0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
304 tayangan32 halaman

Uji Ketoksikan Akut pada Hewan Uji

Laporan ini menyajikan ringkasan hasil uji ketoksikan akut yang bertujuan untuk menentukan potensi ketoksikan dan gejala toksik dari suatu zat setelah pemberian tunggal dalam 24 jam. Uji ini menggunakan beberapa dosis obat pada hewan coba untuk mengukur nilai LD50, atau dosis letal median yang dapat membunuh 50% hewan coba. Hasilnya digunakan untuk mengklasifikasi bahaya zat berdasarkan toksisitasny

Diunggah oleh

Fera Ridri Eryani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
304 tayangan32 halaman

Uji Ketoksikan Akut pada Hewan Uji

Laporan ini menyajikan ringkasan hasil uji ketoksikan akut yang bertujuan untuk menentukan potensi ketoksikan dan gejala toksik dari suatu zat setelah pemberian tunggal dalam 24 jam. Uji ini menggunakan beberapa dosis obat pada hewan coba untuk mengukur nilai LD50, atau dosis letal median yang dapat membunuh 50% hewan coba. Hasilnya digunakan untuk mengklasifikasi bahaya zat berdasarkan toksisitasny

Diunggah oleh

Fera Ridri Eryani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN RESMI

PRATIKUM FARMAKOLOGI-TOKSIKOLOGI
PERCOBAAN VII
UJI KETOKSIKAN AKUT

Disusun Oleh:

1. Tin Rondiyah (1041721026)


2. Risca Widyasari (1041611128)
3. Taju Tsalis Setianing D. (1041611137)
4. Tilawati Ainul Hidayah (1041611140)
5. Prima Ramadhanis (1041611120)

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


“YAYASAN PHARMASI” SEMARANG

2018/2019
PERCOBAAN VII

KETOKSIKAN AKUT

1. TUJUAN

- Tujuan utama adalah untuk menetapkan potensi ketoksikan akut, yakni


kisaran dosis letal, atau dosis toksik obat terkait pada 1 (satu) jenis hewan
uji atau lebih.

- Selain itu juga untuk menilai berbagai gejala toksik yang timbul, adanya
efek toksik yang khas, dan mekanisme yang memerantarai kematian.

2. DASAR TEORI

Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap


tubuh dan sebenarnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena
efek terapeutis obat berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya
setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan
merusak organisme (“Sola dosis facit venenum”: hanya dosis membuat racun,
Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung
dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek toksis dapat dikurangi pula.

(Tjay & Rahardja, 2002)

Uji kemanjuran (efficacy) dilakukan untuk mendapatkan data kemanjuran


dan kisaran dosis efektif tengah  (ED50) suatu sediaan obat, senyawa kimia
maupun obat tradisional. Sedangkan untuk menilai keamanannya dilakukan
dengan mengevaluasi data ketoksikan akut (LD50) subkronik, dan
keteratogenikan suatu obat atau obat tradisional dan untuk mendapatkan data
prakiraan batas aman (LD50 ED50). Sementara itu uji toksisitas diperlukan untuk
menilai keamanan suatu obat, maupun bahan yang dipakai sebagai siplemen
ataupun makanan. Berdasarkan lama paparan dan dosis, diketahui ada 3
tingkatan uji ketoksikan yaitu akut, sub kronik, dan kronik. Toksisitas Akut
digunakan untuk menilai ketoksikan suatu bahan dengan pemberian suatu bahan
sampel dosis tunggal dalam waktu akut (singkat), biasanya 24 jam. Toksisitas
sub kronik dilakukan dengan pemberian suatu bahan sampel dengan dosis
berulang selama jangka waktu kurang dari 3 bulan. Toksisitas kronik dilakukan
seperti sub kronik tetapi selama lebih dari 3 bulan. Uji Toksisitas subkronik atau
kronik dianjurkan tetap perlu dilakukan meskipun senyawa tersebut diketahui
mempunyai toksisitas rendah. Ini ditujukan untuk melakukan antisipasi
kemungkinan adanya efek toksik terhadap organ tubuh dari senyawa tersebut jika
digunakan dalam waktu lama. Hal ini perlu dipahami oleh produsen obat,
makanan, maupun makanan suplemen, agar dapat melindungi keamanan dan
keselamatan konsumen.

(Lomis, 1987)

Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi. Antara


lain dapat dibedakan atas :

1) Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan zat toksik
dan
2) Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit diterima
tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan terakumulasi mencapai
konsentrasi toksik dan dengan demikian menyebabkan terjadinya gejala
keracunan.
(Tjay & Rahardja,
2002).

Setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat mengakibatkan toksis.
Pada umumnya hebatnya toksis berhubungan dengan tinggi dosis, bila dosis
diturunkan, efek toksis dapat pula dikurangi. Efek teratogen merupakan salah
satu bagian dari efek toksis, yang bekerja dari peredaran darah ibu hamil semua
zat gizi dan zat pertumbuan masuk kedalam sirkulasi janin dengan melintasi urin.
Plasma dapat disamakan dengan rintangan darah-otak dengan membran
semipermeabel pula, maka zat-zat lipofil dapat melaluinya dengan lancar. Zat-zat
hidrofil, bila kadar plasmanya tinggi, akhirnya akan melintasi plasenta juga.
Dalam peredaran janin obat akan bertahan lebih lama, karena sistem eliminasinya
belum berkembang secukupnya. Obat teratogen adalah obat pada dosis terapeutis
untuk ibu hamil dapat menyebabkan cacat pada janin, seperti focomelia. Toksoid
atau anatoksin adalah suatu toksin yang telah diubah strukturnya, sehingga tidak
terjadi toksik lagi. Sifat antingennya tidak dihilangkan, yakni kemampuan untuk
menstimulasi pembentukan antibody

(Tjay & Rahardja, 2002).

Sebelum percobaan toksisitas dilakukan, sebelum nya dilakukan


identifikasi, sifat obat, penggunaan obat agar memperloleh data. Data ini akan
digunakan untuk mengarahkan percobaan toksisitas yang akan dilakukan untuk
berbagai efek yang berhubungan dengan cara dan waktu pemberian suatu sediaan
obat. Pengujian toksisitas biasanya dibagi menjadi beberapa kelompok :
1. Uji Toksisitas akut
Toksisitas akut adalah efek berbahaya yang terjadi segera setelah terpapar
suatu zat tunggal atau kombinasi zat (substances) sekalai atau beberapa kali
dalam waktu yang singkat. Sedangkan definisi lain menyatakan, efek
berbahaya yang terjadi segera setelah terpapar dosisi tunggal atau berulang
dalam waktu 24jam. Jumlah paparan mengacu pada jumlah yang dapat
mengancam kehidupan over dosis atau untuk pembunuhan atau bunuh diri.
Uji toksisitas akut adalah tata cara tertentu yang dirancang untuk menentukan
dosis letal median (LD50 LC50) suatu zat dan kemungkinan mekanisme kerja
dan target organnya . LD50/ LC50 didefinisikan sebagai dosis atau konsentrasi
yang diberikan sekali (tunggal) atau beberapa kali dalam 24jam dari suatu zat
yang secara statistik diharapkan dapat membunuh 50%
hewan coba.
2. Uji toksisitas sub akut
Adalah suatu uji untuk menentukan organ sasaran (organ yang rentan) atau
tempat kerjanya. Umumnya dilakukan dengan menggunakan 3 dosis,
dilakukan selama 4minggu-3bulan dan menggunakan spesies yang berbeda.
3. Uji toksisitas kronik
Adalah uji yang tujuannya hampir sama dengan uji toksisitas sub akut,
menggunakan hewan rodent dan non rodent selama 6bulan atau lebih . Uji ini
diperlukan jika obat nantinya akan digunakan dalam waktu yang cukup
panjang.
4. Uji karsinogenik
Adalah uji untuk mengetahui apakah suatu zat jika dipakai dalam jangka
panjang akan dapat menimbulkan kanker. Uji dilakukan selama 2 tahun pada
2 spesies hewan . Uji ini dilakukan jika obat ini nantinya akan digunakan
dalam jangka panjang.

Tujuan dilakukannya uji toksisitas yaitu untuk mengetahui mekanisme dan target
organ dari zat toksik yang diuji, tetapi sangat luas yaitu meliputi :
 Menentukan rnge dosis (interval dosis) untuk uji berikutnya (uji
farmakologi, toksisitas sub akut, sub kronis dan toksisitas jangka panjang).
 Untuk mengklasifikasi zat uji, apakah masuk kateori praktis tidak toksik,
supertoksisk atau yang lain.
Penggolongan potensi ketoksikan akut menurut kriteria Loomis
Kategori Nilai LD50
Supertoksik 5mg/Kg BB atau kurang
Amat sangat toksik 5-50 mg/Kg BB
Sangat toksik 50-500 mg/Kg BB
Toksik sedang 0,5-5 g/Kg BB
Toksik ringan 5-15 g/Kg BB
Praktis tidak toksik >15 g/Kg BB

(Loomis, 1987)
 Mengidentifikasi kemungkinan target organ atau sistem fisiologi yang
dipengaruhi.
 Mengetahui hubungan antara dosis dengan timbulnya efek seperti
perubahan perilaku, koma dan kematian .
 Mengetahui gejala-gejala toksisitas sehingga bermanfaat untuk membantu
diagnosis adanya kasus keracenan .
 Untuk memenuhi persyaratan regulasi, jika zat uji akan dikembangkan
menjadi obat.
 Mencari zat-zat yang potensial sebagai anti kanker, karena jika suatu zat
memiliki LD50/ LC50 kurang dari 1000mg/Kg BB atau konsentrasi 1000
ug/ml zat ini dianggap potensial sebagai sitotoksik.
 Untuk keperluan evaluasi keberbahayaan suatu zat melalui data yang
diperoleh sepetti nilai slope dari grafik hubungan antara log dosis versus
respon, mencari nilai LD50/ LD50, LD01/ LC01, LD100/ LC100. Nilai-nilai
LD01/LC01 dan LD100/ LC100 dapat diperoleh jika % respon nilai
diprobitkan.
 Mengetahui pengaruh jamur, jenis kelamin, cara pemberian dan faktor
lingkungan terhadap toksisitas suatu zat.
 Mengetahui variasi respon antar spesies dan antar strain (hewan,mikroba)
serta memberikan informasi tentang reaktifitas suatu populasi hewan.

( Prianto, 2007,hal 108-110 )

Cara pemberian dan penentuan dosis


Cara pemberian umumnya zat uji diberikan melalui sonde. Jalur dermal dan
inhalasi juga sering digunakan, bukan hanya untuk zat yang digunakan melalui
jalur tersebut, tetapi juga untuk menilai bahayanya bagi kesehatan orang yang
selalu berhubungan dengan zat ini .
Untuk mencari nilai LD50 yang relatif tepat, perlu dipilih beberapa dosis yang
mematikan sekitar 50% dan lebih dari 50% (sekitar 90%) dan kurang dari 50%
(sekitar 10%). Sering digunakan 4-5 atau lebih kelompok dosis dengan harapan
sekurang-kurangnya 3 dosis berada pada rentang dosis yang dikehendaki yaitu
dapat membunuh 50% hewan coba. Karena dosis dalam uji toksisitas harus
berkelipatan tetap, maka 2 atau 3 dosis harus berada pada rentan dosis yang
mematikan kurang lebih 10% sampai 90% hewan coba. Oleh karena itu sebelum
uji dilakukan perlu dilakukan orientasi untuk mencari dosis yang kira-kira
mematikan 10% dan 90% hewan coba.

Cara Pemberian
- Obat diberikan pada hewan coba sebagaimana pengunaan pada manusia.
- Hewan dipuasakan sebelum pemberian zat uji.
- Biasanya diberikan dengan konsentrasi yang tetap untuk bermacam-
macam dosis dari pada berdasarkan volume yang tetap.

Cara Penentuan LD50 atau LC50


Banyak cara untuk menentukan nilai LD50 atau LC50, yaitu :
1. Cara Farmakope Indonesia III (FI III)
Metode ini dapat digunakan untuk menghitung LD50 karena ada dosis yang
menyebabkankematian pada semua hewan uji (a≠0).
Rumusnya :
LD50 = a – b (∑ pi – 0,5)
Dimana :
a = log dosis untuk dosis yang menyebabkan kematian pada
seluruh hewan uji.
Kelebihan metode ini adalah : perhitungan mudah dimen
gerti dan mudah untuk dilakukan.
Kekurangan metode ini adalah tidak bisa digunakan jika tidak
ada dosis yang menyebabkan kematian pada semua hewan uji.

2. Metode Lietchfield Wilcoxon


Metode ini menggunakan kalkulator dengan regresi linier dengan
x= log dosis dan y = %kematian.
Namun dalam perhitungan  untuk dosis yang  memiliki persen
kematian =100% harusdiubah dengan dikurangi variabel tertentu, misal
menjadi 97,5% dan dosis yang memiliki % mati= 0 % ditambah dengan
variabel (nilai) yang digunakan sebagai faktor pengurang untuk
dosisyang memiliki % mati=100%. Jadi dari 0% menjadi 2,5%. Hal
ini dilakukan sebagai faktor  [Link] metode ini adalah
perhitungan mudah dilakukan, batas keamanan dapat di evaluasidengan slope.
Kekurangan metode ini adalah harus membuat persen mati pada
dosis tertinggi dan terendah tidak mutlak (adanya faktor koreksi).
3. Metode Miller Tainter 
Metode ini juga dilakukan dengan mencari persamaan regresi
linier dengan kalkulator.  
Nilai untuk x = log dosis dan y = nilai probit.
Nilai probit didapatkan dari tabel probit. Kelebihanmetode ini adalah
ada batas taraf keamanan ( batas keamanan bisa dievaluasi dengan
adanyaslope, variabelitas diperkecil). Kekurangan metode ini adalah
sedikit merepotkan karena harus mengkonversikan persen kematian
menjadi nilai probit.
4. Metode Thompson Well
Metode ini tergantung hewan uji yang digunakan.
Perhitungannya harus menggunakan tetapan
(t yang didapat dari metode Thompson-well).
K e l e m a h a n   m e t o d e   i n i   a d a l a h   b i l a komposisi hewan uji yang mati
tidak terdapat dalam tabel maka LD50 tidak bisa ditetapkan.
D a r i   h a s i l   p r a k t i k u m ,   d i p e r o l e h   n i l a i   L D 50
be r d a s a r k a n   p e r h i t u n g a n   d a r i   3   m e t o d e (Lietchfield Wilcoxon,
Miller Tainter, Thompson Well) yang agak berbeda sedikit sehingga
dipilih nilai LD 50 sebesar 839,46 mg/kgBB mencit (
berdasarkan metode Litchfield-Wilcoxon) . Dipilih nilai LD50 dari
metode ini karena metode ini langsung menyatakan hubungan antara
logdosis dan % kematian mencit sehingga menurut praktikan metode ini sangat
menunjukkan hasil percobaan. Sehingga dari  nilai LD 50 d a p a t k i t a
l i h a t b a h w a L D 50 berada pada rentang dosis  peringkat 2 dan 3 (729,2
mg/kg BB dan 875 mg/kg BB).
( Prianto, 2007, hal 112-116 )

[Link] DAN BAHAN


1. Alat yang digunakan :
a. Spuit injeksi dan jarum
b. Beaker glass
c. Labu takar
d. Batang pengaduk
e. Timbangan Ohausse
f. Tara
g. Ram
h. Kandang kaca
i. Kapas

2. Bahan yang digunakan :


a. Propanolol
b. Aquadest
c. Etanol
d. Gliserin
e. Hewan uji : mencit

4. SKEMA KERJA

Disiapkan mencit Swiss sehat, umur 2-3


bulan, bobot 150-250 g yang telah
dipuasakan untuk 6 kelompok, masing-

masing 5 ekor

Masing- masing mencit ditimbang satu


per satu dan dihitung larutan stok dan
volume pemberiannya (Vp)

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5


Propanolol i.p
Propanolol i.p. Propanolol i.p 279,45 mg/kg Propanolol i.p Propanolol i.p

82,8 mg/kg 124,2 mg/kg 419,18 mg/kg 628,76mg/kg

Dilakukan pengamatan terhadap


gejala- gejala toksik secara fisik selama
Diambil 2 mencit untuk dikorbankan
pemeriksaaan hispatologi / dibedah

Dihitung jumlah mencit yang mati pada


masing- masing kelompok untuk
menghitung LD 50

Dihitung LD 50 dengan metode probit


dan ditentukan jenis ketoksikan
Propanolol

5. DATA PENGAMATAN

Pengamatan Fisik uji ketoksikan akut sebelum


perlakuan
sebelumperlakuan
Pengamatan TandaGejala
1 2 3 4 7
akti akti akti akti akti
Perilaku Perubahansikap f f f f f
  Vokalisasi          
  Gelisah          
Gerakan Menjilat          
  Menggaruk            
  Kedutan          
  Tremor          
  Menggeliat            
  Ataksia          
  Paralysis          
  Konvulsi          
  Keterpaksaangerak            
KereaktifanterhadapRangsa
ng Keberangasan            
  Kepasifan          
  Anesthetika            
  Hiperestika            
Refleksserebal& Spinal uk.
Pupil Lemah/ tidakada            
  Miosis          
  Midriasis          
Sekresi Salvias          
  Lakrimasi          
Nafas Bradipnea            
  Dispnea          
Kalpitasi / kardiak Bradikardia            
  Takikardia      
  Aritnia        
Kulit Pucat    
  Kemerahan            
  Eritema          
         
Seteleahperlakuanpemberian propranolol dosis 82,80 mg/kgBB

Telahdiberiperlakuandosis
Pengamatan TandaGejala 82,80mg/kgBB
1 3 4 5 7
Perilaku Perubahansikap          √
  Vokalisasi √        
  Gelisah √ √ √ √ √
Gerakan Menjilat    
  Menggaruk      √ √
  Kedutan  √  √ √ √ √
  Tremor √ √ √    
  Menggeliat      
  Ataksia        
  Paralysis        
  Konvulsi        
Keterpaksaanger
  ak        
KereaktifanterhadapRangsa
ng Keberangasan            
  Kepasifan √ √ √ √ √
  Anesthetika        
  Hiperestika        
Refleksserebal& Spinal uk.
Pupil Lemah/ tidakada          
  Miosis          
  Midriasis          
Sekresi Salvias          
  Lakrimasi          
Nafas Bradipnea         √  
  Dispnea          
Kalpitasi / kardiak Bradikardia            
  Takikardia  
  Aritnia        
Kulit Pucat √  √ √ √ √
  Kemerahan            
  Eritema          
  Oedem        
Setela 1 jam perlakuan

Telahdiberiperlakuandosis
Pengamatan TandaGejala 82,80mg/kgBB
1 3 4 5 7
Perilaku Perubahansikap  √  √  √  √  
  Vokalisasi        
  Gelisah
Gerakan Menjilat    
  Menggaruk      √
  Kedutan  √  √ √ √ √
  Tremor √ √ √  √  √
  Menggeliat      
  Ataksia        √
  Paralysis √        
  Konvulsi √        
Keterpaksaanger
  ak         √
KereaktifanterhadapRangsa
ng Keberangasan    √  √ √  √  √ 
  Kepasifan √ √ √
  Anesthetika       √  
  Hiperestika        
Refleksserebal& Spinal uk.
Pupil Lemah/ tidakada   √  √ √  √  √ 
  Miosis          
  Midriasis          
Sekresi Salvias          
  Lakrimasi          
Nafas Bradipnea    √      
  Dispnea          
Kalpitasi / kardiak Bradikardia       √   √    
  Takikardia   √ √ √
  Aritnia √  √     
Kulit Pucat √ √  √ √ √
  Kemerahan            
  Eritema          
  Oedem  √    √  
Setelah 2 jam perlakuan

Telahdiberiperlakuandosis
Pengamatan TandaGejala 82,80mg/kgBB
1 3 4 5 7
Perilaku Perubahansikap    
  Vokalisasi        
  Gelisah
Gerakan Menjilat    
  Menggaruk      √
  Kedutan  √  √ √ √ √
  Tremor √ √ √  √  √
  Menggeliat      
  Ataksia        
  Paralysis √        
  Konvulsi √        
Keterpaksaanger
  ak         √
KereaktifanterhadapRangsa
ng Keberangasan    √  √ √  √  √ 
  Kepasifan √ √ √
  Anesthetika     √  √   √ √  √ 
  Hiperestika        
Refleksserebal& Spinal uk.
Pupil Lemah/ tidakada   √  √ √  √  √ 
  Miosis          
  Midriasis          
Sekresi Salvias          
  Lakrimasi          
Nafas Bradipnea    √      V
  Dispnea          
Kalpitasi / kardiak Bradikardia       √  √     
  Takikardia   √ √ √
  Aritnia √  √     
Kulit Pucat √ √  √ √ √
  Kemerahan            
  Eritema          
  Oedem  √    √  
Setelah 3 jam perlakuan

Telahdiberiperlakuandosis
Pengamatan TandaGejala 82,80mg/kgBB
1 3 4 5 7
Perilaku Perubahansikap    
  Vokalisasi        
  Gelisah
Gerakan Menjilat    
  Menggaruk      √
  Kedutan  √  √ √ √ √
  Tremor √ √ √  √  √
  Menggeliat      
  Ataksia        
  Paralysis √        
  Konvulsi √        
Keterpaksaanger
  ak         √
KereaktifanterhadapRangsa
ng Keberangasan    √  √ √  √  √ 
  Kepasifan √ √ √
  Anesthetika     √  √   √ √  √ 
  Hiperestika        
Refleksserebal& Spinal uk.
Pupil Lemah/ tidakada   √  √ √  √  √ 
  Miosis          
  Midriasis          
Sekresi Salvias          
  Lakrimasi          
Nafas Bradipnea    √      V
  Dispnea          
Kalpitasi / kardiak Bradikardia       √  √     
  Takikardia   √ √ √
  Aritnia √  √     
Kulit Pucat √ √  √ √ √
  Kemerahan            
  Eritema          
  Oedem  √    √  
Hasil data pengamatanselama 24 jam

No. Dosis ∑mati

1 82.80 0

2 124.2 1

3 186.3 2

4 279.45 8

5 419.18 7

6 628.76 10

ANALISA DATA

 Perhitungan C stokkelompok K
a) Dosisterbesarmencit = 40,2 gram
b) Dosisterbesar = 186,3 mg/kgBB
40,2
c) Dosismencit = X 186,3 mg=7,49 mg
1000
Dosis terbesar 7,49mg
d) C stok = = =7,49 mg/ml
Vp 1 ml
e) Dibuatdalam 50ml = 7,49mg X 50ml = 374,46 mg
374,46 mg
f) Konversi tablet = X 200,17 mg=1873,89 mg = 1,87
40 mg
gram
Rentang 5% = 1,776 – 1,9635 gram
g) Penimbangan
Kertas + zat = 2,3359 gram
Kertas + sisa = 0,5181 gram –
Zat = 1,8178 gram
1.8178 mg
h) C stoksebenarnya = X 40 mg=363,25mg/50 mg = 7,26 mg/ml
200,17 mg
i) Volume pemberianobat
34,5 g
1. DosisMencit 34,5 g = X 82,80 mg=2,86 mg
1000

2,86 mg
Vp = =0,39 ml=0,4 ml
7,26 mg/ml

31,3
2. Dosismencit 31,3 g = X 82,80 mg=2,59 mg
1000

2,59 mg
Vp = =0,356 ml=0,4 ml
7,26 mg/ml

34,6 g
3. Dosismencit 34,6 g = X 82,80 mg=2,86 mg
1000

2,86 mg
Vp = =0,39 ml =0,4 ml
7,26 mg/ml

28,3
4. Dosismencit 28,3 g = X 82,80 mg=2,34 mg
1000

2,34 , mg
Vp = =0,32 ml =0,3ml
7,26 mg/ml

29
5. .Dosismencit 29 g = X 82,80 mg=2,40 mg
1000

2,40 ,mg
Vp = =0,33 ml=0,3 ml
72,6 mg/ml

 Perhitungan C stokkelompok L

a. BeratMencitTerbesar = 39,1 g
b. Dosismencitterbesar = 39,1 g x 628,76 mg = 24,584 mg
1000 g
[Link] =24,584 mg = 24,584 mg/ml
1,0 ml
[Link] 50ml = 1229,2 mg
e.1 tablet propanolol = 40 mg

f. Bobot rata-rata = 0,2010 g = 201 mg

g. Konversi Tablet = 1747,4 mg x 40 mg = 325,6538


mg/25ml
198,2 mg
h. Konsentrasistoksebenarnya = 1229,2 mg x 201 mg = 6176,73 mg =
6,176 g
40mg
Rentangpenimbangan 5% = 5,8672 – 6,4848
i. Penimbangan
Kertas + zat = 6,4782 g
Kertas + sisa = 0, 5433 g -
5, 9349 g = 5934,9 mg
j. C stoksebenarnya = 5934,5 mg x 40 mg = 1181,07 mg / 50ml
= 23,6214 mg / ml
Perhitungan LD50

No. Dosis ∑mati Pi Log dosis Persen Probit Uji


Kematian
1 82.80 0 0 1.9180 0 0

2 124.2 1 0.1 2.0941 10% 3,72


3 186.3 2 0.2 2.2702 20% 4,16

4 279.45 8 0.8 2.4463 80% 5,84

5 419.18 7 0.7 2.6224 70% 5,52

6 628.76 10 1 2.7985 100% 7,33

∑ pi 2.8

A. LD 50 Farmakope Indonesia
Log LD 50 = a – [b(∑pi – 0,5)]

a = 2,7985

b = 2,7985 – 2,6224 = 0,1761

∑pi = 2,8

Log LD 50 = 2,7985 – [0,1761 (2,8 – 0,5)]

= 2,7985 – 0.4050

Log LD50 = 2,3935

LD 50 = 247,4571 mg/kg BB mencit

247,4571mg
Konversi ke dosis mencit 20 gram = x 20 g=4,9491mg/¿20 g
1000 g
mencit

Konversi ke dosis manusia 70 kg = 4,9491 mg x 387,9 = 1919,7559 mg/70 kgBB =


27,4251 mg/kgBB manusia

B. Metode Probit Miller – Tainter


Regresi linier Log Dosis (x) vs Probit (y)

a = -12,3034
b = 7,0949
r = 0,9270

Probit untuk % kematian sebesar 50 %, maka diketahui bahwa nilai probit (y) dari
tabel adalah 5,00

y = bx + a

5 = 7,0949 + (-12,3034)

x = 2,4388

LD50 untuk mencit = anti log 2,4388

LD50 untuk mencit = 274,6629 mg/kgBB mencit

Konversi ke mencit 20 gram

LD50 untuk mencit = 274,6629 mg / kg BB mencit

20 gram
LD50 untuk mencit 20 gram = x 274,6629 mg = 5,4932 mg / 20g BB
1000 gram
mencit

Konversi ke manusia 70 kg

387,9 x 5,4932 mg = 2130,8123 mg / 70 kg BB manusia

1 kg
Jadi, LD 50 untuk 1 kg manusia = x 2130,8123 mg/kgBB manusia
70 kg

= 30,440 mg / kg BB manusia

Kesimpulan, menurut tabel Loomis jika harga LD50 (50 – 500mg/kgBB) maka
potensi ketoksikan akutnya dikatakan tinggi.
Penggolonganpotensiketoksikanakutmenurutkriteria Loomis

No. Potensi Ketoksikan Akut Harga LD 50


1 Sangat tinggi < 1 mg/KgBB
2 Tinggi 1 – 50 mg/KgBB
3 Sedang 50 – 500 mg/KgBB
4 Sedikit toksik 500 – 5000 mg/KgBB
5 Hampir tidak toksik 5 - 15 g/KgBB
6 Relatif tidak berbahaya >15 g/KgBB
(Loomis, 1978)

Kesimpulan : menurut tabel Loomis, Propanolol termasuk potensi ketoksisan


akut tinggi (1-50 mg/kg BB)

6. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan uji toksikologi akut, uji ketoksikan akut
dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa yang akan terjadi dalam
waktu singkat setelah pemejanan dengan takaran tertentu. Ketoksikan akut adalah
derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi dalam waktu singkat (biasanya 24
jam) setelah pemberiannya dalam dosis tunggal. Jadi uji ketoksikan adalah uji
ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis tunggal pada hewan uji
tertentu dan diamati selama 24 jam. Pelaksanaan uji toksikologi akut umumnya
menggunakan tikus atau mencit. Hewan ini dipilih karena mudah ditangani, murah
dan mudah didapat. Hewan yang digunakan dalam hewan uji toksisitas akut akan
digunakan juga untuk uji-uji berikutnya seperti uji farmakologi, uji reproduksi atau
uji toksisitas jangka panjang.

Tujuan digunakan hewan adalah:


         Menentukan profil toksikologi secara umum
         Menentukan target organ atau sistem yang sangat berguna saat uji klinik
         Untuk memprediksi keamanan pada manusia.
Tujuan dari uji ketoksikan adalah menggambarkan ketoksikan intrinsik dari suatu
zat kimia untuk memperkirakan resiko atau ketoksikan pada spesies target,
mengidentifikasikan organ target, menyediakan informasi tentang desain dan
pemilihan tingkat dosis, untuk penelitian dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Yang terpenting ialah menyediakan infomasi untuk keperluan klinis dalam
memperkirakan, mendiagnosis dan meresepkan pengobatan zat kimia yang
secara akut beracun.
Percobaan mengenai uji ketoksikan akut suatu obat (dalam hal ini adalah
propanolol dengan dosis yang berbeda dalam setiap pengujian 10 hewan uji
mencit) terhadap hewan uji mencit merupakan derajat efek toksik sesuatu
senyawa yang terjadi dalam waktu singkat setelah pemberiannya dalam dosis
tunggal. Hal terpenting dari uji ketoksikan akut adalah penetapan potensi
ketoksikan akut (kisaran dosis letal atau dosis toksik dari propanolol terhadap
hewan uji mencit) dan juga untuk menilai berbagai gejala klinis yang timbul,
adanya efek toksik yang khas, dan mekanisme yang memerantai terjadinya
kematian hewan uji. Data yang dikumpulkan berupa tolak ukur ketoksikan
kuantitatif (kisaran dosis letal/toksik) dan tolak ukur ketoksikan kualitatif (gejala
klinis, wujud dan mekanisme efek toksik)..
Pengamatan dilakukan selama 24 jam, yang diamati adalah:
   Gejala klinis
   Jumlah hewan yang mati
   Histopatologi organ
Data yang diperoleh dari uji ketoksikan akut berupa data kuantitatif
yang berupa LD50 sedangkan data kualitatif berupa penampakan klinis dan
morfologi efek toksik senyawa uji. Data LD50 yang diperoleh digunakan
untuk potensi ketoksikan akut senyawa relatif terhadap senyawa lain dan
untuk memperkirakan takaran dosis uji toksikologi lainnya. Pada uji
ketoksikan akut parameter yang digunakan adalah LD50. LD50 didefinisikan
sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diharapakan akan
membunuh 50% hewan coba, juga dapat menunjukkan organ sasaran yang
mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya, serta memberikan petunjuk
dosis yang sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama. Evaluasi
juga terhadap kelainan tingkah laku, stimulasi atau depresi SSP, aktivitas
motorik dan pernapasan untuk mendapat gambaran tentang sebab kematian
Dan pada praktikum kali ini ditentukan berdasarkan metode farmakope
Indonesia.
Obat yang digunakan pada percobaan ini adalah propanolol yang
merupakan obat hipertensi sebagaimana pada penggunaan obat yang secara
kronik harus disertai data karsinogenisitas dan teratogenisitas. Propanolol
akan memberikan efek toksik disaat pemberiannya berlebih. Propanolol
adalah agen pemblokir β-adrenoreseptor (β-blocker). Propanolol mengalami
metabolisme tahap I (first pass) dan jalur metabolit meliputi hidroksilasi
aromatik, N-dealkilasi, deaminasi oksidatif dan konjugasi. Over dosis
propanolol dan senyawa β-blocker yang lain dapat menyebabkan halusinasi,
bradikardia, hipotensi, bronkospasme, hipoglikemi, koma serta konvulsi.
Kematian yang disebabkan karena keluaran kardiak yang rendah atau
terhentinya kardiorespiratori. Propanolol merupakan β-bloker non selektif
sehingga memblok pada dua jenis β-adrenoreseptor, padahal yang utama
dituju propanolol ialah bekerja sebagai antagonis kompetitif terhadap β1-
adrenoreseptor, akibatnya propanolol dapat menghambat terjadinya
vasodilatasi pada arteri paru-paru yang secara normal dilakukan oleh β2-
adrenoreseptor. Pada dosis normal, propanolol dapat menyebabkan terjadinya
vasokonstriksi atau bronkokonstriksi pada arteri paru-paru, namun efek yang
ditimbulkan tidak fatal. Lain halnya jika propanolol diberikan pada dosis
berlebih, artinya diatas dosis maksimalnya yang kemungkinan akan
menimbulkan efek toksik yang besar. Selama pengamatan setelah pemberian
propanolol pada hewan uji mencit menunjukkan adanya gejala-gejala toksik
yang timbul seperti kejang, lemas, aktivitas menurun, takikardi, pupil mata
mengecil, hilang kesadaran bahkan kematian. Kematian dari hewan uji
disebabkan over dosis obat ini dapat mengeblok baik reseptor β1 atau β 2

adrenergik, sehingga selektifitasnya hilang. Pada dosis terapi β-bloker


menghambat reseptor β1 yang menyebabkan berkurangnya intensitas dan
frekuensi denyut jantung. Blokade reseptor β 2  adrenergik menyebabkan
konstriksi bronkus mengakibatkan susah bernapas. β-bloker  paling toksik
adalah propanolol karena 2-3 kali dosis terapi dapat mengakibatkan efek
toksik yang serius karena pada dosis tinggi menyebabkan blockade kanal ion
Na+ .   Selain itu propanolol bersifat lipofilik sehingga dapat menembus SSP.
-bloker yang bersifat parsial antagonis dapat menyebabkan hipertensi dan
takikardia. Kejang dan blokade konduksi jantung dapat terjadi pada overdosis
propanolol.
Pada dosis tingkat pertama (82,80mg/Kg BB),tidak ditemukan adanya
hewan uji yang mati dikarenakan dosis yang diberikan masih terlalu kecil
untuk dapat menyebabkan kematian pada hewan uji. Namun, gejala klinik
yang timbul pada hewan uji antara lain adalah adanya penurunan aktifitas,
lemas dan menggeliatnya hewan uji. Penuruanan aktifitias ini disebabkan
karena salah satu cara kerja dari  propanolol adalah senyawa ini
memperlambat frekuensi jantung dan sedikit mengurangi kontraktilitas
jantung, menimbulkan perasaan lemas yang menyebabkan penurunan aktifitas
juga ditujukan dengan adanya geliat yang timbul, namun frekuensi timbulnya
geliat tidak terlalu besar.
Pada Pada dosis tingkat kedua (124,2 mg/kgBB) terdapat 1 hewan uji
yang mati sehingga dinyatakan bahwa dosis ini menyebabkan 10% kematian
pada hewan uji. pada dosis tingkat ketiga (186,3mg/kgBB) dengan 2 hewan
uji yang mati sehingga pada dosis ini menyebabkan 20% kematian pada
hewan uji. Pada awalnya mengalami kejang perut kemudian pada keadaan
selanjutnya hewan uji terlihat lemas dan terjadi penurunan aktivitas. Kondisi
perut yang mengejang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang lebih
dari aktivitas biasanya, hal ini mungkin terjadi karena perlunya toleransi atas
kurangnya asupan oksigen sehingga hewan uji melakukan aktivitas berlebih
untuk mendapatkan suplay oksigen yang lebih besar. Hal ini terjadi
disebabkan karena efek senyawa propanolol, yaitu adanya pengurangan 
kontraktilitas jantung, sehingga jantung memompa lebih cepat untuk
mendapatkan asupan oksigen yang berlebih,jika keadaan ini terus berlangsung
akan menimbulkan sianosis karena kurangnya asupan oksigen yang dapat
diikuti dengan gagal napas dan menyebabkan kematiaan.
Dan pada dosis tingkat keempat (186,3mg/kgBB) dengan 8 hewan uji
yang mati sehingga pada dosis ini menyebabkan 80% kematian pada hewan
uji. pada dosis tingkat kelima (419,18mg/kgBB) dengan 7 hewan uji yang
mati sehingga pada dosis ini menyebabkan 70% kematian pada hewan uji.
Pada dosis keempat dan kelima berarti telah melebihi dosis yang meyebabkan
50% kematian pada hewan uji(≥LD50%). Adapaun gejala toksik yang timbul
lebih kompleks, diantaranya mulai terjadi takikardia yang hebat dan frekuensi
kejang yang lebih sering hingga timbul kejang akut.
Pada dosis tingkat keenam (628,76mg/kgBB) seluruh hewan uji mati.
Dapat dinyatakan bahwa pada dosis ini menyebabkan kematian pada 100%
hewan uji. Dengan data ini maka dapat diperkirakan bahwa LD 50 propanolol
berada diantara dosis tingkat ketiga, keempat dan kelima.
Dari perhitungan, didapatkan harga LD50 untuk propanolol  adalah
27,4251 mg/ kgBB manusia menurut FI. Dan menurut metode Miller –
Tainter = 30,440 mg / kg BB manusia Harga LD50 tersebut dapat di kriteria
potensi “tinggi” pada tabel potensiasi ketoksikan menurut Loomis dengan
rentang 1– 50 mg/Kg BB. Dalam praktikum kali ini, dihasilkan data yang
sesuai dengan teori yakni semakin tinggi tingkatan dosisnya maka semakin
banyak jumlah kematian dari hewan uji. Selain itu juga dapat digunakan untuk
perhitungan LD50 karena memenuhi syarat dengan kisaran dosis yang
memberikan efek kematian pada hewan uji antara 0 – 100 %.

7. KESIMPULAN
1. Data yang dikumpulkan dalam uji ketoksikan akut berupa tolak ukur
ketoksikan kuantitatif (kisaran dosis letal/toksik) dan tolak ukur ketoksikan
kualitatif (gejala klinis, wujud, dan mekanisme efek toksik).
2. Jumlah hewan uji yang mati hanya terjadi pada dosis 124,2 mg/KgBB (1 ekor),
dosis 186,3 mg/KgBB (2 ekor), dosis 279,45 mg/KgBB (8 ekor), dosis 419,18
mg/KgBB (7 ekor) dan 628,76mg/KgBB (10 ekor).
3. Berdasarkan analisa Probit, diperoleh nilai LD50 untuk mencit adalah
274,6629mg/kgBB, berdasarkan Farmakope Indonesia diperoleh nilai LD 50
untuk mencit adalah 247,4571mg/kgBB
4. Berdasarkan analisa Probit, diperoleh nilai LD50 untuk manusia adalah
30,440mg/kgBB, berdasarkan Farmakope Indonesia diperoleh nilai LD50 untuk
manusia adalah 27,4251mg/kgBB, menurut tabel Loomis jika harga LD50 (1–
50mg/kgBB) maka potensi ketoksikan akutnya dikatakan TINGGI.
5. Dosis Propanolol yang dapat mematikan 100 % (seluruh) hewan uji adalah
628,76mg/kgBB.
9. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI

Loomis, I.A. 1987. Essentiale of Toxycologi. diterjemahkan oleh Imono Argo


Donatus. Toksikologi Dasar. Edisi III. Semarang: IKIP Semarang Press.

[Link]:PT [Link]

Tan, Hoey Tjah dan Kirana [Link]-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan
Efek [Link]:Gramedia.
Mengetahui, Semarang, 03 Mei 2018

Dosen Pengampu Praktikan

Anastasia Setyopuspiton P., [Link]., Apt. Tin Rondiyah


(1041721026)

Erna Prasetyaningrum, [Link]., Apt. Risca Widyasari

(1041611128)

Taju Tsalis Setyaning D.


(1041611137)

Tilawati Ainul Hidayah


(1041611140)

Prima Ramadhanis

(1041611120)

Anda mungkin juga menyukai