0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan93 halaman

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Personal Hygiene Lansia

Lr

Diunggah oleh

Desy Purwaningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan93 halaman

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Personal Hygiene Lansia

Lr

Diunggah oleh

Desy Purwaningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LITERATURE REVIEW

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN


PERILAKU PERSONAL HYGIENE LANSIA

OLEH:

NI KADEK IDA AGUS TALIA DEWI


NIM: 16.321.2553

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKABALI
DENPASAR
2020
LITERATURE REVIEW

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN


PERILAKU PERSONAL HYGIENE LANSIA
Diajukan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali untuk memenuhi
salah satu persyaratan menyelesaikan Program Sarjana Keperawatan

OLEH:

NI KADEK IDA AGUS TALIA DEWI


NIM: 16.321.2553

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKABALI
DENPASAR
2020

i
LEMBAR PERSETUJUAN

LITERATURE REVIEW

Nama : Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi


NIM : 16.321.2553
Judul : Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Personal
Hygiene Lansia
Program Studi : Keperawatan Program Sarjana STIKes Wira Medika Bali
Telah diperiksa dan disetujui untuk mengikuti ujian literature review.

Denpasar, 28 Mei 2020


Pembimbing II

Ns. Desak Made Ari Dwi Jayanti, [Link]., [Link]


NIK. [Link]

ii
LEMBAR PENGESAHAN

LITERATURE REVIEW

Nama : Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi


NIM : 16.321.2553
Judul : Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Personal
Hygiene Lansia
Program Studi : Keperawatan Program Sarjana STIKes Wira Medika Bali
Telah dipertahankan di depan dewan penguji sebagai persyaratan untuk
memperoleh gelar sarjana dalam bidang Keperawatan pada tanggal Juni 2020.

Nama Tanda Tangan


Penguji I(Ketua) : Ns. Ni Made Nopita Wati, [Link]., [Link] …
Penguji II(Anggota) : M. Fairuz Abadi, [Link]., [Link] …
Penguji III( Anggota) : Ns. Desak Made Ari Dwi Jayanti, [Link]., [Link] …

Denpasar, Juni 2020


Mengesahkan Mengetahui
STIKes Wira Medika Bali Program Studi Keperawatan Program Sarjana
Ketua, Ketua,

Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana., MM Ns. Ni Luh Putu Dewi Puspawati, [Link]., [Link]
NIK. [Link] NIK. [Link]

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-Nya, peneliti dapat menyelesaikan literature review yang berjudul
“Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Personal Hygiene Lansia”
tepat pada waktunya.

iii
Literature review ini disusun dalam rangka pengganti skripsi karena
pandemic Covid-19 untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada Program
Studi Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali.
Pada proses penyusunan literature review ini, peneliti banyak mendapat
bimbingan dan bantuan sejak awal sampai terselesaikannya literature review ini,
untuk itu dengan segala hormat dan kerendahan hati, peneliti menyampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana, MM selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Wira Medika Bali.
2. Ns. Ni Luh Putu Dewi Puspawati, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi
Keperawatan Program Sarjana STIKes Wira Medika Bali.
3. M. Fairuz Abadi, [Link]., [Link] selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dalam penyelesaian literature review ini.
4. Ns. Desak Made Ari Dwi Jayanti [Link]., [Link] selaku pembimbing II yang
telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian literature review ini.
5. Keluarga tercinta terutama orang tua atas segala doa, cinta dan kasih sayang
serta memberikan dukungan moral dan materiil dalam penyelesaian literature
review ini.
6. Teman-teman mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika
Bali khususnya Angkatan A10-C dan semua pihak yang peneliti tidak dapat
disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan literature
review ini.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan balasan dan rahmat karunia-Nya


atas budi baik yang telah diberikan dan semoga literature review ini dapat
dilaksanakan dan bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan.
Peneliti mengharapkan kritik dan saran bersifat konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan dalam penyusunan literature review ini.

Denpasar, Mei 2020


Peneliti

iv
Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN.............................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL.............................................................................................. vii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... viii
ABSTRAK.......................................................................................................... 1
PENDAHULUAN.............................................................................................. 2

v
1. Latar Belakang Masalah.......................................................................... 2
2. Tujuan ..................................................................................................... 3

METODE............................................................................................................ 3

HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................... 5


1. Hasil Review Artikel................................................................................ 5
2. Pembahasan.............................................................................................. 7

KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................... 8


1. Kesimpulan.............................................................................................. 8
2. Saran........................................................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 9
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Hasil Review Artikel.......................................................................... 5

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Bukti Bimbingan


Lampiran 2 : Jurnal

vii
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN
PERILAKU PERSONAL HYGIENE LANSIA

The Relationship Of Knowledge Level With Elderly Personal


Hygiene Behavior
Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi1, M. Fairuz Abadi, [Link]., M.Si2,
Ns. Desak Made Ari Dwi Jayanti [Link]., M.Fis3
123
Program Studi Keperawatan Program Sarjana STIKes Wira Medika Bali
Email : taliadewi08@[Link]

ABSTRAK
Personal hygiene merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
pencegahan suatu penyakit. Untuk mendapatkan personal hygiene yang baik dan
benar dibutuhkan suatu pengetahuan yang baik. Tujuan untuk mengetahuai
hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku personal hygiene lansia. penulisan
literature review ini adalah dengan penelusuran internet dari database google
scholer melalui advanced search dengan kata kunci lansia, personal hygiene,
tingkat pengetahuan, pada tahap pencarian artikel jurnal, penelusuran dibatasi
terbitan 2016 – 2020 Dari hasil penelitian ditemukan sejumlah artikel yang
menyatakan ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku personal
hygiene lansia. kesimpulan Sebagian besar artikel yang ditemukan menyatakan
bahwa tingkat pengetahuan ada hubungannya dengan perilaku personal hygiene
lansia.

Kata kunci : lansia, personal hygiene, tingkat pengetahuan

ABSTRACT
Personal Hygiene is a very important thing in the prevention of a disease.
To get a good personal hygiene and proper need a good knowledge. The objective
to know the relationship of knowledge level with the behavior of elderly personal
hygiene. Literature writing this review is with Internet search from Google
Scholer database through advanced search with keywords elderly, personal
hygiene, knowledge level, in the search phase of journal articles, search
restricted publications 2016 – 2020 from the results of the research found a
number of articles stating there is a relationship between the level of knowledge
with the behavior of elderly personal hygiene. Conclusion Most articles are found
to state that the level of knowledge has to do with elderly personal hygiene
behaviors.

Keywords : Elderly, personal hygiene, Level of knowledge

1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan suatu bentuk
perilaku keseharian yang sangat penting untuk dilakukan karena mendukung
terciptanya kualitas hidup yang lebih baik. Setiap kelompok umur diharapkan
mampu menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini
adalah kelompok usia lanjut (lansia). Lansia merupakan kelompok usia yang telah
mengalami penurunan dari banyak aspek, yakni fisik, psikis maupun social.
Dengan adanya keterbatasan ini akan sangat mempengaruhi
kemampuan/kemandirian dalam melaksanakan PHBS. Kehidupan lansia yang
menua perlu dikelola dengan baik, dengan menekankan konsep penuaan aktif,
mempertahankan kemandirian serta kualitas hidup di sepertiga kehidupan terakhir
(WHO, 2015).
Lanjut usia merupakan periode akhir dalam kehidupan manusia dimana
seseorang mulai mengalami perubahan dalam hidupnya yang ditandai adanya
perubahan fisik, kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, serta
perubahan fisiologi yang terjadi (Maheshwari, 2016). Menurut Depkes RI (2015).
menyatakan penduduk lansia merupakan penduduk yang berumur 60 tahun atau
lebih.
World Health Organization (WHO) memperkirakan tahun 2025 jumlah
lansia di seluruh dunia akan mencapai 1,2 miliar orang yang akan terus bertambah
hingga 2 miliar orang di tahun 2050. Hasil sensus penduduk tahun 2016 jumlah
lansia di Indonesia mencapai 18.1 juta orang. Berdasarkan data populasi lansia
tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia. Diprediksi
jumlah penduduk lansia tahun 2020 meningkat menjadi 27.08 juta jiwa, pada tahu
2025 meningkat menjadi 33,69 juta jiwa, pada tahun 2030 meningkat menjadi
40,95 juta. Jumlah tersebut akan terus meningkat menjadi 48,19 juta jiwa pada
tahun 20,35 (Departemen kesehatan 2017).
Kebersihan diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan. Dengan
tubuh yang bersih meminimalkan resiko terhadap kemungkinan terjadinya suatu
penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan personal hygiene buruk.
Hal- hal yang muncul bila lansia kurang menjaga personal hygiene diantaranya
adalah badan gatal–gatal dan tubuh lebih mudah terkena penyakit.(Andarmoyo
2015)
Penelitian yang dilakukan oleh Nofrianda (2014) tentang pengetahuan dan
sikap lansia dalam melakukan personal hygiene di Panti Werdha menghasilkan
bahwa pendidikan yang rendah menyumbang 43% pengetahuan tentang personal
hygiene yang kurang baik pada lansia. Penelitian oleh Jovina (2010) tentang
pengaruh kebiasaan menggosok gigi pada lansia menyebutkan kelompok lansia
usia diatas 60 tahun mayoritas sebanyak 96, 51% mengalami karies gigi karena
kurangnya perilaku personal hygiene. Data Susenas menunjukkan
ketidakmampuan menjaga personal hygiene pada lansia kelompok umur 45-54
tahun mencapai 10,9%, umur 55-64 tahun mencapai 18,6%, umur 65-74 tahun
mencapai 34,6%, umur >75 tahun mencapai 55,9% (Kemenkes RI, 2013).
Dampak yang disebabkan dari perilaku personal hygiene yang kurang seperti,
dampak fisik dan dampak psikososial. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah
2
gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata
dan telinga dan gangguan fisik pada kuku, sedangkan dampak psikososial yang
berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman,
kebutuhan dicintai dan mencintai, aktualisasi diri menurun dan gangguan dalam
interaksi sosial (Isro’in dan Andarmoyo, 2015).
Proses menua telah berdampak pada menurun nya kemampuan dalam
merawat diri, oleh sebab itu banyak lansia yang terserang penyakit infeksi kuman
atau bakteri. Di Provinsi Bali Jumlah penduduk lansia yang berumur diatas 60
tahun 2018 mencapai 531,152 jiwa. Data lansia yang sakit karana infeksi di
Provinsi Bali pada tahun 2018 adalah 52,67% terkena penyakit kulit,31,58%
infeksi pada gusi, mulut dan saluran pencernaan, serta 15,75% penyakit telinga
(Dinas Kesehatan Provinsi Bali 2018). Kabupaten Tabanan merupakan urutan
kedua tertinggi dalam hal jumlah populasi lansia yaitu mencapai 98.268 jiwa dan
58,72% diantara mengalami infeksi jamur dan dermatitis (Dinas
KesehatanKabupaten Tabanan,2018). Hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan
cara mempraktikan personal hygiene diangap kurang penting, jika hal tersebut
dibiarkan terus menerus maka dapat mempengaruhi kesehatan secara umum
(Luhfiana, 2014).
Upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah dalam menagulangi penyakit
dermatitis dan jamur pada lansia adalah dengan memberikan informasi tentang
personal hygiene, agar lansia dapat meningkatkan pengetahuanya dan dapat
terhindar dari sumber penyakit (Departemen Sosial RI, 2010). Personal hygiene
merupakan langkah awal untuk mewujudkan kesehatan diri. Personal hygiene
dapat meminimalkan resiko terjadinya penyakit infeksi. Personal hygiene juga
diperlukan untuk kenyamanan, keamanaan, dan kesehatan seseorang (saryono dan
widianti, 2015). Berdasarkan area atau tubuh yang dirawat, personal hygiene
dibagi menjadi 5 jenis, yaitu personal hygiene pada kulit pada kuku dan kaki,
pada rambut, pada mulut dan gigi, pada alat kelamin (Isro’in dan Andarmoyo,
2015).
Personal hygiene itu sendiri sangat dipengaruhi oleh beberapa Faktor yang
diantaranya body image, praktik sosial,status sosial-ekonomi, pengetahuan,
budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, dan kondisi fisik (Suciati, 2014)
faktor yang mempengaruhi perilaku manusia salah satunya adalah seberapa besar
tingkat pengetahuan yang [Link] merupakan suatu hal yang penting
dalam mempengaruhi pikiran seseorang. Pengetahuan yang rendah pada lansia
salah satunya disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah. Rendahnya
pendidikan ini menyebabkan kurangnya pengetahuan,sehingga lansia kurang
menjaga personal hygiene. (Notoatmodjo, 2012)

2. Tujuan
Tujuan dari literature review ini adalah untuk menjelaskan hubungan
tingkat pengetahuan dengan perilaku personal hygiene lansia.

METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan literature review penelusuran
internet dari database Google Scholar atau Google cendekia melalui advanced
3
[Link] kunci yang digunakan dalam pencarian artikel yaitu lansia, personal
hygiene, tingkat pengetahuan.
Pencarian artikel dalam database ataupun naskah publikasi didapatkan 12
artikel yang diperoleh 5 artikel yang memenuhi kriteria dianalisis melalui analisis
tujuan, variabel dependen, kesesuaian topik, metode penelitian yang digunakan,
ukuran sampel, hasil dari setiap artikel, artikel dapat diakses dalam bentuk full
text dengan format pdf dan tahun publikasi 2016-2020, selanjutnya akan dianalisis
melalui extrasi data.

4
5
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Review Artikel
Tabel 1.
Hasil Review Artikel

Peneliti Judul Tujuan Karakteristik Metodelogi Hasil


Sampel Penelitian
Faradilla Hubungan Mengetahui Hubungan Lansia diUPTD Cross- sectional Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara
Safitri, Aja pengetahuan,Dukungan pengetahuan,Dukungan Rumoh Seujahtera pengetahuan dengan personal hygine pada lansia dengan
Marjulita,Fa Keluarga dan Kondisi Fisik Keluarga dan Kondisi Guenaseh Sayang nilai p value = 0,007. Ada hubungan antara dukungan
uziah dengan Personal Hygine Fisik dengan Personal Banda Aceh keluarga dengan personal hygine pada lansia dengan nilai
Andika pada Lansia Di UPTD Hygine pada Lansia Di p value = 0,005. Ada hubunganan tara kondisi fisik
(2016) Rumoh Sejahtera Geunaseh UPTD Rumoh Sejahtera dengan personal hygine pada lansia dengan nilai p value =
Sayang Ulee Kareng Kota Geunaseh Sayang Ulee 0,047. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
Banda Aceh. Journal of Kareng Kota Banda bahwa ada hubungan antara pengetahuan, dukungan
Healthcare Technology and Aceh. keluarga, dan kondisi fisik dengan personal hygiene pada
Medicine Vol. 2 No. 2 lansia di UPTD Rumoh Sajahtera Geunaseh Sayang
Oktober 2016 Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh.
UniversitasUbudiyah
Indonesia e-ISSN : 2615-
109X

Ni Wayan Hubungan Pengetahuan mengetahui Hubungan Lansia di Desa deskriptif dengan Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
Sudarmi, Dan Sikap Dengan Personal Pengetahuan Dengan Ruko Kecamatan desain cross yang berada pada kategori kurang baik sebanyak 39
Septi Leli Hygiene Pada Lanjut Usia Sikap Personal Hygiene Tobelo Utara sectional responden (62.9%). Dan sikap yang berada pada kategori
Wogono Di Desa Ruko Kecamatan Pada Lanjut Usia DI Kabupaten setujuh sebanyak 34 responden (54.8%) personal hygiene
(2019) Tobelo Utara Kabupaten Desa Ruko Kecamatan Halmahera Utara. berada pada kategori baik sebanyak 35 responden
Halmahera Utara Tobelo Utara Kabupaten (56.5%), sedangkan hasil analisis data dengan uji chi-
e-ISSN: 2655-7487, p- Halmahera Utara. square diperoleh nilai p=0,000 atau p=<0,05 yang berarti
ISSN: 2337-7356 ada hubungan anatara pengetahuan dengan sikap personal
Volume7 Nomor3 Tahun hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko Kecamatan Tobelo
2019 Utara Kabupaten Halmahera Utara.

6
Onya Hubungan Pengetahuan mengetahui hubungan Lansia yang cross sectional Hasil penelitian membuktikan bahwa pengetahuan
Rosalia De Tentang Kebersihan Diri pengetahuan tentang berumur > 60 tentang kebersihan diri sebagian besar 34 lansia
Fatima Dengan Tingkat kebersihan diri dengan tahun, lansia yang (34,52%) dikategorikan cukup dan kemandirian dalam
Lopesı), Sri Kemandirian Melakukan tingkat kemandirian bisa membaca dan melakukan aktivitas lansia sebagian besar 48 lansia
Mudayati), Aktivitas Personal Hygiene dalam melakukan menulis, lansia (73,85%) dikategorikan mandiri, sedangkan hasil
Erlisa Lansia Volume 3, Nomor 1, aktivitas pada lansia. yang masih aktif Spearman Rank didapatkan nilai p value = 0,008 < α
Candrawati) 2018 dalam kegiatan (0,05), yang berarti data yang dinyatakan signifikan dan
(2018) sosial. Hı diterima artinya semakin baik pengetahuan tentang
kebersihan diri maka semakin baik tingkat kemandirian
lansia dalam melakukan aktivitas.

Desi Pengaruh Edukasi Terhadap Mengetahui Pengaruh lansia yang tinggal Pra Eksperimen Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan
Nopitasari1, Personal Hygiene Lansia Di Edukasi Terhadap di Banjar edukasi tentang personal hygiene didapatkan 7 lansia
AA Istri Banjar Pemalukan Desa Personal Hygiene Lansia pemalukan Desa yang kurang personal hygiene, dan 36 yang cukup. Dan
Putra Peguyangan Di Banjar Pemalukan Peguyangan setelah diberikan edukasi didapatkan personal hygiene
Kusumawati Desa Peguyangan yang baik 16 lansia dan yang cukup 27 lansia. Diskusi :
2 , Ika Setya Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test
Purwanti 1 diperoleh nilai p value sebesar 0,000 artinya ada pengaruh
(2017) edukasi terhadap personal hygiene lansia di Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan.

Agus Sri Access to Personal Hygiene Mengetahui akses Lansia hostel di Experimental Hasil dan Diskusi: Akses ke kebersihan pribadi adalah
Lestari Improves the Quality of Life kebersihan pribadi Bali. kemudahan lansia untuk menggunakan fasilitas secara
Nyoman at Elderly Hostels. meningkatkan kuwalitas mandiri atau tanpa bantuan orang lain. Intervensi
Adiputra IB International Research hidup pada lansia modifikasi kamar mandi, khusus untuk manula yang
Adnyana Journal of Engineering, IT berbasis ergonomis melalui akses kebersihan pribadi
Manuaba I & Scientific Research membuatnya lebih mudah untuk melakukan aktivitas
Dewa Putu [Link] sehari hidup mandiri tanpa tergantung pada bantuan
Sutjana [Link]/irjeis/ Vol. 2 No. tenaga perawat atau orang lain, meningkatkan kesehatan
11, November 2016, pages: mereka dengan mengurangi keluhan muskuloskeletal, dan
22~28 ISSN:2454-2261 meningkatkan kualitas hidup. Gangguan muskuloskeletal
diukur menggunakan kuesioner peta tubuh nordik. Tes
pada perbedaan menunjukkan hasil yang signifikan (p *
<0,05).

7
2. Pembahasan
Lanjut usia mempunyai potensi yang besar untuk terjadi dekubitus dan
penyakit lainya karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia,
untuk itu perlu dukungan berupa personal hygiene, yang meliputi kebersihan
badan, karena kurangnya personal hygiene pada kulit bisa menimbulkan
gangguan kulit berupa infeksi kulit seperti skabies dan pedikulosis (Nugroho,
2008). Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul pada kulit menua berupa
infeksi dan gangguan pada kulit perlu dilakukan perawatan kulit seperti
menggunakan bahan pelembab kulit dan mandi (Darmojo & Martono, 2010).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan,
sosial, keluarga, dan pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta
perkembangan. Jika seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang
diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah
masalah sepele, pada hal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi
kesehatan secara umum (Tarwoto dan Wartonah, 2006).
Dampak yang disebabkan dari perilaku personal hygiene yang kurang
seperti, dampak fisik dan dampak psikososial. Gangguan fisik yang sering terjadi
adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada
mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku, sedangkan dampak psikososial
yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa
nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, aktualisasi diri menurun dan gangguan
dalam interaksi sosial (Isro’in dan Andarmoyo, 2015). Dari dampak tersebut
sangat diperlukan pengetahuan personal hygiene dimana pengetahuan adalah
kumpulan informasi yang di pahami, diperoleh dari proses belajar selama hidup
dan dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat penyesuaian diri baik terhadap
diri sendiri maupun lingkungan (Notoatmodjo, 2012). Hal ini sejalan dengan
penelitian Fradila Safitri & Aja Marjulita (2016) Hasil penelitian menunjukkan
ada hubungan antara pengetahuan dengan personal hygiene pada lansia dengan
nilai p value = 0,007. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan personal
hygine pada lansia dengan nilai p value = 0,005. Ada hubunganan antara kondisi
fisik dengan personal hygiene pada lansia dengan nilai p value = 0,047.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan, dukungan keluarga, dan kondisi fisik dengan personal hygiene pada
lansia di UPTD Rumoh Sajahtera Geunaseh Sayang Kecamatan Ulee Kareng Kota
Banda Aceh. adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan
dengan perilaku personal hygiene yaitu : faktor Pendidikan, fasilitas, dan
pekerjaan.
Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Ni Wayan Sudarmi & Septi Leli
Wogono (2019) responden sebanyak 62 orang, Hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa pengetahuan yang berada pada kategori kurang baik sebanyak 39
responden (62.9%). Dan sikap yang berada pada kategori setujuh sebanyak 34
responden (54.8%) personal hygiene berada pada kategori baik sebanyak 35
responden (56.5%), sedangkan hasil analisis data dengan uji chi-square diperoleh
nilai p=0,000 atau p=<0,05 yang berarti ada hubungan anatara pengetahuan

8
dengan sikap personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko Kecamatan Tobelo
Utara Kabupaten Halmahera Utara, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat pengetahuan dengan perilaku personal hygiene yaitu : faktor pendidikan,
fasilitas,pengalaman dan usia.
Edukasi kesehatan merupakan program kesehatan yang dirancang untuk
mempengaruhi individu, dan masyarakat, sehingga berfikir, bersikap, dan
berperilaku positif tujuannya untuk meningkatkan kesehatan, edukasi kesehatan
adalah upaya untuk memelihara, meningkatkan, dan kesehatan diri dan
lingkungan. Secara umum edukasi kesehatan bertujuan untuk mengembangkan
perilaku individu, kelompok, atau masyarakat agar bisa berperilaku hidup bersih
dan sehat, dan terhindar dari penyakit, dimana dalam pemberian edukasi personal
hygiene pada lansia dapat meningkatkan kebersihan diri dengan baik. hal ini
sejalan dengan penelitian Desi Nopitasari1, AA Istri Putra Kusumawati2, Ika Setya
Purwanti1 (2017) Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan edukasi
tentang personal hygiene didapatkan 7 lansia yang kurang personal hygiene, dan
36 yang cukup. Dan setelah diberikan edukasi didapatkan personal hygiene yang
baik 16 lansia dan yang cukup 27 lansia. Diskusi : Berdasarkan hasil uji Wilcoxon
Signed Rank Test diperoleh nilai p value sebesar 0,000 artinya ada pengaruh
edukasi terhadap personal hygiene lansia.
Hal ini di perkuat oleh penelitian Onya Rosalia De Fatima Lopes, & Sri
Mudayati (2018) Hasil penelitian membuktikan bahwa pengetahuan tentang
kebersihan diri sebagian besar 34 lansia (34,52%) dikategorikan cukup dan
kemandirian dalam melakukan aktivitas lansia sebagian besar 48 lansia (73,85%)
dikategorikan mandiri, sedangkan hasil Spearman Rank didapatkan nilai p value =
0,008 < α (0,05), yang berarti data yang dinyatakan signifikan dan Hı diterima
artinya semakin baik pengetahuan tentang kebersihan diri maka semakin baik
tingkat kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas. Diharapkan kepada lansia
untuk memiliki pengetahuan tentang kebersihan diri yang dapat mengakibatkan
lansia memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas berupa perawatan diri.
adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dengan perilaku
personal hygiene yaitu : faktor pekerjaan umur, jenis kelamin, dan Pendidikan.
Menurut pendapat penulis kurangnya pengetahuan merupakan salah satu
faktor lansia berperilaku personal hygiene yang buruk, Pengetahuan merupakan
suatu hal yang penting dalam mempengaruhi pikiran seseorang Pengetahuan yang
rendah pada lansia salah satunya disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah.
Rendahnya pendidikan ini menyebabkan kurangnya pengetahuan,sehingga lansia
kurang menjaga personal hygienenya dan cenderung menyebabkan terjadinya
penyakit kulit, Dengan pemberian informasi mengenai kebersihan diri (personal
hygiene) pada lansia dapat menambah wawasan lansia dan dapat mencegah
terjadinya penyakit kulit.

SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan
Berdasarkan hasil literatur ini adalah ada hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan perilaku Personal hygiene lansia, Kurangnya tingkat
pengetahuan pada lansia menjadi salah satu kendala dalam Merawat Diri. dari
9
hasil penelitian di atas Sebagian besar lansia pengetahuan melakukan personal
hygiene kurang. Dengan pemberian edukasi ten tang Personal Hygiene dapat
Membantu Lansia Untuk Meningkatkan perilaku Personal Hygiene. dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan lansia dengan personal hygiene lansia.

2. Saran
Bagi tenaga kesehatan perlu ditingkatkan dalam hal pemberian informasi
melalui penyuluhan tidak hanya kepada lansia saja melainkan kepada
keluarganya. Pemberian edukasi bisa diberikan melalui penyuluhan sehingga
dapat meningkatkan wawasan lansia tentang personal hygiene dan dapat merubah
perilaku perawatan diri menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Aspiani, 2014. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : Cv. Trans Info
Media.

2. [Link] Lanjut Usia Edisi 1. Yogyakarta: Graha Lilmu

3. Agus Sri Lestari, Nyoman Adiputra, IB Adnyana Manuaba I Dewa Putu


Sutjana,2016. Access to Personal Hygiene Improves the Quality of Life at
Elderly Hostels. International Research Journal of Engineering, IT &
Scientific Research [Link] Vol. 2 No. 11,
November 2016, pages: 22~28 ISSN: 2454-2261

4. Desi Nopitasari1,AA Istri Putra Kusumawati 2 , Ika Setya Purwanti 1 (2017).


Pengaruh Edukasi Terhadap Personal Hygiene Lansia Di Banjar Pemalukan
Desa Peguyangan

5. Dines Kesehatan Provinsi Bali.2018. Profil Kesehatan Provinsi Bali 2014.

6. Faradilla Safitri*1, Aja Marjulita2, Fauziah Andika3 (2016). Hubungan


pengetahuan,Dukungan Keluarga dan Kondisi Fisik dengan Personal Hygine
pada Lansia Di UPTD Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang Ulee Kareng Kota
Banda Aceh. Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2
Oktober 2016 UniversitasUbudiyah Indonesia e-ISSN : 2615-109X

7. Isro’in dan Andarmoyo. 2012. Personal Hygine : Konsep Proses dan Aplikasi
dalam Praktik Keperawatan. Yogyakarta:Graha Iimu.

8. Isro’in dan Andarmoyo. 2015. Personal Hygiene : Konsep Proses Dan


Aplikasi dalam Praktek Keperawatan. Yogyakarta:Graha Ilmu

9. Kemenkes RI. 2014. Frofil Lanjut Usia 2014.

10
10. Ni Wayan Sudarmi, & Septi Leli Wogono(2019). Hubungan Pengetahuan Dan
Sikap Dengan Personal Hygiene Pada Lanjut Usia Di Desa Ruko Kecamatan
Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara e-ISSN: 2655-7487, p-ISSN: 2337-
7356 Volume7 Nomor3.

11. Notoatmodjo. 2010. Promosi Kesehatan dan Iimu Perilaku. Jakarta : Rineka
cipta.

12. Notoatmodjo. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka cipta.

13. Notoatmodjo. 2014. Kebutuhan Dasar Manusia (KDM).Yogyakarta Muha


Medika

14. Onya Rosalia De Fatima Lopesı, Sri Mudayati, Erlisa Candrawati, (2018).
HubunganPengetahuanTentanng Kebersihan Diri Dengan Tingkat
Kemandirian Melakukan Aktivitas Personal Hygiene Lansia Volume 3,
Nomor 1.

15. WHO, 2015. Buku Profil Kesehatan

11
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

Hubungan pengetahuan, Dukungan Keluarga dan Kondisi Fisik dengan


Personal Hygine pada Lansia Di UPTD Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang
Ulee Kareng Kota Banda Aceh

Relationship between Knowledge, Family Support and Physical Condition with


Personal Hygiene in The Elderly at UPTD Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang
UleeKareng Banda Aceh

1 2 3
Faradilla Safitri* , Aja Marjulita , Fauziah Andika
1,2
Program Studi D-IV Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, UniversitasUbudiyah Indonesia, Banda Aceh, Indonesia
3
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, UniversitasUbudiyah Indonesia, Banda Aceh, Indonesia

*Korespondensi Penulis: faradilla@[Link]

Abstrak

Lanjut usia mempunyai potensi yang besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit
untuk itu perlu dukungan berupa personal hygiene. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan pengetahuan, dukungan keluarga dan kondisi fisik dengan personal
hiegine pada lansia di UPTD Rumoh Seujahtera Guenaseh Sayang Banda Aceh. Penelitian
survey yang bersifat analitik, dengan pendekatan cross sectional, sampel sebanyak 70 orang.
Penelitian dilakukan dengan cara wawancara. Analisis data secara univariat dan bivariate.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan personal hygine pada
lansia dengan nilai p value = 0,007. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan personal
hygine pada lansia dengan nilai p value = 0,005. Ada hubunganan tara kondisi fisik dengan
personal hygine pada lansiadengan nilai p value = 0,047. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa adahubungan antara pengetahuan, dukungan keluarga, dan kondisi fisik
dengan personal hygiene pada lansia di UPTD Rumoh Sajahtera Geunaseh Sayang
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh.

Kata Kunci : Personal Hiegine Lansia, pengetahuan, dukungan, kondisi fisik

Abstract

Elderly has a great potential for decubitus because skin changes for that need support in
the form of personal hygiene. The purpose of this study was to determine the relationship
between knowledge, family support and physical condition with personal hygiene in the
elderly in UPTD, Guenaseh Prosperous JusticeBanda Aceh. Analytical survey research,
with a cross sectional approach, a sample of 70. The study was conducted by interview.
Univariate and bivariate data analysis The results showed that there was a significant
relationship between knowledge with personal hygine in the elderly with a p value = 0.007.
There is a significant relationship between family support and personal hygine in the
elderly with a p value = 0.005. There is a relationship between physical conditions with
personal hygine in the elderly with a p value = 0.047. Based on the results of the study it
can be concluded that there is a relationship between knowledge, family support, and
physical condition with personal
162
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

hygiene in the elderly at RumohSajahteraGeunaseh UPTD SayangUleeKareng District,


Banda Aceh City.

Keywords: Personal Hiegine Elderly, knowledge, support, physical condition.

PENDAHULUAN
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut
usia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
sekitar 7,18%. Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih
dari 19 juta, dengan usia harapan hidup 66,2 tahun. Pada tahun 2010 jumlah lansia sebanyak
14,439. 967 jiwa (7,18%) dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 23. 992. 553
jiwa (9,77%) sementara pada tahun 2011 jumlah lansia sebesar 20 juta jiwa (9,51%), dengan
usia harapan hidup 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%),
dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Depkes, 2012).
Lanjut usia mempunyai potensi yang besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan
kulit berkaitan dengan bertambahnya usia, untuk itu perlu dukungan berupa personal hygiene,
yang meliputi kebersihan badan, karena kurangnya personal hygiene pada kulit bisa
menimbulkan gangguan kulit berupa infeksi kulit seperti skabies dan pedikulosis (Nugroho,
2008). Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul pada kulit menua berupa infeksi dan
gangguan pada kulit perlu dilakukan perawatan kulit seperti menggunakan bahan pelembab
kulit dan mandi (Darmojo & Martono, 2010).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang.
Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga,
dan pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta perkembangan. Jika seseorang
sakit biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita
menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, pada hal jika hal tersebut
dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum (Tarwoto dan Wartonah, 2006).
Menurut Kusumaninggrum (2012) Untuk meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan usia lanjut personal hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor
dasar karena individu yang mempunyai kebersihan diriyang baik dan mempunyai resiko
yang lebih rendah untuk mendapatkan penyakit. Pendidikan ibu yang tinggi akan
lebih memudahkannya memahami tentang suatu informasi. Peningkatan personal
hygiene dan
163
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan perlindungan


khusus yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Perawatan fisik diri sendiri
mencakupperawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, gigi, mulut, telinga, dan hidung.
Pemeliharan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan
dan kesehatan. Seperti pada orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri,
pada orang sakit atau tantangan fisik memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan
personal hygiene secara rutin, selain itu beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi personal hygiene (Potter & Perry, 2006).
Hasil survey awal yang dilakukan peneliti di Uptd Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh ditemukan bahwa mayoritas lansia memiliki
personal hygine tidak baik sehingga mudah jatuh sakit, hal ini dikarenakan banyak lansia
yang merasa takut sakit saat mandi, tidak adanya pengetahuan tentang kebersihan diri, serta
tidak adanya perhatian dari keluarganya, sehingga merasa tidak perlu untuk menjaga
kebersihan dirinya.

METODE PENELITIAN
Penelitian bersifat deskripti fanalitik dengan pendekatan cros sectional yaitu
pengambilan variable dependen dan independen dilakukan secara bersamaan. Pengambilan
sampel dengan teknik total populasi sebanyak 70 orang. Penelitian dilaksanakan di UPTD
Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang di Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh pada bulan Juli
tahun 2015. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan pengumpulan data dengan cara
wawancara. Analisis data menggunakanan alisis univariat dan bivariate.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Baik Tidak Baik Rendah Mendukung Tidak Mendukung Kuat Lemah
62.9 60
54.3 54.3
45.7 40
4 5.7
37.1

Personal Hygine Pengetahuan Dukungan Keluarga Kondisi Fisik

Gambar 1. Distribusi Frekuensi Personal Hygine, Pengetahuan, Dukungan Keluarga dan


Kondisi Fisik Lansia

164
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

Berdasarkan gambar 1 di atas dari 70 responden dapat dilihat bahwa distribusi


frekuensi personal hygine lansia, yang memiliki personal hygine baik sebesar 45.7%,
sedangkan lansia yang memiliki personal hygine tidak baik sebesar 54.3%.
Pengetahuan lansiayang memiliki pengetahuan yang tinggi sebesar 62.9%, sedangkan lansia
yang memiliki pengetahuan rendah sebesar 37.1%. Dukungan keluarga, lansia yang
mendapatkan dukungan keluarga sebesar 40%, sedangkan 60% lansia tidak mendapatkan
dukungan dari keluarganya. Kondisi fisik lansia, yang memiliki kondisi fisik masih kuat
sebesar 54.3%, sedangkan 45.7% memiliki kondisi fisik yang lemah.

Tabel 1. Hubungan Pengetahuan dengan Personal Hygine Lansia

Personal Hygine
Total
No Pengetahuan Baik Tidak Baik P-value
F % f % f %
1 Tinggi 26 59,1 18 40,9 44 100 0,007
2 Rendah 6 23,1 20 76,9 26 100
Total 32 45,7 38 54,3 70 100

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa lansia yang berpengetahuan rendah memiliki
personal hygine yang tidak baik pula yaitu sebesar 76,9 %, Dibandingkan dengan lansia
yang berpengetahuan rendah memiliki personal hygine yang baik yaitu sebesar 23,1%.
Hasil uji statistik didapat p value = 0,007 (p<0,05) dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan lansia dengan personal hygine pada
lansia.

Tabel 2. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Personal Hygine pada Lansia

Personal Hygine
Dukungan Total
No Baik Tidak Baik P-value
Keluarga
F % f % f %
1 Mendukung 19 67,9 9 32,1 28 100
2 Tidak mendukung 13 31 29 69 42 100 0,005

Total 32 45,7 38 54,3 70 100

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa lansia yang personal hygine yang tidak baik
yaitu sebesar 69%, dibandingkan dengan lansia yang tidak mendapatkan dukungan dari
keluarga yang memiliki personal hygine baik sebesar 31%. Hasil uji statistik didapat p
value
165
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

= 0,005 (p<0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara dukungan keluarga dengan personal hygine pada lansia.

Tabel 3. Hubungan Kondisi Fisik dengan Personal Hygine pada Lansia

Personal Hygine
Total
No Kondisi Fisik Baik Tidak Baik P-value
F % f % f %
1 Kuat 22 57,9 16 42,1 38 100 0,047
2 Lemah 10 31,2 22 68,8 32 100
Total 32 45,7 38 54,3 70 100

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa lansia yang kondisi fisiknya lemah memiliki
personal hygine yang tidak baik yaitu sebesar 68.8%, dibandingkan dengan lansia
yang kondisi fisiknya lemah memiliki personal hygine yang baik sebesar 31. 2%. Hasil uji
statistik didapat p value = 0,047 (p < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara kondisi fisik dengan personal hygine pada lansia.

Pembahasan
1. Hubungan Pengetahuan dengan Personal Hygine Lansia
Pengetahuan tentang pentingnya higiene dan implikasinya bagi kesehatan
mempengaruhi praktik higiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidak cukup,
harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri. perawatan diri. Seringkali,
pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong lansia untuk meningkatkan higiene.
Misalnya, ketika lansia diabetes sadar akan efek diabetes pada sirkulasi di kaki, mereka
jauh lebih menyukai belajar teknik perawatan kaki yang tepat. Pembelajaran praktik
tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mengurangi risiko kesehatan dapat
memotivasi seseorang untuk memenuhi perawatan yang perlu (Potter, 2005).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan personal hygine yang berarti semakin tinggi tingkat
pengetahuan lansia, maka akan semakin baik pemenuhan personal hygine pada lansia
tersebut, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, dibutuhkan tingkat pengetahuan yang
tinggi agar lansia dalam berperilaku menerapkan personal hygine dapat dilakukan secara
baik dan benar.

166
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

Dari hasil penelitian ini juga didapatkan lansia yang memiliki pengetahuan tinggi,
namun personal hygine tidak baik yaitu sebesar 40,9 %. Hal ini dapat terjadi karena
kondisi fisik lansia yang menurun, menjadikan lansia tidak dapat melakukan personal
hygine dengan baik. Pengetahuan yang rendah pada lansia dapat disebabkan oleh
pendidikan yang masih rendah. Rendahnya pendidikan ini menjadikan pengetahuan
yang kurang sehingga lansia kurang mengerti dalam perilaku personal hygine secara
baik dan benar. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya dapat
ditambahkan variable pendidikan untuk dapat mengetahui secara pasti factor perawatan
personal hygine pada lansia.

2. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Personal Hygine Lansia


Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herning Krisfi
Oktaviana (2010) dengan judul “Gambaran perbedaan personal hygiene pada lansia yang
tinggal di rumah dikelurahan mangkujayan RT 03/RW 02 Dengan yang tinggal di panti di
UPT pelayanan lanjut usia kabupaten ponorogo” diperoleh kesimpulan bahwa sebagain
lansia yang tinggal dirumah personal hygienenya bersih, sedangkan lansia yang tinggal
di panti sebagain besar personal hygienenya masih kotor.
Dukungan keluarga menurut Suprajitno (2010) adalah sikap, tindakan, dan
penerimaan keluarga terhadap anggotanya atau penderita yang sakit. Dukungan dari
keluarga bertujuan untuk membagi beban juga memberi dukungan informasional dengan
membuat penguatan terhadap pola-pola positif dalam upaya pencari pertolongan.
Sesungguhnya dukungan keluarga secara keseluruhan mempunyai pengaruh yang amat
besar terhadap kesehatan lansia, baik kesehatan fisik maupun mental. Segala potensi yang
dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan dipertahankan bahkan
diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup lansia yang optimal. Personal hygine
merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para anggota keluarga karena
apabila lansia dapat menjaga dan melakukan perawatan personal hygine dengan baik, maka
lansia tersebut sapat terhindar dari beberapa penyakit tertentu. Lansia yang memiliki
kebersihan diri yang baik memungkinkan mereka bisa menikmati masa tuanya dengan
penuh makna, membahagiakan berguna dan berkualitas. Bila dukungan keluarga menurun
dapat menyebabkan kualitas hidup lansia menurun pula dan akhirnya akan mengakibatkan
angka kesakitan pada lansia meningkat dan angka kematiannya meningkat juga.

167
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

3. Hubungan Kondisi Fisik dengan Personal Hygine Lansia


Hasil penelitian ini sesuai dalam penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2010),
tentang “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi personal hygiene Pada Lansia Di Perumahan
Sinar Waluyo Semarang” dari hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square didapat
nilai p value = 0,004 (p < 0,05) artinya ada hubungan antara kondisi fisik dengan personal
hygiene.
Menurut Potter & Perry (2006), Lansia dengan keterbatasan fisik biasanya tidak
memiliki energi dan ketangkasan untuk melakukan higiene. Contohnya: pada lansia dengan
traksi atau gips, atau terpasang infus intravena. Penyakit dengan rasa nyeri membatasi
ketangkasandan rentang gerak. Lansia di bawah efek sedasi tidak memiliki koordinasi
mental untuk melakukan perawatan diri. Penyakit kronis (jantung, kanker, neurologis,
psikiatrik) sering melelahkan lansia. Genggaman yang melemah akibat artritis, stroke, atau
kelainan otot menghambat lansia untuk menggunakan sikat gigi, handuk basah, atau sisir.
Kehidupan lansia yang sudah banyak mendapatkan permasalahan baik masalah
keterbatasan gerak fisik dapat mempengaruhi tindakan lansia dalam melakukan pemenuhan
personal hygiene. Menurut Tarwoto & Wartonah (2006) salah faktor yang mempengaruhi
personal hygienepada lansia adalah kondisi fisik (Physical Condotion). Kondisi fisik
individu yang mengalami penyakit tertentu atau kecacatan akan mengalami kesulitan
dalam melakuakan praktek kebersihan diri. Bahkan kadang memerlukan bantuan orang lain
untuk melaksanakan perawatan kebersihan diri.
Pada saat dilakukan penelitian didapat pula hasil yang menyatakan bahwa 31.2%
lansia yang kondisi fisiknya lemah namun personal hyginenya baik. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh pengetahuan lansia dan dukungan keluarga yang diberikan kepada lansia
sehingga personal hygine pada lansia dapat terjaga dengan baik. Pemeliharaan personal
hygine pada lansia sangat diperlukan untuk kenyamanan, keamanan dan kesehatan lansia
tersebut. Lansia yang sehat mampu memenuhi kebutuhan perawatan personal hygine
sendiri, namun sebaliknya apabila lansia tersebut mengalami gangguan kondisi fisik
dikarenakan oleh penyakit tertentu maka diperlukan bantuan untuk melakukan perawatan
personal hygine secara rutin.

168
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan, dukungan keluarga dan kondisi fisik dengan personal hygine pada lansia
di UPTD Rumoeh Seujahtera Geunaseh Sayang Ulee Kareng Banda Aceh.

SARAN
Diharapkan pemerintah daerah dapat mengagendakan bantuan fisik di UPTD Rumoeh
Seujahtera Geunaseh Sayang Ulee Kareng Banda Aceh sehingga para penghuni lebih dapat
melakukan personal hygiene yang lebih baik. Diharapkan petugas dapat lebih berperan aktif
dalam memberikan penerangan kepada penghuni panti mengenai pentingnya personal hygiene
yang diharapkan para lansia tetap menjaga kesehatannya. Diharapkan lansia untuk mau
berperilaku dalam menjaga kesehatan, termasuk perperilaku dalam personal hygiene seperti
menggosok gigi secara teratur, berpakaian yang bersih dan rapi. Diharapkan peneliti lain
dapat mengembangkan hasil dari penelitian ini sehingga dapat lebih menggambarkan kondisi
atau keadaan lansia dalam memelihara kebersihan diri secara lebih lengkap dan variatif.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih kepada Universitas Ubudiyah Indonesia yang telah memberikan
dukungan financial dalam penelitian ini dan ucapan terima kasih kepada Kepala UPTD
Rumoh Geunaseh Sayang Ulee Kareng Kota Banda Aceh beserta jajarannya yang telah
memberikan izin penelitian dan ucapan terima kasih kepada para lansia yang telah bersedia
menjadi responden selama penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Darmojo & Martono. (2010). Buku Ajar Geriarti,Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Herning Krisfi Oktaviana. (2010). Dengan judul “Gambaran perbedaan personal hygiene pada
lansia yang tinggal di rumah dikelurahan mangkujayan RT 03/RW 02 Dengan yang
tinggal di panti di UPT pelayanan lanjut usia kabupaten ponorogo. Diunduh dari
[Link]
Hidayat, A. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta Salemba
Medika.
Kusumaningrum, R. (2012). Personal Hygiene, : Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

169
Journal of Healthcare Technology and Medicine Vol. 2 No. 2 Oktober 2016
Universitas Ubudiyah Indonesia
e-ISSN : 2615-109X

Potter, P. A. ,& Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental :konsep, proses, dan praktik.
Jakarta : EGC56
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses,
dan Praktik. Volume [Link] 4. Jakarta : EGC.
Suprajitno, (2010). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC
Tarwoto dan Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi
Ketiga. Jakarta: Salemba Medika.

170
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERSONAL


HYGIENE PADA LANJUT USIA DI DESA RUKO KECAMATAN
TOBELO UTARA KABUPATEN HALMAHERA UTARA

Ni Wayan Sudarmi ¹, Septi Leli Wogono2


1,2
Fakultas Keperawatan Universitas Pembangunan Indonesia Manado

E-mail coressponding author:


[Link]@[Link]

ABSTRAK

Merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan,


baik secara Fisik maupun psikologis .Kebersihan perorangan suatu tindakan
untuk memelihara kebersihan dan kesehatan untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Personal
Hygiene Pada Lanjut Usia DI Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten
Halmahera Utara. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan desain cross sectional
Study unntuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan sikap personal hygiene pada
lanjut usia. Sempel pada penelitian ini sebanyak 62 orang pad alanju tusia di Desa
Ruko Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara. Analisis data menggunakan
analisis univariat untuk melihat pengetahuan dan sikap personal hygiene pada lanjut usia.
Analisis bivariate dengan ujichi-square untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan
sikap personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara
Kabupaten Halmahera Utara. Hasi lpenelitian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
yang berada pada kategori kurang baik sebanyak 39 responden (62.9%). Dan sikap
yang berada pada kategor isetujuh sebanyak 34 responden (54.8%) personal hygiene
berada pada kategori baik sebanyak 35 responden (56.5%), sedangkan hasil analisis
data dengan uji chi-square diperoleh nilai p=0,000 atau p=<0,05 yang berarti ada hubungan
anatara pengetahuan dengan sikap personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko
Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara.
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap Personal Hygiene Pada Lanjut Usai

ABSTRACT

It Is self care that is done to maintain health both physically and psychologically
personal hygiene is an action to maintain cleanliness and health for physical and
psychological well being The purpose of this study was to elderly people in the commercial
village of Tobelodistrict,Nort Halmahera Regency. This research is a descriptive study with
Cross Sectional Study desigu to analise the relationshop of knowledge with the attitude of
personal hygiene in elderly people in the commercial village of Tobelo district Nort
Halmahera Regency. Data analysis used univariate analysis to see personal hygiene
knowledge and attitudes in old age, Bi variate analysis with chi square test to analyze the
relationship of knowledge with personal hygiene attitudes in the elderly in Ruko Village
Tobelo District Nort Halmahera Regency. The results of the study can be concluded that
knowledge in the poor category is 19 respondents (62.9%).And attitudes that
are in the seventh category as many as 34 respondents (54.1%) personal hygiene are in good
category as many as 35 respondents (56.5%)while the results of the analysis with thechi
square test obtained a value of p=0,000 or p=0,05 which means that there is a relationship
between knowledge and personal hygiene attitudes in the elderly in RukoVilage,Tobelo
District, Nort Halmahera Regency.
Keywords: Knowledge, Per sonal Hygiene Attitude in the Elderly
Journal Of Community and Emergency 332
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

PENDAHULUAN
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara
tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya
menjadi tua.
World Health Organisation (WHO, 2011). Lansia merupakan seseorang yang
telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada
manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya.
Kelompok yangdikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging
Process atau proses penuaan. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang
ditandai dengan tahapantahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh,
yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit
yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan
pembuluh darah,pernafasan,pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut
disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur
dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya
mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan
berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan
berpengaruh pada activity of daily living Jumlah lansia di Indonesia mencapai
13,73 juta jiwa atau 8,50% dari penduduk Indonesia tahun 2015.
Angka beban tanggungan Indonesia sebesar 48,63% artinya setiap 100 orang
penduduk yang masih produktif akan menanggung 48 orang yang tidak produktif di
Indonesia. Sedangkan angka beban tanggungan di propinsi DI Yogyakarta sebesar
45,05% (Kemenkes RI,2015). Proporsi lansia di Indonesia telah mencapai 8,50% dari
keseluruhan penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara
dengan struktur penduduk menuju [Link] propinsi di Indonesia dengan proporsi
lansia terbesar adalah DI Yogyakarta (13,40%), Jawa Tengah (11,80%), Jawa Timur
(11,50%), dan Bali (10,30%) (BPS, 2015). (Fatmah, 2013)
Berdasarkan hasil SP2010, secara umum jumlah lansia di Provinsi Maluku
Utara sebanyak 49.664 orangatau 4,78 persen dari keseluruhan penduduk. Jumlah
penduduk lansia laki-laki (24.869 orang) lebih banyak dari jumlah
penduduk lansia perempuan(24.795 orang). Sebarannya jauh lebih banyak di daerah
perdesaan (37.721 orang) dibandingkan di daerah perkotaan (11.943 orang).
Jika dilihat menurut kelompok umur, jumlah penduduk lansia terbagi menjadi
lansia muda (60-69 tahun)
Journal Of Community and Emergency 333
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

sebanyak orang 32.210 lansia menengah (70-79 tahun) sebanyak 13.290 orang, dan
lansia tua (80 tahun ke atas) sebanyak 4.164 orang. Sementara itu, penduduk pra
lansia yaitu kelompok umur 45-54 tahun dan 55-59 tahun masing-masing sebanyak
87.708 orang dan 28.352 orang (Fatmah, 2013).
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di Desa Ruko Kecamatan
Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara ada beberapa lansia yang kurang
menjaga kebersihan diri.
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas maka peneliti
tertarik untuk megangkat judul tentang Hubungan Pegetahuan Dan Sikap dengan
Personal Hygiene Pada Lanjut Usia Di Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara
Kabupaten Halmahera Utara.

METODE
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
cross sectional study. Peneliti menggunakan desain penelitian ini karena rancangan
penelitian dengan melakukan pengukuran bersamaan (Notoatmodjo, 2010) yaitu
Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikapdengan personal hygiene pada lanjut usia
di Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara waktu penelitian
telah di laksanakan pada bulan Oktober sampai bulan November 2018 Populasi,
dalam penelitian ini keseluruhan jumlah yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempuyai karakterristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di teliti dan
kemudian di tarik kesimpulannya.
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi
yang di gunakan untuk penelitian (Sujarweni 2014) Analisa univariat adalah analisa
yang di lakukan meganalisis variabel dari hasil penelitian analisi univariat berfungsi
untuk meringkas kumpulan data hasil pegukuran sedemikian rupa sehingga kumpulan
data trsebut berubah menjadi informasi yang berguna dan pengolahan datanya hanya
satu variabel saja sehingga di namakan univariat. Untuk melihat tampilan distribusi
variabel independen dan variabel dependen.
Analisa bivariat adalah analisa yang di lakukan lebih dari dua variabel
analisa bivariat berfungsi untuk mengetahui hubungan antara variabel. Dua variabel
tersebut di aduh misalnya dengan mencari hubungan antara variabel x
terhadap y.
Journal Of Community and Emergency 334
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

menggunakan Uji C hi-Squar dengan nilai P=Value ≤0,05 dengan tingkat kemaknaan
95%.
Etika Penelitian: Lembar Persetujuan (Informed Consent) Sebelum lembar
persetujuan diberikan kepada subjek penelitian, peneliti menjelaskan maksud dan
tujuan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, responden juga harus diberi
penjelasan bahwa responden bebes dari eksploitasi daninformasi yang didapatkan
tidak digunaakan untuk hal-hal yang merugikan responden dalam bentuk apapun.
Jika subjek bersedia diteliti maka harus menanda tangani lembar persetujuan, jika
subjek menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
Tanpa Nama (Anonimity) Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden,
peneliti tidak akan mencantum nama subjek pada lembar pengumpulan data atau
kuesioner yang diisi oleh subjek, lembar tersebut hanya diberi kode
tertentu. Kerahasiaan (Confidentially) Informasi yang
diberikan oleh responden akan dijamin kerahasiaannya
karna peneliti hanya menggunakan kelompok data sesuai kebutuhan dalam
penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan tabel 5.1 dari 62 responden (100%), umur responden yang


terbanyak terdapat pada kelompok umur 46-59 tahun yaitu 22 responden (35.5%),
dan yang berumur 75-90 tahun sebanyak 19 responden (30.6%).

Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Journal Of Community and Emergency 335
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Berdasarkan tabel 5.2 di atas menujukan responden dengan status jenis kelamin
yang terbanyak Laki-laki yaitu 35 responden (61.0%).

Tabel 5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tabel 5.3 di atas menujukan responden dengan tingkat pendidikan


yang terbanyak yaitu pendidikan SMP sebanyak 27 responden atau (43.5%).

Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Berdasarkan tabel 5.4 di atas menujukan responden dengan status pekerjaan


yang terbanyak yaitu Swasta sebanyak 29 responden atau (46.8%).

Tabel 5.5. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetauan

Journal Of Community and Emergency 336


Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Berdasarkan tabel 5.5 dari 62 responden mengatakan bahwa pengetahuan pada


lanjut usia yaitu (62.9%) atau sebanyak 39 responden dan kurangnya pengetahuan
pada lanjut usia 23 responden (37.1%)

Tabel 5.6. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap

Berdasarkan tabel 5.6. Pengkategorian 29 responden (46.8%) berada pada


kategori setuju, dan yang menyatakan peran pada kategori kurang setuju sebanyak
34 responden (54.1%).

Tabel 5.7. Distribusi Responden Berdasarkan Personal Hygiene

Berdasarkan tabel 5.7 dari 62 responden mengatakan bahwa personal hygiene


pada lanjut usia baik yaitu (53.2%) atau sebanyak 33 responden dan kurangnya
personal hygiene pada lanjut usia 29 responden (53.2%)

Tabel. 5.8. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Personal Hygiene


Pada Lanjut Usia

Journal Of Community and Emergency 337


Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Berdasarkan Tabel. 5.8. Menujukan bahwa dari 62 responden (100%),


pengetahuan dengan sikap pada lanjut usia yang kurang baik sebanyak 39 responden
(62.9%), dan pengetahuan dengan personal hygiene pada lanjut usia yang baik
33 responden (53.2%).
Variabel pengetahuan dengan personal hygienepada lanjut usia ini memiliki
hubungan yang sikgnifikan (P=0,000) yaitu lebih kecil dari nilai α 0,005.
Selanjutnya diperoleh nilai Odds Ratio (OR)56.000 (6.709-467.434) yang
berarti responden dengan pengetahuan baik mempuyai peluang 56 kali
melakukan personal hygiene di bandingkan responden dengan pengetahuanyang
kurang baik.

Tabel. 5.9. Hubungan Antara Sikap Dengan Personal Hygiene Pada Lanjut Usia

Berdasarkan Tabel. 5.8. Menujukan bahwa dari 62 responden (100%), sikap


dengan persional hygiene pada lanjut usia yang kurang baik sebanyak 34
responden (54.1%), dan sikap dengan personal hygiene pada lanjut usia yang baik
33 responden (53.2%).
Journal Of Community and Emergency 338
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Variabel sikap dengan personal hygiene pada lanjut usia ini memiliki hubungan
yang sikgnifikan (P=0,000) yaitu lebih kecil dari nilai α 0,005. Selanjutnya
diperoleh nilai Odds Ratio (OR) 6.286 (CI 2.057-19.203) yang berarti responden
dengan sikap baik mempuyai peluang 6 kali melakukan personal hygiene di
bandingkan responden dengan sikap yang kurang baik.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat di lihat bahwa pengetahuan mempunyai
hubungan dan sikap dengan personal hygiene di desa ruko. Pernyataan ini
didukung oleh teori yang dikemukakan oleh (Fatmah, 2013) bahwa sikap personal
hygiene yang berhubungan dengan pengetahuan pada lanjut usia dalam mensikapi
personal hygiene. Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga
terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik
dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia.
Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Fatmah,
2013). Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukan bahwa dari 42 responden yang
memiliki pengetahuan baik dengan personal hygiene baik terdapat 39 responden
(62.9%) lebih banyak dibanding responden dengan pengetahuan kurang baik
dengan personal hygiene baik terdapat 33 responden (53.2%).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Chisquare (x^2) di peroleh
nilai ρ-value = 0,000 lebih kecil dari nilai α = 0,05. Berarti H0 ditolak maka ada
hubungan pengetahuan dengan personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko
Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera [Link] penelitian ini
menunjukkan hasil odds ratio yaitu 56.000 yang berarti responden dengan
pengetahuan baik mempunyai peluang 56 kali melakukan pengetahuan dibandingkan
responden dengan sikap yang kurang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi atau semakin baik
pengetahuan seseorang terhadap sesuatu obyek maka akan semakin baik pula sikap
seseorang tersebut terhadap obyek itu. Pengetahuan dan sikap seseorang dipengaruhi
oleh banyak faktor antara lain pendidikan, pengalaman, dan fasilitas Dengan
pendidikan maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari
orang lain maupun media massa, semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat
Journal Of Community and Emergency 339
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

tentang kesehatan. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun


cukup cepat sejalan dengan bertambahnya usia.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian dari Wartonah (2013) hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan masyarakat
terhadap personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko dengan nilai p value 0,000
sedangkan untuk hasil penelitian dari Fatmah (2013) bahwa terdapat hubungan antara
pengetahuan keluarga terhadap personal hygienedi Kelurahan Terjun, Medan Marela
dengan hasil penelitin pvalue 0,001<0,05. Menurut (Budiman, 2013) sikap
berorientasi pada kesiapan respon adalah kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu
objek dengan cara-cara tertentu. Mendefinisikan “Sikap adalah kesiapan merespon
secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap objek atau situasi
(Ahmadi,2013).
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 62 responden yang memiliki sikap
baik dengan personal hygiene baikterdapat 34 responden (54.1%) lebih banyak
dibanding responden dengan sikap kurang baik dengan personal hygiene baik
terdapat 33 responden (53.2%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan
menggunakan Chisquare (x^2) di peroleh nilai ρ-value = 0,002 lebih kecil dari nilai
α = 0,05. Berarti H0 ditolak maka ada hubungan sikap dengan personal hygiene
pada lanjut usia di Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera
Utara.
Pada penelitian ini menunjukkan hasil odds ratio yaitu 6.286 yang
berarti responden dengan Pengetahuan baik mempunyai peluang 6 kali melakukan
personal hygiene pada lanjut usia dibandingkan responden dengan sikap yang
kurang.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian dari Wartonah (2013) hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan sikap masyarakat
terhadap personal hygiene pada lanjut usia di wilayah kelurahan Dayu dengan
nilai p value 0,000 sedangkan untuk hasil penelitian dari Fatmah (2013) bahwa
terdapat hubungan antara sikap keluarga terhadap personal hygiene pada lanjut usia
di Kelurahan Terjun, Medan Marela dengan hasil penelitin pvalue 0,001< 0,05.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut:Pengetahuan lanjut usia terhadap personal hygiene di
Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara sebagian besar
kurang baik. Sikap personal hygiene pada lanjut usia di Desa Ruko Kecamatan
Tobelo Utara

Journal Of Community and Emergency 340


Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Kabupaten Halmahera Utara menunjukan rata-rata kurang setuju. Pengetahuan antara


sikap dan personal hygiene pada lanjut usia memiliki hubungan di Desa Ruko
Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Lilik Ma’ rifatul, (2013). Keperawatan LanjutUsia. Edisi 1. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Abu Ahmadi. 2013. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiman & Riyanto A. 2013. Kapita Selekta Kuisioner PengetahuanDan Sikap
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika pp 66-69
Effendi, F & Makhfudli. 2013. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba medika.
Fatmah. 2013. Departemen Gizi (ed). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
Departemen Gizi FKM UI
Hidayat A,A (2013). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba
Medika: Edisi
Hidayat, A,A 2013, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta: Kemenkes
RI. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun
2013. Jakarta: Badan Penelitian danPengembangan Kesehatan Kemenkes RI;
2013.
Mazlan A,R, [Link] Lansia Terhadap Personal Hygiene (Kebersihan
Perorangan) Di UPTD Panti Abdi Dharma Asi Binjai
Mustikawati I,S, 2017. Determinan Perilaku Personal Hygiene Pada lanjut Usia
(Lansia) Di Panti Wredha Wisma Mulia,Jakatra Barat
Notoatmodjo S, 2013. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo S, 2013 Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo S, 2013. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Purwanto. [Link] hasil [Link]: Pustaka Pelajar.
Saifuddin A, 2013. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sujarweni V,W, 2014. Metodelogi Penelitian Keperawatan Yogyakarta: Gaya Media.
Suyanto, [Link]., [Link]. (2011). Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Journal Of Community and Emergency 341
Volume 7 Nomor 3 Tahun 2019 e-ISSN : 2655-7487, p-ISSN : 2337-7356

Tamher, S. Noorkasiani, (2013). Kesehatan Lanjut Usia dengan Pendekatan Asuhan


Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Tarwoto dan Wartonah, (2013). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika
[Link] sujarweni ,2014. Metodologi penelitian keperawatan Yogyakarta: Gaya
Media.

Journal Of Community and Emergency 342


Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG KEBERSIHAN DIRI


DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN MELAKUKAN
AKTIVITAS PERSONAL HYGIENE LANSIA

ı) ) )
Onya Rosalia De Fatima Lopes , Sri Mudayati² , Erlisa Candrawati³

)
¹ Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
)
² Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
)
³ Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
E-mail : Onya.lopes1512@[Link] m

ABSTRAK

Perubahan fisik lansia akan mempengaruhi tingkat kemandirian. Kemandirian


adalah kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung pada orang lain dan bebas
mengatur diri sendiri. Pengetahuan personal hygiene lansia adalah perawatan diri
dimana individu mempertahankan kesehatannya, dan dipengaruhi oleh nilai serta
keterampilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan
tentang kebersihan diri dengan tingkat kemandirian dalam melakukan aktivitas
pada lansia. Desain dalam penelitian ini adalah analitik korelasional. Populasi dalam
penelitian ini adalah Lansia di Posyandu Permadi berjumlah 65 orang. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sampel jenuh. Instrumen yang
digunakan adalah kuesioner. Metode analisis data yang digunakan yaitu uji Spearman
Rank. Hasil penelitian membuktikan bahwa
pengetahuan tentang kebersihan diri sebagian besar 34 lansia (34,52%)
dikategorikan cukup dan kemandirian dalam melakukan aktivitas lansia sebagian
besar 48 lansia (73,85%) dikategorikan mandiri, sedangkan hasil Spearman Rank
didapatkan nilai p value = 0,008 < α (0,05), yang berarti data yang dinyatakan
signifikan dan Hı diterima artinya semakin baik pengetahuan tentang kebersihan
diri maka semakin baik tingkat kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas.
Diharapkan kepada lansia untuk memiliki pengetahuan tentang kebersihan diri yang
dapat mengakibatkan lansia memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas berupa
perawatan diri.

Kata Kunci : Lansia, pengetahuan kebersihan diri, tingkat kemandirian beraktivitas.


844
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

RELATIONSHIP OF PERSONAL HYGIENE KNOWLEDGE WITH


INDEPENDENCE LEVELS OF ACTIVITIES ON ELDERLY IN POSYANDU

ABSTRACT

The physical changes of elderly will affect the level of self-reliance. Independence is
the freedom to act, not depending on others and free to rule themselves.
Knowledge of personal hygiene self care is where elderly individuals maintain his health,
and influenced by the values and skills. The purpose of this research is to know the
relation of knowledge of self hygiene with a degree of independence in the conduct of
activities on the elderly. Design in analytical research is korelasional. The
population in this research is the elderly at Posyandu Permadi amounted to 65
people. Sampling techniques in the study sample is saturated. The instruments used are
questionnaire. Data analysis methods are used, namely the test of Rank Spearman.
Results of the study prove that knowledge of self hygiene most of 34 elderly (34.52%)
are categorized pretty and independence in the conduct of the activity of the elderly
most 48 elderly (73.85%), whereas self-service results categorized Spearman Rank value
obtained p value = 0.008 < α (0.05), which means data revealed significant and Hı
received means the better knowledge of self hygiene then the better the level of
independence of the elderly in performing the activity. Elderly expected to have
knowledge of self hygiene that can lead to the elderly have the desire to do
activities in the form of self care.

Keywords : Elderly, knowledge of self hygiene, levels of self-reliance activities.

PENDAHULUAN penduduk lanjut usia (lansia)


terus menigkat dari tahun ke tahun. Menurut
Kemajuan dibidang kesehatan dan perkiraan dan biro sensus Amerika
kesejahteraan tentunya berdampak pada (2003), populasi lansia di Indonesia
peningkatan usia harapan hidup yang diproyeksikan akan naik 414%, suatu
salah satu indikator keberhasilan angka tertinggi di seluruh dunia
dan pembangunan nasional dari sisi pada tahun 2020
Indonesia akan kesehatan. Meningkatnya usia harapan menduduki
urutan keempat dalam jumlah hidup penduduk, menyebabkan jumlah usia lanjut
paling banyak sesudah Cina,
845
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, 2018 AktivitasPersonal Hygiene Lansia

India dan Amerika Serikat. lain dan bebas mengatur diri sendiri atau
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (2007), jumlah aktivitas seseorang baik
individu lansia di Indonesia mencapai 18,96 juta maupun kelompok dan
berbagai orang pada tahun 2007 dan diprediksi kesehatan atau penyakit
(Orem, 2001) pada tahun 2020 sebesar 28.822.879 menggambarkan lansia
sebagai suatu (11,34%). Diperlukan perhatian dan unit yang juga
menghendaki penanganan khusus terhadap jumlah kemandirian dalam
mempertahankan penduduk lansia yang jumlahnya terus hidup, kesehatan dan
kesejahteraannya. bertambah setiap tahun. Faktor yang
mempengaruhi tingkat Proses menua menurut (Maryam, kemandirian lansia
dalam melakukan 2008) telah terprogram secara genetik aktifitas kehidupan
sehari-hari, seperti untuk spesies tertentu. Tiap spesies usia, mobilitas
dan mudah jatuh
didalam inti selnya mempunyai jam (Nugroho, 2008).
genetik yang telah diputar menurut Status kesehatan lansia tidak
terlihat replikasi tertentu. Jam ini akan dari status fungsional, dengan
pengertian menghitung mitosis dan menghentikan dalam kemampuan
seseorang replikasi sel bila tidak diputar. Jadi menjalankan aktifitasnya
sehari-hari menurut konsep ini, bila jam kita secara sehat. Konsep ini
terintegrasi berhenti kita akan meninggal dunia dalam tiga domain utama,
yaitu fungsi meskipun tanpa disertai kecelakaan biologis, psikologis
(kognitif dan afektif) lingkungan atau penyakit akhir. Pada serta sosial.
Salah satu komponen lansia kulit juga mengerut atau keriput psikologis
dalam diri individu, yaitu akibat kehilangan jaringan lemak, fungsi
kognitif yang meliputi perhatian, permukaan kulit kasar dan bersisik.
persepsi, berpikir, pengetahuan dan daya. Sistem integumen, lansia juga akan
Kemandirian dalam mengurus diri sendiri mengalami penurunan contohnya pada
pada lansia dapat dinilai dari warna kulit. Pigmentasi
kemampuannya melakukan aktivitas berbintik/bernoda di area yang terpajan
sehari-hari tanpa pengawasan, sinar matahari pucat meskipun tidak ada
pengarahan, atau bantuan orang lain anemia (Potter & Perry, 2005).
seperti mandi, berpakaian rapi, pergi ke Perubahan fisik lansia akan
toilet dan melakukan sendiri aktivitas mempengaruhi tingkat kemandirian.
disana, berpindah tempat (berpindah dari Kemandirian adalah kebebasan untuk
lantai ke kursi, dari kursi ke tempat tidur, bertindak, tidak tergantung pada
berjalan, naik dan turun tangga, dapat orang lain tidak terpengaruh pada orang
mengontrol buang air besar dan kecil
846
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

(tidak beser), dan dapat makan sendiri dalam berbagai hal termasuk
tingkat dengan baik (misalnya makanan tidak kemandirian dalam melakukan
aktifitas berserakan disekitarnya). Salah satu sehari – hari (Maryam,
2008).
kriteria orang mandiri adalah dapat Pendidikan individu
merupakan mengaktualisasikan dirinya (self salah satu faktor yang
mempengaruhi actualized) tidak menggantungkan proses kemandirian
kebersihan diri. kepuasan-kepuasan utama pada Sikap tersebut
adalah sikap seorang lingkungan dan kepada orang lain. individu
yang mampu belajar mandiri Mereka lebih tergantung pada potensi- tanpa
harus tergantung pada orang lain. potensi mereka sendiri bagi
Kemandirian dalam kebersihan diri perkembangan dan kelangsungan
diperlukan agar lansia mampu secara pertumbuhannya ingat (Alfina Shofia,
optimal mendapatkan kebersihan yang 2009)
maksimal tanpa dibantu orang lain. Hasil penelitian (Rahmayati, 2010)
Individu yang memiliki pendidikan tentang kemandirian dalam melakukan
yang tinggi akan mampu merawat aktivitas pada lansia di UPT Pelayanan
diri atau menjaga kebersihan diri dengan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita
baik, tapi bukan setiap waktu harus Wilayah Binjai dan Medan pada 47 orang
mandiri tanpa bantuan orang lain. Jika lansia menunjukkan bahwa
sakit kadangkala lansia juga harus responden mandiri untuk makan sebanyak
mendapatkan kebersihan diri dari
38 orang (80,9%), mandiri untuk anggota keluarganya (Maryam, 2008).
berpakaian sebanyak 40 orang (85,1%), Berdasarkan studi pendahuluan
mandiri pergi ke toilet dan berpindah yang penulis lakukan bulan Desember
masing-masing 36 orang (76,6%), 2014 pada lansia di posyandu permadi
mandiri mengontrol makan dan sebanyak 15 orang, penulis melakukan
mengontrol Buang Air Besar/Buang Air wawancara terdapat 8 orang yang
Kecil (BAB/BAK) masing-masing 44 beranggapan bahwa kebersihan diri
orang (93,6%). seseorang tidak mengganggu kesehatan
Salah satu faktor kemandirian pada dan 7 orang tidak melakukan aktifitasnya
Lansia adalah usia. Lansia yang sendiri (mandi, makan) tanpa bantuan
tidak berdaya mencari nafkah, sehingga keluarga karena menganggap dirinya
hidupnya bergantung pada bantuan sudah tua.
orang lain Lansia yang telah memasuki Tujuan penelitian ini adalah
usia 70 tahun, ialah lansia resiko tinggi. untuk mengetahui
hubungan Biasanya akan menghalangi penurunan pengetahuan tentang
kebersihan diri
847
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

dengan tingkat kemandirian dalam Anominity, Confidentiality.


melakukan aktivitas pada lansia.

HASIL DAN PEMBAHASAN


METODE PENELITIAN
Tabel 1. Kategori Pengetahuan Tentang
Desain dalam penelitian ini adalah Kebersihan Diri Lansia
analitik korelasional dengan pendekatan Pengetahuan
cross sectional, menghubungkan antara Tentang ƒ (%)
pengetahuan tentang kebersihan diri Kebersihan diri
Baik 16 24,61
dengan tingkat kemandirian
Cukup 34 52,31
lansia. Populasi dalam penelitian ini Kurang 14 21,54
adalah Lansia di Posyandu Permadi Sangat kurang 1 1,54
berjumlah Total 65 100,0
65 orang dan Teknik pengambilan
sampel dalam penelitian ini adalah
Berdasarkan Tabel 1, diketahui
total sampling. . Adapun kriteria
bahwa sebagian besar pengetahuan
inklusi adalah Lansia yang berumur >
tentang kebersihan diri
60 tahun, lansia yang bisa membaca
dikategorikan cukup sebanyak 34
dan menulis, lansia yang masih aktif
(52,31%).
dalam kegiatan sosial. Instrument
yang digunakan adalah
Tabel 2. Kategori Kemandirian
kuesioner. Metode analisa data yang
di gunakan yaitu uji Spearman Rank dalam Melakukan Aktivitas
dengan menggunakan SPSS. Lansia
Variabel independen dalam Kemandirian ƒ (%)
penelitian ini adalah pengetahuan Aktivitas
tentang kebersihan diri lansia Mandiri 48 73,85
dan variabel dependen dalam Ketergantungan 6
9,23 Ringan
penelitian ini adalah tingkat
Ketergantungan 5 7,69
kemandirian dalam melakukan Sedang
aktivitas pada lansia di Posyandu. Ketergantungan 6 9,23
Analisis data menggunakan uji Sedang
statistik korelasi spearman rank dengan Total 65 100
derajat kemaknaan α < 0,05. Etika
penelitian yang digunakan dalam Berdasarkan Tabel 2. diketahui
penelitia ini adalah Informed bahwa sebagian besar kategori
consent, kemandirian dalam melakukan aktivitas
84
8
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

lansia dikategorikan mandiri sebanyak 48 lansia yang memiliki


pengetahuan responden (73,85%). cukup tentang kebersihan
diri merupakan Uji statistik pada penelitian ini lansia yang mengetahui dan
memahami menggunakan bantuan SPSS 20 for manfaat dari kebersihan diri,
hal ini bisa windows, uji statistik yang digunakan diperoleh dari pengalaman
serta informasi adalah Spearman Rank. Analisis yang diperoleh dari
media berupa TV,
menggunakan teknik ini dengan tingkat Radio, Majalah dan lain sebagainya.
signifikasi (α) sebesar 0,05 dan tingkat Selain itu pengetahuan dapat
kesalahan 5%. Adapun data disajikan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
sebagai berikut: umur, jenis kelamin, pendidikan dan
pekerjaan. Umur lansia dapat
Tabel 3. Uji spearman rank mempengaruhi pengetahuan
kansia
karena semakin bertambahnya usia
Variabel N p
maka semakin menurun akan
value Hubungan pengetahuan
Tentang kebersihan diri kemampuan lansia untuk
dengan kemandirian dalam 65 0,008 melakukan aktivitas, termasuk di
melakukan aktivitas lansia dalamnya yaitu daya ingat
akan pengetahuan yang dimiliki. Seperti
Berdasarkan Tabel 3, diketahui Berdasarkan Tabel 1, diketahui
bahwa hasil perhitungan Spearman bahwa sebagian besar pengetahuan
Rank diketahui hubungan pengetahuan tentang kebersihan diri dikategorikan
tentang kebersihan diri dengan cukup sebanyak 34 (52,31%). Kategori
kemandirian dalam melakukan
aktivitas lansia didapatkan
spearman rank = 0,008 < α (0,05)
yang berarti data dinyatakan
signifikan dan H1 diterima. Artinya
ada hubungan pengetahuan
tentang kebersihan diri dengan
kemandirian dalam melakukan aktivitas.

Identifikasi Pengetahuan Tentang


Kebersihan Diri
yang diketahui dari data
umum bahwa sebagian
besar lansia berusia 60-74 tahun (
Elderly) sebanyak 61
responden (94,0%) dengan
demikian pengetahuan tentang
kebersihan diri masih masih
dimiliki oleh lansia.
Jenis kelamin lansia juga
dapat mempengaruhi pengetahuan
tentang kebersihan diri.
Seperti diketahui bahwa sebagian
besar lansia di
Posyandu Kelurahan TlogoSuryo
Kecamatan Lowokwaru
Kota Malang adalah
perempuan sebanyak 40
responden (61,5%). Hal ini dapat
mempengaruhi pengetahuan lansia
karena perempuan biasanya lebih
banyak berusaha untuk memiliki
pengetahuan tentang
kebersihan diri sehingga
membuat
849
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, 2018 AktivitasPersonal Hygiene Lansia

perempuan berusaha mencari informasi merawat diri sendiri dan dapat melakukan
tentang kebersihan diri dari berbagai aktivitas sehari-hari. Adapun
kemampuan media atau sumber. Hal ini didukung lansia dalam melakukan
aktivitas berupa oleh pendapat (Notoatmodjo, 2003). kemampuan
merawat diri seperti Berdasarkan Tabel 1, bahwa berpindah
tempat, makan, berpakaian,
sebagian besar lansia memiliki pekerjaan buang air besar/kecil, dan mandi.
sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 27 Adapun faktor-faktor yang
dapat responden (41,5%). Jenis pekerjaan juga mempengaruhi kemandirian berupa usia,
dapat mendukung pengetahuan lansia kesehatan, lingkungan sosial dan
tentang kebersian diri. Hal ini dukungan keluarga. Selain itu dari data
dikarenakan ibu rumah tangga umum seperti umur, jenis kelamin,
kebanyakan yang kesehariannya bekerja pendidikan dan jenis pekerjaan.
di rumah akan lebih banyak memiliki Semakin tinggi umur maka
akan waktu untuk memperoleh informasi semakin menuruan aktivitas
lansia. tentang kebersihan diri. Berhubung karena lansia yang
ada di
Pemeliharaan kebersihan diri berarti posyandu Kelurahan dominan
lansia tindakan memelihara kebersihan dan yang Elderly (60-74 tahun)
maka lansia kesehatan diri seseorang untuk masih dikatakan mampu
untuk mandiri kesejahteraan fisik dan psikisnya. dalam melakukan
aktivitasnya dalam Seseorang dikatakan memiliki kebersihan kesehariannya.
diri baik apabila orang tersebut dapat Faktor lain yang
mempengaruhi menjaga kebersihan tubuhnya yang kemandirian adalah
jenis kelamin, hal meliputi kebersihan kulit, gigi dan mulut, ini sesuai dengan
data umum, lebih rambut, mata, hidung dan telinga, kaki dominan adalah
perempuan maka dapat dan kuku, genetalia, serta kebersihan dan dikatakan
bahwa lansia yang ada di kerapian pakaiannya. Posyandu
kelurahan Tlogo Suryo sangat mandiri dalam melakukan aktivitas hal
Identifikasi Kemandirian dalam ini dikarenakan perempuan
dengan Melakukan aktivitas Lansia memiliki pekerjaan sebagai
ibu rumah Berdasarkan Tabel 2, hasil peneliti tangga biasanya lebih
banyak bahwa sebagian besar kategori menghabiskan waktu untuk
melakukan kemandirian dalam melakukan aktivitas aktivitas seperti
menyiapkan makan, dikategorikan mandiri sebanyak 48 cuci,
membersihkan rumah dan responden (73,85%). Kemandirian lansia
liungkungan. Sehingga aktivitas yang dalam melakukan aktivitas dapat berupa
menyangkut kebersihan diri tentu tidak
850
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, AktivitasPersonal Hygiene Lansia
2018

terlewatkan. Selain itu perempuan penyakit. Oleh karena itu untuk


tetap biasanya ingin terlihat mandiri apalagi memenuhi kebutuhan aktivitas
fisik menyangkut kebersihan diri, perempuan lansia, diharapkan
selalu akan berusaha untuk melakukan yang mengutamakan budaya hidup
sehat terbaik. sehingga tubuh lansia dapat
terhindar dari penyakit seperti hipertensi,
Hubungan Karakteristik Lanjut Usia artritis, diabetes, osteoporosis,
dan dengan Pemenuhan Kebutuhan penyakit umum pada lansia.
Dengan Aktivitas Fisik Lansia demikian lansia akan tetap
melakukan Berdasarkan Tabel 3 didapatkan p aktivitas di usia lanjut (60-74
tahun).
-value = 0,000 < α (0,05) yang berarti Selain itu juga diharapkan peran
aktif data dinyatakan signifikan, artinya ada dukungan dari keluarga kepada
lansia hubungan karakteristik lanjut usia dengan dalam melaksanakan budaya hidup
sehat pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik seperti memantau pola
makan dan lansia. Berdasarkan data khusus hasil kebersihan lansia serta
mendampingi peneliti, bahwa kategori umur pada lansia untuk olah raga
ringan seperti lansia sebagian besar sebanyak 36 jalan santai.
(41,93%) dikategorikan Elderly (60-
74 tahun) dan didapatkan juga
bahwa
pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik KESIMPULAN
lansia sebagian besar sebanyak 26
responden (65,0%) dikategorikan 1) Pengetahuan tentang
kebersihan terpenuhi. diri, sebagian
besar lansia
Kemampuan aktivitas seseorang dikategorikan cukup.
tidak lepas dari ketidak ada kuatan 2) Kemandirian dalam melakukan
sistem persarafan dan aktivitas lansia
dikategorikan muskuloskeletal. Diantaranya dalam mandiri.
sistem saraf, lansia mengalami 3) Hasil analisis didapatkan hubungan
penurunan koordinasi dan kemampuan pengetahuan semakin baik dan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari. kemandirian bertambah meningkat.
Secara umum kondisi fisik seseorang
yang telah memasuki masa lanjut usia
mengalami penurunan. Hal ini DAFTAR PUSTAKA
menyebabkan seseorang dengan usia
lanjut rentan terhadap berbagai penyakit Alfina, shofia. 2009. Hubungan antara
851
Nursing News Hubungan Pengetahuan Tentang Kebersihan
Diri Dengan Tingkat Kemandirian Melakukan
Volume 3, Nomor 1, 2018 AktivitasPersonal Hygiene Lansia

gangguan gerak dan fungsi Potter, P.A, Perry. 2005. A.G. Buku Ajar
kognitif
pada wanita lanjut usia panti Fundamental Keperawatan :
wredha. USM. Surakarta. Konsep Proses, Dan Praktik. Edisi
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian. 4. Volume 1. Alih Bahasa
:
Jakarta: Rineka Cipta. Yasmin Asih, dkk. Jakarta: EGC.
Badan Pusat Statistik. 2007. Nugroho, Wahjudi. 2008.
Jumlah lansia di Indonesia. Keperawatan Gerontik
dan BPS. Jakarta. Geriatrik (edisi 3).
Jakarta:
Biro Sensus Amerika. 2003. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Proceedings of the united nations Orem, D. E., 2001. Nursing : Concept
of experts meeting on world practice. (6th Ed.). Mosby Inc.
St.
population 2300. New York: United Louis.
Nations. Rahmawati, R. & Puspitawati, I. 2010.
Maryam, R. Siti, dkk. 2008. Pengatasan Kesepian Pada
Mengenal Usia Lanjut dan Warakawuri di Usia Lanjut.
Jurnal [Link]: Salemba Psikologi. volume 3, no 2, Juni
Medika. 2010, 160-171.
852
PENGARUH EDUKASI TERHADAP PERSONAL HYGIENE
LANSIA DI BANJAR PEMALUKAN DESA PEGUYANGAN

The Influence of Personal Hygiene Education in Elderly At


Banjar Pemalukan Desa Peguyangan

1 2
Desi Nopitasari , AA Istri Putra Kusumawati , Ika Setya Purwanti
11 1
STIKes Wira Medika PPNI BALI
2 2
RSUP Sanglah Denpasar

ABSTRAK
Pendahuluan : Personal Hygiene merupakan suatu hal yang sangat penting
dalam pencegahan suatu penyakit. Personal Hygiene pada lansia yang meliputi
personal hygiene pada kulit, kuku tangan dan kaki, rambut, mulut dan gigi, dan
pada alat kelamin. Untuk mendapatkan personal hygiene yang baik dan benar
dibutuhkan suatu pengetahuan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh edukasi terhadap personal hygiene lansia di Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan pada tahun 2017. Metode : Penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian Pretest-Post test dalam satu kelompok (One
group Pre-post test Design). Jumlah sampel sebanyak 43 orang lansia di Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebelum diberikan edukasi tentang personal hygiene didapatkan 7 lansia yang
kurang personal hygiene, dan 36 yang cukup. Dan setelah diberikan edukasi
didapatkan personal hygiene yang baik 16 lansia dan yang cukup 27 lansia.
Diskusi : Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh nilai p value
sebesar 0,000 artinya ada pengaruh edukasi terhadap personal hygiene lansia di
Banjar Pemalukan Desa Peguyangan.
Kata Kunci: Edukasi, Personal Hygiene

ABSTRACT
Introduction : Personal Hygiene is very important for prevention diseases,
Personal Hygiene in Elderly, including hair, mouth and teeth, and genetalia. To
101
get a good and right Personal Hygiene, needs good knowledge. The purpose of
this research is to know The Influence of Education to Personal Hygiene elderly
at Banjar Pemalukan Desa Peguyangan in 2017. Method :This research use One
Group Pre-Post test Design. Total sample is about 43 elderly at Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan . Result : The result of the research shows that
before researcher give the Personal Hygiene Education, gets 7 elderly that less
knowledge about the Personal Hygiene, and 36 elderly that has enough
knowledge about the Personal Hygiene. After researcher give the Personal
Hygiene Education, gets 7 elderly that still enough knowledge about the Personal
Hygiene and 27 elderly that has better knowledge about the Personal Hygiene.
The result of the behavior after researcher give the education, 16 elderly shows
good behavior personal hygiene. Discussion : Based on Wilcoxon Signed Rank
Test gets p-value=0.000 means that there are an influence of Personal Hygiene
Education in elderly At Banjar Pemalukan Desa Peguyangan .
Key Words: Education, Personal Hygiene

Alamat : STIKes Wira Medika Bali, Jl Kecak no.9A Gatot


Korespondensi Subroto Timur
Email : davyat haa@ [Link]

102
PENDAHULUAN
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, lansia
adalah periode mencapai kemunduran fisik sejalan dengan waktu. Lansia
merupakan kelompok usia yang mengalami penurunan personal hygiene karena
dipengaruhi oleh faktor usia (Tirtana, 2011). Proses penuaan (aging process) yang
merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita (Bandiyah, 2009).
Permasalahan yang berkaitan dengan lansia terutama pada pemeliharaan
kebersihan diri yang mencakup kebersihan rambut, kuku, mulut, dan organ tubuh
lainnya. Penurunan fungsi tubuh pada lansia dapat mempengaruhi dan
mengakibatkan perubahan kecil yang terjadi dalam kemampuan lansia yaitu
perubahan fisik, perubahan mental, dan psikososial, sehingga mempunyai dampak
ataupun sebab untuk meningkatkan kepercayaan pada lansia dan mengalami
kemunduran peranan sosialnya, dan mengakibatkan timbul gangguan di dalam
yang mencakupi kebutuhan hidupnya, khusunya kebutuhan kebersihan diri
(Sudarsih & Sandika, 2016).
Personal hygiene dipengaruhi oleh faktor pribadi, sosial dan budaya.
masalah kebersihan kurang diperhatikan pada lansia, terjadi karena lansia
menganggap masalah kebersihan adalah masalah tidak penting, padahal dapat
terjadi suatu penyakit dan mempengaruhi [Link] itu yang berhubungan
dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan
dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial
(Muko, 2014).
Edukasi kesehatan merupakan program kesehatan yang dirancang untuk
mempengaruhi individu, dan masyarakat, sehingga berfikir, bersikap, dan
berperilaku positif tujuannya untuk meningkatkan kesehatan, edukasi kesehatan
adalah upaya untuk memelihara, meningkatkan, dan kesehatan diri dan
lingkungan. Secara umum edukasi kesehatan bertujuan untuk mengembangkan
perilaku individu, kelompok, atau masyarakat agar bisa berperilaku hidup bersih
dan sehat, dan terhindar dari penyakit, dimana dalam pemberian edukasi personal

103
hygiene pada lansia dapat meningkatkan kebersihan diri dengan baik, jika tidak
ada penyuluhan diberikan edukasi tentang personal hygiene lansia masalah yang
terjadi salah satunya adalah kuku tangan dan kuku kaki kotor yang menyebabkan
suatu infeksi (Kholid,2014). Pentingnya edukasi dalam keperawatan, agar
masyarakat memiliki mutu kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatanya,dan
memelihara kebersihan diri dengan baik, edukasi dilakukan dalam personal
hygiene 3 kali dalam sebulan (Putri &Sirait, 2014). Kebersihan diri
mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan kesejahteraan lansia. Perawatan diri
lansia ditentukan dan diberikan perawatan hygiene yang sesuai kebutuhan
(Iswantiah, 2012).
Fenomena keperawatan gerontik adalah tindakan terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia sebagai akibat proses penuaan pada lansia. Berdasarkan fenomena
yang terjadi lansia jika sendiri dirumah tanpa ada keluarga atau kurang dukungan
dari keluarga yang akan menyebabkan lansia tidak memperhatikan kebersihan
diri. (Hadi, 2009). Personal hygiene merupakan kebutuhan dasar manusia yang
harus terpenuhi, personal hygiene menjadi bagian yang terpenting mengarah pada
personal hygiene yang baik akan meminimalkan kuman mikroorganisme yang ada
dimana-mana dan pada akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit
(Nofrianda, 2014).
Berdasarkan informasi Kemenkes RI 2014, penduduk lansia 60 tahun
keatas di Indonesia dan dunia pada tahun 2013, dan pada tahun 2050, peningkatan
jumlah lansia tahun 2013, 8,9% di Indonesia, dan 13,4% di dunia hingga tahun
2050 (21,4% di Indonesia dan 25,3% di dunia). (Sudarsih & Sandika, 2016). Di
Provinsi Bali jumlah penduduk lansia yang berumur >60 tahun pada tahun 2015
mencapai 517.500 jiwa (Rismawati, 2015).
Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kota Denpasar terutama Wilayah
Denpasar Utara jumlah lansia pada tahun 2016 mencapai 3651 lansia. Pada tahun
2015 tercatat lansia yang mengalami sakit karena penyakit kulit alergi (54,9%),
penyakit kulit karena suatu infeksi (29,3%), infeksi pada saluran pencernaan
(15,8%). Dari Studi pendahuluan pada tanggal 2 Februari 2017, menurut data
Dinas Kesehatan Kota Denpasar tahun 2016, untuk wilayah banjar pemalukan
desa peguyangan didapati 90 orang lansia dimana 76 (84,44%) lansia dengan

104
personal hygiene yang rendah mengalami penyakit kulit gatal-gatal, jamur dan
infeksi. Sedangkan jumlah lansia yang mempunyai personal hygiene yang cukup
baik ada 14 (15,56%) lansia. Penyakit yang paling sering diderita oleh lansia di
desa tersebut adalah penyakit kulit (dermatitis atau gatal-gatal, dan jamur pada
tubuh (35%). Dan di banjar pemalukan desa peguyangan belum pernah
mendapatkan penyuluhan kesehatan terkait dengan personal hygiene, dan
berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari 10 orang lansia di dapatkan
personal hygiene yang rendah 70% lansia kurang memahami tentang cara
personal hygiene yang baik dan benar, dan 30% lansia memahami pentingnya
personal hygiene, sedangkan dari observasi dari 10 orang lansia akibat dari
personal hygiene yang kurang ditemui penyakit kulit seperti jamur pada tubuh
(25%), karies pada gigi (15%),dan lansia yang sehat personal hygiene yang cukup
baik (5%), sedangkan personal hygiene yang rendah yang di banjar pemalukan
terlihat kuku tangan dan kaki panjang dan kotor (30%),) berjalan tanpa
menggunakan alas kaki di halaman rumah (20%), rambut lansia kotor dan
berketombe (5%).
Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi personal hygiene lansia
sebelum diberikan edukasi kesehatan di Banjar Pemalukan Desa Peguyangan.
Mengidentifikasi personal hygiene sesudah diberikan edukasi kesehatan di Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan. Menganalisa apakah ada pengaruh edukasi
kesehatan terhadap peningkatan personal hygiene.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian
yang dilakukan adalah Pra Eksperimen. . Rancanga dalam penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian Pre test-Post test dalam satu kelompok (One
group Pre-post test Design). Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di Banjar
Pemalukan Desa Peguyangan sebanyak 76 orang lansia personal hygiene rendah.
Sampel terdiri atas bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan
sebagian subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2016). Sampel dalam
penelitian. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 43 orang
lansia yang tinggal di Banjar pemalukan Desa Peguyangan.

105
Penulis merasa tertarik menjadikan sebagai tempat penelitian karena
terdapat banyak lansia yang mengalami personal hygiene rendah. Penelitian
dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2017.
Penelitian ini menggunakan kuesioner dan lembar observasi prosedur
pemberian edukasi personal hygiene. Analisis Bivariat bertujuan untuk
mengetahui perbedaan sebelum dan setelah diberikan edukasi pada lansia.
Mengingat data kelompok yang tersedia (data pre test dan post test merupakan
sampel kelompok berpasangan dengan skala nominal dan ordinal, maka untuk
memperoleh hasil yang signifikan dalam penelitian ini menggunakan uji
“Wilcoxon Signed Rank”.

HASIL

Tabel 1. Hasil identifikasi personal hygiene pada lansia sebelum (pre) diberikan
edukasi. Hasil identifikasi personal hygiene pada lansia sebelum
diberikan edukasi di Banjar Pemalukan Desa Peguyangan Denpasar

Kategori Frequency Percent Valid Cumulative


Personal Percent Percent
Hygiene

Baik 0 0 0 0
Cukup 36 83,7 83,7 100
Kurang 7 16,3 16,3 16,3
Total 43 100 100

Dari hasil pre post pada lansia sebelum diberikan pemberian edukasi tentang
personal hygiene di dapatkan nilai 7 kurang (16,3%), cukup 36 (83,8 %).

Tabel 2. Hasil Identifikasi personal hygine lansia sesudah (post) diberikan


edukasi. Hasil identifikasi personal hygiene lansia sesudah diberikan
edukasi di Banjar Pemalukan Desa Peguyangan Denpasar

106
Kategori Frequency Percent Valid Cumulative
Personal Percent Percent
Hygiene
Baik 16 37,2 37,2 100
Cukup 27 62,8 62,8 62,8
Kurang 0 0 0 0
Total 43 100 100

Dari hasil post test didapatkan hasil pada lansia setelah diberikan edukasi,
personal hygiene yang baik 16 lansia (37,2%), yang cukup 27 lansia (62,8%) dan
yang kurang tidak ada.

Tabel 3. Hasil Analisis Pengaruh Edukasi Personal Hygiene Lansia di Banjar


Pemalukan Desa Peguyangan.

Pemberian edukasi personal Jumlah Mean Z p


hygiene
Rank value
pada lansia
0 0 - 0,000
Negatif ranks
4.796
23 12,00
Positif ranks
20
Ties
43
Total
PEMBAHASAN

Menurut Wawan dan Dewi (2010), mengukapkkan seiring bertambahnya


tingkat pendidikan maka bertambah pula pengalaman yang dimiliki oleh
seseorang sehingga pengetahuan orang juga akan bertambah, berdasarkan hasil
penelitian yang diperoleh sebagian besar responden berumur 60-74 (90,9%) yang
didapatkan sehingga umur yang matang secara relatif juga mempengaruhi
pengetahuan seseorang.
107
Hasil penelitian yang juga didapatkan oleh Nuradawiyah (2012), yang
berjudul hubungan pengetahuan, sikap dengan praktik kebersihan kulit pada lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran yang mengungkapkan dari
49 responden, yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 18 responden (36,7%)
dan yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 31 responden (63,3%).
Penelitian Iswantiah (2012) yang berjudul Pendidikan Kesehatan Terhadap
Perilaku Kesehatan Lansia Tentang Personal Hygiene yang mengungkapkan dari
30 responden pendidikan kesehatan perilaku baik meningkat menjadi 86,7%), dan
perilaku yang cukup (13,3%), dan observasi perilaku dari setelah diberikan
perlakuan didapatkan 30 lansia 69,8% baik dan 13 lansia 30,3% perilaku yang
cukup.
Hasil dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Rina (2014), perilaku lansia sebagian besar baik sebanyak 42 responden (65,6%)
dan cukup sebanyak 22 responden (34,4%). Hasil penelitian yang berbeda
didapatkan oleh Mulyono (2012), perilaku personal hygiene sebagian besar
sebanyak 60 responden (85,7%), perilaku personal hygiene cukup sebanyak 10
responden (14,3%) dan hasil penelitian didapatkan oleh Indriyani (2012), yang
menunjukkan bahwa dari 63 responden, 60 responden yang berperilaku baik dan 3
responden berperilaku cukup. Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam
melakukan personal hygiene, antara lain body image, pengetahuan, praktik sosial,
kondisi fisik, kebiasaan, budaya dan status sosial ekonomi (Suciati, 2014).
Pengetahuan penting dalam mengubah perilaku manusia. Bahwa Notoatmodjo
(2012) mengemukakan pengetahuan merupakan salah satu faktor internal yang
dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pengetahuan responden dipengaruhi
oleh faktor umur, pendidikan, dan pekerjaan, sedangkan perilaku responden selain
dipengaruhi oleh pengetahuan juga dipengaruhi adanya motivasi dalam dirinya.
Pendidikan dan pekerjaan telah memberikan wawasan yang luas sehingga
seseorang akan mampu meningkatkan pengetahuannya untuk menghadapi
masalah kesehatan yang dihadapi. Pendidikan yang dimaksudkan bukan hanya
pendidikan formal saja, tetapi juga pendidikan nonformal di tempat – tempat
umum seperti penyuluhan di masyarakat, rumah sakit atau media masa sehingga
pengetahuan tentang personal hygiene dengan perilaku lansia dalam pemenuhan

108
personal hygiene dapat dilakukan secara maksimal. Dengan belajar individu
diharapkan mampu menggali apa yang terpendam dalam dirinya dengan
mendorong untuk berpikir dan mengembangkan kepribadiannya dengan
membebaskan diri dari ketidaktahuannya. Dari hasil persepsi peneliti dapat
menyimpulkan bahwa pengetahuan yang baik akan membantu seseorang untuk
memahami, mengaplikasikan dan menganalisa setiap perilaku secara baik pula.
Perilaku seseorang tidaklah dapat dipisahkan dengan tingkat pengetahuan orang
tersebut, terlebih lagi dalam kaitannya dengan perilaku kesehatan yang terkadang
masih merupakan sesuatu yang sangat awam bagi sebagian kalangan masyarakat.
Hasil penelitian Iswantiah (2012) yang meneliti tentang Pendidikan
Kesehatan Terhadap Perilaku Kesehatan Lansia Tentang Personal Hygiene di
daerah Sleman Yogyakarta menjelaskan bahwa jumlah sampel yaitu 30 responden
yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil penelitian ini yaitu pada kelompok
eksperimen setelah diberikan pendidikan kesehatan perilaku baik meningkat
menjadi (86,7%), perilaku cukup (13,3%) dan perilaku kurang tidak ada.
Peningkatan perilaku pada kelompok eksperimen ditunjukkan dengan nilai
signifikansi P=0,001 dan pada kelompok kontrol tidak ada perubahan yang
signifikansi dengan nilai P=0,655. Sehingga didapatkan hasil yaitu ada pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap perilaku kesehatan lansia tentang personal hygiene
lansia.
Zamzami (2012) meneliti tentang Pengaruh Penyuluhan Kesehatan
Personal Hygiene Terhadap Pengetahuan Personal Hygiene Pada Lansia di Panti
Tresna Werda Kabupaten Cianjur dengan responden 65 lansia yang dibagi dua
kelompok. Berdasarkan uji statistik dengan Wilcoxon nilai Z hitung < Z tabel (-
5.916 < -1,96) (2-tailed)=0,000. Oleh karena nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih
kecil dibandingkan 5% (0,000<0,05) maka terdapat pengaruh penyuluhan
kesehatan personal hygiene pada lansia di Panti Tresna Werdha Kabupaten
Cianjur. Ini menunjukkan bahwa manfaat penyuluhan kesehatan dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, dengan hasil tersebut, penyuluhan
kesehatan yang dilakukan sebanyak 3 kali selama 3 hari berturut – turut dapat
mempengaruhi pengetahuan pada lansia terkait personal hygiene. Hasil dari
statistik secara teoritis pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan

109
pada lansia terbukti ada pengaruhnya yaitu dengan melihat hasil nilai rata – rata
pengetahuan personal hygiene pada lansia sebelum dan setelah penyuluhan
kesehatan yang mengalami peningkatan pengetahuan sebanyak 0,54 dari 0,17
menjadi 0.71. Sehingga dengan melakukan penyuluhan kesehatan selama 3 hari
berturut – turut sebanyak 3 kali dapat meningkatkan pengetahuan lansia.
Berdasarkan hasil persepsi penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian
edukasi terkait dengan personal hygiene dapat meningkatkan suatu pengetahuan
pentingnya menjaga dan merawat kebersihan diri dan perilaku lansia yang
menjadi lebih baik serta bermanfaat untuk kesehatan lansia sendiri. Maka dapat
disimpulkan pemberian edukasi berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan
lansia dan mengubah perilaku menjadi yang baik pada lansia.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Sebelum diberikan perlakuan edukasi tentang personal hygiene lansia


didapatkan nilai pre post personal hygiene yang kurang 7 (16,3%), dan yang
cukup 36 (83,7%), dan yang baik tidak ada. Setelah diberikan perlakuan edukasi
tentang personal hygiene lansia didapatkan nilai post test personal hygiene yang
baik 16 (37,2%), cukup 27 (62,8%), dan yang kurang tidak ada. Dari hasil analisa
diperoleh p value sebesar 0,000 < 0,05 ini berarti ada pengaruh edukasi personal
hygiene terhadap lansia di Banjar Pemalukan Desa Peguyangan.

Saran
Bagi tenaga kesehatan perlu ditingkatkan dalam hal pemberian informasi
melalui penyuluhan tidak hanya kepada lansia saja melainkan kepada
keluarganya. Perlu diperhatikan media dalam hal memberikan penyuluhan yaitu
menggunakan media AVA (Audio Visual Aids) pada kegiatan posyandu lansia
agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, sehingga diharapkan
pengetahuan lansia menjadi meningkat.
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan faktor-faktor
yang mempengaruhi personal hygiene seperti budaya, body image ,pengetahuan,

110
status sosial [Link] samping agar menggunakan kelompok kontrol, sehingga
hasil yang diperoleh lebih valid

KEPUSTAKAAN

Abdurachim, dkk. 2016. Hubungan Asupan Natrium, Frekuensi dan Durasi


Aktivitas Fisik terhadap Tekanan Darah Lansia di Panti Sosial Tresna
Werdha Budi Sejahtera dan Bina Laras Budi Luhur Kota Banjarbaru,
Kalimantan Selatan. GIZI INDONESIA.39 (1) : pg. 37-48.
Almasyah dan Muliawati. 2013. Pilar Dasar Ilmu Kesehatan
[Link]:Nuha Medika.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan [Link]: Rineka
Cipta.
Azwar, 2012. Reliabilitas dan Validitas, Yogyakart Available:
[Link] 2017)
Bandiyah, S. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogjakarta : Nuha
Medika
Dinas Kesehatan Kota Denpasar 2016. Data penduduk lansia Kota Denpasar
Gayatri. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan
Perilaku Lansia di Kecamatan Toko Tengah Padang. Available :
[Link] (1 April 2017).
Kholid, A. 2014. Promosi Kesehatan Dengan Pendekatan Teori Perilaku, Media,
dan Aplikasinya. Ed. 2, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Hadi, M. 2009. Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriarti. Jakarta: FKUI
Indriyani. 2012. Hubungan Pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan
Perilaku Personal Hygiene Lansia. Available : [Link] [Link].
(12 Februari 2016).
Iswantiah, dkk. 2012. Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Kesehatan
Lansia Tentang Personal Hygiene. Jurnal Keperawatan, Yogyakarta, 3 (2)
: pg. 152-158.
Mahrifatulhijah.2012. Kebutuhan Personal Hygien e. JKem-U, Su rakarta, 4 (10) :
pg. 50-53.

111
Muko.2014. Perbedaan Personal Hygiene Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna
Werdha Ilomata dan Beringin Pro vin si Gorontalo. Ju rnal KIM Fakultas
Ilmu Kesehatan 1 (2).
Mulyono. 2014. Hubungan antara Pengetahuan Lansia tentang Personal Hygiene
dengan Perilaku Personal Hygiene Lansia di Kelurahan Biyonga.
Available : http:// repositor [Link] [Link] (26 Juni 2017).
Muhith, A. & Siyoto, S. 2016. Pendidikan Keperawatan Gerontik. Ed. 1,
Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.
Nofrianda, M. 2014. Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal
Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Skripsi Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera. Avaiable: [Link] y.u [Link] (3
Februari 2017).
Notoatmodjo, S. 2012. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
. 2014. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Nuradawiyah,dkk. 2012. Hubungan Pengetahuan Sikap dengan Praktik
Kebersihan Kulit pada Lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo Ungaran. Avaiable: [Link] (12 Februari 2017).
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Pg. 171-175 Ed. 4.
______. 2015. Metode Penelitian Ilmu [Link] : Salemba Medika.
Pg. 172-173 Ed. 4.
______. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Ed. 4, Jakarta: Salemba
Medika.
Pinedendi, dkk. 2016. Pengaruh Penerapan Asuhan Keperawatan Defisit
Perawatan Diri Terhadap Kemandirian Personal Hygiene pada Pasien di
RSJ. PROF. V. L. RATUMBUYSANG MANADO. Jurnal Keperawatan. 4
(2)
Prasetio. 2015. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan
dan Sikap Lansia dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Wilayah
Kartasura. Available: [Link] (15 Februari 2017).

112
Putri, M.H. & Sirait, T. 2014. Pengaruh Pendidikan Penyikatan Gigi dengan
Menggunakan Model Rahang Dibandingkan dengan Metode
Pendampingan terhadap Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa-siswi
Tunanetra SLB-A Bandung. Jurnal MKB. 46 (3): pg. 134-142.
Ramadhan, K. & Sabrina, I.K.A. 2016. Hubungan Personal Hygiene dengan
Citra Tubuh pada Lansia di Desa Sepe Kecamatan Lage Kabupaten Poso.
Jurnal Kesehatan Prima . 10 (2) : pg. 1735-1748.
Rismawati, N.L. 2015. Pemprov Bali Serius Tangani Persoalan Lansia.
Available:[Link] 2017).
Rina. 2014. Hubungan Tingkat Pengetahuan Lansia tentang Personal Hygiene
dengan Perilaku Lansia di Desa [Link]:
[Link] (26 Juni 2017).
Riyanto, M. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Ed. 1, Yogyakarta:
Nuha Medika.
Savitri. 2011. Hubungan Pengetahuan Lanjut usia dengan Sikap Memelihara
Kebersihan Diri pada Lansia di Kelurahan Bandungharjo
Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan .Avaiable:
[Link] (10 Februari 2017).
Sudarsih, S. & Sandika, D.R. 2016. Hubungan antara dukungan keluarga dengan
kemandirian lansia dalam pemenuhan personal
[Link]. 2 (14)
Susanto, d kk. 2015. Gambaran Skor Mmse, Cdt, Tmt A dan B Pada Lansia Di
Panti Werdha Agape Tondano. Jurnal e- Clinic. 1 (3) : pg.348-351.
Sutikno, E. 2011. Hubungan Fungsi Keluarga dengan Kualitas Hidup Lansia.
Surakarta. Avaiable: [Link] (14 Februari 2017).
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Ed. 21, Bandung: CV. ALFABETA.
Wawan dan Dewi. 2010. Teori dan Pengukuran : Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika.
Yulianti, U. 2013. Pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku resume. Available:
[Link] (4 Maret 2017).
Yuni. 2015. Personal hygiene. Yogyakarta: Nuha Medika.

113
Zamzami, dkk. 2012. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Personal Higiene
Terhadap Pengetahuan Personal Higiene Pada Lansia Di Panti
Tresnawerda Kabupaten Cianjur. Jurnal Bhakti Kencana Medika, 4 (2).

114
International Research Journal of Engineering, IT & Scientific Research
Available online at [Link]
Vol. 2 No. 11, November 2016, pages: 22~28
ISSN: 2454-2261
[Link]

Access to Personal Hygiene Improves the Quality of Life at Elderly


Hostels

Agus Sri Lestari a


Nyoman Adiputra b
IB Adnyana Manuaba c
I Dewa Putu Sutjana d

Article history: Abstract

The awareness of someone’s ability to maintain and to keep life has


Received: 9 June 2016 become better; hence having a longer life expectation became a grace and a
Accepted: 30 September 2016 pride. It is estimated that life expectancy figures maximally up to 125
Published: 30 November 2016 years. The increase in people’s awareness of maintaining and sustaining
life, in order to get a better quality of life, results in a higher life
expectancy. Aging is a natural and spontaneous process started from the
childhood, puberty, young adults, and then declines in the middle to seniors
Keywords: (elderly). The prosperity of the elderly people, whom due to their physical
access; or mental condition no longer possible role in development, needs special
elderly hostel; attention from the government and society. This research was conducted in
life; a nursing home (home service). The nursing home as a place where the
personal hygiene improves; elderly live needs to adjust and redesign their bathroom. This effort is
quality; done by considering that the ability of the elderly’s motor movement has
tremendously declined; it is caused by the decrease in their motor sensor
capacity. The elderly should get attention, particularly on meeting their
needs on personal hygiene. The bathroom is the most dangerous area for
their activity. Therefore that site needs special attention concerning the
access to be easily used by the elderly. The provision of personal hygiene
accessibility provides an ease of doing a daily living activity
independently without depending on the help of the nursing
personnel or other persons. And the elderly can use the facilities without
any obstacles and obtain a full participation support. Method: This research
is an experimental treatment research, by the subject of design,
with 12 respondents from elderly- hostels in Bali. Result and Discussion:
Access to personal hygiene is the ease of the elderly to use the facilities
independently or without the help of others. Bathroom modification
intervention, special for seniors based on ergonomic through the access of
personal hygiene makes it easier to do the activity day living
independently without depending on the help of the nursing personnel or
other persons, improve their health by decreasing the musculoskeletal
complaints, and increase quality of life. Musculoskeletal disorders
were measured using a nordic body map questionnaire. A test on
the difference shows significant results (p*<0.05).

a
Postgraduate Student of Udayana University, Denpasar, Bali, lecturer at Poltekkes Denpasar, Bali,
Indonesia b Department of Physiology Faculty of Medicine, Udayana University, Indonesia
c
Department of Physiology Faculty of Medicine, Udayana University,
Indonesia d Department of Physiology Faculty of Medicine, Udayana
University, Indonesia

22
IRJEIS ISSN: 2454-2261  23
This means that there is a significant difference between PI group and
PII group on the musculoskeletal complaints. In another word, there is a
decline of 25.69%. Accessibility friendly bathroom Seniors are not only
safe to use also gives credence to the Elderly without the help of others and
without fear of injury. In the PI obtained a score of 8.31 while the security
of PII obtained a score of 16.49, an increase of safety and security of
98.4%. These results indicate that the ergonomics intervention proved to
cause an increase in safety in the elderly in elderly-hostels of Bali
Province. Accessibility interventions include the facilities such as
bathtub, a handle or railing, a repair to a handled door, toilet seat, shower
wash, and shower seat.

2454-2261 ©Copyright 2016. The Author.


This is an open-access article under the CC BY-SA license
([Link]
All rights reserved.
Author correspondence:
Agus Sri Lestari,
Postgraduate Student of Udayana University, Denpasar, Bali,
Indonesia Lecturer at Poltekkes Denpasar, Bali, Indonesia
Email address : agussri789@[Link]

1. Introduction

The elderly are the final stage of the aging process characterized by declining physical abilities, which
started with some changes in life. The elderly have a tendency of decreasing physical, psychological, and social
condition (Departemen Sosial RI, 2004). Aging is a thorough and spontaneous changing process that starts from
childhood, puberty, young adults, and then declined in the middle to seniors (elderly). Someone’s awareness of
maintaining and sustaining life is increasing, giving an impact on better quality of life so that the life expectancy
is getting higher. The life expectancy is supported by a variety of aspects such as the availability of good health
facilities, especially in the medical field and medical technology, better health care, nutrition fulfillment, a good
marriage condition, and the maintenance of a healthy environment. All those factors bring a positive impact on
the control of the aging process (Departemen Sosial RI, 2004).
Physiologically, the body of the elderly will suffer from various setbacks capacity and capability that
comes slowly. Progressively, the cells of the body have suffered a setback that causes anatomical,
physiological, and biochemical changes in the body tissue, which ultimately will affect the physical, mental,
and social function and ability entirely (Kroemer and Grandjien, 2009). Setbacks on physical ability are
characterized by a decrease in body muscle strength in the elderly, for example, hand muscle strength
decrease by 16-40%. Organ coordination is weakened so that 25% of elderly had almost fallen (near miss) in
the bathroom. The setback also occurred on the ability of vision, partial blindness, weakening the pace of
focusing on the eyes, and fading eye lens that results in slow and limited movement on the elderly, so if they are
not able to estimate the distance accurately, so that they are vulnerable to the possibility of a bathroom accident
(Kumashiro, 2005).
In the current condition, the available necessary facilities for personal hygiene are not in accordance with
the elderly anthropometry. They are not equipped with jet showers that will make it difficult for the elderly to
clean themselves and are not equipped with a handrail that will cause difficulties, especially to get up from
sitting. Quite often, this can lead to falls, accidents, and injury, due to the slippery floor.
An access to ergonomic personal hygiene can be said to be very rare even not provided in elderly- hostels. This
is caused by lack of knowledge of either the manager or the architect or contractor building to generate an
elderly bathroom design in accordance with the limitations of the elderly. elderly- hostels as government
institution should have already started to provide access for elderly people which are elderly friendly, useful to
improve the quality of life of the elderly to stay healthy, independent, and efficient so they will not become a
burden to themselves, family at the nursing home and the community.
Lestari, A. S., Adiputra, N., Manuaba, I. A., & Sutjana, I. D. P. (2016). Access to personal hygiene improves
the quality of life at elderly hostels. International Research Journal of Engineering, IT & Scientific
Research, 2(11), 22-28. [Link]
24  ISSN: 2454-2261

2. Materials and Methods

Material

a) Elderly people and ergonomic


Law No.23 of the year 1992 on health, states the elderly is a person who, because of his age, experiences
a biological, physical, psychological, and social change. If it is seen based on the normal human productive age,
then the elderly community is people who are aged from sixty years old. Elderly is a term to call the final stage
of the aging process. The definition of the elderly is the declining phase of mind and physical ability, which
began with a few changes in life (Manuaba, 2012).
Ergonomics is the multi and interdisciplinary science or approach to matching tools, methods, and
work environment to the human’s ability, skill, and limitations to achieve the highest level of health, safety,
comfort, and efficiency (Manuaba, 1998). Ergonomics is also defined as a science, technology, and art or
a multi and interdisciplinary approach to match tools, methods, and work environment on human’s ability, skill,
and limitation to achieve the highest level of health, safety, comfort, and efficiency, through the optimal or
maximal use of functional human body (Kumashiro, 2005).
Ergonomics seeks to give a special attention to the elderly, to harmonize the tools, methods, and the
activity environment to the ability, skill and all human limitations, so that the elderly can optimally do their
activities without any bad effects. From the standpoint of ergonomics, the demands of the activity and the capacity
should always be in the line of balance so that high-performance activities can be achieved. In other words, the
demands of the task of the elderly should not be too low (under load) and also should not be too excessive
(overload) for both either the underload and overload will cause stress.

b) Elderly’s Special Needs


The prosperity of the elderly, because of their physical or mental condition, needs a special attention from
the government and society. From the anatomy and physiology point of view, every elderly experience a
physical decline. Human’s optimal physical ability can be achieved at age of 25-30 years old, and the capacity of
a person's physiology will decline 1% per year after its peak is exceeded. A person's physical capacity is directly
proportional to age to a certain extent and reaches its peak at the age of 25 years old. Physiologically at age 25-60
years old, there is a decrease in muscle strength as much as 25% and motor sensory abilities decreased by 60%
(Reed et al., 2012). Degeneration process occurs on the cartilage and muscles leading to a decreasing mobility
and increased risk of injury. Therefore, the most important thing is, the work done by the elderly should not
require muscular strength, endurance, speed, and flexibility. Bone loss (osteoporosis), including diseases of
metabolic disorders in which the body is unable to absorb and use the materials for the process of reinforcement
normally. In these circumstances, there is a reduction in bone mass that results in lighter and more fragile bone
(Soeweno, 2010).
Provision of accessibility in physical objects is conducted in public facilities and infrastructure that
include accessibility in public buildings as well as in nursing homes. The facilities and accessibility principles are:
1) Safety, every building that is for the public in a built environment, should pay attention to safety for the Elderly.
2) Easiness, everyone can reach all the places or buildings that are common in the environment. 3) Usage,
everyone can use all places or buildings that are common in the environment. 4) Independence, everyone should
be able to reach, enter, and use all places or buildings that are common in an environment without any help from
others.
Safety & Security Needs Elderly to perform personal hygiene activities without fear of falling in the bathroom.
Safety & Security Needs bathroom for the elderly, is more focused on the adjustment of equipment that is
more
ergonomic, such as avoiding the use of a slippery floor, the addition of handrails and grabs bars to facilitate
the elderly to lift her out of the toilet, bathtub, and out of the bathroom access that facilitates to be achieved and are
used by the elderly will support elderly people feel safe.

Methods

This research is experimental with treatment by subject design and 12 respondents from elderly- hostels in
Bali. Samples are given two treatments, PI (sample using the old facility) and PII (sample using the new
facilities). Musculoskeletal disorders were measured using a questionnaire nordic body map. Safety and security
are measured using a questionnaire. The data were analyzed using t-test with a significance level of 5%.
IRJEIS Vol. 2 No. 11, November 2016, pages: 22~28
IRJEIS ISSN: 2454-2261  25

3. Results and Discussions

a. Characteristic of Subject
The mean age of respondents was 79.8 ± 6.4 years. This shows that the subjects are in the old age category.
The UN world body defines that the elderly are those who aged over 60 years. The elderly average age of 79.8
years indicates an increase in life expectancy for the Elderly in elderly- hostels as a house inhabited by elderly
needs an adjustment and design of bathrooms in accordance with the physical condition of its inhabitants.
This effort is conducted by considering that the ability of the elderly motor movement has been tremendously
reduced. It is caused by the decrease in motor sensor capacity. Elderly should get attention, in particular to
needs of personal r. The bathroom is the most dangerous area for activity. Therefore this site needs a special
attention. Accessibility to personal hygiene should be easy to use by the elderly so that their health is
maintained and their quality of life is getting better. In this study, personal hygiene accessibility includes
bathtub, toilet seat, bathroom door handles, railing, and providing seating for a shower.

b. The decrease in musculoskeletal complaints


The amount of musculoskeletal complaints in the first period is caused by the imposition of the
muscles, especially in the wrists, neck, shoulders, hips, knees, thighs, and legs because the access provided for the
activities is incompatible with the needs of the elderly, also it is a result of activities undertaken by standing
with active and static movements. Back pain can be caused by muscle tension and posture while on the
move. Difference Test Analysis in the final conditions (post) obtained significant results (p * <0.05). This gives
the sense that there is a significant difference between the PI and PII group on the musculoskeletal
complaints. The decrease of musculoskeletal complaints amounted to 25.69% indicates that elderly
ergonomics lowers excessive muscle use, because of the easy access to the facilities used for personal hygiene
activities. This effort is done by considering that the ability of elderly motor movement has been tremendously
reduced, it is caused by the decrease in motor sensor capacity.

c. Safety & Security Needs Elderly


Safety & Security Needs bathroom for the elderly, is more focused on the adjustment of equipment that is
more ergonomic, such as avoiding the use of a slippery floor, the addition of handrails and grabs bars to
facilitate the elderly to lift her out of the toilet, bathtub, and out of the bathroom access that facilitates to be
achieved and are used by the elderly will support elderly people feel safe. Accessibility friendly bathroom Seniors
are not only safe to use also gives credence to the Elderly without the help of others and without fear of injury. In
the PI obtained a score of 8.31 while the security of PII obtained a score of 16.49, an increase of safety and
security of 98.4%. These results indicate that the ergonomics intervention proved to cause an increase in
safety in the elderly in PSTW of Bali Province. Accessibility interventions include the facilities such as
bathtub, a handle or railing, a repair to a handled door, toilet seat, shower wash, and shower seat.

4. Conclusion

Elderly should get attention, in particular to the need for personal hygiene fulfillment. The bathroom is the
most dangerous area to do the activities. Therefore that site needs a special attention through an access to be easily
used by the elderly. Nursing Home (home service) as a place inhabited by the elderly need a specially designed
bathroom tailored to meet the capabilities, the ability, and limitations. This effort is done by considering that
the ability of motor movement and motor sensor of the elderly have been tremendously reduced.

Suggestion

The time has come for the government to pay attention to the special needs of the elderly by providing
facilities and infrastructure that is easy to access for the elderly to give their rights and to treat the elderly humanly.

Lestari, A. S., Adiputra, N., Manuaba, I. A., & Sutjana, I. D. P. (2016). Access to personal hygiene improves
the quality of life at elderly hostels. International Research Journal of Engineering, IT & Scientific
Research, 2(11), 22-28. [Link]
26  ISSN: 2454-2261

Conflict of interest statement and funding sources


The author(s) declared that (s)he/they have no competing interest. The study was financed by the authors.

Statement of authorship
The author(s) have a responsibility for the conception and design of the study. The author(s) have approved the
final article.

Acknowledgments
The authors would like to thank the Rector Udayana University and Director of the Postgraduate Udayana
University for providing facilities to us. We also wish to thank our family, our colleagues, and all those who
have helped in completing this paper.

IRJEIS Vol. 2 No. 11, November 2016, pages: 22~28


IRJEIS ISSN: 2454-2261  27
References
Adiputra, N. (1998). Metodologi Ergonomi. Denpasar: Program Studi Ergonomi Fisiologi Kerja-
Program Pascasarjana Universitas Udayana, 11-12.
Darmojo, R. B., & Martono, H. H. (2004). Geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut). Edisi ke-3. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Grandjean, E. (1988). Fitting the Task to the Man, a textbook of Occupational Ergonomic.
Indonesia, P. R. (2006). Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut
usia. Departemen Sosial RI.
Indonesia, P. R. (2006). Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut
usia. Departemen Sosial RI.
Kumashiro, M. (2005). Practical measurement of psychophysiological functions for determining
workloads. In Evaluation of Human Work, 3rd Edition (pp. 608-630). CRC Press.
Manuaba, A. (2007). A total approach in ergonomics is a must to attain humane, competitive and sustainable
work systems and products. Journal of human ergology, 36(2), 23-30.
Reed, J., Clarke, C. L., & Macfarlane, A. (Eds.). (2011). Nursing Older Adults: Partnership Working. McGraw-
Hill Education (UK).
Strömberg, C. A., Dunn, R. E., Madden, R. H., Kohn, M. J., & Carlini, A. A. (2013). Decoupling the spread
of grasslands from the evolution of grazer-type herbivores in South America. Nature communications, 4, 1478.
Usia, K. N. L. (2010). Aksesibilitas dan Kemudahan dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana. Jakarta:
Komisi Nasional Lanjut Usia.

Lestari, A. S., Adiputra, N., Manuaba, I. A., & Sutjana, I. D. P. (2016). Access to personal hygiene improves
the quality of life at elderly hostels. International Research Journal of Engineering, IT & Scientific
Research, 2(11), 22-28. [Link]
28  ISSN: 2454-2261

Biography of Authors

Agus Sri Lestari. [Link] Master of


Ergonomics
Experts in the field of ergonomics - work physiology Email:
agussri789@[Link]Prof. Dr. dr. N. Adiputra, [Link]., PFK., [Link].
a professor in the field of medical science
ergonomics specialist
Experts in the field of ergonomics - work physiologyProf.
[Link] Manuaba,HonF.,ErgS.,FIPS a professor in the field of
Ergonomi
ergonomics specialist
Experts in the field of ergonomics - work physiologyProf. dr. I Dewa
Putu Sutjana, PFK., [Link]., [Link] a professor in the field of medical
science
ergonomics specialist
Experts in the field of ergonomics - work physiology

IRJEIS Vol. 2 No. 11, November 2016, pages: 22~28

Anda mungkin juga menyukai