Sakit
Selasa, 11 Oktober 2016
PENGENDALIAN RESIKO BAHAYA DI RUMAH SAKIT
PENGENDALIAN RESIKO BAHAYA DI RUMAH SAKIT
(Materi 5 Pelatihan Wajib Bagi Karyawan Rumah Sakit tahun 2016)
RUWANTO,[Link]
Unit Kesehatan dan Keselamatan Kerja RSUP dr Sardjito – Yogyakarta
Latar Belakang
Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat, tuntutan
pengelolaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di rumah sakit semakin
tinggi. Tenaga kerja di rumah sakit, pasien, pengunjung, pengantar pasien, peserta didik dan masyarakat
disekitar rumah sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja,
baik karena dampak kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana di
rumah sakit yang tidak standar.
Agar dapat tercipta sistem manajemen K3 yang baik, dibutuhkan sumber daya manusia yang
mempunyai kompetensi yang baik pula terutama untuk mendeteksi dan menangani risiko bahaya yang
ada di lingkungan rumah sakit. Untuk dapat mencapai hal tersebut karyawan rumah sakit harus
mengetahui jenis-jenis resiko bahaya di rumah sakit dan cara pengendaliannya, sehingga rumah sakit
yang aman bagi tenaga kerja, pasien, pengunjung, pengantar pasien, peserta didik dan masyarakat di
sekitar rumah sakit dapat terwujud.
Tujuan
1. Peserta pelatihan mampu mengenal resiko bahaya yang ada di rumah sakit.
2. Peserta pelatihan mampu mengidentifikasi resiko bahaya yang ada di satuan kerja masing-masing.
3. Peserta pelatihan mampu mengenal sistem pengendalian resiko bahaya yang sudah dilakukan di rumah
sakit khususnya di satuan kerja masing-masing.
4. Peserta pelatihan mampu mengikuti prosedur pengendalian resiko bahaya dan menerapkan kepada
pengunjung, keluarga pasien dan peserta didik yang ada di lingkungan rumah sakit.
Metode
Pelatihan ini menggunakan metode: ceramah dan tanya jawab.
Materi Pelatihan
1. PENDAHULUAN
Resiko bahaya di rumah sakit yang disebabkan oleh faktor biologi, fisik, kimia, fisiologi/ergonomi
dan psikologi dapat menyebabkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja bagi pekerja, pengunjung,
pasien dan masyarakat disekitar lingkungan rumah sakit. Pekerja rumah sakit memiliki resiko kerja yang
lebih tinggi dibanding pekerja industri lain sehingga resiko bahaya tersebut harus dikendalikan.
Salah satu upaya pengendalian adalah dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh pekerja
rumah sakit tentang resiko bahaya tersebut sehingga seluruh pekerja mampu mengenal resiko bahaya
tersebut. Dengan mengenal resiko bahaya diharapkan pekerja mampu mengidentifikasi resiko bahaya
yang ada disatuan kerjanya dan mengetahui upaya pengendalian resiko bahaya yang sudah dilakukan
oleh rumah sakit sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap sistem pengendalian resiko
bahaya yang sudah dilakukan.
2. RESIKO BAHAYA DI RUMAH SAKIT.
Resiko bahaya di rumah sakit tidak semuanya akan nampak kalau kita tidak dapat mengenalinya,
terutama resiko bahaya biologi, karena keberadaan micro organisme patogen tidaklah nampak seperti
resiko bahaya fisik atau kimia. Akan tetapi dampak dari resiko bahaya biologi di rumah sakit jika tidak
dikendalikan, maka dapat berdampak serius baik terhadap kesehatan maupun terhadap keselamatan
pekerja dan pengunjung serta masyarakat disekitar rumah sakit.
Secara umum resiko bahaya di rumah sakit dapat dikelompokkan dalam 5 kelompok sebagai
berikut;
a. Resiko Bahaya Fisik
Resiko bahaya fisik dikelompokkan lagi dalam 7 resiko bahaya fisik antara lain:
1) Resiko bahaya mekanik
Resiko bahaya ini dapat dikelompokkan dalam 5 kelompok yaitu:
a) Benda-benda lancip, tajam dan panas dengan resiko bahaya tertusuk, terpotong, tergores, dan lain-
lain. Resiko bahaya ini termasuk salah satu yang paling sering menimbulkan kecelakaan kerja yaitu
tertusuk jarum suntik / jarum jahit bekas pasien. Resiko bahaya ini sebenarnya bukan hanya resiko
bahaya fisik karena dimungkinkan jarum bekas yang menusuk tersebut terkontaminasi dengan kuman
dari pasien. Mengingat bahaya akibat tertular penyakit tersebut cukup besar, maka harus ada prosedur
tindak lanjut paska tertusuk jarum yang akan dibahas dibagian lain dalam pelatihan ini.
b) Benda-benda bergerak yang dapat membentur. Seperti kita ketahui di rumah sakit banyak digunakan
kereta dorong untuk mengangkut pasien dan barang-barang logistik. Resiko yang dapat muncul adalah
pasien jatuh dari brankart/ tempat tidur, terjepit / tertabrak kereta dorong, dan lain-lain.
c) Resiko terjepit, tertimbun dan tenggelam. Resiko ini dapat terjadi dimana saja meskiput kejadiannya
tidak terlalu sering. Hal-hal yang perlu diperhatikan terutama di ruang perawatan anak dan ruang
perawatan jiwa. Pastikan tidak ada pintu, jendela atau fasilitas lain yang memiliki resiko untuk
terjepit/tenggelam tersebut.
d) Resiko jatuh dari ketinggian yang sama; terpeleset, tersandung, dan lain-lain. Resiko ini terutama pada
lantai-lantai yang miring baik di koridor, ramp atau batas lantai dengan halaman. Pastikan area yang
beresiko licin sudah ditandai dan jika perlu pasanglah handriil atau pemasangan alat lantai anti licin serta
rambu peringatan “awas licin”.
e) Jatuh dari ketinggian berbeda. Resiko ini pada ruang perawatan anak dan jiwa. Selain itu perlu
diperhatikan pada pekerjaan konstruksi bangunan atau pembersihan kaca pada posisi yang cukup tinggi.
Jika pekerjaan dilakukan pada ketinggian lebih dari 2 meter sebaiknya pekerja tersebut menggunakan
abuk keselamatan. Pada ruang perawatan anak dan jiwa yang terletak di lantai atas pastikan jendela
yang ada sudah terpasang teralis pengaman dan anak-anak selalu dalam pengawasan orang dewasa
saat bermain.
2) Resiko bahaya radiasi
Resiko bahaya radiasi dapat dibedakan menjadi:
a) Bahaya radiasi pengion adalah radiasi elektromagnetik atau partikel yang mampu menghasilkan ion
langsung atau tidak langsung. Contoh di rumah sakit: di unit radiodiagnostik, radiotherapi dan kedokteran
nuklir.
b) Bahaya radiasi non pengion adalah Radiasi elektromagnetik dengan energi yang tidak cukup untuk
ionisasi, misal radiasi infra merah atau radiasi gelombang mikro.
Pengendalian resiko bahaya radiasi dilakukan untuk pekerja radiasi, peserta didik, pengunjung dan
pasien hamil. Pekerja radiasi harus sudah mendapatkan informasi tentang resiko bahaya radiasi dan cara
pengendaliannya. Selain APD yang baik, monitoring tingkat paparan radiasi dan kepatuhan petugas
dalam pengendalian bahaya radiasi merupakan hal yang penting. Sebagai indikator tingkat paparan,
semua pekerja radiasi harus memakai personal dosimetri untuk mengukur tingkat paparan radiasi yang
sudah diterima sehingga dapat dipantau dan tingkat paparan tidak boleh melebihi ambang batas yang
diijinkan. Untuk pengunjung dan pasien hamil hendaknya setiap ruang pemerikasaan atau therapy radiasi
terpasang rambu peringatan “Awas bahaya radiasi, bila hamil harus melapor kepada petugas”.
3) Resiko bahaya akibat kebisingan adalah kebisingan akibat alat kerja atau lingkungan kerja yang melebihi
ambang batas tertentu. Resiko ini mungkin berada di ruang boiler, generator listrik, dan peralatan yang
menggunakan alat-alat cukup besar dimana tingkat kebisingannya tidak dipantau dan dikendalikan.
Berdasar peraturan menteri kesehatan RI no 1204 tahun 2004 tentang pengendalian lingkungan fisik di
rumah sakit, seluruh area pelayanan pasien harus dipantau dan dikendalikan tingkat kebisingannya
minimal 3 bulan sekali.
Di rumah sakit pemantauan ini sudah dilakukan oleh ISLRS dan hasil temuan yang tidak memenuhi
persyaratan di analisa dan dikendalikan bersama IPSRS dan Unit K3 serta dilaporkan kepada
Manajemen rumah sakit.
4) Resiko bahaya akibat pencahayaan adalah pencahayaan pada lingkungan kerja yang kurang atau
berlebih. Tingkat pencahayaan diseluruh area rumah sakit juga telah dipantau dan dilaporkan seperti
resiko bahaya kebisingan tersebut. Hal yang harus diperhatikan adalah jika terjadi kerusakan lampu,
pastikan lampu pengganti setara tingkat pencahayaannya dengan lampu sebelumnya, sehingga tidak
terjadi perubahan dalam tingkat pencahayaan pada area tersebut.
5) Resiko bahaya listrik adalah bahaya dari konsleting listrik dan kesetrum arus listrik. Pengendalian yang
telah dilakukan adalah melakukan preventif maintenance seluruh peralatan elektrik yang dilakukan oleh
IPSRS. Kalibrasi peralatan medis dan penggantian peralatan yang telah out off date. Untuk mencegah
bahaya kebakaran akibat peralatan listrik yang dibawa peserta didik dan keluarga pasien dilakukan
sosialisasi kepada seluruh peserta didik pada saat orientasi dan untuk keluarga pasien informasi
diberikan pada saat pasien masuk rumah sakit khususnya pasien rawat inap.
6) Resiko bahaya akibat iklim kerja adalah berupa suhu ruangan dan tingkat kelembaban. Jika suhu dan
kelembaban di rumah sakit tidak dikendalikan dapat mempengaruhi lingkungan kerja dan kualitas hasil
kerja. Pemantauan secara berkala telah dilakukan oleh ISLRS dan jika ditemukan kondisi tidak
memenuhi peresyaratan akan dilakukan pengendalian oleh IPSRS, PPI, Unit K3RS dan ISLRS yang
dipimpin oleh Direktur Umum dan Operasional.
7) Resiko bahaya akibat getaran adalah resiko yang tidak banyak ditemukan di rumah sakit tetapi mungkin
masih ada terutama pada kedokteran gigi yang menggunakan bor dengan motor listrik dan pada bagian
housekeeping / rumah tangga yang menggunakan mesin pemotong rumput (bagian taman).
b. Resiko Bahaya Biologi
1) Resiko dari kuman-kuman patogen dari pasien (nosokomial). Resiko ini di rumah sakit sudah
dikendalikan oleh bagian Petugas Pemantau Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) berkoordinasi dengan Unit K3,
Instalasi Sanitasi Lingkungan RS (ISLRS) dan Satuan kerja pemberi pelayanan langsung kepada pasien.
2) Resiko dari binatang (tikus, kecoa, lalat, kucing, dan lain-lain). Resiko ini dikendalikan oleh ISLRS dan
harus didukung dengan housekeeping yang baik dari seluruh karyawan dan penghuni rumah sakit.
c. Resiko Bahaya Kimia
Resiko dari bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi yang meliputi:
1) Desinfektan yaitu bahan-bahan yang digunakan untuk dekontaminasi lingkungan dan peralatan di rumah
sakit seperti; mengepel lantai, desinfeksi peralatan dan permukaan peralatan dan ruangan, dan lain-lain.
2) Antiseptik yaitu bahan-bahan yang digunakan untuk cuci tangan dan mencuci permukaan kulit pasien
seperti alkohol, iodine povidone, dan lain-lain.
3) Detergen yaitu bahan-bahan yang digunakan untuk mencuci linen dan peralatan lainnya.
4) Reagen yaitu zat atau bahan yang dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium klinik dan
patologi anatomi.
5) Obat-obat sitotoksik yaitu obat-obatan yang dipergunakan untuk pengobatan pasien.
6) Gas medis yaitu gas yang dipergunakan untuk pengobatan dan bahan penunjang pengobatan pasien
seperti oksigen, karbon dioxide, nitrogen, nitrit oxide, nitrous oxide, dan lain-lain.
Pengendalian bahan kimia dilakukan oleh Unit K3RS berkoordinasi dengan seluruh satuan kerja.
Hal-hal yang perludiperhatikan adalah pengadaan B3, penyimpanan, pelabelan, pengemasan ulang
/repacking, pemanfaatan dan pembuangan limbahnya.
Pengadaan bahan beracun dan berbahaya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku di
Indonesia. Penyedia B3 wajib menyertakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data
Sheet / MSDS), petugas yang mengelola harus sudah mendapatkan pelatihan pengelolaan B3, serta
mempunyai prosedur penanganan tumpahan B3.
Penyimpanan B3 harus terpisah dengan bahan bukan B3, diletakkan diatas palet atau didalam
lemari B3, memiliki daftar B3 yang disimpan, tersedia MSDS, safety shower, APD sesuai resiko bahaya
dan Spill Kit untuk menangani tumpahan B3 serta tersedia prosedur penanganan Kecelakaan Kerja
akibat B3.
Pelabelan dan pengemasan ulang harus dilakukan oleh satruan kerja yang kompeten untuk
memjamin kualitas B3 dan keakuratan serta standar pelabelan. Dilarang melakukan pelabelan tanpa
kewenangan yang diberikan oleh pimpinan rumah sakit.
Pemanfaatan B3 oleh satuan kerja harus dipantau kadar paparan ke lingkungan serta kondisi
kesehatan pekerja. Pekerja pengelola B3 harus memiliki pelatihan teknis pengelolaan B3, jika belum
harus segera diusulkan sesuai prosedur yang berlaku.
Pembuangan limbah B3 cair harus dipastikan melalui saluran air kotor yang akan masuk ke
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Limbah B3 padat harus dibuang ke Tempat Pengumpulan
Sementara Limbah B3 (TPS B3), untuk selanjutnya diserahkan ke pihak pengolah limbah B3.
d. Resiko Bahaya Fisiologi / Ergonomi
Resiko ini terdapat pada hampir seluruh kegiatan di rumah sakit berupa kegiatan: angkat dan angkut,
posisi duduk, ketidak sesuaian antara peralatan kerja dan ukuran fisik pekerja. Pengendalian dilakukan
melalui sosialisasi secara berkala oleh Unit K3.
e. Resiko Bahaya Psikologi
Resiko ini juga dapat terjadi di seluruh rumah sakit berupa ketidak harmonisan hubungan antar manusia
didalam rumah sakit, baik sesama pekerja, pekerja dengan pelanggan, maupun pekerja dengan
pimpinan.
3. HIERARCHY PENGENDALIAN RESIKO BAHAYA
Resiko-resiko bahaya tersebut semua dapat kita kendalikan melalui 5 hierarchy sebagai berikut;
a. Eliminasi
Hirarki teratas yaitu eliminasi/menghilangkan bahaya dilakukan pada saat desain, tujuannya adalah untuk
menghilangkan kemungkinan kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena adanya
kekurangan pada desain. Penghilangan bahaya merupakan metode yang paling efektif sehingga tidak
hanya mengandalkan prilaku pekerja dalam menghindari resiko, namun demikian, penghapusan benar-
benar terhadap bahaya tidak selalu praktis dan ekonomis.
Contohnya: resiko bahaya kimia akibat proses reuse hollow fiber HD dapat di eliminasi ketika hollow fiber
tidak perlu reuse lagi atau single use.
b. Substitusi
Metode pengendalian ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses, operasi ataupun peralatan dari yang
berbahaya menjadi lebih tidak berbahaya. Dengan pengendalian ini menurunkan bahaya dan resiko
minimal melalui disain sistem ataupun desain ulang. Beberapa contoh aplikasi substitusi misalnya:
Sistem otomatisasi pada mesin untuk mengurangi interaksi mesin-mesin berbahaya dengan operator,
menggunakan bahan pembersih kimia yang kurang berbahaya, mengurangi kecepatan, kekuatan serta
arus listrik, mengganti bahan baku padat yang menimbulkan debu menjadi bahan yang cair atau basah.
c. Rekayasa / Enginering.
Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk memisahkan bahaya dengan pekerja serta
untuk mencegah terjadinya kesalahan manusia. Pengendalian ini terpasang dalam
suatu unit sistem mesin atau peralatan.
Contoh-contoh implementasi metode ini misal adalah sistem tekanan negatif pada
ruang perawatan air borne dissease, penggunaan laminar airflow, pemasangan
shield /sekat Pb pada pesawat fluoroscopy (X-Ray), dan lain-lain.
d. Administratif
Kontrol administratif ditujukan pengendalian dari sisi orang yang akan melakukan
pekerjaan. Dengan dikendalikan metode kerja diharapkan orang akan mematuhi,
memiliki kemampuan dan keahlian cukup untuk menyelesaikan pekerjaan secara aman.
Jenis pengendalian ini antara lain seleksi karyawan, adanya standar operasional
Prosedur (SOP), pelatihan, pengawasan, modifikasi perilaku, jadwal kerja, rotasi kerja,
pemeliharaan, manajemen perubahan, jadwal istirahat, dan lain-lain.
e. Alat pelindung diri (APD)
Pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri merupakan merupakan hal yang paling tidak efektif
dalam pengendalian bahaya. APD hanya dipergunakan oleh pekerja yang akan berhadapan langsung
dengan resiko bahaya dengan memperhatikan jarak dan waktu kontak dengan resiko bahaya tersebut.
Semakin jauh dengan resiko bahaya maka resiko yang didapat semakin kecil, begitu juga semakin
singkat kontak dengan resiko bahaya resiko yang didapat juga semakin kecil.
Penggunaan beberapa APD kadang memiliki dampak negatif pada pekerja seperti kurang leluasa
dalam bekerja, keterbatasan komunikasi dengan pekerja lain, alergi terhadap APD tertentu, dan lain-lain.
Beberpa pekeerja yang kurang faham terhadap dampak resiko bahaya dari pekerjaan yang dilakukan
kadang kepatuhan dalam penggunaan APD juga menjadi rendah. APD reuse memerlukan perawatan dan
penyimpanan yang baik sehingga kualitas perlindungan dari APD tersebut tetap optimal.
Hierarchy pengendalian resiko bahaya tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Hierarchy pengendalian resiko bahaya.
4. PENGENDALIAN RESIKO BAHAYA.
Setelah kita ketahui jenis-jenis resiko bahaya di rumah sakit, ternyata seluruh resiko bahaya
tersebut terdapat di rumah sakit. Beberapa contoh sistem pengendalian resiko bahaya yang telah
dilakukan di rumah sakit adalah sebagai berikut:
1. Resiko bahaya fisik
a. Mekanik : resiko yang paling sering terjadi adalah tertusuk jarum dan terpeleset atau menabrak dinding /
pintu kaca. Pengendalian yang sudah dilakukan antara lain: penggunaan safety box limbah tajam,
kebijakan dilarang menutup kembali jarum bekas, pemasangan keramik anti licin pada koridor dan lantai
yang miring, pemasangan rambu “awas licin”, pemasangan kaca film dan stiker pada dinding / pintu kaca
agar lebih kelihatan, kebijakan penggunaan sabuk keselamatan pada pekerjaan yang dilakukan pada
ketinggian lebih dari 2 meter, dan lain-lain.
b. Resiko bahaya radiasi: resiko ini terdapat di ruang radiologi, radio therapi, kedokteran nuklir, ruang cath
lab dan beberapa kamar operasi yang memiliki fluoroskopi / x-ray. Pengendalian yang sudah dilakukan
antara lain: pemasangan rambu peringatan bahaya radiasi, pelatihan proteksi bahaya radiasi, penyediaan
APD radiasi, pengecekan tingkat paparan radiasi secara berkala dan pemantauan paparan radiasi pada
petugas radiasi dengan personal dosimetri pada patugas radiasi.
c. Resiko bahaya kebisingan: terdapat pada ruang boiler, generator listrik dan ruang chiller. Pengendalian
yang telah dilakukan antara lain: substitusi peralatan dengan alat-alat baru dengan ambang kebisingan
yang lebih rendah, penggunaan pelindung telinga dan pemantauan tingkat kebisingan secara berkala
oleh Instalasi Sanitasi Lingkungan Rumah Sakit (ISLRS).
d. Resiko bahaya pencahayaan: resiko bahaya ini terutama di satuan kerja dengan pekerjaan teliti seperti
di kamar operasi dan laboratorium. Pengendalian yang sudah dilakukan adalah pemantauan tingkat
pencahayaan secara berkala oleh ISLRS dan hasil pemantauan dilaporkan ke Direktur, Teknik dan Unit
K3 untuk tindak lanjut ruangan yang tingkat pencahayaannya tidak memenuhi persyaratan.
e. Resiko bahaya listrik: resiko bahaya listrik terdiri dari konsleting dan kesetrum. Pengendalian yang telah
dilakukan adalah adanya kebijakan penggunaan peralatan listrik harus memenuhi Standar Nasional
Indonesia (SNI) dan harus dipasang oleh bagian IPSRS atau orang yang kompeten. Peralatan elektronik
di RSUP dr Sardjito secara berkala dilakukan maintenance oleh bagian IPSRS dan seluruh peralatan
yang layak pakai akan diberikan label layak pakai berupa stiker warna hijau, sedangkan yang tidak layak
pakai akan diberikan stiker merah dan peralatan tersebut ditarik oleh bagian IPSRS. Selain itu unit K3
dan IPSRS secara berkala melakukan sosialisasi ke seluruh satuan kerja tentang perilaku aman dalam
menggunakan listrik di rumah sakit.
f. Resiko bahaya akibat iklim kerja: resiko ini meliputi kondisi temperatur dan kelembaban ruang kerja.
Pemantauan temperatur dan kelembaban dilakukan oleh ISLRS. Acuan dari standar temperatur dan
kelembaban mengacu pada keputusan menteri kesehatan RI no 1402 tahun 2004 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit.
Masalah yang sering muncul adalah temperatur melebihi standar seperti di Instalasi Binatu dan ruang
produksi gizi, karena belum memungkinkan untuk distandarkan pengendalian yang dilakukan dengan
pemberian minum yang cukup. Masalah kelembaban yang tinggi beresiko terjadinya kolonisasi kuman
patogen sehingga meningkatkan angka infeksi baik bagi pasien maupun bagi pekerja. Pengendalian
secara teknis telah dilakukan akan tetapi pada musim tertentu kadang tidak memenuhi persyaratan.
Upaya yang dilakukan untuk menghambat kolonisasi kuman terutama pada ruang perawatan pasien, ICU
dan kamar operasi harus dilakukan desinfeksi ruangan lebih sering dan pemantauan angka kuman
secara berkala.
g. Resiko bahaya akibat getaran: resiko bahaya getaran tidak terlalu signifikan. Dari telaah yang telah
dilakukan unit K3, resiko bahaya getaran ditemukan di bagian taman akibat dari mesin pemotong rumput
dan di klinik gigi akibat dari mesin bor gigi, tetapi tingkat getaran pada ke 2 lokasi tersebut masih dalam
batas yang diijinkan.
2. Resiko bahaya biologi : resiko bahaya biologi yang paling banyak adalah akibat kuman patogen dari
pasien yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh, dropet dan udara. Pengendalian resiko ini telah
dilakukan oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) akan tetapi termasuk dalam area
pemantauan Unit K3. Resiko air borne dissease dikendalikan dengan rekayasa ruangan tekanan negatif
beserta peraturan administratif dan APD. Resiko penularan melalui droplet dikendalikan dengan
menyediakan masker bagi petugas, pengantar pasien dan pasien yang batuk, serta sosialisasi etika
batuk oleh PPI. Resiko blood borne dissease dikendalikasn dengan penggunaan alat-alat single
use beserta persturan administratif dan APD. Selain itu untuk mencegah pe nularan penyakit blood borne
dissease khususnya Hepatitis B dilakukan Imunisasi Hepatitis B dengan perioritas pada karyawan
dengan kadar titer anti HBs < 0,2 u/L terutama yang bekerja pada tindakan invasif terhadap pasien.
Selain itu juga telah dilakukan penanganan paska pajanan infeksi khususnya pada HIV dan Hepatitis B.
Bila pekerja atau peserta didik mengalami kecelakaan kerja berupa tertusuk jarum bekas pasien atau
terkena percikan darah dan cairan tubuh pada mukosa (mata, mulut) atau terkena pada luka, maka wajib
melaporkan kepada penanggung jawab ruangan pada saat itu dan setelah melakukan pertolongan
pertama harus segera periksa ke IGD agar dilakukan telaah dan tindak lanjut paska pajanan sesuai
prosedur untuk mengurangi resiko tertular.
3. Resiko bahaya kimia: resiko ini terutama terhadap bahan kimia golongan berbahaya dan beracun (B3).
Pengendalian yang telah dilakukan adalah dengan identifikasi bahan-bahan B3, pelabelan standar,
penyimpanan standar, penyiapan MSDS, penyiapan P3K, APD dan safety shower serta pelatihan teknis
bagi petugas pengelola B3. Rekayasa juga dilakukan dengan penggunaan Laminary Airflow pada
pengelolaan obat dan B3 lainnya.
4. Resiko bahaya ergonomi: resiko ini banyak terjadi pada pekerjaan angkat dan angkut baik pasien
maupun barang. Sosialisasi cara mengangkat dan mengangkut yang benar selalu dilakukan. Selain itu
dalam pemilihan sarana dan prasarana rumah sakit juga harus mempertimbangkan faktor ergonomi
tersebut terutama peralatan yang dibeli dari negara lain yang secara fisik terdapat perbedaan ukuran
badan.
5. Resiko bahaya psikologi: resiko psikologi teidak terlalu kelihatan akan tetapi selalu ada meskipun
kadarnya tidak terlalu mencolok. Upaya yang dilakukan antara lain dengan mengadakan pertemuan antar
satuan kerja, antar staff dan pimpinan dan pada acara-acara bersama seperti saat ulang tahun RS dan
lain-lain yang bertujuan agar terjalun komunikasi yang baik sehingga secara psikologi menjadi lebih akrab
denganharapan resiko bahaya psikologi dapat ditekan seminimal mungkin.
Referensi
Departemen Kesehatan RI, Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya. – Jakarta : Departemen, Kesehatan RI. Cetakan kedua, 2008.
Keputuan Menteri Kesehatan RI no 1204 tahun 2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Keputusan Menteri Kesehatan Ri no 1087 tahun 2010 tentang Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah
Sakit.
Undang-undang No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
enis-jenis Bahaya (Hazard) dalam K3
source: [Link]
Dalam dunia keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sering kita dengar ada istilah Hazard.
Hazard disini adalah segala bentuk kegiatan (task), pekerjaan (job), benda/alat yang dipergunakan (tools), serta
lingkungan sekitar tempat kerja (environtment) yang dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja, baik
berupa incident maupun accident pada pekerjanya.
Terdapat jenis bahaya (hazard) sebagai konsep, yaitu:
1. Bahaya Mekanik (Biomechaical hazards)
Merupakan bahaya yang berasal dari benda-benda bergerak, benda-benda tajam, benda yang
berukuran lebih besar dan berat yang dapat menimbulkan risiko pada pekerja seperti tersayat,
tertusuk, terjepit, terhimpit, terpotong, tertabrak dan sebagainya.
2. Bahaya Fisik (Physical hazards)
Merupakan hazard yang berasal dari segala energi yang jumlahnya lebih besar dari kemampuan
diri pekerja menerimanya. Energi berlebih ini banyak berasal dari alat-alat kerja yang ada
disekitan tempat kita bekerja. Contohnya bising yang dapat berasal dari penggunaan alat
bersuara tinggi (seperti speaker, mesin las, bahkan suara knalpot yang sudah dimodifikasi juga
termasuk dalam bahaya fisik), sehingga nantinya pekerja tersebut berpotensi terjadi tuli; getaran
yang dapat berasal dari benda bergetaran tinggi seperti mesin pembolong jalan, truk-truk
besar,dsb, dimana dapat berpotensi kemandulan pada pria, rusaknya jaringan syaraf tepi,
bahkan hingga lumpuh; energi listrik, radiasi ion dan non-ion, suhu ekstrim, dan sebagainya.
3. Bahaya Kimia (Chemical hazards)
Merupakan bahaya yang berasal dari bahan-bahan kimia, baik yang berbentuk padat, cair,
maupun gas. Contohnya merkuri, alkohol dan turunannya, timbal, dll (intinya semua bahan kimia
yang ada di tabel periodik. Masih ingat kan?..). Potensi risiko gangguan yang dapat muncul pada
kesehatan dan keselamatan pekerja bervariasi sesuai dengan jenis bahan kimia yang terpajan
pada diri pekerja, seperti merkuri dapat berisiko rusaknya syaraf bahkan hingga ke otak sehingga
lama-kelamaan tubuh menjadi selalu bergetar tanpa henti (seperti fenomena kasus itai-itai di
Jepang). Bahaya dan risiko dari semua bahan kimia ini dapat dilihat penjelasannya di MSDS
(material safety data sheet) yang selalu tercantum disemua kemasan bahan kimia tsb. Risiko dari
penggunaan bahan kimia ini tidak hanya pada kesehatan saja tetapi juga kecelakaan seperti
ledakan, kebakaran, dll
4. Bahaya Biologi (Biological hazards)
Merupakan bahaya yang berasal dari hewan-hewan atau mikroorganisme tak kasat mata yang
berada disekitaran tempat kerja dan dapat masuk kedalam tubuh tanpa kita ketahui sehingga
banyak penanganannya dilakukan setelah pekerja terinfeksi. Contoh: bisa ular, berbagai macam
virus dan bakteri, dll
5. Bahaya Psikososial (Psychosocial hazards)
Atau ada beberapa ahli menyebutnya sebagai bahaya dalam pengorganisasian pekerjaan,
merupakan bahaya yang berasal dari konflik batin dengan lingkungan yang ada di tempat kerja,
baik itu dengan rekan kerja maupun dengan fasilitas yang ada dilingkungan kerja dimana
krmudian dapat membuat seseorang mengalami stress hingga efek-efek buruk lainnya dari
stress. Contohnya: aksi bullying, kata-kata kasar dari rekan kerja, tekanan dan himpitan
pekerjaan, deadline pekerjaan yang tidak masuk akal, persaingan kerja tidak sehat, kerjaan yang
monoton, jenjang karir tidak bagus, alat bantu kerja yang tidak memadai, dll
6. Bahaya Ergonomi (Ergonomic Hazards)
Merupakan bahaya yang berasal dari adanya ketidaksesuaian desain kerja (job,
task, environtment) dengan kapasitas tubuh pekerja sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman
di tubuh, pegal-pegal, sakit pada otot, tulang dan sendi, dll. Contohnya, gerakan repetitif
(berulang-ulang) seperti membungkuk-berdiri-membungkuk, durasi dan frekuensi bekerja
melebihi batas, bekerja dengan postur tubuh yang janggal seperti berputar di area pinggang,
menunduk, pekerjaan yang mebutuhkan menjangkau terlalu tinggi, mengangkat beban berat,
statis duduk dipan komputer dalam waktu lama, dll
Bahaya dan Resiko di
Rumah Sakit
Bahaya dan Resiko di rumah sakit yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor biologi, fisik,
kimia, fisiologi, dan psikologi dapat menyebabkan penyakit dan kecelakaan kerja, atau menjadi
penyebab kecelakaan bagi pengunjung, pasien dan masyarakat sekitar lingkungan rumah sakit.
Pekerja rumah sakit memiliki risiko kerja yang lebih tinggi dibanding pekerja industri lain sehingga
bahaya resiko tersebut harus dikendalikan. Selain itu, hal ini harus diketahui bersama sebagai
bentuk tindakan preventif untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu yang tidak kita inginkan.
Berikut merupakan penjelasan mengenai sistem pengendalian bahaya dan resiko rumah sakit
yang harus dilakukan di rumah sakit (Modul Pelatihan Dasar Wajib Pengendalian Risiko Bahaya di
Rumah Sakit) :
1. Risiko bahaya fisik
Risiko bahaya mekanik
Risiko yang paling sering terjadi adalah tertusuk jarum, terpeleset ataupun menabrak dinding/pintu
kaca. Pengendalian yang harus dilakukan antara lain : penggunaan safety box limbah tajam,
kebijakan dilarang menutup kembali jarum bekas, pemasangan keramik anti licin pada koridor dan
lantai yang miring, pemasangan rambu “awas licin”, pemasangan kaca film dan stiker pada
dinding/pintu kaca agar lebih kelihatan.
Risiko bahaya radiasi
Risiko ini terdapat di ruang radiologi, radio therapy, kedokteran nuklir dan beberapa kamar operasi
yang memiliki x-ray. Pengendalian yang harus dilakukan antara lain : pemasangan rambu
peringatan bahaya radiasi, pengecekan tingkat paparan radiasi secara berkala dan pemantauan
paparan radiasi.
Risiko bahaya kebisingan
Risiko ini terdapat pada ruang boiler, generator listrik dan ruang chiller. Pengendalian yang harus
dilakukan antara lain : substitusi peralatan melalui alat-alat baru dengan intensitas kebisingan yang
lebih rendah, penggunaan pelindung telinga dan pemantauan tingkat kebisingan secara berkala oleh
sanitasi.
Risiko bahaya pencahayaan
Risiko bahaya pencahayaan ini seperti di kamar operasi dan laboratorium. Pengendalian yang harus
dilakukan adalah pemantauan tingkat pencahayaan secara berkala oleh sanitasi dan hasil
pemantauan dilaporkan ke petugas teknisi untuk tindak lanjut ruangan yang tingkat
pencahayaannya tidak memenuhi persyaratan.
Risiko bahaya listrik
Risiko bahaya listrik terdiri dari konsleting dan kesetrum. Pengendalian yang harus dilakukan adalah
adanya kebijakan penggunaan peralatan listrik harus memenuhi SNI, serta dilakukan pengecekan
secara rutin baik fungsi dan kelayakan peralatan listrik di rumah sakit.
2. Risiko bahaya biologi
Risiko bahaya biologi yang paling banyak adalah akibat kuman patogen dari pasien yang ditularkan
melalui darah, cairan tubuh, dan udara. Pengendalian yang harus dilakukan adalah melalui sanitasi
dan harus didukung dengan housekeeping yang baik dari seluruh karyawan dan penghuni rumah
sakit.
3. Risiko bahaya kimia
Risiko ini terdapat pada bahan-bahan kimia golongan berbahaya dan beracun. Pengendalian yang
harus dilakukan adalah dengan identifikasi bahan-bahan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun),
pelabelan standar, penyimpanan standar, penyiapan MSDS (Material Safety Data Sheet) atau
lembar data keselamatan bahan, penyiapan P3K, serta pelatihan teknis bagi petugas pengelola B3.
Selain itu pembuangan limbah B3 cair harus dipastikan melalui saluran air kotor yang akan masuk
ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
4. Risiko bahaya fisiologi
Risiko ini terdapat pada sebagian besar kegiatan di rumah sakit berupa kegiatan angkat angkut,
posisi duduk, ketidaksesuaian antara peralatan kerja dan ukuran fisik pekerja. Risiko ini misalnya
terjadi pada pekerjaan angkat dan angkut baik pasien maupun barang. Selain itu pemilihan sarana
dan prasarana rumah sakit juga harus mempertimbangan faktor fisiologi, terutama peralatan yang
dibeli dari negara lain yang secara fisik terdapat perbedaan ukuran badan. Pengendalian yang harus
dilakukan yaitu melalui melakukan gerak tubuh secara rutin.
5. Risiko bahaya psikologi
Risiko bahaya psikologi dapat terjadi di seluruh rumah sakit berupa ketidakharmonisan hubungan
antar manusia didalam rumah sakit, baik sesama staff, staff dengan pasien, maupun staff dengan
pimpinan. Risiko psikologi akan memberikan pengaruh pada perilaku atau semangat kerja petugas
sehingga produktivitas akan menurun. Upaya pengendalian yang dilakukan untuk risiko ini adalah
dengan mengadakan pertemuan antar satuan kerja, antar staff, dan pimpinan pada acara-acara
bersama yang bertujuan agar terjalin komunikasi dengan baik. Sehingga secara psikologi hal ini
berdampak baik pada proses pengakraban, dengan harapan risiko bahaya psikologi dapat ditekan
seminimal mungkin.
Pengenalan potensi bahaya dan resiko di rumah sakit diharapkan pekerja, pengunjung, pasien
dan masyarakat sekitar lingkungan rumah sakit mampu mengidentifikasi risiko bahaya dan
mengetahui upaya pengendalian risiko bahaya tersebut.
Untuk mengetahui cara pengendaliannya, silahkan :
Baca juga artikel : PENGENDALIAN POTENSI BAHAYA DAN RESIKO DI RUMAH SAKIT
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Faktor Bahaya Lingkungan Kerja
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tenaga kerja merupakan modal utama dalam pengembangan usaha, sehingga
mereka harus mendapatkan perlindungan keselamatan kerja dari perusahaan. Selain
itu, untuk menunjang terciptanya suasana dan lingkungan pekerjaan yang aman dan
sehat, perusahaan harus melaksanakan beberapa program untuk mencapai tujuan
tersebut. Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat
mempengaruhi kesehatan tenaga kerja atau dapat menyebabkan timbulnya penyakit
akibat kerja. Potensi bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan
terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau bahkan dapat
mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses dan sistem kerja.
Lingkungan kerja beserta semua faktor-faktornya dapat merugikan kesehatan
pekerja apabila tidak dikelolah dengan baik. Penyakit akibat kerja timbul karena
pekerja terpapar pada lingkungan kerja yang mengandung bermacam-macam bahaya
kesehatan baik yang bersifat kimia, fisik, biologi, fisiologi dan mental psikologi.
Bahaya tidak hanya berhenti pada satu tempat saja, bahaya akan muncul
dimana dan kapan saja. Identifikasi bahaya, pemeliharaan dan pemantauan terhadap
lingkungan/kesehatan kerja harus dilaksanakan secara terus-menerus sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.
Keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja merupakan satu kesatuan yang
saling berkaitan, sehingga dalam prakteknya, ketiga komponen tersebut harus sinergi
dan terpadu.
B. Tujuan
Untuk mengetahui faktor-faktor bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan,
seperti bahaya kimia, fisik, biologi, fisiologi dan mental psikologi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian
Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan tempat kerja yang meliputi faktor
fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial yang mempengaruhi pekerjaan dalam
melaksanakan pekerjaannya.
Kesehatan lingkungan kerja adalah ilmu dan seni yang ditunjukkan untuk
mengenal, mengevaluasi dalam mengendalikan semua faktor-faktor dan stres
lingkungan di tempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan,
kesejahteraan, kenyamanan dan efisiensi dikalangan pekerjaan dan masyarakat.
Tujuan utama dari kesehatan lingkungan kerja adalah melindungi pekerja dan
masyarakat sekitar suatu RS atau perusahaan dari bahaya-bahaya yang mungkin
timbul. Untuk dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya lingkungan
kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja, utamanya terhadap
pekerja, ditempuh tiga langkah utama yaitu: pengenalan, penilaian dan pengendalian
dari berbagai bahaya dan resiko kerja.
B. Ruang Lingkup Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja termasuk dalam perlindungan teknis, yaitu perlindungan
terhadap pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat
kerja atau bahan yang dikerjakan. Keselamatan kerja tidak hanya memberikan
perlindungan kepada pekerja/buruh, tetapi juga kepada pengusaha dan pemerintah :
1) Bagi pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan keselamatan kerja akan
menimbulkan suasana kerja yang tenteram sehingga pekerja/buruh akan dapat
memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya semaksimal mungkin tanpa khawatir
sewaktu-waktu akan tertimpa kecelakaan kerja.
2) Bagi pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja di perusahaannya akan dpat
mengurangi terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan pengusaha harus
memberikan jaminan social.
3) Bagi pemerintah (dan masyarakat), dengan adanya dan ditaatinya peraturan
keselamatan kerja, maka apa yang direncanakan pemerintah untuk menyejahterakan
masyarakat akan tercapai dengan meningkatnya produksi perusahaan baik kualitas
maupun kuantitasnya.
Untuk mewujudkan perlindungan keselamatan kerja, maka pemerintah telah
melakukan upaya pembinaan norma di bidang ketenagakerjaan. Dalam pengertian
pembinaan norma ini sudah mencakup pengertian pembentukan, penerapan dan
pengawasan norma itu sendiri.
Ditinjau dari segi keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai
ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja harus
diterapkan dan dilaksanakan di setiap tempat kerja.
(perusahaan). Tempat kerja adalah setiap tempat yang di dalamnya terdapat 3 (tiga)
unsur, yaitu :
1) Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomis maupun social.
2) Adanya sumber bahaya.
3) Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus menerus maupun
hanya sewaktu-waktu.
C. Faktor-faktor Bahaya Lingkungan Kerja
Bahaya di lingkungan kerja dapat didefinisikan sebagai segala kondisi yang
dapat memberi pengaruh yang merugikan terhadap kesehatan atau kesejahteraan
orang yang bekerja. Faktor bahaya di lingkungan kerja meliputi faktor Kimia, Biologi,
Fisika, Fisiologi dan Psikologi.
1. Bahaya kimia
Jalan masuk bahan kimia ke dalam tubuh: Pernapasan (inhalation), Kulit (skin
absorption), Tertelan (ingestion). Racun dapat menyebabkan efek yang bersifat
akut,kronis atau kedua-duanya.
Korosi : Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada permukaan
tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem pencernaan adalah bagain tubuh
yang paling umum terkena. Contoh : konsentrat asam dan basa , fosfor.\
Iritasi : iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak. Iritasi
kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi pada alat-alat
pernapasan yang hebat dapat menyebabkan sesak napas, peradangan dan oedema
(bengkak). Contoh : Kulit : asam, basa,pelarut, minyak. Dan pernapasan : aldehydes,
alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
Kanker : Karsinogen pada manusia adalah bahan kimia yang secara jelas telah
terbukti pada manusia. Kemungkinan karsinogen pada manusia adalah bahan kimia
yang secara jelas sudah terbukti menyebabkan kanker pada hewan . Contoh:
- Terbukti karsinogen pada manusia : benzene ( leukaemia); vinylchloride ( liver
angiosarcoma); 2-naphthylamine, benzidine (kanker kandung kemih ); asbestos
(kanker paru-paru , mesothelioma);
- Kemungkinan karsinogen pada manusia : formaldehyde, carbon tetrachloride,
dichromates, beryllium.
Racun Sistemik : Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada
organ atau sistem tubuh. Contoh :
- Otak : pelarut, lead,mercury, manganese
- Sistem syaraf peripheral : n-hexane,lead,arsenic,carbon disulphide
- Sistem pembentukan darah : benzene,ethylene glycol ethers
- Ginjal : cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons
- Paru-paru : silica,asbestos, debu batubara (pneumoconiosis).
2. Bahaya Biologi
Bahaya biologi dapat didefinisikan sebagai debu organik yang berasal dari
sumber-sumber biologi yang berbeda seperti virus, bakteri, jamur, protein dari
binatang atau bahan-bahan dari tumbuhan seperti produk serat alam yang
terdegradasi. Bahaya biologi dapat dibagi menjadi dua yaitu yang menyebabkan
infeksi dan non-infeksi. Bahaya dari yang bersifat non infeksi dapat dibagi lagi
menjadi organisme viable, racun biogenik dan alergi biogenik.
Organisme viable dan racun biogenic
Organisme viable termasuk di dalamnya jamur, spora dan mycotoxins; Racun
biogenik termasuk endotoxins, aflatoxin dan bakteri. Perkembangan produk bakterial
dan jamur dipengaruhi oleh suhu, kelembapan dan media dimana mereka tumbuh.
Pekerja yang beresiko: pekerja pada silo bahan pangan, pekerja pada sewage & sludge
treatment, dll. Contoh : Byssinosis, “grain fever”, Legionnaire’s disease.
Alergi Bionik
Termasuk didalamnya adalah: jamur, animal-derived protein, enzim. Bahan
alergen dari pertanian berasal dari protein pada kulit binatang, rambut dari bulu dan
protein dari urine dan feaces binatang. Bahan-bahan alergen pada industri berasal dari
proses fermentasi, pembuatan obat, bakery, kertas, proses pengolahan kayu , juga
dijumpai di bioteknologi ( enzim, vaksin dan kultur jaringan). Pada orang yang
sensitif, pemajanan alergen dapat menimbulkan gejala alergi seperti rinitis,
conjunctivitis atau asma. Contoh : Occupational asthma : wool, bulu, butir gandum,
tepung bawang dsb.
Bahaya Infeksi
Penyakit akibat kerja karena infeksi relatif tidak umum dijumpai. Pekerja yang
potensial mengalaminya yaitu pekerja di rumah sakit, laboratorium, jurumasak,
penjaga binatang, dokter hewan dll. Contoh : Hepatitis B, tuberculosis, anthrax,
brucella, tetanus, salmonella, chlamydia, psittaci.
3. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-
gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya: terpapar
kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan
kurang memadai, getaran, radiasi.
Kebisingan
Kebisingan dapat diartikan sebagai segala bunyi yang tidak dikehendaki yang
dapat memberi pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang
maupun suatu populasi. Aspek yang berkaitan dengan kebisingan antara lain : jumlah
energi bunyi, distribusi frekuensi, dan lama pajanan. Kebisingan dapat menghasilkan
efek akut seperti masalah komunikasi, turunnya konsentrasi, yang pada akhirnya
mengganggu job performance tenaga kerja. Pajanan kebisingan yang tinggi (biasanya
>85 dBA) pada jangka waktu tertentu dapat menyebabkan tuli yang bersifat sementara
maupun kronis. Tuli permanen adalah penyakit akibat kerja yang paling banyak di
klaim . Contoh : Pengolahan kayu, tekstil, metal, dll.
Getaran
Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising seperti:
frekuensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus menerus atau
intermitten. Metode kerja dan ketrampilan memegang peranan penting dalam
memberikan efek yang berbahaya. Pekerjaan manual menggunakan “powered tool”
berasosiasi dengan gejala gangguan peredaran darah yang dikenal sebagai ”Raynaud’s
phenomenon” atau ”vibration-induced white fingers” (VWF). Peralatan yang
menimbulkan getaran juga dapat memberi efek negatif pada sistem saraf dan sistem
musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan cengkram dan sakit tulang belakang.
Contoh : Loaders, forklift truck, pneumatic tools, chain saws.
Pencahayaan
a) Tujuan pencahayaan : Memberi kenyamanan dan efisiensi dalam melaksanakan
pekerjaan dan memberi lingkungan kerja yang aman.
b) Efek pencahayaan yang buruk: mata tidak nyaman, mata lelah, sakit kepala,
berkurangnya kemampuan melihat, dan menyebabkan kecelakaan.
c) Keuntungan pencahayaan yang baik : meningkatkan semangat kerja, produktivitas,
mengurangi kesalahan, meningkatkan housekeeping, kenyamanan lingkungan kerja,
mengurangi kecelakaan kerja.
4. Bahaya Psikologi
Bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kondisi aspek-aspek psikologis
ketenagakerjaan yang kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti :
penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian,
motivasi, temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja
yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan
pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan
antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja.
Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
Stress adalah tanggapan tubuh (respon) yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan atasnya.
Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berlebihan, maka hal ini dinamakan stress.
Gangguan emosional yang di timbulkan : cemas, gelisah, gangguan kepribadian, penyimpangan
seksual, ketagihan alkohol dan psikotropika.
Penyakit-penyakit psikosomatis antara lain : jantung koroner, tekanan darah tinggi, gangguan
pencernaan, luka usus besar, gangguan pernapasan, asma bronkial, penyakit kulit seperti eksim,dll.
5. Bahaya Fisiologi
Potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh penerapan ergonomi
yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam
melakukan pekerjaan serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak
sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan
kemampuan pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.
Pembebanan Kerja Fisik
Beban kerja fisik bagi pekerja kasar perlu memperhatikan kondisi iklim, sosial
ekonomi dan derajat kesehatan.
Pembebanan tidak melebihi 30 – 40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja
dalam jangka waktu 8 jam sehari.
Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban untuk tenaga Indonesia adalah 40 kg.
Bila mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban maksimum
tersebut harus disesuaikan.
Oleh karena penetapan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, parameter praktis
yang digunakan adalah pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak melebihi 30-40
permenit di atas denyut nadi sebelum bekerja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Faktor bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan, seperti :
Bahaya Kimia, seperti : korosi, kanker, iritasi, dan racun sistemik
Bahaya Biologi, seperti : bahaya infeksi, alergi bionik, dan Organisme viable dan
racun biogenic.
Bahaya fisik, seperti : pencahayaan, getaran, dan kebisingan.
Bahaya Psikologi, seperti : stress, gangguan emosional, dan Penyakit-penyakit
psikosomatis.
Bahaya Fisiologi, seperti : jangka waktu, beban kerja fisik, dll.
B. Saran
Untuk menghindari hazard kesehatan kerja atau bahaya terhadap keselamatan
kerja sebaiknya setiap jenis tempat kerja memperhatikan alat pelindung diri dari para
tenaga kerja agar terhindar dari bahaya terhadap keselamatan kerja.
ENIS BAHAYA DALAM K3
Nusantara Traisser – Dalam dunia Safety (K3) terkadang kita sering mendengar tentang Hazard,
namun tahukah kalian apa itu Hazard ?
Hazard adalah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera
(kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK).
Hazard dapat berupa bahan – bahan kimia, bagian – bagian mesin, bentuk energi, metode kerja
atau situasi kerja.
KONSEP BAHAYA DALAM K3
Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain : faktor bahaya
biologi(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik / mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor
bahaya social – psikologis.
1. Biomechanical Hazard ( Bahaya Ergonomi )
Jenis bahaya ini berasal dari ketidak sesuaian desain layout kerja / mesin, gerakan yang berulang
serta postur / posisi kerja yang dapat mengakibatkan adanya gangguan kesehatan
seperti musculoskeletal disorders (MSDs), carpal turner syndrome (CTS), badan menjadi mudah
pegah dan lelah serta gangguan lainnya
.
2. Physical Hazard ( Bahaya Fisik )
Bahaya fisik merupakan potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan – gangguan
kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar secara terus menerus oleh faktor fisik.
Faktor fisik adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain kebisingan,
penerangan, getaran, iklim kerja, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. Faktor – faktor ini mungkin
berasal dari bagian tertentu yang dihasilkan dari proses produksi atau produk samping yang tidak
diinginkan.
Contoh kasusnya adalah mesin las, speaker, atau suara kendaraan yang sudah di modifikasi
sehingga mengeluarkan suara yang terlalu bising diatas nilai ambang batas yang memekakan
telinga. Jika terlalu lama terpapar oleh bising, pekerja dapat mengalami gangguan pendengaran
seperti penurunan pendengaran hingga tuli.
Contoh kasus kedua adalah memegang peralatan yang bergetar sering mempengaruhi tangan dan
lengan pengguna sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan sirkulasi di
tangan. Sebaliknya, mengemudi traktor di jalan bergelombang dengan kursi yang dirancang tidak
sesuai dengan antoprometri pekerja sehingga menimbulkan getaran ke seluruh tubuh dapat
mengakibatkan nyeri punggung bagian bawah.
3. Chemical Hazard ( Bahaya Kimia )
Bahaya kimia adalah bahaya yang berasal dari bahan bahan kimia dari mulai yang ber substansi
cair, padat, ataupun juga gas yang berada di tempat kerja.
Risiko kesehatan timbul dari pajanan berbagai bahan kimia. Banyak bahan kimia yang memiliki sifat
beracun dapat memasuki aliran darah dan menyebabkan kerusakan pada sistem tubuh dan organ
lainnya yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara utama yaitu :
Inhalasi (menghirup) : Dengan bernapas melalui mulut atau hidung, zat beracun dapat
masuk ke dalam paru-paru. Seorang dewasa saat istirahat menghirup sekitar lima liter udara per
menit yang mengandung debu, asap, gas atau uap. Beberapa zat, seperti fiber / serat, dapat
langsung melukai paru – paru. Lainnya diserap ke dalam aliran darah dan mengalir ke bagian lain
dari tubuh.
Pencernaan (menelan) : Bahan kimia dapat memasuki tubuh jika makan makanan yang
terkontaminasi, makan dengan tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang
terkontaminasi. Zat di udara juga dapat tertelan saat dihirup, karena bercampur dengan lendir dari
mulut, hidung atau tenggorokan.
Penyerapan ke dalam kulit atau kontak invasif : beberapa diantaranya adalat zat yang
melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya melalui tangan dan wajah.
4. Biological Hazard ( Bahaya Biologi )
Bahaya biologi adalah bahaya yang berasal dari tanaman, binatang, organisme atau mikro
organisme yang kemudian masuk kedalam tubuh kita yang dapat mengancam kesehatan serta
dapat juga dari pekerja yang menderita penyakit tertentu yang dapat menularkan virusnya kepada
pekerja lain seperti TBC, Hepatitis A/B.
5. Psychosocial Hazard ( Bahaya psikologi )
Jenis bahaya ini dari beberapa ahli menyebutnya sebagai bahaya dalam pengorganisasian
pekerjaan, merupakan bahaya yang berasal dari konflik batin dengan lingkungan yang ada di tempat
kerja, baik itu dengan rekan kerja maupun dengan fasilitas yang ada di lingkungan kerja dimana
kemudian dapat menganggu aspek psikologis pekerja sehingga dapat menyebabkan produktivitas
pekerja menurun.
Contohnya: aksi bullying, kekerasan, pelecehan, pengucilan, tekanan dan himpitan pekerjaan,
tuntutan deadline pekerjaan, persaingan kerja tidak sehat, pekerjaan yang monoton, jenjang karir
tidak bagus, alat bantu kerja yang tidak memadai dan lainnya.