BAB IV
PERHITUNGAN
4.1 Kapasitas Mesin
Pada bagian ini perlu dilakukan perkiraan kapasitas alat sehingga dapat
memudahkan untuk melakukan perhitungan beban yang akan diterima motor dan
membandingkan alat dengan sistem konvensional.
A. Perhitungan Kapasitas Mesin
Q = 750 kg/jam
750 kg 1 jam
= x = 12,5 kg/menit = 12500 gr/menit
jam 60 menit
Dimana Q = Kapasitas mesin
B. Daya motor
Menghitung Gaya
Caranya dengan meletakkan rumput dan pisau diatas timbangan lalu pisau yang
sudah menindih rumput lalu dikasi beban diatasnya. Beban dipilih sampai rumput
itu terpotong. Setelah rumput itu terpotong maka itulah massa minimum yang
didapat. Batang rumput dipilih bagian pangkal karena merupakan bagian paling
besar dan keras, dengan diameter rata-rata batang mendekati 2,5 cm
Dari percobaan diatas maka disimpulkan diperoleh gaya rata-rata potong
maksimal rumput yaitu sebesar 3,4kg.
Gambar 3.3 Mencari Massa
Gambar 3.4 Mencari Massa
Menghitung Putaran Mesin
Jika setiap kali 1 putaran poros menghasilkan 2 kali potong maka 1 putaran =
2 kali potongan dan jika berat sayatan dalam 2 kali potongan rata rata adalah
12,12 gram maka :
1 putaran = 2 potongan = 1 x 12,1 gram
gram gram
= 12500 : 12,1 = 1031,2 rpm
menit putaran
Jadi putaran mesin yang dibutuhkan adalah 1031,2 rpm
Direncanakan :
n1 = 1400 rpm
d1 = 75 mm
d2 = 100 mm
n 1 x d 1 1400 x 75
n2 = = = 1050 rpm
d2 100
Jadi putaran pada puli poros adalah 1031 rpm sedangkan putaran mesin
yang dibutuhkan 1050 rpm, bisa dikatakan sudah memenuhi karena putaran puli
poros mendekati putaran mesin yang dibutuhkan.
Menghitung Torsi Pisau
P=T.ω T = F. r
Dimana F = gaya yang bekerja
T = Torsi
R = setengah panjang pisau = 205 mm = 0,205 m
Gambar 3.5 pisau pencacah rumput
Gaya yang bekerja pada pencacah rumput :
F = 3,4 kg . 9,81 ⁄ = 33,4 N Jadi torsi yang bekerja
T=F.r
= 33,4 N . 0,205 m
= 6,83 Nm
Gambar 3.6 Torsi pada mesin
Menghitung Torsi Pulley 1
T 2 x n 2 6,83 x 75
T1= = = 5,1 N
n1 100
Daya motor
Setelah mengetahui berapa besarnya torsi dan rpm yang dihasilkan, maka
selanjutnya kita bisa menghitung berapa daya yang dibutuhkan guna
menggerakkan mekanisme transmisi mesin pencacah rumput ini. Perhitungan
daya (P) pada mesin tanpa memperhitungkan efisiensi yang terjadi ditransmisi
dapat dihitung dengan rumus :
P
T = (Robert [Link], 2009:339)
n
Jika, T = F × r ; dan n = ω (putaran/menit)
2π n
Maka, P = T ( )
60
Keterangan:
T = Torsi (N.m)
n = Putaran poros digerakkan (rpm)
P = Daya nominal (Watt)
ω = Kecepatan sudut (putaran/menit)
2 π × 1400 rpm
P = 5,1 N.m ( )
60 s
= 747,32 Nm/s = 747,32 Watt
= 1 Hp (daya direncanakan)
4.2 Perhitungan Kapasitas Mesin Pencacah Rumput
Kapasitas Mesin
Pada bagian ini perlu dilakukan perkiraan kapasitas alat sehingga dapat
memudahkan untuk melakukan perhitungan beban yang akan diterima motor dan
membandingkan alat dengan sistem konvensional.
A. Perhitungan Kapasitas Mesin
Q = 750 kg/jam
750 kg 1 jam
= x = 12,5 kg/menit = 12500 gr/menit
jam 60 menit
Dimana Q = Kapasitas mesin
4.3 Perhitungan Daya motor
Menghitung Gaya
Caranya dengan meletakkan pisau di atas timbangan (posisi tegak lurus terhadap
neraca), kemudian hijauan dipecutkan ke arah pisau. Ketika rumput gajah
terpotong, pada saat yang bersamaan neraca akan menunjukkan berapa kg gaya
potong maksimal yang terjadi. Batang rumput dipilih bagian pangkal karena
merupakan bagian paling besar dan keras, dengan diameter rata-rata batang
mendekati 2,5 cm
Dari percobaan diatas maka disimpulkan diperoleh gaya rata-rata potong
maksimal rumput yaitu sebesar 3,4kg.
Menghitung Putaran Mesin
Jika setiap kali 1 putaran poros menghasilkan 2 kali potong maka 1 putaran =
2 kali potongan dan jika berat sayatan dalam 2 kali potongan rata rata adalah
12,12 gram maka :
1 putaran = 2 potongan = 1 x 12,1 gram
gram gram
= 12500 : 12,1 = 1031,2 rpm
menit putaran
Jadi putaran mesin yang dibutuhkan adalah 1031,2 rpm
Direncanakan :
n1 = 1400 rpm
d1 = 75 mm
d2 = 100 mm
n 1 x d 1 1400 x 75
n2 = = = 1050 rpm
d2 100
Jadi putaran pada puli poros adalah 1031 rpm sedangkan putaran mesin
yang dibutuhkan 1050 rpm, bisa dikatakan sudah memenuhi karena putaran puli
poros mendekati putaran mesin yang dibutuhkan.
Gambar 4.1 pisau pencacah rumput
Menghitung Torsi Pisau
P=T.ω T = F. r
Dimana F = gaya yang bekerja
T = Torsi
R = setengah panjang pisau = 205 mm = 0,205 m
Gaya yang bekerja pada pencacah rumput :
F = 3,4 kg . 9,81 ⁄ = 33,4 N Jadi torsi yang bekerja
T=F.r
= 33,4 N . 0,205 m
= 6,83 Nm
Gambar 4.2 Torsi pada mesin
Menghitung Torsi Pulley
T 2x n2 6,83 x 75
T1= = = 5,1 N.m
n1 100
Setelah mengetahui berapa besarnya torsi dan rpm yang dihasilkan, maka
selanjutnya kita bisa menghitung berapa daya yang dibutuhkan guna
menggerakkan mekanisme transmisi mesin pencacah rumput ini. Perhitungan
daya (P) pada mesin tanpa memperhitungkan efisiensi yang terjadi ditransmisi
dapat dihitung dengan rumus :
P
T = (Robert [Link], 2009:339)
n
Jika, T = F × r ; dan n = ω (putaran/menit)
2π n
Maka, P = T ( )
60
Keterangan:
T = Torsi (N.m)
n = Putaran poros digerakkan (rpm)
P = Daya nominal (Watt)
ω = Kecepatan sudut (putaran/menit)
2 π × 1400 rpm
P = 5,1 N.m ( )
60 s
= 747,32 Nm/s = 747,32 Watt
= 1 Hp (daya direncanakan)
4.4. Perencanaan V Belt
Perencanaan V-belt
dk
Dk
Gambar 4.3 V – belt pada pulley
Gambar 12. Keterangan Rumus Perhitungan Sabuk-V Keterangan :
C = jarak sumbu poros
Dk = diameter luar puli yang digerakkan
dk = diameter luar puli penggerak
Maka perancangan v-belt :
1. Penampang sabuk-V tipe A
2. Kecepatan sabuk (V)
π . dp . n 1
V= (Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:166)
60 x 100
Keterangan
V = Kec sabuk
dp = diameter puli
n1 = putaran motor
3.14 x 75 x 1400
V=
60 x 100
3. V = 5,495 m/s lebih kecil dari 30 m/s, baik
4. Gaya tangensial sabuk V (Fe) (Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:171)
Po . 102
Fe =
v
0.746 x 102
Fe =
5,495
Fe = 13,86 kg = 14 kg
Keterangan : Fe = Gaya tangensial sabuk V
Po = Kapasitas transmisi daya
5. Sudut kontak antara sabuk dengan pulley penggerak
Gambar 4.4 Sudut kontak antara sabuk dengan pulley yang digerakkan
57(d 2−d 1)
θ = 180° -
C1
57(100−75)
θ = 180° -
455
θ = 180° - 3,13o = 17,68o
Faktor koreksi = 1o
Sedangkan sudut kontak antara sabuk dengan puli yang digerakkan adalah
θ = 360o – 17,68o = 183,2
θ = (183,2o/ 180o ) x π = 3,19 radian
Dengan demikian besarnya sisi gaya tarik pada sisi Tarik sabuk F1 (kg) :
e = 2,72
θ = Sudut kontak antara sabuk dengan puli ( radian )
μ = Koefisien gesek bahan 0,3
eμθ
F1 = x Fe
eμθ−1
F1 = (2,72(0,3 x 3,19) / 2,72(0,3 x 3,19) -1 ) x 13,86
= 22,49 kg
Besarnya gaya tarik pada sisi kendor sabuk F2 (kg)
F2 = F1- Fe
F2 = 22,49 – 13,86
F2 = 8,63 kg
Jadi besarnya gaya total yang diterima poros akibat tarikan sabuk F adalah
F = F1 + F2
F = 22,49 + 8,63
F = 31,125 kg = 31
π 1
6. L = 2c + (dp + Dp ) + (Dp – dp)2 (Sularso dan Kiyokatsu Suga,
2 4C
2004:170)
3,14 1
L = 2 x 455 + (75 + 100) + (100 – 75)2
2 4 x 455
L = 910 + 274,5 + 0,34
L = 985,09 mm
Keterangan:
L = Panjang keliling sabuk
C = Jarak sumbu poros
dp = Diameter puli kecil
Dp = Diameter puli besar
7) Nomor nominal sabuk-V = No.39, L = 985,09 mm
8) Jadi v-belt yang sesuai dengan sistem transmisi mesin perajang hijauan
pakan ternak adalah v-belt tipe A-39 dengan jarak poros 445 mm.