Rencana Kerja Pembangunan Gedung Radiologi
Rencana Kerja Pembangunan Gedung Radiologi
PERSYARATAN TEKNIS
A. PENJELASAN UMUM
I. URAIAN UMUM
1.1. PEKERJAAN
1.2. BATASAN/PERATURAN
a. Undang – Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
b. Undang – Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
c. Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan
Presiden RI No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
d. Keputusan Presiden RI No. 70 Tahun 2005 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan
Presiden RI No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
e. Keputusan Presiden RI No. 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 tentang Standar dan Pedoman
Pengadaan Jasa Konstruksi
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
h. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung
i. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 468/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis
Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan
j. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
k. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
l. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah No. 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan
Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.
m. Peraturan umum Pemeriksaan Bahan-bahan Bangunan (PUPB NI-3/56)
n. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971)
o. Peraturan Umum Bahan Nasional (PUBI 982)
p. Peraturan Perburuhan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
q. Peraturan-peraturan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
r. SKSNI T-15-1991-03
s. Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI)
t. Algemenee Voorwarden (AV)
u. Peraturan – Peraturan lain yang masih berlaku.
1|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Persyaratan teknik pada gambar dan RKS yang harus diikuti adalah :
1. Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dengan gambar detail, maka
gambar detail yang diikuti.
2. Bila skala gambar tidak sesuai dengan angka ukuran, maka ukuran dengan
angka yang diikuti, kecuali bila terjadi kesalahan penulisan angka tersebut
yang jelas akan menyebabkan ketidaksempurnaan / ketidaksesuaian
konstruksi, harus mendapatkan keputusan Konsultan Pengawas / Konsultan
MK lebih dahulu.
3. Bila tedapat perbedaan antara RKS dan gambar, maka RKS yang diikuti
kecuali bila hal tersebut terjadi karena kesalahan penulisan, yang jelas
mengakibatkan kerusakan/kelemahan konstruksi, harus mendapatkan
keputusan Konsultan Pengawas / Konsultan MK.
5. Yang dimaksud dengan RKS dan gambar di atas adalah RKS dan gambar
setelah mendapatkan perubahan/penyempurnaan di dalam berita acara
penjelasan pekerjaan.
6. RKS pada Bab Spesifikasi Teknis ini terdiri dari 4 (empat) bagian ialah :
A. Peryaratan Umum
B. Arsitektural
C. Struktural
D. Mekanikal – Elektrikal
2|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan Mekanikal
Pekerjaan Elektrikal
Bouplank
Dll.
3|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Dll.
Pekerjaan pondasi
Pekerjaan beton
Pekerjaan Atap
Dll.
Pekerjaan dinding
Pekerjaan lantai
Pekerjaan plafond
Pekerjaan pengecatan
Pekerjaan lansekap
Pekerjaan instalasi AC
dll
dll
g. Pekerjaan lain-lain
Pekerjaan yang jelas terkait langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa
dipisahkan dengan pekerjaan utama sesuai dengan gambar dan RKS
4|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
b. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja serta tenaga ahli yang cakap dan
memadai dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan, serta tidak akan
mempekerjakan orang-orang yang tidak tepat atau tidak terampil untuk jenis-jenis
pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Kontraktor harus selalu menjaga disiplin
dan aturan yang baik diantara pekerja/karyawannya.
e. Shop Drawing (gambar kerja) harus dibuat oleh Kontraktor sebelum suatu
komponen konstruksi dilaksanakan.
5|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
6|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
f. Persyaratan mutu bahan bangunan secara umum adalah seperti di bawah ini,
sedangkan bahan-bahan bangunan yang belum disebutkan disini akan
diisyaratkan langsung di dalam pasal-pasal mengenai persyaratan pelaksanaan
komponen konstruksi di belakang.
Air
Air yang digunakan sebagai media untuk adukan pasangan plesteran, beton
dan penyiraman guna pemeliharaan harus air tawar, tidak mengandung
minyak, garam, asam dan zat organik lainnya yang telah dikatakan memenuhi
syarat, sebagai air untuk keperluan pelaksanaan konstruksi oleh laboratorium
tidak lagi diperlukan rekomendasi laboratorium.
Semen Portland yang digunakan adalah jenis satu harus satu merek untuk
penggunaan dalam pelaksanaan satu satuan komponen bengunan, belum
mengeras sebagai atau keseluruhannya. Penyimpanannya harus dilakukan
7|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
dengan cara dan didalam tempat yang memenuhi syarat sebagai air untuk
menjamin kebutuhan kondisi sesuai persyaratan di atas.
Pasir (Ps)
Pasir yang digunakan adalah pasir sungai, berbutir keras, bersih dari kotoran,
lumpur, asam, garam, dan bahan organik lainnya, yang terdiri atas.
1. Pasir untuk urugan adalah pasir dengan butiran halus, yang lazim
disebut pasir urug.
3. Pasir untuk pekerjaan beton adalah pasir cor yang gradasinya mendapat
rekomendasi dari laboratorium.
Split untuk beton harus menggunakan split dari batu kali hitam pecah, bersih
dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam PBI 1971.
3.1 SITUASI/LOKASI
a. Lokasi proyek adalah pada lahan untuk Pembangunan Rumah Sakit Andi
Djemma Masamba Kabupaten Luwu Utara. Halaman proyek akan diserahkan
kepada Kontraktor sebagaimana keadaannya waktu Rapat Penjelasan.
Kontraktor hendaknya mengadakan penelitian dengan seksama mengenai
keadaan tanah halaman proyek tersebut.
8|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan
kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan
tersebut harus cukup terjamin.
3.4 KANTOR KONTRAKTOR, LOS DAN HALAMAN KERJA, GUDANG DAN FASILITAS
LAIN
Kontraktor harus membangun kantor dan perlengkapannya, los kerja, gudang dan
halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan, yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Kontraktor harus juga menyediakan untuk
pekerja/buruhnya fasilitas sementara (tempat mandi dan peturasan) yang memadai
untuk mandi dan buang air.
Kontraktor harus membuat tata letak/denah halaman proyek dan rencana konstruksi
fasilitas-fasilitas tersebut. Kontraktor harus menjamin agar seluruh fasilitas itu tetap
bersih dan terhindar dari kerusakan.
9|P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
dan 10 kursi
Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan
halaman proyek sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan nama
tersebut 90 x 150 cm dipotong dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai dengan
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen melalui Konsultan MK dan atau sesuai tata
aturan Pemerintah Daerah setempat. Kontraktor tidak diijinkan menempatkan atau
memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan di sekitar proyek tanpa ijin
dari Pemberi Tugas.
b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, langit-langit, dan lain-lain
harus mengambil patokan dari peil 0.00 tersebut.
a. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan kelas IV) ukuran minimum
3/20 cm yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan tiang-tiang dari kayu
sejenis ukuran 5/7 cm dan dipasang pada setiap jarak satu meter. Papan harus
lurus dan diketam halus pada bagian atasnya.
10 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
11 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
B. PEKERJAAN ARSITEKTURAL
a. Peil 0,00 ditetapkan diambil dari muka lantai dalam bangunan (atau sesuai
gambar dan petunjuk Konsultan MK).
b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, langit-langit, dan lain-lain
harus mengambil patokan dari peil 0.00 tersebut.
Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan dinding yang terbuat dari batu bata dan
bata ringan disusun ½ bata, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk
pekerjaan ini.
2.2. BAHAN
Batu bata ringan (hebel) yang dipakai adalah produksi dalam negeri dengan
kualitas yang baik dengan ukuran 10 x 20 x 60 cm, tidak mudah patah, bersudut
runcing dan rata, tanpa cacat atau mengandung kotoran.
b. Adukan
Adukan terdiri dari semen khusus, pasir dan air dipakai untuk pemasangan
dinding bata ringan.
Semen Mortar yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik
12 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Adukan harus dibuat dalam alat tempat mencampur, diatas permukaan yang
keras, bukan langsung diatas tanah. Bekas adukan yang sudah mulai mengeras
tidak boleh digunakan kembali.
c. Beton Bertulang
Beton bertulang dibuat untuk rangka penguat dinding, yaitu : sloof, kolom praktis
dan ringbalk.
Komposisi bahan beton rangka penguat dinding (sloof, kolom praktis, ringbalk)
adalah 1 pc : 2 pasir : 3 kerikil.
Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik (satu merek
untuk seluruh pekerjaan). Pasir beton harus bersih, bebas dari tanah/lumpur dan
zat-zat organik lainnya. Kerikil/split dari pecahan batu keras dengan ukuran 1 - 2
cm, bebas dari kotoran. Baja tulangan menurut ketentuan PBI 1971.
2.3. PELAKSANAAN
Dinding harus dipasang (uitzet dengan peralatan yang memadai) dan didirikan
menurut masing-masing ukuran ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti
yang ditunjukkan dalam gambar.
Ukuran rangka penguat dinding bata (non struktural) : sloof 13 x 20 cm, kolom
praktis 10 x 10 cm untuk dinding bata ringan, ringbalk dan balok lantai Kolom
praktis dan ringbalk diplester sekaligus dengan dinding bata sehingga
mencapai tebal 13 cm untuk dinding bata ringan. Bekisting terbuat dari kayu
terentang/kayu hutan lainnya dengan tebal minimum 2 cm yang rata dan
berkualitas papan baik.
Pemasangan bekisting harus rapi dan cukup kuat. Celah-celah papan harus rapat
sehingga tidak ada air adukan yang keluar. Bekisting baru boleh dibongkar
setelah beton mengalami proses pengerasan.
Bata yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai
jenuh.
1. Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan
kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan
tersebut harus cukup terjamin.
3. Lebih dari 1 (satu) meter tingginya setiap hari di satu bagian pemasangan
13 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
5. Setiap luas pasangan dinding bata mencapai 12 m2 harus dipasang beton
praktis (kolom, dan ring balk)
Bata dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan
bentang benang yang sipat datar. Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-
benar dipasang tegak lurus.
Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak
40 cm. Permukaan beton harus dibuat kasar. Pemasangan bata diatas kusen
harus dibuat balok lantai 10/10 atau dilengkapi dengan pasangan rollaag.
Pemasangan harus dijaga kerapihannya, baik dalam arah vertikal maupun
horizontal. Sela-sela disekitar kusen-kusen harus diisi dengan aduk.
3.2. BAHAN
Semen Mortar yang dipakai adalah produk lokal yang terbaik (satu merek untuk
seluruh pekerjaan).
3.3. PELAKSANAAN
14 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Dalam mendirikan dinding yang tidak berada dibawah atap, selama waktu hujan
harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan
bahan pelindung yang cukup sesuai.
b. Plesteran Beton
Permukaan beton yang akan diplester harus disiapkan dulu dengan pekerjaan
pendahuluan dengan urutan sebagai berikut :
Plesteran harus diakhiri dengan acian halus dari adukan air semen (Pc)
Untuk beton bertemu dengan dinding, plesteran harus dilapisi kawat wiremesh
minimal 30 cm sepanjang pertemuan, khususnya apabila permukaan dinding rata
dengan permukaan beton.
d. Semua pasangan dinding bata harus diplester dan diaci kecuali pasangan
dinding bata yang tertanam didalam tanah atau dibawah lantai dasar cukup
diplester dengan campuran 1 : 3 tanpa acian.
15 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
a. Lingkup Pekerjaan
2. Pekerjaan ini meliputi seluruh kosen pintu, jendela dan loure aluminium,
seperti yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
3. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan (Pekerjaan Kosen, Pintu dan
Jendela), (Pekerjaan Kaca dan Cermin).
b. Persyaratan Bahan
1. Terbuat dari bahan Aluminium Framing System, dari produk dalam negeri ex.
YKK, Indalex, Alexindo, berwarna atau produk lain yang setara yang
memenuhi Aluminium extrusi sesuai SII extrusi 0695-82, 0649-82.
2. Bentuk profil sesuai yang ditunjukkan dalam gambar, dengan terlebih dahulu
dibuatkan gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui Direksi /
Manajemen Konstruksi.
3. Warna profil :
5. Bahan yang akan melalui proses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu
dengan seksama sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran, ketebalan,
kesikuan, kelengkungan, pewarnaan yang disyaratkan Direksi.
8. Khusus untuk kosen aluminium eksterior (Mullion dan Transome), bentuk dan
ukuran profil aluminium sesuai yang ditunjukkan dalam gambar, dengan
terlebih dahulu dibuatkan perhitungan struktur rangka serta pembuatan
gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui Direksi / Pengawas.
16 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
12. Pekerjaan mesin potong, mesin punch, drill, dan lain-lain harus sedemikian
rupa sehingga diperoleh hasil rakitan untuk unit-unit jendela, pintu dan partisi
yang mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
13. Accessories.
13.a. Sekrup dari galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl,
pengikat alat penggantung yang dihubungkan dengan aluminium harus
ditutup caulking dan sealant.
13.b. Sealant yang dipergunakan adalah ex. Dow Corning type 795 atau
setara.
13.c. Angkur-angkur untuk rangka / kosen aluminium terbuat dari steel plate
tebal 2-3 mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari 13 mikron
sehingga tidak dapat bergerak / bergeser.
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
2. Proses fabrikasi harus sudah berjalan dan siap lebih dulu sebelum pekerjaan
lapangan dimulai. Proses ini harus didahului dengan pembuatan shop
drawing atas petunjuk manajemen Konstruksi, meliputi gambar denah, lokasi,
merk, kualitas, bentuk, ukuran. Kontraktor juga diwajibkan untuk membuat
perhitungan-perhitungan yang mendasari sistem dan dimensi profil aluminium
17 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
3. Semua frame / kosen baik untuk jendela, pintu dan dinding partisi, dikerjakan
secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan
agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
6. Akhir bagian kosen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok.
8. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat,
sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air dan
memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm2. Celah antara
kaca dan sistem kosen aluminium harus ditutup oleh sealant.
9. Untuk fitting hardware dan reinforcing materials yang mana kosen aluminium
akan bertemu dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal
yang bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk menghindari
timbulnya korosi.
10. Toleransi pemasangan kosen aluminium disatu sisi dinding adalah 10-25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan / grout.
11. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium, kehorizontalan rel mutlak
diperhatikan sebelum rangka kosen terpasang. Permukaan bidang dinding
horizontal yang melekat pada ambang bawah dan atas harus waterpass
(pelubangan dinding).
13. Sekeliling tepi kosen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan suara.
18 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
14. Tepi bawah ambang kosen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan
air hujan.
15. Engsel untuk jendela yang bisa dibuka diletakkan sejarak jangkauan tangan.
16. Profil aluminium yang akan dipilih harus diajukan secepatnya untuk
memperoleh persetujuan Direksi/ Pengawas.
19 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Bentuk, ukuran dan konstruksi tercantum didalam gambar kerja yang aman
segalanya harus ditaati, kecuali ada ketentuan lain dari perencanaan, Konsultan
Pengawas atau Pemberi tugas
V. PEKERJAAN KACA
Pekerjaan kaca meliputi pengisian bidang-bidang kusen (kaca mati), daun pintu
dan jendela, jendela bovenlight. Contoh kaca yang akan dipakai harus
diperlihatkan kepada Pengawas paling lambat 2 (dua) minggu sebelum dipasang.
5.2. BAHAN
a. Kaca Polos.
Kaca polos harus merupakan lembaran kaca bening jenis clear float glass yang
datar dan ketebalannya merata, tanpa cacat dan dari kualitas yang baik yang
memenuhi ketentuan SNI 15-0047 – 1987 dan SNI 15-0130 – 1987, seperti tipe
Indoflot buatan Asahimas atau yang setara.
b. Kaca Berwarna.
Kaca berwarna harus merupakan lembaran kaca polos yang diberi warna dengan
menambahkan sedikit logam pewarna pada bahan baku kaca, seperti tipe
Panasap buatan Asahimas atau yang setara.
Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja sedang warna
kaca harus sesuai ketentuan dalam Skema Warna.
5.3. PELAKSANAAN
a. Umum.
1. Ukuran-ukuran kaca dan cermin yang tertera dalam Gambar Kerja adalah
ukuran yang mendekati sesungguhnya. Ukuran kaca yang sebenarnya dan
besarnya toleransi harus diukur ditempat oleh Kontraktor berdasarkan ukuran
di tempat kaca atau cermin tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk
dari Pengawas Lapangan, bila dikehendaki lain.
2. Setiap kaca harus tetap ditempeli merek pabrik yang menyatakan tipe kaca,
ketebalan kaca dan kualitas kaca.
20 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
b. Pemasangan Kaca.
- Sela untuk Gasket harus ditambahkan sesuai dengan jenis gasket yang
digunakan.
2. Persiapan Permukaan.
- Sebelum kaca-kaca dipasang, daun pintu, daun jendela, bingkai partisi dan
bagian-bagian lain yang akan diberikan kaca harus diperiksa bahwa mereka
dapat bergerak dengan baik.
- Daun pintu dan daun jendela harus diamankan atau dalam keadaan
terkunci atau tertutup sampai pekerjaan pemolesan dan pemasangan kaca
selesai.
- Permukaan semua celah harus bersih dan kering dan dikerjakan sesuai
petunjuk pabrik.
- Semua kaca yang retak, pecah atau kurang baik harus diganti oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
21 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Semua daun pintu dan jendela dipasangi alat penggantung dan kunci yang sesuai.
Pekerjaan alat penggantung dan pengunci ini mencakup semua kegiatan
pemasangan kunci dan alat-alat penggantung pada daun pintu dan jendela, meliputi
pengadaan bahan, tenaga dan peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan ini.
PROSEDUR UMUM
a. Contoh
Contoh bahan beserta data teknis/brosur bahan alat penggantung dan pengunci
yang akan dipakai harus diserahkan kepada Konsultan MK untuk disetujui,
sebelum dibawa kelokasi proyek.
Semua alat harus disimpan dalam tempat yang kering dan terlindung dari
kerusakan.
c. Ketidaksesuaian.
6.2. BAHAN
a. Umum
Semua bahan/alat yang tertulis dibawah ini harus seluruhnya baru, kualitas baik,
buatan pabrik yang dikenal dan disetujui.
Semua bahan harus anti karat untuk semua tempat yang memiliki nilai
kelembapan lebih dari 70%.
Kecuali ditentukan lain, semua alat penggantung dan pengunci yang didatangkan
harus sesuai dengan tipe-tipe tersebut dibawah.
22 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
1. umum.
Penggantung dan Pengunci untuk semua pintu luar dan dalam harus sama
atau setara dengan merek Cisa, Kend dan Grif atau setaranya.
- Kunci tipe silinder dengan dua kali putar yang terbuat dari bahan kuningan,
Nikel stainless steel ,dengan 3 (tiga) buah anak kunci.
- Handle/pegangan bentuk gagang atau kenop yang terbuat dari bahan anti
karat atau Nikel stainless steel dan finishing stainless steel hair line.
- Badan kunci tipe tanam (mortice lock) yang terbuat dari bahan baja lapis
seng stainless steel hair line dengan jenis dan ukuran yang disesuaikan
dengan jenis bahan daun pintu (besi, kayu atau alumunium) dan lubang
untuk pegangan pintu dan dilengkapi strike plate.
3. Engsel.
- Ketentuan Bahan dan finishing engsel adalah dari bahan Nikel Stainless
steel dengan finish stainless steel hair line.
4. Hak Angin.
Hak angin untuk jendela yang menggunakan engsel tipe kupu-kupu seperti
dari tipe Cisa, Grif dan Kend atau yang setara yang disetujui.
5. Pengunci Jendela.
Pengunci jendela untuk jendela dengan engsel atau tipe friction stay seperti
tipe Cisa, Grif dan Kend atau yang setara yang disetujui.
Semua pintu ganda harus dilengkapi dengan grendel tanam atas/ bawah
dengan type Rioby 456/240 atau 6800/1-150/300.
8. Warna/Lapisan.
Semua alat penggantung dan pengunci harus berwarna stainless steel hair
line, kecuali bila ditentukan lain.
23 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
a. Umum.
2. Semua peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada
tempatnya, untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
5. Semua pintu memakai kunci pintu lengkap dengan badan kunci, silinder,
handle/pelat.
6. Engsel bagian atas untuk pintu kaca menggunakan pin yang bersatu dengan
bingkai bawah pemegang pintu kaca.
7. Lubang untuk pemasangan kunci dan engsel harus dibuat persis dan tidak
boleh longgar. Semua alat kunci harus dipasang dengan sekrup secara
lengkap
b. Pemasangan Pintu.
2. Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 120mm dari tepi atas daun pintu
dan engsel bawah berjarak maksimal 250mm dari tepi bawah daun pintu,
sedang engsel tengah dipasang diantar kedua engsel tersebut.
3. Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handle), pelat
penutup muka dan pelat kunci.
4. Pada pintu yang terdiri dari dua daun pintu, salah satunya harus dipasang slot
tanam sebagaimana mestinya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar
Kerja.
c. Pemasangan Jendela.
24 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
3. Penempatan engsel harus sesuai dengan arah bukaan jendela yang diinginkan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan setiap jendela harus dilengkapi
dengan sebuah pengunci.
Semua perlengkapan tambahan yang akan dipakai harus diberikan contohnya terlebih
dahulu kepada Konsultan MK untuk disetujui bersama dengan Konsultan Perencana.
7.2. BAHAN
a. Bahan yang dipakai pada pekerjaan ini adalah gypsum-board dengan ukuran
sesuai pada gambar perencanaan, produk Jaya Board, Knauf atau Elephant.
Papan gipsum harus dari tipe standar yang memenuhi ketentuan AS 2588, BS
1230 atau ASTM C 36.
b. Rangka plafond menggunakan sistem metal furing dan cross tee main tee terbuat
dari bahan galvalume tebal 0,55 mm sesuai gambar rancangan pelaksanaan
produk Global atau setara.
c. Bahan yang digunakan untuk list plafond adalah terbuat dari gypsum ukuran 90 x
70 mm atau sesuai pada gambar rancangan pelaksanaan.
d. GRC 6 mm untuk plafon teritisan atap bagian luar, produk Jabasemen atau
Harflex. Bahan terpasang harus dalam keadaan utuh, kuat, permukaan rata dan
tanpa cacat lainnya.
7.3. PELAKSANAAN
b. Pemasangan paku atau sekrup harus diberi jarak 10 mm (minimal) dan maksimal
16 mm dari pinggir bahan penutup. Jarak antara paku sekrup pada bagian tepi
gypsum berjarak 20 cm sedangkan pada bagian tengah penutup langit-langit
jarak antara paku sekrup adalah 30 cm.
25 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
e. Untuk pekerjaan plafond dengan menggunakan gypsum datar tanpa nat, tebal
minimal 9 mm produksi Jaya Board atau setara.
g. List langit-langit dipasang pada setiap permukaan antara dinding dan plafond
dengan cara pemasangan menggunakan paku atau sekrup sedemikian rupa
sehingga pangkal paku atau sekrup dapat masuk ke dalam bahan penutup langit-
langit. Lubang bekas paku atau sekrup harus ditutup dengan plamir/compound
dari bahan gypsum sampai tak terlihat bekas lubang.
Pengiriman bahan ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.
8.2. BAHAN
a. Ubin Keramik
Keramik untuk pelapis dinding yang dipakai buatan dalam negeri, keramik harus
dari kualitas yang baik atau KW 1 dan dari merek yang dikenal yang memenuhi
ketentuan SNI seperti (Roman atau Asia Tile), sesuai dengan gambar
perencanaan dan scedule finishing. Bahan yang didatangkan harus dalam
26 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
keadaan baik, utuh kuat, tanpa cacat. Keramik yang didatangkan harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
Keramik yang tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudut-
sudutnya tidak siku, retak atau cacat lainnya, tidak boleh dipasang.
b. Stone Cladding
Batu tempel yang dipakai adalah jenis batu Andesit, Batu tempel hitam (bulat
pipih) dengan finishing permukaan polished, honed dan flamed. Batu yang
ditempel harus dalam keadaan utuh, kondisi baik dan kuat tanpa ada cacat.
Batu Granit, Bahan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, utuh kuat,
tanpa cacat rongga atau porous, asal batu granit yang dimaksud adalah ex. India
atau Italy. Barang yang didatangkan harus disetujui oleh Pengawas Lapangan.
Warna akan ditentukan kemudian oleh konsultan perencana dan owner. Ukuran
batu yang akan dipasang disesuaikan dengan gambar perencanaan.
8.3. PELAKSANAAN
a. Pemasangan keramik
27 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Bahan yang terpasang harus dalam keadaan baik, utuh dan rapi. Untuk border
keramik dipasang sesuai lebar keramik atau tepat di atas keramik dinding
terpasang. Nat/siar harus lurus vertikal atau horisontal dengan keramik ukuran 20
x 25. Setelah terpasang segera dibersihkan dari segala kotoran atau noda yang
menempel. Pekerjaan ini harus dikerjakan oleh tukang yang bebenar terampil
dan berpengalaman.
Seperti Halnya keramik, batu tempel dipasang dengan spasi 1Pc : 3 Psr
dipasang sesuai gambar perencanaan rapat tanpa spasi atau sesuai gambar
perencanaan. Setelah terpasang permukaan harus segera dibersihkan dari
segala kotoran dan noda atau bekas semen yang menempel.
Bagian ini mencakup semua pekerjaan penutup lantai dalam bangunan dan teras-
teras termasuk plin dan tangga, seperti yang tercantum dalam gambar dan RKS,
meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan ini.
Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.
9.2. BAHAN
a. Penutup lantai yang dipakai ukuran `60 x 60 cm terbuat dari Granit Tile merk
Venizea atau yang sekualitas atas persetujuan owner / pemilik proyek.
c. Corak dan warna penutup lantai berwarna terang dan akan ditetapkan
kemudian oleh Konsultan Perencana sesuai dengan pilihan barang yang tersedia
di pasaran pada saat pelaksanaan di lapangan.
28 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
9.3. PELAKSANAAN
b. Pemasangan
Pekerjaan ini harus dilakukan dengan serapi-rapinya oleh tukang yang benar-
benar ahli dan berpengalaman, sesuai dengan petunjuk pabrik bahan yang
bersangkutan.
X. PEKERJAAN PENGECATAN
29 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
plesteran tembok dan beton, dan permukaan-permukaan lain yang disebut dalam
gambar dan RKS.
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga dan semua peralatan yang
diperlukan untuk pekerjaan ini.
STANDAR / RUJUKAN
10.2. BAHAN
a. Umum.
1. Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih
jelas menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau Spesifikasi cat,
nomor takaran pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrikpetunjuk dari pabrik
dan nama pabrik pembuat, yang semuanya harus masih absah pada saat
pemakaiannya. Semua bahan harus sesuai dengan Spesifikasi yang
disyaratkan pada daftar cat. Pemakaian bahan-bahan pengering atau bahan-
bahan lainnya tanpa persetujuan Pengawas tidak diperbolehkan. Selambat-
lambatnya sebulan sebelum pekerjaan pengecatan dimulai, Kontraktor harus
mengajukan daftar tertulis dari semua bahan yang akan dipakai untuk
disetujui oleh Pengawas Lapangan. Konsultan Pengawas berhak menguji
contoh-contoh sebelum memberikan persetujuan.
b. Cat Dasar.
Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut atau setara :
- Masonry sealer untuk permukaan pelesteran yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.
- Wood primer sealer untuk permukaan kayu yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.
30 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
c. Undercoat.
Undercoat digunakan untuk permukaan bidang baru yang belum pernah dicat
sebelumnya.
d. Cat Akhir.
Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut, atau yang setara :
- High quality solvet-based high quality gloss finish untuk permukaan interior
pelesteran dengan cat dasar masonry sealer, kayu dan besi/baja.
- Khusus untuk bagian luar yang tidak terlindung atap dipakai jenis
Weathershield
e. Sending
a. Sending dilaksanakan untuk daun pintu panil.
10.3. PELAKSANAAN
a. Pelaksanaan Pekerjaan
Umum.
- Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam bidang
tersebut.
31 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
2. Permukaan Gipsum.
Permukaan gipsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan
permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.
3. Permukaan Kayu.
Permukaan kayu harus bersih dari minyak, lemak dan serbuk kayu
gergajian, sisa pengamplasan serta kotoran lainnya, sebelum pelapisan
cat dimulai.
Besi/Baja Baru.
32 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat harus
mendapatkan lapisan pertama atau cat dasar seperti yang disayaratkan, secepat
mungkin setelah persiapan-persiapan di atas selesai. Harus diperhatikan bahwa
hal ini harus dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada permukaan yang sudah
disiapkan di atas.
f. Pelaksanaan Pengecatan.
33 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Umum.
- Permukaan yang sudah dirapikan harus bebas dari aliran punggung cat,
tetesan cat, penonjolan, pelombang, bekas olesan kuas, perbedaan warna dan
tekstur.
Proses Pengecatan.
- Harus diberi selang waktu yang cukup di antara pengecatan berikutnya untuk
memberikan kesempatan pengeringan yang sempurna, disesuaikan dengan
kedaan cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.
d. Permukaan Kayu
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.
e. Permukaan Besi/Baja.
34 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high quality gloss
finish.
- Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam
konsistensinya selama pengecatan.
Metode Pengecatan.
- Cat dasar untuk permukaan papan gipsum deberikan dengan kuas dan
dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.
- Cat dasar untuk permukaan kayu harus diaplikasikan dengan kuas dan
lapisan berikutnya boleh dengan kuas, rol atau semprotan.
1. Lingkup Pekerjaan :
35 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan pelapis water proofing jenis membran dari Fosroc, Prooftex Torcseal 3 PV
atau sejenis atas persetujuan Direksi.
3. Syarat Pelaksanaan
b. Atap beton pada saat pengecoran harus sudah dilakukan pengecoran dengan
kemiringan sebesar 0,5 s/d 1 % (setengah s/d satu prosen) ke arah lubang-lubang
roof-drain sehingga tidak diperlukan screed lagi. Penambahan volume beton akibat
pembuatan kemiringan ini harus sudah diperhitungkan terhadap volume / biaya
yang ditawarkan oleh Kontraktor. Apabila oleh Direksi dianggap kemiringan tidak /
kurang tercapai, maka Kontraktor harus membuat screed atas biaya Kontraktor.
c. Pemasangan lapisan water proofing harus dilakukan oleh aplikator yang ditunjuk
oleh pabrik sehingga Kontraktor dapat meminta jaminan kualitas dari pabrik untuk
disampaikan kepada Pemilik pekerjaan.
Bagian ini mencakup semua pekerjaan sanitair dan yang berhubungan seperti
ditunjukkan dalam gambar, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan alat yang
diperlukan.
12.2. BAHAN
Bahan porselen, produk dalam negeri (setara TOTO type monoblok atau
American Standart), lengkap dengan stop kran dan peralatan lain (warna
standard).
2. Wastafel
36 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
c. Barang-barang yang akan dipasang harus benar-benar mulus dan tidak cacat
sedikitpun. Kontraktor harus mengajukan contoh-contoh untuk disetujui oleh
Pengawas bersama dengan Konsultan Perencana.
12.3. PELAKSANAAN
a. Semua sambungan harus kedap air dan udara. Bahan penutup sambungan tidak
diijinkan.
Cat, vernis, dempul dan lainnya tidak diijinkan dipasang pada bidang-bidang
pertemuan sambungan sampai semua sambungan dipasang kuat dan diuji.
c. Bak cuci tangan tipe dinding ahrus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak
bagian luar alat-alat tersebut berada 800 mm di atas lantai, kecuali bila
ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja.
Bak cuci tangan tipe pemasangan di meja harus dipasang pada ketinggian sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.
d. Bak cuci dari bahan stainless steel harus dipasang sedemikian rupa pada
meja/kabinter seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
e. Sistem penumpu dan penopang harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik
pembuat perlengkaan sanitasi atau sesuai persetujuan Pengawasan Lapangan.
37 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Kaca cermin dan tempat alat-alat pada wastafel harus dipasang sipat datar dan
diskrupkan pada dinding. Barang-barang yang akan dipakai harus tidak bercacat
sedikitpun. Floor drain harus dipasang dengan saringannya, dan dipasang rapih.
Semua sela-sela antara floor drain dengan lantai, harus diisi dengan adukan 1
Pc : 2 Ps. Pasangan harus sedemikian sehingga bidang atas floor drain rata dan
sebidang dengan bidang lantai.
Paper holder hanya dipasang pada toilet yang closetnya duduk. Tempat sabun
hanya dipasang pada toilet yang ada bak airnya saja. Tinggi pemasangan pada
dinding 100 cm di atas lantai.
38 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
C. PEKERJAAN STRUKTUR/SIPIL
Pekerjaan tanah
Alat-alat pengukur seperti water pass dan alat-alat bantu lain yang
dipergunakan untuk ketelitian, ketetapan dan kerapihan pekerjaan.
1.3. Pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam uraian
Pekerjaan dan syarat-syarat gambar bestek dan detail gambar konstruksi serta
keputusan Pengawas Lapangan.
1.4. Situasi
39 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Kontraktor harus menyediakan pekerja yang ahli dalam cara-cara pengukuran alat
penyipat datar, slang plastik, alat penyiku, prisma silang, segitiga siku-siku dan alat-
alat penyipat tegak lurus dan peralatan lain yang diperlukan guna ketetapan
pengukuran.
Semua benda dan permukaan seperti pohon akar dan tonjolan serta rintangan-
rintangan bangunan beserta pondasinya dan lain-lain yang berada di dalam batas
daerah pembangunan yang tercantum dalam gambar harus dibersihkan dan
dibongkar kecuali untuk hal-hal di bawah ini :
1. Sisa-sisa pohon yang tidak mengganggu dan akar-akar serta benda-benda yang
tidak mudah rusak yang letaknya minimum ± 1 meter di bawah dasar pondasi.
Yang termasuk pekerjaan perbaikan kondisi tanah adalah semua pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan tanah meliputi :
Land Screeding
Pemadatan Tanah
40 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Penimbunan dilakukan sampai pada peil dan kemiringan yang ditentukan sesuai
Gambar Kerja.
Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis, tiap lapisan tidak boleh lebih
dari 20 cm tebal sebelum dipadatkan atau 15 cm setelah dipadatkan.
Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya, sebelum pemadatan kadar
air dari fill material harus sama dengan kadar air optimum dari hasil test
Compaction Modified Proctor dari contoh fill material.
Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari bahan optimum,
maka fill material harus diberi air sehingga menyamai kadar air optimum.
Sebaliknya bila kadar air bahan timbunan/fill material lebih besar dari kadar air
optimum, maka fill material harus dikeringkan terlebih dahulu atau ditambah
dengan bahan timbunan yang lebih kering.
Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan dan air tergenang,
pemadatan dihentikan. Diusahakan air dapat mengalir dengan membuat saluran-
saluran drainage sehingga daerah pemadatan selalu kering.
Setiap lapis dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan 'Field Dry Density
Test' untuk mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta Moisture Content.
Satu test untuk setiap 400 m2 untuk tanah yang dipadatkan.
Apabila σtanah yang dipadatkan < 1,6 ton/m3, maka tanah tersebut harus diganti
dengan tanah lain atau dicampur pasir sehingga tanah tersebut menjadi
>1,6 ton/m3.
41 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai 90% compacted dari modified
proctor (untuk lapisan sub grade setebal 30 cm di bawah base) tetapi tidak
mencapai soaked CBR minimum = 4, maka tanah (sub grade) tersebut harus
diganti dengan fill material yang pada 90% maksimum compacted mencapai nilai
soaked CBR = 4.
V. PEKERJAAN BETON
Mutu beton struktur poer, sloof, balok, kolom, plat dan ringbalk adalah K-225, dan
mutu baja yang dipakai adalah BJTD- > 13 dan BJTP- 12. Untuk pekerjaan beton
lantai kerja dipakai beton rabat dengan campuran 1pc : 3ps : 5kr. Mutu karakteristik
merupakan syarat mengikat. Untuk menjamin kesamaan mutu beton, kontraktor
dianjurkan menggunakan readymix concrete dari perusahaan terkenal yang khusus
membuat readymix, terutama untuk pekerjaan struktur dinding beton, kolom, balok,
lantai dan atap beton.
1. Lapisan penutup (protective concrete fill) di atas lapisan kedap air seperti pada
lantai toilet (screed), reservoir dan lain-lain harus menggunakan adukan dengan
campuran 1 PC : 3 Ps dan harus dicor segera setelah lapisan water proofing
selesai dipasang.
3. Pengadukan.
42 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
4. Kecuali ready mix concrete semua pengadukan jenis beton harus dilakukan
dengan mesin pengaduk berkapasitas tidak kurang dari 350 liter. Setiap kali
membuat adukan, pengadukan harus rata hingga warna dan kekentalannya
sama.
1. Komposisi.
Semua agregat, semen, air, beratnya harus ditakar dengan seksama. Proporsi
semen yang ditentukan adalah minimal. Sebagai pedoman, Pemborong harus
tetap mengusahakan mutu/kekuatan beton sesuai dengan yang disyaratkan.
2. Pengujian (testing).
Pada umumnya pengujian dilakukan sesuai dengan PBI 1971 Bab 4.7. termasuk
pengujian-pengujian susut (slump) dan pengujian-pengujian tekanan. Jika beton
tidak memenuhi syarat-syarat slump, maka bagian/kelompok adukan tersebut
tidak boleh dipakai. Jika pengujian tekanan gagal, maka perbaikan harus
dilakukan sesuai dengan prosedur-prosedur dalam PBI 1971.
5.3. BAHAN-BAHAN.
Semen yang dipakai harus semen portland dari merk yang disetujui dan yang dalam
segala hal memenuhi syarat seperti yang dikehendaki oleh "Peraturan Beton
Bertulang Indonesia” untuk beton kelas I Z 475 atau British Standard, nomor : 12-
1965. Dalam pengangkutan, semen harus terlindung dari hujan, zak (kantong) asli
dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat dan harus disimpan di gudang yang
cukup ventilasinya dan tidak kena air, ditaruh pada tempat yang ditinggikan paling
sedikit 30 cm dari lantai. Kantong semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai
tingginya melampau1 2 m, dan tiap pengiriman baru harus dipisahkan dan ditandai
dengan maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.
1. Agregate.
Agregat harus keras, bersifat kekal dan bersih, bebas dari bahan-bahan yang
merusak, umpamanya yang bentuk atau kwalitasnya bertentangan dan
mempengaruhi kekuatan atau kekalnya konstruksi beton pada setiap umur,
termasuk daya tahannya terhadap karat dari tulangan besi beton. Agregat
43 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Pasir Beton.
Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan-bahan
organik, lumpur dan sebagainya dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam PBI 1971.
Koral Beton/Split.
Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta mempunyai
gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat PBI 1971.
Penyimpanan/penimbunan pasir dan koral beton harus dipisahkan satu
dengan yang lain, hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut tidak
tercampur untuk mendapatkan adukan beton yang tepat.
2. A i r.
Air untuk adukan dan perawatan beton harus bersih, bebas dari bahan-bahan
yang merusak atau campuran-campuran yang mempengaruhi daya lekat semen
dan dilakukan pengujian air/laboratorium test.
3. Bahan Tambahan.
4. Baja Tulangan.
a. Jenis penulangan.
Batang tulangan besi beton terdiri dari BJTD-39 dan BJTP-24, bahan tersebut
dalam segala hal harus memenuhi ketentuan-ketentuan PBI 1971, standar
Jepang kelas SR - 24 atau British Standard Nomor 785 - 1938. Grade yang
dipergunakan adalah ST-37 dengan kategori, BJTP 24 yang sesuai dengan
tabeì 3.7.1. PBI 1971.
b. Penyimpanan.
Tulangan besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak
boleh disimpan diudara terbuka untuk jangka waktu yang panjang.
c. Pemasangan.
Sebelum beton dicor, tulangan besi beton harus bebas dari minyak, kotoran,
cat, karat, lepas, kulit giling atau bahan-bahan lain yang merusak. Semua
tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat sehingga tidak dapat
berubah atau begeser pada waktu adukan ditumbuk-tumbuk atau dipadatkan.
Tulangan besi beton dan penutup beton tingginya harus tepat, dengan
44 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
d. Pengujian (testing).
Pada umumnya pengujian untuk tulangan besi beton dilakukan sesuai dengan
PBI 1971 yaitu yang mempunyai kekuatan leleh minimaì 370° kg/cm2. Jika
besi beton tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum di
dalam Uraian dan Syarat-syarat yang tercantum dalam pengujian, maka
kelompok yang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak boleh dipakai dan
pemborong harus menyingkirkannya dari tempat pekerjaan.
e. Selimut Beton.
5. Cetakan (bekisting).
a. B a h a n.
Bekisting harus dipakai multipleks 12 mm dan kayu klas II yang cukup kering
dan sesuai dengan finishing yang diminta menurut bentuk, garis ketinggian
dan dimensi dari beton sebagaimana diperlihatkan dalam gambar arsitektur.
Bekisting harus cukup untuk menahan getaran vibrator atau kejutan-kejutan
lain yang diterima, tanpa berubah bentuk. Cetakan harus dibuat dari papan-
papan yang bermutu baik atau plywood :
Untuk beton tidak diexposed dipakai kayu terentang tebal minimum 2,5
cm.
Untuk beton exposed dipakai multiplek, fibre glass atau bahan lain yang
tidak reaktif terhadap beton.
Tebalnya tergantung dari kwalitas dan jarak rangka penguat cetakan tersebut.
b. Konstruksi.
Cetakan harus dibuat dan disangga sedemikian rupa hingga dapat menahan
getaran yang merusak atau lengkung akibat tekanan adukan beton yang cair
atau sudah padat. Cetakan harus dibuat sedemikian rupa hingga
mempermudah penumbukan-penumbukan untuk memadatkan pengecoran
tanpa merusak konstruksi. Acuan harus rapat tidak bocor, permukaannya licin,
bebas dari kotoran-kotoran seperti tahi gergaji, potongan-potongan kayu,
45 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
d. U k u r a n.
Semua ukuran cetakan harus tepat sesuai dengan gambar arsitektur dan
sama disemua tempat untuk bentuk dan ukuran tiang yang dikehendaki sama.
e. Kawat Pengikat.
Kawat pengikat besi beton/rangka dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh
seng, dengan diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat
pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam NI-2 (PBI tahun 1971).
f. Pelapis Cetakan.
2. Pekerjaan meliputi pekerjaan struktur, pile cap (poer), sloof, kolom, balok, dan
pelat
a. Cetakan (bekisting) untuk beton telanjang (bila ada) dari plywood dengan tebal
minimum 12 mm, bermutu baik yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Fibre glass atau bahan lain yang tidak reaktif terhadap beton sedangkan untuk
46 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
beton biasa bisa dipakai cetakan dari papan klas II tebaì 2,5 - 3 cm lebar 20
cm.
b. Semua sudut terbuka yang runcing dari kolom atau balok harus dibulatkan
(dihaluskan 1,5 cm).
d. Segala cacat pada permukaan beton yang telah dicor, harus diplester dengan
campuran perekat sedemikian rupa sehingga sesuai warna tekstur dan
bentuknya dengan permukaan yang berdekatan. Untuk beton exposed harus
dihindari adanya cacat permukaan.
e. Ukuran keseluruhan untuk kusen-kusen pintu dan jendela, harus diambil dari
pekerjaan untuk menjamin ketepatan antara pekerjaan konstruksi beton dan
ukuran pintu, jendela.
Toleransi.
Posisi masing-masing bagian konstruksi harus tepat dalam batas toleransi 1 cm,
toleransi ini tidak boleh bertambah-tambah (kumulatif). Ukuran-ukuran masing-
masing bagian harus seksama dalam -0,3 dan +0,5 cm.
Pengangkutan Adukan
Sebelum beton dicor, semua kotoran dan benda-benda lepas harus dibuang dari
cetakan. Permukaan cetakan dan pasangan-pasangan dinding yang akan
berhubungan dengan beton, harus dibasahi dengan air sebelum dicor.
Pengecoran.
47 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama 3 x 24 jam
setelah pengecoran. Beton harus dilindungi dari kemungkinan cacat yang
diakibatkan dari pekerjaan-pekerjaan lain. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor
diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan,
seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pengecoran ke
dalam cetakan harus selesai sebelum adukan mulai mengental, yang dalam
keadaan normal biasanya dalam waktu 30 menit. Pengecoran suatu unit atau
bagian dari pekerjaan harus dilanjutkan tanpa berhenti dan tidak boleh terputus
tanpa persetujuan Konsultan Pengawas.
Pemadatan beton.
Adukan harus dipadatkan dengan baik dengan memakai alat penggetar (vibrator)
yang berfrekwensi dalam adukan paling sedikit 3000 getaran dalaím 1 menit.
Penggetar harus dimulai pada waktu adukan ditaruh dan dilanjutkan dengan
adukan berikutnya. Dalam cetakan yang vertikal, vibrator harus dekat dengan
cetakan, tapi tidak boleh menyentuhnya sehingga dihasilkan suatu permukaan
beton yang baik. Tidak boleh menggetarkan suatu bagian adukan, lebih dari 24
detik. Penggetaran tidak boleh dilakukan langsung menembus tulangan
kebagian-bagian adukan yang sudah mengeras.
Perawatan.
Untuk melindungi beton yang baru dicor dari cahaya matahari angin dan hujan,
sampai beton itu mengeras dengan baik dan untuk mencegah pengeringan terlalu
cepat, harus diambil tindakan-tindakan sebagai berikut :
a. Semua cetakan yang sudah diisi adukan beton harus dibasahi terus menerus
sampai cetakan itu dibongkar.
Pembongkaran Cetakan.
Cetakan tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai satu kekuatan khusus
yang cukup untuk memikul 2 kali beban sendiri. Bilamana akibat pembongkaran
cetakan, pada bagian konstruksi akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi
daripada beban rencana, maka cetakan tidak boleh dibongkar selama keadaan
tersebut tetap berlangsung. Perlu ditentukan bahwa tanggung jawab atau
48 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
b. Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk atau profil yang
direncanakan atau posisinya tidak seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus, atau rata seperti yang direncanakan.
a. Untuk mencapai mutu beton K-225 sesuai dengan PBI 1971, Pemborong
harus melakukan percobaan-percobaan membuat design mix campuran-
campuran sedemikian rupa sehingga untuk kubus beton berukuran 15 x 15 x
15 cm, pada umur 28 hari, harus mempunyai kekuatan hancur karakteristik
minimal 300 kg/cm2, bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan-bahan
yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan beton struktur. Kubus
percobaan harus dibuat minimal 1 buah dalam 5 m3 beton, dan dibuat paling
sedikit dalam 3 proses pengadukan yang tidak bersamaan waktunya.
Reference pasaì 4.6. PBI 1971.
b. Setiap hari pengecoran harus diambil contoh uji (sampling) paling sedikit tiga
buah kubus percobaan yang waktu pengambilannya sepenuhnya ditentukan
oleh Konsultan Pengawas. Pengetesan kubus percobaan tersebut hanya boleh
dilakukan dilembaga-lembaga Penelitian Bahan Bangunan Resmi yang
disetujui oleh Konsultan Konsultan Pengawas. Analisá kekuatan berdasarkan
pada rumus-rumus statistik sebagaimana tertera dalam PBI 1971, pasaì 46.
ayat 1 s/d 5. Biaya pengetesan termasuk dalam penawaran Pemborong atau
tanggung jawab Kontraktor.
49 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
8.1. UMUM
Standart
50 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
c. American Welding Society (AWS Dl.0-69: code for Building Construction) - bahan-
bahan las.
4. ASTM A 153 -71 link Coating ( hot dip) on Iron and Steel Hardware
6. ASTM A 325-71a High strength Bolt for Structure steel Joint, Include Suitable
Nuts and Plain Hardware washer
7. ASTM A 370
8. ASTM A 490-71, Quenched and Tempered Alloy Steel Bolt for Structural
Steel joints
8.2. BAHAN
a. Penutup atap
- Untuk sambungan bukan baja ke baja, harus dari : baja karbon yang
memcnuhi ASTM A370 dan telah digalvanis.
51 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
ASTM AI53. Baut dan mur yang tidak terlapis (unfinished) harus memenuhi
ASTM A307 dengan type baut segi enam (hexagon holt type).
c. Bahan las
d. Pemasangan
1. Kecuali ditentukan dalam gambar, pemasangan penutup atap ini harus sesuai
dengan prosedur yang dikeluarkan dan diketaui oleh pengawas
52 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
1. Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja
dan Syarat – syarat ( RKS ) ini, berlaku dan mengikat ketentuan – ketentuan
dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
a. KEPPRES 16/1994 dengan lampiran – lampirannya,
b. Peraturan Umum tentang pelaksanaan Pembangunan Di Indonesia atau
algemene voorwaarden voor de uitvoering bij aaneming van open bare werken (
AV ) 1941,
c. Keputusan – keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbritase Teknik dari
Dewan Teknik Pembangunan Indonesia ( DTPI ),
d. Peraturan Umum Dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja,
e. Peraturan Umum Bangunan Indonesia ( NI – 03 ),
f. Peraturan dan ketentuan – ketentuan lain yang dikeluarkan oleh jawatan /
instansi pemerintah setempat, yang bersangkutan dengan permasalahan
bangunan, yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan,
2. Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat
pula :
a. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan / disetujui oleh pengawas.
b. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan ( aanwijzing ).
d. Berita Acara Penunjukkan.
e. Surat Keputusan Pemberi Tugas tentang Penunjukkan Kontraktor.
f. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
g. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
h. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
i. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
j. Berita Acara / Surat – surat Klarifikasi Tender.
k. Notulensi rapat berkala.
l. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
2.1. PEKERJAAN DAN PENYEDIAAN AIR DAN DAYA LISTRIK UNTUK BEKERJA
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan menyambung pipa
kesumur yang ada di proyek atau disupplay dari luar. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak atau bahan – bahan kimia lainnya yang merusak.
Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan dari Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan
PLN setempat selama masa pembangunan. Penggunaan diesel untuk pembangkit
tenaga listrik diperkenankan untuk penggunaan sementara atas persetujuan
pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk mensupplay kantor Pengawas.
53 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
54 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
fixture dan pipa yang memiliki tanda merk tersebut diatas harus diganti atas
tanggung jawab Kontraktor. Dan semua bahan dan peralatan sebelum dipasang
harus mendapat persetujuan dari Pengawas.
c. Pipa – pipa drainase dan vent yang dipasang pada alat plumbing dan semua
fittingnya menggunakan PVC kelas AW produksi Maspion dan dengan tekanan kerja
minimum 5kg/cm2 . begitu juga dengan peralatan sambungan dari produk yang
sama.
d. Pompa utama ( pompa pendorong / pengisi ) menggunakan merk Grundfos. Motor
listrik untuk penggerak pompa tersebut haruslah dari produksi pabrik yang sama atau
paling sedikit dinyatakan dalam rekomendasi oleh pabrik yang bersangkutan.
e. Pompa tersebut selain bekerja secara otomatis juga harus dapat dioperasikan secara
manual.
2. Referensi
Syarat penerimaan bahan dan peralatan untuk dilaksankan, cara – cara
pemasangan, dan kualitas pengerjaan harus sesuai dengan standard yang wajar
berlaku dan disesuaikan dengan Sistem Plumbing 2000.
Tabel penggantung :
55 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
1. 40mm 1 meter
2. 50mm 1,2 meter
3. 65 – 125mm 1,5 meter
e. Pengeleman pipa – pipa PVC harus dilakukan setelah ujung – ujung pipa dibersihkan
bagian luar dan dalamnya, sehingga bersih dari semua kotoran dan minyak. Lem
yang dipakai merupakan lem yang mendapat rekomendasi dari pabrik pembuat pipa,
misalnya isarplast dan super glue.
f. Galian – galian pipa dalam tanah harus dibuat dengan kedalaman dan kemiringan 1
%.
g. Pipa – pipa air bersih dan pipa – pipa pembuangan air kotor, tidak boleh diletakkan
dalam satu lubang yang sama.
h. Setelah pipa terpasang pada lubang yang disetujui, maka semua kotoran harus
dibuang dalam lubang galian tersebut. Semua bahan penimbun harus bebas dari
sampah dan batu – batu besar.
4. Pengujian.
a. Persyaratan umum.
Pengujian tekanan dilakukan setelah pipa terpasang sempurna beserta
kelengkapannya ( bukan fixturenya ). Pengujian dilakukan perbagian atau secara
keseluruhan. Manometer yang dipakai untuk pengujian harus memiliki diameter 15cm
dan mampu menunjukkan hingga ketelitian 0,1 bar.
b. Pelaksanaan pengetesan.
Instalasi pipa air bersih harus dideteksi terhadap adanya kebocoran dengan tekanan
1,5 x tekanan kerja maksimum sama dengan 8kg cm2 selama 6 jam tanpa adanya
penurunan tekanan pada preasure gauge. Seluruh valve pada bagian out harus
ditutup. Bila ada kebocoran, harus segera diperbaiki dengan biaya ditanggung oleh
Kontraktor termasuk biaya pengetesan.
c. Desinfeksi
- Kontraktor harus melakukan pembilasan desinfektan dari seluruh instalasi air,
sebelum diserahkan kepada pemberi tugas.
- Desinfesi dilakukan dengan memasukkan larutan chlorida kedalam system
pemipaan, dengan cara / metode yang disetujui pengawas. Dos clhorine tidak
kurang dari 50ppm ( part per million ) selama sedikitnya 16 jam. Pekerjaan ini
harus disaksikan oleh pengawas. Setelah mencapai 16 jam maka seluruh system
pemipaan harus dibilas air bersih sehingga kadar cholorine tidak lebih dari 0,2
mm.
56 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
V. PEKERJAAN ELEKTRIKAL
1. PERATURAN PEMASANGAN
Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan – peraturan yang berlaku
sebagai berikut :
1. PUIL edisi 1987 dan edisi 2000
2. AVE, DIN dan IEC
3. Peraturan lainnya yang dikeluarkan instalasi daerah dimana lokasi proyek berada.
Pekerjaan instalasi ini harus dilaksanakan oleh perusahaan yang memiliki Surat
Ijin Instalasi ( SIKA ) kelas C yang masih berlaku, mempunyai reputasi yang baik
dan mempunyai pekerja – pekerja yang cakap dan berpengalaman dalam
bidangnya.
2. GAMBAR – GAMBAR
Gambar – gambar rencana dan persyaratan ini merupakan satu kesatuan yang saling
melengkapi dan sama mengikatnya. Gambar – gambar system ini menunjukkan secara
umum tata letak dari peralatan, sedangkan pemasangan harus dikerjakan dengan
memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada dan mempertimbangkan juga kemudahan
service / maintenance jika peralatan – peralatan sudah dioperasikan.
Gambar – gambar arsitek dan struktur sipil harus dipakai sebagai referensi untuk
pelaksanaan dan detail finishing instalasi.
Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjukkan dalam
gambar atau sebaliknya harus dipasang atas beban Kontraktor seperti pekerjaan lain yang
disebutkan oleh spesifikasi dan ditunjukkan oleh gambar.
Setelah persetujuan, dalam hal ini daftar spesifikasi material diajukan, Kontraktor diharuskan
menyerahkan shop drawing untuk disetujui oleh Pemilik .
Shop drawing harus termasuk catalog data dari pabriknya, literature mengenai diagram
pengkabelan, data ukuran dimensi, data pembuatan dan nama serta alamat terdekat dari
perusahaan yang member / pelayanan pemeliharaan dan mempunyai suku cadang yang
ready stock. Shop Drawing harus diberi catatan dari Kontraktor yang menyatakan bahwa apa
yang dianjurkan sudah sesuai dengan spesifikasi dan kondisi ruangan yang disediakan. Data
untuk setiap system harus menunjukkan pemasangan yang lengkap dari seluruh koordinasi
komponen untuk peninjauan keseluruhan yang sebenarnya dari keseluruhan system,
penyerahan sebagian – sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar shop drawing harus dibuat
3 ( tiga ) set.
Kontraktor instalasi ini harus membuat gambar – gambar instalasi terpasang ( as buid
drawing ) yang disertai dengan operating manual dan Maintenance Instruction serta harus
diserahkan kepada Direksi pada saat penyerahan pertama dalam rangkap 3 ( tiga ) dijilid
serta dilengkapi dengan daftar isi dan data notasi.
3. DAFTAR BAHAN DAN CONTOH
Sebelum pekerjaan belum dimulai Kontraktor harus menyerahkan bahan – bahan dan brosur
– brosur yang dipakai. Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan – bahan yang dipakai
sebelum bahan tersebut dipasang dan semua biaya untuk contoh tersebut adalah
tanggungan Kontraktor. Kontraktor diwajibkan untuk recheck atas segala ukuran – ukuran /
kapasitas equipment yang akan dipasang dalam hal terjadi keragu – raguan segera
memberitahukan kepada Pengawas. Pemilihan ukuran dan kapasitas equipment yang salah
akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
57 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
4. KOORDINASI
Kontraktor instalasi ini hendaknya bekerja sama dengan Kontraktor pekerjaan lainnya, agar
seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
Koordinasi yang baik perlu ada, agar instalasi yang satu tidak menghalangi kemajuan
instalasi yang lain. Apabila pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka
semua akibatnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
5. PELAKSANAAN PEMASANGAN
Pemborong harus mengadakan pemeriksaan ulang atas segala ukuran dan kapasitas
peralatan yang akan dipasang. Apabila ada sesuatu yang diragukan, pemborong harus
segera menghubungi konsultan Pengawas. Pengambilan ukuran dan pemilihan kapasitas
yang salah akan menjadi tanggung jawab pemborong.
6. TESTING DAN COMMISIONING
Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus melakukan testing dan pengukuran – pengukuran
yang dianggap perlu untuk memeriksa / mengetahui apakah seluruh instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan memenuhi persyaratan. Kontraktor harus melakukan seluruh
pengetesan seperti disebutkan dan harus melakukan percobaan seperti operasi
sesungguhnya secara tepat dari seluruh system. Peralatan, material dan cara bekerjanya
peralatan yang mengalami kerusakan / cacat / salah harus diganti / dibetulkan dan
percobaan diulangi untuk operasi secara sebenarnya / normal / benar. Seluruh pengkabelan,
instalasi dan peralatan harus dicheck dan dites oleh PLN untuk mendapatkan instalasi Keur.
Kontraktor harus bertanggung jawab untuk memperoleh persetujuan PLN bagi pemasangan
system jaringan listrik dan seluruh biaya ditanggung oleh Kontraktor. Semua tenaga, bahan
dan perlengkapan yang diperlukan untuk testing tersebut tanggung jawab Kontraktor.
7. PENAMBAHAN / PENGURANGAN / PERUBAHAN INSTALASI
Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan, harus mendapatkan persetujuan tertulis dahulu dari pihak pengawas. Kontraktor
instalasi ini harus menyerahkan setiap gambar perubahan yang ada kepada pihak pengawas
dalam rangkap 3 (tiga).
Perubahan material, dan lain – lainnya, harus diajukan oleh Kontraktor kepada pengawas,
secara tertulis dan pekerjaan tambah / kurang / perubahan yang ada harus disetujui oleh
pengawas secara tertulis.
8. IJIN – IJIN
Pengurusan ijin – ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini serta seluruh biaya
yang diperlukan nya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
9. PEMBOBOKAN, PENGELASAN, DAN PENGEBORAN
Pembobokan tembok, lantai dan sebagainya yang diperlukan dalam pelaksanaan instalasi
serta mengembalikannya kekondisi semula, menjadi lingkup pekerjaan instalasi ini.
Pembobokan, pengelasan, pengecoran hanya dapat dilaksanakan apabila ada persetujuan
dari pihak Pengawas secara tertulis.
58 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
2. PRINSIP DESAIN
1. Prinsip Supplay Listrik
Catu daya utama adalah PLN Genset berfungsi sebagai banc up apabila PLN
mengalami gangguan atau daya PLN tidak mencukupi untuk menanggung beban
pada saat tertentu. Pemilihan beban yang disupplay oleh PLN atau Genset
menggunakan change over switch ( secomec ). Supplay antara PLN dan
Genset terpisah secara listrik dengan menggunakan change over switch 4 pole.
2. Proteksi
Untuk proteksi, system listrik dilengkapi dengan proteksi hubung singkat di panel
penerangan, proteksi terhadap overload dan hubung singkat panel – panel daya,
kecuali ditunjukkan lain pada gambar. Semua bagian metal dari peralatan listrik
harus dihubungkan ketanah ( grounded / diketanahkan ). Untuk system
pentanahan ruang panel, kabel pentanahan harus berhubungan secara loop
dengan menggunakan tembaga strip.
3. Pentanahan
Pentanahan netral harus terpisah dengan pentanahan pengaman. Tahanan
maksimum untuk pentanahan adalah 1 Ohm.
3. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN
1. Panel Tegangan Rendah
Panel Tegangan Rendah harus mengikuti peraturan IEC dan PUIL serta mengikuti
VDE / DIN. Kontruksi dalam panel – panel serta tata letak dari komponen –
komponen dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga perlu
dilaksanakan perbaikan – perbaikan, penyambungan – penyambungan pada
komponen – komponen dapat mudah dilaksanakan tanpa mengganggu komponen
lainnya.
Setiap panel harus mempunyai 5 busbar coper terdiri dari 3 busbar phase R-S-T, 1
busbar netral dan 1 busbar pengaman ( grounding ). Besarnya busbar tersebut
harus diperhitungkan untuk besar arus yang akan mengalir dalam busbar tersebut
tanpa menyebabkan kenaikan suhu yang lebih 65°C. setiap busbar harus diberi
warna sesuai peraturan PLN, lapisan yang dipergunakan untuk member warna
busbar dan saluran harus dari jenis yang tahan tehadap kenaikan suhu yang
diperbolehkan.
Komponen breaker MCB atau MCCB adalah ex Merlin Gerin atau setara. Untuk
komponen pada panel MDP memakai MCCB dengan type N . breaking capasity
dari breaker harus dihitung dari system atau sesuai dengan gambar rencana.
Setelah Thermis dari MCB harus diperhitungkan sehingga kontinyuitas dan
keandalan dari system dapat tercapai secara maksimum. Alat ukur yang
dipergunakan adalah jenis semi flush mounted dalam kotak tahan getaran, untuk
Amperemeter dan Voltmeter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan skala linier dan
ketelitian 1% dan bebas dari pengaruh induksi. Ukuran dari tiap – tiap unit panel
harus disesuaikan dengan keadaan. Penempatan panel – panel harus
memperhatikan dengan arsitekture bangunan dan tidak mengganggu instalais yang
lain.
Pintu panel dilengkapi dengan lampu indicator.
2. Box panel
Semua box panel harus dibuat dari plat besi dengan tebal minimum 2mm , box
panel harus mempunyai ukuran yang proposional seperti yang dipersyaratkan
untuk panel board, dimana ukurannya sesuai dengan gambar rencana atau
menurut kebutuhan sehingga untuk jumlah dan ukuran yang dipakai tidak terlalu
sesak serta tidak mengganggu dari arsitektural dan instalasi lain. Cat yang
dipergunakan adalah dengan system powder coating. Penempatan MCB / MCCB
pada masing – masing panel tidak boleh saling berdekatan, sehingga memudahkan
penggantian / maintenance pada panel tanpa harus mematikan panel secara
keseluruhan. Kontraktor harus mengajukan Shop Drawing penempatan MCB /
MCCB masing – masing panel untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas atau
pemilik.
Frame / rangka panel harus digrounding / diketanahkan pada cabinet harus ada
cara – cara yang baik untuk memasang, mendukung dan menyetel “ Panel board ”
serta tutupnya.
59 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Setiap box harus dilengkapi dengan kunci – kunci. Untuk satu Box harus
disediakan 2 buah anak kunci, dengan system master key yang harus mendapat
persetujuan dahulu dari pengawas.
3. Busbar / Rel
Rel minimal harus dari tembaga dengan ukuran yang sesuai dengan kemampuan
arus 150% dari arus beban terpasang yang ukurannya disesuaikan dengan aturan
PUIL 1987.
Harus tahan terhadap gaya elektromekanikal akibat hubungan singkat. Semua rel
harus dicat sesuai urutan phase menurut ketentuan PUIL 1987 dan dipegang oleh
isolator kerangka panel. Cat – cat tersebut harus tahan sampai temperature 75°C.
Ukuran kelima rel adalah sama. Rel netral terpasang pada rangka panel dengan
dudukan isolasi.
Antara Rel R-S-T-N dari PLN dengan rel R-S-T-N dari genset harus terpisah
dengan menggunakan dudukan isolasi.
4. PENGETANAHAN
a. Panel harus dilengkapi dengan busbar pentanahan ( grounding ) dari bahan
tembaga dan diberi cat kuning hijau kecuali untuk tempat – tempat terminal feeder
seperti tersebut pada butir diatas.
b. Rangka panel harus terhubung secara elektris dengan rel pentanahan dan
diketanahkan melalui electrode pentanahan atau cara pentanahan lainnya.
c. Rel pentanahan dihubungkan secara terpisah dengan menggunakan strip tembaga.
d. Perletakan rel pentanahan ini disesuaikan dengan memperhitungkan terhadap arah
masuknya kabel – kabel feeder.
e. Tahanan pentanahan maximum 1 ohm ( groun rod harus terbuat dari cooper
dengan diameter 5/8 dan panjang 6m atau lebih, serta ditanamkan kedalam tanah
).
f. Apabila tidak tercapai keadaan dibawah 1 ohm, maka harus diusahakan dengan
mempararelkan beberapa groun rod hingga tercapai keadaan yang diijinkan.
g. Pada cooper rod harus dibuat bak pemeriksaan sambungan dari down conductor
ke elektroda pentanahan yang harus dapat dibuka guna keperluan pemeriksaan.
5. Ukuran dan Perletakan
Sekalipun sudah disebutkan ukuran – ukuran tertentu setiap panel dan pemasangan
peralatannya, maka tetap menjadi kewajiban pemborong didalam pembuatan panel ini untuk
memperhatikan letak dan peralatan serta terminal – terminal untuk hubungan ke feeder –
feeder sehingga dijamin keluasan gerak feeder tersebut. Ketegasan ukuran – ukuran dan
kelengkapan peralatan ini perlu diperinci pada waktu pengajuan Shop Drawing.
6. Tanda – tanda / Label – label
Untuk setiap switch / circuit breaker maka didekatnya secara jelas harus dipasang tanda /
label dimana tertera arah / tujuan keluar atu masuk kabel yang dilayani oleh switch tersebut.
7. Hubung ke Peralatan
Hubungan dari rel utama peralatan / switch dan lain – lain harus menggunakan bahan dan
cara sedemikian rupa, sehingga dapat dicegah terjadinya kemungkinan hubung singkat
didalam panel. Hubungan yang menggunkan “ cooper strip “ maka harus diberi lapisan
isolasi dengan warna fase yang sesuai. Hubungan yang menggunakan kabel berisolasi,
maka antara masing – masing fase / kabel ini pada pemasangannya haruslah diberi jarak
dengan cara tertentu atau menggunakan ‘space’ dari bahan PVC / isolasi.
8. Tutup pengaman
Kontruksi panel harus sedemikian rupa dimana harus dilengkapi dengan tutup pengaman
sedemikian rupa sehingga pada keadaan pintu panel terbuka maka tidak boleh ada bagian
yang bertegangan ( seperti busbar, terminal dan lain - lain ) yang dapat terjamah atau
tersentuh.
9. Capasitor Bank
Capasitor yang dipergunakan adalah type standart. Sebagai pemutus dipergunakan MCB /
MCCB yang direkomendasi oleh pabrik untuk Capasitor, sedangkan kontraktor sebagai
switching mempunyai rating 1,42 x arus nominal capasitor dalam klasifikasi AC 3. Capasitor
bank dapat dioperasikan secara manual / automatic.
60 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
Kabel – kabel yang dipakai harus dapat dipergunakan untuk tegangan minimal 0,6 KV. Untuk
kabel stop kontak dan penerangan memakai kabel NYM dengan luas penampang minimum 2,5
mm2.
Kabel – kabel untuk instalasi daya dan feeder memakai jenis NYY atau NYFGBY.
Semua kabel feeder bebas sambungan, dan sebelum dipasang kabel dan peralatan bantu lainnya
harus demerger dengan disaksikan pengawas.
Untuk instalasi penerangan yang membutuhkan adanya sambungan kabel, sambungan harus
dilakukan didalam kotak sambungan yang khusus diperuntukkan untuk instalasi listrik. Semua
sambungan harus diberi lasdop dengan baik, lasdop yang dipakai ex 3M.
Semua kabel instalasi penerangan dan stop kontak harus dimasukkan pipa sparring PVC ex
Clipsal.
Secara umum perletakan kabel instalasi adalah tidak tampak secara langsung oleh mata ( diatas
plafon / didalam tembok ). Standart kualitas yang dipakai adalah Supreme/Unitomo. Semua kabel
yang keluar atau masuk panel harus menggunakan kabel gland.
5.6. GROUNDING
Electrode pentanahan untuk grounding dipergunakan tembaga massif yang dipasang seperti
pada gambar rencana. Electrode pentanahan ditanam dalam tanah sedalam 6 meter atau
sampai menyentuh permukaan air tanah dan besar / nilai tahanan pentanahan maksimum 1
Ohm.
Apabila tidak dicapai tahanan pentanahan maximal 1 Ohm untuk satu terminal electrode maka
harus dicari cara lain agar persyaratan tersebut dapat dicapai misalnya dengan jalan
memperbanyak jumlah electrode pentanahannya. Ataupun cara – cara lain yang disebut dala
PUIL 1987.
Kawat pentanahan tidak diperkenankan adanya sambungan, apabila terpaksa harus ada
sambungan maka harus dilakukan didalam bak control.
Bila tidak disebutkan lain pada spesifikasi teknis ini ataupun pada gambar, maka hal – hal
khusus lainnya mengenai system dan cara pentanahan harus dilakukan mengikuti aturan PUIL
1987.
61 | P a g e
RENCANA KERJA DAN SYARAT
62 | P a g e