadapan yang memantau
informasi melalui sebuah jaringan. Bila digunakan secara sah, sniffer
membantu mengenali posisi-posisi yang berpotensi menjadi
permasalahan dalam jaringan atau aktivitas kriminal dalam jaringan,

9
tetapi ketika digunakan untuk tujuan kejahatan, mereka dapat menjadi
sangat merusak dan sangat sulit untuk dideteksi. Sniffer
memungkinkan peretas untuk mencuri kepemilikan informasi dari
manapun dalam jaringan, termasuk pesan surel, arsip perusahaan, dan
laporan rahasia. (Laudon, 2017:303)
b. Serangan Denial-of-Service (DoS)
Dalam sebuah serangan Denial-of-Service (DoS), peretas
membanjiri server jaringan dan server web dengan ribuan layanan
komunikasi atau permintaan palsu untuk mengacaukan jaringan.
DistributedDenial-of-Service (DDoS) menyerang banyak penggunaan
komputer untuk menenggelamkan dan membuat jaringan terbebani
melalu banyak titik peluncuran. Walaupun serangan DDoS tidak
menghancurkan informasi atau mengakses area terlarang dari sistem
informasi perusahaan, mereka biasanya menyebabkan sebuah situs
web ditutup, membuat para pengguna yang sah tidak dapat mengakses
situs tersebut. Para pelaku DDoS biasanya menggunakan ribuan PC
zombie yang terinfeksi dengan perangkat lunak berbahaya tanpa
sepengetahuan pemiliknya dan mengelolanya menjadi sebuah botnet.
(Laudon, 2017:304)
5. Kejahakan Komputer
Sebagian besar kegiatan peretas adalah tindakan pidana, dan kerentanan
sistem yang telah dideskripsikan menjadi target dari bentuk kejahatan
komputer lainnya. Berikut adalah contoh kejahatan komputer yang sering
terjadi:
 Komputer Sebagai Target Kejahatan
1) Menerobos kerahasiaan dari data yang terkomputerisasi dan terlindungi.
2) Mengakses sistem komputer tanpa izin.
3) Secara sadar mengakses komputer yang terlindungi untuk tujuan
penipuan.
4) Dengan sadar mengirimkan sebuah program, kode program, atau
perintah yang secara sengaja menyebabkan kerusakan pada komputer
yang terlindungi.

10
5) Mengancam untuk membuat kerusakan pada komputer yang terindungi.
 Komputer Sebagai Instrumen Kejahatan
1) Mencuri rahasia dagang.
2) Penggandaan perangkat lunak yang tidak sah atau membajak
kepemilikan intelektual seperti artikel, buku, musik, dan video.
3) Merencanakan penipuan.
4) Menggunakan surel untuk mengancam atau mengganggu.
5) Secara sengaja berniat untuk menahan komunikasi elektronik.
6) Secara ilegal mengakses komunikasi elektronik yang disimpan,
termasuk surel dan pesan suara.
7) Mengirimkan atau memiliki pornografi anak menggunakan komputer.

d. Pencurian Identitas
Pencurian identitas adalah sebuah kejahatan dimana seorang penipu
memperoleh sejumlah penting informasi personal, seperti nomor identifikasi
jaminan sosial, nomor SIM, atau nomor kartu kredit untuk menipu orang
lain. Informasi bisa digunakan untuk mendapatkan kredit, barang, layanan
dengan menggunakan nama korban, dan menyediakan surat palsu bagi
pencuri.
Salah satu taktik yang semakin terkenal digunakan adalah bentuk dari
spoofing bernama phishing. Phishing meliputi perancangan situs web palsu
atau mengirim pesan surel yang menyerupai bisnis yang sah untuk
menanyakan kepada pengguna data rahasia personal mereka. Bentuk
phishing yang lebih ditargetkan dinamakan spearphishing, dimana pesan
muncul dari sebuah sumber yang terpercaya, seperti individu dari perusahaan
penerima atau teman.

Teknik phishing yang dinamakan eviltwins dan pharming lebih sulit


untuk dideteksi. Eviltwins adalah sebuah jaringan nirkabel yang berpura-
pura menawarkan koneksi Wi-Fi yang terpercaya untuk internet, seperti yang
terdapat di ruang tunggu bandara, hotel, ataupun kedai kopi. Sementara
pharming mengarahkan pengguna ke laman web palsu, walaupun pengguna

11
megetikkan alamat laman situs yang benar kedalam browser mereka.
(Laudon, 305-306)

e. ClickFraud
Clickfraud terjadi ketika program individu atau perusahaan secara
curang mengeklik iklan online dan tanpa adanya niatan untuk mempelajari
lebih jauh iklan tersebut atau melakukan pembelian. Clickfraud telah
menjadi permasalahan yang serius pada Google dan situs web lainnyayang
memiliki fitur pemasaran online berupa iklan pay-per-click. Clickfraud juga
dapat dilakukan melalui program perangkat lunak yang menjalankan
pengeklikan, dan botnet termasuk yang biasanya digunakan untuk tujuan ini.
Meskipun pencari seperti Google mencoba untuk memantau clickfraud,
tetapi enggan untuk memublikasikan usaha mereka mengatasi masalah
tersebut. (Laudon, 2017:307)

f. Ancaman Global: Cyberterrorism dan Cyberwarfare


Kegiatan kriminal cyber telah meluncurkan malware, serangan
Denial-of-Service, dan penyelidikan dengan menggunakan teknik phishing
adalah tidak terbatas. Kerentanan internet telah mengubah individu dan
bahkan keseluruhan negara menjadi target mudah bagi pembajakan yang
didasari oleh motif politik untuk melakukan sabotase dan spionase.
Ciberwarfare adalah kegiatan yang disponsori negara yang dirancang untuk
mengalahkan negara bagian atau negara lain dengan melakukan penetrasi
pada komputer atau jaringan yang bertujuan untuk menyebabkan kerusakan
dan gangguan. (Laudon, 2017:307)

6. Ancaman Internal: Para Karyawan


Kita cenderung berpikir bahwa ancaman keamanan terhadap sebuah
bisnis berasal dari luar organisasi. Pada kenyataannya, pihak internal
perusahaan dapat menjadi ancaman keamanan yang serius. Para karyawan
memiliki akses menuju informasi rahasia, dan dengan lemahnya prosedur
keamanan internal, mereka biasanya dapat menjelajah keseluruhan sistem

12
organisasi tanpa meninggalkan jejak. Banyak karyawan yang lupa kata sandi
mereka untuk mengakses sistem komputer dan mengizinkan rekan
sekerjanya untuk menggunakannya, yang membahayakan sistem. Penyusup
mencurigakan yang mencari akses sistem terkadang mengelabui karyawan
agar memperlihatkan kata sandi mereka dengan berpura-pura menjadi
anggota yang sah dari perusahaan yang membutuhkan informasi. Praktik
seperti ini disebut rekayasa soial. (Laudon, 2017:307-308)

7. Kerentanan Perangkat Lunak


Kesalahan perangkat lunak memiliki ancaman konstan pada sistem
informasi, menyebabkan kerugian yang tidak terhitung dalam sisi
produktivitas. Pertumbuhan kompleksitas dan ukuran program perangkat
lunak, disertai dengan permintaan akan pengiriman yang tepat waktu ke
pasaran, telah berkontribusi pada peningkatan kecacatan dan kerentanan
perangkat lunak. Permasalahan yang terbesar dari perangkat lunak adalah
keberadaan bugs yang tersembunyi atau kode program yang cacat. (Laudon,
2017:308)

B. Nilai Bisnis Keamanan dan Pengendalian


Pengendalian dan keamanan yang tidak memadai dapat berakibat pada
tanggung jawab hukum yang serius. Perusahaan tidak hanya melindungi aset
informasi mereka sendiri, tetapi juga aset informasi pelanggan, karyawan, dan
rekan bisnis mereka. Kegagalan untuk melakukan hal tersebut dapat membuka
jalan bagi perusahaan menuju gugatan yang memakan biaya akibat pemaparan
data atau pencurian. Sebuah organisasi dapat dimintai pertanggungjawaban atas
resiko dan kerugian yang tidak diciptakan, jika organisasi gagal untuk mengambil
tindakan perlindungan yang benar guna mencegah hilangnya data yang bersifat
rahasia, data perusahaan, atau pelanggaran privasi. Kerangka pengendalian dan
keamanan yang melindungi aset informasi bisnis dapat menghasilkan
pengembalian atas investasi dengan jumlah yang tinggi. Pengendalian dan
keamanan yang kuat juga meningkatkna produktivitas karyawan dan menurunkan
biaya operasional. (Laudon, 2017:309)

13
1. Persyaratan Hukum dan Peraturan untuk Manajemen Arsip Elektronik
Peraturan terbaru pemerintah AS memaksakan perusahaan untuk
memperhatikan keamanan dan pengendalian lebih serius dengan mewajibkan
mereka untuk melindungi data dari penyalahgunaan, pemaparan, dan akses
tidak sah. Perusahaan menghadapi kewajiban hukum baru untuk penjagaan
dan penyimpanan catatan elektronik sebagaimana perlindungan terhadap hal-
hal privasi. Jika bekerja dalam industri pelayanan kesehatan, perusahaan harus
patuh kepada Undang-undang Protabilitas dan Akuntabilitas Asuransi
Kesehatan (Health Insurance ProtabilityandAccountabilityAct – HIPAA)
tahun 1996. HIPAA menekankan peraturan dan prosedur keamanan medis dan
privasi untuk memudahkan administrasi tagihan pelayanan kesehatan dan
transfer otomatis data penyediaan, pembayaran, dan rancangan pelayanan
kesehatan.
Jika bekerja pada perusahaan publik yang menyediakan layanan keuangan,
maka perusahaan harus patuh pada Undang-undang Modernisasi Jasa
Keuangan (Financial Services ModernizationAct) tahun 1999, atau yang lebih
dikenal dengan Undang-undang Gramm-Leach-Bliley setelah mendapat
dukungan dari kongres. Peraturan ini mengharuskan institusi keuangan untuk
memastikan keamanan dan kerahasiaan data pelanggan. Data harus disimpan
pada media yang aman, dan pengukuran keamanan khusus harus diterapkan
untuk melindungi data tersebut pada media penyimpanan dan selama transmisi
berlangsung.
Jika bekerja pada perusahaan publik, perusahaan harus patuh pada Undang-
undang Reformasi Akuntansi Perusahaan Publik dan Perlindungan terhadap
Investor (Public Company AccountingReformand Investor ProtectionAct)
tahun 2012, atau yang lebih dikenal dengan Undang-undang Sarbanes-Oxley.
Dasar Sarbanes-Oxley adalah memastikan kendali internal berada pada
tempatnya untuk menentukan pembentukkan dan dokumentasi informasi
dalam laporan keuangan. (Laudon, 2017:309-310)

2. Barang Bukti Elektronik dan Komputer Forensik


Manajemen keamanan, pengendalian, dan rekaman elektronik menjadi
penting untuk menanggapi tindakan hukum. Banyak bukti saat ini untuk

14
kecurangan persediaan, penggelapan, pencurian rahasia dagang perusahaan,
kejahatan komputer, dan sejumlah kasus perdata berbentuk digital. Sebagai
tambahan dari informasi yang dicetak atau ditulis tangan, kasus hukum hari ini
semakin bergantung pada bukti berbentuk data digital yang disimpan dalam
perangkat penyimpanan portabel, CD, dan perangkat harddisk komputer,
sebagaimana surel, pesan instan, dan transaksi perdagangan elekronik melalui
internet.

Kebijakan penjagaan dokumen elektronik yang efektif memastikan


bahwa dokumen elektronik, surel, dan rekaman lainnya dikelola dengan baik,
dapat diakses, dan tidak ditahan terlalu lama atau dihancurkan terlalu cepat.
Hal ini mencerminkan kesadaran bagaimana menjaga barang bukti potensial
bagi komputer forensik. Komputer forensik adalah pengumpulan, pengujian,
autentisitas, penjagaan, dan analisis ilmiah terhadap data yng terdapat atau
diambil dari media penyimpanan komputer dimana informasi dapat digunakan
sebagai barang bukti di pengadilan.

Komputer forensik dapat mencakup beberapa permasalahan sebagai berikut:

a) Pemulihan data dari komputer sambil menjaga keutuhan barang bukti.


b) Penyimpanan dan pengelolaan dengan aman dari data elektronik yang
sudah dipulihkan.
c) Menemukan informasi penting dari sejumlah besar data elektronik.
d) Menampilkan informasi.

Barang bukti elektronik dapat ditempatkan pada media penyimpanan


komputer dalam bentuk arsip komputer dan sebagai sebuah data ambient, yang
tidak terlihat oleh pengguna pada umumnya. Contohnya dapat berupa sebuah arsip
yang sudah dihapus dari harddrive PC. Data yang tersimpan pada media
penyimpanan komputer dan telah dihapus oleh pengguna dapat dipulihkan dengan
berbagai macam teknik. Ahli komputer forensik mencoba untuk memulihkan data
yang tersembunyi untuk ditampilkan dengan digunakan sebagai barang bukti.
(Laudon, 2017:310-311)

15
C. Membangun Kerangka Keamanan dan Pengendalian
1. Pengendalian Sistem Informasi
Pengendalian sistem informasi baik manual maupun otomatis terdiri
dari kendali umum dan kendali aplikasi. Kendali umum berpengaruh atas
desain, keamanan, dan penggunaan program komputer dan keamanan arsip
data secara umum dari semua infrastruktur teknologi informasi perusahaan.
Secara keseluruhan kendali umum digunakan pada setiap aplikasi yang
terkomputerisasi dan memuat kombinasi perangkat keras, perangkat lunak,
dan prosedur manual yang menciptakan lingkungan kontrol secara
menyeluruh.
Kendali umum meliputi pengendalian perangkat lunak, pengendalian fisik
perangkat keras, pengendalian operasional komputer, pengendalian
keamanan data, pengendalian pada proses implementasi sistem, dan
pengendalian administratif. Fungsi dari masing-masing kedali tersebut
adalah sebagai berikut :

 Jenis Kendali Umum Deskripsi


Kendali perangkat lunak Memantau penggunaan sistem dan
mencegah akses tanpa izin pada program perangkat lunak, sistem perangkat
lunak, dan program komputer.

Kendali perangkat keras Memastikan bahwa perangkat keras aman


secara fisik, dan memeriksa keberadaan kesalahan fungsi pada
perlengkapan. Organisasi yang sangat bergantung pada komputer juga
harus membuat ketentuan untuk cadangan atau operasional yang masih
berlangsung guna menjaga pelayanan yang konstan.

Kendali operasional komputer Mengawasi kinerja komputer


departemen untuk memastikan bahwa prosedur yang terprogram dapat
secara konsisten dan tepat diaplikasikan pada penyimpanan dan
pemrosesan data. Kendali operasional komputer meliputi pengaturan
kinerja pemrosesan komputer dan cadangan serta prosedur pemulihan
untuk pengolahan yang berakhir tidak normal.

16
Kendali keamanan data Memastikan data arsip bisnis yang
berharga, baik yang terdapat pada cakram atau rekaman tidak terpapar
terhadap akses tanpa izin, perubahan, maupun perusakan saat mereka
digunakan atau disimpan dalam tempat penyimpanan.

Kendali implementasi Mengaudit proses perkembangan sistem pada


berbagai titik untuk memastikan bahwa proses dikendalikan dan dikelola
dengan tepat.

Kendali administrasi Merumuskan standar, peraturan, prosedur, dan


kendali disiplin untuk memastikan bahwa kendali umum dan kendali
aplikasi suatu organisasi dilaksanakan dan diterapkan dengan tepat.

Kendali aplikasi adalah pengendalian khusus dan spesifik pada setiap


aplikasi yang terkomputerisasi, seperti proses pembayaran dan pemesanan.
Kendali aplikasi mencakup baik prosedur manual maupun otomatis yang
memastikan hanya data sah yang untuh dan akurat yang dapat diproses
menggunakan aplikasi tersebut. Kendali aplikasi dapat dikelompokkan
menjadi :

a. Kendali input, yaitu kendali yang memeriksa keakuratan dan kelengkapan


data yang akan dimasukkan kedalam sistem.
b. Kendali pemrosesan, yaitu kendali yang meliputi penetapan data yang utuh
dan akurat selama pemutakhiran dilakukan.
c. Kendali output, yaitu kendali yang memastikan bahwa hasil dari pemrosesan
komputer akurat, utuh, dan dapat didistribusikan dengan benar. (Laudon,
2017:311-312)

2. Penilaian Resiko
Penilaian resiko menentukan keadaan tingkat resiko perusahaan jika
sebuah tindakan atau proses yang spesifik tidak dapat dikendalikan
sebagaimana mestinya. Tidak semua resiko dapat diantisipasi dan diukur,
tetapi sebagian besar bisnis akan dapat memperoleh beberapa pemahaman
seputar resiko yang dihadapi. Setelah resiko dinilai, pembuat sistem akan

17
berkonsentrasi pada pengendalian titik-titik yang memiliki kerentanan dan
potensi kerugian besar. Pada kasus ini pengendalian sebaiknya berfokus pada
cara untuk meminimalkan resiko dari listrik yang padam dan kesalahan
pengguna karena kerugian per tahun yang mungkin terjadi dari keduanya
adalah yang tertinggi dalam area ini. (Laudon, 2017: 312-313)

3. Kebijakan Keamanan
Kebijakan keamanan terdiri atas pernyataan peringkat resiko
informasi, mengidentifikasi tujuan keamanan yang dapat diterima, dan
mengidentifikasi mekanisme untuk mencapai tujuan tersebut. Kebijakan
keamanan mendorong kebijakan lainnya dalam menentukan penggunaan
sumber daya informasi perusahaan yang dapat diterima dan siapa saja
anggota perusahaan yang memperoleh akses kepada aset informasi.
Kebijakan keamanan juga mencakup penetapan manajemen identitas.
Manajemen identitas terdiri dari proses bisnis dan peralatan perangkat lunak
untuk sumber daya sistem. (Laudon, 2017:313-314)

4. Perencanaan Pemulihan Bencana dan Perencanaan Kesinambungan Bisnis

Perencanaan pemulihan bencana adalah sebuah alat merancang


rencana untuk merestorasi komputasi dan layanan komunikasi setelah
perusahaan mengalami gangguan. Perencanaan pemulihan bencana memiliki
fokus utama pada masalah teknis dalam hal menjaga dan membuat sistem
tetap berjalan, seperti arsip manakah yang harus dibuatkan cadangan dan
memelihara sistem komputer cadangan atau layanan pemulihan bencana.
Perencanaan kesinambungan bisnis memiliki fokus pada bagaimana
perusahaan mengembalikan operasional bisnis setelah terjadinya bencana.
Perencanaan kesinambungan bisnis mengidentifikasi proses bisnis yang
utama dan menetapkan sebuah rencana tindakan untuk mengendalikan
fungsi-fungsi penting saat sistem tidak bekerja. Manajer bisnis dan spesialis
teknologi informasi perlu bekerja sama dalam merancang kedua jenis
perencanaan ini untuk menentukan sistem dan proses bisnis yang paling
penting bagi perusahaan. (Laudon, 2017:315-316)

18
5. Peran Audit
Audit Sistem Informasi Manajemen (SIM Audit) akan memeriksa
lingkungan keamanan keseluruhan perusahaan sebagaimana mengendalikan
pengaturan sistem informasi individu. Auditor sebaiknya menelusuri aliran
beberapa transaksi pada sistem dan melakukan pengujian menggunakan, jika
sesuai, dan perangkat auditor otomatis. Audit SIM juga memeriksa kualitas
data.
Audit keamanan meninjau teknologi, prosedur, dokumentasi, pelatihan, dan
personel. Sebuah audit yang teliti bahkan akan menyimulasikan sebuah
serangan atau bencana untuk menguji respon teknologi, staf sistem informasi,
dan karyawan bisnis. Daftar dan peringkat audit mengendalikan semua
kelemahan dan mengestimasiprobabilita kejadiannya. Setelah itu ia kan
menilai pengaruh pada keuangan dan organisasi pada setiap ancaman.

D. Teknologi dan Sarana Untuk Melindungi Sumber-sumber Informasi


1. Manajemen Identitas dan Autentisitas
Untuk memperoleh akses pada sistem, seorang pengguna harus diberi
izin dan konfirmasi. Autentisitas mengacu pada kemampuan untuk
mengetahui apakah seorang pengguna adalah seperti yang diakuinya.
Autentisitas biasanya dibuktikan dengan kata sandi yang hanya diketahui
oleh pengguna yang berwenang. Teknologi autentisitas baru seperti token,
kartu pintar, dan autentisitas biometrik, mengatasi beberapa permasalahan
tersebut.

Token adalah perangkat fisik, mirip dengan kartu identitas, yang


dirancang untuk menjamin identitas pengguna tunggal. Token merupakan
gadget kecil yang umumnya sesuai dengan gantungan kunci dan
menampilkan kode sandi yang berubah berulang-ulang. Kartu pintar
merupakan sebuah perangkat seukran kartu kredit yang memuat sebuah chip
yang telah diformat dengan informasi izin akses dan data lainnya.

Autentisitas biometrik menggunakan sistem yang dapat membaca dan


menerjemahkan sifat perorangan manusia, seperti sidik jari, selaput pelangi,
dan suara untuk mengizinkan atau menolak akses. Autentisitas biometrik

19
didasarkan pada pengukuran fisik ataupun sifat perilaku seseorang yang
membuatnya berbeda dari yang lain. Autentisitas biometrik membandingkan
karakteristik seseorag untuk menetukan apakah terdapat perbedaan antara
karakteristik tersebut dengan profil yang disimpan. (Laudon, 2017:317)

2. Firewall, Sistem Deteksi Intrusi, dan Perangkat Lunak Antivirus


a) Firewall
Firewall mencegah pengguna tidak berwenang dari mengakses
jaringan privat. Firewall merupakan sebuah kombinasi dari perangkat
keras dan perangkat lunak yang mengendalikan aliran masuk dan keluar
lalu lintas jaringan. Biasanya firewall ditempatkan antara jaringan internal
dan privat milik organisasi dan jaringan eksternal yang tidak dipercaya,
seperti internet, walaupun firewall juga digunkn untuk melindungi salah
satu bagian jaringan perusahaan dan sisa jaringan lainnya.
Firewall bertindak tidak seperti penjaga gerbang yang memeriksa surat
kepercayaan dari setiap pengguna sebelum memberikan akses pada
jaringan. Firewall mengidentifikasi nama, alamat IP, aplikasi, dan
karakteristik lainnya dari lalu lintas yang masuk. Firewall memeriksa
informasi tersebut terhadap peraturan pengaksesan yang telah diprogram
ke dalam sistem oleh administrator jaringan. Firewall menahan
komunikasi tidak sah ke dalam dan ke luar jaringan.
b) Sistem Deteksi Gangguan
Sistem Deteksi Gangguan (IntrusionDetection System)
mengutamakan alat pemonitor penuh waktu yang ditempatkan pada titik
paling rentan atau hot spot dalam jaringan perusahaan untuk mendeteksi
dan menghalangi penyusup secara terus-menerus. Sistem menyalakan
alarm jika ditemukan peristiwa mencurigakan atau anomali. Perangkat
lunak pemindai mencari pola yang mengindikasikan metode yang telah
diketahui untuk menyerang komputer, seperti kata sandi yang salah,
memeriksa jika terdapat arsip informasi yang telah dipindahkan atau
dimodifikasi dan mengirimkan peringatan vandalisme atau kesaahan
sistem administrasi. Perangkat lunak pemonitor menguji peristiwa, apakah
telah terjadi serangan pada keamanan perusahaan. Sarana deteksi intrusi

20
juga dapat disesuaikan untuk mematikan bagian sensitif tertentu dari
sebuah jaringan jika ia menerima lalu lintas yang tidak sah. (Laudon,
2017:319)
c) Perangkat Lunak Antivirus dan Antispyware
Perangkat lunak antivirus mencegah, mendeteksi, dan
memindahkan malware, termasuk virus komputer, worms komputer,
Trojanhorse, spyware, dan adwer. Namun, kebanyakan perangkat lunak
aktivirus hanya efektif terhadap malware yang telah diketahui sebelumnya
ketika perangkat lunak diciptakan. Untuk tetap efektif, perangkat lunak
antivirus harus terus diperbaharui. (Laudon, 319-320)
3. Melindungi Jaringan Nirkabel
Standar keamanan pertama yang dikembangkan untuk Wi-Fi, yang
disebut WiredEquivalentPrivacy (WEP), tidak begitu efektif dikarenakan
kunci enkripsinya yang relatif mudah untuk dipecahkan. Namun WEP
memberikan beberapa kebebasan pada keamanannya, jika pengguna ingat
untuk mengaktifkannya. Perusahaan selanjutnya dapat meningkatkan
keamanan Wi-Fi dengan menggunakannya bersamaan dengan teknologi
jaringan privat virtual (Virtual Privat Network – VPN) ketika mengakses
data internal perusahaan.

Pada Juni 2004, kelompok industri perdagangan Aliansi Wi-Fi


menyelesaikan spesifikasi 802.11i (yang juga disebut dengan Wi-FiProtected
Access atau WPA2) menggantikan WEP dengan standar keamanan yang
lebih kuat. Dibandingkan dengan kunci enkripsi statis yang digunakan pada
WEP, standar baru menggunakan lebih banyak kunci yang secara terus-
menerus berubah, membuatnya semakin sulit untuk ditembus. Standar baru
juga menempatkan sistem autentisitas yang telah terenkripsi pada server
autentisitas pusat untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang berwenang
yang dapat mengakses jaringan. (Laudon, 2017:320)

4. Enkripsi dan Kunci Infrastruktur Publik


Enkripsi merupakan proses transaksi teks dan data biasa menjadi teks
dan data tersandi yang tidak dapat dibaca oleh siapapun kecuali pengirim dan

21
penerima yang dituju. Data enkripsi dengan menggunakan kode numerik
rahasia yang disebut kunci enkripsi, yang mengubah data biasa menjadi teks
bersandi. Pesan yang dikirimkan harus dideskripsi oleh penerima. Dua
metode untuk melakukan enkripsi lalu lintas jaringan pada web adalah SSL.
SecureSockets Layer (SSL) dan penerusnya Transport Layer Security (TLS)
memungkinkan komputer klien dan server untuk mengelola kegiatan
enkripsi dan deskripsi saat mereka berkomunikasi satu sama lain selama sesi
dari web yang aman sedang berlangsung. SecureHypertext Transfer Protocol
(S-HTTP) adalah protokol lain yang digunakan untuk enkripsi data melalui
internet, tetapi terbatas pada pesan individu, dimana SSL dan TLS dirancang
untuk membangun koneksi yang aman antara dua komputer.

Terdapat dua alternatif jalan untuk melakukan enkripsi yaitu kunci


enkripsi simetris dan kunci enkripsi publik. Pada kunci enkripsi simetris
pengirim dan penerima membentuk sesi aman internet dengan menciptakan
satu kunci enkripsi dan mengirimkannya kepada penerima sehingga baik
penerima maupun pengirim saling berbagi kunci yang sama. Kekuatan kunci
diukur dari panjangnya bit. Saat ini umumnya kunci tersebut memiliki
panjang 128 bit. Sementara bentuk enkripsi publik menggunakan dua kunci
yaitu kunci yang digunakan untuk berbagi (kunci publik) dan kunci yang
benar-benar privat. Kunci-kunci tersebut berhubungan secara sistematis
sehingga data yang terenkripsi menggunakan satu kunci dapat dideskripsikan
menggunakan kunci lainnya. Kunci publik disimpan dalam sebuah direktori
dan kunci privat harus disembunyikan secara rahasia. Pengirim mengenkripsi
sebuah pesan menggunakan kunci publik milik penerima. Pada saat
menerima pesan, penerima menggunakan kunci privat pengirim untuk
mendeskripsikannya.

5. Menjaga Ketersediaan Sistem


Ketika perusahaan banyak menggantungkan pendapatan dan
operasionalnya pada penggunaan jaringan digital, mereka perlu mengambil
langkah tambahan untuk memastikan bahwa sistem dan aplikasi mereka
selalu tersedia. Perusahaan yang bergerak pada industri penerbangan atau

22
layanan keuangan dengan aplikasi penting yang mengharuskan proses
transaksi online telah menggunakan sistem komputer fault-tolerant selama
bertahun-tahun untuk memastikan 100% ketersediaan.

Pada pemrosesan transaksi online, transaksi yang dimasukkan secara


online dengan segera diproses oleh komputer. Perubahan yang sangat beragam
pada database, pelaporan, dan permintaan akan informasi terjadi dengan sangat
cepat. Sistem komputer fault-tolerant terdiri atas perangkat keras, perangkat
lunak, dan komponen daya listrik yang berlebih untuk menciptakan lingkungan
yang memberikan layanan berulang-ulang tanpa gangguan. (Laudon, 2017:322)

a. Pengendalian Lalu Lintas Jaringan: Inspeksi Paket Mendalam


Sebuah teknologi disebut inspeksi paket mendalam (DeepPacketInspection –
DPI) membantu mengatasi masalah-masalah jaringan yang berjalan dengan
sangat lamban. DPI menguji arsip data dan memilih materi online yang
memiliki prioritas rendah dan menempatkan prioritas yang lebih tinggi untuk
arsip-arsip bisnis yang penting. Berdasarkan prioritas yang ditetapkan oleh
operator jaringan, DPI menentukan paket data mana yang harus diblokir atau
ditahan saat lalu lintas dari data yang lebih penting diproses. (Laudon,
2017:323)
b. Penggunaan Alih Daya untuk Keamanan
Banyak perusahaan terutama bisnis kecil, kekurangan sumber daya atau ahli
untuk menyediakan lingkungan komputasi dengan ketersediaan tinggi yang
aman. Alih daya dapat melakukan berbagai fungsi pengamanan kepada
ManagedSecurity Service Providers (MSSPs) yang memonitor aktivitas dan
jaringan serta melakukan pengujian kerentanan dan deteksi gangguan.
(Laudon, 2017:323)

8. Isu Keamanan terhadap CloudComputing dan Platform Digital Mobile


 Keamanan dalam CloudComputing
Ketika kegiatan pemrosesan terjadi dalam cloudcomputing,
akuntabilitas dan tanggung jawab untuk perlindungan data sensitif masih
berada pada perusahaan yang memiliki data tersebut. Cloudcomputing

23
sangat terdistribusi. Aplikasi cloudcomputing berada pada pusat data dan
server yang sangat jauh yang menyediakan layanan bisnis dan manajemen
data untuk banyak klien korporasi. Sifat cloudcomputing yang berpenca-
pencar membuatnya sulit untuk melacak aktivitas-aktivitas tidak sah.
Penggunaan layanan cloudcomputing perlu menginformasikan dimana data
mereka disimpan dan dilindungi pada tingkat seperti apa untuk memenuhi
persyaratan perusahaan mereka. (Laudon, 2017:324)

 Mengamankan Platform Mobile


Jika perangkat mobile melakukan banyak fungsi komputer, mereka
harus aman seperti layaknya PC desktop dan laptop terhadap malware,
pencurian, dan kehilangan secara tidak sengaja, akses tanpa izin, dan
percobaan peretasan. Perangkat mobile yang mengakses sistem dan data
komputer membutuhkan perlindungan khusus. Perusahaan sebaiknya
memastikan bahwa kebijakan keamanan perusahaan termasuk perangkat
mobile, dengan detail tambahan bagaimana perangkat mobile didukung,
dilindungi, dan digunakan. Perusahaan sebaiknya mengenkripsi komunikasi
jika memungkinkan. Semua pengguna perangkat mobile disarankan untuk
menggunakan fitur kata sandi yang ditemukan disetiapsmartphone.
(Laudon, 2017:324-325)

7. Menjaga Kualitas Perangkat Lunak


Sebagai tambahan untuk mengimplementasikan keefektifan
keamanan dan mengendalian, organisasi dapat meningkatkan kualitas dan
keandalan perangkat lunak dengan menggunakan metriks perangkat lunak
dan pengujian perangkat lunak yang ketat. Metriks perangkat lunak
merupakan penilaian objektif dari sistem dalam bentuk pengukuran yang
terkuantifikasi. Penggunaan metriks yang sedang berjalan memungkinkan
departemen sistem informasi dan pengguna akhir untuk bersama-sama
mengukur kinerja sistem dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi.

Pengujian yang baik dimulai bahkan sebelum program perangkat


lunak ditulis dengan menggunakan walkthrough yaitu sebuah tinjauan
spesifikasi dan desain dokumen oleh sejumlah kecil kelompok yang secara

24
hati-hati dipilih berdasarkan keterampilan yang diperlukan untuk objektivitas
tertentu yang hendak diuji. Ketika pengembang memulai menuliskan
program perangkat lunak, pengkodeanwalkthrough juga dapat digunakan
untuk meninjau kode program. (Laudon, 2017:325)

25
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jika kita menjalankan bisnis maka kita perlu menjadikan keamanan
dan pengendalian sebagai prioritas utama. Keamanan (security) merujuk
kepada kebijakan, prosedur, dan pengukuran teknis yang digunakan untuk
mencegah akses yang tidak berwenang, alterasi, pencurian, atau kerusakan
fisik pada sistem informasi. Pengendalian (control) adalah metode, kebijakan,
dan prosedur organisasi yang memastikan keamanan aset organisasi, akurasi,
dan reabilitas pencatatan, serta kepatuhan operasional pada standar
manajemen.
Pengendalian dan keamanan yang tidak memadai dapat berakibat pada
tanggung jawab hukum yang serius. Perusahaan tidak hanya melindungi aset
informasi mereka sendiri, tetapi juga aset informasi pelanggan, karyawan, dan
rekan bisnis mereka. Kegagalan untuk melakukan hal tersebut dapat membuka
jalan bagi perusahaan menuju gugatan yang memakan biaya akibat pemaparan
data atau pencurian. Sebuah organisasi dapat dimintai pertanggungjawaban
atas resiko dan kerugian yang tidak diciptakan, jika organisasi gagal untuk
mengambil tindakan perlindungan yang benar guna mencegah hilangnya data
yang bersifat rahasia, data perusahaan, atau pelanggaran privasi. Kerangka
pengendalian dan keamanan yang melindungi aset informasi bisnis dapat
menghasilkan pengembalian atas investasi dengan jumlah yang tinggi.
Pengendalian dan keamanan yang kuat juga meningkatkna produktivitas
karyawan dan menurunkan biaya operasional.
Pengendalian sistem informasi baik manual maupun otomatis terdiri dari
kendali umum dan kendali aplikasi. Kendali umum berpengaruh atas desain,
keamanan, dan penggunaan program komputer dan keamanan arsip data
secara umum dari semua infrastruktur teknologi informasi perusahaan. Secara
keseluruhan kendali umum digunakan pada setiap aplikasi yang
terkomputerisasi dan memuat kombinasi perangkat keras, perangkat lunak,
dan prosedur manual yang menciptakan lingkungan kontrol secara
menyeluruh.

26
Untuk memperoleh akses pada sistem, seorang pengguna harus diberi
izin dan konfirmasi. Autentisitas mengacu pada kemampuan untuk
mengetahui apakah seorang pengguna adalah seperti yang diakuinya.
Autentisitas biasanya dibuktikan dengan kata sandi yang hanya diketahui oleh
pengguna yang berwenang. Teknologi autentisitas baru seperti token, kartu
pintar, dan autentisitas biometrik, mengatasi beberapa permasalahan tersebut.

Standar keamanan pertama yang dikembangkan untuk Wi-Fi, yang


disebut WiredEquivalentPrivacy (WEP), tidak begitu efektif dikarenakan
kunci enkripsinya yang relatif mudah untuk dipecahkan. Namun WEP
memberikan beberapa kebebasan pada keamanannya, jika pengguna ingat
untuk mengaktifkannya. Perusahaan selanjutnya dapat meningkatkan
keamanan Wi-Fi dengan menggunakannya bersamaan dengan teknologi
jaringan privat virtual (Virtual Privat Network – VPN) ketika mengakses data
internal perusahaan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Laudon, Kenneth C. dan Jane P. Laudon. 2017. Sistem Informasi Manajemen.


Jakarta: Salemba Empat.

28

Anda mungkin juga menyukai