MAKALAH
STANDARDS OF PRACTICE FOR SURGICAL DRAPES
Kelompok :
1. Edi Junaedi, [Link]
2. Mareta Anggraeni, [Link]
3. Nadhiratul Walya Assul Hiyah, [Link]
4. Umi Kulsum, [Link]
5. Dandy Gagah Dwi Cahyono, [Link]. Kep
6. Arief Eka Sugestyantoro
BASIC SKILL COURSE OPERATING ROOM NURSE 2020
A. PENDAHULUAN
Association of Surgical Technologi (AST), 2008, mengembangkan dan
merekomendasikan tentang Standar draping sebagai panduan untuk mendukung pelayanan
perawatan dikamar bedah dalam penekanan standar praktik terbaik yang berhubungan
dengan draping pada prosedur bedah.
Tujuan dari standar yang direkomendasikan adalah untuk memberikan garis tegas
bahwa anggota tim bedah dapat menggunakan standar praktek tersebut serta dikembangkan
dalam menerapkan kebijakan pada prosedur draping di kamar bedah. Standar yang
direkomendasikan dan disajikan dengan pengertian bahwa standar tersebut menjadi
tanggung jawab dari tenaga kesehatan untuk mengembangkan, menyetujui, dan menetapkan
kebijakan dan prosedur draping bedah sesuai dengan protokol yang diterapkan dikamar
bedah.
PEMBAHASAN
B. Pengertian Drapping Pada Area Operasi
Draping adalah satu lagi dari kegiatan presisi yang dilakukan di kamar
operasi. Draping bedah pasien adalah menempatkan penutup steril pada pasien sehingga
hanya tempat operasi yang terkena. Dengan demikian, daerah kulit yang belum siap untuk
operasi tertutup agar tidak akan mencemari bagian yang steril. Selain pasien, peralatan
yangdigunakan dalam area bedah segera harus ditutupi dengan tirai steril untuk mencegah
kontaminasi luka (AORN, 2008)
Draping adalah istilah yang digunakan di instalasi bedah sebagai suatu teknik atau
seni dalam menutup daerah sayatan pembedahan. Drapping merupakan prosedur menutup
pasien yang sudah berada di atas meja operasi dengan menggunakan alat tenun steril, dengan
tujuan memberi batas yang tegas pada daerah steril pembedahan (Depkes RI,1993).
Drapping adalah suatu prosedur penutupan pasien yang sudah dimeja operasi dengan
menggunakan alat tenun steril, dengan tujuan memberi batas tegas daerah steril pada daerah
pembedahan setelah permukaan kulit dilakukan desinfeksi. Yang meliputi seluruh
permukaan dimana alat-alat steril akan diletakan dan daerah sekitar lokasi pembedahan.
C. Tujuan Drapping Pada Area Operasi
Secara khusus, teknik draping berbeda pada setiap tempat atau daerah insisi dan
tergantung kepada bentuk posisi pembedahan. Secara umum, teknik draping bertujuan untuk
mempertahankan kesterilan pada daerah sekitar inisisi operasi. Tujuan dari draping adalah :
1. Menciptakan permukaan incisi dalam keadaan steril
2. Mencegah cairan (darah) masuk ke permukaan kulit sekitar area incisi
3. Menampung cairan (darah selama prosedur pembedahan)
4. Melindungi tim bedah dari paparan mikroorganisme Hep. B/ C, HIV
5. Mencegah cairan kontak dengan alat elektrik (Electrosurgical Unit)
6. Membuat pembatas/barrier area operasi terhadap kontaminasi yang mungkin terjadi
D. Prinsip Drapping Pada Area Operasi
Menurut Association of periOperative Registered Nurses (AORN), 2006. Prinsip
dari draping adalah sebagai berikut
1. Terisolasi (Isolated)
Kotor dari bersih (misal, pangkal paha, kolostomi dan peralatan dari daerah yang
akan disiapkan). Isolasi dicapai dengan menggunakan penghalang yang tahan dari
air, biasanya dibuat dari bahan plastik. Banyak bahan untuk menahan yang dapat
digunakan.
2. Penghalang (Barrier)
Menyediakan lapisan kedap dan harus memiliki film plastik untuk mencegah
pemogokan-selesai.
3. Lapangan Steril
Penciptaan lapangan steril adalah melalui presentasi steril dari tirai dan teknik
aplikasi aseptik. Jika penghalang yang digunakan tidak mempan, lapisan kedap
tambahan perlu ditambahkan.
4. Permukaan steril
Karena kulit tidak dapat disterilkan, maka perlu menerapkan penghalang untuk
menciptakan permukaan steril.
5. Penutup Peralatan
Tirai steril menutupi peralatan steril atau mengatur peralatan yang digunakan di
lapangan steril. Hal ini membantu untuk melindungi pasien dari peralatan serta untuk
melindungi dan memperpanjang umur peralatan.
6. Kontrol Cairan
Pengumpulan cairan menjaga pasien tetap kering, mengurangi paparan pekerja
kesehatan. Sebuah sistem kontrol cairan harus digunakan setiap saat dan prosedur ini
dikenal untuk menyertakan sejumlah besar cairan tubuh atau mengakhiri irigasi
Sedangkan menurut Depkes, prinsip dari draping yaitu :
1. Harus dilaksanakan dengan teliti dan hati-hati
2. Perawat Instrumen (Scrub Nurse) harus memahami dengan tepat prosedur draping
3. Drape yang terpasang tidak boleh berpindah-pindah sampai operasi berakhir dan
harus dijaga sterilitasnya
4. Pakailah duk klem pada setiap sudut daerah sayatan agar alat tenun tidak mudah
bergeser
5. Tim bedah yang memakai baju steril harus selalu menghadap tempat yang sudah
tertutup alat tenun steril.
6. Perawat sirkuler (circulating nurse) harus berdiri menghadap scrub nurse untuk
mengingatkan jangan sampaidraping terkontaminasi
7. Bila alat tenun sudah terkontaminasi, harus segera diganti
8. Sekitar lantai tidak boleh ada genangan air
9. Hindari mengibas alat tenun terlalu tinggi sehingga dapat menyentuh lampu operasi
atau alat tenun lainnya
10. Lindungilah sarung tangan dengan cara meletakkan tangan di bawah lipatan pada
saat drapping, hindari menyentuh kulit pasien
11. Jika pemasangan alat tenun steril sudah selesai dan ada yang jatuh di bawah batas
pinggang jangan diambil
12. Jika ragu-ragu terhadap sterilitas alat tenun, maka alat tenun dinyatakan sudah
terkontaminasi.
E. Karakteristik Bahan Draping
1. Resisten terhadap abrasi
2. Sebagai Barier (anti mikroorganisme)
3. Biocompatibility (Free toxic)
4. Drapebility
5. Dapat mencegah listrik static
6. Nonflamable (tidak menginduksi kebakaran)
7. Bebas serat
8. Tensile strenght (kuat terhadap tahanan)
F. Bahan Untuk Draping
Bahan Pakai Ulang (Reusable)
1. Penggunaannya terutama untuk penggunaan drapping atau jas operasi yg digunakan
berkali-kali, bahannya impermeable terhadap cairan (dlm kondisi tertentu)
2. Dapat diproses sterilisasi dengan steam
3. Proses pencucian, setrika dan sterilisasi menyebabkan seratnya mengkisut
4. Siklus diatas menyebabkan kecenderungan mengubah struktur material dan
meningkatkan kehilangan fibers
5. Beberapa pabrikan melaporkan kerusakan struktur material setelah 75-100 kali
siklus.
6. Perlu monitor jumlah penggunaan penting sebagai kontrol terhadap kualitas draping
Yaitu : Linen :
1. Memerlukan pencucian
2. Memerlukan pelipatan yang benar
3. Memerlukan proses sterilisasi
4. Adanya lipatan / jahitan yang menjadi tempat kuman
5. Tidak kedap air sumber kontaminasi
Bahan Sekali Pakai (Disposible)
1. Mencegah penetrasi bakteri dan lelehan cairan
2. Sering disebut juga drape kertas atau plastic
a. Bahan terbuat dari : rayon, nylon, polyester.
b. Terdiri dari bahan tidak diserap
Keuntungan :
a. Tidak mudah tembus darah atau cairan, untuk mencegah terjadi kontaminasi
b. Ringan, kuat tidak mudah robek
c. Bebas kusut
d. Bahan terbuat antistatik bila digunakan dikamar bedah
e. Proses packing dan sterilisasi sudah dilakukan di pabrik
f. Mencegah penetrasi bakteri dan lelehan cairan
g. Lembut,bebas serat,ringan,padat,tahan kelembaban,non iritasi dan bebas listrik static
h. Menurunkan kontaminasi mikroorganisme berbahaya/infeksius dari ekskresi dan cairan
tubuh dalam proses laundry dimana pada bahan pakai ulang mempunyai resiko yg besar.
Kerugian:
a. Penyimpanan,Transportasi,dan pembuangan limbah biasanya menjadi masalah
b. Penggunaan insenerator cukup baik tetapi harus di olah dengan baik agar tidak
mencemarkan lingkungan.
Contoh Bahan sekali pakai:
1. Non Woven (Kertas)
a. Baik sebagai proteksi terhadap kontaminasi
b. Tidak lembab
c. Kedap air
d. Dispossible
e. Mahal
f. Baik sebagai proteksi terhadap kontaminasi
g. Tidak lembab
h. Mahal
i. Saat ini semakin disenangi untuk dipakai
j. Kedap air
k. Dispossible
2. Non Woven (Plastic Inscisional drapes)·
a. Terbuat dari bahan polyvinyl
b. Tersedia dalam kemasan steril dalam berbagai ukuran
c. Insisi dapat dilakukan langsung diatas permukaan yg melekat
d. Memudahkan draping pada area tubuh yg ireguler (leher,sekitar
telinga,ekstermitas dan sendi)
G. Jenis Draping Dan Aplikasinya
1. Plain Sheet
Plain sheet disebut juga minor sheet, top sheet atau bottom sheet. Plain sheet dipakai
menutup bagian bawah atau bagian atas dari daerah insisi.
2. Tube Stockinetle
a. Drape yang menyerupai kaos kaki
b. Biasanya terbuat dari kain yang elastis –Biasanya digunakan pada pembedahan
tungkai
3. Head Drape
a. Digunakan untuk pembedahan daerah kepala (spt: toksilektomy, pembedahan
pada hidung)
b. Biasanya dikombinasikan dengan dua towels atau small sheet
4. Plastik Drape
a. Berfungsi sebagai pelindung steril di atas kulit di daerah incise
b. Terbuat dari plastik yang sangat tipis
c. Terdapat perekat pada salah satu sisi
d. Beberapa ahli bedah beranggapan bahwa plastik drape dapat menahan dan
mempertahankan sterilitas area karena menghambat perkembang biakan
mikroorganisme kulit karena terbungkus plastik steril.
H. Jenis Prosedure Drape
a. Lapatomy drape
b. Split sheet
c. Thyroid sheet
d. Perineal sheet
e. Ear or Eye drape
f. Cranitomy sheet
I. Standarsisasi Drapping
(Association of Surgical Technologi (AST),2008)
a. Hanya drapes steril yang digunakan pada area steril, Drapes menjadi barier untuk
lapangan operasi dengan area yg kemungkinan bermikroba Tidak dianjurkan untuk
di reposisi/geser
b. Kompromi dgn integritas drape terhadap barier mikroba akan menyebabkan
kontaminasi area operasi Drape tidak boleh robek, lubang atau bocor
c. Drapes harus resistant terhadap penetrasi cairan
d. Drapes harus bebas dari serabut
e. Drapes sebaiknya resisten terhadap api/panas
f. Drapes yg reusable harus mempunyai daya proteksi yg sama dengan yg disposibel
drapes
g. Gunakan perlindungan yg tepat untuk penggunaan drape dengan operasi
menggunakan Sinar Laser gunakan drape berlapis aluminium.
h. Tim bedah harus terlibat dalam pemilihan dan penggunaan drape di kamar bedah
J. Hal Yang Harus Diperhatikan
a. Lindungi tangan dengan cara menempat kan tangan dibagian dalam ujung draping
b. Lepaskan lipatan draping dengan hati-hati tanpa mengibaskan draping tersebut,
c. Hindari menyentuh kulit pasien
d. Tidak boleh menarik draping yang telah jatuh atau terlalu rendah pada saat menutup
pasien
e. Draping tidak boleh dipindah-pindah
f. Apabila draping terbuat dari Linen, gunakan lapisan untuk mencegah kontaminasi
karena air (basah). Gunakan perlak / sterildrape untuk menutup area operasi.
g. Tim bedah steril menghadap ke area operasi
h. Jangan melakukan draping area non steril dari arah yg berseberangan.
i. Bila akan melakukan draping pada arah berlawanan,sebaiknya scrub nurse berputar
ke arah tersebut.
j. Jika ragu-ragu terhadap sterilisasi tenun maka alat tenun tersebut harus dinyatakan
sudah terkontaminasi
K. Persiapan Alat
Jenis alat tenun untuk draping
a. Laken operasi besar rapat
b. Laken operasi besar bolong
c. Pembungkus alat (laken berlobang)
d. Alas meja dorong (trolley)
e. Duk bolong
f. Duk rapat
g. Laken kecil
h. Sarung mayo
i. Baju dan celana operasi
j. Topi operasi
k. Sarung couter
l. Barakshort
m. Mitella
n. Kantong sarung tangan
o. Kantong canulla, suction dan cauter
p. Sarung kaki
q. Sarung tabung 02
r. Lap tangan atau handuk
s. Baju pasien
t. Perlak besar dan kecil
L. Ukuran Tenun Untuk Draping
1. Sarung standar mayo 140cm x 75cm
2. Sarung kaki 140cm x 60cm
3. Duk rapat 100cm x 75cm
4. Duk lobang 80cm x 80cm,ø10cm
5. Laken kecil/samping 150cm x 100cm
6. Laken besar / bawah 240cm x 200cm
7. Laken besar / atas 210cm x 150cm
8. Pembungkus instrumen 100cm x 100cm
9. Pembungkus linen/waskom 150cm x 150cm
10. Perlak mayo 50cm x 40cm
11. Perlak besar 150cm x 75cm
12. Lap tangan/handuk 30cm x 15cm
M. Prosedur
1. Pastikan drapping dibuka oleh perawat sirkuler dengan tidak menyentuh bagian yang
steril
2. Menutup batas bagian bawah insisi dengan cara : perawat instrumen membawa lipatan
duk ke meja operasi. Dengan berdiri jauh dari meja, satu tangan dari perawat instrumen
memberikan ujung lipatan duk di atas pasien sehingga menutup bagian bawah daerah
kulit yang telah dilakukan antiseptik dan menutup bagian bawah area insisi dengan duk
panjang steril.
3. Menutup batas bagian atas insisi, dengan membentangkan ujung atas duk laparastomi di
atas anastesi screen( tabir anastesi). Perhatikan bahwa tangan yang menyentuh daerah
yang tidak steril terlindung dalam lipatan kain dan duk dirapihkan dengan tangan lain.
4. Menutup batas bagian lateral insisi kanan dan kiri dengan duk yang lebih kecil lalu
pakailah klem pada bagian / sudut – sudut untuk daerah yang akan di operasi.
Drapping Kepala
DAFTAR PUSTAKA
AORN, Inc., “Recommended Practices for selection and Use of Surgical Gowns and Drapes,”
Standards, Recommended Practices, and Guidelines, AORN, Inc.: Denver, 2006
AORN, Inc., “Recommended practices for skin preparation of patients”. Standards,
Recommended Practices, and Guidelines. Denver, Colo: AORN, Inc. 2005
Depkes RI, 1993. “Pedoman Kerja Perawar Kamar Operasi”, Jakarta: Depkes RI