BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evidence Based Practice (EBP) merupakan upaya untuk
mengambil keputusan klinis berdasarkan sumber yang paling relevan dan
valid. Oleh karena itu EBP merupakan jalan untuk mentransformasikan
hasil penelitian ke dalam praktek sehingga perawat dapat meningkatkan
“quality of care” terhadap pasien. Selain itu implementasi EBP juga akan
menurunkan biaya perawatan yang memberi dampak positif tidak hanya
bagi pasien, perawat, tapi juga bagi institusi pelayanan kesehatan.
Sayangnya penggunaan bukti-bukti riset sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan klinis seperti seorang bayi yang masih berada dalam tahap
pertumbuhan.
Evidence-Based Practice (EBP), merupakan pendekatan yang
dapat digunakan dalam praktik perawatan kesehatan, yang berdasarkan
evidence atau fakta. Selama ini, khususnya dalam keperawatan, seringkali
ditemui praktik-praktik atau intervensi yang yang ditemukan.
Penggunaan evidence base dalam praktek akan menjadi dasar
scientific dalam pengambilan keputusan klinis sehingga intervensi yang
diberikan dapat dipertanggung jawabkan. Sayangnya pendekatan evidence
base di Indonesia belum berkembang termasuk penggunaan hasil riset ke
dalam praktek. Tidak dapat dipungkiri bahwa riset di Indonesia hanya
untuk kebutuhan penyelesaian studi sehingga hanya menjadi tumpukan
kertas semata.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk menjelaskan dan menelaah situasi
tentang Evidence Based Practice di tatanan klinis keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengetian
Evidence Based Practice (EBP) adalah proses penggunaan bukti-
bukti terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan guna pembuatan
keputusan klinik dalam merawat individu pasien. EBP merupakan
salah satu perkembangan yang penting pada dekade ini untuk
membantu sebuah profesi, termasuk kedokteran, keperawatan, sosial,
psikologi, public health, konseling dan profesi kesehatan dan sosial
lainnya. Dalam penerapan EBP harus memenuhi tiga kriteria yaitu
berdasar bukti empiris, sesuai keinginan pasien, dan adanya keahlian
dari praktisi.
EBP merupakan suatu pendekatan pemecahan masalah untuk
pengambilan keputusan dalam organisasi pelayanan kesehatan yang
terintegrasi di dalamnya adalah ilmu pengetahuan atau teori yang ada
dengan pengalaman dan bukti-bukti nyata yang baik (pasien dan
praktisi). EBP dapat dipengaruh oleh faktor internal dan external serta
memaksa untuk berpikir kritis dalam penerapan pelayanan secara
bijaksana terhadadap pelayanan pasien individu, kelompok atau system
(newhouse, dearholt, poe, pough, & white, 2005).
B. Implikasi EBP Bagi Perawat
Peran perawat melayani penting dalam memastikan dan
menyediakan praktik berbasis fakta. Mereka harus terus-menerus
mengajukan pertanyaan, “Apa fakta untuk intervensi ini?” atau
“Bagaimana kita memberikan praktik terbaik?” dan “Apakah ini hasil
terbaik yang dicapai untuk pasien, keluarga dan perawat?” Perawat
juga posisi yang baik dengan anggota tim kesehatan lain untuk
mengidentifikasi masalah klinis dan menggunakan bukti yang ada
untuk meningkatkan praktik. Banyak kesempatan yang ada bagi
perawat untuk mempertanyakan praktik keperawatan saat itu dan
penggunaan bukti untuk melakukan perawatan lebih efkti.
1. Model EBP Model Stetler
Model Stetler dikembangkan pertama kali tahun 1976
kemudian diperbaiki tahun 1994 dan revisi terakhir 2001. Model
ini terdiri dari 5 tahapan dalam menerapkan Evidence Base
Practice Nursing.
a. Tahap persiapan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah
atau isu yang muncul, kemudian menvalidasi masalah dengan
bukti atau landasan alasan yang kuat.
b. Tahap validasi. Tahap ini dimulai dengan mengkritisi bukti
atau jurnal yang ada (baik bukti empiris, non empiris,
sistematik review), kemudian diidentifikasi level setiap bukti
menggunakan table “level of evidence”. Tahapan bisa berhenti
di sini apabila tidak ada bukti atau bukti yang ada tidak
mendukung.
c. Tahap evaluasi perbandingan/ pengambilan keputusan. Pada
tahap ini dilakukan sintesis temuan yang ada dan pengambilan
bukti yang bisa dipakai. Pada tahap ini bisa muncul keputusan
untuk melakukan penelitian sendiri apabila bukti yang ada
tidak bisa dipakai.
d. Tahap translasi atau aplikasi. Tahap ini memutuskan pada level
apa kita akan melakukan penelitian (individu,
kelompok,organisasi). Membuat proposal untuk penelitian,
menentukan strategi untuk melakukan diseminasi formal dan
memulai melakukan pilot projek.
e. Tahap evaluasi. Tahap evaluasi bisa dikerjakan secara formal
maupun non formal, terdiri atas evaluasi formatif dan sumatif,
yang di dalamnya termasuk evaluasi [Link] IOWA
Model IOWA diawali dengan adanya trigger atau masalah.
Trigger bisa berupa knowledge focus atau problem focus. Jika
masalah yang ada menjadi prioritas organisasi, maka baru
dibentuklah tim. Tim terdiri atas dokter, perawat dan tenaga
kesehatan lain yang tertarik dan paham dalam penelitian.
Langkah berikutnya adalah minsintesis bukti-bukti yang
[Link] bukti yang kuat sudah diperoleh, maka segera
dilakukan uji coba dan hasilnya harus dievaluasi dan
didiseminasikan.
2. Model IOWA Model of Evidence Based Practice to Promote
Quality Care
Model EBP IOWA dikembangkan oleh Marita G. Titler,
PhD, RN, FAAN, Model IOWA diawali dari pemicu/masalah.
Pemicu/masalah ini sebagai focus ataupun focus masalah. Jika
masalah mengenai prioritas dari suatu organisasi, tim segera
dibentuk. Tim terdiri dari stakeholders, klinisian, staf perawat, dan
tenaga kesehatan lain yang dirasakan penting untuk dilibatkan
dalam EBP. Langkah selanjutkan adalah mensistesis EBP.
Perubahan terjadi dan dilakukan jika terdapat cukup bukti yang
mendukung untuk terjadinya perubahan . kemudian dilakukan
evaluasi dan diikuti dengan diseminasi (Jones & Bartlett, 2004;
Bernadette Mazurek Melnyk, 2011).
3. Model konseptual Rosswurm & Larrabee
Model ini disebut juga dengan model Evidence Based
Practice Change yang terdiri dari 6 langkah yaitu :
a. Tahap 1 :mengkaji kebutuhan untuk perubahan praktis
b. Tahap 2 : tentukkan evidence terbaik
c. Tahap 3 : kritikal analisis evidence
d. Tahap 4 : design perubahan dalam praktek
e. Tahap 5 : implementasi dan evaluasi perunbahan
f. Tahap 6 : integrasikan dan maintain perubahan dalam praktek
Model ini menjelaskan bahwa penerapan Evidence Based
Nursing ke lahan paktek harus memperhatikan latar belakang teori
yang ada, kevalidan dan kereliabilitasan metode yang digunakan,
serta penggunaan nomenklatur yang standar.
C. Pentingnya EBP untuk praktik keperawatan
1. Memberikan hasil asuhan keperawatan yang lebih baik kepada
pasien
2. Memberikan kontribusi perkembangan ilmu keperawatan
3. Menjadikan standar praktik saat ini dan relevan
4. Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
5. Mendukung kebijakan dan rosedur saat ini dan termasuk menjadi
penelitian terbaru
6. Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat penting
untuk meningkatkan kualitas perawatan pada pasien.
D. Hambatan Untuk Menggunakan EBP
Hambatan dari perawat untuk menggunakan penelitian dalam praktik
sehari-hari telah dikutip dalam berbagai penelitian, diantaranya:
1. Kurangnya nilai untuk penelitian dalam praktek
2. Kesulitan alam mengubah praktek
3. Kurangnya dukungan administratif
4. Kurangnya mentor berpengetahuan
5. Kurangnya waktu untuk melakukan penelitian
6. Kurangnya pendidikan tentang proses penelitian
7. Kurangnya kesadaran tentang praktek penelitian atau berbasis
bukti
8. Laporan Penelitian/artikel tidak tersedia
9. Kesulitan mengakses laporan penelitian dan artikel
10. Tidak ada waktu dalam bekerja untuk membaca penelitian
11. Kompleksitas laporan penelitian
12. Kurangnya pengetahuan tentang EBP dan kritik dari artikel
13. Merasa kewalahan
E. Konsep Penelitian Keperawatan
Penelitian keperawatan melibatkan penyelidikan sistematis yang
dirancang khusus untuk mengembangkan, memperbaiki, dan
memperluas pengetahuan keperawatan. Sebagai bagian dari disiplin
klinis dan professional, perawat memiliki bidang keilmuan yang unik,
yang membahas praktik keperawatan, administrasi, dan pendidikan.
Perawat peneliti mengkaji masalah-masalah yang menjadi perhatian
khusus untuk perawat dan pasien, keluarga dan masyarakat yang
mereka [Link] penelitian keperawatan dapat kuantitatif,
kualitatif, atau campuran (yaitu, triangulasi) :
1. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan objektif, data
kuantitatif (seperti tekanan darah atau denyut nadi) atau
menggunakan instrument survey untuk mengukur pengetahuan,
sikap, kepercayaan atau pengalaman.
2. Peneliti kualitatif menggunakan metode seperti wawancara atau
analisis narasi untuk membantu memahami fenomena tertentu.
3. Pendekatan triangulasi menggunakan kedua metode kuantitatif
dan kualitatif Isu-Isu Yang Terkait Dengan EBP, Penelitian
Keperawatan Dan Aplikasi Dalam Pelayanan EBP, penelitian
keperawatan dan aplikasi merupakan rangkaian proses yang
saling berkesinambungan .Sebelum melakukan penelitian
keperawatan khususnya diarea klinik, dibutuhkan data-data atau
buktibukti dari hasil penelitian terdahulu yang mendukung
masalah yang akan kita teliti. Hasil penelitian yang telah
dilakukan, akan menjadi evindence dalam pengambilan keputusan
klinis, sehingga tindakan yang dilakukan sudah berdasar hasil
penelitian yang teruji.
a. Mengidentifikasi Masalah Praktik Klinis
Langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah atau isu
praktek klinis. Sebagai konsekuensinya, ini adalah langkah
yang paling sulit karena dibutuhkan banyak pemikiran danu
paya untuk menyempurnakan pernyataan masalah untuk
mengembangkan bukti-praktik keperawatan berdasar
projects.
b. Pengumpulan dan Penilaian Bukti Evidance
Langkah ke dua adalah mengumpulkan dan menilai bukti,
bukti empiris (penelitian) dan bukti non empiris. Bukti
nonempiris penting untuk mendukung perubahan praktik,
sedangkan bukti empiris adalah dengan evidence termasuk uji
klinis, non eksperimental dan meta analisis. Harus dibedakan
studi penelitian yang sebenarnya dengan yang bukan
[Link] keperawatan sangat baik dimana
mengarahkan pengarang untuk memberikan judul sehingga
pembaca dapat menemukan komponen penting dari sebuah
artikel [Link] non empiris meliputi ulasan literatur
yang diterbitkan, pendapat dari artikel dan protocol/pedoman
serta literature review penelitian yang dipublikasikan.
c. Membaca dan Analisa Penelitian Empiris
Langkah pertama adalah dengan melihat abstract untuk
menyaring artikel yang relevan, kemudian membaca hasil
penelitian sehingga didapatkan suatu ide penelitian dan
pengaruhnya terhadap implikasi keperawatan.
d. Meringkas Bukti Evidance
Langkah ini sangat penting untuk keberhasilan peubahan
praktik keperawatan yang kita [Link] temuan pada
kelompok studi penelitian empiris dianggap kredibel. Hal ini
dilakukan dengan melakukan analisis, pada analisis isi
memeriksa temuan untuk dijadikan tema.
e. Mengintegrasikan Evidance dan Referensi Klinis
Tahap berikutnya yang perlu disintesis adalah keahlian klinis
dan preferensi dari [Link] seseorang yang
memiliki keahlian klinis di bidang atau topic tertentu. Dengan
pendekatan multidisiplin akan memastikan analisis mendalam
tentang hasil penelitian yang dianalisis.
F. Pengkajian dan Alat dalam EBP
Terdapat beberapa kemampuan dasar yang harus dimiliki tenaga
kesehatan professional untuk dapat menerapkan praktek klinis
berbasis bukti, yaitu :
1. Mengindentifikasi gap/kesenjangan antara teori dan praktek
2. Memformulasikan pertanyaan klinis yang relevan,
3. Melakukan pencarian literature yang efisien,
4. Mengaplikasikan peran dari bukti, termasuk tingkatan/hierarki dari
bukti tersebut untuk menentukan tingkat validitasnya
5. Mengaplikasikan temuan literature pada masalah pasien, dan
6. Mengerti dan memahami keterkaitan antara nilai dan budaya pasien
dapat mempengaruhi keseimbangan antara potensial keuntungan
dan kerugian dari pilihan manajemen/terapi (Jette et al., 2003).
G. Langkah-langkah dalam EBP
1. Langkah 1: Kembangkan semangat penelitian. Sebelum memulai
dalam tahapan yang sebenarnya didalam EBP, harus ditumbuhkan
semangat dalam penelitian sehingga klinikan akan lebih nyaman dan
tertarik mengenai pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan
perawatan pasien
2. Langkah 2: Ajukan pertanyaan klinis dalam format PICOT.
Pertanyaan klinis dalam format PICOT untuk menghasilkan
evidence yang lebih baik dan relevan.
a. Populasi pasien (P),
b. Intervensi (I),
c. Perbandingan intervensi atau kelompok (C),
d. Hasil / Outcome (O), dan
e. Waktu / Time (T).
Format PICOT menyediakan kerangka kerja yang efisien
untuk mencari database elektronik, yang dirancang untuk
mengambil hanya artikel-artikel yang relevan dengan pertanyaan
klinis. Menggunakan skenario kasus pada waktu respon cepat
sebagai contoh, cara untuk membingkai pertanyaan tentang
apakah penggunaan waktu tersebut akan menghasilkan hasil yang
positif akan menjadi: "Di rumah sakit perawatan akut (populasi
pasien), bagaimana memiliki time respon cepat (intervensi)
dibandingkan dengan tidak memiliki time respon cepat
(perbandingan) mempengaruhi jumlah serangan jantung (hasil)
selama periode tiga bulan (waktu)? "
3. Langkah 3: Cari bukti terbaik. Mencari bukti untuk
menginformasikan praktek klinis adalah sangat efisien ketika
pertanyaan diminta dalam format PICOT. Jika perawat dalam
skenario respon cepat itu hanya mengetik "Apa dampak dari
memiliki time respon cepat?" ke dalam kolom pencarian dari
database, hasilnya akan menjadi ratusan abstrak, sebagian besar
dari mereka tidak relevan. Menggunakan format PICOT
membantu untuk mengidentifikasi kata kunci atau frase yang
ketika masuk berturut-turut dan kemudian digabungkan,
memperlancar lokasi artikel yang relevan dalam database
penelitian besar seperti MEDLINE atau CINAHL. Untuk
pertanyaan PICOT pada time respon cepat, frase kunci pertama
untuk dimasukkan ke dalam database akan perawatan akut, subjek
umum yang kemungkinan besar akan mengakibatkan ribuan
kutipan dan abstrak. Istilah kedua akan dicari akan rapid respon
time, diikuti oleh serangan jantung dan istilah yang tersisa dalam
pertanyaan PICOT. Langkah terakhir dari pencarian adalah untuk
menggabungkan hasil pencarian untuk setiap istilah. Metode ini
mempersempit hasil untuk artikel yang berkaitan dengan
pertanyaan klinis, sering mengakibatkan kurang dari 20. Hal ini
juga membantu untuk menetapkan batas akhir pencarian, seperti
"subyek manusia" atau "English," untuk menghilangkan studi
hewan atau artikel di luar negeri bahasa.
4. Langkah 4: Kritis menilai bukti. Setelah artikel yang dipilih
untuk review, mereka harus cepat dinilai untuk menentukan yang
paling relevan, valid, terpercaya, dan berlaku untuk pertanyaan
klinis. Studi-studi ini adalah "studi kiper." Salah satu alasan
perawat khawatir bahwa mereka tidak punya waktu untuk
menerapkan EBP adalah bahwa banyak telah diajarkan proses
mengkritisi melelahkan, termasuk penggunaan berbagai
pertanyaan yang dirancang untuk mengungkapkan setiap elemen
dari sebuah penelitian. Penilaian kritis yang cepat menggunakan
tiga pertanyaan penting untuk mengevaluasi sebuah studi :
a. Apakah hasil penelitian valid? Ini pertanyaan validitas studi
berpusat pada apakah metode penelitian yang cukup ketat
untuk membuat temuan sedekat mungkin dengan kebenaran.
Sebagai contoh, apakah para peneliti secara acak menetapkan
mata pelajaran untuk pengobatan atau kelompok kontrol dan
memastikan bahwa mereka merupakan kunci karakteristik
sebelum perawatan? Apakah instrumen yang valid dan
reliabel digunakan untuk mengukur hasil kunci?
b. Apakah hasilnya bisa dikonfirmasi? Untuk studi intervensi,
pertanyaan ini keandalan studi membahas apakah intervensi
bekerja, dampaknya pada hasil, dan kemungkinan
memperoleh hasil yang sama dalam pengaturan praktek
dokter sendiri. Untuk studi kualitatif, ini meliputi penilaian
apakah pendekatan penelitian sesuai dengan tujuan
penelitian, bersama dengan mengevaluasi aspek-aspek lain
dari penelitian ini seperti apakah hasilnya bisa dikonfirmasi.
c. Akankah hasil membantu saya merawat pasien saya? Ini
pertanyaan penelitian penerapan mencakup pertimbangan
klinis seperti apakah subyek dalam penelitian ini mirip
dengan pasien sendiri, apakah manfaat lebih besar daripada
risiko, kelayakan dan efektivitas biaya, dan nilai-nilai dan
preferensi pasien. Setelah menilai studi masing-masing,
langkah berikutnya adalah untuk mensintesis studi untuk
menentukan apakah mereka datang ke kesimpulan yang
sama, sehingga mendukung keputusan EBP atau perubahan.
5. Langkah 5: Mengintegrasikan bukti dengan keahlian klinis dan
preferensi pasien dan nilai-nilai. Bukti penelitian saja tidak cukup
untuk membenarkan perubahan dalam praktek. Keahlian klinis,
berdasarkan penilaian pasien, data laboratorium, dan data dari
program manajemen hasil, serta preferensi dan nilai-nilai pasien
adalah komponen penting dari EBP. Tidak ada formula ajaib untuk
bagaimana untuk menimbang masing-masing elemen; pelaksanaan
EBP sangat dipengaruhi oleh variabel kelembagaan dan klinis.
Misalnya, ada tubuh yang kuat dari bukti yang menunjukkan
penurunan kejadian depresi pada pasien luka bakar jika mereka
menerima delapan sesi terapi kognitif-perilaku sebelum
dikeluarkan dari rumah sakit. Anda ingin pasien Anda memiliki
terapi ini dan begitu mereka. Tapi keterbatasan anggaran di rumah
sakit Anda mencegah mempekerjakan terapis untuk menawarkan
pengobatan. Defisit sumber daya ini menghambat pelaksanaan
EBP.
6. Langkah 6: Evaluasi hasil keputusan praktek atau perubahan
berdasarkan bukti. Setelah menerapkan EBP, penting untuk
memantau dan mengevaluasi setiap perubahan hasil sehingga efek
positif dapat didukung dan yang negatif diperbaiki. Hanya karena
intervensi efektif dalam uji ketat dikendalikan tidak berarti ia akan
bekerja dengan cara yang sama dalam pengaturan klinis.
Pemantauan efek perubahan EBP pada kualitas perawatan
kesehatan dan hasil dapat membantu dokter melihat kekurangan
dalam pelaksanaan dan mengidentifikasi lebih tepat pasien mana
yang paling mungkin untuk mendapatkan keuntungan. Ketika hasil
berbeda dari yang dilaporkan dalam literatur penelitian,
pemantauan dapat membantu menentukan.
7. Langkah 7: Menyebarluaskan hasil EBP. Perawat dapat mencapai
hasil yang indah bagi pasien mereka melalui EBP, tetapi mereka
sering gagal untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dan
organisasi perawatan kesehatan mereka sendiri atau lainnya. Hal ini
menyebabkan perlu duplikasi usaha, dan melanggengkan
pendekatan klinis yang tidak berdasarkan bukti-bukti. Di antara
cara untuk menyebarkan inisiatif sukses adalah putaran EBP di
institusi Anda, presentasi di konferensi lokal, regional, dan
nasional, dan laporan dalam jurnal peer-review, news letter
profesional, dan publikasi untuk khalayak umum.
H. Pelaksanaan EBP Pada Keperawatan
1. Mengakui status atau arah praktek dan yakin bahwa pemberian
perawatan berdasarkan fakta terbaik akan meningkatkan hasil
perawatan klien.
2. Implementasi hanya akan sukses bila perawat menggunakan dan
mendukung “pemberian perawatan berdasarkan fakta”.
3. Evaluasi penampilan klinik senantiasa dilakukan perawat dalam
penggunaan EBP.
4. Praktek berdasarkan fakta berperan penting dalam perawatan
kesehatan.
5. Praktek berdasarkan hasil temuan riset akan meningkatkan kualitas
praktek, penggunaan biaya yang efektif pada pelayanan kesehatan.
6. Penggunaan EBP meningkatkan profesionalisme dan diikuti
dengan evaluasi yang berkelanjutan.
7. Perawat membutuhkan peran dari fakta untuk meningkatkan intuisi,
observasi pada klien dan bagaimana respon terhadap intervensi
yang diberikan. Dalam tindakan diharapkan perawat
memperhatikan etnik, sex, usia, kultur dan status kesehatan.
BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Metode Pembahasan
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eks-perimental
dengan pendekatan control groups pretest-post test design yang
melibatkan 34 pasien stroke pasca rawat inap. Kriteria inklusi
responden, antara lain terdiagnosis stroke baik hemoragik maupun
non-hemoragik, mengalami hemiparesis dengan kekuatan otot 1-3
baik kiri maupun kanan, kesadaran kompos mentis dan bersedia
mengikuti penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi dari penelitian
ini yaitu tanda-tanda vital tidak stabil, pasien dalam fase akut
(kurang dari 7 hari onset serangan) dan kontraindikasi akupresur
(kulit terluka, bengkak, fraktur, myalgia).
Intervensi dilakukan dengan memberikan aku-presur 10
menit pada keenam titik akupunktur di regio skapula, sekali sehari
selama tujuh hari di rumah responden, sedangkan kelompok
kontrol tidak diberi akupresur. Data yang dikumpulkan terdiri atas
karakteristik, kekuatan otot, dan rentang gerak ekstremitas atas.
Kekuatan otot ekstremitas, diukur dengan me-minta
responden mengangkat ekstremitas atasnya yang mengalami
hemiparesis dan dinilai dengan menggunakan Medical Research
Council Scale yang terdiri dari 6 tingkat, mulai dari 0 (tidak ada
kontraksi) sampai 5 (kekuatan normal).
Rentang gerak ekstremitas atas, diukur dengan
menggunakan goniometer pada 5 gerakan dasar sendi ekstremitas
atas yaitu rotasi eksterna bahu: 90º, fleksi bahu: 180º, abduksi
bahu: 180°, ekstensi siku: 180º dan supinasi lengan: 90º. Hasil
pengu-kuran berupa rerata dari kelima persentasi gerakan
maksimum yang dilakukan pada setiap rentang gerak.
B. Pembahasan
Kekuatan otot ektremitas atas setelah akupresur pada kelompok
intervensi lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa akupresur yang
dilakukan dapat meningkatkan skor kekuatan otot ekstremitas atas
pada responden yang mengalami kelemahan kekuatan otot akibat
stroke hemiparetik. pemberian akupresur pada titik meridian dapat
memperbaiki sirkulasi qi dan darah dalam tubuh, sehingga akan
merelaksasikan otot yang mengeras dan merangsang perbaikan
alamiah pada abnormalitas skeletal dan rentang gerak dapat
[Link] itu pemberian terapi akupresur akan
mengharmonisasikan aliran qi dan darah sehingga akan
merelaksasikan spasme dan meredakan nyeri pada sendi karena
menstimulasi pelepasan endorphin.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan konsep Evidence Based Practice
di atas, dapat disimpulkan bahwa ada 3 faktor yang seacara
garis besar menenentukan tercapainya pelaksanaan praktek
keperawatan yang lebih baik yaitu, penelitian yang dilakukan
berdasarkan fenomena yang terjadi di kaitkan dengan teori
yang telah ada, pengalaman klinis terhadap sustu kasus, dan
pengalaman pribadi yang bersumber dari pasien. Dengan
memperhatikan factor-faktor tersebut, maka di harapkan
pelaksanaan pemeberian pelayanan kesehatan khususnya
pemberian asuhan keperawatan dapat di tingkatkan terutama
dalam hal peningkatan pelayanan kesehatan atau keperawatan,
pengurangan biaya (cost effective) dan peningkatan kepuasan
pasien atas pelayanan yang diberikan. Namun dalam
pelaksanaan penerapan Evidence Based Practice ini sendiri
tidaklah mudah, hambatan utama dalam pelaksanaannya yaitu
kurangnya pemahaman dan kurangnya referensi yang dapat
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penerapan EBP itu
sendiri.
B. Saran
Dalam pemberian pelayanan kesehatan khususnya asuhan
keperawatan yang baik, serta mengambil keputusan yang
bersifat klinis hendaknya mengacu pada SPO yang dibuat
berdasarkan teori-teori dan penelitian terkini. Evidence Based
Practice dapat menjadi panduan dalam menentukan atau
membuat SPO yang memiliki landasan berdasarkan teori,
penelitian, serta pengalaman klinis baik oleh petugas kesehatan
maupun pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Kelee. 2011. Nursing Research & Evidence-Based Practice
Lavin MA, Krieger MM, Meyer GA, et al. Development and
evaluation of evidence-based nursing (EBN) filters and related
databases. J Med Libr Assoc 93(1) January 2005.
Ellen Fineout-Overholt RN, PhD and Linda Johnston RN, PhD. 2011.
Teaching EBP: Implementation of Evidence: Moving from Evidence to
Action