LAPORAN PRAKTIKUM MINGGU KE-11
SURVEI REKAYASA
“Perhitungan Volume dengan Surpac”
Rabu, 6 Mei 2020
Disusun Oleh :
Muhamad Robi Rusdianto
18/431141/TK/47734
PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK GEODESI
DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2020
A. Mata Acara
Praktikum Perhitungan Volume dengan Surpac.
B. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat melakukan perhitungan volume galian dan timbunan dari desain lengkung
yang telah dibuat pada praktikum sebelumnya.
C. Alat dan Bahan
Data Desain Jalan
Data Eksisting
Aplikasi Surpac
Data Demnas
D. Landasan Teori
Materi menghitung luas dan volume sangat diperlukan pada pekerjaan rekayasa
baik yang terkait dengan pekerjaan survei rute seperti rute jalan raya, jalan kereta api,
saluran air, dan sebagainya, pekerjaan bangunan, ataupun pekerjaan rekayasa lainnya.
Pada pekerjaan-pekerjaan tersebut materi ini sangat diperlukan untuk menghitung volume
galian atau timbunan tanah yang diperkirakan. Selain itu materi ini sangat diperlukan juga
pada perhitungan volume bahan tambang, dan sebagainya. Untuk bisa melakukan
perhitungan volume, diperlukan materi tentang perhitungan luas.
Perhitungan Luas Tampang
Secara umum terdapat beberapa macam perhitungan luas yaitu :
1. Perhitungan luas secara numeris
a. Menggunakan angka koordinat
b. Menggunakan angka ukur
2. Perhitungan luas secara grafis
a. Dengan membagi gambar menjadi bentuk geometris sederhana
b. Mengubah bentuk menjadi bentuk geometris yang sederhana
(transformasi)
c. Dengan menggunakan mal grid
3. Perhitungan luas secara grafis mekanis
Namun demikian dalam praktikum ini akan dibahas perhitungan luas
tampang melintang menggunakan konsep dasar luas trapesium. Rumus
dasar luas trapesium adalah :
Hasil pengukuran tampang melintang seperti pada Gambar 1.
Luas tampang = Luastrap1 + Luastrap2 + Luastrap3 + Luastrap4 + Luastrap5
Perhitungan Volume Menggunakan Luas Tampang
Perhitungan volume menggunakan luas tampang digunakan pada pekerjaan
rekayasa khususnya pekerjaan survei rute yang sifatnya sempit dan memanjang seperti
survei jalan raya, saluran dan sebagainya. Prinsip perhitungan volume dengan
tampang pada dasarnya sama dengan perhitungan volume balok seperti pada Gambar
2, hanya saja luas tampang (sisi yang berhadapan) tidak berbentuk segiempat,
melainkan tidak beraturan sesuai dengan kondisi topografi di lapangan.
Gambar 2. Ilustrasi Hitungan Volume
Volume balok : l x t x p
Karena luas tampang A1 dan A2 tidak sama, maka Volume tubuh tanah :
A1 A2
V xp
2
jika p adalah jarak maka :
A1 A2
V xd
2
Jika terdapat sejumlah n tampang melintang seperti pada Gambar 3.
An
A2 dst
A1 D
Gambar 3. Ilustrasi Perhitungan Volume dengan Sejumlah n Tampang
Melintang
Jika terdapat sejumlah n tampang melintang seperti pada Gambar 3 dengan
jarak
antar tampang sama yaitu misalnya D, maka terdapat beberapa formula yang
bisa digunakan untuk ml enghitung volume tubuh tanah :
1. Mean Area :
2. End Area :
3. Prismoida :
4. Simpson :
Volumegalian/timbunan = Volumeexisting - Volumerencana
E. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum dilaksanakan pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 6 Mei 2020
Waktu : 13.00-15.40 WIB
Tempat : Tempat Tinggal Masing-Masing
F. Langkah Kerja
Praktikum pada minggu ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
1. Memasukkan koridor desain lengkung horizontal jalan yang sudah dibuat.
2. Melakukan editing nilai elevasi pada desain rencana lengkung horizontal dengan nilai
elevasi sesuai perencanaan. Pada praktikum ini menggunakan nilai rencana elevasi
desain lengkung sebesar 132.
3. Membentuk DTM dari desain rencana.
Kemudian klik Apply. Dengan hasil seperti berikut :
4. Menyimpan DTM desain rencana.
Klik save, sehingga DTM rencana memiliki layer sendiri dan sebagai berikut :
DTM rencana tersebut dengan kondisi rata karena pada koridor desain lengkung
horizontal memiliki nilai elevasi yang sama semua, yaitu 132.
5. Memasukkan DTM eksisting yang sudah dibuat dari data yang diambil dari data DEM.
Dimana data DEM tersebut hanya diambil sesuai koridor jalan, karena data ini sudah
dipakai ketika membuat profil, sehingga tinggal memakai DTM-nya.
6. Memasukkan kembali DTM rencana, sehingga seolah-olah DTM rencana dan DTM
eksisting bertampalan. Namun untuk membedakan, DTM rencana dibuat warna yang
berbeda (biru).
Dari data tersebut menunjukkan bahwa desain rencana berada pada elevasi eksisting.
Ada yang berada dibawah nilai elevasi eksisting, maupun diatasnya. Sehingga
memungkinkan untuk dilakukannya penggalian maupun penimbunan.
7. Menambahkan layer dengan nama boundary, untuk membuat boundary jalan.
8. Membentuk boundary yang akan dihitung volumenya. Yaitu boundary mengikuti
bentuk dari koridor jalan dengan cara digitasi.
Sehingga terbentuk boundary sebagai berikut :
Dimana boundary merupakan bentuk area yang akan dihitung volumenya, yaitu area
koridor jalan.
9. Melakukan penyimpanan layer boundary.
10. Melakukan perhitungan volume. Dengan cara klik surface > Volume > Cut and Fill
Beetwen DTMs.
11. Melakukan pengaturan perhitungan volume.
Perlu diketahui, DTM pertama yang digunakan adalah DTM eksisting. Dikarenakan
yang sebagai acuan untuk menentukan apakah nanti dilakukan penggalian maupun
penimbunan adalah dari kondisi yang ada dilapangan. Kemudian untuk second DTM
menggunakan DTM rencana sebagai batasan untuk perhitungan volume. Jika terbalik
akan terjadi kekeliruan terhadap hasil, dimana cut dan fill akan terbalik hasilnya.
12. Memasukkan file dari volume dengan format *.str yang sudah dibentuk saaat
perhitungan volume. Kemudian hide layer DTM dan boundary.
Dari data tersebut menunjukkan hasil dari proses perhitungan volume, dimana poligon
yang berwarna biru merupakan area yang dilakukan pengerukan (cut).
G. Hasil dan Pembahasan
Pembahasan
Dari data result perhitungan volume tersebut ada beberapa informasi, antara lain file DTM
yang digunakan, jumlah boundary yang digunakan, data DTM, dan Hasil Volume.
Untuk data DTM berisi informasi mengenai titik-titik koordinat dari DTM, yaitu koordinat
X minimum dan maksimum, koordinat Y minimum dan maksimum, dan koordinat Z
minimum dan maksimum. Ini merupakan batasan area yang akan dihitung volumenya.
Untuk koordinat Z kedua DTM berbeda karena memang dalam elevasi yang berbeda, untuk
DTM rencana dengan elevasi yang sama sehinggu nilai maksimum dan minimum sama,
sedangakan DTM eksisting sesuai data yang diekstrak dari DEM.
Untuk hasil volume, terdapat nilai Cut Volume (volume penggalian), Cut Area (Luas area
yang dikeruk), Fill Volume (volume timbunan), Fill Area (luas area timbunan), Nett
Volume (volume bersih dari cut and fill), Nett Tonage (Nilai volume tanah dengan
memperhitungkan densitas material), dan Common Area.
Untuk Nett Volume menyatakan volume galian atau timbunan yang tersisa, dimana dalam
perhitungan ini bernilai negatif yang berarti tanah tersebut perlu dibuang karena sisa.
Kemudian untuk Nett Tonage bernilai sama dengan Nett Volume, karena menggunakan
nilai densitas pendekatan yaitu 1 (bukan densitas sebenarnya).
H. Kesimpulan
Pengukuran luas dan volume digunakan untuk mencari nilai galian ataupun timbunan
dari sebuah perencanaan. Untuk melakukannya diperlukan desain eksisting (kondisi
lapangan) dan juga desain rencana.
Untuk menghitung volume diperlukan data yang berbentuk DTM dari desain rencana
dan eksisting. Dikarenakan digunakan untuk batasan volume yang akan dihitung.
Dalam proses perhitungan volume dengan menggunakan software Surpac, selain
dengan DTM rencana, dan eksisting perlu dengan geometri dari boundary area yang
akan dihitung, hal tersebut digunakan sebagai batasan untuk menghitung volume juga.
Dimana yang ada didalam boundary saja yang akan dihitung volume.