Desain Kolom Miring pada Gedung Bertingkat
Desain Kolom Miring pada Gedung Bertingkat
2, Hal:1 - 13
Analisis dan Desain Elemen Struktur Beton Bertulang pada Gedung yang
Memiliki Kolom Miring dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa
(SRPMB)
Abstract
The increasing development of high-rise building construction with unique design in Indonesia
today can not be denied. The high-rise buildings must have earthquake resistance because of
Indonesia is a country that has the risk of an earthquake. This requires a multi-storey structure
designer to be able to design a multi-storey building structure with various conditions and
configurations. Based on that problems, a building will be designed with unusual shape by
inclining the entire main structural column with a slope angle is 80 o. And as a comparison,
another building will be designed which uses vertical column. The building plan will be located in
Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia.
The building plans with inclined and vertical column use reinforced concrete material with
Ordinary Moment Resisting Frame (OMRF) as a structural strength system. This system is
determined by the location of the building based on Indonesian Earthquake Map 2012.
The result of the analysis and design is the building with inclined column has greater internal
force compared to a building with vertical column and requires a reinforcement of 70.89% more
than the building with vertical column.
Keywords: earthquake, inclined column, building, concrete reinforcement, vertical column
Abstrak
Maraknya pembangunan gedung bertingkat tinggi dengan desain yang unik di Indonesia dewasa
ini tidak dapat dipungkiri lagi. Gedung-gedung tersebut harus memiliki ketahanan terhadap gempa
bumi dikarenakan Indonesia merupakan negara yang memiliki resiko terjadinya bencana gempa
bumi. Sehingga, hal ini mengharuskan seorang perencana struktur untuk mampu mendesain
struktur gedung bertingkat dengan berbagai kondisi dan bentuk/desain.
Dari permasalahan tersebut, maka pada tugas akhir ini dilakukan analisis dan desain gedung
dengan bentuk konstruksi yang tidak lumrah yaitu dengan memiringkan seluruh kolom utama pada
gedung dengan sudut kemiringan 80 o. Kemudian, sebagai pembanding dibuat juga sebuah desain
gedung yang memiliki kolom utama tegak. Desain gedung ini terletak di Banjarmasin,
Kalimantan Selatan, Indonesia.
Kedua desain gedung tersebut meggunakan material beton bertulang dengan sistem struktur
penahan gempa yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB). Dimana,
sistem ini ditentukan dari letak wilayah desain gedung berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2012.
Hasil dari analisis dan desain yang telah dilakukan yaitu gedung yang menggunakan kolom miring
memiliki nilai gaya dalam yang lebih besar dibandingkan dengan gedung yang menggunakan
kolom tegak sehingga membutuhkan baja tulangan sebesar 70,89% lebih banyak.
Kata kunci : gempa bumi, kolom miring, desain gedung, beton bertulang, kolom tegak
1)
Mahasiswa pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung.
2)
Staf pengajar pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung. Jalan. Prof. Sumantri
Brojonegoro 1. Gedong Meneng Bandar lampung. 35145. Surel: bayzoni@[Link]
3)
Staf pengajar pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Lampung. Jalan Prof. Sumantri
Brojonegoro 1. Gedong Meneng Bandar Lampung. Surel: andikusnadi@[Link]
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
1. PENDAHULUAN
Maraknya pembangunan gedung bertingkat tinggi di Indonesia dewasa ini tidak dapat
dipungkiri lagi. Dalam perkembangannya, gedung-gedung bertingkat tersebut memiliki
bentuk dan konstruksi struktur yang bervariasi. Hal ini mengharuskan seorang perencana
struktur gedung bertingkat mampu untuk mendesain struktur gedung bertingkat tersebut
dengan berbagai kondisi dan bentuk. Sehingga, penulis mencoba membuat sebuah desain
struktur gedung bertingkat dengan desain arsitektural yang tidak lazim yaitu gedung
dengan menggunakan kolom miring pada seluruh struktur kolom utamanya dengan lokasi
rencana berada wilayah kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Analisis dan desain
mengenai kolom miring ini sudah pernah dilakukan oleh beberapa penulis sebagai tugas
akhir perkuliahan Strata-1 dengan variasi sudut kemiringan kolom terhadap tanah dasar
sebesar 45° (Nobel, 2012), 81° (Budiyono, 2012), 86° (Iswardhany, 2013), dan 85°
(Hartono, 2014). Pada skripsi ini penulis mencoba mendesain dengan sudut kemiringan
80° untuk seluruh kolom utama desain gedung.
Dikarenakan desain gedung dibangun di wilayah Indonesia, maka gedung tersebut harus
memiliki ketahanan terhadap bencana gempa bumi. Hal ini akibat dari letak Indonesia
yang berada di antara tiga lempeng bumi yang masih aktif yang sangat mempengaruhi
aktifitas tanah dan batuan di bawah bangunan yang akan dibangun. Pada skripsi ini,
direncanakan sistem ketahanan gedung terhadap beban gempa adalah dengan
menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) yang biasa digunakan
untuk gedung di wilayah resiko gempa rendah.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Studi Terdahulu
Telah dilakukan analisis dan desain mengenai gedung yang menggunakan kolom miring
dengan bentuk dan sudut kemiringan yang beragam, diantaranya yang dilakukan oleh
Nobel (2012) dengan judul “Studi Perilaku Struktur Gedung Dengan Kolom Miring
Beton Bertulang Bentang Panjang Terhadap Beban Gempa Studi Kasus Gedung
Auditorium Universitas Negeri “X””, Budiyono (2012) dengan judul “Optimalisasi
Kolom Miring pada Gedung Berbentuk Piramida Terbalik di Wilayah Gempa 1 dan 3”,
Iswardhany (2013) dengan judul “Perencanaan Gedung yang Mempunyai Kolom Miring
dengan Pushover Analysis”, dan Hartono (2014) dengan judul “Analisis dan Desain
Bangunan Beton Bertulang 8 Tingkat dengan Kolom Miring”.
2.3. Desain Gedung Bertingkat Beton Bertulang Dengan SRPMB Berdasarkan SNI
2847 (2013)
Aturan/syarat desain dalam SNI 2847 (2013) yang digunakan untuk mendesain gedung
beton bertulang dengan sistem struktur SRPMB adalah Pasal 21.2.2 dan 21.2.3.
2
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
a
φ M n =φ. A s . f y .(d− ) (1)
2
Untuk mendesain tulangan lentur struktur balok dan pelat 1 arah menggunakan persamaan
(2) sampai dengan (5).
ρ=
0,85
.f ' c .(1−
√ 2.R n ) (2)
fy (0,85. f 'c)
Mn
R n= 2 (3)
(b . d )
Mn
ρmin= (4)
(0,85. f 'c)
A s=ρ .b . d (5)
Untuk menghitung jarak tulangan lentur (s) pada penampang balok beton bertulang
menggunakan persamaan (6).
( bw−2.(selimut beton )−2.(diameter sengkang)−[Link])
Smin = ≥25mm (6)
(n−1)
Untuk menghitung jarak tulangan susut suhu yang dibutuhkan untuk stuktur pelat 1 arah
dihitung menggunakan persamaan (7) (per 1000mm lebar pelat).
(1000.A b )
Smin = (7)
As
Keterangan:
ϕ = faktor reduksi kekuatan
ρ = rasio luas tulangan terhadap luas penampang
As = luas tulangan longitudinal (mm2)
a = tinggi blok tegangan persegi ekivalen (mm)
d = jarak dari serat tekan terjauh ke pusat tulangan (mm)
n = jumlah tulangan baja utama (untuk satu lapis tulangan)
db = diameter tulangan baja yang digunakan (mm)
Ab = luas tulangan susut suhu yang digunakan (mm 2)
2.4.2. Desain Tulangan Kolom Beton Bertulang Menggunakan Diagram Interaksi
Untuk mendesain tulangan pada struktur kolom digunakan metode Diagram Interaksi.
Dimana, beban yang bekerja pada struktur kolom berupa kombinasi antara beban aksial
dan lentur yang selanjutnya dibuat suatu diagram interaksi P-M seperti pada Gambar 1.
Untuk menghitung beban aksial terfaktor menggunakan persamaan (8).
φ P n =0,8.φ .[0,85. f ' c.(Ag −A s )+f y . As ] (8)
Untuk menentukan penampang kolom yang digunakan termasuk dalam kategori kolom
pendek atau panjang menggunakan persamaan (9).
lu
k. ⩽22 (9)
r
Keterangan:
Ag = luas total penampang kolom (mm 2)
3
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
Gambar 2. Nomogram faktor panjang efektif untuk portal bergoyang (SNI 2847, 2013)
4
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
(Av .f yt .d )
s= (14)
Vs
(b w . s)
A vmin =0,062. √(f ' c). (15)
f yt
Keterangan:
Vc = kekuatan geser yang dihasilkan oleh beton (kN)
VS = kekuatan geser yang dihasilkan oleh tulangan geser (kN)
Av = luas tulangan geser yang berada di area spasi tulangan (mm 2)
Nu = gaya aksial terfaktor (kN)
Acp 2
φ.0 ,083. λ . √(f ' c).( ) (16)
Pcp
Untuk mendapatkan nilai momen torsi nominal, Tn menggunakan persamaan (17).
(2.A 0 .A t . f yt )
T n= . cot θ (17)
s
Luas minimum tulangan longitudinal untuk menahan torsi, Almin ditentukan menggunakan
persamaan (18).
(0,42. √(f ' c). A cp ) A t f
Al min= −( ).P h .( yt ) (18)
fy s fy
Untuk mendapatkan luas tulangan longitudinal untuk menahan beban torsi, A l
menggunakan persamaan (19).
At f 2
A l= .P .( yt ).cot θ (19)
s h fy
Untuk mendapatkan luas tulangan transversal untuk menahan torsi, dihitung
menggunakan persamaan (20).
[Link]
A v +2A t =0,062. √(f 'c ). (20)
f yt
Untuk menghitung besar spasi tulangan torsi transversal tidak boleh melebihi P h/8 atau
300mm (Pasal [Link]).
Untuk menentukan besar diameter tulangan torsi longitudinal paling sedikit 0,042 kali
dari spasi sengkang (tulangan transversal) dan tidak kurang dari 10mm (Pasal [Link]).
Keterangan:
Pcp = keliling luar penampang beton (mm)
Acp = luas penampang beton (mm2)
5
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
6
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
SD1
Sa = (27)
T
Keterangan:
Ss = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan perioda pendek
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan perioda 1,0 detik
Ta =C t . h x (28)
n
Nilai T ini juga dapat ditentukan menggunakan Structural Analysis Program melalui
analisis respons spektrum. Dimana, nilai T tersebut tidak boleh melebihi dari nilai hasil
kali antara Ta dengan koefisien Cu (Lihat Tabel 1) dan tidak boleh kurang dari nilai Ta
yang sudah dihitung sebelumnya. Dalam menghitung nilai T a ini, dapat digunakan
alternatif lain yang diijinkan untuk struktur dengan ketinggian tidak melebihi 12 tingkat
dimana sistem penahan gaya gempa terdiri dari rangka penahan momen beton atau baja
secara keseluruhan dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m (SNI 1726 (2012) Pasal [Link])
sebagai berikut:
Ta =0,1. N (29)
Keterangan:
hn = ketinggian struktur dalam meter di atas dasar sampai tingkat tertinggi struktur, dan
koefisien Ct dan ditentukan dalam Tabel 2.
N = jumlah tingkat
Tabel 1. Koefisien batas atas perioda fundamental (SNI 1726, 2012)
Parameter percepatan respons spektral pada 1 detik, SD1 Koefisien Cu
> 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
< 0,1 1,7
7
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian/studi yang digunakan dalam skripsi ini yaitu dengan membuat dua
model desain gedung (kolom tegak dan kolom miring lihat Gambar 3 dan 4) yang
kemudian didisain berdasarkan SNI 2847 (2013) dan dianalisis menggunakan Structural
Analysis Program.
8
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
9
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
10
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
11
Analisis dan Desain Elemen Struktur Angelina
Beton Bertulang
Dhini Uli
Buktin,
pada
Artha
Gedung
Ahmad
Simatupang,
yang
Zakaria,
Memiliki
Bayzoni,
Ofik ...
Taufik
Andi Purwadi.
Kusnadi.
12
Buktin
Angelina Dhini Uli Artha Simatupang, Bayzoni, Andi Kusnadi.
5. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari perbandingan hasil analisis dan desain gedung yang
memiliki kolom miring dengan gedung yang memiliki kolom tegak, diantaranya sebagai
berikut:
a. Nilai gaya dalam berupa momen lentur, momen torsi, gaya geser, dan gaya aksial pada
struktur kolom dan balok gedung Model 2 yang memiliki kolom miring dengan beban
gempa di wilayah kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bernilai lebih besar
dibandingkan dengan gedung Model 1.
b. Jumlah berat kebutuhan tulangan yang terpasang pada gedung Model 2 lebih besar
dibandingkan dengan gedung Model 1 sebesar 70,89%.
c. Dimensi balok dan kolom terpasang pada gedung Model 2 lebih besar dibandingkan
dengan gedung Model 1.
d. Nilai perpindahan pada gedung Model 1 dan 2 masih memenuhi syarat sehingga tidak
diperlukan penggantian dimensi pada elemen struktur gedung akibat lendutan.
e. Dapat digunakannya aturan desain gedung dari sistem struktur SRPMB pada SNI 2847
(2013) pada gedung Model 2 yang memiliki bentuk tidak simetris/normal.
DAFTAR PUSTAKA
Asroni, Ali, 2010, Kolom, Fondasi dan Balok “T” Beton Bertulang, Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Budiyono, 2012, Optimalisasi kolom miring pada gedung berbentuk piramida terbalik di
wilayah gempa 1 dan 3, (Skripsi), Universitas Mercubuana. Jakarta.
Hartono, Kenny Alvian, 2014, Analisis dan desain bangunan beton bertulang 8 tingkat
dengan kolom miring, (Skripsi), Universitas Parahyangan. Bandung.
Iswardhany, Meida, 2013, Perencanaan gedung yang mempunyai kolom miring dengan
pushover analysis, (Skripsi), Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Yogyakarta.
Nobel, Afret, 2012, Studi perilaku struktur gedung dengan kolom miring beton bertulang
bentang panjang terhadap beban gempa studi kasus gedung auditorium
Universitas Negeri “X”, (Skripsi), Universitas Indonesia. Depok.
SNI 1726, 2012, Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung, BSN. Jakarta.
SNI 1727, 2013, Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur
Lain, BSN, Jakarta.
SNI 2847, 2013, Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, BSN, Jakarta.
13