100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
111 tayangan63 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Gedung Radiologi

Dokumen ini berisi persyaratan teknis untuk pembangunan gedung radiologi, mencakup penjelasan umum tentang lingkup pekerjaan yang meliputi persiapan, sipil, arsitektur, mekanikal, elektrikal, serta sarana dan cara kerja seperti penyediaan tenaga kerja dan peralatan yang memadai.

Diunggah oleh

tio7799 pen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
111 tayangan63 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Gedung Radiologi

Dokumen ini berisi persyaratan teknis untuk pembangunan gedung radiologi, mencakup penjelasan umum tentang lingkup pekerjaan yang meliputi persiapan, sipil, arsitektur, mekanikal, elektrikal, serta sarana dan cara kerja seperti penyediaan tenaga kerja dan peralatan yang memadai.

Diunggah oleh

tio7799 pen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA DAN SYARAT

PERSYARATAN TEKNIS

A. PENJELASAN UMUM

I. URAIAN UMUM

1.1. PEKERJAAN

a. Pekerjaan ini adalah meliputi Pembangunan Gedung Radiologi


b. Istilah “Pekerjaan” mencakup penyediaan semua tenaga kerja (tenaga ahli, tukang, buruh
dan lainnya), bahan bangunan dan peralatan/perlengkapan yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan termaksud.
c. Pekerjaan harus diselesaikan seperti yang dimaksud dalam RKS, Gambar-gambar
Rencana, Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan serta Addendum yang disampaikan
selama pelaksanaan.

1.2. BATASAN/PERATURAN

Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor harus tunduk kepada :

a. Undang – Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
b. Undang – Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
c. Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan
Presiden RI No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
d. Keputusan Presiden RI No. 70 Tahun 2005 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan
Presiden RI No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
e. Keputusan Presiden RI No. 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 tentang Standar dan Pedoman
Pengadaan Jasa Konstruksi
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
h. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung
i. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 468/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis
Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan
j. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
k. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
l. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah No. 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan
Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.
m. Peraturan umum Pemeriksaan Bahan-bahan Bangunan (PUPB NI-3/56)
n. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971)
o. Peraturan Umum Bahan Nasional (PUBI 982)
p. Peraturan Perburuhan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
q. Peraturan-peraturan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
r. SKSNI T-15-1991-03
s. Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI)
t. Algemenee Voorwarden (AV)
u. Peraturan – Peraturan lain yang masih berlaku.

1|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

1.3. DOKUMEN KONTRAK

a. Dokumen Kontrak yang harus dipatuhi oleh Kontraktor terdiri atas :

 Surat Perjanjian Pekerjaan


 Surat Penawaran Harga dan Perincian Penawaran
 Gambar-gambar Kerja/Pelaksanaan
 Rencana Kerja dan Syarat-syarat
 Addenda yang disampaikan oleh Pengawas Lapangan selama masa pelaksanaan
b. Kontraktor wajib untuk meneliti gambar-gambar, RKS dan dokumen kontrak
lainnya yang berhubungan. Apabila terdapat perbedaan/ketidak-sesuaian antara
RKS dan gambar-gambar pelaksanaan, atau antara gambar satu dengan lainnya,
Kontraktor wajib untuk memberitahukan/melaporkannya kepada Pengawas
Lapangan.

Persyaratan teknik pada gambar dan RKS yang harus diikuti adalah :

1. Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dengan gambar detail, maka
gambar detail yang diikuti.

2. Bila skala gambar tidak sesuai dengan angka ukuran, maka ukuran dengan
angka yang diikuti, kecuali bila terjadi kesalahan penulisan angka tersebut
yang jelas akan menyebabkan ketidaksempurnaan / ketidaksesuaian
konstruksi, harus mendapatkan keputusan Konsultan Pengawas / Konsultan
MK lebih dahulu.

3. Bila tedapat perbedaan antara RKS dan gambar, maka RKS yang diikuti
kecuali bila hal tersebut terjadi karena kesalahan penulisan, yang jelas
mengakibatkan kerusakan/kelemahan konstruksi, harus mendapatkan
keputusan Konsultan Pengawas / Konsultan MK.

4. RKS dan gambar saling melengkapi bila di dalam gambar menyebutkan


lengkap sedang RKS tidak, maka gambar yang harus diikuti demikian juga
sebaliknya.

5. Yang dimaksud dengan RKS dan gambar di atas adalah RKS dan gambar
setelah mendapatkan perubahan/penyempurnaan di dalam berita acara
penjelasan pekerjaan.

6. RKS pada Bab Spesifikasi Teknis ini terdiri dari 4 (empat) bagian ialah :

A. Peryaratan Umum

B. Arsitektural

C. Struktural

D. Mekanikal – Elektrikal

2|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

c. Bila akibat kekurang telitian Kontraktor Pelaksana dalam melakukan pelaksanan


pekerjaan, terjadi ketidak sempurnaan konstruksi atau kegagalan struktur
bangunan, maka Kontraktor Pelaksana harus melaksanakan pembongkaran
terhadap konstruksi yang sudah dilaksanakan tersebut dan
memperbaiki/melaksanakannya kembali setelah memperoleh keputusan
Konsultan Pengawas / Konsultan MK tanpa ganti rugi apapun dari pihak-pihak
lain.

II. LINGKUP PEKERJAAN

2.1 KETERANGAN UMUM

1. Pembangunan Gedung Radiologi tersebut secara umum meliputi pekerjaan


standar maupun non standar.

2. Secara teknis konstruksi, pekerjaan mencakup keseluruhan proses


pembangunan dari persiapan sampai dengan pembersihan/pemberesan pada
lingkungan proyek, dan dilanjutkan dengan masa pemeliharaan seperti yang
ditentukan. Pekerjaan – pekerjaan tersebut mencakup antara lain :

 Pekerjaan Persiapan

 Pekerjaan Sipil / Struktur

 Pekerjaan Arsitektur dan Lansekap

 Pekerjaan Mekanikal

 Pekerjaan Elektrikal

 Pekerjaan Prasarana / Lingkungan dan lain-lain

2.2 URAIAN PEKERJAAN

a. Pekerjaan Persiapan, meliputi :

 Bouplank

 Penyediaan air dan daya kerja

 Pembersihan lokasi kerja

 Dll.

b. Pekerjaan Galian - Urugan, meliputi :

 Pekerjaan Cut And Fill.

 Galian tanah pondasi / poor.

 Urugan pasir bawah lantai dan bawah pondasi.

3|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

 Urugan peninggian lantai.

 Urugan kembali tanah.

 Dll.

c. Pekerjaan Sipil dan Struktur, meliputi :

 Pekerjaan pondasi

 Pekerjaan beton

 Pekerjaan Water Proofing

 Pekerjaan Atap

 Dll.

d. Pekerjaan Arsitektur, meliputi :

 Pekerjaan dinding

 Pekerjaan kusen, pintu dan jendela

 Pekerjaan lantai

 Pekerjaan plafond

 Pekerjaan pengecatan

 Pekerjaan lansekap

 Pekerjaan sanitasi, dll.

e. Pekerjaan Mekanikal, meliputi :

 Pekerjaan instalasi air bersih, air kotor dan air hujan

 Pekerjaan instalasi AC

 Pekerjaan pemadam kebakaran

 dll

f. Pekerjaan Elektrikal, meliputi :

 Pekerjaan instalasi listrik

 Pekerjaan instalasi telepon

 dll

g. Pekerjaan lain-lain

Pekerjaan yang jelas terkait langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa
dipisahkan dengan pekerjaan utama sesuai dengan gambar dan RKS

4|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

2.3 SARANA DAN CARA KERJA

a. Kontraktor wajib memeriksa kebenaran dari kondisi pekerjaan meninjau tempat


pekerjaan, melakukan pengukuran-pengukuran dan mempertimbangkan seluruh
lingkup pekerjaan yang dibutuhkan untuk penyelesaian dan kelengkapan dari
proyek.

b. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja serta tenaga ahli yang cakap dan
memadai dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan, serta tidak akan
mempekerjakan orang-orang yang tidak tepat atau tidak terampil untuk jenis-jenis
pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Kontraktor harus selalu menjaga disiplin
dan aturan yang baik diantara pekerja/karyawannya.

c. Kontraktor harus menyediakan alat-alat kerja dan perlengkapan seperti beton


molen, pompa air, timbris, waterpas, alat-alat pengangkut dan peralatan lain yang
diperlukan untuk pekerjaan ini. Peralatan dan perlengkapan itu harus dalam
kondisi baik.

d. Kontraktor wajib mengawasi dan mengatur pekerjaan dengan perhatian penuh


dan menggunakan kemampuan terbaiknya. Kontraktor bertanggung jawab penuh
atas seluruh cara pelaksanaan, metode, teknik, urut-urutan dan prosedur, serta
pengaturan semua bagian pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak.

e. Shop Drawing (gambar kerja) harus dibuat oleh Kontraktor sebelum suatu
komponen konstruksi dilaksanakan.

f. Shop Drawing harus sudah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas /


Konsultan MK dan Konsultan Perencana sebelum elemen konstruksi yang
bersangkutan dilaksanakan.

g. Sebelum penyerahan pekerjaan kesatu, Kontraktor Pelaksana sudah harus


menyelesaikan gambar sesuai pelaksanaan yang terdiri atas :

 Gambar rancangan pelaksanaan yang tidak mengalami perubahan dalam


pelaksanaannya.

 Shop drawing sebagai penjelasan detail maupun yang berupa gambar-


gambar perubahan.

h. Penyelesaian yang dimaksud pada ayat g harus diartikan telah memperoleh


persetujuan Konsultan Pengawas / Konsultan MK setelah dilakukan pemeriksaan
secara teliti.

i. Gambar sesuai pelaksanaan dan buku penggunaan dan pemeliharaan bangunan


merupakan bagian pekerjaan yang harus diserahkan pada saat penyerahan
kesatu, kekurangan dalam hal ini berakibat penyerahan pekerjaan kesatu tidak
dapat dilakukan.

5|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

j. Pembenahan/perbaikan kembali yang harus dilaksanakan Kontraktor, bila :

 Komponen-komponen pekerjaan pokok/konstruksi yang pada masa


pemeliharaan mengalami kerusakan atau dijumpai kekurang sempurnaan
pelaksanaan.

 Komponen-komponen konstruksi lainnya atau keadaan lingkungan diluar


pekerjaan pokoknya yang mengalami kerusakan akibat pelaksanaan
konstruksi (misalnya jalan, halaman, dan lain sebagainya).

k. Pembenahan lapangan yang berupa pembersihan lokasi dari bahan-bahan sisa-


sisa pelaksanaan termasuk bowkeet dan direksikeet harus dilaksanakan sebelum
masa kontrak berakhir, kecuali akan dipergunakan kembali pada tahap
selanjutnya.

2.4 PEMBUATAN RENCANA JADWAL PELAKSANAAN

a. Kontraktor Pelaksana berkewajiban menyusun dan membuat jadual pelaksanaan


dalam bentuk barchart yang dilengkapi dengan grafik prestasi yang direncanakan
berdasarkan butir-butir komponen pekerjaan sesuai dengan penawaran.

b. Pembuatan rencana jadual pelaksanaan ini harus diselesaikan oleh Kontraktor


Pelaksana selambat-lambatnya 10 hari setelah dimulainya pelaksanaan di
lapangan pekerjaan. Penyelesaian yang dimaksud ini sudah harus dalam arti
telah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas / Konsultan MK.

c. Bila selama 10 hari setelah pelaksanaan pekerjaan dimulai, Kontraktor


Pelaksana belum menyelesaikan pembuatan jadual pelaksanaan, maka
Kontraktor Pelaksana harus dapat menyajikan jadual pelaksanaan sementara
minimal untuk 2 minggu pertama dan 2 minggu kedua dari pelaksanaan
pekerjaan.

d. Selama waktu sebelum rencana jadual pelaksanaan disusun, Kontraktor


Pelaksana harus melaksanakan pekerjaannya dengan berpedoman pada
rencana pelaksanaan mingguan yang harus dibuat pada saat dimulai
pelaksanaan. Jadual pelaksanaan 2 mingguan ini harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas / Konsultan MK.

2.5 KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT BAHAN

a. Kontraktor harus menyediakan bahan-bahan bangunan dalam jumlah dan


kualitas yang sesuai dengan lingkup pekerjaan yang dilaksanakan. Sepanjang
tidak ada ketentuan lain dalam RKS ini dan Berita Acara Rapat Penjelasan, maka
bahan-bahan yang dipergunakan maupun syarat-syarat pelaksanaan harus
memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam AV-41 dan PUBI-1982 serta

6|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

ketentuan lainnya yang berlaku di Indonesia. Bahan – bahan yang dimaksud


harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas / Konsultan MK.

b. Sebelum memulai pekerjaan atau bagian pekerjaan, Pemborong harus


mengajukan contoh bahan yang akan digunakan kepada Pengawas Lapangan /
Konsultan MK yang akan diajukan User dan Konsultan Perencana untuk
mendapatkan persetujuan. Bahan-bahan yang tidak memenuhi ketentuan seperti
disyaratkan atau yang dinyatakan ditolak oleh Pengawas Lapangan tidak boleh
digunakan dan harus segera dikeluarkan dari halaman pekerjaan selambat-
lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam.

c. Apabila bahan-bahan yang ditolak oleh Pengawas Lapangan / Konsultan MK


ternyata masih dipergunakan oleh Kontraktor, maka Pengawas Lapangan
memerintahkan untuk membongkar kembali bagian pekerjaan yang
menggunakan bahan tersebut. Semua kerugian akibat pembongkaran tersebut
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

d. Jika terdapat perselisihan mengenai kualitas bahan yang dipakai, Pengawas


Lapangan berhak meminta kepada Kontraktor untuk memeriksakan bahan itu ke
Laboratorium Balai Penelitian Bahan yang resmi dengan biaya Kontraktor.
Sebelum ada kepastian hasil pemeriksaan dari Laboratorium, Kontraktor tidak
diizinkan untuk melanjutkan bagian-bagian pekerjaan yang menggunakan bahan
tersebut.

e. Penyimpanan bahan-bahan harus diatur dan dilaksanakan sedemikian rupa


sehingga tidak mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan terhindarnya
bahan-bahan dari kerusakan.

f. Persyaratan mutu bahan bangunan secara umum adalah seperti di bawah ini,
sedangkan bahan-bahan bangunan yang belum disebutkan disini akan
diisyaratkan langsung di dalam pasal-pasal mengenai persyaratan pelaksanaan
komponen konstruksi di belakang.

 Air

Air yang digunakan sebagai media untuk adukan pasangan plesteran, beton
dan penyiraman guna pemeliharaan harus air tawar, tidak mengandung
minyak, garam, asam dan zat organik lainnya yang telah dikatakan memenuhi
syarat, sebagai air untuk keperluan pelaksanaan konstruksi oleh laboratorium
tidak lagi diperlukan rekomendasi laboratorium.

 Semen Portland (PC)

Semen Portland yang digunakan adalah jenis satu harus satu merek untuk
penggunaan dalam pelaksanaan satu satuan komponen bengunan, belum
mengeras sebagai atau keseluruhannya. Penyimpanannya harus dilakukan

7|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

dengan cara dan didalam tempat yang memenuhi syarat sebagai air untuk
menjamin kebutuhan kondisi sesuai persyaratan di atas.

 Pasir (Ps)

Pasir yang digunakan adalah pasir sungai, berbutir keras, bersih dari kotoran,
lumpur, asam, garam, dan bahan organik lainnya, yang terdiri atas.

1. Pasir untuk urugan adalah pasir dengan butiran halus, yang lazim
disebut pasir urug.

2. Pasir untuk pasangan adalah pasir dengan ukuran butiran sebagian


terbesar adalah terletak antara 0,075 sampai 1,25 mm yang lazim
dipasarkan disebut pasir pasang

3. Pasir untuk pekerjaan beton adalah pasir cor yang gradasinya mendapat
rekomendasi dari laboratorium.

 Batu Pecah (Split)

Split untuk beton harus menggunakan split dari batu kali hitam pecah, bersih
dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam PBI 1971.

III. SITUASI DAN PERSIAPAN PEKERJAAN

3.1 SITUASI/LOKASI

a. Lokasi proyek adalah pada lahan untuk Pembangunan Rumah Sakit Andi
Djemma Masamba Kabupaten Luwu Utara. Halaman proyek akan diserahkan
kepada Kontraktor sebagaimana keadaannya waktu Rapat Penjelasan.
Kontraktor hendaknya mengadakan penelitian dengan seksama mengenai
keadaan tanah halaman proyek tersebut.

b. Kekurang-telitian atau kelalaian dalam mengevaluasi keadaan lapangan,


sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor dan tidak dapat dijadikan alasan
untuk mengajukan klaim/tuntutan.

3.2 AIR DAN DAYA

a. Kontraktor harus menyediakan air atas tanggungan/biaya sendiri yang


dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini, yaitu :

 Air kerja untuk pencampur atau keperluan lainnya yang memenuhi


persyaratan sesuai jenis pekerjaan, cukup bersih, bebas dari segala macam
kotoran dan zat-zat seperti minyak, asam, garam, dan sebagainya yang dapat
merusak atau mengurangi kekuatan konstruksi.

8|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

 Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan
kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan
tersebut harus cukup terjamin.

b. Kontraktor harus menyediakan daya listrik atas tanggungan/biaya sendiri


sementara yang dibutuhkan untuk peralatan dan penerangan serta keperluan
lainnya dalam melaksanakan pekerjaan ini. Pemasangan sistem listrik sementara
ini harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Kontraktor harus mengatur dan
menjaga agar jaringan dan peralatan listrik tidak membahayakan para pekerja di
lapangan. Bila diperlukan (atas petunjuk Konsultan Pengawas / Konsultan MK)
Kontraktor harus pula menyediakan penangkal petir sementara untuk
keselamatan.

3.3 SALURAN PEMBUANGAN

Kontraktor harus membuat saluran pembuangan sementara untuk menjaga agar


daerah bangunan selalu dalam keadaan kering/tidak basah tergenang air hujan atau
air buangan. Saluran dihubungkan ke parit/selokan yang terdekat atau menurut
petunjuk Konsultan Pengawas / Konsultan MK.

3.4 KANTOR KONTRAKTOR, LOS DAN HALAMAN KERJA, GUDANG DAN FASILITAS
LAIN

Kontraktor harus membangun kantor dan perlengkapannya, los kerja, gudang dan
halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan, yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Kontraktor harus juga menyediakan untuk
pekerja/buruhnya fasilitas sementara (tempat mandi dan peturasan) yang memadai
untuk mandi dan buang air.

Kontraktor harus membuat tata letak/denah halaman proyek dan rencana konstruksi
fasilitas-fasilitas tersebut. Kontraktor harus menjamin agar seluruh fasilitas itu tetap
bersih dan terhindar dari kerusakan.

Dengan seijin Pimpinan Pelaksana Kegiatan, Kontraktor dapat menggunakan kembali


kantor, los kerja, gudang dan halaman kerja yang sudah ada.

3.5 KANTOR PENGAWAS (DIREKSI KEET)

Kontraktor harus menyediakan untuk Direksi di tempat pekerjaan ruang kantor


sementara beserta seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan lemari.
Kualitas dan peralatan yang harus disediakan adalah sebagai berikut :

a. Ruang : ukuran 9 m2 (minimal)

b. Konstruksi : rangka kayu ex borneo, lantai plesteran, dinding double


plywood tidak usah dicat, atap asbes gelombang

c. Fasilitas : air dan penerangan listrik

d. Furnitur : 3 meja kerja 1/2 biro dan 3 kursi

9|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

1 meja rapat bahan plywood 18 mm ukuran 120 x 240 cm,

dan 10 kursi

1 whiteboard ukuran 120 x 80 cm

1 rak arsip gambar plywood 12 mm ukr. 120 x 240 x 30 cm

Kontraktor harus selalu membersihkan dan menjaga keamanan kantor tersebut


beserta peralatannya.

3.6 PAPAN NAMA PROYEK

Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan
halaman proyek sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan nama
tersebut 90 x 150 cm dipotong dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai dengan
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen melalui Konsultan MK dan atau sesuai tata
aturan Pemerintah Daerah setempat. Kontraktor tidak diijinkan menempatkan atau
memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan di sekitar proyek tanpa ijin
dari Pemberi Tugas.

3.7 PEMBERSIHAN HALAMAN

a. Semua penghalang di dalam batas tanah yang menghalangi jalannya pekerjaan


seperti pepohonan, batu-batuan atau puing-puing bekas bangunan harus
dibongkar dan dibersihkan serta dipindahkan dari tanah bangunan kecuali
barang-barang yang ditentukan harus dilindungi agar tetap utuh.

b. Pelaksanaan pembersihan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bila terdapat


bahan-bahan bekas bongkaran tidak diperkenankan untuk dipergunakan kembali
dan harus diangkut keluar dari halaman proyek.

3.8 PERMUKAAN ATAS LANTAI (PEIL)

a. Peil  0.00 Bangunan sesuai dengan yang ditentukan dalam gambar


pelaksanaan.

b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, langit-langit, dan lain-lain
harus mengambil patokan dari peil  0.00 tersebut.

3.9 PAPAN BANGUNAN (BOUWPLANK)

a. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan kelas IV) ukuran minimum
3/20 cm yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan tiang-tiang dari kayu
sejenis ukuran 5/7 cm dan dipasang pada setiap jarak satu meter. Papan harus
lurus dan diketam halus pada bagian atasnya.

b. Bouwplank harus benar-benar datar (waterpas) dan tegak lurus. Pengukuran


harus memakai alat ukur yang disetujui Pengawas Lapangan.

10 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

c. Bouwplank harus menunjukkan ketinggian  0.00 dan as kolom/dinding. Letak


dan ketinggian permukaan bouwplank harus dijaga dan dipelihara agar tidak
berubah selama pekerjaan berlangsung.

11 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

B. PEKERJAAN ARSITEKTURAL

I. PEMBERSIHAN/PEMBONGKARAN DAN PENGUKURAN

1.1. PEMBERSIHAN HALAMAN

a. Semua penghalang di dalam batas tanah yang menghalangi jalannya pekerjaan


seperti adanya pepohonan maupun akarnya, batu-batuan atau puing-puing bekas
bangunan (bila ada) harus dibongkar dan dibersihkan serta dipindahkan dari
lokasi bangunan kecuali barang-barang yang ditentukan harus dilindungi agar
tetap utuh.

b. Pelaksanaan pembongkaran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bahan-


bahan bekas bongkaran tidak diperkenankan untuk dipergunakan kembali dan
harus diangkut keluar dari halaman proyek.

1.2. PERMUKAAN ATAS LANTAI (PEIL)

a. Peil  0,00 ditetapkan diambil dari muka lantai dalam bangunan (atau sesuai
gambar dan petunjuk Konsultan MK).

b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, langit-langit, dan lain-lain
harus mengambil patokan dari peil  0.00 tersebut.

II. PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATU BATA

2.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan dinding yang terbuat dari batu bata dan
bata ringan disusun ½ bata, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk
pekerjaan ini.

2.2. BAHAN

a. Bata ringan (Hebel)

Batu bata ringan (hebel) yang dipakai adalah produksi dalam negeri dengan
kualitas yang baik dengan ukuran 10 x 20 x 60 cm, tidak mudah patah, bersudut
runcing dan rata, tanpa cacat atau mengandung kotoran.

Kontraktor harus menunjukkan contoh terlebih dahulu kepada Pengawas


Lapangan. Pengawas Lapangan berhak menolak dan menyuruh bongkar
pasangan yang tidak memenuhi persyaratan. Bahan-bahan yang ditolak harus
segera diangkut keluar dari tempat pekerjaan.

b. Adukan

Adukan terdiri dari semen khusus, pasir dan air dipakai untuk pemasangan
dinding bata ringan.

Semen Mortar yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik

12 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Adukan harus dibuat dalam alat tempat mencampur, diatas permukaan yang
keras, bukan langsung diatas tanah. Bekas adukan yang sudah mulai mengeras
tidak boleh digunakan kembali.

c. Beton Bertulang

Beton bertulang dibuat untuk rangka penguat dinding, yaitu : sloof, kolom praktis
dan ringbalk.

Komposisi bahan beton rangka penguat dinding (sloof, kolom praktis, ringbalk)
adalah 1 pc : 2 pasir : 3 kerikil.

Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik (satu merek
untuk seluruh pekerjaan). Pasir beton harus bersih, bebas dari tanah/lumpur dan
zat-zat organik lainnya. Kerikil/split dari pecahan batu keras dengan ukuran 1 - 2
cm, bebas dari kotoran. Baja tulangan menurut ketentuan PBI 1971.

2.3. PELAKSANAAN

Dinding harus dipasang (uitzet dengan peralatan yang memadai) dan didirikan
menurut masing-masing ukuran ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti
yang ditunjukkan dalam gambar.

a. Sloof, kolom praktis dan ringbalk

Ukuran rangka penguat dinding bata (non struktural) : sloof 13 x 20 cm, kolom
praktis 10 x 10 cm untuk dinding bata ringan, ringbalk dan balok lantai Kolom
praktis dan ringbalk diplester sekaligus dengan dinding bata sehingga
mencapai tebal 13 cm untuk dinding bata ringan. Bekisting terbuat dari kayu
terentang/kayu hutan lainnya dengan tebal minimum 2 cm yang rata dan
berkualitas papan baik.

Pemasangan bekisting harus rapi dan cukup kuat. Celah-celah papan harus rapat
sehingga tidak ada air adukan yang keluar. Bekisting baru boleh dibongkar
setelah beton mengalami proses pengerasan.

b. Pasangan dinding bata ringan

Bata yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai
jenuh.

Tidak diperkenankan memasang bata :

1. Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan
kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan
tersebut harus cukup terjamin.

2. Yang ukurannya kurang dari setengahnya

3. Lebih dari 1 (satu) meter tingginya setiap hari di satu bagian pemasangan

13 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

4. Pada waktu hujan di tempat yang tidak terlindung atap

5. Setiap luas pasangan dinding bata mencapai 12 m2 harus dipasang beton
praktis (kolom, dan ring balk)

Bata dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan
bentang benang yang sipat datar. Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-
benar dipasang tegak lurus.

Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak
40 cm. Permukaan beton harus dibuat kasar. Pemasangan bata diatas kusen
harus dibuat balok lantai 10/10 atau dilengkapi dengan pasangan rollaag.
Pemasangan harus dijaga kerapihannya, baik dalam arah vertikal maupun
horizontal. Sela-sela disekitar kusen-kusen harus diisi dengan aduk.

III. PEKERJAAN PLESTERAN / DRY MORTAR

3.1. LINGKUP PEKERJAAN

Kecuali disebutkan lain, bahan penyelesaian atau penutup permukaan dinding/tembok


bata dan adalah plesteran. Pekerjaan plesteran mencakup pembuatan dan
pemasangan plesteran pada dinding-dinding tembok bata dan bidang-bidang beton,
meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan peralatannya. Semua permukaan
plesteran dicat dengan cat tembok, kecuali disebutkan lain.

3.2. BAHAN

Komposisi bahan adukan sesuai dengan persyaratan, yaitu :


a. 1 pc : 3 pasir untuk permukaan beton, dinding trasram atau daerah basah dan
dinding luar yang tidak tertutup atap.

b. 1 : 2 dan sudut dinding

c. 1 pc : 5 pasir untuk dinding bata bagian dalam gedung

Semen Mortar yang dipakai adalah produk lokal yang terbaik (satu merek untuk
seluruh pekerjaan).

d. Plesteran untuk penutup dinding bata ringan menggunakan Dry-Mortar : 3


kg/m2, ketebalan 2 mm. Ketebalan dapat diatur sesuai dengan grade : kasar,
sedang, halus. Produk setara : LEMKRA, atau Cipta Mortar

3.3. PELAKSANAAN

a. Plesteran dinding bata

Sebelum diplester, permukaan dinding bata harus dibersihkan dan dibasahi


dengan air, siarnya dikorek sedalam 1 cm. Tebal plesteran minimum 1,5 cm dan
maksimum 2 cm. Plesteran diselesaikan dengan papan plesteran dan kayu
perata atau sekop baja. Sudut-sudut dibuat serapi-rapinya dan menyiku.

14 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Sambungan dari plesteran-plesteran harus mulus dan lurus.

Dalam mendirikan dinding yang tidak berada dibawah atap, selama waktu hujan
harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan
bahan pelindung yang cukup sesuai.

b. Plesteran Beton

Seluruh permukaan beton yang tampak harus menghasilkan permukaan yang


halus dan rata. Bila pelaksanaan pekerjaan beton tidak dapat menghasilkan
permukaan yang halus dan rata, maka permukaan tersebut harus diplester
hingga menghasilkan permukaan seperti yang dimaksud di dalam gambar
rancangan pelaksanaan.

Permukaan beton yang akan diplester harus disiapkan dulu dengan pekerjaan
pendahuluan dengan urutan sebagai berikut :

 Permukaan dibuat kasar dengan betel/pahat beton

 Dibasahi dengan air

Mortar untuk plesteran adalah campuran 1 Pc : 2 Ps yang diaduk secara benar-


benar homogen.

Ketebalan plesteran adalah rata-rata 15 mm – 25 mm

Plesteran harus diakhiri dengan acian halus dari adukan air semen (Pc)

Untuk beton bertemu dengan dinding, plesteran harus dilapisi kawat wiremesh
minimal 30 cm sepanjang pertemuan, khususnya apabila permukaan dinding rata
dengan permukaan beton.

c. Plesteran Dry Mortar

1. Tuangkan air kedalam ember yang bersih

2. Masukkan serbuk Dry-Mortar secara bertahap kedalam ember dengan


perbandingan campuran (1 kg Plester Mutiara : 250 cc air)

3. Aduk hingga rata dengan menggunakan mixer

4. Tebarkan adukan tersebut pada media dinding yang sudah diplester

5. Rapikan / haluskan dengan gosokan (roskam)

d. Semua pasangan dinding bata harus diplester dan diaci kecuali pasangan
dinding bata yang tertanam didalam tanah atau dibawah lantai dasar cukup
diplester dengan campuran 1 : 3 tanpa acian.

15 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

IV. PEKERJAAN KUSEN, PINTU DAN JENDELA

4.1. PEKERJAAN KUSEN & LOUVRE ALUMINIUM

a. Lingkup Pekerjaan

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,


peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan
sempurna.

2. Pekerjaan ini meliputi seluruh kosen pintu, jendela dan loure aluminium,
seperti yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.

3. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan (Pekerjaan Kosen, Pintu dan
Jendela), (Pekerjaan Kaca dan Cermin).

b. Persyaratan Bahan

1. Terbuat dari bahan Aluminium Framing System, dari produk dalam negeri ex.
YKK, Indalex, Alexindo, berwarna atau produk lain yang setara yang
memenuhi Aluminium extrusi sesuai SII extrusi 0695-82, 0649-82.

2. Bentuk profil sesuai yang ditunjukkan dalam gambar, dengan terlebih dahulu
dibuatkan gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui Direksi /
Manajemen Konstruksi.

3. Warna profil :

Untuk interior-Anodized 8 micron, warna akan ditentukan kemudian.

4. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna


profil-profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu fabrikasi
unti-unit jendela, pintu, partisi dan lain-lain, profil harus diseleksi lagi
warnanya sehingga dalam tiap unit didapatkan warna yang sama.

5. Bahan yang akan melalui proses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu
dengan seksama sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran, ketebalan,
kesikuan, kelengkungan, pewarnaan yang disyaratkan Direksi.

6. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi Rencana Kerja dan


Syarat-syarat dari pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan-ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan.

7. Konstruksi kosen & louvre aluminium yang dikerjakan seperti yang


ditunjukkan dalam detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.

8. Khusus untuk kosen aluminium eksterior (Mullion dan Transome), bentuk dan
ukuran profil aluminium sesuai yang ditunjukkan dalam gambar, dengan
terlebih dahulu dibuatkan perhitungan struktur rangka serta pembuatan
gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui Direksi / Pengawas.

16 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

9. Kosen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap tekanan angin 120


kg/m2, untuk setiap type dan harus disertai hasil test.

10. Kosen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap air/kebocoran air,


tidak terlihat kebocoran signifikasi (air masuk ke dalam interior bangunan
sampai tekanan 137 Pa (positif) dengan jangka waktu 15 menit, dengan
jumlah air minimum 3,4 L/m2 min.

11. Nilai deformasi diijinkan maksimum 2 mm.

12. Pekerjaan mesin potong, mesin punch, drill, dan lain-lain harus sedemikian
rupa sehingga diperoleh hasil rakitan untuk unit-unit jendela, pintu dan partisi
yang mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :

12.a. untuk tinggi dan lebar 1 mm.

12.b. untuk diagonal 2 mm.

13. Accessories.

13.a. Sekrup dari galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl,
pengikat alat penggantung yang dihubungkan dengan aluminium harus
ditutup caulking dan sealant.

13.b. Sealant yang dipergunakan adalah ex. Dow Corning type 795 atau
setara.

13.c. Angkur-angkur untuk rangka / kosen aluminium terbuat dari steel plate
tebal 2-3 mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari 13 mikron
sehingga tidak dapat bergerak / bergeser.

14. Bahan finishing.

Treatment untuk permukaan kosen jendela dan pintu yang bersentuhan


dengan bahan alkaline seperti beton, aduk atau plester dan bahan lainnya
harus diberi lapisan finish dari lacquer yang jernih.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan

1. Sebelum memulai pelaksanaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-


gambar dan kondisi di lapangan, terutama ukuran dan peil lubang bukaan
dinding. Kontraktor diwajibkan membuat contoh jadi (mock-up) untuk semua
detail sambungan dan profil aluminium yang berhubungan dengan sistem
konstruksi bahan lain dan dimintakan persetujuan dari Direksi / Pengawas.

2. Proses fabrikasi harus sudah berjalan dan siap lebih dulu sebelum pekerjaan
lapangan dimulai. Proses ini harus didahului dengan pembuatan shop
drawing atas petunjuk manajemen Konstruksi, meliputi gambar denah, lokasi,
merk, kualitas, bentuk, ukuran. Kontraktor juga diwajibkan untuk membuat
perhitungan-perhitungan yang mendasari sistem dan dimensi profil aluminium

17 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

terpasang, sehingga memenuhi persyaratan yang diminta/berlaku. Kontraktor


bertanggung jawab penuh atas kehandalan pekerjaan ini.

3. Semua frame / kosen baik untuk jendela, pintu dan dinding partisi, dikerjakan
secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan
agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.

4. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk


menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan
untuk mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa
menyebabkan kerusakan pada permukaannya.

5. Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah


bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata. Pengelasan
harus rapi untuk memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan
gambar.

6. Akhir bagian kosen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok.

7. Angkur-angkur untuk rangka / kosen aluminium terbuat dari steel plate


setebal 2-3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.

8. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat,
sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air dan
memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm2. Celah antara
kaca dan sistem kosen aluminium harus ditutup oleh sealant.

9. Untuk fitting hardware dan reinforcing materials yang mana kosen aluminium
akan bertemu dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal
yang bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk menghindari
timbulnya korosi.

10. Toleransi pemasangan kosen aluminium disatu sisi dinding adalah 10-25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan / grout.

11. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium, kehorizontalan rel mutlak
diperhatikan sebelum rangka kosen terpasang. Permukaan bidang dinding
horizontal yang melekat pada ambang bawah dan atas harus waterpass
(pelubangan dinding).

12. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada


ruang yang dikondisikan, hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat
digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin. Penggunaan ini
dilakukan pada swing door dan double door.

13. Sekeliling tepi kosen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan suara.

18 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

14. Tepi bawah ambang kosen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan
air hujan.

15. Engsel untuk jendela yang bisa dibuka diletakkan sejarak jangkauan tangan.

16. Profil aluminium yang akan dipilih harus diajukan secepatnya untuk
memperoleh persetujuan Direksi/ Pengawas.

4.3 PEKERJAAN PINTU DAN JENDELA

4.3.1 Daun Pintu dan jendela Aluminium

a. Pekerjaan ini meliputi perhitungan, pengadaan dan pemasangan


pada bagian-bagian bangunan yang menggunakan konstruksi
aluminium sebagai rangka, khususnya untuk pintu-pintu rangka
aluminium dan rangka kaca.

b. Permborong Aluminium bertanggung jawab penuh atas


terselenggaranya pekerjaan-pekerjaan tersebut di atas dengan baik.
Adapun yang akan terjadi kemudian hari pada bagian-bagian
tersebut sehingga menyebabkan kerugian-kerugian dari pihak
Pemilik, adalah menjadi tanggung jawab Pemborong Aluminium,
seperti :

(1) Terjadinya lendutan rangka aluminium sehingga menyebabkan


pecahnya kaca.

(2) Terjadinya kebocoran-kebocoran (angin dan air) sebagai akibat


kelalaian dalam pelaksanaan pekerjaan.

(3) Kerusakan-kerusakan lainnya yang disebabkan oleh kesalahan


sistem konstruksi yang dipakai.

c. Pekerjaan ini harus ditangani oleh tenaga-tenaga yang ahli dalam


bidangnya.

d. Sebelum pekerjaan dimulai, Pemborong Aluminium terlebih dahulu


harus menyerahkan gambar kerja dan shop drawing khusus untuk
pekerjaan tersebut kepada Direksi untuk mendapatkan
persetujuannya.

e. Pekerjaan yang ternyata dilaksanakan berdasarkan gambar-gambar


yang belum/tidak disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan. Dalam
hal ini Direksi/Pengawasa Lapangan berhak menolak dan
mengintruksikan kepada pemborong Aluminium untuk membongkar
pekerjaan tersebut. Semua kerugian yang diakibatkan oleh hal-hal
tersebut, menjadi tanggung jawab Pemborong Aluminium.

19 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

f. Untuk mendapatkan persetujuan Direksi/Pengawasa Lapangan,


maka pemborong Aluminium harus mengajukan contoh-contoh
(sampel) untuk bahan-bahan yang akan dipakai, yaitu semua hard
were, weather strip, angkur, dan peralatan lainnya. Semuanya dalam
keadaan telah siap pakai (finish).

Bentuk, ukuran dan konstruksi tercantum didalam gambar kerja yang aman
segalanya harus ditaati, kecuali ada ketentuan lain dari perencanaan, Konsultan
Pengawas atau Pemberi tugas

V. PEKERJAAN KACA

5.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan kaca meliputi pengisian bidang-bidang kusen (kaca mati), daun pintu
dan jendela, jendela bovenlight. Contoh kaca yang akan dipakai harus
diperlihatkan kepada Pengawas paling lambat 2 (dua) minggu sebelum dipasang.

5.2. BAHAN

a. Kaca Polos.

Kaca polos harus merupakan lembaran kaca bening jenis clear float glass yang
datar dan ketebalannya merata, tanpa cacat dan dari kualitas yang baik yang
memenuhi ketentuan SNI 15-0047 – 1987 dan SNI 15-0130 – 1987, seperti tipe
Indoflot buatan Asahimas atau yang setara.

Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.

b. Kaca Berwarna.

Kaca berwarna harus merupakan lembaran kaca polos yang diberi warna dengan
menambahkan sedikit logam pewarna pada bahan baku kaca, seperti tipe
Panasap buatan Asahimas atau yang setara.

Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja sedang warna
kaca harus sesuai ketentuan dalam Skema Warna.

5.3. PELAKSANAAN

a. Umum.

1. Ukuran-ukuran kaca dan cermin yang tertera dalam Gambar Kerja adalah
ukuran yang mendekati sesungguhnya. Ukuran kaca yang sebenarnya dan
besarnya toleransi harus diukur ditempat oleh Kontraktor berdasarkan ukuran
di tempat kaca atau cermin tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk
dari Pengawas Lapangan, bila dikehendaki lain.

2. Setiap kaca harus tetap ditempeli merek pabrik yang menyatakan tipe kaca,
ketebalan kaca dan kualitas kaca.

20 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Merek-merek tersebut baru boleh dilepas setelah mendapatkan persetujuan


dari Pengawas Lapangan.

3. Semua bahan harus dipasang dengan rekomendasi dari pabrik.

Pemasangan harus dilakukan oleh tukang-tukang yang ahli dalam bidang


pekerjaannya.

b. Pemasangan Kaca.

1. Sela dan Toleransi Pemotongan.

Sela dan toleransi pemotongan sesuai ketentuan berikut :

- Sela bagian muka antara kaca dan rangka nomTOTOl 3mm.

- Sela bagian tepi antara kaca dan rangka nomTOTOl 6mm.

- Kedalaman celah minimal 16 mm.

- Toleransi pemotongan maksimal untuk seluruh kaca adalah + 3 mm atau -


1,5 mm.

- Sela untuk Gasket harus ditambahkan sesuai dengan jenis gasket yang
digunakan.

2. Persiapan Permukaan.

- Sebelum kaca-kaca dipasang, daun pintu, daun jendela, bingkai partisi dan
bagian-bagian lain yang akan diberikan kaca harus diperiksa bahwa mereka
dapat bergerak dengan baik.

- Daun pintu dan daun jendela harus diamankan atau dalam keadaan
terkunci atau tertutup sampai pekerjaan pemolesan dan pemasangan kaca
selesai.

- Permukaan semua celah harus bersih dan kering dan dikerjakan sesuai
petunjuk pabrik.

- Sebelum pelaksanaan, permukaan kaca harus bebas dari debu, lembab


dan lapisan bahan kimia yang berasal dari pabrik.

3. Penggantian dan Pembersihan.

- Pada waktu penyerahan pekerjaan, semua kaca harus sudah dalam


keadaan bersih, tidak ada lagi merek perusahaan, kotoran-kotoran dalam
bentuk apapun.

- Semua kaca yang retak, pecah atau kurang baik harus diganti oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.

21 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

VI. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI

6.1. LINGKUP PEKERJAAN

Semua daun pintu dan jendela dipasangi alat penggantung dan kunci yang sesuai.
Pekerjaan alat penggantung dan pengunci ini mencakup semua kegiatan
pemasangan kunci dan alat-alat penggantung pada daun pintu dan jendela, meliputi
pengadaan bahan, tenaga dan peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan ini.

PROSEDUR UMUM

a. Contoh

Contoh bahan beserta data teknis/brosur bahan alat penggantung dan pengunci
yang akan dipakai harus diserahkan kepada Konsultan MK untuk disetujui,
sebelum dibawa kelokasi proyek.

b. Pengiriman dan Penyimpanan

Alat penggantung dan pengunci harus dikirimkan ke lokasi proyek dalam


kemasan asli dari pabrik pembuatannya, tiap alat harus dibungkus rapi dan
masing-masing dikemas dalam kotak yang masih utuh lengkap dengan nama
pabrik dan mereknya.

Semua alat harus disimpan dalam tempat yang kering dan terlindung dari
kerusakan.

c. Ketidaksesuaian.

Konsultan Konsultan Pengawas berhak menolak bahan maupun pekerjaan yang


tidak memenuhi persyaratan dan Kontraktor harus menggantinya dengan yang
sesuai. Segala hal yang diakibatkan karena hal di atas menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

6.2. BAHAN

a. Umum

Semua bahan/alat yang tertulis dibawah ini harus seluruhnya baru, kualitas baik,
buatan pabrik yang dikenal dan disetujui.

Semua bahan harus anti karat untuk semua tempat yang memiliki nilai
kelembapan lebih dari 70%.

Kecuali ditentukan lain, semua alat penggantung dan pengunci yang didatangkan
harus sesuai dengan tipe-tipe tersebut dibawah.

b. Alat Penggantung dan Pengunci.

Rangka Bagian Dalam.

22 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

1. umum.

Penggantung dan Pengunci untuk semua pintu luar dan dalam harus sama
atau setara dengan merek Cisa, Kend dan Grif atau setaranya.

2. Semua kunci harus terdiri dari :

- Kunci tipe silinder dengan dua kali putar yang terbuat dari bahan kuningan,
Nikel stainless steel ,dengan 3 (tiga) buah anak kunci.

- Handle/pegangan bentuk gagang atau kenop yang terbuat dari bahan anti
karat atau Nikel stainless steel dan finishing stainless steel hair line.

- Badan kunci tipe tanam (mortice lock) yang terbuat dari bahan baja lapis
seng stainless steel hair line dengan jenis dan ukuran yang disesuaikan
dengan jenis bahan daun pintu (besi, kayu atau alumunium) dan lubang
untuk pegangan pintu dan dilengkapi strike plate.

3. Engsel.

- Kecuali ditentukan adanya penggunaan engsel kupu-kupu, engsel untuk


semua jendela harus dari tipe Grif 1902 SSBB atau Kend SEL0007 US32D,
dari ukuran yang sesuai dengan ukuran dan berat jendela.

- Engsel tipe untuk jendela harus berukuran 76mm x 64mm x 2mm.

- Ketentuan Bahan dan finishing engsel adalah dari bahan Nikel Stainless
steel dengan finish stainless steel hair line.

4. Hak Angin.

Hak angin untuk jendela yang menggunakan engsel tipe kupu-kupu seperti
dari tipe Cisa, Grif dan Kend atau yang setara yang disetujui.

5. Pengunci Jendela.

Pengunci jendela untuk jendela dengan engsel atau tipe friction stay seperti
tipe Cisa, Grif dan Kend atau yang setara yang disetujui.

6. Grendel Tanam/Flush bolt.

Semua pintu ganda harus dilengkapi dengan grendel tanam atas/ bawah
dengan type Rioby 456/240 atau 6800/1-150/300.

7. Penahan Pintu (Door Stop).

Penahan pintu untuk mencegah benturan daun pintu dengan dinding


menggunakan tipe Wilka Art 728 , tipe Art 601 atau setara dengan,
pemasangan dilantai .

8. Warna/Lapisan.

Semua alat penggantung dan pengunci harus berwarna stainless steel hair
line, kecuali bila ditentukan lain.

23 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

6.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN

a. Umum.

1. Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan


persyaratan serta sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya.

2. Semua peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada
tempatnya, untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.

3. Setiap daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 2 (dua)


buah engsel type friction stay dan harus dilengkapi dengan 1 (satu) buah alat
pengunci/window.

4. Semua pintu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 3 (tiga) buah


engsel, Untuk pemasangan engsel ke kusen Alumunium harus diberi closer
dari kayu tebal min 3 cm x panjang kusen yang kuat dan dari kayu bermutu
baik (Kamper atau Nyatoh) yang dipasang di balik atau di dalam kusen
Alumunium/Kayu.

5. Semua pintu memakai kunci pintu lengkap dengan badan kunci, silinder,
handle/pelat.

6. Engsel bagian atas untuk pintu kaca menggunakan pin yang bersatu dengan
bingkai bawah pemegang pintu kaca.

7. Lubang untuk pemasangan kunci dan engsel harus dibuat persis dan tidak
boleh longgar. Semua alat kunci harus dipasang dengan sekrup secara
lengkap

b. Pemasangan Pintu.

1. Kunci pintu dipasang pada ketinggalan 1000 mm dari lantai.

2. Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 120mm dari tepi atas daun pintu
dan engsel bawah berjarak maksimal 250mm dari tepi bawah daun pintu,
sedang engsel tengah dipasang diantar kedua engsel tersebut.

3. Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handle), pelat
penutup muka dan pelat kunci.

4. Pada pintu yang terdiri dari dua daun pintu, salah satunya harus dipasang slot
tanam sebagaimana mestinya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar
Kerja.

c. Pemasangan Jendela.

1. Daun jendela dengan engsel tipe kupu-kupu dipasangkan ke kusen dengan


menggunakan engsel dan dilengkapi hak angin, dengan cara pemasangan
sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya dalam Gambar Kerja.

24 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

2. Daun jendela tidak berengsel dipasangkan ke kusen dengan menggunakan


friction stay yang merangkap sebagai hak angin, dengan cara pemasangan
sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya.

3. Penempatan engsel harus sesuai dengan arah bukaan jendela yang diinginkan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan setiap jendela harus dilengkapi
dengan sebuah pengunci.

Semua perlengkapan tambahan yang akan dipakai harus diberikan contohnya terlebih
dahulu kepada Konsultan MK untuk disetujui bersama dengan Konsultan Perencana.

VII. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT

7.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini mencakup pembuatan dan pemasangan langit-langit dengan berbagai


bahan penutup langit-langit sesuai dengan gambar dan RKS, meliputi penyediaan
alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini.

7.2. BAHAN

a. Bahan yang dipakai pada pekerjaan ini adalah gypsum-board dengan ukuran
sesuai pada gambar perencanaan, produk Jaya Board, Knauf atau Elephant.

Papan gipsum harus dari tipe standar yang memenuhi ketentuan AS 2588, BS
1230 atau ASTM C 36.

b. Rangka plafond menggunakan sistem metal furing dan cross tee main tee terbuat
dari bahan galvalume tebal 0,55 mm sesuai gambar rancangan pelaksanaan
produk Global atau setara.

c. Bahan yang digunakan untuk list plafond adalah terbuat dari gypsum ukuran 90 x
70 mm atau sesuai pada gambar rancangan pelaksanaan.

d. GRC 6 mm untuk plafon teritisan atap bagian luar, produk Jabasemen atau
Harflex. Bahan terpasang harus dalam keadaan utuh, kuat, permukaan rata dan
tanpa cacat lainnya.

7.3. PELAKSANAAN

a. Rangka penggantung dipasang berjarak maksimum 120 cm sedangkan untuk


rangka pembagi berjarak maksimum 60 cm atau sesuai prosedur pabrik dan
gambar rancangan pelaksanaan

b. Pemasangan paku atau sekrup harus diberi jarak 10 mm (minimal) dan maksimal
16 mm dari pinggir bahan penutup. Jarak antara paku sekrup pada bagian tepi
gypsum berjarak 20 cm sedangkan pada bagian tengah penutup langit-langit
jarak antara paku sekrup adalah 30 cm.

25 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

c. Sambungan pada pemasangan penutup langit-langit antara satu dengan lainnya


adalah serapat mungkin tanpa jarak yang pemasangannya dilakukan zig zag.

d. Untuk mendapatkan hasil permukaan yang benar-benar rata pada setiap


sambungan harus dilapisi dengan base bond dan paper tape dari produk yang
sama dengan papan penutup langit-langit dengan lubang dan garis tengah
pelaksanaan sesuai brosur petunjuk.

e. Untuk pekerjaan plafond dengan menggunakan gypsum datar tanpa nat, tebal
minimal 9 mm produksi Jaya Board atau setara.

f. Pemasangan penutup langit-langit harus ditimbang rata air agar mendapatkan


permukaan yang benar rata.

g. List langit-langit dipasang pada setiap permukaan antara dinding dan plafond
dengan cara pemasangan menggunakan paku atau sekrup sedemikian rupa
sehingga pangkal paku atau sekrup dapat masuk ke dalam bahan penutup langit-
langit. Lubang bekas paku atau sekrup harus ditutup dengan plamir/compound
dari bahan gypsum sampai tak terlihat bekas lubang.

h. Langit-langit tanpa penutup/exposed beton di ruang-ruang yang tidak tertutup


harus dirapikan.

Pekerjaan ini mencakup pembuatan dan pemasangan langit-langit dengan berbagai


bahan penutup langit-langit sesuai dengan gambar dan RKS, meliputi penyediaan
alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini.

VIII. PEKERJAAN PELAPISAN DINDING

8.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini mencakup pemasangan pelapis dinding ruangan-ruangan dalam


bangunan dan luar bangunan sesuai dengan gambar pelaksanaan dan RKS ini,
meliputi penyediaan alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini.

Pengiriman bahan ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.

Kontraktor wajib menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari keseluruhan bahan


terpasang untuk diserahkan kepada Pemilik Proyek.

8.2. BAHAN

a. Ubin Keramik

Keramik untuk pelapis dinding yang dipakai buatan dalam negeri, keramik harus
dari kualitas yang baik atau KW 1 dan dari merek yang dikenal yang memenuhi
ketentuan SNI seperti (Roman atau Asia Tile), sesuai dengan gambar
perencanaan dan scedule finishing. Bahan yang didatangkan harus dalam

26 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

keadaan baik, utuh kuat, tanpa cacat. Keramik yang didatangkan harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas.

Keramik yang tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudut-
sudutnya tidak siku, retak atau cacat lainnya, tidak boleh dipasang.

b. Stone Cladding
Batu tempel yang dipakai adalah jenis batu Andesit, Batu tempel hitam (bulat
pipih) dengan finishing permukaan polished, honed dan flamed. Batu yang
ditempel harus dalam keadaan utuh, kondisi baik dan kuat tanpa ada cacat.

Batu Granit, Bahan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, utuh kuat,
tanpa cacat rongga atau porous, asal batu granit yang dimaksud adalah ex. India
atau Italy. Barang yang didatangkan harus disetujui oleh Pengawas Lapangan.
Warna akan ditentukan kemudian oleh konsultan perencana dan owner. Ukuran
batu yang akan dipasang disesuaikan dengan gambar perencanaan.

8.3. PELAKSANAAN

a. Pemasangan keramik

Pemasangan keramik dinding sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari


kerusakan akibat pekerjaan yang belum selesai. Permukaan dinding yang akan
dipasang keramik harus bersih, cukup kering dan rata air. Tentukan tulangan
dengan mempertimbangkan tata letak ruangan / tangga / dinding yang ada.
Pemasangan keramik dinding dimulai dari tulangan ini. Sebelum dipasang,
keramik dinding agar direndam dalam air terlebih dahulu. Setiap jalur
pemasangan sebaiknya ditarik benang dan rata air. Adukan semen untuk
pemasangan keramik harus penuh, baik permukaan dasar maupun di badan
belakang keramik dinding yang terpasang. Perbandingan adukan dan ketebalan
rata – rata yang dianjurkan adalah Semen : Pasir = 1 : 4, dengan ketebalan rata –
rata 2,0 cm. Lebar nat yang dianjurkan untuk dinding adalah 2 mm, dengan
campuran pengisi nat (Grout) bahan khusus AM 50. Bagi area yang luas
dianjurkan untuk diberi expansion joint. Khusus untuk dinding luar diberi tali air
per jarak tertentu dengan mempertimbangkan desainnya, agar tidak menerima
beban terlalu berat. Bersihkan segera bekas adukan dari permukaan keramik,
dapat digunakan bahan pembersih yang ada di pasar dengan kadar asam tidak
lebih dari 5 %, setelah itu segera bersihkan dengan air bersih. Karena sifat
alamiah dari produk keramik, yang disebabkan proses pembakaran pada
temperatur tinggi, dapat terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk ini periksa
dan pastikan keramik dinding yang akan dipasang mempunyai seri dan golongan
ukuran yang sama.

Plesteran dinding dan pasangan keramik harus benar-benar rata/lurus dalam


satu bidang. Keramik dipasang secara teliti dan rapi. Pemotongan ubin keramik
harus menggunakan alat pemotong khusus. Lebar dan kedalaman siar-siar

27 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

harus sama (maksimal 3 mm untuk dinding keramik dan 1 mm untuk dinding


granit) dan siar harus membentuk garis-garis lurus. Siar-siar itu diisi dengan
bahan pengisi warna (grout semen berwarna), sesuai dengan petunjuk
Pengawas Lapangan. Dinding keramik maupun granit yang sudah terpasang
harus dibersihkan dari segala macam noda/kotoran yang melekat sehingga
benar-benar bersih, warnanya tidak kusam.

b. Pemasangan border keramik

Bahan yang terpasang harus dalam keadaan baik, utuh dan rapi. Untuk border
keramik dipasang sesuai lebar keramik atau tepat di atas keramik dinding
terpasang. Nat/siar harus lurus vertikal atau horisontal dengan keramik ukuran 20
x 25. Setelah terpasang segera dibersihkan dari segala kotoran atau noda yang
menempel. Pekerjaan ini harus dikerjakan oleh tukang yang bebenar terampil
dan berpengalaman.

c. Pemasangan batu tempel / granit

Seperti Halnya keramik, batu tempel dipasang dengan spasi 1Pc : 3 Psr
dipasang sesuai gambar perencanaan rapat tanpa spasi atau sesuai gambar
perencanaan. Setelah terpasang permukaan harus segera dibersihkan dari
segala kotoran dan noda atau bekas semen yang menempel.

IX. PEKERJAAN PENUTUP LANTAI

9.1. LINGKUP PEKERJAAN

Bagian ini mencakup semua pekerjaan penutup lantai dalam bangunan dan teras-
teras termasuk plin dan tangga, seperti yang tercantum dalam gambar dan RKS,
meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan ini.

Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.

Kontraktor wajib menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari keseluruhan bahan


terpasang untuk diserahkan kepada Pemilik Proyek.

9.2. BAHAN

a. Penutup lantai yang dipakai ukuran `60 x 60 cm terbuat dari Granit Tile merk
Venizea atau yang sekualitas atas persetujuan owner / pemilik proyek.

b. Pada lantai Toilet dipasang keramik ukuran 25 x 25 cm untuk dinding ukuran 25 x


40 cm

c. Corak dan warna penutup lantai berwarna terang dan akan ditetapkan
kemudian oleh Konsultan Perencana sesuai dengan pilihan barang yang tersedia
di pasaran pada saat pelaksanaan di lapangan.

28 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

d. Sebelum penutup lantai dibawa ke tempat pekerjaan, Kontraktor harus


menyerahkan contoh dan katalog/persyaratan teknis operatif dari pabrik
pembuat kepada Pengawas untuk memperoleh persetujuan. Semua keramik
yang akan diipakai harus berada dalam kotak aslinya. Penutup lantai yang akan
dipasang harus mulus dan bebas cacat.

9.3. PELAKSANAAN

a. Pemasangan ubin granit dan keramik

Pemasangan penutup lantai sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari


kerusakan akibat pekerjaan yang belum selesai. Permukaan lantai yang akan
dipasang keramik/granit harus bersih, cukup kering dan rata air. Tentukan
tulangan dengan mempertimbangkan tata letak ruangan / tangga / lantai yang
ada. Pemasangan keramik lantai dimulai dari tulangan ini. Sebelum dipasang,
keramik lantai agar direndam dalam air terlebih dahulu. Setiap jalur pemasangan
sebaiknya ditarik benang dan rata air. Adukan semen untuk pemasangan
keramik harus penuh, baik permukaan dasar maupun di badan belakang keramik
lantai yang terpasang. Perbandingan adukan dan ketebalan rata – rata yang
dianjurkan adalah 1 PC : 6 Pasir, dengan ketebalan rata – rata 2 - 4 cm. Lebar
nat yang dianjurkan untuk penutup lantai dari granit adalah 0.5 mm dan untuk
penutup lantai dari keramik adalah 3 mm. Bagi area yang luas dianjurkan untuk
diberi expansion joint. Bersihkan segera bekas adukan dari permukaan
granit/keramik, dapat digunakan bahan pembersih yang ada di pasar dengan
kadar asam tidak lebih dari 5 %, setelah itu segera bersihkan dengan air bersih.
Karena sifat alamiah dari produk keramik, yang disebabkan proses pembakaran
pada temperatur tinggi, dapat terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk ini
periksa dan pastikan keramik lantai yang akan dipasang mempunyai seri dan
golongan ukuran yang sama.

b. Pemasangan

Pekerjaan ini harus dilakukan dengan serapi-rapinya oleh tukang yang benar-
benar ahli dan berpengalaman, sesuai dengan petunjuk pabrik bahan yang
bersangkutan.

X. PEKERJAAN PENGECATAN

10.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini mencakup semua pekerjaan yang berhubungan dan seharusnya


dilaksanakan dalam pengecatan dengan bahan-bahan emulsi, enamel, politur/teak
oil, cat dasar, pendempulan, baik yang dilaksanakan sebagai pekerjaan permulaan,
ditengah-tengah dan akhir. Yang dicat adalah semua permukaan baja/besi, kayu,

29 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

plesteran tembok dan beton, dan permukaan-permukaan lain yang disebut dalam
gambar dan RKS.

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga dan semua peralatan yang
diperlukan untuk pekerjaan ini.

STANDAR / RUJUKAN

 PUBB 1973 NI-3.

 Steel Structures Painting Council (SSPC).

 Swedish Standard Institution (SIS).

 British Standard (BS).

 Petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat.

10.2. BAHAN

a. Umum.

1. Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih
jelas menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau Spesifikasi cat,
nomor takaran pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrikpetunjuk dari pabrik
dan nama pabrik pembuat, yang semuanya harus masih absah pada saat
pemakaiannya. Semua bahan harus sesuai dengan Spesifikasi yang
disyaratkan pada daftar cat. Pemakaian bahan-bahan pengering atau bahan-
bahan lainnya tanpa persetujuan Pengawas tidak diperbolehkan. Selambat-
lambatnya sebulan sebelum pekerjaan pengecatan dimulai, Kontraktor harus
mengajukan daftar tertulis dari semua bahan yang akan dipakai untuk
disetujui oleh Pengawas Lapangan. Konsultan Pengawas berhak menguji
contoh-contoh sebelum memberikan persetujuan.

Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat


yang dipakai harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil
produksi Dulux, Mowilex atau sekualitas

b. Cat Dasar.

Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut atau setara :

- Water-based sealer untuk permukaan pelesteran, beton, papan gypsum dan


panel kalsium silikat.

- Masonry sealer untuk permukaan pelesteran yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.

- Wood primer sealer untuk permukaan kayu yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.

- Solvent-based anti-corrosive zinc chomate untuk permukaan besi/baja.

30 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

c. Undercoat.

Undercoat digunakan untuk permukaan bidang baru yang belum pernah dicat
sebelumnya.

d. Cat Akhir.

Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut, atau yang setara :

- Emulsion untuk permukaan interior pelesteran, beton, papan gipsum dan


panel kalsium silikat.

- Emulsion khusus untuk permukaan eksterior pelesteran, beton, papan


gipsum dan panel kalsium silikat.

- High quality solvet-based high quality gloss finish untuk permukaan interior
pelesteran dengan cat dasar masonry sealer, kayu dan besi/baja.

- Khusus untuk bagian luar yang tidak terlindung atap dipakai jenis
Weathershield

e. Sending
a. Sending dilaksanakan untuk daun pintu panil.

b. Sebelum disending r, permukaan kayu / kusen harus dihaluskan/digosok


dengan kertas gosok sampai halus dan permukaan yang cacat akibat paku
dan lain-lain harus ditutup / didempul sampai rata.

c. Pekerjaan Sending dilaksanakan mulai dari plituran dasar sampai finish


minimal 3 x atau sampai didapat hasil yang sempurna dengan warna yang
merata dan warna dempul pada bagian yang cacat tidak terlihat lagi.

d. Pelaksanaan sending harus sesuai dengan ketentuan standart pelaksanaan


dari pabrik pembuat dan disetujui Direksi / Pengawas Lapangan

10.3. PELAKSANAAN

a. Pelaksanaan Pekerjaan

Pembersihan, Persiapan dan Perawatan Awal Permukaan.

Umum.

- Semua peralatan gantung dan kunci serta perlengkapan lainnya, permukaan


polesan mesin, pelat, instalasi lampu dan benda-benda sejenisnya yang
berhubungan langsung dengan permukaan yang akan dicat, harus dilepas,
ditutupi atau dilindungi, sebelum persiapan permukaan dan pengecatan
dimulai.

- Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam bidang
tersebut.

31 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

- Permukaan yang akan dicat harus bersih sebelum dilakukan persiapan


permukaan atau pelaksanaan pengecatan. Minyak dan lemak harus
dihilangkan dengan memakai kain bersih dan zat pelarut/pembersih yang
berkadar racun rendah dan mempunyai titik nyala diatas 38º C.

- Pekerjaan pembersihan dan pengecatan harus diatur sedemikian rupa


sehingga debu dan pecemar lain yang berasal dari proses pembersihan
tersebut tidak jauh diatas permukaan cat yang baru dan basah.

1. Permukaan Pelesteran dan Beton.

Permukaan pelesteran umumnya hanya boleh dicat sesudah sedikitnya


selang waktu 4 (empat) minggu untuk mengering di udara terbuka. Semua
pekerjaan pelesteran atau semen yang cacat harus dipotong dengan tepi-
tepinya dan ditambal dengan pelesteran baru hingga tepi-tepinya
bersambung menjadi rata dengan pelesteran sekelilingnya.

Permukaan pelesteran yang akan dicat harus dipersiapkan dengan


menghilangkan bunga garam kering, bubuk besi, kapur, debu, lumpur,
lemak, minyak, aspal, adukan yang berlebihan dan tetesan-tetesan
adukan.

Sesaat sebelum pelapisan cat dasar dilakukan, permukaan pelesteran


dibasahi secara menyeluruh dan seragam dengan tidak meninggalkan
genangan air. Hal ini dapat dicapai dengan menyemprotkan air dalam
bentuk kabut dengan memberikan selang waktu dari saat penyemprotan
hingga air dapat diserap.

2. Permukaan Gipsum.

Permukaan gipsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan
permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.

Kemudian permukaan gipsum tersebut harus dilapisi dengan cat dasar


khusus untuk gipsum, untuk menutup permukaan yang berpori.

Setelah cat dasar ini mengering dilanjutkan dengan pengecatan sesuai


ketentuan Spesifikasi ini.

3. Permukaan Kayu.

Permukaan kayu harus bersih dari minyak, lemak dan serbuk kayu
gergajian, sisa pengamplasan serta kotoran lainnya, sebelum pelapisan
cat dimulai.

4. Permukaan Barang Besi /Baja.

 Besi/Baja Baru.

32 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Permukaan besi/baja yang terkena karat lepas dan benda-benda


asing lainnya harus dibersihkan secara mekanis dengan sikat kawat

atau penyemprtan pasir/sand blasting sesuai standar Sa21/2.

Semua debu, kotoran, minyak, gemuk dan sebagainya harus


dibersihkan dengan zat pelarut yang sesuai dan kemudian dilap
dengan kain bersih.

Sesudah pembersihan selesai, pelapisan cat dasar pada semua


permukaan barang besi/baja dapat dilakukan sampai mencapai
ketebalan yang disyaratkan.

 Besi/Baja Dilapis Dasar di Pabrik/Bengkel.

Bahan dasar yang diaplikasikan di pabrik/bengkel harus dari merek


yang sama dengan cat akhir yang akan diaplikasikan dilokasi proyek
dan memenuhi ketentuan dalam butir 4.2. dari Spesifikasi Teknis ini.

Barang besi/baja yang telah dilapis dasar di pabrik/bengkel harus


dilindungi terhadap karat, baik sebelum atau sesudah pemasangan
dengan cara segera merawat permukaan karat yang terdeteksi.

Permukaan harus dibersihkan dengan zat pelarut untuk


menghilangkan debu, kotoran, minyak, gemuk.

Bagian-bagian yang tergores atau berkarat harus dibersihkan dengan


sikat kawat sampai bersih, sesuai standar St 2/SP-2, dan kemudian
dicat kembali (touch-up) dengan bahan cat yang sama dengan yang
telah disetujui, sampai mencapai ketebalan yang disyaratkan.

 Besi/Baja Lapis Seng/Galvanized.

Permukaan besi/baja berlapis seng/galvanized yang akan dilapisi cat


warna harus dikasarkan terlebih dahulu dengan bahan kimia khsus
yang diproduksi untuk maksud tersebut, atau disikat dengan sikat
kawat. Bersihkan permukaan dari kotoran-kotoran, debu dan sisa-sisa
pengasaran, sebelum pengaplikasian cat dasar.

e. Selang Waktu Antara Persiapan Permukaan dan Pengecatan.

Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat harus
mendapatkan lapisan pertama atau cat dasar seperti yang disayaratkan, secepat
mungkin setelah persiapan-persiapan di atas selesai. Harus diperhatikan bahwa
hal ini harus dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada permukaan yang sudah
disiapkan di atas.

f. Pelaksanaan Pengecatan.

33 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Umum.

- Permukaan yang sudah dirapikan harus bebas dari aliran punggung cat,
tetesan cat, penonjolan, pelombang, bekas olesan kuas, perbedaan warna dan
tekstur.

- Usaha untuk menutupi semua kekurangan tersebut harus sudah sempurna


dan semua lapisan harus diusahakan membentuk lapisan dengan ketebalan
yang sama.

- Perhatian khusus harus diberikan pada keseluruhan permukaan, termasuk


bagian tepi, sudut dan ceruk/lekukan, agar bisa memperoleh ketebalan lapisan
yang sama dengan permukaan-permukaan di sekitarnya.

- Permukaan besi/baja atau kayu yang terletak bersebelahan dengan


permukaan yang akan menerima cat dengan bahan dasar air, harus telah
diberi lapisan cat dasar terlebih dahulu.

Proses Pengecatan.

- Harus diberi selang waktu yang cukup di antara pengecatan berikutnya untuk
memberikan kesempatan pengeringan yang sempurna, disesuaikan dengan
kedaan cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.

Penecatan harus dilakukan dengan ketebalan minimal (dalam keadaan cat


kering), sesuai ketentuan berikut.

a. Permukaan Interior Pelesteran, Beton, Gipsum.

Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.

Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion.

b. Permukaan Eksterior Pelesteran, Beton.

Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.

Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion khusus eksterior.

c. Permukaan Interior dan Eksterior Pelesteran dengan Cat Akhir Berbahan


Dasar Minyak.

Cat Dasar : 1 (satu) lapis masonry sealer.

Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.

d. Permukaan Kayu

Cat Dasar : 1 (satu) lapis wood primer sealer.

Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.

e. Permukaan Besi/Baja.

34 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Cat Dasar : 1 (satu) lapis solvent-based anti-corrosive zinc chromate


primer.

Undercoat : 1 (satu) lapis undercoat.

Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.

Penyimpanan, Pencampuran dan Pengenceran.

- Pada saat pengerjaan, cat tidak boleh menunjukkan tanda-tanda


mengeras, membentuk selaput yang berlebihan dan tanda-tanda
kerusakan lainnya.

- Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam
konsistensinya selama pengecatan.

- Bila disyaratkan oleh kedaan permukaan, suhu, cuaca dan metoda


pengecatan, maka cat boleh diencerkan sesaat sebelum dilakukan
pengecatan dengan mentaati petunjuk yang diberikan pembuat cat dan
tidak melebihi jumlah 0,5 liter zat pengencer yang baik untuk 4 liter cat.

- Pemakaian zat pengencer tidak berarti lepasnya tanggung jawab


kontraktor untuk memperoleh daya tahan cat yang tinggi (mampu menutup
warna lapis di bawahnya).

Metode Pengecatan.

- Cat dasar untuk permuakaan beton, plesteran, gypsum board diberikan


dengan kuas dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.

- Cat dasar untuk permukaan papan gipsum deberikan dengan kuas dan
dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.

- Cat dasar untuk permukaan kayu harus diaplikasikan dengan kuas dan
lapisan berikutnya boleh dengan kuas, rol atau semprotan.

- Cat dasar untuk permukaan besi/baja diberikan dengan kuas atau


disemprotkan dan lapisan berikutnya boleh menggunakan semprotan.

g. Pemasangan Kembali Barang-barang yang dilepas.

Sesudah selesainya pekerjaan pengecatan, maka barang-barang yang


dilepas harus dipasang kembali oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya.

10.4. PEKERJAAN WATER PROOFING

1. Lingkup Pekerjaan :

a. Pemasangan water proofing di atas plat atap

b. Pemasangan water proofing di atas atap canopy

35 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

2. Persyaratan Bahan

a. Bahan pelapis water proofing jenis membran dari Fosroc, Prooftex Torcseal 3 PV
atau sejenis atas persetujuan Direksi.

3. Syarat Pelaksanaan

a. Pemasangan lapisan water proofing dilaksanakan setelah atap beton dinyatakan


cukup umur atas persetujuan Direksi.

b. Atap beton pada saat pengecoran harus sudah dilakukan pengecoran dengan
kemiringan sebesar 0,5 s/d 1 % (setengah s/d satu prosen) ke arah lubang-lubang
roof-drain sehingga tidak diperlukan screed lagi. Penambahan volume beton akibat
pembuatan kemiringan ini harus sudah diperhitungkan terhadap volume / biaya
yang ditawarkan oleh Kontraktor. Apabila oleh Direksi dianggap kemiringan tidak /
kurang tercapai, maka Kontraktor harus membuat screed atas biaya Kontraktor.

c. Pemasangan lapisan water proofing harus dilakukan oleh aplikator yang ditunjuk
oleh pabrik sehingga Kontraktor dapat meminta jaminan kualitas dari pabrik untuk
disampaikan kepada Pemilik pekerjaan.

d. Setelah dilakukan pemasangan lapisan water proofing, di atas permukaan atap


beton tidak boleh dilakukan kegiatan yang dapat merusakkan lapisan water
proofing tersebut. Meletakan benda berat, memaku pada atap beton, dan
sebagainya tidak diperbolehkan, apabila terjadi cacat pada permukaan lapisan
water proofing Kontraktor harus memperbaikinya atas biaya Kontraktor sendiri

XII. PEKERJAAN ALAT-ALAT SANITAIR

12.1. LINGKUP PEKERJAAN

Bagian ini mencakup semua pekerjaan sanitair dan yang berhubungan seperti
ditunjukkan dalam gambar, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan alat yang
diperlukan.

12.2. BAHAN

a. Water Closet dan Wastafel

Barang-barang yang akan dipakai adalah sebagai berikut :

1. Water Closet Duduk

Bahan porselen, produk dalam negeri (setara TOTO type monoblok atau
American Standart), lengkap dengan stop kran dan peralatan lain (warna
standard).

2. Wastafel

36 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

 Wastafel Meja Bahan porselen, produk dalam negeri Merk TOTO


atau setara, lengkap dengan keran, siphon dan perlengkapan lainnya
(warna standard).

 Westafel Merk TOTO atau setara.

b. Keran, Floor Drain, Dll

1. Keran air (TOTO atau yang setara)

2. Floor Drain (TOTO atau yang setara)

4. Towel Ring (TOTO atau yang setara)

6. Shower Spray (TOTO atau yang setara)

8. Shop Holder ( TOTO atau yang setara)

c. Barang-barang yang akan dipasang harus benar-benar mulus dan tidak cacat
sedikitpun. Kontraktor harus mengajukan contoh-contoh untuk disetujui oleh
Pengawas bersama dengan Konsultan Perencana.

12.3. PELAKSANAAN

Pemasangan semua peralatan/perlengkapan saniter harus dilakukan oleh ahli


pemasangan barang sanitair yang berpengalaman. Pengerjaan harus dilakukan
dengan hati-hati dan sangat rapi.

a. Semua sambungan harus kedap air dan udara. Bahan penutup sambungan tidak
diijinkan.

Cat, vernis, dempul dan lainnya tidak diijinkan dipasang pada bidang-bidang
pertemuan sambungan sampai semua sambungan dipasang kuat dan diuji.

Semua saluran ekspos ke perlengkapan sanitasi harus diselesaikan sedemikian


rupa sehingga tampak bersih dan rapih dan sesuai ketentuan Gambar Kerja dan
petunjuk pemasangan dari pabrik pembuat.

b. Pemipaan dari perlengkapan sanitasi ke pipa distribusi utama harus dilaksanakan


sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.

c. Bak cuci tangan tipe dinding ahrus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak
bagian luar alat-alat tersebut berada 800 mm di atas lantai, kecuali bila
ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja.

Bak cuci tangan tipe pemasangan di meja harus dipasang pada ketinggian sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.

d. Bak cuci dari bahan stainless steel harus dipasang sedemikian rupa pada
meja/kabinter seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

e. Sistem penumpu dan penopang harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik
pembuat perlengkaan sanitasi atau sesuai persetujuan Pengawasan Lapangan.

37 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

f. Pemasangan alat-alat sanitair lain

Kaca cermin dan tempat alat-alat pada wastafel harus dipasang sipat datar dan
diskrupkan pada dinding. Barang-barang yang akan dipakai harus tidak bercacat
sedikitpun. Floor drain harus dipasang dengan saringannya, dan dipasang rapih.
Semua sela-sela antara floor drain dengan lantai, harus diisi dengan adukan 1
Pc : 2 Ps. Pasangan harus sedemikian sehingga bidang atas floor drain rata dan
sebidang dengan bidang lantai.

Paper holder hanya dipasang pada toilet yang closetnya duduk. Tempat sabun
hanya dipasang pada toilet yang ada bak airnya saja. Tinggi pemasangan pada
dinding  100 cm di atas lantai.

38 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

C. PEKERJAAN STRUKTUR/SIPIL

I. URAIAN PEKERJAAN DAN SITUASI

1.1. Lingkup pekerjaan ini meliputi :

 Pekerjaan tanah

 Pekerjaan poer beton dan sloof

 Pekerjaan pondasi telapak menerus

 Pekerjaan kolom, balok dan pelat

 Pekerjaan struktur atap

 Dan pekerjaan lainnya yang jelas-jelas terkait dengan pekerjaan struktur.

1.2. Untuk pelaksanaan Kontraktoran hendaknya menyediakan :

 Tenaga pelaksana yang terampil dalam bidang pekerjaannya.

 Tenaga-tenaga pekerja harus tenaga-tenaga ahli yang cukup memadai sesuai


dengan jenis pekerjaan.

 Alat-alat pengukur seperti water pass dan alat-alat bantu lain yang
dipergunakan untuk ketelitian, ketetapan dan kerapihan pekerjaan.

1.3. Pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam uraian

Pekerjaan dan syarat-syarat gambar bestek dan detail gambar konstruksi serta
keputusan Pengawas Lapangan.

1.4. Situasi

 Pembangunan akan dilaksanakan di dalam lokasi Gedung Radiologi Rumah Sakit


Andi Djemma Masamba Kabupaten Luwu Utara.

 Halaman pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana


keadaan pada waktu rapat penjelasan untuk ini hendaknya para Kontraktor
mengadakan penelitian yang seksama terutama mengenai tanah bangunan yang
ada, sifat, luas pekerjaan dan lain-lain yang dapat mempengaruhi harga
penawaran.

 Dalam rapat penjelasan akan ditunjuk tempat dimana pembangunan akan


dilaksanakan tertera pada gambar.

39 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

II. UKURAN TINGGI DAN UKURAN POKOK

Mengukur letak bangunan :

Kontraktor harus menyediakan pekerja yang ahli dalam cara-cara pengukuran alat
penyipat datar, slang plastik, alat penyiku, prisma silang, segitiga siku-siku dan alat-
alat penyipat tegak lurus dan peralatan lain yang diperlukan guna ketetapan
pengukuran.

III. PEKERJAAN PEMBERSIHAN DAN PEMBONGKARAN

Semua benda dan permukaan seperti pohon akar dan tonjolan serta rintangan-
rintangan bangunan beserta pondasinya dan lain-lain yang berada di dalam batas
daerah pembangunan yang tercantum dalam gambar harus dibersihkan dan
dibongkar kecuali untuk hal-hal di bawah ini :

1. Sisa-sisa pohon yang tidak mengganggu dan akar-akar serta benda-benda yang
tidak mudah rusak yang letaknya minimum ± 1 meter di bawah dasar pondasi.

2. Kecuali pada tempat-tempat yang harus digali lubang-lubang bekas pepohonan


dan lubang-lubang lain harus diurug kembali dengan bahan-bahan yang baik dan
dipadatkan.

3. Kontraktor bertanggung jawab untuk membuang sendiri tanaman-tanaman dan


puing-puing ketempat yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

IV. PEKERJAAN PERBAIKAN KONDISI TANAH GALIAN/URUGAN

4.1. LINGKUP PEKERJAAN

Yang termasuk pekerjaan perbaikan kondisi tanah adalah semua pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan tanah meliputi :

 Land Screeding

 Pemadatan Tanah

 Penggalian, perataan, pengurugan setempat jika diperlukan.

40 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

4.2. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMADATAN TANAH DI DAERAH


'FILL'

 Penimbunan dilakukan sampai pada peil dan kemiringan yang ditentukan sesuai
Gambar Kerja.

 Sebelum penimbunan, daerah kawasan harus dibersihkan dari semua kotoran,


rumput, humus dan akar tanaman.

 Penimbunan baru dilakukan setelah tanah yang selesai dibersihkan itu


dipadatkan mencapai 90% kepadatan maksimum modified proctor.

 Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis, tiap lapisan tidak boleh lebih
dari 20 cm tebal sebelum dipadatkan atau 15 cm setelah dipadatkan.

 Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan dengan


blade graders dan 3 wheel power rollers yang beratnya 8 ton sampai 10 ton atau
pneumatic rollers lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas. Sebelumnya tanah harus digaru dengan sheep foot rollers.

 Tanah yang dipadatkan harus mencapai 90 % kepadatan maksimum yang dapat


dicapai pada kadar air optimum yang ditentukan dengan Modified AASHTO T-99,
kecuali tanah setebal 30 cm di bawah sub base course harus mencapai 90%
compacted (dari modified proctor).

 Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya, sebelum pemadatan kadar
air dari fill material harus sama dengan kadar air optimum dari hasil test
Compaction Modified Proctor dari contoh fill material.

 Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari bahan optimum,
maka fill material harus diberi air sehingga menyamai kadar air optimum.
Sebaliknya bila kadar air bahan timbunan/fill material lebih besar dari kadar air
optimum, maka fill material harus dikeringkan terlebih dahulu atau ditambah
dengan bahan timbunan yang lebih kering.

 Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan dan air tergenang,
pemadatan dihentikan. Diusahakan air dapat mengalir dengan membuat saluran-
saluran drainage sehingga daerah pemadatan selalu kering.

 Setiap lapis dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan 'Field Dry Density
Test' untuk mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta Moisture Content.
Satu test untuk setiap 400 m2 untuk tanah yang dipadatkan.

 Apabila σtanah yang dipadatkan < 1,6 ton/m3, maka tanah tersebut harus diganti
dengan tanah lain atau dicampur pasir sehingga tanah tersebut menjadi
>1,6 ton/m3.

41 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

 Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai 90% compacted dari modified
proctor (untuk lapisan sub grade setebal 30 cm di bawah base) tetapi tidak
mencapai soaked CBR minimum = 4, maka tanah (sub grade) tersebut harus
diganti dengan fill material yang pada 90% maksimum compacted mencapai nilai
soaked CBR = 4.

4.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH DI DAERAH 'CUT'

 Setelah galian tanah kontruksi lantai dilakukan, kemudian permukaan tanah


lapisan sub grade tersebut dilakukan pengetesan CBR = 4, apabila ternyata
permukaan atas sub grade tersebut tidak mencapai nilai soaked CBR = 4, maka
tanah tersebut harus digaru / digali setebal 30 cm sehingga menjadi gembur,
kemudian dilakukan pemadatan, sehingga nilai soaked CBR = 4 bisa tercapai.

 Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan dengan


blade graders dan 3 wheel power roller yang beratnya 8 ton sampai 10 ton atau
pneumatic roler lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas. Sebelumnya tanah harus digaru dengan sheep foot roolers.

V. PEKERJAAN BETON

5.1. MUTU BETON

Mutu beton struktur poer, sloof, balok, kolom, plat dan ringbalk adalah K-225, dan
mutu baja yang dipakai adalah BJTD- >  13 dan BJTP- 12. Untuk pekerjaan beton
lantai kerja dipakai beton rabat dengan campuran 1pc : 3ps : 5kr. Mutu karakteristik
merupakan syarat mengikat. Untuk menjamin kesamaan mutu beton, kontraktor
dianjurkan menggunakan readymix concrete dari perusahaan terkenal yang khusus
membuat readymix, terutama untuk pekerjaan struktur dinding beton, kolom, balok,
lantai dan atap beton.

1. Lapisan penutup (protective concrete fill) di atas lapisan kedap air seperti pada
lantai toilet (screed), reservoir dan lain-lain harus menggunakan adukan dengan
campuran 1 PC : 3 Ps dan harus dicor segera setelah lapisan water proofing
selesai dipasang.

2. Campuran tambahan untuk beton (concrete admixture). Bilamana dianggap perlu


tambahan untuk beton dapat dipergunakan concrete admixture. Penggunaan
tersebut harus dengan persetujuan Ahli/ Konsultan Pengawas.

3. Pengadukan.

42 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

4. Kecuali ready mix concrete semua pengadukan jenis beton harus dilakukan
dengan mesin pengaduk berkapasitas tidak kurang dari 350 liter. Setiap kali
membuat adukan, pengadukan harus rata hingga warna dan kekentalannya
sama.

5. Takaran Perbandingan Campuran.

Semua bahan harus ditakar menurut perbandingan berat, bukan perbandingan


isi.

5.2. PENGAWASAN CAMPURAN ADUKAN

1. Komposisi.

Semua agregat, semen, air, beratnya harus ditakar dengan seksama. Proporsi
semen yang ditentukan adalah minimal. Sebagai pedoman, Pemborong harus
tetap mengusahakan mutu/kekuatan beton sesuai dengan yang disyaratkan.

2. Pengujian (testing).

Pada umumnya pengujian dilakukan sesuai dengan PBI 1971 Bab 4.7. termasuk
pengujian-pengujian susut (slump) dan pengujian-pengujian tekanan. Jika beton
tidak memenuhi syarat-syarat slump, maka bagian/kelompok adukan tersebut
tidak boleh dipakai. Jika pengujian tekanan gagal, maka perbaikan harus
dilakukan sesuai dengan prosedur-prosedur dalam PBI 1971.

5.3. BAHAN-BAHAN.

Semen yang dipakai harus semen portland dari merk yang disetujui dan yang dalam
segala hal memenuhi syarat seperti yang dikehendaki oleh "Peraturan Beton
Bertulang Indonesia” untuk beton kelas I ­ Z 475 atau British Standard, nomor : 12-
1965. Dalam pengangkutan, semen harus terlindung dari hujan, zak (kantong) asli
dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat dan harus disimpan di gudang yang
cukup ventilasinya dan tidak kena air, ditaruh pada tempat yang ditinggikan paling
sedikit 30 cm dari lantai. Kantong semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai
tingginya melampau1 2 m, dan tiap pengiriman baru harus dipisahkan dan ditandai
dengan maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.

1. Agregate.

Agregat harus keras, bersifat kekal dan bersih, bebas dari bahan-bahan yang
merusak, umpamanya yang bentuk atau kwalitasnya bertentangan dan
mempengaruhi kekuatan atau kekalnya konstruksi beton pada setiap umur,
termasuk daya tahannya terhadap karat dari tulangan besi beton. Agregat

43 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

(butiran) dalam segala hal harus memenuhi yang dikehendaki (ketentuan-


ketentuan) PBI 1971. Bagian 3 dilakukan pengujian butiran.

 Pasir Beton.

Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan-bahan
organik, lumpur dan sebagainya dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam PBI 1971.

 Koral Beton/Split.

Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta mempunyai
gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat PBI 1971.
Penyimpanan/penimbunan pasir dan koral beton harus dipisahkan satu
dengan yang lain, hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut tidak
tercampur untuk mendapatkan adukan beton yang tepat.

2. A i r.

Air untuk adukan dan perawatan beton harus bersih, bebas dari bahan-bahan
yang merusak atau campuran-campuran yang mempengaruhi daya lekat semen
dan dilakukan pengujian air/laboratorium test.

3. Bahan Tambahan.

Bahan tambahan disetujui secara khusus dengan persetujuan Ahli/ Konsultan


Pengawas.

4. Baja Tulangan.

a. Jenis penulangan.

Batang tulangan besi beton terdiri dari BJTD-39 dan BJTP-24, bahan tersebut
dalam segala hal harus memenuhi ketentuan-ketentuan PBI 1971, standar
Jepang kelas SR - 24 atau British Standard Nomor 785 - 1938. Grade yang
dipergunakan adalah ST-37 dengan kategori, BJTP 24 yang sesuai dengan
tabeì 3.7.1. PBI 1971.

b. Penyimpanan.

Tulangan besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak
boleh disimpan diudara terbuka untuk jangka waktu yang panjang.

c. Pemasangan.

Sebelum beton dicor, tulangan besi beton harus bebas dari minyak, kotoran,
cat, karat, lepas, kulit giling atau bahan-bahan lain yang merusak. Semua
tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat sehingga tidak dapat
berubah atau begeser pada waktu adukan ditumbuk-tumbuk atau dipadatkan.
Tulangan besi beton dan penutup beton tingginya harus tepat, dengan

44 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

penahan-penahan jarak beton (tahu beton) yang telah disetujui Ahli/


Konsultan Pengawas.

d. Pengujian (testing).

Pada umumnya pengujian untuk tulangan besi beton dilakukan sesuai dengan
PBI 1971 yaitu yang mempunyai kekuatan leleh minimaì 370° kg/cm2. Jika
besi beton tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum di
dalam Uraian dan Syarat-syarat yang tercantum dalam pengujian, maka
kelompok yang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak boleh dipakai dan
pemborong harus menyingkirkannya dari tempat pekerjaan.

e. Selimut Beton.

Ukuran minimal selimut beton sesuai dengan penggunaannya (tidak termasuk


plesteran), adalah sebagai berikut :

1. Pondasi atau pekerjaan lainnya yang berhubungan langsung dengan


tanah = 3 cm.

2. Kolom dan balok-balok beton = 2,5 cm.

3. Slab/plat beton diatas tanah = 2,0 cm.

5. Cetakan (bekisting).

a. B a h a n.

Bekisting harus dipakai multipleks 12 mm dan kayu klas II yang cukup kering
dan sesuai dengan finishing yang diminta menurut bentuk, garis ketinggian
dan dimensi dari beton sebagaimana diperlihatkan dalam gambar arsitektur.
Bekisting harus cukup untuk menahan getaran vibrator atau kejutan-kejutan
lain yang diterima, tanpa berubah bentuk. Cetakan harus dibuat dari papan-
papan yang bermutu baik atau plywood :

 Untuk beton tidak diexposed dipakai kayu terentang tebal minimum 2,5
cm.

 Untuk beton exposed dipakai multiplek, fibre glass atau bahan lain yang
tidak reaktif terhadap beton.

Tebalnya tergantung dari kwalitas dan jarak rangka penguat cetakan tersebut.

b. Konstruksi.

Cetakan harus dibuat dan disangga sedemikian rupa hingga dapat menahan
getaran yang merusak atau lengkung akibat tekanan adukan beton yang cair
atau sudah padat. Cetakan harus dibuat sedemikian rupa hingga
mempermudah penumbukan-penumbukan untuk memadatkan pengecoran
tanpa merusak konstruksi. Acuan harus rapat tidak bocor, permukaannya licin,
bebas dari kotoran-kotoran seperti tahi gergaji, potongan-potongan kayu,

45 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

tanah dan sebagainya sebelum pengecoran dilakukan dan harus mudah


dibongkar tanpa merusak permukaan beton. Tiang-tiang acuan harus diatas
papan atau baja untuk memudahkan pemindahan perletakan. Tiang-tiang tidak
boleh disambung lebih dari satu. Tiang-tiang dari dolken ukuran 8/10 cm atau
kaso 5/7 cm. Tiang acuan satu dengan yang lain harus diikat dengan palang
papan/balok secara silang.

c. Alat untuk Membersihkan.

Pada pencetakan untuk kolom atau dinding harus diadakan perlengkapan-


perlengkapan untuk menyingkirkan kotoran-kotoran, serbuk gergaji, potongan-
potongan kawat pengikat dan lain-lain.

d. U k u r a n.

Semua ukuran cetakan harus tepat sesuai dengan gambar arsitektur dan
sama disemua tempat untuk bentuk dan ukuran tiang yang dikehendaki sama.

e. Kawat Pengikat.

Kawat pengikat besi beton/rangka dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh
seng, dengan diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat
pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam NI-2 (PBI tahun 1971).

f. Pelapis Cetakan.

Untuk mempermudah pembongkaran cetakan dan menyingkirkan penutup-


penutup, pelapis cetakan dari merk yang telah disetujui dapat dipergunakan.
Minyak pelumas, baik yang sudah maupun yang belum dipakai, tidak boleh
digunakan untuk ini.

5.4. LINGKUP DAN MACAM PEKERJAAN

1. Pekerjaan meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan dan peralatan untuk


menyelesaikan pekerjaan ini.

2. Pekerjaan meliputi pekerjaan struktur, pile cap (poer), sloof, kolom, balok, dan
pelat

5.5. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

Syarat-syarat Cetakan untuk Beton.

a. Cetakan (bekisting) untuk beton telanjang (bila ada) dari plywood dengan tebal
minimum 12 mm, bermutu baik yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Fibre glass atau bahan lain yang tidak reaktif terhadap beton sedangkan untuk

46 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

beton biasa bisa dipakai cetakan dari papan klas II tebaì 2,5 - 3 cm lebar 20
cm.

b. Semua sudut terbuka yang runcing dari kolom atau balok harus dibulatkan
(dihaluskan 1,5 cm).

c. Toleransi-toleransi memenuhi ketentuan ayat 8.4.4. PBI.

d. Segala cacat pada permukaan beton yang telah dicor, harus diplester dengan
campuran perekat sedemikian rupa sehingga sesuai warna tekstur dan
bentuknya dengan permukaan yang berdekatan. Untuk beton exposed harus
dihindari adanya cacat permukaan.

e. Ukuran keseluruhan untuk kusen-kusen pintu dan jendela, harus diambil dari
pekerjaan untuk menjamin ketepatan antara pekerjaan konstruksi beton dan
ukuran pintu, jendela.

Toleransi.

Posisi masing-masing bagian konstruksi harus tepat dalam batas toleransi 1 cm,
toleransi ini tidak boleh bertambah-tambah (kumulatif). Ukuran-ukuran masing-
masing bagian harus seksama dalam -0,3 dan +0,5 cm.

Pemberitahuan Tentang Pelaksanaan Pengecoran.

Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton pada bagian-bagian utama


dari pekerjaan, Pemborong harus memberi tahu Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan. Jika tidak ada pemberitahuan yang semestinya, atau
persiapan pengecoran tidak disetujui oleh Pemberi Tugas/ Konsultan Pengawas,
maka Pemborong dapat diperintahkan untuk menyingkirkan beton yang dicor atas
biaya sendiri.

Pengangkutan Adukan

Adukan beton harus diangkut sedemikian rupa, sehingga dapat dihindarkan


adanya pemisahan dari bagian-bagian bahan. Adukan tidak boleh dijatuhkan dari
ketinggian lebih dari 2 m.

Pembersihan Cetakan dan Alat-alat.

Sebelum beton dicor, semua kotoran dan benda-benda lepas harus dibuang dari
cetakan. Permukaan cetakan dan pasangan-pasangan dinding yang akan
berhubungan dengan beton, harus dibasahi dengan air sebelum dicor.

Pengecoran.

Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan


dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran,
ketinggian, pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atau persetujuan Pemberi Tugas/

47 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Konsultan Pengawas. Pengecoran harus dilakukan dengan sebaik mungkin


dengan menggunakan alat penggetar untuk menjamin beton cukup padat dan
harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti kropos dan sarang-sarang
koral/split yang dapat memperlemah konstruksi. Apabila pengecoran beton akan
dihentikan dan diteruskan pada hari berikutnya maka tempat perhentian tersebut
harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama 3 x 24 jam
setelah pengecoran. Beton harus dilindungi dari kemungkinan cacat yang
diakibatkan dari pekerjaan-pekerjaan lain. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor
diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan,
seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pengecoran ke
dalam cetakan harus selesai sebelum adukan mulai mengental, yang dalam
keadaan normal biasanya dalam waktu 30 menit. Pengecoran suatu unit atau
bagian dari pekerjaan harus dilanjutkan tanpa berhenti dan tidak boleh terputus
tanpa persetujuan Konsultan Pengawas.

Pemadatan beton.

Adukan harus dipadatkan dengan baik dengan memakai alat penggetar (vibrator)
yang berfrekwensi dalam adukan paling sedikit 3000 getaran dalaím 1 menit.
Penggetar harus dimulai pada waktu adukan ditaruh dan dilanjutkan dengan
adukan berikutnya. Dalam cetakan yang vertikal, vibrator harus dekat dengan
cetakan, tapi tidak boleh menyentuhnya sehingga dihasilkan suatu permukaan
beton yang baik. Tidak boleh menggetarkan suatu bagian adukan, lebih dari 24
detik. Penggetaran tidak boleh dilakukan langsung menembus tulangan
kebagian-bagian adukan yang sudah mengeras.

Perawatan.

Untuk melindungi beton yang baru dicor dari cahaya matahari angin dan hujan,
sampai beton itu mengeras dengan baik dan untuk mencegah pengeringan terlalu
cepat, harus diambil tindakan-tindakan sebagai berikut :

a. Semua cetakan yang sudah diisi adukan beton harus dibasahi terus menerus
sampai cetakan itu dibongkar.

b. Setelah pengecoran, beton harus terus menerus dibasahi selama 14 hari


berturut-turut.

Pembongkaran Cetakan.

Cetakan tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai satu kekuatan khusus
yang cukup untuk memikul 2 kali beban sendiri. Bilamana akibat pembongkaran
cetakan, pada bagian konstruksi akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi
daripada beban rencana, maka cetakan tidak boleh dibongkar selama keadaan
tersebut tetap berlangsung. Perlu ditentukan bahwa tanggung jawab atau

48 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

keamanan konstruksi beton seluruhnya terletak pada Kontraktor dan perhatian


pemborong mengenai pembongkaran cetakan ditujukan ke PBI 1971 dalam pasal
yang bersangkutan. Pemborong harus memberi tahu Pemberi Tugas/Konsultasi
Perancang bilamana ia bermaksud akal membongkar cetakan pada bagian-
bagian konstruksi yang utama minta persetujuan, tapi dengan adanya
persetujuan itu tidak berarti Pemborong lepas dari tanggung jawab.

Perubahan Konstruksi Beton.

Meskipun hasil pengujian kubus-kubus beton memuaskan, Pemberi Tugas/


Konsultan Pengawas mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton
yang cacat seperti berikut :

a. Konstruksi beton yang sangat keropos.

b. Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk atau profil yang
direncanakan atau posisinya tidak seperti yang ditunjukkan dalam gambar.

c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus, atau rata seperti yang direncanakan.

d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.

Campuran dan Pengambilan Contoh (sampling).

a. Untuk mencapai mutu beton K-225 sesuai dengan PBI 1971, Pemborong
harus melakukan percobaan-percobaan membuat design mix campuran-
campuran sedemikian rupa sehingga untuk kubus beton berukuran 15 x 15 x
15 cm, pada umur 28 hari, harus mempunyai kekuatan hancur karakteristik
minimal 300 kg/cm2, bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan-bahan
yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan beton struktur. Kubus
percobaan harus dibuat minimal 1 buah dalam 5 m3 beton, dan dibuat paling
sedikit dalam 3 proses pengadukan yang tidak bersamaan waktunya.
Reference pasaì 4.6. PBI 1971.

b. Setiap hari pengecoran harus diambil contoh uji (sampling) paling sedikit tiga
buah kubus percobaan yang waktu pengambilannya sepenuhnya ditentukan
oleh Konsultan Pengawas. Pengetesan kubus percobaan tersebut hanya boleh
dilakukan dilembaga-lembaga Penelitian Bahan Bangunan Resmi yang
disetujui oleh Konsultan Konsultan Pengawas. Analisá kekuatan berdasarkan
pada rumus-rumus statistik sebagaimana tertera dalam PBI 1971, pasaì 46.
ayat 1 s/d 5. Biaya pengetesan termasuk dalam penawaran Pemborong atau
tanggung jawab Kontraktor.

49 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

VI. PEKERJAAN BETON KOLOM

6.1. LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan dan semua peralatan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini, yaitu beton kolom portal.

6.2. JENIS DAN MUTU BAHAN


Beton kolom portal

a. Mutu beton K 225

b. Mutu baja U 39 (tulangan utama)

c. Mutu baja U 24 (tulangan sengkang)

VII. PEKERJAAN BETON BALOK DAN PELAT

7.1. LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan dan semua peralatan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini, pelat lantai menggunakan pelat beton
konvensional.

7.2. JENIS DAN MUTU BAHAN


a. Beton pelat lantai

1) Mutu beton K 225

2) Mutu tulangan BTJTD 39 untuk diameter  13 mm dan BJTP 24 untuk yang


lebih kecil

VIII. PEKERJAAN ATAP DAN KONSTRUKSI BAJA RINGAN

8.1. UMUM

Standart

Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :

a. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia ( PPBBI ), Mei 1984

b. American Institute of Steel Construction (AISC ) Manual of Steel Construction 8th


Edition, 1980

50 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

c. American Welding Society (AWS Dl.0-69: code for Building Construction) - bahan-
bahan las.

d. American National Standard Institute (ANSI ) B 27.265 Plain Washers

e. American Society for Testing and Materials (ASTM) Specifications :

1. ASTM A 35 type E alau S ( pipa stroktur)

2. ASTM A 36 -70a Structure Steel

3. ASTM A 53 -72a Welded and Seamless Steel Pipe

4. ASTM A 153 -71 link Coating ( hot dip) on Iron and Steel Hardware

5. ASTM A 3.07- 68 Carbon Steel Externally Threaded Standard Fasteners

6. ASTM A 325-71a High strength Bolt for Structure steel Joint, Include Suitable
Nuts and Plain Hardware washer

7. ASTM A 370

8. ASTM A 490-71, Quenched and Tempered Alloy Steel Bolt for Structural
Steel joints

8.2. BAHAN

Bahan yang dipergunakan dan persyaratannya

a. Penutup atap

Penutup atap yang dipakai spandek.

b. Baut dan Mur

1. Bahan pengikat struktur / konstruksi Utama: baut-baut, mur-mur/sekrup- sekrup


dan ring-ring diisyaratkan sebagai berikut :

- Untuk sambungan bukan baja ke baja, harus dari : baja karbon yang
memcnuhi ASTM A370 dan telah digalvanis.

- Untuk sambungan baja ke baja, harus dari baja karbon yang


memenuhi persyaratan ASTM A325 dan atau ASTM A490 dan harus
terlapis cadmium. II

- Untuk sambungan logam yang berlainan jenis bahannya, pangikat-


pengikat harus dari baja tahan korosi yang memenuhi persyaratan
ASTM A275 type 321.

- Ring untuk baut biasa harus menempuh ANSI B27 type A

2. Baut angkur dan sekrup-sekrup I mur-mur harus memenuhi persyaratan ASTM


A36 atau A325. Lapisan seng untuk produksi uliran sekrup harus memenuhi

51 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

ASTM AI53. Baut dan mur yang tidak terlapis (unfinished) harus memenuhi
ASTM A307 dengan type baut segi enam (hexagon holt type).

c. Bahan las

Bahan-bahan las harus memenuhi persyaratan dan american welding society"

(AWS D 1.0-69 : code for welding in building construction)

d. Pemasangan

1. Kecuali ditentukan dalam gambar, pemasangan penutup atap ini harus sesuai
dengan prosedur yang dikeluarkan dan diketaui oleh pengawas

2. Untuk pemasangan atap yang berhubungan langsung deligan dinding harus


dipasang flasing atas pesetujuan pengawas.

52 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

D. PEKERJAAN MEKANIKAL – ELEKTRIKAL – PLAMBING

I. PERATURAN UMUM TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

1. Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja
dan Syarat – syarat ( RKS ) ini, berlaku dan mengikat ketentuan – ketentuan
dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
a. KEPPRES 16/1994 dengan lampiran – lampirannya,
b. Peraturan Umum tentang pelaksanaan Pembangunan Di Indonesia atau
algemene voorwaarden voor de uitvoering bij aaneming van open bare werken (
AV ) 1941,
c. Keputusan – keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbritase Teknik dari
Dewan Teknik Pembangunan Indonesia ( DTPI ),
d. Peraturan Umum Dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja,
e. Peraturan Umum Bangunan Indonesia ( NI – 03 ),
f. Peraturan dan ketentuan – ketentuan lain yang dikeluarkan oleh jawatan /
instansi pemerintah setempat, yang bersangkutan dengan permasalahan
bangunan, yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan,

2. Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat
pula :
a. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan / disetujui oleh pengawas.
b. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan ( aanwijzing ).
d. Berita Acara Penunjukkan.
e. Surat Keputusan Pemberi Tugas tentang Penunjukkan Kontraktor.
f. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
g. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
h. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
i. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
j. Berita Acara / Surat – surat Klarifikasi Tender.
k. Notulensi rapat berkala.
l. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.

II. PEKERJAAN PERSIAPAN / PENDAHULUAN

2.1. PEKERJAAN DAN PENYEDIAAN AIR DAN DAYA LISTRIK UNTUK BEKERJA
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan menyambung pipa
kesumur yang ada di proyek atau disupplay dari luar. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak atau bahan – bahan kimia lainnya yang merusak.
Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan dari Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan
PLN setempat selama masa pembangunan. Penggunaan diesel untuk pembangkit
tenaga listrik diperkenankan untuk penggunaan sementara atas persetujuan
pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk mensupplay kantor Pengawas.

53 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

III. PEKERJAAN INSTALASI AIR BERSIH DAN PLAMBING

3.1. LINGKUP PEKERJAAN


1. Hal – hal umum.
a. Pekerjaan yang dimaksudkan disini adalah penyediaan bahan – bahan, tenaga dan
peralatan – peralatannya yang diperlukan agar seluruh instalasi air bersih dapat
dipasang, diuji dan siap untuk digunakan dengan kualitas bahan dan kualitas
pekerjaan / pemasangan yang terbaik, sesuai gambar – gambar dan spesifikasi yang
ditentukan dalam perencanaan ini.
b. Instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini harus sesuai dengan System
Plumbing 2000 ( BSN ), Peraturan Bangunan Nasional, Perencanaan dan
Pemeliharaan System Plumbing, standart PAM dan Peraturan Daerah serta tidak
bertentangan dengan ketentuan – ketentuan dari Jawatan Keselamatan Kerja
Republik Indonesia.
c. Kontraktor harus memintakan ijin – ijin yang mungkin diperlukan dalam menjalankan
instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini, atas tanggungan Kontraktor sendiri.
Kontraktor harus menyerahkan ijin – ijin / keterangan – keterangan tertulis tersebut
diatas kepada Pengawas, Pemilik dan Perencana.
d. Kontraktor harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat
mengetahui apabila ada hal – hal yang mungkin mengganggu pekerjaannya. Apabila
timbul persoalan, Kontraktor wajib mengajukan saran penyelesaian satu minggu
sebelum bagian pekerjaan ini dilakukan.
e. Pada waktu akan memulai pelaksanaan, Kontraktor harus menyerahkan gambar
kerja / shop drawing terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan Pengawas dan
harus diserahkan minimum 2 minggu sebelum bagian pekerjaan itu dilaksanakan.
f. Kontraktor harus menyatakan secara tertulis, bahwa bahan – bahan dan peralatan
yang diserahkan sehubungan dengan pekerjaan tersebut adalah kualitas terbaik
serta baru dan cara pelaksanaan pekerjaannya akan dilakukan secara wajar dan
terbaik secara teknis. Dan instalasi yang diserahkan ada dalam keadaan lengkap
dan dapat bekerja dengan baik sebagaimana mestinya tanpa mengurangi /
menghilangkan bahan – bahan yang sewajarnya disediakan, walaupun tidak
disebutkan secara nyata dalam uraian – uraian tersebut ataupun tidak dinyatakan
secara tegas dalam gambar rencana yang tersedia.
g. Apabila Kontraktor menjumpai adanya ketidak jelasan, kekurangan dan pula
kesalahan pada gambar rencana, gambar detail maupun penjelasan teknisnya yang
mungkin akan menyebabkan instalasi tersebut tidak akan beroperasi sebagaimana
mestinya, maka Kontraktor wajib mengkonsultasikan masalah tersebut kepada
Pengawas.
2. System pembuangan kotoran daa air kotor pada dasarnya menggunakan system
pembuangan konvensional yaitu dengan tangki septic dan bidang resapan. System
pembuangan yang diterapkan menggunakan prinsip pembuangan terpisah antara air
kotor dan kotorannya.
3. Pekerjaan system pembuangan meliputi :
a. Pemasangan pipa – pipa drainase dari alat plumbing ditoilet, pantry dan atap serta
tempat lain seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
b. Pemasangan pipa – pipa vent ke pipa pembuangan dan atau alat plumbing seperti
ditunjukkan dalam gambar.
c. Pemasangan pipa pembuangan vertical air hujan dari atap gedung sampai kesaluran
pembuangan dihalaman / bak control, lengkap dengan tutup saringan kotoran
diujung talang vertical.

3.2. BAHAN – BAHAN


1. Standard bahan:
a. Semua bahan pipa dan peralatan – peralatan yang diperlukan harus memenuhi
standard yang wajar berlaku dan sesuai dengan ASTM, JIS dan Sistem Plumbing
2000.
b. Setiap bahan pipa, fitting, fixture serta peralatan yang akan dipasang pada instalasi
ini harus mempunyai tanda – tanda merk yang jelas dari pabrik pembuatnya. Fitting,

54 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

fixture dan pipa yang memiliki tanda merk tersebut diatas harus diganti atas
tanggung jawab Kontraktor. Dan semua bahan dan peralatan sebelum dipasang
harus mendapat persetujuan dari Pengawas.
c. Pipa – pipa drainase dan vent yang dipasang pada alat plumbing dan semua
fittingnya menggunakan PVC kelas AW produksi Maspion dan dengan tekanan kerja
minimum 5kg/cm2 . begitu juga dengan peralatan sambungan dari produk yang
sama.
d. Pompa utama ( pompa pendorong / pengisi ) menggunakan merk Grundfos. Motor
listrik untuk penggerak pompa tersebut haruslah dari produksi pabrik yang sama atau
paling sedikit dinyatakan dalam rekomendasi oleh pabrik yang bersangkutan.
e. Pompa tersebut selain bekerja secara otomatis juga harus dapat dioperasikan secara
manual.
2. Referensi
Syarat penerimaan bahan dan peralatan untuk dilaksankan, cara – cara
pemasangan, dan kualitas pengerjaan harus sesuai dengan standard yang wajar
berlaku dan disesuaikan dengan Sistem Plumbing 2000.

3.3. SYARAT – SYARAT PELAKSANAAN


1. Umum :
a. Gambar – gambar dan spesifikasi perencanaan ini merupakan satu kesatuan dan
tidak dapat dipisah – pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau bahan
atau peralatan yang diperlukan agar instalasi ini dapat bekerja dengan baik harus
tetap dilaksanakan tanpa ada tambahan biaya.
b. Selama pemasangan instalasi berjalan, Kontraktor harus menutup ujung pipa yang
terbuka untuk mencegah masuknya tanah.
c. Pipa – pipa tidak boleh menembus kolom, kaki kolom, balok, tanpa persetujuan
pengawas.
d. Semua pipa harus diikat / ditetapkan dengan kuat, dengan penggantung atau angker
yang cukup kokoh ( rigid ). Pipa tersebut ditumpu untuk menjaga agar tidak berubah
tempatnya. Menurut arah horizontal maupun arah vertical, untuk mencegah
timbulnya getaran dan harus sedemikian rupa sehingga masih memungkinkan
ekspansi pipa oleh perubahan temperature.
e. Kontraktor harus mengajukan gambar konstruksi penggantung pipa untuk disetujui
Pengawas. Penggantung harus disekrupkan pada konstruksi bangunan dengan
insert yang dipasang pada waktu pengecoran beton atau pembobokan atau dengan
baut ( ramset bolt/dyna bolt ).
f. Penggantung pipa horizontal dapat dilihat pada tabel. Untuk pipa vertical harus
ditumpu dengan klem. Semua pipa dari besi / baja yang ditanam dalam tanah harus
dilapisi Primer Tack Coat no. 6 dan ProofexGPE dari produk Fosroc sedikitnya 2 kali.
g. Pipa yang dipasang didalam tanah harus ditempatkan dengan kedalaman min. 50 cm
dari permukaan tanah. Pada bagian bawah dari pipa dipasang trush block tiap jarak
2 meter. Pada sekitar pipa dikelilingi oleh pasir pada bagian atas dan bawah baru
diurug tanah. Pada setiap belokan juga dipasang trush block pada bagian bawahnya.

Tabel penggantung :

No. Diameter Jarak Maximum

1. < 20mm 1 meter


2. 25 – 40mm 2 meter
3. 50 – 80mm 3 meter

h. Semua smbungan harus dibuat kedap udara dan kedap air.


i. Sleeves untuk pipa – pipa baik untuk pipa GIP maupun PVC harus dipasang dengan
baik setiap kali pipa tersebut menembus kontruksi beton. Sleeves harus mempunyai
ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran kira – kira 5 mm diluar pipa
ataupun isolasinya. Sleeves untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang atau pipa baja.

55 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

2. Pelaksanan Instalasi Air Bersih :


a. Ukuran pipa yang dipakai : 2” ,1 ½”, 1” dan ½”. Pipa yang dipakai adalah galvanized
iron medium class. Screw joint (sambungan dari socket) dilaksanakan untuk semua
sambungan. Pada sambungan dengan socket harus dipakai scalling tape diantara ulir
socket dan ulir pipa.
b. Pada penempatab pipa – pipa didalam shaft vertical, maka pipa harus berdiri bebas,
tidak saling tindih maupun berimpitn dengan pip lain.

3. Pelaksanaan Pekerjaan Sistem Pembuangan.


a. Semua sparing pipa yang dipasang pada waktu pengecoran beton, harus dilengkapi
dengan flens/sirip yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan pipa.
b. Pada pembuangan / floordrain, bagian bawah lantai harus diberi shipon leher angsa/
trap. (floor drain dengan bentuk mangkok saja tidak diperkenankan).
c. Pada semua sambungan harus dipasang fitting buatan pabrik dan setiap belokan
harus dipasang long elbow, namun untuk tempat – tempat yang tidak memungkinkan,
bisa dipakai dari jenis short radius.
d. Penggantung pipa plumbing dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

No. Diameter Jarak Maximum

1. 40mm 1 meter
2. 50mm 1,2 meter
3. 65 – 125mm 1,5 meter

e. Pengeleman pipa – pipa PVC harus dilakukan setelah ujung – ujung pipa dibersihkan
bagian luar dan dalamnya, sehingga bersih dari semua kotoran dan minyak. Lem
yang dipakai merupakan lem yang mendapat rekomendasi dari pabrik pembuat pipa,
misalnya isarplast dan super glue.
f. Galian – galian pipa dalam tanah harus dibuat dengan kedalaman dan kemiringan 1
%.
g. Pipa – pipa air bersih dan pipa – pipa pembuangan air kotor, tidak boleh diletakkan
dalam satu lubang yang sama.
h. Setelah pipa terpasang pada lubang yang disetujui, maka semua kotoran harus
dibuang dalam lubang galian tersebut. Semua bahan penimbun harus bebas dari
sampah dan batu – batu besar.

4. Pengujian.
a. Persyaratan umum.
Pengujian tekanan dilakukan setelah pipa terpasang sempurna beserta
kelengkapannya ( bukan fixturenya ). Pengujian dilakukan perbagian atau secara
keseluruhan. Manometer yang dipakai untuk pengujian harus memiliki diameter 15cm
dan mampu menunjukkan hingga ketelitian 0,1 bar.

b. Pelaksanaan pengetesan.
Instalasi pipa air bersih harus dideteksi terhadap adanya kebocoran dengan tekanan
1,5 x tekanan kerja maksimum sama dengan 8kg cm2 selama 6 jam tanpa adanya
penurunan tekanan pada preasure gauge. Seluruh valve pada bagian out harus
ditutup. Bila ada kebocoran, harus segera diperbaiki dengan biaya ditanggung oleh
Kontraktor termasuk biaya pengetesan.

c. Desinfeksi
- Kontraktor harus melakukan pembilasan desinfektan dari seluruh instalasi air,
sebelum diserahkan kepada pemberi tugas.
- Desinfesi dilakukan dengan memasukkan larutan chlorida kedalam system
pemipaan, dengan cara / metode yang disetujui pengawas. Dos clhorine tidak
kurang dari 50ppm ( part per million ) selama sedikitnya 16 jam. Pekerjaan ini
harus disaksikan oleh pengawas. Setelah mencapai 16 jam maka seluruh system
pemipaan harus dibilas air bersih sehingga kadar cholorine tidak lebih dari 0,2
mm.

56 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

5. Kontraktor harus memberikan garansi tertulis kepada pengawas, bahwa seluruh


instalasi penyediaan dan distribusi air bersih, instalais pembuangan air kotor, air
hujan akan bekerja memuaskan dan bahwa Kontraktor akan menanggung semua
biaya atas kerusakan – kerusakan / penggantian yang perlu Selama jangka waktu 1 (
satu ) tahun.

V. PEKERJAAN ELEKTRIKAL

5.1. KETENTUAN UMUM

1. PERATURAN PEMASANGAN
Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan – peraturan yang berlaku
sebagai berikut :
1. PUIL edisi 1987 dan edisi 2000
2. AVE, DIN dan IEC
3. Peraturan lainnya yang dikeluarkan instalasi daerah dimana lokasi proyek berada.
Pekerjaan instalasi ini harus dilaksanakan oleh perusahaan yang memiliki Surat
Ijin Instalasi ( SIKA ) kelas C yang masih berlaku, mempunyai reputasi yang baik
dan mempunyai pekerja – pekerja yang cakap dan berpengalaman dalam
bidangnya.

2. GAMBAR – GAMBAR
Gambar – gambar rencana dan persyaratan ini merupakan satu kesatuan yang saling
melengkapi dan sama mengikatnya. Gambar – gambar system ini menunjukkan secara
umum tata letak dari peralatan, sedangkan pemasangan harus dikerjakan dengan
memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada dan mempertimbangkan juga kemudahan
service / maintenance jika peralatan – peralatan sudah dioperasikan.
Gambar – gambar arsitek dan struktur sipil harus dipakai sebagai referensi untuk
pelaksanaan dan detail finishing instalasi.
Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjukkan dalam
gambar atau sebaliknya harus dipasang atas beban Kontraktor seperti pekerjaan lain yang
disebutkan oleh spesifikasi dan ditunjukkan oleh gambar.
Setelah persetujuan, dalam hal ini daftar spesifikasi material diajukan, Kontraktor diharuskan
menyerahkan shop drawing untuk disetujui oleh Pemilik .
Shop drawing harus termasuk catalog data dari pabriknya, literature mengenai diagram
pengkabelan, data ukuran dimensi, data pembuatan dan nama serta alamat terdekat dari
perusahaan yang member / pelayanan pemeliharaan dan mempunyai suku cadang yang
ready stock. Shop Drawing harus diberi catatan dari Kontraktor yang menyatakan bahwa apa
yang dianjurkan sudah sesuai dengan spesifikasi dan kondisi ruangan yang disediakan. Data
untuk setiap system harus menunjukkan pemasangan yang lengkap dari seluruh koordinasi
komponen untuk peninjauan keseluruhan yang sebenarnya dari keseluruhan system,
penyerahan sebagian – sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar shop drawing harus dibuat
3 ( tiga ) set.
Kontraktor instalasi ini harus membuat gambar – gambar instalasi terpasang ( as buid
drawing ) yang disertai dengan operating manual dan Maintenance Instruction serta harus
diserahkan kepada Direksi pada saat penyerahan pertama dalam rangkap 3 ( tiga ) dijilid
serta dilengkapi dengan daftar isi dan data notasi.
3. DAFTAR BAHAN DAN CONTOH
Sebelum pekerjaan belum dimulai Kontraktor harus menyerahkan bahan – bahan dan brosur
– brosur yang dipakai. Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan – bahan yang dipakai
sebelum bahan tersebut dipasang dan semua biaya untuk contoh tersebut adalah
tanggungan Kontraktor. Kontraktor diwajibkan untuk recheck atas segala ukuran – ukuran /
kapasitas equipment yang akan dipasang dalam hal terjadi keragu – raguan segera
memberitahukan kepada Pengawas. Pemilihan ukuran dan kapasitas equipment yang salah
akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

57 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

4. KOORDINASI
Kontraktor instalasi ini hendaknya bekerja sama dengan Kontraktor pekerjaan lainnya, agar
seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
Koordinasi yang baik perlu ada, agar instalasi yang satu tidak menghalangi kemajuan
instalasi yang lain. Apabila pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka
semua akibatnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
5. PELAKSANAAN PEMASANGAN
Pemborong harus mengadakan pemeriksaan ulang atas segala ukuran dan kapasitas
peralatan yang akan dipasang. Apabila ada sesuatu yang diragukan, pemborong harus
segera menghubungi konsultan Pengawas. Pengambilan ukuran dan pemilihan kapasitas
yang salah akan menjadi tanggung jawab pemborong.
6. TESTING DAN COMMISIONING
Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus melakukan testing dan pengukuran – pengukuran
yang dianggap perlu untuk memeriksa / mengetahui apakah seluruh instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan memenuhi persyaratan. Kontraktor harus melakukan seluruh
pengetesan seperti disebutkan dan harus melakukan percobaan seperti operasi
sesungguhnya secara tepat dari seluruh system. Peralatan, material dan cara bekerjanya
peralatan yang mengalami kerusakan / cacat / salah harus diganti / dibetulkan dan
percobaan diulangi untuk operasi secara sebenarnya / normal / benar. Seluruh pengkabelan,
instalasi dan peralatan harus dicheck dan dites oleh PLN untuk mendapatkan instalasi Keur.
Kontraktor harus bertanggung jawab untuk memperoleh persetujuan PLN bagi pemasangan
system jaringan listrik dan seluruh biaya ditanggung oleh Kontraktor. Semua tenaga, bahan
dan perlengkapan yang diperlukan untuk testing tersebut tanggung jawab Kontraktor.
7. PENAMBAHAN / PENGURANGAN / PERUBAHAN INSTALASI
Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan, harus mendapatkan persetujuan tertulis dahulu dari pihak pengawas. Kontraktor
instalasi ini harus menyerahkan setiap gambar perubahan yang ada kepada pihak pengawas
dalam rangkap 3 (tiga).
Perubahan material, dan lain – lainnya, harus diajukan oleh Kontraktor kepada pengawas,
secara tertulis dan pekerjaan tambah / kurang / perubahan yang ada harus disetujui oleh
pengawas secara tertulis.
8. IJIN – IJIN
Pengurusan ijin – ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini serta seluruh biaya
yang diperlukan nya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
9. PEMBOBOKAN, PENGELASAN, DAN PENGEBORAN
Pembobokan tembok, lantai dan sebagainya yang diperlukan dalam pelaksanaan instalasi
serta mengembalikannya kekondisi semula, menjadi lingkup pekerjaan instalasi ini.
Pembobokan, pengelasan, pengecoran hanya dapat dilaksanakan apabila ada persetujuan
dari pihak Pengawas secara tertulis.

5.2. KETENTUAN TEKNIS


1. LINGKUP PEKERJAAN
Kontraktor harus melaksanakan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi ini ataupun yang tertera dalam gambar – gambar, dimana bahan – bahan
peralatan dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada bagian ini tanpa
adanya biaya tambahan.
Sebagai tertera dalam gambar – gambar rencana, kontraktor pekerjaan instalasi listrik ini
harus melakukan pengadaan dan pemasangan serta menyerahkan dalam keadaan baik,
sempurna dan siap untuk dipergunakan.
Garis besar lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Ijin dan biaya penyambungan PLN KVA
b. Pengadaan dan Pemasangan Panel LVMDP, Panel SDP Dan Capasitor Bank
c. Pengadaan dan pemasangan kabel try
d. Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan dan stop kontak untuk seluruh
bagian dari bangunan
e. Pengadaan dan pemasangan armature beserta lampu penerangan sesuai dengan
gambar – gambar perencanaan
f. Grounding untuk Panel dan Perencanaan
g. Pekerjaan penangkal petir
h. Pengadaan gambar as build drawing dan shop drawing
i. Pengadaan dokumen gambar dengan program ”CAD”

58 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

2. PRINSIP DESAIN
1. Prinsip Supplay Listrik
Catu daya utama adalah PLN Genset berfungsi sebagai banc up apabila PLN
mengalami gangguan atau daya PLN tidak mencukupi untuk menanggung beban
pada saat tertentu. Pemilihan beban yang disupplay oleh PLN atau Genset
menggunakan change over switch ( secomec ). Supplay antara PLN dan
Genset terpisah secara listrik dengan menggunakan change over switch 4 pole.
2. Proteksi
Untuk proteksi, system listrik dilengkapi dengan proteksi hubung singkat di panel
penerangan, proteksi terhadap overload dan hubung singkat panel – panel daya,
kecuali ditunjukkan lain pada gambar. Semua bagian metal dari peralatan listrik
harus dihubungkan ketanah ( grounded / diketanahkan ). Untuk system
pentanahan ruang panel, kabel pentanahan harus berhubungan secara loop
dengan menggunakan tembaga strip.
3. Pentanahan
Pentanahan netral harus terpisah dengan pentanahan pengaman. Tahanan
maksimum untuk pentanahan adalah 1 Ohm.
3. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN
1. Panel Tegangan Rendah
Panel Tegangan Rendah harus mengikuti peraturan IEC dan PUIL serta mengikuti
VDE / DIN. Kontruksi dalam panel – panel serta tata letak dari komponen –
komponen dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga perlu
dilaksanakan perbaikan – perbaikan, penyambungan – penyambungan pada
komponen – komponen dapat mudah dilaksanakan tanpa mengganggu komponen
lainnya.
Setiap panel harus mempunyai 5 busbar coper terdiri dari 3 busbar phase R-S-T, 1
busbar netral dan 1 busbar pengaman ( grounding ). Besarnya busbar tersebut
harus diperhitungkan untuk besar arus yang akan mengalir dalam busbar tersebut
tanpa menyebabkan kenaikan suhu yang lebih 65°C. setiap busbar harus diberi
warna sesuai peraturan PLN, lapisan yang dipergunakan untuk member warna
busbar dan saluran harus dari jenis yang tahan tehadap kenaikan suhu yang
diperbolehkan.
Komponen breaker MCB atau MCCB adalah ex Merlin Gerin atau setara. Untuk
komponen pada panel MDP memakai MCCB dengan type N . breaking capasity
dari breaker harus dihitung dari system atau sesuai dengan gambar rencana.
Setelah Thermis dari MCB harus diperhitungkan sehingga kontinyuitas dan
keandalan dari system dapat tercapai secara maksimum. Alat ukur yang
dipergunakan adalah jenis semi flush mounted dalam kotak tahan getaran, untuk
Amperemeter dan Voltmeter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan skala linier dan
ketelitian 1% dan bebas dari pengaruh induksi. Ukuran dari tiap – tiap unit panel
harus disesuaikan dengan keadaan. Penempatan panel – panel harus
memperhatikan dengan arsitekture bangunan dan tidak mengganggu instalais yang
lain.
Pintu panel dilengkapi dengan lampu indicator.
2. Box panel
Semua box panel harus dibuat dari plat besi dengan tebal minimum 2mm , box
panel harus mempunyai ukuran yang proposional seperti yang dipersyaratkan
untuk panel board, dimana ukurannya sesuai dengan gambar rencana atau
menurut kebutuhan sehingga untuk jumlah dan ukuran yang dipakai tidak terlalu
sesak serta tidak mengganggu dari arsitektural dan instalasi lain. Cat yang
dipergunakan adalah dengan system powder coating. Penempatan MCB / MCCB
pada masing – masing panel tidak boleh saling berdekatan, sehingga memudahkan
penggantian / maintenance pada panel tanpa harus mematikan panel secara
keseluruhan. Kontraktor harus mengajukan Shop Drawing penempatan MCB /
MCCB masing – masing panel untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas atau
pemilik.
Frame / rangka panel harus digrounding / diketanahkan pada cabinet harus ada
cara – cara yang baik untuk memasang, mendukung dan menyetel “ Panel board ”
serta tutupnya.

59 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

Setiap box harus dilengkapi dengan kunci – kunci. Untuk satu Box harus
disediakan 2 buah anak kunci, dengan system master key yang harus mendapat
persetujuan dahulu dari pengawas.
3. Busbar / Rel
Rel minimal harus dari tembaga dengan ukuran yang sesuai dengan kemampuan
arus 150% dari arus beban terpasang yang ukurannya disesuaikan dengan aturan
PUIL 1987.
Harus tahan terhadap gaya elektromekanikal akibat hubungan singkat. Semua rel
harus dicat sesuai urutan phase menurut ketentuan PUIL 1987 dan dipegang oleh
isolator kerangka panel. Cat – cat tersebut harus tahan sampai temperature 75°C.
Ukuran kelima rel adalah sama. Rel netral terpasang pada rangka panel dengan
dudukan isolasi.
Antara Rel R-S-T-N dari PLN dengan rel R-S-T-N dari genset harus terpisah
dengan menggunakan dudukan isolasi.
4. PENGETANAHAN
a. Panel harus dilengkapi dengan busbar pentanahan ( grounding ) dari bahan
tembaga dan diberi cat kuning hijau kecuali untuk tempat – tempat terminal feeder
seperti tersebut pada butir diatas.
b. Rangka panel harus terhubung secara elektris dengan rel pentanahan dan
diketanahkan melalui electrode pentanahan atau cara pentanahan lainnya.
c. Rel pentanahan dihubungkan secara terpisah dengan menggunakan strip tembaga.
d. Perletakan rel pentanahan ini disesuaikan dengan memperhitungkan terhadap arah
masuknya kabel – kabel feeder.
e. Tahanan pentanahan maximum 1 ohm ( groun rod harus terbuat dari cooper
dengan diameter 5/8 dan panjang 6m atau lebih, serta ditanamkan kedalam tanah
).
f. Apabila tidak tercapai keadaan dibawah 1 ohm, maka harus diusahakan dengan
mempararelkan beberapa groun rod hingga tercapai keadaan yang diijinkan.
g. Pada cooper rod harus dibuat bak pemeriksaan sambungan dari down conductor
ke elektroda pentanahan yang harus dapat dibuka guna keperluan pemeriksaan.
5. Ukuran dan Perletakan
Sekalipun sudah disebutkan ukuran – ukuran tertentu setiap panel dan pemasangan
peralatannya, maka tetap menjadi kewajiban pemborong didalam pembuatan panel ini untuk
memperhatikan letak dan peralatan serta terminal – terminal untuk hubungan ke feeder –
feeder sehingga dijamin keluasan gerak feeder tersebut. Ketegasan ukuran – ukuran dan
kelengkapan peralatan ini perlu diperinci pada waktu pengajuan Shop Drawing.
6. Tanda – tanda / Label – label
Untuk setiap switch / circuit breaker maka didekatnya secara jelas harus dipasang tanda /
label dimana tertera arah / tujuan keluar atu masuk kabel yang dilayani oleh switch tersebut.
7. Hubung ke Peralatan
Hubungan dari rel utama peralatan / switch dan lain – lain harus menggunakan bahan dan
cara sedemikian rupa, sehingga dapat dicegah terjadinya kemungkinan hubung singkat
didalam panel. Hubungan yang menggunkan “ cooper strip “ maka harus diberi lapisan
isolasi dengan warna fase yang sesuai. Hubungan yang menggunakan kabel berisolasi,
maka antara masing – masing fase / kabel ini pada pemasangannya haruslah diberi jarak
dengan cara tertentu atau menggunakan ‘space’ dari bahan PVC / isolasi.
8. Tutup pengaman
Kontruksi panel harus sedemikian rupa dimana harus dilengkapi dengan tutup pengaman
sedemikian rupa sehingga pada keadaan pintu panel terbuka maka tidak boleh ada bagian
yang bertegangan ( seperti busbar, terminal dan lain - lain ) yang dapat terjamah atau
tersentuh.
9. Capasitor Bank
Capasitor yang dipergunakan adalah type standart. Sebagai pemutus dipergunakan MCB /
MCCB yang direkomendasi oleh pabrik untuk Capasitor, sedangkan kontraktor sebagai
switching mempunyai rating 1,42 x arus nominal capasitor dalam klasifikasi AC 3. Capasitor
bank dapat dioperasikan secara manual / automatic.

60 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

5.3. KABEL TEGANGAN RENDAH

Kabel – kabel yang dipakai harus dapat dipergunakan untuk tegangan minimal 0,6 KV. Untuk
kabel stop kontak dan penerangan memakai kabel NYM dengan luas penampang minimum 2,5
mm2.
Kabel – kabel untuk instalasi daya dan feeder memakai jenis NYY atau NYFGBY.
Semua kabel feeder bebas sambungan, dan sebelum dipasang kabel dan peralatan bantu lainnya
harus demerger dengan disaksikan pengawas.
Untuk instalasi penerangan yang membutuhkan adanya sambungan kabel, sambungan harus
dilakukan didalam kotak sambungan yang khusus diperuntukkan untuk instalasi listrik. Semua
sambungan harus diberi lasdop dengan baik, lasdop yang dipakai ex 3M.
Semua kabel instalasi penerangan dan stop kontak harus dimasukkan pipa sparring PVC ex
Clipsal.
Secara umum perletakan kabel instalasi adalah tidak tampak secara langsung oleh mata ( diatas
plafon / didalam tembok ). Standart kualitas yang dipakai adalah Supreme/Unitomo. Semua kabel
yang keluar atau masuk panel harus menggunakan kabel gland.

5.4. MATERIAL INSTALASI


1. Saklar
Rocker Mekanisme, Modular, Grid system, Rating 10 A, 220 Volt AC
Type : switch dan two way switch, push – push, fush segi 4
Plat : PVC
Merk : PANASONIC
2. Stop Kontak
Type : Flush
Terminal : 2 P + e, 220 V, AC 10 Amp
Bentuk : Persegi
Merk : PANASONIC
Stop kontak 3 Phase Legrand.

5.5. FIXTURE DAN LAMPU


Lampu / Tube / Bulb Florenscent :
1. Lampu :
Lampu Flourescent / ‘TL’ D Standart
Lampu Flourescent gas discharge tube type, standart putih ( white / 54 ).
Ballast dengan maksimum losses 9,5 watt, 220 Volt.
Kapasitor yang menghasilkan minimum PF 0,9.
Starter switch, terminal dan tube fitting merk : Philips
2. Lampu SL
Lampu type standart putih ( daylight ).
Ballast dan starter termasuk didalam lampu menggunakan kai E 27.
Kapasitor yang menghasilkan minimum PF 0,9. Merk : Philips

5.6. GROUNDING
Electrode pentanahan untuk grounding dipergunakan tembaga massif yang dipasang seperti
pada gambar rencana. Electrode pentanahan ditanam dalam tanah sedalam 6 meter atau
sampai menyentuh permukaan air tanah dan besar / nilai tahanan pentanahan maksimum 1
Ohm.
Apabila tidak dicapai tahanan pentanahan maximal 1 Ohm untuk satu terminal electrode maka
harus dicari cara lain agar persyaratan tersebut dapat dicapai misalnya dengan jalan
memperbanyak jumlah electrode pentanahannya. Ataupun cara – cara lain yang disebut dala
PUIL 1987.
Kawat pentanahan tidak diperkenankan adanya sambungan, apabila terpaksa harus ada
sambungan maka harus dilakukan didalam bak control.
Bila tidak disebutkan lain pada spesifikasi teknis ini ataupun pada gambar, maka hal – hal
khusus lainnya mengenai system dan cara pentanahan harus dilakukan mengikuti aturan PUIL
1987.

61 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT

5.7. KABEL TRAY


Kabel tray terbuat dari bahan plat dengan tebal 2 mm dengan ukuran lebar seperti tertera dalam
gambar perencanaan dan diatas..
Kabel tray digantung didek beton dengan diberi support setap jarak 2 meter. Kabel tray yang
berada vertical diluar bangunan ( setelah got kabel ) dilengkapi dengan penutup.
Pada setiap belokan atau percabangan bentuk kabel tray harus dibuat sedemikian rupa
sehingga sudut belokan kabel sesuai dengan yang diijinkan. Untuk daerah – daerah
percabangan maka tray harus dibuatkan sambungan agar kelihatan baik dan rapi. Bahkan untuk
membuat percabangan ini harus dari bahan plat yang sama baik mutu dan tebalnya.
Pada panel – panel yang tertanam dalam tembok maka kabel tray tidak memerlukan down raiser
tetapi tetap dijaga agae kabel dari bawah mempunyai belokan yang diijinkan. Finishing kabel
tray adalah galvanis hot dip.
Kwalitas bahan yang dipakai ex local.

5.8. SPARING INSTALASI


Semua kabel yang tertanam atau menembus dalam tembok harus dibuatkan sparing yang
terbuat dari pipa PVC dengan diameter sekurang – kurangnya 1,5 kali diameter dari kabel.
Belokan dari sparing kabel harus memenuhi ketentuan yang berlaku, dimana minimal 8 kali jari –
jari kabel. Dan semua kabel yang melintasi jalan harus dibuatkan sparing dari pipa GIP dengan
diameter minimal 2,5 kali diameter kabel dan ditanam dalam tanah sedalam minimal 70 cm atau
disesuaikan dengan kondisi lapangan. Kabel yang ditanam didalam tanah harus diberi pelindung
dari batu bata merahdan urugan pasir diatasnya hal yang sama juga berlaku untuk got kabel
dimana sekelilingnya diurug dengan pasir. Lebar galian kabel disesuaikan dengan keperluan.
Untuk pasangan outbow (menempel kolom) harus dipergunakan tranking kabel produk EGA /
setara.

62 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai