Journal of Pharmacy and Science
Vol. .., No..., (Bulan Tahun), P-ISSN : 2527-6328, E-ISSN : 2549-3558
PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN
DI APOTEK KABUPATEN PAMEKASAN TAHUN 2020
Achmad Faruk Alrosyidi 1, Septiana Kurniasari 2
1,2
D3 Farmasi, Universitas Islam Madura
E-mail korespondensi: [Link]@[Link]
ABSTRAK
Paradigma pelayanan kefarmasian telah berubah orientasinya dari pengelolaan obat menjadi pelayanan yang
komprehensif ke pasien. Standar pelayanan farmasi di apotek disusun dalam Permenkes nomor 73 Tahun 2016
sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian di apotek.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pamekasan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan
standar pelayanan kefarmasian di apotek di daerah Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan teknik survei menggunakan kuisioner. Survei menggunakan kuisioner dengan teknik
convenience sampling. Instrumen dikembangkan berdasarkan Permenkes nomor 73 tahun 2016. Metode
analisis data dilakukan secara deskriptif untuk melihat distribusi pelaksanaan standar pelayanan kefamasian di
Kabupaten Pamekasan. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan sediaan farmasi, alkes dan BMHP di Apotek
Pamekasan dilakukan oleh apoteker dan dibantu oleh TTK, beberapa kegiatan dilakukan oleh TTK dibawah
tanggung jawab apoteker. Dalam pelaksanaan standar pelayanan farmasi klinis, ada beberapa kegiatan yang
mayoritas belum dilaksanakan di spotek Pamekasan yaitu dokumentasi pelayanan informasi obat, dokumentasi
konseling, Pelayanan Kefarmasian di rumah, dokumentasi pelayanan kefarmasian di rumah, pemantauan
Terapi Obat (PTO), dokumentasi pemantauan terapi obat, dan monitoring efek samping obat.
Kata Kunci : Standar Pelayanan Kefarmasian, Apotek, Pamekasan
IMPLEMENTATION OF PHARMACEUTICAL SERVICE
STANDARDS IN PAMEKASAN DISTRICT IN 2020
Achmad Faruk Alrosyidi 1, Septiana Kurniasari 2
1,2
Department of Diploma Pharmacy, Universitas Islam Madura
E-mail corresponding: [Link]@[Link]
ABSTRACT
The pharmaceutical service paradigm has changed its orientation from drug oriented to patient oriented.
Pharmaceutical service standards at the pharmacy are compiled in Permenkes 73th, 2016 as a guideline for
pharmacists in carrying out pharmacy services at the pharmacy. This research was conducted in Pamekasan
Regency with the aim of finding out the description of the implementation of pharmaceutical service standards
in pharmacies in the Pamekasan Regency area. This research is a descriptive study with a survey technique
using a questionnaire. The survey used a questionnaire with convenience sampling technique. The instrument
was developed based on Permenkes 73th, 2016. The method of data analysis was done descriptively to see the
distribution of the implementation of the standard of pharmaceutical services in Pamekasan Regency. The
results showed that the management of pharmaceutical preparations, medical devices and consumable medical
materials at Pamekasan Pharmacy was carried out by pharmacists and assisted by pharmacy technicians,
some activities carried out by pharmacy technicians under the responsibility of the pharmacist. In the
implementation of clinical pharmacy service standards, there were a number of activities which the majority
has not been carried out in the Pamekasan. The activities were documentation of drug information services,
counseling documentation, home pharmacy care, documentation of home pharmacy care, monitoring of drug
therapy, documentation of drug therapy monitoring, and monitoring of drug side effects.
Keywords: standard of pharmaceutical services, pharmacy, Pamekasan
1. PENDAHULUAN dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
Pelayanan kefarmasian adalah suatu meningkatkan mutu kehidupan pasien (Menkes RI,
pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada 2016). Paradigma pelayanan kefarmasian saat ini
pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi telah berubah orientasinya dari pengelolaan obat
1
Journal of Pharmacy and Science
Vol. .., No..., (Bulan Tahun), P-ISSN : 2527-6328, E-ISSN : 2549-3558
(drug oriented) menjadi pelayanan yang qualified volunteer sample (QVS). QVS merupakan
komprehensif ke pasien (patient oriented) dengan sampel yang dipilih berdasarkan suatu panduan
mengacu pada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical tertentu. Kriteria dari sampel yang akan dipilih dari
care) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien populasi adalah sebagai berikut: apotek yang telah
(….,…. Tenaga kefarmasian, apoteker dan asisten beroperasi minimal 1 (satu) tahun dan bersedia
apoteker, dituntut untuk meningkatkan mengisi kuesioner penelitian. Hasil kuesioner akan
pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk memberikan data tentang implementasi standar
menjalankan pelayanan kefarmasian sesuai dengan praktek kefarmasian apotek dan data karakteristik
standar pelayanan kefarmasian yang berlaku agar apotek di Kabupaten Pamekasan.
pelayanan kefarmasian mempunyai mutu yang baik
(Widha dkk., 2015). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Standar pelayanan farmasi di apotek disusun Karakteristik responden
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Penelitian ini dilakukan dengan survei
Indonesia Nomor 73 Tahun 2016. Pengaturan terhadap 40 responden yang merupakan apoteker
standar pelayanan farmasi di apotek ini ditujukan yang bekerja sebagai APA (Apoteker
untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, Penanggungjawab Apotek) di Kabupaten
menjamin kepastian hukum bagi tenaga Pamekasan. Dari survei yang didapatkan data
kefarmasian, dan melindungi pasien dan masyarakat karakteristik responden dan apotek di Kabupaten
dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam Pamekasan. Karakteristik responden dan Apotek
rangka keselamatan pasien (patient safety). dapat dilihat pada Tabel 1.
Pelayanan kefarmasian diapotek yang komprehensif Mayoritas responden adalah perempuan
meliputi dua kegiatan, yaitu (1) pengelolaan sediaan yaitu 80%. Proporsi perempuan yang lebih tinggi
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis dibandingkan laki-laki juga telah dilaporkan pada
pakai dan (2) pelayanan farmasi klinik (Menkes RI, penelitian lainnya (Mulyagustina, 2017; Sarriff,
2016). 2010). Selain itu mayoritas responden memiliki
Peran apoteker di apotek masih menjadi umur 20-30 tahun (55%).
pertanyaan di Indonesia. Penelitian sebelumnya Dari 40 Apotek yang disurvei 28 apotek
menunjukkan bahwa apoteker belum sepenuhnya (70%) adalah milik PSA, 10 apotek (25%) adalah
menunjukkan peranannya untuk memberikan milik sendiri, 1 apotek (2,5%) adalah apotek
pelayanan kefarmasian di apotek (Apriansyah dkk., jejaring, dan 1 apotek (2,5%) adalah milik BUMN.
2018). Adanya kesenjangan antara pelayanan
kefarmasian yang ideal sesuai dengan standar Pelaksanaan standar pelayanan kefamasian
dengan keadaan yang sebenarnya dilapangan sesuai Hasil dari kuiesioner digunakan untuk
yang dilaporkan dalam beberapa penelitian mengetahui kegiatan yang paling sering dilakukan
sebelumnya menjadi alasan dilakukan penelitian ini. oleh apoteker dalam hal melaksanakan standar
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pelayanan kefarmasian di Apotek. Berdasarkan
pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di Permenkes nomor 73 tahun 2016 standar pelayanan
apotek di daerah Kabupaten Pamekasan. kefarmasian di apotek terdiri dari dua standar yaitu
pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan (alkes)
2. METODE PENELITIAN dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) serta
Penelitian ini merupakan penelitian pelayanan farmasi klinis di Apotek.
deskriptif. Alat yang digunakan dalam penelitian ini Dari hasil survei diketahui bahwa dalam hal
adalah kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan pada pelasksanaan standar pelayanan kefarmasian,
apotek yang ada di Kota Pamekasan, yang apoteker lebih sering melaksanakan perencanaan
dilakukan pada bulan Februari s/d Maret 2020. pengadaan, pengendalian, pelaporan narkotika dan
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh psikotropika, dan pelaporan pelayanan kefarmasian.
apotek di wilayah Kabupaten Pamekasan. Jumlah Sedangkan TTK lebih sering melaksanakan
total apotek akan didapatkan dari Dinas Kesehatan penerimaan dan pencatatan pada setiap proses
Kota Pamekasan per-Februari 2020. Sampel pada pengelolaan sediaan farmasi dibawah pengawasan
penelitian ini adalah apotek di Kabupaten apoteker. Namun masih ada beberapa kegiatan yang
Pamekasan yang diwakili oleh apoteker penanggung mayoritas dilakukan oleh tenaga non farmasi seperti
jawab apotek. Penelitian ini menggunakan tipe kegiatan pengadaan, penerimaan dan pencatatan
convenience sampling yang memenuhi kriteria atau pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi.
2
Journal of Pharmacy and Science
Vol. .., No..., (Bulan Tahun), P-ISSN : 2527-6328, E-ISSN : 2549-3558
Tabel 1. Karakteristik responden dan apotek di Kabupaten Pamekasan
Frekuensi Persentase (%)
No Variabel
(N)
a. Laki-laki 8 20
1 Jenis Kelamin
b. Perempuan 32 80
a. 20-30 tahun 22 55
b. 31-40 tahun 12 30
2 Usia
c. 40-49 tahun 4 10
d. > 50 tahun 2 5
a. < 5 tahun 16 40
b. 5-10 tahun 14 35
3 Lama Bekerja di Apotek
c. 11-20 tahun 4 10
d. > 20 tahun 6 15
a. PNS 6 15
4 Status apoteker
b. Non PNS 34 85
a. Selama jam apotek buka 2 5
b. Setap hari jam tertentu 14 35
5 Jam praktek di apotek
c. 2-3 kali perminggu 24 60
d. Satu kali perbulan 0 0
a. Tidak ada 40 100
b. 1-2 0 0
6 Jumlah Apoteker Pendamping
c. 3-5 0 0
d. >5 0 0
a. Milik PSA 28 70
b. Milik Sendiri 10 25
7 Tipe Apotek
c. Jejaring/frenchise 1 2,5
d. BUMN 1 2,5
a. <5 orang 22 55
b. 5-20 orang 12 30
8 Rata-rata jumlah resep per hari
c. 21-50 orang 2 5
d. >50 orang 4 10
a. <10 orang 16 40
Rata-rata pelayanan swamedikasi b. 10-30 orang 18 45
9
perhari c. 31-50 orang 2 5
d. >50 orang 4 10
a. Tidak dilakukan 14 35
b. <10 orang 20 50
10 Layanan PIO perhari
c. 10-30 orang 6 15
d. >30 orang 0 0
a. Tidak dilakukan 18 45
b. <10 orang 14 35
11 Layanan Konseling
c. 10-20 orang 8 20
d. >20 orang 0 0
Pelayanan Kefarmasian telah mengalami mencegah, serta mengatasi masalah terkait Obat
perubahan yang semula hanya berfokus kepada (drug related problems), masalah farmakoekonomi,
pengelolaan Obat (drug oriented) berkembang dan farmasi sosial (socio-pharmacoeconomy). Oleh
menjadi pelayanan komprehensif meliputi karena itu semua kegiatan dalam apotek harus
pelayanan Obat dan pelayanan farmasi klinik yang dalam pengawasan apoteker. Walaupun beberapa
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pekerjaan dilakukan oleh TTK dan tenaga non
(Widha dkk., 2015). Sehingga apoteker harus farmasi, namun pekerjaan ini tetap dibawah
mampu memahami dan menyadari kemungkinan pengawasan apoteker agar tujuan utama dari
terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) pelayanan kefarmasian tercapai.
dalam proses pelayanan dan mengidentifikasi,
Tabel 2. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan (Alkes) dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
Frekuensi hasil observasi (%) n = 40
Uraian Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alkes dan
No Non Tidak
BMHP Apoteker TTK
Farmasi dilaksanakan
3
Journal of Pharmacy and Science
Vol. .., No..., (Bulan Tahun), P-ISSN : 2527-6328, E-ISSN : 2549-3558
1 Perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alkes, 65 10 25 0
dan BMHP
2 Pengadaan Sediaan Farmasi, alat kesehatan, dan 45 10 45 0
BMHP
3 5 45 50 0
Penerimaan Sediaan Farmasi, Alkes, dan BMHP
4 Pemusnahan sediaan farmasi 50 0 5 45
5 Pengendalian sediaan farmasi 80 10 5 5
6 Pencatatan pada setiap proses pengelolaan sediaan 25 35 40 0
farmasi berupa: surat pesanan, faktur, kartu stock,
nota atau struk penjualan, dan pencatatan lainnya
7 Pelaporan Narkotika dan Psikotropika 85 5 0 10
8 Pelaporan pelayanan kefarmasian 70 15 5 10
Selain pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan (alkes) dan Bahan Medis Habis Pakai KESIMPULAN DAN SARAN
(BMHP), apoteker juga harus melaksanakan standar
pelayanan farmasi klinis di apotek. Standar Pengelolaan sediaan farmasi, alat
pelayanan farmasi klinis meliputi 16 kegiatan kesehatan (alkes) dan Bahan Medis Habis Pakai
seperti pada tabel 3. Hasil survey yang telah (BMHP) di Apotek Pamekasan dilakukan oleh
dilakukan untuk mengetahui distribusi pelaksanaan apoteker dan dibantu oleh TTK, beberapa kegiatan
standar ini menunjukkan bahwa mayoritas apoteker dilakukan oleh TTK dibawah tanggung jawab
di Pamekasan sudah melaksanakan tujuh kegiatan. apoteker. Dalam pelaksanaan standar pelayanan
Dua kegiatan dalam standar ini mayoritas dilakukan farmasi klinis, ada beberapa kegiatan yang
oleh TTK yaitu penyiapan obat sesuai dengan mayoritas belum dilaksanakan di spotek Pamekasan
permintaan resep dan penyerahan obat dengan yaitu dokumentasi pelayanan informasi obat,
memastikan kesesuaian identitas dan alamat pasien. dokumentasi konseling, Pelayanan Kefarmasian di
Ada beberapa kegiatan yang mayoritas belum rumah, dokumentasi pelayanan kefarmasian di
dilaksanan di apotek-apotek Pamekasan yaitu rumah, pemantauan Terapi Obat (PTO),
dokumentasi pelayanan informasi obat, dokumentasi pemantauan terapi obat, dan
dokumentasi konseling, Pelayanan Kefarmasian di monitoring efek samping obat. Penelitian lebih
rumah, dokumentasi pelayanan kefarmasian di
lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui
rumah, pemantauan Terapi Obat (PTO),
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
dokumentasi pemantauan terapi obat, dan
monitoring efek samping obat. pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di
Hasil penelitian sebelumnya juga apotek belum berjalan dengan maksimal.
menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya pelayanan
farmasi klinis berjalan di apotek. Adapun faktor
penghambat yang menyebabkan hal ini adalah dari
faktor pasien yaitu adanya keragu-raguan kepada
tenaga farmasi, keterbatasan kehadiran apoteker,
kurangnya keahlian, tidak ada ruang layanan
konseling, dan keterbatasan jumlah sumber daya
manusia farmasi di apotek (Mulyagustina dkk.,
2017).
Tabel 3. Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek
4
Journal of Pharmacy and Science
Vol. .., No..., (Bulan Tahun), P-ISSN : 2527-6328, E-ISSN : 2549-3558
Frekuensi hasil observasi (%) n = 40
No Uraian Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek Non Tidak
Apoteker TTK
Farmasi dilaksanakan
1 Pengkajian administratif resep 55 35 5 5
2 Pengkajian kesesuaian farmasetik pada resep 80 15 0 5
3 Pengkajian pertimbangan klinis pada resep 90 5 0 5
4 Penyiapan obat sesuai dengan permintaan 25 55 20 0
resep
5 Pengkajian pertimbangan klinis 85 10 0 5
6 Penyerahan obat dengan memastikan 25 65 10 0
kesesuaian identitas dan alamat pasien
7 Pemberian informasi cara penggunaan obat 75 25 0 0
dan hal-hal yang terkait dengan obat
8 Pelayanan Informasi Obat 75 15 0 10
9 Dokumentasi pelayanan informasi Obat 35 10 5 50
10 Konseling untuk pasien dengan penyakit 75 0 0 25
kronis (Misal : DM, TB, Hipertensi, epilepsi)
11 Dokumentasi konseling 25 10 5 60
12 Pelayanan Kefarmasian di rumah (home 5 5 0 90
pharmacy care)
13 Dokumentasi pelayanan kefarmasian di 5 0 5 90
rumah
14 Pemantauan Terapi Obat (PTO) 15 0 0 85
15 Dokumentasi pemantauan terapi obat 5 5 5 85
16 Monitoring efek Samping obat 15 0 0 85
DAFTAR PUSTAKA dan Pelayanan Farmasi, Vol. 7, No. 2.
Apriansyah, A., Saibi, Y., Karyadi. 2018. Hal. 83-96.
Clinical Pharmacy Service at Umar H. 2013. Metode Penelitian Untuk
Community Pharmacy in South Skripsi Dan Tesis Bisnis. 2nd Ed.
Tangerang Regency. Journal of Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada.
Pharmacopolium, Vol. 1, No. 2. Hal. 81- Sarriff, A., Gillani, Ws., Babiker, G. 2010.
87. Pharmacist Perception To Importance
Menkes RI, 2016. Permenkes No.73 tahun And Self-Competence In Pharmacy
2016 tentang Standar Pelayanan Practice. Int J Pharm Stud Res. Vol.
Kefarmasian di Apotek. Kemenkes: 1(2). Hal. 1–21.
Jakarta. Widha, P., Pribadi, P., Dianita, P.S. 2015.
Mulyagustina, Wiedyaningsih, C., Kristina, Gambaran Penerapan Standar Pelayanan
S.A. 2017. Implementation of Kefarmasian di Puskesmas X Kota
Pharmaceutical Care Standard In Jambi Magelang. Jurnal Farmasi Sains dan
City’s Pharmacies. Jurnal Manajemen Praktis, Vol. I, No. 1.