Laporan Praktikum Karakteristik Kertas I
Hari/Tanggal : Minggu, 21 Juni 2020
Nama : Kevin Jonathan Fahmi
Nim : 1807035931
Kelas : TPK - A
Dosen Pengampu : Esty Octiana Sari, [Link]., M.T
KARAKTERISTIK SIFAT OPTIS PADA KERTAS
(PENGUKURAN BRIGHTNESS & FORMASI KERTAS)
A. Latar Belakang
Kertas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia
yang semakin maju dan berkembang seperti saat ini. Kualitas kertas yang
diproduksi sangat menentukan kemampuan suatu perusahaan untuk bersaing di
pasar global. Untuk memastikan bahwa kualitas produk kertas yang dihasilkan
benar-benar sesuai dengan yang diharapkan maka perlu dilakukan pengujian
karakteristik kertas. Salah satu parameter karakteristik kertas yang dapat diuji
yaitu sifat optis pada kertas (pengukuran brightness dan formasi kertas).
Formasi merupakan salah satu ukuran ketidakseragaman distribusi serat
dalam lembaran kertas yang dinyatakan dalam satuan indeks ketidakseragaman
(NUI = nonuniformity index). Semakin baik tingkat distribusi serat yang
membangun lembaran kertas (formasi semakin baik atau NUI semakin kecil) akan
berpengaruh terhadap perbaikan pada hampir seluruh sifat kertas. Uji formasi
dapat dilakukan secara visual yaitu dengan mengamati lembaran dibawah cahaya,
akan tetapi cara ini bersifat subyektif dan tidak memiliki nilai numerik. Penentuan
kuantitatif indeks ketidakseragaman serat dalam Iembaran kertas dapat diukur
berdasarkan penentuan transmisi cahaya relatif dari kertas dibandingkan terhadap
bahan standar. (Scott, 1995).
Brightness merupakan seberapa tinggi rendahnya intensitas pantulan cahaya
dari objek kertas itu sendiri. Semakin tinggi jumlah cahaya yang diserap pada
panjang gelombang tampak, maka semakin tinggi intesnitas cahaya tampak yang
dipantulkan. Suatu benda dapat dikatakan cerah, apabila benda itu memantulkan
cahaya yang cukup ke mata kita. Untuk itu dalam menilai atau mengukur
kecerahan suatu benda sangat terkait dengan panjang gelombang cahaya yang
dipantulkan/direflesikan. Panjang gelombang diukur dengan alat khusus yang
dapat mendeteksi pantulan warna dan tidak bisa diketahui hanya melalui
penglihatan. Kertas berwarna putih, belum tentu memiliki brightness lebih tinggi
dari pada kertas berwarna hijau atau berwarna lain. Kertas dengan nilai kecerahan
tinggi akan menghasilkan cetakan lebih baik. Tinggi rendahnya kecerahan kertas
dipengaruhi oleh bahan baku kertas serta sistem dan proses
pembuatannya (Smook, 1988).
B. Tujuan
Pengujian bertujuan untuk melakukan observasi dari prinsip dan cara kerja
alat pengukuran brightness dan formasi kertas.
C. Alat dan Bahan
C.1 Alat
Alat yang digunakan adalah : L&W Elrepho (Brightness Tester) (ISO-2469)
(TAPPI T-525)
C.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah : Sampel kertas
D. Prosedur
D.1 Prosedur Pengujian Brightness pada Kertas
Sampel
Sampel kertas diletakkan pada
disiapkan Alat dikalibrasi
sensor
brightness tester
Nilai brightness
Alat Nilai dapat dilihat
brightness pada layar digital
dimatikan dapat diprint brightness tester
Gambar 1. Diagram Alir Pengujian Brightness pada Kertas
D.2 Prosedur Pengujian Formation pada Kertas
Sampel kertas Sampel kertas
diletakkan dibawah
disiapkan sinar UV
Formasi/keseragaman
serat pada kertas dapat
dilihat
Gambar 2. Diagram Alir Pengujian Formation pada Kertas
E. Hasil dan Pembahasan
E.1 Hasil
Tabel 1. Perbedaan Brightness, whiteness, dan Fluoresensi
Perbedaan Brightness Whiteness Fluoresensi
Pengukurannya Dilihat dari Dilihat dari Dilihat dari
perbandingan pantulan panjang
intensitas cahaya panjang gelombang uv
biru dengan panjang
gelombang 0 - cahaya violet
gelombang 457nm
100nm atau biru dari
yang di pantulkan
spectrum yang
atau direfleksikan
terlihat
Satuannya Persen (%) Persen% CD/m2
E.2 Pembahasan
Warna kertas dapat ditentukan berdasarkan cahaya yang dipantulkan dalam
spectrum visual (Scott, 1992). Tapi mata manusia bukan spektrofotometer. Pada
manusia, otak menginterpretasikan warna dengan menilai jumlah relatif cahaya
diserap oleh tiga jenis kromofor di mata, masing-masing memiliki maksimum
absorbansi dalam rentang karakteristik dan panjang gelombang.
E.2.1 Brightness
Brightness dapat didefinisikan sebagai reflektansi diffuse dari tumpukan
kertas tebal, ketika mempertimbangkan cahaya tampak memiliki panjang
gelombang rata-rata sekitar 457 nm dan lebar pita sekitar 40 nm, yaitu cahaya biru
(Brandon 1981; Parkes 1989; Bristow 1990; Jordan 1996; Borch 2002; Pauler
2002). Kata "diffuse" berarti bahwa metode pengukuran tidak dirancang untuk
mendeteksi komponen cahaya yang memantul dari permukaan kertas dengan cara
seperti cermin. Kata "reflektansi" berarti bahwa cahaya yang datang dari sampel
yang diamati sedang dibandingkan sebagai persentase atau sebagai proporsi
fraksional dari jumlah yang akan dikembalikan dari zat putih sempurna, yaitu
sampel yang tidak menyerap semua cahaya.
Alasan mengapa pembuat kertas menekankan pengukuran reflektansi kertas
dibagian biru dari spektrum terlihat dapat dipahami berdasarkan pada kromofor
yang biasanya ada dalam serat selulosa. Seperti yang akan diuraikan kemudian,
lignin dan produk sampingnya umumnya menyerap panjang gelombang biru
paling kuat, memberikan pulp selulosa warna kekuningan. Warna ini sangat
tergantung pada pembuatan pulp, pemutihan, paparan cahaya, dll.
Dua jenis utama pengukuran brightness secara umum. Yaitu di satu sisi,
kecerahan dapat diukur dengan menerangi produk dengan sudut tetap 45○ relatif
terhadap sudut pengamatan. Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 3, dalam
Metode TAPPI T 452 cahaya datang adalah 45○ dari normal ke bidang kertas
(Van den Akker 1965; Parkes 1989; Jordan 1996).
Gambar 3. Konfigurasi dasar untuk pengujian kecerahan kertas
Cara lainnya yaitu kecerahan dievaluasi dengan cara difusi iluminasi,
mendeteksi cahaya yang dipantulkan sepanjang normal ke permukaan seperti yang
dijelaskan dalam T 571 dan ISO Standar 2470 (Parkes 1989; Jordan 1996; Leskelä
1998; Bristow 1999). Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Peralatan uji dasar untuk evaluasi reflektifitas kertas
Tabel 2. standar brightness dan whiteness menurut ISO dan TAPPI
Property ISO TAPPI
Brightness ISO 2470 - Pengukuran - T 452 - Kecerahan pulp, kertas,
faktor reflektansi difus dan kertas karton (pemantulan
(kecerahan ISO) arah pada 457 nm)
- T 571 - Kecerahan kertas dan
kertas karton (d / 0)
- T 525 - Kecerahan bubur kertas
(d / 0o)
Whiteness ISO 11476 - Penentuan - T 560 - CIE Keputihan dan
keputihan CIE, C / 2° warna kertas dan kertas karton
(Menggunakan d/0°, iluminasi
difus dan tampilan normal)
- T 562 - CIE putih dan warna
kertas dan kertas karton
(Menggunakan 45°/0° iluminasi
terarah, dan penglihatan normal)
E.2.2 Whiteness
Keputihan kertas (whiteness) mengkuantifikasi kemampuan kertas untuk
mencerminkan keseimbangan semua panjang gelombang cahaya secara merata di
seluruh spektrum yang terlihat. Whiteness mengukur keseimbangan relatif cahaya
yang dipantulkan di seluruh rentang spektral yang terlihat penuh. (sekitar 380nm -
720nm). Standar pengukuran whiteness yang paling umum digunakan di seluruh
dunia adalah ISO 11475: 2004, juga dikenal sebagai CIE whiteness. ISO 11475:
2004 menetapkan indeks keputihan dan metodologi pengukuran yang
menggunakan pencahayaan diffuse dengan sumber cahaya yang dikonfigurasikan
ke CIE standar penerangan D65.
Gambar 5. Perbedaan panjang gelombang brightness dan whiteness
CIE Whiteness, yang dikembangkan oleh International Commission on
Illumination (CIE) yang berbasis di Perancis, adalah indeks putih yang paling
umum digunakan. Untuk bahan putih pantulan sempurna, non fluorescent, CIE
Whiteness akan menjadi 100. Kertas yang mengandung aditif fluoresensi seperti
Optical Brightening Agents (OBA) juga akan mengukur jauh di atas 100.
Keputihan benar-benar tidak adanya warna. Indeks CIE telah dirancang sehingga
sebagian besar orang akan setuju bahwa semakin tinggi putihnya, semakin putih
pula bahannya. Untuk mengukur whiteness juga dapat menggunakan L&W
Elrepho. Formasi lembaran memiliki kaitan yang erat dengan derajat putih.
Semakin baik formasi lembaran maka cahaya yang dihamburkan akan lebih
banyak dan hal ini dapat meningkatkan derajat putih kertas.
E.2.3 Fluorensi
Prinsip fluoresensi diilustrasikan pada Gambar. 6 (Wyszecki dan Stiles,
2000). Secara singkat dinyatakan, ketika cahaya terkena material fluorescent ,
beberapa electron mendapatkan energi. Dalam kasus bahan non- fluorescent biasa,
energi seperti itu juga akan sepenuhnya diserap dan dikonversi menjadi panas,
atau akan segera dilepaskan lagi, dan menghasilkan cahaya yang memiliki
panjang gelombang yang sama dengan cahaya yang datang.
Gambar 6. Prinsip Fluoresensi
Pewarna fluoresen dapat digunakan untuk menghasilkan kertas berwarna
mencolok. Pemutihan fluoresen agen, yang kadang-kadang disebut "optik
brighteners" atau " agen brightening optik ,"digunakan terutama dalam produk
office paper. Pemutih fluoresen berfungsi dengan menyerap sinar ultraviolet
berenergi tinggi dan memancarkan kembali cahaya dalam rentang biru dari
spektrum yang terlihat (Pauler 2002). Cara umum menilai jumlah efek pemutihan
fluoresen dalam selembar kertas adalah untuk membandingkan hasil pantulan tes
(misalnya, tes kecerahan) diukur dengan dan tanpa komponen ultraviolet cahaya
dalam sinar datang (Haddad 1967; Malthouse dan Popson 1995).
E.2.4 Paper Formation
Keseragaman kertas (paper formation) sering dievaluasi dengan melihat
selembar kertas dalam cahaya yang ditransmisikan. Ketidakmerataan yang diamati
dengan cara ini sebenarnya disebabkan oleh variasi lokal dalam opacity.
Fenomena ini dapat terjadi akibat distribusi serat yang tidak seragam dalam
bidang lembaran (Cutshall 1990). Jordan (1985) menunjukkan bahwa, rata-rata,
kertas dengan formasi yang tidak seragam cenderung memiliki nilai opacity rata-
rata yang lebih rendah daripada kertas sejenis yang memiliki keseragaman yang
lebih tinggi. Ketidakseragaman basis weight pada kertas mempengaruhi
penampilan kertas itu sendiri, berat dasar yang tidak seragam dapat
mempengaruhi kualitas kertas yang dilapisi, serta penampilan gambar yang
dicetak. Variasi lokal dalam gloss, memberikan kertas penampilan berbintik-
bintik, sering dikaitkan dengan ketidakseragaman pembentukan kertas dasar.
(Engström 1994).
Untuk uji formasi dapat dilakukan secara visual yaitu dengan mengamati
lembaran dibawah cahaya, akan tetapi cara ini bersifat subyektif dan tidak
memiliki nilai numerik. Penentuan kuantitatif indeks ketidak seragaman serat
dalam Iembaran kertas dapat diukur berdasarkan penentuan transmisi cahaya
relatif dari kertas dibandingkan terhadap bahan standar. (Scott, 1995).
F. Kesimpulan
1. Whiteness adalah angka yang menunjukkan derajat putih kertas dapat diukur
dengan L&W Elrepho (whiteness tester).
2. Brightness adalah perbandingan antara intensitas cahaya biru dengan
panjang gelombang 457 nm yang dipantulkan oleh permukaan kertas
terhadap cahaya sejenis.
3. Fluoresen berfungsi dengan menyerap sinar ultraviolet berenergi tinggi dan
memancarkan kembali cahaya dalam rentang biru dari spektrum yang
terlihat.
4. Keseragaman formasi kertas sangat penting, semakin baik formasi lembaran
maka cahaya yang dihamburkan akan lebih banyak dan hal ini dapat
meningkatkan derajat putih kertas.
G. Daftar Pustaka
Borch, J. 2002. “Optical and appearance properties,” in Handbook of Physical
Testing of Paper, 2nd Ed., J. Borch, M. B. Lyne, R. E. Mark, and C. C.
Haberger, Jr. (eds.), Vol. 1 (incorrect information on cover says “Vol. 2,”
Ch. 4, 95-148.
Brandon, C. E. 1981. “Properties of paper”, in Pulp and Paper Chemistry and
Chemical Technology, Casey, J. P. (ed.), Third Ed., Wiley-Interscience,
New York, Vol. 3, Ch. 21, 1715-1972.
Bristow, J. A. 1990. “Brightness and whiteness – Definition and measurement”,
Adv. Print. Sci. Technol. 20, 193-217
Bristow, J. A. 1999. “ISO brightness – A more complete definition”, Tappi J.
82(10), 54-56.
Bristow, J. A., and Karipidis, C. 1999. “ISO brightness and fluorescent papers
and indoor whiteness – Proposal for illuminant”, Tappi J. 82(1), 183-193.
Cutshall, K. 1990. “The nature of paper variation”, Tappi J. 73(6), 81-90.
Engström, G. 1994. “Formation and consolidation of a coating layer and the
effect on offset-print mottle”, Tappi J. 77(4), 160-172.
Haddad, S. J. 1967. “Measurement of optical brightener in paper”, Tappi 50(12),
90A-91A.
Jordan, B. 1996. “Brightness: Basic principles and measurement”, in Pulp
Bleaching Principles and Practice, TAPPI Press, Atlanta, 695-716.
Jordan, B. D. 1985. “Predicting the effect of formation on opacity and scattering
coefficient”, J. Pulp Paper Sci. 11(2), J56-J59.
Leskelä, M. 1998. “Optical properties”, in Niskanen, K., Paper Physics,
Papermaking Sci. Technol. Ser. No. 16, Fapet Oy, Helsinki, Ch. 4, 117-137.
Malthouse, D. D., and Popson, S. J. 1995. “A new way of measuring the effect of
fluorescent whitening agents”, Appita 48(1), 56-58
Parkes, D. 1989. “Instrumental methods for evaluating whiteness, brightness, and
fluorescence”, Tappi J. 69(9), 95-100.
Pauler, N. 2002. “Paper Optics”, Lorentzen and Wettre, Corp. Communications
Dept., Kista, Sweden.
Scott, W. E., Abbot, J. C., and Trosset, S. 1995. “Properties of Paper:
Introduction”, TAPPI Press, Atlanta, 191 pp.
Scott, W. E., Dearth, L. R., and Jordan, B. D. 1992. “Optical properties of
paper”, in Pulp and Paper Manufacture, Vol. 9, Mill Control and Control
Systems: Quality and Testing, Environmental, Corrosion, Electrical, Thorp,
B. A., and Kocurk, M. J. (eds.), Ch. 6, 152-191.
Smook, G. A. 1988. ”Handbook for Pulp and Paper Technologist” . Joint Text
book Committee of The Paper Industry, Canadian Pulp and paper
Association : Montreal, Quebec Canada.
Van den Akker, J. A. 1965. “Standard brightness, color, and spectrophotometry
with emphasis on recent information”, Tappi 48(12), 57A-62A.
Wyszecki, G., and Stiles, W. S. 2000. “Color Science”, 2nd Ed., Wiley-
Interscience, New York.