100% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
2K tayangan87 halaman

Prosedur Dasar Lifting dan Rigging

- Memastikan peralatan lifting dan rigging telah diperiksa dan dalam kondisi baik - Memastikan personil yang terlibat memiliki kompetensi dan pelatihan yang sesuai - Membuat rencana pengangkatan dan memastikan semua personil memahaminya - Memastikan area kerja aman dan tidak ada orang yang berada di bawah beban - Memantau jalannya pekerjaan dan menghentikan jika terjadi ketidakamanan Operator: - Memastikan peralatan lifting dalam kondisi

Diunggah oleh

Very Afrizal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
2K tayangan87 halaman

Prosedur Dasar Lifting dan Rigging

- Memastikan peralatan lifting dan rigging telah diperiksa dan dalam kondisi baik - Memastikan personil yang terlibat memiliki kompetensi dan pelatihan yang sesuai - Membuat rencana pengangkatan dan memastikan semua personil memahaminya - Memastikan area kerja aman dan tidak ada orang yang berada di bawah beban - Memantau jalannya pekerjaan dan menghentikan jika terjadi ketidakamanan Operator: - Memastikan peralatan lifting dalam kondisi

Diunggah oleh

Very Afrizal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Presented by : Irwan Sitorus

BASIC LIFTING & RIGGING


Peraturan yang berhubungan dengan peralatan angkat, lifting, rigging
dan pesawat angkut.

• DASAR HUKUM : UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

• Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Pesawat Angkat Dan Pesawat Angkut.

• PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA No. 1 TAHUN 1980 Tentang Konstruksi &
Scaffolding
Alat yang diatur dalam Permenaker 8 Tahun 2020

Pesawat Angkat
Pesawat Angkat adalah pesawat atau peralatan yang dibuat, dan di pasang untuk mengangkat,
mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja dan/atau muatan. Adapun pesawat angkat yang
diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Pesawat Angkat Dan Pesawat Angkut adalah:

- Dongkrak, terdiri atas dongkrak hidraulik, dongkrak pneumatik, dongkrak post lift, dongkrak
truck/car lift, lier, dan peralatan lain yang sejenis;

dongkrak hidraulik dongkrak pneumatik dongkrak post lift


Contoh Alat yang termasuk pesawat angkat adalah:

Mobile Crane Tower Crane Hydraulic Drilling Rig

Overhead Crane Passenger hoist Gondola


Alat yang diatur dalam Permenaker 8 Tahun 2020 (lanjutan)

Pesawat Angkut
Pesawat Angkut adalah pesawat atau peralatan yang dibuat dan dikonstruksi untuk memindahkan
benda atau muatan, atau orang secara horisontal, vertikal, diagonal, dengan menggunakan kemudi
baik di dalam atau di luar pesawatnya, ataupun tidak menggunakan kemudi dan bergerak di atas
landasan, permukaan maupun rel atau secara terus menerus dengan menggunakan bantuan ban,
atau rantai atau rol.
Contoh Alat yang termasuk pesawat angkut adalah:

Forklift Excavator Backhoe Loader

Grader Tractor
Lift Truck
Contoh Alat yang termasuk pesawat angkut adalah:

Cargo lift truck Side loader truck Axle Transport

Conveyor

Trailer Module transporter Car Towing


BASIC SAFETY LIFTING

Lifting merupakan aktifitas untuk mengangkat barang, dalam proses ini terdapat
resiko kecelakaan yang relative besar

Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam proses lifting yaitu :

1. Perencanaan yang kurang baik


2. Kegagalan dari peralatan
3. SDM yang tidak memenuhi persyaratan
4. Faktor alam (cuaca, bencana alam dll)
Data – data yang diperlukan sebelum dilakukan proses lifting adalah :

1. Dimensi dari peralatan : tinggi dan panjang


2. Berat Beban yang akan di angkat : berat peralatan + lifting tackle (pengait / hook) + Hook block pengunci
hook) + wire rope yang berada di bawah boom + fly jib dan hook block yang terpasang pada nya.
3. Radius dari peralatan yang akan diangkat
4. Derajat kemiringan dari peralatan yang akan di angkat, di mana crane tersebut juga bergerak atau
berpindah tempat saat proses pengangkatan dengan membawa beban
5. Counter Weight (beban penyeimbang)
6. Arah angin secara spesifik
7. Kondisi ruang kemudi
8. Jarak antara boom dengan peralatan yang akan diangkat
9. Kekuatan tanah pijakan Crane (Lembut / berair, berlumpur atau tanah keras
10. SWL (Safety Weight Load) dari Lifting Tackles
11. Tempat yang akan dijadikan lay down atau tempat penurunan peralatan yang akan di pasang atau di
pindahakan telah dalam kondisi aman dan sesuai dengan peralatan tersebut (untuk pemasangan pipa,
beam,dll dipastikan apakah ukurannya telah sesuai dan dapat dilakukan pemasangannya
Identifikasi Potensi Bahaya Operasional Pengangkatan (Lifting)

Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan dalam suatu pekerjaan, maka semakin besar
peluang untuk mengendalikan resiko. Oleh karena itu, perlu untuk mengenali potensi-potensi
bahaya dari pekerjaan yang hendak dilakukan. Beberapa potensi bahaya yang menjadi catatan
dalam melakukan kegiatan lifting operation menggunakan crawler crane di antaranya:
• Tertabrak, terlindas atau tersenggol pada saat proses crane bergerak menuju lokasi pengangkatan,
• Bahaya kelistrikan, terutama pada kabel listrik yang tergantung (hanging cable)
• Tertimpa, terbentur atau terjepit material yang diangkat,
• Material terjatuh
• Crane overload dan roboh
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lifting operation antara lain:

• Kesiapan personel; terlatih, memahami langkah kerja dan memiliki sertifikat


• Peralatan; pesawat angkat, alat ikat, shackle dan semua alat yang terlibat harus sesuai
• Cuaca; hujan, kecepatan angin, petir, atau suasana berkabut
• Lokasi; tempat pijakan crane, kemiringan permukaan atau kegiatan lifting di air
• Waktu; sedapat mungkin tidak melakukan lifting di malam hari karena akan
mempengaruhi pencahayaan
Lifting Operation (Operasi Pengangkatan)

ANDA DIHARUSKAN PENGAWAS PEKERJAAN WAJIB

• Memiliki kompetensi dan sertifikat • Memastikan bahwa pekerja (operator dan riger) memiliki
sebagai operator alat angkat/angkut kompetensi yang disyaratkan
• Memastikan alat angkat dalam • Memastikan tidak ada orang yang berjalan diatas beban
kondisi layak pakai dan memiliki yang diangkat
sertifikat masih berlaku • Memastikan penilaian resiko dan rencana
• Melakukan kegiatan pengangkatan pengangkatantelah disiapkan sebelum operasi
sessuai batas kapasitas angkat pengangkatan
• Memastikan peralatan keselamatan • Memastikan peralatan pengangkat dan aksesorisnya (sling)
berfungsi dengan baik termasuk sesuai standar dan telah diinspeksi sebelum digunakan
alaram. • Memastikan pagar pengaman telah terpasang
• Memastikan area kerja aman untuk pelaksanaan pekerjaan
• Memastikan prosedur operasi pengangkatan sudah di
kommunikasikan kepada semua pekerja
Lifting Operation

Sebelum melakukan pekerjaan pengangkatan, personnel yang terlibat perlu


memahami informasi pengangkatan dasar seperti:
• Persyaratan minimum dan spesifikasi operasi yang aman, perawatan, inspeksi dan
pengujian alat angkat.
• Kualifikasi dan pelatihan yang dibutuhkan oleh personnel untuk melakukan
operasi pengangkatan dengan aman dan effektif.
Operasi
Pengangkatan
• Metode perencanaan operasi pengangkatan.
• Adanya rencana tanggap darurat sebelum pekerjaan dimulai.

Apakah Anda terlatih dan mampu untuk melaksanakan pekerjaan ini?


Anda memiliki kewajiban untuk menghentikan pekerjaan jika pekerjaan
tersebut tidak aman.
Bahaya & Resiko

Bahaya dan resiko yang berhubungan


dengan pengangkatan seperti :
 Jatuh atau patahnya alat angkat
 Runtuhnya tiang penyangga/beban
 Beban menabrak peralatan lain atau orang
 Tersengat listrik

IFault = 42 A

V~ = (4160/1.732) V
=2400 V

Crane
Resistance

Crane
Operator

Earth
Resistance
Bahaya & Resiko
Bahaya utama yang berhubungan dengan
pengangkatan adalah :
Penggunaan peralatan yang tidak sesuai
kemampuannya/tidak stabil untuk
pengangkatan beban serta kegagalan
menghentikan dan menganalisa ulang kondisi
yang berubah

Alat angkat tidak dalam kondisi operasi yang aman dikarenakan :


 Perawatan/perbaikan/inspeksi yang kurang baik
 Personnel tidak kompeten atau tidak terlatih
 Perencanaan dan pengaturan yang kurang baik
Ruang Lingkup Prosedur
Pengangkatan
Prosedur ini berkaitan dengan pekerjaan:
• Pengangkatan/ penurunan mekanis, yang
dilakukan di darat dan perairan dangkal.
• Rigging manual operation, biasanya
menggunakan 1 atau lebih non-powered
On-shore lift operation In-shore lift operation
appliance seperti chain block pada ruangan
sempit.
• Heavy transportation, menggunakan multi-
axle trailer atau Self Propelled Modular
Transporter (SPMT)
• Pengamanan muatan/ lashing, untuk
mengamankan muatan agar tidak jatuh Rigging operation (cross hauling) Multi-axle trailer / SPMT
karena pembebanan dinamis.
• Pull & push operation atau jacking &
skidding, menggunakan hydrolic jack untuk
pekerjaan lifting pada ruangan sempit
dimana crane tidak bisa manuver).

Cargo securing / lashing Jacking & Skidding


Alat Angkat
Jenis Alat Angkat
• Portable Lifting Equipment: Sling, Rigging Accessories,
• Fix Lifting Equipments: Overhead, Gin pole, Gantry, etc
• Transit Equipment and Slings
• Cargo Carrying Units (CCU) and Iso Containers
• Mobile Lifting Equipments: Wheel Crawler, etc.

Telescopic Crane Cargo Carrying Unit Overhead Crane


Alat Bantu Angkat (Aksesoris)
• Slings

Wire Rope Wire Stamp Flemish Sling Tagging

Webbing Sling Webbing Tag Chain


Alat Bantu Angkat (Aksesoris)
• Aksesoris Rigging

Shackle Sleeve Ring


Shackle
2 Pieces Shackle (dilarang digunakan)
4 Pieces Shackle

Hook
Chain Blocks
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat
Lifting Coordinator
Mengelola semua pekerjaan pengangkatan dilapangan agar dapat dilakukan
dengan aman, dan mereview lifting plan yang diajukan. Bertanggung jawab
untuk menetapkan standar/prosedur dan melakukan perbaikan sistem
manajemen pekerjaan pengangkatan secara berkelanjutan (continues
improvement).
Lifting Equipment Inspector
Merujuk pada inspeksi pihak ketiga untuk alat angkat (Cranes, fork lift trucks,
overhead cranes, davit arms, dll). Pada site yang lebih kecil, Inspektor alat angkat
dapat juga mengambil peran sebagai inspektor aksesoris pengangkatan

Inspektor Aksesoris Angkat


Merujuk pada inspeksi pihak ketiga untuk aksesoris angkat, misalnya sling,
shackle, rantai, dll.

Operator Fasilitas Angkat Bermesin/ Powered Lifting Appliances


Merujuk pada orang yang mengoperasikan peralatan/ plant harus orang yang diperintahkan secara formal
supaya memastikan bahwa dia familiar dengan tanggung jawab dan desain peralatan dan SWPP/ prosedur.
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat

Operator Manlift/Mobile Crane/Forklift


Orang yang mengoperasikan Manlift (pengangkat orang)/Mobile Crane/Forklift untuk tujuan
pengangkatan dan penempatan orang yang berkerja/ beban

Orang Berkompeten Melakukan Pengangkatan Lapangan


• Semua jajaran fungsi yang mengatur semua operasi pengangkatan dan perkerjaan yang
berkaitan pada tingkat lapangan, melakukan verifikasi sendiri dan pengawasan
kontraktor untuk identifikasi dan mitigasi risiko
• Menyiapkan lifting plan dan kelengkapan dokumen yang dibutuhkan, serta memastikan
lifting plan yang disetujui dimengerti oleh semua personel yang terlibat.

Penyedia Pelatihan
Penyedia pelatihan yang ditunjuk bertanggung jawab untuk menyediakan program pelatihan
yang sesuai standar Internasional untuk semua peran operasi pengangkatan yang ditetapkan
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat

Rigging Loft Controller


• Terlibat dalam pengembangan prosedur rigging lift/ penyimpanan peralatan angkat
• Review status peralatan secara mingguan
• Verifikasi dan mengatur area karantina untuk mencegah akses orang yang tidak
berwenang
• Verifikasi penyimpanan peralatan angkat disuplai dengan register alat angkat
• Verifikasi penyimpanan alat peralatan/ aksesoris angkat aman
• Verifikasi bahwa penyimpanan peralatan angkat memiliki ruang yang cukup untuk
penempatan peralatan yang rapi
• Verifikasi semua peralatan angkat dan aksesorisnya digunakan sesuai dengan peruntukan
dan kode warnanya.
• Menjaga dan menampilkan daftar personil yang berwenang untuk penggunaan peralatan
angkat dan aksesorisnya dan membatasi hanya untuk personil yang berwenang.
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat
Slinger/Rigger
• Terlibat dalam perencanaan dan penilaian risiko operasi pengangkatan dan safety meeting sebelum
pengangkatan
• Membatasi akses ke area operasi hanya diperuntukan bagi personil utama
• Menyiapkan beban yang akan diangkat sesuai dengan rencana pengangkatan
• Melakukan inspeksi pre-use terhadap aksesoris angkat sebelum digunakan
• Inspeksi beban sebelum melakukan pengangkatan dan memverifikasi beban yang terikat/ tidak
terikat dengan benar
• Berdiri pada area yang mudah terlihat ketika beban diangkat atau diturunkan dan dan menjaga
komunikasi dengan Banksman/ Signalman setiap saat
• Menerapkan aturan keamanan tangan dan tagline dan selalu memonitor operasi pengangkatan
• Mengambil posisi aman selama operasi pengangkatan dan memperhatikan posisi orang lain
• Mengemas dan mengamankan kontainer, pengemasan dan penanganan yang aman pada kargo di
kapal dan di darat
• Melepaskan ikatan dan mengembalikan peralatan angkat dengan benar ke penyimpananan
peralatan angkat atau area karantina
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat

Slinger/Rigger
• Verifikasi berat beban berada pada kapasitas dari peralatan
dan aksesoris angkat
• Memastikan sling tidak digunakan pada sudut yang berlebih
sesuai dengan rencana pengangkatan
• Memastikan rute yang dilalui bebas dari hambatan dan
ditempatkan pada area yang cocok
• Identifikasi dan menghilangkan potensi titik tersangkut di
sekitar beban
• Memastikkan area sekitar beban yang akan diangkat bebas
halangan dan beban bebas untuk diangkat
• Monitor terus menerus operasi pengangkatan dan menjaga
komunikasi dengan semua pihak setiap waktu
Tanggung Jawab Personil yang Terlibat

Signalman/Banksman:
• Pengangkatan hanya dapat dilakukan dengan kehadiran
signalman
• Memastikan bahwa zona eksklusi efektif ditetapkan,
mengatur dan mengendalikannya
• Signalman harus menjaga slinger, atau personil lain yang
diizinkan dalam zona eksklusif

Semua personil yang terlibat berkewajiban untuk STOP


pekerjaan jika kondisi berubah atau kondisi tidak aman
Personil yang Terlibat
a. Engineering Authority
b. Lifting Technical Authority
c. Area Authority / Site Authority
d. Site Lifting Coordinator
e. Lifting Personal Trainer
f. Lifting Personal Coach
g. Site Lifting Competent Person
h. Lifting Inspector
i. Rigging Loft Controller
j. Slinger
k. Rigger
l. Banks man
m. Operator (Power Lifting Appliance, OHC, Manlift, Crane & Forklift)
Kategori Pengangkatan
 Kategori pengangkatan:
1) Routine, persetujuan SLCP untuk pekerjaan:
• Beban dapat diikat dengan mudah
• Tanpa faktor yang menyulitkan selama operasi.
• Tim sudah terbiasa melakukan pengangkatan.
2) Heavy, persetujuan sampai Site Lifting Coordinator untuk pekerjaan:
• Pengangkatan di plant aktif dengan kemampuan crane
(crane utilisation) dibawah 70%
• Beban memiliki titik pusat gravitasi (CoG) diatas titik
angkat atau berpotensi pengangkatan tidak stabil
unstable stable stable
• Tekanan outrigger/track dari crane ke tanah lebih besar Beban akan stabil jika Beban dengan titik
dari daya dukung tanah. CoG di dalam segitiga angkat diatas CoG
pengangkatan akan lebih stabil
3) Complex, persetujuan sampai Lifting Eng untuk pekerjaan:
• Pengangkatan di plant aktif dengan kemampuan crane di atas 70%
• Menggunakan kemampuan crane di atas 80%
• Melibatkan pengangkatan manusia
• Crane bergerak dengan membawa beban
• Pengangkatan menggunakan lebih dari satu crane
 Excavator dilarang digunakan untuk pekerjaan pengangkatan tanpa persetujuan Lifting
Engineer.
Persyaratan Umum Pengangkatan

Safe Working Load- Beban Kerja Aman


Beban tidak melebihi kapasitas dinamik dan/ atau statis alat angkat.
• Tidak melebihi SWL (Beban kerja aman)
• Mempertimbangkan faktor dinamis-pergerakan crane-menurunkan dan menaikan muatan dari/
ke kendaraan
• Orang kompeten mempertimbangkan efek sudut sling yang menyebabkan tensi meningkat.
• SWL alat bantu angkat tidak melebihi WLL dari manufacture

Catatan Penting:
• Crane dengan landasan tanah dilarang digunakan pada perangkat/ struktur/ kapal
terapung tanpa persetujuan dari Lifting Eng Sebelumnya.
• Excavator dilarang digunakan untuk operasi pengangkatan tanpa persetujuan dari
Lifting Eng Sebelumnya.
SLING
Sling merupakan alat bantu dalam pekerjaan lifting, terbuat dari material seperti rantai, kawat, baja atau
bahan sistetis, yang diikatkan dan dieratkan pada benda atau beban yang akan diangkat dan dikaitkan pada
hook crane pada saat proses lifting. Lakukanlah inspeksi singkat terhadap kelayakan crane terutama pada
bagian sling, shackle (jika menggunakan), hook, pulley, dan periksa system hydroliknya pastikan tidak ada
bocor dan rembesan oli, untuk memastikan SWL sling kita bisa menggunakan rumus sederhana berikut:

Contoh Sling
Contoh Kerusakan

Kerusakan sling
Contoh Kerusakan
Standar Minimum
Operasi Pengangkatan
 Operator yang terlatih dan tersertifikasi kompeten
 Pengikatan dilakukan oleh orang yang kompeten
 Alat angkat tersertifikasi/memiliki kode warna
 Beban tidak melebihi kapasitas dinamis/statis
 Peralatan keselamatan beroperasi dengan baik
 Alat angkat diperiksa sebelum digunakan
 Tidak ada orang yang menaiki beban yang akan diangkat
 Jangan berdiri di bawah beban yang tergantung/berada diantara
benda yang tidak diikat (pinch points)
 Area pengangkatan dibarikade sesuai analisa resiko
 Rute Emergency Escape bebas dari rintangan
Persyaratan Sebelum Pengangkatan

Kekuatan dan Stabilitas:


• Peralatan memiliki kekuatan dan kontrol yang
cukup untuk memastikan stabilitasnya
• Perhatikan sambungan dan ikatan
• Perhatikan kondisi tanah untuk mobile equipment.

Hal-hal Penting untuk Kecukupan Kekuatan dan Stabilitas:


• Perhitungkan kekuatan peralatan, beban dan aksesoris
• Pastikan peralatan tidak ada kerusakan akibat perbaikan
• Perhitungkan faktor keselamatan dibandingkan dengan kerusakan
• Counterbalance agar tidak terbalik
• Jaga stabilitas – bergeraknya peralatan atau keluar dari jalur
• Periksa ban dari mobile equipment yang dipakai
• Jika ada resiko kelebihan beban – tanda peringatan audio/ visual
Persyaratan Sebelum Pengangkatan

Uji Coba Pengangkatan:


Uji coba pengangkatan pada ketinggian beberapa
inchi yang harus dilakukan pada tahap awal untuk
memberi kesempatan bagi crane operator
memeriksa lifting accessoris terpasang dengan
benar, beban stabil, crane tidak ada bermasalah
sebelum melanjutkan pengangkatan pada posisi
yang ditentukan.

Code of practice for safe use of cranes. Mobile cranes


Pengangkatan Personil

 Pengangkatan personel menggunakan crane


harus sesuai dengan standard BS-7121 Part-3,
mencakup namun tidak terbatas pada:
 Kemampuan Crane diturunkan menjadi 50% dari
beban kerja yang aman sesuai konfigurasi radius
dan boom.
 Pergerakan crane dibatasi maksimal 0,5 meter
per detik ke segala arah.
 Crane harus dilengkapi dengan perangkat
emergency shutdown yang dapat menghentikan
semua gerakan termasuk jika terjadi kegagalan
sistem hidrolik.
 Crane dilengkapi dengan emergency lowering
system.
 Crane tidak dilengkapi dengan free fall capability.
 Semua peralatan yang digunakan harus di
inspeksi setidaknya setiap enam bulan. standard BS-7121 Part-3
Code of practice for safe use of cranes. Mobile cranes
Pengangkatan Personil
 Man-basket untuk pengangkatan personel harus:
 Didesign dan bersertifikat untuk mengangkat personil
 Ditandai dengan label “suitable for personnel lifting” dan label
batas beban maksimal atau SWL.
 Menggunakan lifting point lebih dari 1, yang dihubungkan
dengan shackel 4-piece.
 Dilengkapi dengan pegangan tangan di sisi dalam untuk
mencegah tangan / jari terjepit jika man-basket berayun.
 Dilengkapi dengan lantai anti-slip.
 Dilengkapi dengan anchor-point di bagian dalam untuk
mengaitkan tali keselamatan atau lanyard.
 Dilengkapi dengan pintu yang masuk kearah dalam dan memiliki
mekanisme penguncian untuk mencegah pembukaan pintu yang
tidak disengaja.

Istilah umum untuk menggambarkan operasi pengangkatan personil


man-riding personnel transfer
Man-lift Operation
 Semua outrigger yang digunakan harus ditempatkan pada permukaan yang padat dan tidak
miring, atau gunakan bantalan outrigger.
 Personil tidak boleh berada di atas platform saat kendaraan yang dilekatinya bergerak.
 Personil harus mengaitkan sabuk pengaman atau lanyard pada platform.

Scissor lift
Boom Truck Operation

 Boom truck adalah alat angkat yang dipasangkan pada truck, umumnya memiliki kapasitas
pengangkatan lebih kecil dari mobile crane.
 Outigger tidak boleh ditempatkan mendekati tepi dari lubang/galian dengan jarak minimum
2x kedalaman lubang.
 Perhatikan saat mengeluarkan outriger agar tidak menjepit kaki pekerja.
Over Head Crane (OHC)
 Setelah digunakan, kembalikan kait/hook OHC pada
area parkirnya (blok kuning) yang telah ditentukan
sebelum pekerja melakukan perbaikan di workshop.
 Jangan mengoperasikan Overhead Crane untuk tarik
miring atau menarik beban.
 Hindari mengoperasikan Overhead Crane secara inching
(start/stop dalam tempo waktu yang pendek) karena
setiap kali hoist start akan memerlukan arus yang lebih
besar dibandingkan ketika hoist sedang beroperasi, hal
ini akan menyebabkan motor overheat (panas berlebih)
sehingga akan dapat menyebabkan kerusakan pada
motor, seperti motor terbakar.
 Overhead Crane hanya boleh di operasikan oleh
personel yang mempunyai ijin.
 Jangan lengah/mengalihkan perhatian pada
saat beban masih tergantung.
Forklift Operation
 Forklift harus dilengkapi dengan:
 Sabuk pengaman
 Perangkat peringatan yang terdengar otomatis saat mundur, rear mirror & horn.
 Hour-meter untuk mencatat jam operasional dan interval servis
 Hindari mengerakkan forklift dengan posisi beban terangkat tinggi.
 Area kerja harus diberi garis pembatas untuk pejalan kaki atau tanda peringatan.
 Semakin jauh posisi beban dari pangkal garpu maka kemampuan angkat forklift berkurang.
 Jangan mengaitkan sling langsung pada garpu karena cenderung tajam, gunakan perangkat tambahan (fork
extension) bersertifikat yang dipasang pada garpu.

Forklift Fork extension penghubung


sling & shackle
Flexible Intermediate Bulk Containers
(FIBC)
 FIBC, juga dikenal dengan nama jumbo bag adalah industrial container terbuat dari bahan fleksibel yang
dirancang untuk mengangkut material curah dalam jumlah besar seperti pasir, pupuk, butiran plastik, dsb.
 Perhatikan peringatan pada label yang ditempel di FIBC untuk cara penyimpanan, cara pengangkatan & batas
beban maksimal, serta material apa saja yang boleh dimuat sesuai dengan jenis dari bahan jumbo bag.
 Jika diangkat menggunakan forklift, pastikan:
 Lindungi kait FIBC terhadap garpu forklift jika tajam, dan angkat hanya setinggi FIBC untuk mengurangi resiko
forklift terjungkal saat berjalan.
 FIBC tidak terseret dan garpu tidak miring kebawah.
 FIBC tidak menghalangi pandangan operator forklift dan tidak terkena roda forklift
Cargo Carrying Unit (CCU)
 Portable unit dengan sling & shackle yang tidak dilepas sehingga mudah digunakan berulang untuk transportasi barang.
 Contoh CCU adalah container, lifting basket, mud box, tank, waste skip, dll.
 CCU dikategorikan dalam dua type yaitu offshore container (BS-EN 12097 & DNV 2.7.1), dan ISO container (ISO 1496 - 1)
 ISO container tidak boleh dihubungkan dengan shackle tetapi harus dengan connector khusus yaitu container lifting-lug
dan spreader bar.
 Maximum gross weight (MGW) dan ukuran dimensi harus tertulis di CCU.
 CCU harus disertifikasi setiap 12 bulan tetapi jika digunakan untuk pengangkatan personil seperti man-basket harus di
inspeksi maksimal 6 bulan.
Kode Warna

 Semua lifting accessories harus diberi kode warna.


 Kode warna hanya tambahan untuk identifikasi visual dalam mencegah penggunaan lifting accessories yang
telah expiry periode inspeksinya.
 Kode warna tidak mengganti persyaratan untuk melakukan pre-use inspection.
 Kode warna berubah setiap 6 bulan.
 Lifting accessories yang tidak siap untuk digunakan harus diamankan di kotak karantina (quarantine box)
untuk pemeriksaan, sertifikasi dan pengkodean warna.
Inspeksi, Peralatan
Keselamatan & Cuaca

Alat angkat disertai dengan sertifikat yang masih berlaku untuk memastikan kesiapan
untuk dipakai: Tiap 6 bulan jika digunakan untuk pengangkatan personnel

Registrasi Alat Angkat:


Semua aksesoris (slings, shackle, dll) harus di
inspeksi dan dimasukan dalam registrasi alat
angkat
Inspeksi, Peralatan
Keselamatan & Cuaca

Peralatan Keselamatan:
• Peralatan keselamatan harus beroperasi dengan baik
• Semua hook dari Crane harus memiliki safety latches
yang dapat terkunci
• Stopper untuk mencegah overtopping dari boom
Inspeksi, Peralatan
Keselamatan & Cuaca
Peralatan Keselamatan (lanjutan):
• Bagan Sinyal Tangan tersedia untuk semua Signalman
• Radius Charts tersedia di kabin Crane
• Crane dan boom diamankan pada akhir pekerjaan dan dipasang tag
Selama operasi pengangkatan, signaller harus
berkomunikasi dengan operator.
Metode komunikasi lainnya (misalnya,
wireless walkie-talkie, telepon, dll) juga dapat
digunakan.
Inspeksi, Peralatan
Keselamatan & Cuaca
Kondisi Cuaca:
 Kondisi cuaca buruk yang dapat mempengaruhi muatan atau
pengelihatan Crane Operator – perlu dipertimbangkan saat
membuat Lifting Plan
 Tunda kegiatan pengangkatan jika terjadi angin kencang
(ditentukan oleh Operator Crane)
 Site Competent Person menghentikan pekerjaan jika angin
kencang atau berdebu.

Jarak Pandang:
Jarak pandang bisa terganggu karena berbagai alasan, jika
diperlukan pencahayaan dan/atau Riggers & Signalman tambahan
dapat digunakan untuk mengendalikan resiko dari keterbatasan
jarak pandang.
Rencana Penyelamatan

Rencana penyelamatan merupakan hal yang kritikal jika personil tidak sadar/pingsan ketika
bergelantungan pada harness karena dapat mengakibatkan trauma suspensi, yang dapat
menyebabkan kematian pada waktu yang sangat singat.

 Rencana penyelamatan harus detail dengan metode pengambilan personil yang aman pada suatu
kejadian insiden.
 Personil yang dipersyaratkan untuk melaksanakan penyelamatan dengan peralatan
menaikkan/menurunkan harus dilatih sesuai dengan penggunaannya.
 Operasi penyelamatan dapat menyebabkan bahaya tambahan, yang harus dirinci pada tahap
perencanaan dan penilaian risiko
Hands Safe Lifting

 Jika beban yang diangkat harus disentuh, maka:


 Jumlah personil yang diizinkan untuk menyentuh beban telah
dikurangi seminimal mungkin.
 Dapat dilakukan jika posisi beban maximal setinggi pinggang.
Pengamanan Muatan / Lashing
(BS-EN 12195 Part 1: Load Restraining Assemblies on Road Vehicles)

 Setiap muatan harus dikekang/diikat dengan cukup kuat untuk menghindari pergeseran

 Kekangan harus mampu menahan:


 Beban muatan untuk arah depan.
 Beban muatan untuk arah samping.
 Beban muatan untuk arah belakang.
 Beban kendaraan untuk keatas.

0.2
 Peralatan lashing dapat berupa:
 Webbing strap dilengkapi rachet pengetat dan hook (BS-EN 12195 Part-2)
 Rantai dilengkapi rachet pengetat, pemendek rantai dan hook (BS-EN 12195 Part-3)
 Wire-ropes dilengkapi dengan turn-buckle (BS-EN 12195 Part-4)
Webbing strap Rantai Wire-ropes
Bahaya & Resiko
(Silahkan Pilih)
Bahaya & Risiko
1. Tidak ada safety clip pada hook crane
2. Shackle antara crane hook dan sling ring
3. Simpul pada sling kanan
4. Sudut antara lengan sling terlalu luas
5. Metode pengikatan yang tidak aman, rantai terlalu dekat
ujung beban. Iapakah beban aman?
6. Sisa lengan sling tidak dikaitkan ke belakang
7. Beban tidak rata
8. Apakah ada SWL pada sling?
9. Signaler tidak memakai helm
[Link] tangan kurang tepat
[Link] penggalian yang tidak diamankan
[Link] crane terlalu dekat dengan selokan yang tidak stabil
[Link]/ tagline tidak digunakan
[Link] tidak melihat sinyal
[Link]-paku mencuat
[Link] tanah memungkinkan menyebabkan bahaya
terjebak
[Link] tanah terlalu dekat dengan galian
Contoh Pengawasan aspek K3 dalam Kegiatan Lifting menggunakan Crane
Ilustrasi kegiatan lifting :
1. Lakukan perencanaan (lifting plan) sebelum pengangkatan sudah cukup baik mulai dari pemilihan jenis crane, SWL,
dokumen kelayakan crane dan sebagainya sudah beres.
2. Periksa kelayakan alat angkat, sesuaikan SWL (Safety Weight Load) dengan beban yang akan diangkat, Mintalah operator
crane menunjukkan safety device crane yang ada dan mintalah penjelasan mengenai fungsinya,
3. sekarang tinggal orang lapangan saja yang akan action memastikan proses lifting aman dan dijalankan sesuai dengan hasil
perencanaan tadi.
Berikut contoh safety device minimum yang ada di crane.

1. Boom limit switch : pengaman pada crane untuk mencegah berlebihnya derajat angkat yang berakibat beam dari crane
tersebut menabrak ke body utama dari crane dan dapat berakibat hilangnya ke stabilan saat proses lifting dan beban dapat
jatuh atau menabrak pada beam crane itu sendiri (terdiri dari penunjuk derajat / pointer dan angle plate)

2. Hook Latch : pengaman pada hook crane yang berguna untuk mengunci beban yang dikaitkan pada hook agar tidak
terlepas dari hook itu sendiri.

3. Over hoist Limit switch : Pengaman pada crane yang berfungsi untuk menahan ketika terjadi over height pada saat lifting
yang dapat berakibat terlepasnya hook dan beban menjadi tidak stabil
ISTILAH - ISTILAH DALAM KEGIATAN LIFTING

Working Load Limit (WLL atau BATAS Safe Working Load (Beban Kerja Aman) adalah
BEBAN KERJA) adalah Beban Statis Beban Kerja Aman pada Peralatan Angkat dan
Maksimum yang ditentukan oleh Standard, Aksesoris Angkat yang boleh digunakan untuk
Manufaktur atau fabrikator dari sebuah menaikkan (hoisting), menurunkan (lowering) dan
alat atau perangkat yang digunakan untuk menggantung (suspended) beban yang telah di
mengangkat, menurunkan atau tetapkan oleh pabrik pembuat, Namun dalam
menggantung sesuatu beban. operasi pengangakatan dilapangan Beban Kerja
Aman dapat berubah dimana disesuaikan kondisi
yang dihadapi. Perubahan ini berdasarkan hasil
penilaian dan ditetapkan oleh Competent Person
dengan mempertimbangkan Keselamatan operasi.
Dalam laporan resmi SWL paling sering digunakan.
Arti dari WLL MBL dan kaitannya dengan safety factor (lanjutan)

MINIMUM BREAKING LOAD (MBL)


Minimum Breaking Load adalah kekuatan rata-rata minimum dari hasil pengujian sebuah produk untuk gagal dalam
pengujian tarik. Breaking strength (Kekuatan Putus) dari hasil pengujian tersebut harus diperoleh dalam kondisi
laboratorium uji yang terkontrol.

SAFETY FACTOR (DESIGN FACTOR – SF)


Design Factor atau Safety Factor adalah: Rasio Faktor Keamanan (Faktor Desain) yang dirancang secara teoritis untuk
menjaga titik keamanan pengangkatan.

Keamanan tersebut diperoleh dari perbandingan Kemampuan Kekuatan suatu barang dihitung dari Batas Minimum
Kegagalan pengangkatan (MBL) dengan Batas Maksimum Pengangkatan (WLL). Rasio antara MBL dengan WLL itulah
disebut DESIGN FACTOR .
Sling adalah tali yang terbuat dari
baja yang terdiri dari pintalan baja
yang kemudian digulung menjadi
ukuran yang bermacan macam RUMUS :
umumnya yang paling sering Menentukan kekuatan sling

digunakan mulai dari diameter 8mm SWL = d X d X 8


s.d 44mm. Pada dunia industri ada SWL : Safety Working Load
d : Diameter
beberapa jenis sling yang digunakan
seperti : Wire Rope Sling, Chain Contoh :
1. Tali kawat baja diameter 1/2
Sling, Webbing Sling, Round Sling SWL =1/2 X 1/2 X 8 = 2 ton

2. Diameter 5/8 inch


SWL = 5/8 X 5/8 X 8 = 3,125 ton

3. Diameter 1 inch
SWL = 1 X 1 X 8 = 8 ton

The Naval Facilities Engineering Systems Command (NAVFAC)


Faktor Keamanan (Safety Factor)
Bila kita ingin mengetahui SWL (Safe Working Load) atau dalam Bahasa Indonesia
disebut BKA (Beban Kerja Aman) sebuah tali kawat baja, kita harus mengingat factor
keamanan yang sesuai pengunaannya

SWL = Kekuatan Putus Tali (Breaking Strength)


Faktor keamanan (Safety Factor)

Faktor keamanan menurut standar API adalah


- Tali diam = 3 (tali pendant)
- Tali berjalan = 3,5 (tali hoist)
- Tali sling = 5 (tali angkat beban)
- Tali personel = 10 (man cage/ man basket)

Fungsi Safety Factor


- Untuk mengakomodasikan kekuatan putus tali (breaking strength)
- Karena penggunaan yang kurang tepat
- Karena perkiraan berdat barang yang tidak tepat
- Banyak lagi factor lain
Faktor Keamanan (Safety Factor)
Bila kita ingin mengetahui SWL (Safe Working Load) atau dalam Bahasa Indonesia
disebut BKA (Beban Kerja Aman) sebuah tali kawat baja, kita harus mengingat factor
keamanan yang sesuai pengunaannya

SWL = Kekuatan Putus Tali (Breaking Strength)


Faktor keamanan (Safety Factor)

Faktor keamanan menurut standar API adalah


- Tali diam = 3 (tali pendant)
- Tali berjalan = 3,5 (tali hoist)
- Tali sling = 5 (tali angkat beban)
- Tali personel = 10 (man cage/ man basket)

Fungsi Safety Factor


- Untuk mengakomodasikan kekuatan putus tali (breaking strength)
- Karena penggunaan yang kurang tepat
- Karena perkiraan berdat barang yang tidak tepat
- Banyak lagi factor lain
Penjelasan
Kita sering bingung membedakan antara SWL dan WLL, dalam bahasa sederhananya WLL adalah
suatu nilai ketetapan untuk beban maksimum yang boleh diangkat, sedangkan SWL ditentukan
sesuai dengan idealnya suatu kondisi tentunya melalui penilaian dan perhitungan yang cermat.
Pada umumnya WLL dan SWL adalah sama.

Namun pada pengangkatan kondisi tertentu, Competent Person - Inspector dapat menurunkan
SWL sehingga nilainya kurang dari WLL bila pada tempat operasi pengangkatan dikatakan “Beresiko
Tinggi”. Seperti :
a. Pengangkatan dilakukan kondisi lingkungan dengan temperatur tinggi,
b. Prosedur pengangkatan yang sulit menghindari beban kejut atau
c. Ketidakpastian berat beban yang akan diangkat.
Competent Person – Inspector
Competent Person – Inspector adalah orang yang memiliki keahlian khusus dibidang Pesawat Angkat dan
memiliki penunjukkan dari pemerintah atau lembaga berwenang, Umumnya melakukan Inspeksi dan
Pengujian pada Pesawat Angkat, tidak terbatas pada :
1. Pertama kali digunakan,
2. Dipasang ulang di lokasi yang baru,
3. Setelah dilakukan perbaikan pada komponen kritis atau modifikasi.
4. Inspeksi berkala paling lambat sekali dalam 12 bulan dan Sertifikasi.

Namun bila pelaksanaan Inspeksi dan Pengujian dilakukan untuk pemenuhan Sertifikasi maka Competent
Person sebagai On be half atau tenaga teknis penguji dimana laporan hasil Inspeksi dan Pengujian
disampaikan ke Pemerintah sesuai kewenangannya, Selanjutnya pihak Pemerintah akan mengevaluasi, bila
telah memenuhi syarat keselamatan operasi Pesawat Angkat akan diterbitkan Sertifikat atau Pengesahaan
Pemakaian.
Common accidents in lifting operations /Kecelakaan umum dalam operasi mengangkat :

Crane terbalik
benda jatuh

Boom Sling patah

Kontak dengan orang / material lainnya

Menyentuh kabel listrik


• Pastikan area pengangkatan aman
Contoh kegiatan lifting
PIC dalam Persiapan dan Implementasi Lifting

Lifting activity by using crane, minimum 4 person (or more as necessary)


1 crane operator
1 signalman
2 slinger

Lifting activity by using Truck Mounted Crane(TMC), minimum 3 person (or more as
necessary)
1 crane operator (instead of truck driver)
1 signalman (instead of truck driver)
1 slinger (instead of truck driver)

Lifting activity by using Forklift, minimum 3 person (or more as necessary)


1 forklift operator
1 signalman
1 rigger
Simultaneous operations (SIMOPS)

SIMOPS didefinisikan sebagai pelaksanaan dua atau lebih pekerjaan berbeda secara bersamaan.
Adanya beberapa pekerjaan/aktifitas berbeda yang berlangsung di area yang berdekatan
memberikan ada kemungkinan terjadinya interferensi, bentrok atau terjadi transfer risiko antar
pekerjaan.

• International Marine Contractors Association (IMCA). Guidance on Simultaneous Operations (SIMOPS). 2010. Inggris
• PetroWiki. Glossary: SIMOPs. Diakses di [Link] pada Maret 2016.
Rigger
Rigger atau riggers bertanggung jawab kepada operator untuk memasang dengan benar alat bantu
angkat dengan beban. Rigging bisa menjadi pekerjaan yang sangat berbahaya jika tidak benar
dilakukan. Peralatan keselamatan , seperti helm , safety shoe , sarung tangan, dan setiap pakaian
keselamatan pribadi lainnya yang diperlukan, harus dipakai.

Riggers dan signalman harus bekerja sama -sama dalam melakukan tali temali beban .
Signalman memeriksa secara visual rigging yang tepat bahwa operator tidak bisa melihat secara
visual dari cabin operator.
Setelah rigging disetujui, maka beban akan diangkat dapat memberi isyarat .
CATATAN: Operator memiliki persetujuan akhir pada lift apapun dan memiliki tanggung jawab utama
untuk mengoperasikan crane dan untuk keselamatan.
1. Pakaian yang tepat untuk Rigger dan Signalman
Kenakan pakaian yang tepat dan APD setiap
saat
Memakai alat pelindung diri (APD)
Kesimpulan dan tambahan informasi
Persiapan Lifting Plan
• Lifting Plan harus disiapkan oleh Lifting Coordinator / Lifting Supervisor atau Qualified Person dan
penilaian situasi & kondisi dimana crane akan ditempatkan
• Lifting Plan harus dihitung secara akurat berdasarkan material apa yang akan diangkat
• Berat material yang akan diangkat harus dikoreksi (anggap berat dilarang)
• Pemanfaatan pengangkatan harus kurang dari 80% (SAFE LIFTING)
• Semua rencana pengangkatan harus diselesaikan dan ditandatangani oleh Manajemen yang
bertanggung jawab
• Semua rencana pengangkatan harus didaftarkan oleh Pengawas / Koordinator
• Lifting Plan Cek diverifikasi oleh Lifting Specialist
• Pengangkatan sederhana : - LP harus ditinjau & disetujui oleh Supervisor / Superintendent
• Pengangkatan rumit: - LP harus ditinjau & disetujui oleh Level Manager
• Pengangkatan kompleks: - LP harus ditinjau & disetujui oleh Level Manager & Management
Adapun Hal – hal yang dapat menyebabkan gagalnya proses pengangkatan yaitu:
1. Buruknya kondisi mesin / crane
2. Konfigurasi mesin tidak sesuai dengan spesifikasi
3. Penggunaan / pemasangan outriggers yang tidak tepat
4. Lantai / tanah pijakan yang lembut / berlumpur
5. Crane tidak sesuai dengan beban yang akan diangkat (dari segi SWL, jenis dan kapasitas angkat)
6. Pengangkutan dari sisi samping
7. Pengayunan berulang – ulang
8. Dampak dari naik – turunnya akselerasi saat pengangkatan dalam waktu yang singkat dan cepat.
9. Tinggi nya kecepatan angin

Sembilan hal diatas harus diwaspadai oleh seorang safety personel yang bertugas dilapangan, agar tidak
terjadi kecelakaan dalam proses lifting
ARCHITECTURE CRANE AND LIFTING OPERATION

GOVERNMENT REGULATION

INTERNATIONAL CODE AND STANDARD

LOLER (Lifting Operations and Lifting Equipment Regulations 1998)


CODE OF PRACTICES USER
PUWER (Provision and Use of Work Equipment Regulations) CRANE AND LIFTING STANDARD

ASME B30 SERIES (American Society of Mechanical Engineers)

BS STANDARD

API SPEC AND RP (American Petroleum Institute & Recommended Practice


Crane and Lifting International Code

1. ASME B30.5 Mobile and locomotive cranes


2. ASME B30.9 - SLING
3. ASME B30.10-HOOKS
4. ASME B30.26-RIGGING HARDWARE
5. API SPEC 2C - OFFSHORE PEDESTAL CRANE 7 EDITION.
6. API RP 2D - OPERATION MAINTENANCE OFFSHORE CRANE
7. API SPEC 9A - WIRE ROPE SPECIFICATION
8. API RP 9B - WIRE ROPE FOR OIL OPERATION
9. BS 1492 - TEXTILE SLING
10. BS 7121 - SAFE USE CRANE
11. BS 13414 - STEEL WIRE ROPE sling.
12. LOLER - Lifting Operations and Lifting Equipment Regulations 1998
13. PUWER – PROVISION USE OF WORK EQUIPMENT REGULATION
Role Lifting Lifting
Crane Forklift Technician Lifting
Rigger Equipment Lifting SPOC Engineer/ Lifting TA
Operator Operator Supervisor
Inspector Specialist
Requirement

BNSP BNSP BNSP Acknowledg


BNSP BNSP User User User ed lifting
Minimum training Migas Migas Migas
Certified Certified Inhouse Inhouse Inhouse training
providers Certified Certified Certified Providers Providers training training training
Providers1 Providers1 Providers1 providers2

Certification Inhouse Inhouse Inhouse


Acknowledg
requirement SKKNI SKKNI SKKNI SKKNI SKKNI training training training
ed lifting
required during Migas Migas Migas enrollment enrollment enrollmen
lifting operations evidence evidence t evidence certificate2

User User User User


Internal Internal Internal Internal User User User User Assessment
Assessme Assessme Assessme Assessme Internal Internal Internal Internal by User
Internal nt by Lifting nt by Lifting nt by Lifting nt by Lifting Assessmen t Assessmen t Assessment by Assessme Operations
assessment SPOC, SPOC, SPOC, SPOC, by Lift. by Lift. Lift. nt by Management
Engineer Engineer Engineer Engineer Spec Spec Spec Lifting
TERIMA KASIH

Common questions

Didukung oleh AI

Weather conditions such as rain, strong winds, or fog can significantly impact crane lifting operations by affecting load stability, visibility, and the operator’s control over equipment. For instance, strong winds can sway loads, rain can decrease traction, and fog can obscure vision. Precautions include halting operations during adverse weather, utilizing additional lighting or visibility aids, and strictly following risk management and lifting plans devised for such conditions. Decisions to delay or cease operations during bad weather should be determined by the crane operator or site competent person to ensure safety . Detailed weather impact assessments and having flexible scheduling can also aid in minimizing risks associated with weather conditions .

Routine inspections and certifications of lifting equipment and accessories are crucial for verifying operational safety and compliance with technical standards. These processes help in identifying existing faults or wear, ensuring equipment is fit for service, and mitigating risks associated with equipment failure . Certifications serve as a formal validation of equipment capabilities and adherence to safety guidelines, fostering trust and reliability in lifting operations. Annual inspections align equipment not just with industry standards but also identify needs for repairs and potential upgrades, contributing to the program's safety and effectiveness . Regular verification ensures equipment continues to meet legal and manufacturer-specified safety limits .

The Working Load Limit (WLL) refers to the maximum allowable load as defined by the manufacturer under ideal conditions, indicating the chain, rope, or lifting device's maximum safe load . In contrast, the Safe Working Load (SWL) denotes the maximum load that can be safely handled in real-world environments, which may be adjusted by a competent person depending on specific conditions like high temperature or uncertain load weights . Differences between WLL and SWL impact lifting operations by determining the exact loads that can be safely lifted, ensuring operations do not exceed capacities that could lead to equipment failure or accidents. In conditions deemed high-risk, SWL values might be reduced below WLL to enhance safety margins .

Improper use of lifting equipment often results from using apparatuses that do not match lifting capacities, poor equipment maintenance, and inadequately trained personnel handling operations. These issues may lead to equipment failure such as hook or sling breakage, causing accidents. Mitigations include ensuring proper equipment is used for the specific weight and type of load, conducting regular maintenance and inspections, and ensuring operators are thoroughly trained and certified regarding equipment use and risk management . Pre-use inspections and comprehensive planning for lifting tasks, incorporating risk assessments and emergency response strategies, are recommended strategies to prevent accidents .

Essential factors include personnel readiness, equipment suitability, weather conditions, location safety, and time of operation. Personnel need to be trained, certified, and understand the work steps. Equipment should include proper lifting gears that align with the task requirements and have valid certifications. Weather conditions like rain, wind speed, or fog can impact lifting operations and should be considered, especially since operations are advised against during nighttime due to lighting issues . Furthermore, environmental aspects such as crane footing, surface inclination, or operations in water require thorough review to ensure stability and safety. Finally, clear communication and a pre-planned lifting strategy with risk assessments are crucial for managing any dynamic conditions during lifting .

A Rigging Loft Controller has several key responsibilities, including developing procedures for rigging and storage of lifting equipment, conducting weekly equipment status reviews, and managing the quarantine area for unauthorized personnel access . They ensure that equipment storage is organized with sufficient space and that all lifting devices and accessories are used as intended. Furthermore, they maintain an updated list of authorized personnel and ensure equipment usage adheres to color-coding standards . These responsibilities are essential for maintaining safety, readiness, and compliance within lifting operations, preventing unauthorized access or unsafe equipment use.

A pre-planned lifting strategy is significant because it defines the structured approach to safely execute a lift, detailing procedures, equipment setup, environmental considerations, and personnel roles. It helps in identifying potential hazards, enabling proactive risk management and providing guidelines for altering operations when conditions change. An emergency response plan is essential for addressing unexpected incidents, such as equipment failure or operator emergencies, ensuring rapid and effective actions to mitigate harm . The presence of these plans ensures all participants are prepared and knowledgeable about contingencies, thus reducing panic and confusion during critical scenarios and promoting a culture of safety and readiness .

The Lifting Coordinator manages all onsite lifting activities to ensure they are carried out safely and in accordance with established standards and procedures. Responsibilities include reviewing and approving lifting plans, overseeing the coordination between different teams, and continually improving lifting management systems . The Lifting Coordinator also ensures training programs are available and ensures compliance with safety protocols is maintained. They play a pivotal role in integrating risk assessment and emergency preparedness into routine operations, facilitating seamless communication and adherence to regulatory requirements .

Safety devices on cranes, such as boom limit switches, hook latches, and over-hoist limit switches, are critical for preventing equipment overloading, load drops, or structural failure. Misuse or neglect of these devices can lead to risks like excessive boom elevation or load instability, increasing accident probabilities . For instance, if a boom limit switch fails to stop incorrect boom elevation, the crane may become unstable, risking load collapse or environmental hazard. Similarly, ineffective hook latches risk the payload detaching from the crane. Proper operation and maintenance of safety devices are essential to counter these risks, requiring regular checks and recalibration as part of standard operation and safety protocols .

Effective communication between crane operators and signalmen is critical to ensure safety and efficiency during lifting operations. This communication ensures that instructions are clearly understood and executed precisely, reducing the risk of errors or mishaps. Signalmen provide real-time guidance on load placement and adjustments, and they are crucial during visibility constraints or close-proximity tasks. Additional methods such as hand signals, walkie-talkies, or visual aids like signal charts are vital to overcome environmental challenges like noise or distance . Consistent and clear interactions prevent accidents resulting from misunderstandings or delays in command relaying .

Anda mungkin juga menyukai