Korelasi N-SPT dan Kuat Geser Tanah
Korelasi N-SPT dan Kuat Geser Tanah
Abstrak
Untuk menghitung daya dukung tanah dalam mendesain fundasi maupun keperluan lain, diperlukan
parameter-parameter tanah yang diperoleh dari penyelidikan tanah di lapangan dan laboratorium. Namun
ada kalanya parameter yang diperlukan tidak cukup, sehingga masih diperlukan adanya interpretasi
parameter dengan cara korelasi. Korelasi yang biasa dilakukan selama ini dengan bantuan grafik maupun
tabel yang dibuat oleh para ahli tanah yang sebagian besar berasal dari luar negeri. Penelitian ini akan
melihat sebaran data dan bentuk hubungan antara nilai N-SPT dengan parameter kuat geser tanah untuk
tanah di DKI Jakarta. Adapun grafik yang menjadi acuan adalah korelasi antara N-SPT dengan Su, oleh
Terzaghi & Peck,1967 dan Sowers, 1979, serta korelasi antara N-SPT dengan Ø’ oleh Hatanaka dan
Uchida,1996. Metodologi yang dilaksanakan yaitu : pengumpulan data penyelidikan tanah untuk wilayah
DKI Jakart dan sekitarnya. Kemudian dilakukan penyeleksian, pengelompokan dan pengeplotan data N-
SPT terhadap c dan Ø, serta analisis dan perbandingan dengan grafik korelasi tersebut.
Pada pengeplotan data terhadap grafik hubungan antara N–SPT dengan Cu (Su) oleh Terzaghi &
Peck,1967 dan Sowers, 1979 menunjukkan kesamaan area, sedangkan pada pengeplotan terhadap grafik
Hatanaka & Uchida, 1996 terlihat terdapatnya perbedaan nilai Ø dengan nilai N–SPT yang telah dikoreksi
pada nilai yang sama.
Pendahuluan
Dalam mendesain pondasi, idealnya mempunyai data parameter tanah yang lengkap, yang diperoleh dari
titik-titik uji dan kedalaman yang relevan. Namun ada kalanya data tidak cukup dan tidak memungkinkan dilakukan
pengujian lagi, sehingga interpretasi dan korelasi parameter melalui grafik-grafik yang sudah ada akan sangat
membantu. Oleh karena itu sampai saat ini, grafik-grafik maupun tabel korelasi parameter masih sangat diperlukan.
Usaha untuk mencari korelasi antara parameter tanah hasil uji di lapangan dengan hasil uji di laboratorium telah
lama dilakukan. Tetapi pembuatan grafik-grafik korelasi parameter tanah yang banyak dipakai selama ini dibuat
oleh para ahli tanah yang sebagian besar berasal dari luar Indonesia untuk tanah di luar Indonesia. Salah satu
korelasi yang umum dipakai adalah hubungan dengan nilai N-SPT.
Standar Penetration Test (SPT) dimulai di USA pada tahun 1902. Pada awalnya prosedur SPT ditulis oleh
Terzaghi pada tahun 1947. Uji tersebut tidak distandarkan di USA sampai dengan tahun 1958. Kemudian untuk
selanjutnya diatur dalam ASTM D-1586-99 dan beberapa standar lain. SPT telah memperoleh popularitas di mana-
mana dan telah diterima sebagai uji tanah rutin di lapangan. Dapat dilakukan dengan cara yang relatif mudah
sehingga tidak membutuhkan ketrampilan khusus dari pemakainya. Metoda pengujian tanah dengan SPT termasuk
cara yang cukup ekonomis untuk memperoleh informasi mengenai kondisi di bawah permukaan tanah. Diperkirakan
85% dari desain fondasi untuk gedung bertingkat menggunakan cara ini.
Alat SPT menguji kekuatan atau perlawanan tanah terhadap penetrasi sebuah tabung belah baja di dalam
lubang bor. Penetrasi tabung belah SPT ini dilakukan dengan menjatuhkan palu seberat 63.5 kg pada sebuah
bantalan (anvil) dengan tinggi jatuh sebesar 760 mm. Jumlah pukulan (nilai N) yang diperlukan untuk memukul
tabung belah tersebut hingga diperoleh penetrasi sebesar 300mm dari dasar lubang disebut perlawanan penetrasi
SPT atau nilai N SPT. Dan dari tabung belah baja tersebut juga diperoleh contoh tanah terganggu untuk
diidentifikasikan. Dengan hadirnya standarisasi ASTM D–1586 ini, diharapkan hadir pula keseragaman prosedur
pengujian serta komponen fisik alat ini.
Nilai SPT dapat digunakan untuk menghitung sifat-sifat statis dan dinamis tanah berbutir kasar seperti
internal fricition angle (’), relative density (Dr), kapasitas dukung dan penurunan, kecepatan gelombang geser (vs)
dari tanah, maupun potensi likuifaksi. Di sisi lain, uji SPT yang sebenarnya dikembangkan untuk tanah berbutir
G - 377
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
kasar telah diaplikasikan untuk pada tanah berbutir halus untuk memperkirakan sifat-sifat engineeringnya, seperti
undrained compressive strength (qu), undrained shear strength (Su) dan koefisien kompresibilitas volume (mv).
Gambar 1. Internal Friction Angle untuk Tanah Pasir dari Data SPT (Hatanaka & Uchida, 1996)
Untuk Tanah Lempung
Untuk tanah lempung, kekuatan gesernya diistilahkan dengan kohesi (c) atau kekuatan tekan tak tersekap
(unconfined compressive strength), yaitu qu. Khusus untuk undrained shear strength (Su), diperoleh dari pengujian
triaksial UU (unconsolidated undrained triaxial test) maupun unconfined compressive strength (UCS). Adapun
harga Su dari UCS yang menghasilkan harga qu, dihitung melalui persamaan 1. (Hara,dkk,1974)
Su = 0.5 qu (1)
Banyak usaha telah dilakukan untuk mengkorelasikan nilai N-SPT dengan kuat geser undrained, Su
(undrained shear strength) atau kuat tekan bebas qu (unconfined compressive strength). Penelitian awal mengenai
hubungan antara qu vs N SPT dilaksanakan oleh Terzaghi & Peck (1967) sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1,
sedangkan korelasi nilai N vs undrained shear strength, Su diperlihatkan dalam Gambar 2
G - 378
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Gambar 2. Korelasi Nilai N SPT vs Su (Terzaghi & Peck, 1967; Sowers, 1979)
Tujuan Penelitian
Sebagaimana dikemukakan di awal, bahwa grafik-grafik korelasi umumnya dibuat untuk tanah di luar
Indonesia, maka penelitian ini akan melihat sebaran data dan bentuk hubungan antara nilai N-SPT dengan parameter
kuat geser tanah untuk tanah di DKI Jakarta. Adapun grafik yang menjadi acuan adalah korelasi antara N-SPT
dengan Su, oleh Terzaghi & Peck,1967 dan Sowers, 1979, serta korelasi antara N-SPT dengan Ø’ oleh Hatanaka dan
Uchida (1996).
Pengumpulan Data
Tidak memenuhi
Seleksi
Buang
Data
Memenuhi kriteria
Plot Data
c. Pada kedalaman yang sama, bila ada data yang memiliki nilai c atau yang sangat jauh berbeda dari data
yang lainnya, tetapi memiliki nilai N-SPT yang sama maka data tersebut tidak dipakai atau dibuang. Atau
nilai N-SPT kecil tetapi memiliki nilai c yang besar, maka data c atau tersebut tidak dipakai, begitu juga
sebaliknya bila N-SPT nya besar, tetapi memiliki nilai c atau yang kecil.
G - 379
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
b. Untuk pasir murni, maka yang dicatat adalah tanah pasir yang memiliki nilai ’ = 20
c. Data yang telah dimasukkan ke dalam tabel di atas (poin a) kemudian dikelompokan per kedalaman.
d. Untuk pengeplotan ke dalam Grafik Terzaghi & Peck,1967 dan Sowers, 1979, data yang dicatat adalah N–
SPT, jenis dan klasifikasi tanah, nilai Cu ( Su), serta lokasi.
e. Sedangkan untuk pengeplotan data ke dalam Grafik Hatanaka & Uchida, yang dicatat adalah N–SPT, jenis
dan klasifikasi tanah, nilai Ø, serta lokasi.
Pengeplotan Data
Ke Dalam Grafik Terzaghi & Peck,1967 dan Sowers, 1979.
a. Dari tanah yang benar-benar termasuk lempung murni, kemudian dilakukan pencatatan Cu (Su) sesuai
dengan nilai N-SPT, dan klasifikasi tanah (berdasarkan USCS)
b. Plot nilai Cu (Su) yang sebelumnya telah diberi warna sesuai dengan klasifikasi tanah tersebut dan nilai N -
SPT ke dalam grafik.
c. Tanah yang bukan lempung murni, tapi mempunyai data Cu(Su) dari pengujian UCS juga diplot, untuk
sekedar mengetahui gambaran posisi terhadap grafik tersebut.
G - 380
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
koreksi dan
Tabel 4. Contoh Data Pengelompokan Per Kedalaman untuk N-SPT dan Cu (Su)
G - 381
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
G - 382
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Tabel 6. Pecatatan Harga N-SPT dan Cu (Su), serta Harga N-SPT dan Sesuai Klasifikasi Tanah
ML MH CH
N-SPT Cu (Kg/cm2)
0 140 110 50 54 286 110 98 110 140 296 420 300 390 78 106 126 132 214 150 56 32
1 40 16 78
2 192 6 146 64 60 49.6 40
3 92 20 100 282 50 88 150 116
4 58 76 110 106 214 110 238 36 102 60 64 129.6 72.4 252 324 118.4 45.6
5 158 606 288 370 354 86 174 164 40 148 104 46.8 140.4 56 112 204 100 88.2
6 86 336 140 128 62
7 40 318 154 170 150 114 20 180 106 88 178.2
8 62 236 170 18 222 140 195.6 208 18
9 174 62 363 202.8 170.2
10 70 264 92 202.2
11 408
12 192 102.4
13 122
14
15 358 566 142 253.6
16 168 94
17 134 126
18 250
19 98 352 222 34
20 428.4
21 235.2 262 272
22 178 168
23 338.6 126
24 258 64
25 339.8 118 140
26 254 64 630
27 387.6
28
29 384.2
30 128 206 244 224
31
32 408.4
33 410 418.4
34
35 404 580
36 404
37
38
39 516
40 374 230
41
42 136 580
43
44
45
46
47 200
48 658.4
49
50
51
52
53
54
55 216
56
57 176
58
59
60 954 212.2 142
>60
65 584 100
Adapun hasil dari pengeplotan data dapat dilihat pada Gambar 4 untuk Grafik Grafik Terzaghi & Peck,1967 dan
Sowers, 1979 serta Gambar 5 untuk Grafik Hatanaka & Uchida
ML
CH
Undrained shear strenght ( kN / m2 )
MH
Su = 18 N Su = 10 N
500
Soil groups
to Unlfied
system
400 Sowers
CH
300
CL Su =4.5 N
200
SC-ML Su = 2.5 N
100
Terzaghi Su = Kuat Geser
and Peck Undrained
0 10 20 30 40 50 60
SPT N value blows, 300mm
50
30 SP
25 SW
20 SM
0 10 20 30 40 50 60
Normalized (N1)60
Gambar 5. Pengeplotan Data Wilayah Jabodetabek
Terhadap Grafik Hatanaka & Uchida,1996
( Gambar 4.2 )
Pembahasan Grafik N - SPT vs ( Hatanaka & Uchida, 1996 )
Dari Laporan Peneyelidikan Tanah tanah yang terkumpul (untuk Tanah Jakarta dan Sekitarnya), ternyata
sebagian besar merupakan tanah yang cenderung berjenis lanau dan berklasifikasi MH (berdasarkan USCS). Untuk
beberapa sampel, pencarian parameter kekuatan gesernya dilakukan melalui lebih dari 1 jenis pengujian, misalnya
direct shear dan UCS, triaxial dan direct shear, atau triaxial dan UCS. Karena yang akan diplot terhadap grafik
adalah Cu (Su) terhadap nilai N-SPT, maka pada tanah yang berjenis lanaupun nilai Cu(Su)-nya digunakan dan
diplot. Walaupun idealnya nilai Su relevan untuk tanah yang betul-betul lempung.
Pada pengeplotan data terhadap grafik hubungan antara N–SPT dengan Cu (Su) oleh Terzaghi &
Peck,1967 dan Sowers, 1979, didapat persamaan area klasifikasi tanah CH, dan ML, sedangkan posisi tanah MH
berada di area [Link] ini adalah pengeplotan terhadap nilai pengujian UCS.
Untuk pengeplotan dengan grafik hubungan antara N–SPT yang telah dikoreksi dengan sudut geser dalam
Ø yang dibuat oleh Hatanaka & Uchida, 1996 terdapat perbedaan nilai Ø dengan nilai N–SPT yang telah dikoreksi
pada nilai yang sama.
Kesimpulan
1. Dari penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa nilai undrained shear strength untuk tanah di
Jakarta dan sekitarnya sesuai dengan korelasi antara Cu(Su) dengan N-SPT dari Grafik Terzaghi & Peck,
1967 dan Sowers,1979.
2. Sedangkan dari pengeplotan nilai sudut geser dalam tanah pasir, Ø, pada Grafik Hatanaka & Uchida, 1996,
ternyata terdapat perbedaan.
Daftar Pustaka
Das,BM. Alih Bahasa : Noor Endah dan Mochtar,I.B,1994, Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis),
Jilid 1 dan 2, Penerbit Erlangga.
Hara,A,Ohta,T,Niwa,M,Tanaka,S, and Banno,T,1974,”Shear Modulus and Shear Stength of Cohesive Soils,” Soils
and Foundation.
Hary Christady Hardiyatmo, 2002, Mekanika Tanah II, Penerbit Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
G - 384
Seminar Nasional III Teknik Sipil 2013
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nassaji,F dan Kalantari,B,(2011),”SPT Capabilty to Estimate Undrained Shear Strength of Fine Grained Soils of
Tehran, Iran”, EJGE, Vol.16, pp.1229-1238.
Rahardjo,P.P (2001), In Situ Testing and Soil Properties Correlations”,GEC, Parahyangan Chatolic University.
Terzaghi, K and Peck,R.B (1967), “Soil Mechanics in Engineering Practice”.John Willey, New York.
G - 385