2.
1 Koperasi, Gotong Royong, dan Tolong Menolong
Koperasi mengandung makna “kerja sama”. Koperasi (cooperative)
bersumber dari kata co-operation yang artinya “erja sama”. Ada juga yang
mengartikan koperasi dalam makna lain. Enriques memberikan pengertian
koperasi yaitu menolong satu sama lain (to help one another) atau saling
bergandengan tangan (hand in hand). Arti kerjasama bisa berbeda –beda,
tergantung dari cabang ilmunya.
1. Ilmu ekonomi terapan. Bentuk “kerjasama” dalam ekonomi yang diatur
sedemikian rupa, sehingga dapat membantu peserta kerjasama tersebut.
2. Ilmu sosial. “Kerjasama” adalah suatu organisasi yang merupakan salah
satu unsur dinamika kehidupan bermasyarakat.
3. Aspek hukum. “Kerjasama” adalah suatu badan hukum yang mempunyai
hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
4. Pandangan anthropologi. “Kerjasama” adalah salah satu bentuk kegiatan
yang dilakukan untuk memelihara kelangsungan hidup suatu masyarakat.
Koperasi berkenaan dengan manusia sebagai individu dengan
kehidupannya dalam masyarakat. Manusia tidak dapat melakukan kerjasama
sebagai suatu unit, dia memerlukan orang lain dalam suatu kerangka kerja
sosial (social framework). Karakter koperasi berdimensi ganda (ekonomi dan
sosial), sehingga untuk menjelaskan fenomena kerjasama dalam koperasi, kita
terlebih dahulu harus memahami pengetahuan dasar dari kondisi sosial,
ekonomi, politik, dan etika (Enriquez, 1986). Dalam hal ini koperasi berkaitan
dengan fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi sosial, yaitu cara manusia hidup, bekerja, dan bermain dalam
masyarakat.
2. Fungsi ekonomi, yaitu cara manusia membiayai kelangsungan hidupnya
dengan bekerja dalam masyarakat.
3. Fungsi politik, yaitu cara manusia memerintah dan mengatur diri mereka
sendiri melalui berbagai hukum dan peraturan.
4. Fungsi etika, yaitu cara manusia berperilaku dan meyakini kepercayaan
mereka, falsafah hidup mereka, dan cara berhubungan dengan Tuhan
mereka.
Di indonesia, bentuk kerjasama sudah lama dikenal dengan istilah
“gotong royong”. Menurut Notoatmojo, gotong royong asli di Indonesia suadah
dimulai pada tahun 2.000 SM, dan terdapat hampir di berbagai etnis yang ada di
Indonesia. Istilah gotong royong berbeda-beda di berbagai daerah:
1. Di Tapanuli dikenal dengan nama “Marsiurupan”,
2. Di Minahasa disebut “Mapalus Kobeng”,
3. Di Ambon dikenal dengan nama “Masohi”
4. Di Sumba menggunakan istilah “Pawonda”,
5. Di Madura disebut “Long tinolong”
6. Di Jawa Barat disebut dengan nama “Liliuran”,
7. Di Sumatera Barat di kenal dengan nama “Julojulo”,
8. Di bali lebih terkenal dengan sebutan “Subak”, dan masih banyak istilah
lain yang sesuai dengan bahasa dan norma yang berlaku pada
masyarakat tersebut.
Dengan demikian, apakah arti konsep koperasi dapat disamakan dengan
gotong royong? Atau apakah gotong royong dan tolong-menolong mempunyai
prinsip yang sama dengan koperasi? Mubyarto memberikan jawaban sebagai
berikut.
Koperasi, gotong royong, dan tolong-menolong sama-sama mengandung
unsur dasar kerjasama, tetapi mempunyai perbedaan yang mendasar sebagai
berikut:
1. Gotong royong adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan
bersama, seperti perbaikan jalan, membangun gereja atau mesjid, dan
lain-lain.
2. Tolong menolong atau bantu-membantu menunjukan pada pencapaian
tujuan perorangan, seperti mengarap sawah, memperbaiki rumah, dan
lain-lain. Di sini ada unsur balas-membalas (reciprocity) di mana orang
bersedia menolong orang lain dengan harapan bahwa, di kemudian hari
ia akan memerlukan pertolongan orang lain juga.
3. Gotong royong dan tolong-menolong mengandung unsur “keterpaksaan”
yang bermakna disiplin dan solidaritas. Orang melaksanakannya karena
adanya semacam keharusan dan solidaritas sosial. Sanksi sosial akan
ada terhadap anggota masyarakat yang tidak penah bersedia ikut dalam
gotong royong. Demikian pula dalam hal tolong-menolong, di mana sifat
ketidakrelaan ini lebih kuat lagi, karena tanpa tolong-menolong orang lain,
seseorang akan rugi sendiri di kemudian hari apabila tak ada yang
bersedia menolongnya pada waktu ia memerlukannya.
4. Pada kasus koperasi, yang terjadi adalah sebaliknya. Prinsip
keterpaksaan tidak dijumpai dalam perkumpulan koperasi yang tujuan
ekonominya sangat jelas. Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa
gotong royong dan tolong-menolong lebih bertujuan sosial, bukan
bertujuan ekonomi. Koperasi mempunyai tujuan ekonomi yang lebih
konkrit. Dalam hal makna koperasi ini, Munkner sependapat dengan
Mubyarto .
2.2 Pengartian Koperasi
Seringkali orang mendefinisikan koperasi dengan menggunakan prinsip-
prinsip koperasi atau serangkaian prinsip koperasi, terutama prinsip-prinsip
koperasi yang diterapkan oleh pelopor dari Roch-dale, Raiffeisen, Schulze D.,
dan juga oleh konsepsi-konsepsi lain. Sementara prinsip-prinsip koperasi itu, di
satu pihak, memuat sejumlah nilai, norma, dan tujuan konkrit, yang tidak harus
diketemukan pada semua koperasi. Di lain pihak, prinsip-prinsip tersebut
merupakan prinsip-prinsip pengembangan organisasi dan pedoman-pedoman
kerja yang pragmatis, yang hanya berhasil diterapkan pada keadaan tertentu
saja. Prinsip-prinsip koperasi dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk yang
berguna bagi pengembangan organisasi koperasi dan gerakan koperasi
tertentu. Namun, prinsip-prinsip tersebut biasanya bukan merupakan kriteria
yang berguna bagi pembuatan definisi ilmiah mengenai organisasi koperasi
yang berlaku secara universal. Prinsip-prinsip koperasi itu merupakan sumber
dari norma-norma hukum yang dianut setiap koperasi, dan karenanya, seringkali
pengertian perasi diartikan menurut hukum dan didaftarkan sebagai organisasi
koperasi menurut Undang-Undang Koperasi di berbagai negara. Jadi, jika
dikaitkan dengan pengertian 'koperasi menurut hukum' maka dapat terjadi
bahwa di suatu negara tertentu, tidak semua organisasi koperasi didaftarkan
berdasarkan Undang-Undang Koperasi. Lebih jauh lagi, Undang-Undang
Koperasi dari berbagai negara dapat menggunakan kriteria yang berbeda untuk
merumuskan definisi koperasi menurut hukum, sebagai persyaratan bagi
pendaftaran suatu organisasi koperasi.
Biasanya koperasi dikaitkan dengan upaya kelompok-kelompok individu,
yang bermaksud mewujudkan tujuan-tujuan umum atau sasaran-sasaran
konkritnya melalui kegiatan-kegiatan ekonomus, yang dilaksanakan secara
bersama bagi kemanfaatan bersama. Pengertian koperasi juga dapat dilakukan
dari pendekatan asal yaitu kata koperasi berasal dari bahasa Latin "coopere" ,
yang dalam bahasa Inggris disebut cooperation. Co berarti bersama dan
operation berarti bekerja, jadi cooperation berarti bekerja sama. Dalam hal ini,
kerjasama tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan
dan tujuan yang sama.
Terminologi koperasi yang mempunyai arti "kerja sama", atau paling tidak
mengandung makna kerja sama, sangat banyak dan bervariasi dalam berbagai
bidang. Terdapat kerja sama dalam bidang ekonomi yang disebut "Economic
Cooperation" atau kerja sama dalam kelompok manusia yang disebut
Cooperative Society".
Berikut ini disajikan beberapa definisi koperasi.
1. Definisi ILO
Definisi koperasi yang lebih detil dan berdampak internasional
diberikan oleh ILO (International Labour Organization).
Cooperative defined as an association of persons usually of limited
means, who have voluntarily joined together to achieve a common
economic end through the formation of a democratically controlled
business organization, making equitable contribution to the capital
required and accepting a fair share of risk and benefits of undertaking.
Pengertian koperasi, kumpulan orang dalam tujuan tertentu
yang bergabung secara sukarela untuk memperoleh peningkatan
kualitas ekonomi (melalui pembentukan sebuah organisasi bisnis
yang dikendalikan secara demokratis membuat kontribusi yang adil
terhadap modal yang diperlukan dan menerima bagian yang adil dari
risiko dan manfaat dari usaha tersebut.
Dalam definisi ILO tersebut, terdapat 6 elemen yang dikandung
koperasi tersebut sebagai berikut.
a. Koperasi adalah perkumpulan orang – orang (association of
persons).
b. Penggabungan orang – orang tersebut berdasar
kesukarelaan (voluntarily joined together).
c. Terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai (to achieve a common
economic end).
d. Koperasi yang dibentuk adalah satu organisasi bisnis (badan
usaha) yang diawasi dan dikendalikan secara
demokratis (formation of a democratically controlled business
organization)
e. Terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang
dibutuhkan (making equitable contribution to the capital required).
f. Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara
seimbang (Accepting a fair share of the risk and benefits of the
undertaking ).
2. Definisi Chaniago
Arifinal Chaniago (1984) mendefinisikan koperasi sebagai suatu
perkumpulan yang beranggotakan orang – orang atau badan hukum yang
memberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar dengan
bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk
mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya.
3. Definisi Dooren
P.J.V. Dooren mengatakan bahwa, tidak ada satu definisi koperasi
yang diterima secara umum (Nasution, M. dan M. Taufiq, 1992). Kendati
demikian, Dooren masih tetap memberikan definisi koperasi sebagai
berikut.
There is no single definition (for coopertive) which is generally
accepted, but the common principle is that cooperative union is an
association of member, either personal or corporate, which have
voluntarily come together in pursuit of a common economic objective.
Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti ”Tidak ada
definisi tunggal (untuk coopertive) yang umumnya diterima, tetapi prinsip
yang umum menjelaskan bahwa serikat koperasi adalah sebuah asosiasi
anggota, baik pribadi atau perusahaan, yang telah secara sukarela
datang bersama-sama dalam mengejar tujuan ekonomi umum”.
Disini Dooren memperluas pengertian koperasi, di mana koperasi
tidak hanya kumpulan orang-orang melainkan juga kumpulan badan-
badan hukum (corporate).
4. Definisi Hatta
Definisi tersebut sebelumnya agak berbeda dengan apa yang
dikemukakan Moh. Hatta. “Bapak Koperasi Indonesia”ini mendifinisikan
koperasi lebih sederhana tetapi jelas, padat, dan ada suatu visi misi yang
dikandung koperasi. Dia mengatakan, “Koperasi adalah usaha bersama
untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-
menolong. Semangat tolong-menolong tersebut didorong oleh keinginan
memberi jasa kepada kawan berdasarkan ‘seorang buat semua dan
semua buat seorang’.”
5. Definisi Munker
Munkner mendefinisikan koperasi sebagai organisasi tolong –
menolong yang menjalankan “urusniaga” secara kumpulan, yang
berazaskan konsep tolong – menolong. Aktivitas dalam urusniaga semata
– mata bertujuan ekonomi, bukan social seperti yang dikandung gotong –
royong.
6. Definisi UU No. 25/1992
Definisi Koperasi Indonesia menurut UU No. 25/1992 tentang
Perkoperasian
Koperasi adalah badan usaha yang berangotakan orang seorang
atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat,
yang berdasar atas asas kekeluargaan.
Berdasarkan batasan koperasi ini, Koperasi Indonesia
mengandung 5 unsur sebagai berikut.
a. Koperasi adalah badan usaha ( Business Enterprise )
Sebagai badan usaha, maka koperasi harus memperoleh
laba. Laba merupakan elemen kunci dalam suatu sistem usaha
bisnis, di mana sistem itu akan gagal bekerja tanpa memperoleh
laba.
b. Koperasi adalah kumpulan orang – orang dan atau badan –
badan hukum koperasi
Ini berarti bahwa, koperasi Indonesia bukan kumpulan
modal. Dalam hai ini, UU Nomor 25 tahun 1992 memberikan
jumlah minimal orang-orang (anggota) yang ingin membentuk
organisasi koperasi (minimal 20 orang), untuk koperasi primer dan
3 badan hukum koperasi untuk koperasi sekunder. Syarat lain
yang harus dipenuhi ialah bahwa anggota-anggota tersebut
mempunyai kepentingan ekonomi yang sama.
c. Koperasi Indonesia adalah koperasi yang bekerja berdasarkan
“prinsip – prinsip koperasi”
Menurut UU Nomor 25 Tahun 1992, ada 7 prinsip Kopreasi
Indonesia. Prinsip koperasi pada dasarnya merupakan jati diri
koperasi.
d. Koperasi Indonesia adalah “Gerakan Ekonomi Rakyat”.
Ini berarti bahwa, Koperasi Indonesia merupakan bagian
dari sistem perekonomian nasional. Dengan demikian, kegiatan
usaha koperasi tidak semata-mata hanya ditujukan kepada
anggota, tetapi juga kepada masyarakat umum.
e. Koperasi Indonesia “berazaskan kekeluargaan”
Dengan azas ini, keputusan yang berkaitan dengan usaha
dan organisasi dilandasi dengan jiwa kekeluargaan. Segala
keputusan yang diambil seyogyanya berdasarkan musyawarah
dan mufakat. Inti dari azas kekeluargaan yang dimaksud adalah
adanya rasa keadilan dan cinta kasih dalam setiap aktivitas yang
berkaitan dengan kehidupan berkoperasi.
2.3 Tujuan Koperasi
Dalam UU. No 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 3 disebutkan
bahwa, koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya
dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian
nasional, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur
berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Tujuan koperasi tersebut masih bersifat umum. Karena itu, setiap
koperasi perlu menjabarkannya ke dalam bentuk tujuan yang lebih operasional
bagi koperasi sebagai badan usaha. Tujuan yang jelas dan dapat dioperasikan
akan memudahkan piha manajemen dalam mengelola koperasi. Pada kasus
anggota juga bertindak sebagai pemilik, pelanggan dan pemodal akan dapat
lebih mudah melakukan pengawasan terhadap proses pencapaian tujuan
koperasi, sehingga penyimpangan dari tujuan tersebut akan dapat lebih cepat
diketahui.
Dalam tujuan tersebut dikatakan bahwa, koperasi memajukan
kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Pernyataan ini mengandung arti bahwa, meningkatkan kesejahteraan anggota
adalah menjadi program utama koperasi melalui pelayanan usaha. Jadi,
pelayanan anggota merupakan prioritas utama dibandingkan dengan
masyarakat umum.
Dengan demikian, keberhasilan koperasi dalam mencapai tujuannya
dapat diukur dari peningkatan kesejahteraan anggota. Kesejahteraan bermakna
sangat luas dan juga bersifat relatif, karena ukuran sejahtera bagi seseorang
dapat berbeda satu sama lain. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang
tidak pernah merasa puas, karena itu kesejahteraan akan terus dikejar tanpa
batas.
Keberhasilan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial
ekonomi anggotanya akan lebih mudah diukur, apabila aktivitas ekonomi yang
dilakukan oleh anggota dilakukan melalui koperasi, sehingga peningkatan
kesejahteraannya akan lebih mudah diukur. Dalam pengertian ekonomi, tingkat
kesejahteraan itu dapat ditandai dengan tinggi rendahnya pendapatan riil.
Apabila pendapatan ril seseorang atau masyarakat meningkat, maka
kesejahteraan ekonomi seseorang atau masyarakat tersebut meningkat pula.
Berkaitan dengan jalan pikiran tersebut, maka apabila tujuan koperasi adalah
meningkatkan kesejahteraan anggotanya, maka berarti pula tujuan koperasi itu
diwujudkan dalam bentuk meningkatnya pendapatarn (riil) para anggotanya.
Dengan demikian, pengertian kesejahteraan yang bersifat abstrak dan relatif
tersebut dapat diubah menjadi pengertian yang lebih konkrit dalam bentuk
pendapatan, sehingga pengukurannya dapat dilakukan secara nyata.
Dalam pengertian ekonomi, pendapatan dapat berbentuk pendapatan
nominal dan pendapatan . Pendapatan nominal adalah pendapatan seseorang
yang diukur dalam jumlah satuan uang yang diperoleh. Sedangkan pendapatan
ril adalah pendapatan seseorang yang diukur dalam jumlah barang dan jasa
pemenuh kebutuhan yang dapat dibeli, dengan membelanjakan pendapatan
nominalnya (uangnya). Apabila pendapatan nominal seseorang meningkat,
sementara harga-harga barang/jasa (tetap tidak naik), maka orang tersebut
akan lebih mampu membeli barang/jasa untuk memenuhi kebutuhannya, yang
berarti tingkat kesejahteraannya meningkat pula.
Dalam kondisi seperti di Indonesia, di mana pendekatan pembinaan dan
pengembangan asi dengan top-down-appronch, banyak koperasi dengan
sejumlah anggota yang kurang mempunyai hubungan ekonomi satu sama lain.
Dalam kata lain partisipasi anggota terhadap koperasinya masih relatif kecil
sehingga sukar untuk mengatakan bahwa peningkatan kondisi sosial ekonomi
anggota koperasi sebagai keberhasilan dari pada koperasi.
Selanjutnya, fungsi Koperasi untuk Indonesia tertuang dalam pasal 4 UU.
No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian yaitu:
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas
kehidupan manusia dan masyarakat.
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan
ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai
sokogurunya.
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian
nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas azas
kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
2.4 Prinsip prinsip koperasi
Prinsip-prinsip koperasi (cooperative principles) adalah ketentuan-
ketentuan pokok yang berlaku dalam koperasi dan dijadikan sebagai pedoman
kerja koperasi. Lebih jauh, prinsip-prinsip tersebut merupakan "rules of the
game" alam kehidupan koperasi. Pada dasarnya, prinsip-prinsip koperasi
sekaligus merupakan jati diri atau ciri khas koperasi tersebut. Adanya prinsip
koperasi ini menjadikan watak koperasi sebagai badan usaha berbeda dengan
badan usaha lain.
Terdapat beberapa pendapat mengenai prinsip-prinsip koperasi. Berikut
ini disajikan 7 prinsip koperasi yang paling sering dikutip.
1. Prinsip Munkner
2. Prinsip Rochdale
3. Prinsip Raiffeisen
4. Prinsip Herman Schulze
5. Prinsip ICA (International Cooperative Allience)
6. Prinsip Koperasi Indonesia versi UU No. 12 Tahun 1967, dan
7. Prinsip Koperasi Indonesia versi UU No. 25 Tahun 1992.
1. Prinsip Munkner
Hans H. Munkner menyarikan 12 prinsip koperasi yang diturunkan
dari 7 variabel gagasan umum sebagai berikut.
No. Gagasan Umum Prinsip-prinsip koperasi
1 Menolong diri sendiri Keanggotaan bersifat sukarela
berdasarkan kesetiakawanan (voluntarily membership)
(self-help based on solidarity)
2 Demokrasi (democracy) Keanggotaan terbuka (open
membership)
3 Kekuatan modal tidak Pengembangan anggota (member
diutamakan (neutralised capital) promotion)
4 Ekonomi (economy) Identitas sebagai pemilik dan pelanggan
(identity of co-owners and customers)
5 Kebebasan (liberty) Manajemen dan pengawasan
dilaksanakan secara demokratis
(democratic management and control)
6 Keadilan (equity) Koperasi sebagai kumpulan orang-orang
(personal cooperation)
7 Memajukan kehidupan sosial Modal yang berkaitan dengan aspek
melalui pendidikan (social social tidak dibagi (indivisible social
advancement through capital)
education)
8 Efisiensi ekonomi dari perusahaan
koperasi (economic efficiency of the
cooperative enterprise)
9 Perkumpulan dengan sukarela
(voluntarily association)
10 Kebebasan dalam pengambilan
keputusan dan penetapan tujuan
(autonomy in goal setting and decision
making)
11 Pendistribusian yang adil dan merata
akan hasil-hasil ekonomi (fair and just
distribution of economic result)
12 Pendidikan anggota (member education)
Prinsip-prinsip koperasi yang diidentifikasi Munkner tersebut
merupakan perpaduan dari aturan aturan yang berlaku dalam organisasi
sosial dan kehidupan bermasyarakat. Menurut Munkner, prinsip-prinsip
koperasi adalah prinsip-prinsip ilmu pengetahuan sosial yang dirumuskan
dari pengalaman dan merupakan petunjuk utama (guideline) dalam
mengerjakan sesuatu.
Selanjutnya, bila dilihat dari sejarah dan perkembangan prinsip-
prinsip koperasi, maka sebenarnya prinsip-prinsip koperasi tersebut
bersifat dinamis. Khusus koperasi Indonesia, dinamika perubahan ini
seiring dengan perubahan undang-undang yang mengatur perkoperasian.
2. Prinsip Rochdale
Prinsip-prinsip Rochdalepada awalnya dipelopori oleh 28 koperasi
konsumsi di Rochdale¸Inggris pada tahun 1994. Prinsip Rochdale ini
menjadi acuan atau tujuan dasar bagi berbagai koperasi di seluruh
dunia. Penyesuaian dilakuka oleh berbagai negara sesuai dengan
keadaan social- budaya, dan perekonomian masyarakat setempat.
Adapun unsur-unsur prinsip Rochdale ini menurut bentuk aslinya sebagai
berikut:
a. Pengawasan secara demokratis (Democratic Control)
b. Keanggotaan yang terbuka (Open membership)
c. Bunga atas modal dibatasi (a fixed or limited interest on capital)
d. Pembagian sisa hasil usaha (SHU) kepada anggota sebanding
dengan jasa masing – masing anggota (The distribution of surplus
in dividend to the members in proportion to their purchases)
e. Penjualan sepenuhnya dengan tunai (Trading strictly on a cash
basis)
f. Barang – barang yang dijual harus asli dan tidak dipalsukan
(Selling only pure and unadulterated goods)
g. Netral terhadap politik dan agama (Political and religious neutrality)
3. Prinsip Raiffesien
Freidrich William Raiffeisen (1818-1888) adalah Walikota
Flammersfelt di Jerman. Keadaan Perekonomian yang buruk di Jerman
pada saat itu khusunya dalam bidang pertanian, membuat F.W.
Raiffeisen mengembangkan koperasi kredit dan “bank rakyat”. Prinsip
Raiffeisen adalah sebagai berikut :
a. Swadaya
b. Daerah kerja terbatas
c. SHU untuk cadangan
d. Tanggung jawab anggota tidak terbatas
e. Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
f. Usaha hanya kepada anggota
g. Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang
4. Prinsip Schulze
Di kota lain di Jerman, Delitzsch, seorang ahli hukum yang
bernama Herman Schulze (1800-1883) tertarik untuk memperbaiki
kehidupan para pengusaha kecil sperti pengrajin, wirausahawan industri
kecil, pedagan eceran, dan jenis usaha lainya. Upaya yang dilakukan
oleh Schulze adalah mengembangkan gagasan koperasi bagi pengusaha
kecil. Inti prinsip Herman Schulze adalah sebagai berikut:
a. Swadaya
b. Daerah kerja tak terbatas
c. SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan kepada anggota
d. Tanggung jawab anggota terbatas
e. Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
f. Usaha tidak terbatas tiak hanya untuk anggota
Isi, perbedaan, dan persamaan prinsip-prinsip kperasi Raiffeisen
dan Herman Schulze tersebut adalah sebagai berikut.
TABEL 2-2 Prinsip Koperasi Raiffeisen dan Herman Schulze
Raiffeisen Herman Schulze
1. Swadaya 1. Swadaya
2. Daerah kerja terbatas 2. Daerah kerja tak terbatas
3. SHU untuk cadangan 3. SHU untuk cadangan dan
untuk dibagikan kepada
anggota
4. Tanggung jawab anggota tidak 4. Tanggung jawab anggota
terbatas terbatas
5. Pengurus bekerja atas dasar 5. Pengurus bekerja dengan
kesukarela mendapat imbalan
6. Usaha hanya kepada anggota 6. Usaha tidak terbatas tidak
hanya
untuk anggota
7. keanggotaan atas dasar watak
bukan uang
Pengertian dari masing-masing prinsip di atas dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung
makna bahwa para petani harus dapat mengatasi kesulitan dengan
kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun asalnya.
b. Daerah kerja yang terbatas
Prinsip ini mengandung arti bahwa daerah operasi dari
koperasi terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota
saling mengenal dengan baik. Prinsip kedua ini berbeda dengan
yang diterapkan di pinggiran kota yang dikembangkan oleh
Herman Schulze, dimana daerah kerja tidak terbatas.
c. SHU untuk cadangan
Seluruh SHU yang diperoleh koperasi dipergunakan dalam
memperkuat modal koperasi. Penerapan prinsip ini akan
berimplikasi terhadap pemantapan swadaya koperasi. Di pihak
lain, pinggiran kota, prinsip ini dikembangkan dimana SHU dibagi
selain di sisihkan sebagian untuk cadangan, sebagian lagi dibagi
kepada anggotanya.
d. Tanggung jawab anggota tidak terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita
kerugian, maka kerugian menjadi tanggungan anggota. Hal ini
berbeda sama sekali dengan koperasi di pinggiran kota dimana
tanggung jawab anggota terbatas.
e. Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
Makna dari prinsip ini bahwa pengurus tidak memperoleh
gaji atau imbalan jasa dari koperasinya, sebab pengurus harus
dipilih dari anggota. Koperasi harus memperjuangkan kepentingan
anggota, yang berarti juga kepentingan pengurus. Prinsip ini
ternyata tidak diterapkan dalam koperasi perkotaan, yang
pengurusnya mendapat imbalan dan jasa.
f. Usaha hanya kepada anggota
Prinsip Raiffeisen menekankan hal ini dimana koperasi
hanya melayani anggotanya, sebab tanggung jawab anggota yang
tidak terbatas. Sedangkan koperasi yang dikembangkan Herman
Schulze koperasi tidak hanya melayani anggota tetapi juga yang
bukan anggota.
5. Prinsip ICA
ICA (International Operative Alliance) yang didirikan pada tahun
1895 merupakan organisasi gerakan koperasi yang tertinggi di dunia.
Salah satu tujuan organisasi ini adalah untuk mengembangkan dan
mempertahankan ide-ide koperasi diantara negara-negara anggotanya.
Dalam kegiatannya, ICA selalu mendiskusikan prinsip-prinsip koperasi
yang berlaku dan disesuaikan dengan keadaan perekonomian, sosial,
dan politik yang berkembang pada saat itu. Mengenai prinsip-prinsip
Rochdale, ICA memperlakukannya secara universal dan tidak statis
melainkan dinamis, fleksibel dan persuasif.
Dari hasil-hasil sidang ICA (di London pada tahun 1934; di Paris
pada tahun 1937; di Praha pada tahun 1948; di Bournemouth pada tahun
1963; dan di Wina pada tahun 1966) dapat disimpulkan bahwa, prinsip-
prinsip koperasi yang mengacu pada prinsip-prinsip Rochdale selalu ada
berubah dan penerapannya di sesuaikan dengan kondisi masing-masing
negara.
Sidang ICA di Wina pada tahun 1966 merumuskan prinsip-prinsip
koperasi dirinci sebagai berikut.
a. Keanggotan koperasi secara terbuka tanpa adanya pembatasan
yang di buat-buat (open and voluntarily membership)
b. Kepemimpinan yang demokrasi atas dasar satu orang satu suara
(democratic control-one member one vote)
c. Modal menerima bunga yang terbatas itu pun bila ada (limited
interest of capital)
d. SHU dibagi 3:
1) Sebagian untuk cadangan,
2) sebagian untuk masyarakat,
3) sebagian untuk dibagikan kembali kepada anggota sesuai
dengan jasa masing-masing.
e. Semua koperasi harus melaksanakan pendidikan secara terus
menerus (promotion of education).
f. Gerakan koperasi harus melaksanakan kerjasama yang erat, baik
di tingkat regional, nasional, maupun internasional
(intercooperative network).
6. Prinsip-prinsip Koperasi Indonesia
UU No. 12 Tahun 1967
Jika dilihat dari sejarah perundang-undangan koperasi indonesia
maka sejak indonesia merdeka sudah ada 4 UU yang menyangkut
perkoperasian, yaitu UU No. 79 tahun 1958 tentang perkumpulan
koperasi, UU No. 14 tahun 1965, UU NO. 12 tahun 1967 tentang pokok-
pokok perkoperasian, dan UU No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian.
Di Indonesia, prinsip-prinsip koperasi juga disebut sendi-sendi
dasar koperasi. Dalam UU No.12 tahun 1967, istilah yang digunakan
adalah “sendi-sendi dasar” koperasi, sedangkan dalam UU No.25 tahun
1992 disebut prinsip koperasi. Sama halnya seperti di negara lain,
koperasi Indonesia juga mengadopsi sebagian prinsip Rochdale dan atau
prinsip ICA. Di Indonesi, prinsip-prinsip koperasi ini mengalami
perubahan sesuai dengan perkembangan kondisi social, politik, dan
ekonomi Indonesia. Perubahan prinsip-prinsip ini seiring dengan
perubahan undang-undang yang mengatur perkoperasian.
Walaupun demikian, nilai-nilai dasar dan cita-cita koperasi tidak
banyak mengalami perubahan, kecuali UU No. 14 tahun 1965 yang misi
dan jiwanya didominasi pola piker komunis.
Prinsip-prinsip atau sendi-sendi dasar koperasi menurut UU No. 12
tahun 1967, adalah sebagai berikut.
a. Sifat keanggotaanya sukarela dan terbuka untuk setiap warga
negara Indonesia
b. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai
pencerminan demokrasi dalam koperasi
c. Pembagian SHU diatur menurut jasa masing-masing anggota
d. Adanya pembatasan bunga atas modal
e. Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan
masyrakat pada umumnya
f. Usaha dan ketatalaksanaanya bersifat terbuka
g. Swadaya, swakarta, dan swasembada sebagai percerminan
prinsip dasar percaya pada diri sendiri
UU No.25 tahun 1992
Prinsip-prinsip koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992 dan yang
berlaku saat ini di indonesia adalah sebagai berikut.
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
b. Pengelolaan dilakukan secara demokrasi
c. Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya
jasa usaha masing-masing anggota
d. Pemberian batas jasa yang terbatas terhadap modal
e. Kemandirian
f. Pendidikan perkoperasian
g. Kerja sama antar koperasi
Dari kedua prinsip koperasi Indonesia tersebut dapat dilihat bahwa
essensi dasar kerja koperasi sebagai badan usaha tidaklah berbeda
secara nyata. Hanya saja dalam UU No.25 tahun 1992 ada penambahan
mengenai prinsip kerja sama antara koperasi. Ini dapat dipahami bahwa,
untuk mengantiipasi tren globalisasi ekonomi, koperasi perlu
meningkatkan kekuatan tawar-menawarnya (bargaining power) dengan
menjalin kerja sama antarkoperasi.
Berikut ini akan diuraikan mengenai prinsip koperasi yang
merupakan ciri khas atau jati diri koperasi, yang terdapat dalam UU No.
25 tahun 1995.
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa, sesorang tidak
boleh dipaksa untuk menjadi anggota koperasi, namun harus
berdasar atas kesadaran sendiri. Setiap orang yang akan menjadi
anggota harus menyadari bahwa, koperasi akan dapat membantu
meningkatkan kesejahteraan social ekonominya. Dengan
keyakinan tersebut, maka partisipasi aktif setiap anggota terhadap
organisasi dan usaha koperasi akan timbul. Karena itu, dalam
pembinaan dan pengembangan koperasi, prinsip ini sebaiknya
dilaksanakan secara konsekuen sehingga koperasi dapat tumbuh
dari bawah dan mengakar.
Sifat keterbukaan mengandung makna bahwa, di dalam
keanggotaan koperasi tidak dilakukan pembatasan atau
diskriminasi dalam bentuk apapun. Keanggotaan koperasi terbuka
bagi siapa pun yang memenuhi syarat-syarat keanggotaan atas
dasar persamaan kepentingan ekonomi atau karena kepentingan
ekonominya dapat dilayani oleh koperasi.
Terdapat 2 makna “sifat sukarela” dalam keanggotaan
koperasi yaitu:
1) Keanggotaan koperasi tidak boleh dipaksakan oleh
siapapun, dan
2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasi-
nya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam AD/ART
koperasi.
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
Prinsip pengelolaan secara demokratis didasarkan pada
kesamaan hak suara bagi setiap anggota dalam pengelolaan
koperasi. Pemilihan para pengelola koperasi dilaksanakan pada
saat rapat anggota. Para pengelola koperasi berasal dari para
anggota koperasi itu sendiri. Pada saat rapat anggota, setiap
anggota yang hadir mempunyai hak suara yang sama dalam
pemilihan pengurus dan pengawas. Setiap anggota mempunyai
hak yang sama untuk memilih dan dipilih menjadi pengelola.
Di dalam Rapat anggota yang merupakan pemegang
kekuasaan tertinnggi dalam koperasi berlaku asas kesamaan
derajat, di mana setiap anggota mempunyai hak satu suara.
Kekuasaan berada di tangan anggota, dan bukan pada pemilik
modal.
Dengan demikian, pengertian demokrasi koperasi
mengandung arti:
1) Pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan
keputusan para anggota, dan
2) Anggota adalah pemegang dan pelaksana kekuasaan
tertinggi dalam koperasi.
Prinsip ini menonjolkan posisi anggota sebagai pemilik
(owner), yang sangat strategis dalam merumuskan melaksanakan,
dan mengevaluasi koperasinya. Dalam praktiknya, prinsip ini kebih
terlihat pada saat koperasi menyenggarakan rapat anggota
tahunan (RAT).
c. Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usaha masing-masing anggota
Dalam koperasi, keuntungan yang diperoleh disebut
sebagai sisa hasil usaha (SHU). SHU adalah selisih antara
pendapatan yang diperoleh dengan biaya-biaya yang dikeluarkan
dalam pengelolaan usaha. Pendapatan koperasi diperoleh dari
pelayanan anggota dan masyarakat.
Setiap anggota yang memberika partisipasi aktif dalam
usaha koperasi akan mendapat bagian sisa hasil usaha yang lebih
besar dari pada anggota yang pasif. Anggota yang menggunakan
jasa koperasi akan membayar nilai jasa tersebut terhadap
koperasi, dan nilai jasa yang diperoleh dari anggota tersebut akan
diperhitungkan pada saat pembagian sisa hasil usaha. Transaksi
antara anggota dan koperasi inilah yang dimaksud dengan jasa
usaha.
Makna dari prinsip ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Koperasi bukanlah badan usaha yang berwatak kapitalis
sehingga SHU yang dibagi kepada anggota (di badan usaha
swasta disebut deviden) tidak berdasarkan modal yang
dimiliki anggota dalam koperasinya, tetapi berdasarkan
kontribusi jasa usaha yang diberikan anggota kepada
koperasinya. Dengan kata lain, semakin banyak seorang
anggota melakukan transaksi bisnis (jual beli) dengan
koperasinya, maka semakin besar SHU yang diterima.
Prinsip ini tentunya berlaku apabila koperasinya tidak
mengalami kerugian.
2) Koperasi Indonesia tetap konsisten untuk mewujudkan nilai-
nilai keadilan dalam kehidupan masyarakat.
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
Anggota adalah pemilik koperasi, sekaligus sebagai pemodal dan
pelanggan. Simpanan yang disetorkan oleh anggota keada koperasi akan
digunakan koperasi untuk melayani anggota, termasuk dirinya sendiri.
Apabila anggota menuntut pemberian tingkat suku bunga yang tinggi atas
modal yang modal yang ditanamkan pada koperasi, maka hal tersebut
berarti akan membebani dirinya sendiri, karena bunga modal tersebut
akan menjadi bagian dari biaya pelayanan koperasi terhadapnya. Dengan
demikian, tujuan berkoperasi untuk meningkatkan efisiensi dalam
mencapai kepentingan ekonomi Bersama tidak akan tercapai.
Modal dalam koperasi pada dasarnya digunakan untuk melayani
anggota dan masyarakat sekitarnya, dengan mengutamakan pelayanan
bagi anggota. Dari pelayanan itu, diharapkan bahwa koperasi
mendapatkan nilai lebih dari selisih antara biaya pelayanan dan
pendapatan. Karena itu , balas jasa terhadap modal yang diberikan
kepada para anggota ataupun sebaliknya juga terbatas, tidak didasarkan
semata-mata ataas besarnya modal yang diberikan. Yang dimaksud
dengan terbatas adalah pemberian balas jasa atas modal yang
ditanamkan pada koperasi akan disesuaikan dengan kemampuan yang
dimiliki koperasi.
Dengan demikian, jasa atau bungan adalah “terbatas”
mengandung makna:
a. Fungsi modal dalam koperasi bukan sekedar untuk mencari
keuntungan (profit motive), akan tetapi dipergunakan untuk
“kemanfaatan” anggota (benefit motive), dan
b. Jasa yang terbatas berarti bahwa suku bungan atas modal dalam
koperasi tidak melebihi suku bungan yang berlaku di pasar.
e. Kemandirian
Kemandirian pada koperasi dimaksudkan bahwa koperasi harus
mampu berdiri sendiri dalam hal pengambilan keputusan udaha dan
organisasi. Dalam kemandirian terkandung pula pengertian kebebasan
yang bertanggung jawab, otonomi, swadaya, dan keberanian
mempertanggungjawabkan segala tindakan/perbuatan sendiri dalam
pengelolaan usaha dan organisasi. Agar koperasi dapat mandiri, peran
serta anggota sebagai pemilik dan pengguna jasa sangat menentukan.
Bila setiap anggota konsekuen dengan keanggotaannya dalam arti
melakukan segala aktivitas ekonominya melalui koperasi dan koperasi
mampu menyediakannya, maka prinsip kemandirian ini akan tercapai.
Sebagai pemilik, anggota harus berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan, menyetor simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai
sumber modal koperasi, dan mengendalikan/mengawasi gerak langkah
koperasi agar tetap sesuai dengan kepentingan ekonomi anggota.
Sebagai pengguna jasa, anggota harus memanfaatkan pelayanan-
pelayanan yang diselenggarakan untuk kepentingan anggota.
Mandiri berarti dapat berdiri sendiri sendiri tanpa tergantung pada
pihak lain. Prinsip ini pada hakekatnya merupakan faktor pendorong
(motivator) bagi koperasi untuk meningkatkan keyakinan akan kekuatan
sendiri dalam mencapai tujuan.
Dalam undang-undang nomor 12 tahun 1967, prinsip ini dikemas
dalam “Swadaya, Swakerta, dan Swasembada” dan merupakan prinsip
yang menggambarkan adanya kepercayaan pada diri sendiri. Swaday
berarti kekuatan atau usaha sendiri, swakerta mengandung arti
mengerjakan atau membuat sendiri, dan swasembada bermakna
mencukupi dengan kemampuan sendiri.
f. Pendidikan perkoperasian
Keberhasilan koperasi sangat erat hubungannya dengan
partisipasi aktif setiap anggotanya. Seorang anggota akan mau
berpartisipasi, bila yang bersangkutan mengetahui tujuan organisasi
tersebut, manfaatnya terhadap dirinya, dan cara organisasi itu dalam
mencapai tujuan. Oleh karena itu keputusan seseorang untuk masuk
menjadi anggota haruslah didasarkan akan pengetahuan yang memadai
tentang manfaat berkoperasi.
Kepengurusan koperasi dilakukan oleh anggota koperasi yang
dipercaya dan mampu untuk mengelola usaha dan organsasi melalui
pemilihan. Oleh karena setiap anggota koperasi mempunyai hak suara
yang sama dalam pengambilan keputusan pada saat rapat yang
memadai tentang perkoperasian. Di samping itu setiap anggota juga
mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih dan dipilih menjadi
pengurus, sehingga setiap anggota dituntut untuk berpartisipasi seacar
baik dan benar. Sebagai pengurus, seorang anggota koperasi harus
mampu membuat kebijakan yang baik. Hal ini menuntut sumber daya
manusia anggota koperasi yang berkualitas, yaitu memiliki kemampuan,
berwawasan luas, dan solidaritas yang kuat dalam mewujudkan tujuan
berkoperasi.
Agar anggota koperasi berkualitas baik, berkemampuan tinggi, dan
berwawasan luas, maka Pendidikan adalah mutlak. Pendidikan
perkoperasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan (menjadi sangat
penting) dalam mewujudkan kehidupan berkoperasi, agar sesuai dengan
jati dirinya. Melalui Pendidikan, anggota dipersiapkan dan dibentuk untuk
menjadi anggota yang memahami serta menghayati nilai-nilai dan prinsip-
prinsip serta praktik-praktik koperasi.
Inti dari prinsip ini ialah bahwa peningkatan kualitas sumber daya
manusia koperasi (SDMK) adalah sangat vital dalam memajukan
koperasinya. Disadari, dengan hanya kualitas SDMK yang baik maka
cita-cita atau tujuan koperasi dapat diwujudkan. Nampaknya UU No. 25
tahun 1992 mengantisipasi dampak dari globalisasi ekonomi di mana
SDMK menjadi penentu utama berhasil tidaknya koperasi melaksanakan
fungsi dan tugasnya.
g. Kerja sama antarkoperasi
Koperasi-koperasi ada yang mempunyai bidang usaha yang sama,
dan ada pula usaha yang berbeda serta tingkatan yang berbeda. Pada
masing-masing usaha tersebut disadari bahwa koperasi-koperasi
tersebut pada dasarnya mengemban misi yang sama, yaitu memajukan
kesejahteraan anggota pada khsusunya dan masyarakat pada umumnya.
Untuk mencapai tujuan yang sama tersebut, masing-masing
koperasi memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kerja sama
antarkoperasi dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan
menghilangkan kelemahan masing-masing, sehingga hasil akhir dapat
dicapai secara optimal. Kerja sama tersebut diharapkan tersebut
diharapkan akan saling menunjang pendayagunaan sumberdaya
sehingga diperoleh hasil yang lebih optimal.
Kerja sama antarkoperasi dapat dilakukan di tingkat lokal,
nasional, maupun internasional. Prinsip ini sebenarnya lebih bersifat
“strategi” dalam bisnis. Dalam teori bisnis ada dikenal “SynergyStrategy”
yang salah satu aplikasinya adalah kerja sama antar dua organisasi atau
perusahaan. Menurut Aaker David (1988), sebuah sinergi terjadi
ketikasuatu bisnis mempunyai keuntungan atau keunggulan karena
berkaitan dengan bisnis lain dalam perusahaan yang sama. Tentunya
banyak keuntungan yang diperoleh apabila kerja sama antar koperasi ini
berjalan dengan baik, misalnya kerja sama dalam promosi hasil-hasil
produksi anggota koperasi, kerja sama dalam penetrasi pasar, kerja
sama dalam tukar-menukar informasi bisnis, dan sebagainya.