Apendisitis Perforasi dan Laparotomi
Apendisitis Perforasi dan Laparotomi
1. Apendisitis
1. Anatomi Fisiologi
Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung. Dimana
panjang dari organ ini kira-kira 10 cm (kisaran 3-15cm) dan organ ini
berpangkal di sekum. Dibagian proksimal dari lumennya sempit,
sedangkan dibagian distal melebar. Namun pada bayi, apendiks
berbentuk kerucut, lebar pada bagian pangkal dan mengecil pada
arah ujungnya. Pada 65% kasus, apendiks terletak di
intraperitoneal dan pada kasus selebihnya apendiks terletak di
retroperitoneal, yaitu dibelakang sekum, di belakang kolon asendens,
atau di tepi lateral kolon asendens
Persarafan parasimpatis dari apendiks berasal dari cabang
nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri
apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus
torakalis X. maka dari itu, apabila pasien yang menderita apendisitis,
nyeri yang dirasakan pasien bermula di sekitar umbilikus. Untuk
peredaran darah apendiks berasal dari arteri apendikularis yang
merupakan arteri tanpa kolateral
Apendiks dapat menghasilkan lendir sekitar 1-2 ml per hari.
Lendir tersebut normalnya di hantarkan ke dalam lumen dan
selanjutnya akan mengalir ke dalam sekum. IgA (Imunoglobulin A)
yang sangat efektif dalam perlindungan terhadap infeksi ditemukan
juga di apendiks. Namun, seandainya pengangkatan apendiks
dilakukan, sistem imun tubuh tidak terpengaruh, hal ini dikarenakan
jumlah jaringan limfe di organ ini kecil sekali jika dibandingkan
dengan jumlahnya di saluran cerna
2. Definisi
Apendisitis adalah suatu proses obstruksi yang disebabkan oleh
benda asing batu feses kemudian terjadi proses infeksi dan disusul oleh
peradangan dari apendiks verivormis (Nugroho, 2011).
Apendisitis merupakan peradangan yang berbahaya jika tidak
ditangani segera bisa menyebabkan pecahnya lumen usus (Williams
& Wilkins, 2011). Apendisitis adalah suatu peradangan yang
berbentuk cacing yang berlokasi dekat ileosekal (Reksoprojo, 2010).
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu
atau umbai cacing. Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut
sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah
komplikasi yang umumnya berbahaya (Sjamsuhidajat, 2010).
3. Etiologi
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi
ada factor prediposisi yaitu:
a. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya
obstruksi ini terjadi karena:
1) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak.
2) Adanya faekolit dalam lumen appendiks
3) Adanya benda asing seperti biji-bijian
4) Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan
jaringan limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
1) Appendik yang terlalu panjang
2) Massa appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks
4. Klasifikasi
a. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis
akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan
diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
1) Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
2) Fekalit
3) Benda asing
4) Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan
tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding
apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan
pus / nanah pada dinding apendiks. Selain obstruksi, apendisitis
juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang
kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks.
b. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks
dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan
edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan
di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan
rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik
Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif.
Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai
dengan tanda-tanda peritonitis umum.
c. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika
dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari
dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan
mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis
menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen
apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan
infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5
persen.
d. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong
dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut.
Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk
aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk
terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis
rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang diperiksa secara
patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi
karena sering penderita datang dalam serangan akut.
e. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang
berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang
biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan
tertimbun tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat
disebabkan oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi
ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa
tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang
di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul
tanda apendisitis akut. Pengobatannya adalah apendiktomi.
f. Tumor Apendiks/Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan
sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa
metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan
yang akan memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding
hanya apendektomi.
g. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini
jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan
pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan
diagnosis prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa
rangsangan kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena
spasme bronkus, dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6%
kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang
menyebabkan gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata
bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga
diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks
menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan
operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan
5. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur
karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak,
namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa
lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum
lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,
2007) .
6. Manifestasi Klinis
a. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
b. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
c. Nyeri tekan lepas dijumpai.
d. Terdapat konstipasi atau diare.
e. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
f. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
g. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih
atau ureter.
h. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung
pelvis.
i. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
j. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai
abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
k. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi.
Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur
appendiks.
Nama pemeriksaan Tanda dan gejala
Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
sisi kanan.
Psoas sign atau Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
Obraztsova’s sign dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah
dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut
pada korda spermatic kanan
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium
atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke
kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy (Rosenstein)’s Nyeri yang semakin bertambah pada perut
sign kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan
pada sisi kiri
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif Shchetkin-
Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada
kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan tiba-
tiba
7. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis.
Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis.
Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga
medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat
merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas.
Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak kecil
dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun
dan 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada
anak-anak dan orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks
yang masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang
sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua
terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:
a. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba
massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini
mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga
bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12
jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24
jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan
gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas
lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan
leukositosis terutamapolymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik
berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan
peritonitis.
c. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi
berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.
Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan
hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok,
gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut
yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan
leukositosis.
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive
protein (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah
leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil
diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang
meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut
yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi,
dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka
sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%.
b. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed
Tomography Scanning(CT-scan). Pada pemeriksaan USG
ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi
pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan
bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari
appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran
sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan
spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai
tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang
tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.
c. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan
kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut
bawah.
d. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu
mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.
e. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk
memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.
f. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum.
Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan
pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.
g. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti
Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan
Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.
9. Penatalaksaan Medis
Pada penatalaksanaan post operasi apendiktomi dibagi menjadi tiga
(Brunner & Suddarth, 2010), yaitu
a. Sebelum operasi
1) Obsevasi
Dalam 8-12 jam setelah munculnya keluhan perlu
diobservasi ketat karena tanda dan gejala apendisitis belum
jelas. Pasien diminta tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak
boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis. Diagnosis
ditegakkan dengan lokasi nyeri pada kuadran kanan bawah
setelah timbulnya keluhan.
2) Antibiotik
Apendisitis ganggrenosa atau apenditis perforasi
memerlukan antibiotik, kecuali apendiksitis tanpa komplikasi
tidak memerlukan antibiotik. Penundaan tindakan bedah
sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau
preforasi.
b. Operasi
Operasi / pembedahan untuk mengangkat apendiks yaitu
apendiktomi. Apendiktomi harus segera dilakukan untuk
menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan
dibawah anestesi umum dengan pembedahan abdomen
bawah atau dengan laparoskopi. Laparoskopi merupakan
metode terbaru yang sangat efektif (Brunner &
Suddarth,2010)
Apendiktomi dapat dilakukan dengn menggunakan dua metode
pembedahan, yaitu secara teknik terbuka (pembedahan
konvensional laparatomi) atau dengan teknik laparoskopi yang
merupakan teknik pembedahan minimal invasive dengan
metode terbaru yang sangat efektif (Brunner & Suddarth, 2010)
1) Laparatomi
Laparatomi adalah prosedur vertical pada dinding
perut ke dalam rongga perut. Prosedur ini memungkinkan
dokter melihat dan merasakan organ dalam untuk
membuat diagnosa apa yang salah. Adanya teknik
diagnosa yang tidak invasif, laparatomi semakin
kurang digunakan dibanding terdahulu. Prosedur ini hanya
dilakukan jika semua prosedur lainnya yang tidak
membutuhkan operasi, seperti laparoskopi yang
seminimal mungkin tingkat invasifnya juga membuat
laparatomi tidak sesering terdahulu. Bila laparatomi
dilakukan, begitu organ-organ dalam dapat dilihat dalam
masalah teridentifikasi, pengobatan bedah harus segera
dilakukan.
Laparatomi dibutuhkan ketika ada kedaruratan
perut. Operasi laparatomi dilakukan bila terjadi masalah
kesehatan yang berat pada area abdomen, misalnya
trauma abdomen. Bila klien mengeluh nyeri hebat dan
gejala-gejala lain dari masalah internal yang serius dan
kemungkinan penyebabnya tidak terlihat seperti usus
buntu, tukak peptik yang berlubang, atau kondisi
ginekologi maka dilakukan operasi untuk menemukan
dan mengoreksinya sebelum terjadi keparahan lebih.
Laparatomi dapat berkembang menjadi pembedahan
besar diikuti oleh transfusi darah dan perawatan intensif
(David dkk, 2009)
2) Laparoskopi
Laparaskopi berasal dari kata lapara yaitu bagian dari
tubuh mulai dari iga paling bawah samapi dengan
panggul. Teknologi laparoskopi ini bisa digunakan untuk
melakukan pengobatan dan juga mengetahui penyakit
yang belum diketahui diagnosanya dengan jelas.
Keuntungan bedah laparoskopi :
a) Pada laparoskopi, penglihatan diperbesar 20 kali,
memudahkan dokter dalam pembedahan.
b) Secara estetika bekas luka berbeda dibanding dengan
luka operasi pasca bedah konvensional. Luka bedah
laparoskopi berukuran 3 sampai 10 mm akan hilang
kecuali klien mempunyai riwayat keloid.
c) Rasa nyeri setelah pembedahan minimal sehingga
penggunaan obat-obatan dapat diminimalkan, masa
pulih setelah pembedahan lebih cepat sehingga klien
dapat beraktivitas normal lebih cepat.
3) Setelah operasi
Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan di dalam, hipertermia, syok atau
gangguan pernafasan. Baringkan klien dalam posisi semi
fowler. Klien dikatakan baik apabila dalam 12 jam tidak
terjadi gangguan, selama itu klien dipuasakan sampai
fungsi usus kembali normal. Satu hari setelah
dilakukan operasi klien dianjurkan duduk tegak di
temmpat tidur selama 2 x 30 menit. Hari kedua dapat
dianjurkan untuk duduk di luar kamar. Hari ke tujuh dapat
diangkat dan dibolehkan pulang (Mansjoer, 2010)
B. Laparatomi
1. Anatomi Fisiologi
Dinding abdomen terdiri daripada kulit, fascia superfiscialis, lemak,
otot- otot, fascia transversalis dan parietal peritoneum (Shaikh, 2014).
Selain itu, posisi abdomen ada diantara toraks dan pelvis (Moore, 2014)
Pada abdomen, terdapat empat kuadran yang dibahagi dari
bagian midline dan bagian transumbilical (Pansky, 2013)
2. Defnisi
Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka
bagian abdomen laparatomi terbentuk dari dua kata yunani,
“Lapara” dan “Tome" kata “Lapara” berarti bagian lunak dari tubuh
yang terletak diantara tulang rusuk dan pinggul sedangkan “Tome”
berarti pemotongan, jadi laparatomi merupakan salah satu pembedahan
mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan – lapisan dinding
Abdomen untuk mendapatkan bagian organ yang mengalami masalah
seperti hemoragi, perforasi, kangker dan obstruksi (ANA, 2016).
Laparatomi adalah pembedahan yang dilakukan pada selaput
abdomen, membuka selaput yang membuat irisan vertikal besar pada
dinding perut ke dalam rongga perut operasi yang di lakukan pada
daerah abdomen. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan
merasakan organ dalam membuat diagnosis apa yang salah. Bedah
dilakukan di daerah abdomen, bedah laparatomi merupakan teknik
sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan
pada bedah digestifdan perkemihan (Lakaman, 2013).
Laparatomi merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan
suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen
(Sjamsurihidayat dan Jong, 2010). Laparatomi merupakan teknik
sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan
pada bedah digestif dan obgyn. Adapun tindakan bedah digestif yang
sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi,
gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi,
apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dan fistuloktomi.
Sedangkan tindakan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan
tindakan laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada uterus, operasi
pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi, baik
histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi
bilateral (Smeltzer, 2014).
3. Indikasi
Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur
yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh
a. Luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus & Workman,
2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
1) Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam
rongga peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka
tembak.
2) Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga
peritoneum) yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan,
ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt).
b. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa
rongga abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan
tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous
bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis
sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster
dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon
sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan penyebab
peritonitis tersier (Ignativicus & Workman, 2006).
c. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun
penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus.
Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma
dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan
keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan
pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya
dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada
area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah
pembedahan abdomen), Intusepsi (salah satu bagian dari usus
menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya akibat
penyempitan lumen usus), Volvulus (usus besar yang mempunyai
mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan
penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi
amat distensi), hernia (protrusi usus melalui area yang lemah
dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang
ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar
usus menyebabkan tekanan pada dinding usus) (Ignativicus &
Workman, 2006).
d. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada
bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari
apendisitis adalah obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya
merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan
inflamasi.
1) Tumor abdomen
2) Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
3) Abscesses (a localized area of infection)
4) Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or
surgery)
5) Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls
of the intestines)
6) Intestinal perforation
7) Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
8) Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
9) Internal bleeding (Sjamsurihidayat dan Jong, 2010).
5. Pathway
Edema Febris
Ansietas
Meningkatnya tekanan Intraluminal Kerusakan kontrol suhu
terhadap inflamasi
7. Komplikasi
a. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah
operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut
lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah
sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan
tromboplebitis yaitu latihan kaki, ambulasi dini post operasi.
b. Infeksi, infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam pasca operasi.
Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah
stapilococus aurens, organisme gram positif. Stapilococus
mengakibatkan peranahan. Untuk menghindari infeksi luka yang
paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan
aseptik dan antiseptik.
c. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
d. Ventilasi paru tidak adekuat.
e. Gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia jantung.
f. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
g. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan.(Arif Mansjoer, 2012).
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada
usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam
lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya
lesi pada saluran kencing.
b. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
c. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
c. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap
trauma saluran kencing.
d. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul
perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau
trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang
berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau
20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah
atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli
terlebih dahulu.
e. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut
dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang
dimasukkan kedalam rongga peritonium.
9. Persiapan Praoperasi
A. Penatalaksanaan Tindakan
1. Persiapan Pasien
a. Sebelum operasi
1) Identitas pasien
2) Min 2 jam sebelum operasi pasien menjalani puasa hal ini
bertujuan untuk meminimalkan terjadinya regurgitasi karena
selama anestesia refleks laring mengalami penurunan.
3) Ada tidaknya gigi palsu, pemakaian lensa kontak, atau cat
kuku
4) Pencukuran daerah operasi
5) Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin
6) Rehidrasi
7) Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan
secara intravena.
8) Pemberian jenis anastesi baik lokal maupun spinal.
9) Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti
menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh-pembuluh
darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.
10) Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
11) Informed consent (Wijayanti, 2016)
b. Komplikasi Intraoperasi
Komplikasi selama operasi bisa muncul sewaktu-waktu
selama tindakan pembedahan. Komplikasi yang paling sering
muncul berdasar (Majid,2011) adalah:
1) Hipotensi
Hipotensi yang terjadi selama pendarahan biasanya
dilakukan dengan pemberian obat- obatan tertentu (hipotensi
di induksi). Hipotensi diinginkan untuk menurunkan tekanan
darah pasien dengan tujuan menurunkan jumlah pendarahan
pada bagian yang dioperasi. Kewaspadaan perawat untuk
memantau kondisi fisiologis pasien, terudama fungsi
kardiovaskuler agar hipotensi yang tidak diinginkan tidak
muncul atau jka hipotensi yang bersifat malhipotensi bisa
segera ditangani.
2) Hipotermi
Hipotermi adalah kondisi tubuh dibawah 36,6 C (normal:
36,6-37,5 C). Hipotermi yang tidak diinginkan mungkin saja
terjadi akibat suhu rendah diruang operasi (25-26 C, infus
denga cairan yang dingin, inhalasi gass- gas dingin, kavitas
atau luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot menurun, usia
lanjut, atau obat- obatan yang digunakan. Untuk menghindari
hipotermi tidak dinginkan adalah dengan mengatur suhu
ruangan operasi 25-26 C, cairan intervena dan irigrasi
dibuat pada suhu 37 C, gaun dan selimut operasi pasien
yang basah harus segera diganti, penggunaan topi operasi
untuk mencegah hipotermi. Pencegahan ini dilakukan dari
periode intar operasi hingga pasca operasi.
3) Hipertermi malignan
Hipertermi malignan merupakan ganguan otot yang
disebabkan agen anastestik. Ketika diinduksi agen anastetik
kalsium didalam sarkoplasma akan dilepas ke membran luar
yang menyebabkan terjadinya kontraksi. Secara normal,
tubuh akan melakukan mekanisme pemompaan untuk
mengembalikan kalsium didalam kantong sarkoplasma.
Sehingga otot-otot akan kembali relaksasi. Namun pada
pasien hipertermi malignan, mekanisme ini tidak terjadi
sehingga otot terus berkontraksi dan tubuh mengalami
hipermetabolisme. Akibatnya akan terjadi kerusakan pada
sistem saraf pusat . Untuk menghindari maka diberikan
oksigen 100%, natrium dantrolen, natrium bikarbonat, dan
agen relaksan otot dan lakukan monitoring tanda- tanda vital,
EKG, elektrolit, analisa gas darah.
c. Paska operasi
1) Observasi TTV
2) Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga
aspirasi cairan lambung dapat dicegah
3) Baringkan pasien dalam supinasi
4) Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi
gangguan, selama pasien dipuasakan
5) Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan
menjadi 30 ml/[Link] harinya berikan makanan
saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
6) Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk tidak
melakukan mobilisasi selama 1x 24 jam
7) Pada hari kedua pasien dapat duduk
8) Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan
pulang.
9) Evaluasi data fokus:
a) Dilakukan pembedahan incisi diabdomen sebelah kanan
bawah
2) Monitoring Fisiologi
Monitoring fisiologi yang dilakukan oleh perawat meliputi:
a) Memantau keseimbangan cairan: penghitungan balance
cairan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan
pasien
b) Memantau kardiopulmonal: pemantauan kardiopulmonal
harus dilakukan continue meliputi fungsi pernafasan,
nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, dan pendarahan
3) Monitoring dan dukungan psikologis
a) Memberikan dukungan emosional pada paien
b) Berdiri di dekabt pasien dan memberikan sentuhan
selama prosedur induksi
c) Mengkaji status emosional pasien
d) Mengkomunikasikan status emosional pasien kepada tim
medis (jika ada perubahan)
4) Pengaturan dan koordinasi nursing care
Tindakan yang dilkukan pasien dalam mengatur dan
koordinasi asuhan keperawatan adalah:
a) Mengelola keamnan fisik
b) Mempertahankan prinsip dan teknik asepsis
b. Persiapan Dalam Kamar Operasi
1) Validasi: perawat melakukan konfirmasi kebenaran identitas
pasien sebagai dasar untuk mencocokan prosedur jenis
pembedahan yang akan dilakukan
2) Kelengkapan administrasi: Status rekam medik, data- data
penunjang (hasil laboraturium, radiologi, CT Scan, dan
informed consent)
3) Kelengkapan alat dan sarana
4) Transfusi darah (cek kesamaan golongan darah dan rhesus
pasien dengan donor)
5) Persiapan tenaga medis:
a) Operator, perawat, instrument, dan asisten operator
melakukan cuci tangan dengan air mengalir, hibiscrub
dan disikat selama 3-5 menit
b) Menggunakan gown steril yang sudah disiapkan oleh
circulating nurse
c) Memakai gloving (sarung tangan) dibantu perawat
instrument
d) Circulating nurse membuka bungkus instrument dengan
tidak menyentuh bagian yang steril dan diterima oleh
scrub nurse
e) Memasang slop meja mayo, serta diperlak dan dialasi
dengan duk steril
f) Memasang mes dan kanul suction
g) Menyiapkan betadine 10% dan alcohol 70% didalam kom
dibantu circulating nurse
h) Setelah itu mendesinfeksi dan drapping (memasang duk
steril)
i) Mendekatkan meja instrument/mayo
j) Menyambung dan memfiksasi selang suction, elektrik
couter
k) Instrument operasi dan scrub nurse telah siap
(Riyadi, 2010)
c. Persiapan Alat Habis Pakai
1) AMHP dan AMBHP
a) Alkohol 70%
b) Bisturi +handle
c) Hipavix
d) Silk no 3/0
e) Betadine 10 %
f) Sarung tangan
g) Kassa depres
h) Dermalon no 3/0
i) Botol kecil
j) NaCl
k) Sufratulle
l) SILK no 2/0
m) Chromic no 0
n) Formalin
2) AMPH Anestesi
a) Transfusi set
b) Abocath no 18
c) EKG elektroda
d) N2O
e) Spinal Needle
f) Sevorane
g) O2
h) Cairan RL
i) Cairan infus
j) Lidodex
k) Tri way
l) Spuit 3 cc, 5 cc, 10 cc
m) ET no 7
n) N2O
o) Lidocain
p) Obat pre medikasi, indikasi, dan lain- lain sesuai
kebutuhan
d. Persiapan Instrumen Bedah
1) Alat
a) Duk klem 5 buah
b) Pinset cirurgis 2 buah
c) Pinset anatomis 2 buah
d) Gunting jaringan 1 buah
e) Gunting benang 1 buah
f) Pean 10 buah
g) Kocher 4 buah
h) Steel deep 2 buah
i) Ovarium klem 1 buah
j) Needledoft 2 buah
k) Lagen beck 2 buah
l) Needle holder 3 buah
m) Klem ellis 1 buah
n) Bengkok 1 buah
o) Scapel mess no 4 1 buah
2) Linen Operasi
a) Baju operasi 3 buah
b) Duk steril 5 buah
c) Duk besar lubang 1 buah
d) Slup meja 1 buah
e) Perlak 1 buah
3) Ruang Operasi
a) Lampu penerangan ruangan yang cukup, dilengkapi
dengan lampu cadangan yang dapat segera menyala
apabila aliran listrik terhenti
b) Suhu 20- 28 C, kelembapan >50 %
c) Titik keluar listrik (electric outlet) yang dibumikan
(grounded)
d) Tempat cuci tangan dan kelengkapannya
e) Jam dinding
f) Meja operasi
g) Suction
h) Elektro cauter dan negative plat
i) Mesin anestesi
j) Tempat sampah infeksius
k) Tempat sampah medis tajam
l) Tempat instrument kotor (habis pakai)
m) Bak berisi desinfektan (salfon) untuk merendam
instrument setelah operasi, ember tertutup untuk tempat
linen kotor.
10. Diagnosa Keperawatan
1. Pre operasi
NO Diagnosa Intervensi
SLKI SIKI
. Keperawatan
1 Ansietas Setelah dilakukan Reduksi Ansietas
berhubungan asuhan keperawatann (I.09314)
penyakit kronis kepada pasien selama
progresif 1 x 24 jam, diharapkan Observasi
(D.0080) pasien dapat 1) Observasi saat tingkat
mengkontrol cemas ansietas berubah (kondisi,
dengan kriteria hasil waktu, stressor)
Definisi:
sebagai berikut: 2) Identifikasi kemampuan
Kondisi emosi mengambil keputusan
dan pengalaman Tingkat Ansietas 3) Monitor tanda- tanda
subyektif (L.09093) ansietas (verbal, nonverbal)
individu 1) Pasien
terhadap objek membervalisasikan Terapeutik
yang tidak jelas kebingungan 1) Ciptakan suasan terapeutik
dan spesifik berkurang untuk menumbuhkan
akibat antisipasi 2) Pasien kepercayaan
bahaya yang memverbalisasikan 2) Temani pasien untuk
memungkinkan kekhawatiran akibat mengurangi kecemasan
individu terapi yang 3) Pahami situasi yang
melakukan dihadapi berkurang membuat ansietas
tindakan untuk 3) Pasien melaporkan 4) Dengarkan dengan penuh
menghadapi kepada perawat perhatian
ancaman penurunan 5) Gunakan pendekatan yang
kecemasan tenang dan menyakinkan
4) Pasien tidak 6) Tempatkan barang pribadi
menunjukan yang memberi
perilaku gelisah kenyamanan
5) Klien melaporkan 7) Motivasi mengidentifikasi
kepada perawat situasi yang emicu
tidur cukup, tidak kecemasan
ada keluhan fisik 8) Diskusikan perencanaan
akibat kecemasan, realistis tentang peristiwa
dan tidak ada yang akan datang
perilaku yang
menunjukkan Edukasi
kecemasan 1) Jelaskan prosedur terasuk
sensasi yang mungkin
dialami
2) Informasikan secara factual
mengenai diagnosis,
pengobatan dan prognosis
3) Anjurkan keluarga untuk
tetap bersam pasien
4) Anjurkan melakukan
kegiatan yang tidak
kompetitif
5) Anjurkan mengungkapkan
perasaaan dna persepsi
6) Latih kegiatan pepngalihan
untuk mengurangi
ketegangan
7) Latih penggunaan
mekanisme pertahanan diri
yang tepat
8) Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian obat
antiansietas
2 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri
(D. 0077) tindakan keperawatan (I.08238)
selama 1 x 24 jam, Observasi:
Definisi: pasien mioma uteri 1) Identifikasi lokasi,
Pengalaman mampu mengontrol karakteristik, onset/durasi,
sensorik atau nyeri dibuktikan dengan frekuensi, kualitas,
emosional yang kriteria hasil: intensitas
berkaitan 2) Identifikasi skala nyeri
dengan Kontrol Nyeri
3) Identifikasi respon nyeri
kerusakan (L.08063)
nonverbal
jaringan actual
1) Melaporkan nyeri 4) Identifikasi faktor yang
atau fungsional,
dengan onset berkurang memperberat dan
mendadak atau 2) Kemampuan memeperingan nyeri
lambat dan mengenali onset 5) Identifikasi pengetahuan
berintensitas nyeri dan keyakinan tentang
ringan hingga 3) Kemampuan nyeri
berat yang mengenali 6) Identifikasi budaya
berlangsung penyebab nyeri terhadap respon nyeri
kurang dari 3 4) Kemampuan 7) Identifikasi pengaruh nyeri
bulan menggunakan terhadap kulitas hidup
teknik
8) Monitor keberhasilan terapi
nonfarmakologis
komplementer yang sudah
5) Penggunaan
analgesik diberikan
9) Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
1) Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
mengobati pasien
2) Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi
1) Jelaskan penyebab,
periode dan pemicu nyeri
mengobati pasien
2) Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3) Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4) Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
5) Ajarakan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemeberian
analgetik jika perlu
Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
(D. 0019) tindakan keperawatan (I.03119)
selama 1 x 24 jam, Observasi:
pasien mau 1) Identifikasi status nutrisi
meningkatkan porsi 2) Identifikasi makanan yang
makannya dengan disukai
kriteria hasil: 3) Identifikasi kebutuhan
kalori dan jenis nutrien
Status Nutrisi
4) Monitor asupan makanan
(L.06053)
5) Monitor hasil pemeriksaan
1) Pasien dapat laboratorium
menghabiskan ½
porsi makanan Terapeutik
yang diberikan 1) Lakukan oral hygiene
2) Verbalisasi sebelum makan
keingnan untuk 2) Sajikan makanan secara
meningkatkan menarik dengan suhu yang
nutrisi sesuai
3) Pengetahuan 3) Berikan makanan tinggi
tentang pilihan serat untuk mencegah
makanan dan konstipasi
minuman yang 4) Berikan makann tinggi
sehat dan baik kalori dan tinggi protein
untuk kehamilan
4) Tidak terjadi Edukasi
penurunan BB 1) Anjurkan makan sedikit tapi
sering
2) Anjurkan makan dengan
posisi duduk
Kolaborasi
1) Kolaborasikanpemberian
medikasi sebelum makan
2) Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena
5 Risiko Setelah dilakukan Pengontrolan infeksi (I.14551)
Disfungsi asuhan keperawatann
Mortilitas kepada pasien selama Observasi
Gastrointestinal 1 x 24 jam diharapkan 1) Identifikasi pasien –pasien
(D.0033) aktivitas yang mengalami penyakit
gastrointestinal dalam infeksi menular
normal dengan kriteria
hasil :
Terapautik
1) Terapkan kewaspadaan
Mortilitas
Gastrointestinal universal
1) Nyeri menurun 2) Tempatkan pada ruangan
2) Kram abdomen isolasi bertekanan postif
menurun bagi pasien mengalami
3) Mual menurun penurunan imunitas
4) Mutah menurun
5) Regurgitasi Edukasi
menurun 1) Ajarkan cara mencuci
6) Distensi abdomen tangan dengan benar
menurun
7) Suara peristaltic
Pencegahan Infeksi
dalam rentang
Pencegahan Infeksi
normal
8) Pegosongan (I.14539)
lambung menurun
Observasi
1) Monitir tanda dan gelaja
infeksi local dan sistemik
Terapeutik
1) Cuci tangan sebelum dan
sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan
pasien
2) Pertahankan teknik aseptik
pada pasien berisiko tinggi
Edukasi
1) Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
2) Ajarkan cara mencuci
tangan dengan benar
3) Ajarkan memriksa kondisi
luka atau luka operasi
4) Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
5) Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemeberian
imunisasi, jika perlu
2. Intra Operasi
NO Diagnosa Intervensi
SLKI SIKI
. Keperawatan
1 Resiko syok Setelah dilakukan Pencegahan Syok
Definisi: perawatan selama (I.14545)
beresiko 1x24 jam diharapkan
mengalami tidak terjadi syok Observasi:
ketidakcukupan hipovolemik dengan 1) Monitor status kardiopulmonal
aliran darah kriteria: (Frekuensi dan kekuatan nadi,
kejaringan tubuh, frekuensi napas, TD, MAP)
yang dapat Tingkat syok 2) Monitor status oksigenasi
mengakibatkan (L.03032) (oksimetri nadi, AGD)
disfungsi seluler 3) Monitor status cairan
yang 1) Tekanan darah (misalnya, rinitis, masukan
mengancam dalam batas normal. dan luaran, turgor kulit, CRT)
jiwa. 2) Tidak terjadi 4) Monitor tingkat kesadaran dan
penurunan respon pupil
Faktor resiko kesadaran 5) Perksa riwayat alergi
1) Hipotensi. 3) Tidak ada sianosis.
2) Hipovolemi 4) Suhu kulit hangat. Terapeutik
3) Hipoksemia 5) Frekuensi nadi 1) Berikan Oksigen untuk
4) Hipoksia dalam batas normal mempertahankan saturasi
5) Infeksi 6) Frekuensi napas oksigen >94%
6) Sepsis dalam batas normal 2) Persiapakan intubasi dan
7) Sindrom 7) Akral tidak pucat ventilasi mekanis jika perlu
respon dan dingin 3) Pasang jalur Iv jika perlu
inflamasi 4) Pasang kateter urin untuk
sestemik menilai produksi urin, jika
8) Pendarahan perlu
9) Trauma 5) Lakukan skin test untuk
multipel mencegah reaksi alergi
Edukasi
1) Jelaskan peyebab/faktor
resiko syok
2) Jelaskan tanda dan gejala
awal syok
3) Anjurkan melapor jika
menemukan atau
merasakan tanda gejala
awal syok
4) Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral
5) Anjurkan menghindari
allergen
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian IV,
jika perlu
2) Kolaborasi pemberian
transfuse darah, jika perlu
3) Kolaborasi pemberian
antiinflamasi, jika perlu
Kolaborasi
1) Kolaborassi pemberian
transfusi darah
[Link] Operasi
NO Diagnosa Intervensi
SLKI SIKI
. Keperawatan
1. Resiko Infeksi Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi
tindakan keperawatan (I.14539)
Definisi: selama 1 x 24 jam,
Mengalami pasien mioma uteri Observasi
peningkatan menunjukkan pasien 2) Monitir tanda dan gelaja
resiko terserang mampu melakukan infeksi local dan sistemik
organisme pencegahan infeksi
secara mandiri, Terapeutik
patogenik
ditandai dengan kriteria 3) Batasi jumlah pengunjung
hasil: 4) Cuci tangan sebelum dan
Faktor resiko: sesudah kontak dengan
1) Penyakit Tingkat Infeksi pasien dan lingkungan
kronis (L.14137) pasien
2) Efek prosedur 1) Kemerahan tidak 5) Pertahankan teknik aseptik
infasif pada pasien berisiko tinggi
3) Malnutrisi
ditemukan pada Edukasi
4) Peningkatan
tubuh 6) Jelaskan tanda dan gejala
paparan
organisme 2) Leukosit dalam infeksi
pathogen batas normal 7) Ajarkan cara mencuci
lingkungan 3) Cairan tidak tangan dengan benar
5) Kondisi berbauk busuk 8) Ajarkan memriksa kondisi
penggunaan 4) Piuria/nanah tidak luka atau luka operasi
terapi steroid ada dalam urin 9) Anjurkan meningkatkan
5) Demam berkurang asupan nutrisi
6) Nyeri berkurang 10) Anjurkan meningkatkan
7) Nafsu makan asupan cairan
meningkat
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemeberian
imunisasi, jika perlu
Edukasi
1) Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
2) Anjurkan mengkonsumsi
makanna tiinggi kalori dan
protein
3) Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian
antibiotic
3 Bersihan Jalan Setelah dilakukan Manajemen Jalan Napas
napas tidak asuhan keperawatann (I.01011)
efektif (D.0001) kepada pasien selama
1 x 24 jam diharapkan Observasi
bersihan jalan napas 1) Monitor pola napas
meningkat dengan 2) Monitor bunyi napas
kriteria hasil : tambahan
3) Monitor sputum
Bersihan Jalan Napas
(L.01001) Terapeutik
1) Batuk efektif 1) Pertahankan kepatenan
meningkat jalan napas
2) Produksi sputum 2) Posiiskan semi fowler atau
menurun fowler
3) Dispnea menurun 3) Berikan minum hangat
4) Sulit bicara 4) Lakukan fisioterapi dada,
menurun jika perlu
5) Gelisah menurun 5) Lakukan penghisapan
6) Frekuensi napas lender kurang dari 15 detik
membaik 6) Lakukan hiperoksigenasi
7) Pola napas sebelum penghisapan
membaik endotrakeal
7) Keluarkan sumbatan benda
padat dengan forsep McGill
8) Berikan Oksigen, jika perlu
Edukasi
1) Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari
2) Ajarkan teknik batuk efekif
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian
bronkodilator,ekspektoran,
mukolitik, jika perlu