Pembelajaran Diesel Engine Lanjutan
Pembelajaran Diesel Engine Lanjutan
DIESEL ENGINE 2
SEMESTER II
MODUL SISWA
DIESEL ENGINE
DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN
Materi pembelajaran Diesel Engine 2 merupakan lanjutan dari materi Diesel
Engine 1 sebelumnya, dimana pada materi pembelajaran kali ini akan dibahas lebih
mendalam lagi mengenai diesel engine. Secara keseluruhan materi pembelajaran Diesel
Engine 2 ini terdiri atas 4 (empat) bab.
Pada bab 1, siswa akan mempelajari prinsip-prinsip dasar lanjutan mengenai diesel
engine, yang meliputi:
• pembahasan mengenai daya guna engine,
• pembahasan yang lebih mendalam mengenai proses pembakaran pada diesel
engine, dan
• pembahasan mengenai gas buang pada diesel engine,
Pada bab 2, siswa akan mempelajari lebih mendalam lagi tentang komponen-
komponen utama pada diesel engine, yang meliputi nama, fungsi, lokasi, struktur,
material, dan cara penanganan masing-masing komponen tersebut.
Pada bab 3, siswa akan mempelajari mengenai struktur dan cara kerja yang lebih
mendalam yang terdapat pada komponen-komponen pembantu pada diesel engine,
yang meliputi: sistem bahan bakar, sistem pendinginan, sistem pemasukan dan
pengeluaran udara, dan sistem kelistrikan.
Pada bab terakhir, yaitu bab 4, siswa akan mempelajari mengenai berbagai macam
pemeriksaan dan penyetelan yang biasa dilakukan pada diesel engine. Pada bab ini
siswa tidak hanya dituntut untuk dapat menjelaskan mengenai tiap-tiap prosedur
pemeriksaan dan penyetelan pad diesel engine, melainkan siswa juga dituntut untuk
dapat melakukan prosedur-prosedur tersebut.
DAFTAR ISI
DIESEL ENGINE
DESKRIPSI
PROGRAM
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Metode
• Teori (25%)
a. Ceramah
b. Diskusi
• Praktek (75%)
a. Peragaan
b. Praktek
Durasi
8 hari kerja
Jumlah Siswa
Maksimal 16 orang
Kriteria Kelulusan
• Kehadiran minimal 90 % dari total jam pembelajaran.
• Evaluasi akhir
a. Nilai minimal test teori: 75
b. Nilai minimal test praktek: 75
Pemberian Sertifikat
• Sertifikat akan diberikan kepada siswa yang memenuhi kriteria kelulusan.
• Surat keterangan akan diberikan kepada siswa yang memenuhi syarat
kehadiran minimal tetapi tidak memenuhi syarat minimal nilai kelulusan.
DIESEL ENGINE
SASARAN PEMBELAJARAN
DIESEL ENGINE
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
DIESEL ENGINE
REFERENSI
Buku:
• Komatsu Training Aid
• Komatsu Unit Instruction Manual Basic Engine Component (SEULE0002_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Diesel and Gasoline Fundamental (SEULE0003_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual 155 Series Engine (SEULE4001_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Engine Lubrication System (SEULE0401_0)
• Nissan Automotive Engineering Text Book ([Link].TBENG00001)
• Pengetahuan Teknik Secara Umum (Filter untuk Engine, Engine Coolant dan
Corrosion Resistor)
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine 170-3 Series
• Shop Manual Koamtsu Diesel Engine 125 series
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine D155A-2
Video:
• Komatsu Self Training – Basic Engine
Website:
• [Link]
• [Link]
GLOSARIUM
Adiabatik merupakan suatu proses yang berlangsung tanpa adanya perpindahan panas
diantara sistem dengan lingkungan.
Brake horsepower (tenaga guda rem) atau shaft horsepower (tenaga kuda poros)
merupakan horsepower pada engine yang didapat dengan mengurangkan horsepower
yang hilang (loss horsepower) dari indicated horsepower (tenaga kuda indikator) yang
dibangkitkan pada bagian atas dari piston dapat digunakan secara efektif.
Brake thermal efficiency adalah perbandingan anatara jumlah kalori yang dapat dirubah
menjadi kerja dengan jumlah kalori yang disuplaioleh bahan bakar.
Brake torque (torsi engine) merupakan suatu gaya yang dibutuhkan untuk memutar
crankshaft. Satuan yang digunakan biasanya kg.m.
Diesel cycle: siklus pembakaran yang terjadi pada kondisi tekanan yang konstan.
Pembakaran ini disebut diesel cycle karena pertama kali ditemukan oleh Rudolf Diesel,
penemu diesel engine.
Diesel engine 4 langkah: merupakan sebuah engine yang keempat operasinya, yaitu
hisap, kompresi, pembakaran dan buang dilakukan dalam 4 kali gerakan piston
(langkah piston naik dan langkah piston turun). Gerakan langkah piston naik-turun
tersebut dilakukan dari Titik Mati Atas (Top Dead Center) sampai ke Titik Mati Bawah
(Bottom Dead Center) dan sebaliknya.
Diesel engine 2 langkah: merupakan sebuah engine yang keempat operasinya, yaitu
hisap, kompresi, pembakaran dan buang dilakukan dalam dua kali gerakan piston
(langkah piston naik dan langkah piston turun).
Diesel knock: terjadinya kenaikan tekanan yang berlangsung secara tiba-tiba selama proses
pembakaran berlangsung yang dapat mengakibatkan kerusakan pada komponen
engine.
Direct combustion period: periode pembakaran langsung yang terjadi pada proses
pembakaran diesel engine.
Efisiensi mekanikal adalah perbandingan antara brake horsepower dengan indicated
horsepower.
Efisiensi termal (thermal efficiency) merupakan perbandingan kalori yang disuplai oleh
bahan bakar dengan kalori yang dapat dirubah menjadi kerja.
Efisiensi termal indikator adalah perbandingan kalori yang dihasilkan oleh pencampuran
anatara bahan bakar dan udara dan bekerja pada permukaan atas piston dengan
kalori yang disuplai.
Efisiensi termal teoritis adalah perbandingan kalori yang dapat dirubah menjadi kerja oleh
siklus teoritis dengan kalori yang disuplai ke dalam siklus ini.
Excess air ratio merupakan perbandingan kelebihan udara dari jumlah udara teori.
Explosive combustion period/flame propagation period: periode terjadinya
perambatan api pada proses pembakaran diesel engine.
Horsepower (tenaga kuda) merupakan satuan tenaga yang besarnya (menurut satuan
british) sama dengan 33.000 [Link]/min.
Ignition lag period: periode pembakaran tunda pada proses pembakaran diesel engine.
Indicated horsepower merupakan suatu tenaga yang diterima oleh piston, dimana tenaga
tersebut berasal dari tekanan gas yang dibangkitkan oleh hasil pembakaran bahan
bakar di dalam ruang bakar engine.
Isotermal merupakan proses perubahan gas pada temperatur konstan.
Kebutuhan udara teori (theoritical amount of air) merupakan kebutuhan minimum
udara (oksigen) selama proses pembakaran agar dihasilkan pembakaran sempurna.
Kerja (work) merupakan perkalian antara gaya dan jarak perpindahan.
Langkah buang (Exhaust stroke): salah satu langkah pada diesel engine 4 langkah,
dimana piston bergerak dari Titik Mati Bawah (TMB) ke Titik Mati Atas (TMA) untuk
membuang gas hasil pembakaran.
Langkah ekspansi (Expansion stroke): salah satu langkah pada diesel engine 4 langkah,
dimana piston bergerak dari Titik Mati Atas (TMA) ke Titik Mati Bawah (TMB) karena
gaya dorong yang dihasilkan dari proses pembakaran di dalam ruang bakar.
Langkah hisap (Intake stroke): salah satu langkah pada diesel engine 4 langkah, dimana
pada piston bergerak ke bawah dari Titik Mati Atas (TMA) ke Titik Mati Bawah (TMB).
Intake valve terbuka dan exhaust valve tertutup, udara murni masuk ke dalam silinder
melalui intake valve.
Langkah kompresi (Compression stroke): salah satu langkah pada diesel engine 4
langkah, dimana udara yang berada di dalam silinder dimampatkan oleh piston yang
bergerak dari Titik Mati Bawah (TMB) ke Titik Mati Atas (TMA), dimana kedua valve,
intake dan exhaust tertutup. Selama langkah ini tekanan dan temperatur udara yang
terdapat di dalam silinder akan naik sampai mencapai titik bakar (self ignition point)
dari bahan bakar.
Loss horsepower (friction horsepower) merupakan sebagaian horsepower yang hilang
akibat digunakan untuk mengatasi adanya gesekan-gesekan pada komponen engine.
Oil drain hole: pada bagian oil ring groove terdapat sebuah lubang oli yang berfungsi
sebagai tempat mengalirnya oli yang disapu oleh piston.
Over square engine (short stroke) merupakan istilah yang dipakai manakala sebuah
engine memilki diameter silinder yang lebih besar daripada panjang langkah
pistonnya.
Piston head: piston head adalah salah satu bagian dari piston yang menerima tekanan
pembakaran secara langsung.
Piston pin mounting hole: merupakan lubang tempat kedudukan dari pin piston.
Post-combustion period: periode pembakaran lanjut pada proses pembakaran diesel
engine.
Ruang bakar (Combustion chamber): ruangan vakum yang dilingkupi oleh permukaan
bawah cylinder head, permukaan atas cylinder block dan permukaan atas silinder saat
piston berada di Titik Mati Atas (TMA).
Reciprocating motion: gerakan bolak-balik, seperti gerakan pada sebuah piston
Ring land: merupakan tempat dudukan dari piston ring.
Sabathe cycle: siklus pembakaran yang merupakan gabungan antara metode otto cycle
dan diesel cycle. Proses pembakaran terjadi pada kondisi volume dan tekanan yang
konstan. Untuk saat ini, metode pembakaran tersebut digunakan pada diesel engine
dengan putaran tinggi (automobile, general power unit, dan kapal kecil).
Skirt: merupakan bagian bawah dari piston.
Square engine merupakan istilah yang dipakai manakala sebuah engine memilki diameter
silinder yang sama dengan langkah pistonnya.
Tensille force: gaya regang akibat terjadinya pemuaian, seperti yang terjadi pada ring
piston pada saat terkena panas hasil pembakaran pada ruang bakar.
Timing gear : dapat diartikan sebagai gigi penghubung untuk mentransfer putaran
crankshaft ke perlengkapan engine yang membutuhkan tenaga putar.
Torsi merupakan perkalian antara gaya dengan jarak.
Torsional vibration: puntiran atau gaya puntir yang diterima oleh crankshaft tersebut pada
saat terjadi kejutan pembakaran.
Under square engine (long stroke engine) merupakan istilah yang digunakan manakala
sebuah engine memilki diameter silinder lebih kecil daripada panjang langkah
pistonnya.
Valve recess: merupakan bagian dari piston yang berbentuk cowakan sebesar valve yang
terletak pada bagian atas.
BAB I
PRINSIP DASAR
Tujuan Bab 1:
Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 1, siswa mampu:
• Menjelaskan tentang daya guna engine (engine performance).
• Menjelaskan tentang proses terjadinya pembakaran pada diesel engine
yang berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar dan udara.
• Menjelaskan tentang gas buang pada diesel engine
Referensi :
Buku :
• Komatsu Training Aid
• Komatsu Unit Instruction Manual Diesel and Gasoline Fundamental
(SEULE0003_0)
• Nissan Automotive engineering Text Book ([Link].TBENG00001)
Video :
Komatsu Self Training – Basic Engine
Website:
[Link]
[Link]
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 1
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menjelaskan mengenai:
• Kecepatan putar pada engine.
• Torsi engine (brake torque).
• Kerja dan Tenaga.
• Engine Horsepower.
• Hubungan antara kerja, torsi, dan horsepower.
• Rasio konsumsi bahan bakar (fuel consumption ratio).
• Efisiensi termal dan efisiensi mekanikal.
• Keseimbangan panas.
• Kurva daya guna engine (engine performance curve).
Kecepatan putar dari suatu benda biasanya digambarkan sebagai jumlah putaran (revolusi) dalam
waktu satu menit. Dengan alasan itu, maka satuan yang digunakan adalah putaran (revolusi) per
menit dengan diberi simbol rpm (revolution per menit).
Pada engine, putaran yang diukur adalah putaran crankshaft. Contoh: jika dinyatakan bahwa
suatu engine memilki kecepatan putar 2000 rpm, maka hal ini dapat diartikan bahwa crankshaft pada
engine tersebut berputar sebanyak 2000 putaran dalam waktu satu menit.
2
Diesel Engine 2
Jika hal tersebut di atas diterapkan pada sebuah engine, maka gaya
(f) merupakan gaya yang dihasilkan dari proses pembakaran yang terjadi
di ruang bakar dan digunakan untuk mendorong piston ke bawah.
Sedangkan panjang lengan (r) digambarkan sebagai radius dari
crankshaft.
Dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dinamakan
torsi engine (brake torque) adalah suatu gaya yang dibutuhkan untuk
memutar crankshaft. Satuan yang digunakan biasanya kg.m. Torsi pada engine
(brake torque)
Ketika waktu dikenakan atau diperhitungkan pada sebuah kerja, maka hal ini dinamakan dengan
“tenaga” atau sering disebut juga dengan “power”. Sebuah mesin dengan tenaga yang besar dapat
melakukan kerja dalam waktu yang singkat, sebaliknya sebuah mesin dengan tenaga yang kecil dapat
melakukan kerja tersebut dengan waktu yang lebih panjang. Tenaga dapat diformulasikan sebagai
berikut:
Horsepower
Istilah “horsepower” (dalam bahasa Indonesia berarti “tenaga kuda atau daya kuda”) sendiri
pertama kali dikemukakan oleh seorang insinyur yang bernama James Watt (1736-1819). Ia cukup
terkenal dalam bidang pengembangan mesin uap (steam engine). Pada tahun 1782 Ia melakukan
suatu uji coba terhadap seekor kuda pony yang bekerja untuk mengangkut batubara pada sebuah
pertambangan. James Watt memilki keinginan untuk mengetahui berapa besarnya kekuatan yang
dimilki oleh kuda tersebut. Dari hasil uji coba ternyata diketahui bahwa rata-rata seekor kuda pony
mampu mengankut beban seberat 22.000 foot-pound dalam setiap satu menit. Kemudian Ia
menaikkan lagi angka tersebut hingga 50%, dan menetapkan bahwa besarnya ukuran 1 “tenaga
kuda” (“horsepower“) adalah 33.000 foot-pound dalam satu menit. Hasil ketetapan tersebut hingga
saat ini masih digunakan untuk menentukan standar dari sebuah kemampuan suatu alat (misal:
truck, bus, mobil, bahkan untuk sebuah vacum cleaner sekalipun).
3
Die
esel Engine 2
2
Dari gamba
ar disamping dapat dikatakan
bahw
wa seekor kuda
k akan mengeluarkan
n tenaga
esar 1 horssepower unttuk dapat menarik
sebe
batu
ubara sebera
at 33.000 po
ound setingg
gi 1 feet
dala
am waktu 1 menit, atau
u dengan batubara
b
sebe
erat 330 pound dapat ditarik
d seting
ggi 100
feet dalam waktu 1 menit.
Sampai saatt ini terdapa
at berbagai macam
asi standar satuan da
varia ari horsepow
wer ini,
tetapi dari berb
bagai standar satuan yang ada,
Briti
tish Horsepow
wer (HP) dan
n Metric Horssepower
(PS)) adalah yang um digunakan.
g paling umu
atandar British Horsepow
Horsepower menurut sa wer sama de
engan yang telah dikem
mukakan oleh
h
James Watt. Berrikut ini adala
ah satuan ho
orsepower menurut Britissh Horsepowe
er:
1 000 .
33.0 / :
550
0 . / 1 60 60
550
0 0,3048 0
0,45359237 . / 1 0,3048 ,
76,0
0402249068
8 . / 1 0,453592
237
76,0
0402249068
8 9,80665 . 2/ 3 9, 80665 / 2
745
5, 69 1 1/ 1 / 1 . / 2 . /
1 75 . /
5,5
735
Dari perban
ndingan satu
uan (antara British Horssepower dan
n Metric Horrsepower) di
d atas dapat
ditarrik kesimpulan bahwa sesungguhn
nya kedua satuan
s terse
ebut hampirr sama, han
nya terdapat
bedaan yang kecil saja, yaitu
perb y sebagai berikut:
1 76, 04 . /
1 75 . /
: 1 1,01
14
4
Die
esel Engine 2
2
Jadi jika te
erdapat dua buah engin
ne yang me
empunyai an
ngka horsep
power yang sama tetap
pi
men
nggunakan sa
atuan yang berbeda,
b con
ntoh:
- Engine A memilki ho
orsepower se
ebesar 340 HP (British Ho
orsepower)
- Engine B memilki ho
orsepower se S (Metric Horsepower)
ebesar 340 PS
Makka sudah bara
ang tentu ho
orsepower en
ngine A lebih
h besar 1,014
4 kali dibandiingkan engin
ne B.
British Horssepower dig
gunakan di negara Ing
gris dan persemakmura
annya sedan
ngkan Metricc
horssepower diaw
wali penggun
naannya di negara
n Jerma
an pada aba
ad ke 19 dan
n menjadi po
opuler hingga
a
men
nyebar ke selluruh kawasa
an Eropa dan
n Asia. Beberapa variasi satuan digun
nakan untuk mengartikan
n
defin
nisi dari me
etric horsepo
ower ini, dia p = paard
antaranya: pk denkracht (B
Belanda), hk = hästkrafft
edia), hv = hevosvoima
(Swe h (Finlandia) yang
y kesemu
uanya berartii “horsepowe
er” dalam bahasa Inggriss.
Satu
uan-satuan te
ersebut mem
miliki besaran
n yang sama dengan PS
Istilah-istilah Horsepowe
er yang Terd
dapat Pada
a Spesifikas
si Engine
Berikut ini penje
elasan menge
enai beberap n dalam spesifikasi engine
pa istilah yang digunakan e.
• Indicateed horsepoweer (Tenaga kuda
k indikato
or)
Indicate
ed horsepow
wer merupakkan
suatu tena
aga yang diterima oleh
piston, dima ersebut berasal
ana tenaga te
dari tekanan gas yang
g dibangkitkkan
oleh hasil pe
embakaran bahan
b bakarr di
g bakar engine. Dalam hal
dalam ruang
ini tekanan
n pembakarran di rua
ang
bakar diuku
ur untuk dija
adikan sebag
gai
indikator. Indicated horsepow
wer
didapat da
ari diagram indikator di
samping ini.
Diagram
m indikator sering
s juga disebut
d gan diagram P-V. pada d
deng diagram terssebut daerah
h
yang diarsir (A) merupakan daerah kerja efektiff dari sebuah
h engine dan ng diarsir (B)
n daerah yan
merupakan daerah kerja
a yang hilan
ng. Pada diagram terseb
but kerja yan
ng dihasilkan
n merupakan
n
hasil dari tekanan gas pembakaran
p dalam 1 (sa
atu) kali siklu
us (langkah hisap, langkah kompresii,
langkah eksp
pansi, dan la
angkah buang)
• Loss horrsepower (Te
Tenaga kuda yang
y hilang)
Sebagian dari horse
epower yang akaran bahan bakar di dalam ruang
g dihasilkan dari pemba g
bakar digun esekan yang terjadi pad
nakan untukk mengatasi gesekan-ge gine tersebut
da saat eng
bekerja. Horrsepower tersebut dinamakan loss ho
orsepower attau friction ho
horsepower.
Selain itu
i sebagian
n horsepowe
er yang dih ga digunakan untuk menggerakkan
hasilkan jug m n
komponen-kkomponen ta
ambahan pada engine (seperti:
( mpa injeksi bahan bakar, pompa air
pom
pada sistem
m pendingina
an, pompa oli
o pada sistem pelumassan, generattor pada sisttem elektrikk)
5
Diesel Engine 2
yang digunakan untuk mengoperasikan engine. Horsepower ini dinamakan auxilary parts drive
horsepower.
• Shaft horsepower (Brake horsepower)
Horsepower pada engine yang didapat dengan mengurangkan horsepower yang hilang (loss
horsepower) dari indicated horsepower (tenaga kuda indikator) yang dibangkitkan pada bagian
atas dari piston dapat digunakan secara efektif. Horsepower tersebut dinamakan dengan brake
horsepower (tenaga kuda rem) atau shaft horsepower (tenaga kuda poros).
Shaft horsepower (brake horsepower) = indicated horsepower – loss horsepower
• Corrected shaft horsepower
Horsepower dari sebuah engine sangat tergantuk dari kondisi udara yang dihisap selama
beroperasi. Jika sebuah engine dioperasikan pada daerah yang memilki tekanan atmosfir tinggi,
temperatur udara sekitar yang rendah, dan kondisi kelembaban udaranya rendah, maka tenaga
yang dihasilkan oleh engine tersebut akan cukup besar sebab kandungan oksigen yang dihisap
lebih banyak.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ketika kondisi cuaca berubah secara terus
menerus maka kondisi horsepower-pun juga akan ikut berubah secara terus menerus mengikuti
perubahan kondisi cuaca.
Dengan alasan di atas, maka shaft horsepower harus diukur dengan menggunakan metode
dan kondisi cuaca yang spesifik (tekanan atmosfir, temperatur, kelembaban). Hasil pengukuran
tersebut yang dinamakan dengan corrected shaft horsepower dan hal ini digunakan untuk
mengindikasikan suatu daya guna engine (engine performance). Hal yang sama juga berlaku
untuk pengukuran torsi engine (brake torque) ketika dibutuhkan untuk mengindikasikan daya
guna engine.
Pada JIS (Japanese Industrial Standards), tekanan atmosfir sebesar 760 mmHG, temperatur
udara sebesar 20oC, dan kelembaban 65% digunakan sebagai kondisi standar untuk melakukan
pengukuran corrected shaft horsepower.
(1)
(2)
Jika sebuah alat pengencang berputar n kali, jarak perpindahannya menjadi 2 . Sehingga total
kerjanya menjadi:
2 (3)
6
Diesel Engine 2
Hubungan antara kerja dan torsi didapat dengan cara mensubstitusikan formula (3) ke dalam
formula (1) di atas, sehingga:
2 (4)
Kerja dapat dikonversikan ke dalam horsepower dengan menggunakan formula (5) berikut ini.
dimana terdapat dua konsep yang harus diterapkan, yaitu: “1 horsepower (PS) berarti melakukan
kerja sebesar 75 kg.m selama 1 detik” dan “merubah satuan putaran per menit ke satuan putaran
per detik.”, maka akan didapat persamaan sebagai berikut:
2 (5)
60 75 716,2
Jika pada formula (5), n = kecepatan putar engine (rpm) dan T = besarnya torsi engine (brake
torque) (kg.m) yang dihasilkan oleh proses pembakaran bahan bakar pada ruang bakar dan
digunakan untuk mendorong permukaan atas dari piston, maka shaft horsepower merupakan
horsepower pada engine. Shaft horsepower disebut juga dengan brake horsepower.
Pada formula (5) ditunjukkan bahwa jika besarnya torsi engine (brake torque) tetap, maka
besarnya shaft horsepower (brake horsepower) proporsional terhadap kecepatan putar engine.
Dengan kata lain, besarnya shaft horsepower akan berlipat ganda jika kecepatan engine-nya berlipat
ganda pula.
Jika terdapat dua buah engine dengan shaft horsepower yang sama dibandingkan, maka pada
engine yang memilki torsi besar akan memilki kecepatan putar rendah, sementara itu pada engine
yang memilki kecepatan putar tinggi akan memiliki torsi yang rendah.
7
Diesel Engine 2
Efisiensi Termal dan Efisiensi Mekanikal (Thermal Efficiency & Mechanical Efficiency)
Perbandingan kalori yang disuplai oleh bahan bakar dengan kalori yang dapat dirubah menjadi
kerja dinamakan dengan efisiensi termal (thermal efficiency) pada engine. Berbagai macam variasi
tipe dari efisiensi termal digunakan untuk menggambarkan daya guna sebuah engine.
Thermal efficiency
Indicated thermal efficiency
Actual thermal
efficiency
Brake thermal efficiency
8
Die
esel Engine 2
2
9
Diesel Engine 2
10
Diesel Engine 2
Pada kurva daya guna engine (Engine performance curve) terdiri dari beberapa parameter,
yaitu: Torsi engine (brake torque), brake horsepower, rasio konsumsi bahan bakar, dan
kecepatan putar engine (rpm).
• Pembacaan kurva daya guna engine
Gambar kurva di bawah ini adalah salah satu contoh dari kurva daya guna engine (engine
performance curve) yang dihasilkan dari pengetesan dengan menggunakan dynamometer pada
pembebanan 100%. Kurva daya guna engine ini biasanya ditampilkan pada buku manual tiap-tiap
tipe engine sebagai informasi bagi penggunanya. Berikut dijelaskan cara pembacaan kurva daya
guna engine tersebut.
Pada kurva terdapat beberapa sumbu, yaitu:
- Sumbu horisontal:
menunjukkan kecepatan putar engine(rpm).
- Sumbu vertikal (kiri): menunjukkan brake horsepower(PS).
- Sumbu vertikal (kanan atas): menunjukkan brake torque (kg.m).
- Sumbu vertikal (kanan bawah): menunjukkan rasio konsumsi bahan bakar (g/PS-hr).
Misalnya kita akan mencari
berapa besarnya brake torque
pada kecepatan putar engine 1800
rpm. Untuk mendapatkannya,
dimulai dengan melihat skala pada
sumbu horisontal, kemudian cari
skala 1800 rpm. Setelah itu tarik
garis ke atas hingga menyentuh
kurva brake torque. Pada titik
persinggungan tarik garis
mendatar ke kiri sampai
menyentuh garis sumbu vertikal
dan akhirnya diketahui besarnya
brake torque pada kecepatan putar
1800 rpm adalah 71 kg.m. Dengan
cara yang sama, Anda dapat
mengetahui pula besarnya rasio
konsumsi bahan bakar dan
horsepower engine tersebut yaitu
sebesar 187 g/PS-hr dan 179 PS.
Kurva daya guna Engine (contoh)
11
Die
esel Engine 2
2
Mari kita
a lihat lebih dalam lagi mengenai kurva daya guna
g engine di atas. Berrikut ini akan
n
dijelaskan masing-masin
m ng kurva yang
g ditampilkan
n pada kurva
a daya guna engine.
- Kurvva torsi engin
ine (brake tor
orque curve)
Pada
a saat awal,, torsi engin
ne akan men
ningkat seirin
ng dengan m
meningkatny
ya kecepatan
n
putaran engine sam
mpai mencap
pai titik mak
ksimum (80 kg.m) pada
a 1.100 rpm. Jadi ketika
a
kecepata
an putar engine mencap
pai 1.100 rp
pm, maka dicapailah torrsi engine maksimum
m 80
0
kg.m. se
ehingga pada
a spesifikasi engine akan
n tertulis: Ma
aksimum torrsi engine 80
0 kg.m (pada
a
1.100 rp
pm).
Kurvva torsi engin
ne akan men
ngalami pene
eurunan taja
am pada saatt kecepatan putar engine
e
mencapa
ai 1.600 rpm
m. Hal ini disebabkan
d oleh
o a governor yang secara
sudah berfungsinya a
otomatiss menguran
ngi jumlah bahan bak
kar yang diijeksikan
d kke ruang bakar
b untukk
meningkkatkan putara
an engine.
Pada
a gambar kurva di samping
menunju
ukkan bahw
wa, Anda tidak
t perlu
selalu menggunaka
an nilai t
torsi yang
terdapatt pada kurva
a torsi. Jika Anda ingin
mengendarai kend
daraan den
ngan torsi
sebesar 60 kg.m pada kecep
patan putar
engine sebesar 1.500 rpm, maka
m yang
perlu dilakukan adalah Anda cukup
mengura
angi jumlah
h suplai ba
ahan bakar
yang diinjeksikan ke
k dalam ru
uang bakar
engine dan menuru
unkan kurva torsi-nya..
Pengura
angan bah
han bakar tersebut
an dengan cara mengatur posisi
dilakuka
decelera
ator pedal ata
au fuel contrrol lever.
- Kurvva brake horrsepower
Jika dilihat pada kurva dayya guna engine di atass, maka aka
an terlihat bahwa
b brake
e
horsepower engine akan meningkat secara drastis seiring dengan meningkatny
ya kecepatan
n
putar en
ngine. Pada saat kecepta
an putar eng
gine mencapa
ai 1.600 rpm
m governor berfungsi
b dan
n
peningka
atan brake
e horsepow
wer-nya aka
an mengala
ami perlam
mbatan, tida
ak sedrastiss
sebelum
mnya. Pada saat
s kecepattan putar en
ngine menca
apai 1.850 rrpm, akan dicapai
d brake
e
horsepower maksim
mum pada en
ngine, yaitu sebesar 180
0 PS, dan ke
emudian akan mengalam
mi
penurua
anan tajam. Brake horssepower ma
aksimum tersebut dinam
makan rated
d power dan
n
kecepata
annya disebu
ut dengan ra
ated speed. Sehingga
S pad
da spesifikasi engine akan tertulis:
Rate
ed power : 180 PS
S
Rate
ed speed : 1.850 rpm
12
Die
esel Engine 2
2
- Fuel
el consumptio
on rate
Pada
a kurva ini te
erdapat penu
urunan yang paling renda
ah pada angka 185 g/PS--h, kemudian
n
mengala
ami kenaikan
n. Pada saat governor mu
ulai berfungssi pad kecep
patan putar engine
e tinggii,
onsumsi bahan bakar aka
kurva ko an mengalam
mi penurunan lagi dan ke
emudian aka
an naik tajam
m
sampai akhir.
a
Rasiio konsumsi bahan bakkar yang diccantumkan pada spesiffikasi engine
e merupakan
n
konsumssi bahan bakkar terendah engine terse
ebut, yaitu se
ebesar 185 g
g/PS-h.
Pada
a kurva di attas dikatakan
n bahwa kon
nsumsi bahan
n bakar untu
uk engine terrsebut adalah
h
185 gram per PS pe
er jamnya, namun
n pada kenyataann
nya jika kita membicarak
kan konsumssi
bahan bakar
b lebih mengacu
m pa
ada satuan liter dari pad
da gram. Ma
asalah ini da
apat di atassi
dengan perhitungan berikut ini asal
a berat jen
nis dan rasio konsumsi ba
ahan bakar dalam
d satuan
n
g/PS-hr sudah diketa
ahui dengan pasti.
1.000
: /
/ .
:
:
13
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 2
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 2, siswa mampu menjelaskan:
• Proses penekanan/kompresi udara di dalam silinder
• Kebutuhan bahan bakar dan udara pada diesel engine, sehingga dihasilkan pembakaran yang
sempurna.
14
Diesel Engine 2
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa udara mempunyai sifat fisik, yaitu jika udara
ditempatkan di dalam suatu wadah tertutup dan ditekan sehingga terjadi perubahan volume
(pengurangan volume), maka udara tersebut akan mengalami dua perubahan, yaitu perubahan
tekanan dan temperatur. Tekanannya akan meningkat begitu juga dengan temperaturnya. Besarnya
tekanan dan temperatur yang dihasilkan akan berbeda manakala terjadi perbedaan kecepatan dalam
proses penekanannya. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Ketika udara ditekan dengan kecepatan Ketika udara ditekan dengan kecepatan
rendah tinggi
Ketika udara ditekan dengan kecepatan rendah, temperaturnya cenderung konstan sebab panas
yang dihasilkan dari proses penekanan udara tersebut dilepaskan melalui dinding-dinding silinder.
Meskipun temperatur yang dihasilkan konstan, tetapi tekanannya akan mengalami kenaikkan akibat
terjadinya perubahan volume silinder. Di dalam ilmu termodinamika, kejadian tersebut dinamakan
dengan proses Isotermal (proses temperatur konstan).
Ketika udara ditekan dengan kecepatan tinggi, tidak ada kesempatan sama sekali bagi udara
untuk melakukan pelepasan panas. Di dalam ilmu termodinamika, kejadian tersebut dinamakan
dengan proses Adiabatik (proses tanpa perpindahan panas).
Ketika udara ditekan dengan kecepatan rendah pada perbandingan kompresi 1:16, tekanannya
akan naik sekitar 16 atm, sementara itu tekanannya cenderung konstan (lihat gambar grafik sebelah
kiri). Ketika udara ditekan dengan kecepatan tinggi, temperaturnya meningkat hingga mencapai
630oC dan tekanannya mencapai 49 atm (lihat gambar grafik sebelah kanan).
Penjelasan di atas diasumsikan bahwa selama proses penekanan udara berlangsung tidak ada
kebocoran udara yang terjadi. Jika kita bicara tentang operasi engine sebenarnya, maka mungkin
yang terjadi adalah proses campuran antara proses Isotermal dan proses Adiabatik. Pada saat engine
dioperasikan pada kecepatan putar yang cukup tinggi, maka yang terjadai adalah proses kompresi
Adiabatik. Contoh pada saat engine berputar pada kecepatan 2.000 rpm, maka engine tersebut
memerlukan waktu yang sangat singkat (15/1000 detik) untuk melakukan satu kali kompresi udara.
15
Diesel Engine 2
Sehingga secara praktis tidak ada lagi kesempatan bagi udara untuk bocor. Selain itu, pada saat
engine berputar dengan kecepatan tinggi, panas kompresi tidak mudah untuk dilepaskan sebab
umumnya engine yang berputar dengan kecepatan tinggi dalam kondisi panas.
Ketika memutar engine pada kondisi dingin, kompresi yang terjadi mendekati proses Isotermal.
Komponen-komponen engine yang masih dalam kondisi dingin akan dengan cepat mengambil panas
hasil pembakaran, selain itu kebocoran udara kompresi juga akan besar pada saat itu karena engine
masih berputar pelan. Dengan kondisi yang seperti ini, bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang
bakar akan sulit untuk terbakar apalagi jika kondisinya diperparah oleh adanya keausan pada
komponen-komponen seperti piston, piston ring, dan cylinder liner.
16
Die
esel Engine 2
2
Proses pem
mbakaran baha
an bakar (ilusttrasi)
17
Diesel Engine 2
14,2
Pada gasoline engine, sebagian besar bahan bakar akan dapat terbakar sebab anatara bahan
bakar dan udara sudah bercampur dengan baik di dalam karburator sebelum terjadainya
penyalaan di ruang bakar. Pada diesel engine tidak demikian adanya, bahan bakar akan lebih
susah terbakar sebab anatar penginjeksian bahan bakar dan pemasukan udara waktunya hampir
bersamaan. Oleh seba itu, perbandingan kelebihan udara (excess air ratio) pada diesel engine
lebih besar dibandingkan dengan gasoline engine. Pada umumnya, perbandingan kelebihan udara
(excess air ratio) untuk diesel engine berkisar antara 1,2 – 1,4 pada beban maksimal (maximum
injection quantity) dan 2,5 ketika bebannya kecil (small injection quantity) pada kecepatan
rendah.
18
Diesel Engine 2
. .
Perbandingan antara jumlah udara aktual dengan volumetric effeiciency pada kondisi atmosfir
(P=760mmHg, T=15oC) dinamakan charging effeciency.
Volumetric efficiency dan charging effeiciency akan sama ketika engine dioperasikan pada
kondisi atmosfir standar. Tetapi hal ini akan berbeda jika engine tersebut dioperasikan pada
daearah yang kondisi tekanan atmosfirnya rendah, seperti pada daerah yang tinggi.
Volumetric efficiency untuk diesel engine berkisar antara 0,8-0,9. Hal ini disebabkan oleh
sedikitnya penyempitan pada intake manifold dan kecepatan udara hisapnya rendah
dibandingkan dengan gasoline engine. Volumetric efficiency pada gasoline engine berkisar antara
0,65-0,8 sebab tekanan udara hisap rendah dengan banayaknya hambatan pada intake manifold
dan adanya karburator.
19
Diesel Engine 2
- Exhaust turbocharger
Supercharger jenis ini ditunjukkan pad gambar di bawah ini. Gas buang yang mengalir
dengan tekanan tinggi dimanfaatkan untuk menggerakkan exhaust turbine, sehingga
komponen tersebut berputar. Antara exhaust turbine dengan compressor impeler
dihubungkan dengan menggunakan sebuah poros, sehingga jika exhaust turbine berputar,
compressor turbine juga akan ikut berputar. Ketika compressor turbine berputar, komponen
ini mengirimkan udara bertekanan ke dalam silinder.
20
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 3
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 3, siswa mampu menjelaskan tentang:
• Macam-macam gas yang dikeluarkan pada kendaraan
• Faktor timbulnya CO,HC,Nox, dan asap hitam pada gas buang.
• Pengontrolan bahan beracun pada gas buang.
• Macam-macam warna yang dapat ditimbulkan oleh gas buang
21
Die
esel Engine 2
2
Bahan baka
ar yang digu
unakan pada diesel engine menga
andung seba
agian besar carbon dan
n
hydrrogen. Seperti yang sud
dah dijelaaskkan sebelumnya, bahwa pada saat tterjadi pemb
bakaran tidakk
sem
mpurna (incom
mplete comb
bustion) terd
dapat atom-atom carbon
n yang tidakk ikut memb
bentuk ikatan
n
deng gga menghasilkan carbon
gan atom okksigen, sehing n bebas dan menimbulka
an asap hitam
m.
Pen
ngontrolan Bahan Bera
acun Pada Gas
G Buang
Beberapa metode
m telah digunakan untuk menurunkan kand an yang berbahaya pada
dungan baha a
mun, adanya perbedaan tipe engine, hal ini tidakk menunjukkkan kecende
gas buang. Nam erungan yang
g
sam
ma, sebab terdapat bebera
apa perbeda
aan pada eng
gine-engine tersebut,
t sep
perti: perbed
daan langkah
h,
perb
bedaan perba
andingan kompresi, perb
bedaan tipe ruang
r bakar,, perbedaan waktu pemb
bukaan valve
e,
perb
bedaan jumla
ah penginjekksian bahan bakar,
b edaan waktu penginjeksia
perbe kar, dan lain-
an bahan bak
lain.. Hal ini cuku
up sulit dilaku
ukan untuk mengurangi
m kandungan
k b
bahan un pada gas buang
beracu
• Pengonttrolan Nox
Pengonttrolan Nox pada
p uang dapat dilakukan dengan cara mengurangi temperatur
gas bu
pembakaran
n, yaitu:
- Mem
mperlambat waktu
w pengin
njeksian bahan bakar.
- Men
ngembangkan
n bentuk darri ruang baka
ar.
• Pengonttrolan HC
Pengonttrolan HC dap
pat dilakukan
n dengan cara meninggikkan temperattur udara, ya
aitu:
- Men
naikkan rasio kompresi
- Men
naikkan temp
peratur udara
a masuk
mbangkan sisstem penginjeksian bahan
Mengem n bakar, yaittu:
- Men
ngurangi efekk after-drippiing (penetesan bahan ba penginjeksian)
akar setelah p
- ngurangi sacck volume pada
Men p nozzle
e. (sack volu
ume
merrupakan bag
gian dari nozzle,
n dima
ana merupa
akan
tempat masuknyya gas buan
ng pada saatt terjadi lang
gkah
buan
ng. Gas bu
uang yang masuk ke dalam bag
gian
terse
ebut akan mengambil
m b
bahan bakarr yang terda
apat
pada
a ujung nozzzle dan dibu
uang ke uda
ara bebas da
alam
benttuk carbon.
• Pengonttrolan CO dan asap hitam
m
Hal ini dapat
d ara mengembangkan efissiensi hisapan udara, yaittu:
dikontrrol dengan ca
- Keku engan cara meningkatkkan jumlah udara hisap
urangan okssigen dapatt diatasi de p
(okssigen)
- Men
ngembangkan
n volume ud
dara dengan cara menge
embangkan bentuk dari ruang bakar
ginjeksian bahan bakarny
dan sistem peng ya.
22
Diesel Engine 2
23
Diesel Engine 2
24
Diesel Engine 2
25
Diesel Engine 2
Ringkasan
Daya guna (performance) dari sebuah engine digambarkan dengan menggunakan satuan tenaga
kuda atau daya kuda (horsepower). dimana terdapat dua macam standar satuan horsepower yang
umum digunakan, yaitu:
- British horsepower (1 HP = 33.000 [Link]/min)
- Metric horsepower (1PS = 75 kg.m/s)
Jika kedua satuan tersebut dikonversikan, maka dihasilkan suatu persamaan, yaitu: 1HP = 1,014 PS.
Daya guna sebuah engine biasanya digambarkan dalam bentuk kurva yang dinamakan dengan
kurva daya guna engine. Kurva tersebut ditampilkan pada buku manual sebagai informasi begi
pengguna engine tersebut. Pada kurva daya guna engine dicantumkan beberapa parameter, seperti :
kecepatan engine, torsi, horsepower, dan rasio konsumsi bahan bakar.
Salah satu faktor yang mempengaruhi daya guna sebuah engine adalah kondisi pembakaran
bahan bakr engine tersebut. Proses pembakaran bahan bakar akan dapat berlangsung dengan
sempurna bila jumlah udara yang dibutuhkan untuk membakar bahan bakar tersebut tercukupi. Salah
satu cara untuk memenuhi kebutuhan udara adalah dengan menggunakan komponen supercharge.
Dengan komponen tersebut udara dipompakan ke dalam ruang bakar.
Gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran suatu engine merupakan gas yang
mengandung sebagian besar bahan yang tidak berbahaya, seperti: nitrogen (N2), uap air (H2O), dan
Carbon dioxide (CO2). Selain itu, gas buang juga mengandung bahan-bahan yang beracun, seperti
Carbon monoxide (CO), hydrocarbons (HC), nitrogen oxide (Nox), dan asap hitam (jelaga).gas yang
sebagian besar beracun yang berbahaya bagi lingkungan. berbagai macam cara sudah dilakukan
untuk mengontrol gas-gas beracun tersebut.
Gas buang juga dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya kerusakan pada engine.
Warna gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat bermacam-macam, tergantung dari
kondisi engine tersebut. Dalam ini terdapat beberapa warna gas buang yang dimungkinkan terjadi,
yaitu: warna hitam, warna kebiru-biruan, warna putih, dan transparan.
26
Diesel Engine 2
Soal Latihan
5. 1 HP =____________________ft.lb/min
6. 1 PS =____________________kg.m/s
7. 1 HP =____________________PS
9. Jelaskan pengertian dari “excess air ratio” dengan menggunakan sebuah formula!
____________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
27
Diesel Engine 2
11. Sebutkan berbagai macam gas yang dikeluarkan oleh sebuah engine!
a. ___________________________
b. ___________________________
c. ___________________________
14. Gas buang yang berwarna hitam dapat mengindikasikan terjadinya masalah pada sebuah
engine. Sebutkan penyebab terbentuknya gas buang yang berwarna hitam!
a. ___________________________
b. ___________________________
c. ___________________________
d. ___________________________
28
BAB II
KOMPONEN UTAMA (ENGINE PROPER)
Tujuan Bab 2 :
Setelah menyelesaikan pembelajaran pada BAB 2, siswa mampu menyebutkan dan
menjelaskan nama, fungsi dan lokasi komponen diesel engine.
Referensi :
Buku :
• Komatsu Training Aid
• Komatsu Unit Instruction Manual Basic Engine Component (SEULE0002_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Diesel and Gasoline Fundamental
(SEULE0003_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual 155 Series Engine (SEULE4001_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Engine Lubrication System (SEULE0401_0)
• Nissan Automotive Engineering Text Book ([Link].TBENG00001)
• Pengetahuan Teknik Secara Umum (Filter untuk Engine, Engine Coolant dan
Corrosion Resistor)
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine 170-3 Series
• Shop Manual Koamtsu Diesel Engine 125 series
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine D155A-2
Video :
Komatsu Self Training – Basic Engine
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 1
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang klasifikasi komponen pada diesel engine.
Stationary Parts
Crankshaft Bearing (Main bearing)
Bearing Crank pin bearing (Connecting rod bearing)
Camshaft bearing
Piston
Reciprocating Piston ring
Parts Connecting rod
Crankshaft
Engine Proper Gear train
Rotary Parts
Torsional damper
Flywheel
Camshaft
Cam followwer (Cam tappet)
Moving Parts Push rod
Valve Mechanism Rocker arm
Major
Parts of Intake valve
diesel Exhaust valve
engine Valve spring
Air cleaner
Intake manifold
Exhaust manifold
Intake and exhaust Exhaust pipe
system Muffler
Exhaust brake unit
Supercharger (Turbocharger
The engine alone is not enough for engine to operation. The various auxiliary equipment are also necessary
30
Die
esel Engine 2
2
Kom
mponen Uta
ama
Di atas tela
ah ditunjukkkan tentang klasifikasi dari komponen-kompon
nen pada diiesel engine
e,
dima en pada diesel engine dik
ana komponen-kompone klasifikasikan
n ke dalam 2 (dua) kelom
mpok utama
a,
yaitu
u: komponen
n utama dan
n komponen
n tambahan. Jika terdapa
at sebuah d
diesel engine
e yang hanya
a
mem
miliki kompon
nen utama saja
s tanpa memiliki
m komponen-komp
ponen tamba
ahan, maka diesel
d engine
e
terse
ebut belum bisa
b untuk diioperasikan.
e 125E-3 serie
Komatsu utama Engine es
31
Diesel Engine 2
Komponen utama dari sebuah diesel engine, meliputi komponen-komponen yang diam (stationary
parts) dan komponen-komponen yang bergerak (moving parts). Komponen yang diam (stationary
parts) pada diesel engine berarti komponen tersebut selama engine beroperasi kondisinya diam/tidak
bergerak sama sekali, contohya: cylinder block, cylinder head, oil pan, dan lain-lain. Sedangkan
komponen-komponen yang bergerak (moving parts) berarti komponen tersebut bergerak ketika
engine tersebut beroperasi. Gerakan pada komponen-komponen engine dapat berupa:
- gerakan bolak-balik (reciprocating), contoh: piston, connecting rod, piston ring.
- gerakan berputar, contoh: crankshaft, flywheel, gear train.
- gerakan mekanisme valve, contoh: intake valve, exhaust valve, rocker arm.
32
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 2
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 2, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang:
Cylinder Head
• Fungsi dan struktur cylider head
Cylinder head dipasang pada bagian atas dari engine yang berfungsi untuk menahan tekanan
pembakaran, mengendalikan panas, tempat duduknya mekanisme valve dan mekanisme injeksi
bahan bakar. Cylinder head harus memenuhi syarat sebagai berikut:
- Dapat menahan tekanan pembakaran dan konsentrasi panas.
- Mempunyai efek pendinginan yang tinggi.
- Dapat mencegah kebocoran tekanan pembakaran secara keseluruhan.
- Dapat mengalirkan udara intake dan exhaust dengan lancar.
- Dapat mencampur udara dengan bahan bakar secara sempurna.
Selain itu juga, cylinder head akan membentuk ruang bakar bersama-sama dengan cylinder
dan piston. Komponen ini terbuat dari besi cor (cast iron). Terdapat juga cylinder head yang
terbuat dari bahan alloy cast iron dengan paduan nickel, chrome, molybdenum dan lain-lain untuk
digunakan pada supercharged engine yang tahan pada temperatur tinggi.
Struktur dari cylinder head bermacam-macam, tergantung dari langkah pembakarannya
(combustion cycle), bentuk dari ruang bakar, posisi dari camshaft, dan mekanisme valve.
Menurut konstruksinya, cylinder head dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu:
cylinder head dengan tipe devided/sectional dan tipe unit/solid. Jika satu cylinder head digunakan
untuk semua silinder, maka disebut tipe unit/solid, sedangkan jika satu cylinder head digunakan
untuk satu atau lebih silinder, maka disebut dengan tipe devided/sectional.
33
Diesel Engine 2
34
Diesel Engine 2
35
Diesel Engine 2
36
Diesel Engine 2
- Jangan mencelupkan gasket ke dalam cairan apapun, hal ini dapat mengakibatkan
kerusakan pada struktur gasket (terutama pada gasket yang berasal dari bahan asbestos).
- Pasang gasket pada cylinder head dengan posisi yang benar.
37
Diesel Engine 2
Valve guide
Valve guide sebagai penuntun pergerakan valve secara sliding antara permukaan stem dan valve
guide dengan gerakan vertikal dan juga sebagai pengontrol pelumasan pada valve stem. Dengan
demikian dibutuhkan celah yang tepat antara stem dan guide, sehingga tidak terjadi kebocoran udara
dan oli ke dalam saluran masuk udara dan gas buang. Valve guide dan valve dibuat dari bahan yang
tahan panas.
38
Diesel Engine 2
Valve
Valve terbuka dan tertutup secara teratur
untuk memasukkan udara ke dalam silinder
dan membuang gas bekas pembakaran
keluar. Pergerakan valve dari putaran
camshaft yang dirubah menjadi gerakan
vertical melalui push rod ditransfer melalui
rocker arm dan diterusakan ke valve. Valve
juga sebagai permukaan ruang bakar yang
selalu menerima beban panas yang tinggi
oleh karena itu dibuat dari material yang
tahan gesek dan tahan panas.
Valve head harus tahan terhadap tekanan
dan temperatur yang tinggi. Valve head untuk
intake valve engine 4 langkah didinginkan
oleh udara masuk. Sedangkan pada exhaust
Valve parts identification
valve, tidak hanya pada valve head-nya saja
yang terkena tekanan dan temperatur yang
tinggi, melainkan juga pada bagian sisi flage-
nya. Temperatur tinggi (600-800oC) tersebut
mengalir melalui valve pada saat langkah
buang. Kedua buah valve, intake dan exhaust
terbuat dari bahan baja tahan panas (heat
resistant steel). Baja tahan panas dan korosi
tinggi digunakan untuk intake valve.
Intake valve harus memiliki diameter
yang lebih besar untuk mengantisipasi
rendahnya kecepatan aliran udara masuk
ketika langkah hisap berlangsung. Hal
tersebut bertujuan agar jangan sampai
Valve assembly
efisiensi hisapan udaranya menurun.
Berikut ini ditunjukkan gambar berbagai
macam bentuk dari valve head. Berbagai macam bentuk tersebut disesuaikan dengan kegunaannya
masing-masing, contoh: valve head dengan bentuk flat (B) digunakan pada automotive diesel engine.
39
Diesel Engine 2
Valve spring
Valve spring mengangkat valve hingga merapat pada valve seat saat valve sedang menutup.
Valve spring juga bekerja mengembalikan rocker arm, push rod dan tappet ke posisi normal dengan
cepat.
Valve spring terbuat dari gulungan
kawat baja. Dua atau lebih spring dapat
dikombinasikan menjadi satu untuk
mekanisme pergerakan satu buah valve.
Dua buah spring sering digunakan yang
terdiri dari spring bagian luar (outer spring)
dan spring bagian dalam (inner spring).
Valve spring
Kedua buah spring tersebut dipasang
secara berlawanan bertujuan agar kedua buah valve tersebut tidak saling menjepit pada saat
keduanya benkok atau mengalami getaran.
Valve spring menerima beban dinamik yang berulang-ulang dan kadangkala sampai terjadi
kerusakan.
Ketika sebuah spring ditekan atau ditarik dengan menggunakan gaya dari luar, maka hal ini akan
menyebabkan getaran pada spring saat spring tersebut dibebasakan. Kondisi tersebut dinamakan
dengan surging.
40
Diesel Engine 2
Masalah-masalah di atas hanya sebagian saja dari sekian masalah yang dapat ditimbulkan
jika valve clearance tidak tepat. Besarnya valve clearance tergantung dari rancangan masing-
masing engine.
Berikut ini ditunjukkan kurva gerakan valve terhadap gerakan piston.
41
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 3
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 3, siswa mampu menjelaskan tentang:
42
Die
esel Engine 2
2
Cyllinder block cu
ut way
Fun
ngsi dan Strruktur Cylin
nder Liner
er merupakan komponen
Cylinder line n combustion
n
cham
mber yang berhubungan
b n dengan tekkanan tinggi,
ek yang bessar sebagai akibat gerak
dan beban gese k
naikk turun pisston. Cylind
der liner harus
h tahan
n
terhadap tempe
eratur tinggi, tidak mud
dah aus dan
n
mam
mpu menerima gaya yang
y besar dari piston.
Ukuran cylinderr liner haruss sesuai den
ngan ukuran
n
pisto
on dan piston ring. Cylinder liner haruss
mem
mpunyai ke
emampuan menyerap panas dan
n
ntransfer seluruh panas dari permu
men ukaan dalam
m
linerr ke permukkaaan luar liner. Liner harus tahan
n
kara
at karena pada permukaan b
bagian luar
berh
hubungan lan
ngsung deng
gan air pend
dingin. Untuk
k
men
njamin efisiensi pendingin yang tingg
gi, ketebalan
n
linerr lebih kurang 5 - 10mm. Penampang cylinder lin
ner
43
Diesel Engine 2
44
Diesel Engine 2
4
4
Dalam hal ini terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan diameter dan langkah dari
silinder, yaitu:
- Over square engine (short stroke), merupakan istilah yang dipakai manakala sebuah engine
memilki diameter silinder yang lebih besar daripada panjang langkah pistonnya.
- Square engine, merupakan istilah yang dipakai manakala sebuah engine memilki diameter
silinder yang sama dengan langkah pistonnya.
- Under square engine (long stroke engine), merupakan istilah yang digunakan manakala
sebuah engine memilki diameter silinder lebih kecil daripada panjang langkah pistonnya.
45
Diesel Engine 2
,
Rasio kompresi dari diesel engine berkisar antara 15-22. Dengan rasio kompresi tersebut
akan menghasilkan tekanan kompresi udara sekitar 35-45 kg/cm2. Tekanan kompresi harus selalu
diukur untuk memastikan apakah engine dalam kondisi baik atau tidak.
• Offset cylinder
Dinding silinder akan mengalami keausan secara bertahap akaibat adanya gesekan antara
dinding silinder dengan piston dan sebab-sebab lainnya. Gesekan dapat dikurangi dengan cara
menguragi daya dorong ke samping yang dilakukan oleh piston (side thrust). Pengurangan daya
dorong ke samping oleh piston ini dapat dilakukan dengan cara memberikan penyimpangan
(deviasi, offset) antara titik pusat silinder dengan titik pusat dari crankshaft (atau antara titik
pusat pin piston dengan titik pusat piston).
46
Diesel Engine 2
Abrasi
47
Diesel Engine 2
48
Diesel Engine 2
49
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 4
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 4, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang:
Fungsi Piston
Piston adalah komponen yang langsung berhubungan dengan gas pembakar dan menerima
beban berat yang disebabkan tekanan pembakaran. Piston berfungsi untk menyalurkan tekanan yang
dibangkitkan dari proses pembakaran ke crankshaft melalui connecting rod. Selain tiu juga, piston
bersama-sama dengan komponen lainnya bekerja untuk menghasilkan lang hisap, ekspansi, dan
langkah buang.
Piston haruslah mempunyai ekspansi termal yang rendah meskipun saat menerima temperatur
pembakaran yang cukup tinggi (sekitar 1000oC), hal ini penting karena jangan sampai piston tidak
dapat bergerak (macet) pada saat menerima panas yang cukup tinggi. Selain itu piston juga harus
cukup kuat untuk menahan tekanan pembakaran sebesar kurang lebih 80 kg/cm2) agar dapat
menyalurkan tekanan ke crankshaft dengan tepat.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, sebuah piston harus memenuhi syarat:
- Harus cukup kuat (piston untuk diesel engine harus lebih kuat dibandingkan dengan
piston yang digunakan pada gasoline engine).
- Tahan terhadap temeperatur tinggi.
- Memiliki berat yang sedang (tidak menghasilkan inertia yang besar pada kecepatan
tinggi).
- Memiliki pemuaian yang kecil dari akibat panas (low-thermal expansion).
- Memiliki kestabilan yang tinggi (faktor kelelahan material besar) tidak mudah aus.
50
Die
esel Engine 2
2
Srtu
uktur Piston
n
Piston mempunyai strukktur yang bervariasi, stru
uktur dasar dari
d sebuah piston dapatt ditunjukkan
n
berikkut ini:
- Piston head
h , piston head adala
ah salah
satu bag
gian dari pisston yang menerima
m
tekanan pembakara
an secara la
angsung,
sehingga
a struktur dari piston head
haruslah
h cukup kuat untuk
menahannya.
- Ring lan
nd, merupakkan tempat dudukan
d
dari pistton ring. Pa
ada umumnyya diesel
engine memiliki
m 3 sa
ampai 4 bua
ah piston
ring pad
da tiap-tiap pistonnya.
p Pisston ring
tersebutt terdiri atas 2 buah
Stru
uktur piston
compresssion ring da
an 1 sampaii 2 buah
oil ring.
- Oil drain
n hole, pada bagian oil ring groove te
erdapat sebu
uah lubang o
oli yang berfu
ungsi sebaga
ai
tempat mengalirnya oli yang dissapu oleh piiston. Oli terrsebut setela
ah melewati lubang akan
n
jatuh ke
e oil pan.
- Piston pin
p mounting
g hole, merup
pakan lubang
g tempat ked
dudukan dari pin piston.
- Skirt, meerupakan bagian bawah dari piston.
- Valve reecess, merup
pakan bagian dari piston yang berb
bentuk cowa
akan sebesar valve yang
g
terletak pada bagiian atas. Cowakan
C inii berfungsi untuk men
ngatasi gangguan yang
g
dimungkkinkan timbu
ul dari valve ketika
k menga
alami pemua
aian.
Piston dibua
at dalam ben
ntuk elliptica
al. Arah pin piston diame
eternya lebih
h kecil diban
nding dengan
n
diam
meter yang tegak
t lurus dengan
d pin piston denga
an tujuan pa
ada saat ken
naikan temperatur piston
n
0-350ºC pada top piston dan lebih kurang
(300 k 150ºC
C pada bagia
an tengah pisston), cross section yang
g
berb
bentuk elliptiical akan terrcapai menja
adi bulat (berrdiameter sa
ama).Piston iini disebut dengan
d istilah
h
ovall piston.
Kepala pistton yang berukuran
h kecil (disebut deng
lebih gan istilah
coniical piston) akan men
njadi sama
besa muaian dan perbedaan
ar akibat pem
temperatur anttara bagian atas dan
wah piston. Oleh sebab itu bila
baw
men meter piston, arah dan
ngukur diam
posisinya diisesuaikan dengan
51
Die
esel Engine 2
2
Offs
set Piston
Pada saat te
erjadi peruba
ahan gerak piston,
p dari langkah posisi
kom
mpresi ke possisi langkah ekspansi
e (lan
ngkah pemba
akaran), sudu
ut
darip
pada conneccting rod juga akan mengalami perub
bahan. Hal in
ni
akan bkan piston bergerak da
n menyebab ari kanan ke
e kiri (seperrti
yang
g ditunjukkkan dalam gambar di samping
g). Besarnyya
perg
gerakkan dari piston tergantung
g dari bessarnya cela
ah
(clea
arance antarra piston ring
g dan silinderr). Pergerak
kkan piston in
ni
baga
aikan sebuah
h pukulan pa
alu yang men
nimbulkan su
uara.
ergerakkan dari piston tersebut dapat dikurang
Besarnya pe gi
deng
gan cara me
emperkecil celah
c antara piston ring dan silinde
er.
Nam
mun demikian
n, jika celah
h antara piston ring dan silinder yan
ng
terla an menyebabkan oli tida
alu kecil aka ak dapat me
elumasi dengan baik dia
antara kedu
ua komponen
n
terse
ebut. sehingga dalam ha
al ini celah an
ntara piston ring
r dan silin
nder harus diibuat seteliti mungkin.
Salah satu cara
c untuk mencegah
m be
enturan pisto dalah dengan menerapk
on di atas ad kan offset pin
n
pisto
on. Offset pin piston ini merupakan penyimpang
gan antara garis
g tengah
h crankshaft//garis tengah
h
on dengan garis tengah pin
pisto p piston.
52
Diesel Engine 2
Material Piston
Material piston dibuat dari allumunium alloy terdiri dari silikon (Si), nickel (Ni), copper (Cu).
Pada umumnya material piston terdiri dari nickel allumunium alloy called Lo-ex, dengan spesifik
gravity rendah (diatas 27), tahan panas dan dapat menyalurkan panas dengan cepat. Penyerapan
panas dari allumunium alloy tiga kali lebih tinggi dibanding cast iron.
Sebuah piston harus terbuat dari bahan-bahan yang dapat memenuhi kebutuhan sebagai
berikut:
- Koefisien muai-nya harus rendah (piston tidak boleh cepat memuai apabila terkena
panas).
- Kondutor panas yang tinggi (high heat conductivity).
- Mempunyai gaya inersia yang kecil pada saat kecepatan tinggi (low specific gravity).
- Tahan terhadap abrasi.
- Mudah dicor.
53
Diesel Engine 2
- Konduktor panas yang tinggi. Piston ring harus mampu membuang panas melalui silinder,
jika tidak maka hal ini akan menyebabkan piston ring akan cepat memuai yang pada akhirnya
akan mempercepat keausan pada liner.
- Ekspansi termalnya harus rendah. Tidak cepat memuai jika terkena panas.
- Mudah dipasang di dalam silinder.
- Mempunyai elastisitas yang tinggi.
- Mempunyai daya tahan korosi yang tinggi.
• Oil ring
Berbagai macam tipe dari oil ring
ditunjukkan pada gambar disamping. Oil
ring akan membuang banyak sekali oli yang
terdapat pada dinding silinder. Hal ini
dilakukan agar didapatkan lapisan oli yang
sesuai untuk pelumasan antara dinding
silinder dengan compression ring. Terdapat
oil ring yang dilengkapi dengan spring, hal
ini bertujuan untuk meningkatkan besarnya kontak dengan dinding silinder.
54
Die
esel Engine 2
2
55
Diesel Engine 2
mengahdapi langkah kompresi. Pada saat langkah kompresi, oli diratakan oleh compression ring
yang paling atas. Oli akan diratakan kembali pada saat piston melakukan langkah buang.
Compression ring pada saat ini juga membuang karbon hasil pembakaran bahan bakar dan
dikeluarkan bersama-sama dengan gas buang.
56
Diesel Engine 2
Pengukuran celah antara piston ring dan Pengukuran celah piston ring
ring groove
57
Die
esel Engine 2
2
Tuju
uan Pelajarran 5
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 5, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
tenttang:
• Fung
gsi dan strukktur connectiing rod.
• Pena
angan conne
ecting rod.
Fun
ngsi Connec
cting Rod
Connecting rod menghubungkan pisston dengan crankshaft yang
y berfung
gsi untuk me
erubah gerakk
bola
ak-balik (recip
procating) da
ari piston me
enjadi geraka
an putar pad
da crankshaftt.
Connecting rod harus kuat
k menahan tekanan kompresi,
k tekkanan pemb
bakaran, tega
angan beban
n
yang ulang dan beban bengkokk yang diseba
g berulang-u abkan inertia
a dari piston dan connectting rod pada
a
puta
aran tinggi. untuk
u memen
nuhi kebutuh
han diatas, connecting
c ro
od dibuat dari special bajja tempa dan
n
mem
mpunyai kekuatan specia
al dalam battas kelelahan
n material. Saat
S memasa
ang connectiing rod hati–
–
hati jangan sam
mpai terdapa
at guratan (ccacat) khusu
us pada dae
erah melinta
ang atau dae
erah lekukan
n
conn
necting rod,, karena co
onnecting ro
od selalu be
ekerja beratt, beban ya
ang berulan
ng-ulang dan
n
konssentrasi stresss menyebab
bkan connectting rod mud
dah rusak.
Connecting
g rod
58
Diesel Engine 2
59
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 6 : Cranksh
haft
Tuju
uan Pelajarran 6
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 6, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
tenttang:
• Fung
gsi dan strukktur dari cran
nkshaft.
• Benttuk cranksha
aft.
• Pena
anganan pad
da crankshafft.
Fun
ngsi Crankshaft
Crankshaft merupakan
m k
komponen ya
ang menerim
ma tenaga ge
erak dari pisston. Cranksh
haft bersama
a
deng
gan connecting rod berfu
ungsi untuk merubah gerakan naik/turun piston menjadi gera
ak putar. Ha
al
ini berarti
b juga merubah te
ekanan yang
g diterima oleh
o piston menjadi gayya putar engine (engine
e
torque).
Stru
uktur Crank
kshaft
Strukturr crankshaft
60
Die
esel Engine 2
2
Struktur utam
ma dari Cranks
shaft
• Crank piin
Crank piin pada cran
nkshaft engin
ne dihubungk
kan ke
connecting rod melalu
ui bearing metal.
m Cran
nk pin
tersebut m
menerima se
ecara langssung gaya yang
dihasilkan dari
d pembakkaran yang terjadi di dalam
ruang baka
ar. Pada be
earing meta
al yang berrfungsi
sebagai ban
ntalan terdap
pat oil groovve yang tuju
uannya
untuk membawa oli ke ermukaan bearing
e seluruh pe
dan membuat pergera
akan atau gesekan menjadi
m
lembut. Sela
ain itu, oil gro
oove juga se
ebagai penam
mpung Oil groove pa
ada bearing metal
61
Die
esel Engine 2
2
• Crank arrm
Crank arms/crank
a w
web pada crrankshaft be
erfungsi
untuk menghubungkan crank
c pin dengan crank journal.
j
Crank arm menerima tegangan
t enkok yang sangat
be
besar, sehin
ngga kompo
onen ini se
elalu dibentu
uk oval
pada sambu
ungannya den
ngan tujuan agar lebih ku
uat.
• Balance weights
Balance weight a
atau sering
disebut juga
a counter weight
w yang
yang terdap
pat cranksha
aft berfungsi
untuk memb
buat putaran
n crankshaft
menjadi ha
alus. Balan
nce weight
tersebut akkan membu
uat engine
dapat diope
erasikan deng
gan lembut,
mengurangi abrasi p
pada crankk
journal, men
ningkatkan daya
d engine
dan mengu
urangi konsu
umsi bahan
bakar. Terd
dapat dua macam
m tipe
eight, ada yang diikat
balance we S
Split type bala
ance weight
62
Diesel Engine 2
Bentuk Crankshaft
Getaran pada engine dapat disebabkan adanya ketidak seimbangan pada komponen-komponen
yang bergerak pada engine tersebut. Dengan adanya urutan pembakaran (combustion
sequence/ignition sequance/firing order) pada engine akan meminimalkan terjadinya geteran
tersebut. bentuk dari crnakshaft tergantung dari urutan pembakarannya dan banyaknya jumlah crank
journal.
• Perbedaan bentuk crankshaft berdasarkan jumlah crank journal
Bentuk crankshaft pada
engine 4 silinder dan 6 silinder
dapat diklasifikasikan ke dalam 2
tipe berdasarkan jumlah crank
journal-nya.
Berdasarkan jumlah crank
journal-nya, bentuk crankshaft
pada engine 4 slinder dapat
diklasifikasikan ke dalam dua tipe,
yaitu tipe 3 crank journal dan tipe
5 crank journal. Diantara kedua
tipe tersebut, tipe 5 crank journal lebih umum digunakan karena bentuk ini lebih tahan terhadap
terjadinya kebengkokan pada saat putaran tinggi.
Sedangkan pada engine 6 silinder juga dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tope 4 crank
journal dan tipe 7 crank journal. Dari dua tipe tersebut, tipe 7 crank journal lebih luas digunakan
karena lebih tahan terhadap kemungkinan benkok pada saat putaran tinggi.
• Perbedaan bentuk crankshaft berdasarkan waktu pembakaran
- Engine 4 silinder (4 langkah)
Pada engine 4 silinder (4 langkah), jarak antara crank pin
yang satu dengan yang lainnya sebesar 180o. Jarak ini
ditentukan untuk menyamakan kerja dari masing-masing
silinder selama 1 siklus (4 kali gerakan piston = 2 kali putaran
crankshaft = 270o).
Dengan demikian, maka gerakan engine 4 silinder akan
seimbang jika crankshaft #1 dan #4 diikat pada sisi yang sama
dan crankshaft #2 dan #3 didikatkan pada sisi yang sama.
Pada tipe ini memilki urutan pembakaran 1-3-4-2 atau 1-2-4-3.
63
Die
esel Engine 2
2
64
Die
esel Engine 2
2
Pen
nangan Cran
nkshaft
Pada saat beban yang
g diterima oleh
cran
nkshaft tidakk sama pada
a masing-ma
asing
lang an menyebabkan
gkah, maka hal ini aka
adinya pola abrasi yang tidak sam pada
terja p
tiap--tiap sisi dari
d cranksh
haft (cranksshaft
dapa
at berbentuk oval/tidak bulat). Den
ngan
dem
mikian cran
nkshaft ha
arus dilaku
ukan
pem
meriksaan de
engan cara mengukur pada
p
tiap--tiap sisinya.
Pengukuran
P diiameter crank
kshaft (contoh
h)
65
Diesel Engine 2
crankshaft.
• Crankshaft end play
Pada saat sebuah crankshaft
dipasang pada engine, maka crankshaft
tersebut harus memililki celah
(clearance) pada arah aksial. celah
tersebut dinamakan dengan end play.
Jika end play terlalu kecil, maka akan
mengakibatkan terjadinya penurunan
tenaga engine. Sebaliknya, jika end play
terlalu besar akan mengakibatkan
timbulnya suara dan abrasi pada
crankshaft. Oleh karena itu sebuah Pengukuran end play pada crankshaft
66
Diesel Engine 2
Pelajaran 7 : Flywheel
Tujuan Pelajaran 7
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 7, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang:
Fungsi Flywheel
Flywheel merupakan sebuah plat bulat yang terbuat dari baja cor kelas tinggi dan diikatkan pada
bagian belakang dari crankshaft. Hal ini akan membuat putaran engine yang dihasilkan dari tekanan
piston ke bawah yang diterima oleh crankshaft menjadi lebih halus.
1. Ring gear
2. Flywheel
3. Rear seal
4. Flywheel housing
Sebuah engine menghasilkan tenaga hanya pada saat melakukan langkah ekspansi (power) saja.
Engine akan mengalami kecenderungan untuk berhenti berputar pada saat melakukan langkah hisap,
langkah kompresi, dan langkah buang. Maka dari itu dibutuhkan gaya untuk memutar crankshaft
selama langka-langkah tersebut. Flywheel digunakan untuk memfungsikan hal tersebut.
Flywheel mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:
- Flywheel yang digunakan pada engine 1 silinder dan 2 silinder, berfungsi untuk menjaga
agar engine tetap selalu berputar.
- Flywheel yang digunakan pada engine 4 silinder atau lebih berfungsi untuk menurunkan
fluktuasi torsi.
67
Diesel Engine 2
- Flywheel berfungsi untuk mensuplai torsi keluar dengan cara menghubungkannya dengan
clutch disc.
Pada saat pertama kali engine dihidupkan, gaya putar dari luar digunakan untuk memutar
flywheel melalui ring gear.
Struktur Flywheel
Struktur dari flywheel terdiri
atas: flywheel, ring gear, flywheel
housing, dan rear seal.
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa, flywheel adalah
komponen yang memilki gaya inersia
yang cukup besar, hal ini bertujuan
untuk mengurangi fluktuasi torsi
pada crankshaft, sehingga engine
dapat berputar dengan cukup halus.
Flywheel diikatkan ke bagian
belakang dari crankshaft dengan
menggunakan bolt yang cukup kuat.
Selain itu juga, flywheel juga
dirancang sebagai tempat mengikat
komponen-komponen clutch disc,
damper, torque converter, dan lain-
lain.
Ring gear dipasang pada
flywheel dengan cara diikat dengan
Struktur flywheel
menggunakan bolt atau dengan cara
dipres. Ring gear akan
berhunbungan dengan pinion pada starting motor pada saat engine akan dihidupkan.
Flywheel housing diikatkan dengan menggunakan bolt dibagian belakan dari cylinder block,
sebagai kedudukan dari penopang engine bagian belakang.
Raer seal dipasang untuk mencegah terjadinya kebocoran oli pada main journal.
Karakteristik Flywheel
Bobot atau berat dari sebuah flywheel ditentukan oleh beberapa faktor. Flywheel harus
mempunyai cukup berat, hal ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya fluktuasi torsi yang diterima
oleh crankshaft. Di sisi lain, flywheel juga harus cukup ringan, hal ini bertujuan untuk mempermudah
engine pada saat menghidupkan pertama kali dan untuk mengurangi berat dari engine tersebut.
68
Diesel Engine 2
Flywheel yang terlalu berat akan menambah bobot dari engine dan kendaraan. Dari keterangan
tersebut dapat disimpulkan bahwa, berat dari sebuah flywheel harus disesuaikan dengan kegunaan
daripada kendaraan tersebut.
Penanganan Flywheel
Run out yang besar pada flywheel akan
menghasilkan getaran yang besar selama
flywheel tersebut berputar
69
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 8
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 8, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang fungsi dan struktur dari torsional damper/vibration damper.
70
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 9
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 9, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang balancer shaft.
71
Diesel Engine 2
Pelajaran 10 : Camshaft
Tujuan Pelajaran 10
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 10, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang:
Fungsi Camshaft
Camshaft merupakan sebuah
komponen yang diputar oleh
crankshaft melaui hubungan roda
gigi. camshaft berfungsi untuk 1. Camshaft
2. Cam gear
menyalurkan tenaga ke valve
system (mekanisme membuka dan a. Camshaft journal
Reguler camshaft b. Air intake cam
menutupnya intake dan exhaust c. Air exhaust cam
d. Injector cam
valve). Pada cummin engine
camshaft-nya dilengkapi dengan
injector cam yang berfungsi sebagai
mekanisme penggerak dari injektor
bahan bakar.
Camshaft with injector cam
Struktur Camshaft
Camshaft terdiri dari cam gear sebagai penggerak, journal yang didukung oleh bushing dan cam
sebagai pengontrol terbuka dan tertutupnya valve. Camshaft terpasang di dalam cylinder block dan
didukung oleh bushing yang duduk pada journal. Thurst bearing dipasang diantara cam gear dan
journal pada piston nomor satu untuk melicinkan gerakan shaft bila ada beban axial.
Pompa pelumasan pada engine mengalirkan oli yang diatur tekanannya oleh sebuah valve ke
seluruh bagian engine yang memerlukan pelumasan, salah satunya adalah bagian camshaft. Oli
dialirkan melalui cylinder block atau main gallery kemudian masuk ke cam shaft melalui lubang
bushing journal. Bila mengganti bushing harus meluruskan kembali lubang yang ada pada cylinder
block dengan lubang yang ada di bushing.
72
Diesel Engine 2
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa bentuk dari cam pada camshaft akan
mempengaruhi waktu membuka dan menutupnya valve (valve timing. Berikut ini adalah salah satu
contoh valve timing dari sebuah engine 6 silinder.
Dari data di samping, diketahui bahwa besarnya:
73
Diesel Engine 2
Dari data di atas, dihasilkan sebuah tabel urutan pembukaan valve sebagai berikut.
- Akhir ekspansi = 0+135o = 135o
- Akhir buang = 135o + 240o = 375o
- awal hisap = 375o – 35o = 340o
- akhir hisap = 340o+230o = 570o
- akhir kompresi = 570o+150o = 720o
74
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 11
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 11, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang fungsi dan struktur dari tappet dan push rod.
75
Diesel Engine 2
76
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 12
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 12, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang fungsi dan struktur timing gear.
Timing gear
77
Diesel Engine 2
Pada masing-masing timing gear terdapat adanya tanda. Tanda pada timing gear tersebut
bertujuan untuk memudahkan dalam pembongkaran dan pemasangan.
78
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 13
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 13, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
tentang fungsi dan struktur PTO gear.
79
Diesel Engine 2
Ringkasan
Komponen utama dari sebuah diesel engine, meliputi komponen-komponen yang diam (stationary
parts) dan komponen-komponen yang bergerak (moving parts). Komponen yang diam (stationary
parts) pada diesel engine berarti komponen tersebut selama engine beroperasi kondisinya diam/tidak
bergerak sama sekali, contohya: cylinder block, cylinder head, oil pan, dan lain-lain. Sedangkan
komponen-komponen yang bergerak (moving parts) berarti komponen tersebut bergerak ketika
engine tersebut beroperasi. Gerakan pada komponen-komponen engine dapat berupa:
- gerakan bolak-balik (reciprocating), contoh: piston, connecting rod, piston ring.
- gerakan berputar, contoh: crankshaft, flywheel, gear train.
- gerakan mekanisme valve, contoh: intake valve, exhaust valve, rocker arm.
Komponen- komponen pada engine dibuat dengan rancangan khusus, menggunakan material-
material tertentu dimana salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan daya guna engine
tersebut. Komponen-komponen tersebut butuh penanganan khusus, sehingga kerusakan-keruskan
yang lebih parah dapat dihindari yang pada akhirnya akan memperpanjang umur komponen engine.
80
Diesel Engine 2
Soal Latihan
2. Sebutkan komponen-komponen pada diesel engine yang tidak bergerak (stationary parts)!
a. ____________________________ e. ____________________________
b. ____________________________ f. ____________________________
c. ____________________________ g. ____________________________
d. ____________________________
81
Diesel Engine 2
10. Apa yang dimaksud dengan fenomena scuffing pada piston ring?
82
BAB III
KOMPONEN PEMBANTU (AUXILARY EQUIPMENT)
Tujuan Bab 3 :
Setelah menyelesaikan pembelajaran pada BAB 3, siswa mampu menyebutkan dan
menjelaskan nama, fungsi dan lokasi komponen dan cara kerja komponen pada
peralatan pembantu (auxilary equipment) bakar diesel engine.
Referensi :
Buku :
• Komatsu Training Aid
• Komatsu Unit Instruction Manual Basic Engine Component (SEULE0002_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Diesel and Gasoline Fundamental
(SEULE0003_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual 155 Series Engine (SEULE4001_0)
• Komatsu Unit Instruction Manual Engine Lubrication System (SEULE0401_0)
• Nissan Automotive Engineering Text Book ([Link].TBENG00001)
• Pengetahuan Teknik Secara Umum (Filter untuk Engine, Engine Coolant dan
Corrosion Resistor)
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine 170-3 Series
• Shop Manual Koamtsu Diesel Engine 125 series
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine D155A-2
Video :
Die
esel Engine 2
2
Tuju
uan Pelajarran 2
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 2, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
nam
ma, fungsi, lo
okasi, strukttur dan cara
a kerja kom
mponen pada
a sistem bah
han bakar (fuel
( system)
engiine diesel.
mbaran Um
Gam mum Sistem Bahan Bak
kar (Outline
e of Fuel Sy
ystem)
Diesel Engin
ne dapat berroperasi kare ar di dalam ruang bakarr.
ena adanya pembakaran bahan baka
Hasiil pembakara
an tersebut m
menghasilkan panas yan
ng digunakan
n untuk men
ndorong pisto
on ke bawah
h
dan pada akhirn
nya dapat me
enghasilkan gaya putar pada
p cranksh
haft. Bahan bakar pada diesel
d engine
e
diinjjeksikan dengan tekanan
n yang cukup
p tinggi, sehiingga mengh
hasilkan parttikel-partikel bahan bakar
yang
g sangat lem
mbut dan dengan cepat bercampur dengan
d udarra yang suda
ah dikompre
esikan hingga
a
men
ncapai tempe
eratur terten
ntu.. Bahan bakar
b tersebut diinjeksika
an pada wakktu, tekanan, dan jumlah
h
yang
g tepat. Prosses tersebut dilakukan se
epenuhnya olleh sistem ba
ahan bakar p
pada engine.
Gambaran umum
u dari sisstem bahan bakar pada diesel engine
e ditunjukkan
n dengan ga
ambar berikut
ini.
Gam
mbaran umum
m sistem bahan
n bakar (in-lin
ne injection pu
ump)
84
Diesel Engine 2
Bahan bakar dari tanki bahan bakar (fuel tank) dipompa oleh feed pump untuk dikirmakan ke
saringan bahan bakar (fuel filter). Di dalam fuel filter, bahan bakar disaring terlebih dahulu agar
jangan sampai kotoran ikut bersirkulasi ke dalam sistem bahan bakar. Bahan bakar yang dipompakan
oleh feed pump diatur tekanannya dengan menggunakan overflow valve (pada beberapa model ada
yang megunakan dua buah overvlow valve sekaligus). Bahan bakar dikompres oleh pompa injeksi dan
diinjeksikan ke dalam ruang bakar pada tekanan 80-300 kg/cm2 melalui pipa nozzle, nozzle holder
dan injection nozzle.
Komponen timer yang terletak di bagian depan dari pompa injeksi berfungsi untk mengatur
waktu penginjeksian bahan bakar ke dalam ruang bakar sesuai dengan kecepatan putar engine.
Governor yang terletak di bagian belakang dari pompa injeksi berfungsi untuk menstabilkan
kecepatan putar engine dengan cara mengontrol jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam
ruang bakar.
Pada umumnya jumlah bahan bakar yang dikirim oleh feed pump lebih banyak dibandingkan
dengan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan oleh pompa injeksi, kelebihan bakar tersebut akan
dikembalikan lagi ke tanki bahan bakar melalui saringan bahan bakar.
85
Diesel Engine 2
In-line type
Distributor type
Central type
V-type
Parallel type
Jerk pump
Single type
system
Separate type
Unit injector
86
Die
esel Engine 2
2
87
Die
esel Engine 2
2
Berikut ini ko
ode model untuk pompa injeksi tipe in-line
i (Bosch type)
88
Diesel Engine 2
89
Diesel Engine 2
90
Diesel Engine 2
Pada gambar di atas ditunjukkan bahwa masing-masing tipe plunger memilki bentuk
kepala plunger yang berbeda-beda.
Kepala plunger atau lead dibagi menjadi dua tipe, yaitu right lead plunger dan left lead
plunger.
Pada right lead plunger, ketika plunger tersebut digerakkan ke kanan (searah jarum jam)
(jika dilihat dari bawah plunger), jumlah bahan bakar yang disuplai akan meningkat. Pada left
lead plunger, ketika plunger tersebut digerakkan ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam)
jika dilihat dari bawah, maka suplai bahan bakar akan meningkat.
Huruf R (right lead) dan huruf L (left lead) diukir pada bagian plunger sehingga kedua
tipe plunger tersebut dapat diidentifikasi.
Kepala plunger pada model B yang ditunjukkan pada gambar di atas mempunyai bentuk
alur yang dinamakan dengan spiral control groove. Sedangkan pada model A dan P
dinamakan straight groove.
91
Diesel Engine 2
Bahan bakar mulai diinjeksikan ketika plunger bergerak naik dan menutup dengan
sempurna lubang inlet port pada plunger barrel (lihat gambar pada poin c). penginjeksian
bahan bakar berakhir ketika kepala plunger berhubungan dengan lubang outlet port (lihat
gambar pada poin d). Pada pompa injeksi model A hanya memilki satu buah lubang saja
yang digunakan sebagai tempat keluar dan masuknya bahan bakar (inlet port dan outlet
port). Jarak pergerakan plunger selama melakukan proses pengiriman bahan bakar ini
disebut sebagai langkah efektif (efective stroke).
Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan (setiap pergerakan plunger) akan meningkat atau
menurun jika terjadi perubahan pada besarnya langkah efektif plunger tersebut. Langkah
efektif ditentukan oleh posisi relativ antara plunger dan barrel, dimana plunger barrel akan
dalam posisi tetap sementara plunger akan bergerak naik-turun dan berputar.
92
Diesel Engine 2
93
Diesel Engine 2
94
Diesel Engine 2
Governor
• Fungsi Governor
Meskipun akselerator dipertahankan pada posisi yang sama, engine tidak dapat menjaga
putarannya dalam kondisi idling (tanpa beban) tanpa dikontrol oleh governor. Governor berfungsi
untuk:
- Menjaga kecepatan putaran engine pada saat kondisi idling (low speed control function)
- Menjaga kecepatan maksimum engine (high speed control function)
- Menjaga kecepatan engine yang disesuaikan dengan beban (intermediate speed control
function)
• Klasifikasi Governor
Governor dapat diklasifikasikan sebagai berikut, sesuai dengan penggunaannya (karakteristik
pengontrolannya) dan sesuai dengan prinsip pengoperasiannya (mekanismenya).
Dual-purpose governor
Governor
Klasifikasi governor
95
Diesel Engine 2
96
Diesel Engine 2
97
Die
esel Engine 2
2
98
Die
esel Engine 2
2
a gambar di
Pada d atas, gayya penekana
an dari gove
ernor spring
g sangat kuat, sehingga
a
mampu mendorong shifter ke kiri. Besarnya gaya sentriffugal yang ditimbulkan oleh
o flyweight
uti besarnya kecepatan putar engine
mengiku e, semakin besar
b kecepa
atan putar engine,
e maka
a
secara proportional
p gaya sentriffugal yang ditimbulkan
d o
oleh flyweigh
ht juga akan
n meningkatt.
Ketika gaya
g sentrifug
gal pada flyw
weight lebih besar daripa
ada gaya pen
nekanan gov
vernor spring
g,
maka sh
hifter akan terdorong
t ke
e arah kanan
n yang mengakibatkan ccontrol rack bergerak ke
e
arah pen
ningkatan pe
enginjeksian bahan bakarr. Shifter aka
an berhenti b
bergerak manakala sudah
h
dicapai keseimbang
gan antara gaya sentriffugal flyweig
ght dengan gaya pene
ekanan pada
a
governo
or spring.
99
Diesel Engine 2
Pada kurva (A) ditunjukkan hubungan antara posisi control rack dengan kecepatan atau
diistilahkan dengan kurva karakteristik pengontrolan, dimana pada kurva tersebut
ditunjukkan bahwa pada saat putaran engine masih rendah, bahan bakar yang diijeksikan
oleh pompa injeksi akan besar dan pada suatu titik kecepatan tertentu, bahan bakar yang
diinjeksikan akan mualai menurun. Jika kecepatan putaran engine pada titik tersebut masih
mengalami peningkatan, maka jumlah bahan bakar yang diijeksikanpun juga akan mengalami
penurunan sampai tidak ada bahan bakar yang diinjeksikan sama sekali (engine berhenti).
Pada kurva (A) hanya ditampilkan satu garis kurva saja, tetapi bagaimanapun juga pada
prakteknya tidak demikian. Semua kombinasi garis akan dimungkinkan terjadi pada saat
engine tersebut dioperasikan, seperti yang akan dijelaskan berikut ini.
Merubah besarnya gaya penekanan pada governor spring. Besarnya gaya
penekanan yang dihasilkan dari governor spring dapat dirubah dengan cara merubah posisi
dari control lever (B) dan menempatkannya pada posisi tertentu. Jika kita menggerakkan
control lever ke arah kiri (searah dengan arah jarum jam), maka besarnya gaya penekanan
pada governor spring akan meningkat, demikian juga sebaliknya jika kita gerakkan control
lever ke arah kanan, besarnya gaya penekanan pada governor spring akan menurun.
Pada saat control lever digerakkan ke arah kanan, maka gaya yang dibutuhkan oleh
flyweight untuk menekan shifter ke arah kanan akan besar. Semakin ke kanan, flyweight
akan berusaha dengan gaya yang sangat besar pula untuk mendorong shifter. Karakteristik
pengontrolan seperti ini dapat ditunjukkan pada kurva (B). Pada saat kita melakukan variasi
perpindahan posisi control lever, maka akan didapatkan juga berbagai variasi pengontrolan
untuk masing-masing kecepatan. Karakteristik pengontrolan seperti ini dinamakan dengan all
speed governor characteristic.
Menggerakkan bagian bawah dari floating lever ke arah kiri dan kanan. Floating
lever yang dihubungkan dengan shifter pada governor dapat digerakkan ke arah kiri maupun
ke arah kanan dengan cara mengoperasikan load control lever (C) dengan menggunakan
accelerator pedal. Pergerakkan dari floating lever akan merubah posisi dari control rack, dan
jumlah penginjeksian bahan bakar akan berubah juga.
Pada saat load control lever digerakkan ke arah kanan (searah jarum jam), maka floating
lever akan bergerak ke arah kiri dan control rack akan bergerak untuk mengurangi jumlah
bahan bakar yang diinjeksikan. Demikian juga sebaliknya, jika control load lever digerakkan
ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam), maka floating lever akan bergerak ke arah kiri
dan menarik control rack ke posisi pengurangan bahan bakar. Karakteristik pengontrolan
seperti ini ditunjukkan pada kurva (C). Karakteristik pengontrolan yang ditunjukkan pada
kurva (C) dinamakan dengan limit speed governor characteristic.
100
Diesel Engine 2
101
Diesel Engine 2
Pada gambar yang ditunjukkan di halaman sebelumnya, putaran dari camsahft pada
pompa injeksi diteruskan ke gear shaft pada governor melalui mekanisme roda gigi untuk
meningkatkan kecepatan putarnya (step-up). Di dalam governor terdapat dua buah flyweight
yang diikatkan ke gear shaft. Selain itu juga terdapat sebuah roller yang dihubungkan ke
kedua buah flyweight tersebut dengan menggunakan perantara dua buah poros. Roller
tersebut akan bersentuhan dengan guide bush pada bagian ujungnya. Guide bush akan
berputar bersama-sama dengan flyweight dan juga dapat bergerak dalam arah aksial.
Guide lever, pada bagian atasnya diikatkan ke rumah governor (governor case) dengan
menggunakan sebuah pin, dan pada bagian bawahnya diikatkan ke shifter. Shifter disatukan
dengan bush, dimana diantara keduanya dipasang sebuah bantalan, sehingga guide bush
dapat berputar dengan bebas pada shifter.
Floating lever (ditunjukkan pada
gambar di samping), bagian
Full load operation
tengahnya diikat dengan Floating lever
menggunakan sebuah pin pada guide
lever, pada bagian bawah diikatkan
Guide
ke rumah governor dan bagian lever
atasnya diikatkan dengan control rack Governor
spring
dengan perantara sebuah link. Bagian Control rack
102
Diesel Engine 2
- Engine starting
Pada governor tipe ini, pada saat
Starting spring
- Engine idling
Jika control lever dikembalikan ke Starting spring
IDLING Control lever
posisi IDLING stelah engine hidup, maka FULL LOAD
STOP
START
ketegangan governor spring akan
berkurang, dan menyebabkan fly weight Guide
lever
mengembang pada saat putaran rendah. Control rack
Idling sub
Kemudian shifter akan bergerak ke kanan Gov. spring spring
Tension
mendorong tension lever sampai Swivel lever lever
103
Diesel Engine 2
dapat dicegah.
Posisi full load
104
Diesel Engine 2
- Stopping
Starting spring
Pada saat control lever diposisikan IDLING Control lever
FULL LOAD
ke STOP, governor spring akan bebas, START
STOP
Posisi stopping
Pada saat sebuah engine mendapat kenaikan beban secara tiba-tiba, maka engine
tersebut akan secara cepat mengalami stall (engine mati karena kelebihan beban), hal ini
dikarenakan operator tidak memilki cukup waktu untuk memindahkan posisi gigi transmisi
guna menaikkan torsi output.
Bagaimana caranya untuk mencegah hal tersebut? salah satu cara yang dapat digunakan
adalah dengan menggunakan sebuah torque spring. Sebuah torque spring berfungsi untuk
meningkatkan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan, sementara itu control rack bergerak
secara perlahan-lahan sehingga engine dapat bertahan pada saat mendapatkan beban
berlebih secara tiba-tiba.
105
Diesel Engine 2
Mari kita asumsikan bahwa control lever pada pompa injeksi dalam posisi tetap (poin B
pada grafik di bawah) dan tiba-tiba engine yang digunakan mendapatkan beban besar secara
tiba-tiba. Jika governor yang digunakan pada sistem bahan bakar engine tersebut tidak
dilengkapi dengan sebuah torque spring, maka control rack akan bergerak sejauh B-D
(control rack akan bergerak ke arah penambahan jumlah bahan bakar) dan kecepatan
putaran engine-nya akan turun, seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah. Pada kondisi
ini, besarnya penurunan kecepatan adalah sejauh P1. Jika governor yang digunakan pada
sistem bahan bakar tersebut dilengkapi dengan adanya sebuah torque spring, maka control
rack akan bergerak sejauh B-C dan kecepatan engine-nya akan turun sejauh P2.
Pergerakkan control rack pada kedua buah kondisi di atas (antara yang menggunakan
torque spring dan tanpa torque spring) adalah sama, yaitu sejauh S. Perbedaannya hanya
terletak pada kecepatan reduksinya.
Jika beban yang diterima oleh engine sangat kecil pada saat dioperasikan pada poin B,
maka kecepatan putar engine akan meningkat dan governor akan beroperasi tanpa
menggunakan torque spring. Control rack akan bergerak sejauh B-A.
Jika engine dioperasikan pada poin B dan tiba-tiba mendapatkan beban yang cukup
tinggi dan melebihi kapasitas engine, maka beban tersebut akan membuat kecepatan engine
akan menurun dengan cepat (P1) dan governor akan dengan segera menggerakkan control
rack ke arah penambahan bahan bakar. Keadaan seperti itu akan membuat operator
kendaraan tidak memilki kesempatan untuk menurunkan kecepatan gigi transmisi guna
meningkatkan torsi outputnya.
Jika governor dilengkapi dengan adanya torque spring, maka pada keadaan seperti di
atas, control rack akan tidak dapat bergerak dengan cepat untuk meningkatkan jumlah bahan
bakar yang diinjeksikan. Kondisi seperti ini disebabkan oleh adanya rekasi dari torque spring
pada governor. Control rack akan bergerak secara bertahap dari B ke C dan torsi engine akan
meningkat. Kecepatannya akan berkurang sejauh P2. Kondisi seperti ini akan memberikan
cukup waktu buat operator untuk menurunkan kecepatan gigi transmisi, sehingga dapat
dihindari terjadinya stall pada engine.
106
Diesel Engine 2
- Angleich device
Pada umunya, jumlah udara yang dihisap ke dalam silinder pada engine (volume
efficiency) akan mengalami penurunan pada saat engine tersebut mengalami peningkatan
kecepatan, hal ini disebabkan karena adanya kenaikkan hambatan dan faktor lainnya.
Dengan alasan seperti itu, maka jumlah bahan bakar yang diijeksikan ke dalam ruang bakar
harus dikurangi secara proporsional untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna
(sehingga tidak dihasilkan asap hitam pada gas buang).
Di sisi lain, untuk memenuhi daya guna yang dibutuhkan oleh engine, jumlah bahan
bakar yang diinjeksikan harus ditingkatkan pada saat putaran tinggi untuk dapat dihasilkan
daya guna yang tinggi. Dan jumlah bahan bakar yang diijeksikan harus dikurangi pada saat
putaran engine rendah untuk mengatasi timbulnya gas buang warna hitam.
Untuk mengatasi hal ini maka digunakanlah komponen yang disebut dengan angleich
spring. Komponen ini akan secara otomatis mengatur jumlah bahan bakar yang diijeksikan
sesuai dengan kecepatan engine.
- Asdas
- ada
107
Diesel Engine 2
- Boost compensator
Sebuah engine yang dilengkapi dengan turbocharger cenderung memilki boost pressure
(tekanan udara masuk) yang rendah pada saat kecepatan engine rendah. Boost pressure
akan meningkat pada saat kecepatan engine miningkat. Dengan alasan ini, jumlah maksimum
bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar dapat dikontrol dengan menggunakan
boost pressure. Perlengkapan yang digunakan dinamakan dengan boost compensator.
Sebuah contoh dari boost compensator ditunjukkan dalam gambar berikut ini.
Pada saat kecepatan engine meningkat, boost pressure pada intake manifold akan
meningkat (volume udara yang masuk ke dalam silinder juga akan meningkat) dengan
adanya turbocharger. Ketika boost preesure melawan gaya dari spring yang terdapat pada
diafragma di dalam boost compensator, diafragma dan push rod akan didorong dan
menyebabkan control rod/rack bergerak ke arah peningkatan penginjeksian bahan bakar
(yang disesuaikan dengan meningkatnya volume yang masuk di dalam silinder). Dengan
demikian penginjeksian bahan bakar akan meningkat sesuai dengan kebutuhan engine dan
akan meningkatkan tenaga engine.
108
Diesel Engine 2
Actuator
Housing
Control rod
Connector
Copper plate
Cover
Lubrication outlet
eyebolt
Di atas ditinjukkan struktur dari sebuah electronic governor. Copper plate yang terdapat di
dalam governor berfungsi sebagai sensor posisi dari control rod yang akan memberikan sinyal
balik ke control unit. Sensor ini untuk memastikan bahwa pergerakkan dari control rod sudah
sesuai dengan besarnya sinyal yang diberikan oleh control unit ke linear DC motor.
Linear DC motor dilengkapi dengan unit magnet yang berfungsi untuk mensuplai medang
magnet, pole unit, dan rangkaian lilitan (coil assembly) yang menghasilkan gerak naik/turun.
109
Diesel Engine 2
Prinsip kerja dari linear DC motor menggunakan prinsip dasar kaidah “tangan kanan
Fleming”. Ketika arus dialirkan ke lilitan (coil) dengan arah A, gaya magnet akan ditimbulkan
dengan arah C. ketika arus yang dialirkan ke lilitan (coil) dengan arah B, gaya magnet akan
ditimbulkan dengan arah D. Dengan alasan tersebut, maka arah dan besarnya pergerakkan dari
coil assembly dapat diatur dengan cara mengontor arah dan besarnya arus yang dialirkan ke
lilitan (coil).
Linear DC motor
110
Diesel Engine 2
Guna memenuhi kebutuhan tersebut, maka diperlukan sebuah komponen yang disebut dengan
fuel feed pump (pompa pensuplai bahan bakar). Fuel Feed Pump berfungsi mensuplai bahan
bakar dari tanki bahan bakar ke pompa injeksi bahan bakar dengan tekanan rendah berkisar 1.2 -
2.6 kg/cm2. Bersama dengan priming pump mensuplai bahan bakar ke sistem pada saat engine
hunting (engine hunting = sistem bahan bakar kemasukan udara).
Di dalam fuel feed pump terdapat saluran inlet, saluran outlet (delivery) dan delivery check
valve, piston, push rod yang digerakkan oleh sebuah camshaft pada fuel feed pump, dan sebuah
priming pump yang digunakan untuk memompa bahan bakar selama engine dalam keadaan tidak
dioperasikan.
111
Diesel Engine 2
Proses bekerjanya fuel feed pump ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Pada gamabar
ditunjukkan bahwa bekerjanya fuel feed pump terdiri dari tiga proses, yaitu:
- Proses pengiriman bahan bakar ke pompa injeksi.
- Proses pengambilan bahan bakar dari tanki bahan bakar dan pensuplaian bahan bakar ke
pompa injeksi.
- Proses idling
Pada gambar di atas, gambar sebelah kiri menunjukkan proses pengiriman bahan bakar ke
pompa injeksi oleh feed pump. Pada saat sedang berlangsung proses pengiriman bahan bakar
dari fuel feed pump ke pompa injeksi, pus rod akan tertekan ke bawah oleh dorongan camshaft.
Pergerakkan push rod ke bawah akan menekan piston ke bawah, sehingga bahan bakar yang
sebelumnya sudah terdapat di bagian bawah piston akan tertekan menuju pompa bahan bakar
dan bagian atas dari piston melalui check valve pada sisi delivery.
Pada gambar yang terletak di bagian tengah merupakan gambar proses pengambilan bahan
bakar dari tanki bahan bakar dan sekaligus pengiriman bahan bakar ke pompa injeksi. Pada
kondisi ini, push rod dan piston akan bergerak ke atas akibat dorongan oleh spring yang terdapat
di bagian bawah piston (pergerakkan push rod mengikuti bentuk cam pada camshaft).
Pergerakkan piston ke atas akan menyebabkan terjadinya kevakuman pada sisi bawah piston,
sehingga bahan bakar yang terdapat di tanki bahan bakar akan terhisap masuk melalui sisi inlet.
Selain itu, bahan bakar yang sebelumnya sudah terdapat pada sisi atas piston akan tertekan dan
masuk ke pompa bahan bakar tanpa melalui check valve.
Pada saat tekanan tinggi terjadi di pompa injeksi, bahan bakar akan menekan piston ke
bawah, sehingga push rod akan bebas bergerak tanpa mempengaruhi pergerakkan dari piston
(seperti ditunjukkan pada gambar sebelah kanan).
112
Die
esel Engine 2
2
Mec
chanical Au
utomatic Tim
mer
• Fungsi dan
d lokasi me
echanical auttomatic time
er
Bahan bakar
b akan te
erbakar pada
a saat pembakaran tunda (ignition la
ag) berakhir. Sudut crankk
(crank anglle) dari pem
mbakaran tunda akan semakin besar seiring
g dengan meningkatnya
m a
kecepatan putaran
p eng
gine. Peruba
ahan crank angle terseb
but akan m
mengakibatka
an terjadinya
a
keterlambata
an pembaka
aran (bahan bakar terba
akar pada saat
s piston ssudah turun ke bawah)).
Keterlambattan pembaka
aran pada se
ebuah engin
ne akan bera
akibat menu
urunnya perfforma engine
e
dan efisiensi termalnya terlalu
t renda
ah. Untuk me
engatasi hal tersebut, m
maka waktu penginjeksian
p n
bahan bakarr harus dimajjukan.
Di bawah ini digamb
barkan beberrapa contoh kurva
k pemba
akaran diesel engine.
113
3
Diesel Engine 2
Sebuah timer spring dipasang diantara flange leg (B) dan flyweight holder pin (A). kondisi
timer spring ditentukan sesuai dengan karakteristik dari sudut pengajuan waktu penginjeksian
bahan bakar advanced angle yang disebut dengan istilah advanced angle (penyetelan beban
dapat diatur dengan menggunakan shim) dan diikatkan diantara (B) dan (A).
Lengkungan (curvature) yang terdapat pada flyweight dibentuk sesuai dengan advanced
angle yang dibutuhkan oleh engine.
Advanced angle dari timer sudah ditentukan, jadi kekuatan spring, kekuatan penggerak dari
pompa injeksi, dan gaya sentrifugal dari flyweight sudan diseimbangkan.
114
Diesel Engine 2
Pada gambar di atas, flyweight akan mengembang ke luar dikarenakan oleh adanya gaya
sentrifugal. Gaya sentrifugal pada flyweight akan semakin besar manakala kecepatan putar
engine semakin tinggi.
Pada konstruksi mechanical automatic timer yang telah ditunjukkan pada gambar sebelumnya
diketeahui bahwa komponen flange legs (B) tidak dapat bergerak sebab komponen ini merupakan
satu kesatuan dengan driving flange. Pada saat putaran engine tinggi, flyweight mengembang
mengikuti bentuk lengkungan dari flange leg (B) dan melawan kekuatan dari spring timer.
Dikarenakan flange leg (B) tidak dapat bergerak, maka flweight holder pin (A) yang dihubungkan
dengan camshaft pompa bahan bakar akan bergerak ke sisi flange leg (B), yaitu searah dengan
putaran camshaft pompa bahan bakar. Dan pada saat yang bersamaa camshaft berputar.
Dengan kata lain, pada saat kecepatan putar engine meningkat, putaran camshaft akan
dimajukan dengan menggunakan gaya yang dihasilkan oleh penekanan spring.
115
Diesel Engine 2
Dari klasifikasi injection nozzle di atas, tipe hole dan tipe throttle merupakan tipe nozzle yang
paling luas digunakan pada diesel engine putaran tinggi.
Injection nozzle dengan tipe tertutup (closed type) mengirimkan bahan bakar antara delivery
valve (pada pompa injeksi bahan bakar) dan nozzle valve. Ketika tekanan bahan bakar mencapai
level tertentu, maka valve akan segera membuka dan injeksi bahan bakar dimulai. Valve akan
segera menutup kembali ketika proses penginjeksian bahan bakar telah selesai.
Injection nozzle terdiri dari sebuah nozzle body dan sebuah needle valve. Nozzle terbuat dari
material tertentu yang dirancang untuk tahan terhadap tekanan dan temperatur tinggi. Selain itu
juga dibuat dengan kepresisian yang cukup tinggi.
Antara injection nozzle dengan tipe lubang (hole type) dan tipe pin pada dasarnya memiliki
prinsip kerja yang sama, perbedaannya hanya terletak pada bentuk pengkabutan bahan bakar
yang nantinya dihasilkan.
116
Die
esel Engine 2
2
• Hole (Mu
ultiplehole) type
t nozzle
Injection
n nozzle tipe
e ini digunakan pada ru
uang bakar dengan tipe
e direct injecction. Needle
e
valve pada nozzle
n tipe in
ni mempunyyai bentuk
kerucut pad
da ujungnyya yang did
dudukkan
pada valve seat. Pada
a ujung valve body
berapa luban
terdapat beb ng yang dibu
uat secara
simetris. Dia
ameter luban
ngnya berkissar antara
0.2-0.4 mm..
Tekanan
n injeksi pa
ada nozzle tipe ini
berkisar ana m2. Untuk
atara 150 – 300 kg/cm
mencegah terjadinya
t k
keausan pada nozzle,
maka dianta
ara guide holle (pada nozzzle body)
dan permu
ukaan luar dari need
dle valve
diberikan celah sebesar 2-4.5 micron
ns).
• e nozzle
Pin type
Injection
n nozzle tip
pe ini digun
nakan
pada ruang bakar deng
gan tipe de
evided
(swirl cham
mber type, pre-combu
ustion
chamber type). Nozzle tipe ini me
emiliki
ubang nozzle
satu buah lu e, dan sebua
ah pin
(yang berd
diameter se
edikit lebih kecil
dibandingkan diameter lubang no
ozzle)
n ujung dari needle valvve. Pin
pada bagian
tersebut dim
masukkan ke
k dalam lu
ubang
nozzle.
Ketika needle
n valve bergerak ke
e atas,
bahan bakar akan diinjeksikan ke dalam
ruang baka
ar dengan semburan yang
berbentuk silinder, semburan ini
Pin & noz
zzle hole
terbentuk oleh adanya celah anatara pin
dan lubang (hole). Maccam-macam sudut
an dapat dia
dari sembura atur dengan cara
c menvariasikan bentu
uk dari pin.
• Nozzle holder
h
Nozzle holder
h berfun
ngsi untuk memegang
m no
ozzle dan me
enentukan p
posisi serta arah
a daripada
a
nozzle. Nozzzle holder in
ni merupakan tempat be
ertemunya antara
a bahan
n bakar dan nozzle dan
n
mengatur te
ekanan dimullainya pengin
njeksian (valve terbuka) pada nozzle..
117
7
Die
esel Engine 2
2
Nozzle ditekan
d oleh nozzle spring
g melalui push rod. Teka
anan awal pe
enginjeksian bahan bakar
diatur oleh besarnya ke
etegangan dari
d nozzle spring.
s Besa
arnya ketega
angan dari nozzle
n spring
g
dapat diaturr dengan menggunakan sekrup
s penye
etel (adjustin
ng screw) ata
au shim.
Nozz
zle holder (mu
ultiplehole type) Nozzle holde
er (pin type)
er Bahan Ba
Filte akar (Fuel Filter)
Bahan bakar yang digunakan pada diesel engine kadang mengandung
m g material-m
material asing
g
yang
g tidak diinginkan, seperrti debu, koto
oran, air dan
n lain-lain ya
ang dapat me
engganggu sistem
s bahan
n
baka
ar. Material--material asing tersebutt harus dihiilangkan terrlebih dahulu
u sebelum bahan
b bakar
terse
ebut mengalir ke dalam pompa
p injekssi bahan bak
kar.
Material-matterial asing seperti
s debu, pasir, air dan
d lain-lain dapat menyebabkan kerrusakan pada
a
kom
mponen-komp
ponen yang bergerak (sliding partss) pada pom
mpa injeksi bahan baka
ar dan pada
a
injecction nozzle.. Air yang te
erkandung di
d dalam bah
han bakar ju
uga dapat m
mengakibatka
an terjadinya
a
kara
at pada komp
ponen.
Filter bahan
n bakar terdiri atas case
e dan eleme
en penyaring
g (filter elem
ment). Eleme
en penyaring
g
yang
g umum digu
unakan berba
ahan kertas.
118
8
Diesel Engine 2
Ketika terjadi kebuntuan pada filter bahan bakar, maka tekanan bahan bakar di filter akan tinggi.
Hal ini akan menyebabkan overflow valve bekerja (bahan bakar mendorong ke atas ball valve) dan
sebagian dari bahan bakar dikembalikan ke tanki bahan bakar. Ketika udara bercampur dengan
bahan bakar, udara dibuang ke tanki bahan bakar melalui overflow valve.
Fuel filter
119
Diesel Engine 2
120
Diesel Engine 2
• Cetane number
“Cetane number” mengindikasikan kemampuan penyalaan dari bahan bakar, dimana hal ini
merupakan salah satu faktor penting yang berhubungan dengan diesel knock (diesel knock sudah
dijelaskan pada modul diesel engine 1).
Diesel knock dapat dikurangi dengan cara menggunakan bahan bakar yang memilki cetane
number tinggi. Dengan kata lain, cetane number mengindikasikan seberapa besar
kemampuannya bahan bakar untuk menanggulangi terjadinya diesel knock. Semakin besar
cetane number pada bahan bakar berarti semakin tinggi pula kemampuannya mengatasi
terjadinya diesel knock dan semakin mudah bahan bakar tersebut menyala.
Cetane number pada bahan bakar didapatkan dengan cara membandingkan antara bahan
bakar yang akan diuji dengan bahan bakar referensi. Bahan bakar referensi dibuat dengan
mencampurkan dua bahan, yaitu normal cetane (C16H34) yang memilki karakteristik sangat
mudah terbakar (cetane number = 100) dan alpha methyl naphthalene (C10H7CH3) yang memilki
karakteristik kemampuan penyalaannya rendah (cetane number = 0). Jika pada saat dilakukan uji
coba ternyata antara bahan bakar yang diuji dan bahan bakar referensi yang memilki campuran
45% normal cetane dan 55% alpha methyl naphthalene, mempunyai karakteristik yang sama,
maka dapat dikatakan bahwa bahan bakar uji coba tersebut memilki cetane number sebesar 45.
Pada umumnya cetane number yang digunakan tergantung dari kecepatan putar engine.
Berikut ini adalah nilai dari cetane number yang disesuaikan dengan kecepatan putar engine:
121
Diesel Engine 2
- Putaran tinggi (1500 rpm ke atas) menggunakan cetane number: 45 atau diatasnya.
- Putaran sedang (1000 rpm ke atas) menggunakan cetane number: 40 atau diatasnya.
- Putaran rendah (500 rpm ke atas) menggunakan cetane number : 30 atau diatasnya.
Bahan bakar dengan cetane number yang terlalu kecil akan berpengaruh terhadap daya guna
engine, yaitu:
- Akan menyebabkan engine susah untuk dihidupkan.
- Pembakarannya tidak dapat berlangsung dengan lancar dan engien akan bekerja dengan
kasar.
- Diesel knock akan mudah terjadi, timbul suara yang tidak normal pada engine.
- Selama terjadi knocking, akan terjadi penurunan tenaga. Selain itu komponen-komponen
engine akan mudah rusak akaibat overheating.
- Akan cepat merusak exhaust valve dan injection nozzle.
- Akan meningkatkan abrasi pada silinder dan ring piston.
- Akan menyebabkan terjadinya pembakaran tidak sempurna. Oli akan cepat kotor
(kandungan karbonya meningkat).
122
Diesel Engine 2
Tujuan Pelajaran 3
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 3, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
nama, fungsi, lokasi, struktur dan cara kerja komponen pada sistem pemasukan udara dan
pembuangan (intake & exhaust system) diesel engine.
Gambaran Umum Sistem Pemasukan Udara dan Pembuangan Gas (Outline of Intake &
Exhaust System)
Sistem saluran pemasukan udara dan pembuangan gas (intake & exhaust system) merupakan
salah satu sistem pada diesel engine yang bekerja untuk menyalurkan udara segar/bersih ke dalam
ruang bakar engine dan mengeluarkan gas hasil pembakaran ke udara bebas. Sistem ini memiliki
beberapa komponen utama, seperti: pre cleaner, air cleaner, intake & exhaust manifold, mufller.
Selain itu juga terdapat komponen-komponen penunjang, seperti: turbo charge, after cooler, dust
indicator, dan lain-lain. Berikut ini ditunjukkan gambaran umum dari sebuah sistem pemasukan udara
dan pembuangan gas:
Muffler
Pre-cleaner
Turbocharger
Air cleaner
Exhaust manifold
Aftercooler
Intake manifold
Pada saat piston bergerak ke bawah guna melakukan langkah hisap (intake stroke), udara masuk
kedalam ruang bakar dengan terlebih dahulu disaring oleh pre cleaner dan air cleaner. Untuk
menambah jumlah udara yang masuk ke ruang bakar, maka pada sistem pemasukan udara dan
pembuangan gas dilengkapi dengan turbocharger dan aftercooler. Turbocharger berfungsi untuk
123
Die
esel Engine 2
2
mem
mompa udarra, sedangka
an aftercoole
er berfungsi untuk men
ndinginkan u
udara agar kerapatannya
k a
berttambah.
adi pembaka
Setelah terja aran di dalam
m ruang baka
ar, maka aka
an timbul ga
as hasil pemb
bakaran. Gass
hasil pembakara
an tersebut dikeluarkan ke udara bebas
b melalui saluran p
pembuangan gas (intake
e
nifold) dan muffler.
man m
Air Cleaner
C
Air er
cleane berfung
gsi sebaga
ai alat
pem
mbersih udarra, sehingga
a debu, pasir dan
koto
oran yang berukuran sangat
s kecill dapat
dipissahkan terle
ebih dahulu sebelum ma
asuk ke
ruan
ng bakar. Ko
otoran, debu dan pasir ya
ang ada
di atmosfir
a merupakan sub
bstansi kera
as yang
akan
n menyebabkkan kerusaka
an pada silinder dan
pisto
on pada engine dimana debu
d keras tersebut
t
terhisap bersama-sama deng
gan udara.
Beberapa variasi
v tipe dari air cleaner
edia yang disesuaikan
terse d d
dengan kond
disi dan
fung
gsinya masing-masing. Te
erdapat berb
bagai macam
m tipe air clea
aner, diantarranya sebaga
ai berikut:Dryy
type
e, Viscous typ
pe, Oil bath type,
t Cyclone
e type, dan Combination
C type
• Air clean
ner tipe kerin
ng (Dry type air cleaner)
Untuk memperoleh
m a
area penyaringan yang besar,
b lembaran kertas (ffilter paper element)
e atau
u
kain (Unwoo
oven cloth ele
ement) digun
nakan sebag
gai elemen pa
ada air clean
ner tipe ini.
Elemen harus dilakkukan pembe
ersiahan dan
n penggantian pada intterval waktu
u yang telah
h
ditentukan.
124
4
Die
esel Engine 2
2
125
5
Die
esel Engine 2
2
engine, sepe
erti debu, pa
asir, dan pa
artikel-partike
el abrasif lainnya akan d
dibuang ke luar
l oleh pre
e
cleaner ini.
muffler, de
ebu-debu te
ersebut aka
an ikut
keluar bersa
ama gas buan
ng.
126
6
Die
esel Engine 2
2
Turbocharger
• Fungsi dan
d klasifikassi supercharg
ging
Supercharging meru
upakan meto
ode yang sa
angat efektiff guna meningkatkan te
enaga engine
e
wer per cylin
(output pow nder volume
e) pada diessel engine se
ebab kompo
onen ini berrfungsi untukk
menambah volume
v udarra yang masu
uk ke ruang bakar (menin
ngkatkan tekkanan udara masuk).
Sebuah penekan udara(air comp
pressor) yang digunakan
n untuk pena
ambahan sup
plai udara ke
e
ruang baka
ar (superch
harging) bia
asa disebutt dengan supercharge
er. Supercha
arger dapat
diklasifikasikkan sebagai berikut:
b
- Volu
ume type: Ro
oot’s type, piston type, va
ane pump tyype
- Spee
ed type: centrifugal type
Yang paling luas digunakkan adalah tiipe Root’s da
an tipe sentriifugal.
127
7
Die
esel Engine 2
2
• Strukturr turbocharge
er
S
Struktur bocharger terdiri dari beb
darii sebuah turb berapa komp
ponen utama, yaitu:
- Com
mpressor unitt (impeller), berfungsi untuk
u memasukkan dan menekan udara dari air
cleaner ke ruang
g bakar.
- Turb
bine unit (tu
urbine wheel), berfungsi untuk meru
ubah energi dari gas bu
uang menjad
di
enerrgi putar.
- Centter housing unit, berfun
ngsi untuk mendukung
m t
turbine shafft yang berp
putar dengan
n
kece
epatan tinggi (sekitar 100
0,000 rpm).
Struktur turbocharger
t
128
8
Diesel Engine 2
129
Diesel Engine 2
After Cooler
• Fungsi dan lokasi after cooler
Seperti yang sudah disingging di atas, bahwa after cooler berfungsi untuk mendinginkan
udara yang akan masuk ke dalam ruang bakar.
Kepadatan udara akan meningkat manakala temperaturnya rendah. Pada saat kepadatan
udara mengalami peningkatan, maka akan semakin banyak udara yang dapat dimasukkan ke
dalam ruang bakar pada engine, hal ini tentunya akan meningkatkan daya guna engine tersebut.
pendinginan udara guna meningkatkan kepadatannya dapat dilakukan dengan penambahan
komponen after cooler pada engine.
after cooler
Proses pendinginan udara dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu: udara didinginkan
dengan udara dan udara didinginkan dengan air.
130
Diesel Engine 2
Aftercoller akan mendinginkan udara sekitar 20o sampai 30oC, tanpa terjadi perubahan
tekanan. Efek dari pendinginan tersebut akan menurunkan temperatur udara dari 160oC menjadi
130oC (lihat diagram). Perhitungannya dapat dilihat pada keterangan di bawah ini.
160
1 160 0 1
273
1,586 0
130
2 130 0 1
273
1,476 0
2 1,476 0
0,931
1 1,586 0
131
Die
esel Engine 2
2
Pipa
a Saluran Masuk
M dan Pipa
P Salura
an Buang (IIntake & Ex
xhaust Manifold)
• Pipa salu
uran masuk (intake maniifold)
Pipa salluran masukk biasa terb
buat dari
bahan lightt alloy casti
ting. Secara struktur
pipa ini dirancang untu
uk mudah dipasang
d
(dengan me
enggunakan bolt) pada
a intake
port.
132
2
Diesel Engine 2
Exhaust Brake
Efek pengereman pada engine 4 langkah dapat ditingkatkan dengan cara menutup pipa saluran
buang (exhaust pipe). Prinsip kerja dan sekema dari sistem pengereman pada engine (engine brake
system) ditunjukkan pada gambar berikut ini.
Tekanan udara pada saluran buang
akan meningkat sebab sebuah butterfly
valve pada exhaust shutter menutup
saluran buang tersebut. Ketika tekanan
udara pada saluran buang meningkat
hingga mencapai sekitar 2 - 3 kg/cm2,
udara yang terdapat pada saluran
buang akan mendorong dan membuka
exhaust valve dan aliran balik dari gas
buang akan menuju ke silinder. Piston
harus mendorong aliran balik tersebut
keluar pada saat melakukan langkah
buang. Hal ini dinamakan dengan
exhaust brake.
Tekanan negatif (negative
pressure) atau udara bertekanan
digunakan untuk mengoperasikan
exhaust shutter. Ketika exhaust brake
switch diaktifkan dan pedal akselerator
dilepas sepenuhnya, sebuah selenoid
valve (disebut juga dengan magnetic
valve) akan akan bekerja (aktif).
Bekerjanya selenoid valve akan
membuka saluran udara bertekanan ke
power chamber, hal ini mengkaibatkan
menutupnya exhaust shutter.
Mekanisme seperti ini yang paling
umum digunakan pada exhaust brake
system.
Exhaust brake dapat dinon-aktifkan dengan cara mematikan exhaust brake switch. Tetapi pada
umumnya exhaust brake dapat dinon-aktifkan dengan cara yang cukup sederhana, yaitu dengan cara
menekan akselerator pedal.
133
Diesel Engine 2
Dust Indicator
Dust indicator berfungsi untuk mengetahui kondisi air
cleaner, apakah tersumbat/buntu atau tidak. Dust indicator ini
dipasangkan di antara air cleaner dan ruang bakar. Dust
indicator ini akan menunjukkan warna merah jika terjadi
kebuntuan pada air cleaner. Setelah air cleaner dibersihkan,
maka dust indicator tersebut dapat disetel ulang kembali. Dust indicator
Muffler
Gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran pada ruang bakar engine memilki temperatur
600-800oC dan tekanan yang tinggi sekitar 3-5 kg/cm2. Jika gas buang dengan tekanan yang tinggi
tersebut langsung dibuang ke udara luar, maka gas akan langsung mengembang dan menyebabkan
timbulnya ledakan. Muffler dipasang guna mencegah hal tersebut.
Muffler merupakan saluran untuk melepas gas buang hasil pembakaran ke lingkungan luar. Selain
itu, muffler berfungsi sebagai peredam suara, menghilangkan percikan api dan menurunkan
temperatur gas buang.
Muffler
134
Die
esel Engine 2
2
Tuju
uan Pelajarran 3
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 3, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
nam
ma, fungsi, lo
okasi, struktu
ur dan cara kerja
k kompo
onen pada sistem peluma
asan (lubrica
ation system)
diesel engine.
mbaran Um
Gam mum Sistem Pelumasan
n (Outline of
o Lubrication System))
Pelumasan pada
p engine
e berfungsi untuk
u melum
masi kompon
nen-kompone
en yang berrgesakan dan
n
men
ncegah berka
aratnya bagian–bagian engine
e yang
g bergerak translasi
t mau
upun rotasi. Tujuannnya
a
untu
uk memperta
ahan umur dan daya taha
an komponen sesuai den
ngan umur ekonomisnya.. Pada sistem
m
pelu
umasan didu
ukung oleh beberapa komponen
k utama
u diantaranya adallah oil pum
mp, oil filterr,
lubricating valve
e, oil cooler dan thermostat, dan laiin-lain. Berikkut ini adalah salah satu
u contoh darri
em pelumasa
siste an yang digunakan pada alat berat.
135
5
Die
esel Engine 2
2
mpa oli
Pom
Pompa oli yang
y paling banyak digu
unakan untuk
k sistem pellumasan eng
gine adalah tipe externa
al
gearr pump atau trochoid pum
mp. Tekanan
n oil pelumassan engine berkisar
b g/cm2 selama
antara 3 – 4.5 kg a
peng
goperasian engine
e dalam
m batas norm
mal. Debit oli yang disuplai ke sistem berkisar anttara 50 - 300
0
liter//menit.
Salah satu komponen
k utama dari se
ebuah extern
nal
gearr pump ad
dalah dua roda gigi yang saliing
berh
hubungan da
an tertutup rapat oleh rumah
r pomp
pa.
Pom
mpa ini beke
erja dengan cara mengg
gerakkan sallah
satu
u roda gigin
nya dengan arah sesua
ai anak pan
nah
pada
a gambar.
Jumlah aliran oli y
yang dapatt dipindahk
kan
tergantung dari besarnya rod
da gigi terse
ebut. Pompa oli
ini berfungsi
b un
ntuk memind
dahkan oli dari
d oil pan ke
siste
em.
136
6
Die
esel Engine 2
2
Pen
nyaring oli (Oil
( Filter)
Oli yang digunakan untu
uk pelumasan pada engin
ne secara be
ertahap akan
n menjadi ko
otor (terdapat
karb
bon, debu, ko
otoran) yang
g akan menyyebabkan terrjadinya abra
asi pada kom
mponen yang bergesekan
n.
Untu
uk menjaga hal tersebutt diatas, makka pada siste
em pelumasa
an engine dilengkapi dengan adanya
a
oil fiilter (penyariing oli) agar kotoran terssebut dapat disaring
d dan oli yang bersikulasi tetap
p bersih.
Pada sirkuitt pelumasan
n, dapat dikklasifikasikan
n ke dalam tiga tipe te
ergantung dari
d susunan
n
penyyaring oli yan
ng digunakan
n.
- Full flow type
- ass type
Bypa
- Com nd bypass (digunakan pada
mbination of full flow an p engine dengan uk
kuran sedang
g
hing
gga yang berrukuran besa
ar)
Pada full flo
ow type, pen
nyaring oli dipasang pada
a sirkuit oli. Seluruh oli a
akan melewa
ati penyaring
g
oli in
ni dan kemud
dian dialirkan
n ke kompon
nen-kompone
en yang berg
gesekan.
Pada bypasss type, oli dissaring dan dikembalikan lagi ke oil pa
an.
• Full flow
w type filter element
e
Jika diba
andingkan de f flow oil filter memilki kapasitas aliran oli yang
engan bypasss oil filter, full g
besar, tekan
nan yang hila
ang (pressure p besar, dan lebih cepat m
e loss) cukup mengalami kebuntuan.
k
Material yang diguna
akan sebagai elemen pen
nyaring untuk tipe ini bia
asanya terbua
at dari kertass
dengan kom
mbinasi pipa logam yang mempunyai
m are
a penyarin
ngan (filtering
g area = 30--50 micron).
137
7
Die
esel Engine 2
2
• Bypass type
t filter ele
ement
Sebuah bypass oil filter
f diranca
ang
untuk melepas material-
material/kottoran-kotoran
n ya
ang
berukuran relatif
r lebih kecil. Filter ini
kadang men
nggunakan kertas deng
gan
berat jenis yang tinggi untuk elem
men
nnya.
penyaringan Ada juga ya
ang
menggunaka
an bahan dari serpiha
an-
serpihan kayu, serrpihan-serpih
han
kertas, n
dan lain-lain yang dipak.
Beberapa juga filter ang
ya
an gaya cen
menggunaka ntrifugal unttuk
melepas kottoran-kotoran
n pada oli.
Berikut ini ditunju
ukkan gamb
bar
f
filter yang
g menggu
unakan ga
aya
s
sentrifugal untuk melepas kotorran
d
dalam oli.
138
8
Die
esel Engine 2
2
Oil Cooler
C
ada engine te
Ketika oli pa emperaturnyya mengalam
mi peningkata
an hingga m
melebihi batass atasnya, oiil
film akan menga
alami penipissan. Hal ini akan
a merusak komponen-komponen engine yang bergesekan
n.
uk mencegah
Untu h kejadian te
ersebut maka
a pada sebua
ah engine dilengkapi dengan adanya oil cooler.
Terdapat dua macam tipe dari
d oil cooler,, yaitu:
- Plate
e tube type (m
multiple plate type)
t
- Shell & tube type (multiple tube
e type)
gulator Valv
Reg ve & Oil Jett
Regulator va
alve & berfun
ngsi untuk mengatur
m bessarnya tekana
an pada siste an (sekitar 3-
em pelumasa
4.5 kg/cm2). Oil jet berfung
gsi untuk mendinginkan
m n bagaian ba
awah dari p ktur regulator
piston. Strukt
valvve dan oil jet ditunjukkan berikut ini.
139
9
Diesel Engine 2
Fungsi Keterangan
Lapiasan tipis oli yang terbentuk pada permukaan komponen (oil
Sebagai pelumas film) akan mencegah terjadinya abrasi dengan cara mengurangi
gesekan pada komponen yang saling bersingungan.
Oli pelumas pada engine akan menyerap panas yang dihasilkan
Sebagai pendingin dari gesekan dua benda yang saling bersinggungan dan dari proses
pembakaran.
Bersirkulasinya oli akan membersihkan komponen-komponen yang
Sebagai pembersih bergesekan dengan cara menyingkirkan material-material asing,
seperti serbuk logam dan karbon.
Oil film yang terbentuk diantara celah piston ring, piston dan
Sebagai penyekat silinder kan mencegah terjadinya kebocoran kompresi dan gas
buang.
Oil film yang terbentuk pada permukaan komponen yang
mendapatkan beban besar akan berfungsi untuk memperbesar
Sebagai penahan
area penyaluran beban, sehingga tekanan yang diterima komponen
tersebut akan berkurang.
Sebagai pencegah Oil film yang terbentuk pada permukaan komponen akan
kotoran mencegah terjadinya korosi dan oksidasi.
140
Diesel Engine 2
Berikut ini berbagai macam bahan tambah (additive) yang ditambahankan pada bahan dasar
pelumas untuk memperbaiki sifat pelumas.
141
Diesel Engine 2
142
Die
esel Engine 2
2
Tuju
uan Pelajarran 4
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 4, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
nam
ma, fungsi, struktur dan lokasi
l kompo
onen pada sistem pendinginan (Coolin
ng system).
mbaran Um
Gam mum Sistem Pendingina
an (Outline
e of Cooling
g System)
Pada saat aw
wal engine dihidupkan,
d t
temperatur air n akan rendah. Air pendin
a pendingin ngin tersebut
temperaturnya akan
a mening a komponen-
gkat setelah digunakan untuk melakkukan pendinginan pada
mponen engin
kom ne. Tempera
atur air pen
ndingin yang
g tinggi terse
ebut akan d
didinginkan kembali oleh
h
radia
ator. Pada siistem pendin
nginan engine
e, temperatu
ur air pending
gin dijaga an 0oC.
ntara 70 – 90
Pom
mpa Air (Wa
ater Pump))
Sebuah pom
mpa air deng
gan tekanan
n rendah dan kapasitas
besa
ar yang digu
unakan pada sistem pend
dinginan eng
gine. Pompa
air (Water
( pump
p) digunakan untuk menssirkulasikan air
a ke dalam
siste
em pendingin dan biasa
anya diletakkkan pada ba
agian depan
dari engine (berd
dekatan dengan radiatorr).
Pompa air yang diperrgunakan pada
p engine umumnya
mpergunakan
mem n jenis pomp
pa sentrifuga
al. Pompa ini digerakkan
oleh
h mekanisme
e sabuk ata
au roda gigi. Didalamny
ya terdapat
sebu
uah impeler untuk
u menga
alirkan air ke
e sistem pend
dingin.
143
3
Die
esel Engine 2
2
Rad
diator
Radiator berrfungsi sebagai pendingiin air pada engine,
e air radiator
r didin
nginkan dengan bantuan
n
udarra luar. Radiator core te
erdiri atas pipa
p (tubes) dan sirip-sirrip (fin). Dallam hal ini terdapat
t dua
a
maccam tipe dari susunan pip
pa dan sirip-ssirip, yaitu:
- e fin & tube type (sirip-siirip dengan bentuk
Plate b mend
datar)
- Corrrugated fin & tube type (sirip-sirip
( de
engan bentukk bergelomba
ang)
Pada endaraan-ken
ke ndaraan truck, biasanya
nggunkan kipas (fan) untuk pend
men dinginan airr pada
radia
ator, sebab jika hanya menggunkan hembusan
n udara
pada
a saat berja
alan saja tida
ak cukup, khusunya
k pad
da saat
berjalan lambatt. Kipas den
ngan 4 sam
mpai 6 sudu
u yang
terb
buat dari loga
am atau plastik paling um
mum digunak
kan.
Beberapa pe
ersen dari te
enaga engin
ne digunakan
n untuk
men
nggerakkan kipas
k tersebu
ut, bahkan bisa
b mencap
pai 10%
untu
uk kendaraa
an bus yang
g posisi eng
gine-nya berrada di
bela
akang (rear-e
engine bus). Untuk meng
gurangi terse
erapnya
tena
aga engine ke kipas, maka pada
a beberapa engine
mem
milki fan cluttch, dimana komponen ini berfungssi untuk
men
nghentikan putaran
p kipas pada sa
aat tempera
atur air
pend
dingin masih
h rendah.
Sebuah kipa
as pendingin
n biasanya dilengkapi dengan
selubung (shroud) untuk me
eningkatkan efisiensinya.
e
144
4
Die
esel Engine 2
2
Tek
kanan Pada Sistem Pen
ndingin
Sistem pendingin pada automotive
e engine biassanya bertekkanan yang diatur oleh radiator cap
p
(pre
essure regula
ating cap). Ha
al ini memilkki beberapa keuntungan,
k antara lain:
- Men
ningkatkan titik
t didih (boiling poin) air
pend
dingin (dia
atas 100oC)). Hal ini akan
men
nahan terja
adinya peng
guapan pad
da air
sehingga panas air dapat d
dipertahankan pada
entu (air tid
temperatur terte dak mudah dingin)
dan meningka
atkan efisie
ensi pendin
nginan.
Dengan kondisi tersebut, maka
m dapat dibuat
ator dengan
radia n konstruksi yang lebih ringkas
dan ringan.
- goperasian pada tempe
Peng eratur rendah dapat dihindari.
d Ha
al ini untuk mencegah
h
terja
adinya abrasi pada komp
ponen-kompo
onen engine.
- Dap
pat mencegah
h terjadinya kavitasi pada saluran pe
endinginan. A
Adanya negative pressure
e
akan
n menyebabkan terjadinyya gelembun
ng-gelembun
ng udara pad
da saluran masuk
m pompa
a
air, hal ini menyyebabkan terrjadinya kavittasi, kavitasi menyebabkkan terjadiny
ya kerusakan-
usakan pada
keru a komponen,, suara yang abnormal,, dan meng
gurangi jumlah aliran air
pend
dingin. Fenomena kavitasi dapat dice
egah dengan cara mening
gkatkan teka
anan air pada
a
siste
em pendingin
n.
Teka
anan yang te
erdapat di da
alam sistem pendingin
p be a 0.3 – 0.9 kkg/cm2 (gaug
erkisar antara ge pressure)..
145
5
Die
esel Engine 2
2
ermostat
The
• Fungsi thermostat
gsi mengaturr membuka dan menutup aliran air pendingin ke radiatorr,
Thermosstat berfung
sehingga tem
mperatur air pendingin te
erjaga pada suhu (70º C - 90ºC). Un
ntuk mencegah timbulnya
a
over heating
g dan mempe
ercepat terca
apainya temp
peratur kerja
a engine pada
a saat mulai operasi.
146
6
Diesel Engine 2
147
Diesel Engine 2
Corrosion Resistor
Corrosion resistor berfungsi untuk mencegah terjadinya endapan dan karat pada saluran
pendinginan engine yang dapat menyebabkan tersumbatnya saluran pendingin.
Corrosion resistor
Corrosion resistor
148
Die
esel Engine 2
2
P
Pada saat te
emperatur udara sekitarr sudah kem
mbali normal,, antifreeze sudah tidak
k dibutuhkan
n
lagi,, untuk itu sistem
s pendinginan pada engine ha
arus dilakuka
an pembersiihan (flashin
ng). Gunakan
n
caira
an pembersih
h khusus (de
etergent) dan
n ikuti instruksi dari pembuat pemberrsih tersebutt.
149
9
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 5 : Peralata
an Elektriik Engine (Engine Electricall Equipme
ent)
Tuju
uan Pelajarran 5
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 6, siswa ma
ampu menye
ebutkan dan menjelaskan
n
nam
ma, fungsi, lo
okasi, struktu
ur dan cara kerja kompo
onen peralattan elektrik engine (Eng
gine Electrica
al
Equiipment).
kuit Elektrik
Sirk k (Electric Circuits)
C
Berbeda de
engan gasoline engine,
pada
a diesel eng
gine tidak menggunakan
m n
kom
mponen untukk penyalaan.. Pada diese
el
engiine hanya butuh
b sekali start saja,
kem
mudian engine dapat berrputar secara
a
terus meneruss tanpa m
menggunakan
n
em elektrik elektrik
siste e lainn
nya. Dengan
n
alasan tersebutt, maka sistem elektrikk
a diesel en
pada ngine hanya
a digunakan
n
untu
uk mengoperrasikan sistem
m start saja.
Diesel engine membu
utuhkan torsi
(crank torque) yang cukup
p besar untu
uk
nghidupkan
men engine dibandingka
an
deng
gan gasolin
ne engine sebab diessel
engiine meiliki bantalan dan tekana
an
kom
mpresi yang le
ebih besar. Dengan
D alasa
an
itula
ah, maka sebagaian besar diessel
engiine menggunakan batttery denga
an
kapa
asitas 24 V.
Komponen-kkomponen ta
ambahan jug
ga
Starting motor Alternattor
dibu
utuhkan manakala diesel engin
ne
Posisi sttarting motor dan alternato
or pada
terse
ebut diopera
asikan pada daerah yan
ng engine
mem
milki temaperatur yang rendah. Engin
ne
juga
a harus mem
meliki pemb
bangkit (generator) untu
uk mensupla
ai daya (pow
wer) ke batttery. Hal in
ni
dikarenakan ba
aterry yang digunakan akan secarra terus menerus berkkurang daya
anya karena
a
unakan untukk menghidup
digu pkan engine dan mengop
perasikan ko
omponen-kom
mponen yang
g butuh daya
a
listriik (menyalakkan lampu, monitor
m panel, dan lain-lain).
150
0
Die
esel Engine 2
2
151
1
Diesel Engine 2
Pada tabel di bawah ditunjukkan mengenai klasifikasi dari starting motor berdasarkan
mekanisme enganged dan disengaged-nya. Pada saat ini tipe pinion shift paling banyak
digunakan untuk kendaraan-kendaraan dengan menggunakan diesel engine putaran tinggi (high
speed diesel engine).
152
Diesel Engine 2
153
Diesel Engine 2
Ketika kunci kontak (key switch) diposisikan ON, starter relay akan menutup (b) dan arus
listrik mengalir ke kumparan (coil) pada magnetic switch dan motor assembly (field coil,
armature) seperti yang ditunjukkan pada gambar (c).
Plunger akan tertarik masuk, dan membuat pinion akan keluar dengan adanya shift lever.
Pada saat ini, pinion akan menyatu (engaged) dengan ring gear pada flywheel sebab armature
sudah berputar dengan putaran yang sangat pelan. Main contactor (B,M) pada magnetic switch
menutup dan arus yang sangat besar akan mengalir dari battery ke motor (d). hal ini akan
menyebabkan armature berputar dengan kecepatan tinggi dan memutar ring gear, kemudian
menghidupkan engine. Pada saat itu, shunt coil akan menjaga main contactor tetap dalam kondisi
menutup dan plunger akan terus tertarik ke dalam.
Ketika kunci kontak (key switch diposisikan OFF, starter relay akan terbuka, akibatnya arus
yang menuju ke shunt coil akan diputus. Plunger akan tertarik ke luar, kembali ke posisinya
semula oleh adanya return spring. Pada kondisi seperti ini, pinion akan terputus hubungannya
(disengaged) dengan ring gear.
154
Die
esel Engine 2
2
• Overrunning clutch
Pada saat starting motor
m dioperrasikan, pinio
on akan men
nggerakkan//memutar rin
ng gear pada
a
mpai engine hidup. Ketikka engine su
flywheel sam udah hidup, maka ring g
gear secara tomatis
t akan
n
berbutar (ta
anpa bantua
an pinion). Kecepatan putar reang
g gear suatu
u ketika dapat melebih
hi
kecepatan pinion
p pada starting
s mottor (pada saat terjadi ovverrun), sehiingga kejadia
annya bukan
n
lagi pinion memutar rin
ng gear teta
api reang gear memuta
ar pinion. Jika hal itu terjadi
t dapat
an starting motor meng
menyebabka galami kerussakan, maka
a untuk men
ncegahnya pada
p starting
g
motor dileng
gkapi dengan
n adanya ove
errunning clu
utch.
Overrunning clutch tersedia
t dala
am berbagai macam tipe, diantaranya
a:
- er clutch
Rolle
Pada
a saat sta
arting moto
or
dioperassikan, clutch
h outer aka
an
berputarr searah jarrum jam da
an
memuta
ar pinion gear
g (melalui
roller). Sedangkan pada at
saa
terjadi overrun, pinion aka
an
berputarr lebih
h cepa
at
dibandin
ngkan den
ngan clutcch
outer. Hal
H ini akan menyebabka
an
roller menekan
m spring dan terb
bentuk jarak
k antara rolle
er dengan b
bagian dalam
m dari clutch
h
outer, se
ehingga pinion tidak dap
pat memutarr clutch oute
er (starting m
motor tidak dapat
d diputar
oleh ring
g gear).
- Multtiple disk (pla
ate) clutch
Pada
a tipe ini, to
orsi disalurka
an melalui ga
aya
dari cluttch yang terb
buat dari ma
aterial berbed
da.
Ketika terjadi
t kelebiihan torsi, kerusakan
k pa
ada
shaft da
apat dihindarri karena, pa
ada saat terjadi
kelebiha
an torsi dua buah clutch
h tersebut ak
kan
menagalami slip.
a saat pinion
Pada n (clutch outter) digerakk
kan
oleh en
ngine pada saat terjad
di overrunning.
Clutch in
nner akan bergerak
b den
ngan arah ya
ang
berlawanan (sesuai dengan
d arah
h spline). Hal ini
akan menyebabkan
m n hubungan antara ked
dua
buah pla
ate terputus,, sehingga pu
utaran dari engine
e tidak dapat
d diterusskan ke startting motor.
155
5
Die
esel Engine 2
2
- Dentil (ratchet)cclutch
a tipe ini torsi
Pada t disalurrkan dengan
n cara
menekan dua buah
h susunan gigi
g (gigi gerrgaji A
dan B).
Ketika terjadi overrunning
g, gigi A akan
bergerakk sesuai ana
ak panah akkibat terteka
an oleh
pembera
at yang bergerak kelua
ar karena adanya
a
gaya sen
ntrifugal.
Starrting Aids
• ug
Glow plu
Glow plu
ug berfungsi sebagai pem
manas awal
pada diesel engine yang mengguna
akan ruang
bakar tipe terpisah (divided c
combustion
chamber). Glow ug
plu berfung
gsi untuk
an temperattur pada rua
meningkatka ang bakar,
sehingga pa
ada saat temperatur ud
dara diluar
cukup renda
ah, engine da
apat dihidupkkan.
Glow plu
ug terdiri dari beberapa tipe, yaitu:
coil type, sheathed
s tyype, dan su
uper quick
heating type
e.
Sheathe
ed type mem
mbutuhkan le
ebih banyak
waktu unttuk meman
naskan rua
ang bakar
dibandingkan dengan co
oil type, nam
mun tipe ini
memilki ketahanan yang lebih baikk, sehingga
n. Super quiick heating
lebih banyak digunakan
ut dari ba
type terbau ahan keram
mik (silicon
nitride) dan
n kawat tun
ngsten yang
g biasanya
digunakan pada kendaraan--kendaraan
penumpang..
156
6
Die
esel Engine 2
2
• Electric air
a heater
Electric air er
heate pada umumnya
digunakan untuk melakukan manasan
pem
awal pada engine yang
g mengguna
akan tipe
ruang bakarr langsung (d
direct injectio
on type).
Komponen ini dipasang pada intake manifold
(diantara air
a cleaner dan ruang bakar).
Temperatur terendah untuk
u mengh
hidupkan
engine, jika menggunakkan electric air
a heater
ini berkisar --10oC
157
7
Die
esel Engine 2
2
• Prinsip dasar
d alterna
ator
Di dalam
m sirkuit pen
ngisian terda
apat
dua buah lilitan (coil), ya
aitu:
- Stattor coil yang
g dililitkan pa
ada
armature core (stator= tidak
putar) yang menghasilkan
berp
aruss AC.
- Field
d coil yang dililitkan pa
ada
rotary rotor.
Ketika arus dari batttery dialirkan
n ke
otor akan menjadi
field coil, ro m mag
gnet
dan terbenttuk kutub utara
u dan ku
utub
selatan di dalamnya.
d Ke
etika rotor yang
y
telah menja
adi magnet tersebut
t dipu
utar,
arus akan mengalir
m ke sttator coil (se
esuai
dengan kaid
dah tangan kanan Flemiing).
Karena terja
adi perubahan posisi ku
utub
utara dan selatan, maka arus yang
y
n juga akan
dibangkitkan n berubah-u
ubah
(arus AC).
nen-kompone
Kompon en elektrik yang
y
digunakan pada ken
ndaraan se
elalu
an sumber arus DC, untuk
menggunaka
itu arus yang
g dihasilkan oleh generattor pada sisttem pengisian harus aruss DC. Untuk merubah
m darri
arus AC ke DC pada altternator dilen
ngkapi deng
gan kompone
en penyearah arus berup
pa rangkaian
n
dioda.
Ketika dioda
d dimasu
ukkan ke dala
am rangkaia
an seperti yang ditunjukkkan dalam ga
ambar sirkuit
di samping,, maka aruss searah (D
DC) akan da
apat dialirka
an dan aruss bolak-balik
k (AC) akan
n
dihentikan. Dengan
D alasa
an tersebut, maka arus yang
y dialirkan
n ke battery adalah arus searah.
Rotor yang
y digamb
barkan di sa
amping hany
ya memilki dua buah kutub saja, tetapi pada
a
kenyataannyya sebuah altternator akan memilki 8 sampai deng
gan 16 kutub
b.
158
8
Diesel Engine 2
159
Diesel Engine 2
Ketika tegangan output rendah pada saat putaran engine rendah, maka kemganetan
pada lilitan (coil) (M) akan kecil, sehingga kontaktor 1 dan 2 masih terhubung dan arus akan
disuplai ke field coil.
Ketika output tegangan meningkat pada saat putarn engine tinggi, maka kemagnetan
yang dihasilkan pad lilitan (M) sudah mampu untuk memutus hubungan antara kontaktor 1
dan 2 (kontaktor 2 dan 3 masih terbuka). Dalam kondisi seperti ini, arus dialirkan ke field coil
melalui hambatan (R), sehingga arus yang ke field coil akan berkurang dan tegangan output-
nya akan turun.
Ketika output tegangannya meningkat cukup tinggi, maka lilitan (M) akan mampu
membangkitkan kemagnetan yang cukup besar, sehingga kontaktor 1 dan 2 akan terbuka
dan kontaktor 2 dan 3 akan tertutup. Dalam kondisi seperti ini arus dari alternator akan
langsung dialirkan ke ground (E), tanpa melalui field coil, sehingga output tegangannya akan
drop.
Kondisi seperti di atas akan terjadi berulang-ulang sesuai dengan kondisi tegangan
outputnya. Kontaktor akan membuka dan menutup sekitar 30-200 kali tiap menit.
- Semiconductor type regulator
Pada regulator tipe ini, pengaturan output tegangannya menggunakan switch dari
transistor.
Pada tipe sebelumnya (contact type regulator), untuk mendeteksi besarnya output
tegangan digunakan sebuah lectro magnet, sedangkan pada tipe ini untuk mendeteksi output
tegangan digunakan sebuah dioda zener. Dioda zener ini akan bekerja secara normal jika
160
Diesel Engine 2
diberi arus forward bias. Dioda zener juga dapat mengalirkan arus pada saat diberikan arus
forward bias, asalakan tegangannya telah memenuhi level tertentu (disebut tegangan zener)
dan akan memutus arus tersebut apabila tegangannya berda di bawah level.
Transistor yang digunakan pada regulator ini berjumlah dua buah. Prinsip kerja transistor
sudah Anda pelajari sebelumnya di materi Electrical System 1.
Pada gambar di samping ini ditunjukkan
sebuah rangkaian sederhana dari pengatur
tegangan tipe semiconductor. Ketika output
tegangan yang dihasilkan oleh alternator
rendah, maka kondisi ini akan menyebabkan
transistor T1 akan “ON” dan transistor T2
akan “OFF”. Ketika output tegangan dari
alternator meningkat hingga mencapai
tegangan zener, dioda zener akan mampu
mngalirkan arus listrik ke ground dan mengaktifkan transistor T2. Jika transistor T2 “ON”,
maka transistor T1 akan “OFF”. Jika transistor T1 “OFF”, maka arus dari alternator tidak
dapat mengalir.
- IC transistor type regulator
Pengatur tegangan tipe IC transistor dibuat berdasarkan pengembangan dari tipe
sebelumnya. Pengatur tegangan ini merupakan gabungan (hybryd) dari teknologi IC yang
ada dengan pengatur tegangan tipe transistor. Dengan kata lain, pengatur tegangan tipe IC
transistor merupakan pengembangan dari pengatur tegangan tipe transistor.
Pengatur tegangan ini meilki ukuran yang cukup kecil dibandingkan dengan tipe-tipe
sebelunya. Selai itu juga, komponen ini dapat langsung dijadikan satu komponen dengan
alternator (built into alternator).
Jika ketiga tipe pengatur tegangan tersebut dibandingkan, maka pengatur tegangan tipe
IC transistor akan lebih akurat ddalam mengatur tegangan yang dihasilkan oleh alternator,
lebih tahan lama, tahan panas, dan konstruksi kabelnya cukup sederhana.
161
Diesel Engine 2
Ringkasan
Sebuah diesel engine tidak akan dapat dioperasikan tanpa adanya komponen-komponen
tambahan atau komponen-komponen pembantu (auxilary equipment) yang dibutuhkan, meskipun
komponen utamanya sudah terpasang secara lengkap dan sempurna. Komponen-komponen
pembantu pada diesel engine meliputi komponen-komponen pada:
- Sistem pemasukan udara & pembuangan gas buang (Intake & exhaust system)
- Sistem bahan bakar (Fuel system)
- Sistem elektrik (Electric system)
- Sistem pelumasan (Lubricating system)
- Sistem pendinginan (Cooling system)
- Perlengkapan untuk sumber tenaga penggerak luar (Power output equipment)
- Perlengkapan untuk sumber tenaga tambahan (Power assistor)
Dalam sistem bahan bakar terdapat komponen-komponen penting, diantaranya: tanki bahan
bakar, filter, feed pump, pompa injeksi, governor, dan injection nozzle. Komponen-komponen
tersebut memegang peranan yang sangat penting untuk dihasilkannya suatu pembakaran yang
sempurna pada engine, dimana pembakaran yang sempurna akan berpengaruh besar pada daya
guna sebuah engine.
sistem bahan bakar erat kaitannya dengan sistem pemasukan dan pembuangan udara. sejumlah
bahan bakar yang diinjeksikan dengan sempurna (tekanan tinggi, pengkabutan yang baik, jumlah
yang tepat, dan lain-lain) akan sia-sia jika tidak didukung dengan pensuplaian jumlah udara yang
memenuhi syarat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan udara tersebut
adalah dengan penggunaan turbocahrge. Komponen ini berfungsi untuk memompa udara ke dalam
ruang bakar guna meningkatkan efisiensi volume engine.
Sistem pelumasan dibutuhkan oleh sebuah engine untuk menjaga daya guna engine. Komponen-
komponen yang bergerak dan saling bergesakan harus terus menerus diberikan pelumasan agar tidak
terjadi abrasi yang dapat menurunkan daya guna engine. Oli pelumas yang digunakan pada engine
harus memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai dengan kondisi penggunaan, kondisi engine, dan
lingkungan dimana engine tersebut dioperasikan. Untuk iklim Indonesia yang tropis, tingkat
kekentalan yang dianjurkan menurut standar SAE adalan tingkat kekentalan no.30. Oli pelumas pada
engine harus secara berkala dilakukan penggantian. Penggantian ini disebabkan karena terjadinya
penurunan kualitas oli tersebut.
Sistem pendinginan pada engine diperlukan untuk menjaga agar efisiensi panas yang dihasilkan
tetap tinggi. Temperatur kerja engine berkisar antara 70o-90o C. pada daerah yang bertemperatur
rendah diperlukan zat anti beku (anti freeze) guna meningkatkan titik beku cairan pendingin yang
digunakan.
Komponen- komponen utam pada sistem elektrik pada diesel engine digunakan untuk starting
awal engine dan melakukan pengisian pada battery.
162
Diesel Engine 2
Soal Latihan
h
a
g c
e d
f
a. ____________________________ e. ____________________________
b. ____________________________ f. ____________________________
c. ____________________________ g. ____________________________
d. ____________________________ h. ____________________________
a b c d
a. ____________________________ c. ____________________________
b. ____________________________ d. ____________________________
163
Diesel Engine 2
b
a
h i m
e f k
g
c j l
d
a. ____________________________ h. ____________________________
b. ____________________________ i. ____________________________
c. ____________________________ j. ____________________________
d. ____________________________ k. ____________________________
e. ____________________________ l. ____________________________
f. ____________________________ m. ____________________________
g. ____________________________
164
Diesel Engine 2
l
k
a
i
b
h
c
e
f
d
a. ________________________ g. ________________________
b. ________________________ h. ________________________
c. ________________________ i. ________________________
d. ________________________ j. ________________________
e. ________________________ k. ________________________
f. ________________________ l. ________________________
8. Jelaskan fungsi control rack/control rod yang terdapat di dalam sebuah governor!
______________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________
9. Sebutkan dan jelaskan fungsi komponen utama pada turbocharge!
a. ________________________________________________________________________
b. ________________________________________________________________________
c. ________________________________________________________________________
165
Die
esel Engine 2
2
__________
___________
___________
___________
___________
___________
___________
__________
_
__________
___________
___________
___________
___________
___________
___________
__________
_
__________
___________
___________
___________
___________
___________
___________
__________
_
__________
___________
___________
___________
___________
___________
___________
________
166
6
Die
esel Engine 2
2
167
7
BAB IV
PENGETESAN & PENYETELAN
(TESTING & ADJUSTING)
Tujuan Bab 4 :
Setelah menyelesaikan pembelajaran pada BAB 4, siswa mampu menjelaskan dan
melakukan prosedur pengetesan dan penyetelan yang diperlukan pada sebuah
diesel engine.
Referensi :
Buku :
• Shop Manual Komatsu Diesel Engine SA12V140-1
• Shop Manual Koamtsu Diesel Engine SAA6D125
• Shop Manual Komatsu Bulldozer D85ESS-2A
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 1 : Penyete
elan Celah
h Valve (V
Valve Clea
arance)
Tuju
uan Pelajarran 1
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 1, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur penyettelan celah valve pada engine 6 sillinder (in-line engine) d
dan engine 8 silinder (V
V-
engiine).
sedur Peny
Pros yetelan Cela
ah Valve Un
ntuk Engine
e 6 Silinderr (In-Line Engine)
Berikut ini dijelasskan mengen
nai prosedurr penyetelan celah valve untuk engine
e dengan 6 silinder.
s
• Buka pe
enutup cylinder head
• Putar crrankshaft pa
ada arah norrmal (searah
h jarum jam jika dilihat dari depan engine) dan
n
posisikan silinder No
o. 1 ke posisi
si kompresi
(piston pada posiisi Titik Mati
Ma Atas).
Sementa
ara itu ama
ati pergerakkan valve
pada silinder No. 6. Luruskan pointer
p (3)
P 1.6 pada vibration
dengan tanda TOP
damper (2).
der No. 1
Pada saat piston silind
mendekati posisi
p Titik Mati Atas
(pada saat langkah kompresi), valve
e pada silinde
er No. 6 akan bersiap un
ntuk bergerakk
(membuka)..
• elah valve untuk valve-vvalve yang
Setel ce
diberi ta
anda h pa
ada susunan
n valve di
samping
g.
• Putar crankshaft pada arah
h normal
ak satu pu
sebanya utaran, dan luruskan
kembali tanda TOP 1.6 pada vib
bration damp
per (2). Kem
mudian setel celah valve untuk valve-
ang diberi tan
valve ya nda O.
• Untuk menyetel
m ce
elah valve, kendorkan
lock nut (8) dan adjusment screw (7),
an
masukka feeler gauge (H)) (dengan
ukuran n
ketebalan sesuai dengan
asi) diantara
spesifika a crosshead
d (6) dan
rocker arm
a (5). Kem
mudian setel celah
c valve
dengan cara memu
utar adjusm
ment screw
sampai mencapai
m ce
elah yang diin
nginkan (feeller gauge da
apat digerakkkan dengan ringan).
r
169
9
Die
esel Engine 2
2
• Setelah diperoleh ce
elah valve ya
ang sesuai
dengan standar, ken
ncangkan ke
embali lock
nut unttuk mengun
nci adjusme
ent screw.
Pengenccangan lockk nut sesua
ai dengan
torsi ya
ang tercanttum di dalam shop
manual.
e di atas
Penyetelan celah valve
n
diaplikasikan pada e
engine 6
silinder deng
gan urutan pembakaran
p (combustion squence/firiing order) 1--5-3-6-2-4.
Besarnya ce
elah valve dissesuaikan dengan spesifikkasi masing-masing engine.
sedur Peny
Pros yetelan Cela
ah Valve Un
ntuk Engine
e 12 Silinde
er (V-Engine)
• Buka pe
enutup rockerr arm housin
ng.
• Putar crankshaft
c d
dengan arah
h putaran
normal (searah
( jarum jam jika dilihat
d dari
depan engine), sambil diamati
pergerakkkan dari intake valve pada
silinder R6.
R
• Posisikan silinder R1 ke p
posisi top
kompressi (piston be
erada pada posisi
p Titik
Mati Ata
as) dengan cara
c melurusskan tanda
R1.6 TO
OP pada vibarration dampe
er (1) dengan pointer (2)).
• Lakukan
n penyetelan
n celah valvve (intake
valve & exhaust va
alve) pada silinder
s R1
dengan cara menge
endorkan locck nut (6)
djusment sccrew (5), masukkan
dan ad
feeler gauge (A
A) (dengan ukuran
an
ketebala sesuai dengan s
spesifikasi)
diantara
a crosshead (4) dan ro
ocker arm
(3). Kem
mudian sete
el celah valvve dengan
cara me
emutar adju
usment screw
w sampai
mencapa
ai celah yang
g diinginkan (feeler gaug
ge dapat dige
erakkan deng
gan ringan).
170
0
Diesel Engine 2
171
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 2 : Pemerik
ksaan dan
n Penyete
elan Wakttu Pengin
njeksian Bahan
B
Bakar
Tuju
uan Pelajarran 2
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 2, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur pemerriksaan dan penyetelan waktu pen
nginjeksian bahan
b bakar dengan menggunakan
m n
meto
ode “MATCH
H MARK ALIG
GMENT” dan “DELIVERY
“ VALVE”.
V
Terdapat du
ua macam metode
m meriksaan dan penyetelan waktu penginjeksian bahan bakar
pem
g dapat digunakan, yaitu
yang u:
- NT”, dan
Metode ”MATCH MARK ALIGMEN
- Metode ”DELIVERY VALVE”.
V
atch mark aliigment” digu
Metode ”ma unakan pada a injeksi dipasang pada engine yang
a saat pompa g
belu
um pernah dilakukan pembongkara
p an (overhau
ul) dan pom
mpa injeksi tersebut be
elum pernah
h
dilakkukan perbaiikan sebelum
mnya.
Metode ”delivery valve”” digunakan pada saat melakukan pemasangan
n pompa injeksi, dimana
a
pom
mpa injeksi te
ersebut telah dilakukan perbaikan seb
belumnya.
Pem
meriksaan dan
d Penyettelan Wakttu Penginje
eksian Bahan Bakar d
dengan Me
enggunakan
n
Mettode ”Match
h Mark Alig
gment”
• Posisikan piston silinder
s No.1
1 pada
posisi TOP
T (luruska
an tanda 1.6 TOP
pada vibration dam
mper) denga
an cara
yang s
sama pada saat melakukan
penyetelan celah vallve.
• Putar crankshaft
c s
sejauh 30o – 40o
dengan arah yang be
erlawanan.
• n
Luruskan tanda garis ”waktu
penginje
eksian” yan
ng terdapatt pada
cranksha
aft damper (1) dengan pointer
(2) deng mutar cranksshaft secara perlahan-lah
gan cara mem han pada ara
ah putaran no
ormal.
172
2
Diesel Engine 2
173
Diesel Engine 2
Jika tanda garis ”waktu penginjeksian” sudah melampaui pointer, maka waktu
penginjeksian engine tersebut terlambat.
Jika tanda garis ”waktu penginjeksian” belum mencapai pointer, maka waktu
penginjeksian engine tersebut terla lu awal.
Jika hasil pemeriksaan ternyata waktu penginjeksian bahan bakarnya diluar standar,
maka dapat dilakukan perbaikan
sebagai berikut:
- Putar crankshaft sejauh 30o
– 40o dengan arah yang
berlawanan, dimualai dari
posisi TOP silinder No.1.
- Luruskan tanda garis ”waktu
penginjeksian” yang
terdapat pada crankshaft
damper (1) dengan pointer
(2) dengan cara memutar
crankshaft secara perlahan-
lahan pada arah putaran
normal.
- Kendorkan nut (3), pada
falge pompa injeksi. Putar
flange sedikit demi sedikit
sambil mengoperasikan
priming pump sampai tidak ada bahan bakar yang keluar dari delivery valve
holder.
- Kencangkan kembali nut (3) pada flange pompa injeksi.
- Luruskan kembali garis (b) dan (a) dengan cara membuat garis baru.
Pastikan memasang kembali spring dan delivery valve setelah selesai melakukan
penyetelan.
Copper gasket dan O-ring harus diganti dengan yang baru.
174
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 3 : Penguk
kuran Teka
anan Oli Pelumasa
P an Pada E
Engine
Tuju
uan Pelajarran 3
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 3, siswa ma
ampu menjelaskan dan melaksanakan
m n
prossedur pengukkuran tekana
an oli peluma
asan pada diesel engine.
ngukuran Te
Pen ekanan Oli Pelumasan
n Engine
Peng
gukuran teka
anan oli pelu at dilakukan dengan men
umasan pada engine dapa ngikuti prose
edur sebagai
berikkut.
• Hidupka
an engine, kemudian
k ukkur tekanan
oli pelum
masan engin
ne pada kond
disi putaran
rendah tanpa beb
ban (low idling) dan
putaran tinggi tanpa
a beban (high
h idling).
175
5
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 4 : Penguk
kuran Teka
anan Kom
mpresi
Tuju
uan Pelajarran 4
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pad
da pelajaran 4, siswa ma
ampu menjelaskan dan melaksanakan
m n
prossedur pengukkuran tekana
an kompresi pada diesel engine.
e
ngukuran Te
Pen ekanan Kom
mpresi
Pengukuran tekanan kom
mpresi dilaku
ukan pada sa
aat kondisi engine
e dalam anas (40o-60o
m keadaan pa
C). Prosedur pengukuran
nnya dapat dilakukan
agai berikut.
seba
• n penyetelan
Lakukan n celah vallve terlebih
dahulu.
• Lepas spill tube (1)) dan lepas sambungan
el injection pipe
pada fue p (2).
• Lepas nozzle
n holderr assembly (3) untuk
masing-masing silind
der.
Lepas nozzzle holder assembly
dengan cara
a melepas dua
d buah
bolt pengika
atnya.
Hati-hati jan
ngan sampa
ai kotoran
masuk ke da
alam silinder.
176
6
Die
esel Engine 2
2
177
7
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 5 : Penguk
kuran Kece
epatan Pu
utar Engine
Tuju
uan Pelajarran 5
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 5, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur pengukkuran kecepa
atan putaran
n engine deng
gan menggu
unakan tacho
ometer.
ngukuran Ke
Pen ecepatan Engine
E
Pengukuran kecepatan putar
p engine dilakukan da
alam kondisi sebagai berrikut:
• Buka pe
enutup (1) pada speed
d pick up
port ke
emudian pa
asang adaptter pada
tachome
eter A.
• Hubungkan adapterr dengan ta
achometer
A denga
an mengguna
akan kabel.
• Ukur ke
ecepatan puttar engine dalam dua
kondisi, yatiu pada
a kecepatan
n rendah
tanpa beban (low id
dling) dan kecepatan
k
tinggi ta
anpa beban (high
( idling).
Hindari kabe
el terkena ko
omponen-
komponen yang pan
nas dan
bergerak.
178
8
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 6 : Penguk
kuran Teka
anan Blow
w-By
Tuju
uan Pelajarran 6
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 6, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur pengukkuran tekana
an blow-by.
ngukuran Te
Pen ekanan Blo
ow-By
Pengukuran tekanan blow-by dapat dilakukan
d de
engan prosed
dur sebagai b
berikut.
• Pasang peralatan E1, E4 ke blo
ow-by hose
[1] dan hubungkan peralatan
p E3
3 dan E2.
• an
Hidupka engine sampai mencapai
tempera
atur kerja.
• Posisikan kecepattan transm
misi pad
an tertinggi.
kecepata
• Release parking brakke lever.
• Injak pe
edal brake de
engan kuat.
• Naikkan kecepatan putar engiine sampai
torque converternya
c mengalami stall.
• Ukur te
ekanan blow
w-by pada sa
aat kondisi
torque converter
c sta
all.
Kondisi stall pada torque
e converter
tidak boleh lebih
l dari 20 detik
Jika tidak diimungkinkan
n mengukur
tekanan blow-by pad
da kondisi
torque convverter stall, maka
m dapat
dilakukan pada saa
at kondisi
kecepatan tinggi tanpa beban
(high idling)), namun dalam kondisi
seperti ini hasil yang diperoleh
besarnya 80% da
ari hasil
pengukuran pada kond
disi torque
all.
converter sta
179
9
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 7 : Penguk
kuran Warrna Gas Buang
B
Tuju
uan Pelajarran 7
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 7, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur pengukkuran warna gas buang pada
p diesel engine.
e
ngukuran Warna
Pen W Gas Buang
B
Peng
gukuran warrna gas buan
ng pada engine dapat dila
akukan dengan mengikutti prosedur berikut.
b
180
0
Die
esel Engine 2
2
Pellajaran 8 : Penguk
kuran Teka
anan Inje
ection Nozzle
Tuju
uan Pelajarran 8
Setelah men
ngikuti pemb
belajaran pa
ada pelajaran
n 8, siswa mampu
m men
njelaskan dan melakukan
n
prossedur pengukkuran tekana
an injection nozzle.
n
ngukuran Te
Pen ekanan Blo
ow-By
Peng
gukuran teka
anan injectio
on nozzle dila
akukan denga
an menggun
nakan speciall tool, yang disebut
d
deng
gan Fuel leakk checker.
181
1
Diesel Engine 2
Ringkasan
Guna mengetahui daya guna sebuah engine, maka akan terdapat serangkaian pemeriksaan dan
penyetelan (testing & adjusting) yang harus dilakukan, diantaranya:
Pemeriksaan dan penyetelan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan peralatan khusus
(special tools) dan dengan mengikuti prosedur yang telah ditentukan agar hasilnya akurat dan dapat
dijadikan acuan untuk mengukur daya guna sebuah engine.
Nilai-nilai standar dari hasil pemeriksaan dan penyetelan tergantung dari masing-masing engine.
Dengan alasan itu, maka dalam melakukan suatu pemeriksaan dan penyetelan suatu engine kita
harus menggunakan pedoman pada manual engine tersebut.
182
Diesel Engine 2
Soal Latihan
a. ___________________
b. ___________________
183
Fuel injection pump bertanggung jawab untuk menyuplai bahan bakar ke ruang bakar pada tekanan tinggi, membentuk kabut halus untuk efisiensi pembakaran optimal. Pump ini dikendalikan oleh timer dan governor yang mengatur jumlah dan waktu injeksi bahan bakar berdasarkan putaran mesin. Efisiensi dan performa mesin dipengaruhi oleh kemampuan fuel injection pump dalam mengontrol presisi injeksi bahan bakar, yang jika tidak optimal bisa menyebabkan pembakaran yang tidak sempurna dan berkurangnya efisiensi mesin .
Penyaringan bahan bakar penting untuk mencegah masuknya partikel kotoran yang dapat merusak atau mengganggu sistem injeksi bahan bakar. Fuel filter yang mengalami kebuntuan dapat mengakibatkan ketidakstabilan aliran bahan bakar ke engine, menyebabkan engine kehilangan daya dan efisiensi. Saat kebuntuan terjadi, overflow valve bekerja untuk mengalirkan kembali sebagian bahan bakar ke tangki untuk mengurangi tekanan berlebih .
Valve injector pada sistem bahan bakar mesin diesel berfungsi untuk mengontrol penginjeksian bahan bakar ke dalam ruang bakar dengan tekanan tinggi. Fungsi valve ini untuk mencegah aliran balik bahan bakar dan meminimalkan tekanan sisa agar tidak mengakibatkan dribbling atau penginjeksian sekunder. Valve ini membantu memastikan timing injeksi yang tepat dan mencegah pembakaran yang tidak optimal .
Scuffing pada piston ring terjadi ketika oil film di permukaan dinding silinder rusak akibat menurunnya kualitas pelumas, menyebabkan kontak langsung yang menghasilkan goresan. Pencegahan dapat dilakukan dengan memastikan penggunaan pelumas yang tepat sesuai spesifikasi dan menjaga kualitasnya dengan penggantian yang rutin. Selain itu, memastikan sistem pendinginan engine bekerja dengan benar juga penting untuk menjaga suhu operasional yang optimal dan melindungi integritas oil film .
Offset piston digunakan untuk mengurangi tekanan lateral yang dihasilkan oleh gaya piston pada dinding silinder selama pembakaran, yang mengurangi keausan pada sisi silinder. Dengan mengurangi gesekan tersebut, offset membantu dalam meningkatkan efisiensi mekanis mesin dan mengurangi kebisingan saat mesin beroperasi .
Turbocharger dan supercharger keduanya berfungsi meningkatkan tenaga engine dengan menambah volume udara yang masuk ke ruang bakar. Keuntungan utama turbocharger adalah efisiensinya yang lebih tinggi karena memanfaatkan energi dari gas buang, sementara supercharger memberikan respon cepat karena digerakkan secara mekanis oleh engine. Kerugiannya, turbocharger dapat mengalami turbo lag, yaitu jeda sebelum turbo mulai beroperasi efektif setelah throttle dibuka, sedangkan supercharger menggunakan lebih banyak tenaga engine yang dapat mengurangi efisiensi bahan bakar .
Korosi dalam sistem pendinginan mesin diesel dapat dicegah dengan beberapa metode, di antaranya adalah memastikan operasi engine di bawah beban maksimal, menjaga sistem pendinginan agar selalu berfungsi dengan baik, dan menggunakan oli pelumas dengan kandungan sulfur rendah karena sulfur dapat menyebabkan pembentukan korosi melalui reaksi kimia .
Piston mesin diesel harus terbuat dari bahan yang memiliki koefisien muai rendah, konduktor panas yang tinggi, tahan abrasi, dan mudah dicor. Biasanya digunakan aloi aluminium yang mengandung silikon, nikel, dan tembaga untuk memenuhi kriteria ini karena dapat menyerap panas lebih baik daripada besi cor. Selain itu, material harus ringan untuk mengurangi gaya inersia dan daya tahan terhadap suhu tinggi harus optimal agar piston tidak cepat aus atau mengalami kerusakan saat operasi .
Compression ring berfungsi untuk menahan tekanan gas kompresi agar tidak bocor keluar dari silinder, sedangkan oil ring berfungsi untuk menjaga ketebalan film oli pada dinding silinder. Compression ring mendukung kinerja mesin dengan menjaga efisiensi pembakaran, sementara oil ring mencegah konsumsi oli yang berlebihan dan melindungi komponen dari keausan oleh gesekan langsung .
Cetane number mengukur kemampuan bahan bakar diesel untuk dipicu penyalaannya, dimana angka cetane yang tinggi berarti bahan bakar tersebut menyala lebih cepat dan lebih efisien. Penting untuk bahan bakar memiliki cetane number yang tepat agar penyalaan terjadi pada waktu yang optimal, meningkatkan efisiensi pembakaran dan meminimalisir emisi. Bahan bakar dengan cetane number yang terlalu rendah bisa menyebabkan getaran yang berlebihan dan kebisingan serta menurunkan performa mesin .