MAKALAH
BASIC LIFE SUPPORT
(BLS)
Dosen:
Dr. dr. Aswoco Andyk Asmoro, [Link]
Oleh:
Oky Cahyanto
105070103111018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
PENDAHULUAN
Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) adalah
pendekatan sistematik untuk penilaian pertama pasien, mengaktifkan
respon gawat darurat dan juga inisiasi CPR atau RJP yaitu resusitasi
jantung paru. RJP yang efektif adalah dengan menggunakan kompresi
dan dilanjutkan dengan ventilasi.
BLS boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih
dalam bidang kesehatan. Ini bermaksud RJP boleh dilakukan dan
dipelajari dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. Keadaan di
mana terdapat kegagalan pernafasan yang boleh menyebabkan systemic
cardiopulmonary arrest (SCA) adalah seperti kecelakaan, sepsis,
kegagalan respiratori, sudden infant death syndrome dan banyak lagi
Terdapat beberapa pembaharuan pada pedoman pada tahun 2010
dan yang dahulu yaitu pada tahun 2005. Pada tahun 2010, terdapat
pembaharuan yang besar di mana kompresi didahului sebelum ventilasi.
DEFINISI
Resusitasi membawa maksud menghidupkan kembali dengan
usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti
jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi jantung paru (RJP)
adalah upaya mengembalikan fungsi nafas atau sirkulasi yang berhenti
oleh mana-mana sebab dan boleh membantu memulihkan kembali fungsi
kedua jantung dan paru ke keadaan normal. Bantuan hidup dasar atau
basic life support (BLS) termasuk mengenali jika terjadinya serangan
jantung, aktivasi respon sistem gawat darurat, dan defibrilasi dengan
menggunakan defibrillator.
INDIKASI
Indikasi dalam pemberian bantuan hidup dasar:
1. Henti nafas
Henti nafas primer ( Respiratory arrest ) dapat disebabkan oleh banyak
hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi
asap / uap / gas, obstruksi jalan nafas oleh benda asing, tersengat
listrik, tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglottis,
tercekik ( suffocation ), trauma dan lain – lainnya.
2. Henti Jantung
Henti jantung primer ( cardiac arrest ) ialah ketidak sanggupan curah
jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital
lainnya secara mendadak dan dapat balik normal, kalau dilakukan
tindakan yang tepat atau dapat menyebabkan kematian atau kerusakan
otak menetap kalau tindakan tidak adekuat. Henti jantung terminal akibat
usia lanjut atau penyakit kronis tertentu tidak termasuk henti jantung atau
cardiac arrest. Henti jantung ditandai oleh tidak terabanya nadi karotis.
Tujuan Resusitasi Jantung Paru
a. Mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas
(respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang
dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang
memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi
tersebut bekerja kembali.
b. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (nafas)
c. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan
ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami
henti jantung atau henti nafas melalui Cardio Pulmonary
Resuciation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).
PEMBAHARUAN PADA BLS GUIDELINES 2010
DASAR
BARU LAMA
PEMIKIRAN
Chest compressions, Airway, Breathing, Ventilasi merupakan
Aiway, Breathing (C-A-B): Chest compression bagian terpenting
( A-B-C): dari resusitasi, fakta
Ilmu terbaru menunjukan
menunjukan
urutan sebagai berikut: Sebelumnya, setelah
kompresi
ditentukan tidak ada
1. Cek respon pasien merupakan hal
respon, pemanggilan
utama dalam
2. Cek apakah bantuan harus
resusitasi pada
bernafas atau dilaksanakan, jalan
orang dewasa.
tidak, atau nafas nafas dibuka, cek
abnormal pernafasan pasien, Dalam urutan ABC,
dan 2 kali pernafasan kompresi sering
3. Menghubungi bantuan diberikan tertunda untuk
bantuan
4. Cek pulsasi tidak diikuti dengan diberikan
lebih dari 10 detik pengecekan pulsasi
dan kompresi.
5. Beri 30 kompresi
6. Buka jalan nafas
dan berikan 2 kali
bantuan nafas
7. Lanjutkan kompresi
Kompresi seharusnya Kompresi diberikan Walaupun ventilasi
dimulai dalam 10 detik setelah jalan nafas dan termasuk bagian
pertama pernafasan pasien terpenting dalam
ditentukan, ventilasi resusitasi, fakta
diberikan dan pulsasi menunjukan
diperiksa kompresi tetap
menjadi elemen
utama dalam
resusitasi dewasa
Kompresi sering
terlambat diberikan
saat penolong
membuka jalan
nafas dan
memberikan
bantuan nafas
Kompresi seharusnya Kompresi seharusnya Kompresi sering kali
diberikan dengan diberikan dengan terlalu lambat dan
kecepatan rata-rata 100 kecepatan rata-rata kompresi lebih dari
x/menit. Dalam 30 kali 100 x/menit. 30 kali 100 x/menit
kompresi harus dilakukan kompresi selesai menghasilkan
dalam waktu 18 detik atau dalam waktu 23 detik perfusi yang lebih
kurang atau kurang baik
Kedalaman kompresi Kedalaman kompresi Kompresi yang lebih
mengikuti: mengikuti: dalam
menghasilkan
Dewasa: minimal 2 Dewasa: 1 ½
perfusi arteri
inci (5cm) s/d 2 inci
koronaria dan arteri
Anak: minimal 1/3 Anak: 1/3 serebral lebih baik
kedalaman dada sampai ½
atau setidaknya 2 diameter dada
inci (5cm)
Balita: 1/3
Balita: minimal 1/3 sampai ½
kedalaman dada, diameter dada
atau setidaknya 1
½ inci (4cm)
Tabel Perubahan Algoritma BLS
PROSEDUR BASIC LIFE SUPPORT
Berdasarkan konvensi American Heart Association (AHA) terbaru
pada tanggal 18 Oktober 2010, dimana mengalami perubahan yaitu dari
ABC menjadi CAB (Circulatory Support, Airway Control, dan Breathing
Support) prosedur CPR terbaru adalah sebagai berikut :
1. Danger (D)
Yaitu kewaspadaan terhadap bahaya dimana pertama penolong
harus mengamankan diri sendiri dengan memakai alat proteksi diri (APD).
Alat proteksi yang paling dianjurkan adalah sarung tangan untuk
mencegah terjadinya penularan penyakit dari pasien kepada penolong.
Selanjutnya penolong mengamankan lingkungan dari kemungkinan
bahaya lain yang mengancam, seperti adanya arus listrik, ancaman
kejatuhan benda (falling object). Setelah penolong dan lingkungan aman
maka selanjutnya mengamankan pasien dan meletakan korban pada
tempat yang rata, keras, kering dan jauh dari bahaya.
2. Respon (R)
Mengecek kesadaran atau respon korban dapat dilakukan secara
verbal maupun nonverbal. Secara verbal dilakukan dengan memanggil
nama. Sedangkan secara nonverbal dilakukan dengan menepuk-nepuk
bahu korban. Jika dengan memanggil dan menepuk tidak ada respos,
maka lakukan pengecekan kesadaran dengan melakukan rangsangan
nyeri. Lakukan rangsang nyeri dengan menekan tulang dada pasien
dengan cara penolong menekuk jari-jari tangan kanan, lalu tekan dengan
sudut ruas jari-jari tangan yang telah ditekuk. Jika tidak ada respon
dengan rangsangan nyeri berarti pasien tidak sadar dan dalam kondisi
koma.
3. Shout For Help (S) /meminta bantuan
Jika pasien tidak berespons selanjutnya penolong harus segera
memanggil bantuan baik dengan cara berteriak, menelepon, memberi
tanda pertolongan dan cara lainya. Berteriak contohnya dengan
memanggil orang disekitar lokasi kejadian agar membantu pertolongan
atau disuruh mencari pertolongan lebih lanjut. Selanjutnya menelepon
yaitu menghubungi pusat bantuan darurat (emergency call number) sesuai
dengan nomor dilokasi / negara masing-masing, seperti 911 dan 118.
4. Memperbaiki posisi pasien
Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif, pasien harus dalam
posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. Jika
korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi
pasien ke posisi terlentang.
5. Mengatur posisi penolong
Penolong berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat
memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah
posisi atau menggerakkan lutut.
Gambar posisi penolong yang benar
6. Cek Nadi
Pengecekan nadi korban dilakukan untuk memastikan apakah
jantung korban masih berdenyut atau tidak. Pada orang dewasa
pengecekan nadi dilakukan pada nadi leher (karotis) dengan
menggunakan 2 jari. Caranya letakan 2 jari tangan pada jakun (tiroid)
kemudian tarik ke arah samping sampai terasa ada lekukan rasakan
apakah teraba atau tidak denyut nadi korban. Jika nadi tidak teraba berarti
pasien mengalami henti jantung, maka segera lakukan penekanan /
kompresi pada dada korban. Jika nadi teraba lanjutkan dengan membuka
jalan napas dan pemeriksanaan napas.
Gambar cara pengecekan nadi
7. Circulatory Support (C) / Bantuan Sirkulasi
Yaitu kompresi dada jika korban tidak teraba nadi karotisnya berarti
jantungnya berhenti berdenyut maka harus segera dilakukan penekanan /
kompresi dada sebanyak 30 kali. Caranya : posisi penolong sejajar
dengan bahu korban. Letakan satu tumit tangan diatas tulang dada, lalu
letakan tangan yang satu lagi diatas tangan yang sudah diletakan diatas
tulang dada. Setelah itu tekan dada korban dengan menjaga siku tetap
lurus Tekan dada korban sampai kedalaman sepertiga dari ketebalan
dada atau 3-5 cm / 1-2 inci (korban dewasa), 2-3 cm (pada anak), 1-2 cm
(bayi).
Gambar Titik Kompresi
Gambar cara melakukan kompresi
8. Airway Control (A)
Yaitu membuka jalan napas, setelah melakukan kompresi
selanjutnya membuka jalan napas. Sebelum membuka jalan napas
pertama harus melakukan pemeriksaan jalan napas. Tindakan ini
bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh
benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau
sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari
tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh
benda keras atau asing dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk
yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan teknik finger
sweep dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada
mulut korban.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing,
biasa pada pasien tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan
epiglotis akan menutup faring dan laring, inilah salah satu penyebab
sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat
dilakukan dengan cara Angkat Dagu-Tekan Dahi atau disingkat
ADTD (Head tild – chin lift) dan Perasat Pendorongn Rahang Bawah (Jaw
Thrust Maneuver).
1. Angkat Dagu - Tekan Dahi (ADTD)
Teknik ini dilakukan pada penderita yang tidak mengalami trauma
pada kepala, leher maupun tulang belakang.
Caranya :
a. Letakkan tangan Anda pada dahi penderita. Gunakan tangan
yang paling dekat dengan kepala penderita.
b. Tekan dahi sedikit mengarah ke belakang dengan telapak
tangan sampai kepala penderita terdorong ke belakang.
c. Letakkan ujung jari tangan yang lainnya di bawah bagian ujung
tulang rahang bawah.
d. Angkat dahu ke depan, lakukan gerakan ini bersamaan tekanan
dahi, sampai kepala penderita pada posisi ekstensi maksimal.
Pada pasien bayi dan anak kecil tidak dilakukan sampai
maksimal tetapi sedikit ekstensi saja.
e. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi
kepala tetap ke belakang.
Gambar teknik Head tild – chin lift
2. Perasat Pendorongan Rahang Bawah (Jaw Thrust Manaeuver)
Teknik ini digunakan sebagai pengganti teknik tekan dahi angkat
dagu. Perlu diingat teknik ini sangat sulit dilakukan, tetapi merupakan
teknik yang aman untuk membuka jalan nafas bagi penderita yang
mengalami trauma pada tulang belakang. Dengan mempergunakan teknik
ini berarti kepala dan leher penderita dibuat dalam posisi alami/normal.
Caranya :
a. Berlutut di sisi atas kepala penderita letakan kedua siku
penolong sejajar dengan posisi penderita, kedua tangan
memegang sisi kepala.
b. Kedua sisi rahang bawah dipegang (jika pasien anak/bayi,
gunakan dua atau tiga jari pada sisi rahang bawah).
c. Gunakan kedua tangan untuk menggerakkan rahang bawah ke
posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke
atas sehingga jalan napas terbuka.
d. Pertahankan posisi mulut pasien tetap terbuka.
Gambar Jaw Thrust Manaeuver
9. Breathing Support (B) atau memberikan napas buatan
Jika pasien teraba denyut nadinya maka perlu dilakukan
pemeriksaan apakah bernapas atau tidak. Pemeriksaaan pernapasan
dilakukan dengan melihat ada tidaknya pergerakan dada (look),
mendengarkan suara napas (listen) dan merasakan hembusan napas
(feel). Jika pasien berdenyut jantungnya tetapi tidak bernapas maka hanya
diberikan napas buatan saja sebanyak 12-20 kali per menit. Bantuan
napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut
ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan).
a. Mulut ke mulut
Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan
cara yang tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru pasien.
Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong
harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus
dapat menutup seluruhnya mulut pasien dengan baik agar tidak terjadi
kebocoran saat mengghembuskan napas dan juga penolong harus
menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk
untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Penolong juga harus
menggunakan alat pelindung diri, dengan cara meletakan kasa, tisu,
saputangan atau benda yang sejenis.
Gambar breathing support mulut ke mulut
b. Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut pasien
tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban
mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung,
penolong harus menutup mulut korban/pasien.
c. Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma)
yang menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami
kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.
Gambar breathing support mulut ke stoma
10. Posisi sisi mantap (recovery position)
Posisi ini digunakan untuk korban yang tidak sadar yang telah
bernafas normal dan sirkulasi aman. Posisi ini dibuat untuk menjaga jalan
nafas tetap terbuka dan mengurangi risiko sumbatan jalan nafas dan
aspirasi. Caranya korban diletakkan miring pada salah satu sisi tubuh
dengan tangan yang dibawah berada di depan badan.
Jika pasien masih berdenyut jantungnya dan masih bernapas maka
korban dimiringkan ke kiri (posisi recovery) agar ketika muntah tidak
terjadi aspirasi.
Gambar posisi recovery
Pasien yang berhenti denyut jantungnya / tidak teraba nadi maka
tidak perlu dilakukan pemeriksaan pernapasan karena sudah pasti
berhenti napasnya, penolong setelah melakukan kompresi dan membuka
jalan napas langsung memberikan napas buatan sebanyak 2 kali. Rasio
perbandingan kompresi : napas buatan pada orang dewasa baik 2 orang
penolong maupun 1 orang penolong perbandingan yaitu 30 : 2.
11. Evaluasi
Pada CPR dilakukan setiap 5 Siklus. (5 x 30 kompresi) + (5 x 2
napas buatan). Evaluasi pada pemberian napas buatan saja dilakukan
setiap 2 menit. Dan setelah pasien berdenyut nadinya dan bernapas
posisi pasien dimiringkan ke arah kiri (posisi recovery).
Tindakan RJP dapat dihentikan apabila :
a. Penderita pulih kembali.
b. Penolong kelelahan.
c. Diambil alih oleh tenaga yang sama atau yang lebih terlatih.
d. Jika ada tanda pasti mati, tidak usah lakukan RJP
KESIMPULAN
Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) adalah
pendekatan sistemik untuk penilaian pertama pasien, mengaktifkan
respon gawat darurat dan juga inisiasi RJP yaitu resusitasi jantung paru.
BLS boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam
bidang kesehatan. Ini bermaksud RJP boleh dilakukan dan dipelajari
dokter, perawat, para medis, dan juga orang awam. Resusitasi jantung
paru adalah usaha yang dilakukan untuk situasi atau keadaan yang
mengindikasikan henti nafas atau henti jantung. Kompresi dilakukan
terlebih dahulu dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau henti
jantung karena setiap detik yang tidak dilakukan kompresi merugikan
sirkulasi darah dan mengurangkan survival rate korban.
DAFTAR PUSTAKA
Santoso P. Basic Life Support. September 2012. Available at
[Link]
Tirti Lasprita. 3 September 2012. Bantuan Hidup Dasar (BLS).
[Link]
Anthony J. Hanley, Rudolph Koster, European Resuscitation council
Guidelines for Resuscitation 2005, Section 2. Adult basic life
support and use of automated external defibrillators
[Link]
=1
Muhammad Ashar. Maret 2011. Planning cardiac emergency medical
service with Mobile application in aceh rural.
[Link]