0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan8 halaman

Hukum Internasional vs Transnasional

Tugas tutorial 1 membahas perbedaan hukum internasional dan transnasional, sifat dan hakikat hukum internasional, serta teori-teori yang mendasari pemberlakuan hukum internasional. Hukum internasional mengatur hubungan antarnegara sedangkan hukum transnasional mengatur tindak pidana lintas negara. Hukum internasional bersifat sukarela dan didasarkan pada kesetaraan negara. Teori-teori yang mendasari hukum internasional antara lain

Diunggah oleh

Rahmatun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan8 halaman

Hukum Internasional vs Transnasional

Tugas tutorial 1 membahas perbedaan hukum internasional dan transnasional, sifat dan hakikat hukum internasional, serta teori-teori yang mendasari pemberlakuan hukum internasional. Hukum internasional mengatur hubungan antarnegara sedangkan hukum transnasional mengatur tindak pidana lintas negara. Hukum internasional bersifat sukarela dan didasarkan pada kesetaraan negara. Teori-teori yang mendasari hukum internasional antara lain

Diunggah oleh

Rahmatun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Tutorial 1

Internasional /HKUM4206

Nama: Riyan Sriadi

Nim: 041043169

Kelas: A

1. Apa yang dimaksud dengan hukum internasional dan jelaskan perbedaannya


dengan hukum transnasional?
a. Hukum Internasional
Hukum ini memiliki usia yang tua, karena sudah berada sejak zaman
Romawi. Dalam masa tersebut, produk hukum ini disebut ius gentium.
Dan bisa dapat diartikan sebagai law of nations dalam bahasa inggrisnya.
Menurut para ahli, hukum internasional berarti keseluruhan kaidah
dan asas-asas hukum publik internasional yang mengatur hubungan dan
persoalan yang melintasi batas negara dengan negara, negara dengan
subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan negara dengan
satu sama lainnya.
Sehingga hukum ini mengikat subjek hukum internasional yaitu negara
atau bukan negara dan pelaksanaan fungsi lembaga dan organisasi
internasional yang melintasi negara bertujuan untuk melindungi
kedaulatan rakyat. Pada sistem hukum internasional juga terdapat hukum
perdata internasional. Sehingga dijelaskan bahwa keseluruhan kaidah dan
asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang bukan bersifat
perdata yang melintasi batas negara yang diadakan oleh negara dengan
negara maupun negara dengan subjek hukum bukan negara. Dan yang
menjadi pembeda paling kentara adalah asas yang terdapat di hukum
internasional, yang terdiri dari :
 Asas Teritorial.
 Asas Kebangsaan.
 Asas Kepentingan Umum.
b. Hukum Transnasional
Hukum ini dapat diartikan sebagai norma-norma hukum yang berlaku di
dalam wilayah suatu negara atau negara lain, tetapi akibat yang
ditimbulkannya terjadi di negara lain atau tindak pidana yang pelakunya
berada terpencar di wilayah dua negara atau lebih, dan melakukan satu
atau lebih tindak pidana baik pelaku maupun tindak pidananya itu sendiri
saling berhubungan, yang dampaknya dirasakan pada satu negara atau
lebih. Sehingga orang yang melakukan kejahatan tidak mesti secara psikis
berada di Indonesia, tetapi deliknya terjadi di wilayah Indonesia.
Asas Hukum Transnasional harus memperhatikan hukum internasional,
sebagaimana yang diatur di Pasal 9 KUHP, yang berbunyi bahwa penegak
hukum di Indonesia termasuk juga pembentuk unsur-unsur
konstitusi undang-undang harus memahami dengan sungguh kekuatan
hukum mengikat dari suatu perjanjian internasional yang telah diratifikasi
oleh Indonesia. Dan secara karakteristik akan terlihat Hukum
Transnasional akan berbeda dengan Hukum Internasional, berikut
penjelasannya:
 Dilakukan di suatu negara namun bagian penting dari persiapan,
perencanaan, pengarahan atau pengendalian dilakukan di negara lain.
 Dilakukan dalam lebih dari satu negara.
 Dilakukan dalam suatu negara yang melibatkan suatu kelompok
kriminal terorganisir yang terlibat dalam aktivitas kejahatan lebih dari
satu negara, atau
 Dilakukan dalam satu negara namun memiliki efek penting dalam
negara lainnya.
Penjelasan di atas bisa kita lihat bahwa perbedaan Hukum Internasional
dan Hukum Transnasional terlihat jelas dan akan lebih mudah dipahami.

2. Jelaskan sifat dan hakikat dari hukum internasional?


a. Sifat hukum internasional:
1) HI tidak bersifat sub-ordinatif seperti hukum nasional
2) Sub-ordinatif adalah adanya hubungan tinggi rendah antara rakyat
dengan penguasa, jadi rakyat dipaksa untuk mentaati hukum
3)  HI dilandasi oleh persamaan kedudukan antara anggota masyarakat
bangsa-bangsa
4)  PBB sebagai organisasi Internasional terbesar bukan sebagai “badan
supranasionalis” yang bisa memaksa karena keanggotaan PBB juga
bersifat suka rela
b. Hakikat hukum internasional:
Pada umumnya hukum internasional diartikan sebagai himpunan
peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang mengikat serta
mengatur hubungan antara negara-negara dan subjek-subjek hukum
lainnya dalam kehidupan masyarakat internasional. Definisi hukum
internasional yang diberikan oleh para pakar-pakar hukum terkena dan
brierly, terbatas pada negara sebagi satu-satunya pelaku hukum dan tidak
memasukkan subjek hukum lainnya. Namun dengan perkembangan pesat
ilmu pengetahuan dan teknologi pada paruh kedua abad 20 dan pola
hubungan internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian
meluas sehingga hukum internasional juga mengurusi struktur dan
perilaku organisasi  internasional, kelompok-kelompok supranasional, dan
gerakan-pembebasan pembebasan nasional. Bahkan, dalam hal tertentu,
hukum internasional juga diberlakukan terhadap individu-individu dalam
hubungannya dengan negara-negara. Sedangkan menurut pendapat Prof.
Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H.  Hukum Internasional adalah
keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum dan mengatur hubungan
atau persoalan yang melintasi batas-batas negara yaitu hubungan
internasional yang tidak bersifat perdata. Selain itu hukum Internasional
dapat didefinisikan sebagai keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar
terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perilaku yang terhadapnya
negara-negara merasa dirinya terikat untuk menaati dan karenanya benar-
benar ditaati secara umum dalam hubungan-hubungan mereka satu sama
lain, dan meliputi juga:
 Kaidah-kaidah hukum yang berkaitan dengan berfungsinya lembaga-
lembaga atau organisasi-organisasi internasional, hubungan-hubungan
antara mereka satu sama lain, dan hubungan mereka dengan negara-
negara dan individu-individu,
 Kaidah-kaidah hukum tertentu yang berkaitan dengan individu-individu
dan badan-badan non-negara sejauh hak-hak dan kewajiban individu
dan badan non-negara tersebut penting bagi masyarakat internasional. 

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hukum


internasional adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas
berskala internasionalatau merupakan keseluruhan kaedah dan asas yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara
negara dengan Negara serta negara dengan subyek hukum lain bukan
negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain

3. Jelaskan apa saja teori-teori yang mendasari pemberlakuan hukum


internasional?
a. Teori Hukum Alam/ Hukum Kodrat
Dalam teori hukum alam ini ciri keagamaan sangat kuat, namun setelah itu
oleh Grotius dilepaskan dari hubungannya dengan keagamaan. Disini
hukum alam diartikan sebagia hukum yang ideal yang didasarkan atas
hakekat manusia sebagai mahluk yang berakal atau satuan kaidah yang
diilhamkan alam pada akal manusia. Kelemahan teori hukum Alam adalah
sangat samar dan tergantung pada pendapat subjektif dari yang
bersangkutan mengenai keadilan, kepentingan masyarakat Internasional
dan konsep lain yang serupa.
b. Teori Kemauan Negara (state will theory)
Teori ini menjelaskan bahwa negaralah yang merupakan sumber segala
hukum dan hukum internasional mengikat karena kemauan negara
sendirilah yang mau tunduk dengan hukum internasional. Kelemahan dari
teori ini adalah tidak dapat menjawab suatu pertanyaan, mengapa suatu
negara baru, sejak munculnya dalam masyarakat internasional sudah
terikat oleh hukum internasional, lepas dari mau atau tidak maunya ia
tunduk padanya.
c. Teori Kemauan Bersama Negara(Common Will Theory, Vereinbarung
Theorie)
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa Hukum internasional mengikat
negara-negara bukan karena kehendak masing-masing negara untuk
tunduk pada hukum internasional, melainkan karena adanya suatu
kehendak bersama negara-negara untuk tunduk pada hukum internasional.
Kehendak bersama ini dinamakan vereinbarung. Kelemahan teori ini
adalah kekuatan dasar mengikat hukum berdasarkan kehendak subjek
hukum itu tidak dapat diterima.
d. Norma Hukum (Mazhab Wina)
Teori ini menjelaskan bahwa, pada dasarnya dasar mengikatnya hukum
internasional bukanlah merupakan kehendak negara melainkan
berdasarkan pada norma hukum. Suatu kaidah pada dasarnya didasarkan
pada kaidah yang lebih tinggi diatasnya begitu pula seterusnya. Dan segala
sesuatunya dikembalikan kepada kaidah dasar, dan kaidah dasar yang
dianut oleh mazhab ini adlah asas “pacta sun servanda”. Kelemahan dari
teori ini adalah tidak dapat menjawab mengapa kaidah dasar itu sendiri
mengikat. Ini mengakibatkan sistem yang tadinya logis menjadi
tergantung di awang-awang, karena tidak mungkin persoalan kekuatan
mengikatnya hukum internasional itu didasrkan pada suatu hipotesa.
e. Fait Social (Mazhab Perancis)
Mazhab Perancis ini mendasarkan mengikatnya suatu hukum termasuk
hukum Internasional pada faktor-faktor biologis, sosial dan sejarah
kehidupan manusia yang oleh mereka diberi nama “fakta-fakta
internasional”(fait social). Jadi dasar kekuatan mengikatnya hukum
internasional terdapat dalam kenyataan sosial bahwa mengikatnya hukum
itu mutlak perlu, bagi dapat terpenuhinya kebutuhan manusia (bangsa)
untuk bermasyarakat.
f. Pandangan Starke
Menurut starke unsur pokok yang memperkuat sifat wajib aturan-aturan
hukum internasional adalah fakta empiris bahwa negara-negara mau
bersihkeras mempertahankan hak-haknya menurut aturan-aturan tersebut
terhadap negara yang dianggapnya seharusnya menaati aturan-aturan itu.
Dengan kata lain, sekurang-kurangnya sampai batas tertentu, masalah
kekuatan mengikatnya hukum internasional pada akhirnya meluluhkan
dirinya kedalam masalah yang tidak berbeda dari masalah sifat memaksa
hukum pada umumnya.

4. Menurut pendapat anda bagaimanakah kekuatan mengikat hukum


internasional?
Menurut saya teori yang sesuai dengan mengikatnya hukum internasional saat
ini adalah pandangan yang dikemukakan oleh Starke. Beliau berpendapat
bahwa unsur pokok yang memperkuat sifat wajib aturan-aturan hukum
internasional adalah fakta empiris bahwa negara-negara mau bersihkeras
mempertahankan hak-haknya menurut aturan-aturan tersebut terhadap negara
yang dianggapnya seharusnya menaati aturan-aturan itu. Demikianlah yang
terjadi saat ini. Nrgara-negar adidaya seperti Amerika Serikat, Uni Soviet,
Perancis dll yang mempunyai hak veto di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) yang selama ini di kenal sebagai Lembaga Internasional paling
terkemuka didunia ini tentunya justru membawa beberapa negara adidaya
diatas untuk semakin menindas negara-negara lemah untuk kepentingan
negara tertentu saja. Misalnya saja yang terjadi di Palestina dari dulu sampai
sekarang. Betapa Mahkamah Internasional tidak berkutik dan asyik menonton
Israel yang selalu mengagresi Palestina. Israel seperti yang kita ketahui adalah
negara yang cukup penting bagi Amerika karena banyak sekali saham besar
seperti unilever, danone dll yang ternyata pemegang saham terbesarnya adalah
Israel. Walaupun tidak masuk akal Amerika terbukti melindungi Israel, hal ini
di karenakan pengaruh Israel yang sangat kuat pada berbagai sentral-kapital
(pusat modal) seperti MNC dan TNC (Multi National Corporation dan Trans
National Corporation) serta organisasi multilateral yang menopang sistem
ekonomi internasional yang kapitalis seperti WTO(World Trade
Organization), IMF (International Monetery Fund) atau World Bank yang
ketiganya sering disebut “The Three Sisters”(Shofwan Al Banna.2005:10).
Bukti diatas mengungkap bahwa Hukum Internasional hanya dijadikan alat
oleh para penguasa yang memegang hukum itu untuk melancarkan
kepentingannya seperti halnya hukum pada umumnya. Seperi apa yang di
katakan Starke bahwa” sekurang-kurangnya sampai batas tertentu, masalah
kekuatan mengikatnya hukum internasional pada akhirnya meluluhkan dirinya
kedalam masalah yang tidak berbeda dari masalah sifat memaksa hukum pada
umumnya.” Padahal menurut saya berlakunya hukum internasional itu
idealnya seperti yang dijelaskan oleh teori fait social atau mazhab Perancis
yang mendasarkan mengikatnya suatu hukum termasuk hukum Internasional
pada faktor-faktor biologis, sosial dan sejarah kehidupan manusia yang oleh
mereka diberi nama “fakta-fakta internasional”(fait social). Jadi dasar
kekuatan mengikatnya hukum internasional terdapat dalam kenyataan sosial
bahwa mengikatnya hukum itu mutlak perlu, bagi dapat terpenuhinya
kebutuhan manusia (bangsa) untuk bermasyarakat. Jika demikian tentunya
rakyat internasional akan damai dan sejahtera tidak ditindas oleh negara-
negara tertentu yang mendahulukan kepentingan negaranya sendiri bukan
kepentingan sosial.

Anda mungkin juga menyukai