0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan23 halaman

Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf

Dokumen tersebut membahas konsep anatomi dan fisiologi sistem saraf pusat khususnya otak, termasuk struktur dan fungsi otak, peredaran darah otak, serta konsep dasar penyakit perdarahan intra serebral. Perdarahan intra serebral adalah perdarahan yang terjadi di dalam jaringan otak yang dapat disebabkan trauma kepala, hipertensi, atau kelainan pembuluh darah.

Diunggah oleh

Esy Andriani Sambe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan23 halaman

Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf

Dokumen tersebut membahas konsep anatomi dan fisiologi sistem saraf pusat khususnya otak, termasuk struktur dan fungsi otak, peredaran darah otak, serta konsep dasar penyakit perdarahan intra serebral. Perdarahan intra serebral adalah perdarahan yang terjadi di dalam jaringan otak yang dapat disebabkan trauma kepala, hipertensi, atau kelainan pembuluh darah.

Diunggah oleh

Esy Andriani Sambe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Konsep Anatomi dan Fisiologi Sistem


a. Anatomi Sistem

b. Fisiologi Sistem
1) Otak
Secara garis besar sistem saraf dibagi menjadi 2, yaitu sistem saraf
pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat (SSP) terbentuk oleh
otak dan medulla spinalis. Sistem saraf disisi luar SSP disebut sistem
saraf tepi (SST). Fungsi dari SST adalah menghantarkan informasi
bolak balik antara SSP dengan bagian tubuh lainnya.
Otak merupakan bagian utama dari sistem saraf dengan komponen
bagiannya adalah :
a) Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang terbesar yang terdiri dari
sepasang hemisfer kanan dan kiri serta tersusun dari korteks.
Korteks ditandai dengan sulkus (celah) dan girus.
Cerebrum dibagi menjadi beberapa lobus, yaitu:
i. Lobus Frontalis
Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual
yang lebih tinggi, seperti kemampuan berpikir abstrak dan
nalar, bicara (area broca di hermisfer kiri), pusat penghidit
dan emosi. Bagian ini mengandung pusat pengontrolan
gerakan volunter di gyrus presentralis (area motorik primer)
dan terdapat area asosiasi motorik (area premotor). Pada
lobus ini terdapat daerah broca yang mengatur ekspresi
bicara, lobus ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku sosial,
berbicara, motivasi dan inisiatif
ii. Lobus Temporalis
Lobus temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang
berjalan ke bawah dari fisura lateral dan sebelah posterior dari
fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini berfungsi untuk mengatur
daya ingat verbal, visual, pendengaran dan berperan dalam
pembentukan dan perkembangan emosi.
iii. Lobus Parietalis
Lobus Parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di
gyrus post sentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan
pendengaran.
iv. Lobus Oksipitalis
Lobus oksipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area
asosiasi penglihatan: menginterpretasi dan memproses
rangsang penglihatan dari nervus optikus dan mengasosiasikan
rangsang ini dengan informasi saraf lain dan memori.
v. Lobus Limbik
Lobus limbik untuk mengatur emosi manusia, memori emosi
dan bersama hipothalamus menimbulkan perubahan melalui
pengendalian atas susunan endokrin dan susunan autonom
2) Cerebellum
Cerebellum adalah struktur kompleks yang mengandung lebih
banyak neuron dibandingkan otak secara keseluruhan. Memiliki
peran koordinasi yang penting dalam fungsi motorik yang
didasarkan pada informasi somatosensori yang diterima inputnya
40 kali lebih banyak dibandingkan output. Cerebellum terdiri dari
tiga bagian fungsional yang berbeda yang menerima dan
menyampaikan informasi ke bagian lain dari sistem saraf pusat.
Cerebellum merupakan pusat koordinasi untuk keseimbangan dan
tonus otot. Mengendalikan kontraksi otot - otot volunter secara
optimal. Bagian - bagian dari cerebellum adalah lobus anterior,
lobus medialis dan lobus fluccolonodularis.
3) Brainstem
Brainstem adalah batang otak, berfungsi untuk mengatur seluruh
proses kehidupan yang mendasar. Berhubungan dengan
diensefalon diatasnya dan medulla spinalis dibawahnya. Struktur -
struktur fungsional batang otak yang penting adalah jaras asenden
dan desenden traktus longitudinalis antara medulla spinalis dan
bagian - bagian otak, anyaman sel saraf dan 12 pasang saraf
cranial. Secara garis besar brainstem terdiri dari tiga segmen,
yaitu mesensefalon, pons dan medulla oblongata.
4) Peredaran Darah Otak
Darah mengangkut zat asam, makanan dan substansi lainnya
yang diperlukan bagi fungsi jaringan hidup yang baik.
Kebutuhan otak sangat mendesak dan vital, sehingga aliran
darah yang konstan harus terus dipertahankan. Suplai darah
arteri ke otak merupakan suatu jalinan pembuluh - pembuluh
darah yang bercabang - cabang, berhubungan erat satu dengan
yang lain sehingga dapat menjamin suplai darah yang adekuat
untuk sel.
a) Peredaran Darah Arteri
Suplai darah ini dijamin oleh dua pasang arteri, yaitu arteri
vertebralis dan arteri karotis interna, yang bercabang dan
beranastosmosis membentuk circulus willisi. Arteri karotis
interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis
yang berakhir pada arten serebri anterior dan arteri serebri
medial. Di dekat akhir arteri karotis interna, dari pembuluh
darah ini keluar arteri communicans posterior yang bersatu
kearah kaudal dengan arteri serebri posterior. Arteri serebri
anterior saling berhubungan melalui arteri communicans
anterior. Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria
subklavia sisi yang sama. Arteria subklavia kanan
merupakan cabang dari arteria inominata, sedangkan arteri
subklavia kiri merupakan cabang langsung dari aorta. Arteri
vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum,
setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua
arteri ini bersatu membentuk arten basilaris.
b) Peredaran Darah Vena
Aliran darah vena dari otak terutama ke dalam sinus - sinus
duramater, suatu saluran pembuluh darah yang terdapat di
dalam struktur duramater. Sinus sinus duramater tidak
mempunyai katup dan sebagian besar berbentuk triangular.
Sebagian besar vena cortex superfisial mengalir ke dalam
sinus longitudinalis superior yang berada di medial. Dua
buah vena cortex yang utama adalah vena anastomotica
magna yang mengalir ke dalam sinus longitudinalis superior
dan vena anastomotica parva yang mengalir ke dalam sinus
transversus. Vena -vena serebri profunda memperoleh aliran
darah dari basal ganglia.
5) Sistem saraf

SARAF KOMPONEN FUNGSI


KRANIAL
I Olfaktorius Sensorik Penciuman
II Optikus Sensorik Penglihatan
III Motorik Mengangkat kelopak mata atas,
Okulomotori konstriksi pupil, sebagian besar
us gerakan ekstraokular
IV Troklearis Motorik Gerakan mata ke bawah dan ke
dalam
V Trigeminus Motorik Otot temporalis dan maseter
(menutup rahang dan
mengunyah) gerakan rahang ke
lateral
Sensorik - Kulit wajah, 2/3 depan kulit
kepala, mukosa mata, mukosa
hidung dan rongga mulut,
lidah dan gigi
- Refleks kornea atau refleks
mengedip, komponen
sensorik dibawa oleh saraf
kranial V, respons motorik
melalui saraf kranial VI
VI Abdusens Motorik Deviasi mata ke lateral
VII Fasialis Motorik Otot-otot ekspresi wajah
termasuk otot dahi, sekeliling
mata serta mulut, lakrimasi dan
salivasi
Sensorik Pengecapan 2/3 depan lidah
(rasa, manis, asam, dan asin)
VIII Cabang Sensorik Keseimbangan
Vestibularis
Cabang Sensorik Pendengaran
koklearis
IX Motorik Faring: menelan, refleks muntah
Glossofaringeus Parotis: salivasi
Sensorik Faring, lidah posterior, termasuk
rasa pahit
X Vagus Motorik Faring: menelan, refleks muntah,
fonasi; visera abdomen
Sensorik Faring, laring: refleks muntah,
visera leher, thoraks dan
abdomen
XI Asesorius Motorik Otot sternokleidomastoideus dan
bagian atas dari otot trapezius:
pergerakan kepala dan bahu
XII Hipoglosus Motorik Pergerakan lidah

2. Konsep Dasar Penyakit


a. Definisi
Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan otak
biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak.
Secara klinis ditandai denganadanya penurunan kesadaran yang kadang-
kadang disertai lateralisasi, pada pemeriksaan CTScan didapatkan adanya
daerah hiperdens yang indikasi dilakukan operasi jika Single,Diameter
lebih dari 3 cm, Perifer, Adanya pergeseran garis tengah.
Intra secerebral hematom adalah pendarahan dalam jaringan otak itu
sendiri. hal inidapat timbul pada cidera kepala tertutup yang berat atau
cidera kepala terbuka .intraserebralhematom dapat timbul pada penderita
strok hemorgik akibat melebarnya pembuluh nadi. (Iskandar Junaidi.
2011).

b. Etiologi
Etiologi dari Intra Cerebral Hematom menurut Suyono (2011) adalah :
1) Kecelakaan yang menyebabkan trauma kepala
2) Fraktur depresi tulang tengkorak
3) Gerak akselerasi dan deselerasi tiba-tiba
4) Cedera penetrasi peluru
5) Jatuh
6) Kecelakaan kendaraan bermotor
7) Hipertensi
8) Malformasi Arteri Venosa
9) Aneurisma
10) Distrasia darah
11) Obat
12) Merokok
c. Patofisiologi (Pathway)

Trauma kepala, fraktur depresi tulang tengkorak, hipertensi, malforasi


arteri venosa, aneurisma, distrasia darah, obat, merokok, stroke

Perdarahan di jaringan otak

Penatalaksanaan:
Darah membentuk massa atau hematoma
kraniotomi

Luka insisi pembedahan: Penekanan pada jaringan otak


Port d’entri
Terdapat luka mikroorganisme
pembadahan di kepala
dextra Edema cerebral
Resiko infeksi
Peningkatan tekanan
Sel melepaskan mediator
intracranial
nyeri: prostaglandin,
sitokinin
Metabolisme Gangguan aliran darah Fungsi otak
anaerob dan oksigen ke otak menurun
Impuls ke pusat nyeri di
otak (thalamus) Vasodilatasi Reflex
Ketidakefektifan perfusi
pembuluh darah menelan
jaringan cerebral
menurun
Somasensori korteks
otak: nyeri dipersepsikan Kerusakan Anoreksia
neuromotorik
Gangguan sistem Resiko
saraf pusat Ketidakseimba
ngan
kebutuhan
nutrisi
Kematian
Kerusakan
neuromotorik

Deficit Kelemahan otot


perawatan diri ADL dibantu progresif

Hambatan
Mobilitas Fisik
d. Manifestasi Klinis Gangguan
mobilitas fisik
Intracerebral hemorrhage mulai dengan tiba-tiba. Dalam sekitar
setengah orang, hal itu diawali dengan sakit kepala berat, seringkali
selama aktifitas. Meskipun begitu, pada orang tua, sakit kepala
kemungkinan ringan atau tidak ada. Dugaan gejala terbentuknya disfungsi
otak dan menjadi memburuk sebagaimana peluasan pendarahaan.
Beberapa gejala, seperti lemah, lumpuh, kehilangan perasa, dan mati
rasa, seringkali mempengaruhi hanya salah satu bagian tubuh. orang
kemungkinan tidak bisa berbicara atau menjadi pusing. Penglihatan
kemungkinan terganggu atau hilang. Mata bisa di ujung perintah yang
berbeda atau menjadi lumpuh. Pupil bisa menjadi tidak normal besar atau
kecil. Mual, muntah, serangan, dan kehilangan kesadaran adalah biasa dan
bisa terjadi di dalam hitungan detik sampai menit. Menurut Corwin (2009)
manifestasi klinik dari dari Intra cerebral Hematom yaitu :
1) Kesadaran mungkin akan segera hilang, atau bertahap seiring dengan
membesarnya hematom.
2) Pola pernapasaan dapat secara progresif menjadi abnormal.
3) Respon pupil mungkin lenyap atau menjadi abnormal.
4) Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intra cranium.
5) Perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan
gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat.
6) Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan
peningkatan tekanan intra cranium.
e. Pemeriksaan Penunjang
1) Angiografi
2) Ct scanning
3) Lumbal pungsi
4) MRI
5) Thorax photo
6) Laboratorium
7) EKG
f. Penatalaksanaan
Pendarahan intracerebral lebih mungkin menjadi fatal dibandingkan stroke
ischemic. Pendarahan tersebut biasanya besar dan catastrophic, khususnya
pada orang yang mengalami tekanan darah tinggi yang kronis. Lebih dari
setengah orang yang mengalami pendarahan besar meninggal dalam
beberapa hari. Mereka yang bertahan hidup biasanya kembali sadar dan
beberapa fungsi otak bersamaan dengan waktu. Meskipun begitu,
kebanyakan tidak sembuh seluruhnya fungsi otak yang hilang.
Pengobatan pada pendarahan intracerebral berbeda dari stroke ischemic.
Anticoagulant (seperti heparin dan warfarin), obat-obatan trombolitik, dan
obat-obatan antiplatelet (seperti aspirin) tidak diberikan karena membuat
pendarahan makin buruk. Jika orang yang menggunakan antikoagulan
mengalami stroke yang mengeluarkan darah, mereka bisa memerlukan
pengobatan yang membantu penggumpalan darah seperti :
1) Vitamin K, biasanya diberikan secara infuse.
2) Transfusi atau platelet. Transfusi darah yang telah mempunyai sel darah
dan pengangkatan platelet (plasma segar yang dibekukan).
3) Pemberian infus pada produk sintetis yang serupa pada protein di dalam
darah yang membantu darah untuk menggumpal (faktor
penggumpalan).
Operasi untuk mengangkat penumpukan darah dan menghilangkan tekanan
di dalam tengkorak, bahkan jika hal itu bisa menyelamatkan hidup, jarang
dilakukan karena operasi itu sendiri bisa merusak otak. Juga, pengangkatan
penumpukan darah bisa memicu pendarahan lebih, lebih lanjut kerusakan
otak menimbulkan kecacatan yang parah. Meskipun begitu, operasi ini
kemungkinan efektif untuk pendarahan pada kelenjar pituitary atau pada
cerebellum. Pada beberapa kasus, kesembuhan yang baik adalah mungkin.
Penatalaksanaan untuk Intra Cerebral Hematom lainnya adalah sebagai
berikut :
1) Observasi dan tirah baring terlalu lama.
2) Mungkin diperlukan ligasi pembuluh yang pecah dan evakuasi
hematom secara bedah.
3) Mungkin diperlukan ventilasi mekanis.
4) Untuk cedera terbuka diperlukan antibiotiok.
5) Metode-metode untuk menurunkan tekanan intra kranium termasuk
pemberian diuretik dan obat anti inflamasi.
6) Pemeriksaan Laboratorium seperti : CT-Scan, Thorax foto, dan
laboratorium lainnya yang menunjang.
g. Pengkajian Fokus Keperawatan
Primary Survey (ABCDE
1) Airway. Tanda-tanda objektif-sumbatan Airway
a) Look (lihat) apakah penderita mengalami agitasi atau
kesadarannya menurun. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia,
dan penurunan kesadaran memberi kesan adanya hiperkarbia.
Sianosis menunjukkan hipoksemia yang disebabkan oleh
kurangnya oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada
kuku-kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan
penggunaan otot-otot napas tambahan yang apabila ada,
merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway. Airway
(jalan napas) yaitu membersihkan jalan napas dengan
memperhatikan kontrol servikal, pasang servikal kollar untuk
immobilisasi servikal sampai terbukti tidak ada cedera servikal,
bersihkan jalan napas dari segala sumbatan, benda asing, darah
dari fraktur maksilofasial, gigi yang patah dan lain-lain. Lakukan
intubasi (orotrakeal tube) jika apnea, GCS (Glasgow Coma Scale)
< 8, pertimbangan juga untuk GCS 9 dan 10 jika saturasi oksigen
tidak mencapai 90%.
b) Listen (dengar) adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang
berbunyi (suara napas tambahan) adalah pernapasan yang
tersumbat.
c) Feel (raba)
2) Breathing. Tanda-tanda objektif-ventilasi yang tidak adekuat
a) Look (lihat) naik turunnya dada yang simetris dan
pergerakan dinding dada yang adekuat. Asimetris menunjukkan
pembelatan (splinting) atau flail chest dan tiap pernapasan yang
dilakukan dengan susah (labored breathing) sebaiknya harus
dianggap sebagai ancaman terhadap oksigenasi penderita dan
harus segera di evaluasi. Evaluasi tersebut meliputi inspeksi
terhadap bentuk dan pergerakan dada, palpasi terhadap kelainan
dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi, perkusi untuk
menentukan adanya darah atau udara ke dalam paru.
b) Listen (dengar) adanya pergerakan udara pada
kedua sisi dada. Penurunan atau tidak terdengarnya suara napas
pada satu atau hemitoraks merupakan tanda akan adanya cedera
dada. Hati-hati terhadap adanya laju pernapasan yang cepat-
takipneu mungkin menunjukkan kekurangan oksigen.
c) Gunakan pulse oxymeter. Alat ini mampu
memberikan informasi tentang saturasi oksigen dan perfusi
perifer penderita, tetapi tidak memastikan adanya ventilasi yang
adekuat
3) Circulation dengan kontrol perdarahan
a) Respon awal tubuh terhadap perdarahan adalah takikardi untuk
mempertahankan cardiac output walaupun stroke volum
menurun
b) Selanjutnya akan diikuti oleh penurunan tekanan nadi (tekanan
sistolik-tekanan diastolik)
c) Jika aliran darah ke organ vital sudah dapat dipertahankan lagi,
maka timbullah hipotensi
d) Perdarahan yang tampak dari luar harus segera dihentikan
dengan balut tekan pada daerah tersebut
e) Ingat, khusus untuk otorrhagia yang tidak membeku, jangan
sumpal MAE (Meatus Akustikus Eksternus) dengan kapas atau
kain kasa, biarkan cairan atau darah mengalir keluar, karena hal
ini membantu mengurangi TTIK (Tekanan Tinggi Intra Kranial)
f) Semua cairan yang diberikan harus dihangatkan untuk
menghindari terjadinya koagulopati dan gangguan irama
jantung.

4) Disability
a) GCS setelah resusitasi
b) Bentuk ukuran dan reflek cahaya pupil
c) Nilai kuat motorik kiri dan kanan apakah ada parese atau tidak
d) Expossure dengan menghindari hipotermia. Semua pakaian yang
menutupi tubuh penderita harus dilepas agar tidak ada cedera
terlewatkan selama pemeriksaan. Pemeriksaan bagian punggung
harus dilakukan secara log-rolling dengan harus menghindari
terjadinya hipotermi (America College of Surgeons ; ATLS)
Secondary Survey
1) Kepala dan leher
Kepala. Inspeksi (kesimetrisan muka dan tengkorak, warna dan
distribusi rambut kulit kepala), palpasi (keadaan rambut, tengkorak,
kulit kepala, massa, pembengkakan, nyeri tekan, fontanela (pada
bayi)).
Leher. Inspeksi (bentuk kulit (warna, pembengkakan, jaringan
parut, massa), tiroid), palpasi (kelenjar limpe, kelenjar tiroid,
trakea), mobilitas leher.
2) Dada dan paru
Inspeksi. Dada diinspeksi terutama mengenai postur, bentuk dan
kesimetrisan ekspansi serta keadaan kulit. Inspeksi dada dikerjakan
baik pada saat dada bergerak atau pada saat diem, terutama
sewaktu dilakukan pengamatan pergerakan pernapasan.
Pengamatan dada saat bergerak dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui frekuensi, sifat dan ritme/irama pernapasan.
Palpasi. Dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keadaan kulit
pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan
ekspansi, dan tactil vremitus (vibrasi yang dapat teraba yang
dihantarkan melalui sistem bronkopulmonal selama seseorang
berbicara)  
Perkusi. Perhatikan adanya hipersonor atau ”dull” yang
menunjukkan udara (pneumotorak) atau cairan (hemotorak) yang
terdapat pada rongga pleura.
Auskultasi. Berguna untuk mengkaji aliran udara melalui batang
trakeobronkeal dan untuk mengetahui adanya sumbatan aliran
udara. Auskultasi juga berguna untuk mengkaji kondisi paru-paru
dan rongga pleura.
3) Kardiovaskuler
Inspeksi dan palpasi. Area jantung diinspeksi dan palpasi secara
stimultan untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan atau
dorongan (heaves). Palpasi dilakukan secara sistematis mengikuti
struktur anatomi jantung mulai area aorta, area pulmonal, area
trikuspidalis, area apikal dan area epigastrik 
Perkusi. Dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung.
Akan tetapi dengan adanya foto rontgen, maka perkusi pada area
jantung jarang dilakukan karena gambaran jantung dapat dilihat
pada hasil foto torak anteroposterior.
4) Ekstermitas
Beberapa keadaan dapat menimbulkan iskemik pada ekstremitas
bersangkutan, antara lain :
a) Cedera pembuluh darah.
b) Fraktur di sekitar sendi lutut dan sendi siku.
c) Crush injury.
d) Sindroma kompartemen.
e) Dislokasi sendi panggul.
Keadaan iskemik ini akan ditandai dengan :
a) Pusasi arteri tidak teraba.
b) Pucat (pallor).
c) Dingin (coolness).
d) Hilangnya fungsi sensorik dan motorik.
e) Kadang-kadang disertai hematoma, ”bruit dan thrill”.
Fiksasi fraktur khususnya pada penderita dengan cedera kepala
sedapat mungkin dilaksanakan secepatnya. Sebab fiksasi yang
tertunda dapat meningkatkan resiko ARDS (Adult Respiratory
Disstress Syndrom) sampai 5 kali lipat. Fiksasi dini pada fraktur
tulang panjang yang menyertai cedera kepala dapat menurunkan
insidensi ARDS.
h. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral b.d Tahanan pembuluh darah
;infark
2) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d peningkatan TIK
3) Ketidakseimbangan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
anoreksia
4) Hambatan mobilitas fisik b.d Kelemahan neutronsmiter
5) Defisit perawatan diri ADL b.d kelemahan fisik.
6) Resiko Infeksi
i. Tujuan Keperawatan (NOC) dan Rencana Tindakan Keperawatan (NIC)

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC


1 Ketidakefektifan perfusi  Circulation status a) Kaji Monitor TTV
jaringan serebral b.d  Neurologic status b) Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman,
Tahanan pembuluh darah  Tissue Prefusion : cerebral kesimetrisan dan reaksi
;infark Setelah dilakukan asuhan selama……… c) Monitor adanya diplopia, pandangan kabur,
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral nyeri kepala
teratasi dengan kriteria hasil: d) Monitor level kebingungan dan orientasi
a) Tekanan systole dan diastole dalam e) Monitor tonus otot pergerakan
rentang yang diharapkan f) Monitor tekanan intrkranial dan respon
b) Tidak ada ortostatikhipertensi nerologis
c) Komunikasi jelas g) Catat perubahan pasien dalam merespon
d) Menunjukkan konsentrasi dan stimulus
orientasi h) Monitor status cairan
e) Pupil seimbang dan reaktif i) Pertahankan parameter hemodinamik
f) Bebas dari aktivitas kejang j) Tinggikan kepala 0-45o tergantung pada
g) Tidak mengalami nyeri kepala konsisi pasien dan order medis
2 Gangguan rasa nyaman  Self care : Activity of Daily Living Self Care assistane : ADLs
nyeri b.d peningkatan TIK (ADLs) a) Monitor kemempuan klien untuk
Setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan diri yang mandiri.
selama …. Defisit perawatan diri teratas b) Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat
dengan kriteria hasil: bantu untuk kebersihan diri, berpakaian,
a) Klien terbebas dari bau badan berhias, toileting dan makan.
b) Menyatakan kenyamanan terhadap c) Sediakan bantuan sampai klien mampu
kemampuan untuk melakukan ADLs secara utuh untuk melakukan self-care.
c) Dapat melakukan ADLS dengan d) Dorong klien untuk melakukan aktivitas
bantuan sehari-hari yang normal sesuai
kemampuan yang dimiliki.
e) Dorong untuk melakukan secara mandiri,
tapi beri bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
f) Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong
kemandirian, untuk memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak mampu untuk
melakukannya.
g) Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai
kemampuan.
h) Pertimbangkan usia klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
3 Ketidakseimbangan  Nutritional status: Adequacy of a) Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan nutrisi kurang nutrient b) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
dari kebutuhan tubuh b.d  Nutritional Status : food and Fluid menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
anoreksia Intake dibutuhkan pasien
 Weight Control c) Yakinkan diet yang dimakan mengandung
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
selama….nutrisi kurang teratasi dengan d) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
indikator: makanan harian.
a) Albumin serum e) Monitor adanya penurunan BB dan gula
b) Pre albumin serum darah
c) Hematokrit f) Monitor lingkungan selama makan
d) Hemoglobin g) Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
e) Total iron binding capacity selama jam makan
f) Jumlah limfosit h) Monitor turgor kulit
i) Monitor kekeringan, rambut kusam, total
protein, Hb dan kadar Ht
j) Monitor mual dan muntah
k) Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
jaringan konjungtiva
l) Monitor intake nuntrisi
m) Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
n) Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/
TPN sehingga intake cairan yang adekuat
dapat dipertahankan.
o) Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi
selama makan
p) Kelola pemberan anti emetik
q) Anjurkan banyak minum
r) Pertahankan terapi IV line
s) Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oval
4 Hambatan mobilitas fisik  Joint Movement : Active a) Monitoring vital sign sebelm/sesudah
b.d Kelemahan  Mobility Level latihan dan lihat respon pasien saat latihan
neutronsmiter  Self care : ADLs b) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang
 Transfer performance rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan a) Bantu klien untuk menggunakan tongkat
selama….hambatan mobilitas fisik saat berjalan dan cegah terhadap cedera
teratasi dengan kriteria hasil: b) Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain
a) Klien meningkat dalam aktivitas tentang teknik ambulasi
fisik c) Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
b) Mengerti tujuan dari peningkatan d) Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
mobilitas ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
c) Memverbalisasikan perasaan dalam e) Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi
meningkatkan kekuatan dan dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
kemampuan berpindah f) Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
d) Memperagakan penggunaan alat g) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi
Bantu untuk mobilisasi (walker) dan berikan bantuan jika diperlukan

5 Defisit perawatan diri b.d  Self care : Activity of Daily Living a) Monitor kemempuan klien untuk perawatan
kelemahan fisik. (ADLs) diri yang mandiri.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan b) Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat
selama …. Defisit perawatan diri teratas bantu untuk kebersihan diri, berpakaian,
dengan kriteria hasil: berhias, toileting dan makan.
a) Klien terbebas dari bau badan c) Sediakan bantuan sampai klien mampu
b) Menyatakan kenyamanan terhadap secara utuh untuk melakukan self-care.
kemampuan untuk melakukan ADLs d) Dorong klien untuk melakukan aktivitas
c) Dapat melakukan ADLS dengan sehari-hari yang normal sesuai kemampuan
bantuan yang dimiliki.
e) Dorong untuk melakukan secara mandiri,
tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu
melakukannya.
f) Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong
kemandirian, untuk memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak mampu untuk
melakukannya.
g) Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai
kemampuan.
h) Pertimbangkan usia klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
6 Resiko Infeksi  Joint Movement : Active a) Monitoring vital sign sebelm/sesudah
 Mobility Level latihan dan lihat respon pasien saat latihan
 Self care : ADLs b) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang
 Transfer performance rencana ambulasi sesuai dengan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan
selama….hambatan mobilitas fisik c) Bantu klien untuk menggunakan tongkat
teratasi dengan kriteria hasil: saat berjalan dan cegah terhadap cedera
a) Klien meningkat dalam aktivitas d) Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain
fisik tentang teknik ambulasi
b) Mengerti tujuan dari peningkatan e) Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
mobilitas f) Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
c) Memverbalisasikan perasaan dalam ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
meningkatkan kekuatan dan g) Dampingi dan Bantu pasien saat
kemampuan berpindah mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
d) Memperagakan penggunaan alat ADLs ps.
Bantu untuk mobilisasi (walker) h) Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
i) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi
dan berikan bantuan jika diperlukan
DAFTAR PUSTAKA

Alwahdy, A.S., Usman, F.S., Soetanto, G.W., Ramadhoni, P.D., Tanasal,


A. and Utomo, T.Y., 2019. Intracranial atherosclerosis:
Current understanding from histopathology to diagnostic
imaging. Journal of Neurovascular Intervention, 1(2), pp.8-16
Heller, dkk. (2012). Subdural Hematoma. Medline Plus Medical
Encyclopedia
Herdman TH. 2018. Nanda International Nursing Diagnoses:
Definitions And Classification 2018-2020. Jakarta ECG
Meagher, dkk. (2011). Subdural Hematoma. Medscape Reference
Smeltzer, Suzanne C.2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol
3 Ed-8. Jakarta : EGC
Syarifudin. 2010. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta. ECG
Tom, dkk. (2011). Subdural Hematoma in Emergency Medicine.
Medscape Reference
Wijaya AS & Putri YM. 2013. Keperawatan Medikal Bedah 2.
Yogyakarta. Nuha Medika

Anda mungkin juga menyukai