0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan28 halaman

Konsep Caring dalam Keperawatan

Makalah ini membahas konsep caring dalam keperawatan dan kehidupan sehari-hari. Caring didefinisikan sebagai sikap peduli dan perhatian kepada orang lain berdasarkan empati. Teori caring menekankan pentingnya memadukan aspek jasmani dan spiritual dalam memberikan perawatan kepada pasien secara menyeluruh. Caring merupakan inti dari praktik keperawatan yang berlandaskan pada nilai-nilai humanis.

Diunggah oleh

Helma Yuningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan28 halaman

Konsep Caring dalam Keperawatan

Makalah ini membahas konsep caring dalam keperawatan dan kehidupan sehari-hari. Caring didefinisikan sebagai sikap peduli dan perhatian kepada orang lain berdasarkan empati. Teori caring menekankan pentingnya memadukan aspek jasmani dan spiritual dalam memberikan perawatan kepada pasien secara menyeluruh. Caring merupakan inti dari praktik keperawatan yang berlandaskan pada nilai-nilai humanis.

Diunggah oleh

Helma Yuningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENERAPKAN KONSEP CARING DALAM KEHIDUPAN

SEHARI-HARI

DOSEN PEMBIMBING : HERMALINDA. Ns. [Link]. SpKepAn


ANGGOTA KELOMPOK : 1. ANNISA FEBI RAMADHANI
2. ANNISA FATMA
3. AZIZAH YULIA ULFA
4. EVA AFRIYANTI YUNINGSIH
5. HELMA YUNINGSIH
6. HERTATI
7. RAMAYA DES FITRI
8. SALI ZAKIAH MUSLIM
9. SERLY BERLIAN
10. YULI INDAH SARI

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

TAHUN AJARAN 2016/2017


DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN
C. MANFAAT

BAB II KERANGKA KARANGAN

A. PENGERTIAN CARING
B. APLIKASI CARING DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN
PRAKTIK KEPERAWATAN
C. PERBEDAAN CARING DAN CURING

BAB III SKENARIO ROLEPLAY TENTANG APLIKASI CARING

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN
B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di era yang moderen ini kemajuan teknologi dan komunikasi berkembang secara cepat
termasuk di dalamnya kemajuan dalam kesehatan dan salah satunya yaitu pada bidang
pelayanan kesehatan. .bidang pelayanan kesehatan tidak hanya sarana dan prasarana yang
mengalami kemajuan,tetapi juga profesionalisme dari tenaga kesehatan.
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang mempunyai peranan yang besar
dalam menghadapi keluhan yang dihadapi oleh para pasien.
Oleh karena itu perawat harus terus meningkatkan profesionalismenya,
 yaitu meningkatkan perilaku caring. Secara bahasa, istilah caring diartikan sebagai tindakan
kepedulian. Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, serta suatu perasaan empati pada
orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi.

B. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini salah satunya bertujuan untuk memenuhi tugas dalam
mata kuliah “Konsep Dasar Keperawatan”. Disamping itu, tujuan memberikan informasi,
gambaran, keterangan, serta penjelasan-penjelasan mengenai konsep caring dan curing,
perilaku caring dalam tatanan pelayanan kesehatan, aplikasi transkultural nursing, serta
perbedaannya.
C. MANFAAT
1. Dapat memahami pengertian caring
2. Dapat menerapkan perilaku caring dalam kehidupan sehari-hari
3. Membantu pengenalan caring secara mendalam
BAB II KERANGKA TEORI

A. PENGERTIAN

Definisi Caring menurut Ahli :


Florence nightingale (1860): Caring adl tindakan yang menunjukkan pemanfaatan lingkungan
klien dlm membantu penyembuhan, memberikan lingkungan bersih, ventilasi yg baik &
tenang kpd klien.

Delores gaut (1984): Caring tdk mempunyai pengertian yang tegas, tetapi ada 3 makna
dimana ketiganya tdk dpt dipisahkan, yaitu perhatian, bertanggung jawab, dan ikhlas.

Crips dan Taylor (2001) : Caring merupakan fenomena universal yang mempengaruhi
bagaimana SSO berpikir, merasakan, & berperilaku dlm hubungannya dengan orang lain.

Rubenfild (1999) : Caring yaitu memberikan asuhan, dukungan emosional pada klien,
keluarga, dan kerabatnya secara verbal maupun nonverbal.

Jean watson (1985) : Caring merupakan komitmen moral utk melindungi, mempertahankan,
& mengangkat martabat [Link] menyebutkan caring adalah esensi dari keperawatan
dan merupakan fokus serta sentral dari praktik keperawatan yang dilandaskan pada nilai–nilai
kebaikan, perhatian, kasih terhadap diri sendiri dan orang lain serta menghormati keyakinan
spiritual pasien. Tujuan keperawatan menurut Watson adalah memfasilitasi individu
mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi meliputi jiwa, raga, dan perkembangan
pengetahuan diri, peningkatan diri, penyembuhan diri dan proses asuhan diri. Watson juga
mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya
dalam praktik keperawatan, seorang perawat harus mampu memahami setiap respon yang
berbeda dari klien terhadap penderitaan yang dialaminya dan memberikan pelayanan
kesehatan yang tepat dalam setiap respon yang [Link] dalam hal ini perawat dituntut
untuk mampu menghadapi klien dalam setiap respon yang berbeda baik yang sedang maupun
akan terjadi. Selain itu, caring hanya dapat ditunjukkan dalam hubungan interpersonal, yaitu
hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien, dimana perawat menunjukkan caring
melalui perhatian, intervensi untuk mempertahankan kesehatan klien dan energi positif yang
diberikan pada klien. Watson juga berpendapat bahwa caring meliputi komitmen untuk
memberikan pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dalam
praktiknya, perawat ditantang untuk tidak ragu dalam menggunakan pengetahuan yang
dimilikinya dalam praktik keperawatan.
Sikap caring menurut Watson harus tercermin dalam sepuluh faktor kuratif, yaitu
pembentukan sistem nilai humanisme dan altruistik, memberikan kepercayaan dan harapan
dengan memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik, menumbuhkan
rasa sensitif terhadap diri dan orang lain, mengembangkan hubungan saling percaya,
meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien, penggunaaan
sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan keputusan, peningkatan
pembelajaran dan pengajaran interpersonal, menciptakan lingkungan mental, sosial cultural
dan spiritual yang mendukung, memberi bimbingan dan memuaskan kebutuhan manusiawi
dan mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomologis agar petumbuahn diri dan
kematangan jiwa klien dapat dicapai.
Pembahasan di atas telah menunjukkan bahwa teori caring yang dikemukakan oleh
Watson menekankan akan kebutuhan klien secara jasmani dan kebutuhan pendekatan
spiritual bagi iman klien. Dengan demikian, perawat dituntut untuk mengenal dirinya sendiri
secara spiritual dan menerapkannya dalam profesi keperawatan dalam memberikan
perawatan dengan cinta dan caring. Jadi, dari teori caring menurut Watson dapat disimpulkan
bahwa adanya keseimbangan antara aspek jasmani dan spiritual dalam asuhan keperawatan.
Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas
bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan
penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan
demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh .

Griffin (1983) membagi konsep caring ke dalam dua domain utama. Salah satu
konsep caring ini berkenaan dengan sikap dan emosi perawat, sementara konsep caring yang
lain terfokus pada aktivitas yang dilakukan perawat saat melaksanakan fungsi
keperawatannya. Griffin menggambarkan caring dalam keperawatan sebagai sebuah proses
interpersonal esensial yang mengharuskan perawat melakukan aktivitas peran yang spesifik
dalam sebuah cara dengan menyampaikan ekspresi emosi-emosi tertentu kepada resepien.
Aktivitas tersebut menurut Griffin meliputi membantu, menolong, dan melayani orang yang
mempunyai kebutuhan khusus. Proses ini dipengaruhi oleh hubungan antara perawat dengan
pasien.
Meleis (1997) menyebutkan caring adalah pertimbangan pribadi, psikologistik,
perspektif budaya, manifestasi perasaan empati, dedikasi dan intervensi terapeutik kepada
pasien. Dengan caring memungkinkan terjadinya interaksi terapeutik antara perawat dan
pasien.
Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan
kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan
semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang 9 memiliki makna dan memotivasi tindakan.
Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan
memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et al.,
1999).
Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena caring merupakan suatu cara
pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya
kepada klien (Sartika & Nanda, 2011). Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti
yang penting terutama dalam praktik keperawatan.
Hall (1969) mengemukakan perpaduan tiga aspek dalam teorinya. Sebagai seorang
perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga
menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Care merupakan komponen
penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang
terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan
asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia,
1995).
Perawat merupakan salah satu profesi yang mulia. Betapa tidak, merawat pasien yang
sedang sakit adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tak semua orang bisa memiliki kesabaran
dalam melayani orang yang tengah menderita penyakit. Pengalaman ilmu untuk menolong
sesama memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang besar (Abdalati, 1989).
Untuk itu perawat memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang mencakup
ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring atau
kasih sayang/cinta (Johnson, 1989) .
Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir,
berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan
dipelajari dari berbagai macam filosofi dan perspektif etik .
Human care merupakan hal yang mendasar dalam teori caring. Menurut Pasquali dan
Arnold (1989) serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk melindungi,
meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang
lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain
untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri .
Lebih lanjut Mayehoff memandang caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada
tujuan membantu orang lain bertumbuh dan mengaktualisasikan diri. Mayehoff juga
memperkenalkan sifat-sifat caring  seperti sabar, jujur, rendah hati. Sedangkan Sobel
mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain. Artinya
memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang
berpikir, bertindak dan berperasaan. Caring sebagai suatu moral imperative (bentuk moral)
sehingga perawat harus terdiri dari orang-orang yang bermoral baik dan memiliki kepedulian
terhadap kesehatan pasien, yang mempertahankan martabat dan menghargai pasien sebagai
seorang manusia, bukan malah melakukan tindakan amoral pada saat melakukan tugas
pendampingan perawatan. Caring juga sebagai suatu affect yang digambarkan sebagai suatu
emosi, perasaan belas kasih atau empati terhadap pasien yang mendorong perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan bagi pasien. Dengan demikian perasaan tersebut harus ada
dalam diri setiap perawat supaya mereka bisa merawat pasien .
Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan
memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all,
1999) Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat
baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis,
spiritual, dan sosial. Bersikap caring untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari
berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan. Dalam memberikan asuhan, perawat
menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu
berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth, Steele,
Moffet, Rehmeyer, Cooper, & Burroughs, 1999). Para perawat dapat diminta untuk merawat,
namun tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring .

Caring merupakan dasar dalam melaksanakan praktik keperawatan profesional untuk


meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan memberikan kepuasan kepada pasien.

Secara bahasa, istilah caring diartikan sebagai tindakan


kepedulian. Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, serta suatu perasaaan empati pada
orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi.
Pengertian caring berbeda dengan care. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan
orang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku kepada individu,
keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan aktual maupun
potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia. Sedangkan caring
adalah tindakan nyata dari care yang menunjukkan suatu rasa kepedulian.

FAKTOR KARATIF DARI KONSEP CARING


Watson juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor karatif
yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar. Faktor
karatif membantu perawat untuk menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat,
kehidupan, dan dari pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai
kepuasan dalam melayani dan membantu klien. Sepuluh faktor karatif tersebut adalah sebagai
berikut.
1.    Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistic.
Perawat menumbuhkan rasa puas karena mampu memberikan sesuatu kepada klien. Selain
itu, perawat juga memperlihatkan kemampuan diri dengan memberikan pendidikan kesehatan
pada klien.
2.    Memberikan kepercayaan-harapan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan
keperawatan yang holistik. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam
mencari pertolongan kesehatan
3.    Menumbuhkan kesensitifan terhadap diri dan orang lain.
Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia sendiri dapat
menjadi lebih sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang lain.
4.    Mengembangkan hubungan saling percaya.
Perawat memberikan informasi dengan jujur, dan memperlihatkan sikap empati yaitu turut
merasakan apa yang dialami klien. Sehingga karakter yang diperlukan dalam faktor ini antara
lain adalah kongruen, empati, dan kehangatan.
5.    Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien. Perawat
memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien.
6.    Penggunaan sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan keputusan.
Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan
kepada klien.
7.    Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan asuhan mandiri,
menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal
klien.
8.    Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang mendukung.
Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal klien terhadap
kesehatan dan kondisi penyakit klien.
9.    Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manusiawi.
Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif diri dan klien. Pemenuhan kebutuhan
paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya.
10. Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomenologis agar pertumbuhan diri dan
kematangan jiwa klien dapat dicapai. Kadang-kadang seorang klien perlu dihadapkan pada
pengalaman/pemikiran yang bersifat profokatif. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan
pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri (Julia, 1995).
Dari kesepuluh faktor karatif tersebut, Watson merumuskan tiga faktor karatif yang
menjadi filosofi dasar dari konsep caring. Tiga faktor karatif tersebut adalah: pembentukan
sistem nilai humanistik danaltruistik, memberikan harapan dan kepercayaan, serta
menumbuhkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain (Julia, 1995).
Kesepuluh faktor karatif di atas perlu selalu dilakukan oleh perawat agar semua aspek
dalam diri klien dapat tertangani sehingga asuhan keperawatan profesional dan bermutu dapat
diwujudkan. Selain itu, melalui penerapan faktor karatif ini perawat juga dapat belajar untuk
lebih memahami diri sebelum memahami orang lain (Nurahmah, 2006).
Sebagai seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara
seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall
mengemukakan perpaduan tiga aspek tersebut dalam teorinya. Care merupakan komponen
penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang
terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan
asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia,
1995).
Menurut Boykin dan Schoenhofer, pandangan seseorang terhadap caring dipengaruhi
oleh dua hal yaitu persepsi tentang caring dan konsep perawat sebagai disiplin ilmu dan
profesi. Kemampuan caringtumbuh di sepanjang hidup individu, namun tidak semua perilaku
manusia mencerminkan caring (Julia, 1995).
caring merupakan perwujudan dari semua faktor yang digunakan perawat dalam
memberikan pelayanan kesehatan pada klien. Kemudian, caring juga menekankan harga diri
individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu
menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien.
Pusat dari semua atribut yang digunakan untuk menggambarkan keperawatan (Roach, 1984)
Sifat – Sifat Caring :
Mnrt Roach (1992), sifat caring manusia dpt ditunjukkan melalui 5C, yaitu
1. Compassion (rasa kasihan)
2. Competence (kemampuan)
3. Confidence (kepercayaan)
4. Conscience (hati nurani)
5. Commitment (tanggung jawab).

Beberapa ahli merumuskan konsep caring dalam beberapa teori. Menurut Watson, ada tujuh
asumsi yang mendasari konsep caring. Ketujuh asumsi tersebut adalah:
1. Caring  dapat dilakukan & dipraktekkan hanya secara interpersonal.
2. Caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi
kebutuhan manusia atau klien.
3. Caring yang efektif akan meá kesehatan & p’{ individu/ keluarga.
4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun
juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya.
5. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan
seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya
sendiri.
6. Caring lebih kompleks dari pada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan
biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan
derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit.
7. Caring merupakan inti dari keperawatan.

10 Faktor Curative (Watson, 1985)


1. Pembentukan sistem nilai humanistik & altruistic.
àPerawat menumbuhkan rasa puas krn mampu memberikan sesuatu kpd klien. Selain itu,
perawat juga memperlihatkan kemampuan diri dengan memberikan pendidikan kesehatan
pada klien.
2. Memberikan kepercayaan-harapan dengan cara memfasilitasi & meningkatkan asuhan
keperawatan yang holistik.
àPerawat meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan
3. Menumbuhkan kesensitifan terhadap diri & orla
àPerawat belajar menghargai kesensitifan & perasaan klien, shg ia sendiri dpt menjadi lebih
sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang lain.
4. Mengembangkan hubungan saling percaya.
à Perawat memberikan informasi dgn jujur, & memperlihatkan sikap empati yaitu turut
merasakan apa yang dialami klien.
5. Meningkatkan & menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien.
àPerawat memberikan waktunya dgn mendengarkan semua keluhan & perasaan klien.
6. Penggunaan sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan keputusan.
à Perawat menggunakan metoda proses kep sbg pola pikir & pendekatan asuhan kpd klien.
7. Peningkatan pembelajaran & pengajaran interpersonal, memberikan asuhan mandiri,
menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal
klien.
8. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang mendukung.
àPerawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal & eksternal klien thdp kesehatan &
kondisi penyakit klien.
9. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manusiawi.
àPerawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif diri & klien. Pemenuhan kbthn paling
dasar perlu dicapai sblm beralih ketingkat selanjutnya.
10. Mengijinkan terjadinya tekanan yg bersifat fenomenologis agar pertumbuhan diri &
kematangan jiwa klien dapat dicapai.
B. APLIKASI CARING DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN PRAKTEK
KEPERAWATAN

  Aplikasi Caring menurut Jean Watson:

1. Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan ketenangan dalam
konteks kesadaran terhadap caring.
2. Hadir dengan sepenuhnya, dan mewujudkan dan mempertahankan sistem
keperacayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari dirinya dan orang
dirawat.

3. Memberikan perhatian terhadap praktekpraktek spiritual dan transpersonal diri orang


lain, melebihi ego dirinya.
4. Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang sebenarnya, yang
saling bantu dan saling percaya.
5. Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif dan negative
sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri sendiri dan orang yang
dirawat.
6. Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara kreatif sebagai
bagian dari proses caring, untuk terlibat dalam penerapan caring-healing yang artistik.
7. Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang mengakui
keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain.
8. Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan, baik fisik maupun nonfisik,
lingkungan yang kompleks dari energi dan kesadaran, yang memiliki keholistikan,
keindahan, kenyamanan, martabat, dan kedamaian.
9. Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar, dengan kesadaran caring yang
penuh,memberikan “human care essentials”, yang memunculkan penyesuaian jiwa,
raga dan pikiran, keholistikan, dan kesatuan diri dalam seluruh aspek care; dengan
melibatkan jiwa dan keberadaan secara spiritual.
10. Menelaah dan menghargai misteri spritual, dan dimensi eksistensial dari kehidupan
dan kematian seseorang, “soulcare” bagi diri sendiri dan orang yang dirawat.

  Aplikasi Caring Secara Umum


1.      Memenuhi kebutuhan dasar pasien
Caring ditunjukkan melalui penatalaksanaan kebutuhan dasar pasien dimana kebutuhan fisik
menjadi prioritas. Contohnya, memandikan, memakaikan pakaian, memberi makan dan
mengangkat pasien.
2.      Perawatan fisik membantu mengembangkan respon empati
Praktik penyediaan perawatan fisik untuk pasien memainkan peranan penting dalam
membanggun pemahaman empatik terhadap situasi pasien. Dengan cara ini hubungan yang
lebih dekat dengan pasien terbentuk. Caring secara fisik memberi jalan untuk mengasuh dan
mendukung secara emosional dan psikologis.
3.      Hubungan yang optimis
Pendekatan lain yang diterapkan perawat adalah mengadopsi kesan optimisme yang tidak
dijamin ketika bersama [Link] mencoba mendorong moral pasiennya, dan ini
menambah semangatnya sendiri walaupun perawat mengetahui bahwa ia tidak dapat jujur
sepenuhnya tentang kondisi pasien yang buruk dan masa depan pasien yang tidak pasti.
4.      Mengatakan pada pasien untuk tidak khawatir
Meskipun soerang perawat tahu bahwa kondisi pasien tersebut kritis, perawat harus mampu
mengatakan padan pasiennya untuk tidak khawatir dan menekankan aspek-aspek positif atas
kondisi pasien yang kritis. Ia melarang pasiennya berpikir terlalu banyak mengenai risiko
kritis pasien dan harus mendorong pasien untuk berpikir cepat sembuh. Intinya, seorang
perawat harus mampu meringankan kecemasan pasien.
5.      Berupaya untuk tidak membeberkan informasi
Perawat berupaya untuk tidak memebeberkan iinformasi yang dapat memperburuk kondisi
pasien.

1. Perilaku Caring dalam Praktik Keperawatan


Caring bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan, tetapi merupakan hasil dari
kebudayaan, nilai-nilai, pengalaman, dan dari hubungan dengan orang lain. Sikap
keperawatan yang berhubungan dengan caring adalah kehadiran, sentuhan kasih sayang,
mendengarkan, memahami klien, caring dalam spiritual, dan perawatan keluarga.

a. Kehadiran
Kehadiran adalah suatu pertemuan antara seseorang dengan seseorang lainnya yang
merupakan sarana untuk mendekatkan diri dan menyampaikan manfaat caring. Menurut
Fredriksson (1999), kehadiran berarti “ada di” dan “ada dengan”. “Ada di” berarti kehadiran
tidak hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga komunikasi dan pengertian. Sedangkan “ada
dengan” berarti perawata selalu bersedia dan ada untuk klien (Pederson, 1993). Kehadiran
seorang perawat membantu menenangkan rasa cemas dan takut klien karena situasi tertekan.

b. Sentuhan
Sentuhan merupakan salah satu pendekatan yang menenangkan dimana perawat dapat
mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian dan dukungan. Ada dua jenis
sentuhan, yaitu sentuhan kontak dan sentuhan non-kontak. Sentuhan kontak merupakan
sentuhan langsung kullit dengan kulit. Sedangkan sentuhan non-kontak merupakan kontak
mata. Kedua jenis sentuhan ini digambarkn dalam tiga kategori :
1) Sentuhan Berorientasi-tugas
Saat melaksanakan tugas dan prosedur, perawat menggunakan sentuhan ini. Perlakuan yang
ramah dan cekatan ketika melaksanakan prosedur akan memberikan rasa aman kepada klien.
Prosedur dilakukan secara hati-hati dan atas pertimbangan kebutuhan klien.
2) Sentuhan Pelayanan (Caring)
Yang termasuk dalam sentuhan caring adalah memegang tangan klien, memijat punggung
klien, menempatkan klien dengan hati-hati, atau terlibat dalam pembicaraan (komunikasi
non-verbal). Sentuhan ini dapat mempengaruhi keamanan dan kenyamanan klien,
meningkatkan harga diri, dan memperbaiki orientasi tentang kanyataan (Boyek dan Watson,
1994).
3) Sentuhan Perlindungan
Sentuhan ini merupakan suatu bentuk sentuhan yang digunakan untuk melindungi perawat
dan/atau klien (fredriksson, 1999). Contoh dari sentuhan perlindungan adalah mencegah
terjadinya kecelakaan dengan cara menjaga dan mengingatkan klien agar tidak terjatuh.
Sentuhan dapat menimbulkan berbagai pesan, oleh karena itu harus digunakan secara
bijaksana.

c. Mendengarkan
Untuk lebih mengerti dan memahami kebutuhan klien, mendengarkan merupakan kunci,
sebab hal ini menunjukkan perhatian penuh dan ketertarikan perawat. Mendengarkan
membantu perawat dalam memahami dan mengerti maksud klien dan membantu menolong
klien mencari cara untuk mendapatkan kedamaian.
d. Memahami klien
Salah satu proses caring menurut Swanson (1991) adalah memahami klien. Memahami klien
sebagai inti suatu proses digunakan perawat dalam membuat keputusan klinis. Memahami
klien merupakan pemahaman perawat terhadap klien sebagai acuan melakukan intervensi
berikutnya (Radwin,1995). Pemahaman klien merupakan gerbang penentu pelayanan
sehingga, antara klien dan perawat terjalin suatu hubungan yang baik dan saling memahami.

e. Caring Dalam Spiritual


Kepercayaan dan harapan individu mempunyai pengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang.
Spiritual menawarkan rasa keterikatan yang baik, baik melalui hubungan intrapersonal atau
hubungan dengan dirinya sendiri, interpersonal atau hubungan dengan orang lain dan
lingkungan, serta transpersonal atau hubungan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi.
Hubungan caring terjalin dengan baik apabila antara perawat dan klien dapat memahami satu
sama lain sehingga keduanya bisa menjalin hubungan yang baik dengan melakukan hal
seperti, mengerahkan harapan bagi klien dan perawat; mendapatkan pengertian tentang
gejala, penyakit, atau perasaan yang diterima klien; membantu klien dalam menggunakan
sumber daya sosial, emosional, atau spiritual; memahami bahwa hubungan caring
menghubungkan manusia dengan manusia, roh dengan roh.

f. Perawatan Keluarga
Keluarga merupakan sumber daya penting. Keberhasilan intervensi keperawatan sering
bergantung pada keinginan keluarga untuk berbagi informasi dengan perawat untuk
menyampaikan terapi yang dianjurkan. Menjamin kesehatan klien dan membantu keluarga
untuk aktif dalam proses penyembuhan klien merupakan tugas penting anggota keluarga.
Menunjukkan perawatan keluarga dan perhatian pada klien membuat suatu keterbukaan yang
kemudian dapat membentuk hubungan yang baik dengan anggota keluarga klien.

2. Pandangan Tentang Konsep Caring


a. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima oleh semua orang.
b. Penyusunan kebijaksanaan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan
kesehatan.
c. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan klien sebagai penerima pelayanan
kesehatan dapat membentuk kerjasama untuk mendorong dan mempengaruhi perubahan
dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan.
d. Lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan penduduk, kelompok, keluarga dan individu.
e.   Pencegahan penyakit sangat diperlukan untuk peningkatan kesehatan.
f.   Kesehatan merupakan tanggung jawab individu.
g. Klien merupakan anggota tetap team kesehatan. Individu dalam komunitas bertanggung
jawab untuk kesehatan sendiri dan harus didorong serta dididik untuk berperan dalam
pelayanan kesehatan.

3. Prinsip dasar dalam praktek caring kesehatan masyarakat


a. Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat
b. Sasaran terdiri dari, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
c. Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bkerja untuk masyarakat.
d. Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upaya pomotif dan
preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
e. Dasar utama dalam peayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah menggunakan
pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses keperawatan.
f. kegiatan utama perawatan kesehatan mayarakat adalah dimasyarakat dan bukan di rumah
sakit.
g. Pasien adalah masyarakat secara keseluruhan baik yang sakit maupun yang sehat.
h. Perawatan kesehatan masyarakat ditkankan kepada pembinaan perilaku hidup sehat
masyarakat.
i. Tujuan perawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan fungsi kehidupan sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.
j. Perawat kesehatan masyarakat tidak bekerja secara sendiri tetapi bekerja secara team.
k. Sebagian besar waktu dari seorang perawat kesehatan masyarakat digunakan untuk
kegiatan meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit, melayani masyarakat yang sehat
atau yang sakit, penduduk sakit yang tidak berobat ke puskesmas, pasien yang baru kembali
dari rumah sakit.
l. Home visite sangat penting.
m. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama.
n. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakan harus mengacu pada sistem pelayanan
kesehatan yang ada.

4. Etika Pelayanan
Watson ( 1988 ) menyarankan agar caring sebagai suatu sikap moral yang ideal,
memberikan sikap pendirian terhadap pihak yang melakukan intervensi seperti perawat.
Sikap pendirian ini perlu untuk menjamin bahwa perawat bekerja sesuai standar etika untuk
tujuan dan motivasi yang baik. Kata etika merujuk pada kebiasaan yang benar dan yang
salah. Dalam setiap pertemuan dengan klien, perawat harus mengetahui kebiasaan apa yang
sesuai secara etika. Etika keperawatan bersikap unik, sehingga perawat tidak boleh membuat
keputusan hanya berdasarkan prinsip intelektual atau analisis.
Etika keperawatan berfokus pada hubungan antara individu dengan karakter dan sikap
perawat terhadap orang lain. Etika keperawatan menempatkan perawat sebagai penolong
klien, memecahkan dilema etis dengan cara menghadirkan hubungan dan memberikan
prioritas kepada klien dengan kepribadian khusus.

PERILAKU CARING DALAM PELAYANAN KESEHATAN


Caring bukan sesuatu yang dapat diajarkan, tetapi merupakan hasil dari kebudayaan,
nilai-nilai, pengalaman, dan dari hubungan dengan orang lain. Sikap keperawatan yang
berhubungan dengan caring adalah kehadiran, sentuhan kasih sayang, mendengarkan,
memahami klien, caring dalam spiritual, dan perawatan keluarga.
a)      Kehadiran adalah suatu pertemuan antara seseorang dengan seseorang lainnya yang
merupakan sarana untuk mendekatkan diri dan menyampaikan manfaat caring.
b)      Sentuhan merupakan salah satu pendekatan yang menenangkan dimana perawat dapat
mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian dan dukungan. Ada dua jenis
sentuhan, yaitu sentuhan kontak dan sentuhan non-kontak. Sentuhan kontak merupakan
sentuhan langsung kullit dengan kulit. Sedangkan sentuhan non-kontak merupakan kontak
mata.
c)      Sentuhan Perlindungan merupakan suatu bentuk sentuhan yang digunakan untuk
melindungi perawat dan/atau [Link] dari sentuhan perlindungan adalah mencegah
terjadinya kecelakaan dengan cara menjaga dan mengingatkan klien agar tidak terjatuh.
Sentuhan dapat menimbulkan berbagai pesan, oleh karena itu harus digunakan secara
bijaksana.
d)     Mendengarkan untuk lebih mengerti dan memahami kebutuhan klien, mendengarkan
merupakan kunci, sebab hal ini menunjukkan perhatian penuh dan ketertarikan perawat.
Mendengarkan membantu perawat dalam memahami dan mengerti maksud klien dan
membantu menolong klien mencari cara untuk mendapatkan kedamaian.
e)      Memahami klien adalah sebagai inti suatu proses digunakan perawat dalam membuat
keputusan klinis.
f)       Caring Dalam Spiritual adalah kepercayaan dan harapan individu mempunyai pengaruh
terhadap kesehatan fisik seseorang.
g)      Perawatan Keluarga merupakan sumber daya penting. Menjamin kesehatan klien dan
membantu keluarga untuk aktif dalam proses penyembuhan klien merupakan tugas penting
anggota keluarga. Menunjukkan perawatan keluarga dan perhatian pada klien membuat suatu
keterbukaan yang kemudian dapat membentuk hubungan yang baik dengan anggota keluarga
klien.

Konsep Perilaku Caring Perawat :


Caring adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada
individu secara utuh. Tindakan dalam bentuk perilaku caring seharusnya diajarkan pada
manusia sejak lahir, masa perkembangan, masa pertumbuhan, masa pertahanan sampai
dengan meninggal. Perilaku caring bertujuan dan berfungsi mengubah struktur sosial,
pandangan hidup dan nilai dalam merawat diri sendiri dan orang lain dalam prakteknya akan
berbeda pada setiap kultur dan etik serta pada sistem profesional care-nya (Leininger, 1991).

Proses caring :
Proses keperawatan yg sistematis yg dilakukan oleh perawat kepada klien dalam
menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan
diagnosa, merencanakan tindakan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil. Perilaku caring
perawat dan tingkat kepuasan klien diidentifikasikan dengan instrumen yg memiliki
“komponen caring” yaitu :
a.       Kesiapan membantu
b.      Penjelasan & kemudahan
c.       Kenyamanan
d.      Tindakan antisipasi
e.       Membina hubungan saling percaya
f.       Pemantauan & pengawasan

Ciri – Ciri Caring :


a.       Tanggung jawab
b.      Ikhlas
c.       Rasa iba
d.      Perhatian
e.       Empati
f.       Fasilitasi
g.      Perhatian
h.      Dukungan
i.        Melibatkan
j.        Kerjasama
k.      Bertindak dalam pmeliharaan kesehatan
l.        Tingkah laku membantu
m.    Cinta & kepercayaan
n.      Pengasuhan
o.      Bantuan atau pertolongan
p.      Kelembutan hati.

Pandangan Tentang Konsep Caring


1.    Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima oleh semua
orang.
2.    Penyusunan kebijaksanaan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan
kesehatan.
3.    Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan klien sebagai penerima pelayanan
kesehatan dapat membentuk kerjasama untuk mendorong dan mempengaruhi perubahan
dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan.
4.    Lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan penduduk, kelompok, keluarga dan
individu.
5.    Pencegahan penyakit sangat diperlukan untuk peningkatan kesehatan.
6.    Kesehatan merupakan tanggung jawab individu.
7.    Klien merupakan anggota tetap team kesehatan. Individu dalam komunitas bertanggung
jawab untuk kesehatan sendiri dan harus didorong serta dididik untuk berperan dalam
pelayanan kesehatan.

Prinsip dasar dalam praktek caring kesehatan masyarakat


1.    Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat
2.    Sasaran terdiri dari, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
3.    Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bkerja untuk masyarakat.
4.    Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upaya pomotif dan
preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
5.    Dasar utama dalam peayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah menggunakan
pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses keperawatan.
6.    kegiatan utama perawatan kesehatan mayarakat adalah dimasyarakat dan bukan di rumah
sakit.
7.    Pasien adalah masyarakat secara keseluruhan baik yang sakit maupun yang sehat.
8.    Perawatan kesehatan masyarakat ditkankan kepada pembinaan perilaku hidup sehat
masyarakat.
9.    Tujuan perawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan fungsi kehidupan
sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.
10. Perawat kesehatan masyarakat tidak bekerja secara sendiri tetapi bekerja secara team.
11. Sebagian besar waktu dari seorang perawat kesehatan masyarakat digunakan untuk
kegiatan meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit, melayani masyarakat yang sehat
atau yang sakit, penduduk sakit yang tidak berobat ke puskesmas, pasien yang baru kembali
dari rumah sakit.
12. Home visite sangat penting.
13. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama.
14. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakan harus mengacu pada sistem pelayanan
kesehatan yang ada.

Peran perawat konsep caring komunitas dalam asuhan keperawatan.

Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi
satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yangsama.(WHO).
Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama
dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mesekak
tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Linda Jarvis).
Komunitas dipandang sebagai target pelayanan kesehatan sehingga diperlukan suatu
kerjasama yang melibatkan secara aktif masyarakat untuk mencapai peningkatan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal, untuk itu dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang
diberikan perawat komunitas merupakan suatu upaya yang esensial atau sangat dibutuhkan
oleh komunitas, mudah dijangkau, dengan pembiayaan yang murah, lebih ditekankan pada
penggunaan teknologi tepat guna.
Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dimana individu, keluarga maupun
masyarakat sebagai pelaku kegiatan upaya peningkatan kesehatan serta bertanggung jawab
atas kesehatannya sendiri berdasrkan azas kebersamaan dan kemandirian.
Perawatan Kesehatan Masyarakat merupakan sintesa dari praktek keperawatan dan
praktek kesehatan masyarakat yang diaplikasikan untuk meningkatkan kesehatan dan
pemeliharaan kesehatan dari masyarakat. Perawatan Kesehatan Masyarakat mempunyai
tujuan membantu masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan dan pencegahan terhadap
penyakit melalui:
1.    Pemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada individu, keluarga, dan
kelompok dalam masyarakat, dengan strategi intervensi yaituproses kelompok, pendidikan
kesehatan serta kerjasama (partnership).
2.    Memperhatikan secara langsung terhadap status kesehatan seluruh masyarakat secara
komprehensive.

Pada Perawatan Kesehatan Masyarakat harus mempertimbangkan beberapa prinsip,


yaitu:
a.    Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi
komunitas.
b.    Kerjasama
Kerjasaman dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta
melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral.
c.    Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan
lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama
peningkatan kesehatan.
d.    Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu
sendiri.
e.    Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa alternatif
terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.
Persepsi Klien Tentang Caring
Penelitian tentang persepsi klien penting karena pelayanan kesehatan merupakan fokus
terbesar dari tingkat kepuasan klien. Jika klien merasakan penyelenggaraan pelayanan
kesaehatan bersikap sensitif, simpatik, merasa kasihan, dan tertarik terhadap mereka sebagai
individu, mereka biasanya menjadi teman sekerja yang aktif dalam merencanakan perawatan
( Attree, 2001 ). Klien dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mereka semakin puas saat
perawat melakukan caring.
Biasanya klien dan perawat melakukan persepsi yang berbeda tentang caring ( Mayer,
1987; Wolf, Miller, dan Devine, 2003 ). Untuk alasan tersebut, fokuskan pada membangun
suatu hubungan yang membuat perawat mengetahui apa yang penting bagi klien. Contoh,
perawat mempunyai klien yang takut untuk dipasang kateter intravena, perawat tersebut
adalah perawat yang belum terampil dalam memasukkan kateter intravena. Perawat tersebut
memutuskan bahwa klien akan lebih diuntungkan jika dibantu oleh perawat yang sudah
terampil daripada memberikan penjelasan prosedur untuk mengurangi kecemasan. Dengan
mengetahui siapa klien, dapat membantu perawat dalam memilih pendekatan yang paling
sesuai dengan kebutuhan klien.

Beberapa persepsi klien tentang caring:

[Link] klien wanita (Riemen, 1986)


1. Berespon terhadap keunikan klien
2. Memahami dan mendukung perhatian klien
3. Hadir secara fisik
4. Memiliki sikap & menunjukkan prilaku yg membuat klien merasa dihargai sebagai
manusia
5. Kembali ke klien dengan sukarela tanpa diminta
6. Menunjukkan perhatian yg memberi kenyamanan & merelaksasi klien
7. Bersuara halus dan lembut
8. Memberi perasaan nyaman

B. Persepsi klien pria ( Riemen, 1986 )


1. Hadir scr fisik sehingga klien merasa dihargai
2. Kembali ke klien dgn sukarela tanpa diminta
3. Membuat klien merasa nyaman, relaks, & aman
4. Hadir untuk memberi kenyamanan dan memenuhi kebutuhan klien sebelum diminta
5. Menggunakan suara dan sikap yang baik, halus, lembut dan menyenangkan

C. Persepsi klien kanker & klg ( Mayer,1986)


1. Mengetahui bagaimana memberikan injeksi dan mengelola peralatan
2. Bersikap ceria
3. Mendorong klien untuk menghubungi perawat bila klien mempunyai masalah
4. Mengutamakan atau mendahulukan kepentingan klien
5. Mengantisipasi pengalaman pertama adalah yang terberat

D. Persepsi klien dewasa yang dirawat ( Brown, 1986 )


1. Kehadirannya menentramkan hati
2. Memberikan informasi
3. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan profesional
4. Mampu menangani nyeri atau rasa sakit
5. Memberi waktu yang lebih banyak dari yang dibutuhkan
6. Mengenali kualitas dan kebutuhan individual
7. Selalu mengawasi klien

E. Persepsi dari keluarga


1. Jujur
2. Memberikan penjelasan dengan jelas
3. Selalu menginformasikan keluarga
4. Mencoba untuk membuat klien nyaman
5. Menunjukkan minat dalam menjawab pertanyaan
6. Memberikan perawatan emergensi bila perlu
7. Menjawab pertanyaan anggota keluarga secara jujur, terbuka dan ikhlas
8. Mengijinkan klien melakukan sesuatu untuk dirinya sebisa mungkin
9. Mengajarkan keluarga cara memelihara kondisi fisik yg lebih nyaman
C. PERBEDAAN CARING DAN CURING
Kita harus mengetahui Perbedaan Caring dan Curing, agar jelas dalam
pemanfaatannya. Perawat memerlukan kemampuan khusus saat melayani orang atau pasien
yang sedang menderita sakit. Kemampuan khusus tersebut mencakup keterampilan
intelektual, teknikal, dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring (Johnson, 1989).
Caring merupakan fenomena universal yang berhubungan dengan bagaimana seseorang
berpikir, berperasaan, dan bersikap terhadap orang lain. Dalam teori caring, human care
merupakan hal yang mendasar. Human care terdiri dari upaya untuk melindungi,
meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang
lain, mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain
untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri (Pasquali dan Arnold, 1989 dan
Watson, 1979). Di samping itu, Watson dalam Theory of Human Care mempertegas bahwa
caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima
asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian
mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.
Dari sini kita tahu, caring bukan semata-mata perilaku. Sikap caring dalam
memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah
lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien, dan bersikap sebagai
media pemberi asuhan (Carruth et al., 1999). Caringdalam asuhan keperawatan merupakan
bagian dari bentuk kinerja perawat dalam merawat pasien. Perilaku caring perawat menjadi
jaminan apakah perawat bermutu atau tidak. Caring sebagai inti profesi keperawatan dan
fokus sentral dalam praktik keperawatan, bersifat universal dan terdiri dari perilaku-perilaku
khusus yang ditentukan oleh dan terjadi dalam konteks budaya. Di dalamnya memiliki makna
yang bersifat aktifitas, sikap (emosional) dan kehati-hatian (Barnum, 1994).
Beberapa tokoh keperawatan seperti Watson (1979), Leininger (1984), Benner (1989)
menempatkan caring sebagai dasar dalam praktek keperawatan. Diperkirakan bahwa sekitar
¾ pelayanan kesehatan merupakan caring sedangkan ¼ -nya merupakan curing. Sebagai
seorang perawat, kemampuan care dan cureharus dipadukan secara seimbang sehingga
menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Curing sendiri memiliki
pengertian yaitu upaya kesehatan dari kegiatan dokter dalam prakteknya untuk mengobati
pasien. Selain itu juga dapat dipahami bahwa curing merupakan ilmu yang empirik,
mengobati berdasarkan bukti/data dan mengobati dengan patofisiologi yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Hall (1969) mengemukakan perpaduan kedua aspek tersebut. Menurutnya, care
merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Sedangkan cure
merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan
secara total kepada klien, maka kedua aspek ini harus dipadukan (Julia, 1995). Namun, tetap
ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Dalam UU no. 23 tahun 1992 menyebutkan
bahwa penyembuh penyakit dilaksanakan oleh tenaga dokter dan perawat melalui kegiatan
pengobatan dan/ atau keperawatan berdasarkan ilmu keperawatan. Dari situ terlihat bahwa
antara caring dan curing terdapat perbedaan. Caring merupakan tugas primer perawat dan
curing adalah tugas sekundernya. Begitu pula curing, curing merupakan tugas primer dokter
dan caring sebagai tugas sekundernya.
Curing merupakan komponen dalam caring. Karena di dalam caring termasuk salah
satunya adanya kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk membantu penyembuhan klien.
Jadi, tetap mempunyai hubungan yang saling melengkapi.
Perbedaan antara caring dan curing dapat lebih jelas jika dilihat dari diagnosis,
intervensi, dan tujuannya. Di dalam caring terdapat diagnosis keperawatan yang merupakan
suatu kegiatan mengidentifikasi masalah dan penyebab berdasarkan kebutuhan dan respon
klien. Sedangkan di dalam curing terdapat diagnosis medis yaitu suatu bentuk kinerja yang
mengungkapkan penyakit yang diderita klien. Dengan kata lain dapat disebut diagnosa
penyakit.
Dalam caring lebih dititik-beratkan pada kebutuhan dan respon klien untuk ditanggapi
dengan pemberian perawatan. Berbeda dengan curing lebih memperhatikan penyakit yang
diderita serta penanggulangannya. Selain itu, dapat juga dilihat dari intervensinya. Intervensi
keperawatan (caring) yaitu membantu klien memenuhi masalah klien baik fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual dengan tindakan keperawatan yang meliputi intervensi keperawatan,
observasi, pendidikan kesehatan, dan konseling. Sedangkan intervensi kedokteran (curing)
lebih ke melakukan tindakan pengobatan dengan obat (drug) dan tindakan operatif. Dari sini
dapat dipahami bahwa caringmemperhatikan klien dari aspek fisik, psikologi, sosial, serta
spiritualnya sedangkan curing menekankan pada aspek kesehatan dan fisik kliennya.
Satu hal lagi yang dapat dipahami dari perbedaan caring dan curing yaitu dari aspek tujuan.
Tujuan dari perilaku caring, yaitu:
1. Membantu pelaksanaan rencana pengobatan atau terapi.
2. Membantu pasien/ klien beradaptasi dengan masalah kesehatan, mandiri memenuhi
kebutuhan dasarnya, mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan meningkatkan
fungsi dari tubuh pasien.
Sedangkan tujuan dari kegiatan curing adalah menentukan dan menyingkirkan
penyebab penyakit atau mengubah problem penyakit dan penanganannya.
Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa caring lebih
kompleks daripada curing. Karena caring memberikan pelayanan yang menyangkut seluruh
kebutuhan pasien baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. Curing hanya bagian dari
caring. Sebagai seorang perawat, kita harus mampu membedakannya dan melakukan caring
dengan sebaik-baiknya. Kesejahteraan klien didapat dari totalitas kita dalam melakukan
caring. Caring tidak akan pernah lepas dari profesi keperawatan. Karena caring merupakan
esensi keperawatan itu sendiri.

Keperawatan sebagai suatu profesi dan berdasarkan pengakuan masyarakat adalah


ilmu kesehatan tentang asuhan atau pelayanan keperawatan atau The Health Science of
Caring (Lindberg,1990:40). Secara bahasa, caring dapat diartikan sebagai tindakan
kepedulian dan curing dapat diartikan sebagai tindakan pengobatan. Namun, secara
istilah caring dapat diartikan memberikan bantuan kepada individu atau sebagai advokasi
pada individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedangkan curing adalah
upaya kesehatan dari kegiatan dokter dalam prakteknya untuk mengobati klien. Dalam
penerapannya, konsep caring dan curing mempunyai beberapa perbedaan, diantaranya:
1. Caring merupakan tugas primer perawat dan curing adalah tugas sekunder. Maksudnya
seorang perawat lebih melakukan tindakan kepedulian terhadap klien daripada memberikan
tindakan medis. Oleh karena itu, caring lebih identik dengan perawat.
2. Curing merupakan tugas primer seorang dokter dan caring adalah tugas sekunder.
Maksudnya seorang dokter lebih melibatkan tindakan medis tanpa melakukan tindakan caring
yang berarti. Oleh karena itu, curing lebih identik dengan dokter.
3. Dalam pelayanan kesehatan klien yang dilakukan perawat, ¾ nya adalah caring dan ¼ nya
adalahcuring.
4. Caring bersifat lebih “Healthogenic” daripada curing. Maksudnya caring lebih
menekankan pada peningkatan kesehatan daripada pengobatan. Di dalam
praktiknya, caring mengintegrasikan pengetahuan biofisik dan pengetahuan perilaku manusia
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan untuk menyediakan pelayanan bagi mereka yang
sakit.
5. Tujuan caring adalah membantu pelaksanaan rencana pengobatan/terapi dan membantu
klien beradaptasi dengan masalah kesehatan, mandiri memenuhi kebutuhan dasarnya,
mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan dan meningkatkan fungsi tubuh sedangkan
tujuan curing adalah menentukan dan menyingkirkan penyebab penyakit atau mengubah
problem penyakit dan penanganannya.
6. Diagnosa dalam konsep curing dilakukan dengan mengungkapkan penyakit yang diderita
sedangkan diagnosa dalam konsep caring dilakukan dengan identifikasi masalah dan
penyebab berdasarkan kebutuhan dan respon klien.
BAB III SKENARIO ROLEPLAY TENTANG APLIKASI CARING

Para anggota (pemain)


Serly Berlian : narrator
Annisa Febi Ramadhani : pasien fraktur jari manis
Hertati : ibu pasien
Ramaya Des Fitri : perawat administrasi
Sali Zakiah Muslim : perawat ruang IGD
Eva Afriyanti Yuningsih : perawat ruang IGD
Helma Yuningsih : perawat ruang inap (shift siang)
Yuli Indah Sari : perawat ruang inap (shift siang)
Annisa Fatma : perawat ruang inap (shift malam)
Azizah Yulia Ulfa : perawan ruang inap (shift malam)

Cerita : suatu hari seorang gadis berumur 20 tahun mengalami kecelakaan motor dan
mengalami fraktur jari manis. Oleh keluarganya dibawa ke rumah sakit untuk
mendapat perawatan medis.

Setting 1: [di ruang administrasi]


Perawat administrasi (amoy) : assalamualaikum buk ada yang bisa saya
bantu?
Ibu pasien(hertati) : walaikumsalam. Iya mbak saya mau memesan
kamar untuk anak saya atas nama Annisa Febi
Ramadhani.
Perawat administrasi(amoy) : baiklah bu saya cek dulu. Baiklah bu mau
ruangan VIP, VVIV, atau yang biasa bu.
Ibu pasien(hertati) : iya mbak saya mau ruangan VVIV saja.
Perawat administrasi(amoy) : baiklah bu. (kemudian perawat administrasi
menghubungi perawat ruang IGD (Sali)).
Assalamualaikum perawat Sali.
Perawat ruang IGD (Sali) : walaikumsalam wrb. Ada apa ya perawat
amoy?
Perawat administrasi (amoy) : begini perawat Sali ada pasien baru yang akan
memasuki ruang inap VVIV atas nama Annisa
Febi Ramadhani jenis penyakit fraktur pada jari
manisnya yang akan memasuki ruang IGD pada
jam 08.00 pagi, di C.14 tolong di antarkan ke
ruangannya ya perawat Sali.
Perawat ruang IGD (Sali) : baiklah perawat amoy.
Perawat administrasi (amoy) : terima kasih perawat Sali. Assalamualaikum.
Perawat ruang IGD (Sali) : walaikumsalam wrb.

Kemudian setelah mendapat telepon dari perawat administrasi (amoy) perawat Sali
pun langsung mencari pasien yang bernama chua dengan cepat perawat Sali pun
menemuinya sebelum pasien di antar ke ruangan terjadi percakapan antara perawat
Sali, perawat eva terhadap pasien.
Setting 2 : [di ruang gawat darurat]

Perawat ruang IGD (Sali) : assalamualaikum ibu. Saya perawat Sali zakiah
muslim biasa dipanggil perawat Sali.
Perawat ruang IGD (eva) : dan saya perawat eva afriyanti yuningsih biasa
di panggil perawat eva.
Pasien (chua) : iya benar.
Perawat ruang IGD (Sali) : baiklah ibu disini kami ditugaskan untuk
mengantarkan ibu ke ruang VVIV di kamar
C.14. bisakah kami mengantarkan ibu sekarang
ibu?
Pasien (chua) : baiklah silahkan.

Dan perawat Sali beserta perawat eva mengantarkan pasien nisa ke ruang inap. Dan
setibanya di ruang inapVVIV C.14 terjadi percakapan antara perawat ruang IGD
(eva) dengan perawat ayu.

Perawat ruang IGD (eva) : pagi perawat ayu ini ada pasien baru yang akan
menginap di ruangan ini atas nama pasien chua
dengan penyakit fraktur pada jari manisnya.
Perawat ruang inap (ayu) : iya silahkan perawat amoy di bagian sudut sana
ya perawat amoy. (sambil menunjuk ke bagian
sudut ruangan).
Perawat ruang IGD (eva) : baik terima kasih perawat ayu.
Perawat ruang inap (ayu) : iya sama-sama.

Setelah mendapat izin dari perawat ruang inap (ayu) kemudian perawat amoy beserta
perawat eva membaringkan pasien nisa dibagian sudut ruangan dan setelah itu terjadi
percakapan antara perawat dengan pasien.

Perawat ruang IGD (amoy) : baiklah ibu tugas kami sudah selesai. Adakah
yang ingin ibu tanyakan yang kiranya belum ibu
mengerti atau petunjuk-petunjuk yang belum ibu
ketahui?
Pasien (chua) : tidak ada.
Perawat ruang IGD (amoy) : baiklah ibu setelah ini ada perawat yang akan
menggantikan kami di sini ibu bisa memanggil
perawat ayu atau perawat yuli jika ibu ingin
membutuhkan sesuatu. Perawat ayu dan perawat
yuli kami percayakan pasien chua kepada anda.
Perawat ruang inap (ayu dan yuli) : baiklah perawat amoy.
Perawat ruang inap (eva) : cepat sembuh ya ibu.
Pasien (chua) : iya terima kasih.
Perawat ruang IGD (amoy dan eva)
dan Perawat ruang inap (ayu dan yuli) : kalau begitu kami permisi dulu.
Assalamualaikum.
Pasien (chua) : walaikumsalam.
Setting 3 : [di ruang inap siang hari]

Perawat ruang inap (ayu) : assalamualaikum ibu.


Pasien (chua) : iya walaikumsalam.
Perawat ruang inap (ayu) : baiklah bu perkenalkan saya perawat helma
yuningsih biasa dipanggil perawat ayu.
Perawat ruang inap (yuli) : dan saya perawat yuli indah sari biasa
dipanggil perawat yuli.
Perawat ruang inap (ayu) : baiklah ibu kami bertugas shift pagi hingga
siang dari jam 07.00 sampai jam 14.00 jika ibu
butuh bantuan ibu bisa menghubungi kami, baik
ibu sekarang rekan saya perawat yuli akan
memeriksa keadaan ibu. Silahkan perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu, bagaimana keadaan ibu hari ini?
Pasien (chua) : agak sedikit buruk perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu saya akan memeriksa keadaan ibu
yang mana saya akan memeriksa tekanan darah
ibu, suhu tubuh ibu, dan denyutan nadi ibu.
Pasien (chua) : iya perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu lebih nyaman diperiksa posisi
berbaring atau posisi duduk?
Pasien (chua) : duduk saja perawat yuli. (perawat yuli pun
menaikan sandaran pada pasien chua).
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu maaf ya ibu. (perawat yuli
memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan
denyut nadi pasien). Alhamdulillah
pemeriksaannya sudah selesai ibu. (perawat
yuli mengembalikan pasien chua ke posisis
berbaring).
Pasien (chua) : terima kasih perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : iya ibu, sekarang saya akan menyebutkan hasil
pemeriksaannya bu.
Tekanan darah : (normal) 120/80 mmhg.
Suhu tubuh : 36.
Denyut nadi : 70x permenit.
Pasien (chua) : alhamdulilah terima kasih perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : sama-sama ibu ini telah menjadi kewajiban
kami sebagai perawat.
Pasien (chua) : iya perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu tugas kami telah selesai jika ibu
membutuhkan sesuatu silahkan pencet tombol
hijau yang tepat di atas kepala ibu, terima kasih
ibu.
Pasien (chua) : iya sama-sama perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : baiklah ibu, setelah ini ada perawat yang akan
menggantikan saya (perawat yuli) dan rekan
saya (perawat ayu). Mudah-mudahan ibu cepat
sembuh, amin.
Pasien (chua) : amin.
Perawat ruang inap (ayu dan yuli) : assalamualaikum ibu.
Pasien (chua) : walaikumsalam.

Setelah pergantian waktu perawat yuli menemui perawat nisa untuk memberitau hasil
pemeriksaannya.

Perawat ruang inap (yuli) : perawat nisa dari hasil diagnosa pasien yang
bernama chua dengan:
Riwayat penyakit : fraktur pada jari manis
Tekanan darah : (normal) 120/80 mmhg.
Suhu tubuh : 36.
Denyut nadi : 70x permenit.
Untuk tindakan selanjutnya saya serahkan
kepada perawat nisa.
Perawat ruang inap (nisa) : baiklah terima kasih perawat yuli.
Perawat ruang inap (yuli) : sama-sama.

Setting 4 : [di ruang inap malam hari]


Dan perawat nisa bersama perawat zizah pun segera keruang inap pasien chua, dan
sesampainya diruang inap pasien chua.

Perawat ruang inap (nisa) : assalamualaikum ibu.


Pasien (chua) : walaikumsalam.
Perawaat ruang inap (nisa) : perkenalkan ibu saya perawat annisa fatma
biasa dipanggil erawat nisa.
Perawat ruang inap (zizah) : dan saya perawat azizah yulia ulfa biasa
dipanggil perawat zizah.
Perawat ruang inap (nisa) : baiklah ibu kami bertugas shift sore hingga
malam dari jam 14.00 sampai jam 20.00 jika ibu
butuh bantuan ibu bisa menghubungi kami, baik
ibu sekarang rekan saya perawat yuli akan
memeriksa keadaan ibu. Silahkan perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu, bagaimana keadaan ibu hari ini?
Pasien (chua) : lumayan membaik perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu saya akan memeriksa keadaan ibu
yang mana saya akan memeriksa tekanan darah
ibu, suhu tubuh ibu, dan denyutan nadi ibu.
Pasien (chua) : iya perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu lebih nyaman diperiksa posisi
berbaring atau posisi duduk?
Pasien (chua) : berbaring saja perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu maaf ya ibu. (perawat zizah
memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan
denyut nadi pasien). Alhamdulillah
pemeriksaannya sudah selesai ibu.
Pasien (chua) : terima kasih perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : iya ibu, sekarang saya akan menyebutkan hasil
pemeriksaannya bu.
Tekanan darah : (normal) 120/80 mmhg.
Suhu tubuh : 36.
Denyut nadi : 70x permenit.
Pasien (chua) : alhamdulilah terima kasih perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : sama-sama ibu.
Pasien (chua) : iya perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu tugas kami telah selesai jika ibu
membutuhkan sesuatu silahkan pencet tombol
hijau yang tepat di atas kepala ibu, terima kasih
ibu.
Pasien (chua) : iya sama-sama perawat zizah.
Perawat ruang inap (zizah) : baiklah ibu, Mudah-mudahan ibu cepat
sembuh, amin.
Pasien (chua) : amin.
Perawat ruang inap (ayu dan yuli) : assalamualaikum ibu.
Pasien (chua) : walaikumsalam.
BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir,


berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang [Link] merupakan inti dari
[Link] dituntut untuk bersikap care dan juga harus caring dengan
[Link] caring adalah untuk mendukung proses penyembuhan secara
total(hoover,2002). Perilaku caring dan curing sangatlah berbeda karena caring identik
dengan tindakan asuhan keperawatan ,sedangkan curing adalah pengobatan terhadap penyakit
[Link] caring dan curing saling berhubungan satu sama lain.

Jadi seorang perawat harus memiliki kedua sifat tersebut agar tercipta kenyamanan diantar
pasien dan perawat tersebut.

B. SARAN

Dalam penyusunan kurikulum pendidikan perawatan sebaiknya memasukkan unsur


caring dalam setiap mata kuliah. Penekanan pada humansitik, kepedulian dan kepercayaan,
komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur caring yang lain harus sudah dibangun
sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi konsep caring
pada perawat guna memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus
dilakukan perawat agar bersikap caring dalam setiap kontak dengan pasien. Indikator-
indikator caring harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara
terus menerus.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai