Merdeka Belajar: Solusi Pendidikan Indonesia
Merdeka Belajar: Solusi Pendidikan Indonesia
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Pendidikan akan memberikan segala
macam perubahan bagi umat manusia. Sejak awal lahirnya para pendiri bangsa, negara Indonesia telah
menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci dalam mencapai tujuan hidup bangsa yang
merdeka. Pada pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 alenia ke-4 secara tidak langsung
menyatakan bahwa negara mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan
masyarakatnya. Untuk menjadi negara yang maju, pendidikan adalah hal yang penting karena dengan
pendidikan dapat mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas di tengah kemajuan
teknologi yang berkembang dengan sangat pesat. Dalam sejarah perkembangan pendidikan Indonesia,
pendidikan Indonesia telah jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan beberapa
negara di Asia. Tak banyak tokoh pemikir dari Indonesia memilih untuk belajar ke luar negeri saat itu.
Setelah Indonesia merdeka, pendidikan itu mulai dibangun untuk mencapai tujuan negara yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa meski sampai saat ini belum maksimal.
Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang sangat besar, terutama untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mampu menghadapi persaingan global. Di era
Revolusi Industri 4.0 ini, sumber daya manusia Indonesia harus kreatif, inovatif, cepat, dan kolaboratif.
Jika kita tidak bisa kreatif, berinovasi dan bertindak cepat, maka kita akan jauh dari negara lain.
Program pendidikan yang dirancang oleh Indonesia diyakini tidak dapat menjawab harapan dan
tantangan masa depan. Dalam menghadapi masa depan yang tidak lepas dari kemajuan teknologi dan
informasi serta tren globalisasi, maka tantangan pendidikan akan semakin berat. Persoalan di bidang
pendidikan, khususnya di bidang sekolah menjadi semakin pelik. Hal ini terlihat pada tingkat putus
sekolah, motivasi belajar yang rendah, dan lulusan yang sedikit. Semua ini juga disebabkan oleh
berbagai faktor, seperti keterbatasan biaya, ketidaknyamanan transportasi, serta kondisi sosial atau
lingkungan.
Dalam rangka membangun sumber daya manusia dan membentuk karakter bangsa, semua pihak telah
bekerja keras untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kebiasaan awal akan berubah seiring dengan
perubahan proses pendidikan. Pemerintah akan terus melakukan kemajuan dengan mengubah kebijakan
bidang pendidikan untuk menjadikan pendidikan di Indonesia lebih baik. Saat ini, sistem pendidikan di
Indonesia telah dialihkan ke sistem "belajar gratis". Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 11 Desember
1
2019, Mendikbud memaparkan empat perubahan “ekstrim” dalam sistem pendidikan Indonesia, yang
mereka sebut sebagai “Merdeka Belajar”. Uraian tentang konsep belajar mandiri telah banyak
menghasilkan pro dan kontra, yang menunjukkan bahwa konsep perbaikan sistem pendidikan Indonesia
saat ini sudah out of the box. Paper ini mengambil tema belajar mandiri, dan bertujuan untuk
memberikan alternatif atau solusi bagi pembelajaran dan pendidikan di Indonesia saat ini. Solusi yang
diberikan berdasarkan masalah yang terjadi. Rencana studi mandiri bermula dari banyaknya keluhan
dalam sistem pendidikan. Salah satunya adalah keluhan tentang jumlah siswa yang ditentukan oleh
nilai-nilai tertentu. Banyak siswa merasa frustasi karena mereka harus memiliki sekolah yang bagus
dan berprestasi. Selain itu, salah satu syarat penilaian pembelajaran, Ujian Nasional (UN), selalu
menjadi masalah jangka panjang. Ade Erlangga, Direktur Departemen Komunikasi dan Pengabdian
Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan ujian nasional tidak baik untuk
semua peserta dan membingungkan orang tua, siswa, dan guru karena harus mencapai tujuan tertentu.
Dampak dari kegagalan juga berbeda-beda, dimulai dengan siswa yang dianggap siswa pintar setiap
hari, namun akhirnya harus gagal karena tidak bisa lulus UN, menjadi depresi bahkan bunuh diri. Ujian
nasional juga membuat siswa, guru, dan orang tua dirugikan. Namun, akan lebih menguntungkan bagi
tutor untuk menggunakan keuntungan ini. Tentu saja, masalah ini tidak bisa diabaikan. Konsep
"Merdeka Belajar" niscaya akan menjadi terobosan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.
Pembelajaran pada masa pandemi menekankan pada makna belajar itu sendiri yaitu proses
pengembangan potensi siswa dengan mengedepankan nilai-nilai yang baik dan bermanfaat. Proses
pembelajaran yang membuat siswa merasa bahagia dan membebaskan siswa atau guru menekankan
pada penguasaan keterampilan dan pengalaman hidup siswa. Keterampilan dan pengalaman hidup
tersebut akan menumbuhkan inovasi, sikap inovatif, dan mampu menguasai teknologi digital dengan
baik, sehingga dapat menjadi ada. Selama pandemi yang menuntut belajar di rumah ini, sebagian besar
pembelajaran dengan konsep belajar mandiri dilakukan secara online. Tujuan pembelajaran online atau
jarak jauh adalah untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang bermakna tanpa merasa terbebani
dengan menyelesaikan kursus atau persyaratan kelulusan. Merdeka belajar meliputi prinsip-prinsip
sebagai berikut: memberikan kemampuan kepada siswa untuk menggali potensi dirinya secara bebas,
sehingga dalam proses pembelajaran dapat mencapai perpaduan antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan tanpa ada tekanan dari guru dan orang tua. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran
siswa dapat menciptakan inovasi dan kreativitas yang unik sesuai dengan minat dan potensi yang
dimiliki.
2
KAJIAN TEORI
Teori Pendidikan
Pendidikan adalah proses pembentukan keterampilan dasar kepada alam dan manusia secara intelektual
dan emosional (Dewey, 1964). Pendidikan pula dimaksud bagaikan pemberian bekal yang tidak hanya
terdapat pada masa anak- anak tetapi diperlukan juga pada masa dewasa (Rousseau, 2007: 69). Ada
banyak pakar ilmu pembelajaran yang dalam kiprahnya sanggup mengganti sistem pembelajaran jadi
lebih baik. Perihal tersebut cocok dengan pendapat dari Gutek (1974) bahwa pendidikan ialah sesuatu
modal untuk membawakan peserta didik ke dalam suatu budaya yang akan tumbuh terus menerus.
Perihal tersebut sejalan pendapat dari Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan yang baik yaitu yang
sesuai dengan tumbuh kembang anak. Driyakarya juga berpendapat kalau guna dari pendidikan yaitu
memanusiakan manusia. Maksudnya adalah manusia dibekali ilmu pengetahuan agar ia menyadari
kodratnya selaku manusia yakni mempunyai hak serta kewajiban serta sanggup mempertanggung
jawabkannya. Pembekalan yang diberikan tidak hanya kemampuan pengetahuan semata namun juga
attitude (berkelakuan baik sesuai dengan norma serta nilai) dan soft skill. Seperti itu lah fungsi dari
pendidikan.
Mengenai hakikat dan fungsi pendidikan, keberadaan pendidikan merupakan tujuan mendidik manusia
agar dapat terdidik dan mampu mendidik manusia lainnya. Agar tidak melupakan seluruh fitrah
kemanusiaan dengan akhlak baik dalam keluarga atau masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan yang
baik tidak hanya sebatas pengelolaan kurikulum sekolah, tetapi juga perlu ditekankan bahwa
pendidikan harus ditanamkan sedini mungkin di lingkungan keluarga dan masyarakat. Untuk
memperoleh sistem pendidikan yang bermanfaat bagi negara dan kehidupan bernegara, maka sistem
pendidikan yang dianut haruslah berkaitan dengan kondisi yang coba dialami negara tersebut. Oleh
karena itu, sebagai pendidik harus memahami bagaimana karakter dan sikap masyarakat yang dialami
agar sistem pendidikan yang diterapkan ke depan dapat berfungsi dengan baik (Dewantara, 2013). Oleh
karena itu, syarat utama seorang pendidik adalah mampu menjadi panutan dan teladan. Konsep
pendidik yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara di atas adalah bahwa dalam proses belajar
mengajar, guru harus melaksanakan ngarsa sung tuladha, madya mangun karsa dan tut wuri handayani
3
semaksimal mungkin. Jika konsep ini terwujud, pendidik akan menunjukkan kewibawaannya. Selain
itu, guru atau pendidik adalah wujud pemusnahan dan peniruan yang akan menjadi kenyataan.
Dalam teori perubahan sosial, yang paling mendasar adalah menjelaskan peran penting manusia dalam
mengubah masyarakat. Perubahan selalu terjadi sesuai dengan fitrah dan fitrah manusia. Orang selalu
ingin melakukan perubahan karena selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah [Link]
ingin mencari hal-hal baru untuk mengubah hal-hal tertentu agar dapat berkembang sesuai dengan
kebutuhannya (Nur Djazifah ER, 2012) : 3). Dengan pemikiran tersebut, manusia memiliki tujuh fungsi
yang berguna: menciptakan, menciptakan, menyembuhkan, memperbarui, memperbaiki,
mengembangkan, dan menyempurnakan segala sesuatu ketika berinteraksi dengan alam dan manusia
lainnya (Henmanto dan Winarno, Nu Nur Djazifah ER, 2012: 3 ) -4). Ketujuh kemampuan ini
merupakan potensi manusia untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, yaitu memelihara dan
meningkatkan taraf hidup melalui penciptaan budaya, dan mengembangkan sisi manusia (kemudian
manusia juga dapat menciptakan, menyembuhkan, memperbaharui, memperbaiki, mengembangkan dan
meningkatkan budaya) (nu Er) ER Djazifah, 2012: 4). Kebudayaan yang dihasilkan melalui nalar
manusia biasanya memicu perubahan sosial. Dengan kata lain, perubahan sosial tidak lepas dari
perubahan budaya. Bahkan Kingsley Davis (2000) percaya bahwa perubahan sosial merupakan bagian
dari perubahan budaya. Sementara itu, menurut PB Horton dan CL Hunt (1992), hampir semua
perubahan besar mencakup aspek sosial dan budaya. Oleh karena itu, bila menggunakan istilah
"perubahan sosial" dan "perubahan budaya", perbedaan di antara keduanya tidaklah penting. Selain itu,
kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian. Terkadang istilah "perubahan sosial budaya"
digunakan untuk mencakup dua jenis perubahan. Perubahan sosial dan budaya tentunya memiliki satu
kesamaan, yaitu menerima metode baru atau memperbaiki cara masyarakat memenuhi kebutuhannya
(Nur Djazifah ER, 2012: 4).
Sistem pendidikan saat ini termasuk sistem pendidikan saat ini di era Revolusi Industri 4.0 yang
membutuhkan metode atau ekosistem baru untuk mencapai perbaikan masyarakat atau kebutuhan
pendukung seperti sumber daya manusia yang berkualitas dan maju. Peter Fisk (2019) mengatakan
sembilan tren terkait pendidikan 4.0 (Peter Fisk dalam Delepiter Lase, 2019: 29-30). Pertama,
4
belajarlah pada waktu dan tempat yang berbeda. Siswa akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk
belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. E-learning memberi Anda kesempatan untuk belajar
secara mandiri, dan Anda dapat belajar di tempat-tempat terpencil. Kedua, pembelajaran pribadi. Siswa
akan menggunakan perangkat pembelajaran sesuai dengan kemampuannya. Ketiga, siswa dapat
memilih metode pembelajarannya sendiri. Meskipun setiap kursus bertujuan pada tujuan yang sama,
metode untuk mencapai tujuan tersebut berbeda-beda dari siswa ke siswa. Demikian pula, melalui
pengalaman belajar yang berorientasi pribadi, siswa akan dapat memodifikasi proses belajar mereka
dengan menggunakan alat yang mereka anggap perlu. Keempat, pembelajaran berbasis proyek. Siswa
saat ini harus mampu beradaptasi dengan pembelajaran dan pekerjaan berbasis proyek. Ini
menunjukkan bahwa mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilan mereka pada berbagai
situasi dalam waktu singkat. Kelima, pengalaman lapangan.
Kemajuan teknologi telah membuat pembelajaran di bidang tertentu menjadi efektif, sehingga
memberikan lebih banyak ruang untuk menarik pengetahuan dan keterampilan siswa, sehingga menarik
interaksi tatap muka. Oleh karena itu, pengalaman lapangan akan diperdalam melalui kursus atau
latihan. Keenam, interpretasi data. Perkembangan teknologi komputer akhirnya mengambil alih tugas
analisis manual (matematis), dan segera memproses setiap analisis statistik, deskripsi dan analisis data,
serta prediksi tren masa depan. Oleh karena itu, interpretasi siswa terhadap data ini akan menjadi
bagian yang lebih penting dari mata kuliah mendatang. Tujuh, evaluasi ganda. Tidak relevan atau tidak
cukup untuk mengukur kemampuan siswa melalui teknik penilaian tradisional (seperti tanya jawab).
Asesmen harus diubah, pengetahuan aktual siswa dapat dievaluasi selama proses pembelajaran, dan
penerapan pengetahuan mereka dapat diuji ketika siswa berpartisipasi dalam proyek di bidang ini.
Delapan, partisipasi siswa. Sangat penting bagi mahasiswa untuk berperan serta dalam menentukan
materi pembelajaran atau mata kuliah. Pendapat siswa juga menjadi pertimbangan saat merancang dan
memperbarui kursus. Terakhir, bimbingan atau bimbingan. Membimbing siswa atau memberikan
bimbingan kepada siswa sangat penting untuk membentuk kemandirian belajar siswa. Pembinaan
merupakan fondasi keberhasilan siswa, sehingga dibutuhkan guru sebagai fasilitator yang akan
membimbing siswa melalui proses pembelajaran.
5
Konsep Merdeka Belajar Nadiem Makarim
Merdeka Belajar adalah inisiatif kebijakan yang digagas oleh Nadiem Anwar Makarim, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI). Pada hakikat kebebasan berpikir,
Nadiem Anwar berpandangan bahwa guru harus memiliki jiwa mendidik siswa terlebih dahulu. Oleh
karena itu, guru harus memiliki jiwa pendidik yang matang tanpa merasa tertekan agar dapat
menyampaikan ilmunya kepada siswa dengan baik. Nadiem Makarim berharap dapat menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan atau menyenangkan. Menurut Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, belajar mandiri terbebas dari keinginan: hasil pendidikan akan menghasilkan kualitas
yang lebih tinggi, yang tidak hanya melatih siswa dengan kemampuan memori yang baik, tetapi juga
memiliki keterampilan analitis yang tajam, keterampilan penalaran, dan pengembangan diri yang
komprehensif Understanding ("Birawa Daily", 2020).
Nadim mengatakan bahwa kurikulum adalah fondasi pembelajaran, dan pembelajaran dalam sistem
pembelajaran mandiri percaya bahwa model pembelajaran yang inovatif harus dilaksanakan. Dalam
tuntutan masa kini, blended learning merupakan salah satu model pembelajaran yang disukai
diterapkan di bidang pendidikan. Menurut Bersin (2004) blended learning merupakan gabungan dari
berbagai media pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan program pembelajaran yang terbaik.
Di tahun mendatang, sistem pembelajaran akan bergeser dari nuansa tatap muka atau hands-on ke
pembelajaran jarak jauh. Suasana belajar menjadi lebih menarik, karena siswa tidak hanya dapat
mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga menemukan pengetahuan baru sendiri. Hasil pembelajaran
tidak hanya bergantung pada sistem peringkat. Menurut beberapa survei, sistem pemeringkatan ini
hanya akan mengganggu anak-anak dan orang tua. Karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat di
bidangnya masing-masing. Suatu saat nanti akan ada sekelompok mahasiswa yang siap bekerja,
mampu dan berbudi luhur (Mustaghfiroh: 2020). Belajar mandiri merupakan proses belajar yang alami
untuk mencapai kemandirian. Pertama-tama kita harus belajar mandiri dulu, karena masih banyak hal
6
yang membatasi rasa kemerdekaan, rasa merdeka dan sempitnya ruang kemerdekaan. Inti dari belajar
mandiri adalah menggali potensi terbesar guru dan siswa, melaksanakan inovasi mandiri dan
meningkatkan kualitas pembelajaran. Mandiri tidak hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan,
tetapi sebenarnya merupakan inovasi pendidikan (Prayogo, 2020). Program "Merdeka Belajar" yang
pertama meliputi Ujian Sekolah Standar Nasional (USBN), dimana USBN 2020 akan dilakukan
melalui ujian yang diadakan oleh sekolah. Ujian dirancang untuk menilai kemampuan siswa dan dapat
dilakukan dalam bentuk tes tertulis atau penilaian komprehensif, seperti portofolio dan tugas. Kedua,
pada tahun 2021, Ujian Nasional (UN) akan diubah menjadi “Penilaian Kemampuan Minimum
(AKM)” dan survei peran, yang meliputi kemampuan menggunakan penalaran lisan (literasi skill) dan
keterampilan penalaran matematis (berhitung), serta penguatan pendidikan peran . Ujian akan
dilakukan oleh siswa di tingkat pendidikan menengah (misalnya, kelas 4, 8 dan 11) untuk mendorong
guru dan sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran. Arah kebijakan juga melibatkan praktik baik
internasional seperti PISA dan TIMSS. Ketiga, penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), dan keempat adalah “Peraturan Pendaftaran Baru Daerah” (PPDB). Komposisi jalur partisi
PPDB dapat menerima minimal 50% siswa, minimal 15% jalur terkonfirmasi dan 5% jalur transfer
maksimum. Untuk jalur partisi atau sisa 0-30% akan disesuaikan dengan kondisi wilayah. Daerah
berhak menentukan rasio akhir dan menentukan wilayah zonasi.
7
PEMBAHASAN
Pendidikan adalah proses belajar mengajar siswa agar memiliki kecerdasan dan karakter yang baik
untuk diri sendiri dan masyarakat. Pendidikan biasanya diajarkan oleh guru dan biasanya berlokasi di
sekolah, namun sebenarnya pendidikan bisa dilakukan tidak hanya di sekolah, tapi juga di mana pun.
Guru adalah orang yang perlu dihormati dan ditiru, artinya jika kita menjadi seorang guru, kita harus
berperilaku dengan baik agar siswa dapat mencontohnya dengan baik. Mulai dari sikap terhadap siswa,
berbicara, dan berdandan harus sesuai. Karena guru sangat perhatian di kelas dan juga berperan penting
di sekolah, guru harus memiliki standar kemampuan yang baik. Kualitas pendidikan di Indonesia saat
ini tertinggal dari kualitas pendidikan di luar negeri. Seperti kita ketahui bersama, pendidikan di
Indonesia terkesan semrawut. Banyak orang di Indonesia yang masih belum memahami pentingnya
pendidikan, sehingga sebagian besar masyarakat Indonesia meremehkan pendidikan.
Jika dilihat lebih jauh, pendidikan merupakan salah satu indikator pembangunan dan salah satu faktor
penentu kemajuan suatu negara. Kualitas pendidikan yang buruk menyebabkan siswa kehilangan
kreativitasnya setelah sekolah, dan kepercayaan diri mereka menurun dalam menghadapi lingkungan
kerja yang keras. Mereka yang mampu mengenyam pendidikan akan menyadari bahwa dunia
pendidikan kita masih "tidak sehat". Dunia pendidikan yang “patologis” ini disebabkan oleh
pendidikan, pendidikan semacam ini seharusnya menjadikan manusia sebagai manusia, namun
seringkali tidak sesuai. Biasanya, pendidikan tidak menjadikannya manusia. Sistem pendidikan yang
ada cenderung mereduksi kepribadian seseorang. Masalah pertama, khususnya di Indonesia, telah
melahirkan “robot manusia” karena pendidikan yang diberikan bersifat sepihak, dengan kata lain, tidak
merata. Pendidikan pada akhirnya mengorbankan integritas dan kurang keseimbangan antara belajar
berpikir (kognisi) dan perilaku belajar. Oleh karena itu, elemen integrasi cenderung menghilang, dan
yang terjadi adalah keruntuhan. Padahal tidak hanya belajar, tapi juga belajar.
Untuk mencapai tujuan dari konsep merdeka belajar, pembelajaran yang inovatif harus dimaksimalkan
oleh guru sebagai rangsangan dalam belajar agar tidak bosan dan jenuh. Dalam proses pembelajaran
peserta didik tidak lagi didoktrin untuk menerima informasi dan budaya menghafal tanpa memunculkan
model pendidikan yang interaktif antara guru dan siswanya. Siswa yang ditempatkan sebagai objek
yang didominasi oleh guru kini harus menjadi subjek yang aktif. Pengenalan tidak cukup hanya
subjektif atau objektif saja, tetapi harus keduanya. Dalam mewujudkan pembelajaran inovatif sangat
dibutuhkan oleh adanya model pembelajaran, media pembelajaran, dan yang paling penting adalah
strategi pembelajaran. Dalam pengembangan pembelajaran inovatif ini dapat dirancang dengan
8
menyusun kerangka kerja yang jelas yang biasa disebut model pembelajaran. Pemilihan model
pembelajaran harus mampu menciptakan pembelajaran yang menarik dan membangkitkan semangat
siswa. Dalam menentukan model pembelajaran untuk mencapai tujuan merdeka belajar bagi siswa,
guru dapat menggunakan media pembelajaran sebagai alat transfer ilmu. Apalagi dalam hal
perkembangan teknologi yang pesat, sangat mudah untuk menyampaikan ilmu kepada siswa. Saat
menerapkan pembelajaran inovatif, guru harus terlebih dahulu dapat menyediakan ruang belajar
interaktif dengan siswa. Karena pembelajaran interaktif merupakan perwujudan dari konsep merdeka
belajar, maka pembelajaran interaktif memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan
pengalaman dan pengetahuannya.
Pembelajaran interaktif ini dapat diperoleh dengan model diskusi. Selain menciptakan ruang belajar
yang interaktif, kedua guru tersebut juga harus pandai membaca situasi siswa di kelas agar selalu fokus
pada pelajaran. Untuk itu, guru tidak hanya harus menjelaskan topik, tetapi juga menciptakan suasana
belajar yang lancar, seperti memberikan hiburan bagi siswa. Hal ini bertujuan untuk merefleksikan
psikologi siswa agar tidak mengalami kebosanan dan kebosanan. Ketiga, guru memberi penghargaan
atau reward kepada siswa, terutama siswa yang berprestasi. Tujuannya untuk menjaga prestasi siswa.
Penghargaan tidak harus dalam bentuk materi, namun pujian dan motivasi kepada mahasiswa termasuk
dalam kategori penghargaan. Selain itu, siswa yang tidak berprestasi pun juga diberikan reward. Karena
bagaimanapun juga guru harus mampu membaca dan mengontrol psikologi siswa. Artinya walaupun
reward untuk orang berprestasi berbeda-beda, semuanya harus diperhatikan oleh guru, karena ini juga
dirancang untuk memberikan motivasi dan inspirasi bagi siswa lain. Keempat, guru harus mampu
mengintegrasikan teknologi sebagai penghubung media pembelajaran. Karena di era teknologi yang
selalu berubah ini, guru dan siswa harus mahir dalam mengoperasikan teknologi saat menghadapi
tantangan zaman. Apalagi saat pandemi ini sudah diterapkannya belajar dengan sistem daring atau
online. Hal ini berkaitan dengan yang dikatakan oleh Peter Fisk tentang tren terkait pendidikan 4.0
(Peter Fisk dalam Delepiter Lase, 2019: 29-30) yang pertama yaitu belajar di waktu dan tempat yang
berbeda. Siswa akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk belajar pada waktu dan tempat yang
berbeda. E-learning memberikan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan ketika sedang berada di
jarak yang jauh.
Selain E-learning, dalam konsep merdeka belajar juga terdapat metode belajar yang disebut dengan
blended learning. Blended learning pada dasarnya adalah kombinasi dari keuntungan pembelajaran
tatap muka dan secara virtual ([Link]: 2018). Blended learning merupakan metode pembelajaran
9
yang mudah dipelajari yang memadukan berbagai metode pengajaran, gaya pengajaran, gaya
pembicaraan, serta memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara guru dan siswa atau antar
siswa. Blended learning juga merupakan kombinasi dari pengajaran tatap muka dan pengajaran online,
tetapi bukan hanya bagian dari interaksi sosial. Dalam dunia pendidikan saat ini, keuntungan
menggunakan e-learning dan blended learning adalah e-learning dapat secara fleksibel memilih waktu
dan tempat kelas. Guru dan siswa yang menerapkan pengajaran tidak perlu pergi ke sekolah dan dapat
melakukan e-learning di mana pun, terlepas dari apakah mereka memiliki akses ke Internet atau tidak.
E-learning memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk mengontrol keberhasilan tujuan
pendidikan. Siswa atau guru bebas untuk memutuskan kapan harus memulai, kapan harus
menyelesaikan dan bagian mana dari modul yang mereka ingin pelajari terlebih dahulu. Jika masih ada
hal yang tidak mereka pahami setelah mengulang, peserta didik dapat menghubungi guru di beberapa
titik melalui email, chat atau berpartisipasi dalam dialog interaktif. Oleh karena itu, metode blended
learning akan mempercepat terjadinya perubahan sosial budaya dalam sistem pendidikan. Karena
metode pembelajaran ini akan memenuhi kebutuhan pengajaran di era revolusi industri 4.0. Dalam
reformasi pendidikan metode blended learning, masyarakat telah menerima cara-cara baru untuk
memenuhi kebutuhan di dunia pendidika. Misalnya, guru dapat berperan dalam membangun
kemampuan, karakter, keterampilan literasi baru, dan keterampilan berpikir yang lebih tinggi. Dengan
cara bebas berinovasi dengan siswa, dan dapat lebih nyaman dalam menyikapi hidup, tindakan,
keputusan, dan pendekatan terhadap segala jenis pengetahuan yang didasari dengan penuh
kegembiraan. Merdeka juga dalam penggunaan semua media pembelajaran baik media cetak yaitu
buku, modul, dan lembar kerja dan media elektronik yaitu video, audio, presentasi multimedia, dan
konten daring atau online juga dapat digunakan. Media pembelajaran telah merealisasikan tren
pendidikan era Revolusi Industri 4.0 yang dikemukakan oleh Peter Fisk.
Dalam konteks pendidikan, konsep kualitas atau mutu dapat dilihat dari input, proses dan output. Untuk
menjawab tantangan nasional dan internasional, maka perlu dilaksanakan pendidikan yang bermutu.
Dalam arti menghasilkan output yang sesuai dengan harapan masyarakat, pendidikan yang berkualitas
merupakan kunci untuk menumbuhkan masyarakat yang mampu dan berbudaya. Saat ini kesadaran
masyarakat akan mutu pendidikan semakin meningkat, terlihat dari keseriusan berbagai institusi
pendidikan untuk meningkatkan daya saing, efektivitas, pelayanan dan transparansi. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika peningkatan mutu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait
lainnya di bidang pendidikan. Padahal pendidikan nasional di Indonesia saat ini masih belum sesuai
10
dengan harapan peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat, dan pemerintah sendiri baik dari segi
kualitas maupun kuantitas.
Untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik, sumber daya manusianya juga harus memiliki karakter
yang baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dibina secepatnya. Bahkan Presiden Soekarno
pernah berkata: "Jika Anda tidak membangun pendidikan moral, tidak mungkin membangun sebuah
negara". Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pendidikan karakter atau pendidikan moral
dalam membangun jati diri sebuah bangsa. Inovasi yang dapat dilakukan untuk menanamkan
pendidikan karakter yaitu yang pertama menanamkan nilai-nilai agama. Ilmu agama tentunya akan
memberikan sikap yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu pendidikan agama sudah
dihargai sejak usia dini, karena dapat menjadikan karakter anak menjadi baik. Kedua, memberikan
contoh yang baik. Jika kita seorang guru, maka tentunya kita melihat sisw hampir setiap hari, dimana
kita bisa menjadi panutan untuk hal-hal yang baik sehingga mereka juga bisa meniru hal-hal yang baik,
seperti mengenakan pakaian yang sopan atau berbicara dengan orang yang sopan. Kemudian,
menerapkan budaya literasi. Selama jam pelajaran, kita tidak hanya memberikan materi yang
membosankan,tetapi kita juga bisa menyelingi keterampilan mendongeng atau literasi yang dapat
mengajarkan karakter baik seseorang. Karena terkadang siswa tertarik dengan sebuah cerita, apalagi
cerita yang dapat menginspirasi mereka. Jadi, selain mewujudkan siswa atau peserta didik yang dapat
berpikir kritis atau memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, dapat berkomunikasi dan berkolaborasi,
serta berkarakter, tetapi juga dapat menciptakan siswa dan peserta didik yang jujur, bertakwa, pekerja
keras atau tekun, bertanggung jawab, adil, disiplin, toleran, dan sebagainya. Singkatnya, metode ini
dapat mencapai tujuan dari sistem pendidikan merdeka belajar, yaitu menciptakan sumber daya
manusia yang berkualitas dan unggul.
Masalah pendidikan sebenarnya bukan hanya PR pemerintah, tetapi juga PR bagi seluruh masyarakat
Indonesia. Pemerintah telah melakukan yang terbaik untuk mengganti kurikulum yang tidak efektif,
memperbaikinya, dan mengubah model pembelajaran. Kita harus menghargai bahwa ini adalah upaya
nyata. Kita juga harus berpartisipasi dalam upaya membangun citra pendidikan Indonesia. Kita harus
membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan negara maju. Oleh karena itu, masih banyak
kekurangan pendidikan di Indonesia dan berbagai pihak juga sangat antusias untuk memperbaikinya.
Kualitas siswa tergantung pada sifat gurunya. Jika gurunya antusias maka siswa akan sangat antusias,
jika gurunya malas maka siswa akan malas. Melalui perbandingan dari berbagai sudut pandang dan
11
kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, kita berharap kualitas pendidikan di Indonesia
dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan.
12
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada pembukaan UUD 1945 alenia keempat secara tidak langsung menyatakan bahwa negara memiliki
tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya. Untuk menjadi negara maju, pendidikan
sangat penting karena dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dalam kemajuan
teknologi yang berkembang pesat. Dalam menghadapi masa depan yang tidak lepas dari kemajuan
teknologi dan informasi serta tren globalisasi, maka tantangan pendidikan akan semakin berat. Masalah
pendidikan, terutama di sekolah menjadi semakin rumit. Namun pada kenyataannya permasalahan
mendasar dari pendidikan Indonesia adalah sistem pendidikan Indonesia sendiri yang menjadikan
peserta didik sebagai objek, sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah
mereka yang hanya siap memenuhi kebutuhan zaman, bukan kritis terhadap perkembangan zaman.
Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat disini untuk mengatasi segala
permasalahan pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggagas konsep
“Merdeka Belajar” untuk melakukan terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tujuannya
tentunya untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu menciptakan siswa atau peserta didik yang berfikir
kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, jago dalam komunikasi dan kolaborasi, serta
berkepribadian. Oleh karena itu, rencana pelaksanaan kegiatan pembelajaran harus mampu mengatasi
tantangan dan memanfaatkan sepenuhnya peluang pendidikan di era Revolusi Industri 4.0. Guru
merupakan kunci keberhasilan sistem pendidikan pembelajaran mandiri, oleh karena itu guru harus
mampu beradaptasi dengan sistem pendidikan yang baru agar memiliki kemampuan dan keterampilan.
SARAN
Pendidikan yang maju merupakan motor penggerak kemajuan dunia, oleh karena itu sistem pendidikan
negara harus diubah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan meningkatkan mutu
pendidikan, hal ini juga akan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu
bersaing secara sehat dengan negara lain. Selain itu, solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia
adalah harus mampu merubah sistem sosial, karena erat kaitannya dengan sistem pendidikan, kualitas
guru dan siswa.
13
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, Ivan. (2020). Merdeka Belajar, Melokalkan Yang Lokal. [Link]. Diakses dari
[Link] pada 9
Januari 2021
Baro’ah, Siti. 2020. “Kebijakan Merdeka Belajar Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan”
Vol. 4 No. 1. Diakses dari [Link] pada 8 Januari
2021
Chaterine, Rahel Narda. (2019). Kemendikbud Jelaskan Alasan Dibalik Kosep Merdeka Belajar
Nadiem Makarim. DetikNews Online. Diakses dari [Link]
4822565/kemendikbud-jelaskan-alasan-di-balik-konsep-merdeka-belajar-nadiem-makarim
pada 9 Januari 2021
Istiq’faroh, Nurul. 2020.“Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara Sebagai Dasar Kebijakan
Pendidikan Nasional Merdeka Belajar di Indonesia” Vol. 3 No.2. Diakses dari
[Link] pada 8 Januari 2021
Saleh, Meylan. 2020. “Merdeka Belajar di Tengah Pandemi Covid-19”. Diakses dari
[Link] pada 8 Januari
2021
Syufa’ati, NailunNadhifah. 2020. “Perkembangan Pendidikan NonFormal di Era Merdeka Belajar”
Vol.1 No. 3. Diakses dari [Link] pada 8
Januari 2021
Universitas Jambi. (2020). Konsep “Merdeka Belajar”: Kemana Arah Pendidikan Indonesia.
[Link]. Diakses dari [Link]/2020/01/02/konsep-merdeka-belajar-kemana-arah-
pendidikan-indonesia/ pada 8 Januari 2021
Yamin, Muhammad., Syahrir. “Pembangunan Pendidikan Merdeka Belajar (Telaah Metode
Pembelajaran)” Vol. 6 No. 1. Diakses dari [Link]
[Link] pada 8 Januari 2021
14