0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan13 halaman

Desain Kolom Miring pada Gedung Bertingkat

1. Artikel ini membahas analisis dan desain struktur beton bertulang pada gedung dengan kolom miring 80 derajat dan gedung dengan kolom tegak sebagai perbandingan. 2. Hasil analisis menunjukkan gedung dengan kolom miring memiliki gaya dalam yang lebih besar dan membutuhkan tulangan 70,89% lebih banyak dibanding gedung dengan kolom tegak. 3. Metode desain menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SR

Diunggah oleh

Imanuel Usior
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan13 halaman

Desain Kolom Miring pada Gedung Bertingkat

1. Artikel ini membahas analisis dan desain struktur beton bertulang pada gedung dengan kolom miring 80 derajat dan gedung dengan kolom tegak sebagai perbandingan. 2. Hasil analisis menunjukkan gedung dengan kolom miring memiliki gaya dalam yang lebih besar dan membutuhkan tulangan 70,89% lebih banyak dibanding gedung dengan kolom tegak. 3. Metode desain menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SR

Diunggah oleh

Imanuel Usior
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JRSDD, Edisi Juni 2019, Vol. 7, No.

2, Hal:1 - 13

Analisis dan Desain Elemen Struktur Beton Bertulang pada Gedung yang
Memiliki Kolom Miring dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa
(SRPMB)

Angelina Dhini Uli Artha Simatupang1)


Bayzoni2)
Andi Kusnadi3)

Abstract
The increasing development of high-rise building construction with unique design in Indonesia
today can not be denied. The high-rise buildings must have earthquake resistance because of
Indonesia is a country that has the risk of an earthquake. This requires a multi-storey structure
designer to be able to design a multi-storey building structure with various conditions and
configurations. Based on that problems, a building will be designed with unusual shape by
inclining the entire main structural column with a slope angle is 80 o. And as a comparison,
another building will be designed which uses vertical column. The building plan will be located in
Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia.
The building plans with inclined and vertical column use reinforced concrete material with
Ordinary Moment Resisting Frame (OMRF) as a structural strength system. This system is
determined by the location of the building based on Indonesian Earthquake Map 2012.
The result of the analysis and design is the building with inclined column has greater internal
force compared to a building with vertical column and requires a reinforcement of 70.89% more
than the building with vertical column.
Keywords: earthquake, inclined column, building, concrete reinforcement, vertical column

Abstrak
Maraknya pembangunan gedung bertingkat tinggi dengan desain yang unik di Indonesia dewasa
ini tidak dapat dipungkiri lagi. Gedung-gedung tersebut harus memiliki ketahanan terhadap gempa
bumi dikarenakan Indonesia merupakan negara yang memiliki resiko terjadinya bencana gempa
bumi. Sehingga, hal ini mengharuskan seorang perencana struktur untuk mampu mendesain
struktur gedung bertingkat dengan berbagai kondisi dan bentuk/desain.
Dari permasalahan tersebut, maka pada tugas akhir ini dilakukan analisis dan desain gedung
dengan bentuk konstruksi yang tidak lumrah yaitu dengan memiringkan seluruh kolom utama pada
gedung dengan sudut kemiringan 80 o. Kemudian, sebagai pembanding dibuat juga sebuah desain
gedung yang memiliki kolom utama tegak. Desain gedung ini terletak di Banjarmasin,
Kalimantan Selatan, Indonesia.
Kedua desain gedung tersebut meggunakan material beton bertulang dengan sistem struktur
penahan gempa yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB). Dimana,
sistem ini ditentukan dari letak wilayah desain gedung berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2012.
Hasil dari analisis dan desain yang telah dilakukan yaitu gedung yang menggunakan kolom miring
memiliki nilai gaya dalam yang lebih besar dibandingkan dengan gedung yang menggunakan
kolom tegak sehingga membutuhkan baja tulangan sebesar 70,89% lebih banyak.
Kata kunci : gempa bumi, kolom miring, desain gedung, beton bertulang, kolom tegak

1)
Mahasiswa pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung.
2)
Staf pengajar pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung. Jalan. Prof. Sumantri
Brojonegoro 1. Gedong Meneng Bandar lampung. 35145. Surel: bayzoni@[Link]
3)
Staf pengajar pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Lampung. Jalan Prof. Sumantri
Brojonegoro 1. Gedong Meneng Bandar Lampung. Surel: andikusnadi@[Link]
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

1. PENDAHULUAN
Maraknya pembangunan gedung bertingkat tinggi di Indonesia dewasa ini tidak dapat
dipungkiri lagi. Dalam perkembangannya, gedung-gedung bertingkat tersebut memiliki
bentuk dan konstruksi struktur yang bervariasi. Hal ini mengharuskan seorang perencana
struktur gedung bertingkat mampu untuk mendesain struktur gedung bertingkat tersebut
dengan berbagai kondisi dan bentuk. Sehingga, penulis mencoba membuat sebuah desain
struktur gedung bertingkat dengan desain arsitektural yang tidak lazim yaitu gedung
dengan menggunakan kolom miring pada seluruh struktur kolom utamanya dengan lokasi
rencana berada wilayah kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Analisis dan desain
mengenai kolom miring ini sudah pernah dilakukan oleh beberapa penulis sebagai tugas
akhir perkuliahan Strata-1 dengan variasi sudut kemiringan kolom terhadap tanah dasar
sebesar 45° (Nobel, 2012), 81° (Budiyono, 2012), 86° (Iswardhany, 2013), dan 85°
(Hartono, 2014). Pada skripsi ini penulis mencoba mendesain dengan sudut kemiringan
80° untuk seluruh kolom utama desain gedung.
Dikarenakan desain gedung dibangun di wilayah Indonesia, maka gedung tersebut harus
memiliki ketahanan terhadap bencana gempa bumi. Hal ini akibat dari letak Indonesia
yang berada di antara tiga lempeng bumi yang masih aktif yang sangat mempengaruhi
aktifitas tanah dan batuan di bawah bangunan yang akan dibangun. Pada skripsi ini,
direncanakan sistem ketahanan gedung terhadap beban gempa adalah dengan
menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) yang biasa digunakan
untuk gedung di wilayah resiko gempa rendah.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Studi Terdahulu
Telah dilakukan analisis dan desain mengenai gedung yang menggunakan kolom miring
dengan bentuk dan sudut kemiringan yang beragam, diantaranya yang dilakukan oleh
Nobel (2012) dengan judul “Studi Perilaku Struktur Gedung Dengan Kolom Miring
Beton Bertulang Bentang Panjang Terhadap Beban Gempa Studi Kasus Gedung
Auditorium Universitas Negeri “X””, Budiyono (2012) dengan judul “Optimalisasi
Kolom Miring pada Gedung Berbentuk Piramida Terbalik di Wilayah Gempa 1 dan 3”,
Iswardhany (2013) dengan judul “Perencanaan Gedung yang Mempunyai Kolom Miring
dengan Pushover Analysis”, dan Hartono (2014) dengan judul “Analisis dan Desain
Bangunan Beton Bertulang 8 Tingkat dengan Kolom Miring”.

2.2. Sistem Rangka Pemikul Momen


Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) adalah struktur rangka ruang yang memikul
beban gravitasi dan lateral dimana beban lateral (beban gempa) dipikul melalui
mekanisme lentur pada setiap elemen struktur tersebut yang membuat struktur ini
memiliki ketentuan-ketentuan dalam detailing.

2.3. Desain Gedung Bertingkat Beton Bertulang Dengan SRPMB Berdasarkan SNI
2847 (2013)
Aturan/syarat desain dalam SNI 2847 (2013) yang digunakan untuk mendesain gedung
beton bertulang dengan sistem struktur SRPMB adalah Pasal 21.2.2 dan 21.2.3.

2.4. Desain Struktur Beton Bertulang


2.4.1. Desain Tulangan Struktur Balok dan Pelat 1 Arah
Untuk menghitung kapasitas momen penampang beton bertulang menggunakan
persamaan (1).

2
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

a
φ M n =φ. A s . f y .(d− ) (1)
2
Untuk mendesain tulangan lentur struktur balok dan pelat 1 arah menggunakan persamaan
(2) sampai dengan (5).

ρ=
0,85
.f ' c .(1−
√ 2.R n ) (2)
fy (0,85. f 'c)
Mn
R n= 2 (3)
(b . d )
Mn
ρmin= (4)
(0,85. f 'c)
A s=ρ .b . d (5)
Untuk menghitung jarak tulangan lentur (s) pada penampang balok beton bertulang
menggunakan persamaan (6).
( bw−2.(selimut beton )−2.(diameter sengkang)−[Link])
Smin = ≥25mm (6)
(n−1)
Untuk menghitung jarak tulangan susut suhu yang dibutuhkan untuk stuktur pelat 1 arah
dihitung menggunakan persamaan (7) (per 1000mm lebar pelat).
(1000.A b )
Smin = (7)
As
Keterangan:
ϕ = faktor reduksi kekuatan
ρ = rasio luas tulangan terhadap luas penampang
As = luas tulangan longitudinal (mm2)
a = tinggi blok tegangan persegi ekivalen (mm)
d = jarak dari serat tekan terjauh ke pusat tulangan (mm)
n = jumlah tulangan baja utama (untuk satu lapis tulangan)
db = diameter tulangan baja yang digunakan (mm)
Ab = luas tulangan susut suhu yang digunakan (mm 2)
2.4.2. Desain Tulangan Kolom Beton Bertulang Menggunakan Diagram Interaksi
Untuk mendesain tulangan pada struktur kolom digunakan metode Diagram Interaksi.
Dimana, beban yang bekerja pada struktur kolom berupa kombinasi antara beban aksial
dan lentur yang selanjutnya dibuat suatu diagram interaksi P-M seperti pada Gambar 1.
Untuk menghitung beban aksial terfaktor menggunakan persamaan (8).
φ P n =0,8.φ .[0,85. f ' c.(Ag −A s )+f y . As ] (8)
Untuk menentukan penampang kolom yang digunakan termasuk dalam kategori kolom
pendek atau panjang menggunakan persamaan (9).
lu
k. ⩽22 (9)
r
Keterangan:
Ag = luas total penampang kolom (mm 2)

3
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

r = radius girasi (0,[Link] (mm))


lu = panjang tak tertumpu komponen struktur tekan (mm)
k = faktor panjang efektif struktur tekan (didapat dari nomogram pada Gambar 2)

Gambar 1. Diagram Interaksi Kolom (Asroni, 2010)

Gambar 2. Nomogram faktor panjang efektif untuk portal bergoyang (SNI 2847, 2013)

2.5. Desain Beton Bertulang Terhadap Gaya Geser


Nilai kekuatan geser desain yang sudah dikalikan dengan faktor reduksi (ϕV n) harus lebih
besar dari nilai gaya geser ultimit (Vu) yang didapat dari pembebanan pada struktur
tersebut. Dimana nilai Vn diperoleh dari persamaan (10) dan Vs dari persamaan (11).
V n =V c +V s (10)
(A v .f yt . d)
Vs= (11)
s
Apabila nilai Vu lebih besar dari ϕVc maka diperlukan tulangan geser dengan nilai Vc
diperoleh dari persamaan (12) dan (13):
a. Apabila komponen struktur hanya dikenai gaya geser dan lentur saja:
V c=0,17. λ . √(f ' c). b w .d (12)
b. Apabila komponen struktur dikenai juga beban aksial:
Nu
V c=0,17.(1+ ).λ . √(f ' c). b w .d (13)
[Link]
Untuk menentukan spasi maksimum tulangan geser (s) digunakan persamaan (14) dan
untuk menentukan luas tulangan geser minimum (A vmin) jika nilai Vu lebih besar daripada
½.ϕVC menggunakan persamaan (15).

4
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

(Av .f yt .d )
s= (14)
Vs
(b w . s)
A vmin =0,062. √(f ' c). (15)
f yt
Keterangan:
Vc = kekuatan geser yang dihasilkan oleh beton (kN)
VS = kekuatan geser yang dihasilkan oleh tulangan geser (kN)
Av = luas tulangan geser yang berada di area spasi tulangan (mm 2)
Nu = gaya aksial terfaktor (kN)

2.6. Desain Beton Bertulang Terhadap Momen Torsi


Desain penulangan torsi baik tulangan longitudinal maupun transversal digunakan
acuan/syarat desain berdasarkan pasal-pasal yang ada dalam SNI 2847 (2013) sebagai
berikut.
Momen torsi dapat diabaikan apabila nilai momen torsi terfaktor akibat beban (T u) kurang
dari persamaan (16).

Acp 2
φ.0 ,083. λ . √(f ' c).( ) (16)
Pcp
Untuk mendapatkan nilai momen torsi nominal, Tn menggunakan persamaan (17).
(2.A 0 .A t . f yt )
T n= . cot θ (17)
s
Luas minimum tulangan longitudinal untuk menahan torsi, Almin ditentukan menggunakan
persamaan (18).
(0,42. √(f ' c). A cp ) A t f
Al min= −( ).P h .( yt ) (18)
fy s fy
Untuk mendapatkan luas tulangan longitudinal untuk menahan beban torsi, A l
menggunakan persamaan (19).
At f 2
A l= .P .( yt ).cot θ (19)
s h fy
Untuk mendapatkan luas tulangan transversal untuk menahan torsi, dihitung
menggunakan persamaan (20).
[Link]
A v +2A t =0,062. √(f 'c ). (20)
f yt
Untuk menghitung besar spasi tulangan torsi transversal tidak boleh melebihi P h/8 atau
300mm (Pasal [Link]).
Untuk menentukan besar diameter tulangan torsi longitudinal paling sedikit 0,042 kali
dari spasi sengkang (tulangan transversal) dan tidak kurang dari 10mm (Pasal [Link]).
Keterangan:
Pcp = keliling luar penampang beton (mm)
Acp = luas penampang beton (mm2)

5
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

At = luas satu buah kaki tulangan sengkang


Ɵ = 45o (untuk balok non prategang)

2.7. Pembebanan Struktur


2.7.1. Beban Mati (Dead Load)
Beban mati merupakan beban pada struktur yang besarnya pasti (berat semua komponen
gedung/bangunan itu sendiri) dan bersifat tetap/permanen selama masa layan struktur
tersebut.
2.7.2. Beban Hidup
Beban hidup merupakan beban yang timbul akibat penggunaan suatu gedung selama
masa layan gedung tersebut dan beban lalu lintas pada sebuah jembatan.
2.7.3. Beban Gempa
Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di permukaan tanah,
diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0,2 detik dan perioda 1 detik.
Parameter spektrum respons percepatan pada perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik
(SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs ditentukan dengan persamaan
(21) dan (22) sebagai berikut (SNI 1726 (2012) Pasal 6.2).
SMS =Fa .SS (21)
SM1 =F V .S1 (22)
Spektrum Respons Desain dibuat setelah menghitung nilai dari parameter percepatan
spektral desain untuk perioda pendek, SDS dan pada perioda 1 detik, SD1 yang ditentukan
melalui persamaan (23) dan (24) (SNI 1726 (2012) Pasal 6.3).
2
SDS = .SMS (23)
3
2
SD1= .S M1 (24)
3
Nilai periode getar dan percepatan gempa untuk data kurva spektrum respons desain
ditentukan menggunakan persamaaan (25) sampai dengan (27).
Untuk perioda, T yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan desain, Sa harus
diambil dari persamaan (25):
T
Sa =SDS .(0,4+ 0,6. ) (25)
T0
Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T 0 dan lebih kecil dari atau sama dengan
Ts ( T0 < T < Ts), spektrum respons percepatan desain, Sa sama dengan SDS dimana:
SD1
Ts = (26)
SDS
Untuk periode yang lebih besar dari T s, spektrum respons percepatan desain, Sa diambil
berdasarkan persamaan (27).
Dari data Sa dan T yang telah dihitung, dapat dibuat sebuah kurva respons spektrum (SNI
1726 (2012) hal.23) yang nantinya akan digunakan sebagai data gempa dalam Structural
Analysis Program.

6
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

SD1
Sa = (27)
T
Keterangan:
Ss = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan perioda pendek
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan perioda 1,0 detik

2.8. Kombinasi Pembebanan Struktur


Kombinasi pembebanan struktur berupa kombinasi dari beban-beban yang akan
dikenakan pada struktur dengan faktor pengali yang ditetapkan dalam SNI 1727 (2013)
Pasal 2.3.2 dan merupakan kondisi paling kritis yang harus dipikul suatu elemen struktur.

2.9. Periode Fundamental/Getar Alami Struktur


Periode getar alami atau periode fundamental struktur, T berdasarkan SNI 1726 (2012)
Pasal 7.8.2 dapat ditentukan secara langsung dengan menghitung periode bangunan
dengan metode pendekatan, Ta yang kemudian diambil menjadi nilai T itu sendiri dengan
menggunakan persamaan (28).

Ta =C t . h x (28)
n
Nilai T ini juga dapat ditentukan menggunakan Structural Analysis Program melalui
analisis respons spektrum. Dimana, nilai T tersebut tidak boleh melebihi dari nilai hasil
kali antara Ta dengan koefisien Cu (Lihat Tabel 1) dan tidak boleh kurang dari nilai Ta
yang sudah dihitung sebelumnya. Dalam menghitung nilai T a ini, dapat digunakan
alternatif lain yang diijinkan untuk struktur dengan ketinggian tidak melebihi 12 tingkat
dimana sistem penahan gaya gempa terdiri dari rangka penahan momen beton atau baja
secara keseluruhan dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m (SNI 1726 (2012) Pasal [Link])
sebagai berikut:
Ta =0,1. N (29)
Keterangan:
hn = ketinggian struktur dalam meter di atas dasar sampai tingkat tertinggi struktur, dan
koefisien Ct dan ditentukan dalam Tabel 2.
N = jumlah tingkat
Tabel 1. Koefisien batas atas perioda fundamental (SNI 1726, 2012)
Parameter percepatan respons spektral pada 1 detik, SD1 Koefisien Cu
> 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
< 0,1 1,7

Tabel 2. Nilai parameter perioda pendekatan C t dan x (SNI 1726, 2012)


Tipe struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memikul 100 persen
gaya gempa yang disyaratkan dan tidak dilingkupi atau dihubungkan
dengan komponen yang lebih kaku dan akan mencegah rangka dari
defleksi jika dikenai gaya gempa:
Rangka baja pemikul momen 0,0724 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466 0,9
Semua sistem struktur lainnya 0,0488 0,75

7
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

2.10. Simpangan Antar Lantai


Untuk menghitung nilai simpangan antar lantai desain menggunakan persamaan (30).
(δ e2 −δe1 )
Δ x= .Cd (30)
Ie
Keterangan:
Cd = faktor amplifikasi/perbesaran defleksi
δex = defleksi pusat massa lokasi disain yang ditentukan dengan analisis elastis

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian/studi yang digunakan dalam skripsi ini yaitu dengan membuat dua
model desain gedung (kolom tegak dan kolom miring lihat Gambar 3 dan 4) yang
kemudian didisain berdasarkan SNI 2847 (2013) dan dianalisis menggunakan Structural
Analysis Program.

Gambar 4. Tampak depan Gedung Model 1 (kolom tegak)

Gambar 5. Tampak depan Gedung Model 2 (kolom miring)

3.2. Data Analisis Dan Desain Gedung


Data pada analisis dan desain gedung bertingkat dalam skripsi ini yaitu pada struktur atas
sebuah gedung yang berfungsi sebagai gedung perkantoran dengan jumlah lantai 5 sudah
termasuk lantai atap. Nilai mutu bahan yang digunakan untuk material beton adalah
25MPa dan 35MPa. Sedangkan, untuk material baja tulangan digunakan sebesar 400MPa.

8
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

3.3. Lokasi Desain Gedung


Lokasi rencana pada desain bangunan gedung yang digunakan yaitu terletak di wilayah
kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia dengan jenis tanah adalah Tanah Lunak
(SE).

3.4. Prosedur Penelitian


Menyiapkan data analisis dan desain yang dilanjutkan dengan melakukan studi literatur.
Kemudian, menentukan sistem struktur gedung yang akan digunakan untuk menahan
beban/gaya gempa yang mengacu pada lokasi rencana gedung dibangun. Selanjutnya,
menghitung pembebanan yang akan dikenakan pada struktur gedung. Berikutnya,
membuat preliminary design elemen struktur pada bangunan gedung berdasarkan SNI
2847 (2013). Data pembebanan dan preliminari disain ini di input-kan ke Structural
Analysis Program untuk dibuat dua model gedung dan dilakukan analisis pada
strukturnya. Dari hasil analisis struktur tersebut, akan didapat data untuk menghitung
jumlah kebutuhan tulangan dari kedua model gedung dan kemudian dibandingkan
kebutuhan tulangan dari masing-masing gedung.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Sistem Struktur Gedung
Sistem stuktur yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)
yang ditentukan berdasarkan jenis Kategori Desain Seismik (KDS) yang dimiliki
bangunan.

4.2. Pembebanan Struktur


4.2.1. Beban Mati
Beban mati yang digunakan yaitu beban mati struktural yang diakibatkan berat sendiri
struktur tersebut (Self Weight) dan beban mati tambahan (SIDL). Beban Self Weight
dihitung secara otomatis oleh Structural Analysis Program dengan menggunakan faktor
pengali berat sendiri = 1. Untuk beban mati tambahan (SIDL) mengacu pada PPIUG
(1983) dengan berat jenis beton bertulang sebesar 2400 kg/m 3.
4.2.2. Beban Hidup
Beban hidup yang dikenakan mengacu pada SNI 1727 (2013) sesuai dengan fungsi
bangunan:
a. Beban hidup pada atap datar sebuah bangunan sebesar 96 kg/m2..
b. Beban hidup pada area kantor 240 kg/m2.
4.2.3. Beban Gempa
Analisis beban gempa yang akan dikenakan adalah Respons Spektrum dengan
perhitungan desain mengacu pada SNI 1726 (2012). Berikut rincian perencanaan beban
gempa yang akan dikenakan pada desain bangunan berdasarkan SNI 1726 (2012):
a. Kategori Resiko Bangunan dan Faktor Keutamaan Gempa (Ie)
Dengan jenis pemanfaatan gedung sebagai gedung perkantoran, maka kategori resiko
bangunan termasuk ke dalam tipe II dan nilai faktor keutamaan gempa (Ie) sebesar 1,0.
b. Percepatan Gempa Ss dan S1
Dari peta Zonasi Gempa Indonesia tahun (2012) nilai Ss dan S1 sebagai berikut:
Ss : 0,05 – 0,1g, diambil nilai 0,06g.
S1 : < 0,05g, diambil nilai 0,036g.

9
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

c. Koefisien Situs Fa dan Fv


Dengan nilai Ss = 0,06 (Ss < 0,25) dan kelas situs SE maka koefisien situs Fa bangunan
adalah 2,5. Kemudian, dari nilai S1 = 0,036 (S1 < 0,1) dan kelas situs SE maka koefisien
situs Fv bangunan rencana adalah 3,5.
d. Parameter Spektrum Respons Percepatan SMS dan SM1
Nilai parameter spektrum respons percepatan perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik
(SM1) dihitung menggunakan persamaan (21) dan (22) sebagai berikut:
S MS=Fa .Ss =0,06 .2,5=0,15
SM1 =F v .S1 =0,036 .3,5=0,1260
e. Parameter Percepatan Spektral Desain, SDS dan SD1
Nilai Parameter percepatan spektral desain perioda pendek (SDS) dan perioda 1 detik (SD1)
dihitung menggunakan persamaan (23) dan (24) sebagai berikut:
2 2
S DS= .S MS= .0 ,15=0,1
3 3
2 2
SD1= .S M1= .0 ,1260=0,084
3 3
f. Spektrum Respons Percepatan Desain (Sa)
Untuk menentukan nilai Sa digunakan persamaan (25) sampai (27) sebagai berikut:
sD1 0,084
T0 =0,2 . =0,2. =0,1680 detik
sDS 0,1
S 0,084
T s= D1 = =0,84detik
SDS 0,1
Untuk perioda T yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan desain (Sa)
diambil dari persamaan (25) sebagai berikut:
T 0
Sa =SDS. (0,4+ 0,6. )=0,1.(0,4 +0,6.( ))=0,04 g(Untuk T=0 detik)
T0 0,1680
Untuk perioda T lebih besar dari atau sama dengan T 0 dan lebih kecil dari atau sama
dengan Ts, ( T0 < T < Ts), spektrum respons percepatan desain (Sa) sama dengan SDS.
Untuk perioda T yang lebih besar dari T s, spektrum respons percepatan desain (Sa) harus
diambil dari persamaan (27) sebagai berikut:.
SD1 0,084
Sa = = =0,0894 g (untuk T=Ts +1 detik )
T 0,94
Dari perhitungan di atas kemudian dibuat suatu kurva spektrum respons desain seperti
pada Gambar 5.
4.2.4. Kombinasi Pembebanan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Kombinasi 1 = 1,4DL
b. Kombinasi 2 = 1,2DL + 1,6LL
c. Kombinasi 3 = 1,2DL + 1,0LL
d. Kombinasi 4 = 1,2DL + 1,0 RSX + 1,0LL
e. Kombinasi 5 = 1,2DL + 1,0 RSY + 1,0LL
f. Kombinasi 6 = 0,9DL
g. Kombinasi 7 = 0,9DL + 1,0RSX

10
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

h. Kombinasi 8 = 0,9DL + 1,0RSY


Keterangan:
DL = Dead Load (Jumlah beban mati sendiri dan beban mati tambahan)
LL = Life Load (Beban hidup)
RSX = Beban gempa respons spektrum arah x
RSY = Beban gempa respons spektrum arah y

Gambar 5. Kurva respon spektrum desain kota Banjarmasin kelas situs SE

4.3. Preliminari Disain


Dimensi penampang struktur hasil dari preliminari disain didapat sebagai berikut:
a. Balok induk dan anak sebesar (300x400)mm dan (250x350)mm
b. Kolom sebesar (400x400)mm
c. Pelat lantai sebesar 125mm

4.4. Permodelan Struktur Gedung


Data-data berupa mutu bahan, dimensi, dan pembebanan di input ke software Structural
Analysis Program kemudian dibuat menjadi dua buah permodelan gedung yang akan
menghasilkan data momen lentur, momen torsi, gaya aksial, dan gaya geser.

4.5. Hasil Permodelan Struktur Menggunakan Structural Analysis Program


4.5.1. Ragam Getar
Dari hasil analisis nilai mass participating ratio terkombinasi pada gedung Model 1
sudah memenuhi syarat minimum 90 persen pada pola ragam getar ke 5 (0,97 untuk arah
x dan y), sedangkan pada gedung Model 2 nilai mass participating ratio terkombinasi
baru memenuhi syarat pada pola ragam getar ke 16 (0,90052 untuk arah x dan 0,93962
untuk arah y).
4.5.2. Periode Getar Alami
Nilai Perioda getar alami, T hasil analisis gedung Model 1 adalah sebesar 0,916535detik
dan gedung Model 2 adalah sebesar 0,63932detik. Nilai T yang dimiliki gedung Model 1
dan 2 memenuhi syarat dalam SNI 1726 (2012) yaitu tidak kurang dari T a = 0,6282detik
dan tidak lebih dari Cu .Ta = 1,0679detik.
4.5.3. Simpangan Antar Lantai
Nilai simpangan antar lantai pada Gedung Model 1 (Tabel 3) dan Gedung Model 2 (Tabel
4) dapat disimpulkan sudah memenuhi syarat.

11
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.

Tabel 3. Simpangan antar lantai pada gedung Model 1


Perpindahan,δ Selisih perpindahan, Simpangan Desain, Simpangan Ijin,
Lantai Ke- ∆x < ∆a
x (m) δx (m) ∆x (m) ∆a (m)
1 0,00246 0,00246 0,00615 0,08 Memenuhi
2 0,00491 0,00245 0,006125 0,07 Memenuhi
3 0,00682 0,00191 0,004775 0,07 Memenuhi
4 0,00796 0,00114 0,00285 0,07 Memenuhi
5 0,00834 0,00038 0,00095 0,07 Memenuhi

Tabel 4. Simpangan antar lantai pada gedung Model 2


Lantai Selisih perpindahan, Simpangan Simpangan Ijin,
Perpindahan, δx (m) ∆x < ∆a
Ke- δx (m) Desain, ∆x (m) ∆a (m)
1 0,0006587 0,000659 0,0016467 0,08 Memenuhi
2 0,00178 0,001121 0,0028032 0,07 Memenuhi
3 0,003 0,00122 0,00305 0,07 Memenuhi
4 0,0044 0,0014 0,0035 0,07 Memenuhi
5 0,00492 0,00052 0,0013 0,07 Memenuhi

4.6. Desain Penulangan Elemen Struktur


4.6.1. Perencanaan Penulangan Lentur
a. Struktur Pelat
Dari hasil analisis digunakan tulangan pokok D10-200mm dan susut suhu D8-150mm
untuk semua pelat pada gedung.
b. Struktur Balok
Dari hasil analisis dipasang tulangan lentur pada balok induk dan anak sebagai berikut:
Gedung Model 1 (kolom tegak): 2D13, 3D13, 4D13, 2D19, 3D19, 4D19, 5D19, dan
5D19, 6D19. (Total berat tulangan: 9505,6590kg)
Gedung Model 2 (kolom miring): 2D13, 3D13, 4D13, 5D13, 7D13, 8D13, 2D19, 3D19,
4D19, 5D19, 6D19, 7D19, 8D19, 9D19, 10D19, 11D19. (Total berat
tulangan:10669,9716kg)
c. Struktur Kolom
Dari hasil analisis dipasang tulangan lentur pada struktur kolom sebagai berikut:
Gedung Model 1 (kolom tegak): 8D16 (Total berat tulangan: 3636,4865kg)
Gedung Model 2 (kolom miring): 8D16, 12D16, 16D16, 20D16, 24D16, 28D16, 36D16,
48D16, 52D19, 36D22, dan 52D22. (Total berat tulangan: 13436,7702kg)
4.6.2. Perencanaan Penulangan Geser dengan Torsi
a. Struktur Balok
Dari hasil analisis dipasang tulangan geser dan torsi pada balok induk dan anak sebagai
berikut:
Gedung Model 1 (kolom tegak): digunakan tulangan D8 dengan variasi spasi sengkang
50mm, 75mm, 100mm, 150mm, dan 170mm. (Total berat tulangan: 6177,767kg)
Gedung Model 2 (kolom miring): digunakan tulangan D8 dengan variasi spasi sengkang
75mm, 100mm, 150mm, 200mm, 250mm. (Total berat tulangan: 10445,5991kg)
b. Struktur Kolom
Dari hasil analisis dipasang tulangan lentur pada struktur kolom sebagai berikut:
Gedung Model 1 (kolom tegak): D10 dengan variasi jarak 100mm dan150mm. (Total
berat tulangan: 2127,1692kg)
Gedung Model 2 (kolom miring): D10 dengan variasi jarak 100mm, 150mm, 200mm,
dan 250mm. (Total berat tulangan:2099,0340kg)

12
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.

4.7. Perbandingan Gedung Model 1 dan 2


4.7.1. Gaya Dalam
Nilai gaya dalam (momen lentur, momen torsi, gaya geser, dan gaya aksial) yang terjadi
pada gedung Model 2 yang menggunakan kolom miring lebih besar dibandingkan dengan
gedung Model 1 yang menggunakan kolom tegak.
4.7.2. Kebutuhan Tulangan
Dari hasil rekapitulasi berat kebutuhan tulangan, gedung Model 2 (kolom miring) hampir
dua kali lebih banysak dari kebutuhan tulangan gedung Model 1 (70,89%).

5. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari perbandingan hasil analisis dan desain gedung yang
memiliki kolom miring dengan gedung yang memiliki kolom tegak, diantaranya sebagai
berikut:
a. Nilai gaya dalam berupa momen lentur, momen torsi, gaya geser, dan gaya aksial pada
struktur kolom dan balok gedung Model 2 yang memiliki kolom miring dengan beban
gempa di wilayah kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bernilai lebih besar
dibandingkan dengan gedung Model 1.
b. Jumlah berat kebutuhan tulangan yang terpasang pada gedung Model 2 lebih besar
dibandingkan dengan gedung Model 1 sebesar 70,89%.
c. Dimensi balok dan kolom terpasang pada gedung Model 2 lebih besar dibandingkan
dengan gedung Model 1.
d. Nilai perpindahan pada gedung Model 1 dan 2 masih memenuhi syarat sehingga tidak
diperlukan penggantian dimensi pada elemen struktur gedung akibat lendutan.
e. Dapat digunakannya aturan desain gedung dari sistem struktur SRPMB pada SNI 2847
(2013) pada gedung Model 2 yang memiliki bentuk tidak simetris/normal.

DAFTAR PUSTAKA

Asroni, Ali, 2010, Kolom, Fondasi dan Balok “T” Beton Bertulang, Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Budiyono, 2012, Optimalisasi kolom miring pada gedung berbentuk piramida terbalik di
wilayah gempa 1 dan 3, (Skripsi), Universitas Mercubuana. Jakarta.
Hartono, Kenny Alvian, 2014, Analisis dan desain bangunan beton bertulang 8 tingkat
dengan kolom miring, (Skripsi), Universitas Parahyangan. Bandung.
Iswardhany, Meida, 2013, Perencanaan gedung yang mempunyai kolom miring dengan
pushover analysis, (Skripsi), Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Yogyakarta.
Nobel, Afret, 2012, Studi perilaku struktur gedung dengan kolom miring beton bertulang
bentang panjang terhadap beban gempa studi kasus gedung auditorium
Universitas Negeri “X”, (Skripsi), Universitas Indonesia. Depok.
SNI 1726, 2012, Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung, BSN. Jakarta.
SNI 1727, 2013, Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur
Lain, BSN, Jakarta.
SNI 2847, 2013, Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, BSN, Jakarta.

13

Anda mungkin juga menyukai