PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA SEBAGAI ORGANISASI
INTERNASIONAL
Dinamika hubungan internasional terlihat semakin kuat dengan adanya
kemunculan aktor-aktor diluar negara. Hubungan interdependensi yang semakin
komplek, dan hubungan-hubungan transnasional yang menjadikan negara semakin
rentan terhadap isu kedaulatan. Hal inilah yang menyebabkan negara bukan lagi
menjadi satu-satunya aktor dalam hubungan internasional (Sugito, 2008, pp. 2-3).
Aktor-aktor hubungan internasional selain negara ialah organisasi antar pemerintah
(IGOs), organisasi non-pemerintah (NGOs), perusahaan-perusahaan multinasional
(MNC), individu, dan lain-lain.
Dalam karya tulis ini, penulis akan membahas mengenai salah satu organisasi
antar pemerintah atau intergovernmental organizations (IGOs) yaitu Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB).
A. Gambaran Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
1. Sejarah Terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa
Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) adalah organisasi internasional
pemerintah atau Intergovernmental Organization (IGO) yang sudah
beranggotakan 193 negara (United Nations, 2011). Nama "Perserikatan
1
Bangsa-Bangsa", yang diciptakan oleh Presiden Amerika Serikat Franklin D.
Roosevelt pertama kali digunakan dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-
Bangsa pada tanggal 1 Januari 1942, selama Perang Dunia Kedua, ketika 26
negara menggabungkan pemerintahannya untuk bersama – sama melawan
musuh mereka yaitu Axis Powers, Jerman. Namun Perserikatan Bangsa-
Bangsa secara resmi mulai berlaku pada tanggal 24 Oktober 1945, ketika
Piagam tersebut telah diratifikasi oleh China, Prancis, Uni Soviet, Inggris,
Amerika Serikat dan oleh mayoritas penandatangan lainnya (United Nations
Publication, 2004, p. 3).
Pelopor Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah Liga Bangsa-Bangsa,
sebuah organisasi yang dikandung dalam situasi yang sama selama Perang
Dunia pertama, dan didirikan pada tahun 1919 di bawah Perjanjian Versailles
untuk mempromosikan kerjasama internasional dan untuk mencapai
perdamaian dan keamanan. Liga Bangsa-Bangsa menghentikan aktivitasnya
setelah gagal mencegah Perang Dunia Kedua (United Nations Publication,
2004, p. 3). LBB mengalami kegagalan karena organisasi ini tidak mampu
mengatasi perang dunia kedua yang melibatkan negara – negara di Eropa dan
Asia Pasifik yang melanggar tujuan utama organisasi internasional (Basu,
2004, p. 134).
Negara – negara yang berkumpul pada deklarasi PBB pertama kali
membentuk organisasi internasional yang khusus dalam menangani hal
2
tertentu. Pada tahun 1865 dan 1867, International Telegraph Union dan
Universal Postal Union dibentuk dan sekarang tetap ada dalam bagian PBB
sebagai agensi spesialis. Pada tahun 1899, United Nations Conference on
International Organization pertama kali dilaksanakan di The Hague untuk
mengatasi krisis atau konflik secara damai, menghindari terjadinya perang dan
mengkodikasi peraturan kesejahteraan (United Nations Department of Public
Information, 2008, p. 3).
Pada tahun 1945, wakil dari 50 negara bertemu di San Fransisco pada
Konferensi PBB untuk menggambarkan Piagam PBB. Perwakilan ini
membicarakan dasar proposal digunakan oleh perwakilan China, Uni Soviet,
Inggris dan Amerika Serikat di Dumberton Oaks, Amerika Serikat pada bulan
Agustus sampai Oktober 1944. Piagam PBB ditandatangani pada 26 Juni
1945 oleh 55 perwakilan negara di dunia. Pada 24 Oktober 1945 PBB resmi
dibentuk setelah Charter PBB diratifikasi oleh China, Perancis, Uni Soviet,
Inggris, Amerika Serikat dan mayoritas signatories (United Nations
Department of Public Information, 2008, p. 33).
Piagam PBB adalah instrumen organisasi yang menetapkan hak dan
obligasi negara anggota dan menetapkan organ dan prosedur PBB. Sebagai
perjanjian internasional, Piagam PBB menetapkan prinsip utama hubungan
internasional yaitu persamaan kedaulatan negara untuk melarang kegunaan
kekerasaan di hubungan internasional dalam berbagai bentuk dengan
3
memakai nama PBB. Tujuan PBB sesuai dengan Piagam PBB adalah (United
Nations, 1945, p. 5):
1) Menjaga keamananan dan kedamaian dunia,
2) Menggembangkan hubungan antar negara didasari rasa hormat terhadap
prinsip kesamaan hak,
3) Berkooperasi dalam menyelasikan masalah ekonomi, sosial, budaya dan
kemanusiaan dan mempromosikan hak – hak asasi manusia dan kebebasan
fundamental,
4) Pusat untuk mengharmonisasi tindakan negara dalam mencapai tujuan
diatas.
Secara garis besar, PBB bertujuan untuk membentuk kerjasama
internasional yang setara dan menjaga kedamaian dunia. Piagam PBB
menyebutkan prinsip – prinsip yang dipegang PBB dalam menjalankan
tugasnya yaitu berdasarkan kedaulataan persamaan dalam anggotanya, setiap
anggota punya tujuan yang mulia dalam melakukan tugasnya, tidak
menggunakan kekerasan atau ancaman ke negara lainnya dan piagam PBB
tidak digunakan untuk mengintervensi jurisdiksi domestik dalam negara
anggota.
Keanggotaan dari PBB adalah bersifat terbuka kepada negara yang
menerima peraturan di Piagam dan bisa menngemban kewajiban tersebut.
4
Dalam keanggotaannya PBB menerima anggota melalui rekomendasi dari
Dewan Keamanan. Didalam piagam dijelaskan suspensi kepada negara
anggota yang melakukan pelanggaran terhadap prinsip Piagam. Berdasar pada
Piagam PBB terdapat enam bahasa resmi yang digunakan dalam PBB yaitu,
Bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, Rusia dan Spanyol. Bahasa Arab
ditambahkan menjadi bahasa utama di Majelis Umum, Dewan Keamanan dan
Dewan Ekonomi dan Sosial. Piagam PBB juga menetapkan enam organ
utama PBB yaitu Majelis Umum, Dewan Keamanan, Sekretariat, Mahkamah
Internasional, Dewan Ekonomi dan Sosial, dan Lembaga Khusus. (United
Nations Department of Public Information, 2008, p. 5)
2. Fungsi dan Tujuan Perserikatan Bangsa Bangsa
Sebagai organisasi internasional, Perserikatan Bangsa Bangsa
memiliki fungsi yang cukup penting dalam mencapai tujuannya.. Adapun
fungsi-fungsi PBB yaitu (United Nations, 1945, p. 3) :
Fungsi Proteksi yaitu PBB berusaha memberikan perlindungan kepada
seluruh anggota.
Fungsi Integerasi yaitu PBB sebagai wadah atau forum untuk
membina persahabatan dan persadaraan bangsa-bangsa.
5
Fungsi Sosialisasi yaitu PBB sebagai sarana untuk menyampaikan
nilai-nilai dan norma kepada semua anggota.
Fungsi Pengendali Konflik yaitu PBB sebagai lembaga internasional
diharapkan dapat mengendalikan konflik-konflik yang muncul dari
dari sesama anggota sehingga tidak sampai menimbulkan ketegangan
dan peperangan sesama anggota PBB.
Fungsi Kooperatif yaitu PBB sebagai lembaga internasional
diharapkan membina atau mendorong kerjasama disegala bidang antar
bangsa didunia.
Fungsi Negosiasi yaitu PBB diharapkan dapat memfasilitai
perundingan-perundingan antar negara untuk membentuk hukum, baik
yang bersifat umum maupun khusus.
Fungsi Arbitrase yaitu PBB hendaknya dapat menyelesaikan masalah-
masalah secara hukum yang timbul sesama anggota sehingga tidak
menjadi masalah yang berkepanjangan yang dapat mengganggu
perdamaian dunia.
Pada bab yang sama dengan fungsi PBB dalam piagam PBB, PBB
memiliki tujuan, sebagai berikut (United Nations, 1945, p. 3):
Memelihara perdamaian dan keamanan internasional,serta melakukan
tindakan-tindakan bersama yang efektif untuk mencegah dan
6
melenyapkan ancaman terhadap pelanggaran-pelanggaran perdamaian;
dan akan menyelesaikan dengan jalan damai, serta sesuai dengan
prinsip-prinsip keadilan dan hokum internasional, mencari
penyelesaian terhadap pertikaian-pertikaian internasional atau
keadaan-keadaan yang dapat mengganggu perdamaian;
Mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa-bangsa
berdasarkan penghargaan atas prinsip-prinsip persamaan hak dan hak
untuk menentuan nasib sendiri, dan mengambil tindakan-tindakan lain
yang wajar untuk memperteguh perdamaian universal;
Mengadakan kerjasama internasional guna memecahkan persoalan-
persoalan internasional dibidang ekonomi, sosial, kebudayaan, atau
yang bersifat kemanusiaan internasional dan dalam mempromosikan
penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan
fundamental;
Menjadi pusat bagi penyelarasan segala tindakan-tindakan bangsa-
bangsa dalam mencapai tujuan bersama tersebut.
Dalam badan utama PBB seperti Majelis Umum, Dewan Keamanan,
Sekretariat, Mahkamah Internasional, Dewan Ekonomi dan Sosial, dan
Lembaga Khusus, memiliki fungsi dan wewenang masing-masing. Dimana
seluruh kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari mewujudkan
7
tujuan organisasi. Badan utama PBB, telah banyak menyelesaikan
permasalahan-permasalahan internasional, memberikan bantuan
kesejahteraan dan pembangunan pada negara-negara yang sedang
berkembang, dan lain-lain. Dalam mencapai tujuannya, PBB melaksanakan
segala tindakan dan kegiatan berdasarkan asas-asas yang tercantum dalam
piagam PBB.
B. Keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Menjaga Perdamaian
Dunia
Dewan keamanan PBB telah melakukan tugasnya sesuai dengan ketentuan
yang berlaku melalui tindakan yang mereka ambil dalam penyelesaian konflik.
Salah satu tujuan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah pemeliharaan
perdamaian dan keamanan internasional. Sejak pembentukannya, PBB sering
diminta untuk mencegah perselisihan yang meningkat dalam perang dan
meyakinkan pihak-pihak yang berlawanan untuk menggunakan meja konferensi
untuk membantu memulihkan perdamaian ketika konflik bersenjata tidak terjadi.
Selama beberapa dekade, PBB telah membantu mengakhiri banyak konflik,
seringkali melalui tindakan Dewan Keamanan sebagai organ utama untuk
menangani masalah perdamaian dan keamanan internasional. Dewan Keamanan,
Majelis Umum dan Sekretaris Jenderal, memainkan peran utama dan
komplementer dalam mendorong perdamaian dan keamanan. Kegiatan
8
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencakup bidang utama pencegahan konflik,
perdamain, pemeliharaan perdamaian, penegakan hukum dan pembangunan
perdamaian (United Nations Publication, 2004, p. 67).
Pada abad ke-21, ancaman global baru telah muncul. Pada periode yang
sama, konflik sipil menimbulkan masalah yang kompleks terkait tanggapan
masyarakat internasional yang memadai, termasuk pertanyaan bagaimana cara
terbaik untuk melindungi warga sipil dalam konflik. Serangan 11 September 2001
di Amerika Serikat, yang diikuti oleh kekejaman yang dilakukan di Bali (2002),
Madrid (2004), London (2005), dan Mumbai (2008), jelas menunjukkan
tantangan terorisme internasional. Secara paralel, peristiwa lain meningkatkan
kekhawatiran tentang proliferasi senjata nuklir dan bahaya dari senjata non-
konvensional lainnya (United Nations Publication, 2004, p. 59)
Dalam menangani konflik sipil, Dewan Keamanan telah mengesahkan
operasi penjaga perdamaian yang kompleks dan inovatif. Ini telah menyediakan
waktu dan tempat untuk membangun basis perdamaian yang berkelanjutan,
memungkinkan jutaan orang di belasan negara untuk berpartisipasi dalam
pemilihan yang bebas dan adil. Sejak 1948, PBB telah memainkan peran penting
dalam mengakhiri konflik dan mendorong rekonsiliasi, termasuk misi yang
berhasil di Kamboja, El Salvador, Guatemala, Liberia, Mozambik, Namibia,
Sierra Leone, Tajikistan dan Timor-Leste. Konflik lainnya, seperti di Republik
Demokratik Kongo, Rwanda, Somalia dan bekas Yugoslavia di awal 1990an -
sering ditandai oleh kekerasan etnis dan kurangnya struktur kekuasaan internal
9
untuk menangani masalah keamanan, telah membawa tantangan baru untuk
perdamaian PBB dan pemeliharaan perdamaian (United Nations Publication,
2004, pp. 59-60).
Keikutsertaan PBB dalam menanggani permasalahan-permasalahan
seperti yang disebutkan diatas maupun yang lainnya, dikarenakan adanya
permintaan dari negara itu sendiri untuk membantu menyelesaikan konflik,
ataupun dikarenakan PBB menganggap bahwa konflik tersebut harus segera
diselesaikan tanpa adanya permintaan bantuan oleh negara yang berkonflik.
Dalam kata lain PBB melakukan intervensi militer untuk menyelesaikan konflik
yang ada. Namun dalam hal lain, PBB juga dapat menolak permintaan suatu
negara untuk membantu menyelesaikan konflik. Hal ini dapat dilihat dari konflik
yang terjadi di Mali tahun 2012 silam. Dimana pada awalnya PBB menolak
mengirim pasukan militer atau intervensi militer karena dianggap operasi militer
tidak seharusnya digelar tanpa melalui dialog politik secara luas untuk
mendapatkan konsensus bersama (Syelvia, 2012).
Keterlibatan PBB dalam penyelesaian konflik di suatu negara yang
diawali atas permintaan atau permohonan dari negara itu sendiri sering dilakukan
oleh negara-negara di Afrika, contohnya seperti Mali, Liberia, Sudan, Sierra
Leone dan lain-lain. Permohonan akan bantuan penyelesaiain konflik dari PBB
hinga adanya pengiriman pasukan perdamaian ini dikarenakan ketidakmampuan
dari negara yang berkonflik untuk menyelesaikan konflik di negaranya sendiri.
10
C. Permasalahan yang Dihadapi Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam
Menjaga Perdamaian
Sebagai organisasi yang memiliki fungsi dan tujuan untuk menjaga
perdamaian dunia, perjalanan PBB dalam menyelesaikan permasalahan dunia
tidaklah selalu berjalan mulus. Kegagalan-kegagalan PBB dapat dilihat pada
kasus-kasus sebagai berikut :
Gagalnya PBB dalam menghalau serangan AS ke Irak. Dalam
permasalahan ini, PBB gagal menghalau perang Irak. Ancaman serangan
AS ke Irak dari hari ke hari makin menguat sebagaimana terlihat pada
pengerahan kekuatan personel militer, logistik dan persenjataan, baik
matra darat, laut maupun udara. Cerita tentang kegagalan PBB tersebut
bermula pada dengan adanya program Minyak-untuk-Pangan (oil for
food). Program ini dimaksudkan untuk memberi makanan kepada rakyat
irak. Penciptaan program tersebut oleh PBB karena sebelumnya PBB
memberlakukan sanksi ekonomi terhadap irak. Irak yang dipimpin
Saddan Hussein dulunya merusakkan dan membumi hanguskan Kuwait
pada perang Irak-Iran. Perang tersebut memaksa Sadam Hussein
meminjam milyaran dollar dari Kuwait. Usai perang Irak-Iran, Sadam
Hussein menolak membayar kembali pinjaman karena menurutnya,
Kuwait dulunya adalah wilayah Irak. Akhirnya Sadam Hussein malah
menyerang Kuwait yang diakui sebagai wilayah Irak. Sepuluh tahun
11
setelah penandatanganan tersebut, ternyata Sadam Hussein tidak
menepati janjinya, akhirnya oleh karena hal inilah, maka PBB
mengenakan sanksi ekonomi. Rakyat Irak kelaparan akibat sanksi
ekonomi, jalan keluarnya ialah PBB menciptakan program minyak untuk
pangan (oil-for-food). Sadam Hussein berhasil menyogok beberapa pihak
penting di PBB dimana sekretaris PBB Kofi Annan terlibat dalam
skandal korupsi ini. Kofi Annan tak mampu lagi mengendalikan situasi,
semua bawahannya terpaksa dipecat, terlalu banyak korban akibat
skandal dari Kofi Annan dan Sadam Hussein. Oleh karena hal inilah,
sehingga PBB tidak mampu untuk menghentikan serangan AS ke Irak
karena dalam diri PBB sendiri ada kesalahan manajemen. Dan ada
sejumlah anggota staf PBB yang terlibat dalam skandal.
Kegagalan lainnya dapat kita lihat pda terlambatnya DK PBB mengirim
pasukan tambahan ke Darfur, Sudan Barat. Berulang kali jenderal
Kanada Roméo Dallaire, yang memimpin misi PBB di Rwanda antara
1993 hingga 1994 meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengirim
pasukan tambahan. Ketika pasukan itu akhirnya tiba, genosida atau
pembunuhan bangsa sudah berakhir. Ditambah lagi dengan mandat yang
tegas dari PBB di New York. Namun, kendala yang muncul adalah
kurangnya partisipasi Negara barat. Keikutsertaan Barat dalam operasi-
operasi tersebut sangatlah penting. karena mereka biasanya lebih terlatih
12
dan punya peralatan lebih lengkap dibandingkan rekan-rekannya dari
negara sedang berkembang. Sayangnya banyak negara Barat menolak.
Hal ini pun merupakan salah satu penyebab kegagalan PBB.
Gagal memberikan perubahan di Myanmar. PBB telah berupaya
membawa rekonsiliasi di Myanmar selama hampir dua dekade.
Sayangnya, deretan upaya itu hingga kini gagal membuahkan perubahan
berarti. Dari waktu ke waktu, junta militer Myanmar mencetuskan
konsesi kecil-kecilan, seperti pertemuan singkat dengan tokoh oposisi
Aung San Suu Kyi. Namun, kekuasaan yang telah dicengkeram selama
45 tahun tetap langgeng. Apabila menengok sejarah kehadiran PBB di
Myanmar sejak Suu Kyi ditahan tahun 1990, tidak muncul terobosan
yang bisa dibilang signifikan. Tahun 1998, diplomat Peru, Alvara de
Soto, ditunjuk sebagai Utusan Khusus PBB dengan tugas memecah
kebuntuan antara militer dan kelompok prodemokrasi.
Dari sejumlah kegagalan-kegagalan tersebut, usaha yang perlu ditempuh
PBB agar bisa menjadi badan yang lebih relevan dan efektif lagi adalah reformasi
dalam Dewan Keamanan PBB, komposisinya, dan cara kerjanya. Tapi kita juga
tahu, hal itu tidak akan terjadi. Karena ada berbagai masalah serius menyangkut
komposisi dan negara-negara anggota masih belum sepakat soal komposisi itu.
Adanya pemanfaatan berbagai instrumen yang ada dalam PBB saat ini, sebaik
13
mungkin. PBB mesti memperbaiki dirinya secara radikal. Menurut pandangan
para pengkritik PBB, penyebab kegagalan lembaga internasional ini dalam
menjalankan tugasnya bisa dilihat dari peran negara-negara anggota yang
dianggap lebih besar dan sebagai pemilik kekuatan pasca Perang Dunia II, di
mana negara-negara ini memaksakan tuntutannya terhadap negara-negara lain.
Piagam PBB telah menghadapi banyak tantangan. Tantangan ini dimulai
dengan terbaginya dunia menjadi dua blok: Timur dan Barat. Setelah Uni Soviet
runtuh dan terjadi perubahan sistem dua kutub, intervensi dan intimidasi
kekuatan-kekuatan dunia serta pengenaan perang dan pengusiran terus berlanjut
dengan dimensi yang lebih besar. Rekam jejak PBB menunjukkan bahwa
lembaga dunia ini tidak mampu mencegah genosida Rwanda dan pembataian di
Srebrenica. Sikap lemah PBB dalam mencegah dan menangani genosida-genosida
tersebut telah menyebabkan cita-cita yang termuat dalam Piagam PBB tampaknya
tidak akan pernah tercapai. Gholamali Khoshroo, Duta Besar Republik Islam Iran
untuk PBB yang mewakili Gerakan Non-Blok (GNB), menuntut transparansi dan
kinerja yang lebih dalam pendekatan PBB dan Dewan Keamanan.
Pengalaman-pengalaman pahit selama dua dekade terakhir di Afghanistan,
Irak dan tragedi berdarah di Yaman dan Palestina telah membuktikan bahwa PBB
tidak mampu menyelesaikan persoalan dan konflik yang melanda negara-negara
dunia. Saat ini, PBB harus membayar mahal atas penyalahgunaan kekuatan-
kekuatan intervensif terutama Amerika Serikat. Sebenarnya, ketidakmampuan dan
persoalan yang dihadapi PBB saat ini tidak terlepas dari hasil tren di masa lalu.
14
Kinerja PBB pada praktiknya merupakan "permainan politik dengan skor nol,"
dan jika pun terjadi peristiwa positif, hal ini dikarenakan sikap tegas dan
resistensi sejumlah negara terhadap kekuatan-kekuatan dunia yang berusaha
memaksakan kehendak.
15