Panduan Manajemen CPR dan BLS 2015
Panduan Manajemen CPR dan BLS 2015
Rev00
1
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
VISI
“ To Become a Prominent National Company in Healthcare Industry “
Menjadi Perusahaan Terkemuka Berskala Nasional di Industri Kesehatan
MISI
1. Mengembangkan usaha pelayanan kesehatan yang efisien dan sesuai kebutuhan
masyarakat;
2. Menerapkan budaya kerja yang berorientasi kepada pemenuhan harapan pemangku
kepentingan;
3. Senantiasa menghasilkan kinerja produktivitas dan profitabilitas yang mendukung
pengembangan usaha;
4. Menempatkan sumber daya manusia dan teknologi informasi sebagai keunggulan bersaing
perusahaan.
Motto
FACE with Smile
(FACE : Fast, Accurate, Convenient, Effective, Efficient with Smile)
Nilai
1. Profesional
Senantiasa bekerja dengan kemampuan, integritas dan inovasi yang tinggi
2. Care
Senantiasa peduli dan menghormati customer, mitra kerja dan stakeholder lainnya
3. Accountable
Kami senantiasa bekerja dengan jujur, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan
2
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
DAFTAR ISI
3
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
BLS
GUIDELINE 2015
1. Korban henti jantung pada dewasa, hasil yang optimal didapatkan bila penolong melakukan
kompresi dada dengan kecepatan 100-120 kali per menit
BLS 2010 → updated from at least 100/min
2. Kedalaman kompressi jantung pada dewasa 2 inchi (5cm) - 2,5 inchi (6 cm)
BLS 2010 → updated from 2 inches (5 cm)
3. Penolong awam 2015 : Disarankan bahwa program PAD (Public Acsess Defribrilation) untuk pasien
dengan OHCA (out of hospital cardiac arrest) diimplementasikan di lokasi publik dimana ada
kemungkinan terjadi henti jantung relatif tinggi (misalnya bandara, kasino, fasilitas olahraga)
4. Identifikasi korban : untuk membantu para penolon gmengenali seragnan jantung, maka penolong
harus tahu dari respon korban (periksa), jika tidak respon maka dianggap henti jantung
5. Lakukan kompressi jantung dengan kecepatan 100-120 kali / menit
6. Kedalaman kompressi paling tidak 5 cm
7. Dari setiap kompressi upayakan full recoil
8. Minimalisasi pause pada kompresi
9. Ventilasi adequat (2 nafas setelah 30 pijat, setiap pemberian nafas wakunya 1 detik (dada naik)
4
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
PIJAT JANTUNG
1. Posisi penolong :
Tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus menekan tengah - tengah dada, tekan sedalam
2 inchi.
2. Beri kesempatan dinding toraks untuk “re-coil”
3. Pijat jantung 30 x disusul dg nafas 2 x
4. Bila sudah di –intubasi atau sudah dipasang LMA, maka :
a. Pijat jantung , kecepatan 100x/ menit
b. Nafas buatan 8-10x/ menit dan antara pijat jantung dan nafas tidak usah sinkron
5. Posisi tangan
- Bagi korban dewasa maka yang melakukan pijat jantung (chest compressions), disarankan
meletakkan telapak tangan pada the lower half of the sternum.
- Untuk mengajarkan lokasi atau peletakan tangan pada saat CPR :
“Place the heel of your hand in the center of the chest with the other hand on top.”
5
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
- Jalur Shockable
- Jalur Unshockable
6
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
1. Asystole
VT / Ventricular Tachycardia
7
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
De-FIBRILLATION / DC shock
- DC shock sedini mungkin (sebelum 5-10 menit)
- 360 Joules 1x (dulu 3x shock, repeated shock)
(Jika DC shock biphasic 150-200 Joules)
Setelah a single shock, segera CPR lagi 2 menit tanpa check ECG sudah ROSC atau belum
Baru setelah 2 menit CPR, berhenti sebentar untuk check ECG apakah sudah ROSC
8
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
- Perawatan pasien pasca henti jantung : harus dirawat di ICU EGDT POST C.A.
9
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
Konsep Dasar
- Airway --? Keep airway / Jaga Jalan Nafas --> Onstruksi dan Aspirasi
- Bila ada sumbatan total --? O2 dalam paru habis dalam 1.5 menit (dibulatkan 2 menit)
- Pengelolaan Airway perlu : CEPAT, TEPAT, CERMAT
- Airway :
1. Bagian atas
2. Bagian bawah
- Cara menilai jalan nafas (A) :
1. Lihat - LOOK : gerak dada dan perut
2. Dengar - LISTEN : gerak udara nafas dengan telinga
3. Raba - FEEL : gerak udara nafas dengan pipi, gerak udara nafas pada telapak tangan
LOOK - LISTEN FEEL tidak dilakukan lebih dari 5 detik
10
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
Korban Trauma jalan nafasnya dapat tersumbat karena berbagai sebab namun cara pertolongannya
sama, pertolongan :
1. Baringkan datar
2. Kepala jangan diberi bantal
3. Angkat dagu ke depan : chin lift, head tilt
4. Kalau perlu jaw thrust
5. Neck lift TIDAK boleh lagi dikerjakan
6. Jika korban muntah :
- Buka mulut, bersihkan sekedarnya agar jalan nafas cukup bebas
- Jika muntah lagi, baringkan miring (perhatikan cedera leher)
- Keep the airway dari ASPIRASI
Management Aspirasi
- Bila muntahan menyebabkan aspirasi, Kolaborasi dengan dokter ICU
- Bila obstruksi akibat Bendah asing / muntahan, lakukan Finger sweep
a. Membersihkan benda asing padat dalam jalan napas menggunakan alat penjepit ( Forcep )
b. Dapat diketahui jika chin lift atau jaw thrust tidak berhasil membebaskan jalan nafas, kerjakan
manuver Heimlich
2. Naso-pharyngeal tube
- Tidak merangsang
muntah
- Hati-hati pasien dengan
fraktura basis cranii
- Ukuran untuk dewasa
7 mm atau sebesar
ukuran jari kelingking
kanan
3. LMA
- Tehnik pemasangan
mudah.
- Harga mahal
- Tidak mencegah
aspirasi
4. Cricothyroidotomy
11
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
[Link] (Pernafasan)
6.
Nafas Buatan
a. 12-20 x / menit, sampai dada nampak terangkat
b. Diberikan bila nafas abnormal
- Tidak menunggu sampai apnea dulu
c. Dengan tambahan oksigen (kalau ada)
d. Jika udara salah masuk lambung, jangan dikeluarkan dengan menekan lambung (risiko aspirasi)
Nafas buatan pada TRAUMA dilakukan dengan in line immobilisation (pegangi kepala - leher) agar
tulang leher tidak banyak bergerak
Menilai pernafasan
1. Look - Lihat:
- Gerak dada,
- Gerak cuping hidung (flaring nostril)
- Retraksi sela iga
2. Listen - Dengar:
- Suara nafas, suara tambahan
3. Feel - Raba:
- Udara nafas keluar hidung mulut
4. Palpasi:
- Gerak dada, simetris ?
5. Perkusi - Ketuk:
- Redup ? Hipersonor ? Simetris ?
6. Auskultasi (stetoskop):
- Suara nafas ada? Simetris ?
7. Ada pneumotoraks tension ?
- Diagnosis harus ditegakkan secara klinis, Jika terjadi :
a. Lihat dan palpasi toraks --> gerak sisi sakit tertinggal
b. Palpasi trachea --> terdorong ke sisi sehat
c. Ketuk toraks --> sisi sakit hipersonor (suara rongga)
d. Dengar suara nafas --> sisi sakit menghilang
Lakukan punksi (needle thoracostomy) tanpa tunggu foto sinar-X
13
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
Pasien Gawat
-Perlu oksigen 60-100 % :
a. Mask
b. Mask + reservoir
c. Bag + mask / jackson reese
- Target Ventilation
a. Dada terangkat, terdengar suara nafas di lapangan paru
b. Nafas buatan 80% masuk paru
c. Lambung jika kemasukan udara jangan ditekan
d. Gunakan NGT untuk dekompresi
14
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
DEFIBRILASI
Defibrilasi Un Sinkronise
Pemberian tenaga listrik yang menyebabkan kejutan (shock) pada jantung sehingga mengubah
irama jantung yang mematikan menjadi irama jantung yang menunjang kehidupan
EKG Normal :
Besaran Energi
- 360 Joule →Manofasik
- 150 – 200 Joule →Bhifasik
15
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
Dokumentasi
1. Fungsi vital sebelum dan sesudah DC shock
2. Kesadaran
3. EKG sebelum dan sesudah DC Shock
4. Jam dan jumlah energy
5. Nama yang melakukan DC Shock
6. Komplikasi yang timbul
Komplikasi
1. Perlukaan myokard
2. Luka bakar
3. Distrimia gangguan irama jantung
4. Emboli
PEA = EMD
Ada gelombang mirip ECG Normal
Tetapi carotis tidak teraba
Terapi sama seperti Asystole (CPR + Adrenalin)
P-ulseless
E-lectrical
A-ctivity
E-lectro
M-echanical
D-issociation
16
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
OBAT
& ALAT EMERGENCY
A. Alat Emergency
17
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
B. Obat Emergency
I. Obat emergency untuk resusitasi
a. Epineprin/Adrenalin :
Dosis : 1 mg iv tiap 3-5 menit
3-10x dosis iv bila intratracheal
Indikasi : Asistol, PEA, VF
b. Sulfas Atropin
Dosis : 0,5 mg iv
pada RJPO sudah tercapai ROSC 1 mg iv
transtracheal 3-10x iv max 3 mg
Indikasi : bradikardi
c. Amiodaron
Dosis : 300mg bolus
dilanjutkan 900 mg/24 jam
Indikasi : - Gambaran ECG VT dg nadi
- Gambaran VF & VT tanpa nadi sebelum single shock ke-4
d. Lidocain
Dosis : 1 mg/kgBB tiap 3-5 menit
- Max : 3 mg/kgBB
Indikasi : VF / VT
b. Dobutamin
Dosis : 2-10 mcg/BB
c. Nor adrenalin
Rumus : BB X 60 X Dosis
Konsentrasi
Keterangan :
BB : Berat Badan
60 : menit
a. Dopamin
- Konsentrasi : Mg / pengenceran
- 1 mg = 1000 mcg = 1000 δ
Contoh Kasus :
1. Berapa konsentrasi dopamin 200 mg bila diencerkan 50 cc Pz.
Jawab :
konsentrasi = 200 mg / 50 cc
= 4 mg/cc
= 4000 mcg = 4000 δ
18
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
2. Berapa cc/ δ yang diberikan bila dokter minta 5 δ dopamin, BB Px 60 Kg dalam syringe pump.
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 60 X 60 X 5
4000
= 180
40
= 4.5 cc/jam
b. Dobutamin
- Konsentrasi : Mg / F. pengenceran
- 1 mg = 1000 mcg = 1000 δ
Contoh Kasus :
1. Dobutamin 250 mg diencerkan 50 cc berapa konsentrasinya
Jawab :
konsentrasi = 250 mg / 50 cc
= 5 mg/cc
= 5000 mcg
Jadi konsentrasinya adalah 1 cc = 5000 mcg
2. Berapa yang diberikan syringe pump bila dokter minta 5δ, BB 50 Kg.
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 50 X 60 X 5
5000
= 150
50
= 3 cc/jam
Contoh Kasus :
1. Berapa konsentrasi bila diencerkan 50 cc Pz
Jawab :
konsentrasi = 4 mg / 50 cc
= 0.08 x 1.000.000 nn
= 80.000 nn
Jadi konsentrasinya adalah = 80.000 nn
2. Berapa cc/jam bila dokter minta 50 nn dengan BB Px 50 Kg dalam syringe pump
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 50 X 60 X 50 nn
80.000
= 150
80
= 1.875 cc/jam
19
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
PELAPORAN
& ALGORITME
A. Pelaporan
2. Background
Singkat, berhubungan dengan pokok masalah
a. Dokumentasi : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
kesehatan keluarga.
b. Pelaporan : diagnosa masuk & tanggal masuk RS, riwayat pengobatan, ringkasan tanggal
pengobatan.
3. Assesment
Pengkajian
a. Dokumentasi:
- B1: BREATH :
a) Pergerakan dada e) Abdomen
b) Pemakaian alat bantu nafas f) Peristaltik usus
c) Suara nafas g) Mual
d) Batuk h) Muntah
e) Sputum, Dll i) Hematemesis
- B 2: BLOOD j) Melena
a) Suara jantung k) Pemakaian NGT
b) Irama jantung l) Diare
c) CRT m) Konstipasi
d) Edema, dll n) Ascites
- B 3 : BRAIN - B 6 : BONE
a) Tingkat kesadaran a) Turgor
b) Reaksi pupil , dll b) Perdarahan Kulit
- B 4 : BLEEDER c) Icterus
a) Urine d) Akral
b) Cateter e) Pergerakan Sendi
c) Kesulitan BAK, dll f) Fraktur
- B 5 : BOWEL g) Luka
a) Mukosa bibir
b) Lidah
c) Keadaan gigi
d) Nyeri telan
b. Pelaporan :
- Tanda –tanda vital terkini (tensi, nadi, rr, suhu) irama jantung
- Status mental
- Nyeri
- Perubahan kesadaran
- Warna kulit
- Perfusi, dll
20
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
4. Recommendation
a. Dokumentasi : apa yg kita kerjakan
b. Pelaporan :
- Transfer px ke unit lain (ICU?)
- Perubahan tx: jika ada perubahan tx,tanyakan : seberapa sering boleh diulang? (febris,tensi
tetap tinggi dll). Tanyakan: jika kondisi px tidak membaik, kapan kami boleh menghubungi
dokter lg?
- Pemeriksaan yang perlu dilakukan: foto, EKG,lab,dll.
- Cek ulang kondisi px dan lakukan rekomendasi.
- Jelaskan pd klg & px ttg perkembangan px & rekomendasi.
- Tanyakan pd dokter apakah dokter bisa datang untuk melihat kondisi px.
Catatan:
- Ada hal-hal yang kurang jelas, dipertanyakan ulang
- Ada usulan/ ada hal tidak sesuai standar, beri usulan
Misalnya :
Dokter : Beri Adrenalin 5 mg
Perawat : Maaf dokter, benar 5 mg atau 1 mg sesuai standart ACLS
Mendengarkan yang baik, jangan cepat memotong pembicaraan dlm konsultasi
B. Algoritma
I. Algoritma BLS
21
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
II. VF / Pulseless VT
22
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
23
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00
Penatalaksanaan VT / VF
24
Lean Management, 2017