BAB I
PENDAHULUAN
Gizi buruk adalah Keadaan kurang zat gizi tingkat berat yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energi dan protein dalam waktu cukup lama yang ditandai
dengan berat badan menurut umur (BB/U) yang berada pada < -3SD tabel baku
WHO-NCHS dan < - 3 SD juga pada tabel Z-score. Gizi buruk secara klinis
terdiri atas marasmus, kwasiorkor, dan marasmus-kwasiorkor.1,2,3
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah
satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap
kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui
melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun
kualitatif.3
Menurut Depkes (2002), status gizi merupakan tanda-tanda penampilan
seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang
berasal dari pangan yang dikonsumsi pada suatu saat berdasarkan pada kategori
dan indikator yang digunakan dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada
ukuran baku yang sering disebut reference. Baku antropometri yang sering
digunakan di Indonesia adalah World Health Organization – National Centre for
Health Statistic (WHO-NCHS). Berdasarkan baku WHO - NCHS status gizi
dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk
kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi
kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein
Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk
marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwashiorkor.3
Kurang Energi Protein (KEP) diberi nama internasional Calori Protein
Malnutrition (CPM) dan kemudian diganti dengan Protein Energy Malnutrition
(PEM). Kurang Energi Protein adalah seseorang yang kurang gizi yang
disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-
1
hari dan atau gangguan penyakit tertentu. Manifestasi KEP dari diri penderitanya
ditentukan dengan mengukur status gizi anak atau orang yang menderita KEP.3
KEP pada balita sangat berbeda sifatnya dengan KEP orang dewasa. Pada
balita, KEP dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi, kematian anak dan mengakibatkan rendahnya tingkat
kecerdasan. Pada orang dewasa, KEP menurunkan produktivitas kerja dan derajat
kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. Diperkirakan bahwa
Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi dan penurunan
produktivitas diperkirakan antara 20% - 30%.3
Dalam pandangan ahli gizi KEP dibedakan gambaran penyakit kwashiorkor,
marasmus dan marasmus kwashiorkor. Kwashiorkor adalah penyakit KEP dengan
kekurangan protein sebagai penyebab dominan, marasmus adalah gambaran KEP
dengan defisiensi energi yang kronis dan marasmus kwashiorkor adalah
kombinasi defisiensi kalori dan protein pada berbagai variasi.3
2
BAB II
LAPORAN KASUS
Nama : By. A. Z.
Jenis Kelamin : Perempuan
Tgl Lahir/Usia : 21 juni 2020 / 3 bulan 14 hari
Tgl Masuk/Jam : 4 Oktober 2020
Tgl Pemeriksaan : 6 Oktober 2020
ANAMNESIS
Keluhan Utama : BAB encer
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien bayi perempuan usia 3 bulan 14 hari MRS dengan keluhan BAB
encer lebih dari 6 kali sehari, BAB tidak disertai lendir dan darah, keluhan
dirasakan sejak 5 hari SMRS, pasien juga mengeluhkan mual dan muntah setiap
minum susu formula pasien muntah berisi susu disertai lendir berwarna putih
sejak 2 hari SMRS, pasien juga sempat mengalami demam 3 hari yang lalu
disertai sesak napas 1 kali, kejang (-), batuk (-), pembengkakan (-), nafsu makan
baik dan lahap, banyak minum dan rewel (+), BAK (+) lancar tidak ada keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat BBLR, demam sebulan yang lalu selama 3 hari sembuh setelah
konsumsi paracetamol.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan :
Pasien merupakan anak kedua dari ibu dengan riwayat G1P1A0. Ibu
partus secara SC dengan usia kehamilan 37 minggu serta usia ibu saat melahirkan
usia 24 tahun. Saat trimester pertama ibu mengalami penurunan nafsu makan
disertai sakit kepala. Ibu rutin melakukan antenatal care. Selama hamil ibu tidak
mengkonsumsi obat-obatan, alkohol dan merokok. BBL 2300 gram, PB 48 cm.
ASI ibu tidak lancar dan sejak usia 1 bulan pasien mengkonsumsi susu formula.
3
Riwayat Imunisasi :
BCG
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Antropometri
BB : 3000 gram
PB : 54 cm
LK : 39 cm
LL : 9 cm
LD : 41 cm
LP : 38 cm
Status Gizi
BB/U : (<-3 SD) BB sangat kurang
TB/U : (0-(+2)) perawakan normal
BB/TB : (<-3) Gizi buruk
Tanda-Tanda Vital
DJ : 132 x/menit
RR : 48 x/menit
SB : 36,5°C
1. Kulit : Sianosis (-), Ikterik (-), turgor kulit lambat 3 detik.
4
2. Kepala
a. Wajah : Simetris bilateral, rambut tampak tipis
b. Deformitas : Tidak ada
c. Bentuk : Normocephal
d. Fontanela : Cekung (+)
e. Mata : Anemis (-/-), Ikterik (-/-), cekung (+/+)
f. Hidung : Rhinorea (-/-), Epitaksis (-/-)
g. Telinga : Othorea (-/-)
h. Mulut : Bibir kering (+), sianosis (-)
i. Tonsil : T1/T1, Hiperemis (-)
3. Dada
Paru-paru
a. Inspeksi : Bentuk dada normal (+), ekspansi simetris bilateral,
retraksi dinding dada (-/-)
b. Palpasi : Vocal fremitus dextra = sinistra, penonjolan/massa (-)
c. Perkusi : Sonor kedua paru (+/+)
d. Auskultasi : Vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), Ronchi (-/-)
4. Abdomen
a. Inspeksi : Tampak cembung (+)
b. Auskultasi : Peristaltik usus (+) kesan normal
c. Perkusi : Timpani (+), shufting dullnes (-)
d. Palpasi : Nyeri tekan (+) regio umbilikus, hepatomegali (-),
splenomegali (-)
5. Genitalia : Anus imperforata (-), labia mayor menutupi labia minor
6. Ekstremitas
a. Atas : Akral hangat (+/+), edema (-/-)
b. Bawah : Akral hangat (+/+), edema (-/-)
7. Punggung : Deformitas (-)
5
8. Refleks :
Fisiologis : Patologis :
++ ++ - -
++ ++ - -
RESUME
Pasien bayi perempuan usia 3 bulan 14 hari MRS dengan keluhan Diare
lebih dari 6 kali sehari, BAB tidak disertai lendir dan darah, keluhan dirasakan
sejak 5 hari SMRS, pasien juga mengeluhkan nausea dan vomitus setiap minum
susu formula pasien muntah berisi susu disertai lendir berwarna putih sejak 2 hari
SMRS, pasien juga sempat mengalami demam 3 hari yang lalu disertai sesak
napas 1 kali, kejang (-), batuk (-), pembengkakan (-), nafsu makan baik dan lahap,
banyak minum dan rewel (+), BAK (+) lancar tidak ada keluhan
Pemeriksaan fisik : Antropometri BB: 3000 gram, PB: 54 cm, LK: 39 cm, LL: 9
cm, LD: 41 cm, LP: 38, Status Gizi = BB/U (<-3) BB sangat kurang, TB/U (0-
(+2)) perawakan normal, BB/TB (<-3) Gizi buruk; TTV = DJ 132 x/menit, RR 48
x/menit, SB 36,5°C. Turgor kulit lambat (3 detik); rambut tipis, fontanela cekung;
mata tampak cekung; Abdomen inspeksi tampak cembung dan keras.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
WBC 42.63 x 10^3/uL ↑ P (3.6 – 11.0)
RBC 3.87 X 10^6/uL P (3.8 – 5.2)
HGB 9.9 g/dL P (11.7 – 15.5)
HCT 30 % P (35 - 47)
PLT 878 x 10^3/uL ↑ 150 - 440
GDS = 149 mg/dL. Nilai rujukan 70 – 200
Elektrolit darah
Natrium = 145 mmol/L. Nilai rujukan 135 - 145
Kalium = 5.5 mmol/L. Nilai rujukan 3.5 – 5.5
Clorida = 117 mmol/L. Nilai rujukan 96 - 106
DIAGNOSIS KERJA
Diare dehidrasi ringan-sedang sedang gizi buruk kwashiorkor kondisi III
TERAPI
1. rencana III
6
- 50 ml glukosa/ larutan gula pasir 10% (oral/NGT)
- cairan rendah natrium/ ReSoMal tiap 30 menit selama 2 jam,dosis = 15
ml
- bila membaik, 10 jam berikutnya berikan resomal (15 ml/ jam) dan
F75 (60 ml) selang-seling setiap 1 jam
- diberikan ReSoMal tiap diare 50 ml
2. IVFD ringer asering 12 tpm
3. zink 10 mg/hari selama 10 hari
4. probiotik (L-bio) 1x1 sach
5. amoxicilin oral (45mg/ 8 jam) selama 5 hari
6. As. folat 5mg/hari, hari berikutnya 1 mg/hari
7. Cooper 0,9 mg/hari
8. Vit A 50.000 Si (1/2 kapsul biru) pada hari pertama
9. Vitamin B kompleks 1 tablet/hari selama fase stabilisasi dan transisi.
10. formula 100 (F-100) 110 ml/ 4 jam (6 kali sehari) pada fase transisi.
7
BAB III
PEMBAHASAN
Malnutrisi adalah suatu keadaan defisiensi, kelebihan atau ketidak-
seimbangan protein energi dan nutrien lain yang dapat menyebabkan gangguan
fungsi pada tubuh. Secara umum malnutrisi terbagi atas dua bagian yaitu
undernutrisi dan [Link] atau keadaan defisiensi terdiri dari
marasmus, kwashiorkor, serta marasmic – kwashiorkor.4
Gizi buruk masih merupakan masalah kesehatan utama di banyak negara
di dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang di Asia, Afrika,
Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Salah satu klasifikasi dari gizi buruk
adalah marasmik-kwashiorkor. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 825 juta
orang yang menderita gizi buruk pada tahun 2000–2002, dan 815 juta diantaranya
hidup di negara berkembang. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak-anak di
bawah umur 5 tahun (balita). Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di
Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005 terdapat
76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas (Survei Sosial dan Ekonomi
Nasional) tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8,8%.5
Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor
tersebut saling berkaitan. Secara langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu
anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama dan anak
menderita penyakit infeksi. Anak yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat
dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan
akibat penyakit infeksi. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk
yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang
memadai, dan sanitasi / kesehatan lingkungan kurang baik, serta akses pelayanan
kesehatan terbatas. Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga.5
8
Etiologi
Patogenesis
Pada kwashiorkor yang klasik, terjadi edema dan perlemakan hati
disebabkan gangguan metabolik dan perubahan sel. Kelainan ini merupakan
gejala yang menyolok. Pada penderita defisiensi protein, tidak terjadi katabolisme
jaringan yang berlebihan, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah
kalori yang cukup dalam dietnya. Namun, kekurangan protein dalam dietnya akan
menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan untuk
sintesis.6
Dalam diet terdapat cukup karbohidrat, maka produksi insulin akan
meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang
tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya asam amino dalam serum
merupakan penyebabnya kurang pembentukan albumin oleh hepar, sehingga
9
kemudian timbul edema. Perlemakan hati disebabkan gangguan pembentukan
lipoprotein beta sehingga transportasi lemak dari hati ke lemak juga terganggu dan
akibatnya terjadi akumulasi lemak dalam hepar.6
Klasifikasi
Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan
marasmuskwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau
tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.7
1) Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala
yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat
lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut
mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan
(sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel
dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa
lapar. Berikut adalah gejala pada marasmus adalah:7
a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak
dan ototototnya, tinggal tulang terbungkus kulit
b. Wajah seperti orang tua
c. Iga gambang dan perut cekung
d. Otot paha mengendor (baggy pant)
e. Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar
2) Kwashiorkor
Kwashiorkor merupakan sindroma klinis akibat dari malnutri protein berat
(MEP berat) dan masukan kalori tidak cukup. Dari kekurangan masukan
atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang
disebabkan oleh infeksi kronis, akibat defisiensi vitamindan mineral dapat
turut menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut. Penampilan tipe
kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby), bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun
dibagian tubuh lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi.
10
Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai
seluruh tubuh.7
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah
dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat
rambut kepala kusam.
c. Wajah membulat dan sembab
d. Pandangan mata anak sayu
e. Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba
dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir
yang tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
3) Marasmik-Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup
mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal.
Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari
normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan
rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula.7
Berdasarkan anamnesis didapatkan diare lebih dari 6 kali sehari, BAB tidak
disertai lendir dan darah, keluhan dirasakan sejak 5 hari SMRS, pasien juga
mengeluhkan nausea dan vomitus setiap minum susu formula pasien muntah
berisi susu disertai lendir berwarna putih sejak 2 hari SMRS, pasien juga sempat
mengalami demam 3 hari yang lalu disertai sesak napas 1 kali, kejang (-), batuk
(-), pembengkakan (-), nafsu makan baik dan lahap, banyak minum dan rewel (+),
BAK (+) lancar tidak ada keluhan
Pemeriksaan fisik : Antropometri BB: 3000 gram, PB: 54 cm, LK: 39 cm,
LL: 9 cm, LD: 41 cm, LP: 38, Status Gizi = BB/U (<-3) BB sangat kurang, TB/U
11
(0-(+2)) perawakan normal, BB/TB (<-3) Gizi buruk; TTV = DJ 132 x/menit, RR
48 x/menit, SB 36,5°C. Turgor kulit lambat (3 detik); rambut tipis, fontanela
cekung; mata tampak cekung; Abdomen inspeksi tampak cembung dan keras.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan peningkatan nilai
WBC yaitu 42.63 x 103/uL ↑, HGB 9.9 g/dL, PLT 878 x 10^3/uL ↑. Berdasarkan
hasil teori yang ada serta anamensis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang yang dilakukan dapat ditegakkan diagnosis pasien pada kasus ini yaitu
gizi buruk kwashiorkor kondisi III.
Gizi buruk terdiri atas 5 kondisi sesuai dengan keadaan dan gejala klinik
pasien saat dinyatakan sebagai pasien gizi buruk. Pembagian gizi buruk dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel Perbedaan masing-masing kondisi pada gizi buruk
Pada kasus ini, anak termasuk dalam gizi buruk kondisi III karena anak
masuk dengan tanpa syok, pasien tidak letargi dan pasien mengalami diare dengan
dehidrasi ringan sedang. Dari gejala yang didapatkan yaitu berupa diare, mual
muntah, dan demam, serta pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan
peningkatan WBC, maka dapat disimpulkan bahwa pada pada pasien ini terjadi
infeksi.
Tatalaksana
12
1. Fase stabilisasi (hari 1-2)
Pada fase ini energi yang dibutuhkan adalah 80-100 kkal/kgBB/hari,
protein 1-1,5 gr/kgBB/hari, dan cairan 130 ml/kgBB/hari atau 100
ml/kgBB/hari bila ada edema berat. Terapi yang diberikan pada fase ini
adalah:8
a. Mengatasi hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa dalam darah
pada anak gizi buruk < 3 mmol/liter atau 54 mg/dl. Tanda-tanda
hipoglikemia adalah letargi, tidak sadar, dan nadi lemah. Gejala
lain berkeringat dan pucat tapi sangat jarang dijumpai pada anak
gizi buruk. Biasa gejalanya hanya diawali oleh mengantuk saja.
Cara mengatasi hipoglikemia:8
a) Jika pasien masih sadar: berikan cairan glukosa 10% atau glukosa
oral 10% atau NGT 50 ml.
b) Jika pasien tidak sadar: berikan cairan glukosa 10% (IV) dan bolus
sebanyak 5 mL/kgBB. Selanjutnya larutan glukosa 10% atau gula
pasir 10 % secara oral atau NGT bolus 50 mL.
c) Jika pasien syok: Berikan cairan IV berupa RL dan
dekstrose/glukosa 10% dengan perbandingan 1:1 (= RL D 5%)
sebanyak 15 mL/kgBB selama1 jam pertama atau 5
tetes/menit/kgBB.8
b. Mengatasi dehidrasi
pada kasus ini terdapat tanda dehidrasi, mata cekung dan turgor
kulit lebih dari 2 detik. Jadi harus dilakukan penanganan pada
dehidrasi.8
ReSoMal 5 ml x 5,6 Kg = 28 ml/30 menit
Dalam 2 jam pertama
Catat nadi dan pernapasan setiap 30 menit
Memburuk
Membaik
13
Segera infus lihat rencana I
tanpa pemberian bolus glukosa
10 jam berikutnya:
Teruskan pemberian ReSoMal 5-10 ml/kgBB/setiap
pemberian berselang seling dengan F-75 setiap 1 jam
ReSoMal 28 ml dan F-75 45 ml
Catat nadi dan pernapasan/jam
Bila sudah rehidrasi:
diare (-): hentikan ReSoMal teruskan F-75 setiap 2 jam
diare (+): setiap diare berikan ReSoMal:
50-100 ml/setiap diare (< 2 tahun)
100-2000 ml/setiap diare (> 2 tahun)
Bila diare/muntah berkurang, dapat menghabiskan F-75, ubah
pemberian F-75/3 jam (70 ml)
Bila tidak ada diare dan anak dapat menghabiskan F-75, ubah
pemberian F-75/4 jam (90 ml)
Bila anak masih menetek, berikan ASI antara pemberian F-75
Bagan penatalaksanaan sesuai kasus
Pada pasien ini tidak terjadi hipotermia
Mengobati infeksi
Infeksi ditangani pada fase stabilisasi dan transisi. Pada kasus ini karena
terdapat penyakit penyerta yaitu diare diberikan antibiotik.
Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro
Pada pasien ini diberikan vitamin A hanya hari pertama karena pada
pasien tidak terdapat kelainan mata (seperti: konjungtivitis) dan tidak
pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir. Dosis yang diberikan pada
anak ini adalah 50.000 SI (1/2 kapsul biru)8
Dosis vitamin A
14
Tabel Jadwal pemberian vitamin A
Asam folat diberikan pada fase stabilisasi dan transisi dengan dosis 5
mg/hari pada hari pertama, selanjutnya 1 mg/hari.
Vitamin B kompleks 1 tablet/hari selama fase stabilisasi dan transisi.8
2. Fase transisi (hari 3-7)
Fase transisi energi yang dibutuhkan adalah 100-150 kkal/kgBB/hari,
protein 2-3 gr/kgBB/hari, dan cairan 150 ml/kgBB/hari. Pada fase transisi
F-75 diubah menjadi F-100. Sebelum diganti ke F-100, diberikan dulu 1
hari F-100 dengan volume seperti F-75. dosis F-100/4 jam sesuai dengan
BB pada kasus, didapatkan dosis F-100: 75-110 ml. Dosisnya dimulai dari
dosis rendah, kemudian 4 jam dosisnya dinaikkan 10 ml sampai dosis
maksimal. F-100 diberikan dari hari ke 3-7.8
15
3. Fase rehabilitasi
Kebutuhan energi pada fase ini adalah 150-220 kkal/kgBB/hari, protein 4-
6 gr/kg, dan cairan 150-200 ml/kgBB/hari. Pada fase rehabilitasi tetap
diberikan F-100 sesuai dengan dosis pada fase transisi, tapi harus
perhatikan kondisi anak. Pada fase ini F-100 diberikan bersama dengan
makanan padat sesuai dengan BB anak. Tablet Fe mulai diberikan pada
fase rehabilitasi selama 4 minggu.8
Tabel Dosis Fe
Kurangi pemberian F-100 bila ada tanda bahaya sebagai berikut:
Denyut nadi dan frekuensi nafas meningkat
Vena jugularis terbendung
Edema meningkat.8
4. Fase tindak lanjut
Dimulai pada minggu 7-26 minggu. Memberikan makanan dengan porsi
kecil dan sering, sesuai dengan umur anak. Anak pada fase tindak
lanjutnya seharusnya diberikan makanan seperti dibawah ini:
Berikan ASI sesuai keinginan anak
Berikan nasi lembek yang ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging
sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.
Berikan makanan tersebut 3 x sehari
Berikan juga makanan selingan 2 x sehari diantara waktu makan seperti:
bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari, dan sebagainya.8
16
DAFTAR PUSTAKA
17
1. Pusat data dan informasi departemen kesehatan Republik Indonesia 2006.
Glosarium data & informasi kesehatan. Available from:
URL:[Link]
2. WHO Severe Acute Malnutrition:
[Link]
3. Behrman, Kliegman, Jenson. 2004. Kernicteru. Textbook of Pediatrics. New
Yorkl. 17th edition. Saunders.
4. Damayanti, RS,. Endang, DL,. Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik.
Jilid.I. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014.
5. Sjarif, DR,. Asuhan Nutrisi Pediatrik. Jakarta : Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2011.
6. Depkes RI. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009.
7. IDAI. Buku Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ikatan
Dokter Anak Indonesia : Jakarta. 2009.
8. Kementerian kesehatan republik indonesia. Bagan tatalaksana anak gizi
buruk buku I. Jakarta; Departemen kesehatan: 2003.
18