ABSTRAK
PENGARUH PEMBINAAN ROHANI TERHADAP SIKAP SISWA
DALAM MENGAPLIKASIKAN NILAI RELIGIUS DI SMAN 1
SEPUTIH RAMAN LAMPUNG TENGAH
TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Oleh
Yuni Purwaningsih
Penelitian ini bertujuan menguji dan mendeskripsikan pengaruh pembinaan rohani
terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai Religius di SMA Negeri 1
Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013. Metode penelitian
menggunakan metode deskriptif korelasional. Sampel penelitian berjumlah 49
responden. Teknik pokok pengumpulan data menggunakan angket dan analisis
data menggunakan Chi Kuadrat.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang nyata antara pembinaan
rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius dengan tingkat
keeratan pengaruh sebesar 0,56 yang berada pada kategori sedang. Hal ini berarti
bahwa dengan adanya pembinaan rohani yang baik, akan mempengaruhi sikap
siswa dalam mengaplikasikan nilai religius. Semakin baik dan kompleks
pembinaan rohani yang diberikan, maka akan semakin baik pula sikap siswa
khususnya dalam mengaplikasikan nilai religius.
Kata kunci : aplikasi nilai, pembinaan rohani, sikap religius
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan media strategis dalam meningkatkan kualitas sumber
daya manusia. Pendidikan juga merupakan salah satu sarana untuk dapat
mengembangkan potensi diri siswa agar memiliki sikap dan perilaku lebih
baik dari sebelumnya. Melalui pendidikan inilah diharapakan siswa dapat
menjadi siswa yang cerdas baik secara jasmani maupun rohani.
Salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan yaitu sekolah.
Sekolah merupakan salah satu wahana untuk mengembangkan dan mencapai
tujuan pendidikan, melalui proses pendidikan yang menyatukan antara ranah
pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai sehingga akan dapat
dihasilkan siswa yang unggul dan berkualitas, baik secara ilmu pengetahuan
maupun secara akhlak.
Sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam mengembangkan ranah
pengetahuan saja. Akan tetapi, diharapkan sekolah mampu secara integratif
memadukan pengembangan ranah pengetahuan, keterampilan serta sikap dan
nilai. Sekolah sebagai salah satu penyelenggara pendidikan dituntut mampu
untuk membentuk mental anak didiknya yang berlandaskan agama dengan
2
cara memberikan pembinaan rohani di tingkat sekolah. Sehingga, siswa tidak
hanya berhasil secara teoritis atau hanya sebatas penguasaan materi saja,
namun diharapkan mampu mengaplikasikan hasil belajar akademik dalam
sikap dan perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara.
Realitanya, banyak dijumpai sekolah yang hanya mengedepankan
pengembangan ranah pengetahuannya saja. Sedangkan ranah keterampilan,
serta sikap dan nilai kurang mendapat perhatian yang serius dari pihak
sekolah, sehingga banyak dari siswa kurang mampu untuk membentengi
dirinya dalam menangkal berbagai macam pengaruh yang tidak baik.
Misalnya, sering kali kita melihat siswa yang duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaat bahkan
melakukan aktivitas yang bersifat kesenangan sesaat. Kesenangan tersebut
biasanya bersifat pemborosan atau mengarah kepada kemaksiatan, contohnya
bermain game, play station, bermain internet, bermain handphone dan
sebagainya, sehingga melupakan waktu untuk beribadah. Selain itu sering
dijumpai siswa yang membolos pada saat jam pelajaran, bertindak kurang
sopan terhadap guru, merokok di sekolah, mencontek pada saat ulangan,
melanggar aturan sekolah, kurang menghargai teman yang berbeda agama,
kesadaran yang relatif rendah untuk menjalankan ibadah dan lain sebagainya.
Pembinaan rohani merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memberikan
pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia dengan secara sadar dan
sukarela mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai
3
dengan agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku
sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.
Nilai religius merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam pendidikan
karakter. Sebagaimana yang diketahui bahwa saat ini Indonesia sedang
gencar menerapkan sistem pendidikan karakter, guna mendidik para generasi
penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter
dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap mata
pelajaran maupun mata kuliah yang diajarkan kepada para siswa maupun
mahasiswa.
Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi
perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan
mampu memiliki dan berperilaku dengan ukuran baik dan buruk yang
didasarkan pada ketentuan agama masing-masing siswa. Sehingga siswa tidak
akan mudah terpengaruh dan mampu membentengi diri dari berbagai macam
hal yang bersifat negatif dan merugikan baik bagi dirinya maupun orang lain
di sekitarnya.
Nilai-nilai religius ini dapat menjadi faktor pendorong untuk selalu berbuat
baik, karena takut akan dosa yang akan ditanggungnya, menjadi panduan
dalam menentukan pilihan hidup sesuai dengan ajaran agama yang dianut,
mendorong, menekan dan menuntut seseorang untuk berbuat dan bertindak
sesuai dengan nilai yang bersangkutan serta berfungsi untuk menjaga diri dari
hal-hal negatif dalam suatu kelompok atau masyarakat. Adapun beberapa
4
indikator nilai religius seperti, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama.
Untuk mewujudkan indikator nilai religius tersebut, sekolah berupaya
memberikan pembinaan kepada para siswa yaitu berupa pembinaan dan
bimbingan terhadap rohani. Pembinaan rohani merupakan upaya
pembentukan diri seseorang sehingga diharapakan menjadi diri yang sesuai
dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, sehingga sikap dan perbuatan
yang dilakukan mencerminkan nilai-nilai religius.
Pembinaan rohani sangat penting untuk dilakukan guna menunjang
tercapainya misi Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah yaitu untuk
menjadikan para siswa sebagai warga negara yang cerdas, demokratis dan
religius, yaitu mereka secara konsisten mau dan mampu melestarikan dan
mengembangkan cita-cita demokrasi, serta secara bertanggung jaawab
berupaya membangun kehidupan bangsa yang cerdas.
Pembinaan rohani yang ada di SMA Negeri 1 Seputih Raman diberikan di
luar jam pelajaran sekolah dan lebih banyak mengarah pada pembinaan iman
dan ibadah siswa. Pembinaan-pembinaan tersebut diberikan dengan tujuan
untuk melatih siswa agar memiliki kesadaran untuk menjalankan perintah
Tuhan berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing siswa, menekan
masalah-masalah sikap dan perilaku siswa yang menyimpang dari aturan
agama maupun aturan sekolah. Selain itu pembinaan ini juga merupakan
upaya internalisasi nilai-nilai yang bersumber dari budaya luhur bangsa
Indonesia sehingga menjadi sistem nilai dalam diri setiap individu siswa.
5
Sistem nilai yang telah tertanam tersebut akan melandasi sikap dan perilaku
nyata sehari-hari yang akhirnya akan muncul secara konsisten dalam
menanggapi setiap situasi yang dihadapi. Sistem nilai yang ditanamkan
bersumber dari nilai-nilai agama, nilai budaya dasar, ideologi dan nilai-nilai
yang bersumber dari lingkungan. Sebagai bangsa yang religius bangsa
Indonesia memiliki sistem nilai agama yang berciri khas toleransi sosial antar
umat beragama sehingga memungkinkan masyarakat yang majemuk hidup
berdampingan dalam kerukunan dan kebersamaan. Dengan demikian
diharapkan siswa akan memiliki sikap kritis yang mendukung daya sintesa
dan daya akulturasi guna menunjang semangat persatuan, kebersamaan
keserasian dan keseimbangan.
Selain untuk mendukung budaya toleransi antar umat beragama, diharapkan
dengan adanya pembinaan rohani di sekolah akan dapat memupuk rasa kasih
sayang dan kepedulian sosial dalam diri masing-masing siswa. Sebagaimana
pendapat yang dikemukakan oleh Nurul Zuriah (2007:56) bahwa nilai religius
ditingkat Sekolah Menengah Atas dapat ditanamkan melalui keterlibatan dan
kepekaan sosial, melihat keprihatinan dan penderitaan hidup manusia, ajaran
agama manapun akan mengajak dan mendesak penganutnya untuk bertindak
baik. Sehingga dengan adanya pembinaan rohani di sekolah siswa akan lebih
mengerti mengenai hak dan kewajibannya terhadap Tuhan maupun hak dan
kewajibannya terhadap sesama manusia.
6
Adapun bentuk-bentuk pembinaan rohani yang dilakukan di SMA Negeri 1
Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah diantaranya yaitu :
1. Membaca do’a sebelum dan sesudah jam pelajaran.
2. Memberlakukan sholat dzuhur bagi seluruh siswa yang muslim.
3. Mewajibkan sholat jum’at bagi siswa muslim laki-laki dan untuk siswa
muslim perempuan diberikan pembinaan tersendiri yang dilaksanakan
pada saat jam sholat jum’at.
4. Bagi siswa yang beragama Hindu dan Katolik diberikan pembinaan pada
setiap hari sabtu, di luar jam pelajaran oleh guru agama.
5. Bagi siswa yang beragama Protestan diberikan pembinaan pada setiap
hari sabtu yang diberikan di luar jam pelajaran oleh guru agama.
6. Peringatan hari-hari besar agama.
7. Pesantren kilat bagi yang beragama muslim yang dilaksanakan pada saat
bulan Ramadhan.
Namun dalam kenyataannya masih terdapat siswa yang belum
mengaplikasikan nilai religius, berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data
bahwa pada saat tiba waktu sholat, siswa tidak melaksanakan ibadah sholat.
Kasus lain yang banyak terjadi yaitu siswa bertindak kurang sopan terhadap
guru, kurang memiliki rasa toleran terhadap teman yang berlainan agama,
melakukan tindak pencurian, dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran
seperti itulah yang banyak dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Seputih
Raman Lampung Tengah.
7
Selain pelanggaran-pelanggaran di atas, masih banyak lagi bentuk
pelanggaran yang dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Seputih Raman,
seperti membolos pada saat jam pelajaran, bahkan pada saat sekolah
memberikan waktu kepada siswa untuk melaksanakan ibadah menurut agama
dan kepercayaan masing-masing, siswa lebih banyak memilih bermain HP,
duduk-duduk di kantin sekolah, mengobrol dengan teman-temannya, maupun
melakukan kegiatan-kegiatan lain sehingga mereka tidak melaksanakan
kegiatan ibadah.
Faktor menyebabkan rendahnya sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai
religius antara lain perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, misalnya
saja siswa lebih memilih bermain HP daripada melaksakan kegiatan
pembinaan rohani ataupun melaksanakn kegiatan ibadah. Memang tidak
dapat dipungkiri bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
membawa berbagai macam dampak baik yang bersifat positif maupun
negatif. Oleh sebab itu sangatlah penting untuk mengetahui cara yang tepat
dalam menyikapi kemajuan teknologi informasi tersebut untuk
menghindarkan pengaruh dari hal-hal yang negatif yang turut dibawa oleh
kemajuan teknologi informasi.
Sikap yang diambil terhadap kemajuan teknologi informasi yakni mengetahui
dan menyesuaikan kebutuhan akan informasi yang ingin didapatkan melalui
teknologi informasi, mengetahui sejauh mana privasi yang dimiliki dan
menghargai privasi milik orang lain, menggunakan manfaat teknologi
informasi secara bijak dengan tidak menyalahi aturan hukum yang berlaku
8
dan hukum agama, merubah cara pandang supaya peduli akan kemajuan
teknologi informasi dan dampak yang ditimbulkannya. Dengan demikian
dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi akan dapat ditekan secara
maksimal.
Selain itu, di SMA Negeri 1 Seputih Raman fasilitas ibadah yang disediakan
hanya sebatas Mushola dan Pure di karenakan agama mayoritas yang dianut
oleh siswa adalah agama Islam dan agama Hindu. Sedangkan untuk agama
minoritas seperti Nasrani dan Budha tidak disediakan fasilitas berupa tempat
ibadah.
Teman sebaya juga turut mempengaruhi rendahnya sikap siswa dalam
mengaplikasikan nilai religius di sekolah. Misalnya saat tiba waktu sholat
mayoritas siswa lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan
temannya di kantin sekolah atau di kelas sehingga mereka tidak
melaksanakan ibadah sholat.
Mengingat bahwa sekolah merupakan salah satu wahana yang strategis dalam
membentuk pribadi siswa agar sesuai dengan yang diamanatkan dalam tujuan
pendidikan nasional dan sebagai wadah dalam pembinaan rohani siswa serta
sebagai wadah untuk membentuk generasi muda sebagai generasi penerus
bangsa yang berkualitas sesuai dengan nilai religius, maka masalah tersebut
diatas penting untuk dicarikan solusinya. Oleh karena itu, peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh pembinaan rohani
terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1
Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013”.
9
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka masalah yang terkait dengan aplikasi nilai
religius dapat di identifikasi sebagai berikut:
a. Fasilitas yang tersedia untuk mengaplikasikan nilai religius di sekolah.
b. Pembinaan rohani di sekolah.
c. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.
d. Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam aplikasi nilai
religius.
e. Pengaruh lingkungan teman sebaya terhadap sikap siswa dalam
mengaplikasikan nilai religius.
1.3 Pembatasan Masalah
Untuk kepentingan penelitian ini, maka masalah yang akan diteliti dibatasi
pada pembinaan rohani dan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius
di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran
2012/2013.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah “Apakah terdapat pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa
dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1 seputih Raman
Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013?”.
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menguji
pengaruh pembinaan rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan
10
nilai religius bagi siswa di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah
Tahun Pelajaran 2012/2013.
1.6 Kegunaan Penelitian
a. Secara Teoritis
Secara teoritis penelitian ini berguna untuk mengembangkan konsep-
konsep dalam ilmu pendidikan khususnya Pendidikan Kewarganegaraan
yang mengkaji tentang pendidikan moral pancasila dalam aplikasi nilai
religius siswa Sekolah Menengah Atas Seputih Raman.
b. Secara Praktis
1. Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada siswa agar
memaksimalkan aplikasi nilai religius dalam kehidupan melalui
berbagai macam pembinaan rohani sehingga mampu menjadi pribadi
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak
mulia dan dapat membawa diri dalam masyarakat.
2. Bagi guru, dapat memberikan masukan agar para guru dapat lebih
intensif lagi dalam melakukan pembinaan kepada para siswa khususnya
dalam hal pembinaan rohani.
3. Bagi masyarakat, khususnya orang tua agar dapat memberikan
pengarahan dan menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal
pengaplikasian nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.
11
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:
1. Ruang Lingkup Ilmu
Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup ilmu Pendidikan
Kewarganegaraan, khususnya dalam kajian Pendidikan Nilai dan Moral,
karena penelitian ini berguna dalam mengkaji pengaplikasian nilai karakter
siswa khususnya nilai karakter religius bagi siswa yang duduk di bangku
Sekolah Menengah Atas.
2. Ruang Lingkup Subjek Penelitian
Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kleas X dan kelas XI di
SMA Negeri 1 Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013.
3. Ruang Lingkup Objek Penelitian
Adapun ruang lingkup objek dari penelitian ini adalah pembinaan rohani
dan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.
4. Ruang Lingkup Wilayah Penelitian
Ruang lingkup wilayah dari penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Seputih
Raman Lampung Tengah.
5. Ruang Lingkup Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan sejak dikeluarkan surat izin penelitian
pendahuluan oleh Dekan FKIP Universitas Lampung sampai dengan
selesainya penelitian ini.
12
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Teori
2.1.1 Pembinaan Rohani
A. Pengertian Pembinaan Rohani
Menurut pendapat Darminta (2006:16) pembinaan rohani merupakan
usaha untuk hidup iman, sebab pada dasarnya hidup merupakan
penyerahan diri penuh kepada Tuhan.
Sedangkan menurut Hagen (2006:171), “pembinaan rohani adalah
pembinaan hati, yakni pembinaan yang bersifat menyeluruh, dapat
berlangsung hanya jika dilaksanakan terus menerus oleh semua
pihak dengan mengembangkan sekaligus daya-daya kemampuan
jasmani dan rohani anak”.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa
pembinaan rohani adalah suatu bentuk upaya yang dilakukan untuk
memberikan pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia
dengan secara sadar dan sukarela mau melaksanakan apa yang
diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan
13
masing-masing, sehingga sikap dan perilaku sehari-harinya
mencerminkan nilai-nilai religius.
B. Dasar Hukum
Undang-Undang N0. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yaitu
“Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Visi Indonesia 2020 (TAP MPR No : VII/2001 IV) yaitu
terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi,
bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan
bersih dalam penyelenggaraan negara.
Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dan Visi Indonesia
Tahun 2020 dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sarana
yang stategis dalam membentuk kepribadian siswa agar menjadi
warga negara yang cakap dalam kehidupan sehari-harinya. Siswa
mampu menjadi pribadi yang nantinya dapat mewujudkan sikap
yang religius, mandiri, kreatif, demokratis, dengan demikian akan
terwujud pula penyelenggaraan negara yang baik dan bersih selain
itu juga siswa akan mampu menjadi warga negara yang baik.
14
Adapun ciri-ciri warga negara yang baik menurut Nurul Zuriah
(2007:134), yaitu:
religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, toleran, sadar akan hak
dan kewajiban, mencintai kebenaran dan keadilan, peka terhadap
lingkungan, mandiri dan percaya diri, sederhana, terbuka dan
penuh pengertian terhadap kritik dan saran, patuh dan taat
terhadap peraturan, tidak suka berbuat onar, kreatif dan inovatif.
Dengan demikian, diharapakan sekolah mampu untuk memberikan
fasilitas kepada para siswa untuk mengaplikasikan nilai religius di
lingkungan sekolah serta memberikan arahan ataupun bimbingan
yang berkesinambungan kepada siswa untuk mengaplikasikan nilai
religius tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
C. Dasar-Dasar Pembinaan Rohani
1. Pembinaan Iman dan Ibadah
Pembinaan iman mencakup keseluruhan bagian agama baik
yang berkaitan dengan amalan hati dan anggota tubuh. Iman
juga merupakan menampakkan ketundukan syariat Allah dan
terhadap apa yang dibawa oleh Nabi, serta meyakini dan
membenarkannya dengan hati, tanpa ada kebimbangan dan
keraguan. Urgensi pembinaan keimanan lahir dari
kedudukannya sebagai sebagai landasan utama dalam
pembentukan kepribadian manusia, baik secara pikiran maupun
prilaku dan jasmani. Iman merupakan gizi bagi rohani dan unsur
dalam mengerakan perasaan dan mengarahkan kehendaknya.
Maka ketika unsur-unsur iman itu tumbuh dan tertanam dengan
15
benar dalam diri manusia maka setiap perbuatannya akan di
landasi dengan nilai-nilai keimanannya tersebut, dikutip dalam
Agung Jatmiko (2012:13).
Menurut Nurul Zuriah (2007:83), “iman adalah meyakini akan
adanya Tuhan Yang Maha Esa ini diwujudkan dengan
kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Tuhan
dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sehingga, iman dapat disimpulkan sebagai bentuk keyakinan
seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diwujudkan dalam
perilaku kesehariaanya dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, sehingga apabila
keimanan tersebut sudah tertanam dalam diri manusia dengan
benar, maka sikap dan perbuatan yang dihasilkan pun akan
mencerminkan nilai-nilai keimanannya tersebut.
Sedangkan ibadah menurut Sayyid Quthb dikutip dalam Agung
Jatmiko (2012), “ibadah merupakan penghambaan terhadap
Tuhan dalam keseluruhan urusan dunia maupun akhirat”.
Sedangkan menurut Sigit Muryono (2009:135), “ibadah adalah
penghambaan diri untuk mencari keridhoan Tuhan dan
mengharap pahala di akhirat”.
Nurul Zuriah juga mengemukakan pendapatnya mengenai
pengertian ibadah yang dibedakan menjadi dua macam yaitu
yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.
16
a. Umum
Kita mengenal pencipta dan yang diciptakan. Manusia
sebagai ciptaan Tuhan mempunyai kewajiban terhadap
Sang Pencipta dan kewajiban terhadap sesama manusia.
Kewajiban terhadap Tuhan adalah melaksanakan perintah-
Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perbuatan yang
dilakukan karena perintah-Nya disebut ibadah. Banyak
perbuatan baik yang merupakan ibadah yang bersifat
umum yang diajarkan oleh agama yang ada di dunia ini,
seperti tolong-menolong dalam kebaikan, kasih sayang,
bersikap ramah dan sopan dan lain sebagainya.
b. Khusus
Ibadah yang bersifat khusus adalah ibadah yang
pelaksanaannya mempunyai tata cara tertentu.
Dengan demikian, seseorang yang memperoleh pembinaan
dalam bentuk pembinaan ibadah, akan mampu membiasakan
dirinya untuk melakukan perbuatan yang berlandaskan pada
ajaran agama yang dianutnya, sehingga perilakunya pun akan
sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya serta tidak
melanggar batas-batas aturan agama yang dianutnya tersebut.
2. Pembinaan Pemikiran
Menurut Ahmad Izzat Rajih dikutip dalam Agung Jatmiko
(2012) mendefinisikan pembinaan pemikiran dalam dua
definisi: Pertama, definisi umum yaitu:”setiap akal yang
berusaha menyingkap dan mengungkap berbagai hal. Sosok,
sikap dan peristiwa dengan simbol-simbolnya tanpa
melakukan upaya fisik untuk menyelesaikannya”. Definisi ini
merupakan keseluruhan definisi akal, mulai dari yang paling
mudah hingga yang paling rumit.
Kedua, yang bersifat khusus, yaitu menyelesaikan kerumitan
dalam pemikiran baik dengan perkataan maupun perbuatan”.
Urgensi pembinaan pemikiran dapat dilihat dari nilai
pemikiran yang dicapai oleh akal dan pengaruh dalam
kehidupan manusia. Nilai pemikiran itu akan nampak pada
17
hasil wawasan dan paradigma yang dicapai oleh seseorang
manusia setelah mengarahkan seluruh upayanya untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kemudian itu semua
itu diikuti dengan refleksinya pengaruh pengetahuan itu bagi
kehidupan manusia, baik dalam arah maupun perilaku.
Pembinaan pemikiran penting untuk dilakukan agar wawasan
yang diperoleh akan dapat digunakan untuk menyelesaikan
berbagai macam persoalan yang dihadapi, karena pembinaan
pemikiran ini bertujuan untuk menyelesaikan kerumitan dalam
pikiran seseorang.
3. Pembinaan Religiusitas Perilaku Siswa
Pembinaan religiusitas perilaku siswa yaitu proses menanamkan
dan menumbuhkembangkan nilai-nilai agama menjadi bagian
dalam diri orang yang bersangkutan sehingga ia mampu untuk
berperilaku dengan baik sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
Pola pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah
dilaksanakan secara sadar dan tersusun secara sistematis yang
mengarahkan siswa pada sikap dan perilaku yang sesuai dengan
nilai dan ajaran agama.
Pembinaan religiusitas perilaku siswa diharapakan menerapkan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Belajar hidup dalam perbedaan
b. Membangun sikap percaya
18
c. Memelihara sikap saling pengertian
d. Menjunjung sikap saling menghargai
D. Pembinaan Rohani di SMA Negeri 1 Seputih Raman
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam pembinaan
rohani meliputi tiga dasar pembinaan. Tiga dasar pembinaan tersebut
adalah pembinaan iman dan ibadah pembinaan pemikiran dan
pembinaan religiusitas perilaku siswa. Akan tetapi bentuk
pembinaan yang ada di SMA Negeri 1 Seputih Raman belum ideal
karena hanya meliputi pembinaan ibadah saja.
Adapun bentuk pembinaan ibadah tersebut antara lain:
1. Membaca do’a sebelum dan sesudah jam pelajaran.
2. Memberlakukan sholat dzuhur bagi seluruh siswa yang
muslim.
3. Mewajibkan sholat jum’at bagi siswa muslim laki-laki dan
untuk siswa muslim perempuan diberikan pembinaan tersendiri
yang dilaksanakan pada saat jam sholat jum’at.
4. Bagi siswa yang beragama Hindu dan Katolik diberikan
pembinaan pada setiap hari sabtu, di luar jam pelajaran oleh
guru agama.
5. Bagi siswa yang beragama Protestan diberikan pembinaan
pada setiap hari sabtu yang diberikan di luar jam pelajaran oleh
guru agama.
6. Peringatan hari-hari besar agama.
19
7. Pesantren kilat bagi yang beragama muslim yang dilaksanakan
pada saat bulan Ramadhan.
2.1.2 Nilai Religius
Nilai religius merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam
pendidikan karakter. Nilai religius adalah nilai kerohanian yang
tertinggi, sifatnya mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan
dan keyakinan manusia.
Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing
religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau
kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia.
Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi
yang melekat pada diri seseorang (Thontowi, 2012).
Menurut Scheler yang dikutip dalam Wikipedia, nilai religius
memfokuskan relasi manusia yang berkomunikasi dengan Tuhan.
Manusia mendapatkan pengalaman mengagumkan yang tak
terhapuskan mengenai personalitas luhur yang digambarkan secara
metaforis dalam dogma-dogma, ritus-ritus dan mitos. Untuk memahami
nilai religius ini, hanya dengan iman dan cinta terhadap manusia dan
dunialah manusia menyadari bahwa Tuhan itu merupakan Pencipta,
Yang Maha Tahu dan Hakim bagi dunia ini. melalui nilai religius ini,
manusia berhubungan dengan Tuhannya melalui kebaktian, pujian dan
doa, kesetiaan dan kerelaan berkurban bagi Tuhan.
20
Adapun indikator masyarakat yang religius menurut TAP MPR No :
VII/2001 IV adalah:
a. Terwujudnya masyarakat yang beriman dan bertaqwa, berakhlak
mulia sehingga ajaran agama, khususnya yang bersifat universal
dan nilai-nilai luhur budaya, terutama kejujuran, dihayati dan
diamalkan dalam perilaku keseharian.
b. Terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama.
c. Terwujudnya penghormatan terhadap martabat manusia.
Sedangkan Paul Suparno, yang dikutip dalam Nurul Zuriah (2007:39),
indikator nilai religius dijabarkan sebagai berikut:
a. Mensyukuri hidup dan percaya kepada Tuhan.
b. Sikap toleran.
c. Mendalami ajaran agama.
Sehingga dalam penelitian ini, peneliti mengambil tiga indikator nilai
religius, sebagai berikut:
a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Beriman berarti percaya sepenuh hati akan adanya Tuhan, Sang
Pencipta alam semesta dan segala isinya. Jadi orang beriman
berarti mau, rela, ikhlas sepenuh hati menyerahkan diri seutuhnya
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta melaksanakan kehendakNya
sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Ketaqwaan tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan
mendasari ketaqwaan seseorang. Jika setiap orang di dalam
21
kehidupan ini memiliki ketaqwaan dan keimanan yang tinggi,
mengamalkan agamanya dengan baik dan benar, maka akan
tercapai tujuan hidup manusia, yakni bahagia lahir dan batin.
b. Toleransi antar dan antara umat beragama
Menurut Edwi Nugrohadi (2013:68), toleransi yaitu suatu
keterbukaan yang mencakup sikap, sifat dan semangat hidup
dalam kebersamaan dan perjumpaan dengan yang lain.
Toleransi atau bersikap toleran merupakan hal mutlak yang harus
ada ketika kita menjalani kehidupan dalam kebersamaan dengan
orang lain yang berbeda dengan diri kita. Toleransi antar dan
antara umat beragama menjadi sesuatu yang sangat penting untuk
kehidupan negara kita, karena berbagai keberagaman yang kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap toleran adalah
salah satu jalan yang harus ditempuh oleh semua umat beragama
dalam usahanya untuk mewujudkan kerukunan hidup umat
beragama.
c. Penghormatan terhadap martabat manusia
Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang terhormat
sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal
budi sehingga manusia mendapat tempat yang tinggi dibanding
makhluk yang lain. Ditinjau dan martabatnya, kedudukan
manusia itu lebih tinggi dan lebih terhormat dibandingkan dengan
makhluk lainnya.
22
2.1.3 Sikap Siswa Dalam Aplikasi Nilai Religius
Secara umum sikap atau ettitude adalah suatu bentuk perasaan terhadap
sesuatu yang pada akhirnya menentukan perilaku yang akan kita
lakukan. Perasaan tersebut dapat berupa suatu perasaan mendukung
atau memihak, tidak mendukung, suka, tidak suka, dsb. Munculnya
perasaan tersebut tidak dapat terlepas dari adanya stimulus yang
menghendaki adanya respon, sehingga kadangkala sikap menjadi suatu
pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan
diri dari situasi sosial yang telah terkndisikan, dalam hal ini individu
tersebut memahami, merasakan dan akhirnya mampu menentukan
perilaku terhadap objek dilingkungan sekitarnya.
Sikap dapat lebih dipahami melalui beberapa pengertian yang
dijelaskan oleh para ahli, Allport dalam Djaali (2008:114) menjelaskan,
“sikap merupakan sesuatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun
melalui pengalaman respon individu terhadap semua objek atau situasi
yang berhubungan dengan objek itu”. Sedangkan Bruno dalam
Muhibbin Syah (2003:123) mengatakan “ sikap merupakan
kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik
atau buruk terhadap orang atau objek tertentu”.
Hal ini sama dengan penjelasan mengenai sikap yang dikemukakan
oleh Chaplin dalam Mohammad Ali dan Mohammad Asrori
(2008:141):
sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan
berlangsung terus-menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi
23
dengan cara tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga, atau
persoalan tertentu. Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sikap
merupakan kecenderungan untuk bereaksi terhadap orang,
lembaga, atau peristiwa, baik secara positif maupun negatif.
Pendapat yang ketiga ini juga didukung oleh pendapat dari La Piere
dalam Azwar (2003:130), ia mengemukakan, “sikap sebagai suatu pola
perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk
menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana sikap
adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan“.
Dari keempat pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah
kecenderungan yang relatif menetap untuk memberikan reaksi terhadap
orang, lembaga atau peristiwa baik secara positif maupun negatif
sehingga mampu untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.
Travers, Gagne, dan Cronbach dalam Abu Ahmadi (2007:151)
sependapat bahwa sikap memiliki tiga komponen yang saling
berhubungan, ketiga komponen tersebut adalah :
a. Komponen kognitif berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran
yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan objek.
b. Komponen afektif yang menunjuk pada dimensi emosional dari
sikap, yaitu emosi yang berhubungan dengan objek. Objek disini
dirasakan sebagai objek yang menyenangkan atau tidak.
c. Komponen konatif yang melibatkan salah satu predisposisi untuk
bertindak terhadap objek.
24
Sikap yang melekat dalam diri seseorang memiliki fungsi didalam
kehidupan orang tersebut, Katz dalam Bimo Walgito (2003:121)
menjelaskan bahwa fungsi sikap adalah :
a. Fungsi instrumental atau penyesuaian/manfaat.
Fungsi ini berkaitan dengan sarana-tujuan. Sikap merupakan sarana
untuk mencapai tujuan. Orang selalu memandang sejauh mana objek
sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka
pencapaian tujuan.
b. Fungsi pertahanan ego.
Merupakan sikap yang diambil oleh seseorang untuk
mempertahankan egonya. Sikap ini diambil pleh seseorang pada
waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya.
c. Fungsi ekspresi nilai.
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu
untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan
mengekpresikan diri, seseorang akan mendapatkan kepuasan dengan
menunjukkan keadaan dirinya.
d. Fungsi pengetahuan.
Individunya mempunyai dorongan ingin dimengerti dengan
pengalaman-pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan.
Elemen-elemen dari pengalamannya yang tidak konsisten dengan
yang diketahui oleh individu akan disusunkembali atau diubah
sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten.
25
Sedangkan sikap religius sebagai salah satu nilai karakter
dideskripsikan oleh Suparlan (2010) sebagai sikap dan perilaku yang
patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain.
Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi
perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan
mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di
dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Pembentukan karakter
religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders
pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan serta, termasuk orang tua
dari siswa itu sendiri.
Menurut Nurul Zuriah (2007:56), nilai religius ditingkat Sekolah
Menengah Atas dapat ditanamkan melalui keterlibatan dan kepekaan
sosial, melihat keprihatinan dan penderitaan hidup manusia, ajaran
agama manapun akan mengajak dan mendesak penganutnya untuk
bertindak baik.
Kegiatan sosial kemanusiaan menjadi tempat untuk mewujudkan
religuisitas anak secara bersama dari berbagai macam agama dan
kepercayaan yang ada. Kepekaan dan keterlibatan untuk membantu
orang yang menderita merupakan panggilan bersama umat beragama.
26
Perwujudan dari ajaran agama akan menjadi nyata dalam tindakan yang
juga menyatukan semua orang dalam keprihatinan yang sama.
Perbuatan baik semacam ini merupakan amal baik kepada sesama yang
juga menjadi ajaran dan tuntunan semua agama untuk dilaksanakan
oleh para pemeluk dan penganutnya.
2.1.4 Peran Mata Pelajaran PKn dalam Mengembangkan Nilai Religius
Menurut pendapat Nurul Zuriah (2007:150), “Pendidikan
Kewarganegaraan mengemban misi untuk menjadikan para siswa
sebagai warga negara yang cerdas, demokratis dan religius, yaitu
mereka secara konsisten mau dan mampu melestarikan dan
mengembangkan cita-cita demokrasi, serta secara bertanggung jaawab
berupaya membangun kehidupan bangsa yang cerdas”.
Menurut Sumarsono,dkk (2005:6) Pendidikan Kewarganegaraan yang
berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas, penuh rasa
tanggung jawab dari peserta didik. Sikap ini disertai dengan sikap yang:
a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
menghayati nilai-nilai falsafah bangsa.
b. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat, berbangsa
dan bernegara.
c. Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai
warga negara.
d. Bersifat profesional, yang dijiwai oleh kesadaran bela negara.
27
e. Aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni
untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan negara.
Selain Pendidikan Kewarganegaraan, pendidikan Budi Pekerti dan
Pendidikan Agama juga memiliki peran yang startegis dalam
menanamkan nilai-nilai religius kepada para siswa. Budi pekerti adalah
nilai-nilai hidup manusia yang sungguh-sungguh dilaksanakan bukan
karena sekedar kebiasaan, tetapi berdasar pemahaman dan kesadaran
diri untuk menjadi baik.
Menurut draft kurikulum berbasis kompetensi yang dikutip dalam
Nurul Zuriah (2007:17), “budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia
yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma
agama, norma hukum, tata karma dan sopan santun norma budaya dan
adat istiadat masyarakat”.
Visi Pendidikan Budi Pekerti menurut Buku 1 Pedoman Umum dan
Nilai Budi Pekerti untuk Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikutip
dalam Nurul Zuriah (2007:63) yaitu untuk mewujudkan Pendidikan
Budi Pekerti sebagai bentuk pendidikan nilai, moral, etika yang
berfungsi menumbuhkembangkan individu warga negara Indonesia
yang berakhlak mulia dalam pikir, sikap, dan perbuatannya sehari-hari
yang secara kurikuler benar-benar menjiwai dan memaknai semua mata
pelajaran yang relevan serta sistem sosio-kultural dunia pendidikan
sehingga dalam diri setiap lulusan, setiap jenis, setiap jalur dan jenjang
pendidikan terpancar akhlak mulia.
28
Selain Pendidikan Budi Pekerti, pendidikan keagamaan merupakan
pendidikan wajib bersama sama dengan 12 bahan kajian lainnya. Pada
jenjang pendidikan menengah, pendidikan keagamaan juga merupakan
pendidikan wajib bersama dengan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan
Kewarganegaraan. Jadi, pendidikan agama dalam sistem pendidikan
nasional keberadaannya sangat penting.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Pendidikan Agama
adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk
sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan
ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata
pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak
mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter
dan antar umat beragama. Sedangkan tujuan dari Pendidikan Agama
yaitu untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam
memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang
menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama mempunyai peran yang
sangat strategis dalam mengembangkan nilai-nilai religius kepada para
siswa di setiap jenjang pendidikan. Dengan adanya Pendidikan
29
Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama di sekolah diharapkan dapat
memberikan kontribusi kepada para siswa dalam mengamalkan nilai-
nilai religius dalam kehidupan sehari-harinya di masyarakat.
Sementara itu, persoalan atau tantangan yang dihadapi dalam
pelaksanaan pendidikan agama sebagai suatu mata pelajaran di sekolah
saat ini adalah bagaimana agar pendidikan agama tidak hanya
mengajarkan pengetahuan tentang agama, tetapi dapat mengarahkan
anak didik untuk menjadi manusia ygn benar benar mempunyai
kualitaskeberagamaan yang kuat. Dengan demikian, materi pendidikan
agama tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat membentuk sikap
dan kepribadian peserta didik sehingga menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa dalam arti sesungguhnya, apalagi pada saat saat
pergeseran nilai nilai yang ada sebagai akibat majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi.
2.2 Kerangka Pikir
Pembinaan rohani adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memberikan
pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia dengan secara sadar dan
sukarela mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku
sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius. Bentuk pembinaan rohani
yang ideal meliputi pembinaan pemikiran, pembinaan ibadah dan pembinaan
iman.
30
Sikap siswa dalam megaplikasikan nilai religius adalah kecenderungan untuk
berperilaku yang didasari pada keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, toleransi antar dan antara umat beragama serta
penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan adanya pembinaan rohani ditingkat sekolah diharapkan akan
memberikan pengaruh yang positif terhadap sikap siswa dalam
mengaplikasikan nilai religius sehingga akan dihasilkan siswa yang
berkualitas sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
dalam skema dibawah ini:
Variabel Y:
Variabel X
Sikap Siswa Dalam
Dasar-dasar Pembinaan
Mengaplikasikan Nilai Religius:
Rohani:
a. Beriman dan bertaqwa
a. Pembinaan Iman dan
kepada Tuhan YME
Ibadah
b. Terwujudnya toleransi antar
b. Pembinaan Pemikiran
dan antara umat beragama
c. Pembinan
c. Terwujudnya penghormatan
Religiusitas Perilaku
terhadap martabat manusia
Siswa
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Peneliti
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Setiap kegiatan penelitian diperlukan suatu langkah-langkah pengkajian
dengan menggunakan metode penelitian agar tujuan penelitian dapat tercapai
seperti yang diharapkan. Metode penelitian sangat diperlukan untuk
menemukan data yang valid dan pengembangan suatu pengetahuan serta
dapat digunakan untuk menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan.
Penggunaan metode dalam suatu penelitian juga harus memperhatikan
karakteristik dan objek yang akan diteliti. Oleh karena itu,
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menggangap metode metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Menurut Faenkel
dan Wallen dalam Witri Annisa ([Link]
”metode korelasional yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih
tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak
terdapat manipulasi variabel”.korelasional dalam penelitian ini sangat tepat,
karena untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menguji pengaruh antara
pembinaan rohani dengan sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di
SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP 2012/2013.
32
3.2 Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian merupakan suatu bentuk upaya persiapan sebelum
melakukan penelitian yang sifatnya sistematis yang meliputi perencanaan,
prosedur hingga pelaksanaan teknis di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar
penelitian yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah
direncanakan. Adapun langkah-langkah yang peneliti lakukan secara garis
besar dapat dijelaskan sebagai berikut :
3.2.1 Persiapan Pengajuan Judul
Langkah awal yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah
melakukan observasi lapangan untuk mendapatkan permasalahan guna
pengajuan judul. Setelah menemukan permasalahan maka peneliti
mengajukan judul kepada Dosen Pembimbing Akademik yaitu Hermi
Yanzi S. Pd, M. Pd. dengan dua alternatif judul. Dari dua alternatif
judul yang diajukan, judul yang disetujui adalah alternatif judul
pertama. Langkah selanjutnya yaitu peneliti mengajukan judul tersebut
kepada Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan FKIP
UNILA Drs. Holilulloh M. Si untuk meminta persetujuan, sekaligus
menentukan dosen pembimbing. Pada tanggal 13 Februari 2013, judul
penelitan tentang Pengaruh Pembinaan Rohani Terhadap Sikap Siswa
Dalam Mengaplikasikan Nilai Religius Di SMA Negeri 1 Seputih
Raman Lampung Tengah disetujui dan ditetapkan dosen pembimbing
yaitu Hermiyanzi [Link], M. Pd. sebagai pembimbing kedua dengan Drs.
Irawan Suntoro M.S sebagai pembimbing utama.
33
3.2.2 Penelitian Pendahuluan
Setelah mendapatkan izin penelitian pendahuluan dari Dekan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung dengan nomor
1921/UN26/3/PL/2013, peneliti mulai melaksanakan penelitian
pendahuluan di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah.
Penelitian pendahuluan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data
yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti dalam rangka
penyusunan proposal penelitian yang ditunjang dengan beberapa
literatur dan arahan baik dari pembimbing kedua maupun pembimbing
utama. Pada tanggal 8 April 2013 proposal penelitian disetujui oleh
pembimbing kedua dan diteruskan kepada pembimbing utama untuk
mendapat bimbingan dan arahan lebih lanjut. Kemudian, pada tanggal
18 April 2013 proposal penelitian disetujui oleh pembimbing utama
untuk melaksanakan seminar proposal yang kemudian disahkan oleh
Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan.
3.2.3 Rencana Pengajuan Penelitian
Rencana penelitian diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari
pembimbing utama untuk melaksanakan seminar proposal. Seminar
proposal dilaksanakan pada tanggal 23 April 2013 dengan pembahas
utama Drs. Holilulloh M. Si dan pembahas kedua yaitu Muhammad
Mona Adha, S. Pd, M. Pd. Seminar proposal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan saran dan kritik yang membangun baik dari dosen
pembahas maupun mahasiswa peserta seminar agar penyusunan skripsi
34
lebih sempurna. Setelah kegiatan seminar proposal kemudian peneliti
melakukan perbaikan sesuai dengan saran dari hasil seminar proposal.
3.2.4 Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan Administrasi
Penelitian dilaksanakan berdasarkan Surat Izin Penelitian Dari dekan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 3047/ UN26/3/PL/2013
yang ditujukan kepada Kepala SMA Negeri 1 Seputih Raman
Lampung Tengah.
2. Penyusunan Alat Pengumpulan Data
Sesuai dengan alat pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini. maka peneliti mempersiapkan angket tertutup yang
ditujukan kepada responden yang berjumlah 49 siswa, dengan
jumlah item pertanyaan 20 soal yang terdiri dari tiga alternatif
jawaban. Dalam rangka menyusun angket tersebut, peneliti
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Membuat kisi-kisi angket tentan pengaruh pembinaan rohani
terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius.
b. Membuat item-item pertanyaan angket yang masing-masing
pertanyaan mewakili beberapa alternatif pengaruh pembinaan
rohani terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai
religius.
35
c. Melakukan konsultasi terhadap angket yang akan digunakan
dalam penelitian kepada pembimbing kedua dan pembimbing
utama guna mendapat persetujuan.
d. Setelah angket tersebut disetujui oleh pembimbing kedua dan
pembimbing utama maka angket tersebut siap disebarkan kepada
(10) siswa di luar responden, yang setelah itu angket diberikan
kepada responden yang sebenarnya.
Penyusunan angket adalah untuk mendapatkan data pokok dalam
penelitian ini untuk dianalisis. Dalam penelitian ini peneliti
menyusun angket berdasarkan data yang dibutuhkan dan yang akan
digunakan. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh erat kaitannya
dengan variabel penelitian.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan kelas XI di
SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP 2012/2013,
dengan jumlah keseluruhan 488 siswa, untuk lebih jelas jumlah
populasi dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 3.1 Jumlah populasi siswa SMA Negeri 1 Seputih Raman
Lampung Tengah TP 2012/2013
Jumlah
No. Kelas Total
Laki-laki Perempuan
1. X1 9 29 38
2. X2 22 17 39
3. X3 16 23 39
4. X4 13 24 37
36
5. X5 16 22 38
6. X6 18 21 39
7. X7 13 24 37
8. XI IPA 1 11 21 32
9. XI IPA 2 14 21 35
10. XI IPA 3 13 22 35
11. XI IPA 4 12 23 35
12. XI IPS 1 12 17 29
13. XI IPS 2 12 16 28
14. XI IPS 3 15 12 27
Total 196 292 488
Sumber : Guru mata pelajaran PKn SMA Negeri 1 Seputih Raman
3.3.2 Sampel
Apabila subjek dalam suatu penelitian kurang dari 100 orang maka
semua sampelnya digunakan, sehingga penelitian tersebut
menggunakan penelitian populasi dan apabila subjeknya lebih dari 100
orang dapat diambil antara 10-15%, 20-25%, ataupun lebih (Suharsimi
Arikunto (2010:107).
Berdasarkan teori diatas, karena jumlah populasi dalam penelitian ini
lebih dari seratus, maka sampel penelitian ini diambil 10% dari 488
siswa SMA Negeri 1 Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah dan
diperoleh sampel 48,8 dan dibulatkan menjadi 49. Jadi siswa yang
dijadikan sampel penelitian ini adalah sebanyak 49 siswa.
Tabel 3.2 Data jumlah pengambilan sampel untuk masing-masing
kelas
No. Kelas Jumlah Total
1. X 1 4
X2 4
X3 4
X4 4 28
X5 4
X6 4
X7 4
37
2. XI IPA 1 3
XI IPA 2 3
12
XI IPA 3 3
XI IPA 4 3
3. XI IPS 1 3
XI IPS 2 3 9
XI IPS 3 3
Total 49
3.4 Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembinaan rohani.
2. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap siswa dalam
mengaplikasikan nilai religius.
3.5 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional Variabel
3.5.1 Definisi Konseptual
1. Pembinaan rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang
dilakukan untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada
seseorang agar ia dengan secara sadar dan sukarela mau
melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan perilaku
sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.
2. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius adalah
kecenderungan untuk berperilaku yang didasari pada keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, toleransi antar dan
38
antara umat beragama serta penghormatan terhadap martabat
manusia.
3.5.2 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel adalah definisi yang memberikan
gambaran cara mengukur suatu variabel dengan memberikan arti suatu
kegiatan. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Pembinaan rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang
dilakukan untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada
seseorang agar ia dengan secara sadar dan sukarela mau
melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing, sehingga sikap dan
perilaku sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai religius.
Dalam penelitian ini terdapat tiga dasar pembinaan rohani, yaitu:
a. Pembinaan iman sebagai landasan utama dalam pembentukan
kepribadian manusia, baik secara pikiran, maupun perilaku.
Iman tersebut berfungsi sebagai gizi bagi rohani dan unsur
dalam menggerakkan perasaan dan kehendak. Sedangkan
pembinaan ibadah, bertujuan agar siswa dapat bersikap dan
bertingkah laku sesuai dengan apa yang diajarkan dan
diperintahkan oleh Tuhannya.
b. Pembinaan pemikiran berfungsi dan bertugas untuk
menyelesaikan berbagai macam kerumitan dalam pemikiran,
39
sehingga dapat menumbuhkan berbagai pengalaman yang
benar.
c. Pembinaan religiusitas perilaku siswa yaitu proses
menanamkan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai agama
menjadi bagian dalam diri orang yang bersangkutan sehingga ia
mampu untuk berperilaku dengan baik sesuai dengan ajaran
agama yang dianutnya.
2. Indikator penelitian mengenai sikap siswa dalam mengaplikasikan
nilai religius adalah:
a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Toleransi antar dan antara umat beragama.
c. Penghormatan terhadap martabat manusia.
3.6 Rencana Pengukuran Variabel
Variabel dalam penelitian ini adalah pengaruh pembinaan rohani sebagai
variabel bebas (X) terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius
kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah TP
2012/2013 sebagai variabel terikat (Y).
1. Pembinaan Rohani dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan
untuk memberikan pengarahan, bimbingan kepada seseorang agar ia
dengan secara sadar dan sukarela mau melaksanakan apa yang
diperintahkan oleh Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-
40
masing, sehingga sikap dan perilaku sehari-harinya mencerminkan nilai-
nilai religius.
Di mana dalam pembinaan tersebut terdapat tiga dasar, yaitu:
a. Pembinaan iman dan ibadah
b. Pembinaan pemikiran
c. Pembinaan religiusitas perilaku siswa
2. Sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius, di ukur melalui skor
berskala 3 berdasarkan indikator :
a. Mendukung, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan
mengaplikasikan indikator nilai religius dengan kategori baik.
b. Netral, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan mengaplikasikan
indikator nilai religius dengan kategori kurang baik.
c. Tidak mendukung, jika siswa mengikuti pembinaan rohani dan
mengaplikasikan indikator nilai religius dengan kategori tidak baik.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
3.7.1 Teknik Pokok
a. Angket
Teknik angket atau kuisioner merupakan suatu teknik pengumpulan
data dengan cara membuat sejumlah pertanyaan yang diajukan
kepada responden. Dengan tujuan menjaring data dan informasi
langsung dari responden yang bersangkutan. Sasaran angket adalah
siswa kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Seputih Raman.
Diperlukan angket dalam penelitian ini karena data yang diperlukan
41
adalah skor nilai yang berupa angka-angka, untuk memperoleh data
utama dan kemudian dianalisis.
3.7.2 Teknik Penunjang
a. Wawancara
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data-data langsung dari
responden serta untuk melengkapi data yang belum lengkap atau
terjawab melalui angket. Wawancara secara langsung dengan
responden.
b. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data-data sekunder yang
berupa keterangan-keterangan, catatan-catatan, laporan dan
sebagainya yang ada kaitannya dengan masalah yang akan diteliti.
Pelaksanaannya penulis mencari sumber-sumber tertulis dilokasi
penelitian. Teknik ini dilakukan dengan mencatat data tertulis guna
mempelajari data yang sesuai dengan penelitian.
3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas
3.8.1 Uji Validitas
Untuk uji validitas dilihat dari logika validity dengan cara “judgement”
yaitu dengan cara mengkonsultasikan kepada beberapa orang ahli
penelitian dan tenaga pengajar. Dalam penelitian ini penulis
mengkonsultasikan kepada pembimbing skripsi yang dianggap penulis
sebagai ahli penelitian dan menyatakan angket valid.
42
3.8.2 Uji Reliabilitas
Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1. Menyebarkan angket untuk uji reliabilitas kepada 10 orang diluar
responden.
2. Untuk menguji reliabilitas soal angket digunakan teknik belah dua
atau genap ganjil.
3. Kemudian mengkorelasikan kelompok genap dan ganjil dengan
korelasi Product Moment, yaitu :
x y
xy N
r
x y 2
xy
2
x y
2 2
N N
Dimana :
rxy Hubungan variabel x dan y
X = Variabel bebas
Y = Variabel terikat
N = Jumlah Responden
Kemudian di cari reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Spearman
Brown yang dikutip pada [Link] yaitu :
2rgg
rxy
1 rgg
Dimana :
Rxy = Koefisien reliabilitas seluruh tes
43
Rgg = koefisien korelasi item genap ganjil
Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan tingkat reliabilitas yang
dijelaskan oleh Guilford yang dikutip pada
[Link] sebagai berikut :
0,80 – 1,00 = reliabilitas sangat tinggi
0,60 – 0,80 = reliabilitas tinggi
0,40 – 0,60 = reliabilitas sedang
0,20 – 0,40 = reliabilitas rendah
3.8.3 Hasil Uji Coba Angket
1. Analisis Validitas Angket
Guna mengetahui validitas angket, peneliti melakukan konsultasi
kepada pembimbing kedua dan pembimbing utama, setelah
dinyatakan valid maka angket tersebut dapat digunakan sebagai alat
pengukur data ini.
2. Analisis Reliabilitas Angket
Suatu ukuran akan dinyatakan baik, apabila ia memiliki reliabilitas
baik pula, yakni ketepatan suatu alat ukur untuk digunakan sebagai
alat pengumpul data. Pengujian ini menggunakan item genap dan
item ganjil, di mana hasil uji coba angket tersebut dapat kita lihat
dalam tabel berikut :
44
Tabel 3.3 Distribusi Hasil Uji Coba Angket dari 10 Orang Luar
Responden Untuk Item Ganjil (X)
Nomor Item Ganjil
No. Skor
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19
1 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 26
2 2 2 2 3 2 3 3 2 3 3 25
3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 27
4 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 24
5 2 3 2 2 2 3 3 3 2 3 25
6 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 27
7 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
8 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 26
9 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 28
10 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
∑X 266
Sumber : Analisis data uji coba angket
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui ∑X = 266 yang merupakan
penjumlahan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar
responden dengan indikator kelompok item ganjil. Penskoran dilakukan
dengan melihat setiap pernyataan yang masing-masing memiliki tiga
pilihan jawaban, yaitu skor 3 untuk jawaban yang sesuai dengan harapan,
skor 2 untuk jawaban yang mendekati harapan, dan skor 1 untuk jawaban
yang tidak sesuai dengan harapan, kemudian hasil penjumlahan ini akan
dipakai dalam tabel kerja hasil uji coba angket antara item ganjil (X)
dengan item genap (Y) untuk mengetahui besar reliabilitas dan kevalidan
instrumen penelitian. Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa
indikator hasil uji coba angket pada item soal ganjil mempunyai skor
yang bervariasi.
45
Selanjutnya hasil uji coba angket untuk lingkup item genap dapat
diketahui berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3.4 Distribusi Hasil Uji Coba Angket dari 10 Orang Luar
Responden Untuk Item Genap (Y)
Nomor Item Genap
No. Skor
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
1 3 3 2 2 3 2 3 3 3 2 26
2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 26
4 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
5 3 3 2 3 3 1 3 3 3 1 25
6 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 26
7 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 27
8 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 28
9 3 3 3 3 3 1 3 3 2 1 25
10 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 28
∑Y 261
Sumber : Analisis data uji coba angket
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui ∑Y = 261 yang merupakan
penjumlahan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar
responden dengan indikator item genap. Selanjutnya untuk
mempermudah pengolahan data hasil uji coba angket maka hasil
perhitungan pada tabel 3.2 dan tabel 3.3 dimasukkan dalam tabel kerja
berikut ini:
Tabel 3.5 Tabel Kerja Antara Kelompok Item Ganjil (X) dengan
Kelompok Item Genap (Y)
No Resp. X Y X2 Y2 XY
1 26 26 676 676 676
2 25 25 625 625 625
3 27 26 729 676 702
4 24 25 576 625 600
5 25 25 625 625 625
6 27 26 729 676 702
7 29 27 841 729 783
46
8 26 28 676 784 728
9 28 25 784 625 700
10 29 28 841 784 812
Jumlah 266 261 7102 6825 6953
Sumber : Analisis data uji coba angket
Berdasarkan data yang diperoleh dari Tabel 4.3 yang merupakan
penggabungan hasil skor uji coba angket kepada 10 orang siswa di luar
responden dengan indikator kelompok item ganjil (X) dengan kelompok
item genap (Y). Hasil keseluruhan dari tabel kerja uji coba angket antara
kelompok item ganjil (X) dengan kelompok item genap (Y), maka untuk
mengetahui reliabilitas angket tersebut, data yang diperoleh dikorelasikan
dengan rumus Product Moment sebagai berikut:
Diketahui berdasarkan data di atas, bahwa:
∑X = 266 ∑Y = 261 ∑XY = 6763
∑X 2 = 7102 ∑Y2 = 6825 N = 10
maka,
x y
r xy xy N
x 2
y 2
x y
2 2
N N
6953 -
266261
r xy
10
266 6825 - 2612
2
7102 -
10 10
69426
6953 -
r xy
10
70756 68121
7102 - 6825 -
10 10
47
r xy
6953 6942,6
7102 7075,66825 6812,1
r xy
10,4
26,412,9
r xy
10,4
340,56
r xy
10,4
18,4
r xy
0,56
Selanjutnya untuk mencari reliabilitasnya digunakan rumus Spearman
Brown agar diketahui seluruh item angket dengan langkah sebagai
berikut:
r xy
2rgg
1 rgg
r xy
20,56
1 0,56
r xy
1,12
1,56
r xy
0,71
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien item angket yaitu dengan hasil
0,63 dengan kriteria reliabilitas tinggi, sesuai dengan kriteria reliabilitas
48
yang dikemukakan oleh Guilford dikutip pada
[Link] sebagai berikut :
0,80 – 1,00 = reliabilitas sangat tinggi
0,60 – 0,80 = reliabilitas tinggi
0,40 – 0,60 = reliabilitas sedang
0,20 – 0,40 = reliabilitas rendah
Berdasarkan kriteria di atas, maka angket yang digunakan dalam
penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas tinggi yaitu 0,71, dengan
demikian, angket ini dapat digunakan sebagai alat ukur atau instrumen
yang akan digunakan untuk mengetahui Pengaruh Pembinaan Rohani
Terhadap Sikap Siswa Dalam Mengaplikasikan Nilai Religius Di SMA
Negeri 1 Seputih Raman Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013.
3.9 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data
kuantitatif, yaitu dengan menguraikan kata-kata dalam kalimat serta angka-
angka secara terperinci, kemudian disimpulkan untuk mengelola dan
menganalisis data dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh
Sutrisno Hadi (1992:12) sebagai berikut :
Keterangan :
I : Interval
49
NT : Nilai Tertinggi
NR : Nilai Terendah
K : Kategori
Kemudian untuk mengetahui tingkat persentase digunakan rumus sebagai
berikut :
Keterangan :
P : Besar Persentase
F : Jumlah Alternatif jawaban seluruh item
N : Jumlah perkaitan antara item dengan responden
Kriteria persentase untuk perhitungan hasil rumus diatas sebagai berikut :
76 % - 100 % : Baik
51% - 75 % : Cukup
26% - 50 % : Sedang
0 - 25 % : Tidak Baik
Adapun pengolongan data adalah menggunakan uji Chi Kuadrat asosiasi dua
faktor (Sudjana, 2005: 280), dengan rumus sebagai berikut:
B k
Oij Eij 2
X2 =
i j j i Eij
Keterangan:
X2 : Chi Kuadrat
Oij : Banyaknya data yang diharapkan terjadi
50
j i
: Jumlah kolom
Eij : Banyaknya data hasil pengamatan
i j
: Jumlah baris
Kriteria uji sebagai berikut:
a. Jika X 2 hitung lebih besar atau sama dengan X 2 tabel dengan tarif
signifikan 5 % maka hipotesis diterima
b. Jika X 2 hitung lebih kecil atau sama dengan X 2 tabel dengan tarif
signifikan 5% maka hipotesis ditolak.
Selanjutnya data akan diuji dengan menggunakan rumus koefesien kontingen
(Sudjana, 2005:282), yaitu :
x2
C=
x2 n
Keterangan :
C : Koefesien kontingensi
X 2 : Chi Kuadrat
N : Jumlah sampel
Agar harga C yang diperoleh dapat digunakan untuk menilai derajat asosiasi
faktor-faktor, maka harga C dibandingkan dengan koefesien kontingensi
maksimum. Harga C maksimum dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
51
m 1
C maks =
m
Keterangan:
C maks : Koefesien kontingen maksimum
M : Harga minimum antara banyak baris dan kolom dengan kriteria
I : Bilangan konstan
uji pengaruh makin dekat dengan harga C maks makin besar derajat asosiasi
antar faktor. Dengan kata lain, faktor yang satu makin berkaitan dengan
faktor yang lain (Sudjana, 2005:282).
88
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data mengenai pengaruh pembinaan rohani
terhadap sikap siswa dalam mengaplikasikan nilai religius di SMA Negeri 1
Seputih Raman tahun pelajaran 2012/2013, dapat disimpulkan bahwa :
Terdapat pengaruh yang nyata antara pembinaan rohani terhadap sikap siswa
dalam mengaplikasikan nilai religius. Pembinaan rohani yang dilaksanakan
dan diikuti dengan baik akan memberikan dampak yang positif bagi siswa
khususnya dalam mengaplikasikan nilai religius seperti meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan dalam diri siswa, meningkatkan kesadaran akan
pentingnya rasa toleransi dan penghargaan terhadap martabat manusia baik
antar maupun antara umat beragama.
5.2 Saran
Setelah peneliti menyelesaikan penelitian, membahas dan mengambil
kesimpulan hasil penelitian, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :
1. Kepada siswa agar lebih memaksimalkan pengaplikasian nilai religius
dalam kehidupan sehari-hari dengan cara aktif mengikuti berbagai macam
kegiatan pembinaan rohani yang ada di sekolah.
89
2. Kepada guru agar lebih mengintensifkan pembinaan rohani yang ada di
sekolah dengan cara bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama yang ada di
lingkungan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan pembinaan
rohani yang ada di sekolah sehingga lebih bervariasi dan siswa akan lebih
bersemangat untuk mengikuti pembinaan rohani yang ada di sekolah.
3. Bagi orang tua hendaknya juga dapat memberikan arahan dan bimbingan
serta menjadi teladan bagi anak-anaknya agar pengaplikasian nilai religius
dapat terrealisasikan dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Rineka Cipta : Jakarta. 307 Hal.
Ali, Mohammad, Mohammad Asrori. 2008. Psikologi Remaja. Bumi Aksara :
Jakarata.
Annisa, Witri.2010. Metode Penelitian Korelasional. [Link]
[Link]/2010/10/31/metode-penelitian-korelasional-2/. Diakses pada
11 April 2013 pukul 11.00.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT.
Rineka Cipta : Yogyakarta. 411 Hal.
Azwar, Saifudin. 2010. Sikap Manusia Teori Dan Pengukurannya. Pustaka
Pelajar : Yogyakarta.
Bernart, Hagent. 2006. Agama Bertindak. Kanisius: Jakarta.
Darmita. 2006. Praksis Bimbingan Rohani. Kanisius : Yogyakarta.
Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Bumi Akasara : Jakarta.
Hadi, Sutrisno. 1992. Metode Research II. Yayasan Fakultas Psikologi UGM.
Yogyakarta. 425 Hal.
Jatmiko, Agung. Skripsi : Hubungan Aktivitas Pembinaan Rohani Dengan
Perubahan Sikap Siswa. Universitas Lampung : Bandar Lampung.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Muryono, Sigit.2011. Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh. Gala Ilmu Semesta :
Yogyakarta.
Nasrul. 2012. Konsep Validitas dan Reliabilitas.
[Link]
[Link]?m=1. Diakses pada 1 April 2013 pukul 08.22.
Nugrohadi, Edwi, dkk. 2013. Menjadi Pribadi Religius Dan Humanis. Graha Ilmu
: Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama.
Sudjana. 2005. Metodologi Pendidikan. Tarsito: Bandung.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Alfabeta : Bandung.
Sumarsono, dkk.2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Gramedia : Jakarta.
Suparlan. 2010. Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah dan Apa yang
Harus Kita Lakukan. [Link] Diakses pada 20 Maret 2013
pukul 02.00.
Thontowi, A. 2012. Hakekat Religiusitas. [Link]
Diakses pada 20 Maret 2013 pukul 02.15.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS.
Visi Indonesia Tahun 2020 TAP MPR No. VII/2001 IV.
Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Wikipedia. 2010. [Link] Diakses pada 24
April 2013.
Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan. Bumi Aksara : Jakarta.