0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
345 tayangan13 halaman

Pengembangan Multimedia Pembelajaran DDD-E

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model DDD-E untuk mengembangkan bahan ajar interaktif tentang ekosistem. 2. Terdapat 4 tahapan dalam model DDD-E yaitu decide, design, develop, dan evaluate. 3. Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Lowokwaru 2 Kota Malang pada bulan April 2017.

Diunggah oleh

aqila Lee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
345 tayangan13 halaman

Pengembangan Multimedia Pembelajaran DDD-E

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model DDD-E untuk mengembangkan bahan ajar interaktif tentang ekosistem. 2. Terdapat 4 tahapan dalam model DDD-E yaitu decide, design, develop, dan evaluate. 3. Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Lowokwaru 2 Kota Malang pada bulan April 2017.

Diunggah oleh

aqila Lee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

A. Model Penelitian dan Pengembangan

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau

dalam istilah lainnya adalah Research and development (R&D). Metode penelitian

ini digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan

produk tersebut (Sudaryono, 2013:11).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan model DDD-E (Decide, Design,

Develop, Evaluate). Model ini adalah salah satu model desain pembelajaran yang

digunakan dalam mengembangkan multimedia pembelajaran. Pemilihan model

ini didasarkan juga pada prosedur model pengembangan yang dinilai lebih

sederhana daripada model pengembangan yang lain. Namun, meskipun dinilai

sederhana langkah-langkah yang tercantum dalam model pengembangan ini

memuat keseluruhan dari prosedur penelitian dan pengembangan secara umum

yang harus dilaksanakan oleh peneliti. Pengembangan multimedia menggunakan

DDD-E terdiri atas :

1. Decide atau menetapkan tujuan dan materi program, pada tahap ini memiliki
4 fase, yaitu : (1) Menetapkan tujuan pembelajaran; (2) Menentukan tema atau
ruang lingkup multimedia; (3) Mengembangkan kemampuan prasarat; (4)
Menilai sumber daya.
2. Design atau desain yaitu membuat struktur program, terdapat 4 fase dalam
tahap ini, yaitu : (1) membuat outline konten; (2) Membuat Flowchart; (3)
Membuat tampilan; (4) Membuat storyboard.
3. Develop atau mengembangkan yaitu memproduksi elemen media dan
membuat tampilan multimedia.
4. Evaluate atau mengevaluasi yaitu mengecek seluruh proses desain dan
pengembangan (Tegeh, 2014:16).

34
35

DECIDE

Menentukan Tujuan
Menentukan Materi
Melakukan Penelitian awal

DESIGN Membuat

Flowchart
Mendesain Tampilan (interface)
Membuat Storyboard E
E

UAT
VAL
DEVELOP
VAL
UAT E
E
Au
An Vid Gam
d
im io eo b asi
ar

Penggabungan

EVALUATE

Gambar 3.1 Langkah-langkah Model DDD-E


(Sumber : I Made Tegeh, 2014: 16)

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan


penelitian menggunakan model DDD-E terdapat 4 langkah prosedur

pengembangan. Keempat langkah utama tersebut adalah :

1. Tahap Decide

a) Menentukan Tujuan Pembelajaran


Untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal ada banyak faktor yang

dapat mempengaruhi. Salah satu pengaruh ketercapaian tujuan dapat ditinjau

berdasarkan karakteristik siswa kelas V SD yang cenderung masih senang

bermain, bergerak, dan merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.

Maka, dengan adanya bahan ajar interaktif ini diharapkan siswa dapat belajar

secara mandiri dan terpadu.

b) Menentukan Tema atau Ruang Lingkup Multimedia

Peneliti memilih tema 8 subtema 1 tentang ekosistem dengan alasan pada

materi ekosistem lebih membutuhkan simulasi atau penggambaran secara

nyata untuk menghadirkan komponen-komponen ekosistem ke dalam proses

pembelajaran di dalam kelas melalui gambar, video ataupun animasi.

Pembuatan simulasi ini dengan menggunakan bantuan software flash yang

dapat menggabungkan teks, audio, gambar, video, maupun animasi menjadi

kesatuan bahan ajar yang bermanfaat dan efektif dalam penggunaannya.

c) Mengembangkan Kemampuan Prasyarat

Siswa-siswi SDN Lowokwaru 2 Kota Malang mendapatkan mata pelajaran

TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sebanyak 2 jam pelajaran pada

setiap minggu. Siswa telah memahami dan dapat mempraktikkan dengan baik

cara mengoperasikan komputer. Dimulai saat menghidupkan komputer,

menjalankan program komputer (software) seperti Microsoft word hingga

menerapkan cara mematikan komputer dengan cara yang baik dan benar.

d) Menilai Sumber Daya

Berdasarkan observasi di SDN Lowokwaru 2 Kota Malang, SD ini memiliki

fasilitas laboratorium komputer yang memadai, terdapat 20 unit komputer


yang tersedia dan dapat dipergunakan secara maksimal. Selain itu, ruang kelas

juga telah dilengkapi dengan fasilitas LCD dan proyektor untuk menunjang

keefektifan proses pembelajaran.

2. Tahap Design

a) Membuat Outline Konten

Pembuatan bahan ajar interaktif e-modul ini bertujuan agar siswa lebih mudah

memahami materi karena dari multimedia interaktif ini memungkinkan siswa

untuk berinteraksi langsung. Bahan ajar multimedia interaktif ini memiliki

gambar-gambar, animasi, backsound dan soal yang hasilnya dapat langsung

diketahui siswa dan guru. Selain itu, multimedia interaktif ini sangat praktis,

karena dapat dibawa oleh siswa dan dapat dipelajari dirumah. Multimedia

interaktif ini juga dapat menguji kemampuan dan pemahaman siswa secara

mandiri melalui tes atau soal-soal latihan yang telah tersedia dalam bahan ajar

tersebut.

b) Membuat Flowchart

Kompetensi
Intro Log In Home
Inti

Tujuan Kompetensi
Materi Pembelajaran Dasar

Latihan Soal Ulangan Renungan

Gambar 3.2 Flowchart program bahan ajar interaktif e-modul


c) Mendesain Tampilan

1) Tampilan Home

JUDUL

Navigasi Navigasi
Navigasi
Navigasi
Navigasi Navigasi
Navigasi
Navigasi
Navigasi
Navigasi Navigasi

Gambar 3.3 Tampilan desain home pada bahan ajar interaktif e-modul

2) Tampilan Menu

JUDUL

Teks, Gambar, Video, Animasi

Navigasi

Gambar 3.4 Tampilan desain menu pada bahan ajar interaktif e-modul
d) Membuat Storyboard

Storyboard berisi semua informasi yang akan tampil pada layar dan informasi

pendukung yang akan membantu pengembang multimedia dalam

mengembangkan komponen multimedia.

3. Tahap Develop

Tahap ketiga dari model DDD-E adalah pengembangan, yang meliputi

produksi atau penggabungan dan penyusunan komponen media seperti teks,

gambar, video, animasi dan audio menjadi bagian-bagian yang terintegrasi.

4. Tahap Evaluate

Evaluasi dalam model DDD-E dilakukan pada setiap tahap pengembangan

atau evaluasi formatif. Tidak hanya pada produk akhir, evaluasi dilakukan

mulai tahap decide, design dan develop. Pada tahap decide dilakukan

penilaian terhadap ketetapan antara topik dengan multimedia dan kelayakan

hasil observasi awal untuk memastikan kecocokan produk multimedia sebagai

solusi mengatasi masalah pembelajaran. Pada tahap decide ini kegiatan

evaluasi membutuhkan seorang ahli yang biasanya disebut sebagai ahli materi

dan ahli pembelajaran.

Selanjutnya adalah evaluasi pada tahap design dan develop. Tahap design

dilakukan penilaian terhadap dokumen multimedia yaitu outline konten,

flowchart, tampilan interface dan storyboard dan pada tahap develop

dilakukan penilaian terhadap elemen-elemen multimedia yaitu gambar, teks,

video, audio, dan animasi. Kegiatan evaluasi pada tahap develop juga

membutuhkan seorang ahli yang biasanya disebut sebagai ahli media.


Ahli materi, ahli media dan ahli pembelajaran ini berfungsi membantu

menjadi validator untuk melihat sejauh mana kelayakan bahan ajar interaktif

e-modul dalam pembelajaran, serta melihat pula sejauh mana peran dari bahan

ajar ini terhadap pemahaman materi oleh siswa.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Lowokwaru 2 yang beralamat di Jl.

Tretes no. 3 Malang. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April 2017.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar interaktif e-modul ini

adalah berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil

wawancara terhadap guru terkait analisis kebutuhan siswa, saran dan komentar

validator materi maupun validator media, saran dan komentar wali kelas maupun

siswa sendiri. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes (pretest dan postest),

validasi ahli yaitu ahli materi dan ahli media, serta ahli pembelajaran (wali kelas).

Penelitian ini akan menggunakan teknik pengambilan sampel Purposive

Sampling dengan subjek 20 siswa kelas V-A yang terdiri dari 5 siswa kemampuan

tinggi, 10 siswa kemampuan sedang dan 5 siswa kemampuan rendah. Hal ini

didasari pada jumlah siswa berkemampuan rendah dan tinggi lebih sedikit

daripada jumlah siswa yang berkemampuan sedang. Selain itu, untuk menguji

ketepatan, kesesuaian dan kemudahan pengoperasian bahan ajar ini haruslah

diujicobakan untuk seluruh siswa dengan kemampuan yang bervariasi tersebut.


E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang akan digunakan sebagai pengumpulan data adalah angket

(kuisioner). Angket atau kuisioner merupakan teknik atau cara pengumpulan data

secara tidak langsung (Peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden).

Angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono,

2012 : 142).

Angket digunakan untuk mengukur kelayakan produk yang dikembangkan

ditinjau dari berbagai aspek. Dalam penelitian ini, angket digunakan untuk

memperoleh data dari ahli media, ahli materi serta dari guru kelas. Pengumpulan

data menggunakan angket salah satu caranya ialah dengan mendapatkan validasi

instrumen dengan menyusun kisi-kisi sebagai acuan dalam menyusun pertanyaan.

Sedangkan pedoman wawancara digunakan untuk menganalisis kebutuhan guru

dan siswa yang berisi pertanyaan terbuka.

Angket kelayakan produk dalam penelitian ini menggunakan skala deskriptif

mengikuti skala sikap dari Likert. Skala deskriptif dari Likert berupa pertanyaan

atau pernyataan yang jawabannya berbentuk skala persetujuan atau penolakan

terhadap pertanyaan atau pernyataan. Pernyataan atau penolakan dinyatakan

dalam persetujuan, yang dimulai dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju

hingga sangat tidak setuju (Syaodih, 2013:225).

Berikut merupakan kisi-kisi angket yang aka n digunakan dalam penelitian :


a. Angket untuk ahli materi

Tabel 3.1 Kisi-kisi angket penilaian ahli materi

NO ASPEK INDIKATOR BUTIR


1. Kesesuaian Materi Kesesuaian materi dengan kompetensi inti dan kompetensi
1
dasar
Kesesuaian indikator dengan kompetensi inti dan
1
kompetensi dasar
Konsistensi antara materi dan evaluasi dengan kompetensi 1
dasar dan indikator
Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran 1
2. Ketepatan dan Ketepatan cakupan materi
Kejelasan materi 1

Kejelasan konsep materi 1


Kemudahan pemahaman materi 1
Penyampaian materi yang sistematis 1
Daya tarik materi 1
Kesesuaian keabstrakan konsep dengan perkembangan
kognitif siswa 1
Kelengkapan materi 1
3. Evaluasi atau Kesesuaian latihan soal dengan kompetensi dasar dan
latihan soal indikator 1

Petunjuk latihan soal mudah dipahami 1


Pemberian latihan soal mengukur kemampuan siswa 1
Kebenaran konsep soal 1
Soal bervariasi 1
1
Variasi tingkat kesulitan soal
4. Bahasa Penggunaan bahasa yang tepat dan konsisten 1
Kemudahan pemahaman bahasa 1
5. Efek bagi Menambah wawasan dan pengetahuan siswa 1
pengguna

Memberikan dukungan pada latihan kemandirian siswa 1

TOTAL BUTIR INSTRUMEN 22

b. Angket untuk ahli media

Tabel 3.2 Kisi-kisi angket penilaian ahli media

No Aspek Indikator Butir


1. Tampilan visual Kesesuaian pemilihan warna 1
Kesesuaian pemilihan jenis huruf 1
Kesesuaian pemilihan ukuran huruf 1
Kesesuaian pemilihan background 1
Kesesuaian pemilihan backsound 1
Kemenarikan desain 1
Kesesuaian pemilihan gambar 1
2. Efektifitas produk Kemudahan pemakaian 1
No Aspek Indikator Butir
Kejelasan petunjuk 1
Kejelasam navigasi 1
3. Bahasa Penggunaan bahasa yang tepat dan konsisten 1
Kemudahan pemahaman bahasa 1
4. Efek bagi pengguna Menambah wawasan dan pengetahuan siswa 1
Memberikan dukungan pada latihan kemandirian sisw a
1
Total Butir Instrumen 14

c. Angket untuk ahli pembelajaran (guru kelas)

Tabel 3.3 Kisi-kisi angket penilaian guru kelas

NO ASPEK INDIKATOR BUTI R


1. Pengorganisasian Kejelasan muatan materi 1
materi
Kemenarikan muatan materi 1
Kelengkapan materi 1
Kemudahan memahami materi 1
2. Evaluasi atau latihan Kesesuaian soal dengan materi pembelajaran 1
soal
Kejelasan petunjuk pengerjaan 1
Keterjangkauan Tingkat kesulitan soal 1
3. Produk bahan ajar Kemudahan dalam penggunaan 1

Kejelasan navigasi 1
Tampilan menarik 1
Kesesuaian pemilihan jenis dan ukuran huruf 1
Tingkat kemenarikan ilustrasi gambar pada tampilan 1
program pembelajaran interaktif
Kesesuaian pemilihan backsound 1
Kesesuaian pemilihan warna 1
Kemasan penyajian animasi dan gambar 1
4. Bahasa Penggunaan bahasa yang tepat dan konsisten 1
Kemudahan pemahaman bahasa 1
5. Efek bagi pengguna Menambah wawasan dan pengetahuan siswa 1
Memberikan dukungan pada latihan kemandirian siswa 1
Total Butir Instrumen 19

d. Angket untuk responden (siswa)

Tabel 3.4 Kisi-kisi angket penilaian guru kelas

NO ASPEK INDIKATOR BUTIR


1. Produk bahan ajar Tampilan manarik 1
Kejelasan navigasi 1
Kejelasan petunjuk 1
Kemudahan pengoperasian 1
Bahasa mudah dipahami 1
2. Efek bagi pengguna Menambah wawasan dan pengetahuan siswa 1
Memberikan dukungan pada latihan kemandirian siswa 1
Menambah minat siswa untuk belajar 1
Total Butir Instrumen 8

F. Teknik Analisis Data

1. Kelayakan Produk

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah

analisis data deskriptif kualitatif dan analisis data deskriptif kuantitatif. Analisis

data kualitatif diperoleh dari analisis kebutuhan, berupa pertanyaan dalam angket

dan wawancara, saran dan kritik dari ahli materi/isi dan ahli media, saran dan

kritik dari guru tematik serta siswa.

Analisis data deskriptif kuantitatif diperoleh dari instrumen penilaian dari

hasil validasi materi, validasi media, dan guru kelas yang sudah diolah dan pada

akhirnya akan dideskripsikan secara kualitatif. Data dari angket merupakan data

kualitatif yang dikuantitatifkan melalui skala Likert yang memiliki 5 tingkat

kriteria (Syaodih, 2013:225).

Tabel 3.5 Ketentuan Pemberian Skor

TINGKAT KRITERIA SKOR


Sangat Baik 4
Baik (B)
Cukup (C) 3
Kurang (K) 2
Sangat Kurang (SK) 1
(Sumber : Syaodih, 2013:225)
Kemudian setiap angket, masing-masing dianalisis untuk menentukan

persentase kelayakan skor setiap indikator dengan rumus sebagai berikut :


Keterangan :

= Persentase kelayakan

Σxi = jumlah skor jawaban penilaian dari validator

Σxj = jumlah skor jawaban tertinggi (Eviani, 2012:35).

Untuk dapat memberikan makna dan mengambil keputusan dari analisis

data pada tingkat kelayakan digunakan skala kualifikasi. Skala kualifikasi tersebut

adalah sebagai berikut (dengan pembulatan keatas dan kebawah) :

Tabel 3.6 Skala kualifikasi tingkat kelayakan

NO PERSENTASE KUALIFIKASI KEPUTUSAN


1 0-54% Tidak Layak Revisi Total
2 55-64% Kurang Layak Perlu Revisi
3 65-79% Cukup Layak Perlu Revisi
4 80-89% Layak Tidak Perlu Revisi
5 90-100% Sangat Layak Tidak Perlu Revisi
(Sumber : Eviani, 2012:35)

2. Efektivitas Produk

Untuk mengetahui efektivitas dari penggunaan bahan ajar interaktif e-modul

berbasis flash ini menggunakan uji paired sample t test dengan bantuan software

SPSS. Paired sample t test digunakan untuk melakukan uji beda dua sampel

berpasangan yang memiliki rata-rata yang secara nyata berbeda atau tidak

(Hidayat, 2011:88).
Hipotesis :

H0 = rata-rata nilai pretest dan posttest adalah sama (tidak terdapat perbedaan nilai

yang signifikan antara nilai pretest dan posttest penggunaan bahan ajar

interaktif e-modul berbasis flash dalam pembelajaran. Atau dapat dikatakan

dengan bahan ajar interaktif e-modul berbasis flash adalah tidak efektif).

H1 = rata-rata nilai pretest dan posttest adalah berbeda (terdapat perbedaan nilai

yang signifikan antara nilai pretest dan posttest penggunaan bahan ajar

interaktif e-modul berbasis flash dalam pembelajaran, atau dapat dikatakan

dengan bahan ajar interaktif e-modul berbasis flash adalah efektif).

Jika nilai signifikansi probabilitas lebih besar dari α = 0,05, maka H0

diterima. Sebaliknya, apabila nilai signifikansi probabilitas lebih kecil dari α =

0,05, maka H0 ditolak atau H1 diterima.

Tabel 3.7 hipotesis uji paired samples t test

HIPOTESIS NILAI SIG KETERANGAN

H0 diterima Prob > 0,05 rata-rata nilai pretest dan posttest adalah sama (tidak terdapat perb edaan

nilai yang signifikan antara nilai pretest dan posttest penggunaan bahan

ajar interaktif e-modul berbasis flash dalam pembelajaran. Atau dapat

dikatakan dengan bahan ajar interaktif e-modul berbasis flash adalah tidak

efektif).

H1 Diterima Prob < 0,05 rata-rata nilai pretest dan posttest adalah berbeda (terdapat perbedaan nilai

yang signifikan antara nilai pretest dan posttest penggunaan bahan

ajar
interaktif e-modul berbasis flash dalam pembelajaran, atau dapat dikatakan

dengan bahan ajar interaktif e-modul berbasis flash adalah efektif).

Anda mungkin juga menyukai