Definisi dan Kegunaan Paracetamol
Definisi dan Kegunaan Paracetamol
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Paracetamol
1. Defenisi Paracetamol
Paracetamol merupakan senyawa yang mengandung tidak kurang dari
98,0% dan tidak lebih dari 101,1% C8H9NO2 terhadap zat anhidrat. Berkhasiat
analgetik dan antipiretik. Pemerian Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit
pahit. Paracetamol memiliki kelarutan larut dalam air mendidih dan dalam
natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol. Untuk Parcetamol memiliki
jarak lebur antara 168˚ dan 172˚C. memiliki bobot molekul 151,16. Baku
pembanding Parasetamol menurut BPFI yaitu lakukan pengeringan di atas silika
gel P selama 18 jam sebelum digunakan.
Pada senyawa Paracetamol (Acetaminophen) dapat diidentifikasikan
dengan menggunakan spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan di
atas pengering yang cocok dan didispersikan dalam kalium bromida P
menunjukkan maksimum hanya pada bilangan gelombang yang sama seperti pada
Parasetamol BPFI. Spektrum serapan ultraviolet larutan (1 dalam 200.000) dalam
campuran asam klorida 0,1 N dalam metanol P (1 dalam 100), menunjukkan
maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama dengan
Parasetamol BPFI. Jika memenuhi uji Identifikasi secara Kromatografi Lapis
Tipis, gunakan larutan 1 mg per ml dalam metanol P dan fase gerak diklormetana
P-metanol P (4:1). Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak
tembus cahaya. Simpan dalam suhu ruang, hindarkan dari kelembapan dan panas.
Penetapan kadar Larutan baku Timbang saksama sejumlah Parasetamol
BPFI, larutkan dalam air hingga kadar lebih kurang 12 µg per ml. Larutan uji
Timbang saksama lebih kurang 120 mg zat, masukkan ke dalam labu tentukur
500-ml, larutan dalam 10 ml metanol P, encerkan dengan air sampai tanda.
Masukan 5,0 ml larutan ke dalam labu tentukur 100-ml, encerkan dengan
air sampai tanda dan campur. Ukur serapan Larutan uji dan Larutan baku pada
panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 244 nm, terhadap air sebagi
7
( )
Keterangan:
C adalah kadar Parasetamol BPFI dalam µg per ml Larutan baku
AU dan AS berturut-turut adalah serapan Larutan uji dan Larutan baku.
kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogran dan ukur respons puncak
seperti tertera pada Prosedur: efisiensi kolom tidak kurang dari 1000 lempeng
teoritis, faktor ikutan tidak lebih dari 2 dan simpangan baku relatif pada
penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%. Prosedur Suntikkan secara terpisah
sejumlah volume yang sama (lebih kurang 10 µl) Larutan baku dan Larutan uji ke
dalam kromatograf. Rekam kromatogram, ukur respons puncak utama. Hitung
jumlah dalam mg, paracetamol, C8H9NO9, dalam serbuk tablet yang digunakan
dengan rumus:
( )
2. Serajah Paracetamol
Pada tahun 1946, Lembaga Studi Analgetik dan obat-obatan sedative
telah memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji
masalah yang berkaitan dengan agen analgetik. Bernard Brodie dan Julius
Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan
dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak berbahaya
(Yulida A N. 2009). Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod
mengaitkan penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia, dan mendapati
pengaruh analgetik asetanilida adalah disebabkan metabolit Parasetamol aktif.
Mereka membela penggunaan Parasetamol karena memandang bahan kimia ini
tidak mengahasilkan racun asetanilida (Yulida A N, 2009)
B. Asam sitrat
1. Definisi Asam sitrat
Asam Sitrat atau nama lain dari Acidum citricum monohydricum; E330;
2-hydroxypropane-1,2,3- tricarboxylic acid monohydrate. Merupakan senyawa
asam organik lemah yang mudah ditemukan pada daun dan buah tumbuhan
genus Citrus (jeruk-jerukan). Asam sitrat berbentuk anhidrat atau mengandung
satu molekul air hidrat. Mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari
100,5%, C6H8O7 dihitung terhadap zat anhidrat. Asam sitrat monohidrat terjadi
sebagai kristal tidak berwarna atau tembus cahaya, atau sebagai bubuk kristal
putih bercahaya. Tidak berbau dan memiliki rasa asam yang kuat. Struktur kristal
bersifat ortorombik.
Asam sitrat berbentuk anhidrat atau mengandung satu molekul air hidrat.
Mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 100,5%, C 6H8O7
dihitung terhadap zat anhidrat. Senyawa inimemiliki sifat yang Hablur bening,
tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus; putih; tidak berbau atau
praktis tidak berbau; rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering
10
memiliki kelarutan yang sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol;
agak sukar larut dalam eter (Farmakope V 2014).
Asam sitrat baik pada bahan monohidrat atau anhidrat adalah senyawa
yang banyak digunakan dalam formulasi farmasi dan produk makanan, terutama
untuk menyesuaikan pH larutan. Selain itu juga telah digunakan secara
eksperimental untuk menyesuaikan pH matriks tablet dalam salut enterik pada
formulasi untuk pemberia obat khusus kolon. Asam sitrat monohidrat digunakan
dalam pembuatan granula efervesen, sedangkan asam sitrat anhidrat banyak
digunakan dalam pembuatan tablet effervescen(2-4). Asam sitrat juga telah terbukti
membaik stabilitas bubuk insulin semprot-kering dalam formulasi inhalasi (5).
Dalam produk makanan, asam sitrat digunakan sebagai penambah rasa untuk
mulai rasa asam. Asam sitrat monohidrat digunakan sebagai sekuestrasi agen dan
sinergis antioksidan yang merupakan kompone solusi sitrat antikoagulan. Secara
terapi, persiapan mengandung asam sitrat telah digunakan untuk melarutkan batu
ginjal. (Handbook of pharmaceutical excipients 2009)
Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang
mampu melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan
adalah ion sitrat. Sitrat sangat patut digunakan dalam larutan penyangga untuk
mengelola pH larutan. Ion sitrat mampu bereaksi dengan banyak ion logam
membuat bentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat mampu mengikat ion-ion logam
dengan pengkelatan, sehingga digunakan sebagai pengawet dan
penghilang kesadahan air.
Asam sitrat tidak kompatibel dengan kalium tartrat, alkali dan alkali
tanah karbonat dan bikarbonat, asetat, dan sulfida. Ketidakcocokan juga
termasuk agen pengoksidasi, basa, pengurangan agen, dan nitrat. Ini berpotensi
meledak dalam kombinasi dengan nitrat logam. Pada penyimpanan, sukrosa
dapat mengkristal dari sirup adanya asam sitrat. Wadah dan Penyimpanan
Asam sitrat dalam wadah tertup rapat
C. Cocrystal
Cocrystal adalah gabungan dari dua molekul atau lebih yang membentuk
kisi kristal bersama dengan ikatan-ikatan padatan lainnya. Senyawa ini dapat
mengubah sifat fisikokimia yang ditandai dengan peleburan bersama (eutektikum)
dan pengkristalan bersama dengan komposisi stoikiometrik tertentu.
1. Karateristik Cocrystal
Beberapa karakteristik Cocrystal adalah untuk memastikan
pembentukkan Cocrystal yang akan didapat dari senyawa murni kristalnya.
Karakterisasi ini meliputi faktor struktur dan sifat-sifat fisika dari kristal tersebut
diantaranya:
1.1 Titik Leleh. Titik leleh merupakan salah satu karakteristik fisika
penting yang dimiliki oleh padatan. Senyawa yang memiliki titik leleh tinggi
biasanya memiliki kelarutan yang rendah. Pada Cocrystal, penentuan titik leleh
dibandingkan dengan padatan sebelum dimodifikasi sebagai Cocrystal (Basavoju,
2008).
1.2 Suhu Transisi Dan Titik Lebur. Jika suatu contoh dipanaskan,
timbulnya panas dapat diukur [differential scanning calorimetri (DSC)] atau
perbedaan suhu yang diakibatkan dapat diukur terhadap pembanding inert yang
dipanaskan secara identic [differential thermal analysisi (DTA)] atau diamati
secara “hot – stage microscopy”. Dalam perubahan panas secara terus menerus
DSC, Perbedaan antara contoh dan bahan pembanding ditetapkan. Penggantian
13
TABEL 1
Melebur Endotermis
Cair ke gas Menguap Endotermis
Cair ke padat Pembekuan Eksotermis
Penghabluran Eksotermis
Padat ke gas Sublimasi Endotermis
Padat ke padat Transisi kaca Kejadian
Desolvasi Endotermis
Amorf ke hablur Eksotermis
Polimorfi Endotermis atau
Eksotermis
(Sumber: Farmakope Indonesia V, 2014)
Pada kasus titik lebur kedua suhu “permulaan” dan “puncak” dapat
ditetapkan secara objektif dan reprodusibilitasnya baik, sering hingga persepuluh
derajat. Meskipun suhu ini berguna untuk karakteristik senyawa dan perbedaan
suhu antara contoh dan pembanding. Transisi dapat diamati termaksud pada tabel
1 di bawah. Pada saat titik lebur kedua suhu “permulaan” dan “puncak” dapat
ditetapkan secara objektif dan reprodusibilitasnya baik, sering hingga persepuluh
derajat. Meskipun suhu ini berhuna untuk karakteristik senyawa dan perbedaan
dua suhu menunjukkan kemurnian, nilai tersebut tidak dapat dibandingkan
langsung secara visual sebagai “jarak lebur” atau “suhu lebur” atau dengan
konstanta seperti “titik tripel” bahan murni Selanjutnya, peringatan harus
digunakan ketika membandingkan hasil yang diperoleh oleh perbedaan metode
analisis. Metode optik dapat mengukur titik lebur sebagai suhu dimana tidak
terlihat padatan. Perbedaan, titik lebur yang diukur secara DSC dapat
menunjukkan permulaan suhu atau suhu dimana kecepatan melebur maksimum
(puncak) diamati. Walaupun demikian, puncak sensitif terhadap bobot contoh,
kecepatan panas dan faktor lain. Mengingat suhu awal kurang dipengaruhi oleh
faktor ini. Dengan Teknik termal perlu untuk dipertimbangkan pembatasan bentuk
14
padat dan cair, kelarutan dalam leburan, polimofi dan dekomposisi selama analisa.
(Farmakope V 2014)
Dari hasil SEM akan terlihat perbandingan morfologi permukaan zat aktif murni
dengan zat aktif dalam bentuk Cocrystalnya (Setyawan, 2014).
3. Metode Karakterisasi
3.1 Difraktometer sinar-X Serbuk (XRPD) Perbedaan konfigurasi kisi
kristal diperiksa menggunakan PANalytical X’Pert PROMD difraktometer
(PW3040 / 60, Philips, Belanda), dengan radiasi CuK α pada panjang gelombang
1,54 Å dalam mode pemindaian berkelanjutan. Ukuran partikel adalah 0,0084° 2θ
dan tingkat pemindaian adalah 0,1285 ° 2θ / menit. Sampel serbuk dianalisis
dalam sampel aluminium dan dipindai pada 40 kV dan 30 mA dari 5 hingga 35 °
2θ. Pola difraksi serbuk dianalisis dengan perangkat lunak X'Pert Highscore
(versi2.2.0) dan diplot dengan OriginPro 7.5. Pola Cocrystal teoritis dihitung
berdasarkan basis Data Struktural Cambridge (CSD 5.32, November 2010)
menggunakan ConQuest 1.13 oleh Perangkat lunak Mercury CSD 2.4 (Cambridge
Crystallographic Data Centre, UK).
3.2 Differential scanning calorimetry (DSC) Untuk mengkonfirmasi
hasil XRPD, DSC dilakukan dengan setiap sampel dianalisis dalam rangkap tiga
bahan ditimbang (1-5 mg) ke dalam instrumen standar panci aluminium TA
menggunakan keseimbangan mikro dan pinset. Wajan ditutupi dengan penutup
dan dikerut menggunakan crimper TA. Panci referensi itu berkerut mirip dengan
panci sampel tetapi tanpa zat apa pun. Termogram direkam pada Q100 V8.2 Build
268, (TA Instruments, USA) di bawah konstanta aliran gas nitrogen 50 mL /
menit. Bagian alat DSC dikalibrasi berkaitan dengan suhu dan entalpi
16
4. Metode Persiapan
Secara umum, metode atau teknik pembuatan Cocrystal yang sudah
sering digunakan adalah teknik penguapan secara lambat (slow evaporation) dan
pengrindingan (grinding). Oleh karena itu, metode yang lazim digunakan ini
dibagi menjadi solvent-based dan grinding (Weyna, 2009).
Pada penelitian yang banyak dilakukan saat ini, untuk melihat efek dari
pemilihan teknik pembuatan Cocrystal terhadap sifat Cocrystal yang dibentuk,
peneliti membandingkan lebih dari satu metode untuk suatu senyawa obat yang
sama (Lu dan Rohani, 2010).
4.1. Solvent-based
17
metode neat grinding, LAG ini lebih efisien karena lebih umum dan memberikan
peningkatan kinetik. Dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk zat yang
memiliki melting point terlalu tinggi, seperti Teobromin (>400°C). Kekurangan:
Penambahan pelarut yang tidak sesuai tidak dapat membentuk Cocrystal tetapi
membentuk larutan. Contoh: Didanosin obat dengan sturktur aromatik (asam
benzoat dan asam salisilat), Kafeinasam sitrat.
4.2.3. Antisolvent Addition. Prinsip dari metode ini adalah presipitasi
atau rekristalisasi dari Cocrystal former dan zat aktif. Antisolvent ditambahkan
pada suhu ruang dengan agitasi. Pembentukkan inti Cocrystal terjadi pada menit
ke 2-3. Cocrystalisasi sempurna terjadi pada menit ke 30 pada penelitian penting
karbamezepinsakarin (Wang, 2013). Keuntungan : Cocrystal yang dihasilkan
murni, cepat dan menghasilkan produk yang banyak. Kerugian : Jika terbentuk
hidrat dari zat aktif (Carbamazepin hidrat), ikatan hydrogen antara molekul air
dan metanol menurun (Wang, 2013).
4.2.4. Hot Melt Extrusion. Ekstrusi merupakan metode yang dapat
dilakukan untuk sintesis Cocrystal. Metode ini tidak membutuhkan pelarut,
penerapan metode ini digunakan untuk pembentukkan Cocrystal karbamazepin-
nikotinamid dengan polimer sebagai former. Pembuatan Cocystal yang kontinu
dilakukan pada ektruder twin dengan mencampurkan zat aktif dan koformer
dengan pengaturan suhu (Liu, 2012). Keuntungan : Mudah, tidak memerlukan
pelarut, Cocrystalisasi yang kontinu, Cocrystal murni. Kekurangan : Zat yang
digunakan harus termostabil, butuh teknologi yang modern (screw speeds dan
screw configurations) (Dhumal, 2010). Tidak dapat digunakan untuk zat yang
memiliki titik leleh terlalu tinggi seperti Teobromin (>400°C).
4.2.5. Supercritical Fluid Technology. Teknologi Cairan Superkritis
(SCF technologies) merupakan teknologi yang digunakan dalam skrining dan
desain Cocrystal. Pembentukkan Cocrystal ini difokuskan pada tiga teknik SCF
yaitu: sifat-sifat cairan superkritis, pelarut antisolvent, dan proses peningkatan
atomisasi. Penelitian yang telah dilakukan meliputi Cocrystalisasi dengan pelarut
superkritis (CSS), anti-solvent superkritis (ASS), dan gabungan anti-solvent dan
atomisasi (AAS) (Padrela, 2010a). Keuntungan: Pemanfaatan teknologi modern
20
ini dapat dilakukan pada Cocrystal dalam berbagai morfologi dan ukuran (dari
ukuran nano-mikron) serta sangat mungkin dimanfaatkan untuk particle
engineering (Padrela. 2010). Kekurangan: Biaya mahal karena butuh teknologi
yang modern. Pengoperasian alat membutuhkan keahlian. Dibutuhkan preparasi
terlebih dahulu pada bahan aktif farmasi yang Akan dibuat menjadi Cocrystal
sebelum diproses dengan teknologi superkritis (Padrela, 2010).
6. Farmasetikal Cocrystal
Setelah pembentukkan Cocrystal, terdapat peningkatan sifat fisika
maupun kimia dari farmasetikal Cocrystal. Hal ini telah dibuktikan dari
membandingkan pengukuran kelarutan Cocrystal dengan komponen obat biasa.
Hasilnya molekul
Cocrystal memiliki kelarutan yang lebih baik dibandingkan dengan obat murninya
(Good et al 2009).
Penerapan Cocrystal pada senyawa asam glutarat meningkatkan laju
disolusi sampai 18 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan kristal homomer
dari senyawa obat tersebut. Setelah itu, pengujian bioavailabilitas pada plasma
darah menunjukkan terjadinya peningkatan hingga tiga kali (McNamara. 2006).
21
Sementara untuk alasan toksikologi asam basa atau counter ion dasar
biasanya digunakan dalam API garam Cocrystal adalah fase Kristal homogen
dengan rasio stoikiometri yang terbentuk dengan baik, misalnya 1: 1, 1: 2 dan lain
– lain. Adanya donor khas ikatan hidrogen misalnya asam karboksilat dan reseptor
seperti amina atau amida, merupakan faktor penting untuk pembentukan
cocrsytal. Donor terbaik (d. Η) dan penerima terbaik (r. H) lebih disukai
membentuk ikatan hidrogen satu samalain.
misalnya ditunjukkan oleh puncak – puncak dari histogram FTIR ataupun XRD.
Sehingga biasanya TGA digunakan untuk melakukan analisa proximate seperti
kadar air, kadar senyawa volatil dan kadar abu dalam bahan.
Konsep Perbedaan DSC dan TGA adalah dilakukan sebagai metode
pendukung untuk karakterisasi solid-state. Hilangnya bobot ditentukan oleh
analysator termogravimetri (TGA / SDTA 851e, Mettler Toledo AG). Suatu
pembersihan N2 50 mL / menit digunakan dalam tungku. Suhu kisaran 25-25 ◦C
dan laju pemanasan adalah 10 ◦C / menit Berat sampel adalah 5 mg. Titik meleleh
dianalisis oleh DSC821e (Mettler Toledo AG). Ditimbang dengan teliti sampel 1-
3 mg disegel dalam panci aluminium berlubang dan pembersihan N2 dengan laju
alir 80 mL / menit digunakan dalam tungku.
spektra dimasukkan dengan latar belakang foil emas bersih antara 4000 dan 600
cm-1. Resolusi spektral adalah 4 cm-1, dan scan tambahan 96, dengan lobang 4
nm. Teknik FTIR-VAR mampu memberikan informasi yang sama seperti FTIR
dalam hal transmitansi dengan berkembangnya intensitas sinyal, tetapi
mempunyai keuntungan menjaga integritas sampel. Selain itu, jarak antara bagian
atom tidak hancur sehingga jumlah informasi yang disediakan meningkat.
Untuk melihat adanya perubahan tersebut, dapat dilihat pada syarat –
syarat tabel IR sebagai berikut:
5.1. Periksa adanya gugus karbonil (C=O) Gugus karbonil (C=O)
terdapat pada daerah 1640 – 1810 cm-1 dengan intensitas yang kuat biasanya
puncak kuat dengan lebar medium. Serapan ini sangat karakteristik. Apabila ada
gugus karbonil selanjutnya periksa tipe – tipenya. (Apabila tidak terdapat
lanjutkan tahap selanjutnya). Pada gugus Asam Karboksilat (-COOH) yaitu
serapan pada daerah 1700 – 1725 cm-1 (umumnya 1710 cm-1), karena adanya C –
H pada aldehid maka aka nada 2 puncak lemah pada daerah 2750 dan 2850 cm-1..
Pada gugus Amida (CONH2) yaitu serapannya pada daerah 1649 – 1690 cm-1
(umumnya 1690 cm-1) karena adanya N – H ditunjukkan oleh pucak dengan
intensitas medium oada daerah 3100 – 3500 cm-1 (kadang – kadang berupa
puncak yang ganda) dan daerah 1550 – 1640 cm -1
5.2. Periksa gugus alkohol, amina dan eter dalam hal ini yang dapat
dilihat yaitu gugus Alkohol (OH) apabila bebas pada peak 3600 – 3650 cm-1 maka
intensitasnya sedang. Kemudian pada Ikatan hydrogen pada peak 3200 – 3500 cm-
1
maka itensitas sedang. Pada asam karboksilat dengan peak 2400 – 3400 cm-1
maka itensitas sedang. Pembuktian selanjutnya serapan C – O di daerah peak
1000 – 1300 cm-1 dengan itensitas kuat. Selanjutnya pada gugus Amina (NH) baik
untuk amina primer, amina sekunder dan amina pada daerah peak 3100 – 3500
cm-1 maka (itensitas sedang) dan daerah peak 1550 – 1640 cm-1 intensitas sedang.
5.3. Periksa adanya ikatan rangkap dua atau cincin aromatis. Dapat
dilihat pada gugus Aromatis di gugus C – H pada daerah peak 3050 – 3150 cm-1
memiliki intensitas kuat. Pada gugus C = C didaerah peak 1475 dan 1600 cm-1
memiliki itensitas sedang. Pada gugus Subtitusi yaitu bagian Monosubtitusi pada
28
daerah peak 690 dan 720 cm-1 memilik itensitas kuat. Pada Disubtitusi dapat
dilihat pada posisi Orto daerah peak 690 cm-1 intensitas kuat, Posisi Meta pada
daerah peak 690 dan 780 cm-1 dengan intensitas sedang, dan Posisi Para pada
daerah peak 800 – 850 cm-1 intensitas kuat dan 667 – 720 cm-1 intensitas kuat.
5.4. Periksa gugus lain dapat dilihat pada gugus Alkana untuk CH3 = di
daerah peak 1450 dan 1375 cm-1 intensitas sedang. CH2 di daerah peak 1465 cm-1
dengan intesitas sedang dan Untuk CH pada peak daerah 2850 – 3000 cm-1
memiliki intensitas kuat.
5. Uji Disolusi
Disolusi merupakan suatu proses dimana suatu bahan kimia atau obat
menjadi terlarut dalam suatu pelarut (Shargel, 2004). Disolusi secara singkat
didefinisikan sebagai proses melarutnya suatu bahan solid. Bentuk sediaan
farmasetik padat terdispersi dalam cairan setelah dikonsumsi seseorang kemudian
akan terlepas dari sediaannya dan mengalami disolusi dalam media biologis,
diikuti dengan absorpsi zat aktif ke dalam sirkulasi sistemik dan akhirnya
menunjukkan respons klinis (Siregar, 2010). Pengujian ini digunakan untuk
menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing –
masing pada monografi untuk sediaan yang digunakan secara oral. Dalam hal ini,
satuan sediaan yang dimaksud adalah 1 tablet atau 1 kapsul atau sejumlah yang
ditentukan. Dari jenis alat yang diuraikan, digunakan salah satu sesuai dengan
yang tertera dalam masing – masung monografi. Bila pada etiket dinyatakan
bahwa sediaan bersalut enteric, sedangkan dalam masing – masing monografi, uji
disolusi atau uji waktu hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan lepas
tunda, prosedur dan interpretasi yang tertera pada sediaan lepas tunda dapat
digunakan, kecuali dinyatakan lain pada tiap monografi. Untuk kapsul gelatin
keras atau lunak dan tablet salut gelatin, yang tidak memenuhi syarat uji disolusi
ulangi sebagai berikut:
1. Jika media disolusi yang dinyatakan pada masing - masing monografi
adalah air atau media dengan pH kurang dari 6.8 gunakan media yang
29
E. Kristal Lainnya
Menurut European Pharmacopoeia, Polimorfisme adalah wujud dimana
suatu zat mampu membentuk kristal yang berbeda dari fase struktur kristal
komponen tunggal. Polimorfisme memiliki komposisi susunan kimia yang sama,
tetapi sifat fisikokimia yang berbeda, karena kemampuan perbedaan atom atau
molekul untuk bergabung bersama. Polimorf yang berbeda ini bervariasi dalam
hal sifat seperti stabilitas kimia dan sifat mekanik, yang menentukan, misalnya,
kemudahan dalam proses tablet, sifat sebelum di formulasi, ketahanan terhadap
tekanan suhu, kelarutan dan laju disolusi, yang mempengaruhi penyerapan dan
bioavailabilitas. Solvates dibentuk oleh penggabungan molekul-molekul pelarut
ke dalam kisi-kisi kristal suatu senyawa yang dianggap sebagai kompleks
molekuler antara molekul utama dan pelarut. Ketika pelarutnya adalah air, maka
terbentuk hidrat, dan merupakan bentuk yang layak untuk produk obat, karena
tidak ada masalah keamanan di sekitar air sebagai pengisi kristal. Tergantung
bagaimana molekul air dimasukkan ke dalam kisi kristal. Hidrat dapat dibagi lagi
menjadi hidrat di mana lokasi molekul air terisolasi, saluran hidrat, dan hidrat
bagian terkoordinasi ion. Sekitar 1/3 molekul obat dapat membentuk hidrat dari
bentuk kristal anhidratnya melalui perubahan suhu, tekanan atau kelembaban
31
relatif, yang dapat mengakibatkan perubahan signifikan pada sifat fisik dan dapat
menimbulkan masalah berat selama penyimpanan, di mana penampilan dan
integritas dari bentuk sediaan dapat diubah. Pembentukan garam adalah umum
antara zat asam dan basa atau zwitter-ion merupakan metode sederhana hemat
biaya untuk meningkatkan kelarutan air yang rendah dan meningkatkan
bioavailabilitas API. Garam juga dapat meningkatkan kemurnian API,
kristalinitas, penyimpanan, dan stabilitas, serta berbagai karakteristik lainya,
seperti kemampuan mengalir. Dipercaya bahwa lebih dari separuh obat yang
dipasarkan diberikan dalam bentuk garam. Sebagai aturan praktis, jika shift ΔpKa
lebih besar dari atau sama dengan 3 di antara komponen, maka zat tersebut
disebut sebagai garam.
Kemudian, Ada tujuh sistem kristal Bravais dan dua jenis amorf yaitu
sebagai berikut:
(a) (b)
(c) (d)
(d) (e)
(e)
Gambar 4. Kristal Bravais
Sumber: American Chemical Society,2012
F. Stabilitas
Stabilitas obat dalam bentuk sediaan padat adalah sediaan yang paling
penting karena bentuk sediaan padat lebih umum dari pada jenis lain dan karena
klinis pertama biasanya dilakukan dalam jenis bentuk sediaan ini. Kualitas
keseluruhan dari kumpulan zat obat yang ditempatkan pada stabilitas harus
mewakili kualitas bahan yang digunakan dalam studi pra-klinis dan klinis serta
kualitas bahan yang akan dibuat pada skala manufaktur.
Pedoman Stabilitas ICH 1993 merekomendasikan seperangkat minimum
pada kondisi pengujian. Ini menekankan bahwa salah satu kelebihan pengujian
33
dipercepat adalah untuk memastikan bahwa efek dari "kunjungan di luar kondisi
penyimpanan label" seperti yang mungkin terjadi selama pengiriman, dapat
dinilai.
Padatan dapat terjadi baik dalam bentuk kristal atau sebagai partikel
amorf, Stabilitas kimia dari padatan dalam bentuk kristal akan berbeda dari entitas
yang sama dalam bentuk amorf. Dalam banyak kasus bentuk kristal dalam kondisi
yang sama akan lebih stabil dari pada amorf, akan tetapi yang paling menarik dari
bentuk kerja amorphates sebagian besar terdapat di bidang makromolekul
(Anonim 1993)
Ada beberapa kejadian di mana keadaan kristalin kurang larut dari pada
molekul dalam larutan, akan tetapi ini jarang terjadi. Secara umum dalam keadaan
kristal molekul sebagian besar tetap larut pada posisinya. Dalam karyanya
(Carstensen dan Morris 1993), indomethacin amorf diproduksi dengan cara
melelehkan bentuk kristal di atas meltling pointnya (162° C) lalu mendaur
ulangnya hingga di bawah 162° C hingga terbentuk amorf. Bentuk yang dibuat
dengan cara ini stabil secara morfologis hingga suhu 120 ° C sehingga stabilitas
kimianya dapat dipantau. Pada kisaran di bawah suhu ini, kristalisasi terjadi
terlalu cepat untuk melakukan penilaian stabilitas kimia saat Sampel amorf
ditempatkan
Padatan anorganik (terutama ionik) biasanya berasosiasi dengan hanya
satu sistem kristal. diketahui kristal berbentuk kubik padatan organik dan dapat
di rekristalisasi sehingga terjadi beberapa modifikasi kristal yang berbeda
(polimorf).
Menurut (Poole dan Bahal 1970) Bentuk anhydrous adalah amorf karena
memiliki kelarutan jelas yang lebih tinggi dan penghancuran lebih cepat.
Dibuktikan dengan menggunakan Van Hoff Plot untuk menunjukkan suhu
konversi antara bentuk anhidrat dan dihidrat dari penisilin aminoalicyclic.
Stabilitas yang baik dari senyawa metastabil dapat dicapai dengan suhu
rendah, kristal kasar, dan penyimpanan kering. Kelembaban adalah penyumbang
konversi yang paling signifikan terjadi karena mengembun ke permukaan yang
membentuk metastabil kemudian akan dijenuhkan lapisan kelembabannya agar
34
G. Kapsul
1. Definisi Kapsul
Kapsul merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang
kerasatau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi
dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Ditjen POM 1995).
Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang
kapsul bagian badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan
saling menutupi apabila dipertemukan dan bagian tutupnya akan
menyelubungi bagian badan kapsul (Ansel 2005).
35
3. Bahan kapsul
Komponen utama cangkang tersebut adalah gelatin. Gelatin merupakan
protein yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial jaringan kolagen yang dapat
diekstraksi dari kulit, jaringan konektif, dan tulang hewan ternak, termasuk ikan
dan unggas (USP34 2011). Hewan yang sering digunakan adalah babi, sapi, dan
ikan (GMIA 2012).
Campuran tulang dan kulit babi mampu menghasilkan kapsul kualitas
terbaik dibanding formula lain. Gelatin tulang babi menghasilkan karakteristik
kapsul dengan lapisan film kencang dan tidak mudah rapuh, sedangkan gelatin
kulit babi memberikan karakteristik kapsul yang jernih, sehingga formula
campuran tersebut menghasilkan kapsul kualitas tinggi (Agrawal 2007).
4. Pembagian Kapsul
4.1. Kapsul Gelatin Keras. merupakan jenis yang digunakan oleh ahli
farmasi masyarakat dalam menggabungkan obat-obat secara mendadak dan
lingkungan para pembuat sediaan farmasi dalam memproduksi kapsul pada
umumnya. Cangkang kapsul kosong dibuat dari campuran gelatin, gula dan air,
36
jernih tidak berwarna dan pada dasarnya tidak mempunyai rasa. Gelatin, USP,
dihasilkan dari hidrolisis sebagian dari kolagen yang diperoleh dari kulit, jaringan
ikat putih dan tulang binatang-binatang. Dalam perdagangan didapat gelatin
Universitas Sumatera Utara dalam bentuk serbuk halus, serbuk kasar, parutan,
serpihan-serpihan atau lembaran-lembaran (Ansel 1989).
4.2. Kapsul Gelatin Lunak. Merupakan Kapsul gelatin lunak dibuat dari
gelatin dimana gliserin atau alkohol polivalen dan sorbitol ditambahkan supaya
gelatin bersifat elastis seperti plastik. Kapsul-kapsul ini yang mungkin bentuknya
membujur seperti elips atau seperti bola dapat digunakan untuk diisi cairan,
suspensi, bahan berbentuk pasta atau serbuk kering. Biasanya pada pembuatan
kapsul ini, mengisi dan menyegelnya dilakukan secara berkesinambungan dengan
suatu mesin khusus (Ansel 1989).
Penyimpanan Kapsul Bila kapsul disimpan ditempat Gelatin
mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh
mikroba bila dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair.
Sebagai contoh yang lain, cangkang kapsulgelatin menjadi rapuh jika disimpan
pada kondisi kelembaban relatif yang rendah (Chang, R.K. et al, 1998).
Selain itu, Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat
yang mengiritasi lambung, seperti Indometasin. Hal inidikarenakan kapsul gelatin
segera pecah setelah sampai di [Link] ini, beberapa bahan telah
diuji untuk digunakan sebagai bahan alternatif gelatin sebagai bahan untuk
pembuatan cangkang kapsul, salah satunya adalah dengan alginat. Dimana alginat
memiliki beberapa kelebihan disbandingkan gelatin.
Menurut besarnya kapsul diberi nomor urut dari besar sampai yang
terkecil sebagai berikut: 000, 00, 0, 1, 2, 3. Kapsul harus disimpan dalam wadah
gelas tertutup kedap, terlindung dari debu dan kelembaban dan temperatur yang
ekstrem (Anief, 1986).
5. Penyimpanan kapsul
Bila kapsul disimpan ditempat yang lembab maka akan menjadi lunak
dan lengket serta sukar dibuka, karena kapsul tersebut menyerap air dari udara
yang lembab. Sebaliknya, bila disimpan ditempat yang terlalu kering, maka
37
kapsul tersebut akan kehilangan air dan cangkangnya menjadi rapuh dan mudah
pecah. Oleh sebab itu disimpan pada ruangan yang kelembabannya sedang dan
tidak terlalu kering, dan disimpan dalam botol kaca atau botol plastik yang
tertutup rapat dan diberi pengering (silika) (Ditjen POM, 1995).
6. Persyaratan Kapsul
Menurut Ditjen POM RI (1995), persyaratan kapsul kloramfenikol
meliputi:
6.1. Keseragaman bobot. Persyaratan keseragaman bobot dapat
diterapkan pada produk kapsul lunak berisi cairan, atau pada produk yang
mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih, dari
bobot satuan sediaan. Persyaratan keseragaman bobot dapat diterapkan pada
sediaan padat (termasuk sediaan padat steril) tanpa mengandung zat aktif atau
inaktif yang ditambahkan.
6.2. Uji waktu hancur. Dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas
waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi. Tetapkan jenis
sediaan yang akan diuji dari etiket serta dari pengamatan dan gunakan prosedur
yang tepat untuk enam unit sediaan atau lebih. Uji waktu hancur tidak
menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan
dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji
merupakan massa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas, kecuali bagian dari
penyalut atau cangkang kapsul yang tidak larut.
6.3. Uji disolusi. Digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan
persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan
tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Uji
disolusi untuk kapsul menggunakan media disolusi 900 ml asam klorida 0,1 N dan
suhu 37 0C dengan waktu 30 menit.
6.4. Penetapan kadar. Dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan
zat berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi syarat dan sesuai
dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai
dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul.
7. Alat Pengujian Kapsul
38
7.1. Alat 1 (Tipe Keranjang) Alat terdiri dari sebuah wadah, bertutup
yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang inert; sebuah motor suatu
batang logam yang digerakkan oleh motor, dan keranjang berbentuk silinder.
Wadah tercelup sebagian di dalam suatu tangas air yang sesuai, berukuran
sedemikian sehingga dapat mempertahankan suhu di dalam wadah pada 37 0±0,50
selama pengujian berlangsung dan menjaga agar gerakan air dalam tangas air
halus dan tetap. Bagian dari alat, termaksuk lingkungan tempat alat diletakkan
tidak boleh menimbulkan gerakan, goncangan atau getaran signifikan yang
melebih gerakan akibat perputaran alat pengaduk.
7.2. Alat 2 (Tipe dayung) Sama seperti Alat l. kecuali pada alat ini
digunakan dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai pengaduk. Batang
berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada
setiap titik dari sumbu vertikal wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan
yang berarti. Daun melewati diameter batang sehingga dasar daun dan batang rata.
pengadukan sesuai waktu yang dibutuhkan.) Lakukan anlisis seperti tertera pada
masing-masing monografi, menggunakan metode penetapan kadar yang sesuai.
(Catatan: Larutan Uji disaring segera pada saat sampling kecuali proses
penyaringan tidak diperlukan. Gunakan penyaring yang inert yang tidak
menyebabkan absorbs zat aktif atau dapat mempengaruhi analisis.) ulangi
pengujian menggunakan sediaan uji tambahan bila diperlukan. Media yang
digunakan media disolusi yang sesuai seperti pada masing – masing monografi.
pengukuran volume dilakukan pada suhu antara 200 dan 250. Bila media disolusi
adalah suatu larutan dapar, atur pH larutan sedemikian hingga berada dalam batas
0,05 satuan pH yang tertera pada masing-masing monografi. (catatan gas terlarut
dapat membentuk gelembung yang dapat merubah hasil pengujian. Oleh karena
itu gas terlarut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum pengujian dimulai.
Salag satu deaerasi sebagai berikut: panaskan media, sambal diaduk perlahan,
hingga suhu 410 segera saring menggunakan vakum dengan penyaring
berporositas 0,45 µm atau kurang, dengan pengadukan yang kuat dan pengadukan
yang yerus menerus sambal divakum selama lebih kurang 5 menit. Cara deaerasi
lain yang sudah divalidasi dalam menghasilkan gas terlarut dapat digunakan)
Waktu pengambilan cuplikan harus dilakukan pada waktu yang dinyatakan
dengan toleransi ±2%. Bila dalam spesifikasi hanya terdapat satu waktu,
pengujian dapat diakhiri dalam waktu yang lebih singkat bila persyaratannya
jumlah minimum yang terlarut terpenuhi. Prosedur untuk gabungan sampel untuk
sediaan lepas segar gunakan prosedur ini bula prosedur untuk gabungan sampel
dinyatakan pada masing – masing monografi.
H. Landasan Teori
Cocrystal adalah gabungan dari dua molekul atau lebih yang membentuk
kisi kristal bersama dengan ikatan-ikatan padatan. Senyawa ini dapat mengubah
sifat fisikokimia yang ditandai dengan peleburan bersama (eutektikum) dan
pengkristalan bersama dengan komposisi stoikiometrik tertentu.
Cocrystal Farmasi di definisikan sebagai komponen stoikiometrik ganda
terbentuk dari bahan farmasi aktif (API) dan bahan pembentuk Cocrystal. Dua
40
I. Hipotesis
Perbandingan karakteristik Cocrystal paracetamol dan paracetamol murni
dapat dilihat melalui beberapa alat analisis seperti DSC, TGA, FTIR, dan uji
disolusi yang bertujuan untuk melihat perbandingan profil perubahan apa yang
terjadi pada Cocrystal paracetamol.
Dugaan sementara terjadi yaitu perubahan stabilitasnya dilihat perubahan
Cocrystal pada pengaplikasian ke senyawa paracetamol dan asam sitrat dengan
suhu di atas melting pointnya mungkin akan terjadi perubahan struktur dan
gugusnya.
.