BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Makanan Tradisional
Makanan tradisional atau kuliner lokal adalah jenis makanan yang berkaitan
erat dengan suatu daerah dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian
dari tradisi. Makanan lokal khas daerah-daerah di Indonesia sudah ada sejak lama
dan masih bertahan hingga saat ini sehingga sangat dihargai sebagai warisan
budaya. Resep yang digunakan juga sudah diturunkan dari generasi ke generasi,
bahkan cara memasaknya juga masih melestarikan cara lama. Walaupun sudah
ada modifikasi atau variasi, namun bahan utama dan prosedur memasaknya tidak
berubah. Karena menjadi bagian dari suatu daerah, maka makanan-makanan
tradisional ini sangat mudah ditemukan, bahkan menjadi ikon pariwisata di tempat
tersebut, seperti pempek dari Palembang, Gudeg dari Yogyakarta, dan Selat Solo
dari Solo (Tyas, 2017).
Makanan tradisional atau kuliner lokal adalah produk makanan yang
sering dikonsumsi oleh suatu kelompok masyarakat atau dihidangkan dalam
perayaan dan waktu tertentu, diwariskan dari generasi ke generasi, dibuat sesuai
dengan resep secara turun-temurun, dibuat tanpa atau dengan sedikit rekayasa,
dan memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dengan kuliner daerah
lain. Makanan tradisional artinya dapat dikatakan sebagai identitas lokal karena
keberadaannya yang menjadi bagian dari budaya masyarakat, seperti tata cara
tertentu dalam mengolah bahan makanannya, perannya dalam budaya masyarakat
dan tata perayaan, serta resep yang terjaga secara turun-temurun (Tyas, 2017).
5
Makanan khas daerah Bali dapat diartikan sebagai makanan yang diolah
dan dibuat oleh masyarakat lokal Bali secara turun temurun dan menggunakan
perpaduan bumbu lokal (basa) yang memiliki rasa dan aroma spesifik yang tidak
dimiliki oleh daerah lainnya. Dengan semakin berkembangnya makanan khas
daerah tersebut, akan memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk
bersaing di era pasar bebas, termasuk Bali yang menjadi daerah tujuan wisata
dunia. Berbagai wisatawan dari berbagai negara berbaur di Bali sebagai daerah
tujuan wisata yang sebenarnya memiliki berbagai ragam makanan khas daerah.
Keragaman makanan khas daerah Bali teramat sangat mendukung untuk
mewujudkan makanan khas daerah Bali sebagai tuan rumah pada daerah tujuan
wisata internasional baik dilihat dari gastronominya maupun komposisi menu
(Putri et al.,2013)
Seni kuliner Bali sebagai salah satu aspek kebudayaan Bali diadaptasi
sehingga dapat menjadi wisata boga (wisata kuliner). Adaptasi tersebut dari segi
bentuk, tujuan dan makna yang meliputi adaptasi bahan makanan, rasa,
pengolahan, penataan/penyajian dan cara makan. Seni kuliner Bali sebagai
penunjang pariwisata berdampak budaya, sosial, rasa bangga serta pemenuhan
kebutuhan harga diri (Putri et al., 2013).
Salah satu makanan khas Bali adalah tipat cantok. Makanan tipat cantok
adalah makanan dengan perpaduan dari sayuran dan tipat yang dibumbui oleh
bumbu kacang. Sayuran yang digunakan bisa berupa toge ataupun kangkung.
Tipat yang digunakan berbahan dasar beras yang dimasak sedemikian rupa untuk
mendapatkan cita rasa yang berbeda daripada nasi. Bumbu kacang memiliki bahan
6
dasar kacang goreng yang dihaluskan untuk mendapat bumbu kacang yang lembut
(Putri et al., 2013).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.7 Tahun 1996 tentang
Perlindungan Pangan, Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yng
diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemarran biologis,kimia
dan benda lain yang dapat mengganggu,merugikan dan membahayakan kesehatan
manusia (Adriani dan Wirjatmadi, 2012).
Makanan yang aman adalah makanan yang bebas dari cemaran fisik,
kimiawi maupun mikrobiologi yang berbahaya bagi kesehatan, serta tidak
bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Makanan akan dianggap rusak bila
makanan itu telah disiapkan, dikemas,atau ditangani dalam kondisi yang tidak
bersih atau mungkin sudah terkontaminasi oleh kotoran (Adriani & Wirjatmadi,
2012).
Syarat makanan aman antara lain terbebas dari bahaya secara biologis.
Bahaya biologis mengacu pada keracunan makanan sebagai akibat aktivitas
mikroba yang mencemari produk pangan. Makanan yang tidak aman secara
biologis menyebabkan gangguan kesehatan, disebabkan karena (Adriani &
Wirjatmadi, 2012):
a. Mikroba mencemari pangan dan masuk ke tubuh,kemudian hidup dan
berkembang biak, mengakibatkan infeksi saluran pencernaan (food infection)
b. Racun/toksin yang dihasilkan mikroba pangan dan kejadian intoksikasi ini
tidak selalu disertai masuknya mikroba ke tubuh
c. Bahan kimia dan unsur alami misalnya cemaran pestisida, sianida dalam
singkong beracun , palotoksin serta amatoksin dalam jamur beracun.
7
B. Kacang Tanah
Kacang tanah (Arachis hypogaea L. ) merupakan salah satu tanaman pangan
yang penting dan digemari masyarakat. Tanaman ini banyak mengandung
senyawa-senyawa yang dibutuhkan, seperti protein minyak, karbohidrat, mineral,
kalsium, fosfor, dan zat besi (Yanto, 2016).
Gambar 1. Kacang tanah (Zulchi et al., 2016)
Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut (Yanto, 2016):
Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub Divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
Klas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae L
Buah kacang tanah berbentuk polong, tiap polong umumnya berisi 2-3 biji.
Jumlah polong perpohon bermacam-macam, rata-rata adalah 15 polong per
pohon. Ukuran biji kacang tanah sangat beragam, ada yang besar, sedang dan
8
kecil. Warna biji juga bermacam-macam juga, ada yang putih, merah, ungu dan
kesumba (Yanto, 2016).
C. Kapang Dan Khamir
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai miselium atau filamen,
dan pertumbuhannya dalam bahan makanan mudah sekali dilihat, yakni seperti
kapas. Pertumbuhan fungi mula-mula berwarna putih, tetapi bila telah
memproduksi spora maka akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis
kapang. Sifat-siat kapang baik penampakan mikroskopik ataupun makroskopik
digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang. Kapang dapat dibedakan
menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau
nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam mangan-
mangan,dimana setiap mangan mempunyai inti (nucleus) satu atau lebih. Dinding
penyekat pada kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat sehingga
sitoplasma masih dapat bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya. Kapang
bersepta terutama kelas Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes.
Sedangkan kapang tak berseptat yakni kelas Phycomycetes. Kapang yang tak
bersepta intinya tersebar di sepanjang septa (Waluyo, 2016).
Khamir merupakan fungi uniseluler tidak berfilamen. Biakan khamir mirip
dengan bakteri saat ditumbuhkan pada permukaan media buatan di
laboratorium,namun khamir 5 sampai 10 kali lebih besar dibandingkan dengan
bakteri. Secara mikroskopis, sel-sel khamir dapat terbentuk ellipsoid, bulat atau
terkadang silindris. Tidak seperti kapang, khamir tidak memiliki hifa aerial dan
sporangia penyokong. Saccharoyces cerevisiae disebut juga ragi roti sehingga
9
bersifat menguntungkan. Selain itu, kandungan vitamin yang tinggi pada khamir
membuat khamir sangat bernilai sebagai suplemen makanan. Jenis khamir seperti
Candida albicans merupakan khamir patogenik yang dapat menyebabkan infeksi
saluran kemih dan infeksi vagina (Cappuccino & Sherman, 2009).
Kapang dan khamir merupakan kelompok mikroorganisme yang termasuk
filum Fungi. Fungi menghasilkan berbagai jenis enzim, vitamin, hormon tumbuh,
asam-asam organik dan antibiotik. Sementara itu dari segi merugikan, kehadiran
fungi ini dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang membahayakan bagi
organisme lain terutama manusia (Noverita, 2009).
D. Aspergillus sp
Aspergillus sp. merupakan organisme saprofit yang hidup bebas dna
terdapat dimana-mana. Tiga jenis organisme yang sering berhubungan dengan
infeksi pada manusia antara lain: Aspergillus fumigatus, Aspergillus niger dan
Aspergillus flavus. Invasi spora Aspergillus sp. dapat menyebabkan peningkatan
reaksi hipersensitivitas tipe III yang disertai demam, dyspnea, dan fibrosis paru
progresif. Beberapa pasien yang dikoloni oleh Aspergillus sp. mengalami reaksi
hipersensitivitas tipe I pada obstruksi saluran napas yang intermiten (aspergilosis
alergik bronkopulmonal) (Gillespie & Bamford, 2009).
Salah satu penyebab kerusakan bahan pangan , khususnya biji-bijian adalah
aflatoksin dan fumonisin. Aspergillus flavus, Aspergillus niger, dan Aspergillus
terreus merupakan jamur yang dapat menimbulkan aspergillosis. Fungi-fungi
tersebut dominan ditemukan pada kacang dalam penyimpanan. Infeksi awal
terjadi pada fase silking di lapang, kemudian terbawa oleh benih ke tempat-tempat
10
penyimpanan. Patogen-patogen tersebut kemudian berkembang dan memproduksi
mikotoksin, sehingga bahan pakan menjadi rusak dan bermutu rendah. Di daerah
beriklim tropis, suhu, curah hujan, dan kelembaban yang tingi serta media
penyimpanan tidak memadai, sangat mendukung perkembangan patogen-patogen
tersebut (Budiarti et al., 2003)
Gambar 2. Koloni Aspergillus sp. yang diamati secara makroskopis, (Ade, 2013)
Gambar 3. Aspergillus sp. diamati secara mikroskopis (Ade, 2013)
a. Aspergillus niger
Koloni Aspergillus niger pada saat muda berwarna putih, dan akan berubah
menjadi berwarna hitam setelah terbentuk koniospora. Kepala konidia
(Conidialhead) berwarna hitam, berbentuk bulat (radiate). Kodiofor berdinding
halus, hialin sampai kecoklatan. Vesikula berbentuk bulat sampai semi bulat.
Fialid duduk pada metule, konidia berbentuk bulat sampai semi bulat, berwarna
11
coklat tua – hitam, dan berornamen. Koloni Aspergillus niger pada media Czapek
Agar suhu 25°C umur 7 hari mencapai diameter 4 – 7 cm, terdiri dari masa koloni
yang kompak berwarna putih dan kuning pada permungkaan bawah koloni, yang
akan berobah warna menjadi coklat gelap sampai hitam setelah terbentuk
konidiospora (konidia). Kepala konidia radiat. Tangkai konidia (konidiofor)
berdinding halus, hialin, tetapi sering berwarna coklat. Vesikel bulat sampai semi
bulat, berdiameter 50 – 100 µm. fialid duduk pada metule, berukuran 7,0 – 9,5 x
3– 4 µm. Metule hialin sampai coklat, sering bersekat, berukuran 15 – 25 x 4,5 –
6,0 µm. konidia bulat sampai semi bulat, diameter 3,5 - 5µm, coklat, dengan
ornamen (Noverita, 2009).
b. Aspergillus flavus
Koloni Aspergillus flavus pada saat muda berwarna putih, dan akan berubah
menjadi berwarna hijau kekuningan setelah membentuk konidia. Kepala konidia
berwarna hijau kekuningan hingga hijau tua kekuninggan, berbentuk bulat,
konidiofor berdinding kasar, [Link] berbentuk bulat hingga semi bulat.
Fialid langsung duduk pada vesikula atau pada metule, konidia berbentuk bulat
hingga semi bulat, berwarna hijau pucat. Koloni kapang Aspergillus flavus
berwarna hijau kekuningan. Kepala konidia khas berbentuk bulat, kemudian
merekah menjadi beberapa kolom, dan berwarna hijau kekuningan hingga hijau
tua kekuningan. Konidiofor berwarna hialin, kasar. Vesikula berbentuk bulat
hingga semi bulat, berdiameter 25 – 45 µm. Fialid duduk lansung pada vesikel
atau metule,berukuran 6 – 10 x 4,5 – 5,5 µm. Konidia berbentuk bulat hingga
semibulat, dimeter 3 - 6µm, hijau dan berduri (Noverita, 2009).
12
c. Aspergillus fumigatus
Koloni saat muda berwar putih dan dengan cepat berubah menjadi hijau
seiring dengan terbentuknya konidia. Kepala konidia berbentuk kolumnar,
koniofor pendek, berdinding halus, berwarna hijau. Vesikula berbentuk gada,
berwarna hijau. Konidia bulat sampai semi bulat, berwarna hijau, berdinding
kasar. Kapang Aspergillus fumigatus mempunyai koloni berwarna hijau tua
karena lebatnya konidiofor yang terbentuk dari miselia yang ada di agar dan juga
dari miselium aerial. Kepala konidia berbentuk kolumnar. Konidiofor pendek,
berdinding halus, dan berwarna hijau (khusus pada bagian atas). Vesikula
berbentuk gada yang lebar, diameter 20 – 30 µm. Fialid terbentuk langsung pada
vesikula, seringkali berwarna hijau, berukuran 6 – 8 x 2 – 3 µm. Konidia
berbentuk bulat hingga semi bulat, dimeter 2,5 – 3 µm, berwarna hijau, dan
berdinding kasar hingga berduri (Noverita, 2009).
Aspergillus sp. sering ditemukan pada bahan pakan yang disimpan di
dalam gudang dengan kelembaban tinggi. Aspergillus sp. dianggap patogen
karena dapat menyebabkan suatu penyakit saluran pernafasan, radang
granulomatosis pada selaput lendir, mata,telinga, kulit, meningen, bronchus dan
paru-paru (Praja & Yudhana, 2017).
Faktor-faktor pendukung timbulnya infeksi jamur Aspergillus sp. terutama
berhubungan dengan aspek lingkungan dan manajemen kandang dengan ventilasi
kurang memadai, berdebu, kelembapan dan temperatur yang sesuai untuk
pertumbuhan jamur, litter basah dan lembab, pakan lembab dan berjamur. Bahan
pangan yang mudah terkontaminasi jamur Aspergillus sp. misalnya pada jenis
serelia (jagung, sorgum, beras, gandum) dan kacang-kacangan. Komoditi yang
13
memiliki resiko tinggi terkontaminasi jamur adalah jagung dan kacang tanah
karena sumber karbohidrat pada serelia biji-bijian sangat mudah dicemari oleh
berbagai jenis jamur. Pencegahan infeksi Aspergillus sp. dilakukan dengan cara
menjaga kebersihan dilingkungan atau kandang pemeliharaan, pakan dan
peralatan kandang yang terkontaminasi jamur harus dibuang, pakan yang
diberikan harus bebas dari jamur, peralatan produksi seperti tempat pakan dan
minum harus dibersihkan dan didesinfeksi. Sebaiknya, sekam yang digunakan
dalam kondisi kering, bersih, dan segar. Tingkatkan sirkulasi udara di dalam
kandang dan kontrol kelembaban untuk menghambat pertumbuhan dan
penyebaran spora di udara (Praja & Yudhana, 2017).
E. Aflatoksin
Aflatoksin bersifat karsinogenik. Penyakit yang disebabkan oleh aflatoksin
adalah aflatoksikosis. Aflatoksikosis akut menyebabkan kematian, sedangkan
aflatoksikosis kronis menyebabkan kanker, imunosupresif, dan kondisi patogenik
lainnya. Organ target Aflatoksin adalah hati. Ochratoxin memiliki potensi yang
sama dengan Aflatoksin. Organ target Ochratoxin adalah ginjal. Patulin
menyebabkan degenerasi sel, peradangan, pendarahan, dan ulserasi. Trichotecene
menyebabkan pendarahan pada saluran pencernaan, muntah, kerusakan jaringan
hematopoiesis, dan infeksi kulit. Fumonisin menyebabkan kanker esophagus.
Efek mikotoksin tidak dapat dirasakan secara cepat karena mikotoksin bersifat
kumulatif di dalam tubuh. Mikotoksin-mikotoksin tersebut merupakan metabolit
sekunder yang dihasilkan oleh kapang pada kondisi tertentu. Metabolit sekunder
14
dihasilkan oleh kapang pada akhir fase pertumbuhan eksponensial atau ketika
nutrisi dalam medium pertumbuhan sudah menurun (Rahmawati et al., 2016).
Aflatoksikosis adalah keracunan akibat mengonsumsi makanan yang
mengandung aflatoksin, yaitu racun yang dihasilkan oleh jamus Apergillus sp.
Jamur ini sangat mudah tumbuh dilingkungan dengan suhu dan kelembaban
tertentu, pada kacang tanah (termasuk bagian batang),kacang polong,serta bebijian
penghasil minyak. Aflatoksin dikelompokkan menurut abjad, berdasarkan daya
racunnya, yaitu B1,B2,G1 dan G2. Aflatoksin B1 bersifat paling dominan dan toksik
(Arisman, 2008).
Aflatoksin menyebabkan nekrosis akut, sirosis dan karsinoma hati.
Toksisitasnya bergantung pada keadaan lingkungan,derajat dan lama paparan,
usia, termasuk status kesehatan dan gizi. Pengaruh aflatoksin terbagi dalam 2
bentuk antara lain (Arisman, 2008):
a. Aflatoksikosis akut, yang terjadi bila orang menyantap aflatoksin dalam
jumlah besar sehingga menimbukan gejala seperti pendarahan, kerusakan hati
akut, edema dan mungkin kematian
b. Aflatoksikosis kronis, akibat menyantap aflatoksin dengan dosis rendah
sampai sedang, nyaris tidak memperlihatkan gejala dan sulit dikenali. Gejala yang
dapat terjadi seperti gangguan metabolism gizi.
F. Aspergillosis
Aspergillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sp.
Aspergillosis merupakan sebuah spectrum dari penyakit manusia dan binatang
yang disebabkan oleh anggota dari genus Aspergillus. Jenis penyakit dan beratnya
15
bergantung pada status fisiologi dari hospes dan spesies Aspergillus sp. yang
terlibat. Agen penyebab bersifat kosmopolitan dan diantaranya Aspergillus
fumigatus, Aspergillus flavus, Aspergillus niger, Aspergillus nidulans dan
Aspergillus terreus. Aspergillosis merupakan infeksi opurtunistik, paling sering
terjadi pada paru-paru, dan disebabkan oleh spesies Aspergillus sp. yaitu
Aspergillus fumigatus, jamur yang terutama ditemukan pada pupuk kandang dan
humus. Spora spesies ini dapat diisap masuk ke dalam paru-paru dan
menyebabkan infeksi kronik atau aspergillosis diseminata, jika terjadi infeksi paru
invasif oleh Aspergillus sp. Bronkopulmonari aspergillus alergik dapat terjadi
pada orang yang alergi terhadap Aspergillus sp. Pasien yang mengalami
bronkopulmonari aspergillosis alergik mengalami asma dan diobati dengan
prednisolone untuk mengobati bunyi nafas mengi, dan antijamur untuk mengobati
infeksi (Hasanah, 2017).
G. Angka Kapang Khamir
Uji Angka Kapang Khamir menggunakan metode hitungan cawan. Prinsip
dari metode hitungan cawan adalah apabila sel mikroba yang masih hidup
ditumbuhkan pada medium, maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan
membentuk koloni yang dapat dilihat langsung, dan kemudian dihitung tanpa
menggunakan bantuan mikroskop. Metode ini merupakan cara yang paling cocok
untuk menentukan jumlah jasad renik dengan alasan (Waluyo, 2016):
1. Hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung.
2. Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus.
16
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, karena koloni yang
terbentuk mungkin berasal dari mikroba yang mempunyai penampakan spesifik.
Metode hitungan cawan dapat dibedakan menjadi dua yaitu metode tuang
(pour plate) dan metode permukaan (surface/spread plate). Pada metode tuang,
sejumlah sampel (1 mL atau 0,1 mL) dari pengenceran yang dikehendaki
dimasukkan ke cawan petri kemudian ditambah agar cair yang steril sebanyak 15-
20 mL kemudian digoyangkan hingga menyebar. Pada penanaman mikroba
dengan menggunakan metode permukaan, terlebih dahulu dibuat agar cawan
kemudian sebanyak 0,1 mL sampel yang telah diencerkan dipipet pada permukaan
agar, kemudian diratakan dengan batang gelas melengkung yang steril (Waluyo,
2016).
H. Identifikasi Aspergillus sp.
Kultivasi, pertumbuhan dan pengamatan kapang membutuhkan teknik yang
berbeda dari bakteri. Kultivasi kapang membutuhkan penggunaan media selektif
seperti SDA atau PDA. Media ini mendukung pertumbuhan kapang karena
keasamannya yang rendah (pH 4,5 sampai 5,6) sehingga dapat menghambat
pertumbuhan bakteri yang membutuhkan lingkungan netral (pH 7,0). Kebutuhan
suhu untuk pertumbuhan kapang juga berbeda dari bakteri, kapang tumbuh
dengan baik pada suhu kamar 25°C kapang tumbuh dengan kecepatan yang jauh
lebih lambat dibandingkan dengan bakteri. Kapang membutuhkan waktu beberapa
17
hari hingga beberapa minggu sebelum koloni-koloni terlihat pada permukaan agar
padat (Cappucino, 2009).
Aspergillus sp. dapat diperiksa secara makroskopis ataupun mikroskopis
dengan ciri-ciri sebagai berikut (Waluyo, 2016):
a. Koloni berwarna putih, kuning, kuning coklat sampai hitam atau nuansa
hijau
b. Hifa septat dan miselium bercabang,sedangkan hifa yang muncul di atas
permukaan umumnya merupakan hifa fertile
c. Koloni berkelompok
d. Konidiofora septat atau nonseptat, muncul dari “foot cell” yakni sel
miselium yang membengkak dan berdinding tebal
e. Konidiofora membengkak menjadi vesikel pada ujungnya, membawa
sterigmata dimana tumbuh konidia
f. Sterigmata atau fialida biasanya sederhana, berwarna atau tidak
berwarna
g. Beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 37°C atau lebih
h. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat atau hitam.
18