0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
844 tayangan36 halaman

Rencana Kerja Pekerjaan Lansekap

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) pekerjaan lansekap mencakup penanaman berbagai jenis tanaman seperti pohon, perdu, penutup tanah, dan rumput untuk proyek pembangunan gedung kantor perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Tengah. Dokumen ini menjelaskan prosedur, standar, dan spesifikasi bahan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas pekerjaan lansekap.

Diunggah oleh

nadya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
844 tayangan36 halaman

Rencana Kerja Pekerjaan Lansekap

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) pekerjaan lansekap mencakup penanaman berbagai jenis tanaman seperti pohon, perdu, penutup tanah, dan rumput untuk proyek pembangunan gedung kantor perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Tengah. Dokumen ini menjelaskan prosedur, standar, dan spesifikasi bahan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas pekerjaan lansekap.

Diunggah oleh

nadya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT (RKS)

PEKERJAAN LANSEKAP
PERENCANAAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG KANTOR PERWAKILAN BPKP PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

DAFTAR ISI
1. PEKERJAAN PENANAMAN..............................................................................................................1
2. PEKERJAAN PERKERASAN TANAH................................................................................................11
3. PEKERJAAN BETON......................................................................................................................13
4. PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA............................................................................................16
5. PEKERJAAN PLESTERAN...............................................................................................................18
6. PEKERJAAN KANSTEEN.................................................................................................................20
7. PEKERJAAN PERKERASAN............................................................................................................22
8. PEKERJAAN PEMASANGAN WATERPROOFING,DRAINAGE CELL, dan GEOTEXTILE......................26
9. PEKERJAAN LOGAM.....................................................................................................................28
10. PEKERJAAN PENGECATAN DAN PEWARNAAN.........................................................................30
11. PEKERJAAN KURSI BAK TANAMAN DAN DEK TAMAN..............................................................31

PARAF : 1
PEKERJAAN LANSEKAP

1. PEKERJAAN PENANAMAN

1.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan – bahan, peralatan dan alat bantu
lainnya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan ini guna mendapatkan hasil
yang baik.
Pekerjaan lansekap yang dilaksanakan meliputi semua pekerjaan yang tertera
dalam Gambar Kerja dan sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/MK, tetapi tidak
terbatas pada pekerjaan berikut :
 Pekerjaan persiapan pembentukan tanah.
 Pekerjaan penanaman pohon peneduh / pelindung, tanaman penutup dan rumput.
 Pekerjaan perawatan / pemeliharaan tanaman.

1.2. STANDAR/RUJUKAN
 Semua pekerjaan lansekap harus dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk
Gambar Kerja, standar atau petunjuk dan syarat pekerjaan lansekap yang
berlaku, standar spesifikasi bahan yang dipergunakan dan sesuai petunjuk yang
diberikan Pengawas Lapangan.
 Sebelum melaksanakan setiap pekerjaan di lapangan, Kontraktor diminta untuk
memperhatikan koordinasi kerja dengan pekerjaan lain yang menyangkut
pekerjaan bidang lainnya, terutama dalam melakukan pekerjaan pembentukan
tanah dan penyelesaian tanah, agar tidak terjadi kesalahan pembongkaran,
pengurukan yang tidak diinginkan terhadap pekerjaan yang lain yang telah selesai
dilaksanakan maupun yang sedang dilaksanakan.
 Balai Pengawasan dan Sertifikat Benih setempat.
 Spesifikasi Teknis Persiapan Permukaan Lahan

1.3. PROSEDUR UMUM


1.3.1. GAMBAR LAIN DAN DATA YANG DIBUTUHKAN
Kontraktor harus menyiapkan gambar sketsa pekerjaan lansekap yang menunjukkan
garis/ batas penanaman rumput, patok, garis ketinggian, baris penanaman dan detail
pemberian pupuk. Daerah penanaman harus diberi tanda dan ukuran yang lengkap.

1.3.2. PERSYARATAN LAINNYA


 Semua pekerjaan lansekap harus dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk
Gambar Kerja, standar atau petunjuk dan syarat pekerjaan lansekap yang berlaku,
standar spesifikasi bahan yang dipergunakan dan sesuai petunjuk yang diberikan
Pengawas Lapangan/MK.
 Sebelum melaksanakan setiap pekerjaan di lapangan, Kontraktor diminta untuk
memperhatikan koordinasi kerja dengan pekerjaan lain yang menyangkut pekerjaan
bidang lainnya, terutama dalam melakukan pekerjaan pembentukan tanah dan
penyelesaian tanah, agar tidak terjadi kesalahan pembongkaran, pengurugan yang
tidakdiinginkan terhadap pekerjaan yang lain yang telah selesai dilaksanakan
maupun yang sedang dilaksanakan.
 Jika ditemukan perbedaan antara Gambar Kerja dengan keadaan lapangan,
Kontraktor harus melaporkan kepada Pengawas Lapangan/MK untuk diambil
keputusan pemecahannya.
 Semua letak tanaman di lapangan yang menyimpang dari ketentuan Gambar Kerja
yang disebabkan karena keadaan lapangan, harus mendapat persetujuan
Pengawas Lapangan/MK.

1.3.3. TENAGA AHLI


Kontraktor harus menyediakan tenaga ahli lansekap yang berpengalaman yang
akan melaksanakan

1.4. BAHAN
1.4.1. TANAMAN
a. Semua jenis tanaman, baik tanaman hias, pohon peneduh, tanaman penutup,
maupun rumput yang akan ditanam harus disetujui Pengawas Lapangan/MK
dan sesuai petunjuk Gambar Kerja serta mengikuti semua persyaratan dalm
Spesifikasi Teknis ini. Daftar tanaman dan jarak penanaman dapat dilihat
dalam Gambar Kerja.
b. Tanaman rumput yang dipilih untuk ditanam harus sesuai dengan petunjuk
Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/MK. Penanaman
dalam bentuk rumpun.
c. Tanaman yang akan ditanam harus berasal dari pembibitan (tampungan),
dengan kualitas yang baik dan dalam kondisi telah tumbuh.
d. Seluruh pohon dan tanaman yang diambil dari Nursery / Supplier tanaman
perlu diadaptasikan (aklimatisasi) dengan lingkungannya dengan cara
menempatkan pada Nursery di lapangan.
e. Tanaman yang akan ditanam harus sesuai ukuran dan species sesuai dengan
yang tercantum dalam spesifikasi. Sebelum ditanam, tanaman harus diperiksa
oleh Konsultan Pengawas yang akan memberi persetujuan atau penolakan.
Tanaman yang sudah OK dapat diberi labelnya.
f. Penggantian species / jenis tanaman tidak diijinkan terkecuali bila dapat
dibuktikan bahwa species yang diminta tersebut tidak tersedia di pasaran.
Permohonan penggantian tanaman harus secara tertulis kepada Pemimpin
Proyek melalui Konsultan Pengawas.
g. Kriteria kualitas tanaman.
1. Tanaman Penutup Tanah.
i. R u m p u t
 Tanaman rumput yang ditanam adalah dalam bentuk lempeng.
 Daun dalam kondisi baik, tidak layu dan kering.

PARAF : 2
 Pada lempengan rumput tersebut tidak terdapat hama (rayap)
atau penyakit.
 Mudah dalam pemeliharaan.
ii. Tanaman Penutup Tanah
 Ada beberapa jenis tanaman penutup tanah yang mempunyai
ketinggian antara  10 – 30 cm.
 Tanaman penutup tanah yang akan ditanam adalah tanaman
tampungan
 Kondisi tanaman baik, daun tidak layu dan kering.
 Struktur perakaran baik, tidak terserang hama dan penyakit baik
daun maupun akarnya
 Mudah dalam pemeliharaan
2. Tanaman semak dan perdu
i. Tanaman Semak
 Tanaman semak adalah tanaman yang tidak mengandung zat kayu
 Tanaman semak yang akan ditanam adalah tanaman tampungan
yang siap untuk ditanam
 Tinggi tanaman  30 – 75 cm
 Kondisi tanaman baik, daun tidak layu dan kering.
 Struktur perakaran baik, tidak terserang hama dan penyakit baik
daun maupun akarnya
 Mudah dalam pemeliharaan
ii. Tanaman perdu
Tanaman perdu adalah tanaman yang mengandung zat kayu, tetapi
bukan pohon
 Tanaman perdu yang akan ditanam adalah tanaman tampungan
yang siap untuk ditanam
 Tinggi tanaman  75 - 150 cm
 Kondisi tanaman baik, daun tidak layu dan kering.
 Struktur perakaran baik, tidak terserang hama dan penyakit baik
daun maupun akarnya
h. Jenis Jenis tanaman yang digunakan:
A Pohon
1 Pulai/ Tinggi batang 3 m
Alstonia Diameter batang menyesuaikan
scholaris

2 Matoa/ Tinggi batang 3 m


Pometia Diameter batang menyesuaikan
pinnata

3 Tabebuya/ Tinggi batang 2-3 m


Handroanthu Diameter batang menyesuaikan
s
chrysotrichus

B Perdu
1 Pisang Kalatea/ Tinggi 70-80 cm, jarak tanam 50
Calathe lutea cm

2 Halalang/ Tinggi 50-60 cm, jarak tanam 40


Imperata cm
cylincrica

3 Bopot/ Tinggi 40-50 cm, jarak tanam 30


Jasminum cm
pubescen
s
4 Beluntas/ Tinggi 40-50 cm, jarak tanam 40
Pluchea indica cm
5 Pandan Pigni/ Tinggi 25-30 cm, jarak tanam 25
Pandanus cm
pigmaneus

6 Kana Daun Tinggi 40-50 cm, jarak tanam 40


Belang/ cm
Canna
generalis
‘Striatus’

C Penutup Tanah
1 Taiwan Beauty Tinggi 15 cm, jarak tanam 15 cm
Putih/ Cuphea
hyssopifolia
‘Alba’

2 Rumput Gajah Tinggi 5-10 cm, ditanam


Mini/ lempengan 30x30 cm
Axonopus
compressus
‘dwarf’

1.4.2. PUPUK
 Pupuk kandang yang berasal dari sapi atau kuda yang telah kering dan matang
digunakan untuk meningkatkan unsur mikro dan makro. Pupuk kandang harus
bersih dari gumpalan akar rumput dan tanaman liar serta dalam keadaan sudah
hancur (tak terdapat bongkahan).
 Pupuk buatan yang mengandung unsur – unsur NPK (15 : 15 : 15) digunakan
untuk mendorong pembentukan akar, bunga dan buah.
 Pupuk buatan ZA atau Urea digunakan untuk pemupukan rumput.
 Pupuk kandang yang bermutu baik, yang telah melalui masa penimbunan
selama minimum 6 (enam) bulan, digunakan sebagai campuran tanah gembur
dengan komposisi :
- 1 (satu) pohon digunakan 0.128 m3 atau ½ karung (10 kg) pupuk
kandang/pohon
- penutup tanah digunakan ½ - 1 karung (10-20kg) pupuk kandang/m2
- rumput digunakan 0,1 m3 pupuk kandang/per m2 atau ½ karung (10 kg)
pupuk kandang/m².
 Pupuk yang dipakai adalah pupuk kandang yang mempunyai kriteria sebagai
berikut: Berasal dari kotoran hewan sapi, kerbau, atau kambing yang sudah
mengalami pelapukan dimana kotoran sudah menjadi tanah. Tidak berbau
kotoran dan lebih ringan dari tanah biasa. Berwarna kehitam-hitaman, kecoklat-
coklatan dan keabu-abuan
1.4.3. MEDIA TANAM
 Tanah yang dipakai harus dari jenis tanah subur yang bersih dari bekas
bahan bangunan, batu – batuan, rumput maupun tanaman.
 Tanah subur ini terdiri dari campuran tanah baik dan pupuk kandang
yang telah kering dan matang, dengan perbandingan jumlah 1 : 1.
 tanah subur / tanah organik / top soil yang dicampur dengan pupuk
kandang yang sudah matang (berumur 2 bulan) dan pasir dengan
ukuran perbandingan campuran top soil 0,04 m³ - 0,144 m³/pohon,
pupuk kandang / kompos 10 kg, pasir = 0,004 m³ s/d 0,048 m³ /pohon.

1.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


1.5.1. Umum
 Pelaksanaan pekerjaan persiapan, pembentukan dan pembersihan tanah
harus sudah dilaksanakan sesuai petunjuk Gambar Kerja dan ketentuan
Spesifikasi Teknis ini.
 Pemasangan patok – patok berikut keterangan koordinat posisi perlu
dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis
tanaman.
 Setelah pembentukan dan penyelesaian tanah dengan bentuk / kemiringan /
garis ketinggian sesuai Gambar Kerja, pekerjaan lubang galian dapat
dilaksanakan untuk persiapan penanaman.
 Semua penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau setelah pukul
15.30 agar tidak banyak terjadi penguapan dan kekeringan yang terlampau
cepat bagi tumbuh – tumbuhan tersebut kecuali penanaman yang dilakukan
di tempat yang terlindung dari matahari langsung dapat dilakukan setiap
saat.
 Semua tanaman yang disuplai harus dalam keadaan sehat dan utuh dalam
arti :
- Tanaman tidak terkena hama penyakit, serangga atau jamur.
- Cabang, akar dan daun tidak dalam keadaan patah atau sobek.
- Kondisi tanaman (tinggi dan diameter tajuk) harus sesuai permintaan.
 Pemindahan tanaman harus memperhatikan hal – hal sebagai berikut
- Tanaman pohon yang akan dipindahkan, harus dipersiapkan dalam
keadaan digali minimal 1 minggu sebelum dipindahkan, dan daun dan
percabangan dipangkas secukupnya untuk kemudian dilanjutkan
dengan pembungkusan akar.
- Tanaman pohon yang telah berada dalam wadah dapat langsung
dibawa ke lokasi penampungan tanaman pada masing – masing lokasi,
dan disimpan disana sampai saat penanaman tiba.
- Tanaman semak / perdu dan penutup tanah (ground cover) disiapkan
dalam keadaan akar terbungkus.

1.5.2. Persiapan Lahan


 Pematokan
Pematokan harus dilakukan untuk menentukan titik – titik penanaman.
Kegiatan dapat dilanjutkan setelah lokasi titik / patok disetujui oleh Pengawas
Lapangan.
 Penggalian Tanah
- Persiapan lahan dengan cara penggalian harus dilakukan untuk mengangkat
dan memisahkan tanah dari puing – puing sisa bahan bangunan berupa
paku – paku, batu bata, kayu dan sisa bahan kimia bila ada.
- Penggalian harus dilakukan minimal sedalam 400 mm untuk tanaman perdu
dan minimal 600 mm untuk tanaman pohon, untuk memastikan bahwa
lapisan tanah yang mengandung puing telah terangkat semua.
 Pengisian Media Tanam Dan Pemupukan
Untuk meningkatkan unsur mikro dan makro yang dikandung tanah, pupuk
kandang yang telah matang harus dicampur dengan tanah yang telah dibuka
dan dibalik, dengan perbandingan 1 : 1. Sebelum diisi dengan tanah, dasar
lubang diberi Furadan/pembasmi rayap, dengan dosis pemakaian 20
gram/m² atau sesuai petunjuk yang ada pada kemasannya

1.5.3. Penanaman Pohon


Tanaman harus didatangkan sesuai dengan jadwal kerja penanaman, untuk
menghindarkan tanaman berada terlalu lama dalam penampungan, dan
harus dilaksanakan sebagai berikut:
 Tanaman yang akan ditanam harus berupa tanaman yang berasal dari
tempat penampungan atau yang telah mengalami masa persiapan dalam
galian tempat semula, dengan tinggi minimal yang telah ditetapkan.
 Pertama gali lubang yang besar, lebih besar dari ukuran wadah tanaman,
dan sisihkan di sekitar lubang galian.
 Ke dalam lubang tersebut dimasukkan tanah subur seperti tersebut dalam
butir 1.4.3. dan tinggalkan sejumlah tertentu untuk dicampurkan dengan
tanah galian tadi yang akan dikembalikan lagi ke dalam lubang galian
semula.
 Dengan berhati – hati, keluarkan tanaman dari wadahnya dan tempatkan
dalam lubang galian.
 Kemudian kembalikan tanah galian ke sekitar akar, padatkan dengan hati
– hati agar tidak terdapat kantong udara.
 Ketika lubang telah terisi tanah 2/3 bag, padatkan perlahan dengan kaki
dan siram dengan baik.
 Tanah di sekitar dasar tanaman harus diberi cekungan agar air dapat
mengalir dengan sendirinya ke arah batang tanaman.
 Tanaman harus ditahan dengan kayu air/ stegger untuk menahan
tanaman yang belum seimbang.
 Setelah tanaman selesai ditanam, harus disiram sampai benar-benar
basah perakarannya, atau diperkirakan minimum untuk setiap pohon
membutuhkan air sebanyak 10 liter dan perdu sebanyak 3 liter.
 Penyiraman tidak perlu dilakukan pada siang hari bersangkutan bila turun
hujan lebat
 Cara penyiraman dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak
mengakibatkan tanaman rusak.
 Untuk penyiraman digunakan air tawar yang tidak mengandung minyak,
asam alkali dan bahan-bahan organik lainnya.
 Satuan pengukuran hasil pekerjaan penanaman pohon adalah pohon dan
perdu yang dinyatakan tumbuh dan hidup dengan baik. Penanaman
rumput adalah m² rumput yang tumbuh dan hidup. Hasil pekerjaan sesuai
dengan persyaratan dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.

1.5.4. Penanaman Rumput dan Tanaman Penutup


a. Elevasi permukaan rumput dan tanaman penutup harus sesuai dengan
Gambar Kerja.
b. Tanah yang akan ditanami rumput dan tanaman penutup harus digali /
dikupas sedalam 200 – 300 mm, dan kemudian diisi dengan tanah urug
tersebut dalam butir 4.2.1. dari Spesifikasi Teknis ini.
c. Setiap kali selesai pelaksanaan penanaman rumput dan tanaman
penutup, harus segera dilakukan penyiraman dengan air yang bebas dari
bahan / zat yang dapat mematikan tanaman.
d. Galian lubang-lubang tanaman sesuai dengan petunjuk-petunjuk di
gambar, yaitu:
- Untuk pohon 60 x 60 cm sedalam 60 cm
- Untuk semak sedalam 40 cm.

1.5.5. Pemeliharaan Tanaman


Pekerjaan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, penggantian
tanaman dan rumput yang rusak, pemangkasan, pemupukan,
pemberantasan hama. Pekerjaan pemeliharaan tanaman dilaksanakan
dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
 Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk Gambar Kerja,
ketentuan Spesifikasi Teknis dan sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan/MK.
 Pemeliharaan harus dilaksanakan Kontraktor segera setelah pekerjaan
penanaman selesai. Masa pemeliharaan sesuai ketentuan dalam Kontrak.
 Selama itu, Kontraktor diwajibkan secara teratur memelihara semua
tanaman dan mengganti setiap tanaman yang rusak atau mati.
 Semua penggantian tanaman dengan yang baru menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
 Pemeliharaan tanaman harus disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman
yang ditanam.
 Bahan dan peralatan yang dipergunakan daalm setiap jenis pekerjaan
pemeliharaan harus benar – benar baik, memenuhi standar pengerjaan
yang dibutuhkan dan tidak merusak tanaman.
 Pupuk dan obat anti hama yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan
dalam Spesifikasi Teknis ini.
 Penggantian tanaman harus sesuai dengan jenis / bentuk / warna tanaman
yang ditanam dan disetujui Pengawas Lapangan/MK.

1.5.6. Penyiraman Tanaman


Penyiraman harus dengan air bersih yang bebas dari segala bahan organik / zat
kimia/ bahan lain yang dapat merusak pertumbuhan tanaman. Penyiraman dilakukan
dengan cara:
 Memakai alat khusus untuk menyiram tanaman seperti emrat yang memiliki
lubang banyak pada ujung keluarnya air sehingga dapat menyebar air
secara merata ke seluruh permukaan tanah yang disiram.
 Memakai slang air terbuat dari plastik yang dihubungkan dengan kran /
sumber air yang terdekat. Penyiraman dilakukan dengan cara memancarkan
air menggunakan nozzle atau sprinkler.
 Penyiraman dilakukan secara teratur terutama di musim kemarau bagi
tanaman dan rumput yang baru ditanam dan juga bagi tanaman dalam
tempat penampungan.
 Jadual penyiraman adalah sebagai berikut :
- Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan
rumput yang baru ditanam dan semua tanaman dalam
penampungan sementara, sebelum pukul 10.00 pada pagi hari
dan sesudah pukul 15.30 pada sore hari sampai tanaman tersebut
tumbuh sehat dan kuat.
- Semua jenis tanaman dan rumput yang sudah terlihat tumbuh baik
dan kuat harus disiram satu kali sehari pada sore hari setelah
pukul 15.30.
- Penyiraman dilakukan sampai cukup membasahi bawah
permukaan tanah.
- Tanaman yang masih terlihat cukup basah tanahnya pada sore
hari, tak perlu disiram lagi.
- Penyiraman yang berlebihan tidak diijinkan. Air harus dapat
terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman.
1.5.7. Penyiangan
 Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan
sekali bagi tanaman pohon dan rumput.
 Penyiangan bagi tanaman rumput dilakukan untuk mencabut
segala tanaman liar dan jenis rumput yang berbeda dengan jenis
rumput yang ditanam. Alat yang dipakai adalah alat pancong atau
cangkul garpu kecil.

1.5.8. Penggantian Tanaman


 Kontraktor wajib melakukan penggantian setiap pohoh, tanaman penutup
atau rumput yang ditemukan rusak atau mati.
 Semua penggantian dengan tanaman baru menjadi tanggung jawab
Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir.
 Penggantian tanaman harus sesuai dengan jenis / bentuk / warna
tanaman yang ditanam dan disetujui Pengawas Lapangan/MK.
 Penggantian tanaman harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga
tidak merusak tanaman lain di sekitarnya pada saat mencabut dan
menanam yang baru.
 Penggantian tanaman dilaksanakan pada sore hari antara pukul 15.30 –
18.00 dan dilanjutkan dengan penyiraman.

1.5.9. Pemangkasan
 Pemangkasan dilaksanakan untuk membuang cabang / ranting liar atau
untuk menjaga atau memperbaiki bentuk pertumbuhan yang diinginkan.
 Cabang / ranting yang mati atau layu harus dibuang dengan memotong.
 Semua pekerjaan pemangkasan harus dilakukan dengan gunting
pangkas untuk memotong cabang dan ranting dari arah bawah membuat
potongan miring menjauh (300 – 400) dari tunas yang berada pada
cabang / ranting yang tersisa jika memungkinkan sehingga pertumbuhan
baru dapat muncul dari tunas tersebut.
 Tidak dibenarkan melakukan pemangkasan cabang / ranting tanpa
menggunakan alat yang pemotong yang cukup tajam.
 Bekas pemotongan cabang / ranting harus ditutup dengan cat penutup
luka untuk mencegah infeksi yang disebabkan jamur pembusuk kayu atau
serangga yang dapat membunuh tanaman.
 Pemangkasan dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali.

1.5.10. Pemupukan
 Pupuk kandang yang matang digunakan untuk membuat tanah sehat /
subur yang terdiri dari campuran pupuk kandang dan tanah baik dengan
perbandingan 1 : 1 yang akan digunakan untuk pekerjaan penimbunan.
 Pupuk buatan NPK diberikan kepada tanaman pohon peneduh setelah
tanaman tersebut melampaui masa tanah 3 (tiga) bulan.

PARAF : 10
 Pupuk buatan NPK diberikan sebanyak 25 gram setiap tanaman untuk
mendorong pembentukan akar dan pembuahan.
 Pemupukan dilakukan dengan menanamkannya di dalam tanah
sedalam minimal 100 mm di sekeliling tajuk pohon, pada setiap jarak
600 mm.
 Pemupukan harus diulang 3 (tiga) bulan kemudian.
 Pupuk buatan ZA atau Urea untuk rumput harus diberikan sebanyak 12
gram/m2. Pemupukan dilakukan sebulan sekali. Pupuk harus dilarutkan
dengan air kemudian disemprotkan dengan sprayer ke permukaan
rumput.

1.5.11. Pemberantasan Hama Penyakit


 Pemberantasan hama penyakit dilakukan sebelum tanaman terserang
penyakit.
 Pemberantasan untuk hama (serangga dan ulat) dilakukan dengan cara
penyemprotan keselurh permukaan daun, batang dan cabang.
 Bahan yang dipakai adalah pestisida yang memenuhi ketentuan
Pemerintah Republik Indonesia.
 Untuk pemberantasan jamur dan sejenisnya digunakan fungisida Dithane
M-45 yang dicampur air (2 gr/liter air). Pemberantasan dilakukan dengan
penyemprotan ke seluruh permukaan daun, batang dan cabang.
 Untuk memberantas penggerek batang, digunakan BHC dan untuk
memberantas siput darat digunakan Metdex yang disebarkan di sekitar
pohon.
 Penyemprotan hama dan jamur :
- Untuk rumput dilakukan 2 (dua) bulan sekali.
- Untuk tanaman dilakukan 1 (satu) bulan sekali.
 Penyemprotan hama dan jamur dilakukan secara bergantian. Untuk
penyemprotan dari jenis obat yang berbeda jangan dilakukan sekaligus
tetapi beda waktu selang 2 (dua) minggu.

2. PEKERJAAN PERKERASAN TANAH

2.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini meliputi pengangkutan, penyebaran, penyiraman, penggilasandan
pemadatan bahan batu bergradasi di atas permukaan tanah yang telah disiapkan untuk
membentuk jalan sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
Pekerjaan ini akan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada pengadaan tenaga kerja,
peralatan, bahan dan kelengkapan lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
2.2. STANDAR/RUJUKAN
 American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO)
 American Society for Testing and Materials (ASTM)
 Semua standar dan peraturan nasional yang berlaku.

2.3. PROSEDUR UMUM


Lihat butir 1.3 dari Spesifikasi Teknis ini.

PARAF : 11
2.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN

PARAF : 11
2.4.1. Persiapan permukaan
 Bila agregat akan ditempatkan di atas permukaan yang telah disiapkan sebagai
lapis pondasi jalan / base course atau konstruksi lainnya, permukaan tersebut
harus telah selesai paling sedikit sekitar 100 meter panjang atau lebih besar dari
jumlah luas agregat yang akan ditempatkan.
 Bila agregat akan ditempatkan langsung di atas permukaan tanah yang ada, maka
permukaan tanah tersebut harus dikasarkan secukupnya agar dapat ditembus dan
dipadatkan kembali.
 Pemadatan kembali dilaksanakan setelah penambahan agregat, asalkan
ketebalan seluruh permukaan yang dikasarkan dan bahan agregat tambahan tidak
lebih dari ketebalan lapisan lepas yang diijinkan.
 Gumpalan tanah yang lebih besar dari 50 mm yang dihasilkan dari pengasaran
harus dibuang atau dipecahkan sebelum penambahan agregat dilaksanakan.
Pencampuran permukaan tanah yang dikasarkan dengan agregat baru tidak
diijinkan.
 Tidak ada pembayaran tersendiri untuk pekerjaan pengasaran permukaan dan
pemadatan karena pekerjaan ini merupakan bagian dari pekerjaan persiapan
permukaan.

2.4.2. Penghamparan
 Agregat dihamparkan merata selebar badan jalan, lapis demi lapis sampai
ketebalan lepas maksimal 250 mm, atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/ MK.
 Bila jumlah lapisan lebih dari satu, ketebalan masing – masing lapisan harus
diusahakan sama.
 Bahan dapat disebarkan dan dibentuk dengan cara yang disetujui yang tidak akan
menyebabkan terpisahnya agregat halus dan agregat kasar. Setiap bagian agregat
kasar atau halus yang terpisah harus diperbaiki atau disingkirkan dan diganti
dengan bahan yang bergradasi. Bahan harus memiliki kadar air yang sesuai untuk
menghasilkan tingkat kepadatan dengan menyemprotkan sejumlah air yang tepat.
Pencampuran dilakukan dengan motor grader sampai tercapai kadar air yang
seragam dan merata.
2.4.3. Pemadatan
 Segera setelah pencampuran dan pembentukan selesai, setiap lapis dengan tebal
minimal 200 mm harus dipadatkan dengan alat yang sesuai. Pemadatan dimulai
dari titik terendah menuju ke garis tengah jalan dalam kecepatan teratur 5 km/jam.

 Arah pemadatan harus tumpang tindih ke arah longitudinal. Pada tikungan,


pemadatan dimulai dari sisi yang terendah menuju ke sisi yang lebih tinggi.
Pemadatan harus berjalan terus sampai permukaan padat, keras dan bekas –
bekas roda pemadat tidak terlihat lagi.
 Bila agregat terlalu basah atau terlalu kering untuk dipadatkan pada nilai kepadatan
tertentu, maka agregat tersebut harus dikeringkan atau diperciki air, sebelum
memulai pemadatan. Tidak ada biaya tambahan untuk pekerjaan ini.
 Tidak ada pembayaran tambahan untuk pekerjaan penambahan air atau
pengeringan bahan.
 Setiap penyimpangan permukaan yang terjadi setelah pelaksanaan, harus
diperbaiki dengan membuang beberapa bagian dan menggantinya dengan bahan
yang baik sesuai ketentuan yang ditetapkan. Setiap lapisan agregat harus

PARAF : 12
dipadatkan minimal 95% kepadatan kering maksimal sesuai AASHTO Method D
Test T180.
2.4.4. Permukaan dan Toleransi Ketebalan
 Permukaan yang telah dipadatkan atau bentuk yang telah selesai dapat bervariasi
tidak lebih dari 10 mm di atas atau di bawah elevasi rencana pada semua titik.
 Setiap penyimpangan dari ketentuan di atas harus diperbaiki, dan menjadi
tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya tanpa ada biaya tambahan.
 Bila agregat akan ditempatkan pada tempat dengan ketebalan permukaan yang
bervariasi, ketebalan tersebut harus dalam batas – batas yang diijinkan, seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
 Pengaturan ketebalan harus disetujui Pengawas Lapangan/ MK.
2.4.5. Pemeriksaan dan Pengujian
Kepadatan bahan yang dipadatkan ditentukan berdasarkan ASTM 1557 atau
AASHTO T180. Pengujian dilakukan pada kedalaman penuh dari seluruh lapisan,
pada lokasi atau titik – titik yang akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan/ MK,
yang satu sama lain berjarak minimal 200 meter. Lubang pengujian harus diisi /
ditutup dengan bahan yang sama dan segera dipadatkan.

3. PEKERJAAN BETON
3.1. UMUM
Pekerjaan perkerasan adalah semua pekerjaan di luar pekerjaan penanaman termasuk
pekerjaan pembuatan bangku beton, pemasangan kanstin dan paving, pekerjaan
penutup lantai. Pekerjaan ini meliputi mobilisasi tenaga kerja, penyediaan material yang
dibutuhkan dan pembuatan pekerjaan perkerasan serta finishing
3.2. BETON NON STRUKTURAL
Pekerjaan beton non structural adalah pekerjaan beton yang dimaksudkan bukan
sebagai penahan beban bangunan atau struktur tertentu.
3.3. LINGKUP PEKERJAAN
 Pekerjaan Beton Bertulang.
- Pembuatan bak tanaman
- Pondasi ramp, lampu jalan dan lampu taman
- Pembuatan kolam
 Pekerjaan Beton Tumbuk.
- Pembuatan lantai kerja beton tumbuk sesuai Gambar Kerja.
 Besi beton
- Besi beton yang dipakai adalah dari mutu U-24 untuk diameter lebih kecil dari di.12
mm
- Besi harus bersih dari lapisan minyak, lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-
serpih.
- Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan NI-2.
- Diameter besi beton yang dipasang harus sesuai dengan Gambar Kerja.
- Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari lapangan
kerja dalam waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari Konsultan Pengawas.
- Kawat pengikat besi beton adalah dari baja lunak dan tidak disepuh / dilapis seng.
Diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi
beton harus memenuhi syarat-syarat dalam NI-2 (PBI-1971)
- Semen. Sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Buku Rencana Kerja
dan Syarat-syarat Teknis Struktur dan PBI-1971
- Pasir yang digunakan adalah jenis pasir pasang dengan butir-butir yang tajam,
bersih dari tanah dan lumpur dan tidak mengandung bahan-bahan organis. Pasir
yang dipakai harus Pasir Beton.
- Koral beton / spleet harus bersih, bersudut tajam, tidak berpori serta mempunyai
gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat NI-2.
- Penyimpanan / penimbunan koral beton dengan pasir harus dipisahkan satu sama
lain, hingga kedua bahan tersebut dijamin mendapatkan perbandingan adukan beton
yang disyaratkan.
- Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, garam,
bahan organik dan kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.
- Papan acuan / bekisting dibuat dari multiplex tebal 9 mm.
- Balok-balok pengaku dan pengikat papan acuan dari kaso 5/7.
- Perancah disyaratkan memakai perancah besi, tidak diperkenankan
mempergunakan balok kaso 5/7 atau bambu.

3.4. PERSYARATAN PELAKSANAAN

1. Beton Bertulang.
 Campuran dan mutu beton
 Campuran adalah 1pc : 2ps : 3Kr.
 Mutu beton yang disyaratkan dalam pekerjaan beton bertulang non
struktural ini adalah K-175.
 Pembesian
 Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang
dibengkokkan, sambungan, kait-kait dan sengkang (ring)
persyaratannya harus sesuai NI-2 (PBI-1971).
 Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus sesuai dengan
Gambar Kerja.
Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi tulangan
tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran, dan harus bebas dari
papan acuan / bekisting atau lantai kerja dengan memasang selimut beton
dan bantalan beton (beton decking) sesuai dengan NI-2 (PBI-1971).
 Acuan / bekisting
 Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang
telah ditetapkan dalam Gambar Kerja.
 Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan- perkuatan,
sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan
kedudukannya selama pengecoran berlangsung.
 Acuan harus rapat (tidak bocor), permukaannya licin, bebas dari
kotoran tahi gergaji, potongan kayu, tanah, lumpur dan sebagainya.
 Cara pengadukan.
 Cara pengadukan harus menggunakan beton molen.
 Takaran untuk semen portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih
dahulu oleh Konsultan Pengawas.
 Beton harus dilindungi dari sinar matahari langsung, hingga tidak
terjadi penguapan terlalu cepat.
 Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan, harus
diperhatikan.
 Pengecoran Beton.
 Sebelum pelaksanaan pengecoran, Kontraktor diwajibkan me-
laksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiram
cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran- ukuran dan
ketinggian, pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
 Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan
Konsultan Pengawas.
 Pengecoran harus dilakukan dengan menggunakan alat penggetar
beton untuk menjamin beton cukup padat, dan harus dihindarkan
terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan sarang-sarang koral/
spleet yang dapat memperlemah konstruksi.
 Pekerjaan pengecoran beton harus selesai seketika. Apabila
pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari
berikutnya, maka tempat perhentian tersebut harus disetujui Konsultan
Pengawas.
 Pekerjaan pembongkaran acuan / bekisting.
Pekerjaan pembongkaran acuan / bekisting hanya boleh dilakukan dengan ijin
tertulis dari Konsultan Pengawas. Setelah bekisting dibuka, tidak diijinkan
mengadakan perubahan apapun pada permukaan beton tanpa persetujuan
Konsultan Pengawas.
 Pekerjaan pembuatan balok praktis / lintel dan ring balok. Pemasangan
balok praktis / lintel dan ring balok :
 Di tepi atas / akhir dari dinding pasangan batu bata yang bebas
sebagai ring balok setiap luas 9 m2 pasangan dinding bata yang tinggi.
 Ukuran balok pratis adalah 13 x 13 cm, 13 x 20 cm, atau sesuai
Gambar Kerja.
 Dan atau seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
 Penulangan beton balok praktis sesuai Gambar Kerja. Pada setiap
pertemuan dinding pasangan batu bata dengan ring balok beton
maupun beton lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja harus
diperkuat angker ∅ 8 mm, setiap jarak 50 cm. yang terlebih dahulu
telah ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan kolom dan balok
praktis ini. Bagian yang tertanam dalam pasangan bata minimal
sedalam 30 cm. kecuali ditentukan lain.
3. Pekerjaan Beton Tumbuk.
 Campuran beton tumbuk adalah 1pc : 3ps : 5kr dengan tulangan praktis 1
lapis – 2 arah diameter 6 mm.- 15 cm. atau wiremesh BRC M-6
 Lapisan beton tumbuk harus padat, tidak berongga, tidak retak dan rata
permukaan / waterpass dan atau seperti tercantum dalam Gambar
Kerja.
 Tebal lapisan beton tumbuk adalah 10 cm, dan atau sesuai Gambar Kerja.

4. Dasar Pembayaran
Pekerjaan ini dibayarkan sesuai volume yang tercakup dalam harga Kontrak untuk
pelaksanaan pekerjaan yang tercakup dalam Pasal SL 6.2 (Pekerjaan Beton Non
Struktural). Biaya-biaya yang mungkin timbul atas pelaksanaan ketentuan
pada pasalini harus sudah diperhitungkan sejak penawaran sampai dengan
pelaksanaan kontrak oleh Kontraktor.
Apabila ternyata Kontraktor lalai untuk melaksanakan ketentuan pada pasal ini,
padahal pekerjaan tersebut dinilai sangat diperlukan, maka Konsultan Pengawas
dapat mengambil alih pekerjaan yang sedang/akan dilaksanakan dengan
sepenuhnya biaya oleh Kontraktor.

4. PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA


4.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang dimaksud meliputi :


1. Pembuatan dinding batako press.
2. Pekerjaan pasangan batu bata lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja.

4.2. PERSYARATAN BAHAN


 Bata. Bata yang dipakai adalah dari mutu yang terbaik, ukuran 4 x 8 x 24 cm.
dengan pengepresan sempurna dan merata. Bata yang dipakai harus bebas dari
cacat, retak, cat atau adukan, mempunyai sudut siku dan ukuran yang seragam
dan langsung didatangkan dari pabrik atau penjual. Sebelum pengadaan bahan ini,
Kontraktor diwajibkan mengajukan contoh disertai data teknis dari batu bata yang
akan dipakai kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan
 Semen. Sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Buku Rencana Kerja
dan Syarat-syarat Teknis Struktur dan PBI-197.
 Pasir. Pasir yang digunakan adalah jenis pasir pasang dengan butir-butir yang
tajam, bersih dari tanah dan lumpur dan tidak mengandung bahan- bahan organis.
Pasir yang dipakai harus Pasir Beton.
 Air. Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, garam, bahan
organik dan kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.

4.3. PERSYARATAN BAHAN

1. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Kontraktor harus memperhatikan detail bentuk


profil, sambungan dan hubungan dengan material lain dan melaksanakannya
sesuai dengan yang tercantum dalam Gambar Kerja.
2. Sebelum pemasangan, batu bata harus direndam dalam air bersih dulu sehingga
jenuh. Pada saat diletakkan, tidak boleh ada genangan air di atas permukaan batu
bata tersebut.
3. Aduk perekat / spesi.
 Aduk perekat / spesi untuk pasangan batako press kedap air adalah campuran 1pc
: 3ps untuk :
 Dinding pasangan bata daerah basah.
 Dinding pasangan bata yang langsung berhubungan dengan luar.
 Saluran.
 Untuk semua pasangan bata terhitung dari P +0,20 ke atas, dipakai aduk perekat /
spesi campuran 1pc : 5ps terkecuali yang disyaratkan kedap air seperti tercantum
dalam Gambar Kerja.
 Persyaratan pembuatan adukan harus sesuai dengan 6.2.3
4. Pemasangan harus sedemikian rupa sehingga ketebalan aduk perekat / spesi
harus sama setebal 1 cm. Semua pertemuan horizontal dan vertikal harus terisi
dengan baik dan penuh.
5. Pemasangan dinding pasangan bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri
maksimum 5 lapis setiap harinya, diikuti dengan cor kolom dan balok praktis.
Persyaratan pelaksanaan kolom dan balok praktis, mengacu pada persyaratan
pelaksanaan pekerjaan beton di Bab lain dalam buku ini.
6. Pelaksanaan pemasangan batu bata harus rapi, sama tebal, lurus, tegak dan pola
ikatan harus terjaga baik di seluruh pekerjaan. Pertemuan sudut antara dua dinding
harus rapi dan siku seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
7. Pekerjaan pemasangan bata harus benar-benar vertikal dan horizontal.
Pengukuran dilakukan dengan tiang lot dan harus diukur dengan tepat.
Untuk permukaan yang datar, batas toleransi pelengkungan atau pencembungan
bidang tidak boleh melebihi 5 mm untuk setiap jarak 200 cm. vertikal dan
horizontal. Jika melebihi, Kontraktor harus membongkar / memperbaiki dan biaya
untuk perkaan ini ditanggung oleh Kontraktor, tidak dapat di-klaim sebagai
pekerjaan tambah.
8. Semua pasangan bata yang tertanam dalam tanah harus dilapis aduk kasar sampai
setinggi permukaan tanah.
9. Setelah bata terpasang dengan adukan, siar-siar harus dikerok dengan kedalaman
1 cm. dengan rapi dan dibersihkan dengan sapu lidi, kemudian disiram air dan siap
menerima plesteran.
10. Sebelum diplester, permukaan pasangan bata harus dibasahi dengan air terlebih
dahulu dan siar-siar telah dikerok dan dibersihkan.
11. Pembuatan lubang pada dinding pasangan bata untuk perancah sama sekali tidak
diperkenankan.
12. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5%.
Batu bata yang patah lebih dari 2 (dua) bagian tidak boleh digunakan.
13. Ketebalan jadi (setelah difinish dengan plester aci) harus:
 Dinding bata 1⁄2 batu, harus setebal 15cm.
 Dinding bata 1 batu, harus setebal 25 cm.
14. Pemeliharaan: Selama pasangan dinding bata belum difinish, Kontraktor wajib
untuk memelihara dan menjaga atas kerusakan atau pengotoran oleh bahan lain.
Apabila pada saat di-finish terdapat kerusakan, berlubang dan lain sebagainya,
Kontraktor harus memperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Konsultan
Pengawas. Biaya ini ditanggung oleh Kontraktor dan tidak dapat diklaim sebagai
pekerjaan tambah.

5. PEKERJAAN PLESTERAN
5.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang dimaksud meliputi :


 Plesteran aci halus untuk dinding pasangan bata dan permukaan beton
 Plesteran kedap air
 Plesteran biasa
 Pekerjaan plesteran lainnya seperti terurai dalam Gambar Kerja.

5.2. PERSYARATAN BAHAN

1. Semen. Sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Buku Rencana


Kerja dan Syarat-syarat Teknis Struktur dan PBI-197.
2. Pasir. Pasir yang digunakan adalah jenis pasir pasang dengan butir-butir
yang tajam, bersih dari tanah dan lumpur dan tidak mengandung bahan-
bahan organis. Pasir yang dipakai harus Pasir Beton.
3. Air. Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, garam,
bahan organik dan kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.
4. Semen. Sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Buku Rencana
Kerja dan Syarat-syarat Teknis Struktur dan PBI-197.
5. Pasir. Pasir yang digunakan adalah jenis pasir pasang dengan butir-butir
yang tajam, bersih dari tanah dan lumpur dan tidak mengandung bahan-
bahan organis. Pasir yang dipakai harus Pasir Beton.
6. Air. Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, garam,
bahan organik dan kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.
7. Campuran plesteran yang dimaksud adalah campuran dalam volume.
8. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan dinding
pasangan bata atau bidang beton telah disetujui secara tertulis oleh
Konsultan Pengawas.
9. Jenis plesteran.
 Plesteran kasar adalah plesteran dengan permukaan tidak dhaluskan.
Campuan plesteran kasar adalah campuran aduk kedap air,yaitu 1pc :
3ps. Dipakai untuk :
 Menutup permukaan dinding pasangan yang tertanam di dalam tanah
hingga ke permukaan tanah dan atau lantai.
 Menutup permukaan dinding pagar yang menghadap tetangga.
 Plesteran biasa adalah campuran 1pc : 5ps. Aduk plesteran ini untuk
pasangan batu bata dan batu tempel serta untuk menutup semua
permukaan dinding pasangan bagian dalam bangunan, yang
dinyatakan tidak kedap air seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
 Plesteran kedap air adalah campuran 1pc : 3ps. Aduk plesteran ini
untuk :
 Menutup semua permukaan dinding pasangan pada bagian luar / tepi
luar bangunan.
 Semua bagian dan keseluruhan permukaan dinding pasangan yang
disyaratkan harus kedap air seperti tercantum dalam Gambar Kerja
hingga ketinggian 150 cm. dari permukaan lantai.
 Semua pasangan bata di bawah permukaan tanah hingga ketinggian
sampai 20 cm. dari permukaan lantai, kecuali ditentukan lain dalam
Gambar Kerja.
 Plesteran halus / aci halus adalah campuran PC dengan air yang
dibuat sedemikian rupa sehingga diperoleh campuran yang homogen.
Plesteran halus ini merupakan pekerjaan penyelesaian akhir dari
dinding pasangan.
 Pekerjaan plesteran halus ini dilaksanakan sesudah aduk plesteran
sebagai lapisan dasar telah berumur 8 (delapan) hari, atau sudah
kering benar.

5.3. PELAKSANAAN

 Adukan semua jenis plesteran tersebut di atas harus disiapkan sedemikian


rupa sehingga selalu dalam keadaan masih segar dan belum mengering
pada waktu pelaksanaan pemasangan.

 Kontraktor harus mengusahakan agar tenggang waktu antara waktu


pencampuran aduk plesteran dengan waktu pemasangan tidak melebihi 30
menit, terutama untuk plesteran kedap air.
 Kontraktor harus menyediakan Pekerja / Tukang yang ahli untuk
pelaksanaan pekerjaan plesteran ini, khususnya untuk plesteran aci halus.
 Terkecuali untuk plesteran kasar, permukaan semua aduk plesteran harus
diratakan. Permukaan plesteran tersebut khususnya plesteran halus / aci
harus rata, tidak bergelombang, penuh dan padat, tidak berongga dan
berlubang, tidak mengandung kerikil ataupun benda-benda lain yang
membuat cacat.
 Untuk permukaan dinding pasangan, sebelum diplester harus dibasahi
terlebih dahulu dan siar-siarnya dikerok sedalam kurang lebih 1 cm.
 Sedang untuk permukaan beton yang akan diplester, permukaannya harus
dibersihkan dari sisa-sisa bekisting, kemudian dikasarkan (“scratched”).
Semua lubang - lubang bekas pengikat bekisting atau form tie harus
tertutup aduk plesteran.
 Untuk semua bidang dinding yang akan dilapis dengan cat / wallpaper
dipakai plesteran aci halus di atas permukaan plesterannya. Untuk bidang
dinding pasangan yang menggunakan bahan / material akhir lain,
permukaan plesterannya harus diberi alur-alur garis horizontal untuk
memberikan ikatan yang lebih baik terhadap bahan / material yang akan
digunakan tersebut.
 Untuk setiap pertemuan bahan / material yang berbeda jenisnya pada satu
bidang datar, harus diberi naat / celah dengan ukuran lebar 7 mm. dan
dalam 5 mm.
 Untuk permukaan yang datar, batas toleransi pelengkungan atau
pencembungan bidang tidak boleh melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m.
 Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding / kolom
seperti yang dinyatakan dan dicantumkan dalam Gambar Kerja. Tebal
plesteran adalah minimal 1,5 cm. dan maksimal 2,5 cm. Jika
ketebalan melebihi 2,5 cm, maka diharuskan menggunakan kawat ayam
yang diikatkan/ dipakukan ke permukaan dinding pasangan yang
bersangkutan, untuk memperkuat daya lekat plesteran.
 Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai
pemasangan instalasi pipa listrik, pipa plumbing, untuk seluruh bangunan.

5.4. PEMELIHARAAN

 Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung


dengan wajar. Hal ini dilakukan dengan membasahi permukaan plesteran
setiap kali terlihat kering dan melindunginya dari sinar matahari langsung
dengan bahan penutup yang dapat mencegah penguapan secara cepat.
Pembasahan tersebut adalah selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian
selesai, Kontraktor harus selalu menyiram dengan air sekurang- kurangnya
2 (dua) kali sehari sampai jenuh.
 Selama permukaan plesteran belum dilapis dengan bahan / material akhir,
Kontraktor wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan-
kerusakan dan pengotoran dengan biaya ditanggung oleh Kontraktor, dan
tidak dapat di- klaim sebagai pekerjaan tambah.
 Tidak dibenarkan pekerjaan penyelesaian dengan bahan / material akhir di
atas permukaan plesteran dilakukan sebelum plesteran berumur lebih dari
2 (dua) minggu, cukup kering, bersih dari retak, noda dan cacat lain
seperti yang disyaratkan tersebut di atas.
 Apabila hasil pekerjaan tidak memenuhi semua yang disyaratkan oleh
Konsultan Pengawas, maka Kontraktor harus membongkar dan
memperbaiki sampai disetujui oleh Konsultan Pengawas. Biaya untuk
perbaikan tersebut ditanggung oleh Kontraktor dan tidak dapat dijadikan
sebagai pekerjaan tambah.

5.5. PEMELIHARAAN
Pekerjaan ini dibayarkan sesuai volume yang tercakup dalam harga Kontrak untuk
pelaksanaan pekerjaan yang tercakup dalam Pasal SL 6.4 (Pekerjaan Plesteran). Biaya-
biaya yang mungkin timbul atas pelaksanaan ketentuan pada pasal ini harus sudah
diperhitungkan sejak penawaran sampai dengan pelaksanaan kontrak oleh Kontraktor.
Apabila ternyata Kontraktor lalai untuk melaksanakan ketentuan pada pasal ini, padahal
pekerjaan tersebut dinilai sangat diperlukan, maka Konsultan Pengawas dapat mengambil
alih pekerjaan yang sedang/akan dilaksanakan dengan sepenuhnya biaya oleh Kontraktor.

6. PEKERJAAN KANSTEEN
6.1. UMUM

PARAF : 20
Yang dimaksud dengan Pekerjaan Kansteen ini meliputi dan tidak terbatas dari seluruh
pengadaan bahan, tenaga, peralatan yang diperlukan, serta tidak terbatas dari seluruh detail
yang ditujukan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

6.2. PERSYARATAN BAHAN


Pekerjaan Kasteen ini memakai Beton Pracetak setaraf Produk Lokal Kw.1 ex. Cisangkan,
Beton Kasteen harus memenuhi persyaratan SII maupun PUBI.

6.3. PENGGUNAAN BAHAN


a. Untuk Pemasangan Lurus
 Kansteen jepit taman
Type Kansteen: K.1 (Lurus)
Ukuran: 10x20x40 cm
Kuat Tekan: 300 Kg/ c,m2
 Kansteen pedestrian uk.
Type Kansteen: L (Lurus)
Ukuran: 20x30x30x60 cm
Kuat Tekan: 300 Kg/ cm2
b. Untuk pemasangan belokan
 Type Kansteen: Kansteen Boog (Lengkung)
Ukuran: Sesuai Brosur
Kuat tekan: 300 Kg/ cm2
Atau sesuai dengan gambar perencanaan, dan petunjuk Konsultan Pengawas
dilapangan
6.4. PERSYARATAN PEKERJAAN
1. Pengukuran
Sebelum pemasangan Beton Kansteen dimulai, terlebih dahulu harus diukur
kelurusannya. Patok-patok ukur, maupun tanda-tanda harus dipasang, untuk
memudahkan Pekerjaan Pemasangan Beton Kansteen tersebut.
b. Galian
Setelah pemasangan patok-patok ukur maupun tanda-tanda, kontraktor wajib
memberitahu kepada Konsultan Pengawas untuk diperiksa. Setelah disetujui oleh
Konsultan pengawas, baru galian bisa dimulai, dengan ukuran dalam maupun lebar
disesuaikan dengan gambar perencanaan.
c. Urugan Pasir
Sebelum pemasangan batu Kansteen, bagian dasar galian harus ditimbris dahulu, agar
permukaan tanahnya keras. Setelah itu urugan pasir setebal minimal 5 cm dihamparkan
pada dasar galian tersebut, dan dipadatkan.
d. Pemasangan Beton Kansteen Pracetak
Beton Kansteen Pracetak dipasang diatas hamparan pasir, lidah-lidah dari pada Batu
Kansteen tersebut harus saling mengunci, dipasang tegak lurus dengan pasangan
Aspal maupun Paving bloc, sedalam +/- 10 cm dari permukaan tanah/jalan.

PARAF : 21
Pemasangan Beton Kansteen harus Kokoh dan Kuat, untuk menahan Gesekan /
singgungan dari pada Roda Mobil.
e. Urugan Kembali
 Pengurugan dilakukan dengan sempurna, tidak diperkenankan adanya celah¬celah
atau ronga-ronga yang masih belum diurug.
 Jarak Horizontal antara Beton Kansteen dengan Material yang bersinggungan
(Aspal, pore block ataupun Paving block,) tidak boleh diurug dengan tanah,
melainkan harus dengan material yang sejenis (Aspal / pore block/ Paving Blok).
 Pekerjaan urugan ini harus betul-betul padat, mengunci daripada Beton Kansntein
tersebut, dengan cara Pemadatan tanah dilakukan lapis demi lapis sambil disiram
dengan air.
 Pemadatan tanah harus menggunakan alat pemadat yaitu mesin pemadat (Stamper)
dengan kapasitas pemadatan sebesar 500 s/d 1000 Kg.
f. Pengukuran Hasil Kerja
 Pemasangan Batu Kanstin harus menghasilkan suatu garis lurus, Permukaan Bagian
Luar, bagian dalam, maupun bagian atas harus rata, tidak bergelombang, Kokoh dan
Kuat.
 Kegagalan dari pada pemasangan Beton Kansteen ini, diantaranya pemasangan
tidak lurus, Beton Kansteen masih Goyah, tidak rata, dan tidak memenuhi
persyaratan lain, maka pekerjaan tersebut harus dibongkar kembali, dan diperbaiki
dengan biaya ditanggung oleh Kontraktor.

7. PEKERJAAN PERKERASAN

7.1. UMUM
Yang dimaksud disini adalah perkerasan meliputi ketentuan dalam kontrak adalah:
1) Pasangan perkerasan beton floor harderner
2) Pengerjaan pasangan tembok dan lantai batu alam andesit
3) Pasangan perkerasan grass block/paving block
4) Pengerjaan turfpave

7.2. PERSYARATAN BAHAN


1. Beton Floor Harderner
 Dasar / base (pasir kering/pasir beton) adalah bagian dari perkerasan jalan yang
terletak diantara sub-grade (permukaan tanah) dan lapisan permukaan. Segala
persyaratan material base harus memenuhi standar Bina Marga untuk base klas C.
 Beton harus baik dan memeliki kuat tekan memadai (minimum 25 N/mm2) dengan
kuat tarik minimum sebesar 1.5 N/mm2.
2. Batu Andesit
 Jenis, ukuran, warna dan finishing batu alam ditentukan sesuai dengan yang
tercantum di dalam Gambar Tender.
 Ketebalan batu alam pada umumnya adalah 20 mm, kecuali apabila tercantum
dengan keterangan yang berbeda di Gambar Tender.
 Persyaratan batu alam yang akan diterima di Lapangan adalah batu alam yang
sudah dipotong sesuai dengan jenis, ukuran, warna dan finishing yang ditentukan,
yang mempunyai kualitas baik, tahan lama, bebas dari noda, cacat, retak atau
kerusakan lainnya, baik yang disebabkan oleh mineral maupun benda organik lain
yang mengganggu penampilan visualnya.
 Setiap jenis batu alam berasal dari satu produsen dan Kontraktor harus menjamin
bahwa batu alam yang dibutuhkan dapat diproduksi dan dikirim sesuai dengan
program kerja yang diajukan.
 Variasi perbedaan karakteristik secara visual yang didapat asli dari sumber
penambangan di mana batu alam itu berasal, dapat diterima selama perbedaannya
tidak melebihi dari 3 mm dan telah mendapatkan persetujuan tertulis dari pengawas
 Semua batu alam yang digunakan harus mempunyai penampilan visual warna, jenis
dan tekstur yang serupa.

3. Paving Block/Grass Block


Bentuk
 Sisi vertical harus tegak lurus dengan permukaan atas Paving Block mapun Grass
Block dan dapat saling mengunci satu sama lain dengan baik.
 Paving Block berukuran 21x10.5x8 cm (Warna disesuaikan dengan gambar) dengan
kwalitas Lokal No.1. dan Grass block berukuran 40x40x 8 cm
 Kuat tekan rata-rata tidak boleh kurang dari 400 Kg/cm2
 Pengadaan bahan harus dari satu produk, didatangkan harus dalam keadaan baik,
tidak retak, warna merata serta mendapat persetujuan dari Pengawas.
 Pasir extra beton adalah pasir alam bukan pasir laut dan bila terpaksa dikehendaki
harus dicampur dengan proporsi yang tepat, berbentuk tajam dan keras serta tidak
mengandung kotoran.
4. Turfpave
 Material yang digunakan adalah turfpave yang merupakan panel plastik yang kuat
dan berfungsi untuk menstabilkan rumput atau batuan yang ramah lingkungan dan
praktis.
 Turfpave ditempatkan di bawah permukaan rumput untuk meminimalkan pemadatan
rumput, media tanam dan akar dengan spesifikasi gambar kerja perencana
 Material yang dipilih mempunyai kekuatan tekan sampai 150 ton/m2, berat
4.30kg/m2, dengan ukuran modul 500 mm x 500 mm x 40 mm.

7.3. LINGKUP PEKERJAAN


Merujuk pada plaza di area depan muka bangunan

7.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN


1. Pasangan perkerasan Beton Floor Harderner
 Pembersihan dan Pengecekan Lantai Kerja
Dasar tanah dibawah lantai kerja sudah harus padat. Penambahan material
makadam atau pasir urug akan memperkuat perkerasan jika diperlukan.
Pengukuran ulang lahan akan diperiksa terhadap gambar kerja yang diberikan.
 Pemasangan Bekisting dan Pembesian
Bekisting dipasang di area kerja disesuaikan dengan pola. Bekisting dibuat dari
bahan yang kuat dan lentur sehingga dapat membentuk pola seperti kaso dan
triplek. Pembesian dengan menggunakan wiremesh digelar di area kerja yang
telah dibatasi dengan bekisting pada posisi mengambang dengan menggunakan
beton pengganjal. Lahan siap untuk pengecoran dengan beton Ready-Mix.
 Pengecoran Beton
a. Beton Ready-Mix dituang dilokasi dan dilevel sesuai dengan elevasi. Beton
dipadatkan seperti biasa dan diratakan (screeding) menggunakan alat bantu
aluminum yang tidak mudah melengkung. Beton harus baik dan memeliki kuat
tekan memadai (minimum 25 N/mm2) dengan kuat tarik minimum sebesar 1.5
N/mm2.
b. (Permukaan) beton harus bersih, kering, dan bebas dari bahan kontaminan apapun,
seperti minyak/oli, pelapis atau lainnya.
 Pewarnaan Beton dan Pengecapan
Dalam keadaan beton setengah setting dan telah diratakan, tebar Colour
Hardener di atas beton kemudian diratakan kembali sehingga warna hardener
tercampur rata dan masuk ke dalam permukaan beton yang setengah basah.
Tebaran Colour Hardener masih akan diulang pada bagian beton yang masih
belum tertutup warna dengan sempurna. Colour Hardener berfungsi sebagai
warna utama beton dan juga sebagai addictive yang mampu menaikan mutu
beton.
 Pengeringan
Setelah proses pengecapan selesai, permukaan akan ditutup dengan plastik cor
dan tidak boleh dilewati sampai dengan beton berumur cukup keras untuk
[Link] umur beton adalah 28 hari.
 Pembersihan dan Aplikasi Sealer / Coating
Setelah beton mengering dan cukup umur, lalu cuci beton dengan air, sedikit sabun
dan sikat secara manual atau cuci dengan water pressure hingga permukaan beton
dianggap bersih. Permukaan beton yang masih basah didiamkan agar kering
dengan sendirinya. Setelah kering sempurna, Sealer / Coating akan diaplikasikan
pada permukaan beton yang sudah kering sehingga terlihat hasil beton dan
berwarna.. Tunggu 2 - 3 jam sebelum permukaan beton yang sudah dilapisi
Sealer / Coating siap untuk dapat diakses
2. Pemasangan Batu Alam Andesit
 Material batu alam yang akan dipasang harus digelar terlebih dahulu dilantai untuk
mendapatkan persetujuan keseragaman corak/ pola uratnya serta sortir quality tile
oleh MK dan Pemberi Tugas.
 Bersihkan batu alam / batuan dengan membasahi dengan air bersih sebelum diset
dalam pe kerjaan; khusus untuk pemasangan basah.
 Pasanglah tile dengan rata, level, lurus dan benar dengan hubungan keseluruhan.
Kelurusan permukaan tile harus pada sisi luarnya.
 Jangan memasang tile yang rompat, retak. atau pudar atau tidak baik, hal ini akan
ditolak.
 Sediakan dan set anchor, dowel, ties dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk
memperkokoh pasangan. Setel angkur pada posisi yang baik dan tidak kurang
dari jarak yang diijinkan. Pasang tile untuk memungkinkan pergerakan bergeser.
Menciut/ memuai, dan ekspansi termal dan kontraksi.
 Jangan menggunakan aluminium, plastik atau penumpu dari kayu.
 Berikan hubungan yang rata, dalam toleransi yang diijinkan / spesifikasi, pada
permukaan antara pasangan yang berdekatan untuk menghasilkan hubungan baik
dan maksimal.
 Potong dengan tepat dan akurat, lubangi dan sesuaikan batu alam untuk
hardware, outlet, fixture, fitting dan pekerjaan-pekerjaan lain yang menempel pada
batu alam.
 Dalam memotong dan mengepas, dengan hati-hati potong sisi-sisi dan digrinda
untuk ketepatan, pemotongan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi
kekuatan atau penampilan batu alam.
 Pastikasn bahwa outlet sudah ditempatkan pada tengah-tengah pasangan batu
alam kecuali di tujukkan lain pada gambar. Bila outlet / lubang tidak ditujukkan
pada gambar, harus dibuatkan oleh kontraktor instruksi secara detail sesuai lokasi
yang ditunjukkan oleh arsitek.
 Untuk pemasangan batu alam pada dinding dengan sistem bawah (adukan) harus
diperkuat dengan anchor, Posisi anchor harus tepat pada balok atau kolom praktis
sehingga kuat.
 Untuk batu alam yang digunakan untuk eksterior bangunan, harus dilapisi coating
anti debu dan air di semua sisinya

3. Pemasangan Pavig Blok/Grass blok


 Persyaratan Pelaksanaan
Semua pelaksanaan harus sesuai dengan standar sebagai berikut:
- NI-2, NI-3, NI-8
- AASHTOT – 99
 Penelitian Kualitas di Lapangan
Pengambilan contoh secara random atas bahan-bahan yang telah berada
dilapangan dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Pengawas,
semua biaya pengujian dan meterial menjadi beban kontraktor.
 Pelaksanaan
- Pekerjaan lapisan pasir extra beton (sand bedding) diatas pondasi/ base
course setebal 7 cm atau sesuai gambar, dilakukan dengan hamparan yang
merata dan harus diperhatikan luas hamparan pasir harus dapat tertutup
paving dalam satu hari.
- Pada saat penghamparan, sand bedding harus kering dengan kadar air
terkandung maksimum 8 %, serta harus dijaga terhadap hujan dan aliran air
sebelum pemasangan paving dan pemadatan.
- Pemasangan Paving Block dan pore block sesuai dengan pola pada gambar,
ditata rapih, merata dengan jarak naad /joint scaping 3 - 4 mm lurus dan saling
tegak lurus pada persilangan.
- Khusus untuk pemasangan Paving block, adalah dengan pola sesuai gambar
rencana.
- Pemadatan dilakukan menggunakan Plate vibratory dengan luas dasar 0,35 -
0,50 m2 dan centrafugal force 1,6 - 2,0 ton. dimulai dari satu sisi tepian
Kansteen pengunci kebagian sisi lain dan dari bagian terendah menuju bagian
yang tertinggi dengan jumlah lintasan minimum sebanyak 3 kali.
- Pemadatan tidak dilakukan bila mendekati tidak kurang dari 1,0 meter dari
bagian pemasangan Paving Block yang terbuka/ tidak terjepit Kansteen
pengunci.
- Apabila tidak disebutkan lain dalam gambar, maka kemiringan profil melintang
dibuat 2,5% dan toleransi permukaan datar adalah 10 mm untuk setiap 3 m
garis lurus serta masing-masing Paving Block perbedaan ketinggiannya tidak
lebih dari 2 mm.
- Pekerjaan sand filler yaitu pengisian celah Paving block /joint scaping setelah
dilakukan pemadatan, dengan pasir extra beton yang diayak dengan kawat
nyamuk. Pengisian dengan alat manual sederhana sehingga seluruh
celah/naad terisi penuh dengan pasir.
- Pemotongan Paving Block dan pore block harus menggunakan mesin potong
Paving Block khusus sesuai persyaratan dari pabrik.
- Apabila terjadi ketidak sempurnaan misal Paving block/ pore block yang sudah
terpasang pecah, pemasangan bergelombang atau beda ketinggian sangat
mencolok, maka Kontraktor wajib membongkar dan atau memasang kembali
dengan Paving block/ pore block baru.
4. Pemasangan turfpave
 Sebelum pemasangan hitung area yang akan dipasang tufpave
 Gali dan ratakan area tersebut
 Pasang base pasir dan sirtu sesuai gambar kerja.
 Letakkan dan padatkan base sirtu yang berukuran 2-10 mm atau pasir yang
memberikan daya dukung terhadap beban yang diproyeksikan.
 Posisikan modul turfpave di atas pasir dan sirtu yang dipadatkan.
 Tutupi turfpave dengan campuran tanah pasir yang direkomendasikan untuk
penanaman rumput

8. PEKERJAAN PEMASANGAN WATERPROOFING,DRAINAGE CELL, dan


GEOTEXTILE
8.1. UMUM
Yang termasuk dalam pekerjaan pemasangan drainage cell dan geotekstile ini adalah
penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya termasuk
pengangkutannya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan
yang dinyatakan dalam gambar, memenuhi uraian syarat-syarat di bawah ini serta
memenuhi spesifikasi dari pabrik yang bersangkutan.
8.2. PERSYARATAN BAHAN
 Membran waterproofing berbahan setara Ethylene Propylene Diene Ter-Polymer
dengan ketebalan 1,14 mm . Sistem pemasangan dengan sistem dingin atau dengan
lem.
 Material yang digunakan adalah versicell & geotextile sebagai media drainase di atas
beton/roof garden dan planter box dengan spesifikasi gambar kerja perencana
 Drainage cell yang dipilih mempunyai kekuatan tekan sampai 80 ton/m2, dapat
mengalirkan air sampai 16.5 l/ms, berat 2.90kg/m2, saling mengait sehingga
membentuk kestabilan & melindungi water proofing.
 Pekerjaan melingkupi pengadaan dan pemasangan geotextile Sebagai filter, Geotextile
Non Woven berfungsi untuk mencegah terbawanya permeable (tembus air) maka air
dapat melewati Geotextile partikel-partikel tanah pada aliran air karena sifat Geotextile
Non Woven menahan partikel tanah. Pekerjaan melingkupi pengadaan dan
pemasangan drainase& geotextile untuk area taman atap berfungsi sebagai jalur
drainase
 Geotextile (Geotekstil) Non Woven, atau disebut Filter Fabric (Pabrik) adalah jenis
Geotextile yang tidak teranyam, berbentuk seperti karpet kain. Umumnya bahan
dasarnya terbuat dari bahan polimer Polyesther (PET) atau Polypropylene (PP).

8.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN


 Kontraktor wajib meminta manual pelaksanaan supplier waterproofing membrane dan
drainage cell. Pelaksanaan pekerjaan pemasangan waterproofing membrane dan
drainage cell harus sesuai dengan manual yang diberikan oleh supplier material
tersebut. Termasuk diantaranya adalah pengerjaan pada material pendukungnya
 Pekerjaan persiapan waterpfooting
- Permukaan plat lantai beton T yang akan dipasang Waterproofing Membrane
ataupun Coating untuk plat dack, bagian permukaannya harus dibuat rata, halus
serta bebas dari tonjolan dan lubang lubang. Permukaan Plat Lantai beton yang
akan di Waterproofing harus dalam keadaan kering, serta sudah tidak ada
pekerjaan pekerjaan lain yang sekiranya akan mengganggu.
- Permukaan pada plat dack harus sudah dibuat kemiringan sesuai gambar
perencanaan, dengan menggunakan screed halus adukan 1:5.
- Pembuatan kemiringan ini perlu untuk menyalurkan air hujan pada dack beton
ataupun air pembuangan lainnya menuju pada Lubang pembuangan (Floor Drain).
- Pada bagian sudut pertemuan vertikal/Horizontal , harus deberi adukan +/- 3 cm
untuk menghindari pertemuan sudut yang tajam (90°).
 Pelapisan Cat Primer
- Pemasangan lapisan Primer terutama untuk pekerjaan pasangan waterproofing
membrane sheet dilakukan setelah seluruh perkerjaan pada persiapan dilakukan.
- Pelapisan Primer dilaburkan dengan memakai kwas/roll dengan perkiraan 1 liter
untuk penggunaan 4 s/d 6 m2, tergantung keadaan permukaan beton, Pelaburan
permukaan beton hanya dilakukan untuk target pemasangan dalam satu hari, pada
setiap harinya.
- Lapisan Primer tidak boleh dibiarkan terbuka tanpa ditutup dengan Sheet
Membrane lebih dari 12 jam, jika melebihi jam tersebut maka pelapisan Primer
tersebut harus diulang kembali.
- Pelapisan Primer harus dilakukan dalam keadaan cuaca kering/panas, tidak
diperkenankan pelapisan diwaktu cuaca sedang hujan.
 Pelapisan Membrane Sheet Waterproofing:
- Setelah pelapisan Primer mengering, maka pelapisan Waterproofing Membrane
dapat dilaksanan. Waterproofing Membrane direkatkan pada permukaan beton
yang telah diberi lapisan primer, dengan cara ditekan dengan alat hingga lengket,
merata kesegala arah. Untuk bagian sambungan penekanan penggunakan Sejenis
Roll.
- Pemasangan pada setiap sambungan diperlukan overlap minimal 10 cm atau
sesuai dengan petunjuk pabrik.
- Pemasangan dilaksanakan dimulai dari titik terendah (Dekat Drain) kemudian naik
keatas sehingga didapat suatu keadaan seperti pemasangan susunan pada
Polycarbonat. Pengakhiran pemasangan harus dalam keadaan terjepit/tertanam.
- Pada tempat-tempat yang kritis seperti Drain, sudut, sambungan dan pengakhiran
waterproofing membrane harus diberi cairan Karet yang sangat elastis.
Pemasangan membrane harus dilindungi dengan plesteran atau bahan finish lain
minimum t=2,5 cm, pada pemasangan bidang Horizontal , sedangkan untuk bidang
Vertikal harus dipasang / dijepit dengan pasangan dinding 1/4 bata lalu permukaan
dikamprot dengan adukan 1:4.
 Sistem waterproofing coating
- Pemasangan lapisan Water proofing Coating dilakukan setelah seluruh perkerjaan
pada persiapan selesai dilakukan.
- Pelapisan Waterproofing Coating dapat dilakukan dengan dilaburkan atau sistem
Trowel atau sistem Spray.
- Pemakain Campuran yang diinginkan adalah 2 Kg/m2 untuk ketebalan 1,2 mm.
- Setelah Lapisan waterproofing Coating mencukupi umur untuk pengeringan, maka
harus segera lapisan tersebut ditutup dengan bahan finish permukaan.
- Pelapisan Waterproofing Coating harus dilakukan dalam keadaan cuaca
kering/panas, tidak diperkenankan pelapisan diwaktu cuaca sedang hujan.
 Pemasangan drainage cell
- Pada atap, pastikan pengaplikasian waterproofing sudah dilaksanakan
- Pastikan telah uji kedap genangan air selama 24 jam
- Pastikan aliran air mengalir drainase
- Lindungi material drainage cell dari UV dengan menyimpannya dibawah terpal
apabila waktu pengiriman hingga pemasangan membutuhkan waktu lebih dari satu
minggu
- Posisikan modul drainage cell tepat diatas waterproofing membran
- Pasang langsung diatas darinase outlet
- Potong modul sesuai dengan ukuran agar sesuai ukuran sudut atau sesuia
kebutuhan
- Lapisi drainage cell setelahnya dengan geotekstile
- Pemasangan overlap geotekstile setidaknya 200mm
- Pastikan ujung semua modul drainase terpasang dan tersegel dengan geotekstile
agar memastikan pasir dan partikel tanah tidak masuk ke modul drainase cell
-
 Geotekstile harus digelar di atas tanah atau drainage cell dalam keadaan terhampar
tanpa gelombang atau kerutan, mengikuti aturan untuk overlapping dan penyambungan
Geotextile, Pada daerah pemasangan yang berbentuk kurva (misalnya bentuk
lengkung lungkung), maka Geotextile dipasang mengikuti / searah kurva.

9. PEKERJAAN LOGAM
9.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan mencakup penyediaan dan pemasangan untuk semua jenis pekerjaan logam
(besi, baja, stainlessteel dst) baik untuk rangka struktur lampu, pagar, dan sliding gate
Lingkup pekerjaan adalah rangka struktur pipa lampu jalan dan taman serta pagar
meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat – alat bantu yang diperlukan, sehingga
konstruksi pasangan bata/beton dan besi selesai dilaksanakan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar atau yang telah ditetapkan di sini.
9.2. PROSEDUR UMUM

 Contoh dan Data Teknis


- Sebelum dikirim, contoh dan data teknis bahan dan komponen yang diusulkan di
sini harus diberikan pada Pengawas untuk mendapat persetujuan.
- Biaya penyediaan contoh adalah tanggung jawab kontraktor.
 Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).
- Sebelum proses pemasangan, Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang
meliputi semua pekerjaan detail, bentuk bukaan, dan perangkat keras/elektronik
untuk pengunci gerbang, harus disediakan oleh kontraktor dan harus diserahkan ke
Pengawas untuk mendapat persetujuan.
- Semua dimensi harus disesuaikan di lapangan dan harus ditunjukkan dalam
Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).
9.3. MATERIAL

 Tumpuan solid
Material tumpuan solid adalah dinding dengan material bata atau beton. Tumpuan
ini berfungsi untuk dudukan pagar stainlessteel. Pemilihan jenis material yang akan
digunakan harus diketahui oleh pengawas. Pemilihan kualitas bata harus sesuai
dengan kriteria yang tercantum pada Pekerjaan Pasangan Bata, dan pemilihan
kualitas beton harus sesuai dengan kriteria yag tercantum pada Pekerjaan Beton
stuktural.
 Rangka Lampu Taman
Tiang lampu menggunakan hollow ukuran 30x60 mm, dengan ketebalan minimal 1
mm, dan menggunakan akrilik. Alternatif jenis mutu logam lainnya dapat
dipertimbangkan dan dapat digunakan setelah ada persetujuan dari pengawas.
Ukuran dan pola struktur baja disesuaikan dengan gambar.
 Pagar
Pagar menggunakan hollow ukuran 50x100 mm, dengan ketebalan minimal 1 mm,
Alternatif jenis mutu logam lainnya dapat dipertimbangkan dan dapat digunakan
setelah ada persetujuan dari pengawas. Ukuran dan pola struktur baja disesuaikan
dengan gambar.
 Gerbang
Pagar menggunakan hollow ukuran 30x60 mm, dengan ketebalan minimal 1 mm,
Alternatif jenis mutu logam lainnya dapat dipertimbangkan dan dapat digunakan
setelah ada persetujuan dari pengawas. Ukuran dan pola struktur baja disesuaikan
dengan gambar.

9.4. PELAKSANAAN
 Untuk tumpuan bata/beton ukuran dan bentuk disesuaikan dengan gambar kerja
dan aturan pekerjaan dinding bata dan beton
 Besi dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan ukuran detail
pada gambar kerja, selanjutnya dilas sedemikian rupa sehingga membentuk
struktur yang dimaksud dan dipasang pada tumpuan bata/beton yang sudah
diplester.

9.5. PENGUJIAN
Kekuatan dan kekokohan struktur logam harus diuji terlebih dahulu kekuatannya
sebelum dipasang menyeluruh. Seluruh perangkat ini harus bekerja dengan baik
sebelum dan sesudah pemasangan. Untuk itu, harus dilakukan pengujian secara kasar
dan halus..
9.6. DASAR PEMBAYARAN

Pekerjaan ini dibayarkan setiap item dalam harga Kontrak untuk pelaksanaan pekerjaan
yang tercakup dalam Pasal SL 6.6 (Pekerjaan Logam).
Biaya-biaya yang mungkin timbul atas pelaksanaan ketentuan pada pasal ini harus
sudah diperhitungkan sejak penawaran sampai dengan pelaksanaan kontrak oleh
Kontraktor.
Apabila ternyata Kontraktor lalai untuk melaksanakan ketentuan pada pasal ini, padahal
pekerjaan tersebut dinilai sangat diperlukan, maka Konsultan Pengawas dapat
mengambil alih pekerjaan yang sedang/akan dilaksanakan dengan sepenuhnya biaya
oleh Kontraktor.

10. PEKERJAAN PENGECATAN DAN PEWARNAAN


10.1. LINGKUP PEKERJAAN

Meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantunya yang
berhubungan dengan pekerjaan penyelesaian dinding sesuai gambar, sehingga dapat
dicapai hasil yang sempurna.
Pekerjaan ini meliputi pengecatan tembok eksterior, pengecatan batu alam dan logam.
10.2. BAHAN dan SYARAT-SYARAT

1. Cat eksterior
 Pekerjaan pengecatan ini menggunakan cat dari jenis yang setara dengan Dulux
Jotun dan harus tahan terhadap paparan sinar matahari dan hujan serta
kelembaban.
 Pekerjaan pengecatan harus mengikuti petunjuk-petunjuk dari pabrik yang
bersangkutan. Sebelum pengecatan, cat dalam kaleng harus diaduk secara merata
sebelum dituangkan dalam tempat cat yang disediakan.
 Tanpa petunjuk dari pabrik maka penggunaan zat-zat pengering dan lain-lain tidak
dibenarkan.
 Sebelum permukaan diberi satu lapisan cat dasar ( tahan alkali), kotoran dan
serpihan material yang ada pada permukaan yang akan di cat, harus dibersihkan
sampai benar-benar bersih, sehingga tidak menggangu pekerjaan pengecatan ini
dan tidak merusak cat yang terpasang.
2. Cat Batu Alam
 Cat yang digunakan adalah khusus untuk batu alam yang ditujuk untuk
melindungi batu alam tersebut.
 Semua bahan cat harus dari penyalur yang disetujui oleh pihak konsultan CM.
Penggunaan cat batu alam menggunakan jenis setara Propan.
3. Cat besi
 Untuk besi galvanis dicat dengan 2 lapisan zinchromate, tanpa dimenie terlebih
dahulu, juga untuk struktur baja, dicat dengan zinkromat minimal 2 (dua) kali, dengan
merk cat setara Dulux dan Jotun
 Pekerjaan pengecatan tidak boleh dimulai apabila :
o Sebelum bagian-bagian yang akan dicat di periksa oleh Pengawas.
o Apabila bagian yang dicat masih basah, lembab atau berdebu.
o Apabila keadaan cuaca lembab dan hujan.
 Kontraktor bertanggung jawab atas pengecatan yang baik dan harus mengatur waktu
sedemikian rupa mulai dari pengerjaan dasar (under coats)

PARAF : 30
 Hasil akhir harus membentuk bidang cat yang utuh, tidak ada gelembung udara dan
bidang cat dijaga terhadap pengotoran.
 Pengecatan kembali harus dilakukan bilamana bidang yang cacat tidak
disetujui/diterima Pengawas karena cat terkelupas atau rusak.
 Warna cat akan ditentukan kemudian, dipilih oleh direksi atau perencana dan
disetujui oleh Pengawas.

10.3. DASAR PEMBAYARAN

Pekerjaan ini dibayarkan sesuai volume yang tercakup dalam harga Kontrak untuk
pelaksanaan pekerjaan yang tercakup dalam Pasal SL 6.7 (Pekerjaan Pewarnaan atau
Pengecatan).
Biaya-biaya yang mungkin timbul atas pelaksanaan ketentuan pada pasal ini harus
sudah diperhitungkan sejak penawaran sampai dengan pelaksanaan kontrak oleh
Kontraktor.
Apabila ternyata Kontraktor lalai untuk melaksanakan ketentuan pada pasal ini, padahal
pekerjaan tersebut dinilai sangat diperlukan, maka Konsultan Pengawas dapat
mengambil alih pekerjaan yang sedang/akan dilaksanakan dengan sepenuhnya biaya
oleh Kontraktor.

11. PEKERJAAN KURSI BAK TANAMAN DAN DEK TAMAN


11.1. UMUM
Yang termasuk dalam pekerjaan kursi bak tanaman ini adalah penyediaan tenaga kerja,
bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya termasuk pengangkutannya yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam gambar,
memenuhi uraian syarat-syarat di bawah ini serta memenuhi spesifikasi dari pabrik yang
bersangkutan.
11.2. LINGKUP PEKERJAAN
Merujuk pada kursi bak tanaman dan dek taman di area roof garden
11.3. BAHAN
Bahan yang akan dipakai adalah sebagai berikut:
 Bahan yang digunakan adalah cor beton Mutu FC = 12,2 Mpa (K 150)
 Finishing Plasteran dan Acian, kemudian dicat dengan Sanlex, 2X Lapis
Cat Penutup
 Batu andesit 20x200x400 cm
 Conwood Plank 2” 300x3050x25 mm

11.4. PELAKSANAAN

 Penentuan titik penempatan Bak Tanaman pada site.


 Pembuatan rangka bekisting untuk penyetakan beton cor.
 Setelah rangka bekisting siap masukan cor Benton ke dalam bekisting
 Tunggu beberapa hari sampai beton mengeras sempurna
 Setelah beton mengeras pot di waterproofing, diplaster dan diaci,

PARAF : 31
kemudian dilapisi oleh batu andesiy
 Lalu masuk ke Pekerjaan Penanaman setelah pemasangan
waterproofing, drainage cell, dan geotekstile
 Pasang conwood pada bagian atas dek pelataran

Anda mungkin juga menyukai