0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
259 tayangan56 halaman

Pengaruh Pembinaan Rohani pada Siswa

Dokumen tersebut membahas penelitian tentang pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah. Penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pembinaan rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius, dengan tingkat pengaruh sedang. Artinya pembinaan rohani yang baik akan mempengaruhi sikap siswa untuk men

Diunggah oleh

Wida yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
259 tayangan56 halaman

Pengaruh Pembinaan Rohani pada Siswa

Dokumen tersebut membahas penelitian tentang pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah. Penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pembinaan rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius, dengan tingkat pengaruh sedang. Artinya pembinaan rohani yang baik akan mempengaruhi sikap siswa untuk men

Diunggah oleh

Wida yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ABSTRAK

PENGARUH PEMBINAAN ROHANI TERHADAP SIKAP SISWA


DALAM MENGAPLIKASIKAN NILAI RELIGIUS DI SMAN 1
SEPUTIH RAMAN LAMPUNG TENGAH
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

Yuni Purwaningsih

Penelitian ini bertujuan menguji dan mendeskripsikan pengaruh pembinaan rohani


terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai Religius di SMA Negeri 1
Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013. Metode penelitian
menggunakan metode deskriptif korelasional. Sampel penelitian berjumlah 49
responden. Teknik pokok pengumpulan data menggunakan angket dan analisis
data menggunakan Chi Kuadrat.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang nyata antara pembinaan


rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius dengan tingkat
keeratan pengaruh sebesar 0,56 yang berada pada kategori sedang. Hal ini berarti
bahwa dengan adanya pembinaan rohani yang baik, akan mempengaruhi sikap
siswa dalam mengaplikasikan nilai religius. Semakin baik dan kompleks
pembinaan rohani yang diberikan, maka akan semakin baik pula sikap siswa
khususnya dalam mengaplikasikan nilai religius.

Kata kunci : aplikasi nilai, pembinaan rohani, sikap religius


1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan media strategis dalam meningkatkan kualitas sumber

daya manusia. Pendidikan juga merupakan salah satu sarana untuk dapat

mengembangkan potensi diri siswa agar memiliki sikap dan perilaku lebih

baik dari sebelumnya. Melalui pendidikan inilah diharapakan siswa dapat

menjadi siswa yang cerdas baik secara jasmani maupun rohani.

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan yaitu sekolah.

Sekolah merupakan salah satu wahana untuk mengembangkan dan mencapai

tujuan pendidikan, melalui proses pendidikan yang menyatukan antara ranah

pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai sehingga akan dapat

dihasilkan siswa yang unggul dan berkualitas, baik secara ilmu pengetahuan

maupun secara akhlak.

Sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam mengembangkan ranah

pengetahuan saja. Akan tetapi, diharapkan sekolah mampu secara integratif

memadukan pengembangan ranah pengetahuan, keterampilan serta sikap dan

nilai. Sekolah sebagai salah satu penyelenggara pendidikan dituntut mampu

untuk membentuk mental anak didiknya yang berlandaskan agama dengan


2

cara memberikan pembinaan rohani di tingkat sekolah. Sehingga, siswa tidak

hanya berhasil secara teoritis atau hanya sebatas penguasaan materi saja,

namun diharapkan mampu mengaplikasikan hasil belajar akademik dalam

sikap dan perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga,

masyarakat, bangsa dan negara.

Realitanya, banyak dijumpai sekolah yang hanya mengedepankan

pengembangan ranah pengetahuannya saja. Sedangkan ranah keterampilan,

serta sikap dan nilai kurang mendapat perhatian yang serius dari pihak

sekolah, sehingga banyak dari siswa kurang mampu untuk membentengi

dirinya dalam menangkal berbagai macam pengaruh yang tidak baik.

Misalnya, sering kali kita melihat siswa yang duduk di bangku Sekolah

Menengah Atas melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaat bahkan

melakukan aktivitas yang bersifat kesenangan sesaat. Kesenangan tersebut

biasanya bersifat pemborosan atau mengarah kepada kemaksiatan, contohnya

bermain game, play station, bermain internet, bermain handphone dan

sebagainya, sehingga melupakan waktu untuk beribadah. Selain itu sering

dijumpai siswa yang membolos pada saat jam pelajaran, bertindak kurang

sopan terhadap guru, merokok di sekolah, mencontek pada saat ulangan,

melanggar aturan sekolah, kurang menghargai teman yang berbeda agama,

kesadaran yang relatif rendah untuk menjalankan ibadah dan lain sebagainya.

Pembinaan rohani merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memberikan

pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia dengan secara sadar dan

sukarela mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai


3

dengan agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku

sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.

Nilai religius merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam pendidikan

karakter. Sebagaimana yang diketahui bahwa saat ini Indonesia sedang

gencar menerapkan sistem pendidikan karakter, guna mendidik para generasi

penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter

dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap mata

pelajaran maupun mata kuliah yang diajarkan kepada para siswa maupun

mahasiswa.

Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi

perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan

mampu memiliki dan berperilaku dengan ukuran baik dan buruk yang

didasarkan pada ketentuan agama masing-masing siswa. Sehingga siswa tidak

akan mudah terpengaruh dan mampu membentengi diri dari berbagai macam

hal yang bersifat negatif dan merugikan baik bagi dirinya maupun orang lain

di sekitarnya.

Nilai-nilai religius ini dapat menjadi faktor pendorong untuk selalu berbuat

baik, karena takut akan dosa yang akan ditanggungnya, menjadi panduan

dalam menentukan pilihan hidup sesuai dengan ajaran agama yang dianut,

mendorong, menekan dan menuntut seseorang untuk berbuat dan bertindak

sesuai dengan nilai yang bersangkutan serta berfungsi untuk menjaga diri dari

hal-hal negatif dalam suatu kelompok atau masyarakat. Adapun beberapa


4

indikator nilai religius seperti, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa dan terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama.

Untuk mewujudkan indikator nilai religius tersebut, sekolah berupaya

memberikan pembinaan kepada para siswa yaitu berupa pembinaan dan

bimbingan terhadap rohani. Pembinaan rohani merupakan upaya

pembentukan diri seseorang sehingga diharapakan menjadi diri yang sesuai

dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, sehingga sikap dan perbuatan

yang dilakukan mencerminkan nilai-nilai religius.

Pembinaan rohani sangat penting untuk dilakukan guna menunjang

tercapainya misi Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah yaitu untuk

menjadikan para siswa sebagai warga negara yang cerdas, demokratis dan

religius, yaitu mereka secara konsisten mau dan mampu melestarikan dan

mengembangkan cita-cita demokrasi, serta secara bertanggung jaawab

berupaya membangun kehidupan bangsa yang cerdas.

Pembinaan rohani yang ada di SMA Negeri 1 Seputih Raman diberikan di

luar jam pelajaran sekolah dan lebih banyak mengarah pada pembinaan iman

dan ibadah siswa. Pembinaan-pembinaan tersebut diberikan dengan tujuan

untuk melatih siswa agar memiliki kesadaran untuk menjalankan perintah

Tuhan berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing siswa, menekan

masalah-masalah sikap dan perilaku siswa yang menyimpang dari aturan

agama maupun aturan sekolah. Selain itu pembinaan ini juga merupakan

upaya internalisasi nilai-nilai yang bersumber dari budaya luhur bangsa

Indonesia sehingga menjadi sistem nilai dalam diri setiap individu siswa.
5

Sistem nilai yang telah tertanam tersebut akan melandasi sikap dan perilaku

nyata sehari-hari yang akhirnya akan muncul secara konsisten dalam

menanggapi setiap situasi yang dihadapi. Sistem nilai yang ditanamkan

bersumber dari nilai-nilai agama, nilai budaya dasar, ideologi dan nilai-nilai

yang bersumber dari lingkungan. Sebagai bangsa yang religius bangsa

Indonesia memiliki sistem nilai agama yang berciri khas toleransi sosial antar

umat beragama sehingga memungkinkan masyarakat yang majemuk hidup

berdampingan dalam kerukunan dan kebersamaan. Dengan demikian

diharapkan siswa akan memiliki sikap kritis yang mendukung daya sintesa

dan daya akulturasi guna menunjang semangat persatuan, kebersamaan

keserasian dan keseimbangan.

Selain untuk mendukung budaya toleransi antar umat beragama, diharapkan

dengan adanya pembinaan rohani di sekolah akan dapat memupuk rasa kasih

sayang dan kepedulian sosial dalam diri masing-masing siswa. Sebagaimana

pendapat yang dikemukakan oleh Nurul Zuriah (2007:56) bahwa nilai religius

ditingkat Sekolah Menengah Atas dapat ditanamkan melalui keterlibatan dan

kepekaan sosial, melihat keprihatinan dan penderitaan hidup manusia, ajaran

agama manapun akan mengajak dan mendesak penganutnya untuk bertindak

baik. Sehingga dengan adanya pembinaan rohani di sekolah siswa akan lebih

mengerti mengenai hak dan kewajibannya terhadap Tuhan maupun hak dan

kewajibannya terhadap sesama manusia.


6

Adapun bentuk-bentuk pembinaan rohani yang dilakukan di SMA Negeri 1

Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah diantaranya yaitu :

1. Membaca do’a sebelum dan sesudah jam pelajaran.

2. Memberlakukan sholat dzuhur bagi seluruh siswa yang muslim.

3. Mewajibkan sholat jum’at bagi siswa muslim laki-laki dan untuk siswa

muslim perempuan diberikan pembinaan tersendiri yang dilaksanakan

pada saat jam sholat jum’at.

4. Bagi siswa yang beragama Hindu dan Katolik diberikan pembinaan pada

setiap hari sabtu, di luar jam pelajaran oleh guru agama.

5. Bagi siswa yang beragama Protestan diberikan pembinaan pada setiap

hari sabtu yang diberikan di luar jam pelajaran oleh guru agama.

6. Peringatan hari-hari besar agama.

7. Pesantren kilat bagi yang beragama muslim yang dilaksanakan pada saat

bulan Ramadhan.

Namun dalam kenyataannya masih terdapat siswa yang belum

mengaplikasikan nilai religius, berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data

bahwa pada saat tiba waktu sholat, siswa tidak melaksanakan ibadah sholat.

Kasus lain yang banyak terjadi yaitu siswa bertindak kurang sopan terhadap

guru, kurang memiliki rasa toleran terhadap teman yang berlainan agama,

melakukan tindak pencurian, dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran

seperti itulah yang banyak dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Seputih

Raman Lampung Tengah.


7

Selain pelanggaran-pelanggaran di atas, masih banyak lagi bentuk

pelanggaran yang dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Seputih Raman,

seperti membolos pada saat jam pelajaran, bahkan pada saat sekolah

memberikan waktu kepada siswa untuk melaksanakan ibadah menurut agama

dan kepercayaan masing-masing, siswa lebih banyak memilih bermain HP,

duduk-duduk di kantin sekolah, mengobrol dengan teman-temannya, maupun

melakukan kegiatan-kegiatan lain sehingga mereka tidak melaksanakan

kegiatan ibadah.

Faktor menyebabkan rendahnya sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai

religius antara lain perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, misalnya

saja siswa lebih memilih bermain HP daripada melaksakan kegiatan

pembinaan rohani ataupun melaksanakn kegiatan ibadah. Memang tidak

dapat dipungkiri bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

membawa berbagai macam dampak baik yang bersifat positif maupun

negatif. Oleh sebab itu sangatlah penting untuk mengetahui cara yang tepat

dalam menyikapi kemajuan teknologi informasi tersebut untuk

menghindarkan pengaruh dari hal-hal yang negatif yang turut dibawa oleh

kemajuan teknologi informasi.

Sikap yang diambil terhadap kemajuan teknologi informasi yakni mengetahui

dan menyesuaikan kebutuhan akan informasi yang ingin didapatkan melalui

teknologi informasi, mengetahui sejauh mana privasi yang dimiliki dan

menghargai privasi milik orang lain, menggunakan manfaat teknologi

informasi secara bijak dengan tidak menyalahi aturan hukum yang berlaku
8

dan hukum agama, merubah cara pandang supaya peduli akan kemajuan

teknologi informasi dan dampak yang ditimbulkannya. Dengan demikian

dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi akan dapat ditekan secara

maksimal.

Selain itu, di SMA Negeri 1 Seputih Raman fasilitas ibadah yang disediakan

hanya sebatas Mushola dan Pure di karenakan agama mayoritas yang dianut

oleh siswa adalah agama Islam dan agama Hindu. Sedangkan untuk agama

minoritas seperti Nasrani dan Budha tidak disediakan fasilitas berupa tempat

ibadah.

Teman sebaya juga turut mempengaruhi rendahnya sikap siswa dalam

mengaplikasikan nilai religius di sekolah. Misalnya saat tiba waktu sholat

mayoritas siswa lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan

temannya di kantin sekolah atau di kelas sehingga mereka tidak

melaksanakan ibadah sholat.

Mengingat bahwa sekolah merupakan salah satu wahana yang strategis dalam

membentuk pribadi siswa agar sesuai dengan yang diamanatkan dalam tujuan

pendidikan nasional dan sebagai wadah dalam pembinaan rohani siswa serta

sebagai wadah untuk membentuk generasi muda sebagai generasi penerus

bangsa yang berkualitas sesuai dengan nilai religius, maka masalah tersebut

diatas penting untuk dicarikan solusinya. Oleh karena itu, peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh pembinaan rohani

terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1

Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013”.


9

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka masalah yang terkait dengan aplikasi nilai

religius dapat di identifikasi sebagai berikut:

a. Fasilitas yang tersedia untuk mengaplikasikan nilai religius di sekolah.

b. Pembinaan rohani di sekolah.

c. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.

d. Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam aplikasi nilai

religius.

e. Pengaruh lingkungan teman sebaya terhadap sikap siswa dalam

mengaplikasikan nilai religius.

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk kepentingan penelitian ini, maka masalah yang akan diteliti dibatasi

pada pembinaan rohani dan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius

di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran

2012/2013.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah “Apakah terdapat pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa

dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1 seputih Raman

Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013?”.

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menguji

pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan


10

nilai religius bagi siswa di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah

Tahun Pelajaran 2012/2013.

1.6 Kegunaan Penelitian

a. Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini berguna untuk mengembangkan konsep-

konsep dalam ilmu pendidikan khususnya Pendidikan Kewarganegaraan

yang mengkaji tentang pendidikan moral pancasila dalam aplikasi nilai

religius siswa Sekolah Menengah Atas Seputih Raman.

b. Secara Praktis

1. Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada siswa agar

memaksimalkan aplikasi nilai religius dalam kehidupan melalui

berbagai macam pembinaan rohani sehingga mampu menjadi pribadi

yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak

mulia dan dapat membawa diri dalam masyarakat.

2. Bagi guru, dapat memberikan masukan agar para guru dapat lebih

intensif lagi dalam melakukan pembinaan kepada para siswa khususnya

dalam hal pembinaan rohani.

3. Bagi masyarakat, khususnya orang tua agar dapat memberikan

pengarahan dan menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal

pengaplikasian nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.


11

1.7 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:

1. Ruang Lingkup Ilmu

Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup ilmu Pendidikan

Kewarganegaraan, khususnya dalam kajian Pendidikan Nilai dan Moral,

karena penelitian ini berguna dalam mengkaji pengaplikasian nilai karakter

siswa khususnya nilai karakter religius bagi siswa yang duduk di bangku

Sekolah Menengah Atas.

2. Ruang Lingkup Subjek Penelitian

Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kleas X dan kelas XI di

SMA Negeri 1 Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013.

3. Ruang Lingkup Objek Penelitian

Adapun ruang lingkup objek dari penelitian ini adalah pembinaan rohani

dan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.

4. Ruang Lingkup Wilayah Penelitian

Ruang lingkup wilayah dari penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Seputih

Raman Lampung Tengah.

5. Ruang Lingkup Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sejak dikeluarkan surat izin penelitian

pendahuluan oleh Dekan FKIP Universitas Lampung sampai dengan

selesainya penelitian ini.


12

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Teori

2.1.1 Pembinaan Rohani

A. Pengertian Pembinaan Rohani

Menurut pendapat Darminta (2006:16) pembinaan rohani merupakan

usaha untuk hidup iman, sebab pada dasarnya hidup merupakan

penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

Sedangkan menurut Hagen (2006:171), “pembinaan rohani adalah

pembinaan hati, yakni pembinaan yang bersifat menyeluruh, dapat

berlangsung hanya jika dilaksanakan terus menerus oleh semua

pihak dengan mengembangkan sekaligus daya-daya kemampuan

jasmani dan rohani anak”.

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa

pembinaan rohani adalah suatu bentuk upaya yang dilakukan untuk

memberikan pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia

dengan secara sadar dan sukarela mau melaksanakan apa yang

diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan


13

masing-masing, sehingga sikap dan perilaku sehari-harinya

mencerminkan nilai-nilai religius.

B. Dasar Hukum
Undang-Undang N0. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yaitu

“Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan

dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Visi Indonesia 2020 (TAP MPR No : VII/2001 IV) yaitu

terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi,

bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan

bersih dalam penyelenggaraan negara.

Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dan Visi Indonesia

Tahun 2020 dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sarana

yang stategis dalam membentuk kepribadian siswa agar menjadi

warga negara yang cakap dalam kehidupan sehari-harinya. Siswa

mampu menjadi pribadi yang nantinya dapat mewujudkan sikap

yang religius, mandiri, kreatif, demokratis, dengan demikian akan

terwujud pula penyelenggaraan negara yang baik dan bersih selain

itu juga siswa akan mampu menjadi warga negara yang baik.
14

Adapun ciri-ciri warga negara yang baik menurut Nurul Zuriah

(2007:134), yaitu:

religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, toleran, sadar akan hak


dan kewajiban, mencintai kebenaran dan keadilan, peka terhadap
lingkungan, mandiri dan percaya diri, sederhana, terbuka dan
penuh pengertian terhadap kritik dan saran, patuh dan taat
terhadap peraturan, tidak suka berbuat onar, kreatif dan inovatif.

Dengan demikian, diharapakan sekolah mampu untuk memberikan

fasilitas kepada para siswa untuk mengaplikasikan nilai religius di

lingkungan sekolah serta memberikan arahan ataupun bimbingan

yang berkesinambungan kepada siswa untuk mengaplikasikan nilai

religius tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

C. Dasar-Dasar Pembinaan Rohani

1. Pembinaan Iman dan Ibadah

Pembinaan iman mencakup keseluruhan bagian agama baik

yang berkaitan dengan amalan hati dan anggota tubuh. Iman

juga merupakan menampakkan ketundukan syariat Allah dan

terhadap apa yang dibawa oleh Nabi, serta meyakini dan

membenarkannya dengan hati, tanpa ada kebimbangan dan

keraguan. Urgensi pembinaan keimanan lahir dari

kedudukannya sebagai sebagai landasan utama dalam

pembentukan kepribadian manusia, baik secara pikiran maupun

prilaku dan jasmani. Iman merupakan gizi bagi rohani dan unsur

dalam mengerakan perasaan dan mengarahkan kehendaknya.

Maka ketika unsur-unsur iman itu tumbuh dan tertanam dengan


15

benar dalam diri manusia maka setiap perbuatannya akan di

landasi dengan nilai-nilai keimanannya tersebut, dikutip dalam

Agung Jatmiko (2012:13).

Menurut Nurul Zuriah (2007:83), “iman adalah meyakini akan

adanya Tuhan Yang Maha Esa ini diwujudkan dengan

kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Tuhan

dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sehingga, iman dapat disimpulkan sebagai bentuk keyakinan

seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diwujudkan dalam

perilaku kesehariaanya dengan melaksanakan perintah-Nya dan

menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, sehingga apabila

keimanan tersebut sudah tertanam dalam diri manusia dengan

benar, maka sikap dan perbuatan yang dihasilkan pun akan

mencerminkan nilai-nilai keimanannya tersebut.

Sedangkan ibadah menurut Sayyid Quthb dikutip dalam Agung

Jatmiko (2012), “ibadah merupakan penghambaan terhadap

Tuhan dalam keseluruhan urusan dunia maupun akhirat”.

Sedangkan menurut Sigit Muryono (2009:135), “ibadah adalah

penghambaan diri untuk mencari keridhoan Tuhan dan

mengharap pahala di akhirat”.

Nurul Zuriah juga mengemukakan pendapatnya mengenai


pengertian ibadah yang dibedakan menjadi dua macam yaitu
yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.
16

a. Umum

Kita mengenal pencipta dan yang diciptakan. Manusia


sebagai ciptaan Tuhan mempunyai kewajiban terhadap
Sang Pencipta dan kewajiban terhadap sesama manusia.
Kewajiban terhadap Tuhan adalah melaksanakan perintah-
Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perbuatan yang
dilakukan karena perintah-Nya disebut ibadah. Banyak
perbuatan baik yang merupakan ibadah yang bersifat
umum yang diajarkan oleh agama yang ada di dunia ini,
seperti tolong-menolong dalam kebaikan, kasih sayang,
bersikap ramah dan sopan dan lain sebagainya.

b. Khusus

Ibadah yang bersifat khusus adalah ibadah yang


pelaksanaannya mempunyai tata cara tertentu.

Dengan demikian, seseorang yang memperoleh pembinaan

dalam bentuk pembinaan ibadah, akan mampu membiasakan

dirinya untuk melakukan perbuatan yang berlandaskan pada

ajaran agama yang dianutnya, sehingga perilakunya pun akan

sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya serta tidak

melanggar batas-batas aturan agama yang dianutnya tersebut.

2. Pembinaan Pemikiran

Menurut Ahmad Izzat Rajih dikutip dalam Agung Jatmiko


(2012) mendefinisikan pembinaan pemikiran dalam dua
definisi: Pertama, definisi umum yaitu:”setiap akal yang
berusaha menyingkap dan mengungkap berbagai hal. Sosok,
sikap dan peristiwa dengan simbol-simbolnya tanpa
melakukan upaya fisik untuk menyelesaikannya”. Definisi ini
merupakan keseluruhan definisi akal, mulai dari yang paling
mudah hingga yang paling rumit.

Kedua, yang bersifat khusus, yaitu menyelesaikan kerumitan


dalam pemikiran baik dengan perkataan maupun perbuatan”.
Urgensi pembinaan pemikiran dapat dilihat dari nilai
pemikiran yang dicapai oleh akal dan pengaruh dalam
kehidupan manusia. Nilai pemikiran itu akan nampak pada
17

hasil wawasan dan paradigma yang dicapai oleh seseorang


manusia setelah mengarahkan seluruh upayanya untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kemudian itu semua
itu diikuti dengan refleksinya pengaruh pengetahuan itu bagi
kehidupan manusia, baik dalam arah maupun perilaku.

Pembinaan pemikiran penting untuk dilakukan agar wawasan

yang diperoleh akan dapat digunakan untuk menyelesaikan

berbagai macam persoalan yang dihadapi, karena pembinaan

pemikiran ini bertujuan untuk menyelesaikan kerumitan dalam

pikiran seseorang.

3. Pembinaan Religiusitas Perilaku Siswa

Pembinaan religiusitas perilaku siswa yaitu proses menanamkan

dan menumbuhkembangkan nilai-nilai agama menjadi bagian

dalam diri orang yang bersangkutan sehingga ia mampu untuk

berperilaku dengan baik sesuai dengan ajaran agama yang

dianutnya.

Pola pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah

dilaksanakan secara sadar dan tersusun secara sistematis yang

mengarahkan siswa pada sikap dan perilaku yang sesuai dengan

nilai dan ajaran agama.

Pembinaan religiusitas perilaku siswa diharapakan menerapkan

prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Belajar hidup dalam perbedaan

b. Membangun sikap percaya


18

c. Memelihara sikap saling pengertian

d. Menjunjung sikap saling menghargai

D. Pembinaan Rohani di SMA Negeri 1 Seputih Raman

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam pembinaan

rohani meliputi tiga dasar pembinaan. Tiga dasar pembinaan tersebut

adalah pembinaan iman dan ibadah pembinaan pemikiran dan

pembinaan religiusitas perilaku siswa. Akan tetapi bentuk

pembinaan yang ada di SMA Negeri 1 Seputih Raman belum ideal

karena hanya meliputi pembinaan ibadah saja.

Adapun bentuk pembinaan ibadah tersebut antara lain:

1. Membaca do’a sebelum dan sesudah jam pelajaran.

2. Memberlakukan sholat dzuhur bagi seluruh siswa yang

muslim.

3. Mewajibkan sholat jum’at bagi siswa muslim laki-laki dan

untuk siswa muslim perempuan diberikan pembinaan tersendiri

yang dilaksanakan pada saat jam sholat jum’at.

4. Bagi siswa yang beragama Hindu dan Katolik diberikan

pembinaan pada setiap hari sabtu, di luar jam pelajaran oleh

guru agama.

5. Bagi siswa yang beragama Protestan diberikan pembinaan

pada setiap hari sabtu yang diberikan di luar jam pelajaran oleh

guru agama.

6. Peringatan hari-hari besar agama.


19

7. Pesantren kilat bagi yang beragama muslim yang dilaksanakan

pada saat bulan Ramadhan.

2.1.2 Nilai Religius

Nilai religius merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam

pendidikan karakter. Nilai religius adalah nilai kerohanian yang

tertinggi, sifatnya mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan

dan keyakinan manusia.

Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing

religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau

kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia.

Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi

yang melekat pada diri seseorang (Thontowi, 2012).

Menurut Scheler yang dikutip dalam Wikipedia, nilai religius

memfokuskan relasi manusia yang berkomunikasi dengan Tuhan.

Manusia mendapatkan pengalaman mengagumkan yang tak

terhapuskan mengenai personalitas luhur yang digambarkan secara

metaforis dalam dogma-dogma, ritus-ritus dan mitos. Untuk memahami

nilai religius ini, hanya dengan iman dan cinta terhadap manusia dan

dunialah manusia menyadari bahwa Tuhan itu merupakan Pencipta,

Yang Maha Tahu dan Hakim bagi dunia ini. melalui nilai religius ini,

manusia berhubungan dengan Tuhannya melalui kebaktian, pujian dan

doa, kesetiaan dan kerelaan berkurban bagi Tuhan.


20

Adapun indikator masyarakat yang religius menurut TAP MPR No :

VII/2001 IV adalah:

a. Terwujudnya masyarakat yang beriman dan bertaqwa, berakhlak

mulia sehingga ajaran agama, khususnya yang bersifat universal

dan nilai-nilai luhur budaya, terutama kejujuran, dihayati dan

diamalkan dalam perilaku keseharian.

b. Terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama.

c. Terwujudnya penghormatan terhadap martabat manusia.

Sedangkan Paul Suparno, yang dikutip dalam Nurul Zuriah (2007:39),

indikator nilai religius dijabarkan sebagai berikut:

a. Mensyukuri hidup dan percaya kepada Tuhan.

b. Sikap toleran.

c. Mendalami ajaran agama.

Sehingga dalam penelitian ini, peneliti mengambil tiga indikator nilai

religius, sebagai berikut:

a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Beriman berarti percaya sepenuh hati akan adanya Tuhan, Sang

Pencipta alam semesta dan segala isinya. Jadi orang beriman

berarti mau, rela, ikhlas sepenuh hati menyerahkan diri seutuhnya

kepada Tuhan Yang Maha Esa serta melaksanakan kehendakNya

sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ketaqwaan tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan

mendasari ketaqwaan seseorang. Jika setiap orang di dalam


21

kehidupan ini memiliki ketaqwaan dan keimanan yang tinggi,

mengamalkan agamanya dengan baik dan benar, maka akan

tercapai tujuan hidup manusia, yakni bahagia lahir dan batin.

b. Toleransi antar dan antara umat beragama

Menurut Edwi Nugrohadi (2013:68), toleransi yaitu suatu

keterbukaan yang mencakup sikap, sifat dan semangat hidup

dalam kebersamaan dan perjumpaan dengan yang lain.

Toleransi atau bersikap toleran merupakan hal mutlak yang harus

ada ketika kita menjalani kehidupan dalam kebersamaan dengan

orang lain yang berbeda dengan diri kita. Toleransi antar dan

antara umat beragama menjadi sesuatu yang sangat penting untuk

kehidupan negara kita, karena berbagai keberagaman yang kita

jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap toleran adalah

salah satu jalan yang harus ditempuh oleh semua umat beragama

dalam usahanya untuk mewujudkan kerukunan hidup umat

beragama.

c. Penghormatan terhadap martabat manusia

Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang terhormat

sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal

budi sehingga manusia mendapat tempat yang tinggi dibanding

makhluk yang lain. Ditinjau dan martabatnya, kedudukan

manusia itu lebih tinggi dan lebih terhormat dibandingkan dengan

makhluk lainnya.
22

2.1.3 Sikap Siswa Dalam Aplikasi Nilai Religius

Secara umum sikap atau ettitude adalah suatu bentuk perasaan terhadap

sesuatu yang pada akhirnya menentukan perilaku yang akan kita

lakukan. Perasaan tersebut dapat berupa suatu perasaan mendukung

atau memihak, tidak mendukung, suka, tidak suka, dsb. Munculnya

perasaan tersebut tidak dapat terlepas dari adanya stimulus yang

menghendaki adanya respon, sehingga kadangkala sikap menjadi suatu

pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan

diri dari situasi sosial yang telah terkndisikan, dalam hal ini individu

tersebut memahami, merasakan dan akhirnya mampu menentukan

perilaku terhadap objek dilingkungan sekitarnya.

Sikap dapat lebih dipahami melalui beberapa pengertian yang

dijelaskan oleh para ahli, Allport dalam Djaali (2008:114) menjelaskan,

“sikap merupakan sesuatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun

melalui pengalaman respon individu terhadap semua objek atau situasi

yang berhubungan dengan objek itu”. Sedangkan Bruno dalam

Muhibbin Syah (2003:123) mengatakan “ sikap merupakan

kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik

atau buruk terhadap orang atau objek tertentu”.

Hal ini sama dengan penjelasan mengenai sikap yang dikemukakan

oleh Chaplin dalam Mohammad Ali dan Mohammad Asrori

(2008:141):

sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan


berlangsung terus-menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi
23

dengan cara tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga, atau


persoalan tertentu. Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sikap
merupakan kecenderungan untuk bereaksi terhadap orang,
lembaga, atau peristiwa, baik secara positif maupun negatif.

Pendapat yang ketiga ini juga didukung oleh pendapat dari La Piere

dalam Azwar (2003:130), ia mengemukakan, “sikap sebagai suatu pola

perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk

menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana sikap

adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan“.

Dari keempat pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah

kecenderungan yang relatif menetap untuk memberikan reaksi terhadap

orang, lembaga atau peristiwa baik secara positif maupun negatif

sehingga mampu untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.

Travers, Gagne, dan Cronbach dalam Abu Ahmadi (2007:151)

sependapat bahwa sikap memiliki tiga komponen yang saling

berhubungan, ketiga komponen tersebut adalah :

a. Komponen kognitif berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran

yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan objek.

b. Komponen afektif yang menunjuk pada dimensi emosional dari

sikap, yaitu emosi yang berhubungan dengan objek. Objek disini

dirasakan sebagai objek yang menyenangkan atau tidak.

c. Komponen konatif yang melibatkan salah satu predisposisi untuk

bertindak terhadap objek.


24

Sikap yang melekat dalam diri seseorang memiliki fungsi didalam

kehidupan orang tersebut, Katz dalam Bimo Walgito (2003:121)

menjelaskan bahwa fungsi sikap adalah :

a. Fungsi instrumental atau penyesuaian/manfaat.

Fungsi ini berkaitan dengan sarana-tujuan. Sikap merupakan sarana

untuk mencapai tujuan. Orang selalu memandang sejauh mana objek

sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka

pencapaian tujuan.

b. Fungsi pertahanan ego.

Merupakan sikap yang diambil oleh seseorang untuk

mempertahankan egonya. Sikap ini diambil pleh seseorang pada

waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya.

c. Fungsi ekspresi nilai.

Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu

untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan

mengekpresikan diri, seseorang akan mendapatkan kepuasan dengan

menunjukkan keadaan dirinya.

d. Fungsi pengetahuan.

Individunya mempunyai dorongan ingin dimengerti dengan

pengalaman-pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan.

Elemen-elemen dari pengalamannya yang tidak konsisten dengan

yang diketahui oleh individu akan disusunkembali atau diubah

sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten.


25

Sedangkan sikap religius sebagai salah satu nilai karakter

dideskripsikan oleh Suparlan (2010) sebagai sikap dan perilaku yang

patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap

pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk

agama lain.

Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi

perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan

mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di

dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Pembentukan karakter

religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders

pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan serta, termasuk orang tua

dari siswa itu sendiri.

Menurut Nurul Zuriah (2007:56), nilai religius ditingkat Sekolah

Menengah Atas dapat ditanamkan melalui keterlibatan dan kepekaan

sosial, melihat keprihatinan dan penderitaan hidup manusia, ajaran

agama manapun akan mengajak dan mendesak penganutnya untuk

bertindak baik.

Kegiatan sosial kemanusiaan menjadi tempat untuk mewujudkan

religuisitas anak secara bersama dari berbagai macam agama dan

kepercayaan yang ada. Kepekaan dan keterlibatan untuk membantu

orang yang menderita merupakan panggilan bersama umat beragama.


26

Perwujudan dari ajaran agama akan menjadi nyata dalam tindakan yang

juga menyatukan semua orang dalam keprihatinan yang sama.

Perbuatan baik semacam ini merupakan amal baik kepada sesama yang

juga menjadi ajaran dan tuntunan semua agama untuk dilaksanakan

oleh para pemeluk dan penganutnya.

2.1.4 Peran Mata Pelajaran PKn dalam Mengembangkan Nilai Religius

Menurut pendapat Nurul Zuriah (2007:150), “Pendidikan

Kewarganegaraan mengemban misi untuk menjadikan para siswa

sebagai warga negara yang cerdas, demokratis dan religius, yaitu

mereka secara konsisten mau dan mampu melestarikan dan

mengembangkan cita-cita demokrasi, serta secara bertanggung jaawab

berupaya membangun kehidupan bangsa yang cerdas”.

Menurut Sumarsono,dkk (2005:6) Pendidikan Kewarganegaraan yang

berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas, penuh rasa

tanggung jawab dari peserta didik. Sikap ini disertai dengan sikap yang:

a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan

menghayati nilai-nilai falsafah bangsa.

b. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat, berbangsa

dan bernegara.

c. Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai

warga negara.

d. Bersifat profesional, yang dijiwai oleh kesadaran bela negara.


27

e. Aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni

untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan negara.

Selain Pendidikan Kewarganegaraan, pendidikan Budi Pekerti dan

Pendidikan Agama juga memiliki peran yang startegis dalam

menanamkan nilai-nilai religius kepada para siswa. Budi pekerti adalah

nilai-nilai hidup manusia yang sungguh-sungguh dilaksanakan bukan

karena sekedar kebiasaan, tetapi berdasar pemahaman dan kesadaran

diri untuk menjadi baik.

Menurut draft kurikulum berbasis kompetensi yang dikutip dalam

Nurul Zuriah (2007:17), “budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia

yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma

agama, norma hukum, tata karma dan sopan santun norma budaya dan

adat istiadat masyarakat”.

Visi Pendidikan Budi Pekerti menurut Buku 1 Pedoman Umum dan

Nilai Budi Pekerti untuk Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikutip

dalam Nurul Zuriah (2007:63) yaitu untuk mewujudkan Pendidikan

Budi Pekerti sebagai bentuk pendidikan nilai, moral, etika yang

berfungsi menumbuhkembangkan individu warga negara Indonesia

yang berakhlak mulia dalam pikir, sikap, dan perbuatannya sehari-hari

yang secara kurikuler benar-benar menjiwai dan memaknai semua mata

pelajaran yang relevan serta sistem sosio-kultural dunia pendidikan

sehingga dalam diri setiap lulusan, setiap jenis, setiap jalur dan jenjang

pendidikan terpancar akhlak mulia.


28

Selain Pendidikan Budi Pekerti, pendidikan keagamaan merupakan

pendidikan wajib bersama sama dengan 12 bahan kajian lainnya. Pada

jenjang pendidikan menengah, pendidikan keagamaan juga merupakan

pendidikan wajib bersama dengan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan

Kewarganegaraan. Jadi, pendidikan agama dalam sistem pendidikan

nasional keberadaannya sangat penting.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Pendidikan Agama

adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk

sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan

ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata

pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak

mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter

dan antar umat beragama. Sedangkan tujuan dari Pendidikan Agama

yaitu untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam

memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang

menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan

seni.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan

Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama mempunyai peran yang

sangat strategis dalam mengembangkan nilai-nilai religius kepada para

siswa di setiap jenjang pendidikan. Dengan adanya Pendidikan


29

Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama di sekolah diharapkan dapat

memberikan kontribusi kepada para siswa dalam mengamalkan nilai-

nilai religius dalam kehidupan sehari-harinya di masyarakat.

Sementara itu, persoalan atau tantangan yang dihadapi dalam

pelaksanaan pendidikan agama sebagai suatu mata pelajaran di sekolah

saat ini adalah bagaimana agar pendidikan agama tidak hanya

mengajarkan pengetahuan tentang agama, tetapi dapat mengarahkan

anak didik untuk menjadi manusia ygn benar benar mempunyai

kualitaskeberagamaan yang kuat. Dengan demikian, materi pendidikan

agama tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat membentuk sikap

dan kepribadian peserta didik sehingga menjadi manusia yang beriman

dan bertakwa dalam arti sesungguhnya, apalagi pada saat saat

pergeseran nilai nilai yang ada sebagai akibat majunya ilmu

pengetahuan dan teknologi.

2.2 Kerangka Pikir

Pembinaan rohani adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memberikan

pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia dengan secara sadar dan

sukarela mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai

dengan agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku

sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius. Bentuk pembinaan rohani

yang ideal meliputi pembinaan pemikiran, pembinaan ibadah dan pembinaan

iman.
30

Sikap siswa dalam megaplikasikan nilai religius adalah kecenderungan untuk

berperilaku yang didasari pada keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan

Yang Maha Esa, toleransi antar dan antara umat beragama serta

penghormatan terhadap martabat manusia.

Dengan adanya pembinaan rohani ditingkat sekolah diharapkan akan

memberikan pengaruh yang positif terhadap sikap siswa dalam

mengaplikasikan nilai religius sehingga akan dihasilkan siswa yang

berkualitas sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang No.

20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

dalam skema dibawah ini:

Variabel Y:
Variabel X
Sikap Siswa Dalam
Dasar-dasar Pembinaan
Mengaplikasikan Nilai Religius:
Rohani:
a. Beriman dan bertaqwa
a. Pembinaan Iman dan
kepada Tuhan YME
Ibadah
b. Terwujudnya toleransi antar
b. Pembinaan Pemikiran
dan antara umat beragama
c. Pembinan
c. Terwujudnya penghormatan
Religiusitas Perilaku
terhadap martabat manusia
Siswa

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Peneliti


III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Setiap kegiatan penelitian diperlukan suatu langkah-langkah pengkajian

dengan menggunakan metode penelitian agar tujuan penelitian dapat tercapai

seperti yang diharapkan. Metode penelitian sangat diperlukan untuk

menemukan data yang valid dan pengembangan suatu pengetahuan serta

dapat digunakan untuk menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan.

Penggunaan metode dalam suatu penelitian juga harus memperhatikan

karakteristik dan objek yang akan diteliti. Oleh karena itu,

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menggangap metode metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Menurut Faenkel

dan Wallen dalam Witri Annisa ([Link]

”metode korelasional yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk

mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih

tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak

terdapat manipulasi variabel”.korelasional dalam penelitian ini sangat tepat,

karena untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menguji pengaruh antara

pembinaan rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di

SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP 2012/2013.


32

3.2 Langkah-Langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian merupakan suatu bentuk upaya persiapan sebelum

melakukan penelitian yang sifatnya sistematis yang meliputi perencanaan,

prosedur hingga pelaksanaan teknis di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar

penelitian yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah

direncanakan. Adapun langkah-langkah yang peneliti lakukan secara garis

besar dapat dijelaskan sebagai berikut :

3.2.1 Persiapan Pengajuan Judul

Langkah awal yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah

melakukan observasi lapangan untuk mendapatkan permasalahan guna

pengajuan judul. Setelah menemukan permasalahan maka peneliti

mengajukan judul kepada Dosen Pembimbing Akademik yaitu Hermi

Yanzi S. Pd, M. Pd. dengan dua alternatif judul. Dari dua alternatif

judul yang diajukan, judul yang disetujui adalah alternatif judul

pertama. Langkah selanjutnya yaitu peneliti mengajukan judul tersebut

kepada Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan FKIP

UNILA Drs. Holilulloh M. Si untuk meminta persetujuan, sekaligus

menentukan dosen pembimbing. Pada tanggal 13 Februari 2013, judul

penelitan tentang Pengaruh Pembinaan Rohani Terhadap Sikap Siswa

Dalam Mengaplikasikan Nilai Religius Di SMA Negeri 1 Seputih

Raman Lampung Tengah disetujui dan ditetapkan dosen pembimbing

yaitu Hermiyanzi [Link], M. Pd. sebagai pembimbing kedua dengan Drs.

Irawan Suntoro M.S sebagai pembimbing utama.


33

3.2.2 Penelitian Pendahuluan

Setelah mendapatkan izin penelitian pendahuluan dari Dekan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung dengan nomor

1921/UN26/3/PL/2013, peneliti mulai melaksanakan penelitian

pendahuluan di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah.

Penelitian pendahuluan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data

yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti dalam rangka

penyusunan proposal penelitian yang ditunjang dengan beberapa

literatur dan arahan baik dari pembimbing kedua maupun pembimbing

utama. Pada tanggal 8 April 2013 proposal penelitian disetujui oleh

pembimbing kedua dan diteruskan kepada pembimbing utama untuk

mendapat bimbingan dan arahan lebih lanjut. Kemudian, pada tanggal

18 April 2013 proposal penelitian disetujui oleh pembimbing utama

untuk melaksanakan seminar proposal yang kemudian disahkan oleh

Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan.

3.2.3 Rencana Pengajuan Penelitian

Rencana penelitian diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari

pembimbing utama untuk melaksanakan seminar proposal. Seminar

proposal dilaksanakan pada tanggal 23 April 2013 dengan pembahas

utama Drs. Holilulloh M. Si dan pembahas kedua yaitu Muhammad

Mona Adha, S. Pd, M. Pd. Seminar proposal ini dimaksudkan untuk

mendapatkan saran dan kritik yang membangun baik dari dosen

pembahas maupun mahasiswa peserta seminar agar penyusunan skripsi


34

lebih sempurna. Setelah kegiatan seminar proposal kemudian peneliti

melakukan perbaikan sesuai dengan saran dari hasil seminar proposal.

3.2.4 Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Administrasi

Penelitian dilaksanakan berdasarkan Surat Izin Penelitian Dari dekan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 3047/ UN26/3/PL/2013

yang ditujukan kepada Kepala SMA Negeri 1 Seputih Raman

Lampung Tengah.

2. Penyusunan Alat Pengumpulan Data

Sesuai dengan alat pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini. maka peneliti mempersiapkan angket tertutup yang

ditujukan kepada responden yang berjumlah 49 siswa, dengan

jumlah item pertanyaan 20 soal yang terdiri dari tiga alternatif

jawaban. Dalam rangka menyusun angket tersebut, peneliti

melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Membuat kisi-kisi angket tentan pengaruh pembinaan rohani

terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.

b. Membuat item-item pertanyaan angket yang masing-masing

pertanyaan mewakili beberapa alternatif pengaruh pembinaan

rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai

religius.
35

c. Melakukan konsultasi terhadap angket yang akan digunakan

dalam penelitian kepada pembimbing kedua dan pembimbing

utama guna mendapat persetujuan.

d. Setelah angket tersebut disetujui oleh pembimbing kedua dan

pembimbing utama maka angket tersebut siap disebarkan kepada

(10) siswa di luar responden, yang setelah itu angket diberikan

kepada responden yang sebenarnya.

Penyusunan angket adalah untuk mendapatkan data pokok dalam

penelitian ini untuk dianalisis. Dalam penelitian ini peneliti

menyusun angket berdasarkan data yang dibutuhkan dan yang akan

digunakan. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh erat kaitannya

dengan variabel penelitian.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan kelas XI di

SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP 2012/2013,

dengan jumlah keseluruhan 488 siswa, untuk lebih jelas jumlah

populasi dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.1 Jumlah populasi siswa SMA Negeri 1 Seputih Raman


Lampung Tengah TP 2012/2013
Jumlah
No. Kelas Total
Laki-laki Perempuan
1. X1 9 29 38
2. X2 22 17 39
3. X3 16 23 39
4. X4 13 24 37
36

5. X5 16 22 38
6. X6 18 21 39
7. X7 13 24 37
8. XI IPA 1 11 21 32
9. XI IPA 2 14 21 35
10. XI IPA 3 13 22 35
11. XI IPA 4 12 23 35
12. XI IPS 1 12 17 29
13. XI IPS 2 12 16 28
14. XI IPS 3 15 12 27
Total 196 292 488
Sumber : Guru mata pelajaran PKn SMA Negeri 1 Seputih Raman

3.3.2 Sampel

Apabila subjek dalam suatu penelitian kurang dari 100 orang maka

semua sampelnya digunakan, sehingga penelitian tersebut

menggunakan penelitian populasi dan apabila subjeknya lebih dari 100

orang dapat diambil antara 10-15%, 20-25%, ataupun lebih (Suharsimi

Arikunto (2010:107).

Berdasarkan teori diatas, karena jumlah populasi dalam penelitian ini

lebih dari seratus, maka sampel penelitian ini diambil 10% dari 488

siswa SMA Negeri 1 Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah dan

diperoleh sampel 48,8 dan dibulatkan menjadi 49. Jadi siswa yang

dijadikan sampel penelitian ini adalah sebanyak 49 siswa.

Tabel 3.2 Data jumlah pengambilan sampel untuk masing-masing


kelas
No. Kelas Jumlah Total
1. X 1 4
X2 4
X3 4
X4 4 28
X5 4
X6 4
X7 4
37

2. XI IPA 1 3
XI IPA 2 3
12
XI IPA 3 3
XI IPA 4 3
3. XI IPS 1 3
XI IPS 2 3 9
XI IPS 3 3
Total 49

3.4 Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembinaan rohani.

2. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap siswa dalam

mengaplikasikan nilai religius.

3.5 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional Variabel

3.5.1 Definisi Konseptual

1. Pembinaan rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang

dilakukan untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada

seseorang agar ia dengan secara sadar dan sukarela mau

melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan

agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku

sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.

2. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius adalah

kecenderungan untuk berperilaku yang didasari pada keimanan dan

ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, toleransi antar dan


38

antara umat beragama serta penghormatan terhadap martabat

manusia.

3.5.2 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah definisi yang memberikan


gambaran cara mengukur suatu variabel dengan memberikan arti suatu
kegiatan. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Pembinaan rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang

dilakukan untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada

seseorang agar ia dengan secara sadar dan sukarela mau

melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan

agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan

perilaku sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.

Dalam penelitian ini terdapat tiga dasar pembinaan rohani, yaitu:

a. Pembinaan iman sebagai landasan utama dalam pembentukan

kepribadian manusia, baik secara pikiran, maupun perilaku.

Iman tersebut berfungsi sebagai gizi bagi rohani dan unsur

dalam menggerakkan perasaan dan kehendak. Sedangkan

pembinaan ibadah, bertujuan agar siswa dapat bersikap dan

bertingkah laku sesuai dengan apa yang diajarkan dan

diperintahkan oleh Tuhannya.

b. Pembinaan pemikiran berfungsi dan bertugas untuk

menyelesaikan berbagai macam kerumitan dalam pemikiran,


39

sehingga dapat menumbuhkan berbagai pengalaman yang

benar.

c. Pembinaan religiusitas perilaku siswa yaitu proses

menanamkan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai agama

menjadi bagian dalam diri orang yang bersangkutan sehingga ia

mampu untuk berperilaku dengan baik sesuai dengan ajaran

agama yang dianutnya.

2. Indikator penelitian mengenai sikap siswa dalam mengaplikasikan

nilai religius adalah:

a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Toleransi antar dan antara umat beragama.

c. Penghormatan terhadap martabat manusia.

3.6 Rencana Pengukuran Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah pengaruh pembinaan rohani sebagai

variabel bebas (X) terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius

kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP

2012/2013 sebagai variabel terikat (Y).

1. Pembinaan Rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan

untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia

dengan secara sadar dan sukarela mau melaksanakan apa yang

diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-


40

masing, sehingga sikap dan perilaku sehari-harinya mencerminkan nilai-

nilai religius.

Di mana dalam pembinaan tersebut terdapat tiga dasar, yaitu:

a. Pembinaan iman dan ibadah

b. Pembinaan pemikiran

c. Pembinaan religiusitas perilaku siswa

2. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius, di ukur melalui skor

berskala 3 berdasarkan indikator :

a. Mendukung, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan

mengaplikasikan indikator nilai religius dengan kategori baik.

b. Netral, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan mengaplikasikan

indikator nilai religius dengan kategori kurang baik.

c. Tidak mendukung, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan

mengaplikasikan indikator nilai religius dengan kategori tidak baik.

3.7 Teknik Pengumpulan Data


3.7.1 Teknik Pokok
a. Angket

Teknik angket atau kuisioner merupakan suatu teknik pengumpulan

data dengan cara membuat sejumlah pertanyaan yang diajukan

kepada responden. Dengan tujuan menjaring data dan informasi

langsung dari responden yang bersangkutan. Sasaran angket adalah

siswa kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Seputih Raman.

Diperlukan angket dalam penelitian ini karena data yang diperlukan


41

adalah skor nilai yang berupa angka-angka, untuk memperoleh data

utama dan kemudian dianalisis.

3.7.2 Teknik Penunjang

a. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data-data langsung dari

responden serta untuk melengkapi data yang belum lengkap atau

terjawab melalui angket. Wawancara secara langsung dengan

responden.

b. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data-data sekunder yang

berupa keterangan-keterangan, catatan-catatan, laporan dan

sebagainya yang ada kaitannya dengan masalah yang akan diteliti.

Pelaksanaannya penulis mencari sumber-sumber tertulis dilokasi

penelitian. Teknik ini dilakukan dengan mencatat data tertulis guna

mempelajari data yang sesuai dengan penelitian.

3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas

3.8.1 Uji Validitas

Untuk uji validitas dilihat dari logika validity dengan cara “judgement”

yaitu dengan cara mengkonsultasikan kepada beberapa orang ahli

penelitian dan tenaga pengajar. Dalam penelitian ini penulis

mengkonsultasikan kepada pembimbing skripsi yang dianggap penulis

sebagai ahli penelitian dan menyatakan angket valid.


42

3.8.2 Uji Reliabilitas

Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :


1. Menyebarkan angket untuk uji reliabilitas kepada 10 orang diluar

responden.

2. Untuk menguji reliabilitas soal angket digunakan teknik belah dua

atau genap ganjil.

3. Kemudian mengkorelasikan kelompok genap dan ganjil dengan

korelasi Product Moment, yaitu :

 x  y 
 xy  N
r 
 x   y 2 
xy
 2

 x   y 
2 2

 N  N 

Dimana :

rxy  Hubungan variabel x dan y

X = Variabel bebas

Y = Variabel terikat

N = Jumlah Responden

Kemudian di cari reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Spearman

Brown yang dikutip pada [Link] yaitu :

2rgg 
rxy 
1  rgg 

Dimana :

Rxy = Koefisien reliabilitas seluruh tes


43

Rgg = koefisien korelasi item genap ganjil

Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan tingkat reliabilitas yang

dijelaskan oleh Guilford yang dikutip pada

[Link] sebagai berikut :

0,80 – 1,00 = reliabilitas sangat tinggi

0,60 – 0,80 = reliabilitas tinggi

0,40 – 0,60 = reliabilitas sedang

0,20 – 0,40 = reliabilitas rendah

3.8.3 Hasil Uji Coba Angket

1. Analisis Validitas Angket

Guna mengetahui validitas angket, peneliti melakukan konsultasi

kepada pembimbing kedua dan pembimbing utama, setelah

dinyatakan valid maka angket tersebut dapat digunakan sebagai alat

pengukur data ini.

2. Analisis Reliabilitas Angket

Suatu ukuran akan dinyatakan baik, apabila ia memiliki reliabilitas

baik pula, yakni ketepatan suatu alat ukur untuk digunakan sebagai

alat pengumpul data. Pengujian ini menggunakan item genap dan

item ganjil, di mana hasil uji coba angket tersebut dapat kita lihat

dalam tabel berikut :


44

Tabel 3.3 Distribusi Hasil Uji Coba Angket dari 10 Orang Luar
Responden Untuk Item Ganjil (X)

Nomor Item Ganjil


No. Skor
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19
1 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 26
2 2 2 2 3 2 3 3 2 3 3 25
3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 27
4 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 24
5 2 3 2 2 2 3 3 3 2 3 25
6 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 27
7 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
8 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 26
9 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 28
10 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
∑X 266
Sumber : Analisis data uji coba angket

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui ∑X = 266 yang merupakan

penjumlahan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar

responden dengan indikator kelompok item ganjil. Penskoran dilakukan

dengan melihat setiap pernyataan yang masing-masing memiliki tiga

pilihan jawaban, yaitu skor 3 untuk jawaban yang sesuai dengan harapan,

skor 2 untuk jawaban yang mendekati harapan, dan skor 1 untuk jawaban

yang tidak sesuai dengan harapan, kemudian hasil penjumlahan ini akan

dipakai dalam tabel kerja hasil uji coba angket antara item ganjil (X)

dengan item genap (Y) untuk mengetahui besar reliabilitas dan kevalidan

instrumen penelitian. Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa

indikator hasil uji coba angket pada item soal ganjil mempunyai skor

yang bervariasi.
45

Selanjutnya hasil uji coba angket untuk lingkup item genap dapat

diketahui berdasarkan tabel berikut:

Tabel 3.4 Distribusi Hasil Uji Coba Angket dari 10 Orang Luar
Responden Untuk Item Genap (Y)

Nomor Item Genap


No. Skor
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
1 3 3 2 2 3 2 3 3 3 2 26
2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 26
4 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
5 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
6 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 26
7 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 27
8 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 28
9 3 3 3 3 3 1 3 3 2 1 25
10 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 28
∑Y 261
Sumber : Analisis data uji coba angket

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui ∑Y = 261 yang merupakan

penjumlahan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar

responden dengan indikator item genap. Selanjutnya untuk

mempermudah pengolahan data hasil uji coba angket maka hasil

perhitungan pada tabel 3.2 dan tabel 3.3 dimasukkan dalam tabel kerja

berikut ini:

Tabel 3.5 Tabel Kerja Antara Kelompok Item Ganjil (X) dengan
Kelompok Item Genap (Y)

No Resp. X Y X2 Y2 XY
1 26 26 676 676 676
2 25 25 625 625 625
3 27 26 729 676 702
4 24 25 576 625 600
5 25 25 625 625 625
6 27 26 729 676 702
7 29 27 841 729 783
46

8 26 28 676 784 728


9 28 25 784 625 700
10 29 28 841 784 812
Jumlah 266 261 7102 6825 6953
Sumber : Analisis data uji coba angket

Berdasarkan data yang diperoleh dari Tabel 4.3 yang merupakan

penggabungan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar

responden dengan indikator kelompok item ganjil (X) dengan kelompok

item genap (Y). Hasil keseluruhan dari tabel kerja uji coba angket antara

kelompok item ganjil (X) dengan kelompok item genap (Y), maka untuk

mengetahui reliabilitas angket tersebut, data yang diperoleh dikorelasikan

dengan rumus Product Moment sebagai berikut:

Diketahui berdasarkan data di atas, bahwa:

∑X = 266 ∑Y = 261 ∑XY = 6763

∑X 2 = 7102 ∑Y2 = 6825 N = 10

maka,

 x  y 
r xy   xy  N
  x  2
  y 2 
 x   y 
2 2

 N  N 

6953 -
266261
r xy
 10
 266 6825 - 2612 
2

7102 -  
 10  10 

69426
6953 -
r xy
 10
 70756  68121
7102 - 6825 - 
 10  10 
47

r xy
 6953  6942,6
7102  7075,66825  6812,1

r xy
 10,4
26,412,9

r xy
 10,4
340,56

r xy
 10,4
18,4

r xy

0,56

Selanjutnya untuk mencari reliabilitasnya digunakan rumus Spearman

Brown agar diketahui seluruh item angket dengan langkah sebagai

berikut:

r xy
 2rgg 
1  rgg

r xy
 20,56
1  0,56

r xy
 1,12
1,56

r xy
 0,71

Berdasarkan hasil perhitungan koefisien item angket yaitu dengan hasil

0,63 dengan kriteria reliabilitas tinggi, sesuai dengan kriteria reliabilitas


48

yang dikemukakan oleh Guilford dikutip pada

[Link] sebagai berikut :

0,80 – 1,00 = reliabilitas sangat tinggi

0,60 – 0,80 = reliabilitas tinggi

0,40 – 0,60 = reliabilitas sedang

0,20 – 0,40 = reliabilitas rendah

Berdasarkan kriteria di atas, maka angket yang digunakan dalam

penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas tinggi yaitu 0,71, dengan

demikian, angket ini dapat digunakan sebagai alat ukur atau instrumen

yang akan digunakan untuk mengetahui Pengaruh Pembinaan Rohani

Terhadap Sikap Siswa Dalam Mengaplikasikan Nilai Religius Di SMA

Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013.

3.9 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data

kuantitatif, yaitu dengan menguraikan kata-kata dalam kalimat serta angka-

angka secara terperinci, kemudian disimpulkan untuk mengelola dan

menganalisis data dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh

Sutrisno Hadi (1992:12) sebagai berikut :

Keterangan :

I : Interval
49

NT : Nilai Tertinggi

NR : Nilai Terendah

K : Kategori

Kemudian untuk mengetahui tingkat persentase digunakan rumus sebagai

berikut :

Keterangan :

P : Besar Persentase

F : Jumlah Alternatif jawaban seluruh item

N : Jumlah perkaitan antara item dengan responden

Kriteria persentase untuk perhitungan hasil rumus diatas sebagai berikut :

76 % - 100 % : Baik

51% - 75 % : Cukup

26% - 50 % : Sedang

0 - 25 % : Tidak Baik

Adapun pengolongan data adalah menggunakan uji Chi Kuadrat asosiasi dua

faktor (Sudjana, 2005: 280), dengan rumus sebagai berikut:

B k
Oij  Eij 2
X2 = 
i  j j i Eij

Keterangan:

X2 : Chi Kuadrat

Oij : Banyaknya data yang diharapkan terjadi


50

 j i
: Jumlah kolom

Eij : Banyaknya data hasil pengamatan


i j
: Jumlah baris

Kriteria uji sebagai berikut:

a. Jika X 2 hitung lebih besar atau sama dengan X 2 tabel dengan tarif

signifikan 5 % maka hipotesis diterima

b. Jika X 2 hitung lebih kecil atau sama dengan X 2 tabel dengan tarif

signifikan 5% maka hipotesis ditolak.

Selanjutnya data akan diuji dengan menggunakan rumus koefesien kontingen

(Sudjana, 2005:282), yaitu :

x2
C=
x2  n

Keterangan :

C : Koefesien kontingensi

X 2 : Chi Kuadrat

N : Jumlah sampel

Agar harga C yang diperoleh dapat digunakan untuk menilai derajat asosiasi

faktor-faktor, maka harga C dibandingkan dengan koefesien kontingensi

maksimum. Harga C maksimum dapat dihitung dengan menggunakan rumus

sebagai berikut :
51

m 1
C maks =
m

Keterangan:

C maks : Koefesien kontingen maksimum

M : Harga minimum antara banyak baris dan kolom dengan kriteria

I : Bilangan konstan

uji pengaruh makin dekat dengan harga C maks makin besar derajat asosiasi

antar faktor. Dengan kata lain, faktor yang satu makin berkaitan dengan

faktor yang lain (Sudjana, 2005:282).


88

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data mengenai pengaruh pembinaan rohani

terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1

Seputih Raman tahun pelajaran 2012/2013, dapat disimpulkan bahwa :

Terdapat pengaruh yang nyata antara pembinaan rohani terhadap sikap siswa

dalam mengaplikasikan nilai religius. Pembinaan rohani yang dilaksanakan

dan diikuti dengan baik akan memberikan dampak yang positif bagi siswa

khususnya dalam mengaplikasikan nilai religius seperti meningkatkan

keimanan dan ketaqwaan dalam diri siswa, meningkatkan kesadaran akan

pentingnya rasa toleransi dan penghargaan terhadap martabat manusia baik

antar maupun antara umat beragama.

5.2 Saran

Setelah peneliti menyelesaikan penelitian, membahas dan mengambil

kesimpulan hasil penelitian, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :

1. Kepada siswa agar lebih memaksimalkan pengaplikasian nilai religius

dalam kehidupan sehari-hari dengan cara aktif mengikuti berbagai macam

kegiatan pembinaan rohani yang ada di sekolah.


89

2. Kepada guru agar lebih mengintensifkan pembinaan rohani yang ada di

sekolah dengan cara bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama yang ada di

lingkungan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan pembinaan

rohani yang ada di sekolah sehingga lebih bervariasi dan siswa akan lebih

bersemangat untuk mengikuti pembinaan rohani yang ada di sekolah.

3. Bagi orang tua hendaknya juga dapat memberikan arahan dan bimbingan

serta menjadi teladan bagi anak-anaknya agar pengaplikasian nilai religius

dapat terrealisasikan dengan lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Rineka Cipta : Jakarta. 307 Hal.

Ali, Mohammad, Mohammad Asrori. 2008. Psikologi Remaja. Bumi Aksara :


Jakarata.

Annisa, Witri.2010. Metode Penelitian Korelasional. [Link]


[Link]/2010/10/31/metode-penelitian-korelasional-2/. Diakses pada
11 April 2013 pukul 11.00.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT.


Rineka Cipta : Yogyakarta. 411 Hal.
Azwar, Saifudin. 2010. Sikap Manusia Teori Dan Pengukurannya. Pustaka
Pelajar : Yogyakarta.
Bernart, Hagent. 2006. Agama Bertindak. Kanisius: Jakarta.

Darmita. 2006. Praksis Bimbingan Rohani. Kanisius : Yogyakarta.

Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Bumi Akasara : Jakarta.

Hadi, Sutrisno. 1992. Metode Research II. Yayasan Fakultas Psikologi UGM.
Yogyakarta. 425 Hal.

Jatmiko, Agung. Skripsi : Hubungan Aktivitas Pembinaan Rohani Dengan


Perubahan Sikap Siswa. Universitas Lampung : Bandar Lampung.

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Muryono, Sigit.2011. Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh. Gala Ilmu Semesta :
Yogyakarta.

Nasrul. 2012. Konsep Validitas dan Reliabilitas.


[Link]
[Link]?m=1. Diakses pada 1 April 2013 pukul 08.22.
Nugrohadi, Edwi, dkk. 2013. Menjadi Pribadi Religius Dan Humanis. Graha Ilmu
: Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama.

Sudjana. 2005. Metodologi Pendidikan. Tarsito: Bandung.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Alfabeta : Bandung.

Sumarsono, dkk.2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Gramedia : Jakarta.

Suparlan. 2010. Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah dan Apa yang


Harus Kita Lakukan. [Link] Diakses pada 20 Maret 2013
pukul 02.00.

Thontowi, A. 2012. Hakekat Religiusitas. [Link]


Diakses pada 20 Maret 2013 pukul 02.15.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS.

Visi Indonesia Tahun 2020 TAP MPR No. VII/2001 IV.

Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Wikipedia. 2010. [Link] Diakses pada 24


April 2013.

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan. Bumi Aksara : Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai