0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan24 halaman

Panduan Manajemen CPR dan BLS 2015

Dokumen tersebut berisi tentang visi, misi, nilai, dan pedoman bantuan dasar pertolongan pertama (BLS) untuk PT PELINDO HUSADA CITRA, termasuk cara melakukan pijatan jantung, ventilasi, dan manajemen jalan nafas pasien."

Diunggah oleh

ibs rsudslgkediri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan24 halaman

Panduan Manajemen CPR dan BLS 2015

Dokumen tersebut berisi tentang visi, misi, nilai, dan pedoman bantuan dasar pertolongan pertama (BLS) untuk PT PELINDO HUSADA CITRA, termasuk cara melakukan pijatan jantung, ventilasi, dan manajemen jalan nafas pasien."

Diunggah oleh

ibs rsudslgkediri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.

Rev00

PT PELINDO HUSADA CITRA

Jalan Prapat Kurung Selatan No.1


Tanjung Perak Surabaya 60165
Telp. (031) 3294801-3 Fax. 031-3294804
[Link]

1
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

VISI
“ To Become a Prominent National Company in Healthcare Industry “
Menjadi Perusahaan Terkemuka Berskala Nasional di Industri Kesehatan

MISI
1. Mengembangkan usaha pelayanan kesehatan yang efisien dan sesuai kebutuhan
masyarakat;
2. Menerapkan budaya kerja yang berorientasi kepada pemenuhan harapan pemangku
kepentingan;
3. Senantiasa menghasilkan kinerja produktivitas dan profitabilitas yang mendukung
pengembangan usaha;
4. Menempatkan sumber daya manusia dan teknologi informasi sebagai keunggulan bersaing
perusahaan.

Motto
FACE with Smile
(FACE : Fast, Accurate, Convenient, Effective, Efficient with Smile)

Nilai
1. Profesional
Senantiasa bekerja dengan kemampuan, integritas dan inovasi yang tinggi
2. Care
Senantiasa peduli dan menghormati customer, mitra kerja dan stakeholder lainnya
3. Accountable
Kami senantiasa bekerja dengan jujur, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan

2
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

DAFTAR ISI

Visi Misi Nilai Motto Perusahaan ....................................................... 2


Kata Pengantar ....................................................... 3
Daftar Isi ....................................................... 4

BLS Guideline 2015 ....................................................... 5


Defibrilasi ....................................................... 15
Obat & Alat Emergency ....................................................... 17
Pelaporan & Algoritma ....................................................... 20

3
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

BLS
GUIDELINE 2015

Prinsip Bantuan Dasar


1. Korban TIDAK ADA RESPON, nfas tersengal - sengal atau berhenti, henti jantung
2. Call for help (minta BANTUAN) 118 - Lengkap alat - obat - personal
3. POSISIKAN pasien pada bidang yang datar
4. Start CPR (PIJAT Jantung) tepat di tengah - tengah strnum sebanyak 30 kali - push hard push fast
5. Bebaskan JALAN napas
6. Cek NADI Katoris, Landmark dan raba 5 - 10 detik
7. KOMBINASI (pijat jantung 30 : 2 napas)

CPR 2015 Guideline

1. Korban henti jantung pada dewasa, hasil yang optimal didapatkan bila penolong melakukan
kompresi dada dengan kecepatan 100-120 kali per menit
BLS 2010 → updated from at least 100/min
2. Kedalaman kompressi jantung pada dewasa 2 inchi (5cm) - 2,5 inchi (6 cm)
BLS 2010 → updated from 2 inches (5 cm)
3. Penolong awam 2015 : Disarankan bahwa program PAD (Public Acsess Defribrilation) untuk pasien
dengan OHCA (out of hospital cardiac arrest) diimplementasikan di lokasi publik dimana ada
kemungkinan terjadi henti jantung relatif tinggi (misalnya bandara, kasino, fasilitas olahraga)
4. Identifikasi korban : untuk membantu para penolon gmengenali seragnan jantung, maka penolong
harus tahu dari respon korban (periksa), jika tidak respon maka dianggap henti jantung
5. Lakukan kompressi jantung dengan kecepatan 100-120 kali / menit
6. Kedalaman kompressi paling tidak 5 cm
7. Dari setiap kompressi upayakan full recoil
8. Minimalisasi pause pada kompresi
9. Ventilasi adequat (2 nafas setelah 30 pijat, setiap pemberian nafas wakunya 1 detik (dada naik)

4
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

1. Pijat jantung - nafas buatan


Saat pijat jantung, hitung dengan suara keras
Tu,Dua,Ga,Pat, TU
Tu,Dua,Ga,Pat, DUA
Tu,Dua,Ga,Pat, GA
Tu,Dua,Ga,Pat, PAT
Tu,Dua,Ga,Pat, MA
Tu,Dua,Ga,Pat, NAM
Total = 30 x pijatan,
2 x tiupan nafas

2. Continue CPR 30 kali + 2 napas bantuan

PIJAT JANTUNG

1. Posisi penolong :
Tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus menekan tengah - tengah dada, tekan sedalam
2 inchi.
2. Beri kesempatan dinding toraks untuk “re-coil”
3. Pijat jantung 30 x disusul dg nafas 2 x
4. Bila sudah di –intubasi atau sudah dipasang LMA, maka :
a. Pijat jantung , kecepatan 100x/ menit
b. Nafas buatan 8-10x/ menit dan antara pijat jantung dan nafas tidak usah sinkron
5. Posisi tangan
- Bagi korban dewasa maka yang melakukan pijat jantung (chest compressions), disarankan
meletakkan telapak tangan pada the lower half of the sternum.
- Untuk mengajarkan lokasi atau peletakan tangan pada saat CPR :
“Place the heel of your hand in the center of the chest with the other hand on top.”

5
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Gambaran ECG Defibrilasi (DC - Shock)

- Jalur Shockable

- Jalur Unshockable

6
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

1. Asystole

2. Ventriculer Tachycardia (VT-Pulsesless)

VT / Ventricular Tachycardia

Carotis (+) Carotis (-)

Amiodaron 300 mg bolus a single shock


atau 360 Joules / 150 joules
Lidocain 1 mg/kg iv cepat CPR 30:2 2 menit
Managemen VT/ VF

7
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

CPR dilakukan sambil menunggu datangnya DC shock

De-FIBRILLATION / DC shock
- DC shock sedini mungkin (sebelum 5-10 menit)
- 360 Joules 1x (dulu 3x shock, repeated shock)
(Jika DC shock biphasic 150-200 Joules)

Setelah a single shock, segera CPR lagi 2 menit tanpa check ECG sudah ROSC atau belum
Baru setelah 2 menit CPR, berhenti sebentar untuk check ECG apakah sudah ROSC

8
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

POST CARDIAC ARREST

- Perawatan pasien pasca henti jantung : harus dirawat di ICU EGDT POST C.A.

9
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

AIRWAY MANAGEMENT(Mengelola Jalan Nafas)

Konsep Dasar
- Airway --? Keep airway / Jaga Jalan Nafas --> Onstruksi dan Aspirasi
- Bila ada sumbatan total --? O2 dalam paru habis dalam 1.5 menit (dibulatkan 2 menit)
- Pengelolaan Airway perlu : CEPAT, TEPAT, CERMAT
- Airway :
1. Bagian atas
2. Bagian bawah
- Cara menilai jalan nafas (A) :
1. Lihat - LOOK : gerak dada dan perut
2. Dengar - LISTEN : gerak udara nafas dengan telinga
3. Raba - FEEL : gerak udara nafas dengan pipi, gerak udara nafas pada telapak tangan
LOOK - LISTEN FEEL tidak dilakukan lebih dari 5 detik

Management Obstruksi Jalan Nafas


Posisi kepala ekstensi dengan head tilt chin lift, sehingga jalan nafas bebas. Posisi kepala fkeksi, jalan
nafas buntu

Head Tilt Chin Lift Jaw thrust

- Head tilt dan Chin Lift untuk pasien trauma


- Neck lift tidak boleh dilakukan sama sekali pada pasien trauma
- Jaw thrust sebagai pilihan terakhir jika cara lain tidak berhasil. Untuk orang awam tidak dianjurkan

10
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Korban Trauma jalan nafasnya dapat tersumbat karena berbagai sebab namun cara pertolongannya
sama, pertolongan :
1. Baringkan datar
2. Kepala jangan diberi bantal
3. Angkat dagu ke depan : chin lift, head tilt
4. Kalau perlu jaw thrust
5. Neck lift TIDAK boleh lagi dikerjakan
6. Jika korban muntah :
- Buka mulut, bersihkan sekedarnya agar jalan nafas cukup bebas
- Jika muntah lagi, baringkan miring (perhatikan cedera leher)
- Keep the airway dari ASPIRASI

Management Aspirasi
- Bila muntahan menyebabkan aspirasi, Kolaborasi dengan dokter ICU
- Bila obstruksi akibat Bendah asing / muntahan, lakukan Finger sweep
a. Membersihkan benda asing padat dalam jalan napas menggunakan alat penjepit ( Forcep )
b. Dapat diketahui jika chin lift atau jaw thrust tidak berhasil membebaskan jalan nafas, kerjakan
manuver Heimlich

Alat Bantu Jalan Nafas Buatan


1. Ofo-pharyngeal tube

Perhatikan ukuran !!!

Jangan dipasang dija


reflek muntah masih (+)

2. Naso-pharyngeal tube

- Tidak merangsang
muntah
- Hati-hati pasien dengan
fraktura basis cranii
- Ukuran untuk dewasa
7 mm atau sebesar
ukuran jari kelingking
kanan

3. LMA

- Tehnik pemasangan
mudah.
- Harga mahal
- Tidak mencegah
aspirasi

4. Cricothyroidotomy

- Jalur darurat untuk oksigenasi


- Bertahan 10 menit
- Tidak dapat membuang CO2

11
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

[Link] (Pernafasan)
6.

Problem NAFAS pada perawatan

Pasien bernafas ! Normal atau distres?


- Tidak ada nafas :
beri nafas buatan + O2
- Ada nafas tapi sengal-sengal / sesak :
beri nafas buatan + O2
- Ada nafas cepat > 25, gerak cuping hidung, retraksi sela iga :
beri O2 + siapkan nafas buatan

Tanda distress nafas :


a. Gelisah (karena hipoksia)
b. Tachypnea, nafas cepat, > 25 x/m
c. Gerak otot nafas tambahan
- Gerak cuping hidung
- Tracheal tug
- Retraksi sela iga
d. Gerak dada & perut paradoksal
e. Sianosis (tanda lambat)

Penyebab distress nafas :


a. pusat nafas terganggu : cedera / trauma kepala, stroke
b. jalan nafas terganggu : asthma, bronchitis, laryngitis
c. paru terganggu : trauma dada, patah rusuk, PPOM, edema paru, pneumothorax, hemothorax, efusi
pleura
d. otot nafas terganggu : myasthenia gravis, kejang, tetanus, hipokalemia
e. syaraf nafas terganggu : Guillian Barre Syndrome

Gangguan nafas yang sering terjadi :


- Hipoventilasi
nafas ada, tetapi volume udara yang keluar masuk kurang, CO2 tertimbun dan O2 turun
- Aspirasi paru
nafas ada, tetapi airway dan alveoli terisi benda asing (mis cairan muntah, darah, lendir dsb), CO2
tertimbun dan O2 turun
- Nafas tak teratur,
pola nafas abnormal, volume kurang
- Apnea / nafas berhenti
12
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Nafas terganggu dan kurang : BERI BANTUAN NAFAS

Bila Henti Nafas :


- Berikan nafas buatan, tambahkan oksigen
- Belum tersedia O2 gunakan udara ( 21% O2)

Tanpa O2 tabung dengan udara Dengan O2 tabung

Nafas Buatan
a. 12-20 x / menit, sampai dada nampak terangkat
b. Diberikan bila nafas abnormal
- Tidak menunggu sampai apnea dulu
c. Dengan tambahan oksigen (kalau ada)
d. Jika udara salah masuk lambung, jangan dikeluarkan dengan menekan lambung (risiko aspirasi)

Nafas buatan pada TRAUMA dilakukan dengan in line immobilisation (pegangi kepala - leher) agar
tulang leher tidak banyak bergerak

Nafas buatan dengan intubasi trachea :


- Oksigenasi dan pembuangan CO2 lebih Efektif
- Mencegah aspirasi ke paru

Menilai pernafasan
1. Look - Lihat:
- Gerak dada,
- Gerak cuping hidung (flaring nostril)
- Retraksi sela iga
2. Listen - Dengar:
- Suara nafas, suara tambahan
3. Feel - Raba:
- Udara nafas keluar hidung mulut
4. Palpasi:
- Gerak dada, simetris ?
5. Perkusi - Ketuk:
- Redup ? Hipersonor ? Simetris ?
6. Auskultasi (stetoskop):
- Suara nafas ada? Simetris ?
7. Ada pneumotoraks tension ?
- Diagnosis harus ditegakkan secara klinis, Jika terjadi :
a. Lihat dan palpasi toraks --> gerak sisi sakit tertinggal
b. Palpasi trachea --> terdorong ke sisi sehat
c. Ketuk toraks --> sisi sakit hipersonor (suara rongga)
d. Dengar suara nafas --> sisi sakit menghilang
Lakukan punksi (needle thoracostomy) tanpa tunggu foto sinar-X
13
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Lakukan Punksi segera (dekompresi)


a. Jarum besar (#14,16
b. Sela iga ke dua (ICS2)
c. Garis tengah selangka (mid clavicular line)
d. Drain thorax dipasang kemudian

Punksi pleura untuk dugaan pneumotoraks(cara jarum + spuit + air)


Jika keluar gelembung = ada pneumotoraks
Jarum jangan dicabut sampai drain terpasang

Jika air terhisap masuk = tak ada pne-toraks


Jarum segera dicabut sebelum air habis

Pasien Gawat
-Perlu oksigen 60-100 % :
a. Mask
b. Mask + reservoir
c. Bag + mask / jackson reese

- Mungkin perlu segera nafas buatan :


a. Bag + mask / Jackson reese
b. AMBU bag (+ reservoir)

- Target Ventilation
a. Dada terangkat, terdengar suara nafas di lapangan paru
b. Nafas buatan 80% masuk paru
c. Lambung jika kemasukan udara jangan ditekan
d. Gunakan NGT untuk dekompresi

14
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

DEFIBRILASI

Defibrilasi Un Sinkronise
 Pemberian tenaga listrik yang menyebabkan kejutan (shock) pada jantung sehingga mengubah
irama jantung yang mematikan menjadi irama jantung yang menunjang kehidupan

 Indikasi : - VT tanpa nadi


- VF

 EKG Normal :

 Besaran Energi
- 360 Joule →Manofasik
- 150 – 200 Joule →Bhifasik

Kardioversi (Bentuk defibrilasi yang sinkronise)


 Pemberian kejutan listrik pada gelombang R dan tidak jatuh pada gelombang T dengan maksud
mencegah terjadinya fibrilasi
 Indikasi
 Besaran Energi
Mulai 25 – 100 Joule :
- AF : 100 Joule
- PAT : 25 – 100 Joule
- [Link] : 25 Joule

Persiapan ALat & Obat


1. Mesin DC Shock
2. EKG Monitor
3. Jelly Elektrode
4. Alat/obat resusitasi
5. Terapi oksigen
6. Peralatan suction dengan kateter suction

Hal – hal yang perlu diperhatikan


1. Stand clear
2. Jauhkan O2 dan air sekitar pasien
3. Hati-hati bila pasien menggunakan pace maker
4. Charging dilakukan saat sudah kontak dengan pasien
5. Jelly rata, menekan paddle kuat

15
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Dokumentasi
1. Fungsi vital sebelum dan sesudah DC shock
2. Kesadaran
3. EKG sebelum dan sesudah DC Shock
4. Jam dan jumlah energy
5. Nama yang melakukan DC Shock
6. Komplikasi yang timbul

Kegagalan Defibrilasi dan Kardioversi


1. Hipoksia
2. Gangguan keseimbangan asam basa
3. Obat-obatan
4. Lamanya VT/VF
5. Hambatan trans thorak
6. Posisi padel tidak tepat

Komplikasi
1. Perlukaan myokard
2. Luka bakar
3. Distrimia  gangguan irama jantung
4. Emboli

Cardiac arrest = Carotid (-)  Check ECG :


 VF / VT pulseless = ada gelombang khas
- Shockable rhythm, harus segera DC-shock
 Asystole = ECG flat, tak ada gelombang
- UN-shockable
 PEA = EMD = ada gelombang mirip ECG normal
- UN-shockable

PEA = EMD
 Ada gelombang mirip ECG Normal
 Tetapi carotis tidak teraba
 Terapi sama seperti Asystole (CPR + Adrenalin)

P-ulseless
E-lectrical
A-ctivity

E-lectro
M-echanical
D-issociation

16
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

OBAT
& ALAT EMERGENCY

A. Alat Emergency

I. Peralatan Membuka Jalan Nafas


a. Orofaringeal Tube
b. Nasofaringeal Tube
c. Endotracheal Tube
d. Krikotirotomy
e. Thracheostomy

II. Perlengkapan alat Intubasi


a. ETT sesuai ukuran (3 ukuran)
a. Laringoskop
b. Stetoskop
c. Magil forcep
d. Stilet
e. Jackson Rees / Ambubag
f. Suction lengkap
g. Kasa
h. Spuit 20 cc
i. Plester
j. Xylocain spray
k. Obat sedatif dan muscle relaxan
- Obat sedatif : menidurkan
contoh : Midozolam (Mylos, Dormicum, Fortanes)
Recoval (Provoval )
- Muscle relaxan : melemahkan otot pernafasan
contoh : Norcuron 4 mg
Tracrium 25 mg

III. Membersihkan jalan nafas


a. Gunakan alat penghisap
b. Manual swab (finger swab)
c. Dengan magil forcep

IV. Alat-alat terapi oksigen


a. Nasal kanule
b. Simple mask
c. Masker rebreathing dengan reservoir
d. Masker non rebreathing dg reservoir
e. Jackson rees
f. Bag and mask dg reservoir

17
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

B. Obat Emergency
I. Obat emergency untuk resusitasi
a. Epineprin/Adrenalin :
Dosis : 1 mg iv tiap 3-5 menit
3-10x dosis iv bila intratracheal
Indikasi : Asistol, PEA, VF

b. Sulfas Atropin
Dosis : 0,5 mg iv
pada RJPO sudah tercapai ROSC  1 mg iv
transtracheal 3-10x iv max 3 mg
Indikasi : bradikardi
c. Amiodaron
Dosis : 300mg bolus
dilanjutkan 900 mg/24 jam
Indikasi : - Gambaran ECG VT dg nadi
- Gambaran VF & VT tanpa nadi sebelum single shock ke-4
d. Lidocain
Dosis : 1 mg/kgBB tiap 3-5 menit
- Max : 3 mg/kgBB
Indikasi : VF / VT

II. Obat emergency untuk perbaikan sirkulasi


a. Dopamin :
Dosis : 5-10 mcg/BB
Indikasi : mempertahankan infusion pressure dalam keadaan :
- Septic shock
- Cardiogenik shock
- Trauma
- Gagal ginjal
- Pasca RJPO

b. Dobutamin
Dosis : 2-10 mcg/BB

c. Nor adrenalin

III. Contoh Perhitungan

Rumus : BB X 60 X Dosis
Konsentrasi

Keterangan :
BB : Berat Badan
60 : menit

a. Dopamin
- Konsentrasi : Mg / pengenceran
- 1 mg = 1000 mcg = 1000 δ

Contoh Kasus :
1. Berapa konsentrasi dopamin 200 mg bila diencerkan 50 cc Pz.
Jawab :
konsentrasi = 200 mg / 50 cc
= 4 mg/cc
= 4000 mcg = 4000 δ

18
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

2. Berapa cc/ δ yang diberikan bila dokter minta 5 δ dopamin, BB Px 60 Kg dalam syringe pump.
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 60 X 60 X 5
4000
= 180
40
= 4.5 cc/jam

b. Dobutamin
- Konsentrasi : Mg / F. pengenceran
- 1 mg = 1000 mcg = 1000 δ

Contoh Kasus :
1. Dobutamin 250 mg diencerkan 50 cc berapa konsentrasinya
Jawab :
konsentrasi = 250 mg / 50 cc
= 5 mg/cc
= 5000 mcg
Jadi konsentrasinya adalah 1 cc = 5000 mcg
2. Berapa yang diberikan syringe pump bila dokter minta 5δ, BB 50 Kg.
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 50 X 60 X 5
5000
= 150
50
= 3 cc/jam

c. Nor adrenalin (Vascon, relvas, lefoped) ; 1 vial = 4 mg


- Konsentrasi : Mg / pengenceran
- 1 mg = 1.000.000 nn

Contoh Kasus :
1. Berapa konsentrasi bila diencerkan 50 cc Pz
Jawab :
konsentrasi = 4 mg / 50 cc
= 0.08 x 1.000.000 nn
= 80.000 nn
Jadi konsentrasinya adalah = 80.000 nn
2. Berapa cc/jam bila dokter minta 50 nn dengan BB Px 50 Kg dalam syringe pump
Jawab :
= BB X 60 X Dosis
konsentrasi
= 50 X 60 X 50 nn
80.000
= 150
80
= 1.875 cc/jam

19
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

PELAPORAN
& ALGORITME

A. Pelaporan

I. Tata Cara (SBAR)


1. Situation
Masalah
a. Dokumentasi : nama, no reg, umur, jenis kelamin, suku, agama, pendidikan, alamat, dll.
b. Pelaporan :
Umum : sebutkan asal RS, nama dan unit anda
Saya menelepon untuk : (nama px & no kamar)
Masalah yg ingin saya laporkan adalah…

2. Background
Singkat, berhubungan dengan pokok masalah
a. Dokumentasi : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
kesehatan keluarga.
b. Pelaporan : diagnosa masuk & tanggal masuk RS, riwayat pengobatan, ringkasan tanggal
pengobatan.

3. Assesment
Pengkajian
a. Dokumentasi:
- B1: BREATH :
a) Pergerakan dada e) Abdomen
b) Pemakaian alat bantu nafas f) Peristaltik usus
c) Suara nafas g) Mual
d) Batuk h) Muntah
e) Sputum, Dll i) Hematemesis
- B 2: BLOOD j) Melena
a) Suara jantung k) Pemakaian NGT
b) Irama jantung l) Diare
c) CRT m) Konstipasi
d) Edema, dll n) Ascites
- B 3 : BRAIN - B 6 : BONE
a) Tingkat kesadaran a) Turgor
b) Reaksi pupil , dll b) Perdarahan Kulit
- B 4 : BLEEDER c) Icterus
a) Urine d) Akral
b) Cateter e) Pergerakan Sendi
c) Kesulitan BAK, dll f) Fraktur
- B 5 : BOWEL g) Luka
a) Mukosa bibir
b) Lidah
c) Keadaan gigi
d) Nyeri telan
b. Pelaporan :
- Tanda –tanda vital terkini (tensi, nadi, rr, suhu) irama jantung
- Status mental
- Nyeri
- Perubahan kesadaran
- Warna kulit
- Perfusi, dll
20
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

4. Recommendation
a. Dokumentasi : apa yg kita kerjakan
b. Pelaporan :
- Transfer px ke unit lain (ICU?)
- Perubahan tx: jika ada perubahan tx,tanyakan : seberapa sering boleh diulang? (febris,tensi
tetap tinggi dll). Tanyakan: jika kondisi px tidak membaik, kapan kami boleh menghubungi
dokter lg?
- Pemeriksaan yang perlu dilakukan: foto, EKG,lab,dll.
- Cek ulang kondisi px dan lakukan rekomendasi.
- Jelaskan pd klg & px ttg perkembangan px & rekomendasi.
- Tanyakan pd dokter apakah dokter bisa datang untuk melihat kondisi px.
Catatan:
- Ada hal-hal yang kurang jelas, dipertanyakan ulang
- Ada usulan/ ada hal tidak sesuai standar, beri usulan
Misalnya :
Dokter : Beri Adrenalin 5 mg
Perawat : Maaf dokter, benar 5 mg atau 1 mg sesuai standart ACLS
Mendengarkan yang baik, jangan cepat memotong pembicaraan dlm konsultasi

B. Algoritma
I. Algoritma BLS

21
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

II. VF / Pulseless VT

22
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

23
Lean Management, 2017
O4/01/SDP/14.1/01/01/[Link]-2016.Rev00

Penatalaksanaan VT / VF

Penatalaksanaan Asystol / PEA/ AMD

24
Lean Management, 2017

Anda mungkin juga menyukai