0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
571 tayangan11 halaman

Diagram dan Rumus Bunga Tumbuhan

Dokumen ini membahas tentang rumus dan diagram bunga. Terdapat 3 bagian utama yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, dan metode penelitian. Pendahuluan menjelaskan latar belakang dan tujuan praktikum tentang rumus dan diagram bunga. Tinjauan pustaka membahas tentang fungsi bunga, rumus bunga, dan diagram bunga. Metode penelitian menjelaskan jenis penelitian deskriptif eksploratif dan prosedur kerja praktikum untuk

Diunggah oleh

Shofy Mazaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
571 tayangan11 halaman

Diagram dan Rumus Bunga Tumbuhan

Dokumen ini membahas tentang rumus dan diagram bunga. Terdapat 3 bagian utama yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, dan metode penelitian. Pendahuluan menjelaskan latar belakang dan tujuan praktikum tentang rumus dan diagram bunga. Tinjauan pustaka membahas tentang fungsi bunga, rumus bunga, dan diagram bunga. Metode penelitian menjelaskan jenis penelitian deskriptif eksploratif dan prosedur kerja praktikum untuk

Diunggah oleh

Shofy Mazaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Bunga merupakan salah satu bagian ada tumbuhan yang paling menarik
perhatian. Hal ini karena bentuknya yang beragam serta memiliki berbagai macam
warna. Jika kita mempelajari dan mengidentifikasi lebih dalam lagi, bunga bukanlah
hanya sebagai perhiasan yang menarik pada suatu tumbuhan.
Bagian pokok tumbuhan hanya ada 3 macam yaitu, akar, batang dan daun dan
setiap bagian lainya hanya merupakan penjelmaan ketiga bagian pokok tersebut. Jadi
bunga sebagai suatu bagian tumbuhan harus pula merupakan penjelmaan dari salah
satu atau kombinai ketiga bagian pokok tadi. Bunga adalah penjelmaan suatu tunas
(batang dan daun-daun) yang bentuk, warna, dan susunannya disesuaikan dengan
kepentingan tumbuhan, sehingga pada bunga ini dapat berlangsung penyerbukan dan
pembuahan, dan akhirnya dapat dihasilkan alat-alat perkembangbiakan.
Untuk memudahkan mengamati bagian-bagian bunga (tangkai bunga, kelopak,
mahkota, benang sari, putik) secara singkat dapat dituliskan dengan menggunakan
rumus bunga dan diagram bunga sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasi
suatu bunga. Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari
semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan
penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari,
putik, dan bagian lainnya.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilaksanakanlahpraktikum tentang Rumus
dan Diagram Bunga, agar kita dapat mengetahui secarajelas bagian-bagian bunga
sehingga dapat menentukan rumus dan diagram bunga secara tepat dan jelas.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi simetri bunga pada spesimen?
2. Apa jenis kelamin bunga pada spesimen?
3. Bagaimana ciri morfologi dan kondisi bagian-bagian bunga pada
spesimen?
4. Apa rumus bunga berdasarkan data pengamatan spesimen yang diperoleh?
5. Bagaimana diagram bunga pada spesimen?

C. Tujuan
1. Mengidentifikasi simetri bunga pada spesimen
2. Mengidentifikasi jenis kelamin bunga pada spesimen
3. Mengidentifikasi bagian-bagian bunga dan posisinya pada bunga
4. Menentukan rumus bunga pada spesimen
5. Menentukan diagram bunga pada spesimen

1
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bunga Pada Tumbuhan


Bunga berfungsi utama menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan
berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah.
Buah adalah struktur yang membawa biji. Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah
menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji.
Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut
dengan pembentukan biji. Beberapa bunga memiliki warna yang cerah yang berfungsi
sebagai pemikat hewan pembantu penyerbukan. Beberapa bunga yang lain menghasilkan
panas atau aroma yang khas, juga untuk memikat hewan untuk membantu penyerbukan.
Bunga terdiri atas bagian yang steril dan bagian yang fertil (reproduktif). Bagian steril
meliputi sejumlah helai daun kelopak (sepal), kumpulannya disebut kaliks, dan sejumlah
helai daun mahkota (petal), kumpulannya disebut korola. Kaliks dan korola, bersama-
sama disebut perhiasan bunga (periant). Jika periant tidak terbagi menjadi kaliks dan
korola, setiap helaiannya disebut tepal. Bagian reproduktif adalah benang sari atau stamen
(mikrosporofil) dan daun buah atau karpel (megasporofil). Keseluruhan stamen disebut
andresium dan keseluruhan karpel disebut ginesium. (Rosanti, 2013).
B. Rumus Bunga
Rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga
menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota bunga, organ-organ reproduktifnya, dan
simetrinya. Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat
bunga yang bertalian dengan simetrisnya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan
singkatan nama bagian bunga, sedang angka-angka menunjukkan jumlah masing-masing
bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi yang
memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain. Oleh suatu rumus bunga
hanya dapat ditunjukkan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut.
1. Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singaktan kata kalix (calix), yang
merupakan istilah ilmiah untuk kelopak.
2. Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata
corolla(istilah untuk mahkota bunga)
3. Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan kataandroecium
(istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga).
4. Putik yang dinyatakan dengan huruf G singakatan kata gymnaecium (istilah untuk
alat betina pada bunga). (Rosanti, 2013)
Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu
mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaiut huruf P singkatan
kata perigonium (tenda bunga). Dibelakang huruf-huruf tadi lalu ditaruhkan angka-angka
yang menunjukkan jumlah masing-masing bagian tadi dan diantara dua bagian bunga

3
yang digambarkan dengan huruf dan angka itu ditaruh koma. Didepan rumus hendaknya
diberi tanda yang menunjukkan simetrei bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam
tanda simetri, yaitu,  untuk bunga yang bersimetri banyak (actinomorphus) dan tanda *
untuk bunga yang bersimetri satu (zygomorphus). (Tjitrosoepomo, 2009)
Selain lambang-lambang yang telah diuraikan di atas dalam menyusun suatu
rumus bunga masih ada lambang lain lagi, yaitu lambang untuk menyatakan duduknya
bakal buah (jadi juga putiknya). Untuk bakal buah yang menumpang di bawah angka
yang menunjukkan bilangan daun buah, dibuat suatu garis (bilangan yang menunjukkan
jumlah daun buah terletak di atas garis), sedangkan untuk bakal buah yang tenggelam
garis ditaruh di ats angka tadi. Untuk bakal buah yang setengah tenggelam tidak ada tanda
khusus, atau dapat ditafsirkan sebagai setengah tenggelam, jika untuk bakal buah tidak
ada pernyataan menumpang. (Setjo, 2004)
C. Diagram Bunga
Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian
bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-
penampang melintang daun-daun kelopak tajuk bunga, benang sari, dan putik. Perlu
diperhatikan, bahwa lazimnya, dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga di gambarkan
penampang melintang bagian tengah-tengahnya, sedangkan dari benang sari digambarkan
penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya. Dari
diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui pula jumlahmasing-masing bagian
bungatadi dan bagaimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain. Dalam
diagram bunga, masing-masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga
tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambing yang
sama. Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal
berikut.
1. Letak bunga pada tumbuhan dalam hubungannya dengan perencanaan suatu
diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga:
a. bunga pada ujung batang atau cabang (flosterminalis).
b. bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris),
2. Bagian-bagiann bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam berapa
lingkaran.
Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar ke dalam digambar
daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari, dan yang terakhir penampang
melintang bakal buah. Dengan demikian, diagram bunga dapat dibedakan:
1. Diagram bunga empirik
2. Diagram buanga teoritik (Tjitrosoepomo, 2009)

4
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Metode deskriptif
adalah proses pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan atau
melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta
yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian dengan metode ini memusatkan
perhatiannya pada penemuan fakta-fakta (fact finding) sebagaimana keadaan
sebenarnya. (H. Hadari Nawawi dan H. Mimi Martini. 1996:73). Penelitian
eksploratif sendiri memiliki tujuan menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-
hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu” (Suharsimi Arikunto. 2002:7). Jadi
metode deskriptif eksploratif adalah penelitian dengan pemecahan masalah yang
digali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya
sesuatu berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

B. Alat dan Bahan


Alat
1. Kertas HVS
2. Alat Tulis
Bahan
Bunga dari tumbuhan Palmae:
1. Bunga kelapa (Cocos nucifera)
2. Bunga pinang (Areca catechu)
3. Bunga sawit (Elaeis guineensis)

C. Prosedur Kerja
1. Praktikan mengidentifikasi kondisi simetri bunga pada masing-masing
spesimen.
2. Praktikan mengidentifikasi jenis kelamin bunga pada masing-masing
spesimen.
3. Praktikan mengidentifikasi perhiasan bunga (kaliks, korola atau
perigonium), meliputi jumlah dan posisinya pada masing-masing
spesimen bunga.
4. Praktikan mengidentifikasi stamen (benang sari), meliputi jumlah dan
kondisinya pada masing-masing spesimen bunga.
5. Praktikan mengidentifikasi pistillum (putik), meliputi jumlah dan kondisi
(tenggelam atau menumpang) pada masing-masing spesimen bunga.
6. Praktikan menginventarisasi data ciri morfologi bunga yang diperoleh dan
mencatatnya ke dalam tabel.

5
7. Praktikan menentukan rumus dan diagram bunga berdasarkan data-data
yang diperoleh.

D. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi atau melakukan
pengamatan secara langsung serta pengisian lembar kerja yang berisi materi tentang
rumus dan diagram bunga
E. Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data
kualitatif, yang dipadukan dengan tabel. Teknik analisis data Kualitatif ini sendiri
adalah cara menganalisa data sambil mengumpulkan data sehingga apabila terjadi
topik yang sama bisa dilakukan pengecekan kembali, setelah itu peneliti melakukan
interpretasi terhadap data yang didapatkan lalu diambil sebuah kesimpulan. Tahapan-
tahapan dalam menganalisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan
kesimpulan.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Ciri morfologi bunga untuk penentuan rumus dan diagram bunga

No Spesies Simetri Kelamin Kaliks Korola Stamen Pistillum


Bunga Bunga Jlh Kondisi Jlh Kondisi Jlh Kondisi Jlh Kondisi
1. Cocos Berseli Berlepa Meleka
Jantan 3 3 6 - -
nucifera ng san t
2. Areca Berseli Berlepa Berlepa
Banci 3 3 10 1 -
catechu ng san san
3. Elaeis Berseli Berlepa
 Jantan 1 - - ~ - -
guineensis ng san

2. Rumus bunga dan diagram bunga

Rumus
Spesies Diagram Bunga
Bunga
Cocos nucifera

♂, , K3,
C3, A6

[Link]
Areca catechu

☿, , K3,
C3, A10,
G1

[Link]
o-macro-bunga-pinang-palem/

7
Elaeis guineensis

♂, , A~

[Link]
om/

B. Pembahasan
1. Bunga kelapa (Cocos nucifera)
Bunga kelapa (Cocos nucifera) termasuk ke bangsa Palmae. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, bunga kelapa merupakan bunga berjenis kelamin
jantan (unisexualis=berkelamin tunggal) karena hanya memiliki satu alat kelamin
yaitu benang sari. Bunga kelapa merupakan bunga bersimetri satu (zygomorphus).
Bunga kelapa tergolong bunga yang tidak lengakap. Bagian-bagian pada bunga kelapa
terdiri dari kelopak (kalyx), mahkota (corolla), dan benang sari (androecium).
Kelopak (kalyx) pada bunga kelapa sebanyak 3 helai yang berlepasan dan berselang
seling dengan mahkota bunga. Jumlah mahkota bunga kelapa sebanyak 3 helai,
berwarna kuning muda dan antara tiap helai mahkotanya tidak melekat (berlepasan).
Benang sari (androecium) pada bunga sebanyak 6 buah dan tidak melekat satu sama
lain (berlepasan). Berdasarkan data-data tersebut maka bunga kelapa (Cocos nucifera)
memiliki rumus bunga: ♂, , K3, C3, A6.

2. Bunga pinang (Areca catechu)

Bunga pinang (Areca catechu) termasuk ke bangsa Palmae. Berdasarkan


pengamatan yang telah dilakukan, bunga pinang merupakan bunga berjenis kelamin
banci (hermaphroditus) karena dalam satu bunga terdapat 2 alat kelamin sekaligus,
yaitu benang sari dan putik. Bunga pinang juga termasuk bunga bersimetri satu
(zygomorphus). Bunga pinang termasuk bunga lengkap karena memiliki keempat
bagian-bagian bunga, diantaranya kelopak, mahkota, benang sari, dan putik. Kelopak
(kalyx) pada bunga pinang berjumlah 3 helai yang berselang seling dengan mahkota
dan tiap helaiannya tidak melekat (berlepasan). Mahkota bunga (corolla) berjumlah 3
yang berlepasan dan berwarna kuning muda. Benang sari (androecium) pada bunga
pinang sebanyak 10 buah dan tidak melekat satu sama lain (berlepasan). Bunga
pinang hanya memiliki 1 buah putik (gynaecium) yang terletak di bagian tengah
bunga dan dikelilingi benang sari. Bakal buah pada bunga pinang tertanam di dasar

8
bunga. Berdasarkan data-data tersebut, maka bunga pinang (Areca catechu) memiliki
rumus bunga: ☿, , K3, C3, A10, G1.

3. Bunga sawit (Elaeis guineensis)


Bunga sawit (Elaeis guineensis) termasuk ke bangsa Palmae dan bersimetri
satu (zygomorphus). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, bunga sawit sekilas
tidak terlihat seperti bunga pada umumnya yang memiliki mahkota bunga berwarna
warni. Bunga sawit berbentuk lancip dan panjang. Bunga sawit merupakan bunga
tidak lengkap dan termasuk ke dalam bunga bonggol karena tidak memiliki mahkota.
Bagian-bagian pada bunga sawit terdiri atas tangkai (peduncullus) yang panjang yang
padanya terdapat kumpulan spikelet yang berbentuk silinder seperti jari-jari tangan,
reseptaculum, dan pedicelus. Sebelum mekar, infloresen terbungkus oleh triangular
bract. Perianth lapisan luar bersifat keras, sedangka perianth lapisan dalam lunak.
Pada pengamatan yang telah dilakukan, praktikan menggunakan spesimen bungan
jantan yang memiliki benang sari ~. Namun, berdasarkan literatur bunga sawit terdiri
dari dua jenis, yaitu bunga jantan dan bunga betina. Pada bunga betina inilah tampak
layaknya bunga pada umumnya, namun kelopak dan mahkota tidak dapat dibedakan
(perigonium). Pada mulanya yang muncul adalah bunga jantan dan kemudian secara
bertahap akan muncul bunga betina.
Berdasarkan data-data pengamatan tersebut, maka bunga sawit jantan
memiliki rumus bunga: ♂, , A~. Untuk rumus bunga yang demikian, praktikan
kesulitan dalam menemukan dan membuat diagram yang sesuai. Namun, terdapat
diagram bunga betina yang merupakan diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang
selain menggambarkan bagian-bagian bunga yang sesungguhnya juga memuat
bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi.

9
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data, maka dapat disimpulkan:
1. Bunga kelapa (Cocos nucifera) memiliki rumus bunga: ♂, , K3, C3, A6.
2. Bunga pinang (Areca catechu) memiliki rumus bunga: ☿, , K3, C3, A10, G1.
3. Bunga sawit (Elaeis guineensis) jantan memiliki rumus bunga: ♂, , A~.
Dalam hal ini bunga sawit memiliki dua jenis, yaitu bunga jantan dan bunga
betina. Namun, dalam memproyeksikan rumus bunga ke dalam diagram bunga
menggunakan diagram teoritik dari bunga betina, karena adanya kesulitan
dalam membuat diagramnya dan masih minimnya informasi mengenai rumus
dan diagra bunga sawit.

B. Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam pengamatan karena pada praktikum ini
diperlukan keterampilan dan ketelitian agar rumus dan diagram bunga yang dibuat
tepat dan mendapatkan hasil yang baik.

10
DAFTAR PUSTAKA

Rosanti, Dewi. 201. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.


Tjitrosoepomo, G. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Setjo, susetyoadi, dkk.2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: JICA.

11

Anda mungkin juga menyukai