TUGAS RESUME
TENTANG:
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH, KEMAMPUAN PENALARAN
MATEMATIKA DAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIKA
MATA KULIAH:
EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh:
DIAN PERMATA SARI
NPM. 19205042
Dosen Pembinbing: Dr. ALI ASMAR, [Link]
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
A. Pengertian Masalah
Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk
menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk
menyelesaikannya. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut
langsung mengetahui cara menyelesaikannya dengan benar, maka soal tersebut tidak
dapat dikatakan sebagai masalah.
Beberapa ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah merupakan
pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Namun tidak setiap pertanyaan otomatis
merupakan suatu masalah. Suatu pertanyaan disebut masalah tergantung kepada
pengetahuan yang dimiliki penjawab. Dapat terjadi bahwa bagi seseorang, pertanyaan itu
dapat dijawab dengan menggunakan prosedur rutin tetapi bagi orang lain untuk menjawab
pertanyaan tersebut memerlukan pengorganisasian pengetahuan yang telah dimiliki secara
tidak rutin.
Jadi suatu pertanyaan dapat menjadi masalah bagi seseorang tetapi bisa hanya
menjadi pertanyaan biasa bagi orang lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Schoenfeld
(1985) yaitu bahwa definisi masalah selalu relatif bagi setiap individu. Kategori
pertanyaan menjadi masalah atau pertanyaan hanyalah pertanyaan biasa ditentukan oleh
ada atau tidaknya tantangan serta belum diketahuinya prosedur rutin pada pertanyaan
tersebut.
Hal ini dikatakan oleh Cooney, 1975 bahwa suatu pertanyaan akan menjadi
masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya tantangan yang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh si pelaku.
Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak
mempunyai aturan/hukum tertentu yang dapat segera dipergunakan untuk menemukan
jawaban pertanyaan tersebut.
Suatu pertanyaan merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu.
Artinya, suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi seorang anak, tetapi mungkin
bukan suatu masalah bagi anak lain. Demikian juga suatu pertanyaan merupakan suatu
masalah bagi seorang anak pada suatu saat, tetapi bukan merupakan suatu masalah lagi
bagi anak tersebut pada saat berikutnya, bila anak tersebut sudah mengetahui cara dan
proses penyelesaian masalah tersebut.
Syarat suatu masalah bagi seorang siswa adalah :
1. Pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang siswa haruslah dapat dimengerti oleh
siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk
menjawabnya.
2. Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah
diketahui siswa. Karena itu, faktor waktu untuk menyelesaikan masalah janganlah
dipandang sebagai hal yang esensial.
Pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa disebut soal. Soal-soal matematika
dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Latihan yang diberikan pada saat belajar matematika adalah bersifat berlatih
agar terampil atau sebagai aplikasi dari pengertian yang baru saja diajarkan
2. Untuk menyelesaikan suatu masalah, siswa tersebut harus menguasai hal-hal
yang telah dipelajari sebelumnya yaitu mengenai pengetahuan, keterampilan
dan pemahaman.
Menurut Polya (1973), terdapat dua macam masalah, yaitu :
Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkrit,
termasuk teka-teki. Bagian utama dari masalah ini adalah :
a. Apakah yang dicari?
b. Bagaimana data yang diketahui?
c. Bagaimana syaratnya?
Ketiga bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis
ini.
B. Pengertian Pemecahan Masalah
Pada awal abad ke sembilan belas, pemecahan masalah dipandang sebagai
kumpulan keterampilan bersifat mekanis, sistematik, dan seringkali abstrak sebagaimana
keterampilan yang digunakan pada penyelesaian soal sistem persamaan. Penyelesaian
masalah seperti ini seringkali hanya berlandaskan pada solusi logis yang bersifat tunggal
(Kirkley, 2003).
Menurut Garofalo dan Lester (dalam Kirkley, 2003), pemecahan masamasah
mencakup proses berpikir tingkat tinggi seperti proses visualisasi, asosiasi, abstraksi,
manipulasi, penalaran, analisis, sintesis, dan generalisasi yang masing-masing perlu
dikelola secara terkoordinasi.
Menurut NCTM (2000) memecahkan masalah berarti menemukan cara atau jalan
mencapai tujuan atau solusi yang tidak dengan mudah menjadi nyata. Sedangkan menurut
Polya (dalam Hudoyo, 1979) definisi pemecahan masalah adalah sebagai usaha mencari
jalan keluar dari suatu kesulitan, mencapai tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapai.
Pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang
dihadapi untuk mencapai suatu tujuan yang hendak dicapai. Memecahkan suatu masalah
matematika itu bisa merupakan kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal
yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan
lain dan membuktikan atau menciptakan atau menguji konjektur.
Menurut Polya (Dardiri, 2007 : 28) menjelaskan bahwa pemecahan masalah
merupakan suatu aktivitas intelektual yang sangat tinggi sebab dalam pemecahan masalah
siswa harus dapat menyelesaikan dan menggunakan aturan-aturan yang telah dipelajari
untuk membuat rumusan masalah. Aktivitas mental yang dapat dijangkau dalam
pemecahan masalah antara lain adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan,
menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi.
Selain itu, Dahar (Furqon, 2006 : 40) mengungkapkan bahwa pemecahan masalah
merupakan kegiatan manusia yang mengaplikasikan konsep-konsep dan aturan-aturan
yang diperoleh sebelumnya. Bila seorang siswa memecahkan masalah secara tidak
langsung terlibat dalam perilaku berpikir.
Proses belajar menggunakan pemecahan masalah memungkinkan siswa
membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri didasarkan pengetahuan yang
telah dimilikinya sehingga proses belajar yang dilakukan akan berjalan aktif dan dinamis.
Berdasarkan uraian tersebut, pemecahan masalah dalam matematika dipandang
sebagai proses dimana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan atau prinsip-prinsip
matematika yang telah dipelajari sebelumnya yang digunakan untuk memecahkan
masalah.
Menurut Polya (1971), solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah
fase penyelesaian, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan
masalah sesuai rencana, dan melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah
yang telah dikerjakan.
Fase pertama adalah memahami masalah. Tanpa adanya pemahaman terhadap
masalah yang diberikan, siswa tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah tersebut
dengan benar. Setelah siswa dapat memahami masalahnya dengan benar, selanjutnya
mereka harus mampu menyusun rencana penyelesaian masalah. Kemampuan melakukan
fase kedua ini sangat tergantung pada pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah.
Pada umumnya, semakin bervariasi pengalaman mereka, ada kecenderungan siswa lebih
kreatif dalam menyusun rencana penyelesaian suatu masalah. Jika rencana penyelesaian
suatu masalah telah dibuat, baik secara tertulis atau tidak, selanjutnya dilakukan
penyelesaian masalah sesuai dengan rencana yang dianggap paling tepat. Dan langkah
terahir dari proses penyelesaian masalah menurut Polya adalah melakukan pengecekan
atas apa yang telah dilakukan mulai dari fase pertama sampai fase penyelesaian ketiga.
Dengan cara seperti ini maka berbagai kesalahan yang tidak perlu dapat terkoreksi
kembali sehingga siswa dapat sampai pada jawaban yang benar sesuai dengan masalah
yang diberikan.
Tingkat kesulitan soal pemecahan-masalah harus disesuaikan dengan tingkat
kemampuan anak. Berdasarkan hasil penelitian Driscoll (1982), pada anak usia sekolah
dasar kemampuan pemecahan masalah erat sekali hubungannya dengan kemampuan
pemecahan-masalah. Sedangkan pada anak yang lebih dewasa, misalkan siswa SMU,
kaitan antar kedua hal tersebut sangat kecil.
C. Jenis-jenis Masalah dalam Matematika Beserta Contohnya
Masalah dalam matematika dapat dibagi atas beberapa macam. Para ahli membagi
masalah tersebut dalam berbagai jenis berdasarkan sudut pandang masing-masing.
Menurut Polya (1957) (dalam Dindyal, 2005: 70), masalah dibagi atas dua macam,
yaitu masalah rutin dan masalah tidak rutin. Hal ini sejalan dengan pendapat Sternberg
dan Ben-Zeev (1996: 32) bahwa masalah matematika terbagi atas masalah rutin dan
masalah tidak rutin.
Masalah rutin adalah suatu masalah yang semata-mata hanya merupakan latihan yang
dapat dipecahkan dengan menggunakan beberapa perintah atau algoritma. Masalah tidak
rutin lebih menantang dan diperlukan kemampuan kreativitas dari pemecah masalah.
Menurut Sternberg dan Ben-Zeev (1996: 32), masalah yang tidak rutin muncul ketika
pemecah masalah mempunyai suatu masalah tetapi tidak segera mengetahui bagaimana
memecahkannya
Masalah matematika dunia nyata adalah suatu pertanyaan yang dikaitkan dengan
keadaan konkrit (Wikipedia, 2008: 1). Masalah dunia nyata digunakan dalam pendidikan
matematika untuk mengajarkan kepada siswa keterkaitan situasi dunia nyata dengan
bahasa matematika yang abstrak. Keterkaitan matematika dengan dunia nyata yang
tampak pada setiap pernyataan atau soal matematika yang diberikan akan berdampak
pada banyak aspek dalam diri siswa seperti lebih tertarik untuk mempelajari matematika
dan meningkatkan kemampuan berpikirnya. Oleh karena itu, siswa perlu diarahkan
untuk memahami bagaimana menyelesaikan masalah dunia nyata secara lebih baik.
Sehubungan dengan masalah yang tidak rutin ini, menurut Polya (1973) (dalam
Hudojo, 2001: 164), di dalam matematika terdapat dua macam masalah, yaitu: (1)
masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk
teka-teki; dan (2) masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu
pernyataan itu benar atau salah - tidak kedua-duanya. Bagian utama dari masalah
menemukan adalah: ”Apakah yang dicari? Bagaimana data yang diketahui? Bagaimana
syaratnya?”, sehingga masalah seperti ini lebih penting dalam matematika elementer,
sedangkan masalah membuktikan lebih penting dalam matematika lanjut. Kedua macam
masalah ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan siswa mempelajari
matematika. Setiap masalah dalam matematika memerlukan pemecahan dan pemecahan
itu harus dapat dibuktikan atau dapat dikomunikasikan sehingga dapat diterima oleh
orang lain.
Jenis masalah dalam pembelajaran ada 4 yaitu:
1. Masalah Translasi
Masalah translasi adalah masalah yang berhubungan aktivitas sehari-hari siswa.
2. Masalah Aplikasi
Masalah aplikasi adalah masalah yang menerapkan suatu konsep,rumus matematika
dalam sebuah soal-soal matematika.
3. Masalah Proses/Pola
Masalah proses/pola adalah masalah yang memiliki pola, keteraturan dalam
penyelesainnya.
4. Masalah Teka-teki
Masalah teka-teki adalah masalah yang sifat menerka atau dapat berupa permainan
namun tetap mengacu pada konsep dalam matematika.
Masalah di dalam matematika dapat diklasifikasi dalam dua jenis (Pusat Kurikulum,
2002 a, b, dan c), yaitu :
a. Penemuan (Problem to find), yaitu mencari, menentukan, atau mendapatkan nilai
atau objek tertentu yang tidak diketahui dari soal serta memenuhi kondisi atau
syarat yang sesuai dengan soal.
b. Pembuktian (Problem to prove), yaitu prosedur untuk menentukan apakah suatu
pernyataan benar atau tidak benar.
D. Jenis-jenis Pemecahan Masalah
Berikut ini beberapa adalah jenis pemecahan masalah
1) Bekerja Mundur
2) Mencari Pola
3) Mengadopsi Sudut Pandang yang Berbeda
4) Menyelesaikan dengan analogi yang lebih sederhana
5) Meninjau Kasus Ekstrim
6) Membuat Gambar (Visualisasi Masalah)
7) Terkaan Cerdas dan Pengujian
8) Menghitung Semua Kemungkinan
9) Mengorganisasi Data
10) Penalaran Logis
KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA
A. Pengertian Penalaran Matematika
Penalaran adalah suatu aspek yang tidak lepas dari matematika. Karena itulah
dalam Depdiknas dinyatakan bahwa “Materi matematika dan penalaran matematika adalah
dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran
dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika.
Penalaran matematika diperlukan untuk menentukan apakan sebuah argument
matematika benar atau salah dan juga dipakai untuk membangun suatu argument
matematika. Keterampilan penalaran, meliputi memahami pengertian, berfikir logis,
memahami contoh negatif, berpikir deduktif, berpikir sistematis, berpikir konsisten,
menarik kesimpulan, menentukan metode, membuat alasan, dan menentukan strategi.
Jadi kemampuan penalaran matematika adalah kemampuan dalam menarik
kesimpulan melalui langkah-langkah formal yang didukung oleh argument matematika
berdasarkan pernyataan yang diketahui benar atau yang telah diasumsikan kebenarannya,
yang dilihat dari hasil tes siswa dalam mengerjakan soal-soal tipe penalaran
Jenis-Jenis Penalaran Matematika
1. Penalaran Induktif
Penalaran induktif melibatkan persepsi tentang keteraturan. Misalnya,untuk
mendapatkan kesamaan dari contoh-contoh yang berbeda. Dalam matematika,
mendapatkan kesamaan tersebut dapat menjadi dasar dalam rangka pembentukan
konsep, yaitu dengan cara mengurangi hal-hal yang harus diingat. Proses tersebut
dinamakan abstraksi konsep. Sebagai contoh, dalam penalaran deduktif, hubungan
antara fakta dapat diturunkan menjadi konsep baru atau fakta baru bagi penurunan
konsep – konsep yang lain. Proses menurunkan tersebut hingga didapat fakta baru
atau konsep atau prinsip seringkali dapat dilakukan dengan mengandalkan pada
kekuatan bernalar.
Penalaran induktif memainkan peran penting dalam pengembangan dan
penerapan matematika. Sebagai fakta, penemuan matematika ada pula yang berawal
dari suatu penarikan kesimpulan dengan menerapkan penalaran induktif.
Kesimpulan yang ditarik secara induktif tidak selalu dapat dibuktikan secara
deduktif. Kesimpulan demikian dinamakan suatu konjektur. Konjektur adalah suatu
tebakan, penyimpulan, teori,atau dugaan yang didasarkan pada fakta yang tak
tertentu atau tak lengkap.
Penalaran induktif dimulai dengan memeriksa keadaan khusus dan menuju
penarikan kesimpulan umum, yang dinamakan proses induktif generalisasi.
Penalaran tersebut mencakup pengamatan contoh-contoh khusus dan menemukan
pola atau aturan yang melandasinya. Sebagai contoh, hasil kali dua bilangan ganjil
adalah ganjil, yang ditemukan melalui pengamatan dari beberapa contoh khusus.
Kesimpulan yang ditarik dari contoh khusus tersebut merupakan kesimpulan umum,
yaitu hasil kali sebarang dua bilangan ganjil adalah ganjil.
2. Penalaran Deduktif
Adaduajenis penalaran deduktif yaitu kondisional dan silogisma (Matlin,1994).
Penalaran kondisional menjelaskan hubungan“Jika…maka…”. Penalaran silogisma
merupakan kuantor yaitu jenis penalaran yang menggunakan kata-kata semua,
beberapa, dan tidaksatupun (Matlin, 1994:378).
1) Penalaran Kondisional
Penalaran kondisional merupakan hubungan antara kondisi. Jenis
penalaran kondisional yang ditelaah dalam penelitian ini mencakup
hubungan “Jika…maka…”. Ada empat jenis panalaran kondisiona lyaitu, (1)
memperkuat anteseden, (2) memperkuat konsekuen, (3) menyangkal
anteseden, dan (4) menyangkal konsekuen. Untuk masing- masing jenis
dasar penalaran kondisional tersebut diberikan dalam contoh-contoh berikut
ini.
Contoh 1. Memperkuat anteseden
Jika n bilangan genap maka ia habis dibagi dua.
n bilangan genap.
Oleh karena itu, n habis dibagi dua.
Contoh 2. Memperkuat konsekuen
Jika a dan b > 0 maka a +b > 0.
a +b > 0.
Oleh karena itu a dan b > 0
Contoh 3. Menyangkal anteseden
Jika suatu bangun geometri berbentuk persegipanjang, maka terdapat
dua pasang sisi yangsejajar.
Suatu bangun geometri tidak berbentuk persegipanjang.
Oleh karena itu, ia tidak mempunyai dua pasang sisi yang sejajar.
Contoh 4. Menyangkal konsekuen
Jika suatu bangun geometri beralas a dan tinggi t mempunyai luas ½
at maka bangun itu adalah segitiga.
Suatu bangun geometri beralas a dan tinggi t bukan merupakan
segitiga.
Oleh karena itu luasnya tidak samadengan ½ at.
2) Penalaran Silogisme
Bentuk umum dari penalaran silogisma adalah dua premis yang berbentuk
implikasi serta kesimpulan dari kedua premis itu. Maksudnya, jika premis
pertama merupakan implikasi “jika p maka q” dan premis kedua berbentuk “jika
q maka r”, maka bentuk umum silogisma adalah sebagai berikut.
Premis pertama : p →q
Premis kedua : q→r
Kesimpulan : p →r
Dengan demikian, silogisma terdiri atas dua premis atau pernyataan,
ditambah dengan suatu kesimpulan. Silogisma mencakup kata semua,
beberapa, tidak satupun atau istilah-istilah lain yang sejenis.
Contoh 1
Beberapabilangan asli adalah bilangan prima.
Beberapa bilangan prima adalah bilangan ganjil.
Oleh karenaitu, beberapabilangan asli adalah bilangan ganjil.
Contoh tersebut benar. Tetapi ada juga yang tidak benar seperti contoh 2
berikut.
Contoh 2
Beberapabilangan ganjil adalah bilangan prima.
Beberapabilangan prima adalah bilangan genap.
Jadi, beberapabilangan ganjil adalah bilangangenap.
Menurut NCTM, standar penalaran yang harus dikuasai siswa sekolah antara lain:
a) Mengingat dan menggunakan penalaran deduktif dan induktif.
b) Memahami dan menggunakan proses penalaran dengan perhatian tertentu untuk
penalaran spasial (tilikan ruang) dan penalaran dengan proporsi dan grafik.
c) Membuat dan mengevaluasi konjektur dan argumen matematika
d) Memvalidasi berpikir mereka sendiri.
e) Menyadari kegunaan dan kekuatan penalaran sebagai bagian dari matematika.
Menurut Glade dan Citron (Dahlan, 2004: 43), terdapat enam keterampilan bernalar
yang dapat dikembangkan dalam proses mental, yaitu:
1) Thing-making, yaitu pengamatan dan proses identifikasi sesuatu melalui nama sebuah
kata (word names), simbol, atau bayangan mental (mental images).
2) Qualification, yaitu penganalisisan karakteristik sesuatu.
3) Classification, yaitu pengaturan sesuatu ke dalam kelompok berdasarkan karakteristik
yang mirip.
4) Structure Analysis, yaitu menganalisis dan menciptakan suatu keterhubungan
(relationship).
5) Operation Analysis, yairu pengurutan (sequencing) sesuatu, hal, atau pikiran-pikiran
ke dalam urutan secara logis.
6) Seeing Analogies, yaitu pengenalan hubungan-hubungan yang sama.
Dalam pembelajaran penalaran, Glade dan Citron juga memberikan 4 tahapan program
pembelajaran penalaran yang terlihat pada Diagram berikut:
Tahap III Tahap IV
Tahap I Tahap II Keterampilan Aplikasi
Pengantar ke Keterampilan Bernalar
Pengembangan Keterampilan bernalar bernalar
Bernalar dalam pembelajaran dalam problem
Nonacademic matematika solcing
Pengantar Pengantar
Tugas matematika untuk ketrampilan berfikir siswa secara comprehensip
alat-alat alat-alat
keterampilan keterampilan
berfikir berfikir Salah satu dari bahan untuk tahap metakognisi
kumpulan kumpulan
plakat plakat
ketrampilan bernalar ketrampilan bernalar
B. Indikator Penalaran Matematika
Penalaran matematika yang mencakup kemampuan untuk berfikir secara logis dan
sistematis merupakan ranah kognitif matematika yang paling tinggi. Menurut Peraturan
Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004, indikator kemampuan yang termasuk pada
kemampuan penalaran matematika, yaitu sebagai berikut :
a. kemampuan menyajikan penyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar,
dan diagram;
b. kemampuan mengajukan dugaan;
c. kemampuan melakukan manipulasi matematika;
d. kemampuan menyusun bukti, memberikan alas an atau bukti terhadap
kebenaran solusi;
e. kemampuan menarik kesimpulan dari pernyataan;
f. memeriksa keshahihan suatu argumen;
g. menemukan pola atau sifat dari gejala matematika untuk membuat
generalisasi.
Soal-soal penalaran memiliki karakteristik tersendiri. Sa’dijah dalam Nizar
menjelaskan tentang karakteristik soal matematika yang termasuk kedalam kategori
penalaran sebagai berikut :
a. soal yang meminta siswa untuk menyajikan suatu pernyataan matematika baik
lisan, tertulis, maupun diagram;
b. soal yang meminta siswa untuk menarik kesimpulan, menyusun bukti dan
menarik kesimpulan terhadap kebenaran solusi;
c. soal yang mengharuskan siswa untuk menarik kesimpulan dari suatu
pernyataan;
d. soal yang memungkinkan siswa untuk memeriksa keshahihan argument;
e. soal yang meminta siswa untuk melakukan manipulasi matematika;
f. soal yang meminta siswa untuk menemukan pola atau sifat dari gejala
matematika untuk membuat generalisasi;
g. soal yang meminta siswa untuk mengajukan dugaan.
Rubik Penilaian Penalaran menurut Sa’dijah diantaranya sebagai berikut:
Level Kategori
0 Bukan jawaban yang sesuai. Tidak menggunakan istilsh-
istilah dalam bahasa pengukuran, data dan peluang,
1 aljabar, geometri, dan bilangan.
Jawaban salah, tetapi beberapa alas an dicoba
2 mengemukakan.
Jawaban benar, tetapi penalarannya tidak lengkap atau
3 tidak jelas.
Jawaban benar dan penalaran baik. Penjelasannya lebih
4 lengkap dari level tetapi mengandalkan pada pengetahuan
konkret atau visual dari pengetahuan abstrak.
Jawaban sempurna, siswa menggunakan pengetahuandari
bahasa pengukuran, aljabar, geometri, dan bilangan.
C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kemampuan Bernalar
1. Faktor-faktoryang MempengaruhiPenalaran Kondisional
Ada dua faktor yang seringkali menimbulkan kesalahan dalam penalaran
kondisional yang ditentukan dalam pembelajaran (Barrody,1993), yaitu: (1) salah
karena keabstrakan permasalahan dan (2) kesalahan karena pernyataan memuat
informasi yang negatif.
Siswa membuat kesalahan pada saat mereka menggambarkan kesimpulan
pada penalaran kondisional, walaupun mereka telah memperoleh pelajaran logika
(Chene, 1986). Terdapat empat jenis kesalahan yang sering dilakukan siswa.
a) Membuat hanya satu model dari anterseden dan konsekuen.
Menurut Johnson-Laird dan Byrne (1991), siswa mengkonstruksikan
kognisinya untuk merepresentasikan premis/ dalam kognisinya, tidak
menggambarkan semua kemungkinan logis.
b) Membuat Konversi “Gelap”
Konversi gelap merupakan salah satu bentuk kesalahan interpretatif yang
sering dilakukan. Konversi gelap berarti siswa tidak tepat dalam
mengubah suatu bagian permasalahan menjadi bentuk lain.
c) Mencoba Mengkonfirmasi Hipotesis, dari pada Mencoba Menyangkalnya.
d) Kegagalan Mentransfer Pengetahuan padaTugas Baru.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penalaran Silogisma
Beberapa variable dapat mempengaruhi tampilan silogisma. Semua ini meliputi
faktor-faktor bahasa dan waktu.
Bentuk kalimat adalah kritis dalam menentukan kesulitan silogisma.
Sebagaimana kita lihat dengan penalaran kondisional, permasalahan adalah lebih
sulit memecahkan ketika mereka melibatkan kata - kata negative seperti tidak.
Selain itu, silogisma lebih sulit jika mereka menggunakan bentuk negatif
(Lippman,1972). Siswa memahami bahasa lebih baik apabila dalam bentuk aktif
dari pada pasif.
Waktu yang tersedia juga mempunyai efek yang jelas terhadap keakuratan dalam
memecahkan masalah silogisma. Galotti (1986) dalam penelitiannya mengatakan
bahwa dengan diberikannya waktu yang sedikit, mereka dapat memberikan hanya
kesan pertama jawaban yang benar. Apabila diberi waktu yang cukup, mereka
menjawab dengan lebih baik. Siswa yang berkemampuan tinggipun membuat
kesalahan jika waktunya sedikit.
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIKA
A. Pengertian Koneksi Matematis
Koneksi matematika terdiri dari dua kata yang berasal dari Mathematical Connection
yang dipopulerkan oleh NCTM dan dijadikan sebagai standar kurikulum pembelajaran
matematika sekolah dasar dan menengah. Koneksi matematika merupakan salah satu
kemampuan yang menjadi tujuan pembelajaran matematika. Koneksi matematika terjadi
antara matematika dengan matematika itu sendiri atau antara matematika dengan di luar
matematika dan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuan
koneksi matematika, selain memahami manfaat matematika, siswa mampu memandang
bahwa topik-topik matematika saling berkaitan.
Koneksi matematika adalah jembatan dimana pengetahuan sebelumnya atau
pegetahuan baru digunakan untuk membangun atau memperkuat pemahaman tentang
hubungan antara ide-ide matematika, kosep, alur, atau representasi.
Bell (1978: 145) menyatakan bahwa tidak hanya koneksi matematik yang penting
namun kesadaran perlunya koneksi dalam belajar matematika juga penting. Apabila
ditelaah tidak ada topik dalam matematika yang berdiri sendiri tanpa adanya koneksi
dengan topik lainnya. Koneksi antar topik dalam matematika dapat difahami siswa apabila
anak mengalami pembelajaran yang melatih kemampuan koneksinya, salah satunya adalah
melalui pembelajaran yang bermakna.
“When student can connect mathematical ideas, their understanding is deeper and
more lasting” (NCTM, 2000:64). Apabila para siswa dapat menghubungkan gagasan-
gagasan matematis, maka pemahaman mereka akan lebih mendalam dan lebih bertahan
lama. Pemahaman siswa akan lebih mendalam jika siswa dapat mengaitkan antar konsep
yang telah diketahui siswa dengan konsep baru yang akan dipelajari oleh siswa. Seseorang
akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah
diketahui orang tersebut. Oleh karena itu untuk mempelajari suatu materi matematika yang
baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses
belajar materi matematika tersebut (Hudojo, 1988:4).
Menurut Jihad (2008: 169), koneksi matematika merupakan suatu kegiatan yang
meliputi hal-hal berikut ini:
1. Mencari hubungan berbagai representasi konsep dan prosedur.
2. Memahami hubungan antar topik matematika.
3. Menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari.
4. Memahami representasi ekuivalen konsep yang sama.
5. Mencari koneksi satu prosedur ke prosedur lain dalam representasi yang ekuivalen.
6. Menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antara topik matematika dengan topik
lain.
Kemampuan koneksi matematika adalah kemampuan siswa dalam mencari hubungan
suatu representasi konsep dan prosedur, memahami antar topic matematika, mengaitkan
ide-ide matematika dan kemampuan siswa mengaplikasikan konsep matematika dalam
bidang lain atau dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, koneksi
matematika tidak hanya menghubungkan antar topik dalam matematika, tetapi juga
menghubungkan matematika dengan berbagai ilmu lain dan dengan kehidupan.
Menurut Sumarmo (2003), kemampuan koneksi matematika siswa dapat dilihat dari
indikator-indikator berikut: (1) mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama;
(2) mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi
yang ekuivalen; (3) menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan
keterkaitan diluar matematika; dan (4) menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-
hari.
B. Contoh koneksi matematika
1. Koneksi matematika dengan matematika
Contoh hubungan matematika dengan pembahasa matematika:
a. Pecahan di hubungkan dengan desimal dpersen.
b. Bilangan bulat dihubungkan dengan garis bilangan.
c. Bangun segitiga dihubungkan dengan trigonometri.
2. Koneksi matematika dengan ilmu lain
Contoh lain koneksi matematika dengan mata pelajaran lain:
a. Ekonomi: Perhitungan kolom debit dikurang kolom kredit dapat saldo akhir,
menghitung analisis keuangan, menghitung penjualan produk, menghitung
keuntungan perusahaan tahun lalu dan tahun sekarang (jika tahun sekarang
keuntungan besar, maka gaji karyawan naik).
b. Agama: Menghitung tahun berapa rumah ibadah dibangun, menentukan tanggal
berapa mulai puasa dan termasuk tanggal idul fitri.
c. Computer: ilmu dasar computer hanya dikenal angka nol dan satu saja (2-9 tak dikenal
oleh prosessor).
d. Seni music: Not balok dikonvesikan ke not angka ketukan berapa, setengah ketukan,
seperempat ketukan.
e. Sejarah: Menghitung berapa lama/usia fosil tengkorak manusia purba.
f. Arsitek: Menghitung jumlah cat tembok yang dibutuhkan untuk mencat tembok
dengan ukuran 4000 meter persegi.
g. Fisika: Menghitung berapa kecepatan mobil sport Km/jam dan bahan bakar yang
dibutuhkan.
h. Kimia: Menghitung rumus-rumus kimia. Menghitung persentase kandungan alcohol
yang dihasilkan dari hasil lab.
i. Geografi: Menghitung jarak antara bumi dengan bulan atau bintang dan luas bumi.
3. Koneksi matematika dengan kehiudpan sehari-hari
a. Aljabar dapat membantu pedagang untuk menghitung besar kecil keuntungan atau
kerugian yang dapat diperolehnya, dan dapat menentukan besar modal yang
dibutuhkan.
b. Manfaat aplikasi Aljabar bagi Ibu RumahTangga adalah untuk memanajemen
uang gaji, uang saku anak, uang sekolah anak, dll.
c. Manfaat Aljabar yang sering diterapkan siswa adalah untuk memanajemen uang
saku yang diberikan orang tua tiap minggu.
C. Standar Koneksi Matematika Untuk Kelas 9 – 12 menurut NCTM
Standar koneksi dalam pembelajaran matematika menurut NCTM (2000 : 64)
meliputi :
1. Mengenali dan menggunakan hubungan antar ide-ide dalam matematika.
2. Memahami keterkaitan ide-ide matematika dan membentuk ide satu dengan yang lain
sehingga menghasilkan suatu keterkaitan yang menyeluruh.
3. Mengenali dan mengaplikasikan matematika ke dalam dan lingkungan di luar
matematika.
Siswa di kelas 9-12 harus mengembangkan kemampuannya dalam
menghubungkan gagasan matematika dan pemahaman yang secara mendalam lebih
dari satu pendekatan tentang bagaimana masalah yang sama dapat memnghasilkan hasil
yang sama, meskipun cara atau pendekatan yang digunakan mungkin terlihat berbeda.
(misalnya, masalah "menghitung segi empat" pada bagian "Pemecahan Masalah" di bab
ini.) Siswa dapat menggunakan wawasan yang diperoleh dalam satu konteks untuk
membuktikan atau membantah dugaan yang dihasilkan di bidang lain, dan dengan
menghubungkan gagasan matematika, mereka dapat mengembangkan pemahaman
yang kuat dari masalah-masalah.
D. Penerapan standar koneksi untuk siswa kelas 9-12 di kelas menurut NCTM
Contoh hipotetis berikut ini menyoroti koneksi antara apa yang akan muncul menjadi
representasi yang sangat berbeda dari pendekatan masalah matematika.
Para siswa matematika di [Link] kelas sepuluh menduga mereka berada dalam
beberapa pemecahan masalah yang menarik saat dia memulai kelas dengan cerita ini: "Saya
mengalami dilema. Seperti yang mungkin Anda ketahui, saya memiliki anjing yang setia
dan sebuah halaman berbentuk seperti segitiga siku-siku. Ketika saya pergi untuk jangka
waktu yang singkat, saya ingin Fido menjaga halaman. Karena saya tidak ingin dia
melepaskan diri, saya ingin menempatkan dia pada tali pengikat dan mengamankan tali
tersebut di tempat parkir. Saya ingin menggunakan tali sependek mungkin, tapi dimanapun
saya mengamankan tali pengikat, saya harus memastikan anjing bisa mencapai setiap sudut
tempat parkir. Di mana saya harus mengamankan tali itu?" Setelah Mr. Robinson
menanggapi pertanyaan dan komentar yang biasa (seperti "Apakah Anda benar-benar
memiliki seekor anjing?" "Hanya seorang guru matematika yang memiliki segitiga-
berbentuk banyak atau perhatikan bahwa benda itu berbentuk segitiga!" "Tipe apa anjing
itu?"), dia meminta siswa untuk bekerja dalam kelompok tiga orang. Semua alat, termasuk
kompas, straightedge, kalkulator, dan komputer dengan perangkat lunak geometri, telah
tersedia. Mereka harus membuat sebuah rencana untuk memecahkan masalah.